Anda di halaman 1dari 10

Definisi

Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam
bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat
dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku denganperkataan lain pola
gigitan merupakan suatu produksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban
(Eckert, 2008)
Menurut Bowers (2004), analisis pola gigitan berdasarkan pada dua konsep,
yakni:
1. Karakteristik gigi anterior pada gigitan setiap individu unik atau khas.
2. Keunikan tersebut dapat tercatat pada luka yang ditinggalkan

Menurut Bowers (2004), karakteristik fisik pola catatan gigitan adalah:


1. Lebar gigi
Merupakan jarak mesial-distal terlebar dari suatu gigi.
2. Tebal gigi
Adalah jarak dari labial ke lingual suatu gigi.
3. Lebar rahang
Ialah jarak pada rahang yang sama dari satu sisi ke sisi lainnya
(antartonjol
Karakteristik gigi pada catatan gigitan:
1. Gigi anterior adalah gigi yang umumnya tercatat pada pola catatan gigitan
Gigi anterior rahang: Incisivus sentral lebar, incisivus lateral lebih
sempit, kaninus berbentuk konus.
Gigi anterior rahang bawah: Lebar incisivus sentral dan incisivus lateral hampir
sama, kaninus berbentuk konus.
2. Rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah.
3. Jumlah gigi pada bekas gigitan biasanya berjumlah 12 sebanyak jumlah gigi
anterior kedua rahang (6 anterior rahang atas dan 6 anterior rahang bawah)

Lukman (2006) mengatakan bahwa karakteristik catatan gigitan meliputi:


1. Bentuk empat gigi anterior rahang atas adalah segi empat dengan gigi
sentral memiliki bentuk yang lebih lebar.
2. Bentuk kaninus atas adalah bulat atau oval.
3. Bentuk gigi anterior rahang bawah adalah segi empat dengan lebar gigi

yang hampir sama.


4. Bentuk kaninus bawah adalah bulat atau oval.
5. Adanya jarak kemungkinan disebabkan oleh:
Pelaku tidak memiliki gigi.
Gigi lebih pendek dari ukuran normal.
Terdapat benda yang menghalangi gigitan.
Obyek yang digigit bergerak

Karakteristik pola gigitan dibagi menjadi dua kelompok besar yakni:


a. Karakteristik kelompok
Karakteristik kelompok adalah fitur, pola, atau sifat yang biasanya terlihat, atau
mencerminkan diberikan kelompok. Temuan biasa kotak persegi panjang atau
kecil seperti bentuk atau linier memar di bagian tengah bekas gigitan
merupakan karakteristik kelompok manusia Gigi atas akan
menciptakan pola-pola yang lebih besar, karena ukuran mereka. Nilai ini adalah
bahwa ketika terlihat di foto, tayangan atau pada kulit individu yang hidup atau
meninggal mereka memungkinkan kita untuk mengidentifikasi kelompok (gigi
sini atas atau bawah) dari mana mereka berasal.
b. Karakteristik individu
Karakteristik individu adalah fitur, pola, atau sifat yang merupakan variasi dari
diharapkan menemukan dalam sebuah kelompok tertentu. Contoh ini akan
menjadi diputar gigi, atau mungkin gigi cacat, rusak, atau pecah yang akan
membantu untuk membedakan antara dua dentitions berbeda untuk
membantu dalam menentukan gigi yang menyebabkan cedera atau tanda
gigitan. Ini adalah penjumlahan dari individu karakteristik yang menentukan,
ketika mereka hadir dalam bekas gigitan, gigi yang paling cocok ini tanda yang
unik atau berbeda ketika hadir di gigi seorang tersangka, jika
dibandingkan dengan tersangka lain dalam kasus ini.

D. Klasifikasi Pola Gigitan


Pola gigitan mempunyai derajat perlakuan permukaan sesuai dengan
kerasnya gigitan, pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas (Lukman, 2006),
yaitu:

a. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi incisivus dan kaninus

b. Kelas II : menyerupai pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cusp bukal
dan palatal maupun cusp bukal dan cusp lingual gigi P1, tetapi derajat pola
gigitannya masih sedikit.

Kelas III : derajat luka lebih parah dari kelas II, yaitu permukaan gigit incisivus
telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah
dari pola gigitan kelas II.

d. Kelas IV : terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit
terlepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitannya irreguler

e. Kelas V : terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisivus, kaninus, dan
premolar baik pada rahang atas maupun rahang bawah.

f. Kelas VI : memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan
bawah, serta jaringan kulit dan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan
pembukaan mulut

KLASIFIKASI POLA GIGITAN


Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, pada
pola gigitanmanusia terdapat 6 kelas yaitu:
1. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi insisive dan kaninus.
2. Kelas II : pola gigitan kelas II seperti pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola
gigitan cusp bukalis dan palatalis maupun cusp bukalis dan cusp lingualis tetapi
derajat pola gigitannya masih sedikit.
3.Kelas III: pola gigitan kelas III derajat luka lebih parah dari kelas II yaitu
permukaan gigit insisive telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan
mempunyai derajat lebih parah dari pola gigitan kelas II.
4.Kelas IV: pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit
yang sedikit terlepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitan irreguler.
5.Kelas V: pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pola gigitan insisive,
kaninus dan premolar baik pada rahang atas maupun bawah.
6.Kelas VI: pola gigitan kelas VI memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari
rahang atas, rahang bawah, dan jaringan kulit serta jaringan otot terlepas sesuai
dengan kekerasan oklusi dan pembukaan mulut.
JENIS-JENIS POLA GIGITAN PADA MANUSIA
Pola gigitan pada jaringan manusia sangatlah berbeda tergantung organ tubuh
mana yang terkena, apabial pola gigitan pelaku seksual mempunyai lokasi
tertentu, pada penyiksaan anak mempunyai pola gigitan pada bagian tubuh
tertentu pula akan tetapi pada gigitan yang dikenal sebagai child abuse maka
pola gigitannya hampir semua bagian tubuh. Jenis pola gigitan pada manusia
ada 4 macam yaitu: pola gigitan heteroseksual, pola gigitan pada penyiksaan
anak (child abuse), pola gigitan hewan, pola gigitan homoseksual / lesbian, luka
pada tubuh korban yang menyerupai lluka pola gigitan
1. Pola gigitan heteroseksual
Pola gigitan pada pelaku-pelaku hubungan intim antar lawan jenis dengan
perkataan lain hubungan seksual antara pria dan wanita terdapat penyimpangan
yang sifatnya sedikit melakukan penyiksaan yang menyebabkan lawan jenis
sedikit kesakitan atau menimbulkan rasa sakit.
1. Pola gigitan dengan aksi lidah dan bibir: pola gigitan ini terjadi pada waktu
pelaksanaan birahi antara pria Dan wanita.
2. Pola gigitan pada organ genital: pola gigitan ini bila terjadi pada pria
biasanya dilakukan gigitan oleh orang yang dekat dengannya misalnya
istrinya atau teman selingkuhnyanya yang mengalami cemburu buta.
3. Pola gigitan pada sekitar organ genital: pola gigitan ini terjadi akibat
pelampiasan dari pasangannya atau istrinya akibat cemburu buta yang

dilakukan pada waktu


hubungan seksual.

suaminya tertidur pulas setelah melakukan

4. Pola gigitan pada organ genital: pola gigitan ini modus operandinya yaitu
pelampiasan emosional dari lawan jenis atau istri karena cemburu buta.
Biasanya hal itu terjadi pada waktu korban tertidur lelap stelah melakukan
hubungan intim.
5. Pola gigitan pada mammae: pola gigitan ini terjadi pada waktu
pelaksanaan senggama atau berhubungan intim dengan lawan jenis. Pola
gigitan ini baik disekitar papilla mammae dan lateral dari mammae. Oleh
karena mammae merupakan suatu organ tubuh setengah bulatan maka
luka pola gigitan yang dominan adalah gigitan kaninus. Sedangkan pola
gigitan gigi seri terlihat sedikit atau hanya memar saja.
2. Pola gigitan pada penyiksaan anak (child abuse)
Pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh lokasi atau di sekeliling tubuh anakanak atau balita yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Hal ini disebabkan oleh
suatu aplikasi dari pelampiasan gangguan psikis dari ibunya oleh karena
kenakalan anaknya atau kerewelan anaknya ataupun kebandelan dari anaknya.
Pola gigitan ini terjadi akibat faktor-faktor iri dan dengki dari teman ibunya, atau
ibu anak tetangganya oleh karena anak tersebut lebih pandai, lebih lincah, lebih
komunikatif dari anaknya sendiri maka ia melakukan pelampiasan dengan
menggunakan gigitannya dari anak tersebut. Hal ini terjadi dengan rencana oleh
karena ditunggu pada waktu korban tersebut melewati pinggir atau depan
rumahnya dan kemudian setelah melakukan gigitan itu, ibu tersebut melarikan
diri. Lokasi pola gigitan pada bagian tubuh tertentu yaitu daerah punggung, bahu
atas, leher.
3. Pola gigitan hewan
Pola gigitan hewan umumnya terjadi sebagai akibat dari penyerangan hewan
peliharaan kepada korban yang tidak disukai oleh hewan tersebut. Kejadian
tersebut dapat terjadi tanpa instruksi dari pemeliharanya atau dengan instruksi
dari pemeliharanya. Beberapa hewan yang menyerang korban karena instruksi
dari pemeliharanya biasanya berjenis herder atau Dobermanyang memang
secara khusus dipelihara pawang anjing di jajaran kepolisian untuk menangkap
pelaku atau tersangka. Pola gigitan hewan juga disebabkan sebagai mekanisme
pertahanan diri maupun sebagai pola penyerangan terhadap mangsanya.
Macam-macam pola gigitan hewan antara lain:
a. Pola gigitan anjing; biasanya terjadi pada serangan atau atas perintah
pawangnya atau induksemangnya. Misalnya dijajaran kepolisian untuk mengejar
tersangka atau pelaku dan selalu pola gigitan terjadi pada muka sama seperti
hewan buas lainnya antara lain harimau, singa, kucing, serigala.
b. Pola gigitan hewan pesisir pantai; pola gigitan ini terjadi apabila korban
meninggal di tepi pantai atau korban meninggal dibuang di pesisir pantai
sehingga dalam beberapa hari atau beberapa minggu korban tersebut digerogoti
oleh hewan-hewan laut antara lain kerang, tiram.

c. Pola gigitan hewan peliharaan; pola gigitan ini terjadi karena hewan peliharaan
tersebut tidak diberi makan dalam beberapa waktu yang agak lama sehingga ia
sangat lapar sehingga pemeliharanya dijadikan santapan bagi hewan tersebut.
4. Pola gigitan homoseksual / lesbian
Pola gigitan ini terjadi sesama jenis pada waktu pelampiasan birahinya. Biasanya
pola gigitan ini di sekitar organ genital yaitu paha, leher dan lain-lain.
5. Luka pada tubuh korban yang menyerupai lluka pola gigitan.
Luka-luka ini terjadi pada mereka yang menderita depresi berat sehingga ia
secara nekat melakukan bunuh diri. Yang sebelumnya ia mengkonsumsi alcohol
dalam jumlah overdosis.
KLASIFIKASI POLA GIGITAN MANUSIA :
1. Kelas I : polanya menyebar. Tidak ada tanda-tanda gigi individu diidentifikasi.
Mungkin ada tanda salah satu atau kedua lengkung rahang. Mungkin ada sedikit
atau tidak ada nilai pembuktian untuk pencocokan pada tersangka. Bahkan,
mungkin gigitan kelas I tidak dapat diidentifikasi sebagai pola gigitan manusia,
hanya luka berbentuk bulat. Bagaimanapun, yang mungkin menjadi nilai besar
dalam hal ini yaitu seperti saliva, DNA, bentuk lengkung, dan sebagainya.

2. Kelas II : luka gigitan ini memiliki karakteristik kedua kelas dan karakteristik
individual. Lengkung rahang atas (maksila) dan rahang bawah (mandibula) dapat
diidentifikasi. Gigi yang spesifik mungkin diidentifikasi. Gigitan kelas II mungkin
lebih digunakan untuk eksklusi daripada inklusi pada tersangka.
3. Kelas III : gigitan ini akan memperlihatkan morfologi gigi yang sangat baik
paling sedikit pada satu rahang. Bentuk gigi spesifik dan posisinya pada
lengkung geligi dapat diidentifikasi. Pola gigitan kelas ini dapat menghasilkan
profil geligi dari si penggigit dan akan digunakan baik pada inklusi maupun
eksklusi. Dimensi ketiga lekukan-lekukan ini mungkin tampak dan dapat
membantu memperkirakan waktu gigitan diberikan dalam hubungannya dengan
waktu kematian.

4. Kelas IV : gigitan ini akan menjadi eksisi atau insisi pada jaringan. Darah
tampak pada permukaan dan DNA mungkin terkontaminasi. Gigitan kelas ini sulit
jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan profil gigi yang menyebabkannya.
Bagaimanapun, gigitan kelas IV akan hampir selalu menghasilkan luka permanen
atau cacat : hilangnya jari atau telinga. Atau bekas luka permanen.

Peran dokter gigi sebagai saksi ahli

Keterlibatan dokter gigi sehubungan dengan Kedokteran Gigi Forensik dapat


dibagi menjadi 3 bidang (Cameron dan Sims, 1973) yaitu :
a. Perdata nonkriminal; b. Kriminal; dan c. Penelitian Pada dasarnya dokter dan
dokter gigi dalam membantu aparat penegak hukum dapat dibedakan atas
(Prakoso, 1987) : 1. Menurut obyek pemeriksaan : a. Orang hidup b. Jenazah c.
Benda-benda atau yang berasal dari dalam tubuh. 2. Menurut jasa yang
diberikan : a. Melakukan pemeriksaan lalu mengemukakan pendapat dari hasil
pemeriksaannya. b. Mengajukan atau mengemukakan pendapat saja. 3. Menurut
tempat kerja : a. Di rumah sakit atau laboratorium b. Pemeriksaan di tempat
kejadian c. Di muka sidang pengadilan Tugas dokter gigi dalam lingkup forensik
adalah melakukan pemeriksaan terhadap keadaan mulut dan gigi dan hal-hal
yang berhubungan dengan keadaan mulut dan gigi, contohnya : memeriksa
bekas gigitan. Oleh sebab itu seorang dokter gigi dapat dilibatkan dalam
pembuatan Visum et Repertum oleh dokter pembuat Visum et Repertum sebagai
konsultan untuk memeriksa keadaan mulut dan geligi korban, karena dokter gigi
tidak memiliki wewenang khusus untuk membuat Visum et Repertum. Walaupun
demikian, dokter gigi dapat membuat berbagai hasil pemeriksaan yang
kedudukannya setara dengan Visum et Repertum tetapi tidak dengan judul
Visum et Repertum.
Pengertian dan Definisi Saksi Ahli Saksi ahli adalah seseorang yang dapat
menyimpulkan berdasarkan pengalaman keahliannya tentang fakta atau data
suatau kejadian, baik yang ditemukan sendiri maupun oleh orang lain, serta
mampu menyampaikan pendapatnya tersebut (Franklin C.A, 1988). Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa sebagai saksi ahli harus dapat menarik
kesimpulan, serta menyatakan pendapat sesuai dengan keahliannya.
Berdasarkan pasal 184 KUHAP ayat (1), keterangan ahli yang diberikan oleh saksi
ahli di pengadilan adalah merupakan salah satu alat bukti yang syah.
Persyaratan Sebagai Saksi Ahli Undang-undang memberikan batasan bahwa
hakim dilarang mendengarkan orang-orang tertentu sebagai saksi yaitu mereka
yang oleh Undang-undang dianggap tidak mampu mutlak dan tidak mutlak
relatif (Muhammad, 1992). Yang mutlak tidak dapat didengar pendapatnya
adalah karena memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan yang berperkara,
sedangkan tidak mutlak relatif adalah orang yang belum memenuhi syaratsyarat tertentu karena belum cukup umur atau karena terganggu
kesehatannya. Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai seorang saksi ahli
adalah (Prakoso, 1987) : 1. Syarat obyektif. a. Sehat, dewasa, tidak dibawah
perwalian, sebagaimana (pasal 171 KUHAPidana). b. Tidak boleh ada hubungan
keluarga dengan terdakwa, baik pertalian darah atau karena perkawinan, dan
bukan orang yang bekerja atau yang mendapat gaji dari terdakwa (pasal 168

KUHAPidana). 2. Syarat Formil Saksi ahli harus disumpah menurut aturan


agamanya, untuk memberi keterangan yang sebenarnya, sebagai-mana diatur
dalam pasal 120 ayat (2) KUHAPidana, pasal 179 ayat (2) KUHAPidana
Kewajiban dan Hak Sebagai Saksi Ahli Didasarkan KUHAP, saksi ahli memiliki
kewajiban dan hak sebagai berikut: 1. Kewajiban : a. Didasarkan pasal 159 ayat
(2) KUHAPidana saksi ahli wajib menghadap ke persidangan setelah dipanggil
dengan patut. b. Didasarkan pasal 160 KUHA Pidana, saksi ahli wajib ber-sumpah
menurut agamanya untuk memberi keterangan yang sebenarnya. 2. Hak sebagai
saksi ahli : Didasarkan pasal 229 KUHAP, saksi ahli yang telah hadir berhak
mendapat penggantian biaya menurut Undang-undang yang berlaku.

Daftar pustaka
Bowers, M., 2004, Forensic Dentistry:
Academic Press (Elsevier Publishing).

Field

Investigators

Handbook,

Lukman J, 2006, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik Jilid 2, CV. Sagung Seto,
Jakarta, 115-134.
Van der Velden A., Spiessens M., and Willems G., 2006, Bite mark Analysis and
Comparison Using Image Perception Technology, The Journal of Forensic
Odonto-Stomatology, 24 (1):14-17
Aksara Baru.1988. KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) dan
pelaksanaannya. Jakarta : Aksara Baru.