Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang
telinga. Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam.
Selain itu di daerah ini terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga
tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas. Fungsi saluran
Eustachius ini adalah menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan
menyesuaikannya dengan tekanan udara di dunia luar dan mengalirkan sedikit lendir
yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga tengah ke bagian belakang hidung.
Otitis media akut biasanya terjadi karena faktor pertahanan tuba Eustachius ini
terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis
media. Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga
tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi
peradangan.
Apabila otitis media akut mencapai stadium perforasi dan dibiarkan selama lebih
dari 2 bulan tanpa penanganan yang adekuat maka akan menjadi otitits media supuratif
kronik.
Penyakit otitis media ini masih sering dianggap remeh oleh sebagian besar
masyarakat padahal komplikasi lanjut dari penyakit ini bila tidak diobati adalah
gangguan pendengaran menjadi tuli dan timbul abses di otak sampai menyebabkan
kematian.
Kurangnya pengetahuan tentang penyakit Otitis media dan bahayanya komplikasi
yang ditimbulkan maka perhatian dan pengobatan pada penyakit ini tidak boleh
diabaikan agar terhindar dari komplikasi, berdasarkan kondisi tersebut maka dokter
muda perlu mengetahui tentang dasar klinis pada penyakit otitis media agar dapat
menegakkan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang baik.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk
mengangkat laporan kasus pada pasien dengan otitis media supuratif kronik.

BAB II
LAPORAN KASUS
1

A. Identitas Pasien
Nama
:
Jenis kelamin
:
Umur
:
Alamat
:
Pekerjaan
:
Tanggal berobat :

Ny. S
Perempuan
34 tahun
Bintara 6
Ibu rumah tangga
11 Agustus 2015

B. Anamnesis
1. Keluhan utama:

keluar cairan dari telinga kanan sejak 2 hari yang lalu

2. Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke poli THT dengan keluhan keluar cairan dari telinga kanan
sejak 2 hari yang lalu. Cairan berawarna bening dan encer. Telinga mendengung
sejak 1 hari dan lega bila cairan keluar dengan cara memiringkan kepala, sakit
pada telinga sudah dirasakan sejak 1 bulan. Pasien merasa telinga kanan
mengalami penurunan pendengaran. Pasien tidak merasa pusing. Pilek
disangkal, batuk disangkal, nyeri menelan disangkal, tidur mengorok disangkal.
Pasien mengatakan bersin bila bangun tidur dan terpapar debu. Pasien mengaku
memiliki kebiasaan mengorek telinga sejak lama.
3. Riwayat penyakit dahulu:
Keluhan telinga sering dirasakan > 2 bulan tapi sembuh sendiri.
4. Riwayat penyakit keluarga:
Riwayat keluhan yang sama, Diabetes Mellitus, Hipertensi, dan Asma dalam
keluarga disangkal

5. Riwayat allergi:
Pasien allergi debu, bersin dan mata merah gatal bila terpapar debu. Riwayat
allergi makanan, cuaca, dan obat-obatan disangkal
6. Riwayat pengobatan:
Pasien belum pernah berobat untuk sakit ini.
7. Riwayat psikososial:
Merokok dan mengkonsumsi kopi disangkal. Pasien tinggal dilingkungan padat
penduduk dengan banyak barang dirumah, pasien memelihara ayam. Sering
berenang disangkal.
C. Pemeriksaan Fisik
2

Keadaan umum
Kesadaran
Berat badan
Tanda Vital
Tekanan darah
Penafasan
Nadi
Suhu

: tampak sakit ringan


: composmentis
: 41 Kg
:
: 18 x/ menit
: 80 x/menit
: afebris

Status Generalis
1. Kepala
:
normocephal
2. Mata
:
konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik
(-/-), refleks pupil (+/+) pupil bulat isokor
3. Telinga
:
lihat status lokalis
4. Hidung
:
lihat status lokalis
5. Mulut
:
mukosa bibir lembab, gusi berdarah (-),
gigi ada karies(+), gigi berlubang (-)
6. Tenggorok
:
lihat status lokalis
7. Leher :
lihat status lokalis
8. Ekstremitas
a. Superior :
b. Inferior :

akral hangat, udem (-/-), RCT < 2 detik


akral hangat, udem (-/-), RCT < 2 detik

D. Status lokalis THT


1. Telinga
Tabel 1. Pemeriksaan telinga
AD
Normotia, hiperemis (-),
edema (-), helix sign (-),
tragus sign (-)

AS
Aurikula

Normotia, hiperemis (-),


edema (-), helix sign (-),
tragus sign (-)

Preaurikula
Tanda radang(-), pus(-), nyeri
tekan(-), fistula(-)
edema (-), hiperemis (-),
nyeri tekan (-), fistula (-),
tumor (-), sikatriks (-)
Hiperemis(-), edema (-),

Tanda radang(-), pus(-), nyeri


tekan(-), fistula(-)
Retroaurikula

edema (-), hiperemis (-), nyeri


tekan (-), fistula (-), tumor (-),
sikatriks (-)
Hiperemis (-), edema (-),
3

MAE
sekret (+), serumen(-),
massa(-)

Refleks cahaya (-), perforasi


(+) sentral, sekret (+),
serumen (-)

sekret (-), serumen (-),


massa (-)

Membran timpani
Refleks cahaya (+), perforasi
(-), sekret (-), serumen (-)

Uji Rinne

Lateralisasi (+)

Uji Weber

Lateralisasi (-)

Memanjang

Uji Schwabach

Sama dengan pemeriksa

Interpretasi : OMSK AD, AS normal

2. Hidung
Tabel 2. Pemeriksaan hidung
Dextra

Rhinoskopi anterior

Hiperemis (-)

Sinistra

Hiperemis (-)
Mukosa

Livide (+)

Livide (+)

Sekret

Menyempit

Konka inferior

Eutrofi

Deviasi (+)

Septum

Deviasi (-)

(-)

Massa

(-)
4

a. Sinus paranasal
1) Inspeksi
:
Pembengkakan pada wajah (-)
Pembengkakan daerah atas orbita (-)
2) Palpasi : Nyeri tekan pipi (-)
Nyeri tekan media orbita (-)
3. Tenggorok
Tabel 3. Pemeriksaan Nasofaring
Naofaring (Rhinoskopi posterior) (tidak dilakukan)
Konka superior
Torus tubarius
Fossa Rossenmuller
Plika salfingofaringeal
Tabel 4. Pemeriksaan Orofaring
Dextra

Pemeriksaan Orofaring

Sinistra

Hiperemis (-)

Mukosa mulut

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Palatum molle

Hiperemis (-)

Karies (+)

Gigi geligi

Karies (+)

Simetris

Uvula

Simetris

Tenang

Mukosa

Tenang

Mulut

Tonsil

T1

T1
Besar

Tidak melebar

Kripta

Tidak melebar

Detritus

Perlengketan

Tenang

Mukosa

Tenang

Granula

Post nasal drip

Faring

Tabel 5. Pemeriksaan Laringofaring


Laringofaring (Laringoskopi indirect) (tidak dilakukan)
Epiglotis
Plika ariepiglotika
Plika ventrikularis
Plika vokalis
Rima glotis
4. Leher
Tabel 6. Pemeriksaan Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Getah Bening (KGB)
Dextra

Pemeriksaan

Sinistra

Pembesaran (-)
Pembesaran (-)

Tiroid
Kelenjar submental

Pembesaran (-)
Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar submandibula

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)
Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis superior


Kelenjar jugularis media

Pembesaran (-)
Pembesaran (-)
6

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis inferior

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar suprasternal

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar supraklavikularis

Pembesaran (-)

E. Resume
Pasien wanita 34 tahun datang ke poli THT dengan keluhan keluar cairan dari
telinga kanan sejak 2 hari yang lalu. Cairan berawarna bening dan encer. Telinga
mendengung sejak 1 hari dan lega bila cairan keluar dengan cara memiringkan
kepala, sakit telinga sudah dirasakan sejak 1 bulan. Merasa penurunan pendengaran
pada telinga kanan. Bersin bila bangun tidur dan terpapar debu. Kebiasaan
mengorek telinga sejak lama. Pada hasil pemeriksaan didapatkan sekret dan
perforasi sentral membran timpani pada telinga kanan, uji penala: rinne AD (-), test
weber lateraisasi ke kanan, swabach AD memanjang, dan konka inferior kanan
menyempit, terdapat karies gigi.
F. Diagnosa Kerja
Otitis media supuratif kronis AD + Rhinitis alergi
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto rontgen mastoid
2. Foto rontgen sinus paranasal
3. Bakteriologi sekret
4. Audiogram
H. Penatalaksanaan
1. Non-medikamentosa
a. Hindari telinga dari kemasukan air
b. Menjaga pola hidup sehat
c. Menutup telinga dengan kapas saat mandi dan mengurangi aktivitas
berkeringat
2. Medikamentosa
1.
2.
3.
4.

Sol tarivid 3 dd V gtt


Klindamycin 2 dd 300 mg
Cetirizine 1 dd 10mg
Ambroxol 2 dd 30 mg
7

BAB III
OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK
A. Definisi
Otitis media supuratif kronik (OMSK) dahulu disebut Otitis Media
Perforata (OMP) atau dalam sebutan sehari-hari adalah congek.
Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan
perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus
menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau
berupa nanah.

Jenis-jenis perforasi (central, subtotal, atik, marginal)


B. Epidemiologi
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain dipengaruhi, kondisi
sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi yang jelek.
Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang
mempunyai kolesteatom, tetapi tidak mempunyai data yang tepat, apalagi insiden
OMSK saja, tidak ada data yang tersedia.
C. Patofisiologi
Karena OMSK didahului OMA, maka penjelasan tentang patofisiologi
OMSK, akan dijelaskan dengan patofisiologi terjadinya OMA. OMA biasanya
disebabkan oleh Infeksi di Saluran Nafas Atas (ISPA), umumnya terjadi pada
anak karena keadaan tuba eustakius , yang sangat berperan penting dalam
patofiologi OMA pada anak berbeda dengan orang dewasa. Tuba eustakius pada
anak lebih pendek, lebih horizontal dan relatif lebih lebar daripada dewasa.
Infeksi pada saluran nafas atas akan menyebabkan edema pada mukosa
saluran nafas termasuk mukosa tuba eustakius dan nasofaring tempat muara tuba
eustakius. Edema ini akan menyebabkan oklusi tuba yang berakibat gangguan

fungsi tuba eustakius yaitu fungsi ventilasi, drainase dan proteksi terhadap telinga
tengah.
1. Gangguan fungsi Ventilasi
Normalnya tuba akan berusaha menjaga tekanan di telinga tengah dan
udara luar stabil, ketika terdapat oklusi tuba, maka udara tidak akan dapat
masuk ke telinga tengah, sedangkan secara fisiologis udara (Oksigen dan
Nitrogen) akan diabsorbsi di telinga tengah 1 ml tiap hari pada orang dewasa.
Keadaan ini kan menyebabkan tekanan negatif pada telinga tengah, keadaan
vacum di telinga tengah menyebabkan transudasi cairan di telinga tengah.
2. Gangguan Fungsi drainase
Dalam keadaan normal mukosa telinga tengah akan menghasilkan
sekret yang akan di dorong oleh gerakan silia ke arah nasofaring, ketika
terjadi oklusi tuba fungsi ini akan terganggu, sehingga terjadi penumpukan
sekret di telinga tengah. Akumulasi cairan di telinga tengah akan lebih
banyak dengan adanya transudasi akibat tekanan negatif. Sekret ini
merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman.
3. Gangguan fungsi proteksi
Tuba berperan dalam proteksi kuman dan sekret dari nasofaring
masuk ke telinga tengah, diantaranya melalui kerja silia. Ketika terjadi oklusi
tuba, fungsi silia tidak efektif untuk mencegah kuman dan sekret dari
nasofaring ke kavum timpani dengan akumulasi sekret yang baik untuk
pertumbuhan kuman. Sehingga terjadi proses supurasi di telinga tengah.
Proses supurasi akan berlanjut dengan peningkatan jumlah sekret purulen,
penekanan pada membran timpani oleh akumulasi sekret ini kan
menyebabkan membran timpani (bagian sentral) mengalami iskemi dan
akhirnya nekrosis, dengan adnya tekanan akan menyebabkan perforasi dan
sekret mukopurulen akan keluar dari telinga tengah ke liang telinga.
Jika proses peradangan ini tidak mengalami resolusi dan penutupan
membran timpani setelah 6 minggu maka OMA beralih menjadi OMSK.
Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal
ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi
yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus.
Perforasi sekunder pada OMA dapat terjadi kronis tanpa kejadian infeksi
9

pada telinga tengah misal perforasi kering. Beberapa penulis menyatakan


keadaan ini sebagai keadaan inaktif dari otitis media kronis.
OMSK lebih sering merupakan penyakit kambuhan dari pada
menetap. Keadaan kronis ini lebih berdasarkan keseragaman waktu dan
stadium dari pada keseragaman gambaran patologi. Secara umum gambaran
yang ditemukan adalah:
a. Terdapat perforasi membrana timpani di bagian sentral
b. Mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit
c. Tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak, tergantung pada
beratnya infeksi sebelumnya
d. Pneumatisasi mastoid
OMSK paling sering pada masa anak-anak. Pneumatisasi mastoid
paling akhir terjadi antara 5-10 tahun. Proses pneumatisasi ini sering terhenti
atau mundur oleh otitis media yang terjadi pada usia tersebut atau lebih
muda. Bila infeksi kronik terus berlanjut, mastoid mengalami proses
sklerotik, sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang.
D. Tanda dan Gejala
Gejala klinis yang sering ditemukan pada otitis media supuratif kronis
diantaranya
1. Telinga Berair (Otorrhoe)
Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan.
Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk
yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi
membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Pada
OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Pada OMSK
tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang
karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah
berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan
merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang
encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.
2. Gangguan Pendengaran
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani
serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada
OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat.
3. Nyeri Telinga (Otalgia)
10

Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus.


Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran
sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman
pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi
OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel
labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul
biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita
yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar
membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang
oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan
meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi
serebelum.
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna yang perlu diperhatikan
mengingat OMSK tipe ini seringkali menimbulkan komplikasi yang
berbahaya, maka perlu ditegakkan diagnosis dini yang menjadi pedoman yaitu
adanya perforasi pada marginal atau pada atik. Sedangkan pada kasus yang
lanjut dapat terlihat adanya Abses atau fistel retroaurikular, jaringan granulasi
atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani, pus yang selalu
aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom) dan foto rontgen mastoid adanya
gambaran kolesteatom.

E. Klasifikasi
OMSK dapat dibedakan menjadi beberapa macam, tergantung dari
perjalanan penyakit dan tergantung jenis aktifitas sekret yang dihasilkan oleh
telinga tersebut. Berikut ibi pembagian OMSK
1.

Jenis OMSK terbagi atas 2 jenis, yaitu tipe benigna dan tipe maligna.
a. OMSK tipe Benigna
Proses peradangannya terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak
mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe benigna
jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna
tidak terdapat kolesteatoma.
11

b. OMSK tipe Maligna


Merupakan OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Kolesteatoma
adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin).
Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu kongenital dan didapat. OMSK tipe
maligna dikenal juga dengan OMSK tipe berbahaya atau OMSK tipe tulang.
Perforasi pada OMSK tipe maligna letaknya di atik, kadang-kadang terdapat
juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi yang berbahaya atau fatal
timbul pada OMSK tipe maligna.

Berikut ini adalah perbedaan antara OMSK benigna dan maligna, terlihat
dari tabel berikut ini.

Tabel Perbedaan OMSK benigna dan maligan

12

2. Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar terdiri dari OMSK aktif dan OMSK
tenang.
a. OMSK aktif
Merupakan OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum
timpani secara aktif. Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli.
Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba
eutachius, atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang
telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen
b. OMSK tenang
OMSK yang keadaan kavum timpaninya terlihat basah atau
kering. Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering
dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa
tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo,
tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga.

F. Jenis Pembedahan pada OMSK


Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan
pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe aman atau bahaya, antara lain.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)


Mstoidektomi radikal
Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
Miringoplasti
Timpanoplasti
Pendekatan ganda timpanoplasti (combine approach tympanoplasty)
Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau

kolesteatom, sarana yang tersedia serta pengalaman operator.


Sesuai dengan luasnya infeksi atau luas kerusakan yang sudah terjadi,
kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi itu atau modifikasinya.
1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan
konservatif tidak sembuh. Dengan tiindakan operasi ini dilakukan pembersihan
13

ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang
dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak
diperbaiki.
2. Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK berbahaya dengan infeksi atau
kolesteatoma yang sudah meluas. Pada operasi ini, mastoid dan kavum timpani
dibersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga
luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga
daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan.
Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan
mencegah komplikasi ke intrakranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki.
Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur
hidupnya. Pasien harus datang dengan teraturuntuk control, supaya tidak terjadi
infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat menghambat
pendidikan atau karier pasien.
Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada
rongga operasi serta membuat meatoplasti yang lebar, sehingga rongga operasi
kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus liang telinga luar
menjadi lebar.
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah atik,
tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan
dinsing posterior liang telinga direndahkan.
Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan
rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.
4. Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal
juga dengan nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada
membrane timpani.
Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinnga
tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang menetap.
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang sudah tenang dengan
ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membrane timpani.
5. Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang
lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan

14

pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan


penyakit serta memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus
dilakukan

juga

rekonstruksi

tulang

pendengaran.

Berdasarkan

bentuk

rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah


timpanoplasti tipe II, III, IV, V.
Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi
kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan
patologis. Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilakukan dua tahap dengan
jarak waktu 6 sampai 12 bulan.
6. Pendekatan ganda timpanoplasti (combine approach tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan
pada kasus OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi
yang luas.
Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki
pendengaran

tanpa

melakukan

teknik

mastoidektomi

radikal

(tanpa

meruntuhkan dinding posterior liang telinga).


Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani,
dikerjakan melalui 2 jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan
rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini
pada OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering
terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali.

G. Komplikasi
Otitis media supuratif mempunyai potensi untuk menjadi serius karena
komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan menyebabkan kematian.
Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik
yang menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang
efektifnya pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya komplikasi
didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau
suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun
dapat menyebabkan komplikasi.
Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi
akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom.
15

1. Komplikasi ditelinga tengah


a. Perforasi persisten membrane timpani
b. Erosi tulang pendengaran
c. Paralisis nervus fasial
2. Komplikasi telinga dalam
a. Fistel labirin
b. Labirinitis supuratif
c. Tuli saraf (sensorineural)
3. Komplikasi ekstradural
a. Abses ekstradural
b. Trombosis sinus lateralis
c. Petrositis
4. Komplikasi ke susunan saraf pusat
a. Meningitis
b. Abses otak
c. Hindrosefalus otitis

16

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA
1. Djaafar ZA. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi
keenam. Jakarta: FKUI, 2007.
2. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit Telinga Tengah Dan Mastoid.
Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta: EGC, 1997.
3. Helmi. Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronis Dan Mastoiditis. Dalam:
Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI, 2007.
4. Thapa N, Shirastav RP. Intracranial Complication Of Chronic Suppuratif Otitis
Media, Attico-Antral Type: Experience At TUTH. J Neuroscience. 2004; 1: 3639 Available from URL: http://www.jneuro.org/ diunduh tanggal 4 Mei 2012.
Pkl 22.00 WIB
5. Dugdale AE. Management Of Chronic Suppurative Otitis Media. Medical
Journal of Australia. 2004. Available from URL: http://www.mja.com.au/.
6. http://emedicine.medscape.com/article/784176-overview
7. http://www.scribd.com/doc/41793489/Guideline-OtitisMedia

17