Anda di halaman 1dari 3

Ulama, Kiai, Mubalig, Artis...

2 Februari 2007 00:09:57

Oleh: A. Mustofa Bisri

Konon istilah mula-mula muncul sebagai kesepakatan


sesuatu kelompok atau kalangan tertentu. Istilah-
istilah hadis, misalnya, muncul dari kesepakatan
kalangan muhadditsin; istilah-istilah kesenian dari
kalangan seniman; dan. seterusnya. Namun
kemudian istilah-istilah yang beredar di masyarakat itu
sering mengalami kerancuan pengertian.

Antara lain, karena orang seenaknya saja


menggunakan istilah itu, dan tidak mau —atau tak
sempat— merujuk ke sumber asalnya. Kerancuan itu
ternyata membawa dampak dalam kehidupan
bermasyarakat. Inilah yang terjadi dengan istilah
“ulama”, “kiai” dan “mubalig”. Celakanya, yang bersangkutan -yang
dengan tidak tepat disebut ulama, kiai, atau mubalig— biasanya
malah mcrasa bangga dan tidak membantah. Kalaupun membantah,
biasanya dengan gaya basa-basi, sehingga semakin mendukung
penyebutan itu, atau setidaknya makin mengaburkan maknanya.
Sebab, meskipun sebutan ulama, kiai, atau mubalig itu mengundang
kehormatan dan tanggung jawab, yang segera tampak menggiurkan
justru kehormatannya. Baru setelah yang bersangkutan terbukti
melakukan hal yang tak sesuai dengan maqam, atau kedudukan
terhormat itu, orang menjadi bingung sendiri.

Yang lebih merepotkan, istilah "ulama" yang beredar dalam


masyarakat kita -seperti berbagai istilah lain- mempunyai "kelamin
ganda" dan berasal tidak hanya dari satu sumber. Dalam bahasa
Indonesia, ulama berarti "orang yang ahli dalam hal atau dalam
pengetahuan agama Islam" (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia,
hlm. 985). Sedangkan di Arab sendiri, 'ulama (bentuk jamak dari
‘alim) hanya mempunyai arti "orang yang berilmu".

'Ulama dalam peristilahan itulah yang sering disebut-sebut ulama


sebagai waratsatul anbiyaa (pewaris para Nabi). Merekalah yang
disebut sebagai hamba Allah yang paling takwa, pelita ummat dan
sebagainya. Banyak definisi mengenainya, tetapi semuanya
mengacu kepada satu pokok pengertian: ilmu dan amal.

Karena itu, disamping menguasai kandungan Al-Qur'an dan Sunnah,


mereka juga -sebagaimana Nabi- mesti yang pertama
mengamalkannya. Sebagai pewaris Nabi, setidaknya ulama mewarisi
-di atas rata-rata ummat mereka- ilmu, ketakwaan, kekuatan iman,
akhlak mulia, rasa tidak tahan melihat penderitaan ummat,
pengayoman, keberanian dalam menegakkan kebenaran dan
keadilan, dan keikhlasan serta keuletan dalam mengajak kepada
kebaikan. Dengan kelebihan-kelebihan itu, ulama tentulah
merupakan hamba-hamba yang paling takwa kepada Allah.

Dari sini saja, kita -atau setidaknya saya- merasa pesimistis: apakah
kini masih ada ulama? Ada saatnya ulama dengan pengertian itu
menjadi sinonim dari istilah kiai yang lebih bersifat budaya dalam
masyarakat kita. Bila orang menyebut kiai, segera teringat pengertian
ulama pewaris Nabi itu. Kenapa? Karena, meski dari segi ilmu dan
lain sebagainya, kiai -betapapun hebatnya- tidak bisa mendekati
ulama seperti yang dicontohkan dalam kitab-kitab kuning. Setidaknya
masyarakat masih melihat mereka mewarisi sifat-sifat keteladanan
mulia dan pengayoman yang teduh. Mereka membangun surau dan
pesantren untuk kepentingan masyarakat. Mendarmakan hidupnya
untuk Allah melalui khidmah (pelayanan)-nya kepada ummat. Karena
itu, bahkan tidak hanya kiainya secara pribadi, tapi juga keluarga dan
putra-putranya dihormati. Putranya yang laki-laki diberi julukan
terhormat: (ba)gus, dengan harapan kelak akan menjadi kiai
sebagaimana ayahnya.

Penghormatan yang terlalu dini kepada gus inilah yang mungkin


sering justru mencelakakan yang bersangkutan. Apalagi bila ternyata
kemudian -setelah sampai saatnya menggantikan orang tuanya-
kapasitas ilmu maupun keteladanan; budi pekertinya tidak mampu
mengatrolnya, minimal mendekati kapasitas orang tuanya.

Di pesantren, disamping pengajaran, sebenarnya yang lebih penting


lagi adalah pendidikan kiainya. Sulitnya, menyerap pendidikan tidak
semudah menyerap pelajaran. Maka janganlah heran apabila
kemudian lebih banyak santri yang menjadi pintar ketimbang yang
berakhlak.
Dari segi penampilan, boleh jadi orang yang pintar lebih tampak wah
dan cepat ngepop. Dengan menggelar ilmunya, orang akan segera
terpesona dan teringat kepada kiai sepuh yang juga berilmu. Apalagi
jika pandai bicara, dijamin cepat kondang. Orang pun lalu
menyebutnya sebagai kiai mubalig.

Istilah kiai mubalig ini pun agak rancu. Apalagi akhir-akhir ini di
mana-mana muncul mubalig yang tak jarang dengan sendirinya
disebut kiai. Mungkin karena keterbatasan memahami hadis
"Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat," maka meskipun hanya
punya satu ayat-dua ayat, ditambah ghirah ber-amar ma'ruf nahi
munkar, plus modal pintar ngomong jadilah seseorang sebagai
mubalig. Karena sebelumnya ada kiai yang bertablig, maka siapa pun
yang bertablig disebut juga kiai.

Lalu, seiring dengan maraknya kebidupan keagamaan, artis yang


memang luwes dan pelawak yang memang pintar bicara, yang
beragama Islam, pun tak mau hanya mendapatkan 'fid-dunya
hasanah'. Mengapa tidakjuga mencari ‘fid-akhirati khasanah’
Bukankah gerak-kegiatannya tidak begitu berbeda dan bahan
tersedia di mana-mana? Dan kiprah mereka di mimbar taklim tak
kalah dengan di pentas show, bahkan tak jarang mengalahkan
mubalig betulan.

Begitulah, lalu menjadi campur-aduk -barangkali sesuai zaman


globalisasi! Yang ulama, yang kiai, yang mubalig kiai (kiai yang
bertablig), yang kiai mubalig (disebut kiai karena tablig), yang artis
mubalig, dan yang mubalig artis, semuanya menjadi sulit dibedakan.
Apalagi bila gaya ulama dan kiai -termasuk berfatwa- juga dengan
baik telah ditiru mubalig dan artis; gaya mubalig dan artis -termasuk
"keluwesan" pergaulan dan glamour- juga sudah menulari ulama dan
kiai. Masya Allah!

Tuhan, apalagi yang hendak Engkau pertunjukkan kepada kami?


Ampunilah kami semua!