Anda di halaman 1dari 2

Biro Dakwah Amar Maaruf Nahi Munkar, Masjid Jamek Kampung Nakhoda

Mimbar Nakhoda O a
BIL: 28/ZULQAIDAH 1436H/SEPTEMBER 2015M

PERCUMA UNTUK AHLI JEMAAH MASJID

P
ng
geer
rt
tiia
an
n,, H
Hu
uk
ku
um
m,, SSu
un
nn
na
ah
h,, JJeen
niiss,,
Peen
T
Ta
at
ta
aC
Ca
ar
ra
aD
Da
an
nM
Ma
an
nffa
aa
at
tH
Ha
ajjii

Pengertian Haji
Haji berasal dari Bahasa Arab: ( Hajj) adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah mengucap dua kalimat syahadat, salat 5 waktu, mengeluarkan zakat dan puasa di bulan
Ramadhon. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan
melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang
bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9
Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai
Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini. Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju, mengunjungi, atau berziarah. Menurut etimologi (bahasa)
kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk memenuhi panggilan
Allah dan mengharapkan rida Nya yang telah ditentukan syarat dan waktunya serta melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat
tertentu dalam definisi diatas, selain Kabah dan Masa(tempat sai), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari
Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sai, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.
Apabila seorang muslim menjalankan ibadah haji maka ia akan di beri gelar haji, haji adalah sebutan atau gelar untuk pria muslim yang telah berhasil menjalankan ibadah haji. Umum
digunakan sebagai tambahan di depan nama dan sering disingkat dengan H. Dalam hal ini biasanya para Haji membubuhkan gelarnya dianggap oleh mayoritas masyarakat sebagai
tauladan maupun contoh di daerah mereka. Bisa dikatakan sebagai guru atau panutan untuk memberikan contoh sikap secara lahiriah dan batiniah dalam segi Islam sehari-hari.
Hukum Haji
Hukum menunaikan ibadah haji adalah wajib bagi setiap muslim yang mampu dan berkewajiban itu hanya sekali seumur hidup. Apabila melakukannya lebih dari satu kali, maka haji
yang kedua dan seterusnya hukumnya sunnah. Sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran (3) : 97. Artinya : Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah
melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana. Adapun yang dimaksud istitaah (mampu dan kuasa) dalam
melaksanakan ibadah haji adalah sebagai berikut:
1. Menguasai tata cara pelaksanaan haji
2. Syarat mampu bagi laki-laki dan perempuan adalah: (a) mampu dari sisi bekal dan kendaraan, (b) sehat jasmani , artinya tidak dalam keadaan sakit atau mengidap penyakit yang
dapat membahayakan dirinya atau jemaah lain. Selain itu juga adanya persiapan mental dengan cara menyucikan hati seperti berdoa, berzikir atau bersedekah, (c) jalan penuh rasa
aman, (d) mampu melakukan perjalanan.
3. Mampu dari sisi bekal mencakup kelebihan dari tiga kebutuhan: (a) nafkah bagi keluarga yang ditinggal dan yang diberi nafkah (b) kebutuhan keluarga berupa tempat tinggal dan
pakaian, (c) penunaian utang.
4. Syarat mampu yang khusus bagi perempuan adalah: (a) ditemani suami atau mahrom, (b) tidak berada dalam masa iddah.
5. Memiliki biaya untuk perjalanan ke tempat haji.
Dalil As-Sunnah
Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,




;


;


Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16). Hadits ini menunjukkan bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam. Ini berarti menunjukkan
wajibnya.
Dari Abu Hurairah, ia berkata,


;

W
\
.;


;





Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda, Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka
berhajilah. Lantas ada yang bertanya, Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)? Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali.
Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam lantas bersabda, Seandainya aku mengatakan iya, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup
(HR. Muslim no. 1337). Sungguh banyak sekali hadits yang menyebutkan wajibnya haji hingga mencapai derajat mutawatir (jalur yang amat banyak) sehingga kita dapat memastikan
hukum haji itu wajib.
Latar Belakang Ibadah Haji
Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk
umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sai, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya.
Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara (syariat), sebagaimana yang diatur dalam alQuran dan sunnah rasul. Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama nabi Ibrahim (nabinya
agama Tauhid). Ritual thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum nabi Ibarahim. Ritual sai, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah
(daerah agak tinggi di sekitar Kabah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari
susu untuk anaknya nabi Ismail. Sementara wukuf di Arafah adalah ritual untuk mengenang tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, yaitu asal mula dari kelahiran
seluruh umat manusia.
Jenis Ibadah Haji
Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis ibadah haji yang ingin dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu, sebagaimana terlihat dalam hadis berikut. Aisyah
RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Di antara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram
untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak
melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar. Berikut adalah jenis dan pengertian haji yang dimaksud.
1. Haji ifrad, berarti menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad bila sesorang bermaksud menyendirikan, baik menyendirikan haji maupun menyendirikan umrah. Dalam hal
ini, yang didahulukan adalah ibadah haji. Artinya, ketika mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, orang tersebut berniat melaksanakan ibadah haji dahulu. Apabila ibadah haji
sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan umrah.
2. Haji tamattu, mempunyai arti bersenang-senang atau bersantai-santai dengan melakukan umrah terlebih dahulu di bulan-bulah haji, lain bertahallul. Kemudian mengenakan
pakaian ihram lagi untuk melaksanakan ibadah haji, ditahun yang sama. Tamattu dapat juga berarti melaksanakan ibadah di dalam bulan-bulan serta di dalam tahun yang sama,
tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.
3. Haji qiran, mengandung arti menggabungkan, menyatukan atau menyekaliguskan. Yang dimaksud disini adalah menyatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan
ibadah haji dan umrah. Haji qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin
akan memakan waktu lama. Menurut Abu Hanifah, melaksanakan haji qiran, berarti melakukan dua thawaf dan dua sai.

SYARAT DAN RUKUN HAJI


Syarat Wajib Haji
Syarat Wajib Haji adalah ketentuan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan melaksanakan ibadah haji. Syarat tersebut sebagai berikut: 1) Beragama Islam 2)
Telah dewasa dan baligh 3) Berakal sehat 4) Merdeka, bukan budak atau hamba 5) Mampu (istitaah). Catatan: Anak yang belum dewasa apabila menunaikan ibadah
haji maka hukumnya sunnah sehingga ia harus mengulang menunaikan ibadah haji karena hukumnya masih wajib baginya apabila sudah dewasa.
Syarat Sah Haji
Syarat Sah Haji adalah seperti berikut: 1) Islam 2) Berakal 3) Miqot zamani, artinya haji dilakukan di waktu tertentu pada bulan-bulan haji, tidak di waktu lainnya.
Abullah bin Umar, mayoritas sahabat dan ulama sesudahnya berkata bahwa waktu tersebut adalah bulan Syawwal, Dzulqodah, dan sepuluh hari pertama dari bulan
Dzulhijjah. 4) Miqot makani, artinya haji penunaian rukun dan wajib haji dilakukan di tempat tertentu yang telah ditetapkan, tidak sah dilakukan tempat lainnya. Wukuf
dilakukan di daerah Arofah. Thowaf dilakukan di sekeliling Kabah. Sai dilakukan di jalan antara Shofa dan Marwah.
Rukun Haji
Rukun haji adalah rangjaian amalan haji yang harus dikerjakan. Apabila amalan tersebut tidak dikerjakan. Apabila amalan tersebut tidak dikerjakan maka ibadah hajinya
tidak sah atau batal dan tidak boleh diganti dengan dam atau denda. Akan tetapi, harus mengulang hajinya pada waktu yang lain. Adapun yang termasuk rukun haji
adalah sebagai berikut: 1) Ihram 2) Wukuf di Arafah 3) Thowaf ifadhoh 4) Sai 5) Tahalul iaitu bercukur 6) Tertib dan berurutan. Jika salah satu dari rukun ini tidak ada,
maka haji yang dilakukan tidak sah.
Rukun pertama: Ihram
Yang dimaksud dengan ihram adalah niatan untuk masuk dalam manasik haji. Siapa yang meninggalkan niat ini, hajinya tidak sah. Dalilnya adalah sabda Nabi
shallallahu alaihi wasallam,

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Wajib ihram mencakup: 1) Ihram dari miqot. 2) Tidak memakai pakaian berjahit yang menunjukkan lekuk badan atau anggota tubuh. Laki-laki tidak diperkenankan
memakai baju, jubah, mantel, imamah, penutup kepala, khuf atau sepatu kecuali jika tidak mendapati khuf. Wanita tidak diperkenankan memakai niqob penutup wajah
dan sarung tangan. 3) Bertalbiyah. 4) Mengucapkan niat haji atau umroh atau kedua-duanya, sebaiknya dilakukan setelah shalat, setelah berniat untuk manasik. Namun
jika berniat ketika telah naik kendaraan, maka itu juga boleh sebelum sampai di miqot. Jika telah sampai miqot namun belum berniat, berarti dianggap telah melewati
miqot tanpa berihram. Lafazh talbiyah:


.

.



.

Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik Laa Syariika Laka Labbaik. Innalhamda Wan Nimata, Laka Wal Mulk, Laa Syariika Lak.
(Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan mengeraskan suara.
Rukun kedua: Wukuf di Arafah
Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling penting. Siapa yang luput dari wukuf di Arafah, hajinya tidak sah. Ibnu Rusyd berkata, Para ulama sepakat bahwa
wukuf di Arafah adalah bagian dari rukun haji dan siapa yang luput, maka harus ada haji pengganti (di tahun yang lain). Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Haji adalah wukuf di Arafah. (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015)
Yang dimaksud wukuf adalah hadir dan berada di daerah mana saja di Arafah, walaupun dalam keadaan tidur, sadar, berkendaraan, duduk, berbaring atau berjalan, baik
pula dalam keadaan suci atau tidak suci seperti haidh, nifas atau junub (Fiqih Sunnah, 1: 494). Waktu dikatakan wukuf di Arafah adalah waktu mulai dari matahari
tergelincir (waktu zawal) pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu terbit fajar Shubuh (masuk waktu Shubuh) pada hari nahr (10 Dzulhijjah). Jika seseorang wukuf
di Arafah selain waktu tersebut, wukufnya tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama (Al Mawsuah Al Fiqhiyah, 17: 49-50). Jika seseorang wukuf di waktu mana
saja dari waktu tadi, baik di sebagian siang atau malam, maka itu sudah cukup. Namun jika ia wukuf di siang hari, maka ia wajib wukuf hingga matahari telah
tenggelam. Jika ia wukuf di malam hari, ia tidak punya keharusan apa-apa. Madzab Imam Syafii berpendapat bahwa wukuf di Arafah hingga malam adalah sunnah
(Fiqih Sunnah, 1: 494). Sayid Sabiq mengatakan, Naik ke Jabal Rahmah dan meyakini wukuf di situ afdhol (lebih utama), itu keliru, itu bukan termasuk ajaran Rasul
shallallahu alaihi wasallam. (Fiqih Sunnah, 1: 495)
Rukun ketiga: Thowaf Ifadhoh (Thowaf Ziyaroh)
Thowaf adalah mengitari Kabah sebanyak tujuh kali. Dalilnya adalah firman Allah Taala,

Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (QS. Al Hajj: 29)
Syarat-syarat thowaf: 1) Berniat ketika melakukan thowaf. 2) Suci dari hadats (menurut pendapat mayoritas ulama). 3) Menutup aurat karena thowaf itu seperti shalat. 4)
Thowaf dilakukan di dalam masjid walau jauh dari Kabah. 5) Kabah berada di sebelah kiri orang yang berthowaf. 6) Thowaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran. 7)
Thowaf dilakukan berturut-turut tanpa ada selang jika tidak ada hajat. 8) Memulai thowaf dari Hajar Aswad. Catatan: Ulama Syafiiyah berkata, Jika idh-tibaa dan
roml dilakukan saat thowaf qudum kemudian melakukan sai setelah itu, maka idh-tibaa dan roml tidak perlu diulangi lagi dalam thowaf ifadhoh. Namun jika sai (haji)
diakhirkan hingga thowaf ifadhoh, maka disunnahkan melakukan idh-tibaa dan roml ketika itu (Fiqih Sunnah, 1: 480). Tidak ada bacaan dzikir atau doa tertentu untuk
setiap putaran saat thowaf. Sebagian jamaah menganjurkan demikian, namun tidak ada dalil pendukung dalam hal ini, bahkan sering memberatkan.
Rukun keempat: Sai
Sai adalah berjalan antara Shofa dan Marwah dalam rangka ibadah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Lakukanlah sai karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya. (HR. Ahmad 6: 421)
Syarat sai: 1) Niat. 2) Berurutan antara thowaf, lalu sai. 3) Dilakukan berturut-turut antara setiap putaran. Namun jika ada sela waktu sebentar antara putaran, maka
tidak mengapa, apalagi jika benar-benar butuh. 4) Menyempurnakan hingga tujuh kali putaran. 5) Dilakukan setelah melakukan thowaf yang shahih.
Rukun kelima: Tahallul
Tahalul (bercukur), yaitu menggunting rambut sebagai tanda mengakhiri rangkaian ibadah haji / umrah dengan kadar minimal 3 helai rambut. Tahalul termasuk salah
satu rukun haji sebagai penghalal terhadap beberapa hal yang diharamkan dalam haji
Rukun keenam: Tertib dan berurutan
Yaitu melaksanakan semua amalan haji yang termasuk rukun Islam secara berurutan dari awal sampai akhir.

Mimbar Nakhoda ini diterbitkan secara bulanan oleh Biro Dakwah Amar Maaruf Nahi Munkar, Masjid Jamek Kampung
Nakhoda, Jalan Nakhoda Tengah, 68100 Batu Caves, Selangor Darul Ehsan dengan kerjasama Naqsyabandi Akademi
Quran Sunnah Hadits, Madrasah Ulul Azmi, Kampung Sepakat Wira Damai, Batu Caves. Cetakan adalah terhad, maka
digalakkan untuk difotostat dan diedarkan kepada orang lain, semoga Allah memberkati dan memberikan ganjaran
pahala yang berterusan, Amin.

Ketua Editor: Ust. Jalalluddin Ahmad Ar-Rowi / Penolong Editor: Sdr. Muhammad Taufiq

Biro Dakwah Amar Maaruf Nahi Munkar, Masjid Jamek Kampung Nakhoda

KEWAJIBAN DAN SUNNAH HAJI


Rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah: 1) Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat
Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram. 2) Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina). 3) Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah. 4) Mabit di Mina pada hari Tasyrik
(tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah). 5) Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah). 6) Tawaf Wada, Yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah. 7) Meninggalkan
perbuatan yang dilarang waktu ihram.

Sunnah Haji
Sunnah-Sunnah Ihram:
1. Mandi ketika ihram - Berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengganti pakaiannya untuk ihram lalu mandi.
2. Memakai minyak wangi di badan sebelum ihram - Berdasarkan hadits Aisyah ia berkata, Aku pernah memberi wewangian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallulnya sebelum
melakukan thawaf di Kabah.
3. Berihram dengan kain ihram (baik yang atas maupun yang bawah) yang berwarna putih - Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berangkat dari Madinah setelah beliau menyisir rambut dan
memakai minyak, lalu beliau dan para Sahabat memakai rida dan izar (kain ihram yang atas dan yang bawah). Adapun disunnahkannya yang berwarna putih berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda:

Pakailah pakaianmu yang putih, sesungguhnya pakaian yang putih adalah pakaianmu yang terbaik dan kafankanlah orang-orang yang wafat di antara kalian dengannya.

4. Shalat di lembah Aqiq bagi orang yang melewatinya - Berdasarkan hadits Umar, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda di lembah Aqiq:

_
:

Tadi malam, telah datang kepadaku utusan Rabb-ku dan berkata, Shalatlah di lembah yang diberkahi ini dan katakan (niatkan) umrah dalam haji.
5. Mengangkat suara ketika membaca talbiyah - Berdasarkan hadits as-Saib bin Khalladi, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:




_

Telah datang kepadaku Jibril dan memerintahkan kepadaku agar aku memerintahkan para Sahabatku supaya mereka mengeraskan suara mereka ketika membaca talbiyah.
Oleh karena itu, dulu para Sahabat Rasulullah berteriak. Ibnu Hazm rahimahullah berkata, Dulu ketika Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berihram suara mereka telah parau sebelum mencapai Rauha.
6. Bertahmid, bertasbih dan bertakbir sebelum mulai ihram - Berdasarkan hadits Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam shalat Zhuhur empat rakaat di Madinah sedangkan kami bersama beliau, dan beliau shalat
Ashar di Dzul Hulaifah dua rakaat, beliau menginap di sana sampai pagi, lalu menaiki kendaraan hingga sampai di Baidha, kemudian beliau memuji Allah bertasbih dan bertakbir, lalu beliau berihram untuk haji dan umrah.
7. Berihram menghadap Kiblat - Berdasarkan hadits Nafi, ia berkata, Dahulu ketika Ibnu Umar selesai melaksanakan shalat Shubuh di Dzul Hulaifah, ia memerintahkan agar rombongan mulai berjalan. Maka rombongan pun berjalan,
lalu ia naik ke kendaraan. Ketika rombongan telah sama rata, ia berdiri menghadap Kiblat dan bertalbiyah Ia mengi-ra dengan pasti bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan hal ini.
Sunnah-Sunnah Ketika Masuk Kota Makkah:
Menginap di Dzu Thuwa, mandi untuk memasuki kota Makkah dan masuk kota Makkah pada siang hari. Dari Nafi, ia berkata, Dahulu ketika Ibnu Umar telah dekat dengan kota Makkah, ia menghentikan talbiyah, kemudian beliau
menginap di Dzu Thuwa, shalat Subuh di sana dan mandi. Beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan hal ini. Memasuki kota Makkah dari ats-Tsaniyah al-Ulya (jalan atas) - Berdasarkan hadits Ibnu
Umar, ia berkata, Dulu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memasuki kota Makkah dari ats-Tsaniyah al-ulya (jalan atas) dan keluar dari ats-Tsaniyah as-Sufla (jalan bawah). Mendahulukan kaki kanan ketika masuk ke dalam masjid
haram dan membaca:



r

Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, dengan wajah-Nya Yang Mahamulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari syaitan yang terkutuk. Dengan Nama Allah dan semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Muhammad, Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.
Mengangkat tangan ketika melihat Kabah - Apabila ia melihat Kabah, mengangkat tangan jika mau, karena hal ini benar shahih dari Ibnu Abbas. Kemudian berdoa dengan doa yang mudah dan apabila ia mau berdoa dengan doanya
Umar juga baik, sebab doa ini pun shahih dari Umar. Doa beliau:

Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan dari-Mu keselamatan, serta hidupkanlah kami, wahai Rabb kami dengan keselamatan.
Sunah-Sunnah Thawaf
Al-Idhthiba - Yaitu memasukkan tengah-tengah kain ihram di bawah ketiak kanan dan menyelempangkan ujungnya di pundak kiri sehingga pundak kanan terbuka, berdasarkan hadits Yala bin Umayyah bahwasanya Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam thawaf dengan idhthiba. Mengusap Hajar Aswad - Berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika tiba di Makkah mengusap
Hajar Aswad di awal thawaf, beliau thawaf sambil berlari-lari kecil di tiga putaran pertama dari tujuh putaran thawaf. Mencium Hajar Aswad - Berdasarkan hadits Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata, Aku melihat Umar bin alKhaththab Radhiyallahu anhu mencium Hajar As-wad dan berkata, Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu. Sujud di atas Hajar Aswad - Berdasarkan
hadits Ibnu Umar, ia berkata, Aku melihat Umar bin al-Khaththab mencium Hajar Aswad lalu sujud di atasnya kemudian ia kembali menciumnya dan sujud di atasnya, kemudian ia berkata, Beginilah aku melihat Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Bertakbir setiap melewati Hajar Aswad - Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam thawaf mengelilingi Kabah di atas untanya, setiap beliau melewati Hajar Aswad beliau memberi
isyarat dengan sesuatu yang ada pada beliau kemudian bertakbir. Berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama thawaf yang pertama kali (thawaf qudum) - Berdasarkan hadits Ibnu Umar, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam ketika thawaf mengitari Kabah, thawaf yang pertama kali, beliau berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan empat putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir kembali di Hajar Aswad. Mengusap rukun Yamani - Berdasarkan
hadits Ibnu Umar, ia berkata, Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap Kabah kecuali dua rukun Yamani (rukun Yamani dan Hajar Aswad). Berdoa di antara dua rukun (rukun Yamani dan Hajar
Aswad) dengan doa sebagai berikut:

Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka.
Shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim setelah thawaf - Berdasarkan hadits Ibnu Umar, ia berkata, Setelah tiba, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam thawaf mengelilingi Kabah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di
belakang maqam Ibrahim dan sai antara Shafa dan Marwah. Selanjutnya beliau berkata:

Sebelum shalat di belakang Maqam Ibrahim membaca:

Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh yang baik bagimu.


~

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim itu tempat shalat.

Kemudian membaca dalam shalat dua rakaat itu surat al-Ikhlash dan surat al-Kaafirun, berdasarkan hadits Jabir bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau sampai di maqam Ibrahim Alaihissallam beliau membaca:

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim itu tempat shalat.

Lalu beliau shalat dua rakaat, beliau membaca dalam shalat dua rakaat itu {
} dan { } . Iltizam tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Kabah dengan cara menempelkan dada, wajah dan lengannya pada Kabah Berdasarkan hadits Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, Aku pernah thawaf bersama Abdullah bin Amr, ketika kami telah selesai dari tujuh putaran tersebut kami shalat di belakang Kabah. Lalu aku bertanya,
Apakah engkau tidak memohon perlindungan kepada Allah? Ia menjawab, Aku berlindung kepada Allah dari api Neraka. Berkata (perawi), Setelah itu ia pergi dan mengusap Hajar Aswad. Lalu beliau berdiri di antara Hajar Aswad dan
pintu Kabah, beliau menempelkan dada, tangannya dan pipinya ke dinding Kabah, kemudian berkata, Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal ini. Minum air zamzam dan mencuci kepala dengannya Berdasarkan hadits Jabir bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan hal tersebut.
Sunnah-Sunnah Sai:
Mengusap Hajar Aswad dan membaca:

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullaah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai di antara keduanya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan suatu ke-bajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Mahamen syukuri kebaikan lagi Mahamengetahui. [Al-Baqarah: 158]

Kemudian membaca:

Kami mulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.

Bacaan ini dibaca setelah dekat dengan Shafa ketika melakukan sai. Berdoa di Shafa - Ketika berada di Shafa, menghadap Kiblat dan membaca:




r r r



Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi
dengan benar selain Allah semata. Yang melaksanakan janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mengalahkan golongan musuh sendirian.
Berlari-lari kecil dengan sungguh-sungguh antara dua tanda hijau. Ketika berada di Marwah mengerjakan seperti apa yang dilakukan di Shafa, baik menghadap Kiblat, bertakbir maupun berdoa
Sunnah-Sunnah Ketika Keluar dari Mina:
1)
Ihram untuk haji pada hari Tarwiyah dari tempat tinggal masing-masing
2)
Shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya di Mina pada hari Tarwiyah, serta menginap di sana hingga shalat Shubuh dan matahari telah terbit
3)
Pada hari Arafah, menjamak shalat Zhuhur dan Ashar di Namirah
4)
Tidak meninggalkan Arafah sebelum matahari tenggelam.

L ARANG AN DA L AM H AJI
Bagi jemaah haji atau umrah terdapat larangan yang tidak boleh diabaikan. Larangan tersebut adalah sebagai berikut.
1) Larangan bagi jemaah haji laki laki memakai pakaian yang dijahit dan memakai tutup kepala.
2) Larangan bagi jemaah perempuan memakai tutup muka dan sarung tangan.
Larangan bagi jemaah haji laki laki dan perempuan antara lain memakai wewangian, mencabut dan mencukur rambut dan bulu badan, memotong
kuku, menikah atau menjadi wali nikah, berhubungan suami istri, memburu, membunuh binatang, berkata yang tidak senonoh, dan berbuat maksiat.
Pengertian dan Jenis Dam
Pengertian Dam dari segi bahasa ialah darah, yakni denda yang dikenakan oleh jemaah haji yang melanggar larangan atau meninggalkan wajib haji
atau umroh.
1. Melanggar pantang larang dalam Ihram
2. Meninggalkan perkara-perkara yang wajib dalam ibadah haji atau umrah
3. Mengerjakan Haji Tamattu atau Haji Qiran, menurut syarat-syaratnya
4. Berlaku Ihsar bagi orang yang berniat ihram
5. Melanggar Nazar semasa mengerjakan haji
6. Luput Wuquf di Arafah
7. Meninggalkan Tawaf Wada
Dam sebagai pengganti
Ada beberapa hal wajib saat melakukan ibadah haji yang bisa digantikan dengan Dam sebagai berikut ini:
1. Dam Hadyu - Yaitu dam yang diwajibkan bagi mereka yang melaksanakan haji Tamattu atau haji Qiran, dan jika tidak mampu membeli binatang
hadyu, maka wajib melaksanakan puasa selama 10 hari. Tiga hari dilakukan pada masa haji dan yang tujuh hari dilakukan setelah kembali ke kampung
halaman. Hal ini berdasarkan pada firman Allah Subhannahu wa Taala:
Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) binatang hadyu yang mudah
didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang hadyu atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali
2. Dam Fidyah (tebusan) - Yaitu dam yang diwajibkan atas orang yang sedang dalam ihram, lalu mencukur rambutnya karena sakit atau sesuatu yang
mengganggu kepalanya, seperti kutu dan lain sebagainya, berdasarkan pada firman Allah:
Maka jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya untuk berfidyah, yaitu
berpuasa, bersedekah atau berkurban
Ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagaimana tersebut dalam hadits Kaab bin Ujrah Radhiallaahu anhu , ia
berkata: Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melewatinya pada masa Hudaibiyyah, lalu berkata: Sungguh kutu kepalamu telah
menggang-gumu?, Ia berkata: Ya!Maka beliaupun bersabda: Cukurlah kemudian sembelih-lah seekor kambing atau berpuasalah tiga hari atau
berilah makan berupa tiga sha kurma yang dibagikan kepada enam orang miskin.'
3. Dam Jazaa - Yaitu dam yang wajib dibayar oleh orang yang sedang berihram bila membu-nuh binatang buruan darat. Adapun bina-tang buruan
laut, maka tidak ada dendanya.
4. Dam Ihshar - Dam yang wajib dibayar oleh jamaah haji yang tertahan atau terkepung sehingga tidak dapat menyempurnakan manasik hajinya, baik
tertahannya disebabkan karena sakit, terhalang oleh musuh atau sebab-sebab lainnya, sementara dia tidak mengucapkan persyaratannya pada awal
ihramnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Taala
Maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), sembelihlah binatang hadyu yang mudah didapat
5. Dam Jima - Yaitu dam yang diwajibkan kepada jamaah haji yang dengan sengaja mengum-puli isterinya ditengah pelaksanaan iba-dah haji. Dalam
kitabnya Ahkaamul Hajj Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qarawi menuturkan: Adapun orang yang mengerjakan hal-hal yang menjerumuskan
kepada jima (senggama), maka wajib bagi-nya menyembelih seekor kambing untuk para fuqara yang bermukim di tanah Haram. Adapun jima,
apabila dilakukan sebelum tahallul yang pertama (sebelum melempar jumratul Aqabah,-Pent), maka perbuatan itu merusak (membatalkan) ibadah
hajinya, hanya saja ibadah tersebut wajib disempurnakan dan wajib bagi pelakunya menyembelih seekor unta untuk dibagikan kepada para fuqara di
tanah suci. Apabila tidak mendapatkan/tidak mampu, maka wajib berpuasa selama se-puluh hari, tiga hari pada masa haji dan tujuh hari jika telah
kembali kepada ke-luarganya. Hal ini berdasarkan pada pendapat Umar (bin al-Khaththab), Ali (bin Abi Thalib) dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ,
se-bagaimana yang diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya. Demikian pula pendapat tersebut adalah pendapat Abdullah bin Abbas, Abdullah bin
Umar dan Abdul-lah bin Amr bin al-Ash Radhiallaahu anhu , sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim serta ad-Daruqthni dan yang
lainnya dari mereka.
Fungsi Haji
Di antara fungsi Haji adalah sebagai berikut:

a. Hikmah Haji Secara Umum


1) Pernyataan ketaatan seorang kepada Tuhannya.
2) Ibadah haji merupakan sarana untuk menunjukkan kebesaran Allah.
3) Ibadah haji merupakan ujian iman
4) Ibadah haji merupakan kongres akbar
5) Ibadah haji memberikan jaminan yang besar dari Allah berupa ampunan dari dosa dan surga.
6) Mempererat ukuwah Islamiyah antarsesama muslim dari berbagai penjuru dunia.
7) Perwujudan solidaritas Islam yang tidak terbatas oleh suku, bangsa, ras, kulit, dan negara.
b. Hikmah Haji Bagi Pelakunya
1) Memperteguh iman dan takwa kepada Allah swt.
2) Dapat mengambil pelajaran dari segal penderitaan yang dirasakan selama mengerjakan ibadah haji.
3) Memperkuat fisik dan mental
4) Menumbuhkan semangat berkorban karena ibadah haji memerlukan pengorbanan yang besar, baik tenaga, waktu, maupun biaya.
5) Mengenal tempat tempat bersejarah, seperti Kabah, Bukit Safa dan Marwah, sumur zam -zam, dan Hajar Aswad.