Anda di halaman 1dari 13

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

Bab

PEMAHAMAN PENINJUAN KEMBALI


RTRW KABUPATEN

Proses perencanaan merupakan proses yang terus berlanjut bagaikan suatu siklus.
Demikian halnya dengan sebuah produk rencana tata ruang seperti RTRW Kabupaten, yang
dalam proses perencanaannya tidak akan berhenti pada dokumen yang telah dihasilkannya.
Mengingat dinamika pertumbuhan dan perkembangan sosial ekonomi pada suatu wilayah
yang begitu cepat sehingga seringkali membuat apa yang telah diarahkan dalam dokumen
tata ruang wilayah tersebut tidak lagi sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dalam pengertian
ini, peninjauan kembali merupakan bagian dari proses yang memperbaiki rencana tata ruang
yang telah disusun serta menilai implementasinya terhadap rencana yang ada tersebut.
Sesuai dengan KepMen Kimpraswil Nomor 327 Tahun 2002 Tentang Peninjauan
Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten bahwa Peninjauan kembali
dan/atau penyempurnaan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) merupakan
suatu proses yang dilakukan secara berkala selama jangka waktu perencanaan berjalan agar
selalu memiliki suatu rencana tata ruang yang berfungsi seperti yang ditetapkan.

2.1

KEDUDUKAN PENINJAUAN KEMBALI DALAM SISTEM PENATAAN RUANG

Peninjauan kembali dalam konteks penataan ruang secara keseluruhan merupakan


bagian dari proses perencanaan tata ruang, sebagai proses untuk memperbaiki rencana tata
ruang yang telah ada, bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas, namun
merupakan bagian dari kegiatan perencanaan yang prosesnya terjadi setelah suatu siklus
kegiatan penataan ruang yang terdiri dari perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, peninjauan kembali rencana tata ruang
ini merupakan kegiatan peninjauan kembali secara total terhadap keseluruhan kinerja
penataan ruang, termasuk mengakomodasikan dan pemutakhiran yang dirasakan perlu akibat
kemungkinan adanya paradigma serta peraturan/rujukan baru pembangunan dan
perencanaan tata ruang.
Mengingat kinerja penataan ruang dipengaruhi bukan hanya faktor internal wilayah,
kualitas rencana, dan ketepatan tata cara pemanfaatan, tapi juga faktor eksternal seperti
adanya paradigma baru dalam pembangunan atau penataan ruang nasional, perubahan
Laporan Pendahuluan

2-1

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

peraturan atau rujukan baru, maka penyempurnaan RTR dilakukan setelah juga
memperhatikan faktor eksternal wilayah. Kegiatan peninjauan kembali Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) kabupaten tidak terlepas dari kegiatan penyusunan rencana ataupun
kegiatan revisi, karena didalam suatu mekanisme penanganan rencana tata ruang yang utuh,
kegiatan tersebut satu dengan lainnya merupakan satu sikuensis, dimana output kegiatan
yang satu akan merupakan input bagi kegiatan lainnya. Secara diagramatis, kedudukan
peninjauan kembali dalam rencana tata ruang masuk dalam kegiatan Evaluasi, secara garis
besar dapat di gambarkan dalam diagram sebagai berikut ini.
Gambar 2.1
Kedudukan Peninjauan Kembali dalam Rencana Tata Ruang

Dari gambar di tersebut terlihat bahwa untuk melakukan evaluasi, dalam hal ini
peninjauan kembali diperlukan adanya masukan yang berasal dari monitoring mengenai
implementasi suatu rencana. Adapun keluaran peninjauan kembali dapat berupa suatu
informasi dan rekomendasi yang akan dipergunakan sebagai dasar terbentuknya suatu
kebijaksanaan sehubungan dengan kemungkinan adanya perbaikan/revisi rencana atau
penyusunan rencana yang baru. Inti tujuan kegiatan peninjauan kembali adalah menilai
sejauh mana RTRW Kabupaten telah/dapat dilaksanakan, atau sebagai upaya menilai
efektifitas RTRW melalui pengendalian pemanfaatan lahan.

2.2

PERLUNYA PENINJAUAN KEMBALI RTRW

Pada kegiatan penyusunan rencana tata ruang, dalam hal ini Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kabupaten, pengkajian terhadap aspek-aspek sumberdaya alam, manusia
dan buatan, perumusan konsepsi, strategi yang didasarkan pada asumsi tertentu dan faktor
sosial ekonomi yang bersifat internal maupun eksternal terhadap wilayah perencanaan
merupakan hal yang wajib dilakukan. Dalam perjalanan penyusunan rencana sebagai dasar
pemanfaatan ruang dapat terjadi berbagai kemungkinan yaitu antara lain:
a.

Perubahan faktor eksternal terhadap wilayah seperti perkembangan ekonomi


nasional dan global, perubahan wilayah sektor dan tata ruang wilayah nasional.

b.

Perubahan kondisi-kondisi internal seperti keinginan daerah, perkembangan yang


sangat pesat dari satu sektor atau kawasan dalam satu wilayah.

c.

Kekurangtepatan
simpangan.

menggunakan

rencana

dan

pengendalian

sehingga

terjadi

Laporan Pendahuluan

2-2

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

Keseluruhan ini dapat menyebabkan kemungkinan:


a.

RTRW masih dapat mengakomodasikan dinamika perkembangan yang bersifat


eksternal dan internal namun terjadi simpangan-simpangan dalam pemanfaatan
karena kelemahan dalam pengendalian. Untuk kondisi yang pertama maka tidak perlu
dilakukan peninjauan kembali tetapi yang dibutuhkan adalah penertiban, yang dapat
mencakup perubahan pemanfaatan agar menjaga konsistensi rencana, atau
penyempurnaan mekanisme pengendalian.

b.

RTRW tidak dapat lagi mengakomodasikan dinamika perkembangan yang bersifat


eksternal dan atau internal. Adanya perubahan faktor eksternal dan internal dapat
mempengaruhi RTRW yang ada sehingga rencana menjadi tidak relevan lagi sebagai
acuan pemanfaatan ruang, maka perlu dilakukan peninjauan kembali. Perubahan dan
pengaruhnya terhadap RTRW tidak selalu sama akan tetapi kadarnya dapat
bervariasi.

Peninjauan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK), dapat


dilaksanakan karena beberapa alasan atau kondisi, di antaranya adalah pada UU 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang yaitu pada pasal 16 sebagai berikut:
Pasal 16
(1) Rencana tata ruang dapat ditinjau kembali.
(2) Peninjauan kembali rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat menghasilkan rekomendasi berupa:
a. rencana tata ruang yang ada dapat tetap berlaku sesuai dengan masa
berlakunya; atau
b. rencana tata ruang yang ada perlu direvisi.
(3) Apabila peninjauan kembali rencana tata ruang menghasilkan rekomendasi
sebagaimana dimaksud pada ayat huruf b, revisi rencana tata ruang
dilaksanakan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali
rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan peraturan pemerintah.

Faktor yang sebenarnya menjadikan kegiatan peninjauan kembali menjadi suatu


aktivitas yang penting untuk dilakukan secara berkala dalam proses penataan ruang adalah
karena adanya ketidaksesuaian dan/atau simpangan antara rencana dengan kenyataan
yang terjadi di lapangan baik karena faktor internal maupun faktor eksternal.
A.

Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perlunya peninjauan kembali,
yaitu:

1. Adanya perubahan dan/atau penyempurnaan peraturan dan/atau rujukan


sistem penataan ruang.

2. Adanya perubahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang dan/atau sektoral dari

tingkat propinsi maupun kabupaten yang berdampak pada pengalokasian


kegiatan pembangunan yang memerlukan ruang berskala besar.
Laporan Pendahuluan

2-3

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

3. Adanya ratifikasi kebijaksanaan global yang mengubah paradigma sistem


pembangunan dan pemerintahan serta paradigma perencanaan tata ruang.

4. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat dan


seringkali radikal dalam hal pemanfaatan sumberdaya alam meminimalkan
kerusakan lingkungan.

5. Adanya bencana alam yang cukup besar sehingga mengubah struktur dan pola
pemanfaatan ruang, dan memerlukan relokasi kegiatan budidaya maupun
lindung yang ada demi pembangunan pasca bencana.

B.

Faktor Internal
Beberapa
adalah:

faktor

internal

yang

mempengaruhi perlunya peninjauan kembali

1. Rendahnya kualitas RTRWK yang dipergunakan untuk penertiban perizinan

lokasi pembangunan, sehingga kurang dapat mengoptimalisasi perkembangan


dan pertumbuhan aktivitas sosial ekonomi yang cepat dan dinamis.

2. Rendahnya kualitas ini dapat disebabkan karena tidak diikutinya proses teknis
dan prosedur kelembagaan perencanaan tata ruang.

3. Terbatasnya pengertian dan komitmen aparatur yang terkait dengan tugas


penataan ruang, mengenai fungsi dan kegunaan RTRWK dalam pelaksanaan
pembangunan.

4. Adanya perubahan atau pergeseran nilai/norma dan tuntutan hidup yang


berlaku di dalam masyarakat.

5. Lemahnya kemampuan aparatur yang berwenang dalam pengendalian


pemanfaatan ruang.

2.3

KRITERIA TIPOLOGI PENINJAUAN KEMBALI RTRW KABUPATEN

Peninjauan kembali RTRWK lebih mudah ditindaklanjuti dengan membuat dan


mengikuti suatu tipologi peninjauan kembali. Adapun kriteria-kriteria yang membentuk
tipologi tersebut adalah:
A.

Kelengkapan dan Keabsahan Data


Data dikatakan lengkap jika minimal terdapat:
1.

2.

Data Kebijaksanaan Pembangunan Daerah (sasaran dan tujuan) dan Data


Regional:
a.

Data kesimpulan arahan Pola Dasar Pembangunan Daerah dan Propeda


Propinsi terhadap Kabupaten.

b.

Data kesimpulan
Kabupaten.

Pola Dasar Pembangunan Daerah dan Propeda

c.

Data

pembangunan

d.

Data atau informasi arahan RTRWN, RTR Pulau atau Perwilayahan, RTRW
Kabupaten terhadap Kabupaten.

kebijaksanaan

sektor lainnya yang berpengaruh.

Data karakteristik ekonomi wilayah dan hasil pengamatan perkembangannya,


yang meliputi:
a.

Data PDRB Kabupaten (time series 5 tahun).

b.

Data mobilitas orang dan barang di kabupaten.


Laporan Pendahuluan

2-4

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

3.

4.

5.

c.

Data sistem jaringan transportasi jalan.

d.

Data produksi per sektor pembangunan total kabupaten.

e.

Data produksi per sektor pembangunan dirinci per kecamatan.

f.

Data APBD Kabupaten (time series 5 tahun).

g.

Data realisasi penerimaan dan pengeluaran rutin.

h.

Data realisasi penerimaan dan pengeluaran pembangunan.

i.

Data investasi pembangunan per sektor yang terkait dengan penataan


ruang.

Data dan kondisi perkembangan kependudukan atau demografi, yang meliputi:


a.

Data jumlah penduduk kabupaten, kecamatan, kota-kota (perkotaan), dan


perdesaan.

b.

Data kepadatan penduduk kabupaten, kecamatan dan kota.

c.

Data rate pertumbuhan kabupaten, kecamatan, desa.

d.

Data lapangan pekerjaan penduduk kabupaten, dirinci per kecamatan.

Data sumber daya buatan, meliputi:


a.

Data sarana ekonomi tiap kecamatan dan perkotaan.

b.

Data sarana sosial tiap kecamatan dan perkotaan.

c.

Data dan peta sarana dan prasarana transportasi di kabupaten.

d.

Data dan peta prasarana pengairan.

e.

Data dan peta sumber air baku.

f.

Data dan peta sistem jaringan listrik.

g.

Data dan peta sistem telekomunikasi.

Data sumber daya alam, meliputi:


a.

Data dan peta penggunaan lahan/tanah.

b.

Data dan peta hidrologi/sumberdaya air.

c.

Data dan peta topografi dan morfologi.

d.

Data dan peta geologi dan jenis tanah.

e.

Data dan peta sumberdaya mineral.

f.

Data dan peta unsur-unsur iklim.

g.

Data dan peta kehutanan.

h.

Data dan peta kawasan rawan bencana.

Peta dibuat dengan kedalaman skala 1:100.000 sampai dengan 1:50.000.


B.

Relevansi Metoda dan Hasil Analisis


Analisis yang digunakan dalam penyusunan RTRWK dianggap lengkap jika minimal
terdapat:
1.

Analisis untuk melihat kedudukan Kabupaten dalam sistem perwilayahan


nasional, sistem tata ruang pulau, sistem perwilayahan propinsi, dan
keterkaitannya dengan kabupaten lainnya. Analisis ini dinyatakan lengkap jika
minimal memiliki:
Laporan Pendahuluan

2-5

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

a. Analisis mengenai jaringan transportasi nasional, pulau, propinsi


b. Analisis mengenai arahan kebijakan RTRWN, RTR Pulau, Perwilayahan,
RTRW Kabupaten , dan kebijaksanaan sektoral.

c. Analisis sistem perkotaan, regional yang berpengaruh terhadap kabupaten.


d. Analisis fungsi dan peranan kabupaten dalam lingkup nasional, pulau,
propinsi dilihat dari aspek ekonomi, transportasi
pembangunan nasional/ regional secara umum.

dan

pencapaian

e. Analisis sektor-sektor unggulan yang menjadi prime mover di kabupaten,


propinsi, pulau maupun nasional.

2.

3.

4.

5.

6.

Analisis Demografi
a.

Analisis tingkat perkembangan penduduk.

b.

Analisis mengenai pergerakan/mobilitas penduduk antar kabupaten dan


dalam kabupaten.

c.

Analisis distribusi/kepadatan penduduk


perdesaan.

kecamatan, perkotaan, dan

d.

Analisis struktur
perdesaan.

kecamatan,

e.

Analisis strukltur umur dan tingkat partisipasi angkatan kerja per


kecamatan, perkotaan dan perdesaan.

pekerjaan

penduduk

perkotaan

dan

Analisis Sosial Kemasyarakatan


a.

Analisis adat-istiadat yang menghambat dan mendukung pembangunan.

b.

Analisis tingkat partisipasi/peran serta masyarakat dalam pembangunan.

c.

Analisis kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

d.

Analisis pergeseran nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat


setempat.

e.

Analisis kinerja tingkat pelayanan fasilitas dan utilitas sosial.

Analisis Ekonomi
a.

Analisis mengenai ekonomi dasar.

b.

Analisis mengenai struktur ekonomi wilayah kabupaten.

c.

Analisis mengenai peluang pertumbuhan ekonomi.

d.

Analisis pergerakan barang dan jasa intra dan inter wilayah.

e.

Analisis pola persebaran ekonomi dalam wilayah.

f.

Analisis mengenai potensi investasi.

Analisis Fisik dan Daya Dukung Lingkungan


a.

Analisis kendala fisik pengembangan kawasan budidaya (rawan gempa,


banjir, longsor, dll).

b.

Analisis lokasi dan kapasitas sumber daya alam.

c.

Analisis kesesuaian lahan untuk kawasan lindung maupun budidaya.

Analisis Sarana dan Prasarana


a.

Analisis kondisi, jenis dan jumlah sarana sosial dan ekonomi.


Laporan Pendahuluan

2-6

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

7.

b.

Analisis sarana dan prasarana transportasi

c.

Analisis sarana dan prasarana pengairan, listrik dan telekomunikasi.

Analisis struktur dan pola ruang yang ada dan kecenderungan perkembangannya
Analisis ini dinyatakan lengkap apabila dapat dirangkum faktor-faktor
pembentuk struktur dan pola pemanfaatan ruang dari kesimpulan analisis pola
sebaran penduduk, pola sebaran kegiatan pembangunan (kegiatan budidaya),
dan pola sebaran jaringan sarana-prasaran.

8.

9.

C.

Analisis potensi dan kondisi sumber daya alam, sumber daya buatan dan
sumber daya manusia
a.

Potensi sumber daya alam yang ada, kemungkinan dan keterbatasan


pengembangannya.

b.

Potensi pengembangan sumber daya buatan.

c.

Kemampuan sumber daya manusia yang ada untuk mengelola sumbersumber di atas.

Analisis Keuangan dan Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Daerah


a.

Analisis mengenai jumlah dan proporsi pembiayaan


kabupaten serta arahan dari tingkat propinsi.

pembangunan

b.

Analisis PAD, subsidi pemerintah pusat, dan subsidi dari tingkat propinsi.

c.

Analisis sumber-sumber pembiayaan lainnya (swasta, BLN, dsb).

Kesesuaian Perumusan Konsep dan Strategi Pemanfaatan Ruang Wilayah


Kabupaten
Bagian-bagian perumusan konsep dan strategi pemanfaatan yang diperiksa
kesesuaiannya meliputi:

D.

1.

Perumusan tujuan pemanfaatan ruang.

2.

Perumusan masalah pembangunan kabupaten dan keterkaitannya dengan


masalah pemanfaatan ruang.

3.

Perumusan konsep dan strategi pengembangan tata ruang wilayah kabupaten.

4.

Penjabaran konsep dan strategi pengembangan tata ruang wilayah kabupaten


ke dalam langkah-langkah berikut:
a.

Strategi pengelolaan kawasan kawasan lindung dan budidaya

b.

Strategi pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan, dan kawasan


tertentu.

c.

Strategi pengembangan sistem kegiatan pembangunan serta sistem


permukiman perdesaan dan perkotaan.

d.

Strategi pengembangan sarana dan prasarana wilayah.

e.

Strategi pengembangan kawasan prioritas

f.

Strategi pemanfaatan ruang.

g.

Strategi pengendalian pemanfaatan ruang.

Kesahan Produk RTRWK


RTRW Kabupaten dinyatakan sah sesuai UUPR, apabila memiliki:
1.

Tujuan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten serta konsep dan strategi


Laporan Pendahuluan

2-7

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

pengembangannya untuk mencapai tujuan tersebut di atas.


2.

3.
E.

Rencana struktur pemanfaatan ruang:


a.

Rencana sistem kegiatan pembangunan;

b.

Rencana sistem permukiman perkotaan dan perdesaan;

c.

Rencana sistem prasarana wilayah yang terdiri dari: Rencana sistem


prasarana transportasi dan Rencana sistem prasarana energi/listrik;

d.

Rencana sistem prasarana lingkungan;

e.

Rencana sistem prasarana lainnya.

Rencana pola pemanfaatan ruang.

Prosedur Penyusunan RTRWK


Penyusunan RTRWK umumnya mengikuti prosedur yang berciri sebagai berikut:
1.

Disusun berdasarkan pedoman penyusunan yang berlaku.

2.

Melibatkan seluruh tim koordinasi penataan ruang wilayah kabupaten


bersangkutan serta masyarakat dan pakar termasuk swasta.

3.

Melalui suatu proses konsensus dan musyawarah dari semua pihak dan
mengalokasikan ruang sesuai dengan arahan dari rencana tata ruang yang lebih
tinggi.

Penentuan kriteria dan tata cara penilaian dalam evaluasi bertujuan untuk
menghasilkan rumusan kebijaksanaan akibat terjadinya penyimpangan pelaksanaan
RTRW Kabupaten. Kebijaksanaan dimaksud akan menyangkut apakah RTRW
Kabupaten berdasarkan evaluasi perlu direvisi atau tidak dan kapan RTRW
Kabupaten tersebut perlu disusun ulang walaupun masa berlaku rencana tersebut
belum habis.

2.4

KRITERIA PENINJAUAN KEMBALI RTRW KABUPATEN

Proses peninjauan kembali merupakan suatu bagian dari keseluruhan mekanisme


dari rangkaian penataan ruang, dan dilakukan secara konsisten terhadap proses
pemanfaatan ruang yang menerima pengaruh dari faktor internal dan eksternal. Proses
peninjauan kembali RTRWK dilakukan dengan melalui beberapa tahapan, yaitu :
1.

Evaluasi data dan informasi dari hasil kegiatan, pengendalian pemanfaatan ruang
dari pelaporan dan pemantauan
a.

Pengumpulan data pemanfaatan ruang yang sudah berlangsung


dibandingkan dengan strategi dan rencana pola dan struktur ruang

dan

b.

Pengumpulan data mengenai kebijakan eksternal dan evaluasi adanya


perubahan-perubahan terhadap asumsi faktor-faktor eksternal yang ada, serta
kajian mengenai pengaruhnya terhadap strategi, struktur dan pola ruang

c.

Mengkaji keabsahan RTRW dengan memperhatikan perubahan pemanfaatan dan


adanya perubahan faktor eksternal. Data, metoda/analisis, konsep dan strategi
dikaji apakah masih tepat dan absah serta produk rencana sesuai UUPR dan
apakah rencana masih sesuai dengan perkembangan.

Kegiatan tahap ini akan menghasilkan produk :


a.

Profil dan kualitas / kesahan RTRW

Laporan Pendahuluan

2-8

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

2.

b.

Tingkat permasalahan pemanfaatan ruang, berupa simpangan-simpangan


pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan

c.

Perubahan-perubahan dari kebijakan-kebijakan diluar sistem penataaan ruang


(faktor eksternal)

Penentuan perlu tidaknya peninjauan kembali


Kriteria indikatif yang secara tepat dapat menentukan apakah RTRW perlu ditinjau
kembali, meliputi :
a.

Terjadinya perubahan kebijakan pemerintah/sektor untuk pembangunan skala


besar atau kegiatan penting sehingga tidak dapat ditampung oleh pola dan
struktur ruang RTRW. Perubahan tersebut akan mengganggu rencana struktur
dan pola ruang sehingga mungkin dapat menurunkan efisiensi pembangunan dan
atau kerusakan lingkungan.

b.

Terjadi perubahan faktor-faktor internal dalam pembangunan daerah karena


adanya perubahan preferensi/prioritas perkembangan kawasan-kawasan atau
sektor yang tidak dipertimbangkan sebelumnya dan lain-lain.

c.

Terjadinya simpangan-simpangan besar dalam struktur dan pola ruang karena


penyimpangan pemberian izin lokasi pembangunan dan kurang tanggapnya
pemerintah daerah terhadap dinamika pembangunan yang ada.

Jika sekurang-kurangnya salah satu dari kriteria indikatif tersebut atau lebih
dipenuhi, maka diperlukan proses peninjauan kembali atau penyempurnaan
terhadap seluruh proses penataan ruang yang ada, dan sebaliknya apabila tidak
dipenuhi maka RTRW masih dianggap dapat dipergunakan sebagai mata spasial
pembangunan.
3.

Penentuan tipologi peninjauan kembali berdasarkan kriteria tipologi peninjauan


kembali
Apabila telah ditentukan perlu dilakukan peninjauan kembali, maka perlu dilakukan
penentuan
tipologi
peninjauan
kembali,
untuk
menganalisis
aspekaspek/komponen-komponen yang perlu diperbaiki mengingat banyak kemungkinan
dari kombinasi-kombinasi faktor penyebab. Tipologi peninjauan kembali masingmasing perlu dikaji faktor-faktor yang perlu diperbaiki dan bagaimana
memperbaikinya meliputi :
a.

Tipologi A
Kondisi RTRW sah, terjadi simpangan kecil dan tidak terjadi perubahan
faktor eksternal
RTRW tersebut memiliki kondisi berlaku/digunakan sebagai acuan
pembangunan dan memenuhi syarat ketentuan-ketentuan prosedur dan proses
penyusunan rencana dan terpenuhi substansi RTRW. Simpangan-simpangan
dalam pemanfaatan dan pengendalian rencana secara prinsip tidak
mempengaruhi perubahan tujuan, strategi serta struktur dan pola pemanfaatan
ruang wilayah, demikian pula faktor-faktor eksternal masih sangat kecil
pengaruhnya pada perubahan wilayah.

b. Tipologi B
Kondisi RTRW sah, terjadi simpangan kecil, namun terjadi perubahan
signifikan pada faktor-faktor eksternal berpengaruh terhadap kinerja
RTRW.
RTRW tersebut memiliki kondisi berlaku digunakan sebagai acuan pembangunan
dan memenuhi syarat ketentuan-ketentuan prosedur dan proses penyusunan
Laporan Pendahuluan

2-9

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

rencana, namun karena adanya pengaruh faktor eksternal, RTRW tersebut tidak
lagi dapat sepenuhnya dijadikan acuan pembangunan karena tidak lagi dapat
mengakomodasi perkembangan yang ada. Secara mendasar RTRW memerlukan
perubahan-perubahan mendasar dalam tujuan, sasaran, strategi serta struktur
dan pola pemanfaatan ruang wilayahnya.
c.

Tipologi C
RTRW sah, terjadi simpangan besar dan perubahan faktor eksternal secara
signifikan.
Dalam pemanfaatan RTRW terjadi simpangan-simpangan yang menyalahi
ketentuan yang diinginkan dalam RTRW, disebabkan oleh pengaruh faktorfaktor eksternal yang secara signifikan. Perlu dilakukan perubahan tujuan,
sasaran, strategi serta struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah.

d. Tipologi D
RTRW sah, terjadi simpangan besar, namun tidak terjadi perubahan pada
faktor-faktor eksternal.
Dalam pelaksanaan RTRW telah terjadi simpangan dalam pemanfaatan dan
pengendalian yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diinginkan
dalam RTRW, walaupun kondisi RTRW sendiri telah memenuhi prosedur dan
ketentuan penyusunan RTRW.
e. Tipologi E, F,G dan H
Keempat tipologi ini pada dasarnya memiliki kondisi yang sama yaitu
RTRW yang bersangkutan tidak sahih.
Perbedaan tipologi hanya dibedakan atas dasar pelaksanaan pemanfaatan serta
pengaruh faktor-faktor eksternal, meliputi :

Tipologi E : simpangan kecil, faktor eksternal bertambah

Tipologi F : simpangan kecil, faktor eksternal tetap

Tipologi G : simpangan besar, faktor eksternal berubah

Tipologi H : simpangan besar, faktor eskternal tetap

Pada dasarnya untuk keempat tipologi ini perlu dilakukan penyempurnaan


RTRW atau perubahan tujuan, sasaran, strategi serta struktur dan pola
pemanfaatan ruang wilayah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku
dalam pedoman penyusunan rencana dan sesuai dengan perubahan yang
diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal tersebut.
4.

Kegiatan peninjauan berupa kegiatan analisis, kajian dan evaluasi/penilaian

Analisis Perubahan Faktor Eksternal


Perubahan faktor eksternal yang perlu diperhatikan dalam peninjauan kembali
RTRW Kabupaten, dapat berupa :
a.

Peraturan dan rujukan baru


Perlu diperhatikan bahwa peraturan-peraturan baru atau rujukan baru
untuk dinilai sampai berapa jauh pengaruhnya terhadap RTRW Kabupaten.

b. Kebijakan baru, baik yang dilakukan oleh Pusat, Daerah maupun Sektor
Dalam hal ini melihat sejauh mana kebijakan tersebut mempengaruhi
strategi, rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang kabupaten yang ada
dalam RTRW Kabupaten, misalnya dapat berupa perubahan strategi
Laporan Pendahuluan

2 - 10

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

perwilayahan nasional, perubahan pola dasar pembangunan, kebijaksanaan


pemanfaatan lahan berskala besar atau mempertahankan lahan-lahan
beririgasi teknis.
c.

Perubahan-perubahan dinamis akibat kebijakan maupun pertumbuhan


ekonomi
1.

Terjadinya perubahan fungsi kota.

2.

Munculnya berbagai investasi properti berskala besar yang


berpengaruh terhadap pola dan struktur pengembangan daerah.

3.

Terjadinya perubahan-perubahan pembangunan infrastruktur yang


berpengaruh terhadap pola dan struktur ruang wilayah.

4.

Dibangunnya pusat-pusat pelayanan atau outlet baru yang berpengaruh


terhadap pola dan struktur ruang wilayah.

d. Paradigma baru pembangunan dan atau penataan ruang


Penilaian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa pendekatanpendekatan yang dilakukan dalam RTRW kemungkinan tidak lagi sah untuk
mengakomodasikan faktor-faktor eksternal seperti pengaruh globalisasi
atau penemuan teknologi baru, sehingga dirasakan perlu merumuskan
orientasi baru dalam strategi pemanfaatan ruang provinsi dan wujud
struktur dan pola pemanfaatan ruang kabupaten
Kajian perubahan faktor eksternal yang signifikan dapat dilakukan secara
kuantitatif atau kualitatif, namun pertimbangan utama adalah apakah
perubahan yang masih ada masih dapat diakomodasikan atau sejalan
dengan perubahan-perubahan ekonomi, asumsi-asumsi, strategi atau
arahan pengelolaan ruang provinsi dan apakah arahan pola dan struktur
masih dapat diwujudkan.

Analisis Adanya Simpangan


Perbedaan antara RTRW yang disusun dengan kenyataan wujud struktural
pemanfaatan ruang di lapangan dinyatakan sebagai simpangan. Berdasarkan
pada lingkup penataan ruang, ada sisi yang mengakibatkan terjadinya
penyimpangan yaitu pada sisi pemanfaatan dan pengendalian.
Dalam Pemanfaatan RTRW simpangan-simpangan yang terjadi adalah apabila
ada perbedaan antara program-program pembangunan yang dilakukan tidak
sesuai dengan arahan, tujuan dan sasaran penataan ruang, atau ada perbedaan
antara pola dan struktur RTRW dengan wujud pola dan realisasi struktur tata
ruang wilayah. Pengendalian yang kurang baik menghasilkan simpangan
pemanfaatan ruang. Dalam peninjauan kembali RTRW yang perlu diperhatikan
adalah simpangan pemanfaatan ruang, termasuk pengendalian pemanfaatan
ruang. Hasil peninjauan kembali adalah rencana yang diperbaharui dan
rumusan-rumusan terhadap pemanfaatan pengendalian.
a.

Kriteria Simpangan dalam Pemanfaatan RTRW Kabupaten


Pemanfaatan RTRW Kabupaten
dikatakan sesuai dan tidak terjadi
simpangan bila terpenuhinya ketentuan-ketentuan pemanfaatan RTRW
sebagai berikut:
1.

RTRW benar-benar dijadikan acuan pelaksanaan pembangunan. RTRW


merupakan dokumen resmi dalam Rapat Koordinasi Pembangunan
Daerah dan didudukkan sejajar dengan dokumen Pembangunan Daerah
lainnya, seperti pola dasar.
Laporan Pendahuluan

2 - 11

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

2.

Struktur dan pola pemanfaatan ruang benar-benar sesuai dengan


arahan dalam RTRW.

3.

RTRW telah ditetapkan dan disahkan menjadi Peraturan Daerah.

4.

RTRW Kabupaten telah terdiseminasikan ke setiap sektor.

5.

RTRW merupakan acuan sektor dalam menyusun rencana, pembiayan


dan penatahapan program pembangunan di daerah.

6.

RTRW menjadi acuan dalam pelaksanaan penyusunan rencana tata


ruang hirarki dibawahnya.

7.

RTRW tidak menimbulkan konflik kepentingan antar sektor atau


tumpang tindih alokasi kegiatan sektor.

8.

Pemanfaatan ruang atas dasar RTRW tidak menimbulkan dampak yang


bermasalah di masyarakat.

9.

Tidak adanya pengaduan masyarakat yang menginformasikan


ketidaksesuaian RTRW dengan kenyataan di lapangan.

b. Kriteria Simpangan dalam Pengendalian Pemanfaatan RTRW


Kehandalan suatu pengendalian adalah didasarkan kemampuan dari sistem
pengendalian tersebut dalam menyediakan informasi adanya perbedaan
kenyataan struktur dan pola pemanfaatan ruang di lapangan dan
memberikan reaksi terhadap penyelesaian simpangan-simpangan di
lapangan.
Indikator yang dapat dijadikan kriteria pelaksanaan RTRW sudah atau
belum melakukan pengendalian secara baik, dapat dilihat dengan
memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1.

Telah dibuat sistem informasi pemantauan dan pelaporan yang handal


yang secara cepat dapat menginformasikan pelaksanaan programprogram pembangunan di daerah.

2.

Telah dilakukan mekanisme perizinan yang sesuai berdasarkan RTRW


Kabupaten dalam menentukan lokasi kegiatan.

3.

Telah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program-program


pembangunan, implementasi ruangnya serta perijinan pemanfaatan
ruang.

4.

Telah dilakukan evaluasi terhadap kenyataan di lapangan akibat


terjadinya dinamika perubahan faktor eksternal seperti perubahan
paradigma pembangunan dan kebijaksanaan pembangunan serta
ketentuan atau rujukan baru.

5.

Diterapkannya instrumen seperti perangkat insentif-insentif terhadap


suatu arahan kegiatan agar senantiasa sesuai dengan arahan RTRW
Kabupaten .

6.

Diterapkannya denda atau sanksi terhadap pihak-pihak yang melanggar


pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTRW Kabupaten .

Dalam penilaian simpangan dapat dilakukan analisis kualitatif dan atau


kuantitatif, tetapi dasar utama penentuan kriteria adalah perbedaan wujud
pemanfaatan dengan strategi dan rencana struktur dan pola pemanfaatan
ruang.

Laporan Pendahuluan

2 - 12

Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)


Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011-2031

5.

Tahapan Perumusan Peninjauan Kembali


Perumusan Peninjauan kembali RTRW akan terdiri dari dua rekomendasi, yaitu;
1.

RTRW perlu di revisi

2.

Perertiban terhadap pelaksanaan pemanfaatkan ruang

Gambar 2.2
Proses Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten

Laporan Pendahuluan

2 - 13

Anda mungkin juga menyukai