Anda di halaman 1dari 27

JOURNAL READING

Rasional dan Etika Penggunaan topikal


Kortikosteroid Berdasarkan Keselamatan dan
Khasiat

Oleh :
Sella Soviana / 406138074
Pembimbing :
Dr. Eko Krisnarto, SpKK
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Semarang
Periode 27 Juli - 29 Agustus 2015

Rasional dan Etika Penggunaan topikal Kortikosteroid berdasar Keselamatan dan


Khasiat
Sanjay K. Rathi dan Paschal DSouza
Abstrak
Kortikosteroid topikal (TC) telah banyak berkontribusi membantu dokter kulit untuk
secara efektif mengobati beberapa penyakit kulit yang sulit.Tersedianya berbagai jenis
formulasi dan potensi memberikan fleksibilitas untuk memperlakukan semua kelompok
pasien dengan berbagai fase yang berbeda dari penyakit, dan daerah anatomi yang
berbeda. Namun, peningkatan pesat dalam insiden penyalahgunaan obat ini oleh
dermatologis, dokter umum, dan pasien mengancam terjadinya efek samping dari seluruh
kelompok obat menakjubkan ini. Tanggung jawab untuk menyebarluaskan pengetahuan
yang mengenai kapan, di mana, dan bagaimana menggunakan TC baik untuk pihak medis
dan pasien terletak terutama pada dokter kulit. Manfaat penggunaan rasional dan etika
pengunaan TC serta kerugian dari pemakaian berlebihan ataupun penyalahgunaannya
untuk terapi nonmedis terutama untuk tujuan kosmetik, harus jelas disampaikan sebelum
menuliskan resep yang melibatkan TC. Upaya simultan untuk menggunakan lembagalembaga politik, hukum, dan lainnya untuk mencegah penyalahgunaan obat ini dengan
pembatasan ketersediaan obat hanya melalui resep yang tepat akan sangat membantu. Hal
ini diharapkan dapat menurunkan angka meningkatnya kasus penyakit kulit yang
disebabkan oleh penggunaan steroid dan ketakutan irasional menggunakan TC di indikasi
yang dibenarkan.
Kata kunci: Penyalahgunaan, efek samping, etika penggunaan, indikasi,
penyalahgunaan, penggunaan rasional, penyakit kulit responsif steroid, kortikosteroid
topikal

Pengantar
Apa yang Perlu Diketahui?
1. TC digunakan secara luas oleh dokter kulit untuk berbagai penyakit kulit
2. Efikasi klinis dan efek samping dari TC bervariasi sesuai dengan potensi molekul,
cara penggunaan, daerah pengunaan dan durasi penggunaan, dan usia pasien.
3. Berbagai modifikasi dalam struktur molekul TC telah dilakukan untuk
meningkatkan potensinya, yang biasanya juga meningkatkan profil efek samping.
4. Efek samping TC telah banyak diketahui, banyak diantaranya merupakan efek
samping lokal
5.
Kortikosteroid topikal (TC) adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan dalam
perawatan pasien penyakt kulit sejak obat ini pertama kali diperkenalkan pada 1950-an.
[1-3] Mungkin tidak ada kelompok lain dari obat semacam itu memiliki dampak yang
mendalam seperti TC. Dengan pengunaan kortikosteroid topikal (TC), menjadi jauh lebih
mudah dalam mengobati beberapa penyakit kulit, dan pada lain pihak, hal ini merupakan
penyebab morbiditas yang signifikan pada sebagian orang.
Namun, selama bertahun-tahun, menjadi semakin jelas bahwa TC banyak disalahgunakan
oleh dokter dan pasien. Terlepas dari indikasi terkenal seperti psoriasis, dermatitis atopik,
vitiligo, lichen planus, liken simpleks kronik, lupus eritematosus, dll. Obat ini juga
digunakan untuk kondisi seperti melasma, urtikaria, dan ruam kulit yang tidak
terdiagnosis oleh dermatologis dan dokter umum. [4] Hal ini disebabkan karena
perbaikan yang cepat dari tanda dan gejala gangguan kulit tersebut dengan pemakaian TC
dalam contoh pertama. Hal ini dapat mempersingkat waktu dan menahan pasien lebih
lama dengan dokter nonspesialis. Studi pada pasien dengan erupsi obat terkait steroid
telah menunjukkan bahwa ada beberapa penasihat nonmedis seperti teman-teman,
tetangga, pemerhati kecantikan, tukang cukur, dll memberitahu mereka untuk
menggunaka TC sebagai krim pencerah / krim kosmetik, [5] anti jerawat, terapi anti
jamur dan beberapa kelainan kulit lainnya. [6] Ada kecenderungan untuk menggunakan
kembali resep lama untuk ruam berulang atau ruam baru jenis apapun. Berbagi resep

dengan kerabat dan teman-teman dengan anggapan bahwa masalah kulit serupa dan dapat
diobati sendiri dengan menyalin resep sederhana sudah merajalela. Yang menambah
masalah ini, adanya ketersediaan yang mudah untuk obat ini, meminta tanpa resep yang
valid di setiap apotik. Selain itu, toko apoteker juga merangkap sebagai dokter
membagikan nasihat tentang mana TC digunakan. Hal ini, walaupun dilaporkan dari
berbagai tempat di seluruh dunia, [7-9] memiliki dampak yang signifikan di negara kita
dari satu miliar orang ditambah dengan rasio spesialis-to-pasien yang kurang.
Kesadaran terhadap masalah yang signifikan ini telah menyebabkan kesibukan yang
dibuktikan dengan banyaknya diskusi tentang penyalahgunaan TC oleh dermatologis di
berbagai forum di dalam negeri dan luar negeri. [5,10-12] Saat ini, harapannya adalah
untuk menahan, jika tidak seluruhnya, dapat terjadi bencana penyalahgunaan TC karena
situasi yang ada di negara kita. Sebagai dokter kulit, kewajiban terletak pada kita, untuk
siapa obat ini sebagai senjata yang kuat untuk melawan penyakit kulit, untuk mendidik
masyarakat termasuk pihak medis diluar dokter kulit tentang etika penggunaan dan
penggunaan rasional TC. Merupakan hal yang baik untuk mengingat Ahli biologi Van
Rensselaer Potter yang mengusulkan istilah "bioetika" pada tahun 1970, [13] untuk
mencakup bidang yang terletak di persimpangan antara etika dan ilmu biologi pada
umumnya. Tujuan utama yang mendasari semua masalah etika dalam perawatan
kesehatan, dalam kasus kami penggunaan TC, adalah untuk melihat bahwa pengetahuan
yang diperoleh melalui penelitian harus menguntungkan dan tidak merugikan masyarakat
dan pengetahuan yang harus disebarkan dengan benar.
Memilih Topikal Kortikosteroid
TC tersedia untuk pengelolaan berbagai penyakit kulit. Sebuah pemahaman dasar tentang
obat ini membantu dokter untuk memilih preparat yang tepat yang memaksimalkan
keberhasilan terapi dan meminimalkan potensi efek samping. Untuk pengobatan yang
sukses dengan TC, faktor kunci yang harus dipertimbangkan adalah diagnosis yang
akurat, memilih obat yang benar, mengingat potensi obat, pemakaian preparat yang tepat,
frekuensi aplikasi, durasi pengobatan dan efek samping, dan profil pasien yang tepat. [4]

Kenali Penyakitnya
TC efektif untuk kondisi kulit yang ditandai dengan hiper-proliferasi, peradangan, dan
keterlibatan imunologi. [14] Obat ini juga banyak digunakan dalam pengobatan penyakit
vesikuloerosif dari mukosa mulut untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. [15] Obat
ini dapat mengurangi gejala seperti rasa terbakar dan rasa gatal pada lesi. [16] Banyak
penyakit kulit diobati dengan TC [Tabel 1], tetapi bukti efektivitas telah ditetapkan hanya
untuk sejumlah kecil kondisi. Hal penting untuk meresepkan TC hanya setelah diagnosis
yang benar pada pasien ditegakkan dan bagi penyakit kulit dengan adanya bukti khasiat
yang masuk akal. Kita harus sangat menahan godaan untuk menggunakan TC untuk
segala sesuatu yang kita tidak mengerti atau di mana tidak ada lagi obat yang bekerja. Hal
ini dapat memberikan manfaat sementara, tetapi membuat diagnosis untuk selanjutnya
semakin sulit selain mengungkapkan kepada pasien untuk risiko efek samping.
Mengetahui indikasi yang benar, kekuatan yang berbeda dari steroid topikal dapat
digunakan untuk mengobati berbagai tahapan penyakit.

Tabel
1.

Penyakit Kulit yang berespon terhadap steroid

Kenali Obatnya
Potensi Potensi adalah jumlah obat yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek terapeutik
yang diinginkan. Potensi TC biasanya dinilai dengan pengukuran efek vasokonstriksi.
[17] Hal ini membantu untuk mengklasifikasikan TC berdasarkan sejauh mana agen
menyebabkan vasokonstriksi kulit ('blanching efek') pada pasien yang sehat. Ini adalah
metode yang berguna tetapi tidak sempurna untuk memprediksi efektivitas klinis steroid.
[18] Faktanya, potensi anti-inflamasi dari beberapa TC dapat bervariasi antara banyak
pasien, tidak hanya pada kekuatan formulasi tetapi juga pada frekuensi pemakaian, durasi
terapi dan tempat pemakaian [19,20] Beberapa potensi juga berbeda antara formulasi
generik dan nama merek setara. [16]
Sejak saat hidrokortison pertama kali terbukti secara klinis efektif sebagai preparat
topikal pada tahun 1952, molekulnya telah dimodifikasi secara struktural oleh halogenasi,
metilasi, asetilasi, esterifikasi, dll dengan tujuan untuk meningkatkan potensi dan
mengurangi efek samping. [16] TC yang ideal belum dikembangkan. Modifikasi seperti
halogenasi meningkatkan potensi tetapi juga efek samping. [21] Esterifikasi telah
dilaporkan untuk meningkatkan profil keamanan sekaligus meningkatkan efektivitas TC.
[22]
TC dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan potensi mereka sesuai dengan British
National Formularium (BNF), sedangkan sistem Amerika mengklasifikasikan mereka ke
dalamtujuh kelas, [23] dengan kelas I menjadi super kuat atau ultra-kuat dan kelas VII
mewakili potensi terendah [Tabel 2]. Meskipun pengetahuan mendalam tentang obat di
setiap kelas mungkin sudah ideal, secara praktik, dokter harus menjadi akrab dengan satu
atau dua agen di setiap kategori potensi untuk secara aman dan efektif dapat mengobati
kondisi kulit yang berespon terhadap steroid.

Tabel 2. Potensi Relatif dari Topikal Kortikosteroid


Sebagai aturan umum, steroid potensi rendah adalah agen yang paling aman untuk
penggunaan jangka panjang, pada bidang permukaan besar, pada wajah, atau pada daerah

dengan kulit tipis dan untuk anak-anak. TC yang lebih kuat, membantu untuk penyakit
yang lebih parah dan untuk kulit tebal dari telapak tangan dan telapak kaki. TC dengan
kekuatan tinggi dan ultra tinggi tidak boleh digunakan pada wajah, pangkal paha, aksila,
dan di bawah oklusi; kecuali dalam situasi langka dan untuk durasi pendek. [24]
JENIS PREPARAT TC tersedia dalam beberapa preparat dan dengan berbagai kekuatan,
yang mungkin berbeda dalam potensi berdasarkan preparat di mana obat ini digunakan.
Pemilihan jenis preparat tergantung pada jenis lesi dan daerah anatomi. TC tersedia
dalam bentuk salep, krim, gel, lotion, solusi, dll [25]
Salep memberikan lebih banyak lubrikasi dan sifat oklusi dari preparat lain dan paling
berguna untuk mengobati lesi kering dan tebal, serta lesi hiper-keratotiki. Sifat oklusif
dari salep meningkatkan penyerapan steroid. Namun, mereka tidak boleh digunakan pada
daerah berbulu dan dapat menyebabkan maserasi dan folikulitis, jika digunakan di daerah
intertriginosa dan tempat yang berminyak dapat menyebabkan kepuasan dan kepatuhan
pasien yang buruk. [4]
Krim memiliki kualitas pelumas yang baik dan kemampuan krim menghilang ke dalam
kulit membuat krim lebih menarik secara kosmetik. Untuk peradangan eksudatif akut dan
di daerah intertriginosa, krim lebih baik untuk efek nonocclusive dan pengeringan. Krim
umumnya kurang kuat daripada salep pada pengobatan yang sama, tetapi mereka sering
mengandung bahan pengawet yang dapat menyebabkan iritasi, menyengat, dan reaksi
alergi. [4]
Lotion dan gel yang paling tidak berminyak dan tidak bersifat oklusi dari semua preparat
steroid topikal. Lotion sangat berguna untuk daerah berbulu karena lotion menembus
dengan mudah dan meninggalkan sedikit residu. Gel cepat kering dan dapat diterapkan
pada kulit kepala atau daerah berbulu lainnya karena mereka tidak menyebabkan rambut
menjadi kusut. [26,27] Busa dan sampo yang preparat yang efektif untuk memberikan
steroid untuk kulit kepala tetapi mahal.
Oklusi meningkatkan penetrasi steroid dan dapat digunakan dalam kombinasi dengan

semua preparat. Penutupan sederhana dengan plastik dapat meningkatan penetrasi steroid
tujuh kali lipat dibandingkan dengan kulit kering. [16] Namun iritasi, folikulitis dan
infeksi dapat berkembang dengan cepat dari penutupan oklusi dan pasien harus
dikonseling untuk memantau daerah pengobatan lebih sering. Pemakaian steroid topikal
setelah mandi meningkatkan efektivitasnya karena hidrasi. [28] Daerah lipatan seperti
selangkangan, ketiak, lipatan bawah payudara adalah daerah self oklusif dimana preparat
seperti salep harus dihindari.

Dosis, frekuensi aplikasi, dan durasi


Kadang yang paling berarti, dokter kulit dan pemberi perawatan medis lain gagal untuk
menghabiskan waktu yang cukup dengan pasien. Semua dari kita menemukan contoh
ketika efikasi klinis yang sangat berbeda dan / atau profil efek samping terlihat untuk TC
yang sama diberikan untuk indikasi yang sama dalam dua pasien yang berbeda. Hal ini
karena tanpa bimbingan yang tepat, pasien sangat berbeda dalam cara mereka akan
menggunakan TC dalam hal jumlah, frekuensi, dan durasi penggunaan sehingga
menyebabkan perbedaan dalam efikasi dan profil kerugian yang mereka alami.
Penggunaan rasional melibatkan penempatan pedoman yang tepat di daerah ini.
Berkaitan dengan jumlah TC, teknik standar yang dibuat oleh Long dan Finley, [29] yang
menggunakan "Finger Tip Unit" (FTU), telah direkomendasikan untuk mengukur jumlah
salep yang diperlukan untuk area anatomi tertentu. Sebuah FTU didefinisikan sebagai
jumlah yang dapat diambil dari ujung jari untuk lipatan pertama jari dengan diameter 5
mm. Menggunakan tabung nozzle standar, satu FTU sama dengan 0,5 g krim / salep. [30]
Penggunaan FTU yang sangat dipromosikan di seluruh dunia untuk mengurangi variasi
dalam penggunaan TC dan mendorong kepatuhan terhadap terapi. Dosis yang dianjurkan
dalam hal FTU akan tergantung pada bagian mana dari tubuh sedang dirawat. Hal ini
karena kulit tipis di bagian-bagian tertentu dari tubuh dan lebih sensitif terhadap efek dari
TC. Tabel 3 dan 4 menunjukkan pedoman jumlah salep yang dibutuhkan pada orang
dewasa dan anak-anak, masing-masing berdasarkan daerah anatomi tertentu.

Tabel
3.

Pedoman FTU untuk dewasa

Tabel
4.

Pedoman FTU untuk anak


Dalam prakteknya, sekali atau dua kali aplikasi sehari-hari direkomendasikan untuk
kebanyakan preparat TC konvensional. [16] Beberapa formulasi baru telah disiapkan
untuk aplikasi sehari sekali. [31] [32] Bahkan untuk sebelumnya, administrasi yang lebih
sering tidak memberikan hasil yang lebih baik.[32] Dalam dermatitis atopik yang
terdokumentasi sebagai penyakit yang berespon terhadap steroid, 10 percobaan terkontrol
acak dibandingkan pemakaian TC sehari sekali dengan aplikasi lebih sering dalam
kelompok potensi yang sama. Temuan ini dirangkum dalam laporan UK Kesehatan
Teknologi Pengkajian dan bimbingan dari Institut Nasional untuk Kesehatan dan Clinical

Excellence (NICE). [33] Tidak ada studi menemukan bukti jelas bahwa menerapkan TC
lebih dari sekali sehari menghasilkan hasil klinis lebih baik secara keseluruhan di eksim.
Di sisi lain, pemakaian TC lebih sering menyebabkan beberapa efek samping lokal dan
sistemik. Sebuah perubahan untuk sekali aplikasi sekali sehari telah disarankan beberapa
tahun yang lalu. Mungkin hambatan terbesar untuk ini telah kebiasaan kita. [34]
Ini juga merupakan fakta yang diketahui bahwa stratum korneum bertindak sebagai
reservoir untuk TC. Sebuah TC ultra-kuat seperti clobetasol propionat 0,05% krim
ditemukan bertahan dalam stratum korneum sampai hari keempat. [35] Karena efek depot
kumulatif ini, alternatif atau bahkan dua kali aplikasi dalam seminggu TC dapat
dianjurkan.Setelah kondisi sudah dalam keadaan remisi atau terkontrol, pemakaian TC
yang diinginkan pada akhir pekan dipisahkan oleh emolien atau agen steroid yang sedikit
pada hari biasa juga cukup bermanfaat. Dengan demikian, manfaat terapi dapat
dimaksimalkan, biaya dapat dikurangi, dan efek samping lokal dan sistemik TC bisa
berkurang. [14,36] Semua faktor ini akan meningkatkan kepatuhan pasien. Untuk pasien
perorangan, jadwal pemberian dosis optimal dapat ditentukan dengan trial and error,
titrasi ke frekuensi pemakaian minimal yang masih memberikan efek.
Umumnya sebagian besar TC, terlepas dari potensi, tidak boleh digunakan untuk durasi
lebih dari 2-4 minggu berturut - turut. Jika ditemukan lesi yang memburuk atau tidak ada
perubahan, produk harus dihentikan dan evaluasi ulang diagnosis diperlukan. Preparat
kuat dan super kuat secara khusus direkomendasikan untuk durasi maksimal hanya 2
minggu diikuti oleh tappering rejimen untuk pemeliharaan dan menghindari efek
samping. [4,16]

Efek samping dari TC


TC digunakan terutama karena sifat anti-inflamasinya. Paradoksnya, mekanisme yang

sama yang memediasi sifat anti-inflamasi dan mendasari kegunaan mereka juga
bertanggung jawab untuk efek samping mereka. [37] Selain efek samping kulit dan
sistemik [Tabel 5], fenomena kecanduan steroid, tachyphylaxis, dan dermatitis kontak
(CD) karena TC juga perlu diingat.

Tabel 5. Efek Samping umum dari Topikal Kortikosteroid


Efek lokal Efek Lokal ditemui lebih sering dan telah menjadi lebih sering dengan
pengenalan TC potensi tinggi. [30] Efek samping tergantung pada potensi steroid, durasi
penggunaan (periode perpanjangan), volume produk diterapkan ( jumlah yang
berlebihan), daerah pemakaian, usia pasien dan oklusi (jika ada).
Ini termasuk atrofi, striae, telangiektasis, purpura, hipopigmentasi, erupsi akneiformis,
rosasea seperti perioral dermatitis dan periorbital, dan hipertrikosis. [38-53] Presentasi
normal infeksi superfisial dapat berubah ketika TC yang tidak tepat digunakan untuk
mengobati infeksi bakteri atau jamur. Sebuah contoh khas ini terlihat ketika seseorang
memakaikan TC ke sebuah pangkal paha dengan ruam yang gatal. Jika ini adalah infeksi
jamur, ruam semakin bertambah merah, bertambah gatal, dan menyebar lebih luas dari

infeksi jamur yang khas. Ruam yang dihasilkan adalah pola aneh peradangan luas dengan
pustula disebut tinea incognito [Gambar 1].

Gambar 1. Pola aneh dari tinea cruris (Tinea Incognito)


Karena penggunaan TC yang tidak tepat dan tidak terkendali, dilaporkan dan ditekankan
telah berkembang suatu keadaan yang disebut kecanduan TC. Argumentasi ini
meyakinkan dengan mempertimbangkan ditemukannya beberapa sindrom eritema seperti
red face syndrome, post-peel erythema, red scrotal syndrome, vulvodynia, perianal
atrophoderma, chronic actinic dermatitis, and chronic recalcitrant eczemas di bawah
pengaruh kecanduan steroid. [54,55] Penggunaan TC yang berkepanjangan dan
berkelanjutan di wajah mengarah pada pengembangan penyakit kulit yang telah bernama
diberi nama berbeda oleh bagian yang berbeda. Dalam skenario kami, hal itu disebut
"topical corticosteroid-induced rosacea-like dermatitis" (TCIRD) [10] atau "topical
steroid - dependent face" (TSDF). [11] Ini memiliki presentasi klinis yang berbeda.
Pasien kebanyakan perempuan yang terus menggunakan krim steroid sampai mereka

mendapatkan respon yang diinginkan dan terus menggunakannya untuk mencegah


rebound hingga akhirnya lesi menjadi persisten [Gambar 2].

Gambar 2. Papul dan pustul dengan dasar eritema di wajah


Efek sistemik TC dengan potensi tinggi dan ultra tinggi yang diterapkan dapat diserap
dengan cukup baik untuk menyebabkan efek samping sistemik. Penekanan hipotalamushipofisis-adrenal, glaukoma, hiperglikemia, hipertensi, dan efek samping sistemik lainnya
telah dilaporkan, meskipun jarang. [54-58]
Sebagian besar reaksi yang merugikan mungkin reversibel sampai batas tertentu setelah
penghentian, dengan pengecualian striae atrofi [Gambar 3], yang tidak reversibel. [4,16]
Rebound dari penyakit kulit yang sudah ada juga telah dilaporkan terjadi dengan
penghentian tiba-tiba, terutama dengan preparat potensi tinggi. TCIRD / TSDF sangat
sulit untuk dikelola karena penghalang epidermal serta karena rebound lesi kulit. [10,11]

Gambar 3. Strie Atrofi


Sudah dikemukakan bahwa efek kortikosteroid adalah karena aksi mereka pada ekspresi
gen oleh dua mekanisme yang berbeda; transrepression bertanggung jawab untuk
sebagian besar efek terapi dan transactivation yang memediasi sebagian besar efek
samping. Agonis reseptor glukokortikoid selektif baru sedang dikembangkan untuk
memisahkan antara transrepression dan transactivation. Hal ini mungkin memimpin masa
depan untuk pengembangan kelas baru dari TC tanpa efek samping yang signifikan. [59]
Tachyphylaxis
Ini adalah toleransi kulit yang berkembang untuk aksi vasokonstriksi TC. Setelah
penggunaan berulang steroid topikal, kapiler di kulit tidak mengerut dengan baik,
memerlukan dosis yang lebih tinggi atau aplikasi yang lebih sering. Kemampuan
pembuluh darah mengerut kembali empat hari setelah terapi berhenti. [60,61]

Saat ini diperkirakan bahwa kepatuhan pasien yang rendah atau perjalanan alami aktivitas
penyakit (tidak berhubungan dengan terapi) mungkin menjadi alasan utama di balik
tachyphylaxis.
Untuk alasan ini, melembagakan, "terapi akhir pekan" atau "pulse therapy" setidaknya
dapat menyelesaikan masalah kepatuhan. Jika TC kehilangan efektivitasnya, itu harus
dihentikan selama 4-7 hari dan kemudian dimuali kembali. [16]
Sensitisasi silang dan reaktivitas silang
Dermatitis kontak karena TC tidak umum terjadi. Diperkirakan prevalensi ditemukan di
kisaran 0,2-6% pada penelitian sebelumnya. [62-67] Kortikosteroid nonfluorinated lebih
mungkin menyebabkan CD. Ini harus dipertimbangkan setiap kali tidak ada hasil yang
memuaskan, atau memburuknya lesi setelah tidak termasuk eksaserbasi infeksi yang tidak
terdiagnosis. Kadang ruam eczematous kronis lama memburuk meskipun telah digunkaan
TC. Mungkin karena fenomena kecanduan kortikosteroid, yang mungkin dimediasi oleh
peningkatan pada kadar serum oksida nitrat. [68] Sangat bermanfaat untuk mengetahui
apakah benar ada sensitivitas untuk TC itu sendiri atau salah satu unsur zat pengawet
yang ada di preparat. Sebuah tes patch kulit dapat digunakan untuk mendeteksi dan
mengkonfirmasi sensitivitas kortikosteroid.
Ketahui Pasiennya
Hal ini perlu untuk diingat usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis khusus yang mendasari
seperti kehamilan, menyusui, dan juga harapan dari pasien terhadap lokasi dan tingkat
kemajuan ketika meresepkan TC. [1,4,30]
TC harus digunakan dengan hati-hati pada anak-anak dan orang tua karena luas
permukaan yang lebih besar untuk rasio berat badan dan fungsi sawar kulit yang buruk di
area bekas pemakaian dan kerapuhan pada akhirnya masing-masing. [69] Pasien wanita
lebih rentan terhadap efek samping steroid karena kecenderungan mereka untuk

menggunakan TC tanpa pandang bulu. Sejak belum adanya studi tentang potensi
teratogenik dari sebagian besar TC pada kehamilan, TC dikategorikan sebagai kategori C
kehamilan dan dengan demikian dianjurkan untuk digunakan hanya jika manfaat
potensial lebih dari pada potensi risiko pada janin. [38] Selama menyusui, obat ini harus
digunakan dengan hati-hati. Seperti diketahui bahwa tekanan dari sekitar, cepat merasa
efek yang baik, dan ketidaktahuan tentang efek berbahaya dari TC juga menyebabkan
kelanjutan pengobatan di luar waktu yang ditentukan. [9] Waktu yang dihabiskan dalam
menjelaskan pada poin tersebut akan mencegah terjadinya penyalahgunaan. Hal ini juga
akan mengurangi ketakutan berlebihan dalam menggunakan TC yang mengarah ke
penggunaan yang tidak adekuat dan hasil klinis yang buruk.
Pada kulit yang normal, penyerapan TC bervariasi dari daerah ke daerah. Penetrasi
bervariasi antara kelopak mata dan lainnya hampir 300 kali lipat. [70] Di negara endemis,
karena penghalang epidermis yang rusak, penetrasi TC bisa 2-10 kali lipat lebih tinggi.
Area dengan stratum korneum yang tebal, seperti telapak tangan dan kaki harus
diperlakukan dengan preparat potensi tinggi. [4,30] Sebaliknya, daerah dengan stratum
korneum yang tipis, seperti kelopak mata atau daerah oklusi seperti pangkal paha dan
ketiak dan daerah intertrigenosa lainnya harus diperlakukan dengan preparat potensi
menengah sampai rendah. [1,4,30] Di daerah lipatan, seperti yang disebutkan sebelumnya
akan ada Efek fisik tambahan oklusi oleh lipatan kulit yang juga akan meningkatkan
penyerapan. Ketika area permukaan besar yang terlibat, pengobatan dengan preparat
potensi rendah sampai menengah diperlukan karena peningkatan risiko penyerapan
sistemik. Pemantauan semua variabel ini terus diperlukan untuk pengobatan dengan TC
supaya pengobatan menjadi aman dan efektif.
Kesimpulan
Kami dengan cepat menyadari bahwa meskipun upaya terbaik yang dilakukan di tingkat
kami, masalah ini akan terus bertahan karena masalah ini tidak hanya disumbangkan oleh
kita sendiri. Untuk mengatasinya, intervensi harus dilakukan secara multidimensi, yang
melibatkan pendekatan politik, pendidikan dan hukum. [9] Kesempatan mungkin harus

diambil oleh pimpinan Asosiasi Dermatologi India, Venereologis dan Leprologis di setiap
forum yang tersedia. Para pemimpin politik dan pejabat pemerintah harus berulang kali
diberitahu tentang situasi yang terjadi dan kebutuhan untuk menghapus ancaman ini.
Penggunaan media untuk pendidikan publik tentang penyalahgunaan steroid topikal
dibenarkan, dan keterlibatan dokter umum, perawat dan apoteker diperlukan. Pendekatan
hukum harus mencakup penegakan peraturan yang ada terkait dengan kontrol obat ini,
sehingga TC yang tidak dijual tanpa resep yang tepat. Perusahaan farmasi harus
memastikan pelabelan yang tepat dari produk TC yang harus mencakup sisipan yang
mengandung jelas instruksi "unit ujung jari", sebaiknya dengan gambar dan grafik untuk
menunjukkan nomor unit yang dibutuhkan untuk area tertentu dari tubuh. [71] Hal ini
sangat akan membantu dalam penggunaan optimal dan aman dari TC. Aspek hukum juga
harus mencakup langkah-langkah yang bertujuan untuk memperkuat tanggung jawab etis
dari apoteker untuk secara benar menasihati pasien tentang keamanan obat-obatan yang
dibelinya. Setelah langkah - langkah diterapkan di tempat dan bekerja, kami berharap
dapat melihat awal perbaikan dari penyalahgunaan TC dan manfaat yang baik dari
kelompok obat hebat ini.
Mengoptimalkan penggunaan TC
Diresepkan untuk penyakit kulit yang tepat.
Menggunakan potensi dan kekuatan TC yang tepat untuk mencapai penyakit yang
terkontrol.
Maintainance dengan preparat yang lebih lemaatau mengurangi frekuensi pemakaian
setelah respon yang memuaskan.
Tappering off pengobatan setelah remisi lengkap penyakit kulit.
Ekstra hati-hati ketika meresepkan steroid topikal lebih lokasi tertentu (misalnya
skrotum, wajah, dan lipatan).
Perhatian ketika meresepkan untuk orang tua dan anak-anak.
Menyadari efek samping dan segera bertindak untuk melawan efek samping tersebut.
Menghindari pengenceran TC dan resep TC dalam kombinasi dengan antimikroba
dan antijamur.

Menahan godaan untuk menggunakan TC untuk ruam tidak terdiagnosis; ini


membuat kemungkinan diagnosis yang benar bahkan lebih buruk di masa depan.
Apa hal baru yang diketahui?
1. Penyalahgunaan TC menjadi perhatian yang besar karena efek klinis yang
ditimbulkan, karena tekanan besar dari sekitar untuk menggunakannya untuk tujuan
kosmetik, ketersediaan produk yang mudah didapatkan, informasi yang tidak memadai
tentang efek samping obat ini, dan timbulnya fenomena kecanduan steroid.
2. TCIRD, TSDF merupakan Efek samping spesifik TC yang baru ditemukan.
3. Upaya sedang berlangsung untuk mengembangkan TC yang ideal dengan
meningkatkan potensi tanpa meningkatkan efek samping TC. Esterifikasi ditemukan
dapat meningkatkan profil keamanan.
4. Studi evidence based menyarankan pemakaian satu kali sehari dengan aplikasi lebih
sering meskipun dalam pemakaian TC konvensional. Terapi mingguan atau pulse
therapy pada TC dapat mencegah tachyphylaxis.
5. Intervensi untuk pencegahan terjadinya ketergantungan kortikosteroid, ataupun
penyalahgunaan harus dilakukan secara multidimensi

Referensi
1. Stern R. The pattern of topical corticosteroid prescribing in the United States 19891991. J Am Acad Dermatol. 1996;35:18396. [PubMed]
2. Sulzberger MB, Witten VH. The effect of topically applied compound F in selected
dermatoses. J Invest Dermatol. 1952;19:1012. [PubMed]
3. Kumar AM, Noushad PP, Shailaja K, Jayasutha J, Ramasamy C. A study on drug
prescribing pattern and use of corticosteroids in dermatological conditions at tertiary care
teaching hospital. Int J Pharm Sci Rev Res. 2011;9:1325. Available online at
http://www.globalresearchonline.net .

4. Ference JD, Last AR. Choosing Topical Corticosteroids. Am Fam


physician.2009;79:13540. [PubMed]
5. Rathi S. Abuse of topical steroid as cosmetic cream: A social background of steroid
dermatitis. Indian J Dermatol. 2006;51:1545.
6. Bhat YJ, Manzoor S, Qayoom S. Steroid induced rosacea: A clinical study of 200
patients. Indian J Dermatol. 2011;56:302. [PMC free article] [PubMed]
7. Al-Dhalimi MA, Aljawahiri N. Misuse of topical corticosteroids: A clinical study from
an Iraqi hospital. East Mediterr Health J. 2006;12:84752. [PubMed]
8. Solomon BA, Glass AT, Rabbin PE. Tinea incognito and over the-counter potent
topical steroids. Cutis. 1996;58:2956. [PubMed]
9. Malangu N, Ogunbanjo G. Predictors of topical steroid misuse among patrons of
pharmacies in Pretoria. SA Fam Pract. 2006;48:14.
10. Rathi SK, Kumrah L. Topical corticosteroid-induced rosacea-like dermatitis: A
clinical study of 110 cases. Indian J Dermatol Venereol Leprol. 2011;77:426.[PubMed]
11. Saraswat A, Lahiri K, Chatterjee M, Barua S, Coondoo A, Mittal A, et al. Topical
corticosteroid abuse on the face: A prospective, multicentre study of dermatology
outpatients. Indian J Dermatol Venereol Leprol. 2011;77:1606. [PubMed]
12. Chen AY, Zirwas MJ. Steroid- induced rosacealike dermatitis: Case report and review
of the literature. Cutis. 2009;83:198204. [PubMed]
13. Potter VR. Bio-ethics. Bridge to the future. Englewood Cliffs, New Jersey: PrenticeHall; 1971.

14. Giannotti B. Current treatment guidelines for topical


corticosteroids. Drugs.1988;36(Supp 5):914. [PubMed]
15. Gonzalez-Moles MA, Scully C. Vesiculo-erosive oral mucosal disease management
with topical corticosteroids: (1) fundamental principles and specific agents available. J
Dent Res. 2005;84:294301. [PubMed]
16. Drake LA, Dinehart SM, Farmer ER, Goltz RW, Graham GF, Hordinsky MK, et al.
Guidelines of care for the use of topical glucocorticosteroids. J Am Acad
Dermatol. 1996;35:6159. [PubMed]
17. Mc Kenzie AW, Stoughton RB. Method for comparing percutaneous absorption of
steroids. Arch Dermatol. 1962;86:60810.
18. Goa KL. Clinical pharmacology and pharmacokinetic properties of topically applied
corticosteroids. A review. Drugs. 1988;36(Suppl 5):5161. [PubMed]
19. Mckenzie AW. Comparison of steroids by vasoconstriction. Br J
Dermatol.1966;78:1823.
20. Olsen EA. A double-blind controlled comparison of generic and trade-name topical
steroids using the vasoconstriction assay. Arch Dermatol. 1991;127:197201.[PubMed]
21. Epstein NN, Epstein WI, Epstein JH. Atrophic striae in patients with inguinal
intertrigo. Arch Dermatol. 1963;87:4505.
22. Mukhopadhyay AK, Baghel V. A study to evaluate the efficacy and safety of
hydrocortisone aceponate 0.127% lipophilic cream in steroid responsive dermatoses in
Indian patients. Indian J Dermatol Venereol Leprol. 2010;76:591. [PubMed]

23. Jacob SE, Steele T. Corticosteroid classes: A quick reference guide including patch
test substance and cross-reactivity. J Am Acad Dermatol. 2006;54:7237.[PubMed]
24. Geraci AC, Crane JS, Cunha BA. Topical steroids: Dosing forms and general
consideration. Hosp Pharm. 1991;26:699719.
25. Lee NP, Arriola ER. Topical corticosteroids.Back to basics. West J
Med.1999;171:3513. [PMC free article] [PubMed]
26. Sheman AJ. Proper use of topical corticosteroids. In: Frankel DH, editor. Field guide
to clinical dermatology. 2nd ed. New Jersey: LWW; 2006. p. 3.
27. Maibach HI. In vivo percutaneous penetration of corticosteroids in man
and unresolved problems in the efficacy. Dermatologica. 1976;152(Suppl 1):1125.
[PubMed]
28. Pariser DM. Topical steroids: A guide for use in the elderly patients. (57-60,
63).Geriatric. 1991;46:514. [PubMed]
29. Long CC, Finlay AY. The finger-tip unit-a new practical measure. Clin Exp
Dermatol. 1991;16:4447. [PubMed]
30. Tadicherla S, Ross K, Shenefelt PD, Fenske NA. Topical corticosteroids in
dermatology. J Drugs Dermatol. 2009;8:1093105. [PubMed]
31. Brazzini B, Pimpinelli N. New and established topical corticosteroids in dermatology:
Clinical pharmacology and therapeutic use. Am J ClinDermatol.2002;3:4758. [PubMed]
32. du Vivier A. Tachyphylaxis to topically applied steroids. Arch
Dermatol.1976;112:12458. [PubMed]

33. NICE Appraisal consultation document of application of topical corticosteroids for


atopic eczema. National Institute for Health and Clinical
Excellence. 2004.http://www.nice.org.ukTA081guidance .
34. Williams Hywel C. Established corticosteroid creams should be applied only once
daily in patients with atopic eczema. BMJ. 2007;334:1272. [PMC free article][PubMed]
35. Abidi A, Ahmad F, Singh SK, Kumar A. Study of reservoir effect of clobetasol
propionate cream in an experimental animal model using histamine-induced wheal
suppression test. Indian J Dermatol. 2010;55:32933. [PMC free article] [PubMed]
36. Lagos B, Mibach H. Frequency of application of topical corticosteroids: An
overview. Br J Dermatol. 1998;139:7636. [PubMed]
37. Bodor N. Design of novel soft corticosteroids. Curr Probl Dermatol. 1993;21:11
9. [PubMed]
38. Hengge UR, Ruzicka T, Schwartz RA, Cork MJ. Adverse effects of topical
glucocorticosteroids. J Am Acad Dermatol. 2006;54:115. [PubMed]
39. Dahl MGC. Hazards of topical steroid therapy. Adverse Drug Reaction
Bull.1985;115:42831.
40. Nelson NV, Sorensen PN. Glaucoma induced by application of corticosteroids to the
priorbital region. Arch Dermatol. 1978;114:9534. [PubMed]
41. Goetta DK, Odom RB. Adverse effects of corticosteroids. Cutis. 1979;23:47787.
[PubMed]
42. Ammar NM, Rao B, Schwartz RA, Janniger CK. Adolescent
striae. Cutis.2000;65:6970. [PubMed]

43. Nigam PK. Striae cutis distensae. Int J Dermatol. 1989;28:4268. [PubMed]
44. Hettmannsperger U, Tenorio S, Orfanos CE, Detmar M. Corticosteoroids induce
proliferation but do not influence TNF or IL-1 beta-induced ICAM-1 expression of
human dermal microvascular endothelial cells in vitro. Arch Dermatol
Res.1993;285:34751. [PubMed]
45. Rapaport MJ, Rapaport V. Eyelid dermatitis to red face syndrome to cure: Clinical
experience in 100 cases. J Am Acad Dermatol. 1999;41(3 Pt 1):43542. [PubMed]
46. Piewig G, Kligman AM. Induction of acne by topical steroids. Arch Dermatol
Forsch. 1973;247:2952. [PubMed]
47. Fisher D. Adverse effects of topical corticosteroid use. West J Med.1995;162:123
6. [PMC free article] [PubMed]
48. Kaidbey KH, Kligman AM. The pathogenesis of topical steroid acne. J Invest
Dermatol. 1974;62:316. [PubMed]
49. Litt JZ. Steroid-induced rosacea. Am Fam Physician. 1993;48:6771. [PubMed]
50. Mehan R, Ayers S. Perioral dermatitis. Arch Dermatol. 1964;89:803. [PubMed]
51. Takeda K, Arase S, Takahashi S. Side effects of topical corticosteroids and their
preventions. Drugs. 1988;36)(Suppl 5):1523. [PubMed]
52. Friedman SJ, Butler DF, Pittelkow MR. Perilesional linear atrophy and
hypopigmentation after intralesional corticosteroid therapy. Report of two cases and
review of the literature. J Am Acad Dermatol. 1988;19:53741. [PubMed]

53. Colomb D. Stellate spontaneous pseudoscars.Senile and presenile forms: Especially


those forms caused by prolonged corticoid therapy. Arch Dermatol.1972;105:551
4. [PubMed]
54. Katz HI. Topical corticosteroids. Dermatol lin. 1995;13:80515. [PubMed]
55. Keipert JA, Kelly R. Temporary Cushing's syndrome from percutaneous absorption of
betamethsone 17-valerate. Med J Aust. 1971;1:5424. [PubMed]
56. Gilbertson EO, Spellman MC, Piacquadio DJ, Mulford MI. Super potent topical
corticosteroid use associated with adrenal suppression: Clinical considerations. J Am
Acad Dermatol. 1998;38(2 Pt 2):31821. [PubMed]
57. Ohman EM, Rogers S, Meenan FO, Mckenna TJ. Adrenal suppression following lowdose topical clobetasol propionate. J R Soc Med. 1987;80:4224.[PMC free
article] [PubMed]
58. Munro DD. The effect of percutaneously absorbed steroids on hypothalamicpituitary-adrenal function after intensive use in in-patients. Br J Dermatol.1976;94(Suppl
12):6776. [PubMed]
59. Schacke H, Schottelius A, Docke WD, Strehlke P, Jaroch S, Schemes N, et al.
Dissociation of transactivation from transrepression by a selective glucocorticoid receptor
agonist leads to separation of therapeutic effects from side effects. Proc Natl Acad Sci U
S A. 2004;101:22732. [PMC free article] [PubMed]
60. Singh G, Singh PK. Tachyphylaxis to topical steroid measured by histamine-induced
wheal suppression. Int J Dermatol. 1986;25:3256. [PubMed]

61. Miller JJ, Roling D, Guzzo C. Failure to demonstrate therapeutic tachyphylaxis to


topically applied steroids in patients with psoriasis. J Am Acad Dermatol.1999;41:546
9. [PubMed]
62. Scheuer E, Warshaw E. Allergy to corticosteroids: Update and review of
epidemiology, clinical characteristics, and structural cross reactivity. Am J Contact
Dermat. 2003;14:17987. [PubMed]
63. Dooms-Goossens A, Morren M. Results of routine patch testing with corticosteroid
series in 2073 patients. Contact Dermatitis. 1992;26:18291. [PubMed]
64. Bircher AJ, Thurlimann W, Hunziker T, Pasche-Koo F, Hunziker N, Perrenoud D, et
al. Contact hypersensitivity to corticosteroids in routine patch test patients. A multi-centre
study of the Swiss Contact Dermatitis Research Group. Dermatology.1995;191:109
14. [PubMed]
65. Lutz ME, el-Azhary RA. Allergic contact dermatitis due to topical application of
corticosteroids. Review and clinical implications. Mayo Clin Proc. 1997;72:11414.
[PubMed]
66. Isakisson M, Andersen KE, Brandao FM, Bruynzeel DP, Bruz M, Camarasa JG, et al.
Patch testing with corticosteroid mixes in Europe.A multicentre study of the
EECDRG. Contact Dermatitis. 2000;42:2735. [PubMed]
67. Thompson KF, Wilkinson SM, Powell S, Back MH. The prevalence of corticosteroid
allergy in two U.K. centres: Prescribing implications. Br J Dermatol.1999;141:863
6. [PubMed]

68. Rapaport MJ, Rapaport VH. Serum nitric oxide level in red patients: Separating
cortico-steroid-addicted patients from those with chronic eczema. Arch
Dermatol.2004;140:10134. [PubMed]
69. Saraswat A. Topical corticosteroid use in children: Adverse effects and how to
minimize them. Indian J Dermatol Venereol Leprol. 2010;76:2258. [PubMed]
70. Feldmann RJ, Maibach HI. Regional variation in percutaneous penetration of
14C cortisol in man. J Invest Dermatol. 1967;48:1813. [PubMed]
71. Bewley A. Expert consensus: Time for a change in the way we advise our patients to
use corticosteroids. Br J Dermatol. 2008;158:91720. Epub 2008 Feb 22.[PubMed]