Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang banyak
menyerang wanita. Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa
dikatatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau
kanker. Perjalanan penyakit yang silent killer atau secara diam-diam menyebabkan
banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang kista ovarium
dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau membesar.
Kista ovarium juga dapat berubah menjadi ganas dan berubah menjadi kanker
ovarium. Untuk mengetahui dan mencegah agar tidak terjadi kanker ovarium
maka seharusnya pendeteksian dini kanker ovarium dengan pemeriksaan yang
lebih lengkap sehingga dengan ini pencegahan terjadinya keganasan dapat
dilakukan.

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Kista ovarium adalah suatu benjolan yang berada di ovarium yang dapat
mengakibatkan pembesaran pada abdomen bagian bawah dimana pada kehamilan
yang disertai kista ovarium seolah-olah terjadi perlekatan ruang bila kehamilan
mulai membesar (Prawirohardjo, 2009).
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun besar, kistik maupun
solid, jinak maupun ganas (Wiknjosastro, 2007).
Kista indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam
jaringan ovarium. Kista ini disebut juga kista fungsional karena terbentuk setelah
telur dilepaskan sewaktu ovulasi (Yatim, 2005).
Kista ovarium (kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya
berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium) (Nugroho, 2010).
Kista ovarium adalah kantong berisi cairan atau bahan kental (semi solid) yang
terjadi di ovarium (Maimunah, 2004).

B. ETIOLOGI
Menurut Nugroho (2010), kista ovarium disebabkan oleh gangguan
(pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium.

Beberapa teori menyebutkan bahwa penyebab tumor adalah bahan


karsinogen seperti:

Rokok, bahan kimia, sisa-sisa pembakaran zat arang, bahan-bahan tambang.


Beberapa factor resiko berekembangnya kisat ovarium, adalah wanita yang
biasanya Memiliki:

a. Riwayat kista terdahulu

b. Siklus haid tidak teratur

c. Perut buncit

d. Menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)

e. Sulit hamil

f. Penderita hipotiroid

C. Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm
dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus
luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila
terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara
gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista

fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadangkadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh
gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk
karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang
berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan
choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes,
HCG menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi
infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH)
atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi
ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG. Kista neoplasia dapat
tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta
dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua
jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari
epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista
jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous.
Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini
adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel
primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan
germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.15 Endometrioma
adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada sindroma ovari
pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik
berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram.

D. MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya
sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapun kista yang berkembang menjadi
besar dan menimbulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak biasa dilihat
dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain
seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau
kanker ovarium.
Kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala. Namun
kadang-kadang kista dapat menyebabkan beberapa masalah seperti:
- Tekanan, terasa penuh, atau nyeri di abdomen
- Agak sakit pada bagian belakang bawah dan paha.
- Bermasalah dalam pengeluaran urine secara komplit
- Nyeri selama hubungan seksual.
- Peningkatan berat badan
- Nyeri pada saat menstruasi dan perdarahan abnormal
- Haid tak teratur
- Mual, ingin muntah, atau pergeseran payudara mirip seperti pada saat hamil.

E. KLASIFIKASI
A.Kista non fungsional
Suatu kista inklusi serosa terbentuk dari invaginasi pada epitel
permukaan ovarium, yang dilapisi epitel dan berdiameter <1 cm
(Sinclair, 2003: 603).

B. Kista fungsional

1) Kista unilokular atau kista sederhana


Kista ini biasanya terbentuk dari folikel praovulasi yang
mengandung oosit. Kista ini bisa memiliki ukuran 4 cm dan menetap
ke siklus selanjutnya. Kista dapat kembali kambuh dan sering terjadi
pada awal maupun akhir masa reproduksi. Lima puluh persen kista
sembuh dalam 60 hari. Nyeri dapat timbul akibat ruptur, torsi, atau
hemoragi (Sinclair, 2003: 603).

2) Kista folikel
Menurut Benson dan Pernoll (2008: 574) kista folikel adalah
struktur normal, fisiologis, sementara dan sering kali multiple, yang
berasal dari kegagalan resorbsi cairan folikel dari yang tidak berkembang
sempurna. Paling sering terjadi pada wanita muda yang masih
menstruasi dan merupakan kista yang paling lazim dijumpai dalam
ovarium normal.
Kista folikel biasanya tidak bergejala dan menghilang dengan
spontan dalam waktu <60 hari. Jika muncul gejalaPada pembelahan
ovarium kista korpus luteum memberi gambaran yang khas. Dinding
kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang
berasal dari sel-sel teka.
Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa
amenorea diikuti oleh perdarahan tidak teratur. Adanya kista dapat pula
menyebabkan rasa berat dibagian bawah. Perdarahan yang berulang
dalam kista dapat menyebabkan ruptur. Rasa nyeri di dalam perut yang

mendadak dengan adanya amenorea sering menimbulkan kesulitan


dalam diagnosis diferensial dengan kehamilan ektopik yang terganggu.
Jika dilakukan operasi, gambaran yang khas kista korpus luteum
memudahkan pembuatan diagnosis.
Penanganan kista korpus luteum ialah menunggu sampai kista hilang
sendiri. Dalam hal dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik
terganggu, kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium.

3) Kista theka-lutein
Kista theka lutein merupakan kista yang berisi cairan bening dan
berwana hitam seperti jerami. Timbulnya kista ini berkitan dengan tumor
ovarium dan terapi hormon (Nugroho, 2010:103).
Kista theka lutein biasanya bilateral, kecil dan lebih jarang
dibandingkan kista folikel atau kista korpus luteum. Kista teka lutein
diisi oleh cairan berwana kekuning-kuningan. Berhubungan dengan
penyakit trofoblastik kehamilan (misalnya mola hidatidosa dan
koriokarsinoma), kehamilan ganda atau kehamilan dengan penyulit
diabetes mellitus atau sensitisasi Rh, penyakit ovarium polikistik
(sindrom Stein-Laventhel) dan pemberian zat perangsang ovulasi
(misalnya klomifen atau terapi hCG). Komplikasi jarang terjadi meliputi
ruptur (dengan perdarahan intraperitoneal) serta torsi ovarium (Benson
dan Pernoll, 2008: 576).

4) Sindrom polikistik ovari (Policystic Ovarian Syndrom-PCOS)


7

Menurut Yatim (2005: 21-22), polikistik ovarium ditemukan pada 510% perempun usia dewasa tua sampai usia menopause, yang timbul
karena gangguan perkembangan folikel ovarium hingga tidak timbul
ovulasi. Penderita polikistik ini juga sering terlihat bulimia, androgen
meningkat dan prolaktin darah juga meningkat (hiperprolaktinemia).
Polikistik ovarium sering dijumpai pada pemeriksaan USG
perempuan usia pertengahan, tetapi bukan berarti tidak normal, mungkin
ini ada kaitannya dengan prevalensi siklus tidak terjadi ovulasi tinggi
pada kelompok usia ini.
Publikasi lain mengemukaan bahwa sindrom polikistik terdapat pada
5-10% perempuan menjelang umur menopause. Kejadian ini berkaitan
dengan gangguan hormone yang mulai terjadi pada kelompok umur
tersebut.
Perempuan yang mengandung polikistik dapat diketahui, antara lain:
a) Darah menstruasi yang keluar sedikit (oligomenorrhea).

b) Tidak keluar darah menstruasi (amenorrhea).

c) Tidak terjadi ovulasi.

d) Mandul.

e) Berjerawat.

F. DIAGNOSA
Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut
bagian bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti
sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah
dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor
tersebut. Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba
tersendiri, terpisah dari tumor. Jika tumor ovarium terletak di garis
tengah dalam rongga perut bagian bawah dan tumor itu
konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya adanya kehamilan
atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis perlulah
lebih cermat dan disertai pemeriksaan tambahan.
Di negara-negara berkembang, karena tidak segera
dioperasi tumor ovarium bisa menjadi besar, sehingga mengisi
seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang-kadang sukar untuk
menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor
atau ascites, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan
dengan teliti, kesukaran ini biasanya dapat diatasi.
Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan
ialah tumor ovarium, maka perlu diketahui apakah tumor itu bersifat
neoplastik

atau

nonneoplastik.

Tumor

nonneoplastik

akibat

peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan gejalagejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumortumor

akibat

peradangan

tidak

dapat

digerakkan

karena
9

perlengketan. Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar,


dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak dapat diperoleh
kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan
analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam
pembuatan differensial diagnosis.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis
adalah :
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal
dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor
berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau
solid, dan dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas
dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya,
pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor.
4. Parasintesis
10

Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan


bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista
bila dinding kista tertusuk.

H. PENATALAKSANAAN
Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor
nonneoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan
gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm
diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista
korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara
spontan dan menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama
2-3 bulan, jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan
tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor
besar itu bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan
operatif.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan pengangkatan tuba
(salphyngoooforektomi). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah
histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita
muda yang masih ingin mendapat keturunan dan dengan tingkat keganasan

11

tumor yang rendah, dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil resiko


dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Obstetri patologi dan Ginekologi. Bagian obstetric dan ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung; Elstar Offset Bandung.

F. Gary Cunningham, F. Gant N.(et al), alih bahasa, Andry Hartono, Y. Joko S.(et al).
2005. Obstetri William. Edisi 21. Cetakan pertama. Jakarta : Penerbit Buku

12

Kedokteran EGC.. p1036-1037.

Mas Soetomo Joedosepoetro Sutoto. 2005. Tumor Jinak Pada Alat-alat Genital. In :
Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editors. Ilmu Kandungan. Edisi
ketiga. Cetakan ketujuh. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo..
p.355-361.

Sutoto, M.S.J. 1994. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital, Ilmu Kandungan,Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, p : 346-365
William Helm, C.. 2005. Ovarian Cysts. American College of Obstetricians and
Gynecologists. Available at http://emedicine.com

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
-Nama
-Usia
-No.RM
-Alamat
-Jenis kelamin
-Agama
-Suku
-Kewarganegaraan
-Suami
-Tanggal MRS

: Ny.Suryani
: 40 tahun
: 093516
: Dusun Barat
: perempuan
: Islam
: Aceh
: Indonesia
: Tn.Zulkifli
: 06/07/2015

13

Anamnesa
Keluhan utama

: Sakit perut bawah selama 2 hari dan semakin


memberat
: Mual
: Os baru masuk pada jam 12 wib dengan keluhan
Sakit perut bawah 2 hari ini. Memberat hari ini,
Nyeri perut bagian bawah, keluar flek2 darah.
Os mengatakan pernah ke dokter spesialis
Kandungan dan dinyatakan ada tumor ovari.
: DM (-) , HT (-)
::-

Keluhan tambahan
Telaah

RPD
RPO
Riwayat Alergi Obat
3.1 Status Present
KU : Baik
Kes : CM
TD : 120/80 mmHg
HR : 78 x/i
RR : 20 x/i,
T
: 36,5 o c

anemis
sianosis
ikterus
dyspnue
oedem

:::::-

Status Obstretikus
Pasien tidak dalam kehamilan.
Diagnosa
Kista ovarium
Penanganan
IVFD (+) RL 20 tts/m
Rencana
Laparatomi

ANALISA KASUS
Pada kasus ini didapatkan seorang ibu umur 40 tahun, datang ke UGD
dengan keluhan Sakit perut bawah 2 hari ini. Memberat hari ini, Nyeri perut
bagian bawah, keluar flek2 darah .

14

Setelah dilakukan pemeriksaan melalui Anamnesis, Pemeriksaan fisik, Dan USG maka
ditegakkan diagnosa kista ovarium , lalu di lakukan penatalaksanaan sebagai berikut:

Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui


tindakan bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi
salpingooforektomi.
Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kista.
Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista
ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen
dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang
diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah
pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan
memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.

15

Anda mungkin juga menyukai