Anda di halaman 1dari 65

BUKU DAROS ILMU NAHWU

(Terjemah Nadzam al-Amrithi)


Penyusun
Amin Khakam ElChudlrie

Ar-Raudhah
Margoyoso Kalinyamatan Jepara

ii Amin Khakam ElChudlrie

ii

Buku Daros Ilmu Nahwu iii

KATA PENGANTAR


Ketika ilmu nahwu menjadi ilmu yang penting untuk
memahami kitab Allah, hadits Rasul dan kitab para ulama, dan
paling utamanya kitab kecil yang menjelaskan ilmu nahwu adalah
kitab Jurumiyyah yang sudah terkenal tidak hanya di Arab, bahkan
sampai ke negara lain termasuk Indonesia. Oleh karenanya, syeikh
Syarafuddin melakukan gubahan terhadap kitab tersebut menjadi
nadzam supaya lebih mudah untuk dihapalkan dan dipahami.
Berdasarkan pengalaman yang pernah penulis alami ketika
mempelajari kitab tersebut, banyak sekali kendala yang dialami,
tidak hanya karena ketidak-tahuan akan bahasa arab yang
digunakan dalam kitab tersebut, tetapi juga karena makna yang
tersirat dalam kitab tersebut sangatlah luas, maka tergerak dalam
hati penulis untuk membuat terjemahan kitab itu untuk
mempermudah dipahami oleh orang sepertiku, dan penulis juga
memberikan tambahan penjelasan yang diambil dari kitab-kitab
nahwu yang sudah tidak asing lagi bagi kita, baik para santri
maupun pelajar.
Harapan penulis semoga buku Daros ini bisa memberikan
kemanfaatan bagi kita semua dan bisa menjadi amal jariyyahku
yang hasilnya nanti bisa dipetik diakhirat.
Apabila pembaca yang budiman menemukan kesalahan, baik
dalam penulisan atau pemahaman, dalam buku ini, maka sudilah
kiranya memberikan pembenahan, dan penulis mengucapkan
iii

iv Amin Khakam ElChudlrie


terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membalas
kalian dengan kebaikan yang sangat banyak. Amin.
Jepara, 03 September 2012

Penyusun

iv

Buku Daros Ilmu Nahwu v

DAFTAR ISI
Kata pengantar . iii
Daftar isi . v
Bab: Kalam . 1
Bab: Irab . 6
Bab: Alamat Irab . 7
Bab: Alamat Irab Nashab . 8
Bab: Alamat Irab Jer . 10
Bab: Alamat Irab Jazem . 13
Fasal: Macam Lafal Murab . 15
Bab: Isim Marifat dan Nakirah . 17
Bab: Kalimah Fiil . 20
Bab: Irabnya Kalimah Fiil . 22
Bab: Isim yang Dibaca Rafa . 26
Bab: Naibul Fail . 29
Bab: Mubtada-Khabar . 30
Bab: Kaana dan Sesamanya . 32
Bab: Inna dan Sesamanya . 33
Bab: Dzanna dan Sesamanya . 34
Bab: Naat . 35
Bab: Athaf . 36
Bab: Taukid . 37
Bab: Badal . 38
Bab: Isim yang Dibaca Nashab . 39
Bab: Masdar 41
Bab: Dzaraf . 41
Bab: Haal . 43
Bab: Tamyiz . 44
Bab: Istitsna . 45
Bab: Laa Nafyil Jinis . 49
v

vi Amin Khakam ElChudlrie


Bab: Munada . 52
Bab: Maful Min Ajlih . 53
Bab: Maful Maah . 54
Bab: Isim yang Dibaca Jer . 54
Bab: Idlafah . 55

vi

Buku Daros Ilmu Nahwu 1

*
Segala puji hanya milik Allah semata, yaitu dzat yang telah
memberikan pertolongan kepada makhluk terbaik-Nya (: nabi
Muhammad saw) untuk menghasilkan ilmu syariat dan melakukan
taqwa.

*


Dengan sebab mendapatkan pertolongan dari Allah, maka
hati beliau saw menjadi tertuju kepada-Nya. Akan tetapi karena
terlalu agungnya derajat Dia, maka beliau tidak bisa untuk
menjangkaunya.

*



Maka sebab pertolongan Allah pula, hati beliau menjadi
bercampur dengan maknanya dlomir syaan. Dan karena
percampuran itu, maka beliau menjadi tenggelam dalam lautan
cinta kepada-Nya dan lupa pada segala sesuatu selain Dia bagaikan
orang yang sedang mabuk kepayang yang sedang menikmati
minumannya dengan diiringi alunan musik yang berisikan syairsyair rahasia.

*
Shalawat serta salam semoga selalu terhaturkan kepada nabi
yang paling fasihnya makhluk. Dan juga semoga terhaturkan
kepada keluarga dan para sahabat beliau, yaitu orang-orang yang

2 Amin Khakam ElChudlrie


mengukuhkan al-Quran dengan sebab mengetahui irab, (karena
hanya dengan irab, makna yang diinginkan al-Quran bisa
diketahui).




*
*

Setelah membaca basmalah, hamdalah, shalawat dan salam,


ketahuilah, sesungguhnya umat manusia lebih menyukai perkara
yang ringkas dan praktis, dan juga mereka dituntut untuk menjaga
dan mempelajari bahasa arab, supaya mereka dapat memahami
makna yang ada didalam al-Quran dan hadits Rasul yang sangat
mendalam makna-maknanya.



*
Ilmu nahwu adalah ilmu pertama yang harus diketahui,
karena kalam Arab tidak akan bisa dipahami tanpa ilmu nahwu.

Adapun kitab yang menerangkan ilmu nahwu yang kecil


bentuknya yang paling baik adalah kitab matan Ajurumiyyah yang
hanya berupa satu kuras (: beberapa lembar saja) yang dikarang
oleh orang yang sangat alim, yaitu syeikh Shanhaji bin Ajurumi,
yang kitab itu sudah terkenal ditanah Arab dan lainnya termasuk
tanah Romawi.

Buku Daros Ilmu Nahwu 3

*



Meskipun kitab tersebut kecil bentuknya tetapi didalamnya
terkandung ilmu yang telah diambil kemanfaatannya oleh para
ulama dan orang-orang agung.


*
Supaya lebih mudah dipaham dan dihapal oleh para mubtadi
(orang yang baru belajar), maka kitab yang sudah terkanal itu aku
susun dalam bentuk nadzam yang sangat indah yang pembahasannya mengikuti kitab asalnya.

*

*

Dalam kitab nadzam ini, terkadang aku membuang sebagian


masalah yang ada dalam kitab asal, yang seandainya masalah itu
tidak disebut maka sudah dianggap cukup. Dan dalam nadzam ini
juga aku beri tambahan beberapa faidah yang belum dijelaskan
dalam kitab asal guna sebagai pelengkap dan penyempurna bab.
Sehingga nadzam ini akan menjadi seperti syarah bagi kitab asal.


*


Dalam mengarang nadzam ini, aku lakukan untuk memenuhi
permintaan sahabat karibku, yang dia bisa memahami perkataanku, karena dia mempunyai kepercayaan dan keyakinan yang kuat
kalau aku mampu untuk melakukannya.

4 Amin Khakam ElChudlrie


Karena dengan adanya keyakinan yang kuat, seseorang akan
diangkat derajatnya oleh Allah taala pada derajat yang mulia,
sehingga orang yang mempunyai keyakinan kuat maka dia akan
bisa mendapatkan kemanfaatan. Dan orang yang tidak mempunyai
keyakinan yang kuat, maka dia tidak akan bisa untuk mengambil
kemanfaatan (dan derajatnya tidak akan diangkat oleh Allah).

Aku memohon kepada Allah, dzat yang banyak memberinya,


supaya menjaga aku dari sifat riya (: beramal supaya dilihat oleh
orang lain), dan supaya Dia melipat-gandakan pahalaku didalam
mengarang kitab nadzam ini dan amal-amal lainnya.

*



Dan semoga Dia berkenan memberikan kemanfaatan dengan
ilmu yang ada didalam kitab nadzam ini kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam menghapal dan memahami maknanya.
Bab : KALAM



*
Kalam, menurut ulama ahli nahwu, adalah lafal yang bisa

memberikan faidah dan tersusun, seperti () ,


( ) dan (

) .

Sedangkan Kalimah adalah lafal yang bisa memberikan


faidah dan sendirian atau tidak tersusun.

Buku Daros Ilmu Nahwu 5


Kalimah terbagi menjadi tiga, yaitu kalimah isim, kalimah fiil
dan kalimah huruf. Adapun susunan dari ketiga kalimah itu
dinamakan Kalim.
Catatan:
Kalim adalah kumpulan dari tiga kalimah atau lebih, baik
macamnya sama atau tidak, bisa memberikan faidah atau tidak,
seperti ( ) jika Zaid berdiri, (
Zaid adalah orang
)

yang memukul Bakar, dan (
) saya memikirkan
masalah ini.

*


Qaul adalah lafal yang bisa berfaidah atau bisa menunjukkan
pada makna secara mutlak (baik tersusun atau tidak), seperti ()
) terkadang orang yang
berdirilah, ( ) pada semisal (

bakhil menjadi dermawan, dan ( ) Zaid naik pada derajat
yang mulia.





Kalimah Isim bisa diketahui dengan salah satu dari empat
),
tanda ini, yaitu tanwin, seperti () ,
irab jer, seperti (

masuknya huruf jer, seperti (


),
dan masuknya () , seperti
(

) .


*


Kalimah Fiil bisa diketahui dengan empat tanda, yaitu bisa
kemasukan () , seperti (
) , bisa kemasukan (), seperti

6 Amin Khakam ElChudlrie


(
) , bisa diberi ta tanits sakinah, seperti (
) , bisa
kemasukan ta fail secara mutlak (: artinya baik untuk mutakallim,
seperti (
atau mukhathab, seperti (
atau mukhathabah,
),
),
)),
seperti (
bisa kemasukan ya muannats mukhathabah, seperti

(
), dan bisa diberi nun taukid, seperti ( ) dan () .


*


Kalimah Huruf itu tidak mempunyai tanda, kecuali tidak bisa
menerima tandanya Kalimah Isim dan tidak bisa menerima
tandanya Kalimah Fiil itulah yang menjadi tandanya Kalimah
Huruf, seperti ()
huruf jer.
Bab : IRAB


*

Pengertian irab, menurut ulama ahli nahwu, adalah
berubahnya akhir dari suatu kalimah karena berbeda-bedanya
amil yang masuk pada kalimah tersebut, baik perubahan itu dalam
pelafalannya (: pengucapan) ataupun dalam penakdirannya (dikirakirakan), seperti (
), (
) dan (
) , (
) .

Irab terbagi menjadi empat, yaitu rafa, seperti (

),

nashab, seperti (
),
)
dan jazem, seperti
jer, seperti (
(
) .

Buku Daros Ilmu Nahwu 7


Semua irab selain irab jazem bisa masuk pada Kalimah Isim.
Dan semua irab selain irab jer bisa masuk pada Kalimah Fiil.



*
Semua Kalimah Isim, sekiranya tidak ada keserupaan yang
mendekatkannya dengan Kalimah Huruf, maka dihukumi murab,
seperti (

).



*


Kalimah Isim yang mempunyai keserupaan dengan Kalimah
Huruf, maka hukumnya adalah mabni, seperti (
kecuali Fiil
),
Mudlari yang tidak bertemu dengan nun jama inats dan nun
taukid, seperti (
).
Bab : ALAMAT IRAB



*

Irab rafa mempunyai empat alamat, yaitu: dlammah, seperti
)dan nun yang
(

waw, seperti (
alif, seperti (
),
),

ditetapkan, seperti (

).


Dlammah menjadi alamat Irabnya rafa, masuk di empat
tempat, yaitu: Isim Mufrad, seperti (
Jama Taksir, seperti
),

)dan semua
(



Jama Muannats Salim, seperti (

),

8 Amin Khakam ElChudlrie


kalimah fiil yang murab (: Fiil Mudlari yang huruf akhirnya tidak
bertemu dengan sesuatu), seperti (
).




*



*

Waw menjadi alamatnya irab rafa masuk didua tempat,

yaitu jama mudzakar salim, seperti (
), dan asmaul

khamsah, yaitu lafal (


), () ,
), (
( )dan (), dengan syarat kelima
lafal itu harus diidlafahkan, berbentuk mufrad dan tidak
ditasghirkan, seperti (

).



*
*



*

Alif menjadi alamatnya irab rafa hanya masuk pada Isim
Tatsniyyah, seperti (

Sedangkan nun menjadi alamatnya
).

irab rafa hanya masuk pada Fiil Mudlari yang telah diketahui

mengikuti lima wazan, yaitu () , () , () , ( ) dan (


) ,
yang telah masyhur dengan nama Afalul Khamsah, seperti

(
) .
Bab : ALAMAT IRAB NASHAB

Buku Daros Ilmu Nahwu 9


Irab nashab mempunyai lima alamat, yaitu fathah, seperti
) , ya, seperti
(

),
),

alif, seperti (
kasrah, seperti (

)
dan
terbuangnya
nun,
seperti
(


) .


Nashabkanlah dengan ditandai fathah, setiap lafal yang
ketika rafa ditandai dengan dlammah, kecuali jama Muannats

Salim, seperti (
) , maka membaca fathahnya adalah dilarang.
Catatan:
Fathah menjadi alamatnya irab nashab masuk di tiga tempat,
yaitu:
1. Isim Mufrad, seperti (
).

2. Jama Taksir, seperti (



)

3. Fiil Mudlari yang huruf terakhirnya tidak bertemu dengan


sesuatu, seperti (
) .



*


Jadikanlah alif sebagai tandanya irab nashab pada Asmaul
Khamsah, seperti (

).
Dan jadikanlah kasrah sebagai tandanya
) .
irab nashab pada Jama Muannats Salim, seperti (



*

Nashabnya Isim Tatsniyyah dan Jama Mudzakar Salim
).
adalah ditandai dengan ya, seperti (

)

dan (

10 Amin Khakam ElChudlrie


Afalul Khamsah ketika dinashabkan, maka membuang nun
yang menjadi alamat rafanya adalah wajib hukumnya, seperti
(
) yang asalnya adalah () .

Bab : ALAMAT IRAB JER


*



Alamatnya irab jer yang sudah ditentukan itu ada tiga, yaitu
kasrah, seperti (

),
)
ya, seperti (
dan fathah, seperti

(

).



Irablah jer dengan ditandai kasrah, isim yang ketika rafa
ditandai dengan dlammah, bilamana isim-isim tersebut munsharif.
Catatan:
Kasrah menjadi alamatnya Irab jer masuk di tiga tempat,
yaitu:
1. Isim Mufrad Munsharif, seperti (
).

2. Jama Taksir Munsharif, seperti (



).

) .
3. Jama Muannats Salim, seperti (




*
Irablah jer dengan ditandai ya, semua lafal yang ketika
nashab ditandai dengan ya dan Asmaul Khamsah yang sudah
menetapi syarat-syaratnya.
Catatan:
Ya menjadi alamatnya irab jer masuk di tiga tempat, yaitu:

Buku Daros Ilmu Nahwu 11


1. Isim Tatsniyyah, seperti (

).

2. Jama Mudzakar Salim, seperti (



).

3. Asmaul Khamsah yang sudah memenuhi syarat, seperti


(

).


*



*

Irablah jer dengan ditandai fathah, isim ghairu munsharif


(isim yang tidak bisa diberi tanwin sharfi), yaitu isim yang ada
mempunyai keserupaan dengan kalimah fiil, dengan sekiranya isim
tersebut memiliki dua illat (: dua sebab keserupaan dengan fiil,
yaitu illat yang kembali kepada lafal dan illat yang kembali kepada
makna) atau memiliki satu illat, tetapi illat itu sudah mencukupi
dari dua illat, seperti (

).

Catatan:
Fathah menjadi alamatnya irab jer hanya masuk pada Isim
Ghairu Munsharif, seperti (

).

Isim Ghairu Munsharif adalah isim yang mempunyai dua


illat fariyyah (dua sebab yang bersifat cabang) yang satu kembali
kepada lafalnya dan yang lainnya kembali kepada maknanya, atau
memiliki satu illat yang sudah mencukupi dari dua illat, seperti
lafal () . Lafal itu tercegah dari tanwin sharfi karena lafal itu
mempunyai dua illat keserupaan dengan fiil, illat tersebut adalah
illat yang kembali kepada lafalnya yang berupa wazan fiil yang
merupakan cabang dari wazan isim (karena fiil itu musytaq atau
terbuat dari masdar) dan illat yang kembali kepada maknanya yang
berupa alam (dijadikan nama) yang dilalahnya adalah marifat,
cabang dari nakirah.

12 Amin Khakam ElChudlrie



*


Alif tanits dan sighat muntahal jumu, masing-masing bisa
mencegah kemunsharifan isim dengan sendirinya tanpa harus
bersamaan dengan illat yang lainnya, seperti (
)
dan

(
).

Catatan:
Isim Ghairu Munsharif ada dua macam, yaitu: yang tidak
boleh ditanwin sharfi karena mempunyai satu illat dan tidak boleh
ditanwin sharfi karena mempunyai dua sebab.
Isim yang tidak boleh ditanwin sharfi karena mempunyai
satu sebab adalah semua isim yang huruf terakhirnya berupa alif
tanits mamdudah, seperti () ,
atau maqshurah, seperti () ,

atau isim tersebut mengikuti wazan sighat muntahal jumu, baik


)dan () .
isim tersebut mufrad atau jama, seperti (


*


Dua illat yang bisa membuat suatu isim tidak boleh ditanwin
sharfi adalah menjadi sifat (bersama adal), seperti () ,
yang

) , wazan fiil (bersama
merupakan pindahan dari lafal (
washfiyyah), seperti () , ziyadah alif nun (bersama menjadi sifat),
seperti () .

*

Ketiga illat di atas juga bisa mencegah isim tercegah dari
ditanwin sharfi ketika bersama dengan alam, artinya alamiyyah
bersama adal, seperti (
),
alamiyyah bersama wazan fiil,
seperti (

)
dan alamiyyah bersama ziyadah alif nun, seperti
(
)
dan ditambah tarkib mazji, dan nama-nama ajam, artinya

Buku Daros Ilmu Nahwu 13


alamiyyah bersama tarkib mazji dan
).
ajamiyyah, seperti (

)

dan (

alamiyyah

bersama





*

Begitu pula muannats yang selain alif, yaitu alamiyyah dan
muannats. Isim Ghairu Munsharif ketika dimudlafkan atau
bersamaan dengan (), maka akan menjadi munsharif, seperti
) .
(

Bab : ALAMAT IRAB JAZEM


*
Irab jazem yang hanya terkhusus pada Kalimah Fiil,
memiliki tiga alamat, yaitu: sukun, seperti (
) , membuang

huruf illat, seperti ( ) dan membuang nun, seperti (
) .

*



Membuang nun yang menjadi alamatnya irab rafa itu
diwajibkan sebagai tanda irab jazem pada Afalul Khamsah, seperti
(
) yang asalnya adalah (
).

*

Sukun menjadi alamatnya irab jazem masuk pada fiil
mudlari yang shahih akhir, artinya fiil mudlari yang huruf
terakhirnya tidak berupa huruf illat (waw, alif atau ya), seperti
(
) .

14 Amin Khakam ElChudlrie


Sedangkan membuang huruf illat menjadi alamatnya irab
jazem masuk pada fiil mudlari yang mutal akhir, artinya fiil
mudlari yang huruf akhirnya berupa huruf illat, adakalanya huruf

illatnya berupa waw, ya atau alif, seperti (


) , ( ) dan (
)
yang asalnya adalah () , ( ) dan () .

*

*
Nashabnya kalimah fiil yang huruf terakhirnya berupa waw
atau ya adalah diperlihatkan alamat nashabnya (artinya fathah
diperlihatkan), sedangkan pada selain nashab (yaitu rafa) maka
tanda rafanya dikira-kirakan.
Semisal lafal () , ( ) dan ( ) adalah contoh dari fiil yang

mutal akhir. Sedangkan selain fiil tersebut (artinya fiil yang huruf
terakhirnya tidak berupa huruf illat) maka dinamakan fiil shahih
akhir.

*



Isim Mutal ada dua macam, yaitu Isim Mutal ya, seperti

() , dan Isim Mutal alif, seperti () .


Adapun irabnya kedua isim tersebut adalah dikira-kirakan
pada huruf illatnya, kecuali alamatnya isim mutal ya yang harus
) .
ditampakkan, seperti (

Buku Daros Ilmu Nahwu 15


Para ulama telah mengira-kirakan tiga tanda irab (rafa,
nashab dan jer), pada huruf mim yang terletak sebelum ya

mutakallim pada lafal () , seperti (


)

(
dan (
),
) .

Waw (tanda irab rafa) pada semisal lafal () ,


yaitu Jama

Mudzakar Salim yang diidlafahkan kepada ya mutakallim,


disimpan, dan nun (tanda rafa) pada semisal lafal () , yaitu
Afalul Khamsah ketika diberi nun taukid tsaqilah, dikira-kirakan.
FASAL




Lafal-lafal yang murab itu ada dua macam, yaitu di irabi
dengan harakat, seperti (
dan di irabi dengan huruf, seperti
),
(

).


*

Pembagian yang pertama (: lafal yang di irabi dengan
harakat) itu ada empat, yaitu kalimah yang telah disebutkan yang
rafanya ditandai dengan dlammah, yakni isim mufrad, seperti
(


jama taksir, seperti (
jama muannats salim, seperti
),
),

(

dan fiil mudlari yang huruf terakhirnya tidak bertemu
)
dengan sesuatu, seperti (
).

16 Amin Khakam ElChudlrie


Setiap kalimah yang rafa-nya ditandai dengan dlammah,
maka nashabnya ditandai dengan fathah, jernya ditandai dengan
kasrah dan jazemnya (terkhusus pada fiil) ditandai dengan sukun.


*
Kalimah yang di irabi dengan harakat yang dikecualikan dari
ketentuan di atas, ada tiga, yaitu jama muannats salim ketika

nashab ditandai dengan kasrah, seperti (


) , isim ghairu
munsharif ketika jer ditandai dengan fathah, seperti (

),
dan
fiil mudlari yang mutal akhir ketika jazem ditandai dengan
membuang huruf illatnya, seperti (
) .

Kalimah yang di irabi dengan huruf itu ada empat, yaitu isim
tatsniyyah, jama mudzakar salim, asmaul khamsah dan afalul
khamsah.



*
Adapun isim tatsniyyah, maka rafanya ditandai dengan alif,
seperti (

nashab dan jernya ditandai dengan ya (yang huruf
),
sebelum ya dibaca fathah dan huruf setelah ya dibaca kasrah),
seperti (


)
).

dan (

Buku Daros Ilmu Nahwu 17


Jama mudzakar salim ketika rafa ditandai dengan waw,
seperti (

nashab dan jernya ditandai dengan ya, (yang huruf
),
sebelum ya dibaca kasrah dan huruf setelah ya dibaca fathah),
) .
seperti (

)

dan (




*
Asmaul khamsah ketika rafa dan jernya itu alamatnya sama
dengan alamatnya jama mudzakar salim ketika rafa dan jer (yaitu
ketika rafa dialamati dengan waw, seperti (
dan jer dialamati
)
dengan ya, seperti (

)),
dan nashabkanlah dia dengan alif,
seperti (

).

Afalul khamsah ketika rafa ditandai dengan tetapnya nun,


dan pada selain rafa (: yaitu ketika nashab dan jazem) ditandai
dengan terbuangnya nun, seperti (

) .
) dan (
Bab : ISIM MARIFAT DAN ISIM NAKIRAH


*


Apabila kalian ingin mengetahui definisi dari isim nakirah,
yaitu isim yang bisa menerima ( )yang bisa memberikan pengaruh
kemarifatan kepada isim tersebut adalah dinamakan isim nakirah,
seperti () .





*

Isim selain isim nakirah dinamakan isim marifat, yang dibagi
menjadi enam. Yang pertama adalah Isim Dlamir.

18 Amin Khakam ElChudlrie


*




Pengertian Isim Dlamir adalah isim yang digunakan sebagai
kinayah dan kata ganti dari isim zhahir, sehingga isim itu
menempati tempatnya isim yang dia kinayahi. Isim tersebut
menunjukkan pada orang yang ghaib, seperti () ,
hadir, seperti (
)
dan mutakallim, seperti ().

*



Para ulama nahwu telah membagi isim dlamir menjadi dua,
yaitu dlamir muttashil (yang juga terbagi menjadi dua, yaitu dlamir
mustatir, seperti (
)) dan dlamir
) dan dlamir bariz, seperti (
munfashil, seperti (
).

*


*

Isim marifat yang kedua adalah Isim Alam, seperti lafal ()

nama orang, ()
nama
kota,
(

)
nama
daerah
yang
dibatasi
sekitar

) dan () .
Mekah, () , () , (


*

Isim alam yang diawali dengan ( )atau (
), maka dinamakan
Alam Kunyah. Sedangkan yang lainnya adalah alam ismi dan
alam laqab.

Buku Daros Ilmu Nahwu 19


Isim alam yang menunjukkan pada makna memuji atau
mencela, maka dinamakan Alam Laqab. Sedangkan Alam Ismi
adalah isim alam yang tidak diawali dengan ( )atau (
)dan tidak
menunjukkan pada makna memuji atau mencela.



*
Isim marifat yang ketiga adalah Isim Isyarah, semisal (),

Sedangkan isim marifat


seperti (
) dan (), seperti (
) .

yang ke empat adalah Isim Maushul, semisal () , seperti (


) .

*

Isim marifat yang kelima adalah isim yang kemasukan (),
seperti dalam lafalnya ()
yang kita ucapkan menjadi () .



*
Isim marifat yang keenam adalah isim yang diidlafahkan
kepada salah satu dari kelima isim marifat di atas, yang
diidlafahkan kepada isim dlamir, seperti (), yang diidlafahkan
kepada isim alam, seperti () , yang diidlafahkan kepada isim
isyarah, seperti () , yang diidlafahkan kepada isim maushul,

seperti (
) dan yang diidlafahkan kepada isim yang
kemasukan (), seperti () .

20 Amin Khakam ElChudlrie


Bab : KALIMAH FIIL

Kalimah fiil, menurut ulama nahwu, terbagi menjadi tiga,

yaitu Fiil Madli, seperti (


) , Fiil Amar, seperti ( ) dan Fiil

Mudlari, seperti (
) .


*
Hukumnya Fiil Madli adalah mabni fath, selama tidak
bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik dan tidak bertemu dengan
dlamir waw jama, seperti (
) .

Apabila fiil madli bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik,


maka fiil tersebut dimabnikan sukun, seperti (
) , dan bila
bertemu dengan dlamir waw jama maka dimabnikan dlamm,
seperti () .

*
Hukumnya Fiil Amar ada tiga, yaitu mabni sukun, mabni
membuang huruf illat dan mabni membuang nun.
Catatan:
Hukumnya Fiil Amar adalah,
1. Mabni sukun, yaitu hukum asal mabninya fiil amar, ketika fiil
amar bertemu dengan nun niswah, seperti (
) , atau berupa
fiil yang shahih akhirnya dan fiil amar tidak bertemu dengan
apapun, seperti (
) .

Buku Daros Ilmu Nahwu 21


2. Mabni membuang huruf akhinya, yaitu ketika fiil amar berupa
fiil yang mutal akhir dan tidak bertemu dengan apapun,
seperti () .

3. Mabni membuang nun, yaitu ketika fiil amar bertemu dengan


alif tatsniyyah, waw jama atau ya mukhathabah, seperti () ,
( ) dan () .
4. Mabni Fath, yaitu ketika fiil amar bertemu dengan salah satu
dari nun taukid, seperti (
) .
) dan (






*


*
Tanda dari Fiil Mudlari adalah bila pada permulaannya
terdapat salah satu dari empat huruf zaidah, yaitu hamzah, nun, ya
dan ta, yang terkumpul dalam ucapan kita (
).
Catatan:
1. Hamzah, dengan syarat untuk mutakallim yang mufrad, seperti
(
)Aku akan berdiri.

2. Nun, dengan syarat untuk mutakallim beserta yang lain atau


untuk mengagungkan dirinya, seperti () , Kami akan
berdiri, atau Aku akan berdiri, (dengan maksud untuk
memuliakan dirinya mutakallim).
3. Ya, dengan syarat untuk mudzakar ghaib secara mutlak atau
untuk jama muannats, seperti (
) Zaid akan berdiri, dan

(
) Hindun banyak akan berdiri.
4. Ta, dengan syarat untuk mukhathab secara mutlak atau untuk
muannats ghaibah yang mufrad atau tatsniyyah, seperti (

)
Berdirilah kamu, hei Zaid! atau (
) Berdirilah kamu,
) Dua Hindun akan berdiri.
hei Hindun! atau (

22 Amin Khakam ElChudlrie

*



Fiil Mudlari dari fiil rubai (: fiil yang ada empat hurufnya),
maka huruf mudlaraahnya dibaca dlammah, seperti (
(
) ,
) dan () , sedangkan bila dari selain fiil rubai maka huruf
mudlaraahnya dibaca fathah, seperti (


).
Bab : IRABNYA KALIMAH FIIL

Fiil Mudlari ketika tidak kemasukan amil yang bisa menashabkan atau amil yang bisa menjazemkan, maka selamanya dia
dibaca rafa, seperti (
) .

*


Amil yang bisa menashabkan fiil mudlari itu ada sepuluh,

yaitu () , seperti (
) , () , seperi (... ) ( ) ,


seperti (

), () , seperti (
) , () ,

) , () , seperti () , () ,
seperti (



seperti (

),
(

),
(
),
dan
fa
jawab,
yang
menjadi
jawab

yang terletak setelah nafi atau thalab, seperti (


)

Janganlah kamu mengharapkan akan mendapatkan ilmu, padahal
kamu tidak mau berpayah-payah dahulu.

Buku Daros Ilmu Nahwu 23


*
*
Amil yang bisa menjazemkan fiil mudlari itu ada enam
( ), seperti ( ), ( ), seperti( belas,
) nahi,( ),

( seperti
), ( ), ( ) amar, seperti( ),
), ( ), seperti( ),
( seperti

), (


), ( seperti
* ( ), seperti (


( ),
( ), seperti

), ( ),
* ( seperti
* ( ), seperti ( ),


),
), ( ), ( ), seperti (
( seperti

( ), seperti( ),
*

),

), seperti (

(
* ( ), seperti ( ) dan

).

) dan yang menyerupainya bisa ( Amil jawazim yang berupa


menjazemkan dua fiil, baik secara lafdzi maupun mahalli.
Catatan:
Amil jawazim yang bisa menjazemkan dua fiil, yang satu
menjadi syarat dan yang lainnya menjadi jawab, ada tiga belas,
yaitu:
), yang merupakan dalam bab ini, karena amil lainnya yang ( 1.
bisa menjazemkan dua fiil adalah karena amil tersebut

( ), seperti ( menyimpan maknanya


).

), seperti, ( ), yaitu huruf dengan makna ( 2.


24 Amin Khakam ElChudlrie


3. () ,
yaitu isim mubham untuk yang berakal, seperti (
) .

4. (), yaitu isim mubham untuk selain yang berakal, seperti


() .

5. () ,
yaitu isim mubham untuk selain yang berakal, seperti
) .
(


6. () ,
yaitu isim zaman yang menyimpan makna syarat, seperti

7. () , yaitu isim zaman yang mengandung maknanya syarat,


seperti :

8. () , yaitu isim makan yang menyimpan maknanya syarat,


seperti () . Kebanyakan lafal itu dimasuki ( )zaidah
untuk taukid, seperti (
) .
9. () , yang tidak boleh kemasukan (), yaitu isim makan yang
menyimpan makna syarat, seperti :

10. (),
yaitu isim makan yang menyimpan makna syarat dan
tidak bisa menjazemkan kecuali ketika bebarengan dengan (),
menurut qaul yang shahih, seperti :

11. () , yaitu isim mubham yang menyimpan makna syarat, baik


bebarengan dengan (), seperti (
) , atau tidak

) .
bebarengan dengan (), seperti (



12. (
), yaitu isim mubham yang menyimpan makna syarat,

seperti, (
) .
13. () , dan terkadang diberi ( )zaidah untuk taukid, sehingga
diucapkan () , yaitu isim zaman yang menyimpan makna

Buku Daros Ilmu Nahwu 25


syarat, dan lafal itu tidak bisa menjazemkan kecuali dalam syair
saja, seperti :


Jika jawab tidak bisa dijadikan syarat atau sesamanya, maka
jawab harus bersamaan dengan fa jawab.
Catatan:
Diwajibkan untuk menghubungkan jawabnya syarat dengan
fa, didua belas tempat, yaitu:

1. Jawab berupa jumlah ismiyyah, seperti (



) .

2. Jawab berupa fiil jamid, seperti (


) .

3. Jawab berupa fiil thalabiy, artinya berupa amar atau nahi,


seperti () .
4. Jawab berupa fiil madly, baik lafdzi maupun maknanya,
dengan demikian maka diwajibkan untuk memberinya ( ) yang
terlihat, seperti (
) , atau dikira-kirakan,

seperti (


) .

5. Jawab disertai dengan () , seperti (



) .
6. Jawab disertai dengan ( )nafi, seperti () .
7. Jawab disertai dengan () , seperti () .

8. Jawab disertai dengan siin, seperti (




) .


9. Jawab disertai dengan (
),
seperti (

).


10. Jawab diawali dengan (
),

) .
seperti (

26 Amin Khakam ElChudlrie




11. Jawab diawali dengan () , seperti (

) .



12. Jawab diawali dengan perabot syarat, seperti (

).


Bab : ISIM YANG DIBACA RAFA


*

Isim-isim yang dibaca rafa ada tujuh, yang nama-namanya
nanti akan diketahui dari bab-babnya.

*

Fail adalah isim yang secara mutlak, baik sharih atau ghairu
sharih, harus dibaca rafa dengan fiil yang berada sebelumnya,
seperti (

) .

Dan wajib dalam fiil yang diisnadkan kepada fail tatsniyyah


atau jama untuk dikosongkan dari tanda tatsniyyah atau jama,
artinya fiil tetap dalam keadaan mufrad, seperti ketika fiil
diisnadkan kepada fail yang mufrad. Maka ucapkanlah, (
)

dan (
)seperti kita telah mengucapkan dalam (
dan
)

() .

Buku Daros Ilmu Nahwu 27


Para ulama telah membagi fail menjadi dua, yaitu Fail Isim
Dzahir dan Fail Isim Dlamir, seperti (
) . Fail Isim dzahir adalah
seperti contoh di atas yaitu (

).

*






*

............................. *


Fail isim dlamir juga dibagi menjadi dua, yaitu dlamir
muttashil dan dlamir munfashil. Fail yang berupa dlamir muttashil

ada dua belas, yaitu seperti (


) , () ,
) , () , (
) , () , () , (
() , (
) , () , ( ) dan () .

* ............................



*

Seperti halnya fail dlamir muttashil adalah fail dlamir


munfashil, artinya jumlahnya ada 12 dengan perincian yang sama
seperti dlamir muttashil, seperti lafal () . Selain kedua
dlamir tersebut bisa diketahui dengan diqiyaskan.
Catatan:
Seperti halnya dlamir muttashil, dlamir munfashil juga
terbagi menjadi 12, dengan perincian sebagai berikut,
1. Mutakallim wahdah, seperti ( ) Tidak ada yang berdiri

kecuali saya.
2. Mutakallim maal ghair, seperti ( ) Tidak ada yang
berdiri kecuali kita.

28 Amin Khakam ElChudlrie

3. Mufrad mukhatab, seperti (


) Tidak ada yang berdiri
kecuali kamu (laki-laki).
) Tidak ada yang
4. Mufradah mukhatabah, seperti (

berdiri kecuali kamu (perempuan).
5. Tatsniyyah Mukhatab, seperti ( ) Tidak ada yang
berdiri kecuali kamu berdua (laki-laki/perempuan).
6. Jama mudzakar Mukhatab, seperti ( ) Tidak ada yang

berdiri kecuali kalian (laki-laki).


7. Jama muannats mukhatabah, seperti (
) Tidak ada
yang berdiri kecuali kalian (perempuan).
8. Mufrad ghaib, seperti ( ) Tidak ada yang berdiri kecuali
dia (laki-laki).
9. Mufradah ghaibah, seperti ( ) Tidak ada yang berdiri
kecuali dia (perempuan).
10. Tatsniyyah ghaib, seperti ( ) Tidak ada yang berdiri

kecuali dia berdua (laki-laki/perempuan).


11. Jama mudzakar ghaib, seperti ( ) Tidak ada yang
berdiri kecuali mereka (laki-laki).
12. Jama muannats ghaibah, seperti ( ) Tidak ada yang
berdiri kecuali mereka (perempuan).
Bab : NAIBUL FAIL

*


*

Tempatkanlah maful bih pada tempatnya fail yang dibuang,
dan berilah hukum yang dimiliki fail kepadanya, yang kemudian

dinamakan dengan Naibul Fail, seperti (


).

Buku Daros Ilmu Nahwu 29


Atau tempatkanlah pada tempatnya fail yang dibuang,
masdar, dzaraf atau jer-majrur, bila disitu tidak ada maful bihnya.
Yang berupa masdar seperti (
) , yang berupa dzaraf
dan yang berupa jer-majrur, seperti () .
seperti (
)




*
Fiil yang disandarkan kepada naibul fail (: fiil mabni
majhul), jika berupa fiil madli, maka huruf pertamanya dibaca
dlammah dan huruf sebelum akhir dibaca kasrah, seperti (

) .

Sedangkan jika berupa fiil mudlari, maka huruf pertamanya


dibaca dlammah, dan huruf sebelum akhir dibaca fathah, seperti

(
)dan ().

*

Semisal lafal () , yaitu fiil yang mutal ain, maka ketika
ingin dibuat mabni majhul, huruf pertamanya dibaca kasrah dan
alifnya diganti ya. Dan itu adalah lughat yang masyhur.
Catatan:
Fiil madli yang mutal ain, baik dengan waw atau ya, maka
ketika akan dimabnikan majhul ada tiga wajah, yaitu:
1. Murni dibaca kasrah huruf pertamanya. Ini merupakan lughat
yang masyhur, seperti ( ) untuk yang mutal ain dengan waw
dan ( ) untuk yang mutal ain dengan ya.
2. Murni dibaca dlammah. Ini merupakan lughatnya bani Dhubair
dan bani Faqas, seperti (
).
)dan (

3. Dibaca ismam, yaitu mengucapkan fa fiil dengan harakat


diantara dlammah dan kasrah.

30 Amin Khakam ElChudlrie


*
Nabul fail terbagi menjadi dua, yaitu naibul fail isim dlamir
dan naibul fail isim dzahir, seperti lafal (
) .

Naibul fail isim dlamir terbagi lagi menjadi dua, yaitu


dan dlamir munfashil, seperti (
dlamir muttashil, seperti (

),

) .
Bab : MUBTADA-KHABAR

*

Mubtada adalah isim yang dibaca rafa yang dikosongkan
dari amil lafdzi yang asli (bukan zaidah), seperti (
) .

Khabar adalah isim yang dibaca rafa yang disandarkan


kepada mubtada yang lafal dari khabar itu harus sesuai dengan
mubtada, yaitu dari segi mufrad, tatsniyyah, jama, mudzakar dan
) ,
()
muannatsnya, seperti lafal (
() ,
dan

() .

Buku Daros Ilmu Nahwu 31


Mubtada ada dua macam, yaitu mubtada isim dzahir
( (seperti contoh di atas) dan mubtada isim dlamir, seperti

).



*


*




*

Tidak diperbolehkan membuat mubtada dari dlamir
muttashil, tetapi harus menggunakan dlamir munfashil yang

), ( ),( jumlahnya ada dua belas, yaitu


), ( ),
(
( ), ( ),( ),
), (
). ( dan
), (
)( ), (
Sedangkan untuk contohnya maka telah
disebutkan di atas (yaitu dalam babnya dlamir).
Catatan:
Mubtada yang berasal dari dlamir munfashil adalah 2 untuk
( mutakallim, seperti
), 5 untuk \ ( ) dan \

( khithab, seperti
) dan ( ), \ ( ), ( ),

(
), ( ), dan 5 untuk ghaib, seperti

\ ( ), (
),
), (
).
( dan



*

*


*

*

32 Amin Khakam ElChudlrie


Khabar terbagi menjadi dua, yaitu Khabar Mufrad dan
Khabar Ghairu Mufrad. Adapun khabar yang pertama (yaitu
khabar mufrad), maka seperti contoh yang telah lewat, yaitu lafal
)
(

Sedangkan khabar ghairu mufrad, ada empat macam, yaitu
khabar yang berupa dzaraf atau jer majrur atau berupa jumlah
filiyyah atau berupa jumlah ismiyyah, seperti (
), () ,
( ) dan () .
Bab : KAANA DAN SESAMANYA





*
( ) bisa beramal merafakan mubtada yang kemudian
menjadi isimnya dan menashabkan khabar yang kemudian menjadi
khabarnya, seperti (
) .

Lafal yang menyamai ( ) dalam pengamalannya adalah

(
), seperti (
), (), seperti () , (
), seperti (

), (
), seperti (
), () ,

), seperti () , (

seperti () ,
(

),
seperti
(

),
(

),
seperti
(


),


(
) , seperti (
) , () ,
seperti () , (
)seperti (

) ,
yang keempat lafal itu harus terletak setelah nafi, dan ()

dengan syarat harus didahului dengan ()


masdariyyah dzarfiyyah,

seperti (
) .

Buku Daros Ilmu Nahwu 33



*

Lafal yang ditashrif dari ( ) dan sesamanya, baik berupa
masdar atau yang lainnya, maka bisa beramal seperti fiil madlinya,

seperti (
) .
) dan (
Bab : INNA DAN SESAMANYA

*



Lafal

()

bisa

beramal

menashabkan

mubtada

yang

kemudian menjadi isimnya dan merafakan khabar yang kemudian


menjadi khabarnya, seperti () .

), (
) ,
Lafal-lafal yang bisa beramal seperti ( ) adalah, (
), (
( ) dan () .


*
Para ulama telah mentaukidi atau menguatkan makna
), seperti ( ) Sesungguhnya
dengan menggunakan ( ) dan (
)
Zaid adalah orang yang bersungguh-sungguh. dan (
Disebabkan sesungguhnya Zaid adalah orang yang beristiqamah.

34 Amin Khakam ElChudlrie


Sedangkan (
)adalah termasuk perkataan orang yang
mengharapkan sesuatu atau tamanni, seperti orang tua yang
mengatakan (

) Semoga sifat muda kembali pada

suatu hari.
) digunakan untuk menyerupakan perkara yang dicerita(
) Sesungguhnya ilmu adalah
kan atau tasybih, seperti (

seperti nur.
Dan mereka telah menggunakan ( ) untuk istidrak, seperti

Zaid adalah orang yang melakukan shalat


(
)
malam, tetapi dia tidaklah orang yang sholeh.
Sedangkan untuk tarajji (mengharapkan sesuatu yang
disukai) dan tawaqqu (mengharapkan perkara yang dibenci),
maka para ulama telah menggunakan () , seperti perkataan
mereka (
) Seandainya kekasihku datang.

Bab : DZANNA DAN SESAMANYA



*
Nashabkanlah mubtada beserta khabar (yang kemudian
keduanya menjadi dua maful) dengan ( ) dan sesamanya, yaitu

(
) , seperti (
) , (
), seperti (
), (
),
seperti

) , (),
(



seperti (
*
) ,

(

),
), (
) ,

seperti ( *
seperti (

Buku Daros Ilmu Nahwu 35


(), seperti (
) , () , seperti (


) ,

) ,
dan
(

),
seperti
(

),
dan
semua
fiil
yang



tertashrif dari fiil-fiil tersebut, seperti () .

Bab : NAAT


*




Naat terbagi menjadi dua, yaitu
dlamir mustatir yang kembali kepada
dinamakan dengan Naat Hakiki), seperti

Naat yang merafakan


manutnya (atau yang

(
) , dan Naat
yang merafakan isim dzahir yang mengandung dlamir yang
kembali kepada manutnya (atau yang dinamakan dengan Naat
Sababi), seperti (

).

*




*

*
Bagian yang petama, yaitu naat hakiki, maka harus
mengikuti manutnya pada empat perkara dari sepuluh perkara,
yaitu mengikuti salah satu dari wajah irabnya manut (rafa,
nashab atau jer), mengikuti manutnya dalam mufrad, tatsniyyah,
jama, mudzakar muannats, nakirah dan marifatnya, seperti
) dan () .
(

36 Amin Khakam ElChudlrie

*

*

Bagian kedua, yaitu naat sababi, maka bentuklah mufrad,


meskipun manutnya berupa tatsniyyah atau jama. Sedangkan
untuk mudzakar dan muannatsnya, diikutkan kepada isim dzahir
( yang dirafakan yang terletak setelahnya, seperti

),

(
),
(

),
(

),
(

),

),
(

),
(

),
(


), ( ),
), (
( dan

)
Bab : ATHAF



*
Mathuf (lafal yang diathafkan) harus mengikuti mathuf
alaih (lafal yang diathafi) dalam wajah irab (rafa, nashab , jer dan
jazem). Dan tidak ada bedanya antara keduanya berupa kalimah

( ), atau berupa kalimah fiil, seperti ( isim, seperti

).

*
*

Buku Daros Ilmu Nahwu 37



*
Huruf athaf ada sepuluh, yaitu (),
() ,
() ,
(), (), () , (),

(), ( ) dan (), seperti () , (


dan
)

(
) .


Bab : TAUKID

Kalimah isim itu bisa ditaukidi, maka muakkid (lafal yang


mentaukidi) harus mengikuti muakkadnya (lafal yang ditaukidi)
dalam wajah irab (rafa, nashab dan jer) dan marifatnya, karena
muakkid dan muakkad harus berupa isim marifat, tidak boleh
dari isim nakirah.
Catatan:
Taukid adalah pengulangan yang diinginkan dengannya
adalah menetapkan perkara yang diulang dalam hati orang yang
mendengar, seperti ( ) dan () .



*


*
*

38 Amin Khakam ElChudlrie


Lafal taukid manawi yang sudah masyhur ada empat, yaitu
(
),
( ) dan () . Adapun selain empat lafal itu, yaitu (
),
) , (
( ) dan () , maka mengikuti lafal () , artinya harus jatuh setelah


() , seperti (

) .
) dan (
(
),


*
Taukid lafdzi adalah taukid dengan cara mengulang lafalnya,
seperti () .
Bab : BADAL

Apabila ada kalimah isim atau kalimah fiil menyandingi


pada sesamanya dan hukumnya diberikan kepada lafal yang kedua
serta dikosongkan dari huruf athaf, maka jadikanlah irabnya lafal
yang kedua seperti lafal yang pertama, dan lafal yang kedua itu
adalah lafal yang

dinamakan badal, seperti (

) .
()
mengikut kepada ( ) dari segi irabnya, dan dialah yang
dimaksud dengan hukum penisbatan pembuatan nahwu
kepadanya. ( ) dinamakan mubdal minhu dan ()
dinamakan
badal.





*





*

Buku Daros Ilmu Nahwu 39


Badal terbagi menjadi lima, yaitu badal kull min kull, seperti

(
) , badal
badal badli min kull, seperti (
),
) , badal ghalad, seperti (

isytimal, seperti (



) .
) dan badal idlrab, seperti (

Apabila pengucapan ( ) tanpa ada kesengajaan, karena
terpelesetnya lidah, maka termasuk dalam badal ghalad. Namun
jika pengucapan itu adalah disengaja lalu karena ada kesalahan
dalam hati lalu diganti dengan (
) , maka termasuk dalam
contohnya badal idlrab.

*

Fiil bisa menjadi badal dari mubdal minhu yang berupa fiil

juga, seperti (

) .

Bab : ISIM YANG DIBACA NASHAB




*
Isim yang dibaca nashab jumlahnya ada tiga belas, yang tiga
sudah disebutkan di atas (yaitu khabarnya ( ) dan sesamanya,
isimnya ( ) dan sesamanya, dan kedua mafulnya ( )) sedangkan
yang sepuluh akan disebutkan sebagai berikut,

*
Kesepuluh isim yang dibaca nashab tersebut akan dijelaskan
secara urut, yang pertama adalah maful bih.

40 Amin Khakam ElChudlrie


*


Maful Bih adalah isim yang dibaca nashab yang menjadi
sasaran dari perbuatan, seperti (
).




*

Maful bih terbagi menjadi dua, yaitu maful bih isim dzahir,
seperti contoh yang telah disebutkan di atas, dan maful bih isim
dlamir.


*

Maful bih isim dlamir juga terbagi menjadi dua, yaitu maful
bih dlamir muttashil, seperti ()
dan (
dan maful bih
),

dlamir munfashil, seperti (



) .
)dan (


*

Qiyaskanlah pada dua contoh di atas, semua dlamir
munfashil, dan qiyaskanlah juga pada dua contoh sebelumnya
pada setiap dlamir munfashil. Masing-masing dari dlamir
muttashil dan munfashil contohnya ada dua belas.
Bab : MASDAR

Buku Daros Ilmu Nahwu 41

*


Apabila kalian ingin mentashrif lafal () , maka ucapkanlah

(
) . Lafal yang ketiga, yaitu (), adalah masdar, dan yang
menashabkan masdar adalah fiilnya.

*
*
*
Masdar terbagi menjadi dua, yaitu masdar lafdzi (masdar
yang lafal dan maknanya sama dengan amilnya) seperti () , dan
masdar manawi (masdar yang sama dengan amilnya dalam
maknanya saja), seperti () .
Bab : DZARAF

Dzaraf adalah isim yang yang dibaca nashab yang


menunjukkan pada makna waktu atau tempat dengan menyimpan
menurut orang Arab.
maknanya ()


*

Isim makan (isim yang menunjukkan pada makna tempat)
bisa diirab menjadi dzaraf dengan syarat harus mubham (artinya
tidak muayyan atau tidak tertentu pada suatu tempat), seperti
seperti (
)

42 Amin Khakam ElChudlrie


Sedangkan pada isim zaman secara mutlak bisa ditarkib
menjadi dzaraf (artinya baik berupa mubham atau mukhtash),

( seperti
).

Amil yang menashabkan dzaraf adalah fiil yang maknanya

( mengena atau berlaku pada dzaraf itu, seperti


) dan

(
).

*
*




*

) seperti ( Isim zaman yang bisa dijadikan dzaraf adalah

) seperti ( ),
(
( ) seperti ( ),
( ) seperti( ),

) seperti( ),

),
(

)
seperti
(

),
(

)
seperti
(

),
(

)
seperti
(

),
(

)
seperti
(

),
(

)
seperti
), (



)( ), ( ) seperti(
)( ) dan ( ) seperti( ), ( seperti
). ( seperti


*

*

Buku Daros Ilmu Nahwu 43


Isim makan yang bisa ditarkib menjadi dzaraf adalah ()
( )seperti () ,

seperti () ,

)seperti
()
seperti () , (

)
)seperti () ,


(
seperti () , (

( ) seperti () ,
) , (


()

( ) seperti () ,
seperti () , ( )seperti () , ()
seperti

() , ( ) seperti () , ( ) seperti () , ()
seperti () ,
( ) seperti () ,
(

( ) seperti () ,
)

seperti () , ()

( ) seperti () ,

) .
seperti () ,
seperti (

dan ()

Bab : HAAL

Haal adalah isim yang dibaca nashab yang menjelaskan pada


keadaan shahibul haal yang masih samar, seperti (

).


*

Haal harus didatangkan dalam bentuk nakirah, dan biasanya
didatangkan pada akhir (artinya diletakkan setelah shahibul haal).

*
Terkadang haal berada dipermulaan kalam (mendahului amil
dan shahibul haalnya), seperti (
) . Dan juga terkadang

haal berupa isim jamid yang ditawil dengan isim musytaq, seperti

(
) artinya (
).

44 Amin Khakam ElChudlrie


Shahibul haal, hukum asalnya adalah harus berupa isim
marifat, namun terkadang berupa isim nakirah, seperti (
).
Catatan:
Asal dari shahibul haal adalah berupa isim nakiroh, namun
terkadang berupa isim nakirah dengan salah satu dari empat syarat
dibawah ini,
1. Shahibul haal yang nakirah diakhirkan dari haal, seperti

(
) .
2. Didahului nafi atau nahi atau istifham, seperti (


) , ( ) dan () .
3. Shahibul haal ditakhshish dengan sifat atau idlafah, seperti
) dan (
(

).

4. Haalnya berupa jumlah yang dibarengi dengan waw, seperti


) .
(

Namun, terkadang shahibul haal berupa isim nakirah tanpa
ada perkara yang memperbolehkannya (musawwigh) dan itu

) .
adalah qalil, seperti (


Bab : TAMYIZ



*


*

Buku Daros Ilmu Nahwu 45


Tamyiz adalah isim yang dibaca nashab yang menjelaskan
nisbat atau dzat dari suatu jenis yang masih samar, seperti (

)
dan (
) . Dan juga seperti (
) ,

(

) dan () .
Catatan:
Tamyiz dzat adalah tamyiz yang menjelaskan pada isim yang

masih samar (isim mubham) yang dilafalkan, seperti () .

Tamyiz nisbat adalah tamyiz yang menjelaskan pada jumlah


yang masih samar nisbatnya, seperti () ,
karena nisbatnya
baik pada Ali masih samar yang memungkinkan pada banyak
keadaan, lalu kita menghilangkan kesamarannya dengan
mengucapkan ().

*

Diwajibkan dalam tamyiz untuk berupa isim nakirah, dan
secara mutlak tamyiz harus diakhirkan dari mumayyaz (yang
ditamyizi).
Bab : ISTITSNA

Istitsna adalah mengeluarkan suatu lafal dari hukumnya


kalam yang seandainya tidak dikeluarkan maka pasti lafal itu akan
masuk dalam hukumnya kalam, seperti (
Para murid
)
telah datang kecuali Ali.


*

........................... * .............

46 Amin Khakam ElChudlrie


(), (),
Perabot istitsna ada delapan, yaitu (), () , () ,

(),
(

)
dan
(

).

...........

Mustatsna dengan ( )apabila berada dalam kalam taam dan


mujab, maka hukumnya wajib dibaca nashab.

Mustatsna dengan ( )ketika berada dalam kalam taam yang


manfi, maka diperbolehkan dua wajah, yaitu dijadikan badalnya
mustatsna minhu dan boleh dibaca nashab ditarkib istitsna tetapi
hukumnya dlaif.
Hukum seperti itu berlaku ketika mustatsna merupakan
jenisnya mustatsna minhu (istitsna muttashil), sedangkan jika tidak
dari jenisnya (artinya istitsna munqathi), maka hukumnya dibalik
(yang unggul adalah dibaca nashab) menjadi istitsna, seperti (
) . Sedangkan membaca nashab lafal ( ) dalam contoh (
) adalah lebih banyak.



*

*

Buku Daros Ilmu Nahwu 47


Apabila mustatna dengan ( )berada dalam kalam naqish,
maka ( )hukumnya diilghakan (artinya tidak beramal menashabkan) dan amil yang terletak sebelumnya langsung bisa beramal
pada mustatsna (artinya mustatsna diirabi sesuai dengan
kebutuhan fiil sebelumnya), seperti ( ) dan (
) .



*

*


Mustatsna yang terletak setelah salah satu dari perabot
istitsna yang tujuh ini secara mutlak dibaca jer menjadi mudlaf
ilaih. Dan juga membaca nashab juga diperbolehkan, bagi orang
yang menginginkannya, dengan lafal () , ()
dan ()
yang
didahului ()
masdariyyah.
Catatan:

* Hukum mustatsna dengan ( ) dan ()

Terkadang ( ) digunakan untuk istitsna seperti (), dan lafal

yang diistitsnai dengan ( ) selamanya dihukumi jer dengan


diidlafahkan dengannya, seperti (
) .

( ) juga bisa digunakan untuk istitsna seperti halnya ()


dibaca jer
karena mereka semakna. Dan mustatsna dengan ()
dengan diidlafahkan kepadanya, seperti (
) .
Hukumnya ( ) dalam irab adalah seperti hukumnya isim
yang jatuh setelah (), sehingga kita ucapkan (
) dengan
dibaca nashab karena kalamnya taam mujab. Kita ucapkan (
) dengan dibaca nashab juga, meskipun kalamnya taam
manfi, karena dia mendahului mustatsna minhu.

48 Amin Khakam ElChudlrie


) dengan dibaca nashab,

Kita ucapkan (

meskipun kalamnya manfi dan mustatsna tidak mendahului


mustatsna minhu, karena dia masuk dalam istitsna munqathi.
Kita ucapkan (
) dengan dibaca rafa
sebagai badalnya () , atau dengan dibaca nashab sebagai istitsna,
karena kalamnya taam manfi.
Dan kita ucapkan ( ) dengan dibaca rafa, karena dia
menjadi fail, (
) dengan dibaca nashab karena menjadi
maful, dan (
)
dengan dibaca jer, karena dijerkan dengan
huruf jer. Disini ( ) tidak dibaca nashab sebagai istitsna karena
mustatsna minhu tidaklah disebutkan dalam kalam, sehingga amil
langsung beramal kepadanya.
* Istitsna dengan () , ()
dan ()
(),

maknanya

()
dan ( )adalah fiil madli yang mengandung
( )istitsnaiyyah, sehingga lafal-lafal itu bisa digunakan

untuk istitsna.
Hukum mustatsna dengan ketiganya adalah boleh dibaca
nashab dan boleh dibaca jer. Jika dibaca nashab, maka lafal-lafal itu
berkedudukan sebagai fiilmadli dan lafal setelahnya menjadi
mafulnya. Dan jika dibaca jer, maka lafal-lafal itu menjadi huruf jer
yang menyerupai zaidah, seperti (
) .
Membaca nashab mustatsna dengan ()
adalah yang
dan ()
banyak terjjadinya, dan membaca jer dengan keduanya adalah qalil.
Sedangkan membaca jer mustatsna dengan ( )adalah yang
banyak terjadinya, dan membaca nashab dengannya adalah qalil.
Ketika lafal-lafal itu bisa mengejerkan, maka isim setelahnya
dibaca jer secara lafdzi tetapi mahallnya adalah nashab sebagai
istitsna.
Ketika lafal-lafal itu diberlakukan sebagai fiil, maka failnya
berupa dlamir mustatir yang kembali kepada mustatsna minhu,

Buku Daros Ilmu Nahwu 49


namun ada yang mengatakan bahwa dlamir itu kembali kepada
(
) yang dipaham dari isim yang mendahuluinya, sehingga
penakdirannya menjadi (

) , dan diwajibkan untuk

memudzakarkan dan memufradkannya, karena bertempatnya fiilfiil itu pada tempatnya huruf, karena mereka telah mengandung
maknanya ().
Bab : LAA NAFYIL JINIS



*


*


Dari segi pengamalam ( )bisa beramal seperti () , maka


nashabkanlah dengan ( )pada isim nakirah yang bertemu langsung
dengan (), baik berupa mudlaf atau yang serupa dengan mudlaf,

seperti (
) .
Catatan:
Isimnya ( ) nafi jinis terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Mufrad, yaitu lafal yang tidak berupa mudlaf dan tidak juga
berupa syibeh mudlaf. Tandanya adalah lafal itu tidak beramal
) . Hukum isim
kepada lafal setelahnya, seperti (

tersebut adalah dimabnikan dengan sesuai tanda nashab nya,


yakni dengan fathah atau ya atau kasrah, tanpa ditanwin,
) dan (
) , (
seperti () , () , (

).
Diperbolehkan
pada
jama
muannats
salim
untuk



imabnikan fath, seperti (

) .
2. Mudlaf, yaitu hukumnya harus murab dibaca nashab, seperti

(
) .
) , ( ) dan (

50 Amin Khakam ElChudlrie


3. Syibeh Mudlaf, yaitu lafal yang sesuatu yang menjadi
penyempurna maknanya bertemu dengannya. Tandanya
adalah lafal itu bisa beramal kepada lafal setelahnya, yaitu
dengan sekiranya lafal setelahnya menjadi failnya, seperti
(
) , atau nabul fail, seperti () , atau maful,

seperti (
) , atau dzaraf yang bertaalluq dengannya,
) , atau jer-majrur yang bertaalluq
seperti (

dengannya, seperti () , atau menjadi tamyiznya,

seperti (
) . Hukum isim ini adalah murab juga,
seperti yang telah kalian lihat.

Tetapi ketika (), yang isimnya berupa mufrad, diulangulang, maka ( )diperbolehkan dua wajah, yaitu bisa beramal dan
bisa tidak beramal.
Ketika isimnya ( )berupa mufrad (tidak berupa mudlaf atau
syibeh mudlaf), maka isimnya ( ) boleh dimabnikan sesuai alamat
nashab nya, karena antara ( )dan isimnya ditarkib seperti
tarkibnya lafal () , dan boleh juga jika dibaca rafa dengan

ditanwin, seperti lafal (


) , jika ( )diulang, maka lafal (
)
atau isim yang kedua dibaca nashab, sehingga diucapkan (

)atau isim yang pertama dibaca nashab, maka lafal


). Dan jika (
(
)tidak boleh dibaca nashab, sehingga tidak boleh diucapkan (

) .

Buku Daros Ilmu Nahwu 51


Catatan:
Ketika ( )diulang-ulang dalam kalam, maka kita diperbolehkan untuk mengamalkan ( )yang pertama dan yang kedua secara
bersamaan, atau memuhmalkan keduanya secara bersamaan, atau
mengamalkan ( )yang pertama dan memuhmalkan yang lainnya,

atau memuhmalkan ( )yang pertama dan mengamalkan yang



lainnya. oleh karenanya, dalam semisal lafal (
)
diperbolehkan lima wajah, yaitu:
1. Memabnikan kedua isim dengan menjadikan ( )beramal
) .
seperti () , seperti (

2. Merafakan kedua isim dengan menjadikan ( )beramal seperti


(
), atau ( )dimuhmalkan dan lafal setelahnya menjadi
) .
mubtada-khabar, seperti (

3. Memabnikan fath isim yang pertama dan merafakan isim yang
) .
kedua, seperti (

4. Merafakan isim yang pertama dan memabnikan fath isim


) .
kedua, seperti (

5. Memabnikan fath isim pertama dan menashab kan isim kedua


dengan diathafkan kepada mahalnya isimnya (), seperti (
) . Wajah ini adalah wajah yang paling dlaif dan yang

paling quat adalah memabnikan kedua isim lalu merafakan


keduanya.
Ketika kita merafakan isim yang pertama, maka kita dilarang
untuk mengirabi isim yang kedua dengan nashab yang ditanwin,

sehingga tidak boleh diucapkan (
) , karena tidak ada
wajah untuk menashabkannya.

52 Amin Khakam ElChudlrie


Ketika isimnya ( )dimarifatkan atau antara ( )dan isimnya
dipisah, maka isimnya ( ) wajib dibaca rafa dan ditanwin, karena
sebagai mubtada, dan juga diwajibkan untuk mengulang (),
) dan () .
seperti (


Bab : MUNADA


*

*


Munada (sesuatu yang diseru) ada lima macam, yaitu
munada mufrad alam, seperti () , munada mufrad nakirah
maqshudah, seperti () , munada mufrad nakiroh ghairu
maqshudah, seperti () , munada mudlaf, seperti ()
dan munada syibeh mudlaf, seperti () .
Catatan:
Munada mufrad alam atau mufrad marifat adalah munada
yang tidak berupa mudlaf atau syibeh mudlaf, baik munada itu
berupa tatsniyyah atau jama, seperti () , () , dan () .

Munada nakirah maqshudah adalah semua isim nakiroh


yang jatuh setelah huruf nida dan dimaksudkan untuk memuayyankannya (untuk sesuatu yang tertentu), seperti ()

Wahai anak muda (yang ada dihadapan mutakallim).


Munada nakirah ghairu maqsudah adalah semua isim
nakiroh yang jatuh setelah huruf nida yang dimaksudkan tidak
untuk sesuatu yang tertentu, seperti orang buta yang mengucapkan
( ) Wahai anak muda! Peganglah tanganku.
Munada mudlaf adalah munada yang berupa susunan
mudlaf-mudlaf ilaih, seperti ( ) Hei pembantunya Zaid.

Buku Daros Ilmu Nahwu 53


Munada syibih mudlaf adalah munada yang berupa lafal
yang membutuhkan pada lafal yang lainnya untuk kesempurnaan
maknanya, seperti ( ) Hei pendaki gunung.

*




*

*


*

Dua munada yang pertama (munada mufrad alam dan
munada nakirah maqshudah), maka dimabnikan sesuai dengan
tanda rafanya yang telah diketahui dengan tanpa ditanwin secara
mutlak. Sedangkan tiga munada yang lainnya, maka hukumnya

dibaca nashab, seperti () , () , () , (



) dan (
) .
Bab : MAFUL MIN AJLIH

*


Maful min ajlih adalah masdar yang dibaca nashab yang
didatangkan untuk menjelaskan sebab terjadinya suatu perbuatan

yang dilakukan, seperti lafal (


) dalam contoh (
)
Berdirilah kamu untuk menjaga keburukannya.

*


*

54 Amin Khakam ElChudlrie


Syarat dari maful min ajlih adalah adanya kesamaan antara
masdar itu dengan amilnya dalam waktu dan failnya, seperti (

).
) dan (

Namun, jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka diwajibkan


untuk membaca jer masdar dengan huruf jer yang berfaidah talil,

dan ().

Contohnya, (
seperti lam, ()
), (


) dan (

) .

Bab : MAFUL MAAH

*

Maful Maah adalah kalimah isim yang dibaca nashab yang
terletak setelah waw maiyyah yang menjelaskan orang atau
sesuatu yang pekerjaan orang atau sesuatu yang lain bersamaan
dengan orang atau sesuatu tersebut, seperti (
)
Aku

berjalan bersama sungai.


*
Nashabkanlah maful maah dengan fiil yang menyertainya
atau dengan lafal yang serupa dengan fiil, seperti (

),

( ) dan (
) .
Bab : ISIM YANG DIBACA JER

Buku Daros Ilmu Nahwu 55


Yang bisa mengejerkan kalimah isim ada tiga, yaitu huruf jer,
) , mudlaf, seperti (
seperti (
) , dan itba


(dibaca jer karena mengikut kepada isim yang dibaca jer), seperti
) .
(

*
Huruf yang bisa mengejerkan kalimah isim ada lima belas,

() , (), (
yaitu () ,
(),
()
) , () , () , () ,
qasam, ( )qasam, ()

qasam, () ,
),
)

() ,
(
dan (
yang dibuang, seperti (

), () , () ,


), (
(

), (


) , (
) ,


) , (
() ,
(
),
).
(

Bab : IDLAFAH
Idlafah adalah hubungan yang membatasi diantara dua isim,
dengan mengira-kirakan huruf jer, yang mewajibkan dibaca jernya
isim yang kedua untuk selamanya, seperti (
) .
Isim yang pertama dinakan Mudlaf dan isim yang kedua
dinamakan Mudlaf Ilaih. Mudlaf dan mudlaf ilaih adalah dua isim
yang diantara kedunya terdapat huruf jer yang dikira-kirakan.


*

Mudlaf ketika mengandung tanwin atau nun, maka ketika
diidlafahkan, tanwin atau nun itu harus dibuang, seperti ( ) yang
asalnya adalah () , dan ( ) yang asalnya adalah () .

56 Amin Khakam ElChudlrie



*


Jerkanlah dengan mudlaf, isim yang terletak setelahnya
(mudlaf ilaih), seperti () .

*

*





Idlafah itu mengandung salah satu dari maknanya huruf jer
seperti () , () , () , (
lam atau () ,
(),
) , (


) dan

(

).
Catatan:
Idlafah ada empat macam, yaitu:
1. Idlafah Lamiyyah, yaitu idlafah yang menakdirkan lam huruf

jer, yang berfaidah milik atau ikhtishash, seperti (


) dan
(
) .

2. Idlafah Bayaniyyah, yaitu idlafah yang menakdirkan ( ) .


Tandanya adalah jika mudlaf ilaih merupakan jenisnya mudlaf,
yaitu dengan sekiranya mudlaf sebagian dari mudlaf ilaih,

seperti (
) .

3. Idlafah Dzarfiyyah, yaitu idlafah yang menakdirkan ( ).


Tandanya adalah jika mudlaf ilaih merupakan dzarafnya
mudlaf, dan berfaidah pada zamannya mudlaf atau tempatnya
mudlaf, seperti (
) .



Hukumnya isim-isim yang dibaca jer karena mengikuti isim
yang lain (: tabi), telah dijelaskan didalam bab empat isim yang

Buku Daros Ilmu Nahwu 57


mengikut kepada isim yang lainnya (tawabi empat), yaitu dalam
bab naat, taukid, athaf dan badal.

*

Wahai Tuhanku! Curahkanlah kasih dan saying-Mu kepada
kami, sehingga kami dapat mengikuti jalan kebenaran dan
petunjuk-Mu, sehingga nantinya kami dapat memperoleh tingginya
derajat disisi-Mu.



*
*



Pada bulan keenam, yaitu bulan Jumadi Tsani, tahun 970 H,
telah selesai penyusunan nadzam muqaddimah ini yang didalamnya
terdapat seperempat dari seribu bait (artinya 250 bait) yang sudah
mencukupi bagi orang-orang yang ingin mempelajarinya dengan
kekeh. Yaitu nadzam yang telah disusun oleh hamba Allah yang
faqir yaitu Syeikh Syarafuddin Yahya al Amrithi, seorang hamba
yang lemah dan memiliki banyak kesalahan dalam melaksanakan
tugasnya sebagai hamba.




*

Segala puji hanya milik Allah semata untuk selama-lamanya
atas anugerah dan nikmat-Nya yang agung yang telah Dia
curahkan kepada seluruh hamba-Nya.

58 Amin Khakam ElChudlrie

*

Shalawat serta salam semoga selalu terhaturkan kepada Nabi
yang terpilih dan yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad saw.
Dan juga semoga terhaturkan kepada para sahabat dan keluarga
beliau yang mereka adalah orang-orang yang bertakwa, berilmu
dan memiliki kesempurnaan. Wallahu alam bis shawab wa ilaihil
marji wal maab.

Buku Daros Ilmu Nahwu 59


MARAAJI

Fath Rabbil Bariyyah


Syarah Ibnu Aqil
Hasyiyah Hudlari
Syarah Makudi
Hasyiyah Ibnu Hamdun
Syarah Asymuni
Hasyiyah Shabban
Minhatul Jalil
Fath Ghafir al Khathiyyah
Taswiqul Khillan
Jami al Durus al Arabiyyah
Syarah al Mufasshal
Ubadah
Kamus al Ishri

Anda mungkin juga menyukai