Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN PADA ORANG DEWASA

Konseling dan Edukasi


Konseling dan edukasi perlu diberikan segera sesudah diagnosis HIV/AIDS ditegakkan dan
dilakukan secara berkesinambungan. Bahkan, konseling dan edukasi merupakan pilar pertama
dan utama dalam penatalaksanaan HIV/AIDS; karena keberhasilan pencegahan penularan
horizontal maupun vertikal, pengendalian kepadatan virus dengan ARV, peningkatan CD4,
pencegahan dan pengobatan IO serta komplikasi lainnya akan berhasil jika konseling dan
edukasi berhasil dilakukan dengan baik. Pada konseling dan edukasi perlu diberikan dukungan
psikososial supaya ODHA mampu memahami, percaya diri dan tidak takut tentang status dan
perjalanan alami HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan serta pengobatan HIV/AIDS dan IO;
semuanya ini akan memberi keuntungan bagi ODHA dan lingkunganny

Antiretrovirus (ARV)
Indikasi pemberian ARV yaitu pada infeksi HIV akut, ODHA yang menunjukkan gejala klinis
atau ODHA tanpa gejala klinis yang memiliki CD4 < 500/mm3 dan atau RNA HIV > 20.000/ml.
serta pada PPE HIV.
Kombinasi ARV merupakan dasar penatalaksanaan pemberian antivirus terhadap ODHA; karena
dapat mengurangi resistensi, menekan replikasi HIV secara efektif sehingga kejadian
penularan/IO/komplikasi lainnya dapat dihindari, dan meningkatkan kualitas serta harapan hidup
ODHA. Dua golongan ARV yang diakui Food and Drug Administration (FDA) dan World
Health Organization (WHO) adalah penghambat reverse transcriptase (PRT), yang terdiri dari
analog nukleosida dan non-analog nukleosida, serta penghambat protease (PP) HIV. Ketiga jenis
ini dipakai secara kombinasi dan tidak dianjurkan pada pemakaian tunggal.
Penggunaan kombinasi ARV merupakan farmakoterapi yang rasional; sebab masing-masing
preparat bekerja pada tempat yang berlainan atau memberikan efek sinergis terhadap yang
lain. Preparat golongan PRT analog nukleosida menghambat beberapa proses polimerisasi
deoxyribo nucleic adid (DNA) sel termasuk sintesis DNA yang tergantung pada ribonucleic
acid (RNA) pada saat terjadi reverse transkripsi; sedangkan PRT analog non-nukleosida secara
selektif menghambat proses reverse transkripsi HIV-1. Penghambat protease bekerja dengan cara
menghambat sintesis protein inti HIV.
United States Public Health Service (USPHS) dan WHO menganjurkan kombinasi ARV yang
dipakai sebagai pengobatan pertama kali adalah 2 preparat PRT analog nukleosida dengan PP,
atau 2 preparat PRT analog nukleosida dikombinasikan dengan analog non-nukleosida.
Sedangkan kombinasi antara PRT nukleosida, non-nukleosida dengan PP dipertimbangkan
sebagai kombinasi pada pengobatan kasus lanjut.
Perlu diperhatikan kombinasi saquinavir dengan ritonavir akan meningkatkan kadar saquinavir
dalam plasma, karena ritonavir menghambat kerja enzim sitokrom P450. Sedangkan
zidovudin (ZDV) dengan stavudin dan efavirenz dengan saquinavir merupakan kombinasi
antagonis satu dengan yang lain. Nevirapin akan menurunkan berturut-turut kadar dalam
plasma saquinavir, ritonavir, indinavir dan lopinavir jika dikombinasikan, sehingga kombinasi
ARV ini jangan dilakukan.
Tabel 1. Kombinasi antiretroviral
Kriteria Penghambat Penghambat
Kombinasi Reverse Transcriptase Protease

Sangat dianjurkan Didanosin+Lamivudin Indinavir


Didanosin+Stavudin Indinavir+Ritonavir
Didanosin+Zidovudin Lopinavir+Ritovanir
Didanosin+Efirenz+ Nelfinavir
Lamivudin/ Stavudin/ Ritonavir+Saquinavi
Zidovudin
Lamivudin+Zidovudin
Lamivudin + Stavudin
Altematif
Amprenavir
Zidovudin+Zalsi
Nelfinavir+Saquinavir
tabin
Ritonavir
Saquinavir
Stavudin+Zidovudin
Tidak dianjurkan
Zalsitabin+Didanosin
Zalsitabin + Lamivudin
Zalsitabin + Stavudi

Sumber: US. Deportment of Health and Human Services. Guidelines for the use
of antiretroviral agents in hiv-infected adults and adolescents. MMWR 2001;
50: 1-115

Kombinasi ARV pada pengobatan pertama perlu diubah


jika ditemukan hal-hal sebagai berikut:
1. Penurunan RNA HIV plasma < 0,5-0,75 log10 dalam 4 minggu atau < 1 log10 dalam 8
minggu setelah pengobatan pertama diberikan.
2. Kegagalan penekanan RNA HIV sampai batas tak terdeteksi, dalam 4-6 bulan setelah
pengobatan pertarna diberikan.
3. Deteksi ulang RNA HIV plasma setelah kepadatan virus tak terdeteksi, berkembang
mengalami peningkatan walaupun ARV masih terus diberikan.
4. Jumlah CD4 tetap mengalami penurunan.
5. Keadaan klinis yang memburuk.
6. Terdapatnya efek:samping ARV.

Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Oportunistik (IO)


Penyebab utama kematian ODHA adalah infeksi opportunistik. Center of Disease Control
(CDC)menganjurkan pemberian regimen pencegahan bagi semua pasien dengan status imun
yang buruk tanpa kecuali. Infeksi oportunistik yang sering dijumpai di Amerika dan Eropa
adalah Pneumocystis Carinii Pneumonia (PCP), sedangkan di negara berkembang (Afrika, Asia
Tengah dan Asia Tenggara) termasuk Indonesia adalah tuberkulosis paru.
Rifampisin menurunkan berturut-turut kadar plasma nevirapin, delavirdin (analog non
nukleosida), saquinavir, indinavir, nelfinavir, amprenavir dan lopinavir (penghambat rotease);
sedangkan ketokonazol menurunkan kadar plasma nevirapin sehingga pemberian bersama obat-
obat tersebut harus dihindari.
Imunisasi pasif dan aktif dilakukan untuk mencegah infeksi oportunistik; pemberian imunisasi
aktif sebaiknya bukan imunisasi yang meagandung mikroba hidup/yang dilemahkan.
Beberapa penelitian menyimpulkan tak perlu penyesuaian dosis dan menunggu kadar tertentu
CD4 untuk melakukan imunisasi

PENATALAKSANAAN POST EXPOSURE

Konseling, Edukasi dan uji Darah Post Exposure


Tenaga medis, paramedis dan pekerja di bidang kesehatan lainnya merupakan salah satu
kelompok risiko tinggi terinfeksi HIV akibat paparan produk ODHA. Konseling dan edukasi
post exposure penting, terutama berhubungan dengan psikososial dan perilaku untuk mencegah
penularan sekunder (seperti tidak melakukan hubungan seksual, pemakaian kondom, mencegah
kehamilan, menghindari pemberian ASI) sampai terbukti sumber infeksi tidak mengandung HIV.
Uji darah post exposure untuk menilai antibodi HIV atau RNA HIV dilakukan segera setelah
terpapar untuk mengetahui status infeksi HIV yang bersangkutan; 6 minggu, 12 minggu sampai 6
bulan kemudian, jika hasil uji darah negatif baru disimpulkan tidakterinfeksi HIV.

Antiretroviral (ARV),
Pencegahan post exposure (PPE) HIV dengan ARV sebaiknya dimulai secepat mungkin tanpa
kecuali (hamil atau tidak). Pada percobaan binatang, didapatkan bahwa pemberian ARV setelah
36 jam paparan tidak efektif mencegah infeksi HIV; narnun pada manusia belum ada penelitian
mengenai hal ini.
Saat ini, CDC dan USPHS menganjurkan pemberian kombinasi ARV untuk PPE, walaupun
ZDV sendiri mampu menurunkan serokonversi sampai 79% pada penelitian retrospektif.
Kombinasi dasar ARV oral selama 4 minggu yang diberikan terdiri dari ZDV 300 mg 2 kali
sehari, lamivudin 150 mg 2 kali sehari atau lamivudin 150 mg 2 kali sehari dengan stavudin 40
mg 2 kali sehari atau stavudin 40 mg 2 kali sehari dengan didanosin 400 mg sekali sehari.
Sedangkan kombinasi lanjut ARV yang diindikasikan untuk kasus HIV positif kelas 1 dengan
cidera kulit dalam dan HIV Positif kelas 2 terdiri dari regimen kombinasi dasar ditambah salah
satu dari ARV yang disebutkan berturut-turut dengan dosisnya sebagai berikut:
infinavir 800 mg 3 kali sehari, nelfinavir 750 mg 3 kali sehari, efavirenz 600 mg sekali sehari
atau abakavir 300 mg 2 kali sehari

sumber:http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_PenatalaksanaanBaku.pdf/10_Penatalaksanaan
Baku.html