Anda di halaman 1dari 17

WASIAT

A. Pengertan Wasiat
Menurut pengertian bahasa umum:pesan.Sedang menurut istilah Syariah
ialah:Pesan terhadap sesuatu yang baik,yang harus dilaksanakan sesudah
seseorang meninggal.Atau tindakan seeorang terhadap harta peninggalannya
yang disandarkan kepada keadaan setelah meninggal.Kata wasiat disebut
dalam Al Quran seluruhnya sebanyak 25 kali. Dalam penggunaannya ,kata
wasiat berarti : berpesan, menetapkan dan memerintah (QS,al-Anam, 6:151,
152, 152, al-Nisa,4:132), mewajibkan (QS.al-Ankabut,29:8,Luqman,31:14,alSyura,42:13,al-Ahqaf,46:15),

dan

mensyariatkan

(Al-Nisa4:11).Dengan

pengertian istilah,Sayid Sabiq mengemukakan :Pemberian seseorang kepada


orang lain,berupa benda,uang atau manfaat,agar si penerima memiliki
pemberian itu setelah si pewasiat meninggal.
Satu pendapat mengemukakan bahwa wasiat adalah pemilikan yang
disandarkan pada sesudah meninggalnya si pewasiat dengan jalan tabarru
(kebaikan tanpa menuntut imbalan) Pengertian ini untuk membedakan wasiat
dengan

hibah.Jika

hibah

berlaku

sejak

si

pemberi

menyerahkan

pemberiannya,dan diterima oleh yang menerimanya,maka wasiat berlaku


setelah

si

pemberi

meninggal.Ini

sejalan

dengan

definisi

FuqahaHanafiyah:Wasiat adalah tindakan seseorang memberikan hak kepada


orang lain untuk memiliki sesuatu baik berupa benda atau manfaat secara
sukarela (tabarru),yang pelaksanaannyanditangguhkan setelah peristiwa
kematian orang yang memberi wasiat.
Fuqaha (ulama fiqih ) Malikiyah,Syafiiyah dan Hanabilah memberi
definisi yang lebih rinci; yaitu suatu transaksi yang mengharuskan si
penerima wasiat berha memiliki 1/3 harta peninggalan si pemberi setelah
meninggal,atau mengharuskan penggantian hak 1/3 harta si pewasiat kepada
penerima.

Kompilasi

Hukum

Islam

mendefenisikan

wasiat

sebagai

berikut:Pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga
yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia(Pasal 171 huruf f KHI)
Di dalam terminology hukum perdata positif,sering disebut dengan istilah
testament .Namun demikian ada perbedaan perbedaan prinsipil antara wasiat
menurut Hukum Islam dengan testament,terutama yang menyangkut criteria
dan persyaratannya.Kompilasi

mengambil jalan tengah ,yaitu meskipun

wasiat merupakan transaksi tabarru,agar pelaksanaannya mempunyai


kekuatan hokum,perlu ditata sedemikian rupa,agar diperoleh ketertiban dan
kepastian hukum.Karenanya tidak ada dalam syariat Islam sesuatu wasiat yang
wajib di lakukan dengan jalan putusan hakim.
Supaya

tadak terjadi kesalahpahaman,wasiat hendaknya tertlis bila

mampu menulis.Sebab bagi ahli waris yang tidak menyaksikan wasiat itu
dapat menemukan data,dan untuk menjaga penyalahgunaan,(HR.Bukhari dan
Muslim).Waspat tidak boleh lebih dari 1/3 dari harta yang ditinggalkan,setelah
selesai dikeluarkan biaa pelaksanaanjenazah dan melunasi utang-utangnya.
(HR.Bukhari dan Muslim).Atau jika pewasiat tidak dapat menulis ,hendaknya
ia mendatangkan dua orang saksi laki-laki yang adil,dipercaya dan jujur untuk
menyaksikan wasiat yang ia berikan kepada orang yang ia tunjuk.
B. Dasar Hukum
Para ulama mendasarkan wasiat kepada Al Quran, Sunnah dan Ijtima
Dalam konteks Hukum Islam di Indonesia, kompilasi merupakan aturan yang
dipedomani.
1. Al-Quran.




Firman Allah SWT ,QS.al Baqarah ,2:180 yang artinya
Diwajibkan atas kamu apabila seseorang diantara kamu kedatangan

(tanda-tanda)maut,jika ia meninggalkan harta uyang banyak,bertwasiat


untuk ibu bapak,dan karib kerabatnya secara maruf. (Ini adalah)
kewajiban atas orangorang yang bertaqwa.
QS.al-Baqarah 2:240





Dan

orang

orang

yang

akan

meninggal

diantaramu

danmeninggalkan isteri,hendaklah berwasiat untuk isteri isterinya,


(yaitu)diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah
(dari rumahnya),akan tetapi jika mereka pindah (sendiri) maka tidak ada
dosa bagimu(wali atau waris dari yang meninggal ) membiarkan mereka
berbuat maruf terhadap diri mereka.
QS. Al Maidah, 5:106,








Hai orang orang yang beriman apabila salah seorang kamu
menghadapi kematian,sedang dia akan berwasiat,maka hendaknya
(wasiat itu)disaksikan oleh dua orang saksi yang adil diantara kamu,atau
dua orang

yang berlainan agama dengan kamu jika kamu dalam

perjalanan di muka bumi lalu ditimpa bahaya kematian.


Ayat ayat di atas menunjukkannsecara jelas mengenai hukum
wasiat dan teknis pelaksanannya,secara materi yang menjadiobjek
wasiat.Namun demikian para ulama berbeda pendapat dalam memahami

dan menafsirkan hokum wasiat.Tentang kedudukan wasiat dalam Islam


akan diuraikan setelah dasar dasar hukum wasiat.
2. Al-Sunnah
Riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar ra,: Rasulullah
SAW.bersabda: Bukanlah hak seorang muslim yang mempunyai sesuatu
yang ingin diwasiatkan bermalam (diperlambat) selama dua malam,kecuali
wasiatnya telah dicatat di sisi Nya.
3. Ijma
Kaum muslimin sepakat ahwa tindakan wasiat merupakan syariat
Allah dan Rasul-Nya.Ijma demikian didasarkan pada ayat ayat Al Quran
dan Al Sunnah seperti dikutip di atas.
C. Hukum Wasiat.
Kompilasi hukum Islam di Indonesia tidak menegaskan status hukum
wasiat itu .Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hokum
wasiat.Mayoritas Ulama berpendapat bahwa wasiat tidak fardu ain ,baik
kepada orang tua atau kerabat yang sudah menerima warisan.Begitu juga
kepada

mereka

yang

karena

sesuatu

hal

tidak

mendapat

bagian

warisan.Alasannya,pertama,andaikan wasiat itu diwajibkan,niscaya Nabi SAW


telah menjelaskannya.Nabi tidak menjelaskan masalah ini,lagi pula beliau
menjelang meninggal,tidak berwasiat apa-apa .Kedua,para sahabat dalam
prakteknya juga tidak melakukan wasiat,namun menurut Sayid Sabiq,para
sahabat mewasiatkan sebagian hartanya untuk taqarrub kepada Allah.Menurut
mayoritas Ulama kebiasaan semacam itu dinilai Ijma sukuti (consensus secara
tidak langsung ) bahwa wasiat bukan fardu ain.Wasiat sebagai tindakan hokum
yang disaksikan dan dibenarkan oleh Nabi SAW,adalh suatu isyarat bahwa
ibadah wasiat dianjurkan dalan ajaran Islam.
Implikasi wasiat yang dipahami mayoritas ulama tersebut adalah,kewajiban
wasiat hanya dipenuhi jika seseorang berwasiat.Tetapi jika tidak berwasiat
maka tidak perlu dipenuhi.Mereka beralasan ,bahwa kewajiban wasiat seperti
dalam ayat ,berlaku pada masa awal Islam.Ketentuan dalam QS al-Baqarah

telah dinasakh oleh surat al Nisa ,4:11-12.Oleh karena itu kedua orang tua
dan kerabat,baik yang menerima wasiat atau tidak,telah tertutup haknya untuk
menerima wasiat.
Menurut al-Alusy,penghapusan berlakunya ayat wasiat karena orang
yang berwasiat tidak dapat lagi memperhatikan batas batas yang
diperkenankan dalam berwasiat sebagai diisyaratkan Al Quran dalam kalimat
bi al maruf . Ini dipandang sebagai iktikad yang tidak baik.Atas dasar itu
.Allah mengalihkan wasiat melalui ketentuan surat al-Nisa 4:11-12.Dengan
demikian peritah berwasiat kepada keluarga dan kerabat berakhir dan
berlakulah hukum warisan
Abu Dawud,Ibn Hazm dan Ulama Salaf berpendapat bahwa wasiat
hukumnya fardu ain (kewajiban individual).mereka beralasan kepada QS alBaqarah 2:180 dan al-Nisa 2:11-12,sesudah dipenuhi wasiat wasiat yang ia
buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangnya.Mereka memahami,bahwa
Allah

mewajibkan

hamba

Nya

untuk

mewariskan

peninggalannya kepada ahli waris yang lain


didahulukan

pelaksanaannya

daripada

sebagian

harta

dan mewajibkan wasiat


pelunasan

utang.Adapun

maksudkepada orang tua dan kerabat dipahami,karena mereka mereka tidak


menerima wasiat.Jadi merupakan kompromi dari ayat wasiat dan ayat
warisan.Ini sejalan dengan hadis : Tidak ada hak menerima wasiat bagi ahli
waris yang menerima warisan kecuali apabila ahli waris lain membolehkan
(Riwayat al Daruqutni )
Ketentuan tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk wasiat
wajibah, yang telah diintrodusir dibeberapa Negara muslim,termasuk
Indonesia,meski yang terakhir ini mengalami perubahan makna dan
nuansa,yaitu hanya diberikan kepada anak angkat dan orang tua angkat (Pasal
209 KHI).Dalam hal ini persetujuan ahli waris lain sangat menentukan.Namun
demikian apabila istilah ahli waris yang tidak menerima warisan itu dipahami
sebagai zawi al-arham yang menurut QS.al - Nisa ,4:11-12.tidak berhak
menerima warisan,maka tindakan hokum wasiat dapat dilakukan,tidak perlu
menunggu persetujuan ahli waris yang lain.Karena pada hakekatnya mereka-

zawi al-

arham

tersebut-

bukan

ahli

waris

meskipun

hubungan

kekerabatannya bias sangat dekat seperti cucu perempuan dari garis


perempuan.
Pendapat senada dikemukakan oleh Dawud al-Zahiiiry,Ibn Jarir alTabary dan sebagian tabiin seperti al Dahhaq,Tawus dan al-Hasan,yaitu
bahwa wasiat hukumnya wajib.Mereka beralasan,bahwa ynag dinasakh oleh
ahli waris adalah wasiat yang diberikan kepada ibu bapak dan kerabat yang
sudah ditentukan bagiannya.Karena itu mereka yang tidak menerima
warisan,tidak termasuk bagian yang dinasakh.
Imam Malik mengemukakan pendapat yang lebih realistis,menurut
ia,jika si mati tidak berwasiat,tidak perlu dikeluarkan harta untuk pelaksanan
wasiat,tetapi jika si mati berwasiat maka diambil sepertiga hartanya untuk
wasiat.Berbeda dengan al-Syafii .Al SyafiI mengatakan,meskipun si mati
tidak berwasiat sebagian hartanya tetap diambil untuk keperluan wasiat.
Adalah menarik komentar Mustafa Syalabi.Ia mengatakan kehadiran
system wasiat dalam hokum Islam sangat penting artinya sebagai penangkal
kericuhan dalam keluarga.Karena ada diantara anggota keluarga yang tidak
berhak menerima harta peninggalan dengan jalan warisan.Padahal ia telah
cukup berjasa dalam pengadaan harta itu.Atau seorang cucu miskin terhalang
oleh pamannya yang kaya,atau karena berbeda agama dan sebagainya,maka
dengan system wasiat yang diatur dalam hukum islam kekecewaan itu dapat
diatasi.
Pemahaman tentang status hokum wasiat ini ternyata mengalami
perkembangan.Abd al Rahman al-jaziry mengembangkan bahwa hokum
wasiat dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.
FuqahaHanafiyah mengemukakan bahwa dilihat dari segi orang yang
berwasiat terdapat empat hokum;yaitu wajib,sunat,mubah dan makruh.
Fuqaha Syafiiyah membagi hokum wasiat kepada lima ;wajib,haram jika
warisan itu diberikan kepada orang yang berbuat kerusakan,makruh jika
wasiat lebih dari sepertiga,atau diberikan kepada orang yang telah menerima
warisan,sunnah karena wasiat diberikan kepada ahli waris yang tidak

menerima bagian warisan,atau kepada fskir miskin,dan mubah seperti wasiat


kepada orang kaya.
Fuqaha Hanabilah,juga membagi hukum wasiat menjadi lima,demikian
fuqaha Malikiyah.
D. Syarat syarat dan Rukun wasiat
Secara garis besar syarat syarat wasiat adalah mengikuti rukun
rukunnya.Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dalam memberi uraian
tentang rukun dan syarat wasiat.Sayid Syabiq misalnya,menyebut rukun
wasiat hanya satu,yaitu penyerahan dari orang yang berwasiat.Agaknya ia
melihat wasiat sebagai tindakan hokum yang bisa sah dan berlaku secara
sepihak,tanpa keterlibatan fihak yang menerima.Lebih lebih berlakunya isi
wasiat adalah setelah si pewasiat meninggal dunia..Cara demikian,jika
dihadapkan dengan kenyataan sekarang,tentu saja banyak mengandung
banyak sisi kelemahan,yang apabila tidak dibenahi akan dapat mengancam
eksistensi dan niat baik si pewasiat.Karena itu dibawah ini akan dikemukakan
pandangan ulama lain.
Ibn Rusyd dan al-jaziry mengemukakan pendapat ualama secara
muqaranah (komparatif).Ada empat rukun Wasiat : 1) al-mushii (orang yang
berwasiat), 2) al-mushaa- lah (orang yang menerima wasiat), 3) al-mushaa
bih (barang yang di wasiatkan ) ,4) shighat (redaksi)
1. Orang yang berwasiat.
Para ulama sepakat bahwa orang yang berwasiat adalah orang yang
memiliki barang manfaat secara sah dan tidak ada paksaan.Namun mereka
berbede dalam menentukan batas usia,karena ini erat kaitannya dengan
kepemilikannya.Imam Malik mengatakan wasiat orang safih (bodoh) dan
anak anak yang belum baligh hukumnya sah.Pendapat ini didasarkan pada
riwayat Umar Ibn al Kattab yang membolehkan usia anak yang baru
berumur 9 atau 10 tahun kepada seorang putri pamannya senilai 30
dirham.Imam Hanafi berpendapat bahwa wasiat anak yang belum baligh
hukumnya tidak sah.Imam Syafii mempunyai dua pendapat.Kaitannya

dengan orang kafir,wasiat mereka sah hukumnya,sepanjangbarang yang


diwasiatkan tidak diharamkan.Undang undang wasiat Mesir menyatakan si
pewasiat harus sudah baligh,berakal,sehat dan cerdas.
Kompilasi Hukum Islam dalam hal ini mirip dengan pendapat Hanafi
dan SyafiI dalam satu pendapatnya,dinyatakan dalam pasal 194 :
(1) Orang yang telah berumur sekurang kurangnya 21 tahun,berakal
sehat,dan tanpa

adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta

bendanya kepada orang lain atau lembaga.


(2) Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat
(3) Pemilikan terhadap harta benda seperti dimaksud dalam ayat (1) pasal
ini baru dapat dilaksanakan sesudah pewaris meninggal dunia.
Pasal 194 di atas menegaskan bahwa batasan minimal orang
yang,yang boleh berwasiat adalah orang yang benar benar telah dewasa
secara undang-undang.Berbeda dengan batasan baligh dalam fiqh,karena
anak anak di Indonesia pada usia dibawah 21 tahun dipandang belum atau
tidak mempunyai hak kepemilikan karena masih menjadi tanggungan
orang tua,kecuali apabila sudah dikawinkan.
2).Orang yang menerima wasiat
Para Ulama sepakat bahwa orang-orang atau badan yang menerima
wasiat aalah bukan ahli waris,dan secara hokum dapat dipandang sebagai
cakap untuk memiliki sesuatu hak atau benda,ini sejalan dengan Kompilasi
pasal 171 huruf f, pasal 191 ayat (1) di atas
Riwayat dari Abu Umamah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah
SAW.bersabda dalam khutbah Haji tahun wada:Sesungguhnya Allah
telah memberikan kepada orang yang mempunyai hak akan hakhaknya,maka tidak sah wasiat kepada ahli waris .
Hadis tersebut oleh sebagian ulama dinilai bertentangan dengan ayat
yang menjelaskan bahwa wasiat adalah untuk kedua orang tua dan
kerabat.Mayoritas ulama berpendapat bahwa wasiat kepada kerabat yang
bukan ahli waris boleh dilaksanakan tapi makruh.Sementara alHasan,Tawus,dan Ishaq menyatakan Wasiat kepada kerabat ditolak

dengan menunjuk ayat di atas.Mereka mengemukakan hadis riwayat dari


Imran Ibn Husain:Seorang laki-laki memerdekakan enam orang hamba
sahaya miliknya dalam keadaan sakit menjelang meninggal,karena ia tidak
memilikiharta selain mereka,setelah itu ia membebaskan dua orang dan
menetapkan sebagai hamba empat orang.
Persoalannya adalah,bagaimana sekiranya wassiat diberikan kepada
kerabat yang menerima warisan dan ahli waris lainnya menyetujui.Dalam
kaitan ini,Ibn Hazm dan Fuqaha malikiyah yang masyihur,tidak
membolehkannya secara mutlak.Alasanya Allah telah menghapus wasiat
melalui ayat waris,begitu juga hadis.
FuqahaSyiah Jafariyah menyatakan bahwa wasiat kepada ahli waris
yang menerima warisan adalah boleh,kendatipun ahli waris lainnya tidak
menyetujuinya.Dasar petunjuk umum ( dalalah al am ) QS.al
Baqarah,2:180.
Pendapat yang membolehkan wasiat kepada ahli waris dengan syarat
apabila ahli waris lain menyetujui adalah mazhab Syafiiyah,Hanafiyah
dan Malikiyah.Dasarnya:Tidak sah wasiat kepada ahli waris,kecuali
apabila ahli waris lain membolehkannya (HR al Daruqutny)
Kompilasi pasal 195 mengemukakan masalah ini,yang juga
mengatur teknis pelaksanan wasiat.
Sayid sabiq mengemukakan syarat orang yang menerima wasiat ada
tiga ,pertama tidak ahli waris si pewasiat,kedua,sipenerima wasiat hadir
pada waktu wasiat dilakukan,dan ketiga,si penerima tidak melakukan
pembunuhan yang di haramkan si pewasiat.
Kompilasi

kemudian

menjelaskan

bahwa

dalam

berwasiat

hendaknya orang yang menerima ditunjuk secara tegas.Pasl 196 berbunyi :


Dalam wasiat baik secara tertulis atau lisan harus disebutkan dengan tegas
dan jelas siapa siapa atau lembaga apa yang ditunjuk akan menerima harta
benda yang diwasiatkan.
3). Benda yang diwasiatkan

Pada dasarnya benda yang diwasiatkan adalah benda benda atau


manfaat yang dapat digunakan bagi kepentingan manusia secara
positif.Para ulama sepakat dalam masalah tersebut.Namun mereka berbeda
dalam wasiat yang berupa manfaat suatu benda,sementara bendanya itu
sendiri

milik

pemiliknya

atau

keluarganya.FuqahaAmsar

membolehkan,sementara Ibn Laila dan Ibn Syubramah serta Ahl Zahir


membatalkan wasiat yang hanya berupa manfaat suatu benda.
Sayid Sabiq menegaskan bahwa wasiat dengan segala benda atau
manfaat,seperti buah dari satu pohon,atau anak dari satu hewan,adalah
sah,Yang penting kata Sabiq adalah benda atau manfaaf itu dapat
diserahkan kepada si penerima wasiat sepeninggal si pewasiat..Ini sepakat
dengan pendapat Jumhur (Mayoritas Ulama).Menurut mereka,manfaat
dapat dikategorikan

sebagai benda (amwal),karena itu wasiat berupa

manfaat saja hukumnya boleh.Pasal 198 Kompilasi menyebutkan :Wasiat


yangberupa hasil dari satu benda ataupun pemanfaatan suatu benda harus
diberikan jangka waktu tertentu.Pembatasan yang dimaksud kompilasi
ini,kelihatannya untuk memudahkan tertib administrasi,karena melihat
substansi

wasiat

sesungguhnya

adalah

untuk

waktu

selama-

lamanya,karena ia termasuk jenis sadaqah jariah.


Selanjutnya pasal 200 Kompilasi memberi penjelasan;Harta wasiat
yang berupa barang tak bergerak bila karena suatu sebab yang sah
mengalami penyusutan ,atau kerusakan yang terjadi sebelum pewasiat
meninggal dunia,maka penerima wasiat hanya akan menerima harta yang
tersisa.
Wasiat hanya dapat dilaksanakan 1/3 dari seluruh harta si
pewasiat.Tidak boleh lebih,ini merupakan konsensus

ulama.Kompilasi

merumiskan dalam pasal 201 : Apabila wasiat melebihi sepertiga dari harta
warisan,sedang ahli waris yang ada tidak menyetujuinya maka wasiat
hanya dilaksanakan sampai batas sepertiga harta warisan.
Pasal 202 berbunyi : Apabila wasiat ditujukan

untuk berbagai

kegiatan kebaikan,sedangkan harta wasiat tidak mencukupi maka ahli

10

waris

dapat

menentukan

kegiatan

mana

yang

di

dahulukan

pelaksanaannya.
Penegasan pasal 201 Kompilasi mengacu kepada suatu hadis riwayat
dari Saad Ibn Abi Waqqas seperti telah dikutib di depan.Pendapat lain
menyatakan bahwa batas maksimal wasiat adalah kurang dari 1/3.Ini
dipahami

dari pernyataan Rasulullah,bahwa 1/3 itu besar atau

banyak.Demikian pendapat Ulama SalafQatadah mengatakan Abu Bakar


berwasiat dengan 1/5 hartanya,Umar dengan hartanya.Ibn Rusyid
memandang,wasiat dengan 1/5 harta adalah lebih baik.
Yang popular adalah pendapat seperti dituangkan dalam kompilasi
yang menyatakan maksimal wasiat adalah 1/3.Dikuatkan lagi oleh Sabda
Nabi SAW. Sesungguhnya Allah menjadikan wasiat pada kamu sekalian
sepertiga harta kalian sebagai tambahan amalan kalian
Bagaimana cara perhitungannya?.Mayoritas Ulama menyatakan
bahwa sepertiga dihitung dari seluruh harta yang ditinggalkan si
mati.Imam Malik merinci ,merinci batas harta yang dimilikinya.Sementara
Umar Ibn Abd al Aziz menegaskan,1/3 harta dihitung dari seluruh harta
peninggalan sejak wasiat dilakukan.Abu Hanifah, Ahmad

dan SyafiI

dalam satu pendapatnya,1/3 tersebut dihitung saat meninggalnya si


pewasiat.
Meskipun kompilasi ini tidak menegaskan masa perhitungan dari
semua peninggalan pada saat kematian si pewasiat.Penegasan ini
penting ,sebab tidak jarang terjadi wasiat dilakukan jauh-jauh hari sebelim
meniggal,sehingga terjadi pengurangan atau penambahan barang barang
yang menjadi miliknya saat pewasiat meninggal.
Ulama yang memperbolehakan wasiat lebih dari 1/3 jika ahli waris
menyetujuinya,mengemukakan dua syarat. Pertama,persetujuan diberikan
setelahkematian pewasiat.karena hak kepemilikan si penerima wasiat baru
berlaku setelah pewasiat meninggal.Kedua,si penerima wasiat waktu
penyerahan telah memiliki kecakapan tidak terhalang karena safih.

11

Uraian diatas menunjukkan bahwa mayoritas pendapat menyatakan


bahwa wasiat paling banyak adalah 1/3 harta peninggalan si mati.
4). Shighat ( redaksi )
Ibn

Rusyd

mengatakan

bahwa

wasiat

dapat

dilaksanakan

menggunakan redaksi (shighat) yang jelas atau sahih dengan kata


wasiat,dan bias juga dilakukan dengankata-kata samaran ( gairu sarih). Ini
dapat ditempuh karena wasiat berbeda dengan hibah.Wasiat bisa dilakukan
dengan tertulis,dan tidak memerlukan jawaban ( qabul ) penerimaan secara
langsung.Sementara hibah memerlukan adanya jawaban penerimaan dalam
satu majelis.Dalam konteks kehidupan sekarang ini,cara-cara tersebut
diatas,tentu akan mengurangi kepastian hukumnya untuk mengatakan
tidak ada.Untuk itu perlu diatur agar dapat dibuktikan secara otentik
wasiat tersebut,yaitu dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi,atau
tertulis dihadapan dua orang saksi ,atau dihadapan notaries (pasl 195
(1).Dalam pasal 203 ayat (1) ditambahkan Apabila surat wasiat dalam
keadaan tertutup ,maka penyimpanan ditempat notaries yang membuatnya
atau ditempat lain,termasuk surat surat yang berhubungan.
Para ulama berbeda berpendapat tentang apakah penerimaan orang
yang menerima wasiat merupakan syarat sahnya atau tidak?.Imam Malik
berpendapat bahwa penerimaan wasiat atau qabul merupakan syarat
sah.Agaknya Malik menganalogikan wasiat dengan hibah.Berbeda dengan
imam Syafii.Menurut SyafiI,Kabul orang yang menerima wasiat tidak
merupakan syarat sah.
Abu Hanafiah dengan kedua muridnya,Abu Yusuf dan Hasan al
Syaiyibany memandang bahwa qabul dalam wasiat harus ada.Alasannya
karena wasiat adalah tindakan ikhtiyariyah,dan karena itu pernyatan
menerima penting adanya,seperti juga transaksi yang lain.
Seperti maksud pasal 195 (1) wasiat perlu bibuktikan secara
otentik,Karena wasiat merupakan tindakan hokum yang

membawa

implikasi adanya perpindahan hak dari seorang kepada orang lain.Hal ini

12

dimaksudkan agar tidak terjadi hal hal negative yang tidak di inginkan
oleh pewasiat maupun penerima (QS al-Maidah,5 : 106 )
Adapun upaya penyaksian wasiat baik melalui saksi biasa atau
notaries sebagai pejabat resmi ,dimaksudkan agar realisasi wasiat setelah
pewasiat meningal dapat berjalan lancar.Ini penting karena misi wasiat
sangat positif ,twrlebih lagi jika penerima wasiat adalh lembaga social
keagamaan atau kemasyarakatan.Oleh karena itu kompilasi menjelaskan
secara rinci tentang ketentuan-ketentuan seperti orang atau badan yang
tidak berhak menerima,pembatalan wasiat dan pencabutan wasiat,seperti
akan dijelaskan kemudian.
E. Cara melaksanakan Wasiat
Untuk melaksanakan wasiat ,haruslah diperhatikan ketentuan beriut:
1. Harta peninggalan si jenazah harus diambil lebih dahulu untuk
kepentingan pengurusan jenazah,seperti membeli kain kafan,biaya
pemakaman.
2. Setelah itu,harus dilunasu utang-utangnya lebih dahulu jika ia memiliki
utang.
3. Diambil untuk memenuhi wasiat si jenazah,danjumlahnya tidak boleh
dari sepertiga harta peninggalan setelah dikurangi untuk keperluan
penguruan jenazah
4. Setelah wasiat dipenuhi,maka harta peninggalannya diwariskan kepada
ahli waris yang berhak.Allah SWT.berfirman: Jika yang meningal itu
mempunyai beberapa saudara ,maka ibunya mendapat 1/6.(Pembagian
pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat,atau
(dan) sesudah dibayar utangnya.
F. Pembatalan wasiat.
Kompilasi membahas masalah ini cukup rinci ,yaitu dalam pasal 197 :
1. Wasiat menjadi batal apabila calon penerima wasiat berdasarkan putusan
hakim yang telah mempunyai kekuatan hokum tetap dihukum karena :

13

a. Dipersalahkan karena telah membunuh atau mencoba membunuh


atau menganiaya berat pada pewasiat.
b. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan
bahwa pewasiat telah melakukan suatu kejahatan yang diancam
dengan hukuman lima tahun penjara atau hukman yan lebih berat.
c. Dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat
untuk membuat atau mencabut atau mengubah wasiat untuk
kepentingan calon penerima wasiat.
d. Dipersalahkan karena telah menggelapkan atau merusak atau
memalsukan wasiat itu.
2. Wasiat menjadi batal apabila orang yang ditunjuk untuk menerima
wasiat itu :
a. Tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai ia meninggal dunia
sebelum meninggalkan pewasiat.
b.

Mengetahui adanya wasiat tersebut tapi ia menolak untuk


menerimanya

c. Mengetahui adanya wasiat itu tetapi tidak pernah menyatakan


menerima atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya
pewasiat.
3. Wasiat menjadi batal apabila barang yang diwasiatkan musnah.
Memperhatikan isi pasal 197 dapat diperoleh kesan bahwa ketentuan
batalnya wasiat tersebut dianalogikan kepada mawani al irs (penghalang
dalam kewarisan) meskipun tidak seluruhnya.Namun karena tuuannya
jelas,yaitu demi terealisasinya tujuan wasiat itu maka ketentuan pasal
tersebut perlu disosialisasikan.
Dalam rumusan Fiqih, Sayid Sabiq merumuskan hal hal yang
membatalkan wasiat sebagai berikut:
a. Jika pewasiat menderita gila hingga meninggal.
b. Jika penerima wasiat meninggal sebelum pewasiat meninggal.

14

c. Jika benda yang diwasiatkan rusak sebelum diterima oleh orang atau
badan yang menerima wasiat
Atas dasar uaraian tersebut,dalam prakteknya masyarakat atau hakim
dapat mengompromikan hal hal yang membatalkan wasiat secara simultan.
G. Pencabutan Wasiat
Pencabutan wasiat diatur dalam pasal 199 kompilasi,berbunyi :
1. Pewasiat dapat mencabut wasiatnya selama calon penerima wasiat belum
menyatakan

persetujuannya atau sudah menyatakan persetujuannya

tetapi kemudian menarik kembali .


2. Pencabutan wasiat dapat dilakukan secara lisan dengan disaksikan oleh
dua orang saksi atau berdaarkan akte notaries bila wasiat terdahulu dibuat
secara lisan.
3. Bila wasiat dibuat secara tertulis,maka hanya dapat di cabut dengan cara
tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akte
notaris.
4. Bila wasiat dibuat berdasarkan akte notaries,maka hanya dapat dicabut
berdasarkan akte notaries.
Apabila wasiat yang telah dilaksanakan itu dicabut maka maka surat
wasiat yang dicabut itu diserahkan kembali kepada pewasiat (pasal 203 ayat
2 ). Dalam pencabutan wasiat ini,lebih banyak menyangkut soal administrasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ash Shiddieqy, Muhammad HAsbi, 1998. Fiqh Mawaris. Semarang: PT. Pustaka
Rizki Putra.
Khairul Umam, Dian, 1999. Fiqh Mawaris. Bandung: Pustaka Setia.

15

Rofiq, Ahmad, 2000. Hukum Islam Di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Shahrur, Muhammad, 2004. Metodologi Fiqh Islam Kontemporer: Jakarta: Elsa Q
Press.

16

MAKALAH
FIQIH MAWARIS

Memahami Wasiat Dalam Islam

DISUSUN OLEH KELOMPOK

Endang Firmansyah
2123419135

DOSEN PEMBIMBING :
Drs. M. Syakroni, M.Ag

PRODI HUKUM TATA NEGARA


FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSTITUT NEGERI
BENGKULU
2015

17