Anda di halaman 1dari 5

1. Apakah yang dimaksud dengan istilah adherence? apa bedanya dengan istilah compliance ?

Medication adherence merupakan istilah yang menggambarkan tingkat perilaku seseorang dalam menggunakan
obat, mengikuti anjuran penggunaan diet, dan/atau melakukan perubahan gaya hidup yang dilakukan dengan
memberikan persetujuan terhadap rekomendasi yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan.
Frase dengan huruf tebal dari definisi yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) tersebut menekankan
adanya peran serta aktif/partisipasi individu, yang dalam hal ini adalah pasien, dalam membuat dan menjalankan
rekomendasi dari penyedia layanan kesehatan. Peran serta aktif pasien menjadi faktor penting yang membedakan
antara 2 istilah yang dalam bahasa Indonesia seringkali diterjemahkan menjadi kepatuhan, yaitu adherence dan
compliance. Penggunaan istilah compliance, yang pertama kali secara resmi tertera pada Medical Subject Heading
(MeSH) pada tahun 1975, memberikan isyarat sifat pasif atau minimnya keterlibatan seorang pasien dalam
menerima rekomendasi penyedia layanan kesehatan atau merancang pengobatannya. Sayangnya, sejauh pemahaman
penulis, baik istilah adherence maupun compliance masih diterjemahkan dengan istilah yang sama dalam bahasa
Indonesia, yaitu: kepatuhan. Adanya perbedaan hakiki dari kedua istilah tersebut menjadi pertimbangan penulis
untuk tetap mempertahankan kata adherence dalam artikel ini, walaupun istilah compliance mungkin lebih sering
didengar oleh pembaca. Identiknya istilah kepatuhan dengan compliance sangat bisa penulis pahami, mengingat
istilah medication adherence sendiri baru pertama kali secara resmi tertera pada MeSH pada tahun 2009.
2.

Tuliskan beberapa metode/ cara untuk mengukur tingkat kepatuhan pasien !

3.

Tuliskan 5 faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan seseorang dalam menggunakan obatnya !
WHO merekomendasikan faktor ketidakpatuhan diklasifikasikan dalam lima dimensi yaitu:
A. faktor sosial ekonomi,
Sosial Ekonomi. Faktor sosio ekonomi yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap
pengobatan antara lain pendapatan, budaya, kondisi ekonomi serta geografis. Rendahnya
pendapatan dan adanya kendala keuangan sebagai penyebab ketidakpatuhan pada
pengobatan.Sistematic review yang dilakukan oleh Peltzer et al., tahun 2013 mendapatkan hasil
bahwa ada perbedaan kepatuhan dalam penggunaan obat pada pasien di negara yang
berpendapatan rendah dengan negara yang berpendapatan menengah meskipun tidak diketahui
hubungannya.
Faktor Sosio Demografi. Faktor sosio demografi yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam
penggunaan obat atau terapi antara lain umur, jenis kelamin, suku atau ras dan budaya. Penelitian
yang dilakukan oleh Lachaine et al., tahun 2013, menemukan hasil bahwa pada kasus penyakit
kronis jenis kelamin laki-laki usia>60 tahun memiliki kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan perempuan usia >60 tahun. Font et al. tahun 2012 mendapatkan hasil bahwa pada pasien
kanker payudara pada perempuan usia 50 74 tahun dan diatas 74 tahun memeliki kepatuhan
minum obat lebih tinggi dibandingkan pada perempuan usia dibawah 50 tahun. Kepatuhan minum
obat juga dipengaruhi oleh perbedaan suku atau ras. Penelitian yang dilakukan oleh Deribew et al.
tahun 2011 mendapatkan hasil kepatuhan minum obat di Addis Ababa lebih tinggi dibandingkan
dengan di Afrika. Traylor et al. tahun 2010 yang mempelajari hubungan antara suku/ras dan
bahasa mendapatkan hasil bahwa kesesuaian suku/ras dan bahasa meningkatkan kepatuhan dalam
pengobatan.Semakin sesuai suku/ras dan bahasa, kepatuhan pada pengobatan semakin meningkat.
Status perkawinan juga mempengaruhi kepatuhan, dimana pasien dengan status kawin akan lebih
patuh dibanding status tidak kawin.Jjuga diketahui kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh
budaya, kondisi ekonomi dan geografis dari negara tersebut.
B. faktor tim dan sistem kesehatan

Karakteristik Fasilitas dan Petugas Kesehatan.Kemudahan dalam mengakses fasilitas


pelayanan kesehatan, ketanggapan petugas, sikap empati, dan kemampau petugas kesehatan untuk
menghormati kekhawatiran pasien akan meningkatkan kepatuhan pengobatan
C. faktor kondisi penyakit,
Karakteristik Kondisi Penyakit. Penyakit kronis, stadium lanjut dari penyakit (HIV), akan
menurunkan kepatuhan pada pengobatan, sedangkan rasa nyeri yang lama akan meningkatkan
kepatuhan.
D. faktor terapi
Karakteristik terapi. Faktor karakteristik obat yang mempengaruhi kepatuhan pada pengobatan
yaitu antara lain regimen obat, lama terapi, jenis obat, harga obat, efek samping obat, kejadian
yang tidak diinginkan dari obat. Grigoryan, Pavlik & Hyman, 2013 yang meneliti tentang
kepatuhan pengobatan pada regimen obat tunggal dan multi obat pada pasien hipertensi,
mendapatkan hasil baik pada regimen obat tunggal maupun multi obat, pasien pernah lupa satu
hari untuk minum obat, sedangkan penelitian Mindachew, et al., tahun 2011, serta penelitian
Frthauer, Flamm, & Snnichsen, 2013 mendapatkan hasil bahwa ketidakpatuhan penggunaan
obat pada pasien disebabkan karena pasien takut akan efek samping dan kejadian yang tidak
diinginkan dari obat. Frekuensi penggunaan obat ( satu kali sehari; dua; tiga dst) berpengaruh
kepada kepatuhan, dimana pemakaian obat satu kali sehari lebih meningkatkan kepatuhan
dibandingkan dengan dua atau tiga kali sehari
E. faktor pasien (Kardas et al., 2013).
Karakteristik Pasien. Faktor karakteristik pasien yang mempengaruhi kepatuhan antara lain
keyakinan kesehatan, kedisiplinan, dan kesadaran. Keterlibatan pasien dalam mengambil
keputusan tentang pengobatan akan meningkatkan kepatuhan pada pengobatan. Persepsi pasien
terhadap keparahan penyakit akan berpengaruh pada kepatuhan. Perbaikan klinis, dan hilangnya
gejala sakit atau merasa seolah-olah sudah sembuh akan menurunkan kepatuhan pengobatan.
Psiko-sosial.Faktor psiko-sosial yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan antara lain kondisi
kejiwaan/depresi, kepribadian yang rendah dan sikap pesimis, wawasan yang sempit, dan malas
akan menurunkan kepatuhan pada pengobatan. Sedangkan faktor yang dapat meningkatkan
kepatuhan antara lain, sikap optimis, mimiliki harapan, wawasan yang luas, kemampuan
mengendalikan diri dalam menghadapi penyakit dan dalam melakukan terapi.
4.

Menurut saya, dengan adanya sistem jaminan kesehatan seperti BPJS sangat membantu pasien untuk
meningkatkan kepatuhan dalam menggunakan obatnya, karena dengan adanya layanan BPJS, masyarakat
dapat membeli obat dengan harga yang akan disesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh oleh masingmasing masyarakat, sehingga masyarakat tidah lagi merasa kawatir akan harga obat yang sangat mahal.
Dengan begitu kepatuhan dalam pengobatan sangat terbantu dengan adanya BPJS.

5.

Kepatuhan dalam penggunaan obat sebagai suatu perilaku kesehatan dapat ditinjau dari perspektif psikologi
khususnya teori kognisi sosial seperti Health Belief Model (HBM), Theory of Planned Behavior (TPB) dan
InformationalMotivationalBehavioural Model (IMB).

Bagan InformationalMotivationalBehavioural Model (IMB) Konstruksi IMB dan bagaimana mereka berhubungan
dengan pasien kepatuhan , diuraikan di bawah ini:
- Informasi merupakan dasar pengetahuan tentang kondisi medis dan mungkin termasuk bagaimana penyakit
tersebut muncul, strategi yang diharapkan sesuai dan efektif untuk memanajemen kondisi medis tersebut.
- Motivasi meliputi sikap pribadi terhadap perilaku kepatuhan , mengetahui dukungan sosial untuk perilaku,
dan norma subjektif pasien atau persepsi bagaimana orang lain dengan kondisi medis ini mungkin
berperilaku .
- Kemampuan berprilaku termasuk memastikan bahwa pasien tersebut memiliki alat perilaku yang khusus
atau strategi yang diperlukan untuk melakukan perilaku kepatuhan seperti mendaftar dukungan sosial dan
strategi self-regulation lainny

Model IMB menunjukkan bahwa informasi merupakan prasyarat untuk mengubah perilaku ,
tetapi dalam dirinya sendiri tidak cukup untuk mencapai perubahan ini . Motivation dan
perilaku keterampilan merupakan penentu kritis dan independen terhadap perubahan
perilaku . Informasi dan motivasi kerja sebagian besar melalui keterampilan perilaku untuk
mempengaruhi perilaku ; Namun , ketika keterampilan perilaku yang akrab atau tidak rumit ,
informasi dan motivasi dapat memiliki efek langsung pada perilaku ( lihat diagram ) . Dalam
hal ini , pasien mungkin mengisi resep ( sederhana , perilaku familiar ) berdasarkan
informasi yang diberikan oleh provider . Hubungan antara informasi dan motivasi konstruksi
lemah . Dalam istilah praktis , seseorang sangat termotivasi mungkin memiliki sedikit
informasi , atau orang yang sangat diinformasikan mungkin memiliki motivasi rendah .
Namun, dalam model IMB , keberadaan informasi dan motivasi meningkatkan kemungkinan
kepatuhan .
Teori Informasi, Motivasi dan Behaviour (IMB) dari Fisher & Fisher berpendapat bahwa
informasi, motivasi, dan keterampilan berperilaku merupakan faktor utama yang dapat
mempengaruhi perilaku pencegahan seseorang terhadap penyakit. Melalui informasi,
motivasi, dan keterampilan berperilaku untuk mengurangi risiko penularan, perilaku
pencegahan terhadap penyakit juga lebih mudah terwujud. Informasi berhubungan dengan
informasi tentang pengetahuan dasar mengenai penyakit, kondisi kesehatan, maupun
perilaku pencegahan yang dianjurkan. Sementara itu motivasi dipengaruhi oleh motivasi
individu dan motivasi sosial. Motivasi individu didasarkan pada sikap terhadap perilaku
pencegahan, norma subjektif, persepsi mengenai kerentanan terhadap penyakit,
keuntungan dan hambatan dari perilaku pencegahan, 'biaya' yang ditimbulkan dari perilaku
berisiko . Motivasi sosial didasarkan pada norma sosial, persepsi individu mengenai
dukungan sosial, serta adanya saran dari orang lain. Sementara itu keterampilan berperilaku
merupakan kemampuan indvidu untuk melakukan tindakan pencegahan, seperti
kemampuan merundingkan untuk tidak melakukan hubungan seksual, mendesak untuk
menggunakan kondom, dsb. Ketrampilan berperilaku ini memastikan bahwa seseorang
mempunyai Universitas Sumatera Utara keterampilan, alat, dan strategi untuk berperilaku
yang didasarkan pada keyakinannya (self efficacy) dan perasaan bahwa ia dapat
mempengaruhi keadaan/situasi (perceived behavioural control) untuk melakukan perilaku
tersebut. Keterampilan berperilaku merupakan prasyarat yang menentukan apakah
informasi dan motivasi yang bagus mampu mendorong tindakan pencegahan atau
perubahan perilaku yang efektif. Model ini beranggapan bahwa informasi dan motivasi
masing-masing dapat memiliki pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap
perilaku seseorang. Pengaruh tidak langsung yaitu melalui kerja sama antara informasi dan
motivasi dengan keterampilan berperilaku. Model ini juga berpendapat bahwa informasi
dapat mempengaruhi motivasi seseorang, begitu juga sebaliknya.

6.

The "state-of-the-art" adherence interventions target the patient, the provider, and the health care system.
Several programmes have demonstrated good results using multilevel team approaches . Adequate evidence
exists to support the utility of innovative, modified health care system teams in addressing the problem.
However, research on interventions to promote adherence has focused largely on modifying patient
behaviour. According to several published reviews on adherence, no single intervention targeting patient
behaviour is effective, and the most promising methods of improving adherence behaviour use a
combination of the strategies listed below:
- patient education
- behavioural skills
- self-rewards
- social support
- telephone follow-up