Anda di halaman 1dari 8

ETIOLOGI

Etiologi rinosinusitis akut dan rinosinusitis kronik berbeda secara mendalam.


Pada rinosinusitis akut, infeksi virus dan bakteri patogen telah ditetapkan sebagai
penyebab utama. Namun sebaliknya, etiologi dan patofisiologi rinosinusitis kronik
bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya diketahui; rinosinusitis kronik
merupakan sindrom yang terjadi karena kombinasi etiologi yang multipel. Ada
beberapa pendapat dalam mengkategorikan etiologi rinosinusitis kronik. Berdasarkan
EP3OS 2007, faktor yang dihubungkan dengan kejadian rinosinusitis kronik tanpa
polip nasi yaitu ciliary impairment, alergi, asma, keadaan immunocompromised,
faktor genetik, kehamilan dan endokrin, faktor lokal, mikroorganisme, jamur, osteitis,
faktor lingkungan, faktor iatrogenik, H.pylori dan refluks laringofaringeal.
Publikasi Task Force (2003) menyatakan bahwa rinosinusitis kronik
merupakan hasil akhir dari proses inflamatori dengan kontribusi beberapa faktor yaitu
faktor sistemik, faktor lokal dan faktor lingkungan. Berdasarkan ketiga kelompok
tersebut, maka faktor etiologi rinosinusitis kronik dapat dibagi lagi menjadi berbagai
penyebab secara spesifik. James Baraniuk (2002) mengklasifikasikan bermacam
kemungkinan patofisiologi penyebab rinosinusitis kronik menjadi rinosinusitis
inflamatori (berdasarkan tipe infiltrat selular yang predominan) dan rinosinusitis non
inflamatori (termasuk disfungsi neural dan penyebab lainnya seperti hormonal dan
obat). Rinosinusitis inflamatori kemudian dibagi lagi berdasarkan tipe infiltrasi
selular menjadi jenis eosinofilik, neutrofilik dan kelompok lain.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa diperkirakan 5-10% infeksi respiratorik atas
yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan sinusitis akut ada anak. Sebaliknya
ditemukan insidens asma sebesar 12% pada anak dengan sinusitis kronik. Kerentanan
sinus paranasalis terhadap infeksi ditentukan oleh 4 faktor:
1) Keutuhan ostium yang selalu harus terbuka
2) Fungsi silier

3) Kualitas sekresi mucus


4) Imunitas local
Keutuhan ostium merupakan faktor yang paling utama. Obstruksi ostium dapat
terjadi karena proses mekanik langsung (oleh karena deviasi septum, polip hidung
dan bulla in concha) dan melalui proses yang menyebabkan mukosa menjadi sembab
( oleh karena infeksi virus dan rhinitis alergi).
Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan factor penting penyebab sinusitis
sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan
menyembuhkan rhinosinusitisnya.

PATOFISIOLOGI

Kegagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan faktor


utama berkembangnya sinusitis. Patofisiologi rinosinusitis digambarkan sebagai
lingkaran tetutup, dimulai dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks
ostiomeatal (KOM). Secara skematik patofisiologi rinosinusitis adalah apabila organorgan yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam rongga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi, mula- mula serous. Kondisi ini bias dianggap
sebagai rinosinusitis non- bacterial yang biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan.
Bial kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul di dalam sinus merupakan
media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulent.
Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi
antibiotik. Jika terapi tidak berhasil, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri
anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus
yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu
hipertrofi, polipoid, atau pembentukan polip dan kista.
Sebagian besar kasus rinosinusitis disebabkan karena inflamasi akibat dari
colds (infeksi virus) dan rinitis alergi. Infeksi virus yang menyerang hidung dan sinus
paranasal menyebabkan udem mukosa dengan tingkat keparahan yang berbeda. Virus
penyebab tersering adalah coronavirus, rhinovirus, virus influenza A, dan respiratory
syncytial virus (RSV). Selain jenis virus, keparahan udem mukosa bergantung pada
kerentanan individu. Infeksi virus influenza A dan RSV biasanya menimbulkan udem
berat. Udem mukosa akan menyebabkan obstruksi ostium sinus sehingga sekresi
sinus normal menjadi terjebak (sinus stasis). Pada keadaan ini ventilasi dan drainase
sinus masih mungkin dapat kembali normal, baik secara spontan atau efek dari obatobat yang diberikan sehingga terjadi kesembuhan. Apabila obstruksi ostium sinus

tidak segera diatasi (obstruksi total) maka dapat terjadi pertumbuhan bakteri sekunder
pada mukosa dan cairan sinus paranasal.
Menurut berbagai penelitian, pada anak bakteria utama yang ditemukan
adalah M. Catarrhalis Bakteri ini kebanyakan ditemukan di saluran napas atas, dan
umumnya tidak menjadi patogen kecuali bila lingkungan disekitarnya menjadi
kondusif untuk pertumbuhannya. Pada saat respons inflamasi terus berlanjutdan
respons bakteri mengambil alih, lingkungan sinus berubah ke keadaan yang lebih
anaerobik. Flora bakteri menjadi semakin banyak (polimikrobial) dengan masuknya
kuman anaerob, Streptococcus pyogenes (microaero-philic streptococci), -dan
Staphylococcus aureus. Perubahan lingkungan bakteri ini dapat menyebabkan
peningkatan organisme yang resisten dan menurunkan efektivitas antibiotik akibat
ketidakmampuan antibiotik mencapai sinus. Infeksi menyebabkan 30% mukosa
kolumnar bersilia mengalami perubahan metaplastik menjadi mucus secreting goblet
cells, sehingga efusi sinus makin meningkat. Pada pasien rinitis alergi, alergen
menyebabkan respons inflamasi dengan memicu rangkaian peristiwa yang berefek
pelepasan mediator kimia dan mengaktifkan sel inflamasi. Limfosit T-helper 2 (Th-2)
menjadi aktif dan melepaskan sejumlah sitokin yang berefek aktivasi sel mastosit, sel
B dan eosinofil. Berbagai sel ini kemudian melanjutkan respons inflamasi dengan
melepaskan lebih banyak mediator kimia yang menyebabkan udem mukosa dan
obstruksi ostium sinus. Rangkaian reaksi alergi ini akhirnya membentuk lingkungan
yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri sekunder seperti halnya pada infeksi virus.
Klirens dan ventilasi sinus yang normal memerlukan mukosa yang sehat.
Inflamasi yang berlangsung lama (kronik) sering berakibat penebalan mukosa disertai
kerusakan silia sehingga ostium sinus makin buntu. Mukosa yang tidak dapat kembali
normal setelah inflamasi akut dapat menyebabkan gejala persisten dan-mengarah
pada rinosinusitis kronik.
MANIFESTASI KLINIS

Anamnesis
Anamnesis yang cermat dan teliti sangat diperlukan terutama dalam menilai
gejala-gejala yang ada pada rinosinusitis pada anak, mengingat patofisiologi
rinosinusitis kronik yang kompleks. Adanya penyebab infeksi baik bakteri maupun
virus, adanya latar belakang alergi atau kemungkinan kelainan anatomis rongga
hidung dapat dipertimbangkan dari riwayat penyakit yang lengkap. Informasi lain
yang perlu berkaitan dengan keluhan yang dialami penderita mencakup durasi
keluhan, lokasi, faktor yang memperingan atau memperberat serta riwayat
pengobatan yang sudah dilakukan.
Beberapa keluhan/gejala yang terjadi pada anak yang dapat diperoleh melalui
anamnesis adalah keluhan yang sering ditemukan adalah batuk kronik yang berulang,
pilek dengan cairan hidung yang berwarna kuning hijau. Gejala infeksi respiratorik
atas tidak sembuh sampai lebih dari 7 hari. Nyeri kepala dan nyeri di daerah muka
yang menjalar ke graham atas (geligi). Kadang pendengaran menurun dan penciuman
serta sensorik wajah berkurang. Demam ditemukan pada kurang dari 30% kasus.
Napas atau mulut yang berbau dapat ditemui.
Pemeriksaan fisis
Rinoskopi anterior dengan cahaya lampu kepala yang adekuat dan kondisi
rongga hidung yang lapang (sudah diberi topikal dekongestan sebelumnya). Dengan
rinoskopi anterior dapat dilihat kelainan rongga hidung yang berkaitan dengan
rinosinusitis kronik seperti udem konka, hiperemi, sekret (nasal drip), krusta, deviasi
septum, tumor atau polip. Rinoskopi posterior bila diperlukan untuk melihat patologi
di belakang rongga hidung.
Melalui pemeriksaan fisis, dapat ditemukan bahwa pada rinosinusitis akut,
mukosa edema dan hiperemis. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada
sinusitis maksilla dan etmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada

sinusitis etmoid posterior dan sfenoid). Pada anak, sering ada pembengkakan dan
kemerahan di daerah kantus medius.

KOMPLIKASI

Pada era pra antibiotika, komplikasi merupakan hal yang sering terjadi dan
seringkali membahayakan nyawa penderita, namun seiring berkembangnya teknologi
diagnostik dan antibiotika, maka hal tersebut dapat dihindari. Komplikasi
rinosinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotik. Komplikasi
berat biasanya terjadi pada rinosinusitus akut atau kronis dengan eksaserbasi akut,
berupa komplikasi orbita atau intrakranial. Beberaa faktor yang diduga sebagai
penyebab terjadinya komplikasi antara lain karena:
1) Terapi yang tidak adekuat
2) Daya tahan tubuh yang rendah
3) Virulensi kuman dan penanganan tindakan operatif (yang seharusnya)
terlambat dilakukan
Komplikasi yang biasanya terjadi adalah:
1. Kelainan orbita
Abses periorbita merupakan salah satu komplikasi dari rinosinusitis baik akut
ataupun kronis. Beberapa faktor sangat berperan pada penyebab penyebaran
rinosinusitis ke orbita. Komplikasi orbita umumnya terjadi akibat perluasan infeksi
rinosinusitis akut pada anak sedangkan pada anak yang lebih besar dan orang dewasa
dapat disebabkan oleh rinosinusitis akut ataupun kronik. Hal ini juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti anatomi antara sinus paranasal dan orbita, kekebalan
tubuh yang menurun terutama pasien dengan imunodefisiensi, serta faktor lingkungan
seperti kebersihan, musim, ataupun alergen. Keterlibatan sinus paranasal yang
menimbulkan komplikasi orbita pada anak-anak terutama disebabkan oleh infeksi
pada sinus etmoid.
Penyebaran infeksi rinosinusitis ke orbita dapat melalui penyebaran langsung
melalui defek kelainan bawaan, foramen atau garis sutura yang terbuka, erosi tulang
terutama pada lamina papirasea dan tromboflebitis retrograd langsung melalui

pembuluh darah vena yang tidak berkatup yang menghubungkan orbita dengan
wajah, kavum nasi, dan sinus paranasal.
2. Kelainan intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses akstradurak atau subdural, abses otak dan
thrombosis sinus kavernosus.
3. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Paling sering timbul adalah akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan
pada anak-anak.
4. Kelainan paru
Adanya kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga
menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum
rinosinusitisnya disembuhkan.