Anda di halaman 1dari 82

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PAK

DENGAN METODE DISKUSI BUZZ GROUP PADA SISWA


KELAS V DI SD KRISTEN BALA KESELAMATAN LEKATU

PROPOSAL
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Kristen (S1)

Disusun Oleh:
Yanet Kristin Muna
NIM : 1209015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN


SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PALU
2015

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN...........................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN..............................................................
ABSTRAK............................................................................................
KATA PENGANTAR...........................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah..................................................1
1.2. Rumusan Masalah..........................................................15
1.3. Tujuan Penelitian...........................................................15
1.4. Manfaat Penelitian.........................................................15
1.5. Batasan Masalah............................................................17
1.6. Sistimatika Penulisan.....................................................17

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1. Metode Buzz Group
2.1.1. Pengertian Metode dan Diskusi............................20
2.1.2. Metode Mengajar di Sekolah Dasar......................21
2.1.3. Jenis-jenis Metode Diskusi...................................24
2.1.3.1. Controlled Discussion..................................24
2.1.3.2. Step by step discussion.................................25
2.1.3.3. Case discussion...........................................25
2.1.3.4. Free group discussion..................................25
2.1.4. Pengertian Metode Diskusi Buzz Group...............27
2.1.5. Keunggulan Metode Buzz Group..........................29
2.1.6. Langkah-langkah Pelaksanaan..............................31
Diskusi Buzz Group
2.1.7. Manfaat Diskusi Buzz Group................................35
2.1.7.1. Bagi Guru.....................................................35
2.1.7.2. Bagi Siswa...................................................36
2.1.7.3. Bagi Proses Pembelajaran............................37
2.1.8. Dasar Teologis Metode Diskusi Buzz Group........38
2.1.8.1. Perjanjian Lama...........................................40
2.1.8.2. Perjanjian Baru.............................................43

2.2. Minat Belajar Siswa.......................................................46


2.2.1. Dasar Teori Minat Belajar.....................................46
2.2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar..49
2.2.2.1. Faktor Internal/Dari dalam diri....................49
2.2.2.2. Faktor Eksternal/Dari luar diri.....................50
2.2.3. Karakteristik Belajar Siswa Usia 10-11 Tahun.....52
2.2.4. Meningkatkan Minat Belajar Siswa......................54
2.3. Pendidikan Agama Kristen
2.3.1. Pengertian, Dasar, Tujuan dan Hakikat PAK........57
2.3.2. Jenis-jenis PAK.....................................................59
2.3.3. PAK di Sekolah Dasar...........................................60
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian.....................................................62
3.2. Desain dan Model Penelitian.........................................62
3.3. Langkah-langkah Penelitian...........................................64
3.3.1. Indikator Keberhasilan..........................................65
3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian..........................................66
3.5. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel......66
3.6. Instrumen Penelitian......................................................69
3.6.1. Instrumen Penelitian Tindakan
Kelas - Implementasi......................................................69
3.7. Teknis Analisis Data.......................................................73

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah

Belajar adalah suatu proses yang harus dialami oleh setiap manusia.
Tidak ada orang yang tidak pernah mengalami proses belajar dalam
hidupnya. Sejak seseorang baru lahir ia belajar mengenal ibunya lewat
sentuhan-sentuhan. Setelah proses tersebut, anak kemudian belajar
tengkurap, belajar merangkak, belajar duduk, belajar berdiri, belajar
berjalan, dan tidak pernah berhenti belajar sampai akhir hidupnya.
Proses belajar tidak hanya berlangsung selama masa kanak-kanak
melainkan berlangsung seumur hidup. Belajar tidak hanya terjadi di dalam
keluarga, tetapi proses ini juga berlangsung di sekolah, di dalam
masyarakat, dan melalui lingkungan sekitar kita.
Belajar tidak mengenal batas usia dan profesi. Guru pun sebagai
pengajar pasti telah belajar bahkan terus belajar untuk mengembangkan
kemampuannya untuk mengajar siswa-siswinya di sekolah. Sehingga dari
pernyataan ini dapat dipahami bahwa belajar adalah natur manusia, artinya

mau tidak mau, setiap orang harus mengalami proses pembelajaran dalam
hidupnya. Di sekolah seorang siswa dituntut untuk terus belajar demi
tercapainya hasil pembelajaran. Siswa yang giat belajar pasti berprestasi di
sekolahnya dan hasilnya pasti memuaskan, baik itu untuk dirinya sendiri,
gurunya, maupun orang tuanya. Namun untuk mencapai suatu prestasi
dalam belajar dan mencapai hasil yang memuaskan dari proses belajar
tersebut, siswa harus terlebih dahulu memiliki minat belajar yang tinggi
dalam dirinya.
Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu,
gairah, ataupun keinginan.1 Tanpa adanya minat yang timbul dari dalam
hati, maka mustahil bagi seseorang akan mencapai sesuatu atau tujuan
dalam hidupnya. Misalnya seseorang yang memiliki minat membaca buku
pasti akan membaca buku tersebut dan berhasil mengerti isi buku yang ia
baca dengan baik. Namun sebaliknya jika ia tidak berminat membaca
buku maka mustahil akan mengerti bahkan mengetahui apa isi buku
tersebut.

1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka,


2005)

Demikian pula dalam proses pembelajaran. Minat menjadi faktor


yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap siswa, sebab akan
mendukung hasil belajarnya di kelas. Siswa yang memiliki minat dalam
belajar ditunjukan dari sikapnya yang tertarik, aktif, bersemangat dan
bergairah dalam mengikuti mata pelajaran tertentu di kelas. Jika minat
belajarnya tinggi tentunya ia akan terus menerus memacu dirinya supaya
dapat memperoleh keberhasilan.
Sebaliknya, jika minat belajar siswa rendah maka dapat dilihat pula
dari sikapnya dalam proses pembelajaran. Kelas menjadi pasif karena
siswa tidak tertarik dengan pelajaran atau gaya mengajar gurunya. Hal ini
tentunya akan mempengaruhi hasil belajarnya pula. Jadi, minat belajar
siswa begitu penting sebab merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pembelajarannya. Siswa yang
tidak memiliki gairah dan semangat belajar pasti mengalami kegagalan
dalam proses belajar di kelas, sebaliknya siswa yang memiliki minat yang
tinggi untuk belajar akan berhasil dan berprestasi pada mata pelajaran
yang diminatinya tersebut.
Menjadi guru adalah sebuah panggilan, sebab tidak semua orang
mau menjadi guru. Menurut Jansen Sinamo guru adalah seseorang yang

dirahmati untuk membawa, membimbing, muridnya dari ketidaktahuan


menjadi tahu.2 Kesadaran atas panggilan tersebut harusnya membuahkan
rasa tanggung jawab bagi seorang pendidik. Bukanlah hal yang sulit jika
guru benar-benar mengerti akan panggilan ini namun yang harus dipahami
adalah tugas guru bukan hanya mengajar atau mentransfer ilmu
pengetahuan pada siswanya. Akan tetapi juga guru harus mampu
membimbing siswanya untuk belajar serta mencapai keberhasilan belajar.
Sebagai dasarnya, guru harus mampu mengenali apa yang menjadi
kebutuhan siswa.
Dengan mengenal dan memahami situasi anak didiknya tersebut
maka guru diharapkan dapat membantu masalah minat belajar siswa yang
rendah di sekolah dan mampu memotivasi kembali siswa-siswinya untuk
belajar dan memperoleh nilai yang memuaskan dan berhasil dalam
pembelajaran.
Secara psikologis, minat belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua
faktor umum, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara
lain mencakup faktor dari dalam diri siswa yaitu kesehatan jasmani dan
keadaan psikologis. Sedangkan faktor eksternal mencakup segala sesuatu
2 Jansen Sinamo, Delapan Etos Keguruan (Bina Media Informasi, 2012), 10

yang ada di luar diri siswa misalnya lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat3. Menurut penulis, faktor eksternal yang dapat mempengaruhi
minat belajar siswa di sekolah antara lain adalah metode guru mengajar,
kurikulum, media belajar, keadaan gedung sekolah, lingkungan sekolah
dan lain sebagainya.
Sekolah Dasar Kristen Bala Keselamatan (SD BK) Lekatu terletak
di Desa Lekatu, Kecamatan Palu Timur tidak jauh dari pusat kota Palu.
Masyarakat desa Lekatu mayoritas memeluk agama Kristen dan
merupakan etnis suku Da'a Kaili. Ada pula penduduk yang datang dan
menetap di desa ini di antaranya yakni suku Kaili Ledo, Ija, dan Bugis.
Bahasa yang digunakan masyarakat sehari-harinya adalah bahasa Da'a.
Mata pencarian penduduk yang merupakan orang tua dari siswa-siswi di
SD BK Lekatu umumnya adalah petani, nelayan, bekerja bangunan,
menjual sayur-sayuran atau hasil kebun di pasar.
Selain itu umumnya orang tua memiliki tingkat pendidikan yang
rendah karena hanya lulus sekolah dasar saja. Pada hari-hari tertentu
sering kali anak-anak tidak hadir di sekolah dengan alasan membantu
orang tua berjualan di pasar.
3https://www.academia.edu/8458235/makalah_teori_pembelajaran_faktorfaktor_yang_memengaruhi_belajar

SD BK Lekatu dibuka sejak tahun 1989 dan saat ini sudah


memiliki 5 kelas, dan 1 kelas yang digabung bersama ruangan
perpustakaan, dan 1 ruangan dewan guru. Karena masih dalam tahap
transisi kepemimpinan, maka sekolah saat ini belum memiliki kepala
sekolah secara resmi. Jumlah guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak
dua orang dan 6 orang guru honorer serta satu orang staff, dan satu orang
penjaga sekolah.
Dalam pengamatan penulis sekolah masih banyak memiliki
keterbatasan khususnya dalam hal sarana dan prasarana penunjang
pembelajaran seperti ruangan kelas dan buku pelajaran. Salah satu
contohnya yaitu bangunan yang di dalamnya merupakan perpustakaan
sekaligus ruangan kelas 1. Hal ini tentunya membuat siswa tidak nyaman
dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas tersebut karena kelas penuh
dengan lemari-lemari dan buku-buku perpustakaan. Selain itu, siswa-siswi
di sana umumnya tidak mempunyai buku pelajaran sendiri. Pihak sekolah
melalui Dinas Pendidikan sebenarnya sudah menerima bantuan untuk
pengadaan buku cetak atau buku pelajaran.
Namun demikian buku-buku tersebut jumlahnya masih sangat
terbatas sehingga ketika pelajaran berlangsung tidak semua anak-anak
mempunyai buku pelajaran. Salah satu penyebab dari ketidakadaan buku

pelajaran adalah faktor ekonomi yang menyebabkan siswa tidak mampu


untuk membeli buku. Oleh karena itu semestinya sekolah dapat lebih
mengusahakan pengadaan buku ini guna menunjang proses pembelajaran
salah satu caranya dengan memperbanyak dengan photo copy buku-buku
pelajaran tersebut. Sedangkan keterbatasan ruangan bisa diatasi dengan
cara

membuat

sekat/pembatas

dari

papan

antara

kelas

dengan

perpustakaan.
Dalam kesehariannya siswa-siswi di Sekolah Dasar tersebut secara
umum menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Da'a saat sedang
bersosialisasi dengan teman-teman di Sekolah. Oleh karena itu seringkali
guru di kelas juga menggunakan bahasa Da'a dalam

melakukan

pendekatan terhadap siswa namun ketika mengajar di kelas umumnya


guru menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Siswa-siswi di Sekolah
Dasar ini secara umum masih kesulitan dalam membaca dan menulis. Hal
tersebut menyebabkan banyak siswa-siswi yang belum lancar membaca
dan menulis tidak mencatat pelajaran yang diberikan di kelas dan sebagian
siswa jarang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru baik pada saat
pembelajaran berlangsung maupun tugas Pekerjaan Rumah (PR). Dalam
rangka mengatasi masalah belajar siswa ini, kepala sekolah beserta guruguru melakukan bimbingan belajar yakni pada hari-hari tertentu seperti

hari Jumat dan Sabtu. Solusi yang dilakukan ialah dengan bantuan media
belajar seperti poster/gambar, daftar angka/ huruf dan media-media
lainnya guna membantu siswa untuk membaca dan menulis dengan lebih
baik. Hal tersebut telah terbukti berhasil dengan banyaknya siswa yang
terbantu dalam kesulitan belajar dan dalam mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru mata pelajaran.
Menurut Anderson, tujuan membaca di sekolah adalah untuk
mencapai salah satu tujuan instruksional yang paling penting, yaitu
belajar.4 Lebih lanjut Anderson mengatakan bahwa keberhasilan belajar
siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar di sekolah sangat
ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa yang
tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan
mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang
disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan
sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya
juga lamban jika dibandingkan dengan siswa-siswa yang tidak mengalami
kesulitan dalam membaca.5

4 Meithy Djiwatampu, Membaca Untuk Belajar. Jakarta: Balai Pustaka, 2008. Hal. 9

Taksonomi Bloom menjelaskan bahwa ada 3 (tiga) ranah/tingkat


berpikir yakni kognitif, afektif dan psikomotor. Kegiatan seperti membaca
dan menulis mencakup ranah kognitif dan psikomotor siswa. Lebih jauh
dijelaskan

Radno

bahwa

ranah

psikomotor

adalah

ranah

yang

berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan


lain sebagainya.6

Sedangkan ranah kognitif berhubungan erat dengan

kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal,


rnemahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan kemampuan
mengevaluasi. Kemampuan tersebut dapat diperoleh dari hasil membaca
dan mendengarkan.
Guna memperlancar jalannya proses pendidikan, maka kurikulum
yang dipakai di sekolah mengikuti anjuran pemerintah yakni kurikulum
2013. Namun karena beberapa hambatan, masih ada pula mata pelajaran
yang memakai kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Salah satu kendalanya yaitu tidak adanya buku
penunjang yang sangat dibutuhkan oleh guru dalam membuat kurikulum.
Selain itu buku pelajaran untuk siswa dengan kurikulum 2013 tersebut
5 journal.um.ac.id/index.php/jph/article/viewFile/4150/798
6 Radno, Pengelolaan Kelas Yang Dinamis. Hal.89

juga jumlahnya masih sangat terbatas. Karena keterbatasan inilah maka


beberapa mata pelajaran termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama
Kristen masih harus menggunakan kurikulum lama yaitu KTSP. Menurut
penulis hal ini menjadi salah satu kendala karena guru menjadi kesulitan
dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, kesulitan
mengelola kelas, kesulitan dalam menentukan metode mengajar.
Namun demikian, dalam karya tulis ilmiah ini penulis tidak akan
membahas lebih jauh tentang kurikulum yang ada di sekolah. Penulis
hanya akan berfokus pada metode pembelajaran yang digunakan guru
dalam pengelolaan kelas.
Dalam proses pembelajaran, seorang guru profesional sudah
seharusnya

mempersiapkan

perangkat-perangkat

belajar

mengajar

sebelum memulai suatu pembelajaran. Dalam pengamatan penulis, guruguru di SD BK Lekatu masih kurang memiliki kesiapan mengajar dalam
hal ini perencanaan pembelajaran. Hal ini nampak dari masih kurangnya
guru yang membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus
mengajar. Rencana pembelajaran sangat penting untuk dipersiapkan
sebelum guru menentukan strategi dan metode pembelajaran di kelas.
Guru yang tidak memiliki kesiapan mengajar seringkali hanya
menggunakan metode konvensional atau lazim yaitu ceramah. Hal ini

jugalah yang terjadi di SD BK Lekatu. Metode ceramah seakan-akan


menjadi senjata ampuh para guru yang kurang memiliki kesiapan dalam
hal memberikan pelajaran di kelas. Hal ini tentunya sangat disayangkan
sebab siswa tidak dapat berpartisipasi di dalam kelas. Mereka hanya
menjadi objek atau pendengar saja sedangkan guru menjadi satu-satunya
subjek. Model pembelajaran seperti ini bukanlah model pembelajaran
yang efektif. Sebab jika hal ini terus-menerus terjadi dalam setiap proses
pembelajaran maka siswa tidak memiliki minat untuk belajar sehingga
akan mempengaruhi juga pada hasil belajarnya.
Metode mengajar yang baik dan efektif akan menghasilkan
perubahan tingkah laku yang baik dan positif. 7 Oleh karena itu peran guru
begitu penting dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat dan
efektif di kelas.
Metode mengajar guru yang tidak tepat membuat pembelajaran
menjadi tidak menarik. Dengan metode ceramah yang seringkali
dilakukan guru termasuk guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) membuat
minat belajar siswa pun menjadi rendah. Minat belajar siswa yang rendah
dapat diukur dari suasana kelas yang tidak hidup, absen kelas yang sering
bolong, siswa sering ijin keluar masuk kelas pada saat pelajaran Agama
7Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran (Rineka Cipta, 2005), 30

berlangsung, siswa sering bolos bahkan pulang ke rumah sebelum jam


pelajaran selesai, dan sebagian siswa jarang mengerjakan tugas dan
pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru mata pelajaran.
Kemampuan belajar anak menurut Learning Pyramid menjelaskan
bahwa belajar dengan membaca mempunyai keberhasilan 10%, belajar
dengan audiovisual 20%, demonstrasi 30%, diskusi 50%, praktek atau
latihan 75% dan mengajar orang lain sebanyak 90%. 8 Pembelajaran siswa
yang pasif dimulai dari presentase 10-30%, sedangkan pembelajaran yang
aktif dimulai dari presentase 50% dan seterusnya. Dari sini dapat dilihat
bahwa kemampuan belajar siswa meningkat dengan metode diskusi.
Sebab dengan diskusi siswa dapat melihat, mendengar, berbicara dan
berpikir bahkan bekerja-sama dengan teman-teman dalam kelompoknya.
Untuk itulah penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas
dengan metode diskusi.
Sekolah sebagai salah satu dari Tri-Pusat pendidikan berkewajiban
untuk mewujudkan pengajaran yang mendidik.9 Pengajaran yang
mendidik hanya terjadi apabila guru menguasai berbagai strategi belajar
8 Learning Pyramid (National Training: Laboratorium, Bethel, Mane)
9 Umar Tirtarahardja, S. L. La Sulo, Pengantar Pendidikan (Rineka Cipta: 2008), 172

mengajar yang kemudian akan memberi peluang baginya untuk memilih


variasi kegiatan belajar mengajar yang bermakna10. Inilah artinya bahwa
guru sebagai pendidik harus mempersiapkan diri sebelum masuk dalam
pembelajaran salah satunya dengan mempersiapkan metode mengajar apa
yang akan ia pakai.
Kesulitan maupun kegagalan yang dialami siswa tidak hanya
bersumber dari kemampuan siswa yang kurang tetapi ada faktor lain yang
juga menentukan keberhasilan siswa dalam belajar yaitu faktor dari luar
diri siswa salah satunya adalah kurangnya perhatian siswa saat guru
menerangkan, metode yang digunakan guru juga kurang menarik, metode
pembelajaran yang kurang efektif dan efisien, pembelajaran yang
monoton, guru yang bersifat otoriter dan kurang melihat kemampuan
siswa sehingga siswa merasa bosan dan kurang minat belajar. Meskipun
ada begitu banyak faktor mungkin mempengaruhi minat siswa tersebut
namun paling tidak guru sebagai pengajar, pendidik dan fasilitator dapat
melakukan perannya dengan baik. Salah satunya dengan memilih metode
yang lebih baik dan tepat bagi siswa.
Oleh karena itu, metode yang membuat penulis tertarik untuk
membahasnya dalam proposal penelitian tindakan kelas ini adalah metode
10 Ibid, 174

diskusi. Penulis berharap dalam penelitian tindakan kelas nanti, metode


diskusi mampu meningkatkan minat belajar siswa di kelas secara khusus
pada mata pelajaran PAK. Sebab tujuan yang diharapkan dari penelitian
ini siswa dapat memiliki minat belajar yang tinggi di kelas karena suasana
kelas yang lebih aktif, kreatif dan menyenangkan bagi siswa.
Minat belajar siswa menjadi salah satu faktor yang serius dan
butuh perhatian khusus, sebab minat belajar akan menentukan
keberhasilan belajar siswa. Dengan metode tersebut guru diharapkan dapat
memberikan

stimulus/rangsangan

berupa

motivasi-motivasi

dan

kesempatan belajar yang lebih aktif pada siswanya sehingga siswa lebih
tertarik, bersemangat, bergairah dalam mengikuti pelajaran PAK.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,
maka penulis tertarik untuk menulis dan mengkaji lebih dalam karya tulis
ilmiah dengan judul "Meningkatkan Minat Belajar PAK dengan Metode
Diskusi Buzz Group pada Siswa Kelas V di SD Kristen Bala Keselamatan
Lekatu".
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang seperti dipaparkan di atas maka dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan metode diskusi buzz group?


2. Bagaimana metode buzz group meningkatkan minat belajar PAK siswa
kelas V SD Bala Keselamatan Lekatu?

1.3.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dari penulisan karya ilmiah ini adalah

sebagai berikut:
1. Bagaimana mengetahui penerapan metode diskusi buzz group.
2. Bagaimana mengetahui metode buzz group dapat meningkatkan minat
belajar PAK siswa kelas V SD Bala Keselamatan Lekatu.

1.4.

Manfaat Penelitian
1. Untuk Sekolah
Sebagai sarana mengevaluasi kembali metode-metode mengajar
yang selama ini diterapkan dalam proses belajar-mengajar di kelas
secara khusus pada mata pelajaran PAK di SD BK Lekatu. Penulis
memakai metode Diskusi dalam penelitian tindakan kelas khususnya
di kelas V. Guru sebagai pengajar juga dapat mengenal faktor-faktor
apa saja yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa di Sekolah.

2. Untuk Siswa
Siswa dapat termotivasi dan bersemangat mengikuti setiap mata
pelajaran khususnya mata pelajaran PAK kelas V (lima) di SD BK
Lekatu. Dengan metode Diskusi Buzz Group diharapkan siswa dapat
lebih berminat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar di kelas.
3. Untuk Penulis
Sebagai

bekal

penting

dalam

melakukan

pelayanan

dan

pengabdian pada anak didik atau siswa di sekolah. Serta anak-anak


sekolah minggu di mana penulis juga melayani.
4. Untuk Akademik
Sebagai salah satu karya tulis ilmiah dengan model Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) yang dapat menjadi sumbangsih bagi kampus
secara khusus bagi adik-adik tingkat jurusan PAK dalam memahami
karakteristik

belajar

siswa

di

tingkat

Sekolah

Dasar

dan

memperkenalkan salah satu metode mengajar yang dapat dipakai


dalam pembelajaran di kelas yaitu metode Diskusi Buzz Group.

1.5.

Batasan Masalah
Penulis membuat penelitian ini pada tingkat Sekolah Dasar secara

khusus pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen di kelas V SD


Kristen Bala Keselamatan Lekatu. Jumlah siswa di kelas ini berkisar
antara 30-35 orang siswa. Minat belajar siswa yang diamati dalam belajar
ditunjukkan dengan kehadiran siswa di kelas, keterlibatan siswa selama
proses diskusi, siswa dapat mengikuti pelajaran dari awal sampai
berakhirnya jam pelajaran, siswa tidak keluar masuk selama pembelajaran
berlangsung, siswa melaksanakan kegiatan diskusi dengan aktif, absen
siswa menjadi lebih tertib dan tidak ada lagi siswa yang bolos.

1.6. Sistimatika Penulisan


Untuk memperjelas dan memperdalam pembahasan, maka skipsi
ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
BAB I,

merupakan Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang

masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan


masalah, serta sistematika penulisan.

BAB II,

merupakan bagian kajian pustaka yang di dalamnya

dibahas mengenai variabel I dalam hal ini mengenai diskusi buzz group.
variabel II yaitu minat belajar siswa dan variabel III yaitu Pendidikan
Agama Kristen. Adapun bentuk pembahasan tiap variabel secara umum
yaitu membahas pengertian, dasar, jenis-jenis, manfaat-manfaat, serta
hubungan dan proses anatara variabel I dan variabel lainnya.
BAB III,

merupakan rancangan penelitian yang terdiri dari desain

dan model penelitian, lokasi dan waktu penelitian, populasi sampel dan
teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, instrument
penelitian dan terakhir adalah teknik analisis data yang akan dipakai.
Dalam karya tulis ilmiah ini penulis memakai metode penelitian kualitatif,
dengan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
BAB IV,

merupakan hasil dan pembahasan yang diuraikan mulai

dari hasil penelitian dari pengelolaan tindakan kelas dalam hal ini dengan
metode diskusi Buzz Group terhadap minat belajar siswa sekolah dasar
kelas V, serta pembahasan dan ulasan-ulasan lainnya yang berkaitan
dengan variabel-variabel.

BAB V,

merupakan

kesimpulan

dan

saran

yang

diuraikan

berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan di Sekolah Dasar


Kristen Bala Keselamatan Lekatu, khususnya pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Kristen di kelas V dengan metode Buzz Group.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Metode Diskusi Buzz Group


2.1.1. Pengertian Metode dan Diskusi
Metode dapat diartikan sebagai "teknik", "cara" atau "prosedur".
Dalam pembelajaran setiap kegiatan mengajar memerlukan metode yang
tepat dan relevan untuk mencapai tujuan dalam hal ini tujuan
pembelajaran.11 Sedangkan pengertian metode mengajar ialah cara atau
prosedur dalam mengelola interaksi antara guru dan peserta didiknya bagi
berlangsungnya peristiwa belajar.12
Drs. Syafaruddin dalam manajemen pembelajaran mengungkapkan
bahwa metode mengajar memiliki 3 (tiga) pengertian yang saling
berkaitan, pertama metode mengajar merupakan salah satu komponen dari
proses pendidikan, kedua merupakan alat mencapai tujuan yang didukung

11 B.S, Sidjabat, Menjadi Guru Profesional: Sebuah Perspektif Kristiani (Yayasan


Kalam Hidup, 1993), 89

12 Sidjabat, Ibid, 230

oleh alat-alat bantu mengajar dan ketiga merupakan kebulatan dalam satu
sistem pengajaran.13
Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia "diskusi" sinonim atau sama
pengertiannya dengan dialog, konferensi, konsultasi, musyawarah,
pembahasan, pembicaraan, perbincangan, pertemuan, silang pendapat,
tanya jawab dan tukar pikiran.14 Dengan demikian dalam diskusi dalam
kelas pada hakikatnya berpusat kepada pelajar itu sendiri.15
Sehingga pengertian metode diskusi pada dasarnya adalah suatu
proses bertukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara
teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih
jelas dan lebih cermat tentang permasalahan atau topik yang sedang
dibahas.16

2.1.2. Metode Mengajar di Sekolah Dasar

13 Syafaruddin, Manajemen Pembelajaran (Quantum Teaching, 2005), 112


14 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia
15 Ibid, 115
16 Suyanto & Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional (Erlangga: 2009). 118

Dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, telah banyak


ditawarkan berbagai macam metode mengajar di sekolah-sekolah. Metode
mengajar

tersebut

dikembangkan

dari

teori-teori

belajar

yang

dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Teori belajar yang berkembang


menghasilkan metode-metode belajar-mengajar dan terus mengalami
perkembangan sesuai dengan kebutuhan siswa dan berkembang pula
sampai saat ini.
Metode mengajar di Sekolah Dasar pada umumnya masih
menggunakan metode ceramah. Ceramah merupakan salah satu metode
tradisional

dalam

mengajarkan

sesuatu

mata

pelajaran.

Guru

menyampaikan apa yang diketahuinya sebagai informasi, dan murid tidak


memiliki banyak kesempatan untuk memberikan tanggapan, baik ketika
ceramah sedang berlangsung maupun setelah berakhirnya ceramah.17
Tidak dapat dipungkiri bahwa metode ceramah tersebut adalah
metode mengajar yang paling banyak digunakan pada tingkat Sekolah
Dasar sejak dulu hingga saat ini. Ironisnya hampir di setiap sekolah ada
saja guru yang hanya mengandalkan metode ceramah dalam mengajar
mata pelajaran. Metode ceramah yang bersifat otoriter tersebut
17 Syafaruddin, Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran (Quantum Teaching: 2005),
114

menyebabkan siswa hanya dapat mendengarkan penjelasan dari guru.


Apabila siswa hanya belajar dari mendengarkan saja secara terus-menerus
akibatnya siswa bisa menjadi bosan dan jenuh dan pada akhirnya tidak
lagi berminat dengan mata pelajaran yang diajarkan oleh gurunya.
Metode

ceramah

memang

dapat

membantu

guru

dalam

memberikan informasi berupa ilmu pengetahuan secara jelas kepada


siswanya, namun pada sisi yang lain metode ceramah menjadikan siswa
belajar dengan pasif. Menurut Syafaruddin hal inilah yang menjadi
kelemahan terbesar dari metode ceramah. Bila murid tidak termotivasi
dengan baik dan materi pelajarannya rumit, maka siswa akan menjadi
semakin pasif.18 Jika hal ini terjadi secara terus-menerus maka akan timbul
kebosananan bagi siswa. Kebosanan yang dirasakan oleh siswa akan
membuat minat belajarnya menjadi rendah di kelas. Menempatkan siswa
sebagai subjek berarti guru telah memberi kesempatan kepada siswa untuk
dapat lebih aktif belajar. Suasana kelas yang lebih hidup mendukung siswa
untuk berusaha mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari proses
pembelajaran yang sedang berlangsung.
Ruth Kardamanto dalam Andar Ismail,19 menuliskan ada beberapa
metode belajar-mengajar selain ceramah yang dapat diterapkan di kelas
18 Ibid

yaitu metode panel, tanya-jawab, symposium, bacaan terarah, kelompok


berbincang (buzz group), studi Alkitab, diskusi, forum, wawancara,
peragaan

peran,

seminar,

debat,

kelompok

melingkar,

induktif,

demonstrasi, lokakarya, kunjungan lapangan, dan kemah kerja.


Selain itu Ruth juga mengungkapkan beberapa petunjuk dasar
dalam memilih metode yang tepat yaitu:20
1. Pahami tujuan pelajaran yang hendak disampaikan
2. Keterlibatan naradidik
3. Faktor usia dan latar belakang anak didik
4. Faktor besarnya kelas/kelompok
5. Faktor waktu yang tersedia
6. Faktor bahan/sumber yang tersedia
7. Kepemimpinan
8. Memakai metode yang bervariasi
9. Susunan ruangan/formasi
2.1.3. Jenis-jenis Metode Diskusi
Diskusi memiliki banyak macam yang membedakan antara satu jenis
dengan jenis diskusi yang lainnya. Adapun bentuk variasi dalam kegiatan
diskusi menurut Rochman Natawijaya, adalah sebagai berikut:21

19Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan (Gunung Mulia, 2010), 100


20Andar, Ibid, 95
21 Rochman, Pembaharuan Dalam Metode Pembelajaran (Dekdikbud: 1983), 74-76

2.1.3.1. Controlled Discussion


Yakni bentuk diskusi yang dikrontrol secara ketat. Langkahlangkah pelaksanaannya yakni sebagai berikut: Pertama-tama guru
menyajikan suatu bahan informasi kemudian mengambil bagian yang
dianggap penting untuk didiskusikan. Selanjutnya guru mengawasi dan
mengarahkan jalannya diskusi.
Guru berusaha menumbuhkan inisiatif siswa dalam memecahkan
masalah, memimpin diskusi, memberikan informasi dan pendapat.
Kemudian guru mendorong siswa untuk mengemukakan pendapatnya,
mengkoordinasi buah pikiran dan pendapat siswa. Sehingga guru dapat
menggiring pemikiran peserta diskusi kearah satu kesimpulan
2.1.3.2. Step by step discussion
Guru melontarkan suatu masalah atau pertanyaan yang berturutan
yang telah disiapkan oleh guru. Selanjutnya guru membimbing para siswa
untuk mendiskusian satu per satu mengenai topik-topik yang ada. Terakhir
guru menyimpulkan hasil diskusi.
2.1.3.3. Case discussion
Anggota kelompok/siswa memulai presentase tentang satu
Alkitab. Kemudian siswa mendiskusikan tentang cara pemecahan yang
dapat ditempuh dalam membantu memecahkan Alkitab tersebut.

2.1.3.4. Free group discussion


Siswa secara bebas melakukan kegiatan diskusi. Selain itu topik
dipilih oleh siswa sendiri sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Dalam
hal ini fungsi guru hanyalah melakukan observasi dan memberikan
komentar terhadap proses jalannya diskusi.
Jika ditinjau dari sudut formalitas dan jumlah peserta yang mengikuti

kegiatannya, diskusi dapat digolongkan sebagai berikut22:


Diskusi Formal. Diskusi ini terdapat pada lembaga pemerintahan atau
semi pemerintahan, di mana dalam diskusi itu perlu adanya ketua dan
penulis serta pembicara yang diatur secara formal. Contoh: Sidang
anggota dewan. Jumlah peserta umumnya lebih banyak bahkan dapat

melibatkan seluruh siswa kelas.


Diskusi Informal. Aturan dalam diskusi ini lebih longgar dari pada
diskusi-diskusi lainnya, karena sifatnya yang tidak resmi. Penerapannya

bisa dalam diskusi keluarga.


Diskusi dalam bentuk Symposium. Diskusi ini hampir sama dengan diskusi
formal lainnya, hanya saja diskusi symposium disampaikan oleh seorang
pemrasaran

atau

umumnya

lebih.

Pemrasaran

secara

bergiliran

menyampaikan uraian pandangannya mengenai topik yang sama atau

22 https://www.academia.edu/10365909/Macam-macam_Diskusi_1

salah satu dari topik yang sama tersebut. Diskusi symposium tidak mencari

kebenaran tertentu.
Lecture Discussion. Diskusi ini dilaksanakan dengan membeberkan suatu
persoalan, kemudian didiskusikan. Di sini biasanya hanya satu pandangan

atau satu persoalan saja.


Whole Group. Kelas merupakan satu kelompok diskusi. Whole Group

yang ideal apabila jumlah anggota tidak lebih dari 15 orang.


Syndicate Group. Suatu kelompok (kelas dibagi menjadi beberapa
kelompok) terdiri dari 3-6 orang. Masing-masing kelompok melaksanakan
tugas tertentu. Guru menjelaskan garis besarnya problema kepada siswa,
guru menggambarkan aspek-aspek masalah, kemudian tiap-tiap kelompok
(syndicate) diberi tugas untuk mempelajari suatu aspek tertentu.
Sedangkan guru menyediakan referensi atau sumber-sumber informasi
lain.
Selain itu, metode-metode diskusi yang seringkali dapat dipakai
dalam proses pembelajaran yakni metode diskusi panel, diskusi kelompok
berbincang (buzz group) dan metode diskusi kelompok melingkar.23

2.1.4. Pengertian Metode Diskusi Buzz Group

23 Andar, Ibid, 100

Perbedaan yang cukup jelas antara diskusi-diskusi lain dengan


diskusi Buzz Group adalah jumlah peserta dan cara pelaksanaannya.
Hanya saja bentuk variasi pelaksanaan diskusi Buzz Group termasuk
dalam controlled discussion seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
yakni guru tetap mengawasi dan mengontrol pelaksanaan diskusi agar
berjalan dengan tertib dan teratur. Untuk itulah kreatifitas guru juga
diperlukan dalam menentukan metode tersebut agar siswa dapat mengikuti
kegiatan diskusi dengan tertib. Menurut Mulyana, guru kreatif seharusnya
tidak menghabiskan waktu hanya dengan menjelaskan materi di depan
siswa saja. Namun ia akan mengalokasikan sebagian besar waktunya
untuk melakukan berbagai aktifitas/kegiatan yang melibatkan siswa.24
Untuk lebih memahami metode ini berikut ada beberapa penjelasan
mengenai pengertian Diskusi Buzz Group menurut para ahli. Di antaranya
menurut Anas, Metode Buzz Group adalah metode mengajar yang sangat
erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem
solving.)25 Lebih lanjut Menurut B.S. Sidjabat mengatakan bahwa metode
Buzz Group termasuk dalam metode diskusi kelompok yang di dalamnya
24 Mulyana, Rahasia Menjadi Guru Hebat (Grasindo: 2010), 134
25Moh. Anas, Mengenal Metode Pembelajaran (------------), 21

membangun komunikasi dua arah, yaitu terjadinya relasi dialogis antara


guru dan peserta didik serta di antara sesama murid. 26 Dalam
pelaksanaannya, menurut Andar metode ini terdiri dari kelompok kecil (35) dalam waktu singkat (5-7 menit) kelompok membahas secara bebas
beberapa pertanyaan dan melaporkan hasilnya, yang kemudian oleh
pemimpin dirangkumkan.
Menurut Syifaa Mukrimaa, Metode diskusi Buzz Group dilakukan
oleh warga belajar yang dibagi dalam beberapa kelompok antara 3-6 (tiga
sampai enam) orang membahas suatu masalah yang diakhiri dengan
penyampaian hasil pembahasannya oleh setiap juru bicara. 27 Sedangkan
Hasibuan dan Moedjiono menjelaskan bahwa metode Buzz Group adalah
suatu metode yang membagi kelas besar menjadi kelompok-kelompok
kecil yang terdiri dari 3-4 siswa untuk memecahkan masalah yang
diberikan guru. Hasil diskusi ditulis oleh salah satu siswa dan
dikumpulkan ke guru. Kemudian guru membahas materi diskusi untuk
mencapai suatu kesimpulan yang benar.

26 B.S. Sidjabat, Ibid, 232


27 Syifaa, Ibid ,105

2.1.5. Keunggulan Metode Buzz Group


Metode diskusi Buzz Group memiliki keunggulan atau kelebihan
yaitu memberikan variasi kegiatan belajar yang dapat pula menggunakan
metode-metode lain.28 Artinya Diskusi Buzz Group dapat dilaksanakan di
tengah-tengah atau di akhir pembelajaran dengan maksud menajamkan
kerangka bahan pengajaran, memperjelas bahan pelajaran atau menjawab
pertanyaan-pertanyaan29.
Radno Harsanto dalam bukunya Pengelolaan Kelas Yang Dinamis
mengatakan bahwa belajar bersama dalam kelompok (group) memiliki
keuntungan tersendiri karena termasuk dalam pembelajaran aktif. (active
learning).30 Hal ini terjadi karena melalui kegiatan interaksi dan
komunikasi, siswa menjadi terdorong untuk aktif belajar sehingga belajar
mereka menjadi lebih efektif.31
Belajar bersama dalam kelompok dapat meningkatkan partisipasi
aktif siswa, misalnya dalam satu kelas terdiri atas 40 orang siswa. Jika
28 Moedjiono, Ibid
29 J.J. Hasibuan, Moedjiono, Proses Belajar Mengajar (PT. Remaja Rosdakarya: 1995),
21

30 Radno, Pengelolaan Kelas Yang Dinamis, 42


31 Ibid

dilakukan pembelajaran secara klasikal, maka tingkat partisipasi aktif


siswa adalah 1/40 dari waktu yang disediakan. Jika dibagi menjadi 2
kelompok dan masing-masing beranggotakan 20 siswa, maka

tingkat

partisipasi aktif siswa adalah 1/20. Dengan demikian makin kecil


kelompok belajar, makin besar partisipasi siswa.32
Selain itu kelebihan yang dapat dirasakan oleh siswa yakni
mendorong siswa yang malu-malu untuk memberikan sumbangan pikiran
sehingga dapat meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum
banyak

berbicara

dalam

diskusi;

Menciptakan

suasana

yang

menyenangkan; Menghemat waktu memungkinkan pembagian tugas


kepemimpinan; Memberikan variasi kegiatan belajar yang disertai dengan
penggunaan metode lain; Membangkitkan motivasi siswa, motivasi ini
dapat menjadikan siswa berpikir ilmiah dan dapat mengembangkan
pengetahuan; Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai
perbedaan pendapat dan mengembangkan kesamaan pendapat dalam
mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu persoalan.33
Berdasarkan penjelasan dan prinsip yang dijelaskan oleh para ahli di
atas, maka penulis memilih salah satu metode diskusi kelompok kelas
32 Radno Harsanto, Ibid, 43
33 http://www.eurekapendidikan.com/2015/02/metode-diskusi-buzz-group.html

yakni Diskusi Buzz Group dalam penelitian tindakan kelas V (lima) di SD


BK Lekatu.
2.1.6. Langkah-langkah Pelaksanaan Diskusi Buzz Group
Pelaksanaan diskusi secara umum memiliki langkah-langkah
sebagai

berikut:

Menyampaikan

tujuan

dan

mengatur

setting;

mengarahkan diskusi; menyelenggarankan diskusi; mengakhiri diskusi;


dan melakukan tanya-jawab singkat tentang proses diskusi. 34
Pada prinsipnya langkah-langkah pelaksanaan diskusi Buzz Group
sama dengan langkah-langkah pelaksanaan diskusi secara umum. Hanya
saja yang membedakannya yaitu kegiatan diskusi Buzz Group yang
dilaksanakan lebih efektif dan efisien karena jumlah peserta yang dibagi
ke dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok dapat melakukan tanya
jawab dengan sesama anggota kelompoknya mengenai pokok materi
dalam pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Kelompok
tersebut pada akhirnya dapat menyimpulkan sendiri hasil diskusinya
sehingga guru hanya memberikan sedikit penjelasan agar tujuan
pembelajaran/materi hari itu dapat tercapai.35
34 Syifa Mukrima, Lima Puluh Tiga Metode Pembelajaran (Bumi Siliwangi: 2014), 102
35 Syifa, Ibid.

Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan


Diskusi Buzz Group menurut Surjadi dalam Moedjiono dan Dimyati:36

Pertama-tama guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil


yang beranggotakan 3-4 siswa. Tiap kelompok mengerjakan topik

yang sama dengan dibatasi waktu tertentu.


Kemudian guru menyampaikan materi secara umum atau garis besar
dengan berceramah, kemudian guru menentukan topik masalah yang
akan didiskusikan. Selama diskusi berlangsung guru memantau dan
memperhatikan aktivitas siswa. Guru mengunjungi setiap kelompok
untuk mengetahui adakah kelompok yang memerlukan bantuan untuk

memahami tugas.
Sebelum diskusi diakhiri, guru memberikan peringatan mengenai batas

waktu dalam menyelesaikan tugas.


Setelah waktu yang ditentukan telah selesai, hasil diskusi tiap

kelompok dikumpulkan ke guru.


Guru membahas topik masalah tersebut untuk memperbaiki konsep
siswa yang mungkin masih keliru, agar tujuan pembelajaran hari itu

tercapai.
.Sebelum menggunakan metode Diskusi Buzz Group, penulis akan
membiasakan siswa untuk berdiskusi terlebih dahulu agar siswa tidak
36Moedjiono, Dimyati, Strategi Belajar Mengajar (Depdikbud Dirjen Dikti: Proyek
Pembinaan Tenaga Kependidikan: 1992), 55

mengalami kesulitan ketika masuk dalam langkah-langkah pelaksanaan


diskusi Buzz Group. Hal ini juga dilakukan mengingat bahwa siswa masih
jarang dan belum terbiasa melakukan kegiatan diskusi kelas atau
semacamnya. Oleh karena itu untuk pertemuan pertama, penulis terlebih
dahulu membimbing siswa untuk berdiskusi yakni dengan bentuk diskusi
ringan dan bertahap. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat terbiasa dan
mengerti tentang langkah-langkah berdiskusi.
Pertama siswa dapat dibagi secara berkelompok sesuai tempat
duduknya masing-masing (2 orang). Kemudian guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan sederhana bagi kelompok untuk dapat mereka
diskusikan bersama-sama. Pada akhirnya, guru merangkum hasil diskusi
tersebut dan memberi penjelasan singkat kepada siswa tentang topik-topik
tersebut agar siswa lebih mengerti. Topik-topik ringan yang dapat
diberikan pada tahap awal diskusi kelompok yakni tentang apa yang siswa
lakukan sehari-hari contohnya topik doa dan ibadah.
Pada pertemuan selanjutnya guru dapat memilih topik yang lebih
tinggi tingkatannya, misalnya mengenai kesepuluh hukum. Guru dapat
membagi siswa dalam kelompok lebih banyak yakni 3-5 orang dan
memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk diskusi tersebut. Meskipun
siswa hanya berdiskusi secara ringan akan tetapi guru harus tetap
mengontrol dan mengawasi jalannya diskusi agar berjalan dengan tertib.

Selain itu siswa bisa mendapatkan arahan dan petunjuk dari guru jika
kesulitan dalam berdiskusi.
2.1.7. Manfaat Diskusi Buzz Group
2.1.7.1. Bagi Guru
Manfaat Diskusi Buzz Group bagi guru antara lain: Guru dapat
menggabungkan beberapa metode mengajar seperti ceramah dan dapat
menggunakan media pembelajaran (gambar, alat peraga, dsb) dengan
metode diskusi Buzz Group. Itu artinya guru dapat lebih menunjukkan
kreatifitasnya dalam mengajar. Selain itu, guru juga dapat mengevaluasi
diri dengan mencoba menerapkan metode mengajar yang lain dalam
waktu yang bersamaan dan melihat minat siswa dengan metode yang
digunakan tersebut.
Selanjutnya guru dapat berperan aktif dalam hal pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru dalam menciptakan
suasana kelas yang tertib dan menyenangkan. Sehingga di dalamnya guru
dapat mendorong siswa untuk berminat dalam mengikuti proses
pembelajaran di kelas. Dapat mengarahkan siswa untuk belajar bersamasama dengan kelompok diskusinya. Guru dapat lebih berkreasi dalam
menentukan metode mengajar yang dapat menarik minat siswa.

Manfaat lainnya juga yaitu guru dapat melaksanakan 4 (empat)


pilar dalam pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to
be, learning to live together.37 (Learning to know) Guru dapat mentransfer
ilmu pengetahuan kepada siswa melalui kegiatan belajar yang sedang
berlangsung. Siswa dapat dengan mudah belajar karena ia dapat melihat,
mendengar, mengucapkan, dan melakukan kegiatan pembelajaran.
(Learning to do) guru dapat membimbing siswa untuk dapat bermain
peran dan berpartisipasi dalam melakukan kegiatan diskusi dalam
kelompoknya. (Learning to be) Guru membimbing siswa untuk menjadi
pribadi yang aktif dan kreatif. Mengembangkan karakter positif siswa
diantaranya percaya diri, rasa menghargai orang lain dan kerja sama.
(Learning to live together). Siswa tidak hanya dapat belajar mandiri tetapi
belajar bersama-sama, siswa juga dapat belajar bagaimana berinteraksi
sosial dengan teman-teman dalam kelompok.

2.1.7.2. Bagi Siswa


Adapun manfaat Diskusi Buzz Group bagi siswa, antara lain:
Perhatian siswa tertuju pada proses pembelajaran. Siswa dapat lebih
37 Syafaruddin, Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran (Quantum Teaching, 2005),
21

memahami materi yang disampaikan karena pembelajaran tidak monoton.


Selanjutnya siswa memiliki minat yang tinggi pada mata pelajaran PAK
karena ia turut berpartisipasi aktif dalam proses belajar Manfaat besar
lainnya dari Diskusi kelompok secara umum dan berlaku pula pada
Diskusi Buzz Group adalah perubahan motivasi siswa, perubahan emosi,
dan perubahan sikap.38 Siswa akan memiliki minat yang tinggi dalam
belajar karena siswa senang dengan gaya belajar yang sifatnya aktif dan
berperan serta dalam kegiatan belajar.
Selain itu hubungan interpersonal dan percaya diri sangat
berkembang dalam diskusi kelompok ini.39 Dengan bantuan dan motivasi
guru maka kepercayaan diri siswa dapat terus dikembangkan menjadi
lebih positif. Sehingga siswa tidak minder lagi di kelas, mampu
mengerjakan tugas dari guru dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

2.1.7.3. Bagi Proses Pembelajaran


Sedangkan

manfaat

Diskusi

Buzz

Group

dalam

proses

pembelajaran, antara lain: Terciptanya suasana belajar-mengajar yang


38 B.S. Sidjabat, Ibid, 116
39 Ibid

aktif. Suasana kelas tidak membosankan karena semua siswa turut


berpartisipasi dalam kegiatan belajar, dan juga proses pembelajaran
menjadi lancar dan efektif karena guru dan siswa turut berperan serta
dalam diskusi yang sedang berlangsung.

2.1.8. Dasar Teologis Metode Diskusi Buzz Group


Alkitab merupakan sumber bahan ajar yang harus menjadi dasar
pengajaran pendidikan agama Kristen. B.S. Sidjabat menjelaskan bahwa
Alkitab adalah sumber bagi dasar dan prinsip hidup kristiani.40
Robert W. Pazmino dalam B.S. Sidjabat mengatakan bahwa,
Alkitab mengajarkan bahwa dalam rangka membimbing manusia lebih
mengenal-Nya, Allah Tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) telah
berperan sebagai pengajar. Ia Pencipta umat manusia, tetapi juga Guru
mereka.41

40 B.S. Sidjabat, Ibid, 12


41 B.S. Sidjabat, Ibid, 36

Tuhan Yesus sebagai Guru Agung adalah guru yang sangat kreatif
dalam mengajar. Ia mengajar dengan kuasa dan keteladanan. Ia
menggunakan beberapa metode dan tidak terikat pada satu metode saja.42
Metode yang digunakan-Nya sangat bervariasi di antaranya; Dia
menggunakan

pertanyaan-pertanyaan.

dilontarkannya
membandingkan,

secara

langsung

memeriksa,

Seringkali

pertanyaan

mengharuskan

mengingat,

dan

yang

pendengar-Nya

mengevaluasi.

Dia

menggunakan perumpamaan. Yesus adalah ahli dalam bercerita. AjaranNya menggugah pikiran; bukan melumpuhkan pikiran. Pada prinsip
mengajar-Nya Ia selalu melibatkan orang-orang dalam proses belajar.
Selain kedua metode di atas, Yesus menggunakan berbagai metode
yang lainnya seperti: Pernyataan yang benar-benar ditekankan (Matius
5:29-30), peribahasa (Markus 6:4), paradok (Markus 12:41-44), ironi
(Matius 16:2-3), hiperbola (Matius 23:23-24), teka-teki (Matius 11:12),
kiasan (Lukas 13:24), permainan kata (Matius 16:18), sindiran (Yohanes
2:19), dan metafora (Lukas 13:32).43

42 Artikel: Metode Mengajar Yesus (m.pepak.sabda.org)


43 http://pepak.sabda.org/25/nov/2004/anak_metode_mengajar_yesus

Begitu banyaknya metode mengajar Yesus, namun ada satu metode


yang membuat penulis tertarik yaitu metode diskusi. Prinsip metode ini
pun dicatat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yaitu sebagai
berikut:
2.1.8.1. Perjanjian Lama (PL)
Perjanjian Lama adalah Alkitab yang digunakan gereja yang mulamula44. Orang Israel Yahudi percaya bahwa mengingat pengetahuan dan
ajaran Taurat sangat penting untuk dilakukan terutama di rumah
pengajaran (beth-ha-midrash) atau Sinagoge. Pelajaran pertama dan
utama diberikan untuk anak-anak di Sinagoge adalah Syema Yisrael
"Dengarlah, hai orang Israel".45
G. Riemer mengungkapkan bahwa orang Israel sangat taat dan
tekun dalam memberikan pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak
mereka. Bahkan sejak dini anak-anak sudah dibiasakan menaati peraturan
agama. Pengajaran orang Israel dibagi dalam tahap-tahap sesuai dengan
jenjang usia, sebagai berikut: Pada usia sekitar 5 tahun anak-anak mulai
44 Walter C. Kaiser, JR. Berkhotbah dan Mengajar dari Perjanjian Lama (Kalam Hidup,
2009), 31

45 G. Riemer, Ibid. 41

diberi pelajaran dasar membaca Taurat; Usia 10 tahun mulai diberi


pengajaran, yaitu misyna; Pada usia 12-13 tahun anak-anak wajib menaati
sepenuhnya peraturan hukum Yahudi, yaitu mitswoth. Pada tahap itu anak
laki-laki telah dianggap sebagai "anak-anak hukum Taurat". Yaitu barmitswa.46 Meskipun pada umumnya metode pengajaran yang digunakan
dalam penyampaian Agama dalam Perjanjian Lama, antara lain yaitu
metode menghafal ( Ulangan 6 :4-9 , Amsal 22:6, Mazmur 119 :11,105)
dan metode bercerita (Yosua 4:6-7 ,bandingkan Keluaran 12:24-27)
namun berbagai metode lain juga digunakan oleh guru misalnya
menempatkan seorang murid yang dinilai kurang dalam segi intelektual
dekat dengan dengan seorang anak yang rajin dan pintar. Atau anak yang
memiliki prestasi diminta untuk mengajar teman-temannya lain yang
terbelakang. Bahan pelajaran juga kadang-kadang dinyanyikan oleh para
murid. Diskusi juga digunakan untuk membuat para murid semakin kritis
dalam berpikir.47

46 G. Riemer, Ibid, 38
47 http://onego1993.blogspot.com/2014/02/perjanjian-lama-dalam-pendidikanagama_28.html

Ada beberapa istilah "mengajar" dalam bahasa Ibrani yang dicatat


dalam Perjanjian Lama, yaitu:48 Lamad. Mengandung arti bahwa dengan
belajar orang menjadi terbiasa dengan pengalaman baru. (Ul. 4:5;
14:23;17:19; 31:12-13); Bin. Berarti membuat mengerti, memahami,
menanggapi, dan mampu memisahkan. (Dan. 2:21; Mzm. 119:34); Alap.
Berarti mengajar agar yang diajar mengenal secara dekat. (Ayub 33:33;
35:11; Amsal 22:25); Yada. Berarti membuat mengetahui. (Kej.18:19; Yes.
48:8; Ul. 34:10 Mzm. 1:6); Yasar. Memberi saran, nasehat, pengajaran
atau instruksi. (Am. 31:1); Yarah. Berarti menampakkan, melemparkan,
atau membidik. (Kej. 46:28); Zahar. Berarti menyinari, menerangi. (Kel.
18:20); Hakam. Berarti menjadi bijaksana, berhikmat, berakal budi. (Am.
5:13; Mzm. 105:2); Sakal. Berarti mendapat pandangan baru atau bersikap
bijak. (Ams. 16:23; 19:14; 21:11); Shanan. Berarti mempertajam,
mengulang-ulang. (Ul. 6:7)
Metode diskusi dapat dilihat dalam teks PLyakni dalamdoa syafaat
Abraham untuk Sodom dalam Kejadian 18:1-33. Ayat ke-23 dari pasal ini
dicatat "Abraham datang mendekat dan berkata: Apakah Engkau akan
melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?" dan ayat48 B.S. Sidjabat, Ibid, 22-25

ayat seterusnya Abraham bertanya dan berkomentar atas keputusan Allah


untuk menghukum kota Sodom. Allah pun menanggapi pertanyaan
Abraham sebab Ia sendiri tidak mau menyembunyikan keputusan-Nya
pada nabi Abraham.49 Pada ayat ke-26 TUHAN berfirman: "Jika
Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan
mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." Begitu pula seterusnya
dicatat sampai ayat yang ke-33. Dari pasal ini terdapat prinsip diskusi
yakni Allah mengajarkan ketaatan dan pengampunan kepada nabi
Abraham.
Selain itu Tuhan Yesus Kristus menggunakan PL dalam mengajar
di pelayanan-Nya (Matius 5:21-22 22:39). Para murid Yesus juga
menggunakan PL dalam pemberitaan Injil atau dalam pelayanannya. Hal
itu menjadikan PL menjadi hal yang sangat penting dalam membangun
dan membentuk konsep dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen
(PAK) sampai saat ini.50

49 Alkitab Terjemahan Baru, Kejadian 18:17 (LAI: Jakarta)


50 http://guruagamakristen.blogspot.com/2012/11/makalah-hubungan-perjanjian-lamadengan.html

2.1.8.2. Perjanjian Baru (PB)


Allah yang digambarkan dalam perjanjian lama adalah Allah yang
transenden. Sedangkan dalam Perjanjian Baru Allah menyatakan diri-Nya
secara

imanen yakni melalui Yesus Kristus.51 Ia datang ke dunia

memperkenalkan Allah kepada manusia melalui kegiatan mengajar,


berkhotbah, mengadakan mujizat, dan mendemonstrasikan teladan hidup
yang unik. Ia mengajar melalui perbuatan dan perkataan serta tanda-tanda
dan kuasa. Injil Matius mengemukakan bahwa Yesus mengajar
berdasarkan otoritas, wibawa, dan kuasa. Bahkan, orang yang mendengar
pengajaran-Nya (Yun: didakhe) menjadi takjub, terpukau dan memberi
respon positif.52
Yesus adalah satu-satunya teladan yang agung bagi guru Agama
Kristen. Dalam pengajaran-Nya Ia menggunakan berbagai macam bentuk
pendekatan dan metode kepada para murid dan orang banyak. 53 Yesus
tidak pernah memakai metode yang baku dalam mengajar. Sebelumnya
51 Chris Marantika, Kristologi (Iman Press, 2008), 60
52 B.S. Sidjabat, Ibid, 45
53 Ibid

telah dituliskan mengenai metode-metode apa saja yang Ia gunakan untuk


mengajar, salah satu di antaranya yaitu metode diskusi. Salah satu
contohnya yaitu ketika Ia berdiskusi dengan murid-murid-Nya tentang
Siapakah Dia. Percakapan ini dicatat dalam Injil Lukas 9:18-21.
18Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah
murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka:
"Kata orang banyak, siapakah Aku ini?"
19
Jawab mereka: "Yohanes Pembabtis, ada juga yang
mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari
nabi-nabi dahulu telah bangkit."
20
Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah
Aku ini?" Jawab Petrus: Mesias dari Allah."
Pada masa kehidupan-Nya di dunia dan pelayanan-Nya, karya
Yesus yang dimulai di Galilea (Matius 4:16) menimbulkan sebuah
pertanyaan mendasar, yaitu Siapakah Yesus itu? Dalam Lukas 9
pertanyaan ini dirumuskan dengan jelas. Mula-mula oleh Herodes (9:7-9)
lalu oleh Yesus sendiri (9:20). Setelah bertanya secara umum, "kata orang
siapakah Aku ini?", Yesus mengajukan pertanyaan khusus kepada muridNya, "menurutmu siapakah Aku ini?".54 Para murid menjawab bahwa
orang banyak memiliki pendapat masing-masing tentang pribadi Yesus,
ada yang mengatakan Yohanes Pembabtis, ada yang mengatakan Elia, ada
yang mengatakan seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Akan tetapi
54 Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas: Tafsir Sinoptik (Kanisius: 2003), 241

dalam teks ini sesungguhnya Yesus ingin menyatakan Pribadi-Nya sebagai


Mesias dari Allah di hadapan para murid yang meskipun telah mengikut
Dia, namun belum mengenal-Nya. Prinsip diskusi ada dalam percakapan
Yesus dengan murid-murid-Nya ini, yakni adanya komunikasi dua arah
atau tukar-menukar informasi.55
Bagian lainnya dalam kitab PB terdapat dalam Injil Matius 9:1417. Di sana dicatat mengenai murid-murid Yohanes yang bertanya-jawab
dengan Yesus mengenai hal berpuasa. Dalam percakapan ini Yesus
berdiskusi dengan murid-murid Yohanes. Murid-Murid Yohanes yang
tidak dicatat namanya dalam Alkitab itu bertanya kepada Yesus mengapa
mereka dan bahkan orang-orang Farisi berpuasa, sedangkan murid-murid
Yesus tidak melakukannya. Murid-murid Yohanes berpendapat bahwa para
pengikut Yesus yang merupakan orang-orang Yahudi seharusnya tetap
mengikuti adat-istiadat Yahudi yaitu berpuasa. Namun Yesus mengajar
bahwa syarat untuk menjadi pengikut-Nya adalah percaya kepada-Nya.
Dengan demikian dalam percakapan ini Yesus mengajarkan prinsip
penting dalam mengikut Dia yaitu percaya. Bukan hanya kepada murid-

55 B.S. Sidjabat, Ibid, 232

murid Yohanes tetapi juga memberikan pengertian bagi pengikut Kristus


yaitu orang-orang percaya masa kini.
Begitu banyaknya pendekatan dan metode mengajar-Nya telah
memberikan bekal bagi para pendidik Kristen masa kini. Ia telah memberi
teladan bagi setiap pendidik Kristen untuk mempraktekan metode
mengajar yang variatif agar murid-murid-Nya memperoleh pengertian.
Guru PAK masa kini juga dapat mengembangkan metode pengajarannya
dan mencoba menerapkan berbagai metode salah satunya metode diskusi
kepada siswa.

2.2. Minat Belajar Siswa


2.2.1. Dasar Teori Minat Belajar
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan minat belajar, maka
terlebih dahulu penulis akan memaparkan pengertian belajar dan
mengajar. Radno Harsanto mengutip Wolfolk dan Nicolich untuk
mendefinisikannya dalam perspektif guru yaitu sebagai berikut56:
Mengajar berarti mengatur dan menciptakan kondisi yang terdapat di
lingkungan siswa sehingga dapat menumbuhkan niat siswa melakukan

56 Radno Harsanto, Pengelolaan Kelas yang Dinamis (Kanisius, 2007), 87

kegiatan belajar; Belajar berarti memberi perubahan pada subjek belajar,


dalam hal ini siswa itu sendiri.
Dari pengertian yang telah dipaparkan di atas dapat dilihat bahwa
guru adalah objek pembelajaran sedangkan siswa merupakan subjek dari
pembelajaran. Hal ini begitu jelas pada pengertian belajar yang telah
dituliskan oleh Radno Harsanto di atas. Tugas guru sebagai objek adalah
membimbing, memimpin, dan fasilitator.57
Menurut Hilgand dalam Slameto, pengertian minat adalah "is
persisting tendency to pay attention to enjoy some activity or content" 58.
Artinya suatu tindakan yang cenderung untuk memusatkan perhatian,
disertai dengan sikap hati yang menikmati suatu aktifitas atau kegiatan
tersebut. Dari pengertian ini maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar
adalah ketertarikan, kecenderungan, perhatian yang diberikan oleh
seseorang dalam hal ini siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Crow & Crow dalam Djaali mengatakan bahwa minat adalah rasa
lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada
yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
57 Radno. Ibid.
58 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya (Rineka Cipta, 2010), 57

hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau
dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.59
Menurut Crow and Crow, ada tiga faktor yang menimbulkan
minat yaitu faktor yang timbul dari dalam diri individu, faktor motif
sosial dan faktor emosional yang ketiganya mendorong timbulnya minat.
Pertama faktor kebutuhan dari dalam. Kebutuhan ini dapat berupa
kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan; kemudian
faktor motif sosial, timbulnya minat dalam diri seseorang dapat didorong
oleh motif sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan,
perhargaan dari lingkungan dimana ia berada; dan terakhir faktor
emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang dalam
menaruh perhatian terhadap sesuat kegiatan atau objek tertentu.60
Minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan
bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula
dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak
dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Hal ini menjelaskan
59 Djaali, Psikologi Pendidikan (Bumi Aksara, 2007), 121
60 Suharsimi Arikunto, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta, 2013), PT. Bumi Aksara,
147

bahwa minat dapat ditingkatkan seiring berjalannya waktu asalkan ada


kemauan dari dalam diri seseorang. 61

2.2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar


Secara umum ada beberapa hal atau faktor mempengaruhi belajar
siswa di sekolah. Faktor-faktor tersebut bukan hanya mempengaruhi hasil
belajar siswa tetapi juga berdampak pada minat belajar siswa di sekolah.
Secara umum Slameto mengungkapkan

ada 2 (dua) faktor yang

mempengaruhi minat siswa yaitu faktor eksternal dan faktor Internal. 62


Prof. DR. H. Djaali menjabarkan kedua faktor tersebut sebagai berikut:63

2.2.2.1. Faktor Internal/Dari dalam diri


a) Kesehatan. Apabila orang selalu sakit (sakit kepala, pilek,
demam) mengakibatkan ia tidak bergairah untuk belajar dan secara
psikologis sering mengalami gangguan pikiran dan perasaan karena
kecewa dank arena konflik.
61 Djaali. Ibid, 121
62Slameto, Ibid, 54
63Djaali. Ibid. 99

b) Intelegensi. Faktor intelegensi dan bakat besar sekali


pengaruhnya terhadap kemajuan belajar.
c) Motivasi. Motivasi merupakan dorongan diri sendiri, umumnya
karena kesadaran akan pentingnya sesuatu. Motivasi juga dapat berasal
dari luar dirinya yaitu dorongan dari lingkungan, misalnya guru dan orang
tua.

2.2.2.2. Faktor Eksternal/Dari luar diri


a) Keluarga. Situasi keluarga (ayah, ibu, saudara, adik, kakak, serta
family) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam keluarga.
Pendidikan orang tua, status ekonomi, rumah kediaman, presentase
hubungan orang tua, perkataan, dan bimbingan orang tua, mempengaruhi
minat belajar anak yang nantinya berpengaruh pula terhadap hasil belajar
anak.
b) Sekolah. Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat
instrument pendidikan, lingkungan sekolah, dan rasio guru dan murid per
kelas (40-50 peserta didik), mempengaruhi kegiatan belajar siswa, suasana
kelas dan pada akhirnya juga mempengaruhi minat belajar siswa.
c) Masyarakat. Apabila di sekitar tempat tinggal keadaan
masyarakat terdiri atas orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-

anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan
mendorong anak lebih giat belajar.
d) Lingkungan Sekitar. Bangunan rumah, suasana belajar, keadaan
lalu lintas, dan iklim dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar,
sebaliknya tempat-tempat dengan iklim yang sejuk, dapat menunjang
proses belajar.
Selain itu, menurut Burhanuddin Salam faktor eksternal yang dapat
mempengaruhi siswa adalah faktor budaya, atau adat istiadat, faktor
lingkungan fisik seperti rumah, fasilitas belajar, iklim, geografis, dan juga
faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.64
Jadi dapat disimpulkan secara umum bahwa faktor yang
menimbulkan minat ada tiga yaitu dorongan dari diri individu, dorongan
sosial dan

motif dan dorongan emosional.Timbulnya minat pada diri

individu berasal dari individu, selanjutnya individu mengadakan interaksi


dengan lingkungannya yang menimbulkan dorongan sosial dan dorongan
emosional.65

64 Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik: Dasar-dasar Ilmu Mendidik (Rineka


Cipta, 1997), 96

65 Ibid

2.2.3. Karakteristik Belajar Siswa Usia 10-11 Tahun


Siswa adalah merupakan objek utama dalam proses belajar
mengajar.66 Oleh karena itu penting bagi guru untuk mengetahui dan
memahami karakteristik belajar siswanya. Secara umum karekteristik anak
usia sekolah yaitu mengalami perkembangan yang sangat pesat sekali.
Berikut ini ada beberapa pendapat para ahli mengenai karakteristik belajar
siswa usia 10-12 tahun (usia rata-rata siswa kelas V):
a. Drs. Zulkifli L. Menjelaskan bahwa usia 8-12 tahun, pikiran
anak berkembang secara berangsur-angsur, ingatannya menjadi kuat
sekali. Itulah biasanya pada usia ini anak-anak senang menghafal pelajaran
atau apapun yang menarik bagi dirinya.67 Sedangakan perkembangan
emosi anak pada usia ini tidak lagi bersifat egosentris atau tidak
memandang diri sendiri sebagai pusat perhatian lingkungannya.
Melainkan lebih dapat melihat lingkungan sekitarnya dan bersosialisasi.

66 Burhanuddin Salam, Ibid, 182


67 Zulkifli L, Psikologi Perkembangan (Remaja Rosda Karya, 2009), 58

Selain itu hal-hal yang mengandung "kegiatan" sangat menarik


perhatiannya.68
b. Sri Esti Wuryani Djiwandono. "Keterampilan berpikir mereka
sudah meningkat dari usia sebelumnya. Anak usia 10-11 tahun sudah dapat
berpikir secara operasional konkret. Oleh karena itu mereka kurang
mampu untuk berpikir abstrak".69 Ini artinya anak akan lebih mudah
belajar dari apa yang ia lihat, rasakan dan lakukan secara langsung. Hal ini
sesuai juga dengan pendapat F.J Monks yang mengatakan anak usia 7-11
tahun sedang ada dalam tahap pembelajaran yang nyata, berwujud dan
dapat dilihat.70
c. Robert E. Slavin. "Anak sudah dapat mengembangkan daya
ingat dan kognitifnya untuk memikirkan dan mempelajari bagaimana cara
belajar.71"
d. Asri Budiningsih. Dalam belajar, anak perlu diberikan gambaran
konkret tentang pembelajaran yang sedang dilakukannya. Sebab anak
68 Zulkifli. Ibid. 59
69 Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Ramedia, 2006), 86
70 F.J. Monks, Psikologi Perkembangan (Remaja Rosdakarya, 1989), 189
71 Robert E. Slavin, Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik (Indeks, 2008), 106

masih memiliki keterbatasan dalam berpikir abstrak. Ini artinya anak akan
lebih mudah menerima informasi dan belajar dari hal-hal yang dapat
mereka lihat, rasakan, dan lakukan sendiri.72
e Prof. DR. H. Djaali. Secara spesifik, Djaali mengungkapkan
beberapa ciri pribadi anak usia sekolah (7-12 tahun) secara umum, yaitu:73
Kritis dan realistis; Banyak ingin tahu dan suka belajar; Ada perhatian
terhadap hal-hal yang praktis dan konkret dalam kehidupan sehari-hari;
Mulai timbul minat terhadap bidang-bidang pelajaran tertentu; Sampai
umur 11 tahun anak suka minta bantuan kepada orang dewasa dalam
menyelesaikan tugas belajar; Mendambakan angka raport yang tinggi
tanpa memikirkan tingkat prestasi belajarnya; Setelah umur 11 tahun, anak
mulai ingin bekerja sendiri dalam menyelesaikan tugas belajarnya.

2.2.4. Meningkatkan Minat Belajar Siswa


Pada akhirnya dengan metode Diskusi Buzz Group siswa
diharapkan dapat belajar dengan menggunakan seluruh kemampuan dan
potensi di dalam dirinya yang meliputi seluruh panca inderanya. Siswa
72 Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran (Rineka Cipta, 2005), 38
73 Djaali, Ibid, 28

memiliki kemampuan belajar dengan berbagai cara. Diungkapkan Colin


Rose bahwa dalam belajar Siswa dapat mempelajari: 20% dari apa yang ia
baca; 30% dari apa yang ia dengar; 40% dari apa yang ia lihat; 50% dari
apa yang ia katakan; 60% dari yang ia kerjakan; 90% dari yang ia katakan
serta lakukan sekaligus.74
Dalam kegiatan Diksusi Buzz Group, perhatian siswa dapat tertuju
sepenuhnya pada proses pembelajaran. Karena di dalam diskusi siswa
dapat melihat, mendengarkan, berbicara dan mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru. Siswa akan lebih berminat belajar secara khusus
PAK. Minat sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang siswa sebab
minat belajar siswa menjadi penentu keberhasilan belajar siswa pada mata
pelajaran tertentu yang ia ikuti.
Minat belajar memang dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu di
dalam dirinya maupun di luar dirinya, akan tetapi ketika siswa sedang
berada di dalam kelas dan mengikuti mata pelajaran, guru lah yang harus
berupaya menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswanya
tersebut.

74 Colin Rose, Malcolm J. Nicholl, Accelerated Learning (Yayasan Nuansa Cendekia,


2003), 192

Salah satu upaya yang dapat guru lakukan di kelas yaitu


memberikan motivasi baik berupa kata-kata, maupun motivasi dalam
bentuk tindakan. Dalam karya tulis ilmiah ini penelitian tindakan kelas
yang dilakukan yakni dengan metode Diskusi Buzz Group.
Dalam teori Behaviouristik Thorndike, motivasi adalah satu satu
bentuk stimulus (rangsangan). Guru dapat memberikan stimulus dalam
bentuk kata-kata berupa motivasi sebelum maupun saat melaksanakan
kegiatan diskusi. Sedangkan stimulus lain dalam bentuk tindakan yakni
terciptanya suasana belajar yang kondusif bagi siswa. Dengan demikian
siswa dapat memiliki minat belajar, ditandai dengan keaktifan-nya dalam
mengikuti proses pembelajaran dan juga mengerjakan tugas-tugas bersama
dalam kelompok kecil.
Meningkatkan minat siswa dengan metode Buzz Group dilakukan
oleh guru yakni dengan memotivasi siswa yang masih malu-malu atau
takut untuk memberikan komentar. Guru juga dapat memberikan stimulus
berupa

pemberian

hadiah

kepada

kelompok

yang

paling

aktif

melaksanakan diskusi, ditandai dengan kerjasama antara semua anggota


kelompok. Dengan demikian diharapkan guru juga dapat meningkatkan

partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi


hingga menjadi siswa yang aktif dalam diskusi.75
Pada sub-bab manfaat diskusi memiliki bebrapa kelebihan dan ini
juga telah dijelaskan bahwa metode diskusi tersebut siswa tidak hanya
mendapatkan pengetahuan yang bersifat kognitif akan tetapi siswa juga
bisa mengembangkan hubungan interpersonalnya dengan teman sebaya.76

2.3. Pendidikan Agama Kristen


2.3.1. Pengertian, Dasar, Tujuan dan Hakikat PAK
Secara harafiah istilah pendidikan merupakan terjemahan dari
"education" dalam bahasa Inggris. Kata "education" sendiri berasal dari
bahasa Latin: "ducere" yang berarti membimbing (to lead), ditambah
awalan "e" yang berarti keluar (out). Jadi pada dasarnya pengertian
pendidikan adalah suatu tindakan untuk membimbing keluar.77
Dasar-dasar pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tertulis di
dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ayat-ayat
75www.eurekapendidikan.com
76 Radno, Ibid
77 Thomas. H. Grooms, Christian Religious Education (BPK. Gunung Mulia, 2010), 5

yang menjadi dasar pembelajaran PAK yaitu Ulangan 6:4-9; Efesus 6:4;
Amsal 22:6; II Timotius 3:16.78 Sedangkan tujuan PAK ialah menuntun
peserta didik untuk berakar dalam Kristus, bertumbuh. Dibangun di atasNya, dan menjadi murid-Nya sehingga semakin sempurna di dalam-Nya
(Kolose 2:6-7, 2 Petrus 3:18).79
Bersekutu, bersaksi dan melayani adalah panggilan gereja.
Pendidikan agama Kristen yang dilaksanakan di sekolah juga merupakan
wujud pelaksanaan tugas dan panggilan gereja tersebut secara khusus
"diakonia" atau melayani.
Tujuan PAK adalah memampukan orang-orang hidup sebagai
orang-orang Kristen, yakni hidup sesuai iman Kristen.80 Comenius dalam
Robert R. Boehlke mengatakan bahwa tujuan pendidikan agama Kristen
ialah "agar semua orang muda, laki-laki dan perempuan, tanpa kecuali
secara pesat, selengkapnya akan dijadikan terpelajar dalam ilmu, murni
dalam ahlak, terlatih dalam kesalehan supaya dengan demikian semua

78Alkitab Terjemahan Baru Bahasa Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)


79Sidjabat, Ibid, 178
80 Thomas. H. Grooms, Ibid, 48

dididik dalam berbagai hal yang perlu untuk hidup di masa kini, begitu
pun di dunia di seberang".81
Sedangkan tujuan tertinggi PAK haruslah membimbing peserta
didik agar percaya dalam hati dan mengakui dengan mulut serta
menyatakan dalam perilaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan
Juruselamat.82 Sepadan dengan itu Sylvia Bernadus mengungkapkan
bahwa PAK bukan semata-mata hanya pelajaran agama saja. Artinya PAK
adalah tugas mulia sebagai seorang guru pendidikan Kristen untuk
membimbing siswa dalam proses belajar hingga mengalami perubahan
baik segi/ranah kognitif, afektif dan psikomotoriknya yakni mencapai
pengenalan secara pribadi dengan Pribadi Yesus Kristus Sang Guru
Agung.83
Hakikat Pendidikan Agama Kristen adalah usaha yang dilakukan
secara kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa
agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati

81 Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama


Kristen (BPK. Gunung Mulia: 2009), 45

82 Sidjabat, Ibid, 178


83 Sylvia Yacob, PAK Anak (STTP: 2011)

kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan


sehari-hari terhadap sesama dan lingkungan hidupnya.84

2.3.2. Jenis-jenis PAK


Pendidikan Agama Kristen atau biasa dikenal dengan istilah PAK
(Christian Education) sebenarnya mencakup seluruh tugas pendidikan
gerejawi, baik itu sekolah minggu, katekisasi, PAK-Keluarga, PAKPemuda, dan PAK-Dewasa.85 Pemerintah menerapkan pelajaran agama
termasuk PAK di sekolah untuk menciptakan siswa yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan cita-cita undangundang dasar 1945.

2.3.3. PAK di Sekolah Dasar


Sekolah Dasar merupakan satuan pendidikan yang paling rendah
tingkatannya. Usia sekolah dasar di Indonesia pada umumnya berkisar dari
7 hingga 12 tahun. Pada tingkat ini anak-anak melewati dua tahap
perkembangan yaitu tahap pra-operasional konkret (5-7 tahun) dan tahap
84 Thomas. H. Grooms, Ibid, 3
85 Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan ( BPK. Gunung Mulia, 2009), 30

operasional konkret (7-12 tahun).86 Di tingkat Sekolah Dasar, tujuan


pengajaran PAK yaitu mengenal Allah beserta sifat-sifat-Nya yang maha
kasih, sehingga mereka lebih mengasihi dan memuji Dia serta dapat
menunjukkan kasih-Nya terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Ruang lingkupnya, mengenal kasih dan ketaatan kepada Tuhan di dalam
Yesus Kristus serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.87
Fungsi PAK di sekolah dasar adalah memampukan peserta didik
memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari; dan
membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai kristiani dalam
kehidupan sehari-hari.88
Jadi, secara teori metode Buzz Group dapat membantu siswa dalam
belajar, yakni secara khusus dapat meningkatkan minat belajarnya.
Dengan metode tersebut siswa tidak hanya belajar dari aspek kognitif,
namun juga aspek afektif dan psikomotoriknya.
Dari pendapat para ahli yang telah dipaparkan sebelumnya dapat
dilihat juga bahwa siswa pada usia sekolah secara khusus usia 10-11 tahun
86 Robert E. Slavin, Ibid, 106
87https://www.academia.edu/10064581/dasar_dan_tujuan_Pendidikan_Agama_Kristen
88 Sidjabat, Ibid, 180

berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang pada umumnya


senang dengan gaya belajar yang aktif dan suka berkelompok. Mereka
suka berkelompok dalam bermain maupun belajar. Sehingga dengan
metode Buzz Group diharapkan bukan hanya minat siswa yang akan
meningkat tetapi mereka dapat merasakan pembelajaran yang aktif dan
menyenangkan. Dalam metode Buzz Group siswa tidak hanya belajar dari
aktifitas mendengar seperti pada metode ceramah yang seringkali
digunakan oleh guru. Akan tetapi siswa juga dapat mendengar, melihat,
merasakan, melakukan kegiatan sekaligus.
Dengan peluang yang ada inilah, guru dapat berperan sebagai
fasilitator yang baik dalam mengajar, membimbing dan mendukung siswa
dalam meningkatkan minat belajarnya secara khusus pada mata pelajaran
PAK. Untuk itulah penulis tertarik menggunakan metode ini dalam
penelitian tindakan kelas untuk melihat bagaimana minat belajar siswa
dapat meningkat dengan upaya/metode ini.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian karya tulis ilmiah ini berdasarkan kaidah
umum yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah. Rancangan
penelitian dibuat sedemikian rupa sebagai petunjuk atau acuan untuk
penulis dalam melakukan penelitian tindakan kelas di kelas V di SD
Kristen Bala Keselamatan Lekatu.
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode
dengan

pendekatan kualitatif. Hal ini sehubungan dengan bentuk

penelitian yang penulis lakukan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

3.2. Desain dan Model Penelitian


Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian
Deskriptif-Kualitatif. Yakni memberikan gambaran tentang suatu keadaan
secara objektif. Penelitian deskriptif dilakukan dengan menunjukkan

hubungan antar berbagai variabel.89 Dalam hal ini penulis hendak


menggambarkan hubungan atau pengaruh antara variabel yakni upaya
peningkatan minat belajar PAK dengan metode diskusi Buzz Group pada
siswa kelas V di Sekolah Dasar Kristen Bala Keselamatan Lekatu.
Selain itu karena ini adalah jenis penelitian tindakan kelas, maka
penulis menggunakan desain penelitian menurut Arikunto sebagai
panduan dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas. Bentuknya adalah
sebagai berikut:90

89 Mastuhu, Metodologi Penelitian Agama: Teori dan Praktik (PT. Raja Grafindo
Persada: 2006), 123

90 Arikunto, Ibid, 16

3.3.Langkah-langkah Penelitian
Langkah awal sebelum penelitian dilaksanakan, penulis terlebih
dahulu membuat RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) dengan
akumulasi pertemuan sebanyak 8 kali khusus untuk penelitian tindakan
ini. Hal tersebut guna membantu penulis untuk masuk dalam siklus
penelitian tindakan kelas beikutnya.
Berdasarkan siklus penelitian tindakan kelas pada bagan di atas,
maka berikut ini adalah langkah-langkah penelitian yang akan penulis
tempuh:
Perencanaan I: Mencakup semua perencaan yang terkait dengan
tindakan kelas. Dalam hal ini meminta ijin pada pihak sekolah yang akan
menjadi tempat penelitian; menyiapkan sarana dan metode; Menyediakan
format penilaian perkembangan siswa; Menyusun alat pengumpulan
data/observasi.
Pelaksanaan I: Mencakup seluruh pelaksanaan tindakan kelas.
Seperti apersepsi/pengarahan teknis; Kegiatan Inti; Mengarahkan siswa;
Mengerjakan soal-soal dalam lembar kerja uji kompetensi.

Refleksi I: Mencakup refleksi dari pelaksanaan tindakan I yang


telah dilakukan. Dalam hal ini mengkaji secara menyeluruh tindakan yang
telah dilakukan berdasarkan data yang terkumpul
Pengamatan I: Mengamati jalannya tindakan dan pengaruhnya
terhadap variabel 2, yaitu minat belajar siswa. Hal-hal yang dilakukan
yaitu mencatat perkembangan minat anak selama tindakan berlangsung;
Mencatat proses; Menilai pelaksanaan tindakan; Memperbaiki tindakan.
Untuk itu instrument penelitian yang digunakan berupa buku catatan dan
video recorder.
Adapun siklus ke-II termasuk di dalamnya

perencanaan,

pelaksanaan, refleksi dan pengamatan memiliki proses yang sama dengan


siklus I di atas, hanya saja pengamatan II ditujukan khusus/fokus pada
anak yang minatnya masih rendah setelah dilakukannya siklus I dalam
tindakan kelas dengan metode Diskusi Buzz Group.

3.3.1. Indikator Keberhasilan


Indikator keberhasilan dari pengamatan tindakan kelas ini adalah:
Siswa mudah memahami materi; Siswa tertarik mengikuti pelajaran PAK

ditunjukkan dengan siswa tidak keluar masuk selama pelaksanaan


tindakan tersebut; Siswa aktif bertanya; Minat siswa meningkat.
3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Kristen Bala Keselamatan
Lekatu, Kecamatan Palu Barat. Waktu penelitian yang diperlukan yaitu
untuk menyelesaikan satu pokok materi pada kelas V sehingga waktu yang
diperlukan untuk penelitian selama 1 bulan atau paling sedikit 8 kali
pertemuan.
3.5. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Martono, populasi adalah keseluruhan subjek atau objek
yang berbeda pada suatu wilayah dan memenuhi sayarat-syarat tertentu
berkaitan masalah

yang

diteliti.91

Senada

dengan

itu

Sugiyono

mengatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas


objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan

oleh

peneliti

untuk

kemudian

dipelajari

dan

ditarik

kesimpulannya.92 Oleh karenanya dalam penelitian ini penulis melibatkan


siswa dan siswi SD BK Lekatu sebagai populasi.
91 Martono, Metode Penelitian Kuantitatif, Analisi Isi dan Analisi Data Sekunder. (PT.
Raja Grafindo Persada, 2011)

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki


oleh populasi tersebut.93 Sampel yang penulis ambil dari sebagian populasi
tersebut diharapkan dapat merepresentasikan keseluruhan populasi dalam
hal ini di Sekolah Dasar BK Lekatu. Untuk itu dalam penelitian ini penulis
mengambil sampel yaitu kepada siswa kelas V yang berjumlah 30-35
orang. Teknik pengambilan sampel yakni dipilih secara acak kepada
sampel/responden yang diharapkan dapat mewakili populasi yang ada.
Secara umum penulis menggunakan observasi yang di dalamnya
melaksanakan kegiatan tindakan kelas terhadap obyek penelitian guna
memperoleh data yang lebih akurat. Teknik pengumpulan data tersebut
dapat dipaparkan sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi yang dimaksudkan di sini yakni melakukan pengamatan
dan penelitian secara langsung terhadap objek yang akan diteliti. Dalam
hal ini mengamati keadaan siswa dalam proses pembelajaran PAK di kelas
V. Dalam pelaksanaan penelitian tentunya harus mendapatkan ijin dari
pihak sekolah yang bersangkutan.
92 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Alfabeta, 2010), 80
93 Sugiyono. Ibid. 81

b. Tindakan Kelas
Menurut Suharsimi Arikunto, yang dimaksud dengan tindakan
kelas di sini adalah suatu kegiatan yang diberikan oleh guru kepada
peserta didik agar melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. 94 Oleh
karena itu tindakan kelas yang ingin penulis lakukan dalam pembelajaran
PAK tersebut adalah dengan tindakan Diskusi Buzz Group yang telah
dijelaskan pada Bab sebelumnya.
Adapun ciri-ciri PTK (Classroom Action Research) menurut
Arikunto adalah sebagai berikut:95 Merupakan kegiatan nyata, hasil
pemikiran yang dirancang guru untuk meningkatkan mutu KBM;
Merupakan tindakan yang diberikan oleh guru kepada siswa; Tindakan
harus tampak nyata. Berbeda dari biasanya - harus tidak seperti biasanya;
Terjadi dalam siklus sebagai eksperimen berkesinambungan, minimum
dua siklus; Harus ada pedoman yang jelas secara tertulis, diberikan kepada
siswa agar dapat mengikuti tahap demi tahap; Terlihat adanya unjuk kerja
siswa sesuai pedoman tertulis yang diberikan oleh guru; Ada penelusuran
94 Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Untuk Guru, Kepala Sekolah,
Pengawas dan Penilai (Bumi Aksara, 2008)

95 Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Untuk Guru, Kepala


Sekolah, Pengawas dan Penilai (Bumi Aksara, 2008)

terhadap proses dengan pedoman pengamatan; Ada evaluasi terhadap hasil


dengan instrument yang relevan; Keterlibatan tindakan dilakukan dalam
bentuk refleksi, melibatkan siswa yang dikenai tidakan; Hasil refleksi
harus terlihat dalam perencanaan siklus berikutnya. Siklus yang
dimaksudkan di sini yaitu: Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan
refleksi.

3.6. Instrumen Penelitian


Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel
yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan
tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yang akan
dikumpulkan harus jelas.96
Dalam penelitian ini penulis menggunakan video recorder untuk
merekam pelaksanaan tindakan kelas dan juga buku catatan yang mencatat
proses pelaksanaan tindakan.

3.6.1. Instrumen Penelitian Tindakan Kelas - Implementasi


96 Sukmadinata, N. S, Metode Penelitian Pendidikan. Cetakan ke 7. (Bandung :
Remaja Rosdakarya 2011).

Berikut ini adalah contoh materi pembelajaran PAK dengan


menggunakan metode Diskusi Buzz Group:

Pelajaran 3
Kuasa Allah dalam Memelihara Ciptaan-Nya97
KD
Indikator

: Memahami Kemahakuasaan Allah


: Mendaftarkan berbagai hal tentang
kemahakuasaan Allah dalam penciptaan
Referensi Alkitab
: Kejadian 2:18-22
Waktu pelaksanaan : 2 x 45 menit
Persiapan

:
Guru membagi kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil (3-4
orang) berdasarkan nomor urut absen, atau tempat duduk

siswa.
Siswa

membentuk

kelompok

dan

duduk

berdasarkan

kelompoknya. Guru memimbing siswa dalam persiapan diskusi


dengan membantu mengatur tempat duduk tiap kelompok.
Kedua meja disusun dan tempat duduk diatur saling

berhadapan dengan meja.


Tiap-tiap kelompok dapat memilih salah seorang dari mereka
untuk menjadi ketua kelompok. Ketua kelompok yang nantinya
akan menyampaikan menulis hasil diskusi kelompok.

97 Kelompok Kerja PAK: Allah Mahakuasa, (BPK. Gunung Mulia: 2009), 8

Pelaksanaan:

Memulai dengan pujian dan doa


Guru memberikan arahan dan peraturan diskusi. Siswa boleh
bertanya jika ada hal yang belum dimengerti ketika

pelaksanaan diskusi berlangsung.


Guru menggunakan media berupa gambar urutan-urutan
penciptaan atau video singkat tentang penciptaan. Hal ini
dilakukan

agar

perhatian

siswa

tertuju

pada

proses

pembelajaran. Di sini siswa dapat melakukan kegiatan melihat,

mendengar dan mengamati.


Guru menyampaikam pertanyaan-pertanyaan diskusi sesuai
dengan pokok yang sama untuk dibahas oleh masing-masing

kelompok.
Waktu yang diberikan untuk diskusi yakni 10-15 menit. Selama
diskusi berlangsung guru memantau dan memperhatikan
aktivitas siswa. Guru mengunjungi setiap kelompok untuk
mengetahui adakah kelompok yang memerlukan bantuan untuk

memahami tugas
Sebelum diskusi diakhiri, guru memberikan peringatan

mengenai batas waktu dalam menyelesaikan tugas.


Setelah waktu yang ditentukan telah selesai, hasil diskusi
ditulis oleh salah satu siswa dan dikumpulkan ke guru.

Kemudian guru membahas materi diskusi untuk mencapai

suatu kesimpulan yang benar.


Guru membahas topik masalah tersebut untuk memperbaiki
konsep siswa yang mungkin masih keliru, agar tujuan
pembelajaran hari itu tercapai.

Pada akhir pelaksanaan kegiatan diskusi ini, kelompok Diskusi


yang paling aktif dalam melaksanakan kegiatan, mengerjakan tugas, dan
memiliki kerjasama yang baik akan mendapatkan

reward atau

penghargaan, yakni berupa pemberian bintang. Dan pada akhirnya,


kelompok yang paling banyak mendapatkan bintang akan diberikan hadiah
atau nilai plus. Dengan demikian siswa dapat lebih termotivasi dan
memiliki minat yang tinggi untuk hadir pada pelajaran selanjutnya.

3.7. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan yaitu diarahkan untuk
menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam proposal.98
Langkah-langkahnya yakni pre-activity, awal, akhir, check list dan analisis
deskriptif.

98 Sugiyono. Ibid. 243

DAFTAR PUSTAKA

Anas, Mohammad-Mengenal Metode Pembelajaran.Arikunto, Suharsimi. (2008).


Aksara: Jakarta

Penelitian Tindakan Kelas. PT. Bumi

Arikunto, Suharsimi. (2013). Evaluasi Program Pendidikan). PT. Bumi


Aksara: Jakarta
A. Z. Mulyana. (2010). Rahasia Menjadi Guru Hebat. Grasindo: Surabaya
Boehlke, Robert R. (2009). Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek
Pendidikan Agama Kristen. BPK. Gunung Mulia:Jakarta
Budiningsih, Asri. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta:
Jakarta
Desmita. (1989). Psikologi Perkembangan. Remaja Rosdakarya: Bandung
Djaali. (2007). Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta
Djiwandono Wuryani, Esti Sri. (2006). Psikologi Pendidikan. Gramedia:
Jakarta
Djiwatampu, Meithy. (2008). Membaca Untuk Belajar. Jakarta: Balai
Pustaka,
Grooms H, Thomas. (2010).
Gunung Mulia

Christian Religious Education. BPK.

Hasibuan J.J, Moedjiono. (1995). Proses Belajar Mengajar. Remaja


Rosdakarya: Bandung
Harsanto, Radno. (2007). Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Kanisius:
Yogyakarta

Ismail, Andar. (2010). Ajarlah Mereka Melakukan. Gunung Mulia: Jakarta


Kaiser, Walter. (2009). Berkhotbah dan Mengajar Dari Perjanjian Lama.
Kalam Hidup: Bandung
L, Zulkifli. (2009). Psikologi Perkembangan. Remaja Rosda Karya:
Bandung
Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Lukas: Tafsir Sinoptik. Kanisius: Jakarta
Martono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Analisi Isi dan Analisi
Data Sekunder. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Mastuhu. (2006). Metodologi Penelitian Agama: Teori dan Praktik. PT.
RajaGrafindo Persada: Jakarta
Marantika, Chris. (2008). Kristologi. Iman Press: Yogyakarta
Monks, F.J. (1989). Psikologi Perkembangan. Remaja Rosdakarya:
Bandung
Moedjiono, Dimyati. (1992). Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud Dirjen
Dikti: Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan: Jakarta
Mukrimaa, Syifaa. (2014). Lima Puluh Tiga Metode Pembelajaran. Bumi
Siliwangi: Bandung
Rochman. (1983).
Dekdikbud: Jakarta

Pembaharuan

Dalam

Metode

Pembelajaran.

Rose , Colin, & Nicholl, Malcolm. (2003). Accelerated


Yayasan Nuansa Cendekia: Bandung

Learning.

Salam, Burhanuddin. (1997). Pengantar Pedagogik: Dasar-dasar Ilmu


Mendidik. Rineka Cipta: Jakarta
Sarwono, Wirawan Sarlito. (2005). Psikologi
Kelompok dan Terapan. Balai Pustaka: Jakarta

Sosial:

Psikologi

Sinamo, Jansen. (2012). Delapan Etos Keguruan. Bina Media Informasi:


Bandung
Slavin, Robert E. (2008). Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Indeks:
Jakarta
Sidjabat, B.S. (1993). Menjadi Guru Profesional: Sebuah Perspektif
Kristiani. Yayasan Kalam Hidup: Bandung
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. PT.
Rineka Cipta: Jakarta
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Alfabeta: Bandung
Sukmadinata, N. S. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Remaja
Rosdakarya: Bandung
Syafaruddin, Nasution Irwan. (2005) .
Quantum Teaching: Jakarta

Manajemen

Pembelajaran.

Tirtarahardja Umar,La Sulo S. L. (2008). Pengantar Pendidikan. Rineka


Cipta
Yacob, Sylvia. (2011) . Diktat Matakuliah: Pendidikan Agama Kristen
Anak. Sekolah Tinggi Teologi Palu: Palu
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Balai Pustaka: Jakarta
LAI. (2008). Alkitab Terjemahan Baru Indonesia. Lembaga Alkitab
Indonesia: Jakarta
(National Training: Laboratorium, Bethel, Mane). Learning Pyramid
http://www.eurekapendidikan.com/2015/02/metode-diskusi-buzzgroup.html

http://pepak.sabda.org/25/nov/2004/anak_metode_mengajar_yesus
http://guruagamakristen.blogspot.com/2012/11/makalah-hubunganperjanjian-lama-dengan.html
https://www.academia.edu/10064581/dasar_dan_tujuan_Pendidikan_Aga
ma_Kristen
https://www.academia.edu/8458235/makalah_teori_pembelajaran_faktorfaktor_yang_memengaruhi_belajar
journal.um.ac.id/index.php/jph/article/viewFile/4150/798
https://www.academia.edu/10365909/Macam-macam_Diskusi_1