Anda di halaman 1dari 23

Laporan Praktikum

Biologi Oral
PENGARUH MAKANAN TERHADAP SEKRESI DAN
pH SALIVA

Oleh :
Sigit Ahmad I

021311133030

Yovita Yonas

021311133038

Rima Arsylviasari

021311133031

Delaneira ADH

021311133039

Yanti Meylitha

021311133032

Irjinia Putri NA

021311133040

Mahda Bin Juber

021311133033

Novia Setyowati

021311133041

Retno K

021311133034

M Asyharul Huda 021311133042

Sesy Ayu Lestari

021311133035

Gusti Ayu M A

021311133043

Sylviani The W

021311133036

Elvia Najib

021311133044

Merina Dwi P

021311133037

DEPT. BIOLOGI ORAL


Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR
Semester Ganjil - 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah laporan praktikum yang
berjudul Pengaruh Makanan terhadap Sekresi Saliva dan pH Saliva.
Pada penulisan laporan praktikum ini, penulis mengucapkan terima kasih
kepada Tantiana, drg, Mkes dan Dr. Indeswati Diyatri drg.,MS atas segala
bimbingan, arahan, serta dorongan yang beliau berikan kepada penulis sehingga
laporan praktikum ini dapat diselesaikan.
Harapan penulis, semoga laporan praktikum ini dapat memberikan suatu
manfaat pada kalangan pendidikan, terutama mahasiswa fakultas kedokteran gigi.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saliva merupakan komponen utama dari rongga mulut yang mempunyai
peranan sangat penting, berasal dari kelenjar saliva mayor dan minor yang berada
sekitar rongga mulut. Saliva disekresi oleh sekelompok sel dalam kelenjar yang
disebut acini, saliva yang disekresi merupakan cairan yang tidak berwarna, agak
kental dan mengandung komponen-komponen organik dan anorganik. Saliva
mengandung dua enzim pencernaan yaitu lipase lingualis yang disekresikan oleh
kelenjar pada lidah dan ptialin ( amilase

saliva) yang disekresi oleh

kelenjar saliva, saliva juga mengandung mucin yaitu suatu glikoprotein yang
melumaskan makanan sekitar 1500ml (Nanci, 2008).
Fungsi saliva antara lain membantu proses pencernaan, penelanan, pelarut,
dan pelumas, mengatur keseimbangan air, pelindung, pembersih, daya anti
bakterial, sebagai buffer dan self cleansing. Pada proses pencernaan enzim saliva
yang terpenting adalah

amilase . Cairan mulut mukus berperan penting

dalam proses pengunyahan, menelan makanan dan juga proses artikulasi pada
waktu berbicara. Selain itu dengan adanya kandungan amilase pada saliva
membantu dalam pembersihan gigi dari debris karbohidrat (self cleansing). Pada
saliva fungsi imunologi yang terpenting adalah IgA yang terlibat dalam sistem
penolakan infeksi di rongga mulut (Del P. et al, 2008).
pH dan sekresi saliva dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya
pengunyahan dan jenis makanan. Gula sukrosa dikenal sebagai xylitol, sorbitol,
dan mannitol dikenal sebagai gula non-kariogenik. Sifat kariogenik gula tersebut
anatara lain karena pengaruhnya terhadap pH saliva. Sekresi saliva juga berperan
penting untuk mempertahankan keseimbangan cairan, sekresi berkurang bila
tubuh mengalami dehidrasi, menimbulkan rasa haus, sebagian besar cairan dalam
saliva tentunya kembali ke dalam sirkulasi oleh absorpsi dalam saluran cerna.

Sekresi saliva sebagian besar adalah proses aktif yang menunjukkan bahwa
proses tersebut memerlukan energi. Rangsangan untuk sekresi dapat terjadi
melalui jalan sebagai berikut: (Haroen E.R, 2003)
1. Mekanis: karena mengunyah makanan keras
2. Kimiawi: stimulasi dengan asam sitrun, rangsangan rasa manis, asin, pahit,
pedas
3. Psikis: membayangkan makanan enak, stress mempunyai efek sebaliknya dan
menghambat sekresi
4. Neuronal: kolinergik melalui asetilkolin dan adrenergik melalui noradrenalin
Bahan pemanis sukrosa dipecah menjadi monosakarida oleh enzim
glukosiltransferase yang dihasilkan Streptococcus mutans. Hasil pemecahan ini
berupa glukan dan fruktan, yang digunakan pada proses metabolisme glikolisis
hingga menghasilkan energi dan asam yang dapat menyebabkan gigi karies.
Permen karet yang menggunakan xylitol sebagai pengganti sukrosa yang sifat
kariogennya lebih ringan dibandingkan dengan sukrosa. Xylitol memiliki derajat
kemanisan yang sama dengan sukrosa, yaitu gula biasa, namun dibandingkan
dengan sukrosa xylitol lebih sedikit kalorinya, yaitu sekitar 40 %. 5 9 Xylitol
tidak dapat dimetabolisme oleh bakteri oral termasuk Streptococcus mutans dan
bila xylitol berkontak dengan Streptococcus mutans akan terbentuk xylitol 5
fosfat yang menyebabkan kerja substansi yang berperan dalam proses glikolisis
terhambat. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya energi yang dihasilkan saat
proses metabolisme, dengan demikian permen karet ini bersifat antikaries karena
mampu

menekan

jumlah

koloni

Streptococcus

mutans,

menghambat

pertumbuhan plak, menekan keasaman saliva (Maguire A, 2003).


Mengunyah permen karet menimbulkan refleks proses pengunyahan.
Adanya bolus makanan di dalam mulut pada awalnya menimbulkan
penghambatan refleks gerakan mengunyah pada otot, yang menyebabkan rahang
bawah turun. Penurunan ini akan menyebabkan refleks regang pada otot rahang
bawah yang menyebabkan kontraksi reboun. Permen karet merupakan bolus
yang dapat menyebabkan stimulus mekanis dan dapat merangsang peningkatan

sekresi saliva, sedangkan sensasi pengecapan rasa pedas dari permen karet
merupakan stimulus kimiawi yang juga dapat meningkatkan sekresi saliva.
Meningkatnya

sekresi

saliva

menyebabkan

meningkatkan

volume

dan

mengencerkan saliva yang diperlukan untuk proses penelanan dan lubrikasi.


Peningkatan sekresi saliva juga meningkatkan jumlah dan susunan kandungan
saliva, seperti bikarbonat yang dapat meningkatkan pH (DePaola, D. P, 2008).
1.2 Tujuan
Mampu

memahami pengaruh

rangsangan

pengunyahan makanan yang

mengandung gula sukrosa dan xylitol terhadap pH dan sekresi saliva


1.3 Manfaat
1. Sebagai data dan informasi dalam menunjang perkembangan Ilmu Kedokteran
Gigi khususnya dalam bidang Biologi Oral dalam hal pengaruh makanan
terhadap sekresi dan pH saliva.
2

Sebagai data dan informasi untuk mengadakan penelitian lebih lanjut.

BAB 2
METODE KERJA

2.1 ALAT DAN BAHAN


BAHAN

Gambar 2.1 (1) Air untuk berkumur (2) permen yang mengandung sukrosa
(3) permen yang mengandung gula xylitol

ALAT

1
3
2
5
4

Gambar 2.2 (1) Kapas (2) Kasa (3) Beker gelas (4) Gelas ukur (5) PH meter

3. CARA KERJA
a. 2 orang dari anggota kelompok dengan Oral Hygiene yang baik berperan sebagai
subyek (subyek I dan II) untuk pelaksanaan praktikum.
b. Subyek diminta untuk berkumur menggunakan aqua

c. Subyek I dan II diminta mengunyah kapas selama 10 menit sambil menampung


saliva dalam baker glass

d. PH saliva diukur dengan menggunakan PH meter. Untuk menjaga akuransi PH


meter, perlu dilakukan pencucian dengan menggunakan aqua dan dikeringkan
menggunakan kertas tissue.

PH subyek I

PH subyek II

e. Saliva kemudian dipindahkan ke dalam gelas ukur untuk diukur volumenya.

f. Subyek beristirahat selama 15 menit

g. Selanjutnya:
-Subyek I menguyah permen karet yang mengandung gula sukrosa selama 10
menit sambil menampung saliva didalam baker glass

-Subyek II menguyah permen karet yang mengandung gula xylitol selama 10


menit sambil menampung saliva didalam baker glass

h. Setelah menguyah permen karet, terhadap Subyek I dan II dilakukan perlakuan d


dan e

PH subyek I
i.

PH subyek II

Hasil yang didapat oleh semua kelompok dicatat dalam sebuah table, buat
pembahasan dan kesimpulan.

BAB 3
HASIL PENGAMATAN
Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Menggunakan GulaSukrosa

No.

V o l

V o l

u m e
2 5

H
7

u m e
3 8

H
4

2
7

7
4

8 , 5

6
7

6
5

m l

1 2

5
7

2
6

m l

Tabel 3.2Hasil Pengamatan Menggunakan Gula Xylitol


K

n
K

No.

o
l

V o l

u m e
1 6

H
7

H
3

m
2

5
7

6
7

9
7

6
7

5
7

9
7

Dari percobaan yang telahdilakukan, dapat diamati bahwa gula sukrosa


menyebabkan terjadinya penurunan pH saliva. Sedangkan percobaan yang
menggunakan gula xylitol menghasilkan pH yang tidak terlalu jauh dari pH normal.
Rentang pH awal orang coba pada praktikum iniantara 7,2-7,9.

BAB 4
TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Saliva
Sekresi saliva sebagian besar dibawah control dari Autonomic Nervous System
(ANS). Dalam keadaan istirahat, sekresi saliva rendah, berkisar pada 30 ml/jam.
Kelenjar sub mandibular berkontribusi sekitar dua pertiga dari sekresi saliva dalam

keadaan istirahat, kelenjar parotis sekitar seperempat, dan kelenjar sublingualis


sisanya. Stimulasi meningkatkan jumlah sekresi saliva, terutama pada kelenjar
parotis, sampai 400 ml/jam. Stimulasi paling potensial untuk sekresi saliva adalah
bahan bersifat asam seperti asam sitrat. Tipe stimulasi lainnya yang menstimulasi
sekresi saliva termasuk bau makanan dan mengunyah. Rasa gelisah, ketakutan,
dehidrasi, dan obat-obatan menghambat sekresi saliva.
Kondisi yang tidak normal dari system tubuh baik secara fisik dan fisiologis
juga dapat berpengaruh pada perubahan volume dan pH saliva. Makanan dalam mulut
menyebabkan sekresi reflex bagi saliva dan juga rangsangan serabut aferen vagus
pada ujung lambung dari esophagus
Derajat keasaman (pH) dan kapasitas buffer saliva dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan yang disebabkan oleh irama cyrcadian, diet dan rangsangan
terhadap kecepatan sekresi saliva.
a. Irama cyrcadian
Irama circadian mempengaruhi pH dan kapasitas buffer saliva. Pad keadaan
istirahat atau segera setelah bangun, pH saliva meningkat dan kemudian turun
kembali dengan cepat. Pada seperempat jam setelah makan (stimulasi
mekanik), pH saliva juga tinggi dan turun kembali dalam waktu 30-60 menit
kemudian. pH saliva agak meningkat sampai malam, dan setelah itu turun
kembali.

b. Diet
Diet juga mempengaruhi kapasitas buffer saliva. Diet kaya karbohidrat dapat
menurunkan kapasitas buffer saliva, sedangkan diet kaya serat dan diet kaya
protein mempunyai efek meningkatkan buffer saliva. Diet kaya karbohidrat
meningkatkan metabolism produksi asam oleh bakteri-bakteri mulut, sedangkan
protein sebagai sumber makanan bakteri, meningkatkan sekresi zat-zat basa
seperti ammonia.

4.2 pH Saliva
Keseimbangan kapasitas dari saliva, dimana jumlah antar saliva dengan
pembentukan karies tidak selalu merefleksikan dari pH saliva, melainkan dari tingkat
alkalinitas saliva itu. Sellman (1949) mempelajari hubungan kapasitas penyangga
(buffer) saliva dengan karies gigi, dan menemukan juga bahwa jumlah (suasana)
asam yang dihasilkan saliva dengan level pH 6,5,4, dan 3 memiliki kemampuan
pertahanan yang bagus terhadap karies (caries-resistant). Produksi asam erat
kaitannya dengan terjadinya karies pada gigi. Awal mula terjadinya plak pada gigi,
dimana hal ini menyebabkan hilangnya ion ion pada gigi (adanya pengikisan enamel).
Di saliva terdapat komposisi asam bicarbonate carbonic acid (HCO3-/H2CO3) dan
fosfat (HPO4/H2PO4), bicarbonate carbonic acid dapat berdifusi kedalam plak dan
menetralkan asam dari metabolisme bakteri penyebab karies. Saliva dengan
penyangga pH 5,3 memiliki kadar biocarbonate carbonic acid rendah (unstimulated),
pH level penyangga saliva yang pas adalah dengan rentang pH setinggi 7,8.
4.3 Xylitol
Xylitol adalah gula alkohol yang tersusun atas lima atom karbon dan lima
gugus hidroksil (C5H1205). Struktur xylitol berupa serbuk kristal berwarna putih tidak
berbau (gambar 1). Xylitol memiliki nama lain, yakni pentitol, pentose, polyalkohol
dan polyol.

Gambar 1. Struktur dan Gambar Kristal Xylitol (Farikha, 2012)

Secara alami xylitol terdapat pada jagung, strawberry, plum, bayam, terong,
kembang kol dan lettuce, namun secara komersial dibuat dari serpihan kayu pohon
beech melalui proses hidrogenasi xylosa atau gula kayu (C 5H10O5) dengan bantuan

katalisator nikel pada suhu 80-140C dan tekanan 50 atmosfer (gambar 2)


(Koivistoinen & Hyvonen, 1980). Rantai karbon dari xylitol lebih pendek dari pada
pemanis lainnya, seperti sorbitol, fruktosa dan glukosa. Selama metabolisme di dalam
tubuh berjalan normal, xylitol dapat dihasilkan sampai dengan 15 gram setiap hari.
Xylitol berperan sebagai senyawa perantara dalam metabolisme glukosa. Xylitol
dimetabolisme di dalam hati kemudian dikonversi menjadi D-xylulose dan glukosa
oleh enzim polyol dehydrogenase (Khairunissa, 2012).

Gambar 2. Prinsip Industri Penghasil Xylitol (Koivistoinen & Hyvonen, 1980)

Beberapa sifat dari xylitol, yakni (Rachima, 2008) :


1. Menghasilkan energi yang hanya 2,4 kalori/gram, sehingga cocok untuk
penderita obesitas.
2. Tidak mengandung karbohidrat efektif.
3. Tidak menimbulkan efek afterase, yakni rasa tidak enak yang bertahan setelah
mengkonsumsinya).
4. Tidak memerlukan insulin untuk memetabolismenya, sehingga cocok untuk
penderita diabetes.
5. Bersifat antikariogenik (melindungi gigi dari kerusakan).
6. Mudah larut dalam air

7. Memberikan sensasi dingin seperti mentol. Hal ini disebabkan karena sifat
fisis dan kimiawi , yaitu apabila dilarutkan, panas pelarutan xylitol yang
negatif sepuluh kali lebih besar dari pada sukrosa.
8. Memiliki derajat kemanisan yang sama dengan sukrosa.
Berdasarkan sifat dari xylitol, maka pemanis ini sangat aman untuk
kesehatan , terutama untuk kesehatan gigi. Xylitol berperan aktif dalam memperbaiki
kavitas kecil yang disebabkan oleh karies karena menghambat akumulasi plak pada
gigi. Selain itu xylitol juga mendukung proses remineralisasi dan memperkuat email
gigi karena menyebabkan aliran saliva bertambah sehingga menormalkan pH rongga
mulut dan menetralisir semua asam yang telah terbentuk. Xylitol juga dapat
menstimulasi produksi saliva, merubah komposisi saliva dan meningkatkan
konsentrasi

bikarbonat,

fosfat

dan

kalsium.

Peningkatan

produksi

saliva

mengakibatkan peningkatan volume saliva yang berguna untuk membersihkan gula


dan asam dari gigi. Perubahan komposisi saliva menstimulasi peningkatan
kemampuan saliva untuk mencegah penurunan pH dan meningkatkan kemampuan
pertumbuhan kristal hidroksiapatit (Hartini, 2009).

4.4 Sukrosa
Sukrosa adalah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang berasal dari tebu
maupun dari bit. Selain pada tebu dan bit, sukrosa terdapat pula pada tumbuhan lain,
misalnya dalam buah nanas dan dalam wortel (Poedjiadi, 1994). Gula (sukrosa)
adalah sejenis karbohidrat yang digunakan sebagai pemanis. Sukrosa merupakan
karbohidrat yang mempunyai rumus kimia C12H22O11, yang merupakan disakarida
dan terdiri dari 2 komponen monosakarida yaitu D-glukosa dan D-fruktosa. Dengan
hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan campuran glukosa dan fruktosa
yang disebut gula invert (Goutara dan Soesarsono, 1980).
Sukrosa merupakan senyawa kimia yang termasuk kedalam golongan
karbohidrat. Sukrosa adalah disakarida yang apabila dihidrolisis berubah menjadi dua
molekul monosakarida yaitu glukosa dan fruktosa. Sukrosa memiliki peranan penting
dalam teknologi pangan karena fungsinya yang beraneka ragam.sukrosa dengan
kemurniaan yang tinggi dan kadar abu yang rendah. Sukrosa memiliki berat molekul
342,30 terdiri dari gugus glukosa dan fruktosa. Sukrosa merupakan senyawa gula
yang paling disukai. Sukrosa terdapat di alam dalam jaringan tanaman terutama buah,
biji, bunga dan akar. Madu lebah mengandung sebagian besar sukrosa dan hasil
hidrolisanya (Slamet Sudarmadji, 1982).
Sukrosa merupakan bahan yang kariogenik yaitu gabungan antara glukosa dan
fruktosa. Konsumsi sukrosa dalam jumlah besar dapat menurunkan kapasitas buffer
saliva sehingga mampu meningkatkan insiden terjadinya karies (Amerongen, 1991).
Menurut penelitian, sukrosa yang menaikkan indikasi karies paling besar. Hal ini
disebabkan karena sintesa ekstra sel sukrosa lebih cepat daripada gula lainnya seperti
glukosa, fruktosa, dan laktosa sehingga cepat diubah oleh mikroorganisme dalam
rongga mulut menjadi asam (Harris dan Christen, 1995). Bakteri plak akan
memfermentasikan karbohidrat (misalnya sukrosa) dan menghasilkan asam laktat
yang bersifat asam, sehingga menyebabkan pH plak akan turun dalam waktu 13
menit sampai pH 4,5-5,0 (Gaviao, 2004). Kemudian pH akan kembali normal pada
pH sekitar 7 dalam 3060 menit, dan jika penurunan pH plak ini terjadi secara terus

menerus maka akan menyebabkan demineralisasi pada permukaan gigi. Kondisi asam
seperti ini sangat disukai oleh Sterptococcus mutans dan Lactobacillus sp, yang
merupakan mikroorganisme penyebab utama dalam proses terjadinya karies
(Kusumaningsih, 1999).

BAB 5
PEMBAHASAN

Setelah mengunyah mengunyah permen karet yang mengandung sukrosa, pH


saliva pada orang coba mengalami penurunan dengan pH sebelum adalah 7,5 dan
setelahnya menjadi 5,2.
Perubahan penurunan pH saliva pada pengunyahan permen karet yang
mengandung sukrosa disebabkan karena permen karet yang mengandung sukrosa
disintesa lebih cepat dari karbohidrat lainnya seperti glukosa, fruktosa dan laktosa
sehingga di ubah menjadi glukan dan fruktan. Glukan diperlukan pada proses
glikolisis bakteri menghasilkan energi dan asam laktat, yang ini akan menyebabkan
pH turun dalam waktu 1-3 menit sampai pH 4,5-5,0, kemudian pH akan kembali
normal pada pH sekitar 7 dalam waktu 30-60 menit (Diana, 2005).
Sukrosa juga dapat menjadi penyebab karies gigi. Bahan pemanis sukrosa
dipecah menjadi monosakarida oleh enzim glukosiltransferase yang dihasilkan oleh
Streptococcus mutans. Hasil pemecahan ini berupa glukan dan fruktan yang
digunakan pada proses metabolisme glikolisis hingga menghasilkan energi dan asam
yang akan mengakibatkan demineralisasi email sehingga dapat menyebabkan karies
pada gigi(M. Rodian , 2012) dan juga disebabkan karena sintesa ekstra sel sukrosa
lebih cepat daripada gulalainnya seperti glukosa, fruktosa, dan laktosa sehingga cepat
diubah oleh mikroorganisme dalam rongga mulut menjadi asam (Diana, 2005).
Pemberian permen karet yang mengandung xylitol mempunyai efek
menstimulasi produksi saliva, komposisi dari saliva berubah dan meningkatkan
konsentrasi bikarbonat, fosfat dan kalsium. Perubahan dari komposisi ini mestimulasi
peningkatan kemampuan saliva untuk mencegah penurunan pH dan meningkatkan
kemampuan perumbuhan kristal hidroksiapatit. Peningkatan volume saliva cenderung
membersihkan gula dan asam dari gigi. Permen karet bebas gula adalah cara yang

sangat praktis untuk merangsang saliva setelah memakan makanan yang mengandung
gula. (Holgeston, 2007).
Setelah mengunyah permen karet yang mengandung xylitol ph saliva
cenderung lebih basa dari ph normalnya, seperti yang di lakukan pada praktiku kali
ini ph awal saliva menunjukkan angka 7,8 setelah mengunyah permen karet yang
mengandung xylitol didapatkan nilai ph yang lebih tinggi yaitu 7,9.
Xylitol merupakan substansi gula dengan kemanisan yang sama dengan
kemanisan sukrosa dan memiliki kalori yang lebih kecil 40% dari sukrosa. Nilai
kalori dari xylitol adalah berkisar 2,4 kal/gr atau lebih rendah. Xylitol merupakan
sejenis pemanis polyols yang bersifat non-asidogenik dan nonkariogenik.
Mengonsumsi permen karet xylitol mempunyai kelebihan dalam menjaga
kesehatan mulut, yaitu meningkatkan pH saliva, serta meningkatkan sekresi saliva.
Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Harris (2004) bahwa mengonsumsi
permen karet yang mengandung xylitol yang megandung gula ataupun bebas gula
merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan laju aliran saliva.
Menurut penelitian Dewi (2008), xylitol lebih efektif daripada gula terhadap
kesehatan

mulut

karena

xylitol

tidak

dimetabolisme

oleh

bakteri

dalam

pembentukkan asam dan mempunyai efek antibakteri, mengonsumsi permen karet


xylitol juga dapat menurunkan jumlah bakteri mulut di dalam plak dan saliva. Oleh
karena itu selama mengonsumsi permen karet yang mengandung xylitol derajat
keasaman saliva akan naik, produksi saliva dapat mengurangi endapan sisa makanan
di permukaan gigi. Bahan-bahan yang terkandung dalam permen karet xylitol seperti
enzim dan bikarbonat dapat memicu remineralisasi enamel gigi.
Setelah mengunyah kapas, kedua orang coba diberi jeda waktu selama 15
menit sebelum diminta mengunyah permen yang mengandung sukrosa dan xylitol.
Selanjutnya, orang coba 1 mengunyah permen yang mengandung sukrosa dan orang
coba 2 mengunyah permen karet yang mengandung xylitol untuk dilihat apakah ada
perbedaan hasil pH dan jumlah saliva akibat mengunyah permen yang mengandung
sukrosa atau xylitol.

Setelah mengunyah permen yang mengandung sukrosa dan permen karet


xylitol, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pH saliva menurun pada orang coba 1
yang mengunyah permen sukrosa, sementara pada orang coba 2 mengalami
peningkatan pH akibat mengunyah permen karet xylitol. Volume yang dihasilkan dari
mengunyah permen yang mengandung sukrosa sebanyak 12 mL dengan pH sebesar
5,2, sedangkan volume yang dihasilkan dari mengunyah permen karet xylitol
sebanyak 14 mL dengan pH sebesar 7,9. Hal ini disebabkan pada pengunyahan
permen yang mengandung sukrosa, kandungan sukrosa dapat menghasilkan asam
pada saliva melalui hasil fermentasi oleh bakteri. Sedangkan perubahan peningkatan
pH saliva pada orang coba yang mengunyah permen karet yang mengandung xylitol
disebabkan oleh ketidakmampuan bakteri yang ada di rongga mulut untuk melakukan
fermentasi sehingga tidak dapat menghasilkan asam pada saliva, dan kapasitas buffer
saliva akan meningkat sehingga pH saliva juga akan menigkat.
Xylitol mempunyai efek menstimulasi produksi saliva. Komposisi dari saliva
berubah dan meningkatkan konsentrasi bikarbonat, fosfat, dan kalsium. Perubahan
dari komposisi ini menstimulasi peningkatan kemampuan saliva untuk mencegah
penurunan pH (Holgeston, 2007). Saat orang coba 2 mengunyah permen karet yang
mengandung xylitol, didapatkan volume saliva yang lebih sedikit daripada saat
mengunyah kapas. Hal ini diakibatkan oleh kesalahan orang coba yang terkadang
menelan salivanya ketika mengunyah permen karet sehingga volume yang dicatat
tidak sesuai dengan hasil seharusnya.

BAB 6
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
saliva merupakan suatu cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna terdiri
atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada
mukosa oral. Derajat keasaman (pH) pada saliva dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Pada umumnya saliva memiliki pH level penyangga yang pas berkisar
antara 7,8. Mengkonsumsi makanan yang mengandung sukrosa dapat
menurunkan pH saliva menjadi lebih asam sehingga menyebabkan resiko
terjadinya

karies.

Sedangkan

apabila

mengkonsumsi

xylitol

dapat

menstimulasi meningkatnya sekresi saliva dan membuat pH mulut menjadi


lebih tinggi sehingga menurunkan resiko terjadinya karies.
6.2 SARAN
kurangi mengkonsumsi sukrosa karena dapat menyebabkan turunnya pH
mulut dan meningkatkan resiko terjadinya karies. Gantilah gula sukrosa
dengan gula xylitol karena jika mengkonsumsi xylitol dapat menstimulasi
meningkatnya sekresi saliva dan membuat pH mulut menjadi lebih tinggi
sehingga menurunkan resiko terjadinya karies.

DAFTAR PUSTAKA

Amerongen A, van Nieuw. Ludah dan kelenjar ludah. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press; 1991. h. 142, 15771.
DePaola, D. P. 2008. Saliva. J Am Dent Assoc, Vol 139, No suppl_2, 5S- 10S.
Del P, Maria A, Angela M, et al. Saliva composition and function : a comprehensive
review. Journal Contemporary Dental Practice 2008 : 9(3) : 5-15.
Dewi Putti F. Pengaruh konsumsi permen karet yang mengandung xylitol terhadap
pembentukkan plak gigi. Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro.
Semarang. [Online] 2008 [cited September 2013]. Available
from:URL:http:eprints.undip.ac.id/24284/1/Putti.pdf
Farikha, DA. 2012. Bahan Tambahan Makanan Xylitol (Makalah). Universitas
Diponegoro.
Gavio, Maria Beatriz D. & Bilt, Andries Van der.. Salivary Secretion And Chewing
: Stimulatory Effects From Artificial And Natural Foods. Journal Of Applied
Oral Science 2004; 12(2) : 159-163
Haroen ER. Pengaruh stimulus pengunyahan dan pengecapan terhadap kecepatan
aliran dan pH saliva. Jakarta. JKGUI 2002 ; 9 (1) :29-34.
Harris NO, Christen AG. Primary preventive dentistry. 4th ed. Connectitut. Appleton
and Lange; 1995. p. 342348
Harris NO, Garcia-Godoy F. Primary Preventive Dentistry 6thed. New Jersey:
Pearson Prentice Hall. 2004: 12: 337-60, 119-37.
Hartini, Dewi. 2009. Perbedaan Pengaruh Mengunyah Permen Karet yang
Mengandung Sukrosa dan Xylitol-Sorbitol terhadap Perubahan pH Saliva
(Studi Eksperimental pada Siswa SD Negeri Wirosari 02 Kabupaten Kendal
(Thesis). Universitas Diponegoro.
Hasibuan, S., 2002, KeluhanMulutKeringDitinjaudariFaktorPenyebab,
ManifestasidanPenanggulangannya, FakultasKedokteranGigi, Universitas
Sumatera Utara.
Holgeston, P.L. 2007. Xylitol and its effect on oral ecology. Departement of
odontology.Paediatric. Dentistry Fakulty of Medicine. Umea. Hal.16-20.
Jamil JA. 2011. Rodian Mochammad. 2012. Efek Mengunyah Permen Karet yang
Mengandung Sukrosa, Xylitol, Probiotik terhadap Volume, Kecepatan Aliran,
Viskositas, pH, dan Jumlah Koloni Streptococcus mutans Saliva.
Khairunissa, Resti. Presentasi Kimia Pangan II. (online) (cited Juni 2012). Available
from:http://www.scribd.com/doc/32459843/presentasi-kimia-pangan-2xylitol.
Koivistoinen Pekka and Hyvonen Lea. 1980. Carbohydrate Sweeteners in Foods and

Nutrition. London. Academic Press INC (London) LTD. pp. 269-284.


Kusumaningsih T. Hubungan antara indeks keparahan karies dengan jumlah
lactobacillus sp. di dalam saliva anak taman kanak-kanak. Majalah
Kedokteran Gigi FKG Unair Okt-Des 1999; 32(4): 2916.
Maguire, A ; A. J. Rugg-Gunn. 2003. Xylitol and caries prevention is it a magic
bullet.British Dental Journal. Vol. 194 No.
Nanci A. Oral histology development, structure, and function. St Louis : Mosby
Elsevier, 2008 : 290-93, 296-300. )
Rachima, Soraya. 2008. Pengaruh Permen Karet Dengan Pemanis Xylitol terhadap
pH Plak (Skripsi). Universitas Diponegoro.
Rhoades, R, Bell, DR 2103, Medical Physiology: Principles of Clinical Medicine, 4th
Edition, Wolters Kluwer, Philadelphia.
Shafer, Hine and Levy. 2012. Shafers Textbook of Oral Pathology. 7th edition.India:
Elsevier. p434-435
Soesilo, D.; Rinna, E. S.; Indeswati, D. 2005. Peranan sorbitol dalam
mempertahankan kestabilan pH saliva pada proses pencegahan karies Maj.
Ked. Gigi. (Dent. J.), Vol. 38. No. 1: 2528

Anda mungkin juga menyukai