Anda di halaman 1dari 22
  • I. Identitas Pasien

BAB I STATUS PASIEN

Nama

: An. R

Umur

: 8 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: RT.16 TelanaiPura

II. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan Keluarga

  • a. Status Perkawinan

:

Belum menikah

  • b. Jumlah anak/saudara

: - / pasien anak Ketiga dari empat bersaudara.

  • c. Status ekonomi keluarga

: Cukup

  • d. Kondisi Rumah

:

Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan kakak dan adiknya. Rumah yang

ditempati adalah rumah kontrakan, rumah Berdinding, dimana rumah

Berlantai semen. Rumah ini memiliki 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 2 kamar tidur, dan 1

dapur, memiliki 1 kamar mandi dan 1 WC di dalam rumah dengan WC jongkok. Ventilasi dan pencahayaan kurang baik karena jendela hanya ada 3 jendela dan tidak di buka. Sumber air sehari-hari yang digunakan berasal dari air sumur pribadi yang digunakan untuk mencuci, mandi, dan minum

  • e. Kondisi Lingkungan Keluarga Pasien dan keluarganya tinggal di lingkungan sedikit kurang baik. Kondisi lingkungan baik antar anggota keluarga dan tetangga, namun disekitar rumah terlihat Lembab.

III.Aspek Psikologis di Keluarga

Pasien tinggal bersama orang tua, adik dan kakaknya. Hubungan antara keluarga

sangat rukun.

IV. Riwayat Penyakit Dahulu/Penyakit Keluarga

Pasien belum pernah menderita campak sebelumnya.

Dikeluarga sebelumnya ada yang menderita hal yang sama, yaitu adik pasien ..

  • V. Riwayat Penyakit Sekarang Keluhan Utama: Keluar bercak merah-merah pada seluruh tubuh pasien sejak 1 hari yang llu. Riwayat Perjalanan Penyakit: (Alloanemnesa dan Autoanamnesa) Ibu pasien mengatakan bahwa 1 hari yang lalu pasien mengeluh demam tinggi, kemudian muncul bercak kemerahan yang muncul pertama kali di belakang

telinga kemudian muncul di leher, perut, tangan dan kaki. Bercak kemerahan tersebut dirasakan oleh pasien sangat gatal, sehingga pasien sering menggarukknya. Mata tampak memerah dan sedikit membengkak (+), batuk (+), tenggorokan sakit (+), pilek (-). Pasien mandi dan mengganti pakian 2x sehari, Pasien juga sering bargantian memakai handuk dengan keluarganya, riwayat imunisasi tidak lengkap. Sebelumnya adik pasien juga menderita hal yang sama, sehari-hari pasien tidur bersama adiknya , serta makan dan minum bersamaan. Riwayat imunisasi adik pasien lengkap (menurut pengakuan ibu pasien).

VI.Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

: TD

:

mmHg

Nadi

: 94 x/menit

RR

: 20 x/menit

T

: 37,5 0 C

Status Generalisata

Kepala

: Normosefal.

Rambut

: Hitam tidak mudah rontok

Mata

: Konjungtiva hiperemis (+/+), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya

Hidung

(+/+). : Sekret (-), napas cuping hidung (-)

Telinga

: serumen (+/+, minimal)

Bibir

: Mulut kering (-), sianosis (-), pucat (-), kering (-)

Tenggorokan

: T1-T1 faring hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thoraks

Paru

Inspeksi

:Simetris, Retraksi (-)

Palpasi

: Vokal fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor seluruh lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+/+) normal, wheezing (-/-), Rhonki (-/-)

Jantung

Inspeksi

: Iktus cordis tak tampak

Palpasi

: Iktus cordis teraba di ICS

V 2 cm medial linea medio

Perkusi

clavicular sinistra : Tidak dilakukan

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: simetris

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani

1

Palpasi

: turgor kulit normal (<2 detik). Nyeri tekan (-), Hepar dan lien

Genitalia

tak teraba : Tidak diperiksa.

Ekstremitas

:

Superior

Inferior

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

Anemis

-/-

-/-

Status Lokalis

Kulit: Ruam makulopapular (+) seluruh tubuh, ulkus (-), petechiae (-)

VII.

 

Laboratorium dan Usulan Pemeriksaan

 

-

VIII.

 

Diagnosa Kerja

 

-

Campak.

a.

Manajemen

 

a.

Promotif Menerangkan informasi tentang penyakit campak, faktor penyebab dan

bagaimana proses penularan. Menerangkan bahwa penyakit ini dapat menular kepada orang lain.

Menerangkan bahwa penyakit ini berhubungan dengan daya tahan tubuh,

sehingga perlu mengatur nutrisi. Selalu menjaga kebersihan diri serta lingkungan.

Makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan imunitas.

b.

Preventif Karena campak mudah menular lewat udara sebaiknya pasien yang

menderita penyakit campak dirawat di kamar sendiri. Makan yang mudah dicerna.

Jangan dekatkan bayi yang belum mendapatkan imunisasi campak pada

penderita campak karena dapat menular. Menjaga kebersihan diri dengan mandi menggunakan sabun dan

mengeringkan badan secara perlahan. Hindari menggaruk kulit karena dapat menimbulkan penyakit sekunder.

2

 

Jika anak yang belum mendapatkan imunisasi campak, segera imunisasi

campak. Selama sakit dan dalam pemulihan sebaiknya kita memisahkan peralatan makan dan mandinya, seperti piring, gelas, sendok, handuk, sprai dan pakaiannya. Hal ini untuk menghindari terjadinya penularan lewat kontak tak langsung.

c.

Kuratif/Terapi

  • a. Non Farmakologi Istirahat yang cukup.

Makan makanan yang bergizi, tinggi protein dan lemak.

  • b. Farmakologi

Vitamin A dengan dosis 200.000 IU 3x1

Glyceryl Guaiacolate 100 mg 3x1/4 tablet

Paracetamol 500 mg 3x1/2 tablet

Chlorpheniramini Maleat 4 mg 3x1/2 tablet

3

Dinas Kesehatan Kota Jambi Puskesmas Simpang IV Sipin

Dokter : Nana Heriyana

 

: G1a213005

SIP

 
 

Tanggal: 05 April 2015

R/ Vitamin A

200.000 IU

NO.VI

3dd

tab I

R/ Paracetamol tab 500 mg 3dd tab I I/2

NO.X

R/ CTM 3dd tab I/2

NO.V

R/ GG

 

NO.III

3dd tab I/4

Dinas Kesehatan Kota Jambi Puskesmas Simpang IV Sipin Dokter : Nana Heriyana : G1a213005 SIP Tanggal:

Pro : An. A Alamat: RT. 16 telanai pura

Umur: 8 tahun

Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan

d.

Rehabilitatif Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan yang bergizi dengan menu lengkap sayur dan lauk pauk serta buah dan susu. Menjaga kebersihan diri, rumah, dan lingkungan sekitar rumah.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  • 3.1 Definisi Campak juga dikenal dengan nama morbili adalah suatu infeksi virus akut yang memiliki 3 stadium yaitu (1) stadium inkubasi yang berkisar antara 10 sampai 12 hari setelah pajanan pertama terhadap virus dan dapat disertai gejala minimal maupun tidak bergejala, (2) stadium prodromal yang menunjukkan gejala demam, konjungtivitis, pilek dan batuk yang meningkat serta ditemukannya aritem pada mukosa (bercak koplik), dan (3) stadium erupsi yang ditandai dengan keluarnya ruam makulopapular yang didahului dengan meningkatnya suhu tubuh. 1,2

  • 3.2 Etiologi Penyakit Campak disebabkan oleh virus Campak yang termasuk golongan paramyxovirus dengan genus Morbili virus. Virus ini berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan begaris tengah 140 mm, dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein, didalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan sruktur heliks nukleoprotein yang berada dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin. 2,3 Agent campak adalah measles virus yang termasuk dalam famili paramyxoviridae anggota genus morbilivirus. Virus campak sangat sensitif terhadap temperatur sehingga virus ini menjadi tidak aktif pada suhu 37 derajat Celcius atau bila dimasukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam. Dengan pembekuan lambat maka infektivitasnya akan hilang. 1,3 Sifat Campak Virus Campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan yang kuat, apabila berada diluar tubuh manusia virus Campak akan mati. Pada temperatur kamar virus Campak kehilangan 60% sifat infektisitasnya selama 3-5 hari. Tanpa media protein virus Campak hanya dapat hidup selama 2 minggu dan hancur oleh sinar ultraviolet. Virus Campak termasuk mikroorganisme yang bersifat ether

5

labile karena selubungnya terdiri dari lemak, pada suhu kamar dapat mati dalam 20% ether selama 10 menit, dan 50% aseton dalam 30 menit. 2,34 Sebelum dilarutkan, vaksin Campak disimpan dalam keadaan kering dan beku, relatif stabil dan dapat disimpan di freezer atau pada suhu lemari es (2-8°C, 35,6-46,4°F) secara aman selama setahun atau lebih. Vaksin yang telah dipakai harus dibuang dan jangan dipakai ulang.

  • 3.3 Epidemiologi 1,4 Epidemiologi penyakit Campak mempelajari tentang frekuensi, penyebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Distribusi Frekuensi Penyakit Campak

    • a. Orang Campak adalah penyakit menular yang dapat menginfeksi anak-anak pada usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja. Penyebaran penyakit campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung dari kepadatan penduduknya, terisolasi atau tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang berpenduduk padat transmisi virus Campak sangat tinggi.

    • b. Tempat Berdasarkan tempat penyebaran penyakit campak berbeda, dimana daerah perkotaan siklus epidemi campak terjadi setiap 2-4 tahun sekali, sedangkan di daerah pedesaan penyakit campak jarang terjadi, tetapi bila sewaktu-waktu terdapat penyakit campak maka serangan dapat bersifat wabah dan menyerang kelompok umur yang rentan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2008 terdapat jumlah kasus campak yaitu 3424 kasus di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa tengah 1001 kasus.

    • c. Waktu Dari hasil penelitian retrospektif oleh Jusak di rumah sakit umum daerah Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 1989, ditemukan campak di Indonesia sepanjang tahun, dimana peningkatan kasus terjadi pada bulan Maret dan mencapai puncak pada bulan Mei, Agustus, September dan oktober.

  • 3.4 Patogenesis

  • 6

    Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Lokasi utama infeksi virus campak adalah epitel saluran nafas nasofaring. Infeksi virus pertama pada saluran nafas sangat minimal. Kejadian yang lebih penting adalah penyebaran pertama virus campak ke jaringan limfatik regional yang menyebabkan terjadinya viremia primer. Setelah viremia primer, terjadi multiplikasi ekstensif dari virus campak yang terjadi pada jaringan limfatik regional maupun jaringan limfatik yang lebih jauh. Multiplikasi virus campak juga terjadi di lokasi pertama infeksi. 2,4,5 Selama lima hingga tujuh hari infeksi terjadi viremia sekunder yang ekstensif dan menyebabkan terjadinya infeksi campak secara umum. Kulit, konjungtiva, dan saluran nafas adalah tempat yang jelas terkena infeksi, tetapi organ lainnya dapat terinfeksi pula. Dari hari ke-11 hingga 14 infeksi, kandungan virus dalam darah, saluran nafas, dan organ lain mencapai puncaknya dan kemudian jumlahnya menurun secara cepat dalam waktu 2 hingga 3 hari. Selama infeksi virus campak akan bereplikasi di dalam sel endotel, sel epitel, monosit, dan makrofag. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dan lainnya. Dalam keadaan tertentu, adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak.

    • 3.5 Cara Penularan 1-6 Virus campak ditularkan dari orang ke orang, manusia merupakan satu- satunya reservoir penyakit campak. Virus campak berada disekret nasofaring dan di dalam darah minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat setelah timbulnya ruam. Penularan terjadi melalui udara, kontak langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan dan jarang terjadi oleh kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi dengan sekresi hidung dan tenggorokan. Penularan dapat terjadi antara 1-2 hari sebelumnya timbulnya gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Penularan virus campak sangat efektif sehingga dengan virus yang sedikit sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang.

    • 3.6 Determinan Penyakit Campak 2,4

    7

    • a. Host (Penjamu) Beberapa faktor Host yang meningkatkan risiko terjadinya campak antara lain:

      • 1. Umur

    Pada sebagian besar masyarakat, maternal antibodi akan melindungi bayi terhadap campak selama 6 bulan dan penyakit tersebut akan dimodifikasi oleh tingkat maternal antibodi yang tersisa sampai bagian pertama dari tahun kedua kehidupan. Tetapi, di beberapa populasi, khususnya Afrika, jumlah kasus terjadi secara signifikan pada usia dibawah 1 tahun, dan angka kematian mencapai 42% pada kelompok usia kurang dari 4 tahun. Di luar periode ini, semua umur sepertinya memiliki kerentanan yang sama terhadap infeksi. Umur terkena campak lebih tergantung oleh kebiasaan individu daripada sifat alamiah virus sebelum imunisasi disosialisasiksan secara luas, kebanyakan kasus campak di negara industri

    terjadi pada anak usia 4-6 tahun ataupun usia sekolah dasar dan pada anak dengan usia yang lebih muda di negara berkembang. Cakupan imunisasi yang intensif menghasilkan perubahan dalam distribusi umur dimana kasus lebih banyak pada anak dengan usia yang lebih tua, remaja, dan dewasa muda

    • 2. Jenis Kelamin Tidak ada perbedaan insiden dan tingkat kefatalan penyakit campak pada wanita ataupun pria. Bagaimanapun, titer antibodi wanita secara garis besar lebih tinggi daripada pria. Kejadian campak pada masa kehamilan berhubungan dengan tingginya angka aborsi spontan. Berdasarkan penelitian Suwono di Kediri dengan desain penelitian kasus kontrol mendapatkan hasil bahwa berdasarkan jenis kelamin, penderita campak lebih banyak pada anak laki-laki yakni 62%.

    • 3. Umur Pemberian Imunisasi Sisa antibodi yang diterima dari ibu melalui plasenta merupakan faktor yang penting untuk menentukan umur imunisasi campak dapat diberikan pada balita. Maternal antibodi tersebut dapat mempengaruhi respon imun terhadap vaksin campak hidup dan pemberian imunisasi yang terlalu awal tidak selalu menghasilkan imunitas atau kekebalan yang adekuat. Pada umur 9 bulan, sekitar 10% bayi di beberapa negara masih mempunyai antibodi dari ibu yang dapat mengganggu respons terhadap imunisasi. Menunda imunisasi dapat meningkatkan angka serokonversi.

    8

    Secara umum di negara berkembang akan didapatkan angka serokenversi lebih dari 85% bila vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Sedangkan di negara maju, anak akan kehilangan antibodi maternal saat berumur 12-15 bulan sehingga pada umur tersebut direkomendasikan pemberian vaksin campak. Namun, penundaan imunisasi dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat campak yang cukup tinggi di kebanyakan negara berkembang. Penelitian kohort di Arkansas menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan anak yang mendapatkan vaksinasi pada usia >15 bulan, anak yang mendapatkan vaksinasi campak pada usia <12 bulan memiliki risiko 6 kali untuk terkena campak. Sedangkan anak yang mendapatkan vaksinasi campak pada usia 12-14 bulan memiliki risiko 3 kali untuk terkena campak dibanding dengan anak yang mendapat vaksinasi pada usia 15 bulan. Sedangkan sebuah studi kasus kontrol yang juga dilakukan di Arkansas menyebutkan bahwa anak yang mendapatkan vaksinasi campak pada usia 12-14 bulan memiliki kemungkinan risiko terkena campak 5,6 kali lebih besar dibanding anak yang mendapatkan vaksin pada usia 15 bulan atau lebih.

    • 4. Pekerjaan Dalam lingkungan sosioekonomis yang buruk, anak-anak lebih mudah mengalami infeksi silang. Kemiskinan bertanggungjawab terhadap penyakit yang ditemukan pada anak. Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas orang tua untuk mendukung perawatan kesehatan yang memadai pada anak, cenderung memiliki higiene yang kurang, miskin diet, miskin pendidikan. Frekuensi relatif anak dari orang tua yang berpenghasilan rendah 3 kali lebih besar memiliki risiko imunisasi terlambat dan 4 kali lebih tinggi menyebabkan kematian anak dibanding anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup.

    • 5. Pendidikan Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang

    9

    berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan, dengan pendidikan lebih tinggi orang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru. Penelitian Agunawan di desa Saung Naga Kecamatan Baturaja Barat dengan desain cross sectional menyebutkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian penyakit campak pada balita (p=0,000).

    • 6. Imunisasi Vaksin campak adalah preparat virus yang dilemahkan dan berasal dari berbagai strain campak yang diisolasi. Vaksin dapat melindungi tubuh dari infeksi dan memiliki efek penting dalam epidemiologis penyakit yaitu mengubah distribusi relatif umur kasus dan terjadi pergeseran ke umur yang lebih tua. Pemberian imunisasi pada masa bayi akan menurunkan penularan agen infeksi dan mengurangi peluang seseorang yang rentan untuk terpajan pada agen tersebut. Anak yang belum diimunisasi akan tumbuh menjadi besar atau dewasa tanpa pernah terpajan dengan agen infeksi tersebut. Pada campak, manifestasi penyakit yang paling berat biasanya terjadi pada anak berumur kurang dari 3 tahun. Pemberian imunisasi pada umur 8-9 bulan diprediksi dapat menimbulkan serokonversi pada sekurang-kurangnya 85% bayi dan dapat mencegah sebagian besar kasus dan kematian. Dengan pemberian satu dosis vaksin campak, insidens campak dapat diturunkan lebih dari 90%. Namun karena campak merupakan penyakit yang sangat menular, masih dapat terjadi wabah pada anak usia sekolah meskipun 85-90% anak sudah mempunyai imunitas.

    • 7. Status Gizi Kejadian kematian karena campak lebih tinggi pada kondisi malnutrisi, tetapi belum dapat dibedakan antara efek malnutrisi terhadap kegawatan penyakit campak dan efek yang ditimbulkan penyakit campak terhadap nutrisi yang dikarenakan penurunan selera makan dan kemampuan untuk mencerna makanan. Scrimshaw mencatat bahwa kematian karena campak

    10

    pada anak-anak yang ada di desa Guatemala menurun dari 1% menjadi 0,3% tiap tahunnya ketika anak-anak tersebut diberikan suplemen makanan dengan kandungan protein tinggi. Sedangkan pada desa yang menjadi kontrol dimana anak-anak tersebut tidak diberikan suplemen protein, angka kematian menunjukkan angka 0,7%. Tetapi karena hanya 27% saja dari anak-anak tersebut yang secara teratur mengkonsumsi protein ekstra, dapat disimpulkan bahwa perubahan rate yang didapatkan pada kasus observasi tidak seluruhnya disebabkan oleh suplemen makanan. Dari sebuah studi dinyatakan bahwa elemen nutrisi utama yang menyebabkan kegawatan campak bukanlah protein dan kalori tetapi vitamin A. Ketika terjadi defisiensi vitamin A, kematian atau kebutaan menyertai penyakit campak. Apapun urutan kejadiannya, kematian yang berhubungan dengan penyakit campak mencapai tingkat yang tinggi, biasanya lebih dari 10% terjadi pada keadaan malnutrisi.

    • 8. ASI Eksklusif Sebanyak lebih dari tiga puluh jenis imunoglobulin terdapat di dalam ASI yang dapat diidentifikasi dengan teknik-teknik terbaru. Delapan belas diantaranya berasal dari serum si ibu dan sisanya hanya ditemukan di dalam ASI/kolostrum. Imunoglobulin yang terpenting yang dapat ditemukan pada kolostrum adalah IgA, tidak saja karena konsentrasinya yang tinggi tetapi juga karena aktivitas biologiknya. IgA dalam kolostrum dan ASI sangat berkhasiat melindungi tubuh bayi terhadap penyakit infeksi. Selain daripada itu imunoglobulin G dapat menembus plasenta dan berada dalam konsentrasi yang cukup tinggi di dalam darah janin/bayi sampai umur beberapa bulan, sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap beberapa jenis penyakit. Adapun jenis antibodi yang dapat ditransfer dengan baik melalui plasenta adalah difteri, tetanus, campak, rubela, parotitis, polio, dan stafilokokus. Suatu penelitian dengan desain kohort yang dilakukan di Swedia mendapatkan hasil bahwa pemberian ASI selama >3 bulan dapat memberi perlindungan terhadap infeksi penyakit campak dengan kata lain

    11

    pemberian ASI merupakan faktor protektif terhadap kejadian campak (OR = 0,69) jarang terjangkit penyakit, angka kematian bisa setinggi 25%.

    • 3.7 Manifestasi Klinis Penyakit campak dibagi dalam tiga stadium: 2,3,5

      • a. Stadium Kataral atau Prodromal Biasanya berlangsung 4-5 hari, ditandai dengan panas, lesu, batuk-batuk dan mata merah. Pada akhir stadium, kadang-kadang timbul bercak Koplik`s (Koplik spot) pada mukosa pipi/daerah mulut, tetapi gejala khas ini tidak selalu dijumpai. Bercak Koplik ini berupa bercak putih kelabu, besarnya seujung jarum pentul yang dikelilingi daerah kemerahan. Koplik spot ini menentukan suatu diagnosa pasti terhadap penyakit campak.

      • b. Stadium Erupsi Batuk pilek bertambah, suhu badan meningkat oleh karena panas tinggi, kadang-kadang anak kejang-kejang, disusul timbulnya rash (bercak merah yang spesifik), timbul setelah 3-7 hari demam. Rash timbul secara khusus yaitu mulai timbul di daerah belakang telinga, tengkuk, kemudian pipi, menjalar keseluruh muka, dan akhirnya ke badan. Timbul rasa gatal dan muka bengkak.

      • c. Stadium Konvalensi atau penyembuhan Erupsi (bercak-bercak) berkurang, meninggalkan bekas kecoklatan yang disebut hiperpigmentation, tetapi lama-lama akan hilang sendiri. Panas badan menurun sampai normal bila tidak terjadi komplikasi.

  • 3.8 Pemeriksaan Penunjang 1,3,4 Serum antibodi dari virus campak dapat dilihat dengan pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI), complement fixation (CF), neutralization, immune precipitation, hemolysin inhibition, ELISA, serologi IgM-IgG, dan fluorescent antibody (FA). Pemeriksaan HI dilakukan dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut pada masa prodromal dan serum sekunder pada 7-10 hari setelah pengambilan sampel serum akut. Hasil dikatakan positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih. Serum IgM merupakan tes yang berguna pada saat

  • 12

    munculnya ruam. Serum IgM akan menurun dalam waktu sekitar 9 minggu, sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup. Pada pemeriksaan darah tepi, jumlah sel darah putih cenderung menurun. Pungsi lumbal dilakukan bila terdapat penyulit encephalitis dan didapatkan peningkatan protein, peningkatan ringan jumlah limfosit sedangkan kadar glukosa normal.

    3.9 Diagnosa 1-6 Diagnosa dapat ditegakkan dengan anamnesa, gejala klinis, dan pemeriksaan

    laboratorium.

    Kasus Campak Klinis

    Kasus Campak klinis adalah kasus dengan gejala bercak kemerahan di tubuh berbentuk makula popular selama tiga hari atau lebih disertai panas badan 38ºC

    atau lebih (terasa panas) dan disertai salah satu gejala bentuk pilek atau mata merah (WHO).

    Kasus Campak Konfirmasi

    Kasus campak konfirmasi adalah kasus campak klinis disertai salah satu kriteria yaitu a. Pemeriksaaan laboratorium serologis (IgM positif atau kenaikan titer antiantibodi 4 kali) dan atau isolasi virus campak positif. b. Kasus campak yg mempunyai kontak langsung dengan kasus konfirmasi, dalam periode waktu 1–2 minggu.

    3.10 Tatalaksana 1-6 Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat, pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder, anti konvulsi apabila terjadi kejang, antipiretik bila demam, dan vitamin A 100.000 Unit untuk anak usia 6 bulan hingga 1 tahun dan 200.000 Unit untuk anak usia >1 tahun. Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak, menurunkan morbiditas campak juga berguna untuk meningkatkan titer IgG dan jumlah limfosit total. Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu >39,5˚C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit. Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul.

    13

    3.11

    Diagnosa Banding 3,4,5

    • 1. Roseola Infantum Pada Roseola infantum, ruam muncul saat demam telah menghilang.

    • 2. Alergi Obat Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum ruam muncul dan biasanya tidak disertai gejala prodromal.

    • 3. Demam Skarlatina Ruam bersifat papular, difus terutama di abdomen. Tanda patognomonik berupa lidah berwarna merah stroberi serta tonsilitis eksudativa atau membranosa.

    • 3.12 Komplikasi

    Pada penderita campak dapat terjadi komplikasi yang terjadi sebagai akibat

    replikasi virus atau karena superinfeksi bakteri antara lain. 2,3,4

    • 1. Otitis Media Akut Dapat terjadi karena infeksi bakterial sekunder.

    • 2. Ensefalitis Dapat terjadi sebagai komplikasi pada anak yang sedang menderita campak atau dalam satu bulan setelah mendapat imunisasi dengan vaksin virus campak hidup, pada penderita yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif dan sebagai Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi campak adalah 1:1.000 kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus campak hidup adalah 1,16 tiap 1.000.000 dosis. SSPE jarang terjadi hanya sekitar 1 per 100.000 dan terjadi beberapa tahun setelah infeksi dimana lebih dari 50% kasus-kasus SSPE pernah menderita campak pada 2 tahun pertama umur kehidupan. Penyebabnya tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus campak memegang peranan dalam patogenesisnya. SSPE yang terjadi setelah vaksinasi campak didapatkan kira- kira 3 tahun kemudian.

    • 3. Bronkopneumonia

    14

    4.

    Dapat disebabkan oleh virus morbilia atau oleh Pneuomococcus, Streptococcus, Staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita penyakit menahun misalnya tuberkulosis, leukemia dan lain-lain. Kebutaan Terjadi karena virus campak mempercepat episode defisiensi vitamin A yang akhirnya dapat menyebabkan xeropthalmia atau kebutaan.

    3.13 Imunitas 3,5,6 Struktur antigenik Imunoglobulin kelas IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak. Kemudian IgM menghilang dengan cepat (kurang dari 9 minggu setelah infeksi) sedangkan IgG tinggal tak terbatas dan jumlahnya dapat diukur. IgM menunjukkan baru terkena infeksi atau baru mendapat vaksinasi. IgG menandakan pernah terkena infeksi. IgA sekretori dapat dideteksi dari sekret nasal dan hanya dapat dihasilkan oleh vaksinasi campak hidup yang dilemahkan, sedangkan vaksinasi campak dari virus yang dimatikan tidak akan menghasilkan IgA sekretori. 3

    Imunitas transplasental

    Bayi menerima kekebalan transplasental dari ibu yang pernah terkena campak. Antibodi akan terbentuk lengkap saat bayi berusia 4 – 6 bulan dan kadarnya akan

    menurun dalam jangka waktu yang bervariasi. Level antibodi maternal tidak dapat terdeteksi pada bayi usia 9 bulan, namun antibodi tersebut masih tetap ada. Janin dalam kandungan ibu yang sedang menderita campak tidak akan mendapat kekebalan maternal dan justru akan tertular baik selama kehamilan maupun sesudah kelahiran. 1

    Imunisasi

    Imunisasi campak terdiri dari Imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif dapat berasal dari virus hidup yang dilemahkan maupun virus yang dimatikan. Vaksin dari virus

    yang dilemahkan akan memberi proteksi dalam jangka waktu yang lama dan protektif meskipun antibodi yang terbentuk hanya 20% dari antibodi yang terbentuk karena infeksi alamiah. Pemberian secara sub kutan dengan dosis 0,5ml. Vaksin

    15

    tersebut sensitif terhadap cahaya dan panas, juga harus disimpan pada suhu 4˚C, sehingga harus digunakan secepatnya bila telah dikeluarkan dari lemari pendingin. Vaksin dari virus yang dimatikan tidak dianjurkan dan saat ini tidak digunakan lagi. Respon antibodi yang terbentuk buruk, tidak tahan lama dan tidak dapat merangsang pengeluaran IgA sekretori. Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah . Imunisasi pasif digunakan untuk pencegahan dan meringankan morbili. Dosis serum dewasa 0,25 ml/kgBB yang diberikan maksimal 5 hari setelah terinfeksi, tetapi semakin cepat semakin baik. Bila diberikan pada hari ke 9 atau 10 hanya akan sedikit mengurangi gejala dan demam dapat muncul meskipun tidak terlalu berat.

    6

    • 3.14. Penatalaksanaan 1-6 Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat, pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder, anti konvulsi apabila terjadi kejang, antipiretik bila demam, dan vitamin A 100.000 Unit untuk anak usia 6 bulan hingga 1 tahun dan 200.000 Unit untuk anak usia >1 tahun. Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak, menurunkan morbiditas campak juga berguna untuk meningkatkan titer IgG dan jumlah limfosit total.4 Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu >39,5˚C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit. Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul. 6

    • 3.15. Pencegahan 2,3,5

      • 1. Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention) Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

      • 2. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena penyakit campak, yaitu:

    16

    • a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi.

    • b. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.

    • 3. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeateksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu:

      • a. Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah.

      • b. Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya.

      • c. Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi.

      • d. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.

  • 4. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu:

    • a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.

  • 17

    b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

    • 3.16. Prognosis 3.5.6 Campak merupakan penyakit self limiting sehingga bila tanpa disertai dengan

    penyulit maka prognosisnya baik.

    BAB III ANALISA KASUS

    Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar

    • - Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan kakak dan adiknya. Rumah

    yang ditempati adalah rumah kontrakan, rumah Berdinding, dimana

    rumah Berlantai semen.

    • - Rumah ini memiliki 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 2 kamar tidur, dan 1

    dapur, memiliki 1 kamar mandi dan 1 WC di dalam rumah dengan WC jongkok. Ventilasi dan pencahayaan kurang baik karena jendela hanya ada 3 jendela dan tidak di buka.

    • - Sumber air sehari-hari yang digunakan berasal dari air sumur pribadi yang digunakan untuk mencuci, mandi, dan minum

    Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga

    Sebelumnya adik pasien juga menderita hal yang sama, sehari-hari pasien tidur bersama adiknya , serta makan dan minum bersamaan. Penyakit ini mempunyai hubungan dengan keluarganya. Penyakit ini merupakan penyakit menular melalui percikan ludah pasien. Jadi apabila ada yang terkena penyakit campak ini maka pasien harus diisolasikan agar keluarga yang lain tidak tertular.

    Analisis untuk mengurangi paparan

    o

    Pasien dan keluarga diberikan edukasi agar pasien diisolasikan karena penyakit

    campak mudah menular misalnya peralatan makan dan peralatan mandi yang berisiko menularkan virus lewat kontak langsung

    18

    o

    Jika demam turun, mandi untuk mengurang rasa gatal-gatal. Kalau tidak

    o

    dimandikan dikhawatirkan keringat yang melekat pada tubuh anak menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk kulit dengan tangan yang tidak bersih dan terjadi infeksi. Sebaiknya campurkan larutan antiseptic (dettol, betadine,) pada air mandi. Istirahat dan makan-makanan bergizi dan hindari makanan yang bisa

    o

    merangsang timbulnya batuk seperti gorengan Konsultasi dengan dokter untuk pengobatan yang tepat

    o

    Jagalah kebersihan dan sanitasi lingkungan

    19

    DOKUMENTASI

    DOKUMENTASI 20
    DOKUMENTASI 20
    DOKUMENTASI 20

    20

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Alan R. Tumbelaka. 2002. Pendekatan Diagnostik Penyakit Eksantema Akut dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal.

    113.

    • 2. Cherry J.D. 2004. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan (eds) Textbook of Pediatrics Infectious Disease. 5 th edition. Vol 3. Philadelphia. Saunders. p.2283 – 2298

    • 3. Phillips C.S. 1983. Measles. In: Behrman R.E., Vaughan V.C. (eds) Nelson Textbook of Pediatrics. 12 th edition. Japan. Igaku-Shoin/Saunders. p.743.

    • 4. Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh, dkk. (ed) Buku Imunisasi di Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia. Hal. 105.

    • 5. Soegeng Soegijanto. 2002. Campak. dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Hal. 125.

    • 6. T.H. Rampengan, I.R. Laurentz. 1997. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 90.

    21