Anda di halaman 1dari 14

Penyakit Graves pada Wanita 35 Tahun

Ahmad Marzuqi bin Abdullah

  • 102012475 Kelompok D2

Fakultas Kedokteran UKRIDA Jl. Arjuna Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Indonesia marzuqi.abdullah@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan

Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan, biasanya karena kelenjar terlalu aktif. Kondisi ini menyebabkan beberapa perubahan baik secara mental maupun fisik seseorang, yang disebut dengan tirotoksikosis.

Penyakit Graves merupakan bentuk tiroktoksikosis (hipertiroid) yang paling sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. Dapat terjadi pada semua umur, sering ditemukan pada wanita dari pada pria. Tanda dan gejala penyakit Graves yang paling mudah dikenali ialah adanya struma (hipertrofi dan hiperplasia difus), tirotoksikosis (hipersekresi kelenjar tiroid/ hipertiroidisme) dan sering disertai oftalmopati, serta disertai dermopati, meskipun jarang.

Patogenesis penyakit Graves sampai sejauh ini belum diketahui secara pasti. Namun demikian, diduga faktor genetik dan lingkungan ikut berperan dalam mekanisme yang belum diketahui secara pasti meningkatnya risiko menderita penyakit Graves. Berdasarkan ciri-ciri penyakitnya, penyakit Graves dikelompokkan ke dalam penyakit autoimun, antara lain dengan ditemukannya antibodi terhadap reseptor TSH (Thyrotropin Stimulating Hormone - Receptor Antibody /TSHR-Ab) dengan kadar bervariasi. 1

Skenario

Seorang wanita berusia 35 tahun berobat ke poliklinik karena sering berdebar-debar, sesak, keringat banyak terutama di leher, kepala, punggung meskipun pasien berada di ruangan berAC. Os mengatakan banyak makan, tapi berat badannya menurun.

Anamnesis

Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai. 2

Anamnesis yang dilakukan terdiri dari : 1,2

  • 1. Identitas dari pasien, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan dan ras. Setelah itu dilanjutkan dengan menanyakan

  • 2. Riwayat penyakit sekarang, yaitu menanyakan keluhan utama pasien tersebut, serta faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya keluhan tersebut. Pertanyaan juga ditambah dengan adakah faktor yang memperburuk atau meringankan keluhan, termasuk riwayat obat yang telah digunakan.

Apakah banyak keringat dan terasa berdebar-debar?

Apakah badan terasa panas meskipun duduk di ruangan dingin?

Apakah leher terasa membesar?

Apakah pasien mempunyai penglihatan double?

Apakah terasa cepat lelah atau sesak bila bekerja?

Apakah ada penurunan berat badan?

Apakah mata menonjol?

  • 3. Riwayat penyakit dahulu, yaitu menanyakan apakah dulu pernah mengalami keluhan yang sama atau pernah menderita penyakit yang lain sehingga harus dilakukan perawatan.

  • 4. Riwayat penyakit keluarga, yaitu menanyakan apakah ada di keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama atau apa ada yang punya riwayat penyakit autoimun.

  • 5. Riwayat penyakit sosial, yaitu menanyakan gaya hidup atau lingkungan pasien, termasuk makanan yang dikonsumsi oleh pasien, apakah pasien merokok? kalau pasiennya merokok perlulah ditanyakan sejak kapan dia mulai merokok dan rata-rata berapa batang yang diisapnya sehari

Pemeriksan fisik

Sebagian besar temuan fisik terkait dengan tirotoksikosis. Temuan fisik yang unik untuk Graves penyakit tetapi tidak terkait dengan penyebab lain dari hipertiroid termasuk ophthalmopathy dan dermopathy. Perubahan Myxedematous kulit (biasanya di daerah pretibial) digambarkan sebagai menyerupai kulit jeruk dalam warna dan tekstur. Onycholysis dapat dilihat biasanya di kuku keempat dan kelima. Kehadiran kelenjar tiroid difus membesar, tanda dan gejala thyrotoxic, bersama dengan bukti ophthalmopathy atau dermopathy, dapat menegakkan diagnosis. Temuan fisik umum, yang diselenggarakan oleh daerah anatomi, adalah sebagai berikut: 2,3 Umum - Tingkat metabolisme basal meningkat, penurunan berat badan meskipun kenaikan atau nafsu makan yang sama Kulit - Hangat, paling, kulit halus; meningkat berkeringat; rambut halus; vitiligo; alopecia; myxedema pretibial Kepala, mata, telinga, hidung, dan tenggorokan - chemosis, iritasi konjungtiva, pelebaran fisura palpebra, tutup lag, retraksi, proptosis, gangguan gerak ekstraokular, kehilangan penglihatan dalam keterlibatan saraf optik yang parah, edema periorbital Leher - Setelah pemeriksaan yang cermat, kelenjar tiroid umumnya difus membesar dan halus Dada - ginekomastia, takipnea, takikardia, menggerutu, prekordium hiperdinamik, S3, S4 bunyi jantung, denyut ektopik, denyut jantung tidak teratur dan irama Abdomen - suara Hiperaktif usus Ekstremitas - Edema, acropachy, onycholysis Neurologis - Tangan tremor (baik dan biasanya bilateral), hiperaktif refleks tendon dalam Muskuloskeletal - Kyphosis, lordosis, hilangnya tinggi badan, kelemahan otot proksimal, paralisis periodik hipokalemia pada orang dari kelompok etnis yang rentan Psikiatrik - Gelisah, gelisah, lekas marah, insomnia, depresi

Ophthalmopathy merupakan ciri penyakit Graves. Sekitar 25-30% dari pasien dengan penyakit Graves memiliki bukti klinis Graves ophthalmopathy. Perkembangan dari ringan sampai sedang / berat ophthalmopathy terjadi pada sekitar 3% kasus. Reseptor thyrotropin sangat dinyatakan dalam lemak dan jaringan ikat pasien dengan Graves ophthalmopathy. Mengukur bidang diplopia, celah kelopak mata, berbagai otot ekstraokular, ketajaman visual, dan proptosis memberikan penilaian kuantitatif untuk mengikuti jalannya ophthalmopathy. Tanda-tanda iritasi kornea atau konjungtiva meliputi injeksi konjungtiva dan chemosis. Pemeriksaan oftalmologi lengkap, termasuk pemeriksaan retina dan pemeriksaan celah- lampu dengan dokter mata, diindikasikan jika pasien bergejala.

Ophthalmopathy merupakan ciri penyakit Graves. Sekitar 25-30% dari pasien dengan penyakit Graves memiliki bukti klinis Graves

Gambar 1: temuan fisik penyakit graves

Pemeriksaan penunjang

Untuk dapat memahami hasil-hasil laboratorium pada penyakit Graves dan hipertiroidisme umumnya, perlu mengetahui mekanisme umpan balik pada hubungan (axis) antara kelenjar hipofisis dan kelenjar tiroid. Dalam keadaan normal, kadar hormon tiroid perifer, seperti L-tiroksin (T-4) dan tri-iodo-tironin (T-3) berada dalam keseimbangan dengan thyrotropin stimulating hormone (TSH). Artinya, bila T-3 dan T-4 rendah, maka produksi TSH akan meningkat dan sebaliknya ketika kadar hormon tiroid tinggi, maka produksi TSH akan menurun. 3

Kelainan laboratorium pada keadaan hipertiroidisme dapat dilihat pada skema dibawah ini:

Gambar 2: kelainan laboratorium pada pemyakit graves Autoantibodi tiroid , TgAb dan TPO Ab dapat dijumpai

Gambar 2: kelainan laboratorium pada pemyakit graves 3

Autoantibodi tiroid , TgAb dan TPO Ab dapat dijumpai baik pada penyakit Graves maupun tiroiditis Hashimoto , namun TSH-R Ab (stim) lebih spesifik pada penyakit Graves. Pemeriksaan ini berguna pada pasien dalam keadaan apathetic hyperthyroid atau pada eksoftamos unilateral tanpa tanda-tanda klinis dan laboratorium yang jelas. Untuk dapat memahami hasil-hasil laboratorium pada penyakit Graves dan hipertiroidisme umumnya, perlu mengetahui mekanisme umpan balik pada hubungan (axis) antara kelenjar hipofisis dan kelenjar tiroid. Dalam keadaan normal, kadar hormon tiroid perifer, seperti L-tiroksin (T-4) dan tri-iodo-tironin (T-3) berada dalam keseimbangan dengan thyrotropin stimulating hormone (TSH). Artinya, bila T-3 dan T-4 rendah, maka produksi TSH akan meningkat dan sebaliknya ketika kadar hormon tiroid tinggi, maka produksi TSH akan menurun.

Pada penyakit Graves, adanya antibodi terhadap reseptor TSH di membran sel folikel tiroid, menyebabkan perangsangan produksi hormon tiroid secara terus menerus, sehingga kadar hormon tiroid menjadi tinggi. Kadar hormon tiroid yang tinggi ini menekan produksi TSH di kelenjar hipofisis, sehingga kadar TSH menjadi rendah dan bahkan kadang-kadang tidak terdeteksi. Pemeriksaan TSH generasi kedua merupakan pemeriksaan penyaring paling sensitif terhadap hipertiroidisme, oleh karena itu disebut TSH sensitive (TSHs), karena dapat

mendeteksi kadar TSH sampai angka mendekati 0,05mIU/L. Untuk konfirmasi diagnostik, dapat diperiksa kadar T-4 bebas (free T-4/FT-4). 4

Pemeriksaan penunjang lain seperti pencitraan (scan dan USG tiroid) untuk menegakkan diagnosis penyakit Graves jarang diperlukan, kecuali scan tiroid pada tes supresi tiroksin. 4

Diagnosis kerja

Berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, wanita ini diduga mengidap penyakit graves dikarenakan dia menunjukkan beberapa gejala hipertiroid seperti sering berdebar-debar, berkeringat dan juga ada pembesaran pada leher yang bergerak bersama ketika menelan ludah. Wanita ini juga merasa penglihatannya kabur dan double ketika menonton tv serta kelopak matanya menunjukkan getaran halus.

Diagnosis banding

  • 1. Toxic adenoma

Toksik adenoma adalah gangguan yang dapat berkembang ketika ada pertumbuhan nodul tiroid yang memproduksi dan mengeluarkan jumlah hormone tiroid secara berlebihan. Menurut definisi, jenis nodul tiroid ini adalah jinak. Sel-sel folikel dalam toksik adenoma tidak berisiko untuk menyebar dan menyerang bagian lain dari leher atau tubuh. Sebagaimana sel folikel dalam toksik adenoma membagi dan berkembang, mereka secara bertahap mulai menjauh dari kontrol normal yang dikendali oleh kelenjar pituitari. Proses ini berlanjut sampai sel-sel folikel ini mencapai titik di mana mereka dianggap berfungsi secara otonom, memproduksi dan mensekresi hormon tiroid secara tidak terkendali. Jika jumlah hormon tiroid yang disekresikan oleh sel-sel folikel ini melebihi kebutuhan normal, pasien mungkin hadir dengan bukti hipertiroidisme atau hipertiroidisme subklinis. Toksik adenoma mencapai sekitar 2% dari semua kasus hipertiroid di Amerika Serikat. Mereka dapat berkembang pada usia berapa pun, meskipun sebagian besar pasien yang datang ke perhatian adalah antara 30 dan 60 tahun. Toksik adenoma adalah 5-15 kali lebih umum di kalangan wanita. 5

Pasien yang didiagnosis dengan toksik adenoma biasanya hadir perhatian pada salah satu dari dua cara. Beberapa pasien mungkin hadir dengan nodul tiroid terlihat yang mungkin telah dicatat oleh pengamat, yang diidentifikasi pada pemeriksaan fisik, atau ditemukan sebagai insidental menemukan gambar radiografi leher. Tes fungsi dapat mengkonfirmasi

kehadiran tirotoksikosis, meningkatkan kecurigaan bahwa nodul tiroid mungkin merupakan adenoma toksik. Pasien lain mungkin hadir dengan profil gejala dan tes fungsi tiroid yang konsisten dengan tirotoksikosis. Evaluasi lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis biasanya melibatkan melakukan scan tiroid untuk menghasilkan gambar dari nodul tiroid yang bersangkutan. Nodul tiroid yang mewakili adenoma toksik biasanya muncul dengan jelas kontras bintik-bintik gelap pada tiroid scan gambar.

  • 2. Multinodular goiter dengan hiperaktif nodul

Multinodular goiter terjadi apabila terdapat lebih dari satu hiper-berfungsi nodul pada throid melepaskan hormone thyroid dalam jumlah yang berlebihan.sudah. Hal ini akan menyebabkan terjadinya hipertiroidisme, tanpa efek oftalmologi yang terlihat pada penyakit Grave. Multinodular goiter atau toxic nodular goiter ini paling sering terjadi pada wanita di atas usia 60 tahun yang mengalami defesiensi yodium. Diagnosis laboratorium adalah sama seperti dalam kasus hipertiroidisme yang lain dengan TSH rendah dan T4 & T3 yang tinggi. Throid uptake scan akan memperlihatkan beberapa hotspots yang bersesuaian dengan nodul hiperaktif, sedangkan sisanya dari kelenjar mengalami penurunan aktivitas. 4

  • 3. Tiroiditis subakut

Tiroiditis subakut adalah kondisi ‘self limiting’ tiroid yang terkait dengan perjalanan klinis triphasic hipertiroidisme, hipotiroidisme, dan kembali ke fungsi tiroid normal. Tiroiditis subakut mungkin bertanggung jawab untuk 15-20% dari pasien dengan tirotoksikosis dan 10% dari pasien dengan hypothyroidism. Dikarenakan penyakit ini adalah self limiting disease jadi tidak ada pengobatan khusus, seperti terapi pengganti antitiroid atau hormon tiroid, diperlukan pada sebagian besar pasien. 3,4

Secara umum, terdapat 3 bentuk tiroiditis subakut:

--Tioroiditis subakut granulomatosa - Juga dikenal sebagai subakut menyakitkan atau de Quervain tiroiditis --Tiroiditis subakut limfositik - Juga dikenal sebagai tiroiditis subakut tanpa rasa sakit --Subakut tiroiditis postpartum

Meskipun etiologi tampaknya berbeda untuk 3 subtipe, tetapi patofisiologinya sama. Kadar hormon tiroid yang tinggi akibat dari kerusakan folikel tiroid dan pelepasan hormon

tiroid yang kurang matang ke dalam sirkulasi, dengan tirotoksikosis berkembang. Fase ini berlangsung 4-10 minggu.

Penyakit ini mengalami remisi dalam 2-4 bulan. Pada saat ini, tiroid kehabisan koloid dan sekarang tidak mampu memproduksi hormon tiroid, sehingga hipotiroidisme. Fase hipotiroid dapat bertahan hingga 2 bulan. Seringkali, hipotiroidisme ringan, dan tidak ada terapi hormon tiroid diperlukan kecuali pasien memiliki tanda-tanda atau gejala hipotiroidisme. Setelah folikel tiroidnya mengalami regenerasi, keadaan eutiroid dapat dipulihkan. Sembilan puluh sampai 95% dari pasien kembali ke fungsi normal tiroid.

Etiologi

Penyebab penyakit grave tidak diketahui ; akan tetapi tampak predisposisi genetic pada penyakit auto imun.Reaksi silang tubuh terhadap penyakit virus mungkin merupakan salah satu penyebabnya ( mekanisme ini sama seperti postulat terjadinya diabetes mellitus tipe I).Obat-obatan tertentu yang digunakan untuk menekan produksi hormon kelenjar tiroid dan Kurang yodium dalam diet dan air minum yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama mungkin dapat menyebabkan penyakit ini. 1,3

Epidemiologi

Penyakit Graves adalah penyebab paling umum dari hipertiroid (60-90% dari semua kasus), Kurang lebih 15% penderita mempunyai predisposisi genetik, dengan kurang lebih 50% dari penderita mempunyai autoantibodi tiroid dalam sirkulasi darah. Angka kejadian pada wanita sebanyak 5 kali lipat daripada laki-laki dengan usia bervariasi antara 20-40 tahun (perempuan: laki-laki dari kejadian 5:01-10:01). Graves penyakit juga merupakan penyebab paling umum dari hipertiroid berat, yang disertai dengan tanda- tanda lebih dan gejala klinis dan kelainan laboratorium dibandingkan dengan bentuk ringan dari hipertiroidisme. Tentang 30-50% orang dengan penyakit Graves juga akan menderita ophthalmopathy Graves (tonjolan dari salah satu atau kedua mata), yang disebabkan oleh peradangan pada otot mata dengan menyerang autoantibody. 4

Patogenesis

Graves disease merupakan salah satu contoh dari gangguan autoimun hipersensitif tipe II. Sebagian besar gambaran klinisnya disebabkan karena produksi autoantibodi yang berikatan dengan reseptor TSH, dimana tampak pada sel folikuler tiroid ( sel yang

memproduksi tiroid). Antibodi mengaktifasi sel tiroid sama seperti TSH yang menyebabkan peningkatan produksi dari hormon tiroid. Opthalmopathy infiltrat ( gangguan mata karena tiroid) sering terjadi yang tampak pada ekspresi reseptor TSH pada jaringan retroorbital. Penyebab peningkatan produksi dari antibodi tidak diketahui. Infeksi virus mungkin merangsang antibodi, dimana bereaksi silang dengan reseptor TSH manusia. Ini tampak sebagai faktor predisposisi genetik dari penyakit Graves, sebagian besar orang lebih banyak terkena penyakit Graves dengan aktivitas antibodi dari reseptor TSH yang bersifat genetik. 4,5

Manifestasi klinis

Pada penyakit graves terdapat dua kelompok gambaran utama yaitu tiroidal dan ekstratiroidal yang keduanya mungkin tidak tampak. Ciri-ciri tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid dan hipertiroidisme akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan. Gejala-gejala hipertiroidisme berupa manifestasi hipermetabolisme dan aktifitas simpatis yang berlebihan. Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab, berat badan menurun walaupun nafsu makan meningkat, palpitasi, takikardi, diare dan kelemahan serta atrofi otot. Penyakit Graves umumnya ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid/ struma difus, disertai tanda dan gejala tirotoksikosis dan seringkali juga disertai oftalmopati (terutama eksoftalmus) dan kadang-kadang dengan dermopati. 1,4

Manifestasi kardiovaskular pada tirotoksikosis merupakan gejala paling menonjol dan merupakan karakteristik gejala dan tanda tirotoksikosis. Manifestasi kardiovaskular pada tirotoksikosis merupakan gejala paling menonjol dan merupakan karakteristik gejala dan tanda tirotoksikosis.

Gejala tirotoksikosis yang sering ditemukan:

· Hiperaktivitas, iritabilitas · Palpitasi · Tidak tahan panas dan keringat berlebih · Mudah lelah · Berat badan turun meskipun makan banyak · Buang air besar lebih sering

· Oligomenore atau amenore dengan libido berkurang Tanda tirotoksikosis yang sering ditemukan:

·

Takikardi, fibrilasi atrial

·

Tremor halus, refleks meningkat

Kulit hangat dan basah · Rambut rontok

·

Pada pasien dengan usia yang lebih tua, sering tanda dan gejala khas tersebut tidak muncul akibat respons tubuh terhadap peningkatan hormon tiroid menurun. Gejala yang dominan pada usia tua adalah penurunan berat badan, fibrilasi atrial, dan gagal jantung kongestif.

Oftalmopati pada penyakit Graves ditandai dengan adanya edema dan inflamasi otot- otot ekstraokular dan meningkatnya jaringan ikat dan lemak orbita. Peningkatan volume jaringan retrobulber memberikan kontribusi besar terhadap manifestasi klinis oftalmopati Graves. Oftalmopati yang ditemukan pada 50% sampai 80% pasien ditandai dengan mata melotot, fissura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag (keterlambatan kelopak mata dalam mengikuti gerakan mata) dan kegagalan konvergensi. 1,3

Mekanisme kelainan mata pada penyakit Graves sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Tetapi mengingat hubungan yang erat antara penyakit Graves dengan oftalmopati, diduga keduanya berasal dari respons autoimun terhadap satu atau lebih antigen di kelenjar tiroid atau orbita. Sebagian peneliti melaporkan bahwa reseptor TSH-lah yang menjadi antigen dari respons autoimun keduanya. Tetapi sebagian yang lain melaporkan adanya antigen lain di orbita yang berperan dalam mekanisme terjadinya oftalmopati, sehingga dikatakan bahwa penyakit Graves dan oftalmopati Graves merupakan penyakit autoimun yang masing-masing berdiri sendiri. Oleh karena itu kelainan mata pada penyakit Graves dapat timbul mendahului, atau bersamaan, atau bahkan kemudian setelah penyakit Graves-nya membaik.

Manifestasi ekstratiroidal berupa oftalmopati dan infiltrasi kulit lokal yang biasanya terbatas pada tungkai bawah. Gambaran klinik klasik dari penyakit graves antara lain adalah tri tunggal hipertitoidisme, goiter difus dan eksoftalmus.

Faktor resiko

Meskipun setiap orang dapat mengembangkan penyakit Graves, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko penyakitini. Faktor-faktor risiko tersebutantara lain: 1,3,4

Sejarah keluarga. Karena riwayat keluarga penyakit Graves merupakan faktor risiko

yang diketahui, terdapat kemungkinan adanya satu gen atau sekelompok gen yang dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap gangguan tersebut. Gender. Perempuan lebih mungkin mengembangkan penyakit Graves dibandingkan

pria. Usia. Penyakit Graves biasanya berkembang pada orang yang berusia lebih muda dari

40 tahun. Gangguan autoimun lain. Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh lainnya,

seperti diabetes tipe 1 atau rheumatoid arthritis, memiliki peningkatan risiko. Stres emosional atau fisik. Peristiwa kehidupan yang penuh stres atau penyakit dapat

menjadi pemicu timbulnya penyakit Graves pada orang-orang yang rentan secara genetik. Kehamilan. Kehamilan atau persalinan yang baru terjadi dapat meningkatkan risiko gangguan, khususnya di kalangan wanita yang rentan secara genetik.

Merokok.

Merokok,

selain

dapat

mempengaruhi

sistem

kekebalan

tubuh,

juga

meningkatkan risiko penyakit Graves. Tingkat risiko ini terkait dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari - semakin besar jumlahnya, semakin besar pula risikonya. Perokok yang memiliki penyakit Graves juga memiliki peningkatan risiko penyakit Graves ophthalmopathy.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dari penyakit Graves’ disease adalah sebagai berikut: 6,7

Ø Pengobatan jangka panjang

Dengan obat-obat antitiroid seperti propiltiourazil (PTU), metimazol, dan Carbimazole (dirubah dengan cepat menjadi metimazole setelah diminum), yang diberikan paling sedikit selama 1 tahun. Biasanya diberikan pada dengan dosis awal 100 – 150 mg per enam jam (PTU) atau 30 – 40 mg (Metimazole/carbimazole) per 12 jam. Biasanya remisi spontan akan terjadi dalam waktu 1 – 2 bulan. Pada saat itu dosis obat dapat diturunkan menjadi 50-200mg (dalam dosis terbagi/ 2kali sehari) untuk PTU atau 5 – 20 mg (dosis 1-2 kali sehari) untuk

Metimazole. Dosis maintenance ini dapat diberikan hingga 2 tahun untuk mencegah relaps.Obat-obat ini menghambat sintesis dan pelepasan tiroksin.

Ø Pembedahan tiroidektomi subtotal sesudah terapi propiltiourazil prabedah

Biasanya dilakukan subtotal tiroidektomi dan merupakan pilihan untuk penderita dengan pembesaran kelenjar gondok yang sangat besar atau multinoduler. Operasi hanya dilakukan setelah penderita euthyroid (biasanya setelah 6 minggu setelah pemberian OAT) dan dua minggu sebelumnya harus dipersiapkan dengan pemberian larutan kalium yodida (lugol) 5 tetes 2 kali sehari (dianggap dapat mengurangi vaskularisasi sehingga mempermudah operasi).

Ø Pengobatan dengan yodium radioaktif

Pengobatan dengan yodium radioaktif dilakukan pada kebanyakan pasien dewasa penderita penyakit Graves. Biasanya tidak dianjurkan (kontraindikasi) untuk anak-anak dan wanita hamil.

Ø Pilihan obat lainnya

· Beta blocker. Propranolol 10 – 40 mg/hari (tid) berfungsi untuk mengontrol gejala takikardia, hipertensi dan fibrilasi atrium. Dapat pula sebagai obat pembantu OAT oleh karena juga menghambat konversi T4 ke T3.

· Barbiturate dan Phenobarbital digunakan sebagai obat penenang ( sedatif) dan juga dapat mempercepat metabolisme T4 sehingga dapat menurunkan kadar T4 dalam darah.

Komplikasi

Komplikasi dari penyakit Graves dapat berupa:

• Komplikasi Kehamilan. Kemungkinan komplikasi dari penyakit Graves selama kehamilan di antaranya kelahiran prematur, disfungsi tiroid janin, pertumbuhan janin yang lemah dan preeklamsia. Preeklamsia adalah suatu kondisi ibu yang mengakibatkan tekanan darah tinggi dan kenaikan jumlah protein dalam urin.

• Gangguan jantung. Jika tidak diobati, penyakit Graves dapat menyebabkan gangguan detak jantung, perubahan struktur serta fungsi otot-otot jantung, dan ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang mencukupi bagi tubuh (gagal jantung kongestif). 7

• Badai Thyroid. Sebuah komplikasi yang jarang terjadi, tetapi mengancam jiwa adalah penyakit Graves badai tiroid, juga dikenal sebagai hipertiroidisme akselerasi atau krisis tirotoksik. Penyakit ini lebih mungkin terjadi ketika hipertiroidisme yang parah tidak diobati atau tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Kenaikan hormone tiroid secara tiba-tiba dan drastis dapat menghasilkan sejumlah efek, termasuk demam,banyak berkeringat, kebingungan, delirium, kelemahan yang parah, tremor, detak jantung tidak teratur, tekanan darah rendah yang parah, hingga koma. Penyakit badai tiroid memerlukan perawatan darurat. 8

• Tulang rapuh. Hipertiroidisme yang tidak diobati dapat menyebabkan tulang yang lemah dan rapuh (osteoporosis). Kekuatan tulang anda (sebagiannya) tergantung pada jumlah kalsium dan mineral lain yang dikandungnya. Terlalu banyak hormon tiroid dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memasukkan kalsium ke dalam tulang anda.

Prognosis

Jika tidak diobati , komplikasi yang lebih berat dapat terjadi , termasuk cacat lahir pada kehamilan , peningkatan risiko keguguran , dan dalam kasus yang ekstrim , kematian . Penyakit Graves sering disertai dengan peningkatan denyut jantung , yang dapat menyebabkan komplikasi jantung lebih lanjut termasuk kehilangan irama normal jantung ( fibrilasi atrium ) sehingga dapat menyebabkan stroke. Jika mata proptotic ( bodong ) yang cukup bahwa tutup tidak menutup sepenuhnya pada malam hari , kekeringan akan terjadi dengan risiko infeksi kornea sekunder yang dapat menyebabkan kebutaan . Tekanan pada saraf optik di bagian belakang bebola mata dapat menyebabkan defek lapang pandang dan kehilangan penglihatan juga. Hampir 50% penderita penyakit Graves sembuh selepas dilakukan terapi jangka panjang antitiroid. 8

Kesimpulan

Peyakit graves merupakan penyakit autoimun dan kasus hipertiroidisme yang sering terjadi. Pada penyakit Graves terdapat dua kelompok gambaran utama yaitu tiroidal dan ekstratiroidal, dan keduanya mungkin tak tampak. Ciri-ciri tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid, dan hipertiroidisme akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan. Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab, berat badan menurun, sering disertai dengan nafsu makan yang meningkat, palpitasi dan takikardi, diare, dan kelemahan serta atropi otot. Manifestasi ekstratiroidal oftalmopati

ditandai dengan mata melotot, fisura palpebra melebar, kedipan berkurang, lid lag, dan kegagalan konvergensi. Penyakit ini harus diobati dengan segera bagi mengelakkan komplikasi yang bisa berakibat fatal seperti badai tiroid.

Daftar pustaka

  • 1. Harrison, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, alih bahasa Prof.Dr.Ahmad H. Asdie, Sp.PD-KE, Edisi 13, Vol.5, EGC, Jakarta, 2000 : hal 2144-2151

  • 2. Gleadle J. At a glance : anamnesis dan pemeriksaan fisik. Erlangga pub; 2007 : 99

  • 3. Elaine M. advances in graves disease and other hyperthyroid disorders. McFarland Health pub; 2008: hal 48-52

  • 4. M. James. A complete look at hyperthyroidism. New York; 2012: hal 143-6

  • 5. J. Elizabeth. Buku saku patofisiologi. EGC;2007: hal 248-252

  • 6. L. Joyce. Farmakologi. EGC;2006: hal 578-581

  • 7. C. Joann. Keperawatan medical-bedah. EGC;2005: hal 222-4

  • 8. D. Patrick. At a glance medicine. Erlangga;2006: hal 274-7