Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

HISTOLOGI
“ Sistema Respiratorium “

Nama : Yudhis Citra Wahyudi


NIM : 07121001
Gol / Kel. :1/I
Tanggal Praktikum : 01-07-2009
Tanggal Penyerahan : 10-07-2009
Dosen Pembimbing : Novi Eurika, S.Si
Co.Assisten : Dara Shandi Abi Resta
Yunita Handayani Budi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2009
A. Topik Praktikum
Sistem pernafasan mencakup paru-paru dan sistem saluran yang
menghubungkan tempat pertukaran gas dengan lingkungan luar. Zat makanan
yang diserap oleh jonjot usus kemudian oleh darah dan getah bening diangkut ke
organ-organ tubuh yang membutuhkan. Zat makanan merupakan senyawa yang
mengandung energi. Energi tersebut dapat dimanfaatkan oleh tubuh maka harus
dipecah terlebih dahulu, dimana memecahnya diperlukan oksigen yang diperoleh
melalului pernafasan.
Pernafasan atau respirasi mempunyai arti :
- proses pengambilan O2, pengeluaran CO2 dan penggunaan energi yang
dihasilkan oleh tubuh
- pertukaran gas antara sel dengan lingkungannya
- reaksi enzimatis, sebab dalam proses tersebut ada satu enzim yang memegang
peranan penting yaitu sitokrom (enzim pernafasan)
Pernafasan berlangsung melalui 2 tahap, yaitu :
- pernafasan eksternal (luar) : adalah difusi gas luar masuk ke dalam aliran darah
(pertukaran O2 dari darah)
- pernafasan internal (dalam) : adalah difusi gas atau pertukaran gas dari darah ke
sel tubuh
Oksigen yang masuk ke dalam tubuh hanya sedikit yang dapat disimpan
dalam tubuh, yaitu berupa oksimioglobin (dalam otot) dan sebagai okihemoglobin
(dalam darah).
B. Tujuan Praktikum
 Mengetahui Struktur fungsi Trakea
 Mengetahui Struktur fungsi Paru-Paru
D. Pembahasan
Dalam melaksanakan proses Metabolisme, oleh hewan dan manusia
dibutuhkan oksigen. System respirasi berfungsi untuk mengambil oksigen dan
membuang karbondioksida, yang keduanya diangkut dari dan ke tubuh.
Tractus respiratorius dapat dibagi menjadi:
1. Pars Conductoria
Meliputi saluran yang menghubungkan antara bagian luar tubuh dengan
paru-paru untuk menyalurkan udara.
Saluran ini terdiri dari:
- Hidung
- Pharynx
- Larynx
- Trachea
- Bronchus
- Bronchiolus
2. Pars Respiratoria
Merupakan bagian dari paru-paru yang berfungsiuntuk pertukaran gas
antara darah dan udara. Bagian ini terdiri dari:
- Saccus alveolaris.
- Alveolus.

1. HIDUNG
Hidung merupakan organ yang berongga dengan dinding yang tersusun
oleh jaringan tulang, cartilage, otot dan jaringan pengikat. Pada kulit yang
menutupi bagian luar hidung diketemukan Glandula sebacea dan rambut-rambut
halus.
Kulit ini melanjutkan diri melalui nares untuk melapisi vestibulum nasi.
Di daerah vestibulum nasi ini banyak rambut yang bersifat kaku yang berfungsi
untuk menghalangi debu dan kotoran yang ikut dihirup. Pada sisa cavum nasi
yang lain dilapisi oleh epitel silindris semu berlapis bersilia dengan banyak
kelenjar mucosa ( sel piala ).
Di indera pembau terdapat epitel khusus, yang pada bagian bawahnya
terdapat membrane basalis yang memisahkan epitel dengan jaringan pengikat
yang banyak mengandung kelenjar serosa-mukosa.Di bawah epitel yang menutupi
concha nasalis inferior banyak plexus fenosus yang berguna untuk memanasi
udara yang lewat.
- Organon olfactorius
Merupakan reseptor rangsang bau yang terletak pada ephitelium
olfactorius. Epitelnya merupakan epitel silindris semu berlapis dengan 3 macam
sel:
a) Sel penyokong
Sel ini berbentuk langsing, di dalam sitoplasmanya tampak adanya berkas-
berkas tonofibril dan jelas tampak terminal bar. Pada permukaannya tampak
banyak mikrovili yang panjang yang terpendam dalam lapisan lender. Kompleks
golgi yang kecil terdapat pada bagian puncak sel.Di dalamnya juga terdapat
pigmen coklat yang memberi warna pada epitel olfactory tersebut.
b) Sel Basal
Sel ini berbentuk kerucut rendah dengan tonjolan tersusun selapis dan
berinti gelap.
c) Sel Olfactoori.
Sel ini terdapat diantara sel-sel penyokong sebagai sel syaraf yang
berbentuk bipolar. Bagian puncak sel olfactory membulat dan menonjol merupaka
dendrite yang meluas sebagai tonjolan silindris pada permukaan epitel. Bagian
basal mengecil menjadi lanjutan sel halus yang tidak berselubung myelin.
Bagian yang membulat di permukaan disebut vesicular olfactorius, dari bagian
yang menonjol ini timbul tonjolan yang berpangkal pada corpuscullum basale
sebagai cilia olfactory yang tidak dapat bergerak. Ujung cilia inilah yang
merupakan komponen indra pembau dan dapat menerima rangsang.
Dalam lamina propria terdapat sel-sel pigmen dan sel limfosit. Selain itu, dalam
lamina propria terdapat banyak sekali anyaman pembuluh darah.
Di dalam lamina proproia area olfactory terdapat pula kelenjar tubulo-
alveolar sebagai Glandula Olfactorius Bowmani, yang berfungsi menghasilkan
sekrit yang menjaga agar epitel olfactory tetap basah dan bersih.
d) Sinus paranasal
Merupakan ruangan yang dibatasi tulang dan berhubungan dengan cavum
nasi. Sinus paranasal ini kita kenal: sinus paranasal, sinus ethmoidale, sinus
maxilla dan sinus spenoidalis yang terdapat dalam tulang-tulang yang
bersangkutan.
2. LARYNX
Larynx berbentuk sebagai pipa yang irregular dengan dinding yang terdiri
atas cartilage hyaline, cartilage elastis, jaringan pengikat dan otot bercorak.
Larynx menghubungkan antara pharynx dengan trachea.Fungsinya adalah
menyokong, mencegah makanan/minuman untuk masuk ke dalam trachea.Rangka
larynx terdiri dari beberapa potong kartilago:
 Cartilage thyrooidea, cartilage cricoidea dan epiglotis yang terdapat tunggal
 Cartilage arythenoidea, Cartilago corniculata, dan cartilage cuneiformis yang
terdapat sepasang.
Otot bercorak dari larynx dapat dibagi menjadi :
Otot ekstrinsik, yang berfungsi untuk menopang dan menghubungkan
sekitarnya. Kontraksinya terjadi pada proses digulatio(menelan).
Otot instrinsik, yang berfungsi menhubungkan masing-masing cartilage
larynx . kontraksinya berpereran dalam proses bersuara.
Epiglottis merupakan cartilage elastis yang berbentuk seperti sendok pipih.
Permukaan depan, bagian atas permukaan belakang epiglotia (plica aryepiglotica)
dan plica vokalis dilapisi oleh epitel gepeng berlapis. Plica vokalis merupakan
lipatan membrane mukosa yang didalamnya mengandung ligamentum vokalis
yang merupakan pengikat elastis. Epitel yang menutupi merupakan epitel gepeng
berlapis.

3. TRACHEA
Merupakan lanjutan dari larynx yang lebarnya 2-3.5 cm dan panjangnya
sekitar 11 cm. trachea berakhir dengan cabang dua yang disebut sebagai bronchus.
Epitel yang melapisi sebelah dalam ialah epitel silindris semu berlapis bercilia dan
bertumpu pada membrane basalis yang tebal. Di antara sel-sel tersebar sel-sel
piala. Dibawah membrane basalis terdapat lamina propria yang banyak
mengandung serabut elastis. Di lapisan dalam lamina propria serabut elastis
membentuk anyaman padat sebagai suatu lamina elastica, maka jaringan pengikat
dibawahnya kadang-kadang disebut tunica submukosa.
Di dalam tunica submukosa inilah terdapat kelenjar-kelenjar kecil seperti
pada dinding larynx yang bermuara pada permukaan epitel. Yang merupakan ciri
khas dari trachea adalah adnya kerangka cincin-cincin cartilago hyaline yang
berbentuk huruf C sebanyak 16-20 buah yang berderet mengelilingi lumen dengan
bagian yang terbuka di bagian belakang( pars cartilaginea).
Masing-masing cincin dibungkus oleh serabut fibro elastis.
Bagian belakan tidak memiliki cincin cartilage (pars membranacea) diisi oleh
serabut-serabut otot polos yang sebagian berjalan melintang dan berhubungan
dengan jaringan fibro elastis disekitarnya.
4. BRONCHUS DAN CABANG-CABANGNYA
Trachea bercabang menjadi 2 bronchus primaries yang masuk ke jaringan
paru-paru melalui hilus pulmonalis dengan arah ke bawah dan lateral. Bronchus
yang sebelah kana bercabang menjadi 3 dan yang sebelah kiri becabang menjadi
2, dimana setiap cabang tersebut merupakan percabangan dari bronchus primaries.
Lamina propria terdiri dari jaringan pengikat yang banyak mengandung
serabut elastis dan serabut kolagen dan retikuler serta beberapa limfosit. Di bawah
membrane mocosa terdapat stratum musculare yang tidak merupakan lapisan
tertutup.
Banyaknya serabut elastis berhubungan erat dengan sel-sel otot polos dan
serabut elastis ini sangat penting dalam proses respirasi. Di dalam anyaman
muskuloelastis ini terdapat banyak jalinan pembuluh darah kecil.
Perbedaan struktur antara trachea serta bronchus extrapulmonalis serta
intrapulmonalis.
 Bentuk cincin cartilage.
Susunan serabut otot pada trachea hanya dibagian dorsal sedangkan pada
bronchus terdapat disekeliling dinding.

Kontraksi lapisan otot ini akan menimbulkan lipatan memanjang pada membrane
mukosa.Suatu lapisan anyaman elastis yang membatasi membrane mukosa seperti
pada trachea tidak ada, tetapi terdapat serabut-serabut elastis yang berjalan sejajar
sepanjang bronchus dengan percabangannya.
 Perbedaan Bronchus dan Bronchiolus.
Dengan bercabangnya bronchus, maka kalibernya akan semakin mengecil,
yang menyebabkan gambaran stukturnya akan semakin berbeda karena lempeng-
lempeng cartilage yang makin berkurang.
Bila struktur pulmo disamakan seperti kelenjar, maka bronchus merupakan
‘ductus extraloburalis’, sebab terdapat diluar lobuli. Cabang bronchus yang
memasuki lobulus pada puncaknya disebut ‘bronchiolus’ yang sesuai dengan
‘ductus intralobularis’ pada kelenjar.Biasanya dinding brochiolus berdiameter
lebih kecil dari 1mm dengan epitel silindris selapis bercilia dan tanpa cartilago.
5. PULMO
Paru-paru pada manusia terdapat sepasang yang menempati sebagian besar
dalam cavum thoracis. Kedua paru-paru dibungkus oleh pleura yang terdiri atas 2
lapisan yang saling berhubungan sebagai pleura visceralis dan pleura parietalis.
 Stuktur Pulmo
Unit fungsional dalam paru-paru disebut lobulus primerius yang meliputi
semua struktur mulai bronchiolus terminalis, bronchiolus respiratorius, ductus
alveolaris, atrium, saccus alveolaris, dan alveoli bersama-sama dengan pembuluh
darah, limfe, serabut syaraf, dan jaringan pengikat.
Lobulus di daerah perifer paru-paruberbentuk pyramidal atau kerucut
didasar perifer, sedangkan untuk mengisi celah-celah diantaranya terdapat lobuli
berbentuk tidak teratur dengan dasar menuju ke sentral.
Cabang terakhir bronchiolus dalamlobulus biasanya disebut bronchiolus
terminalis. Kesatuan paru-paru yang diurus oleh bronchiolus terminalis disebut
acinus.

 Bronchiolus Respiratorius
Memiliki diameter sekitar 0.5mm. saluran ini mula-mula dibatasi oleh
epitel silindris selapis bercilia tanpa sel piala, kemudian epitelnya berganti dengan
epitel kuboid selapis tanpa cilia. Di bawah sel epitel terdapat jaringan ikat kolagen
yang berisi anyaman sel-sel otot polos dan serbut elastis. Dalam dindingnya sudah
tidak terdapat lagi cartilago.
Pada dinding bronchiolus respiratorius tidak ditemukan kelenjar. Disana-
sini terdapat penonjolan dinding sebagai alveolus dengan sebagian epitelnya
melanjutkan diri. Karena adanya alveoli pada dinding bronchiolus inilah maka
saluran tersebut dinamakan bronchiolus respiratorius.
 Ductus Alveolaris
Bronchiolus respiratorius bercabang menjadi 2-11 saluran yang disebut
ductus alveolaris. Saluran ini dikelilingi oleh alveoli sekitarnya.
Saluran ini tampak seperti pipa kecil yang panjang dan bercabang-cabang dengan
dinding yang terputus-putus karena penonjolan sepanjang dindingnya sebagai
saccus alveolaris. Dinding ductus alveolaris diperkuat dengan adanya serabut
kolagen elastis dan otot polos sehingga merupakan penebalan muara saccus
alveolaris.
 Saccus alveolaris dan Alveolus
Ruangan yang berada diantara ductus alveolaris dan saccus alveolaris
dinamakan atrium. Alveolus merupakan gelembung berbentuk polyhedral yang
berdinding tipis.Yang menarik, dindingnya penuh dengan anyaman kapiler darah
yang saling beranastomose.
Kadang ditemukan lubang yang disebut porus alveolaris dan terdapat sinus
pemisah(septa) antara 2 alveoli. Fungsi lubang tersebut belum jelas, namun dapat
diduga untuk mengalirkan udara apabila terjadi sumbatan pada salah satu
bronchus.
 Pelapis Alveolaris
Epitel alveolus dengan endotil kapiler darah dipisahkan oleh lamina
basalis.Pada dinding alveolus dibedakan atas 2 macam sel:
- Sel epitel gepeng ( squamous pulmonary epitheal atau sel alveolar kecil
atau pneumosit tipe I ).
- Sel kuboid yang disebut sel septal atau alveolar besar atau pneumosit tipe
II.
- Sel alveolar kecil membatasi alveolus secara kontinyu, kadang diselingi
oleh alveolus yang besar. Inti sel alveolus kecil ini gepeng. Bentuk dan
ketebalan sel alveolar kecil tergantung dari derajat perkemangan alveolus
dan tegangan sekat antara alveoli.
- Sel alveolar besar ialah sel yang tampak sebagai dinding alveolus pada
pengamatan dengan mikroskop cahaya. Sel ini terletak lebar ke dalam
daripada pneumosit type I.
Kompleks golginya sangat besar disertai granular endoplasma reticulu m
dengan ribosom bebas. Kadang-kadang tampak bangunan ini terdapat
dipermukaan sel seperti gambaran sekresi sel kelenjar. Diduga benda-benda ini
merupakan cadangan zat yang berguna untuk menurunkan tegangan permukaan
dan mempertahankan bentuk dan besar alveolus. Secret tersebut dinamakan
‘Surfactant’. Udara di dalam alveolus dan darah dalam kapiler dipisahkan oleh:
- Sitoplasma sel epitel alveolus.
- Membrana basalis epitel alveolus.
- Membrane basalis yang meliputi endotel kapiler darah
Sitoplasma endotel kapiler darah.
- Fagosit Alveolar, Sel Debu (Dust cell)
Hampir pada setiap sediaan paru-paru ditemukan fagosit bebas. Karena
mereka mengandung debu maka disebut sel debu. Pada beberapa penyakit jantung
sel-sel tersebut mengandung butir-butir hemosiderin hasil fagositosis pigmen
eritrosit.
 Pembuluh Darah
Sebagian besar pulmo menerima darah dari arteri pulmonalis yang bertripe
elastis. Cabang arteri ini masuk melalui hilus pulmonalis dan bercabang-cabang
mengikuti percabangan bronchus sejauh bronchioli respiratorius.
Dari sini arteri tersebut memberi percabangan menuju ke ductus alveolaris, dan
memberi anyaman kapiler di sekeliling alveolus. Venula menampung darah dari
anyaman kapiler di pleura dan dinding penyekak alveolus. Vena yang
menampung darah dari venula tidak selalu seiring dengan arterinya, tetapi melalui
jaringan pengikat di antara lobulus dan segmen.
Pulmonalis dan vena pulmonalis terutama untuk pertukaran gas dalam
alveolus. Disamping itu terdapat arteri bronchialis yang lebih kecil, sebagai
cabang serta mengikuti bronchus dengan cabang-cabangnya. Arteri ini diperlukan
untuk nutrisi dinding bronchus termasuk kelenjar dan jaringan pengikat sampai di
bawah pleura.Darah akan kembali sebagian besar melalui vena pulmonalis
disamping vena bronchialis. Terdapat anastomosis dengan kapiler dari arteri
pulmonalis.
 Pembuluh Limfe
Terdapat 2 kelompok besar, sebagian dalam pleura dan sebagian dalam
jaringan paru-paru. Terdapat hubungan antara 2 kelompok tersebut dan keduanya
mengalirkan limfa ke arah nodus limfatikus yang terdapat di hilus.
Pembuluh limfe ada yang mengikuti jaringan pengikat septa interlobularis dan ada
pula yang mengikuti percabangan bronchus untuk mencapai hilus.
 Pleura
Seperti juga jantung paru-paru terdapat didalam sebuah kantong yang
berdinding rangkap, masing-masing disebut pleura visceralis dan pleura parietalis.
Kedua pleura ini berhubungan didaerah hilus. Sebelah dalam dilapisi oleh mesotil.
Pleura tersebut terdiri atas jaringan pengikat yang banyak mengandung serabut
kolagen, elastis, fibroblas dan makrofag. Di dalamnya banyak terdapat anyaman
kapiler darah dan pembuluh limfe.
 HISTOGENESIS
Perkembangan pulmo terdiri dari 3 fase:
1. Fase glanduler(12-16 minggu)
Mula-mula sebagai tonjolan yang akan menjadi trachea yang kemudian
bercabang menjadi 2 sebagai calon bronchus. Tonjolan ini dengan cepat tumbuh
memanjang dan mencapai kelompok sel-sel mesenkhim sehingga akhirnya
menyerupai kelenjar. Pars conductoria tractus respiratorius telah dilengkapi
selama kehidupan intrauterin bersama pula dengan sistem pembuluh darah.
2. Fase kanalikuler(bulan ke-4-7)
Terjadi pertumbuhan cepat sel-sel mesenkim di sekitar percabangan
bronchus. Sel-sel tersebut dan serabut jaringan pengikat sangat menonjol
disamping anyaman kapiler darah. Pada tingkat ini belum tumbuh alveolus.
Kelenjar-kelenjar timbul sebagai tonjolan dinding bronchus.
3. Fase alveolar(6,5 bulan sampai lahir)
Paru-paru kehilangan bentuk kelenjarnya karena sekarang banyak sekali
pembuluh darah. Ujung-ujung bronchus yang mengembang akan tumbuh
bercabang-cabang hingga terbentuk alveoli.Epitel alveoli menipis sehingga terjadi
hubungan yang erat dengan kapiler darah. Sesudah lahir masih terjadi
perkembangan pars respiratoria untuk penyempurnaan yang meliputi bronchiolus
respiratorius sampai alveoli.
 REGENERASI PARU-PARU
Paru-paru mudah sekali terserang penyakit infeksi sehingga menimbulkan
kerusakan jaringannya. Dalm proses penyembuhan bagian-bagian yang rusak
akan digantikan oleh jaringan pengikat. Jaringan paru-paru sendiri tidak
mrngalami regenerasi.
Sistem pernapasan dapat mengalami berbagai gangguan, baik karena
kelainan sistem pernapasan atau akibat infeksi kuman. Beberapa jenis gangguan
antara lain :
- Asma/sesak napas, penyempitan saluran napas akibat otot polos pembentuk
dinding saluran terus berkontraksi, disebabkan alergi atau kekurangan hormon
adrenalin.
- Asfiksi, gangguan pengangkutan dan penggunaan oksigen oleh jaringan akibat
tenggelam, pneumonia, keracunan CO.
- Asidosis, akibat peningkatan kadar asam karbonat dan asam bikarbonat dalam
darah
- Wajah adenoid (wajah bodoh), penyempitan saluran napas karena
pembengkakan kelenjar limfa (polip), pembengkakan di tekak (amandel).
- Pneumonia, radang paru-paru akibat infeksi bakteri Diplococcus pneumonia.
- Difteri, penyumbatan faring/laring oleh lendir akibat infeksi bakteri
Corynebacterium diphteriae
- Emfisema, menggelembungnya paru-paru akibat perluasan alveolus
berlebihan.
- Tuberculosis (TBC), penyakit paru-paru akibat infeksi bakteri Mycobacterium
tuberculosa.
- Peradangan pada sistem pernapasan :
• bronchitis, radang bronkhus.
• laringitis, radang laring
• faringitis, radang faring
• pleuritis, radang selaput paru-paru
• renitis, radang rongga hidung
• sinusitis, radang pada bagian atas rongga hidung (sinus)

E. Kesimpulan
Alat mekanisme ventilasi, yang terdiri atas rongga toraks, otot interkostal,
diafragma, dan komponen elastis serta kolagen paru, penting untuk pergerakan
udara melalui paru. Sistem pernafasan biasanya di bagi menjadi 2 bagian daerah
utam yaitu konduksi dan respirasi.

F. Daftar Pustaka
Luis Carlos Junquiera, Jose Carneiro.HISTOLOGI DASAR : Text &
Atlas.EGC;2007
Novi Eurika. Petunjuk Praktikum “HISTOLOGI”.Universitas
Muhammadiyah Jember;2009