Anda di halaman 1dari 19

Judul Praktikum

: Antibiotika

Tujuan Praktikum : Untuk mengidentifikasi senyawa antibiotika


Kemampuan suatu terapi antimikrobial sangat bergantung kepada obat, pejamu, dan
agen penginfeksi. Namun dalam keadaan klinik hal ini sangat sulit untuk diprediksi
mengingat kompleksnya interaksi yang terjadi di antara ketiganya. Namun pemilihan obat
yang sesuai dengan dosis yang sepadan sangat berperan dalam menentukan keberhasilan
terapi dan menghindari timbulnya resistansi agen penginfeksi.
Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai
efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya
dalam proses infeksi oleh bakteri. Literatur lain mendefinisikan antibiotik sebagai substansi
yang bahkan di dalam konsentrasi rendah dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi
bakteri dan fungi. Berdasarkan sifatnya (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi dua:
1. Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap
bakteri.
2.

Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat

pertumbuhan atau multiplikasi bakteri.


Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja
Bakteriostatika :

Menahan pertumbuhan & replikasi bakteri pada kadar serum yang dapat dicapai tubuh

pasien.
Membatasi penyebaran infeksi saat sistem imun tubuh bekerja memobilisasi &
mengeliminasi bakteri patogen. Misalnya : Sulfonamid, Kloramfenikol, Tetrasiklin, Makrolid,
Linkomisin.
Bakterisid :

Membunuh bakteri serta jumlah total organisme yang dapat hidup & diturunkan.
Pembagian : a) Bekerja pada fase tumbuh kuman, misalnya : Penisilin, Sefalosporin,
Kuinolon, Rifampisin, Polipeptida. b) Bekerja pada fase istirahat, misalnya : Aminoglikosid,
INH, Kotrimoksazol, Polipeptida.
Antibiotik berdasarkan spectrum

Spektrum Sempit : bekerja hanya pada mikroorganisme tunggal / grup tertentu. Misalnya,
Isoniazid untuk mikobakteria.

Spektrum Sedang : efektif melawan organisme Gram (+) & beberapa bakteri Gram

(-). Misalnya, Ampisilin.


Spektrum Luas : mempengaruhi spesies mikroba secara luas. Misalnya, Kloramfenikol &
Tetrasiklin.
Macam-macam antibiotika
Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan
susunan kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotika[1] dilihat dari target atau sasaran
kerjanya(nama contoh diberikan menurut ejaan Inggris karena belum semua nama
diindonesiakan atau diragukan pengindonesiaannya):

Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan
Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G;

Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya


rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid;

Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan
Macrolida,

Aminoglycoside,

dan

Tetracycline,

misalnya

gentamycin,

chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline;

Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;

Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya
oligomycin, tunicamycin; dan

Antimetabolit, misalnya azaserine.

F. Alat dan Bahan


Bahan :
1. Sample 6B dan 55
2. Aquadest, Asam Sulfat, Kloroform, Etanol, Fehling A dan B, dll.
G. Prosedur Kerja
-

Pemeriksaan organoleptik :
Sample 6B : Warna putih
Bentuk serbuk

Rasa pahit
Bau khas
Sample 55 : Warna merah coklat
Bentuk serbuk
Rasa pahit
Bau netral
Dugaan Rifampisin
-

Uji Golongan :
Antibiotik larut dalam air atau tidak = sample + air Tidak larut kedua samplenya
Uji penegasan :
Sample 6B + Fehling A dan B Larutan hijau coklat, endapan merah bata
Sample 6B + Asam Kuat Larutan kuning
Sample 55 cukup dengan organoleptis

H. Data dan Hasil Pengamatan


Uji organoleptis :
No
1
2

Sample
6B
55

Warna
Putih
Merah

Bentuk
Serbuk
Serbuk

Rasa
Pahit
Pahit

Bau
Khas
Netral

Dugaan
Amoksisilin
Rifampisin

Simpulan
-

kecoklatan
Uji Golongan :
No
1

Cara Kerja
Golongan yang larut dalam air

Hasil
Tidak larut

Dugaan

Kesimpulan

Dugaan
Amoksisilin

Kesimpulan

atau tidak = sample keduanya +


@air
Uji penegasan :
No
1
2

Cara Kerja
Sample 6B + Etanol
Sample 6B + Fehling A + B

Hasil
Tidak larut
Endapan merah

dengan larutan
3
4

Sample 6B + Asam Kuat


Sample 55

hijau coklat
Larutan kuning
Organoleptis
cukup

I.

Pembahasan

Amoksisilin
Rifampisin

Praktikum antibiotic ini akan mengidentifikasi suatu sample yang didalamnya terdapat
zat/obat antibiotic. Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang
mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme,
khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan
dengan pengobatan penyakit infeksi. Antibiotik terbagi ke dalam beberapa golongan
antibiotic, dan antibiotic juga mempunya cara kerja yang berbeda, diantaranya narrow
spectrum (kerja sempit) dan broad spectrum (kerja luas).
Pada identifikasi pertama dilakukan uji organoleptis dulu, yang memuat bentuk,
warna, rasa dan bau. Pada sample pertama yaitu nomor 6B didapat sample dengan cirri-ciri
bentuk serbuk, warna putih, rasa pahit dan bau khas bau obat. Awalnya sample ini
diprediksikan adalah Amoksisilin dengan dilakukan uji kelarutan ternyata positif tidak larut
untuk sample ini. Dilakukan uji penegasan, dengan mereaksikan dample dengan Fehling A
dan B, dan hasilnya pun positif untuk amoksisilin, dilakukan kembali uji penegasan dengan
mereaksikan sample dengan asam kuat, asam kuat yang diambil adalah asam sulfat pekat dan
hasilnya positif berwarna kuning muda. Tetapi sample ini salah dugaan, sample yang benar
adalah Ampisilin, tidak diketahui hal apa yang menyebabkan ini bisa terjadi, karena
Ampisilin larut dalam air tetapi sample ini tidak larut. Dalam ilmu Farmakologi, Ampicillin
memiliki mekanisme yang sama dalam penghancuran dinding peptidoglikan, hanya saja
Ampicillin mampu berpenetrasi kepada bakteri gram positif dan gram negatif. Hal ini
disebabkan keberadaan gugus amino pada Ampicillin, sehingga membuatnya mampu
menembus membran terluar (outer membran) pada bakteri gram negatif.
Pada pengujian sample kedua yaitu nomor 55 tidak dilakukan pengujian yang terlalu
panjang, cukup dengan organoleptis saja dapat diketahui sample apakah nomor 55 ini.
Sample dengan warna merah kecoklatan yang cukup tua menandakan sample ini adalah
Rifampisin, dan ternyata hasilnya adalah benar. Rifampicin (Rifampin) merupakan antibiotik
bakterisidal yang bekerja dengan cara berikatan dengan -subunit dari RNA polymerase
sehingga menghambat transkripsi RNA dan pada akhirnya sintesis protein. Rifampicin
umumnya menyerang bakteri spesies Mycobacterum.

IDENTIFIKASI RIFAMPISIN dan KANAMISIN


A. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan
Mengidentifikasi adanya golongan antibiotik secara kualitatif dan menentukan
reaksi didalamnya
2. Dasar Teori
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama
fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis
lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh
Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula
amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Aminoglikosid
merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces
griseus

untuk

Streptomisin,

Streptomyses

fradiae

untuk

Neomisin,

Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin.


Sifat Fisiko-kimia kanamisin: Basa kuat (terdapat beberapa pusat basa),
hidrofil/sangat polar. pH stabil 4,5 7. untuk terapi: bentuk SO 4 (lebih stabil
daripada bentuk basa)
Sintesis Rifampisin pertamakali pada tahun 1957 di Itali dari Sterptomycess
mediterranei. Rifampisin merupakan komponen mayor dari OAT aktivitas
antimikroba ikatan antara DNA dependent RNA polymerase dari
mikobaterium, kemudian menghambat sintesis awal RNA.
Rifampisin merupakan serbuk kristal merah-coklat dan sangat sedikit larut
dalam air dan sedikit larut dalam alkohol. Obat ini mempunyai pKa 7,9. Larut
dalam kloroform, DMSO, etil asetat, metanol, tetrahidrofuran. Dalam
perdagangan, rifampisin tersedia dalam bentuk serbuk steril untuk injeksi
mengandung Natrium formaldehid, sulfoksilat, natrium hidroksida yang

ditambahkan untuk mengatur pH. Dalam perdagangan sediaan oral rifampin


tersedia sebagai obat tunggal, dalam bentuk kombinasi tetap dengan isoniazid,
serta dalam kombinasi tetap dengan isoniasid dan pirazinamid.
Serbuk rifampisin berwarna merah kecoklatan. Vial yang utuh harus disimpan
pada suhu kamar dan dihindarkan dari cahaya dan panas yg berlebihan.
Rekonstitusi serbuk untuk injeksi dengan SWFI; untuk injeksi larutkan dalam
sejumlah volume yg tepat dengan cairan yang kompatibel (contoh : 100 ml
D5W). Vial yang telah direkontitusi stabil selama 24 jam pada suhu
kamar.Stabilitas parenteral admixture pada penyimpanan suhu kamar (25C)
adalah 4 jam untuk pelarut D5W dan 24 jam untuk pelarut NS
3. Alat dan Bahan
1. AgNO3
2. BaCl
3. Aquadest
4. NaOH
5. HCl
6. H2SO4
7. HNO3
8. Na Nitropusid
9. Pb asetat
B. PROSEDUR
1. Uji organoleptik
Uji organoleptik meliputi uji makroskopik, uji mikroskopik, warna dari
sampel, bau dan rasa dari sampel.
2. Uji kelarutan

Uji kelarutan meliputi kelarutan sampel daalam air, dalam asam, dalam basa
dan dalam pelarut organik.
Caranya : siapkan 4 buah tabung reaksi, masing-masing tabung berturut-turut
diisi dengan air/aquades, latutan asam, larutan basa, dan pelarut organik.
Kemudian sampel dilarutkan dalam masing-masing tabung.
3. Uji reaksi warna
Caranya : sampel direaksikan dengan suatu reagen tertentu, kemudian amati
perubahan warna yang terjadi
4. DATA DAN PENGAMATAN
Penentuan

Pengamatan

1. ORGANOLEPTIK

hablur

kemungkinan
Rifampisin
Kanamisin

a. Makroskopik (kode 62)


(Kode 67)
-

Merah kecoklatan

Rifampisin

b. Mikroskopik (kode 62)


(Kode 67)
c. Warna (kode 62)
Penentuan
(Kode 67)
2. KELARUTAN
d. Bau (kode 62)

Putih agak kuning


Kanamisin
Pengamatan
kemungkinan
Sangat sukar larut
Rifampisin
Rifampisin
Larut
Kanamisin

a. Air (kode 62)


(Kode 67)
(kode67)
e. Rasa (kode 62)
b. Asam (kode 62)
(Kode 67)

Tidak berbau

Kanamisin

Rifampisin

Rifampisin
Kanamisin

Larut
Sukar larut

Kanamisin

Tidak larut

Rifampisin

(kode67)
c. Basa (kode62)

Kanamisin

(kode67)
d. Pelarut organik (kode62)
(kode67)

Mudah larut

Rifampisin

Praktis tidak larut

Kanamisin

Reaksi warna :
S 67+ BaCl endapan putih kemungkinan Gentamisin
S 67 + Pb asetat endapan putih ditambah NaOH endpan larut. kemungkinan gentamisin
S 67 + Ninhidrin + piridin + H2O warna ungu kebiruan seperti lembayung (+) kanamisin
5. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi antibiotik golongan
aminoglikosid yaitu kanamisin dan yang kedua golongan anti TBC yaitu
Rifampisin cara identifikasi berdasarkan reaksi kimia dengan prinsip pereaksi
yang dapat bereaksi dengan senyawa yang di analisis meliputi pewarnaan,
pengendapan dan pembentukan gas dan bau.
Rifampisin adalah turunan semisintetik dari Rifamisin B, suatu antibiotika yang
diturunkan dari Streptomyces meditarranei
Kanamisin merupakan antibiotic golongan aminoglikosida terdiri dari 2 atau lebih
gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa
mempunyai mekanisme kerja menghambat dinding sel dan efektif terhadap
bakteri gram negative.
Pada saat identifikasi kanamisin terjadi kesulitan dikarenakan kurang telitinya
pengamatan warna yang terbentuk pada saat pemanasan. Sehingga terjadi
kesalahan pada saat penarikan kesimpulan
Kerangka dasar kanamisin - gentamisin adalah 2 desoksitretamin, tapi terikat
dengan dua monosakarida. Kanamisin berasal dari streptomyces kanamycetius

dan

gentamisin,

sisomisin

dari

mikromonospora.

aminoglikosida adalah spektrum kerjanya yang luas.

Ciri

khas

antibiotik

PEMBAGIAN JENIS ANTIBIOTIKA


Klasifikasi antibiotika dan kemoterapetika yang sering dianjurkan dan digunakan
adalah berdasarkan bagaimana kerja antibiotika tersebut terhadap kuman, yakni antibiotika
yang bersifat primer bakteriostatik dan antibiotika yang bersifat primer bakterisid. Yang
termasuk bakteriostatik di sini misalnya sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin,
trimetropim, linkomisin, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dan lain-lain. Obat-obat
bakteriostatik bekerja dengan mencegah pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya,
sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Sedangkan
antibiotika yang bakterisid, yang secara aktif membasmi kuman meliputi misalnya penisilin,
sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid dan lain-lain.
Pembagian lain juga sering dikemukakan berdasarkan makanisme atau tempat kerja
antibiotika tersebut pada
kuman, yakni :
1. Antibiotika yang bekerja menghambat sintesis dinding sel kuman, termasuk di sini
adalah basitrasin, sefalosporin, sikloserin, penisilin, ristosetin dan lain-lain.
2. Antibiotika yang merubah permeabilitas membran sel atau mekanisme transport aktif
sel. Yang termasuk di sini adalah amfoterisin, kolistin, imidazol, nistatin dan
polimiksin.
3. Antibiotika yang bekerja dengan menghambat sintesis protein, yakni kloramfenikol,
eritromisin (makrolida), linkomisin, tetrasiklin dan aminogliosida.
4. Antibiotika yang bekerja melalui penghambatan sintesis asam nukleat, yakni asam
nalidiksat, novobiosin, pirimetamin, rifampisin, sulfanomida dan trimetoprim.
Secara garis besar, jenis-jenis antibiotika dan kemoterapetika yang ada paling tidak akan
mencakup jenis-jenis berikut ini :
Golongan penisilin.
Golongan penisilin bersifat bakterisid dan bekerja dengan mengganggu sintesis
dinding sel. Antibiotika pinisilin mempunyai ciri khas secara kimiawi adanya nukleus asam
amino-penisilinat, yang terdiri dari cincin tiazolidin dan cincin betalaktam. Spektrum kuman
terutama untuk kuman koki Gram positif. Beberapa golongan penisilin ini juga aktif terhadap

kuman Gram negatif. Golongan penisilin masih dapat terbagi menjadi beberapa kelompok,
yakni:
Penisilin yang rusak oleh enzim penisilinase, tetapi spektrum anti kuman terhadap
Gram positif paling kuat. Termasuk di sini adalah Penisilin G (benzil penisilin) dan
derivatnya yakni penisilin prokain dan penisilin benzatin, dan penisilin V (fenoksimetil
penisilin). Penisilin G dan penisilin prokain rusak oleh asam lambung sehingga tidak bisa
diberikan secara oral, sedangkan penisilin V dapat diberikan secara oral.
Spektrum antimikroba di mana penisilin golongan ini masih merupakan pilihan utama
meliputi infeksi-infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A, pneumokokus, meningokokus,
gonokokus, Streptococcus viridans, Staphyloccocus, pyoneges (yang tidak memproduksi
penisilinase),

Bacillus

anthracis, Clostridia,

Corynebacterium

diphteriae, Treponema

pallidum, Leptospirae dan Actinomycetes sp.

Sediaan dari Penisilin


Antibiotika golongan penisilin yang beredar di pasaran untuk penggunaan oral adalah :
a. Amoksisilin dan campurannya (asam klavulamat)
o Bentuk tablet atau kapsul dengan kandungan Amoksisilin 250mg, 500 mg dan
875 mg. Agar Amoksisilin tidak rusak oleh asam lambung, Amoksisilin ada
yang dikombinasi dengan asam Klavulamat 125 mg. Untuk sediaan ini tidak
boleh dibagi/diracik karena kandungan optimum Asam Klavulamat untuk
bentuk sediaan tablet 125 mg.
o Bentuk sediaan sirup dengan kandungan Amoksisilin 125 dan 250 mg / 5 ml.
Bila dikombinasi dengan Asam Kavulamat, 31,25 mg Asam Klavulamat dan
125 mg Amoksisilin atau 62,5 mg Asam Klavulamat dan 250 mg Amoksisilin.
o Untuk sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial 1.000 mg, dengan kombinasi
Asam Klavulamat 200 mg.
b. Amoksisilin dan campurannya (asam klavulamat)
o Bentuk sediaan kapsul atau tablet dengan kandungan 250 mg, 500 mg atau
1000 mg.

o Bentuk sediaan sirup dengan kandungan 125 mg atau 250 mg/5 ml sirup.
o Untuk sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial dengan kandungan 200 mg, 500
mg dan 1.000 mg Ampisilin. Dan ada kombinasi 1.000 mg Ampisilin dan 500
mg Sulbactam atau 500 mg Ampisilin dan 250 mg Sulbactam
c. Flucloxacilin
Di pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan 500 mg zat
aktif juga dalam bentuk sirup dengan kandungan zat aktif 125 mg / 5 ml.
d. Cloxacilin
Di pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan 500 mg zat
aktif juga dalam bentuk vial dengan kandungan zat aktif 250 mg, 500 mg dan 1.000
mg /vial.
e. Piperacilin
Di pasaran terdapat dalam kombinasi; 4 gram Piperacilin dengan 500 mg Tazobactam
dalam bentuk vial.
f. Sulbenicilin
Di pasaran terdapat dalam bentuk vial dengan kandungan 1 gram dan 2 gram zat aktif.
g. Derivat penisilin lainnya
Seperti Phenoxymethyl Penicillin dan Benzathine Penicillin dalam bentuk vial untuk
pemakaian injeksi.

Penisilin yang tidak rusak oleh enzime penisilinase, termasuk di sini adalah kloksasilin,
flukloksasilin, dikloksasilin, oksasilin, nafsilin dan metisilin, sehingga hanya digunakan
untuk kuman-kuman yang memproduksi enzim penisilinase.

Penisilin dengan spektrum luas terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi rusak
oleh enzim penisilinase. Termasuk di sini adalah ampisilin dan amoksisilin. Kombinasi obat
ini dengan bahan-bahan penghambat enzim penisiline, seperti asam klavulanat atau
sulbaktam, dapat memperluas spektrum terhadap kuman-kuman penghasil enzim penisilinase.

Penisilin antipseudomonas (antipseudomonal penisilin). Penisilin ini termasuk karbenisilin,


tikarsilin, meklosilin dan piperasilin diindikasikan khusus untuk kuman-kuman Pseudomonas
aeruginosa.

Golongan sefalosporin.
Golongan ini hampir sama dengan penisilin oleh karena mempunyai cincin beta laktam.
Secara umum aktif terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi spektrum anti
kuman dari masing-masing antibiotika sangat beragam, terbagi menjadi 3 kelompok, yakni:
1. Generasi pertama yang paling aktif terhadap kuman Gram positif secara in vitro.
Termasuk di sini misalnya sefalotin, sefaleksin, sefazolin, sefradin. Generasi pertama
kurang aktif terhadap kuman Gram negatif.
2. Generasi kedua agak kurang aktif terhadap kuman Gram positif tetapi lebih aktif
terhadap kuman Gram negatif, termasuk di sini misalnya sefamandol dan sefaklor.
3. Generasi ketiga lebih aktif lagi terhadap kuman Gram negatif, termasuk
Enterobacteriaceae dan kadang-kadang peudomonas. Termasuk di sini adalah
sefoksitin (termasuk suatu antibiotika sefamisin), sefotaksim dan moksalatam.
Adapun indikasi dari masing Sefalosporin sebagai berikut :
1. Cefadroxil dan Cefalexin
Obat golongan Cefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang
disebabkan oleh bakteri pada kulit, tenggorokan, dan infeksi kandung kemih. Antibiotik ini
tidak efektif untuk pilek, flu atau infeksi lain yang disebabkan virus.
2. Cefazolin
Cefazolin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi pada
kandung empedu dan kandung kemih, organ pernafasan, genito urinaria (infeksi pada organ
seksual dan saluran kencing), pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit atau
luka.
3. Cephalotin
Obat golongan Sefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit
pada infeksi kulit dan jaringan lunak, saluran nafas, genito-urinaria, pasca operasi, otitis
media dan septikemia.
4. Cefaclor dan Cefixim

Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit seperti
pneumonia dan infeksi pada telinga, paru-paru, tenggorokan, saluran kemih dan kulit.
5. Cefamandol, Ceftizoxim dan Ceftriaxon
Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit pada
paru-paru, kulit, tulang, sendi, perut, darah dan saluran kencing.
6. Cefmetazol
Cefmetazol lebih aktif daripada Sefalosporin golongan pertama terhadap gram positif
Proteus, Serritia, kuman anaerobik gram negatif (termasuk B. fragilis) dan beberapa E.coli,
Klebsiella dan P. mirabilis, tetapi kurang efektif dibandingkan Cefoxitin atau Cefotetan
melawan kuman gram negatif.
7. Cefoperazon dan Ceftazidim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi
termasuk paru-paru, kulit, sendi, perut, darah, kandungan, dan saluran kemih.
8. Cefprozil
Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi seperti Otitis Media, infeksi jaringan lunak dan
saluran nafas.
9. Cefuroxim
Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti;
bronkitis, gonore, penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran
kemih, dan kulit.
10. Cefotaxim
Cefotaxime digunakan untuk mengobati Gonore, infeksi pada ginjal (pyelonephritis), organ
pernafasan, saluran kemih, meningitis, pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi
kulit dan jaringan lunak.
11. Cefotiam
Memiliki aktivitas spetrum luas terhadap kuman gram negatif dan positif, tetapi tidak
memiliki aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa.
12. Cefpodoxim

Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi
seperti Pneumonia, Bronkitis, Gonore dan infeksi pada telinga, kulit, tenggorokan dan saluran
kemih.
13. Cefepim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi
seperti Pneumonia, kulit, dan saluran kemih.
14. Cefpirom
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi
pada darah atau jaringan, paru-paru dan saluran nafas bagian bawah, serta saluran kemih.
Golongan amfenikol
Golongan ini mencakup senyawa induk kloramfenikol maupun derivat-derivatnya
yakni kloramfenikol palmitat, natrium suksinat dan tiamfenikol. Antibiotika ini aktif terhadap
kuman Gram positif dan Gram negatif maupun ricketsia, klamidia, spirokaeta dan
mikoplasma. Karena toksisitasnya terhadap sumsum tulang, terutama anemia aplastika, maka
kloramfenikol hanya dipakai untuk infeksi S. typhi dan H. influenzae.
Golongan tetrasiklin
Merupakan antibiotika spektrum luas bersifat bakteriostatik untuk kuman Gram
positif dan Gram negatif, tetapi indikasi pemakaiannya sudah sangat terbatas oleh karena
masalah resistensi, namun demikian antibiotika ini masih merupakan pilihan utama untuk
infeksi-infeksi yang disebabkan oleh klamidia, riketsia, dan mikoplasma. Mungkin juga
efektif terhadap N. meningitidis, N. gonorhoeae dan H. influenzae., termasuk di sini adalah
tetrasiklin, klortetrasiklin,

oksitetrasiklin,

doksisiklin,

minosiklin,

metasiklin

dan

demeklosiklin.
Golongan aminoglikosida
Merupakan golongan antibiotika yang bersifat bakterisid dan terutama aktif untuk
kuman Gram negatif. Beberapa mungkin aktif terhadap Gram positif. Streptomisin dan
kanamisin juga aktif terhadap kuman TBC. Termasuk di sini adalah amikasin, gentamisin,
kanamisin, streptomisin, neomisin, metilmisin dan tobramisin, antibiotika ini punya sifat khas
toksisitas berupa nefrotoksik, ototoksik dan neurotoksik.

Golongan makrolida
Golongan makrolida hampir sama dengan penisilin dalam hal spektrum antikuman,
sehingga merupakan alternatif untuk pasien-pasien yang alergi penisilin. Bekerja dengan
menghambat sintesis protein kuman. Aktif secara invitro terhadap kuman-kuman Gram
positif, Gram negatif, mikoplasma, klamidia, riketsia dan aktinomisetes. Selain sebagai
alternatif penisilin, eritromisin juga merupakan pilihan utama untuk infeksi pneumonia atipik
(disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae) dan penyakit Legionnaires (disebabkan
Legionella pneumophilla) termasuk dalam golongan makrolida selain eritromisin juga
roksitromisin, spiramisin, josamisin, rosaramisin, oleandomisin dan trioleandomisin.
.

Eritromisin
Eritromisin dighasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Aktif terhadap
kuman gram positif seperti Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae. Yang biasa digunakan
untuk infeksi Mycloplasma pneumoniae, penyakit Legionnaire, infeksi Klamidia,
Difter, Pertusis, iInfeksi Streptokokus, Stafilokokus, infeksi Camylobacter, Tetanus,
Sifilis, Gonore. Sediaan dari Eritromisin berupa kapsul/ tablet, sirup/sspensi, tablet
kunyah dan obat tetes oral.

Dapat mengalami resistensi dalam 3 mekanisme :


1. Menurunnya permeabilitas dinding sel kuman.
2. Berubahnya reseptor obat pada Ribosom kuman dan
3. Hidrolisis obat oleh esterase yang dihasilkan oleh kuman tertentu.
Efek samping yang berat akibat pemakaian Eritromisin dan turunannya jarang terjadi.
Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang cepat
hilang bila terapi dihentikan. Ketulian sementara dapat terjadi bila Eritromisin diberikan
dalam dosis tinggi secara IV. Eritromisin dilaporkan meningkatkan toksisitas Karbamazepin,
Kortikosteroid, Siklosporin, Digosin, Warfarin dan Teofilin.

Spiramisin
Spiramisin adalah antibiotika golongan Makrolida yang dihasilkan oleh Streptomyces
ambofaciens. Secara in vitro (tes laboratorium) aktivitas antibakteri Spiramisin lebih

rendah daripada Eritromisin. Sediaa yang tersedia dari spiramisin adalah bentuk tablet
500 mg. Seperti Eritromisin, Spiramisin digunakan untuk terapi infeksi rongga mulut
dan saluran nafas. Spiramisin juga digunakan sebagai obat alternatif untuk
penderitaToksoplasmosis yang karena suatu sebab tidak dapat diobati dengan
Pirimentamin dan Sulfonamid (misalnya pada wanita hamil, atau ada kontra indikasi
lainnya). Efeknya tidak sebaik Pirimentamin dan Sulfonamid. Pemberian oral kadangkadang menimbulkan iritasi saluran cerna.

Roksitromisin
Roksitromisin adlah derivat Eritromisin yang diserap dengan baik pada pemberian
oral. Obat ini lebih jarang menimbulkan iritasi lambung dibandingkan dengan
Eritromisin. Juga (bioavailabilitas) kadar obat yang tersedia tidak banyak terpengaruh
oleh adanya makanan dalam lambung. Kadar obat dalam darah dan plasma lebih
tinggi dari Eritromisin.Bentuk sediaan yang beredar adalah tablet atau kapsul 150 mg
dan 300 mg. Indikasinya diperuntukkan untuk infeksi THT, saluran nafas bagian atas
dan bawah seperti bronkitis akut dan kronik, penumonia, uretritis (selain Gonore) akut
dan kronis, infeksi kulit seperti pioderma, impetigo, dermatitis dengan infeksi, ulkus
pada kaki.

Klaritromisin
Klaritromisin juga digunakan untuk indikasi yang sama denga Eritromisin. Secara in
vitro (di laboratorium), obat ini adalah Makrolida yang paling aktif terhadap
Chlamydia trachomatis. Absorpsinya tidak banyak dipengaruhi oleh adanya makanan
dalam lambung. Efek sampingnya adalah iritasi saluran cerna (lebih jarang
dibandingkan dengan iritasi saluran cerna dan peningkatan enzim sementara di hati.
Klaritromisin juga meningkatkan kadar Teofilin dan Karbamazepin bila diberikan
bersama obat-obat tersebut.

Azitromisin
Azitromisin digunakan untuk mengobati infekti tertentu yang disebabkan oleh bakteri
seperti bronkitis, pneumonia, penyakit akibat hubungan seksual dan infeksi dari
telinga, paru-paru, kulit dan tenggorokan. Azitromisin tidak efektif untuk pilek, flu
atau infeksi yang disebabkan oleh virus. Bentuk sediaan dari Azitromisin adalah tablet
atau suspensi oral (cairan). Biasanya digunakan dengan atau tanpa makanan satu kali

sehari selama 1-5 hari. Agar membantu anda ingat minum Azitromisin, minumlah
pada jam yang sama setiap harinya.Minumlah azitromisin sesuai dosis yang ada.
Jangan lebih atau kurang dari dosis yang ditentukan oleh dokter. Kocok sirup dengan
baik sebelum dipakai untuk mencampur obat dengan baik. Gunakan syringe yang
tersedia untuk mengukur dengan tepat dosis yang anda gunakan. Setelah itu bersihkan
syringe dengan air. Untuk tablet harus diminum dengan segelas air penuh. Habiskan
obat yang diresepkan, walaupun anda merasa sudah baik atau sembuh. Hal ini untuk
menghindari bakteri menjadi resistensi bila pengobatan tidak diselesaikan.
Golongan linkosamid.
Termasuk di sini adalah linkomisin dan klindamisin, aktif terhadap kuman Gram positif
termasuk stafilokokus yang resisten terhadap penisilin. Juga aktif terhadap kuman anaerob,
misalnya bakteroides. Sering dipakai sebagai alternatif penisilin antistafilokokus pada infeksi
tulang dan sendi serta infeksi-infeksi abdominal. Sayangnya, pemakaiannya sering diikuti
dengan superinfeksi C. difficile, dalam bentuk kolitis pseudomembranosa yang fatal.
Golongan polipeptida.
Antibiotika golongan ini meliputi polimiksin A, B, C, D dan E. Merupakan kelompok
antibiotika yang terdiri dari rangkaian polipeptida dan secara selektif aktif terhadap kuman
Gram negatif, misalnya psedudomonas maupun kuman-kuman koliform yang lain. Toksisitas
polimiksin

membatasi

pemakaiannya,

terutama

dalam

bentuk neurotoksisitas

dan

nefrotoksisitas. Mungkin dapat berperan lebih penting kembali dengan meningkatnya


infeksi pseudomonas dan enterobakteri yang resisten terhadap obat-obat lain.
Golongan antimikobakterium
Golongan antibiotika dan kemoterapetika ini aktif terhadap kuman mikobakterium. Termasuk
di sini adalah obat-obat anti TBC dan lepra, misalnya rifampisin, streptomisin, INH, dapson,
etambutol dan lain-lain.
Golongan sulfonamida dan trimetropim
Kepentingan sulfonamida dalam kemoterapi infeksi banyak menurun karena masalah
resistensi. Tetapi beberapa mungkin masih aktif terhadap bentuk-bentuk infeksi tertentu
misalnya

sulfisoksazol

untuk

infeksi

dan

infeksi

saluran kencing.

Kombinasi

sulfamektoksazol dan trimetoprim untuk infeksi saluran kencing, salmonelosis, kuman

bronkitis, prostatitis. Spektrum kuman mencakup kuman-kuman Gram positif dan Gram
negatif.
Golongan kuinolon
Merupakan kemoterapetika sintetis yang akhir-akhir ini mulai populer dengan spektrum
antikuman yang luas terutama untuk kuman-kuman Gram negatif dan Gram positif,
enterobakteriaceae dan pseudomonas. Terutama dipakai untuk infeksi-infeksi nosokomial.
Termasuk di sini adalah asam nalidiksat, norfloksasin, ofloksasin, pefloksasin dan lain-lain.
Golongan lain-lain
Masih banyak jenis-jenis antibiotika dan kemoterapetika lain yang tidak tercakup dalam
kelompok yang disebutkan di atas. Misalnya saja vankomisin, spektinomisin, basitrasin,
metronidazol, dan lain-lain. Informasi mengenai pemakaian dan sifat masing-masing dapat
dicari dari sumber pustaka baku. Vankomisin terutama aktif untuk Gram positif, terutama
untuk S. areus, S. epidermidis, S. pneumoniae. Juga merupakan pilihan untuk infeksi
stafilokokus yang resisten terhadap metisilin. Tetapi karena toksisitasnya, maka vankomisin
hanya dianjurkan kalau antibiotika lain tidak lagi efektif.