Anda di halaman 1dari 36

Contoh Soal

1. PT.Maharani telah dikukuhkan sebagai PKP dan berikut ini informasi


berkaitan dengan PM yang telah dibayar dan PK yang dipungut :
Januari 2007 :
Pajak yang telah dibayar saat perolehan BKP .. Rp 6.000.000
Pajak keluaran yang telah dipungut Rp 3.000.000
Februari 2007 :
Pajak yang telah dibayar saat perolehan BKP . Rp 6.000.000
Pajak keluaran yang telah dipungut .. Rp 7.000.000
Jawaban:
Masa pajak JANUARI 2007
PK .. Rp 3.000.000
PM dapat dikreditkan .. Rp 6.000.000
PPN Lebih Bayar (LB). Rp 3.000.000
PPN LB akan dikompensasi ke Masa pajak berikutnya sebesar Rp 3.000.000 di
Feb 2007
MASA PAJAK FEBRUARI 2007 :
PK . Rp 7.000.000
PM dapat dikreditkan Rp 6.000.000
PPN Kurang Bayar (KB) Rp 1.000.000
Kompensasi Januari 07.. Rp 3.000.000
PPN LB Rp 2.000.000

Masa MARET 2007


PK .Rp 12.000.000
PM Rp 6.000.000
PPN KB .. Rp 6.000.000
Kompensasi Peb 07.. Rp (2.000.000)
PPN KB . Rp. 4.000.000
APRIL 2007
PK : Penjualan hasil produksIi retailer............ 0
Total PK ..

PM : Pembelian Bahan Baku ... (5.500.000)


PPN LB .

5.500.000

MEI 2007
PK : .....

PM : Pembelian BB .. (1.560.000)
Import Bahan Penolong
FP Masukan .

(5.000.000)
(4.400.000)

PPN LB (10.960.000)
Kompensasi April 2007....

( 5.500.000)

PPN LB ...........................

(16.460.000)

JUNI 2007

PK :
Nota Tagihan PT.Rajawali 10.700.000
Penjualan ke pengecer..

Export ..

PM :
Pembelian dari pengecer

PPN KB 10.700.000
Kompensasi LB Mei 2007 .. (25.900.000)
PPN LB

15.200.000

JULI 2007
PK :
Penjualan . 9.750.000
FP Keluaran stelah DP .. 4.500.000
PM : ..

PPN KB 14.250.000
Kompensasi LB Juni 07. 15.200.000
PPN LB 950.000

2. Pada bulan Agustus 2009 Pengusaha Kena Paja QQ melakukan penyerahan


Barang

kena

pajak

kepada

pengusaha

kena

Pajak

Icha

senilai

Rp.

75.000.000,- (Eksklusif Pajak apertambahan Nilai). Dalam bulan yang sama


Pengusaha kena pajak QQ membeli barang kena pajak dari pengusaha. Rizky
senilai Rp. 50.000.000,- Diminta Hitung PPN-K dan PPN-M atas transaksi

tersebut
Jawaban:
Bagi Pengusaha Kena Pajak QQ Pajak Keluaran 10% x Rp. 75.000.000,- = Rp.
7.500.000 sebagai Pajak Masukan bagi B
Pajak Masukan : 10% x Rp. 50.000.000 = Rp. 5.000.000

3. Harga jual kendaraan bermotor Rp. 500.000.000 (termasuk PPN 10% dan
PPnBm 20% Uang muka diterima tanggal 10 Agustus 2009 sebesar Rp.
200.000.000 Kendaraan akan diserahkan tanggal 20 Sepetember 2009
dengan kekurangan bayar sebesar Rp. 300.000.000
Jawaban:
PPN dan PPnBM terutang dan harus dipungut :
a. Pada saat diterima uang muka tanggal 10 Agustus 2009 PPN yang terutang
= 10/130 x 200.000.000 = Rp. 14.000.000,- dan harus dilaporkan pada SPT
Masa PPN bulan Agustus 2009.
PPn BM yang terutang 20/130 x Rp 200.000.000,- = Rp. 30.000.000 dan
harus dilaporkan pada SPT Masa PPnBM bulan Agustus 2009. Pada saat
penyerahan kendaraan tanggal 20 September 2009.
b. PPN yang terutang = 10/130 x Rp. 300.000.000 = Rp. 21.000.000,-. dan
harus dilaporkan pada SPT Masa PPN bulan September 2009. PPnBM yang
terutang 20/130 x Rp 300.000.000,- = Rp.45.000.000 dan harus dilaporkan
pada SPT Masa PPnBM bulan Agustus 2009
3. Dealer QQ membeli sasis kendaraan bermotor ( no rangka) dari Main
Dealer Rizky seharga Rp. 150.000.000,- dengan potongan harga sebesar Rp.
1. 500.000 (Termasuk PPN) Dealer QQ menyuruh Karoseri Maitzaa mengubah
sasis tersebut menjadi kendaraan bermotor angkutan orang dengan ongkos
Rp. 15.000.000 dan PPN dipungut karoseri Maitzaa sebesar Rp. 1.500.000,- .
Dealer QQ kemudian menjual kendaraan hasil rakitan tersebut kepada

pembeli dengan harga Rp. 200.000.000,- (termasuk PPN dan PPnBM) PPnBM
terutang dan dipungut oleh Dealer QQ dengan Tarif 20%. Diminta Hitung PPN
dan PPnBM dari transaksi tersebut diatas apakah PPN lebih bayar ataukah
kurang bayar
Jawaban:
Perhitungan dan pelaporan PPN oleh Dealer QQ Rp. 150.000.000,Potongan Pembelian Rp 1.500.000,Harga beli sasis (termasuk PPN) Rp. 135.000.000,DPP PPN atas Pembelian sasis 100/110 x Rp 135.000.000 = Rp. 121.500.000,PPN atas Pembelian sasis 10% x Rp. 121.500.000,-= Rp 12.150.000,Biaya karoseri (tidak termasuk PPN) Rp. 15.000.000,PPN atas biaya karoseri 10% x Rp. 15.000.000,- = Rp 1.500.000,-

Penjualan (off the road)


Harga jual termasuk PPN 10% dan PPnBM 20% Rp. 200.000.000,DPP PPN dan PPnBM 100/130 x Rp. 200.000.000,- = Rp. 152.000.000,PPN terutang 10% x Rp. 152.000.000 = Rp 15.200.000,PPnBM terutang 20% x Rp. 152.000.000,- = Rp. 30.400.000,Perhitungan PPN dan PPnBM atas transaksi tersebut
PPN Keluaran 10% x Rp. 152.000.000,-= Rp. 15.200.000,-

Pajak Masukan :
Pembelian sasis Rp. 12.150.000,-

Jasa karoseri Rp. 1.500.000,Jumlah Pajak Masukan Rp. 13.650.000,PPN yang harus disetor Rp. 1.550.000,PPnBMyang harus disetor 20% x Rp. 152.000.000,- = Rp. 30.400.000,-

4. PT Mecanica bergerak dibidang distributor alat listrik, transaksi dalam


bulan Jan 2007 sbb:
1. Tgl 3/1 membeli barang dagangan Rp. 15.000.000
2. Tanggal 5/1 menjual barang dagangan Rp. 10.000.000
3. Tanggal 7/1 menjual barang dagangan Rp. 20.000.000
Harga tersebut tidak termasuk PPN, Berapa Pajak Keluaran dan Masukannya?

** Pajak Keluaran (10% dari penjualan) yaitu


+ 10% X 10.000.000 (nomor 2) = 1.000.000
+ 10% X 20.000.000 (nomor 3) = 2.000.000
Jumlah Pajak Keluaran

3.000.000

** Pajak Masukan (10% dari Pembelian) yaitu


+ 10% X 15.000.000 (nomor 1) =

1.500.000

*** Jadi jumlah


Pajak keluaran sebesar Rp. 3.000.000
Pajak Masukan

Rp. 1.500.000

sehingga Pajak yang harus dibayar ke kas negara adalah (PK-PM) yaitu Rp.

3.000.000 1.500.000 = Rp. 1.500.000,-

5. PT. Bawakaraeng melakukan penyerahan BKP melalui beberapa transaksi


sebagai berikut. Penjualan produk kepada konsumen, dengan HPP Rp
625.000.000,00, profit margin 20%, dan diskon tunai 2%. Seperempat dari
penjualan dilaksanakan secara tunai. Di samping itu, BKP dikenai pula PPnBM
20%. Pemberian in kind produk bagi pegawai yang sebenarnya dapat dijual
dengan harga Rp 180.000.000,00. Penyumbangan produk bagi korban
bencana, dengan nilai penjualan potensial Rp 330.000.000,00. Transfer
produk dari pabrik ke gudang di provinsi berbeda, untuk kemudian dijual
dengan harga Rp 945.000.000,00. Berapakah nilai DPP untuk masing masing transaksi?
Jawaban

DPP Penjualan = Harga Jual sebelum diskon dan pajak = 120% x 625.000.000
= 750.000.000
DPP Pemakaian Sendiri

Harga

Jual

Keuntungan

100/

120

180.000.000 = 150.000.000
DPP Pemberian Cuma Cuma= Harga Jual Keuntungan = 100/ 120 x
330.000.000 =275.000.000
DPP Transfer Antar Cabang

= Harga Pokok Penjualan = 100/ 120 x

945.000.000 = 157.500.000
6. Fa. Cikurai merupakan memiliki usaha biro perjalanan yang mencatatkan
transaksi bisnis berikut. Melayani paket liburan dengan total transaksi Rp
1.575.000.000,00. Profit margin perusahaan 5%. Melayani pemesanan hotel
dengan total transaksi Rp 365.000.000,00. Komisi rata - rata yang diperoleh
sebesar 15%. Seperlima transaksi dilakukan dengan pelanggan berkala yang
memperoleh diskon 3%. Menjual gedung kantor lama yang memiliki nilai
buku Rp 310.000.000,00 dan akumulasi depresiasi Rp 150.000.000,00
dengan harga Rp 215.000.000,00.Berapakah nilai DPP untuk masing - masing

transaksi?
Jawaban

DPP

BiroPerjalanan=10%xPenggantian

sebelum

diskon&pajak=10%x1.575.000.000= 157.500.000
DPP Biro Perjalanan= 10% x Penggantian sebelum diskon&pajak=10%x
365.000.000= 36.500.000
DPP Pelepasan Aset Semula Tak Untuk Dijual = Nilai Wajar = 215.000.000
7.CV. Gamkonora melakukan impor persediaan dengan nilai pembelian $
3650, biaya pengangkutan $ 250, dan premi asuransi 15% dari nilai
pembelian. Impor tersebut dikenai Bea Masuk 10%, Bea Masuk Tambahan Rp
2.150.000,00, PPh 22 dengan tarif 2,5%, serta PPnBM dengan tarif 30%. Kurs
KMK saat pemasukan barang adalah Rp 9.100/ $, sedangkan saat melakukan
pembayaran kepada penjual adalah Rp 9.200/ $. Berapakah DPP transaksi
impor tersebut?
Jawaban

Cost

3.650

Insurance

250

Freight (15% Cost)


CIF

547,50

4.447,50

Bea Masuk (10%)

444,75

Bea Masuk Lainnya 2.150.000


DPP

Impor = CIF+ Pungutan Kepabeanan


= 4.447,50 x 9.100+((444,75 x 9.100) + 2.150.000)
= 40.472.250+ (4.047.225 + 2.150.000)
= 40.472.250+ 6.197.225= 46.669.475

8. Koperasi Halimun memiliki usaha produksi mobnas dan melakukan


penyerahan atas berbagai transaksi berikut.
A.

Penjualan

kepada

konsumen

akhir

dalam

negeri

senilai

Rp

kontrak

Rp

3.775.000.000,00.
B. Ekspor ke pasar luar negeri senilai Rp 6.115.000.000,00.
C.

Penyerahan

kepada

konsumen

korporat

dengan

nilai

5.750.000.000,00. Atas nilai kontrak tersebut telah termasuk PPnBM dengan


tarif 20%, PPh 22 industri otomotif dengan tarif 0,45%, dan diskon kuantitas
5,45%.
D. Penyerahan kepada bendaharawan pemda dengan kas diterima Rp
3.425.000.000,00. Atas pembayaran tersebut telah dipotong PPN, PPnBM
dengan tarif 20%, dan PPh 22 bendaharawan negara dengan tarif 1,5%.
Berapakah nilai PPN terutang atas setiap transaksi tersebut?
Jawaban

PPN Penyerahan Dalam Negeri

= 10% x 3.775.000.000 = 377.500.000

PPN Ekspor= 0% x 6.115.000.000= 0


PPN Konsumen Korporat= 10/ (100 + 20 + 0,45 5,45) x 5.750.000.000
= 10/ 115 x 5.750.000.000 = 500.000.000
PPN Penyerahan Bendaharawan = 10/ (100 10 20 1.5) x 3.425.000.000
= 10/ 68.5 x 3.425.000.000 = 500.000.000
9. Fa. Leuser melakukan penyerahan BKP dengan rincian penanggalan
berikut.
5 Januari mengirimkan barang kepada PT. Lalakon, pembayaran diterima
tanggal 4 Februari.
13 Februari menerima pembayaran di muka dari PT. Lamajang. Pengiriman
dilakukan tiga hari setelahnya.

22 Maret menerima 20% pembayaran atas pemesanan PT. Lampobattang,


tanggal 3 April sebesar 40%, tanggal 16 April sebesar 20%, dan tanggal 21
April untuk sisanya. Pengiriman dilakukan secara bertahap sesuai tanggal
pembayaran.
30 Mei menerima pesanan dari Pemkot, barang dikirimkan tanggal 2 Juni,
tagihan dikirimkan tanggal 5 Juni, pemeriksaan dilaksanakan tanggal 11 Juni,
dan pembayaran diterima tanggal 17 Juni.
1 Juni menerima pesanan dari PT. Lokon. Klien ini merupakan pelanggan
berkala yang sepanjang Juni melakukan pemesanan di tanggal 3, 6, 18, 23,
dan 29 Juni. Tanggal berapakah faktur pajak seharusnya dibuat untuk setiap
transaksinya?
No. Penerima Faktur
1. PT. Lalakon

Tanggal Faktur

5 Januari

2. PT. Lamajang

Saat Pemfakturan

Saat penyerahan.

13 Februari

Saat pembayaran yang mendahului

penyerahan.
3. PT. Lampobattang 22 Maret, 3 16, 21 April

Saat pembayaran termin u/

pembayaran berkala.
4. Pemkot

5 Juni

5. PT. Lokon

31 Juni

Saat penagihan.
Saat akhir bulan, untuk faktur pajak gabungan.

10. Koperasi Panderman melakukan pembelian suku cadang dikenai yang PPN
untuk perawatan mesin percetakan. Koperasi mencetak kitab suci yang
penyerahannya dibebaskan dari PPN dan buku agenda yang penyerahannya
terutang PPN.

Berapakah nilai PPN Masukan yang dapat dikreditkan untuk

setiap periode?
No. Tahun Pembelian Suku Cadang

Penjualan Kitab Suci

Penjualan

Buku

Agenda
1. 2012

65.000.000

1.250.000.000

1.250.000.000

2. 2013

80.500.000

1.500.000.000 500.000.000

3. 2014

32.125.000

1.150.000.000 3.450.000.000

4. 2015

45.750.000

1.650.000.000 825.000.000

Jawaban
No. Tahun P

Proporsi Penyerahan Terutang PPN

PPN Masukan Dapat

Dikreditkan
1. 2012

6.500.000 1.250.000.000/ 2.500.000.000 = 50%

3.250.000

2. 2013

8.050.000 500.000.000/ 2.000.000.000 = 25%

4.012.500

3. 2014

3.212.500 3.450.000/ 4.600.000.000 = 75%

2.409.375

4. 2015

4.575.000 825.000.000/ 2.475.000.000 = 33%

1.525.000

11. Fa. Sanggabuana melakukan pembelian truk untuk operasional dan sedan
untuk pemasaran dengan nilai perolehan masing masing Rp
540.000.000,00 dan Rp 360.000.000,00, termasuk PPN dan PPnBM dengan
tarif 10%. Perusahaan melayani jasa reparasi kereta api bagi PT. KAI yang
tidak terutang PPN dan jasa reparasi bus bagi PT. Damri. Berikut merupakan
data pendapatan perusahaan.Fa. Sanggabuana mengkreditkan PPN
Masukan setiap awal tahun, berdasar asumsi 65% penyerahan terutang PPN.
Bagaimanakah penghitungan kembali PPN Masukan?
Tahun Pendapatan KAI
Penghapusan Piutang Pendapatan PT. Damri
Penghapusan Piutang
1. 2012 425.000.000
5.250.000

15.000.000

910.000.000

2. 2013 475.000.000
9.000.000

10.000.000

850.000.000

3. 2014 400.000.000
6.500.000

22.500.000

930.000.000

4. 2015 525.000.000
3.500.000

7.500.000

Jawaban:

995.000.000

Tahun Penyerahan
Koreksi Kredit

Penyerahan Tak Terutang % PMDapat Dikreditkan

1. 2012 910.000.000
354.750

425.000.000

68,18%

7.670.250

2. 2013 850.000.000
(95.625)

475.000.000

64,15%

7.216.875

3. 2014 930.000.000
553.500

400.000.000

69,92%

7.866.000

4. 2015 995.000.000
51.750

525.000.000

65,46%

7.364.250

12.Koperasi Tanggamus melakukan kegiatan membangun sendiri yang


selama 4 bulan pertama memerlukan biaya biaya berikut.
Biaya di atas belum termasuk biaya pembebasan lahan utama sebesar Rp
550.000.000,00 di bulan April dan pembebasan lahan perluasan sebesar Rp
275.000.000,00 di bulan Juli. Berapakah PPN terutang untuk setiap bulannya?
No. Bulan Biaya Material Biaya Tenaga Kerja
1. April

165.000.000

76.500.000

2. Mei

134.500.000

65.000.000

3. Juni

215.000.000

91.250.000

4. Juli

131.500.000

55.750.000

Jawaban:DPP kegiatan membangun sendiri adalah sebesar 40% dari biaya


selain pembebasan lahan.
No. Bulan Biaya Material Biaya Tenaga Kerja Biaya Bulanan DPPPPN
Terutang
1. April
165.000.000
9.660.000

76.500.000

241.500.000

96.600.000

2. Mei
134.500.000
7.980.000

65.000.000

199.500.000

79.800.000

3. Juni2 15.000.000
12.250.000

91.250.000

306.250.000

122.500.000

4. Juli
131.500.000
7.490.000

55.750.000

187.250.000

74.900.000

13.PT. Welirang sepanjang masa berjalan melakukan penyerahan jasa kepada


beberapa klien dan transaksi bisnis sebagai berikut. Jasa persewaan
apartemen kepada konsumen ritel dengan total nilai sewa Rp
1.657.500.000,00. Jasa persewaan Rumah Sederhana kepada pedagang kecil
dengan nilai penggantian Rp 354.500.000. Membeli alat tulis kantor dengan
nilai Rp 18.950.000,00. Membayar jasa konsultansi senilai Rp 16.500.000,00,
termasuk PPN. Bagaimanakah pencatatan atas setiap transaksi dilakukan,
termasuk penghitungan PPN akhir masa?
Jawaban

Pencatatan Masa Berjalan


Kas

1.842.500.000
Pendapatan Sewa

1.675.000.000

PPN Keluaran
Kas

167.500.000

354.500.000
Pendapatan Sewa

354.500.000

Perlengkapan

18.950.000

PPN Masukan

1.895.000

Kas

20.845.000

Beban Konsultansi

15.000.000

PPN Masukan

1.500.000

Kas

16.500.000

Pencatatan Akhir Masa


PPN Keluaran
PPN Masukan
Utang PPN

167.500.000
3.395.000
164.105.000

PT. Welirang wajib menyetorkan PPN kurang bayar sebesar Rp


164.105.000,00 paling lambatdi tanggal 15 masa pajak berikutnya, serta
melaporkannya dalam SPT Masa bulan bersangkutan.

14.Fa. Batusibela sepanjang masa berjalan melakukan penyerahan barang


dan transaksi bisnis sebagai berikut. Menyerahkan produk kepada Pemprov
senilai Rp 685.000.000,00. Melakukan ekspor dengan nilai jual Rp
515.000.000,00. Menyerahkan produk kepada pelanggan dengan nilai Rp
325.000.000,00, termasuk PPN dan PPnBM dengan tarif 20%. Membeli
material setengah jadi senilai Rp 480.000.000,00, termasuk PPN dan PPnBM
dengan tarif 10%. Menerima retur atas penjualan senilai Rp 25.000.000,00.
Melakukan retur bahan baku senilai Rp 65.000.000,00 Perusahaan menganut
sistem pencatatan periodik. Bagaimanakah pencatatan atas setiap transaksi
dilakukan, termasuk penghitungan PPN akhir masa?
Jawaban

Pencatatan Masa Berjalan


Piutang Dagang

685.000.000

Penjualan
Kas

685.000.000

515.000.000
Penjualan

Kas

515.000.000

325.000.000
Penjualan

250.000.000

PPN Keluaran

25.000.000

Utang PPnBM

50.000.000

Persediaan

440.000.000

PPN Masukan

40.000.000

Kas

480.000.000

Pencatatan Masa Berjalan


Penjualan

25.000.000

PPN Keluaran
Kas
Kas

2.500.000
27.500.000

71.500.000
Persediaan

65.000.000

PPN Masukan

6.500.000

Pencatatan Akhir Masa


PPN Keluaran

22.500.000

Aset Kompensasi PPN

11.000.000

PPN Masukan

33.500.000

PPN Lebih Bayar akan dikompensasikan ke masa berikutnya, kecuali jika


kelebihan pembayaran terjadi di Desember sehingga dapat direstitusikan.
15.Tarif Ad volorum Bahan baku obat berupa: ampicilin tryhidrate, dengan
nilai CIF USD 10,000.- diimpor dari India. Pos tarif dan pembebananan
menurut BTBMI adalah: 2941.10.20.00, besar tarif Bea Masuk: 10 % , NDPBM
yang berlaku adalah USD 1.- = Rp. 9.000,-.
Jawaban:
BM = Tarif BM (Advalorum) X Nilai Pabean X NDPBM
Bea Masuk = 10 % x 10.000 x Rp. 9.000,- = Rp. 9.000.000,BM = Tarif BM (Spesifik) X Jumlah Barang
Gula pasir (refined sugar) sebanyak 10.000 kg.
Pos tariff BTBMI: 1701.99.11.00 (BM: Rp. 700,- /kg)
BM wajib dibayar adalah : 10.000 x Rp. 700,-= Rp. 7.000.000,PPN = % PPN x (nilai pabean +BM + cukai)
Cara Penghitungan PPN,
PPnBM, dan PPh
PPnBM = % PPnBM x (nilai pabean+BM + cukai)

Tarif Advalorum (%)


Misal: Nilai Pabean 1.000 USD Tarif BM 5%, PPN 10%, PPh2,5% Kurs NDPBM 1
USD = Rp 9.000
Maka Pungutannya,
Nilai Pabean = 1.000 x 9.000 = Rp 9.000.000

BM : 5% x 9.000.000 = Rp 450.000
PPN : 10% x 9.450.000 = Rp 945.000
PPh : 2,5% x 9.450.000 = Rp 236.250

Tarif Spesifik
Misal: Nilai Pabean Rp 1.000.000.000 Jumlah barang 100 Ton Tarif Rp
2.500/Kg, PPN 10%, PPh 2,5%
Maka Pungutannya,
BM : 2.500 x 100.000 = Rp 250.000.000
PPN : 10% x 1.250.000.000 = Rp 125.000.000
PPh : 2,5% x 1.250.000.000= Rp 31.250.000

16. PT URIP JAYA Tekstil adalah perusahaan garment yang berdomisili di


Malang. Untuk memenuhi bahan baku produksinya, selain dari bahan baku
lokal juga dibutuhkan bahan baku tertentu yang berasal dari luar negeri. Pada
awal bulan ini PT URIP JAYA Tekstil mengimpor barang dari Thailand berupa:
Benang tunggal dari serat kapas (HS 5206.21.00.00 BM 5%, PPN
10%) seharga USD 1,500, Benang filament sintesis polyester (HS
5402.33.00.00 BM 5%, PPN
10%) seharga USD 2,000, Kain tenunan dari serat tiruan (HS 5516.21.00.00
BM 15%, PPn
10%) seharga USD 5,000, Kain sulaman dari serat sintesis (HS 5810.92.00.00
BM 10%, PPN
10%) seharga USD 4,500, Biaya pengangkutan / pengapalan dari Thailand
sampai Tanjung Perak Surabaya sebesar USD 1,250 dengan asuaransi USD
900, Kurs saat itu USD 1 = Rp 9.100
Pertanyaan: Berapa besar nilai pabean? Berapa bea masuk yang harus
dibayar? Berapa total bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang harus
dibayar?
JAWABAN
A. NDPBM BT=(1500+1250+900) X 9100 =Rp33.215.000

B. NDPBM BF =(2000+1250+900) X 9100 =Rp37.765.000


C. NDPBM KT = (5000+1250+900)X 9100 =Rp65.065.000
D. NDPBM KS = (4500+1250+900)X 9100=Rp60.515.000
E. BM BT = 5% X 33.215.000 =Rp 1.660.750
F. BM BF = 5% X 37.765.000 = Rp 1.888.250
G. BM KT = 15% X 65.065.000 = Rp 9.759.750
H. BM KS = 10% X 60.515.000 = Rp 6.051.500
I. Total BM = Rp 19.360.250
J. PPN BT=10%X(33.215.000+1.660.750)= Rp 3.487.575
K. PPN BF=10%X(37.765.000+1.888.250)= Rp 3.965.325
L. PPN KT=10%X(65.065.000+ 9.759.750)= Rp 7.482.475
M. PPN KS=10%X(60.515.000+ 6.051.500)= Rp 6.656.650
N. PDRI BT = Rp 3.487.575
O. PDRI BF = Rp 3.965.325
P. PDRI KT = Rp 7.482.475
Q. PDRI KS = Rp 6.656.650
17. Contoh perlakuan PPN atas kegiatan membangun sendiri :
a) Pada tanggal 2 Januari 2005 PT Sekartanjung dalam contoh tersebut diatas
memiliki divisi salon kecantikan, membangun sendiri sebuah gedung untuk
salon kecantikan yang dilakukan secara bertahap sebagai berikut :
(1) Tahap pertama dilakukan mulai 2 Januari 2005 seluas 180 m2. Dari
catatannya daftar pembelanjaan untuk pembangunan gedung ini diketahui
bahwa pembangunan dilakukan mulai bulan Januari 2007 dan selesai pada
akhir April 2007.
(2) Tahap kedua dimulai pada tanggal 12 Februari 2007 dilanjutkan bangunan
tahap II seluas 120 m2 dan selesai pada akhir Mei 2007. Karena
pembangunan tahap pertama luas bangunan masih kurang dari 200 m2,
maka atas kegiatan ini tidak dapat dikenakan PPN membangun sendiri
berdasarkan Pasal 16C UU PPN 1984. Pembangunan tahap kedua yang
dimulai 12 Februari 2007, merupakan tahun ke-3, sehingga jangka waktu
pembangunan tahap pertama dengan tahap kedua lebih dari 2 (dua) tahun.

Atas kegiatan membangunsendiri gedung seluas 300 m2 yang dilakukan


dalam dua tahap ini tidak dapat dikenakan PPN membangun sendiri.
b) PT MEJENG mengelola salon kecantikan "BEN KECHE". Sudah dikukuhkan
sebagai PKP sejak tahun 1990. Pada tanggal 27 Desember 2006, perusahaan
ini memulai membangun sendiri sebuah gedung seluas 450 m2 untuk usaha.
Dari catatannya dapat dipetik daftar pembelanjaan untuk pembangunan
gedung ini sebagai berikut :
(1) Desember 2006 sebesar Rp 150.000.000,00 termasuk PPN atas pembelian
material sebesar Rp 12.000.000,00 ;
(2) Januari 2007 sebesar Rp 85.000.000,00 termasuk PPN atas pembelian
material sebesar Rp 7.000.000,00 ;
(3) Februari 2007 sebesar Rp 80.000.000,00 termasuk PPN atas pembelian
material sebesar Rp 6.000.000,00 ;
(4) Maret 2007 sebesar Rp 90.000.000,00 termasuk PPN atas pembelian
material sebesar Rp 5.000.000,00 ; Bangunan selesai pada tanggal 5 April
2007.
Dalam contoh kasus ini terdapat informasi tentang luas bangunan, fungsi
bangunan dan secara implisit dapat difahami bahwa bangunan ini pasti
bersifat permanen sehingga memenuhi syarat dikenakan PPN membangun
sendiri berdasarkan Pasal 16C UU PPN 1984. Penghitungan pajak yang
terutang perlu memperhatikan beberapa faktor yang kiranya cukup relevan,
yaitu :
(a) Karena kewajiban membayar pajak yang terutang dilakukan tiap bulan
pengeluaran biaya, maka penghitungan dilakukan per-bulan sehingga apabila
terjadi
pelanggaran, pengenaan sanksi berdasarkan UU KUP dapat dihitung lebih
cermat.
(b) PPN yang dibayar berkaitan dengan kegiatan membangun sendiri,
merupakan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan sehingga merupakan
bagian dari biaya yang dikeluarkan oleh karena itu ketika menghitung PPN
yang terutang, unsur biaya yang berasal dari Pajak Masukan ini menjadi
bagian dari DPP. Kiranya perlu diperhatikan bahwa PPN yang dimaksudkan
disini bukan PPN atas kegiatan membangun sendiri, melainkan PPN atas
pembelian material danlain-lain yang terkait dengan kegiatan membngun
sendiri. PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan
oleh PT
Sekartanjung, dapat dihitung sebagai berikut :

(1) Desember 2006 = 10% x 40% x Rp 150.000.000,00 = Rp 6.000.000,00;


(2) Januari 2007 = 10% x 40% x Rp 85.000.000,00 = Rp3.400.000,00 ;
(3) Februari 2007 = 10% x 40% x Rp 80.000.000,00 = Rp3.200.000,00 ;
(4) Maret 2007 = 10% x 40% x Rp 90.000.000,00 = Rp3.600.000,00;
PPN tersebut wajib disetor ke Kas Negara menggunakan SSP paling lambat
tanggal 15 bulan berikutnya, dan setelah disetor, wajib dilaporkan kepada
Kepala KPP yang wilayahnya meliputi tempat bangunan yang sedang
dibangun sendiri paling lambat tanggal 20 dalam bulan yang sama denngan
bulan dilakukan penyetoran. Dalam Keputusan Menteri Keuangan dan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak tidak pernah menetapkan bahwa SSP yang
digunakan untuk menyetor PPN yang terutang diperlakukan sebagai Faktur
Pajak Standar, sehingga PPN yang tercantum di dalamnya tidak dapat
diperlakukan sebagai Pajak Masukan atau Pajak Keluaran. Ini merupakan
satu-satunya pemungutan PPN yang tidak menggunakan Faktur Pajak.
18. Sebutkan fungsi Faktur Pajak !
19. Jelaskan makna yang terkandung dalam pengunaan istilah Pengusaha
Kena Pajak dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f, huruf g, dan huruf h sehingga
terlihat perbedaannya dengan pengunaan istilah Pengusaha dalam Pasal 4
ayat (1) huruf a dan huruf c UU PPN 1984 !
20. Jelaskan perbedaan antara tidak dikenai PPN, dikenai PPN dengan tarif
0%, dan dibebaskan dari pengenaan PPN ?
21. Pengembalian kelebihan pembayaran PPN merupakan refleksi dari
karakteristik PPN sebagai pajak atas konsumsi. Bilamana PKP dapat
mengajukan permintaan pengembalian tersebut? Dalam hal apa permintaan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak ini dapat diajukan pada akhir
Masa Pajak?
22. PPnBM memiliki sifat spesifik yaitu tidak dapat dikreditkan. Mungkinkah
terjadi kelebihan pemba-yaran PPnBM ? Dalam hal terjadi kelebihan
pembayaran PPnBM, apakah PKP yang bersangkutan dapat mengajukan
permintaan pengembalian meskipun PPnBM tidak dapat dikreditkan?
Sebutkan dasar hukum dari jawaban Saudara!
23. Tunjukkan dalam sebuah contoh hitungan yang sederhana bahwa dalam
hal terjadi penyerahan BKP yang Tergolong Mewah, ternyata dalam Harga Jual
tidak pernah termasuk PPN dan PPnBM!
24. Sebutkan Kendaraan bermotor yang atas penyerahannya oleh pabrikan
dibebaskan dari PPnBM!

25. Dalam hal apa, Pajak Masukan yang belum dilaporkan, ditemukan dalam
pemeriksaan, secara mutlak tidak dapat dikreditkan ?
26. Apa korelasi positif antara indirect subtraction method dengan multi
stage levy?
27. Apakah penyerahan jasa riset yang dilakukan oleh PKP di dalam Daerah
Pabean kepada penerima jasa riset yang berkedudukan atau bertempat
tinggal di luar Daerah Pabean, memenuhi syarat sebagai ekspor JKP?
Sebutkan dasar hukum jawaban Saudara!

SOAL HITUNGAN
28. PT Lokapranata mengelola sebuah pasar swalayan Anjani dan sudah
dikukuhkan sebagai PKP sejak 8 Maret 1999. Pada akhir tahun 2010,
telah ditandatangani perjanjian waralaba dengan PT Pragota

yang

bermaksud menggunakan merek dagang Anjani untuk mini markertnya.


Dalam bulan Juli 2011 ditemukan data sebagai berikut :
a. PKP ini melakukan penyerahan atau menerima pembayaran sebagai
berikut :
1) Menyerahkan BKP kepada konsumen dengan harga penyerahan
Rp1.430.000.000,00 termasuk PPN.
2) Memasukkan tagihan dengan lampiran Faktur Pajak tanggal 21 Juli
2011 kepada Ketua Satker (Pimpro) di Kementerian Pertanian atas
penyerahan sejumlah BKP dengan Harga Jual dalam kontrak Rp
120.000.000,00.
3)

Menerima pembayaran Rp 60.000.000,00 dari Bendaharawan


Pemda sesuai dengan surat tagihan dan Faktur Pajak tertanggal 22
Juli 2011 atas penyerahan sejumlah BKP pada tanggal 1 Juni 2011.

4) Menerima pembayaran atas penyerahan kedelai dan jagung pada


tanggal 2 Juli 2011, dengan Harga Jual Rp 180.000.000,00.
5) Menerima royalty dari PT Pragota sebesar Rp 10.000.000,00 atas
penggunaan merek Anjani.
6)

Menyerahkan sejumlah bahan pembersih (antiseptic) kepada


sebuah rumah sakit pemerintah dengan harga kontrak termasuk
PPN Rp 66.000.000,00.

7)

b.

Menerima pembayaran Rp 20.000.000,00 atas penyerahan satu


unit mobil pick up yang semula digunakan untuk mendistribusikan
barang dagangan kepada pelanggan. Pajak Masukan atas
perolehannya tidak dapat dikreditkan karena tercantum pada
Faktur Pajak yang cacat, sehingga dibebankan sebagai biaya.

PKP ini melakukan pembelian barang dagangan atau menerima JKP


atau melakukan pembayaran sebagai berikut :
1)

Menerima Faktur Pajak tertanggal 12 Juli 2011 dengan PPN Rp


24.000.000,00 atas pembayaran pada tanggal yang sama untuk
pembelian BKP barang dagangan yang sebenarnya penyerahan
dari PKP Penjual sudah dilakukan pada 30 April 2011.

2)

Membayar langganan telepon sebesar Rp 18.700.000,00


termasuk PPN dengan kuitansi tanggal 4 Juli 2011.

3)

Membayar Rp 11.000.000,00 termasuk PPN kepada toko bahan


bangunan Sentosa (PKP) atas pembelian bahan bangunan yang
digunakan untuk membangun sendiri gudang dengan ukuran 300
m2 yang dimulai awal Juni 2011.

4)

Menerima penyerahan meja biro dari PT Serasi, sebuah


perusahaan mebel (PKP) dengan Harga Jual Rp 120.000.000,00.
Pembayaran akan dilakukan pada akhir September 2011. Faktur
Pajak dibuat tepat waktu.

5)

Menerima Faktur Pajak tertanggal 25 Mei 2011 dengan PPN Rp


8.000.000,00 dari PT Merapi atas pembelian sejumlah BKP sebagai
barang dagangan.

6) Membayar Rp 15.000.000,00 atas jasa manajemen yang diberikan


oleh Kantor Akuntan Publik Bahar & Partners (PKP) dalam bulan
Juni 2011.
Berapa Pajak Masukan dan Pajak Keluaran yang sudah
dapat diperhitungkan untuk menen-tukan jumlah PPN
harus disetor ke Kas Negara ? Jawaban supaya dirinci pertransaksi !

29

PT Pelangi Nusa adalah pengusaha di bidang industri tekstil yang


sudah dikukuhkan sebagai PKP di Cikarang sejak 12 Agustus 1993 dan
ditetapkan sebagai Kawasan Berikat sejak 23 September 1997. Sejak
tahun 2000, perusahaan ini membuka divisi industri garmen yang
produknya seluruhnya untuk tujuan ekspor. Tekstil hasil produksinya,
sebagian dipasarkan di dalam Daerah Pabean.
Dalam bulan Mei 2011, PT Pelangi Nusa melakukan beberapa transaksi
sebagai berikut :
a.

1 31 Mei
mengekspor tekstil ke beberapa negara tujuan
dengan
nilai
ekspor
seluruhnya
mencapai
Rp
15.000.000.000,00.

b.

18 Mei 2011
menerima pembayaran atas penyerahan sejumlah
tekstil sebagai bahan baku kepada PT Indogarmen
sebuah perusahaan garmen yang berkedudukan di
Kawasan Berikat Nusantara Cakung dengan Harga Jual
Rp 270.000.000,00. Penyerahannya dilakukan pada
tanggal 1 Mei 2011.

c.

24 Mei 2011
menerima pembayaran atas penyerahan sejumlah
tekstil sebagai bahan baku kepada PT Busana sebuah
perusahaan garmen di kawasan industri Pulogadung
dengan Harga Jual Rp 300.000.000,00. yang penyerahan
dilakukan tanggal 2 April 2011.

d.

26 Mei 2011
menerima pembayaran atas penyerahan sejumlah
tekstil kepada pedagang besar tekstil di Tanah Abang
Jakarta dengan Harga Jual Rp 90.000.000,00. Penyerahan dilakukan pada tanggal 25 April 2011.

e.

31 Mei 2011
menyerahkan sejumlah tekstil dengan Harga Jual Rp
20.000.000,00 kepada PT Anggun di Kawasan Industri
Pulogadung untuk dibuatkan 5.000 potong pakaian
sesuai dengan pola yang telah ditentukan.

Berapa PPN yang terutang dan wajib dipungut atau yang


langsung dibayar ke bank persepsi untuk tiap-tiap transaksi
oleh PT Pelangi Nusa ?

30. PT Jaladara adalah sebuah perusahaan industri tas dan barang-barang


dari kulit dan sudah dikukuhkan sebagai PKP sejak 12 Maret 2000.
Produk tas kulit menggunakan menggunakan merek ANTILOPE, merek
dagang yang berasal Inggris, sedangkan sepatu kulit menggunakan
merek BARETTA sebuah merek dagang dari Italia. Dalam Masa Pajak
September 2011, tercatat bebe-rapa kegiatan penyerahan produk
antara lain sebagai berikut :
a.

7 September 2011 menerima pembayaran dari PT Semampai


sebuah perusahaan industri garmen di Kawasan Berikat sehubungan
dengan penyerahan sepatu pada tanggal 1 Agustu 2011 dengan
Harga Jual Rp200.000.000,00.

b.

10 September 2011 mengambil sejumlah sepatu untuk diberikan


kepada karyawan sebagai bonus tengah tahun, Harga Jual
sebenarnya Rp72.000.000,00 termasuk laba kotor 20%. Sedangkan
untuk karyawati diberikan bonus berupa tas kulit yang Harga Jual
sebenarnya Rp60.000.000,00 termasuk laba kotor 20%.

c.

15 September 2011 menyerahkan kulit sapi dengan Harga Jual Rp


200.000.000,00 kepada PT Prospekta sebuah perusahaan industri
sepatu di Kawasan Berikat.

d.

21 September 2011 menerima pembayaran dari PT Pamungkas atas


penyerahan sepatu yang dilakukan pada tanggal 3 Juli 2011 dengan
Harga Jual Rp 280.000.000,00.

e.

26 September 2011 melakukan penyerahan secara konsinyasi


kepada Plasa Pujangga sejumlah sepatu dan tas masing-masing
dengan Harga Jual Rp 600.000.000,00, dan Rp400.000.000,00.

f.

Transaksi dengan Pemungut PPN sebagai berikut :


1) 4 September 2011 menerima pembayaran dari Bendahara Satker
Prasarana Pendidikan Dasar Kemdikbud atas penyerahan sepatu
untuk anak SD dengan Harga Jual Rp600.000.000,00 yang dananya
berupa hibah (grant) dari UNESCO, yang penyerahannya telah
dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2011 .
2)

21 September 2011 menyampaikan tagihan kepada Satker


Pengadaan Sarana Pelatihan Ditjen Pembinaan Tenaga Kerja atas
penyerahan tas kulit dan sepatu wanita untuk peserta Loka Karya
Wanita Berprestasi, dengan harga penyerahan sebesar Rp
44.000.000,00 termasuk PPN.

3) 27 September 2011 menyerahkan sejumlah sepatu kepada Satuan


Kerja Pengadaan Sepatu Untuk Transmigran di Kementerian Tenaga
Kerja dan Transmigrasi dengan Harga Penyerahan sejumlah
Rp396.000.000,00 termasuk PPN.
g. Pajak Masukan yang dibayar berdasarkan Faktur Pajak adalah :
1)

Berdasarkan Faktur Pajak yang diisi lengkap tertanggal 22 Juli


2011 dengan PPN Rp20.000.000,00 sehubungan dengan pembelian
kulit bahan baku sepatu dari PT Maesa yang penyerahannya
dilakukan pada tanggal 1 Juli 2011. Faktur Pajak ini baru diterima
tanggal 17 September 2011.

2)

Berdasarkan Faktur Pajak yang diisi lengkap tertanggal 13


September 2011, dengan PPN Rp25.000.000,00 sehubungan
dengan pembelian kain pelapis sepatu dari PT Lempuyang yang
penyerahannya dilakukan pada tanggal yang sama.

3) Transfer royalti pada tanggal 21 September 2011 kepada pemilik


merek dagang di Inggris, dan PPN sebesar Rp 15.000.000,00
disetor menggunakan SSP pada tanggal 13 Oktober 2011.
4)

Setor PPN sebesar Rp 12.000.000,00 menggunakan SSP pada


tanggal 14 Oktober 2011 yang terutang atas royalty yang
ditransfer pada tanggal 28 Juli 2011 kepada pemilik merek dagang
di Italia sebesar Rp 120.000.000,00.

Berapa PPN yang wajib disetor ke Kas Negara untuk Masa


Pajak September 2011 ?

Jawaban:
1. fungsi Faktur Pajak
a. Sebagai bukti pungutan pajak
b. Sarana mengkreditkan pajak masukan
c. Bukti pembayaran pajak bagi pembeli BKP atau penerima JKP
2.

Dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf a dan c terdapat kalimat


Pengusaha yang melakukan kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak
meliputi baik pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena

Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1) maupun Pengusaha


yang seharusnya dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak, tetapi
belum dikukuhkan.
Dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf a dan c terdapat kalimat
Sebagaimana halnya dengan kegiatan ekspor Barang Kena Pajak
Berwujud, pengusaha yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud hanya pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha
Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1).
Kesimpulan :
Pengusaha Kena Pajak dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f, huruf g, dan huruf
h adalah pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi PKP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1), sedangkan Pengusaha dalam Pasal 4
ayat (1) huruf a dan huruf c adalah pengusaha yang telah dikukuhkan
menjadi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A
ayat (1) maupun Pengusaha yang seharusnya dikukuhkan menjadi
Pengusaha Kena Pajak, tetapi belum dikukuhkan.

3.

perbedaan antara tidak dikenai PPN, dikenai PPN dengan tarif 0%,
dan dibebaskan dari pengenaan PPN
Tidak dikenai PPN
BKP dan JPKnya tersebut termasuk dalam Pasal 4A ayat (2) dan (3),
yaitu permasuk dalam kelompok Non BKP dan Non JKP.
Dikenai PPN dengan tarif 0%
BKP, BKP TB, dan JKP tersebut dikenai PPN seperti biasa namun tarifnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), yaitu dikenakan tarif
0% tidak berarti dibebaskan dari PPN dengan maksud Pajak Masukan
yang telah dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa
Kena Pajak yang berkaitan dengan kegiatan tersebut dapat dikreditkan.
Dibebaskan dari pengenaan PPN
Merupakan perlakuan khusus berupa pembebasan dari pengenaan
Pajak Pertambahan Nilai mengakibatkan tidak adanya Pajak Keluaran,
sehingga Pajak Masukan yang berkaitan dengan penyerahan Barang
Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang memperoleh pembebasan

tersebut tidak dapat dikreditkan.

4.

Pasal 9 ayat (4)


Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
lebih besar daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan
pajak yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.
Pasal 9 ayat (4a)
Atas kelebihan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dapat diajukan permohonan pengembalian pada akhir tahun buku.
Pasal 9 ayat (4b)
Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimasud pada ayat (4) dan
ayat (4a), atas kelebihan Pajak Masukan dapat diajukan permohonan
pengembalian pada setiap Masa Pajakoleh:
a. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak
Berwujud;
b. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena
Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada Pemungut Pajak
Pertambahan Nilai;
c. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena
Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang Pajak Pertambahan
Nilainya tidak dipungut;
d. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak
Tidak Berwujud;
e. Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Jasa Kena Pajak;
dan/atau
f.

5.

Pengusaha Kena Pajak dalam tahap belum berproduksi sebagaimana


dimaksud pada ayat (2a).

Dapat, KEP-229/PJ/2003 tentang Tatacara Pemberian Dan


Penatausahaan pembebasan Serta Pengembalian Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah Atas Impor Atau Penyerahan Kendaraan Bermotor dan
PER- 44/PJ/2010 tentang petunjuk pengisian SPT Masa PPN.

6. contoh hitungan yang sederhana bahwa dalam hal terjadi penyerahan


BKP yang Tergolong Mewah, ternyata dalam Harga Jual tidak pernah
termasuk PPN dan PPnBM:
Importir
Beli

= Rp 100.000.000

PPN

= Rp 10.000.000

PPnBM

= Rp 20.000.000

Nilai Tambah untuk dijual ke PT.A = Rp 30.000.000

PT.A
Beli
PPN

= Rp 150.000.000
= Rp 15.000.000

Nilai Tambah untuk dijual ke Konsumen akhir = Rp 50.000.000


Konsumen Akhir
Beli
PPN

= Rp 200.000.000
= Rp 20.000.000

Jadi PPN tidak pernah masuk di dalam harga jual, sedangkan PPnBM
masuk di harga perolehan PKP yang pertama kali (Importir atau
pabrikan).

7.

Kendaraan bermotor yang atas penyerahannya oleh pabrikan


dibebaskan dari PPnBM:
KMK No.355/KMK.03/2003 Pasal 4
PPnBM dibebaskan atas impor atau penyerahan:
a.

Kendaraan bermotor berupa kendaraan ambulan, kendaraan jenazah,


kendaraan pemadam kebakaran, kendaraan tahanan, kendaraan
pengangkutan umum;

b. Kendaraan protokoler kenegaraan;


c.

Kendaraan bermotor untuk pengangkutan 10 (sepuluh) orang sampai


dengan 15 (lima belas) orang termasuk pengemudi, yang digunakan
untuk kendaraan dinas TNI atau POLRI;

d. Kendaraan patroli TNI/POLRI.

8.

Dalam hal belum dilaporkan dalam pembukuan PKP


Telah dibebankan sebagai biaya

9.

Untuk menghindari pengenaan pajak berganda pada multi stage levy


maka digunakan indirect substraction method.

10. Tidak, PMK No 70/PMK.03/2010, PMK No.30/PMK.03/2011, dan SE49/PJ/2011

SOAL HITUNGAN

1.

Pajak

Masukan

dan

Pajak

Keluaran

yang

sudah

dapat

diperhitungkan untuk menen-tukan jumlah PPN harus disetor ke


Kas Negara ?
Noa

perhitungan

PPN

Keterangan
130.000.00

10/110 x 1.430.000.000

PK
12.000.00

10% x 120.000.000

PPN Pemungut

6.000.00
3

10% x 60.000.000

PPN Pemungut

Non BKP
1.000.00

10% x 10.000.000

PK
6.000.00

10/110 x 66.000.000

belum terutang
2.000.00

10% x 20.000.000

Nob

perhitungan

PK

PPN

Keterangan
24.000.00

PM
1.700.00

10/110 x 18.700.000

PM
1.000.00

10/110 x 11.000.000

PM TDDK
12.000.00

10% x 120.000.000

PM
8.000.00

PM
1.500.00

10% x 15.000.000

PM

PPN yang harus disetor


PK

151.000.000

PPN pemungut

18.000.000

PK yang dibayar sendiri

2.

133.000.000

PM

47.200.000

PPN yang harus disetor

85.800.000

PPN yang terutang dan wajib dipungut atau yang langsung


dibayar ke bank persepsi untuk tiap-tiap transaksi oleh
PT
Pelangi Nusa:
a.

1 31 Mei mengekspor tekstil ke beberapa negara tujuan dengan


nilai
Ekspor seluruhnya mencapai Rp 15.000.000.000,00.
PPN

= 0% x Rp 15.000.000.000
= Rp 0

b. 18 Mei 2011 menerima pembayaran atas penyerahan sejumlah tekstil


sebagai bahan baku kepada PT Indogarmen sebuah
perusahaan garmen yang berkedudukan di Kawasan
Berikat Nusantara Cakung dengan Harga Jual Rp
270.000.000,00. Penyerahannya dilakukan pada tanggal
1 Mei 2011.

PPN

= 10% x Rp 270.000.000.000
= Rp 27.000.000 (Terutang tidak dipungut tgl 1 Mei

2011)

c. 24 Mei 2011 menerima pembayaran atas penyerahan sejumlah tekstil


sebagai bahan baku kepada PT Busana sebuah
perusahaan garmen di kawasan industri Pulogadung
dengan Harga Jual Rp 300.000.000,00. yang penyerahan
dilakukan tanggal 2 April 2011.
PPN

= 10% x Rp 300.000.000
= Rp 30.000.000 (terutang pada tgl 2 April 2011)

d. 26 Mei 2011 menerima pembayaran atas penyerahan sejumlah tekstil


kepada pedagang besar tekstil di Tanah Abang Jakarta
dengan Harga Jual Rp 90.000.000,00. Penyerahan
dilakukan pada tanggal 25 April 2011.
PPN

= 10% x Rp 90.000.000
= Rp 9.000.000 (terutang pada tanggal 25 April

2011)
e. 31 Mei 2011 menyerahkan sejumlah tekstil dengan Harga Jual Rp
20.000.000,00 kepada PT Anggun di Kawasan Industri
Pulogadung untuk dibuatkan 5.000 potong pakaian
sesuai dengan pola yang telah ditentukan.
PPN

= 10% x Rp 20.000.000
= Rp 2.000.000

3.

PPN yang wajib disetor ke Kas Negara untuk Masa Pajak


September 2011

No

perhitungan

10%
200.000.000

PPN
x

Keterangan
20.00

0.000

PK terutang tidak
Agustus 2011)

dipungut

(bulan

10/120
132.000.000
10%
200.000.000

10%
280.000.000

10%
1.000.000.000

f.1.

10%
600.000.000

f.2.

10/110
44.000.000

f.3.

10/110
396.000.000

No

perhitungan

11.00
0.000

PK
20.00

0.000

PK terutang tidak dipungut


28.00

0.000

PK bulan Juli 2011

100.00
0.000

PK

60.00
0.000

PK terutang tidak dipungut


4.00

0.000

PK Pemungut
36.00

0.000

belum terutang

PPN

Keterangan
20.00

g.1.

0.000

PM
25.00

g.2.

0.000

PM
15.00

g.3.

0.000

PM Oktober
12.00

g.4.

0.000

PM Oktober

PPN yang harus disetor


PK
PPN pemungut

195.000.000
4.000.000

PPN terurtang tidak dipungut


PK yang dibayar sendiri

80.000.000
111.000.000

PM

45.000.000

PPN yang harus disetor

66.000.000

31. Dipergunakan untuk usaha :


- Usaha Jasa pengiriman paket
- Usaha Jasa paket wisata
PPN yang dibayar

= 10% x DPP Nilai lain = 10% X (10% x nilai tagihan) = 1% x nilai

tagihan/penj.
Ex. Paket wisata ke Bali Rp. 100.000.000
PPN = 10% x 10% x 100.000.000 = Rp. 1.000.000
32. Mobil bekas :
PK = 10 x harga jual
PM = 90% x PK
PPN = PK PM = 10% - (90% x10%) x jual = 1% x harga jual
33Pedagang Emas Perhiasan :
PK = 10 x harga jual dan PM = 80% x PK
PPN = PK PM = 10% - (80% x10%) x jual = 2% x harga jual
Semua Pajak masukan atas perolehan BKP/JKP tidak dpt dikreditkan
34. Bagi PKP yang penyerahan BKP/JKP tidak lebih dari 1.8 M setahun dapat
menggunakan mekanisme ini

1. Untuk usaha BKP :


PK = 10% x harga jual, PM = 70% x PK , PPN = PK PM = 3% x harga jual
2. Untuk usaha JKP :
PK = 10% x harga jual, PM

= 60% x PK , PPN = PK PM = 4% x harga jual

Pajak masukan tidak dapat dikreditkan

Cara menghitung Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang terutang adalah dengan
mengalikan Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dengan Dasar Pengenaan
Pajak (DPP). Untuk itu perlu diperhatikan DPP-nya apakah harga jual, nilai impor,
nilai pengganti, nilai ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan Menteri Keuangan.
Rumus yang digunakan :
PPnBM Terutang = Tarif PPnBM x Dasar Pengenaan Pajak

35. Harga mobil termasuk Pajak Pertambahan Nilai (10%) dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah (30%) sebesar Rp 140.000.000,00
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dihitung : x harga atau pembayaran atas
penyerahan BKP
t = besaran tarif PPnBM x Rp 140.000.000,00 = Rp 30.000.000,00

36.Contoh lainnya apabila harga jual mobil (DPP) Rp 280.000.000,00


PPnBM terutang (tarif 30%)

= 30% x Rp 280.000.000,00

= Rp 84.000.000,00
PPnBM Bukan Kredit Pajak

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang sudah dibayar pada waktu perolehan atau
impor Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah, tidak dapat dekreditkan dengan
Pajak Pertambahan Nilai maupun Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang dipungut
berdasarkan undang-undang PPN dan PPnBM.
Berbeda dengan Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut pada setiap tingkat
penyerahan, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah hanya dipungut pada tingkat
penyerahan oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak yang
Tergolong Mewah atau atas impor Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah.
Dengan demikian, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah bukan merupakan Pajak
masukan sehingga tidak dapat dikreditkan. Oleh karena itu, Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah dapat ditambahkan ke dalam harga Barang Kena Pajak yang
bersangkutan atau debebankan sebagai biaya sesuai ketentuan perundang-undangan
Pajak Penghasilan.

37. Bpk.Andi seorang importir mengimpor BKP Barang Mewah dengan tarif
20% seharga Rp 200.000.000,- hitung :
- PPN dan PPN-BM
- jumlah yang di bayar Bpk.Andi
jawab :
Jumlah pembayaran

Rp200.000.000,-

PPN 10% X Rp 200.000.000

Rp 20.000.000,-

PPN-BM 20% X Rp 200.000.000

Rp 40.000.000,-

----------------------+
jumlah yang harus dibayar

Rp 260.000.000,-

38. PT. Cahaya membeli BKP Barang Mewah Langsung dari pabrik seharga Rp
500.000.000 tarif barang Mewah 20% kemudian barang tersebut dijual lagi
seharga Rp 750.000.000 di dalam negeri.
hitunglah :
- PPN dan PPN BM

- Jumlah yang dibayar PT Cahaya


- Jumlah Yang dibayar pembeli
Jawab :
-PPN 10% X Rp 500.000.000

Rp 50.000.000

PPN BM 20% X Rp 500.000.000

Rp 100.000.000
-----------------------+

-PPN dan PPN BM yang harus dibayar

Rp 150.000.000

-PPN 10% X Rp 750.000.000


Jumlah yang dibayar pembeli

Rp 75.000.000

39.Bpk Sarno seorang importir mengimpor BKP Barang Mewah dengan tarif
30% seharga Rp 300.000.000,Hitung :
-PPN dan PPN Bm
-Jumlah yang harus dibayar
Jawab :
Jumlah Pembayaran
PPN 10% X Rp300.000.000
PPN BM 30% X Rp 300.000.000

Rp 300.000.000,Rp 30.000.000,Rp 90.000.000,-----------------------+

Jumlah yang harus dibayar

Rp 420.000.000,-