Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
Mioma uterus, yang disebut juga fibromioma uterus, leiomyoma uterus atau
uterin fibrinoid adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos dinding uterus.1,2
Mioma merupakan tumor uterus yang ditemukan pada 20-25% wanita diatas umur
35 tahun. Pada uterus yang besar sekali akibat mioma yang besar atau banyak,
umumnya diusulkan histerektomi (pengangkatan uterus). Pengangkatan uterus
merupakan prosedur pembedahan terbanyak ke dua di Amerika setelah seksio
cesarean. Menurut Victoria BS, angka histerektomi adalah 6.1 8.6 per 1000
perempuan. Sebuah penelitian di Amerika tahun 1990 yang melibatkan 1011 pasien
menunjukkan 522 diantaranya menjalani histerektomi karena mioma uteri atau
leiomyoma.2
Pada pembedahan histerektomi, dapat digunakan teknik anestesi regional
maupun general. Anestesi regional berupa Sub Araknoid Spinal Block (SAB)
umumnya digunakan pada operasi tubuh bagian bawah, seperti ekstrimitas bawah,
perineum maupun abadomen bagian bawah. Prinsip yang digunakan adalah
menggunakan obat analgetik local untuk menghambat hantaran saraf sensorik
sementara (reversible). Fungsi motoric juga terhambat sebagian, sehingga pasien
tetap sadar. Kemudahan teknik ini adalah kemudahan dalam tindakan, peralatan
yang minimal, memiliki efek minimal pada biokimia darah, pasien tetap sadar
selama operasi dan menjaga jalan napas, serta membutuhkan penanganan post
operatif dan analgesia yang minimal. Resiko akibat anestesi regional dapat berupa
nyeri kepala post pungsi lumbal (Post Lumbar Puncture Headache/PLPH), tekanan
darah turun, reaksi alergi maupun cidera saraf.2
Teknik anestesi lain yang dapat digunakan adalah general anestesi, yaitu
meniadakan nyeri secara sentral dan menghilangkan kesadaran secara reversible.
Perhatian utama pada anestesi umum adalah keamanan dan keselamatan pasien yang
salah satunya ditentukan oleh kestabilan hemodinamik. Keuntungan teknik anestesi
ini adalah pasien tertidur selama pembedahan dan terbangun setelah di ruang
Recovery. Resiko yang timbul akibat anestesi general dapat berupa kematian, cidera

dental atau jaringan lunak, aspirasi isi lambung, suara serak, mual muntah setelah
operasi dan kemungkinan penggunaan ventilator setelah operasi.2
Pasien dengan kondisi baik yang menjalani histerektomi secara elektif
memungkinkan untuk dilakukan anestesi regional maupun general. Anestesi spinal
menghasilkan relaksasi otot dan meungkinkan anestesi berjalan selama 1 -3 jam.
Sebaliknya, pasien dengan koagulopati, trauma maupun perdarahan yang
membutuhkan histerektomi emergensi umumnya

tidak menggunakan regional

anestesi.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1

Mioma Uteri 1
Mioma uterus, yang disebut juga fibromioma uterus,leiomyoma uterus atau

uterin fibrinoid adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos dinding uterus.
Mioma merupakan tumor uterus yang ditemukan pada 20-25% wanita diatas umur
35 tahun. Kebanyakan mioma uterus terletak di korpus uterus. Bila pertumbuhannya
hanya di dinding uterus, tumor dinamakan mioma intramural.
Separuh penderita mioma uterus tidak memperlihatkan gejala. Umumnya
gejala yang ditemukan bergantung pada lokasi, ukuran, dan perubahan pada mioma
tersebut, seperti perdarahan haid abnormal, nyeri dan tanda penekanan. Perdarahan
berlebihan dan nyeri haid di dapat pad mioma sumukosa. Penekanan teruttama
didapat pada mioma yang besar. Putaran tangkai mioma subserosum dapat
menyebabkan

nyeri hebat.Pada inspeksi dan palpasi

perut, apalagi pada

pemeriksaan vaginoabdominal, uterus ditemukan membesar, mengeras dan


berbenjol-benjol.
Diagnosis ditentukan atas gejala dan tanda klinis. Pemeriksaan ultrasonografi
sangat membantu dalam menentukkan diagnosis, dan pemeriksaan histopatologis
merupakan bukti terakhir. Diagnosis banding ialah pembengkakan atau massa
diperut bagian bawah yang berasal dari dinding perut, organ rongga perut,
khususnya perut bagian bawah atau retropeitoneum. Umumnya pemeriksaan
vaginoabdominal akan memberikan gambaran diagnosis yang lebih pasti.
Pengobatan

berupa

laparotomy

untuk

engeluarkan

mioma

yang

menyebabkan keluhan atau tanda yang mengganggu. Mioma yang nekrotik atau
gangrene juga dikeluarkan. Pada uterus yang besar sekali akibat mioma yang besar
atau banyak, umumnya diusulkan histerektomi.
2. 2

Prosedur Pembedahan pada Mioma Uteri3


Istilah histerektomi berasal dari bahasa latin histeria yang berarti
kandungan, rahim, atau uterus, dan ectomi yang berarti memotong, jadi

histerektomi adalah suatu prosedur pembedahan mengangkat rahimyang


dilakukan oleh ahli kandungan. Histerektomi adalah operasi pengangkatan
kandungan (rahim,uterus) pada seorang wanita, sehingga setelah menjalani ini dia
tidak bisa lagi hamil dan mempunyai anak. Histerektomi biasanya disarankan oleh
dokter untuk dilakukan karena berbagai alasan. Alasan utamanya dilakukan
histerektomi adalah kanker mulut rahim atau kanker rahim.
ETIOLOGI
Adanya mioma uteri fibroid yang merupakan tumor jinak pada rahim,
Histerektomi perlu dilakukan karena tumor ini dapat menyebabkan
perdarahan berkepanjangan, nyeri panggul, anemia, dan tekanan pada
kandung kemih.
Endometriosis, suatu kelainan yang disebabkan dinding rahim bagian dalam yang
seharusnya tumbuh didalam rahim saja, juga ikut tumbuh diindung telur, tuba
falopii, atau bagian tubuh lainnya. Hal ini bisa membahayakan bagi ibu, oleh
karena itu, biasanya dianjurkan untuk melakukan histerektomi oleh dokter.
JENIS-JENIS HISTEREKTOMI
Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, rahimn diangkat,
tetapi mulut rahim (serviks) tetap dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih
dapat terkena kanker mulut rahim sehingga masih perlu pemeriksaan pap
smear (pemeriksaan leher rahim) secara rutin.
Histerektomi total. Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat
secara keseluruhan.
Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral. Histerektomi ini mengangkat
uterus, mulut rahim, kedua tuba falopii, dan kedua ovarium. Pengangkatan
ovarium menyebabkan keadaan penderita seperti menopause meskipun usianya
masih muda.
Histerektomi radikal, histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina, jaringan
dan kelenjar limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan
pada beberapa jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa

penderita.
Histerektomi dapat dilakukan melalui 3 macam cara, yaitu abdominal,
vaginal dan laparoskopik. Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi yang
akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai pertimbangan
lainnya. Histerektomi abdominal tetap merupakan pilihan jika uterus tidak dapat
dikeluarkan dengan metode lain. Histerektomi vaginal awalnya hanya dilakukan
untuk prolaps uteri tetapi saat ini juga dikerjakan pada kelainan menstruasi
dengan ukuran uterus yang relatif normal. Histerektomi vaginal memiliki resiko
invasive yang lebih rendah dibandingkan histerektomi abdominal. Pada
histerektomi laparoskopik, ada bagian operasi yang dilakukan secara laparoskopi
(garry, 1998)
KOMPLIKASI
a.

Hemoragik
Keadaan hilangnya cairan dari pembuluh darah yang biasanya terjadi dengan
cepat dan dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini diklasifikasikan dalam
sejumlah cara yaitu, berdasarkan tipe pembuluh darah arterial, venus atau
kapiler, berdasarkan waktu sejak dilakukan pembedahan atau terjadi cidera
primer, dalam waktu 24 jam ketika tekanan darah naik reaksioner, sekitar 7- 10
hari sesudah kejadian dengan disertai sepsis sekunder, perdarahan bisa interna
dan eksterna.

b. Thrombosis vena
Komplikasi hosterektomi radikal yang lebih jarang terjadi tetapi
membahayakan jiwa adalah thrombosis vena dalam dengan emboli paru-paru,
insiden emboli paru-paru mungkin dapat dikurangi dengan penggunaan
ambulasi dini, bersama-sama dengan heparin subkutan profilaksis dosis
rendah pada saat pembedahan dan sebelum mobilisasi sesudah pembedahan
yang memadai.
1. Infeksi
Infeksi oleh karena adanya mikroorganisme pathogen, antitoksinnya
didalam darah atau jaringan lain membentuk pus.

2. Pembentukan fistula
Saluran abnormal yang menghubungkan 2 organ atau menghubungkan 1
organ dengan bagian luar. Komplikasi yang paling berbahaya dari
histerektomi radikal adalah fistula atau striktura ureter. Keadaan ini sekarang
telah jarang terjadi, karena ahli bedah menghindari pelepasan ureter yang luas
dari peritoneum parietal, yang dulu bisa dilakukan. Drainase penyedotan pada
ruang retroperineal juga digunakan secara

umum

yang

membantu

meminimalkan infeksi.
PENATALAKSANAAN
a.

Preoperative
Setengah bagian abdomen dan region pubis serta perineal dicukur dengan
sangat cermat dan dibersihkan dengan sabun dan air (beberapa dokter bedah
tidak menganjurkan pencukuran pasien). Traktus intestinal dan kandung
kemih harus dikosongkan sebelum pasien dibawa keruang operasi untuk
mencegah kontaminasi dan cidera yang tidak sengaja pada kandung kemih
atau traktus intestinal. Edema dan pengirigasi antiseptic biasanya diharuskan
pada malam hari sebelum hari pembedahan, pasien mendapat sedative.
Medikasi praoperasi yang diberikan pada pagi hari pembedahan akan
membantu pasien rileks

b. Postoperative
Prinsip-prinsip umum perawatan pasca operatif untuk bedah abdomen
diterapkan, dengan perhatian khusus diberikan pada sirkulasi perifer untuk
mencegah tromboflebitis dan TVP (perhatikan varicose, tingkatkan sirkulasi
dengan latihan tungkai dan menggunakan stoking.

2. 3

Penatalaksanaan Anestesia
2.3.1

Penilaian Prabedah
1. Anamnesis4
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anesthesia sebelumnya
sangatlah penting untuk menegtahui apakah ada hal-hal yang perlu

mendapat perhatian khusus, misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot,


atau sesak napas pasca bedah, sehingga dapat merancang anesthesia
berikutnya dengan lebih baik. Beberapa peneliti menganjurkan obat yan
gkiranya menimbulkan masalah dimasa lampau sebaiknya jangan
digunakan ulang, misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam waktu
tiga bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjangan juga
jangan diulang. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari
sebelumnya untuk eliminasi nikotin yang mempengaruhi system
kardiosirkulasi, serta mengaktifkan kerja

silia jalan pernapasan dan

mnegurangi produksi sputum. Kebiasaan minum alcohol juga harus


dicurigai adanya penyakit hepar.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relative
besar, sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan
laringoskopi intubasi. Pemeriksaan lain secara sistematik tentang
keadaan umum pasien serta inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
semua system organ tubuh pasien.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat. Banyak fasilitas
kesehatan yang mengharuskan uji laboratorium rutin walaupun pada
pasien sehat untuk bedah minor, misalnya pemeriksaan darah rutin
(hemoglobin, leukosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan
urinalisis. Pada pasien usia diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan
EKG dan foto toraks.
4. Klasifikasi Status Fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai status fisik adalah The
American Society of Anesthesiologists (ASA). Kalsifikasi fisik ini bukan
alat perkiraan risiko anesthesia, karena dampk samping anesthesia tidak
dapat dipisahkan dari dampak samping pembedahan.
Kelas I

: Pasien sehat organic, fisiologik, psikiatrik dan biokimia.

Kelas II

: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga aktifitas


rutin terbatas.
Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat, tak dapat melakukan
aktifitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman
kehidupannya setiap saat.
Kelas V : Pasien sekarat, diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan
hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.
Pada bedah emergency atau Cito diberi huruf E.
5. Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anesthesia. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko
utamanpada pasien pasien yang menjalani anesthesia, sehingga pasien
yang dijadwalkan operasi elektif harus dipantangkan dari masukan oral
(puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anesthesia. Pada pasien
dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam, dan pada bayi 3-4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi.
Minuman bening, air putih, the manis sampai 3 jam dan untuk keperluan
minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum
induksi.
2.3.2

Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari
anesthesia, diantaranya :
-

Meredakan kecemasan dan ketakutan.

Memperlancar induksi anesthesia

Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

Meminimalkan jumlah obat anestetik

Mengurangi muntah-muntah pasca bedah

Menciptakan amnesia

Mengurangi cairan lambung

Menguragi refleks yang membahayakan

Obat yang dapat digunakan antara lain

diazepam per oral 10-15mg

beberapa jam sebelum induksi. Jika disertai nyeri karena penyakit dapat
diberikan opioid misalnya petidin 50 mg. cairan lambung 25 ml dengan pH
2.5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. Untuk meminimalkan kejadian
diatas diberikan antagonis reseptor H2 histamin misalnya Ranitidin 150 mg
1-2 jam sebelum operasi. Untuk mengurangi mual-muntah pasca bedah
sering ditambah ondansentron 2-4 mg.
2.3.3

Pemilihan Teknik Anestesi


Pemilihan teknik anestesi dipengaruhi oleh macam pembedahan, lama
pembedahan dan pemeriksaan prabedah. Pasien dengan kecemasan tinggi
dan tidak kooperatif tidak memungkinkan untuk dilakukan anesthesia
regional. Pemberian anesthesia dapat dilakukan regional atau umum dan
yang secara umum dapat diberikan inhalasi atau intravena.

2.3.4

Anestesi pada kondisi Hiperglikemi5


Seperti telah diketahui beberapa obat anestesi dapat meningkatkan
gula darah. Beberapa obat yang dipakai untuk anestesi dapat mengakibatkan
perubahan di dalam metabolisme karbohidrat, tetapi mekanisme dan tempat
kerjanya belum jelas. Obat-obat induksi dapat mempengaruhi homeostatis
glukosa perioperatif.

Ether dapat meningkatkan kadar gula darah,

menoegah efek insulin untuk transport glukosa menyeberang membran sel


dan secara tak langsung melalui peningkatan aktifitas simpatis sehingga
meningkatkan glikogenolisis di hati.
Menurut Greene penggunaan halotan pada pasien cukup memuaskan
karena kurang pengaruhnya terhadap peningkatan hormon pertumbuhan,
peningkatan kadar gula atau penurunan kadar insulin. Penelitian invitro
halotan

dapat

menghambat

pelepasan insulin

dalam merespon hiperglikemia, tetapi tidak sama pengaruhnya terhadap


level insulin selama anestesi. Sedangkan enfluran dan isofluran tak nyata
pengaruhnya terhadap kadar gula darah.

Pengaruh propofol pada secresi insulin tidak diketahui. Pasien-pasien


diabetik menunjukkan penurunan kemampuan untuk membersihkan lipid
dari sirkulasi. Meskipun hal ini tidak relevan selama anestesia singkat jika
propofol digunakan untuk pemeliharaan atau hanya sebagai obat induksi.
Keadaan ini dapat terlihat pada pasien-pasien yang mendapat propofol
untuk sedasi jangka panjang di ICU. Obat-obat anestesi intra vena yang
biasa diberikan mempunyai efek yang tidak berarti terhadap kadar gula
darah kecuali ketamin yang menunjukkan peningkatan kadar gula akibat
efek simpatomimetiknya.
Penggunaan anestesi lokal baik yang dilakukan dengan teknik
epidural atau subarakhnoid tak berefek pada metabolisme karbohidrat.
Epidural anestesia lebih efektif dibandingkan dengan anestesia umum dalam
mempertahankan perubahan kadar gula, growth hormon dan kortisol yang
disebabkan tindakan operasi.
Teknik anestesia dengan opiat dosis tinggi tidak hanya memberikan
keseimbangan hemodinamik, tetapi juga keseimbangan hormonal dan
metabolik. Teknik ini secara efektif menghambat seluruh sistem saraf
impatis dan sumbu hipotalamik-pituitari, kemungkinan melalui efek
langsung pada hipotalamus dan pucat yang lebih tinggi. Peniadaan respon
hormonal katabolik terhadap pembedahan akan meniadakan hiperglikemia
yang terjadi pada pasien normal dan mungkin bermanfaat pada pasien
diabetes.
2.3.5

Anestesi Blok Subarakhnoid5,6


1. Definisi
Anestesi spinal adalah salah satu metode anestesi yang diinduksi
dengan menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi lokal ke dalam
cairan cerebro-spinal (CSF). Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga
sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. Anestesi
spinal dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgesik lokal ke dalam
ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4L5.

10

Spinal anestesi mudah untuk dilakukan dan memiliki potensi untuk


memberikan kondisi operasi yang sangat baik untuk operasi di bawah
umbilikus. Spinal anestesi dianjurkan untuk operasi di bawah
umbilikus misalnya hernia, ginekologi dan operasi urologis dan setiap
operasi pada perineum atau alat kelamin. Semua operasi pada kaki, tapi
amputasi meskipun tidak sakit, mungkin merupakan pengalaman yang
tidak menyenangkan untuk pasien yang dalam kondisi terjaga. Dalam
situasi ini dapat menggabungkan tehnik spinal anestesi dengan anestesi
umum.
Anestesi spinal sangat cocok untuk pasien yang berusia tua dan orangorang dengan penyakit sistemik seperti penyakit pernapasan kronis, hati,
ginjal dan gangguan endokrin seperti diabetes. Banyak pasien dengan
penyakit jantung ringan mendapat manfaat dari vasodilatasi yang
menyertai anestesi spinal kecuali orang-orang dengan penyakit katub
pulmonalis atau hipertensi tidak terkontrol. Sangat cocok untuk
menangani pasien dengan trauma yang telah mendapatkan resusitasi yang
adekuat dan tidak mengalami hipovolemik.

2. Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi :

Bedah ekstremitas bawah

Bedah panggul

Tindakan sekitar rektum perineum

Bedah obstetrik-ginekologi

Bedah urologi

Bedah abdomen bawah

Kontraindikasi absolut:

Pasien menolak

Infeksi pada tempat suntikan

11

Hipovolemia berat, syok

Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan

Tekanan intrakranial meningkat

Fasilitas resusitasi minim

Kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsulen anestesi.

Kontra indikasi relatif:

Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi)

Infeksi sekitar tempat suntikan

Kelainan neurologis

Kelainan psikis

Bedah lama

Penyakit jantung

Hipovolemia ringan

Nyeri punggung kronis

3. Persiapan dan peralatan anestesia spinal :


Persiapan anestesia spinal:
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan
pada anastesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung
atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus.
Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:
a. Informed consent (izin dari pasien)
Tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesia spinal.
b. Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung.
c. Pemeriksaan laboratorium anjuran

12

Hemoglobin, trombosit, PT (prothrombine time) dan APTT (activated


partial thromboplastine time).
Peralatan anestesia spinal:
1. Peralatan monitor
Tekanan darah, nadi, oksimetri denyut dan EKG.
2. Peralatan resusitasi/anestesi umum
3. Jarum spinal
Jarum

spinal

dengan

ujung

tajam

(ujung

bambu

runcing,

quinckebacock) atau jarum spinal dengan ujung pensil (pencil point


whitecare).
4. Teknik anestesia spinal:
Posisi duduk atau posisi tidur lateral decubitus dengan tusukan pada
garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan
diatas meja operasi tanpa dipindahkan lagi dan hanya diperlukan sedikit
perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit
pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
a. Setelah dimonitor, tidurkan pasien dalam posisi dekubitus lateral atau
duduk dan buat pasien membungkuk maksimal agar procesus spinosus
mudah teraba.
b. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka
dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-L5, tentukan tempat tusukan
misalnya L2-L3, L3-L4 atau L4-L5. Tusukan pada L1 -L2 atau atasnya
berisiko trauma terhadap medulla spinalis.
c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine dan alcohol
d. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan misalnya lidokain 1% 2-3ml.
e. Cara tusukan adalah median atau paramedian. Untuk jarum spinal
besar 22G, 23G, atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk
jarum kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum
(introducer), yaitu jarum suntik biasa semprit 10cc. Jarum akan

13

menembus kutis, subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum


interspinosum, ligamentum flavum, ruang epidural, duramater dan ruang
subarachnoid. Setelah mandrin jarum spinal dicabutcairan serebrospinal
akan menetes keluar. Selanjutnya disuntikkan larutan obat analgetik
lokal kedalam ruang subarachnoid tersebut.

5. Komplikasi Anastesi Spinal :


Komplikasi anastesi spinal dibagi menjadi komplikasi tindakan dan
komplikasi pasca tindakan.
Komplikasi tindakan :
1.

Hipotensi berat

2.

Bradikardia

3.

Hipoventilasi
Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas.

4.

Trauma pembuluh saraf

5.

Trauma saraf

6.

Mual-muntah

7.

Gangguan pendengaran

8.

Blok spinal tinggi atau spinal total


Komplikasi pasca tindakan:
1. Nyeri tempat suntikan
2. Nyeri punggung
3. Nyeri kepala karena kebocoran likuor
4. Retensio urine
5. Meningitis.
Komplikasi Intraoperatif :
1). Komplikasi kardiovaskular
Hipotensi terjadi karena vasodilatasi akibat blok simpatis, yang
menyebabkan terjadi penurunan tekanan arteriola sistemik dan vena,
14

makin tinggi blok makin berat hipotensi. Cardiac output akan berkurang
akibat dari penurunan venous return. Hipotensi yang signifikan harus
diobati dengan pemberian cairan intravena yang sesuai dan penggunaan
obat vasoaktif seperti efedrin atau fenilefedrin. Bila terjadi spinal tinggi
atau high spinal (blok pada cardioaccelerator fiber di T1 -T4), dapat
menyebabkan bardikardi sampai cardiac arrest.
Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse cairan
kristaloid (NaCl,Ringer laktat) secara cepat sebanyak 10-15ml/kgbb dlm
10 menit segera setelah penyuntikan anesthesia spinal. Bila dengan
cairan infuse cepat tersebut masih terjadi hipotensi harus diobati dengan
vasopressor seperti efedrin intravena sebanyak 19 mg diulang setiap 3-4
menit sampai mencapai tekanan darah yang dikehendaki. Bradikardia
dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok
simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV.

2). Blok spinal tinggi atau total


Anestesi spinal tinggi atau total terjadi karena akibat dari kesalahan
perhitungan dosis yang diperlukan untuk satu suntikan. Komplikasi yang
bisa muncul dari hal ini adalah hipotensi, henti nafas, penurunan
kesadaran, paralisis motor, dan jika tidak diobati bisa menyebabkan henti
jantung. Akibat blok simpatetik yang cepat dan dilatasi arterial dan
kapasitas pembuluh darah vena, hipotensi adalah komplikasi yang paling
sering terjadi pada anestesi spinal. Hal ini menyebabkan terjadi
penurunan sirkulasi darah ke organ vital terutama otak dan jantung, yang
cenderung menimbulkan sequel lain. Penurunan sirkulasi ke serebral
merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadi henti nafas pada
anestesi spinal total. Walau bagaimanapun, terdapat kemungkinan
pengurangan kerja otot nafas terjadi akibat dari blok pada saraf
somatic interkostal. Aktivitas saraf phrenik biasanya dipertahankan.
Berkurangnya aliran darah ke serebral mendorong terjadinya penurunan
kesadaran. Jika hipotensi ini tidak di atasi, sirkulasi jantung akan

15

berkurang seterusnya menyebabkan terjadi iskemik miokardiak yang


mencetuskan aritmia jantung dan akhirnya menyebakan henti jantung.
Pengobatan yang cepat sangat penting dalam mencegah terjadinya keadaan
yang lebih serius, termasuk pemberian cairan, vasopressor, dan pemberian
oksigen bertekanan positif. Setelah tingkat anestesi spinal berkurang, pasien
akan kembali ke kedaaan normal seperti sebelum operasi. Namun, tidak
ada sequel yang permanen yang disebabkan oleh komplikasi ini jika
diatasi dengan pengobatan yang cepat dan tepat.
3). Komplikasi respirasi :
Bila terjadi spinal tinggi atau high spinal (blok lebih dari dermatom
T5) mengakibatkan hipoperfusi dari pusat nafas di batang otak dan
menyebabkan terjadinya respiratory arrest. Bisa juga terjadi blok pada
nervus phrenicus sehingga menmyebabkan gangguan gerakan diafragma
dan otot perut yang dibutuhkan untuk inspirasi dan ekspirasi.

2.3.6

General Anestesi7
1. Definisi
Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversible.Anestesi umum yang
sempurna menghasilkan ketidaksadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa
menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.
2. Induksi Anestesia
Induksi anesthesia ialah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anesthesia dan pembedahan.
a. Induksi Intravena
Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan antara 30-60 detik.
Selama induksi anesthesia, pernapasan, nadi dan tekanan darah harus
diawasi dan selalu diberikan oksigen. Propofol intravena dengan

16

kepekatan 1% menggunakan dosis 2-3mg/kgBB. Suntikan propofol


intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga satu menit sebelumnya
sering diberikan lidokain 1 mg/kgBB secara intravena. Ketamin (ketalar)
intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB, sering menimbulkan halusinasi,
karena itu sebelumnya dianjurkan menggunakan sedative seperti
Midazolam. Ketamine tidak dianjurkan pada pasien dengan tekanan
darah tinggi (>160mmHg). Ketamine menyebabkan pasien tidak sadar
tetapi dengan mata terbuka.
b. Induksi inhalasi
Induksi ibhalasi hanya dilakukan dengan halotan atau sevofluran. Induksi
halotan memerlukan gas pendorong O2 > 4liter/ menit atau campuran
N2O:O2=3:1 aliran >4 liter per menit. Induksi dengan sevofluran lebih
disenangi karena jarang batuk walaupun langsung diberikan dengan
konsentrasi tinggi sampai 8 vol %. Induksi dengan enfluran (etran),
isofluran (foran, aeran) atau desfluran jarang dilakukan, karena pasien
batuk dan induksi menjadi lama.
3. Rumatan
Rumatan atau maintenance dapat dikerjakan dengan cara intravena atau
inhalasi atau campuran intravena inhalasi. Rumatan anesthesia biasanya
mengacu pada trias anesthesia yaitu tidur ringan (hypnosis) sekedar tidak
sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien selama di bedah tidak
menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup.
Rumatan intravena misalnya dengan menggunakan opioid dosis tinggi,
fentanyl 10-50g/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur
dengan analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi
pelumpuh otot. Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid dosis
biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan infus propofol 4-12 mg/kgBB/jam.
Bedah lama dengan anesthesia total intravena menggunakan opioid,
pelumpuh otot dan ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan
inhalasi dengan udara + O2 atau N2O+ O2.

17

Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 3:1


ditambah halotan 0.5-2 vol% atau enfluran 22-4 vol% atau isofluran 2-4
vol% atau sevofluran 2-4 vol% bergantung apakah pasien bernapas
spontan, dibantu atau dikendlaikan.

2.3.7
1

Obat-Obat Anestesi1,5,7
Anestesia Regional
Untuk anesthesia regional dapat digunakan beberapa obat, seperti :
-

Procain
Procain- HCl secara topical aktifitasnya kurang, tetapi toksisitas
sistemik minimal, iritasi local sedikit, strerilisasinya mudah, lama kerja
pendek dan murah.

Lidoccain
Mulainya cepat, bebas iritasi local, sebagian obat dimetabolisme di
hepar dan sebagian lagi dikeluarkan melalui urin. Untuk injeksi,
digunakan konsentrasi 0.5-2.0% sedangkan untuk topical anestesi
digunakan konsentrasi 4%. Dosis maksimal tanpa vasokonstriktor adalah
3 mg/kgBB dan 7mg/kgBB bila dengan adrenalin.

Mepivacain
Kerja sama dengan lidocain tetapi kerja lebih lama 20%, sehingga tidak
perlu tambahan adrenalin. Konsentrasi dianjurkan 1-4% dengan dosis
maksimal 500mg. tidak digunakan untuk anestesi spinal.

Bupivacain
Merupakan derivate anilide, lebih kuat dan lebih lama kerjanya
dibandingkan dengan Lidocain atau Mepivacain. Digunakan konsentrasi
0.25-0.75%, jumlah total untuk sekali pemberian maksimal 200-500 mg.
Pada konsentrasi rendah, blok motoric kurang adekuat. Untuk operasi
abdominal, diperlukan konsentrasi 0.75%. Onset anestesi lebih lambat
18

daripada lidocain atau mepivacain, tetapi kerjanya lebih lama 2-3kali.


Bupivacain HCl monohydrate (Decain) dapat digunakan dengan dosis
3-4 ml (15-20 mg) untuk operasi abdomen bagian bawah dalam posisi
terlentang.
2

General Anestesia
a. Obat Anestesi Inhalasi
-

Nitrous Oxide (N2O)


Khasiat anestesinya lemah, tetapi analgesinya kuat, sehingga sering
digunakan

untuk

mengurangi

nyeri

menjelang

persalinan.

Penggunaannya sering dikombinasi dengan halotan dan sebagainya.


Pada akhir anesthesia setelah N2O dihentikan, maka N2O akan cepat
keluar mengisi alveoli sehingga terjadi pengenceran O2 dan terjadi
hipoksia difusi.
-

Halothane
Merupakan turunan etan, baunya enak dan tidak merangsang jalan
napas. Selain untuk induksi dapat juga untuk laringoskop intubasi.
Pada napas spontan rumatan anesthesia sekitar 1-2 vol% dan pada
napas kendali sekitar 0.5-1 vol%. halotan meneyebabkan vasodilatasi
sehingga menyebabkan peningkatan aliran darah otak. Kelebihan
dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis,
hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi miokard.

Pada

bedah besar, halotan dibatasi maksimal 1 vol% karena relaksasi


uterus

akan

menyebabkan

perdarahan.

Halotan

menghambat

pelepasan insulin sehingga meningkatkan kadar gula darah.


-

Enfluran
Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan serta lebih iritatif.
Depresi terhadap sirkulasi lebih kuat disbanding halotan, tetapi lebih
jarang menimbulkan aritmia.

Isofluran (foran , aeran)

19

Merupakan halogenasi eter yang pada dosis anestetik atau


subanestetik menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen,
tetapi meningkatkan tekanan intracranial. Efek terhadap depresi
jantung dan curah jantung minimal, sehingga banyak digunakan
untuk anesthesia pada pasien dengan gangguan coroner. Isofluran
dengan konsentrasi >1% menyebabkan relaksasi, sehingga dosis
pelumpuh dapat dikurangi sampai 1/3 dosis biasa.
-

Desfluran
Sangat mudah menguap dibandingkan anestetik volatile lain,
sehingga perlu menggunakan vaporizer khusus (TEC-6). Bersifat
simpatomimetik menyebabkan takikardia dan hipertensi. Merangsang
jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesi.

Sevofluran
Induksi dan pulih anestesi lebih cepat disbanding isofluran, baunya
tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas. Efek terhadap
kardiovaskular cukup stabil, jarang menyebabkan aritmia.

Ether
Mempunyai bau yang merangsang, sekresi bronkus dan saliva
meningkat, menyebabkan mual dan muntah baik saat induksi maupun
pulih sadar. Dosis untuk tahap pemeliharaan adalah 2-4%, dosis

b. Obat Anestesi Intravena


-

Propofol
Dosis bolus untuk induksi adalah 2-2.5 mg/kgBB, dosis rumatan
untuk anesthesia intravena total 4-12mg/kgBB/jam dan dosis sedasi
umtuk perawatan intensif 0.2 mg/kgBB.

Ketamin
Sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala
pasca anesthesia, mual- muntah dan mimpi buruk. Jika harus

20

diberikan, sebaiknya diberikan sedasi midazolam 0.1mg/kgBB


intravena dan untuk mengurangi hipersalivsi diberikan sulfas atropine
0.01 mg/Kg. Dosis bolus adalah 1-2 mg/kgBB.
-

Opioid
Opioid ( morfin, petidin, fentanyl dan sulfentanil) untuk induksi
diberikan dosis tinggi, banyak digunakan untuk pasien dengan
kelainan jantung.

2.3.8

Kriteria Pemulangan Pasien7


Kriteria pemulangan pasien didasarkan pada observasi klinis. Beberapa yang
dapat digunakan yaitu ALDERETE Scorig System, STEWARD dan
ROBERTSON Scoring system. Pasien dapat dipulangkan dari ruang pemulihan
jika diperoleh skor 9 atau lebih
Tabel 1. ALDERETE Scoring System

21

Tabel 2. STEWARD Scoring System

22

Tabel 3. ROBERTSON Scoring System


Kriteria
Kesadaran

Sadar penuh, mata terbuka, berbicara


Tertidur ringan, sekali-kali mata terbuka
Mata terbuka atas perintah atau respon bila dipanggil
namanya
Respon terhadap cubitan di telinga
Tidak ada respon

Jalan napas

Aktivitas

Skor
4
3
2
1
0

Membuka mulut dan atau batuk atas perintah


Tak ada batuk volunter, jalan napas bebas tanpa bantuan
Obstruksi jalan napas bila leher flexi, tteapi tanpa bantuan
bila ekstensi
Tanpa bantuan terjadi obstruksi

3
2
1

Mengangkat tangan dengan perintah


Gerakan tak berarti
Tak bergerak

2
1
0

23

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama

: Ny. H. S

Umur

: 40 tahun

Alamat

: Abepura

BB

: 73 Kg

TB

: 160 cm

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Kristen Protestan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Suku bangsa

: Papua Barat

Ruangan

: Ginekologi

Tanggal masuk rumah sakit

: 13 Juni 2015

Tanggal operasi

: 23 Juni 2015

3.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Perdarahan dari jalan lahir
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien dikirim dari poliklinik kebidanan dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir
sejak tahun 2013. Awalnya pasien mengeluh nyeri setiap kali haid dan sering
mengalami perdarahan dari jalan lahir, kadang- kadang disertai demam. Menurut
pasien, semenjak keluhan itu perutnya semakin lama semakin membesar. Setelah
memeriksakan diri ke poliklinik kebidanan, pasien dirujuk untuk rawat inap dan
dilakukan pemeriksaan USG, hasil pemeriksaan menyatakan pasien memiliki tumor
di kandungan.
Riwayat Penyakit Kardiovaskular
Riwayat Penyakit Lain
Riwayat Alergi Obat
Riwayat Anestesi dan Operasi
Kebiasaan

:
:
:
:
:

Tidak diketahui
DM disangkal, asma disangkal.
Tidak ada
Operasi usus buntu tahun 2012
Merokok (-), alkoholik (-), obat-obatan (-)

24

3.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran

: Compos Mentis

Berat Badan

: 73 kg

Tinggi Badan

: 160 cm

Tanda-tanda vital :

Kepala

Leher
Thoraks

Tekanan darah

: 130/90 mmHg

Nadi

: 80 x/m

Respirasi

: 22 x/m

Suhu badan

: 36.90C

: Mata
: Conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/Hidung : Deformitas (-)
Telinga : Deformitas (-)
Mulut
: Deformitas (-), mallampati I
: Pembesaran kelenjar getah bening (-)
:
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Vocal fremitus D=S
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Suara napas vesikuler, Ronki (-), wheezing(-),
Bunyi jantung I dan II tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: Inspeksi : Datar, jejas (-), striae (-)


Auskultasi: bising usus (+) 6x/menit
Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, teraba massa di regio supra

dengan 15 cm, batas tegas, tidak terfiksir, nyeri tekan (-).


Perkusi : timpani berubah menjadi pekak di regio suprapubik hingga sebagian regio il
Ekstremitas : Akral hangat, edema tidak ada.
3.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Darah Lengkap
Hemoglobin

13 Juni 2015
10,7 g/dl

Leukosit

10.530/mm3

Trombosit

147.000/mm3

CT

1000

BT

330

25

Kimia Lengkap
Gula darah sewaktu

15 Juni 2015
128 mg/dl

Ureum

32 mg/dl

Kreatinin

0.9 mg/dl

Albumin

4,2 g/dl

SGOT

19 U/I

SGPT

23 U/I

Trigliserida

184 mg/dL

Kolesterol total

113 mg/dL

HDL

25 mg/dL

LDL

52 mg/dl

HBA1C

6,5
USG

Uterus

anteflexi

ukuran 12 x 11x 7 cm, EL (+) 0.8 cm, regular, permukaan uterus rata tidak tampak
koleksi cairan.
Kesan: mioma uteri intramural.
EKG :

3.5 Konsultasi
26

a. Konsul bagian Anestesi


Tanggal : 22 Juni 2015
Advice :
Inform consent dan SIO
Puasa 8 jam pre operasi
IVFD RL 15 tpm
Siap darah 4 bag

b. Konsul Bagian Penyakit Dalam


Pasien dikonsulkan ke bagian penyakit dalam tanggal 16/06/2015 untuk toleransi
operasi dan evaluasi hasil pemeriksaan gula darah (249 mg/dl).
Advis tgl 19/06/2015 : Novorapid 3x 6 IU, Subcutan, target gula darah 140-180
mg/dl, periksa GDP, GD2PP dan HBA1C.
Tanggal 20/06/2015 dikonsulkan kembali untuk evaluasi hasil pemeriksaan gula
darah dan HBA1C, advis : Tunda pemberian Novorapid.
c. Konsul Bagian Jantung
Tanggal : 22/06/2015
Kesan : Diastolik Heart Failure ringan et causa Valvular Heart Disease Mitral
Regurgitasi ringan, DCFC kelas I-II
Advis : Injeksi Lasix 1x1 ampul (ekstra), Valsartan 1x40 mg, balance cairan.
3.6 Status Anestesi
PS. ASA

PS ASA 2 (pasien dengan penyakit sistemik ringan atau


sedang yang tidak mengganggu aktivitas berdasarkan
adanya kelainan jantung berupa Diastolik Heart Failure
ringan et causa Valvular Heart Disease Mitral
Regurgitasi ringan, DCFC kelas I-II )

Persiapan Operasi
Makan terakhir

: Inform Concent (+), SIO (+), Siap darah 4 bag (+)


: 11 jam yang lalu

BB

: 73 Kg

TTV

: TD :130/90 mmHg, N: 80 x/m, SB: 36,9oC

SpO2

: 99%

B1

: Airway bebas, thorax simetris, ikut gerak napas, RR: 22x/m,


perkusi: sonor, suara napas vesikuler +/+, ronkhi-/-, wheezing
-/-, malampati score : I
:

B2

27

Perfusi: hangat, kering, merah. Capilari Refill Time < 2 detik,


BJ: I-II murni regular, konjungtiva anemis -/-

B3
B4

Kesadaran Compos Mentis, GCS: 15 (E4V5M6), riwayat


: kejang (-), riwayat pingsan (-)
: Terpasang DC, produksi urin pre op 50 cc, warna kuning
jernih.

B6

Datar, supel, bising usus (+), hepar dan lien tidak teraba
: membesar, teraba massa dengan 15 cm, batas tegas, tidak
terfiksir, nyeri tekan (-).
: Akral hangat (+), edema (-), fraktur (-)

Medikasi Pra Bedah

: -

B5

3.7 Laporan Pembedahan


Ahli bedah
Ahli anestesi
Jenis Anestesi
Diagnosis pre operatif
Diagnosis post operatif

: dr. Josef, Sp. OG


: dr. Diah, Sp. An, KIC
: SAB dilanjutkan GA
: Mioma uteri intramural
: Post operasi laparotomi subtotal (supravaginal)
histerektomi +
adhesiolisis.
: 23/06/2015
: Uterus histerektomi

Tanggal operasi
Organ yang diinsisi
Laporan Operasi :
- Pasien terlentang dalam anestesi spinal dan antisepsis
- Insisi mediana sampai dengan sepusat
- Setelah peritoneum dibuka tampak uterus membesar seukuran kehamilan 16-20
minggu
- Dilakukan eksplorasi, uterus melekat pada kolon rektosigmoid
- Dilakukan adhesiolisis didaptkan laserasi pada kolon rektosigmoid ukuran 2x2
-

cm dan 2x1 cm repair.


Ligamentum rotundum bilateral diidentifikasi diklem, dipotong dan diikat
Plica vesica uterine disayat, kandung kemih disisihkan
Pangkal tuba kiri dan kanan diidentifikasi, diklem, dipotong dan diikat
Dilakukan evaluasi bagian demi bagian pada massa mioma intramural di corpus

anterior dan posterior


Uterus dipotong setinggi pangkal serviks
Serviks dijahit jelujur interlocking
Bagian tengah dijahit interrupted
Dipasang drain di cavum abdomen
Cavum abdomen dicuci dengan NaCl 700 cc, alat kasa lengkap
Abdomen ditutup lapis demi lapis

28

- Fasia dengan PGA no.1, kulit subkutikuler


- Perdarahan intraoperative 1000 cc, urin 150 cc jernih.
3.8 Laporan Anestesi
Jenis Pembedahan

: Laparotomi

Lama Operasi

: 3 jam 35 menit (09.40 13.15 WIT)

Jenis Anestesi

: Blok subaraknoid (blok spinal) dilanjutkan dengan GA

Anestesi Dengan

: Decain 0,5% 20 mg, dilanjutkan Isofluran 1,5 vol%


Pasien duduk di meja operasi dan kepala menunduk,

Teknik Anestesi

: dilakukan aseptic di sekitar daerah tusukan yaitu di regio


vertebra lumbal 3-4, dilakukan blok subaraknoid (injeksi
Decain 0,5 % 20 mg) dengan jarum spinal No.27 pada
regio vertebra antara lumbal 3-4, Cairan serebro spinal
keluar (+) jernih, darah (-), dilakukan blok.
Pukul 12.00 dilakukan intubasi dengan ETT no. 7.5,
inhalasi isofluran 1,5 vol%

Pernafasan

: Spontan dilanjutkan Controlled Respiration

Posisi

: Tidur terlentang

Infus

: Tangan Kanan, IV line abocath 18 G, cairan Ringer Laktat


500 cc

Penyulit pembedahan
Tanda

vital

pada

: Adhesi
akhir : TD: 150/90mmHg, N: 86 x/m, SB: 36,8 RR: 16 x/menit

pembedahan.

29

Obat yang digunakan

Premedikasi :
-

Petidin 30 mg
Sulfas Atropin 1 cc
Sedacum 2x 25 mg
Tramus 30 mg
Induksi :

- Decain 0,5% (20 mg)


- Isofluran 1.5 vol %
Maintenance
- Ketamin 20 mg
- Fentanil 10 mg
- Propofol 40 mg, 30 mg, 20 mg, 50 mg
Medikasi :
-

Ondansentron 4 mg
Ranitidin 50 mg
Mteronidazole 1 gram
Dexametason 10 mg
Antrain 1 amp

3.9 Observasi Durante Operasi


Observasi Tekanan Darah dan Nadi

30

160
150

140
131

127

120

80

105

103

100
80
70

106

107

63
55

10.00'

10.30'

58Diastol
50

60

92

85
80

77
75
66
58

128

126

75
67

Nadi

90
86

79

Sistol

40
20
0
9.25

9.45

11.00'

11.30'

12.00'

12.30'

13.10'

Jam

Gambar. Diagram Observasi Tekanan Darah dan Nadi


Balance Cairan
Waktu
Pre operasi

Input
RL : 500 cc

Output
Urin : 50 cc

Durante

Widahes : 500 cc

Urin : 150 cc

operasi

NaCl 0.9% : 500 cc


Transfusi : PRC A 550 cc

Total perdarahan: 1000cc


-

Suction: 700cc
Kasa : 250 cc (15x10cc + 4x25cc)
Lain-lain: 50cc

Cairan pindah ke ruang ke tiga: 6-8cc x 73


Total

2050 cc

kg = 438 584 cc 500cc


1700 cc

3.10 Instruksi Post Operatif


-

Observasi vital sign


Observasi drain dan balance cairan
Cek Hb Post operasi
Pasien dipuasakan

31

Mobilisasi bertahap, pasien belum diperbolehkan duduk ataupun berjalan


selama 24 jam post operasi, tetapi pasien boleh miring kanan dan kiri

3.11 Terapi Cairan Perioperatif


Perhitungankebutuhan cairan perioperative berdasarkan berat badan ideal ( tinggi
badan- 105) untuk wanita. Tinggi badan pasien adalah160 cm, sehingga BB ideal
adalah 55 kg.
a. Pre Operative
1. Kebutuhan:
Maintenance dan replacement (puasa 11 jam) :
Cairan : 40-50cc/kgBB/hari 1-2cc/kgBB/jam 605 -1210 cc/11 jam

Dapat diberikan RL 1000 cc.


2. Aktual cairan yang diberikan : RL 500 cc
b. Durante Operatif ( lama operasi 4 jam)
1. Kebutuhan :
Maintenance : 220-440 cc, dapat digunakan RL 500 c
Replacement :
-

EBV = 65-70 cc/kgBB ( 73 kg) 4745 5110 cc

EBL= jumlah perdarahan = 1000 cc 19.5 - 21% EBV

Penggantian :
kristaloid = 2 - 4x EBL = 2000- 4000cc
Gelatin = 2x EBL = 2000 cc
Koloid (HES) = 1x EBL = 1000 cc

Cairan yang berpindah ke ruang ke tiga pada operasi besar = 6-8cc/kgBB


= 438 584cc 500 cc dapat digunakan RL 500 cc

2. Aktual cairan yang digunakan :


- Widahes 500 cc + PRC 550 cc sudah mengganti perdarahan 1000 cc
- NaCl 0.9% 500 cc--. Cukup untuk maintenance.
c. Post Operatif
32

1. Kebutuhan :
Maintenance :
-

Cairan : 2200 2750 cc/ 24 jam x 2/3 1466 1833 cc/24 jam

Natrium : 110- 22- mEq/24 jam

Kalium : 55 -165 mEq/24 jam

Kalori : 1375 kKal/ hari


Dapat digunakan cairan Tutofusin 1500 cc/24 jam
Replacement :
-

Drain : 650 cc 12- 13% EBV dapat digunakan cairan RL 1000 cc.

Normal produksi urin : 1-2cc/kgBB/24jam = 876 1752 cc/ 24 jam


Aktual produksi urin: 1130cc/24 jam ( diuresis tidak berlebih, tidak
butuh penggantian).

2. Aktual cairan yang digunakan : Tutofusin 1500 cc + PRC 250 cc


3.12

Follow Up Post Operatif

Tanggal
23/06/2015

Pemeriksaan
S: Nyeri bekas operasi

Planning
- O2 Nasal 3-4 lpm

O:

- Head up 45

B1 : airway bebas, O2 nasal 3-4 - Oral higyene / 12 jam


lpm, RR 23x/menit, suara napas - Terapi
vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

fisioterapi

napas

nebulizer combivent

B2: perfusi hangat, kering, pucat, - IVFD tutofusin + tramadol 1


CRT<2, TD 115/57 mmHg, Nadi
65x/menit, kuat angkat, regular

amp/ 8 jam
- Inj. Ceftriaxone 2x 2 gram

B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, - Inj metronidazole 3x 500mg


pupil bulat isokor ODS 3 mm

- Pantoprazole 2x40 mg

B4; Terpasang DC, produksi urine - Inj. Kalnex 3x 500mg


330 cc warna kuning jernih

- Inj Sanmol 4x 500 mg

B5: Abdomen cembung, BU (+), - Bila hb < 10 g/dl tranfusi PRC


33

supel, NT (+), terpasang drain

hingga HB 10 g/dl tranfusi

produksi (+) warna merah, bekas

PRC 250 cc

jahitan operasi laparotomy,


B6 : edema (-), fraktur (-)

Balance cairan : -910


Input : 1.600

A:

Post

Operasi

subtotal

Laparotomi

Cairan : 1000

(Supravaginal)

darah : 250

metronidazole : 200

sanmol : 150

histerektomi + adhesiolisis

output :2510

24/06/2015

urine 1130

IWL : 730

S: Nyeri bekas operasi, Flatus (-)

- Drain :650
- O2 Nasal 3-4 lpm

O:

- Head up 45

B1 : airway bebas, O2 nasal 3-4 - Oral higyene / 12 jam


lpm, RR 19x/menit, suara napas - Terapi
vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

65x/menit, kuat angkat, regular


B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6,
pupil bulat isokor ODS 3 mm

napas

nebulizer combivent

B2: perfusi hangat, kering, pucat, - IVFD


CRT<2, TD 124/71 mmHg, Nadi

fisioterapi
tutofusin

1000 cc +

neurosanbe 1 ampul/ 24 jam


- IVFD NaCl + tramadol 1 amp/
12 jam
- Inj. Ceftriaxone 2x 2 gram

B4; Terpasang DC, produksi urine - Inj metronidazole 3x 500mg


100 cc warna kuning jernih

- Pantoprazole 2x40 mg

B5: Abdomen cembung, BU (+), - Inj. Kalnex 3x 500mg


supel, NT (+), terpasang drain - Inj Sanmol 4x 500 mg
produksi (+) warna merah, bekas - Cek DL, elektrolit
jahitan operasi laparotomi,
B6 : edema (-), fraktur (-)

Jam 20.00 : TD 90/54 mmHg

Pemeriksaan Penunjang :

Lapor dr.Diah, Sp. An, KIC

HB : 11.5 g/dl

Advise : Extra Gelofusal 500 cc,

HT : 35.1 %

Pasang vascon 3cc/jam, bila TD


34

Thrombosit : 244.000
A:

Post

Operasi

subtotal

naik ekstra Lasix 1 amp.


Laparotomi

(Supravaginal)

Balance cairan : -380


Input : 3272

histerektomi + adhesiolisis

Cairan : 2000

metronidazole : 300

sanmol : 400

extra : 500

Minum : 40

Vascon : 32

output : 3.630

25/06/2015

Urine: 2.690

IWL : 730

S: Nyeri bekas operasi, Flatus (-)

- Drain : 210
- O2 Nasal 3-4 lpm

O:

- Head up 45 - setengah duduk

B1 : airway bebas, O2 nasal 3-4 - Oral higyene / 12 jam


lpm, RR 15x/menit, suara napas - Terapi
vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

54x/menit, kuat angkat, regular


B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6,
pupil bulat isokor ODS 3 mm

napas

tutofusin

1000 cc +

neurosanbe 1 ampul/ 24 jam


- IVFD NaCl + tramadol 1 amp/
12 jam
- Inj. Ceftriaxone 2x 2 gram

B4; Terpasang DC, produksi urine - Inj metronidazole 3x 500mg


100 cc warna kuning jernih

- Pantoprazole 2x40 mg

B5: Abdomen cembung, BU (+), - Inj. Kalnex 3x 500mg


supel, NT (+), terpasang drain - Inj Sanmol 4x 500 mg
produksi (+) warna merah, merah - Inj. Alinamin F 3x1 ampul
bekas jahitan operasi laparotomy,

- Dulcolax Supp 1x2

B6 : edema (-), fraktur (-)


Balance cairan : +80
A:

Post

Operasi

Laparotomi

nebulizer combivent

B2: perfusi hangat, kering, pucat, - IVFD


CRT<2, TD 146/81 mmHg, Nadi

fisioterapi

Input : 2.530
35

subtotal

(Supravaginal)

histerektomi + adhesiolisis

Cairan : 2000

metronidazole : 300

sanmol : 200

extra : 500

Minum : 30

output : 2.450

26/06/2015

Urine: 1.260

IWL : 730

S: Nyeri bekas operasi, Flatus (+)

- Drain : 100
- O2 Nasal 3-4 lpm

O:

- Head up 45 - setengah duduk

B1 : airway bebas, O2 nasal 3-4 - Oral higyene / 12 jam


lpm, RR 17x/menit, suara napas - Mobilisasi aktif
vesikuler, ronki -/-, wheezing -/B2: perfusi hangat, kering, merah,

- IVFD

tutofusin

1000 cc +

neurosanbe 1 ampul/ 24 jam

CRT<2, TD 107/58 mmHg, Nadi - IVFD RL+ tramadol 1 amp/ 12


67x/menit, kuat angkat, regular

jam

B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, - Inj. Ceftriaxone 2x 2 gram


pupil bulat isokor ODS 3 mm

- Inj metronidazole 3x 500mg

B4; Terpasang DC, produksi urine - Pantoprazole 2x40 mg


1285 cc warna kuning jernih

- Inj. Kalnex 3x 500mg

B5: Abdomen cembung, BU (+), - Inj Sanmol 4x 500 mg


supel, NT (+), drain aff, merah - Inj. Alinamin F 3x1 ampul
bekas jahitan operasi laparotomy,
makan (+).

Balance cairan : -752

B6 : edema (-), fraktur (-)

Input : 2.598
-

Cairan : 2000

Pemeriksaan penunjang:

metronidazole : 300

Kaliumj : 3.15 mmol/L

sanmol : 100

Natrium : 131 mmol/L

Minum : 198

Clorida : 96 mmol/L

output : 3.350

Kalsium 0.96 mmol/L

Urine: 2.620

pH darah 7.4

IWL : 730
36

A:

Post

Operasi

subtotal
27/06/2015

Laparotomi
(Supravaginal)

histerektomi + adhesiolisis
S: Nyeri bekas operasi, Flatus (+)

- O2 Nasal 2-4 lpm

O:

- Head up 45 - setengah duduk

B1 : airway bebas, O2 nasal 3-4 - Oral higyene / 12 jam


lpm, RR 22x/menit, suara napas - Mobilisasi aktif
vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-

- IVFD tutofusin tramadol 1 amp/

B2: perfusi hangat, kering, merah,

8 jam

CRT<2, TD 98/64 mmHg, Nadi

+Neurosanbe 1 amp (k/p)

72x/menit, kuat angkat, regular

+ KCl 50 mEq/ 24 jam

B3: Kesadaran CM, GCS E4V5M6, - IVFD NaCl+ Ca Gluconas 1


pupil bulat isokor ODS 3 mm

amp/24jam

B4; Terpasang DC, produksi urine - Inj. Ceftriaxone 2x 2 gram


360 cc warna kuning jernih

- Inj metronidazole 3x 500mg

B5: Abdomen cembung, BU (+), - Pantoprazole 2x40 mg


supel, NT (+), drain aff, merah - Inj. Kalnex 3x 500mg
bekas jahitan operasi laparotomy, - Inj Sanmol 4x 500 mg
makan (+).

- Inj. Alinamin F 3x1 ampul

B6 : edema (-), fraktur (-)

- Diet 1700 kkal


- Pindah dari ICU

A:

Post

subtotal

Operasi

Laparotomi
(Supravaginal)

histerektomi + adhesiolisis

37

BAB IV
PEMBAHASAN

Seorang pasien perempuan usia 40 tahun menjalani operasi laparotomi subtotal


(supravaginal) histerektomi pada tanggal 23 Juni 2015 di RSUD Jayapura atas indikasi
mioma uteri intramural. Berdasarkan pemeriksaan preoperative serta konsultasi ke
bagian terkait, telah ditentukan bahwa status fisik pasien digolongkan pada PS ASA 2.
Hal ini disebabkan pasien memiliki beberapa gangguan sistemik ringan sampai sedang
walaupun tidak terdapat batasan dalam akivitas sehari-hari. Sesuai hasil konsultasi
bagian jantung pada tanggal 22 Juni 2015 pasien didiagnosa memiliki Diastolik Heart
Failure ringan yang disebabkan Valvular Heart Disease berupa Mitral Regurgitasi
ringan, dengan Functional Class (DCFC) I-II. Walaupun tergolong masalah jantung
yang ringan, kondisi ini patut mendapat perhatian khusus dalam tatalaksana anestesi
mengingat kemungkinan adanya keterbatasan kompensasi jantung jika terjadi
ketidakstabilan hemodinamik.
Pasien juga pernah dikonsulkan ke bagian Penyakit Dalam terkait peningkatan
gula darah sewaktu yaitu 249 mg/dl, dan didiagnosis memiliki Diabetes Melitus tipe II,
akan tetapi keesokan harinya gula darah sewaktu pasien kembali dalam batas normal
(128 mg/dL) tanpa penggunaan insulin, serta hasil HbA1C pasien 6,5 yang
menunjukkan tidak ada riwayat peningkatan gula darah dalam 3 bulan terakhir, sehingga
diagnosis DM tipe 2 disangsikan dan pemberian

insulin ditunda. Akan tetapi,

peningkatan kadar gula darah pada pasien patut mendapat perhatian terkait tatalaksana
anestesi. Seperti diketahui beberapa obat anestesi dapat meningkatkan gula darah.
Beberapa obat yang dipakai untuk anestesi dapat mengakibatkan perubahan di dalam
metabolisme karbohidrat, tetapi mekanisme dan tempat kerjanya belum jelas. Obat-obat
induksi dapat mempengaruhi homeostatis glukosa perioperatif.

Ether dapat

meningkatkan kadar gula darah, menoegah efek insulin untuk transport glukosa
menyeberang membran sel dan secara tak langsung melalui peningkatan aktifitas
simpatis sehingga meningkatkan glikogenolisis di hati. Menurut Greene penggunaan
halotan pada pasien cukup memuaskan karena kurang pengaruhnya terhadap
peningkatan hormon pertumbuhan, peningkatan kadar gula atau penurunan kadar

38

insulin, sedangkan enfluran dan isofluran tak nyata pengaruhnya terhadap kadar gula
darah. Obat-obat anestesi intra vena yang biasa diberikan mempunyai efek yang tidak
berarti terhadap kadar gula darah kecuali ketamin yang menunjukkan peningkatan kadar
gula akibat efek simpatomimetiknya. Penggunaan anestesi lokal baik yang dilakukan
dengan teknik epidural atau subarakhnoid tak berefek pada metabolisme karbohidrat.
Epidural anestesia lebih efektif dibandingkan dengan anestesia umum dalam
mempertahankan perubahan kadar gula, growth hormon dan kortisol yang disebabkan
tindakan operasi.4
Pada penatalaksanaan anestesi dalam kasus ini, awalnya digunakan jenis anestesi
regional berupa Sub Arachnoid Block (anestesi spinal). Pada pembedahan histerektomi
dapat digunakan anestesi spinal maupun regional. Spinal anestesi mudah untuk
dilakukan dan memiliki potensi untuk memberikan kondisi operasi yang sangat baik
untuk operasi di bawah umbilikus. Spinal anestesi dianjurkan untuk operasi di
bawah umbilikus misalnya hernia, ginekologi dan operasi urologis dan setiap operasi
pada perineum atau alat kelamin. Banyak pasien dengan penyakit jantung ringan
mendapat manfaat dari vasodilatasi yang menyertai anestesi spinal kecuali orang-orang
dengan penyakit katub pulmonalis atau hipertensi tidak terkontrol. 5 Menjelang akhir
pembedahan anestesi dilanjutkan dengan general anestesi menggunakan obat anestesi
inhalasi. Hal ini dikarenakan durasi operasi ternyata cukup panjang, serta terdapat
adhesi antara uterus dan colon yang mengharuskan dilakukan adhesiolisis. Akan tetapi,
relaksasi

kolon

tidak

maksimal

bahkan

setelah

penggunaan

relaksan

otot

nondepolarisasi ( Atrakurium). Oleh karena itu dilakukan intubasi untuk pemeberian


obat anestesi inhalasi yang membuat relaksasi optimal dari kolon.
Untuk tatalaksana anestesi pada kasus ini, digunakan obat anestesi Bupivacain
0.5% 20 mg untuk induksi anestesi. Bupivacaine lebih dipilih untuk induksi karena lama
kerjanya lebih panjang 2-3 kali dibanding Lidocain atau Mepivacaine yaitu selama 3- 8
jam.5 Setelah induksi, beberapa obat anestesi juga diberikan untuk rumatan anestesi
diantaranya Petidin, Fentanil, Propofol dan Ketamin. Semuanya bertujuan untuk
mengurangi nyeri dan kecemasan selama operasi karena pasien tetap sadar pada anestesi
spinal. Selama proses anestesi, monitoring vital sign terus dilakukan. Pasien sempat
mengalami penurunan denyut nadi hingga 50x/menit sehingga diberikan Atropin 0.25
mg yang kemudian memberikan efek kenaikan nadi hingga 66x/ menit. Setelah

39

dilakukan intubasi rumatan dilanjutkan dengan general anestesi, dan diberikan inhalasi
Isofluran 1.5 vol %. Isofluran digunakan karena efeknya terhadap depresi otot jantung
dan curah jantung minimal.5 Selain itu, isofluran dengan konsentrasi > 1 vol%
menyebabkan relaksasi sehingga dosis pelumpuh otot dapat dikurangi.
Beberapa hal harus sangat diperhatikan sebagai critical point dalam tatalaksana
anestesi pada kasus ini. Hal yang utama adalah menyangkut perfusi jaringan terkait
dengan fungsi jantung pada pasien. Tindakan pembedahan pada kasus ini termasuk
operasi besar dengan risiko perdarahan sehingga perlu diperhitungkan kemampuan
kompensasi jantung, efek resusitasi dan efek dari penggunaan obat-obat anestesi.
Sebagian besar zat anestetik menekan fungsi miokardium. Opioid, pelumpuh otot
menyebabkan vasodilatasi perifer dengan kerja langsung pada pembuluh darah,
anesthesia subaraknoid menyekat saraf simpatis menyebabkan dilatasi arteri dan vena,
bradikardi dan hipotensi.7 Oleh karena itu, penggunaan Atropin dibutuhkan untuk
mengantisipasi keadaan tersebut. Bahaya dekompensasi jantung sangat kecil, kecuali
pada jantung yang sudah sakit sebelumnya. Dekompensasi jantung ditandai oleh
kenaikan tekanan kapiler pulmonal yang dapat dipicu oleh pemberian koloid.7 Oleh
karena itu, jenis dan jumlah cairan penting untuk diperhatikan selama resusitasi
perioperatif.
Selama pre operatif, diberikan cairan Ringer Laktat sebanyak 500 cc.
Berdasarkan perhitungan kebutuhan cairan preoperative untuk maintenance dan
sekaligus mengganti defisit selama puasa sekitar 11 jam adalah 605 -1210 cc yang dapat
diresusitasi dengan cairan kristaloid Ringer Laktat sebanyak 1000 cc sebelum
pembedahan. Pemberian cairan kristaloid yang hanya sejumlah 50% dari total
kebutuhan dapat berpengaruh pada ketidakstabilan hemodinamik selama operasi.
Operasi laparotomy subtotal histerektomi dijalani pasien selama 4 jam, dengan
perhitungan kebutuhan maintenance sebanyak 220-440 cc yang dapat diganti dengan
cairan kristaloid Ringer Laktat 500cc. Selama operasi terjadi perdarahan akibat laserasi
colon saat adhesiolisis, dengan total perdarahan berjumlah 1000 cc. Perkiraan volume
darah

(Estimated Blood Volume/EBV) pasien ini adalah 65-70x73 kg yaitu 4745

-5110cc, sehingga jumlah perdarahan (Estimated Blood Loss/EBL) mencapai 19.5 -21%
EBV. Selain itu, perkiraan cairan yang berpindah ke ruang ke tiga (peritoneum atau ke
luar tubuh) adalah sekitar 500 cc. Dengan demikian total cairan yang dapat digunakan

40

untuk replacement adalah 2-4x EBL yaitu 2000-4000 cc ditambah dengan 500 cc untuk
pengganti cairan yang ke peritoneum ataupun ke luar tubuh. Untuk jumlah tersebut
dapat digunakan kristaloid Ringer Laktat Ataupun NaCl 0.9%.
Transfusi dapat dipertimbangkan pada kasus ini, mengingat kadar HB pasien
adalah 10,7 g/dL. Tanpa penyulit sakit jantung, HB 8-10g/dL masih cukup memberikan
oksigenasi jaringan dengan baik asal volume sirkulasi dipertahankan normal. 7 Terkait
status Diastolik Heart Failure ringan pada pasien, pemberian PRC dapat meningkatkan
HB tanpa meningkatkan resiko circulatory overload yang membebani kerja jantung.
Jumlah darah yang dibutuhkan adalah sejumlah perdarahan yaitu 1000 cc. akan tetapi
jika tidak memungkinkan dapat diganti dengan menggunakan koloid. Actual cairan
yang diberikan durante operatif pada kasus ini adalah WidaHES 500 cc + transfusi PRC
550 cc, sehingga total cairan adalah 1050 cc. Jumlah ini telah mengganti seluruh
volume darah yang hilang, terbukti vital sign pasien terpantau stabil, tanpa tanda-tanda
hipovolemik, sehingga dapat dikatakan resusitasi telah efektif mengganti kehilangan
sejumlah besar darah pada kasus ini.
Setelah operasi, pasien diobservasi di ruang pemulihan, dan dipindahkan ke ICU
setelah evaluasi skor ALDERATE > 9. Hari pertama perawatan post operatif di ICU
pasien dipuasakan sambil mengevaluasi fungsi saluran cerna, sehingga nutrisi yang
diterima pasien sepenuhnya berasal dari 2200 2750 cc/ 24 jam Natrium dengan
Natrium 110-220 mEq, Kalium 55-165 mEq dan kalori 1375 kKal. Pada hari-hari
pertama pasca bedah, tidak dianjurkan penambahan Kalium dikarenakan adanya
pengeluaran Kalium dari sel atau jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfuse
darah. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa stress pembedahan menyebabkan
pelepasan Aldosteron dan ADH sehingga terjadi kecenderungan tubuh untuk menahan
air dan Natrium. Pada orang tua dengan cardiac reserve sempit sebaiknya pada awal
terapi cairan hanya diberikan 2/3 dari kebutuhan yang diperhitungkan.7 Dengan
demikian untuk pasien ini diperlukan 1466 1833 cc/24 jam. Kebutuhan ini dapat
dipenuhi dengan penggunaan cairan yang mengandung sejumlah kalori seperti tutofusin
atau clinimix sebanyak 1500 cc. Actual cairan yang diberikan berupa Tutofusin 500 cc /
8 jam sesuai dengan perhitungan kebutuhan dan pertimbangan lainnya. Hari pertama
pasca bedah, produksi urin pasien adalah 1130 cc/24 jam, sesuai dengan range
perhitungan urin normal adalah 0.5 1 cc/kgBB/24 jam yaitu 876 1752 cc/24 jam,

41

sehingga dapat dikatakan tidak terjadi diuresis berlebih dan tidak butuh replacement.
Produksi drain 24 jam pertama adalah 650 cc dapat diganti dengan RL 1000cc, akan
tetapi actual digunakan PRC 250cc sekaligus untuk meningkatkan HB> 10 g/dl.

42

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Pasien digolongkan pada PS ASA 2 karena memiliki gangguan jantung berupa
Diastolik Heart Failure ringan yang disebabkan Valvular Heart Disease berupa
Mitral Regurgitasi ringan, dengan Functional Class (DCFC) I-II.
2. Pada penatalaksanaan anestesi dalam kasus ini, awalnya digunakan jenis anestesi
regional berupa Sub Arachnoid Block (anestesi spinal) karena memberikan
kondisi operasi yang sangat baik untuk operasi di bawah. Tetapi dilanjutkan
dengan general anestesi menggunakan obat inhalasi karena saat dilakukan
adhesiolisis relaksasi kolon tidak maksimal bahkan setelah penggunaan relaksan
otot nondepolarisasi ( Atrakurium).
3. Bupivacain 0.5% 20 mg digunakn untuk induksi anestesi karena lama kerjanya
lebih panjang 2-3 kali dibanding Lidocain atau Mepivacaine yaitu selama 3- 8
jam. Sedangkan untuk inhalasi digunakan Isofluran 1.5 vol % karena efeknya
terhadap depresi otot jantung dan curah jantung minimal, serta konsentrasi > 1
vol% menyebabkan relaksasi sehingga dosis pelumpuh otot dapat dikurangi.
4. Critical point dalam tatalaksana anestesi pada kasus ini adalah fungsi jantung
pada pasien, sehingga perlu diperhitungkan kemampuan kompensasi jantung,
efek resusitasi dan efek dari penggunaan obat-obat anestesi.
5. Resusitasi dan terapi cairan perioperative kurang lebih telah memenuhi kebutuhan
cairan perioperative pada pasien ini, terbukti dengan stabilnya hemodinamik
durante dan post operative.
5.2 Saran
Penatalaksanaan anestesi perlu dilakukan dengan baik mulai dari persiapan pre
anestesi, tindakan anestesi hingga observasi post operasi, terutama menyangkut
resusitasi cairan yang akan sangat mempengaruhi kestabilan hemodinamik
perioperative.

43

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono T. D. H. Buku Ajar Ilmu Bedah
Edisi 3. Jakarta: EGC. 2010, h. 842
2. Victoria BS. Perspective Anesthetic Management: Hysterectomy Vol 1, No. 2.
Diakses

dari:https://dalemed.com/Portals/0/pdf/clinical_references/Armboard

%20%20Anesthetic%20Mngt;%20Hysterectomy.pdf
3. Lismiadiati W. Referat Histerektomi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.2009,

Diakses

https://www.scribd.com/doc/91911532/operatif-

histerektomi
4. Said A. dr. Sp,An, KIC. Peunjuk Praktis Anestesiologi edisi ke 2. Jakarta :
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009
5. Rainaldy OA. Referat Spinal Anestesi pada Sectio Caesarea. Jakarta : Universitas
Kristen

Indonesia.

2013,

Diakses

dari

https://www.scribd.com/doc/131626536/Referat-Spinal-Anestesi
6. Wirjoatmodjo K, Prof, dr. Sp,An, KIC. Anestesiologi dan Reanimasi - Modul
Dasar untuk Pendidikan S1 Kedokteran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2000

44