Anda di halaman 1dari 6

Analisis Teknikal Harga Saham

Oleh Andreas Tanadjaya

JAKARTA – Dalam setiap transaksi perdagangan saham di bursa, investor/manajer investasi (MI)
dihadapkan kepada pilihan untuk membeli atau menjual saham. Setiap kesalahan dalam
pengambilan keputusan investasi akan menimbulkan kerugian bagi investor itu sendiri, atau
mengakibatkan nilai aktiva bersih dari reksa dana yang dikelola MI tersebut menurun.
Oleh karena itu perlu dilakukan analisis yang akurat dan dapat diandalkan untuk dijadikan dasar
pengambilan keputusan investasi.
Sampai saat ini, banyak investor dan MI yang cenderung mengandalkan analisis fundamental
yang didasarkan atas kinerja perusahaan yang bersangkutan. Di sisi lain oleh sebagian orang
analisis fundamental saja dalam mengambil keputusan investasi tidaklah cukup.
Analisis fundamental tidak memperhitungkan faktor psikologi pasar dan tidak dapat menjelaskan
kapan waktunya (timing) untuk membeli/menjual, melainkan hanya menjelaskan mengapa serta
bagaimana pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap harga pasar. Selain itu juga faktor
fundamental seringkali dikalahkan oleh kejadian/kondisi jangka pendek yang bersifat sementara,
namun sangat berpengaruh besar terhadap pasar. Akibatnya investor akan menderita rugi atau
bahkan mengalami kebangkrutan lebih dulu sebelum kondisi yang digambarkan menurut analisis
fundamental tersebut tercermin di pasar.
Sebagai perbandingan, maka dapat dilihat perbandingan antara analisis teknikal dan analisis
fundamental sebagai berikut: (lihat tabel)
Dari perbandingan tersebut di atas, terlihat bahwa analisis fundamental sangat bergantung pada
laporan keuangan, padahal laporan keuangan itu sendiri dinilai oleh para analis teknikal
mempunyai banyak kelemahan, antara lain:
1. Terdapat perbedaan/ketidak seragaman dalam sistem dan prosedur akuntansi yang dipakai
oleh satu perusahaan dan yang lain, sehingga sulit untuk melakukan perbandingan antara
perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sejenis dan hal tersebut juga akan mengaburkan
fakta/hal yang sebenarnya atau menutupi beberapa hal yang penting, yang dapat mempengaruhi
penilaian investor/MI/analis saham terhadap kinerja/kualitas dari perusahaan tersebut.
2. Laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang jelas/terinci mengenai penjualan (sales)
dan pembelanjaan (expenses), sehingga investor/analis/MI sulit untuk menilai apakah angka/nilai
penjualan atau pembelanjaan yang dilaporkan tersebut wajar/baik atau tidak. Dengan demikian
walaupun dilaporkan bahwa nilai penjualan dari perusahaan tersebut tinggi dan
pembelanjaannya rendah, namun belum tentu perusahaan tersebut baik, karena sistem
pembukuan untuk pembebanan biaya dan pendapatannya berbeda antara suatu perusahaan
dengan yang lain.
3. Psikologi dari pelaku pasar tidak diperhitungkan dalam laporan keuangan yang dipergunakan
melakukan analisis fundamental, padahal perilaku dari investor (seperti misalnya tingkat
kepercayaan, keberanian mengambil risiko, kekuatan finansial) sangat berpengaruh dalam
menentukan naik/turunnya harga saham.
Kekurangan dari analisis fundamental tersebut dapat diisi/diatasi dengan menggunakan analisis
teknikal yang tidak terlalu bergantung pada laporan keuangan. Dalam analisis teknikal, laporan
keuangan tidak dianggap terlalu penting, melainkan reaksi dari pasar terhadap laporan keuangan
tersebutlah yang lebih penting, serta semua faktor yang terkait atau dapat mempengaruhi harga,
termasuk kondisi psikologis dari pelaku pasar akan tergambarkan langsung dalam harga yang
terjadi di pasar.
Oleh karena kekurangan dari analisis fundamental yang dilihat dari perbandingan ter sebut di
atas, serta beberapa bukti bahwa IHSG di Bursa Efek Jakarta memiliki korelasi yang signifikan
antara masa lalu dan yang akan datang, maka berarti terdapat pola/tren tertentu sehingga dapat
dilakukan peramalan secara statistik yang juga menjadi dasar asumsi untuk analisis teknikal.
Di samping itu juga masih kurang/sedikit sekali dilakukan penelitian, penerbitan buku buku
tentang analisis teknikal dalam bahasa Indonesia, oleh karena itu maka penulis mencoba untuk
berperan aktif secara langsung dengan membuat tulisan tentang analisis teknikal ini dan penulis
juga telah melakukan penelitian terhadap tingkat keuntungan perdagangan saham di Bursa Efek
Jakarta dengan menggunakan analisis teknikal, khususnya dengan menggunakan metode rata-
rata bergerak (moving average).
Tentang analisis teknikal, maka untuk dapat lebih memahami tentang hal tersebut, berikut
diuraikan lebih jauh dan terinci tentang hal-hal yang berkaitan dengan Analisis Teknikal.

Definisi dan Penerapan


Menurut Murphy, (1986), analisis teknikal adalah suatu studi tentang pergerakan harga pasar
dengan menggunakan grafik untuk meramalkan tren harga di masa yang akan datang,
sedangkan menurut Rotella, (1992), analisis teknikal adalah suatu studi tentang perilaku pasar di
masa lalu untuk menentukan status/kondisi pasar saat sekarang yang sedang terjadi.
Analisis teknikal dalam kaitannya dengan saham, menurut Sharpe, Alexander dan Bailey (1995),
adalah merupakan studi mengenai informasi internal pasar saham itu sendiri, sedangkan
menurut Bodie, Kane dan Marcus (1996), analisis teknikal secara esensial adalah merupakan
pencarian pola-pola yang berulang dan dapat diprediksi terhadap harga saham di pasar.
Dalam buku Technical Analysis of Stock Trends, Robert D. Edwards dan John Magee
mendefinisikan analisis teknikal sebagai suatu ilmu yang mempelajari pencatatan tentang data
historis perdagangan (harga, volume transaksi dan lain-lain) dari saham-saham tertentu (yang
biasanya berbentuk grafik atau dalam bentuk perhitungan rata-rata) dan kemudian menarik
kesimpulan dari gambaran historis tersebut untuk memperkirakan kemungkinan kecenderungan
(trend) yang akan datang.
Martin J. Pring (1993), mendefinisikan analisis teknikal sebagai suatu seni dalam
mengidentifikasikan perubahan arah (tren) pada saat dini dan mengikuti perubahan arah tersebut
sampai bobot pembuktian dari perubahan tersebut dianggap telah terbukti secara memuaskan
bahwa arahnya telah berubah.
Pada awalnya analisis teknikal diterapkan hanya untuk meramalkan pergerakan harga di bursa
saham, yaitu ketika pada 3 Juli 1884, untuk pertama kali Charles H. Dow mempublikasikan
penggunaan perhitungan indeks harga saham. Namun pada perkembangannya kemudian juga
dipergunakan untuk meramalkan pergerakan harga di bursa komoditi dan mata uang dengan
melakukan beberapa penyesuaian terhadap masing-masing jenis dan pasar, karena setiap pasar
memiliki karakteristiknya sendiri yang khas.
Menurut Murphy (1986), analisis teknikal ini diperkenalkan untuk pertama kali oleh Charles H.
Dow, oleh karena itu maka teori yang dikemukakan tersebut dinamakan Dow Theory (teori Dow)
yang merupakan cikal bakal analisis teknikal sehingga Dow Theory sering disebut sebagai kakek
moyangnya analisis teknikal.
Perhitungan yang digunakan oleh Charles H. Dow ini pada awalnya hanya menghitung rata-rata
harga dari 11 (sebelas) saham yang terdiri dari 9 saham perusahaan yang bergerak dalam
bidang transportasi (perkeretaapian) dan 2 saham perusahaan yang bergerak dalam bidang
industri.
Tiga belas tahun kemudian, yakni pada 1897, indeks tersebut dipecah menjadi dua, yaitu indeks
transportasi yang menghitung rata-rata harga saham dari 20 perusahaan transportasi dan indeks
industri yang menghitung rata-rata harga saham dari 12 perusahaan industri yang kemudian
pada 1928 ditambah menjadi 30 saham industri.
Dalam perkembangannya kedua indeks ini kemudian dikenal sebagai Dow Jones Industrial index
(DJIA) dan Dow Jones Transportation Index (DJTA).
Penamaan Dow Jones ini berasal dari nama Charles H. Dow dan Edward Jones yang secara
bersama-sama mendirikan perusahaan pada 1882 dan kemudian melalui perusahaan tersebut
mempublikasikan Dow Theory. Perhitungan rata-rata yang dilakukan untuk DJIA dan DJTA ini
pada dasarnya adalah menggunakan perhitungan rata-rata aritmatis dari harga terkini
berdasarkan pembobotan harga (Reilly dan Brown, 1997).
Dow Theory ini didasarkan pada faham/asumsi bahwa pola-pola harga yang terjadi dapat
diprediksi, di mana hal ini sangat bertolak belakang dengan Random Walk Theory (teori langkah
acak, selanjutnya disingkat RWT) yang mempunyai faham/asumsi bahwa harga bergerak secara
acak/random
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/27/eko05.html

Analisa teknical adalah terminologi yang kompleks untuk metode yang paling dasar dalam
investasi. Secara sederhana, analisa tecnikal adalah studi harga dengan menggungankan grafik
sebagai alat utama.
Asal-usul dari analisa teknikal yang di gunakan saat ini berasal dari Dow Theory, asal-usul ini
mencakup prinsip-prinsip seperti tren harga, harga melakukan diskon pada semua informasi yang
diketahui, konfirmasi dan penyimpangan (divergence), volume mencerminkan perubahan harga,
dan dukungan tahanan (support/resistance).
Analisa teknikal pertama kali di temukan oleh Charles Dow, dan sumbangan Charles Dow dalam
analisa teknikal yang digunakan saat ini tidak dapat diabaikan. Perhatiannya pada dasar-dasar
gerakan harga menciptakan metode yang betul-betul baru dalam menganalisa pasar
Indikator-Indikator Dalam Analisa Teknikal
Di dalam web ini akan di jelaskan mengenai analisa teknikal modern. Indikator dalam analisa
teknikal modern pada umumnya di bagi menjadi dua bagian yaitu indikator lagging (menyusul)
dan indikator leading (mendahului). Berikut ini akan dijelaskan indikator mana saja yang sering
digunakan oleh para pelaku pasar dan apa saja yang termasuk indikator lagging and indikator
leading.

Indikator Lagging
Moving Average. Moving average (rata-rata bergerak) adalah salah satu dari alat-alat dalam
analisa teknikal yang paling tua dan paling popular. Moving average adalah harga rata-rata dari
suatu securitas pada suatu saat. Ada banyak variasi aplikasi metode rata-rata bergerak yang
digunakan dalam analisa teknical. Antara lain Simple Moving Average, Weigthed Moving
Average, Exponential Moving Average. Penggunaan ketiga alat indikator tersebut sama saja.
Hanya tingkat sensitifitas yang diberikan masing-masing indikator tersebut yang berbeda.
Beberapa aturan-aturan umum yang harus diperhatikan dalam analisa moving average adalah :

• MA > Data Aktual berarti signal bearish, harga akan turun


• MA < Data Aktual berarti signal bullish, harga akan naik
• MA Pendek > MA Panjang berarti signal bullish, harga akan naik
• MA Pendek < MA Panjang berarti signal bearish, harga akan turun
• Titik Potong antara MA berarti signal perubahan arah, harga akan berbalik arah
Indikator Leading
Moving Average Convergence Divergence (MACD). Moving Average Convergence
Divergence (MACD) adalah formulasi teknikal analis yang pertama kali dikembangkan oleh
Gerald Appel. Bagi banyak pemain pasar, MACD juga dikatakan sebagai salah satu alat analisa
yang paling sederhana dan cukup handal digunakan dalam mengambil keputusan selama
perdagangan. berbeda dengan alat analisa yang telah kita bahas sebelumnya, yaitu Moving
Average (MA). Hanya bedanya kalau dalam analisa MA langsung kita analisa sebagai indikator
kenaikan ataupun penurunan harga, dalam analisa MACD, output yang di hasilkan oleh MA
tidaklah langsung dapat di analisa, namun terlebih dahulu, mengolahnya sebelum dijadikan
sebuah indikator momentum yang akan mengindikasikan perubahan trend harga.

 Relative Strength Index (RSI).Indikator Relative Strength Index (RSI) ini mneghitung
perbandingan antara daya tarik kenaikan dan penurunan harga, yang di terjemahkan kedalam
indikator yang mempunyai selang penilaian antara 0-100. Beberapa informasi yang dapat kita
peroleh dari analisa dengan menggunakan RSI adalah :

• Konfirmasi kejadian overbought / oversold


• Konfirmasi kejadian positif atau negative divergence
• Konfirmasi dominasi gerakan, yaitu apakah dominan kenaikan atau dominan penurunan
Commodity Channel Index (CCI). Commodity Channel Index (CCI) adalah indikator yang
digunakan untuk mengukur berbagai harga dari rata-rata statisticnya. Nilai yang tinggi
menunjukkan harga yang secara tidak normal lebih tinggi dari harga rata-rata, sementara nilai
yang rendah menunjukkna harga yang secara tidak normal lebih rendah dari harga rata-rata.
Informasi yang dapat kita peroleh dari analisa ini kurang lebih sama dengan apabila kita
menggunakan analisa RSI yaitu informasi tentang kejadian overbought / oversold

 Stochastic Oscillator. Stochastic Oscillator adalah sebuah alat analisa yang


dikembangkan pertamakali oleh George C. Lane pada akhir 1950-an. Alat analisa ini adalah
salah satu momentum oscillator yang menunjukkan posisi close pada saat ini (current)
terhadapposisi close beberapa waktu lalu. Closing level yang konsisten berada pada kondisi
puncak (peak) mengindikasikan terjadinya accumulation (buying pressure), sedangkan
sebaliknya closing level yang konsisten berada pada bottom, mengindikasikan terjadinya
distribution (selling pressure). Beberapa informasi yang di hasilkan dari analisa stochastic
oscillator ini adalah :

• Informasi Overbought / oversold


• Indikasi perubahan momentum apabila terjadi crossing
• Divergence positif dan divergence negatif

 Directional Movement Index (DMI). Adalah alat analisa yang digunakan untuk
mengidentifikasi terdapat trend dalam sebuah saham. DMI pada dasarnya adalah alat analisa
yang digunakan untuk membandingkan +DI (Directional Indikator) 14 hari, dan -DI dengan
periode yang sama. Interpretasi sederhana dari penggunaan DMI adalah :
• Mengambil posisi "beli" ketika garis +DI memotong garis -DI dari bawah
• Mengambil posisi "jual" ketika garis -DI memotong garis +DI dari bawah

 Bolingger Band. Adalah indikator yang dapat membantu penggunanya untuk


membandingkan volatility dan harga relatif dalam satu periode analisa. Bolingger band terdiri dari
3 garis utama. Garis teratas di namakan upper band, garis tengah di namakan middle band dab
yang paling bawah disebut lower band. Middle band sendiri sebenarnya adalah simple moving
average. dan upper dan lower band adalah 2 kali standar deviasi dari middle band. Sinyal yang di
hasilkan dari analisa ini antara lain adalah:

• Double bottom buy; adalah apabila sebuah harga ketika harga menembus batas bawah
(lower band) dan tetap berada diluar batas bawah pada periode berikutnya
• Double top sell; adalah apabila sebuah harga ketikamenembus batas atas (upper band)
dan tetap berada di luar batas atas pada periode berikutnya
• Pada saat terjadi penyempitan band perhatikan harga breakout setelah keluar dari masa
konsolidasi biasanya akan terjadi lonjakan harga yang signifikan

http://bursa-investasi.tripod.com/id11.html