Anda di halaman 1dari 69

1

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

BAB I
LATAR BELAKANG
Proses produksi merupakan ilmu yang mempelajari tentang mesin-mesin yang
berkaitan dengan kegiatan produksi khususnya pada bidang Industri. Selain
mempelajari tentang teori dari mesin tersebut, proses produksi juga menjelaskan tentang
cara penggunaanya serta pengoperasian mesin secara manual dan otomatis, serta
pengoperasian mesin yang benar sehingga terwujud K3 (Keselamatan dan Kesehatan
Kerja).
Mempelajari ilmu Proses Produksi dalam praktikum ini sangatlah penting,
terutama yang berkaitan dengan mesin-mesin seperti mesin bubut, mesin sekrap, mesin
milling/frais, dan mesin lainnya. Pengetahuan akan mesin tersebut dapat diketahui dan
dapat dilakukan dengan baik, sehingga dapat meningkatkan produktifitas serta mutu
dari produk yang dihasilkan. Sebagai orang yang nantinya akan bekerja dibidang
teknologi dan industri harus dapat mengetahui tentang semua hal dari mesin-mesin
tersebut.
Mesin-mesin yang dipelajari pada praktikum proses produksi, yaitu mengenai
mesin bubut, mesin sekrap, mesin milling/frais, mesin drilling, mesin pemotong plat,
mesin penekuk, mesin power hack saw, dan mesin las. Mesin-mesin tersebut digunakan
untuk menyelesaikan laporan pembuatan produk poros, roda gigi, dan bangku atau meja
dengan desain gambar yang dibuat menggunakan software autocad.
Macam macam mesin pada proses produksi ini antara lain, konvensional dan
non konvensional. Mesin yang praktikan gunakan pada laboraturium proses produksi
Universitas Brawijaya ini menggunakan mesin konvensional, dengan begitu di harapkan
praktikan dapat mengoperasikan mesin secara manual dengan tingkat kesulitan yang
lebih tinggi dibandingkan apabila menggunakan mesin non konvesional. Sehingga
nantinya pada saat bekerja praktikan dapat mudah beradaptasi dengan mesin yang ada di
perusahaan industri di mana praktikan akan bekerja.
Praktikum Proses Produksi merupakan praktikum yang menunjang bagi Jurusan
Teknik Mesin untuk membekali dan meningkatkan pemahaman yang bertujuan untuk
mengetahui dan mengoperasikan mesin secara baik. Maka diharapkan berguna sesuai
dengan kebutuhan masyarakat baik merencanakan, memperbaiki, melaksanakan, dan
mengendalikan suatu sistem kerja. Pengetahuan terhadap mesin-mesin proses produksi
tersebut sebagai salah satu bagian dari perkembangan teknologi.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

BAB II
PRAKTIKUM
2.1 Mesin Bubut
Lathe machine atau dikenal sebagai mesin bubut mencakup segala mesin
perkakas yang memproduksi bentuk silindris dan digunakan untuk menghasilkan bendabenda putar, membuat ulir, pengeboran, dan meratakan permukaan benda putar.
2.1.1 Tujuan
Tujuan umum
a. Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta cara pengoperasiannya.
b. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan tentang mesin-mesin perkakas.
Tujuan khusus
a. Dapat mengetahui, menguasai dan menjalankan mesin bubut.
b. Mengetahui proses dan cara pembuatan benda kerja dengan mesin bubut.
c. Mengetahui dan memahami cara pembuatan ulir.

2.1.2 Alat dan Bahan


a. Alat
1. Mesin Bubut
Digunakan untuk membubut benda kerja.

Gambar 2.1 Mesin Bubut


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
Spesfikasi Mesin Bubut
Tipe
: GAP-BED LATHE KW 1500604 750x250 MM
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Produksi

: KRISBOW

2. Jangka Sorong
Digunakan untuk mengukur dimensi benda kerja.

Gambar 2.2 Jangka Sorong


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
3. Center Gauge / Dial Indicator
Digunakan untuk menyenterkan benda kerja.

Gambar 2.3 Center Gauge


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
4. Stopwatch
Digunakan untuk mengetahui waktu dalam proses pemakanan.

Gambar 2.4 Stopwatch


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

5. Kunci Chuck
Digunakan untuk mengencangkan chuck/pencekan, bentuk matanya
biasanya bujut sangkar.

Gambar 2.5 Kunci Chuck


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
6. Kunci Pahat
Digunakan untuk mengencangkan pahat agar selama proses pembubutan,
kedudukan pahat tidak berubah.

Gambar 2.6 Kunci Pahat


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
7. Tachometer
Digunakan untuk mengukur putaran dari spindle.

Gambar 2.7 Tachometer


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
8. Pahat

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Sebagai alat untuk pemakan benda kerja.

Gambar 2.8 Pahat


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
9. Kunci Pas 19
Digunakan untuk mengencangkan tool post.

Gambar 2.9 Kunci Inggris


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
10. Tang Ampere
Untuk mengukur arus pada saat pembubutan.

Gambar 2.10 Tang Ampere


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

b. Bahan
1. Baja ST-37

Gambar 2.11 Baja ST-37


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
2.1.3

Desain Benda Kerja


(Terlampir)

2.1.4 Penentuan Parameter Permesinan


a. Putaran Spindle (n)
1. Pembubutan = 330 rpm
2. Penguliran = 65 rpm
b. Feed motion
= 0,231 mm/rev
c. Pitch
= 1,75 mm/gang
d. Tirus
= 330 rpm
2.1.5 Proses Pembuatan Benda Kerja
a. Awal Benda Kerja

Gambar 2.12 Benda Awal

b. Proses 1

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Gambar 2.13 Pemakanan Pertama


Tabel 2.1 Proses Pemakanan Pertama
Pemakanan ke-

Panjang pembubutan (L)

Depth of Cut (t')

35 mm

0,5 mm

35 mm

0,5 mm

c. Proses 2

Gambar 2.14 Pemakanan Kedua


Tabel 2.2 Proses Pemakanan Kedua
Pemakanan ke-

Panjang pembubutan (L)

Depth of Cut (t')

0,5 mm

50
50

50

0,5 mm

50

0,5 mm

50

0,5 mm

0,5 mm

d. Proses 3

Gambar 2.15 Pemakanan Ketiga


Tabel 2.3 Proses Pemakanan Ketiga
Pemakanan ke-

Panjang pembubutan (L)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

Depth of Cut (t')


PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

40 mm

0,5 mm

40 mm

0,5 mm

40 mm

0,5 mm

40 mm

0,5 mm

40 mm

0,5 mm

e. Proses 4

Gambar 2.16 Proses Penirusan


Tabel 2.4 Proses Pemakanan Keempat
Pemakanan ke-

Panjang penirusan (L)

Depth of Cut (t')

5 mm

0,5 mm

f. Proses 5

Gambar 2.17 Proses Penguliran

Tabel 2.5 Proses Pemakanan Kelima


Pemakanan ke1
2
3

Panjang penguliran (L)


30 mm
30 mm
30 mm

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

Depth of Cut (t')


0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

2.1.6

30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm
30 mm

0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm
0.12 mm

Flowchart

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

10

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

11

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Gambar 2.18 Flowchart pembubutan dan penguliran


Sumber: Dokumen pribadi
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

12

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

2.1.7 Data HasilPraktikum


JENIS MESIN
: Bubut
TIPE
: KRISBOW HSML 90-4
DAYA (P)
: 1,5 KW
BAHAN YANG DIGUNAKAN
Nama Bahan
: ST-37
Koefisien Bahan (K)
: 157 kg/mm2
Konstanta Eksponen (m) : 0,75
PEMBUBUTAN
No.

1
2
3
4
5

(mm)
40
40
40
40
40

(mm)
22
21
20
19
18

Tabel 2.7 Data pembubutan


s
Nt
na

(mm) (mm/rev) (rpm)


21
0, 231
330
20
0, 231
330
19
0, 231
330
18
0, 231
330
17
0, 231
330

(rpm)
350
349
349
350
350

(mm) (menit)
0,5
0,523
0,5
0,525
0,5
0,521
0,5
0,516
0,5
0,512

2.1.8 Pengolahan Data


Rumus Perhitungan
a. Kecepatan Pemotongan (v)
1. Pembubutan
v=

.D.n m
(
)
1000 menit

Dimana:
D
= diameter awal benda kerja (mm)
n
= putaran spindle (rpm)
2. Penguliran

[ ( . D ) + P ] . n ( m/menit )
v=
2

1000

Dimana:
P
= jarak pitch (mm)

b. Depth of Cut (t)


t' =

Dd
(mm)
2

Dimana:
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

13

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

D
d

= diameter awal benda kerja


= diameter benda kerja setelah pemakanan (mm)

c. Gaya Pemotongan Vertikal (Pz)


'

Pz=K . t . s
Dimana:
K
s
t
m

= koefisien bahan (Kg/mm2)


= feed motion (mm/rev)
= depth of cut (mm)
= konstanta eksponen

d. Daya Pemotongan (Nc)


Nc=

Pz . v
(kW )
60.102

e. Machining Time (Tm)


Tm=

L. i
(menit)
s.n

Dimana:
L
= panjang pembubutan (mm)
i
= jumlah pemotongan = t/t
f. Momen Torsi (Mt)
Mt=

Pz . D
(Kg . mm)
2

g. Tenaga Motor (Nm)


Nm=

Nc
( kW )
1 . 2

= efisiensi mesin (75%)

= efisiensi motor gerak (90%)

Contoh Perhitungan Teoritis


a. Kecepatan Pemotongan (v) Teoritis
1. Pembubutan teoritis
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

14

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

v=

.D.n
m/menit
1000

v=

3,14.22 .330
1000

v =22,7964 m/menit
2. Penguliran
v=

[ ( . D ) + P ] . n ( m/menit )

v=

[ ( 3,14.22 ) +1,75 ] .65

1000

1000

v =0,55711 m/menit

b. Depth of Cut (t)


t' =

Dd
(mm)
2

t' =

2221
2

t ' =0,5 mm

c. Gaya Pemotongan Vertikal (Pz) Teoritis


'

Pz=K . t . s

Pz=157.0,5. 0,231

0,75

Pz=26,15644

d. Daya Pemotongan (Nc) Teoritis


Nc=

Pz . v
(kW )
60.102

Nc=

26,15644.22,7964
60.102

Nc=0,097 kW

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

15

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

e. Machining Time (Tm) Teoritis


Tm=

L. i
(menit)
s.n

Tm=

40.1,046
0,231.330

Tm=0,5488 menit

f. Momen Torsi (Mt) Teoritis


Mt=

Pz . D
(Kg . mm)
2

Mt=

26,15644.22
2

Mt=287,72084 Kg . mm

g. Tenaga Motor (Nm) Teoritis


Nm=

Nc
( kW )
1 . 2

Nm=

0,097
75 .90

Nm=0,1437 kW
Contoh Perhitungan Aktual
a. Kecepatan Pemotongan (v) Aktual
1. Pembubutan
v=

.D.n
m/menit
1000

v=

3,14.22 .350
1000

v =24,178 m/menit

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

16

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

2. Penguliran

[ ( . D ) + P ] . n ( m/menit )
v=
2

1000

[ ( 3,14.22 ) +1,75 ] .65


v=
2

1000

v =0,55711

m
menit

b. Depth of Cut (t)


'

t=
'

t=

Dd
(mm)
2
2221
2

t ' =0,5 mm

c. Gaya Pemotongan Vertikal (Pz) Aktual


Pz=K . t ' . s m
Pz=157.0,5. 0,5180,75
Pz=47,931

d. Daya Pemotongan (Nc) Aktual


Nc=

Pz . v
(kW )
60.102

Nc=

26,15644.24,178
60.102

Nc=0,087 kW

e. Feed Motion (s) Aktual


s=

L .i
(mm/rev)
Tm . n

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

17

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

s=

40.1,046
0,231.350

s=0,5175 mm /rev

f. Momen Torsi (Mt) Teoritis


Mt=

Pz . D
(Kg . mm)
2

Mt=

26,15644.22
2

Mt=287,72084 Kg . mm

g. Daya Motor (Nm) Teoritis

Nm = 380.30.5 . 2,2 . 0,8


Nm = 526,543 . 2,2
Nm = 1158,3946 kW

2.1.9 Grafik dan Pembahasan


a. Grafik
Tabel 2.8 Hubungan Antara Putaran (n) dengan Daya Pemotongan (Nc)
Kelomp
ok
St
Pzt
Tm
na
sa
Pza
22,0537 0,92506
0,15531 19,4214
3
0,184
8
9
348
6
7
26,1564 0,73685
0,19409 22,9553
6
0,231
4
2
349,6
7
3
20,4150 1,02537
0,13948
9
0,166
6
8
349,6
1
17,9166
23,9158 0,83030
0,17304 21,0612
12
0,205
1
6
348
2
4
17,1909 1,28949
0,11078 15,0741
15
0,132
6
1
350
6
4
Tabel 2.9 Hubungan Antara Feed Motion (s) dengan Gaya Pemotongan (Pz)
Kelomp
ok
nt
na
vt
va
Nct
Nca
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

18

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

200

212

330

349,6

235

239,6

16

280

299,4

20

300

315

21

360

380

13,8285
7
22,8171
4
16,2485
7
19,36

14,6582
9
24,1723
4
16,5666
3
20,7013
7
20,7428 21,78
6
24,8914 26,2742
3
9

0,05908
8
0,09749
5
0,06942
8
0,08272
3
0,08863
2
0,10635
8

0,06263
3
0,10328
5
0,07078
7
0,08845
4
0,09306
3
0,11226
7

Grafik 2.1 Hubungan antara


Gaya Pemotongan dengan
Feed Motion (s)
1. Hubungan

antara

Gaya Pemotongan
vertikal

(Pz)

dengan

Feed

Motion (s)
Gaya pemotongan merupakan gaya yang diperlukan untuk melakukan
pemakanan terhadap benda kerja sedangkan feed motion (s) adalah jarak yang
ditempuh pahat saat benda kerja berputar 1 putaran.
Dari grafik dapat dilihat bahwa kurva grafik cenderung naik dimana gaya
pemotongan, maka gaya pemotongan besarnya naik secara konstan terhadap

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

19

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

feed motion maka gaya pemotongan akan semakin besar dengan menganggap t
dan Pz berbanding lurus dengan s.
Pernyataan diatas dibuktikan dengan :
'
m
Pz=K . t . s
di mana :
K= Koefisien bahan (kg/mm2)
t= Depth of cut (mm)
s = Feed motion (mm/rev)
m = Konstanta eksponen
Jadi sesuai dengan persamaan diatas dapat memperjelas hubungan gaya
pemotongan (Pz) dengan feed motion (s) bahwa semakin tinggi feed motion,
maka semakin besar pula gaya pemotongan.
Dari grafik tersebut didapat bahwa kecenderungan data teoritis memiliki
nilai yang lebih besar daripada data aktual antara hubungan gaya pemotongan
vertikal (Pz) dengan putaran feed motion (s).

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

20

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Grafik 2.2 Hubungan antara


Putaran Spindle (n) dengan
Daya Pemotongan (Nc)
2. Hubungan

antara

Daya Pemotongan
(Nc)

dengan

Putaran Spindle (n)


Daya
pemotongan
merupakan

daya

yang

dibutuhkan

untuk

melakukan

pemakanan
terhadap
kerja

benda
sedangkan

putaran

spindle

merupakan
perbandingan antara
satu putaran dengan
waktu

yang

dibutuhkan

untuk

melakukan

satu

putar anter sebut.


Grafik
hubungan

antara

daya

pemotongan

(Nc)

dengan

putaran spindle (n) mempunyai bentuk naik. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin besar putaran spindle akan mengakibatkan semakin naiknya kecepatan.
Naiknya nilai kecepatan pemotongan (v) maka mengakibatkan naiknya daya
pemotongan (Nc).

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

21

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Dari grafik tersebut didapat bahwa kecenderungan data aktual memiliki


nilai yang lebih besar daripada data teoritis antara hubungan daya pemotongan
(Nc) dengan putaran spindle (n).
2.1.10

Studi Kasus
1. Bentuk chamfer tidak sesuai desain

Gambar 2.19 Bentuk chamfer tidak sesuai desain


Sumber: Dokumen pribadi

Penyebab: Cara membuat chamfer yang tidak sesuai dengan prosedur


pembuatan chamfer. Posisi pahat masih menggunakan pahat ulir dan posisi
pahat tidak membentuk sudut sesuai dengan sudut chamfer.

Solusi: Sebaiknya pada saat pembuatan chamfer mengikuti prosedur


pembuatan chamfer, dengan cara memringkan pahat sesuai sudut chamfer.

2. Ulir kasar ,berundak, dan terbelah 2

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

22

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 1

Gambar 2.20 Gigi ulir kasar dan berundak


Sumber: Dokumen pribadi

Penyebab: Pada saat membuat ulir, terjadi perbedaan putaran cross slide
handwheel, sehingga jarak antar pitch berubah.

Solusi: Pada skala putaran cross slide handwheel diberi tanda. Dan tanda
tersebut dijadikan patokan jumlah putaran.

3. Tidak meratanya panjang pembubutan di setiap tingkat poros

Gambar 2.21 Tidak meratanya panjang pembubutan di setiap tingkat poros


Sumber: Dokumen pribadi

Penyebab: Metode penandaan menggunakan spidol membuat panjang

pembubutan tidak sama (presisi) di setiap pemakanannya.


Solusi: Penandaan kembali benda kerja pada setiap pemakan

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

23
2.2 Mesin Milling
Mesin milling merupakan jenis pemotong yang melakukan pemotongan logam
dengan cutting tool bergigi banyak (multiple tooth cutting tool) yang disebut milling
cutter/pisau frais, mesin milling memiliki fungsi melakukan pemotongan logam dan
biasanya digunakan pada pembuatan roda gigi, meratakan permukaan, membuat rata
bertingkat, dan alur pada poros.
2.2.1 Tujuan
Tujuan umum
a. Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta cara pengopersiannya.
b. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan tentang mesin-mesin perkakas.
Tujuan khusus
a. Mengetahui serta mampu mengoperasikan bagian-bagian dari mesin milling.
b. Melatih praktikan melakukan pekerjaan dalam pembuatan roda gigi, alur pada
poros dengan menggunakan mesin milling dan mengetahui macam-macam
pekerjaan yang dapat dilakukan.

2.2.2

Alat dan Bahan

a. Alat
1. Mesin Milling Horizontal
Digunakan untuk pembuatan benda kerja.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

24
Gambar 2.22 Mesin milling horizontal
Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
Spesifikasi Mesin Milling Horizontal
Tipe
: X5012
Produksi
: Jiangsu-China
Working table area : 125 x 500 mm
Spindle speeds range: 120-1830 rpm
Main motor power : 1.5 kW
2. Jangka Sorong
Digunakan untuk mengukur dimensi benda kerja.

Gambar 2.23 Jangka sorong


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
3. Milling Cutter (Modul = 2,25)
Digunakan untuk pemakanan benda kerja.

Gambar 2.24 Milling Cutter


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
4. Stopwatch
Digunakan untuk mengetahui waktu dalam proses pemakanan.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

25

Gambar 2.25 Stopwatch


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
5. Kunci Chuck
Digunakan untuk mengencangkan chuck/pencekam, bentuk matanya
biasanya bujur sangkar.

Gambar 2.26 Kunci chuck


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
6. Kunci L
Digunakan untuk mengencangkan tailstock agar selama proses pengerjaan
kedudukan tailstock tidak berubah.

Gambar 2.27 Kunci L


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
7. Kunci Inggris

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

26
Digunakan untuk mengencangkan benda kerja pada poros berulir dan
mengatur kedudukan sector arm.

Gambar 2.28 Kunci inggris


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
8. Obeng (-)
Digunakan untuk mengatur dan mengencangkan index crank.

Gambar 2.29 Obeng


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
9. Poros Berulir
Digunakan sebagai tempat kedudukan benda kerja sebelum dipasang pada
chuck.

Gambar 2.30 Poros berulir


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
b. Bahan
1. Aluminium

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

27

Gambar 2.31 Aluminium


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
2.2.3 Desain Benda Kerja
(Terlampir)
2.2.4 Penentuan Parameter Dan Perhitungan Pembuatan Roda Gigi Lurus

Gambar 2.32 Bagian-bagian roda gigi


Sumber :R.S Khurmi (2005:1025)
A. Roda Gigi 1

M1= 2,25

Z1= 22

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

28

K1= 60

X1 = 2,72

N1= 680

Perhitungan Pembuatan Roda Gigi Lurus


1. Diameter Pitch (dp)
Z

dp
M

dp = Z.M
dp = 22 x 2,25 = 49,5 mm
2. Diameter Kepala (dk)
dp = dk 2M
49,5 = dk 2(2.25)
dk = 54 mm
3. Jumlah putaran untuk index crank (X)
X=

K
Z

X=

60
22

X=2

16
22 putaran

4. Tinggi gigi (H)


H = 2,25.M
H = 2,25 x 2,25
H = 5,06 mm
5. Tinggi kepala gigi (hk)
hk = k.M
hk = 60 x 2,25
hk = 135 mm
6. Tinggi kaki gigi (hf)
hf = k.M + ck
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

29
hf = 60(2,25) + 0,25(2,25)
hf = 135 + 0,5625 = 135,56 mm
ck = faktor kelonggaran puncak (ck = 0,25 M)
7. Tebal gigi t M
.M
t=
2
3,14 x 2,25
2

t=

t = 3,53 mm
B. Roda Gigi 2

M2= 2,75

Z2= 25

K2= 40

X2 = 1,6

n2= 640

Perhitungan Pembuatan Roda Gigi Lurus


1. Diameter Pitch (dp)
Z

dp
M

dp = Z.M
dp = 25 x 2,75 = 68,75 mm
2. Diameter Kepala (dk)
dp = dk 2M
68,75 = dk 2(2.75)
dk = 74,25 mm

3. Jumlah putaran untuk index crank (X)


X=

K
Z

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

30
40
25

X=

X=1

15
25

putaran

4. Tinggi gigi (H)


H = 2,25.M
H = 2,25 x 2,75
H = 6,18 mm
5. Tinggi kepala gigi (hk)
hk = k.M
hk = 40 x 2,75 = 110 mm
6. Tinggi kaki gigi (hf)
hf = k.M + ck
hf = 40(2,75) + 0,25(2,75)
hf = 110 + 0,6875 = 135,68 mm
ck = faktor kelonggaran puncak (ck = 0,25 M)
7. Tebal gigi t M
.M
t=
2
t=

3,14 x 2,75
2

t = 4,32 mm

2.2.5 Flowchart

Mulai
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

31

Benda kerja

N1=680 rpm
Z1 = 22
M1 = 2,25 mm
K1 = 60
Menyiapkan mesin dan alat-alat

Mengukur dimensi benda kerja

Memasang dan mengencangkan benda pada poros

Mengatur posisi poros pada chuck

Mengatur jumlah putaran index crank

Mengatur kecepatan putaran spindle


Masukkan inputan RPM (680 RPM)
Menghidupkan mesin

Menentukan titik nol& menyenterkan benda kerja

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

32

Mengatur kedalaman
pemotongan
(1/2 tinggi gigi)

Memutar index crank


Melakukan pemakanan
Apakah jumlah gigi& tinggi gigi
sesuai desain?
Tidak

Ya
Mematikan Mesin

Melepaskan dan membersihkan benda kerja

Mengembalikan
peralatan ketempat
semula

Roda gigi
Selesai
Gambar 2.33 Flowchart langkah kerja pembuatan roda gigi 1 pada mesin milling
Sumber: Dokumen pribadi
Mulai

Benda kerja
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

33

N2=640 rpm
Z2 = 25
M2= 2,75 mm
K2= 40
Menyiapkan mesin dan alat-alat

Mengukur dimensi benda kerja

Memasang dan mengencangkan benda pada poros

Mengatur posisi poros pada chuck

Mengatur jumlah putaran index crank

Mengatur kecepatan putaran spindle


Masukkan inputan RPM (640 RPM)
Menghidupkan mesin

Menentukan titik nol& menyenterkan benda kerja


LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

34

Mengatur kedalaman
pemotongan
(1/2 tinggi gigi)

Memutar index crank


Melakukan pemakanan
Apakah jumlah gigi& tinggi gigi
sesuai desain?
Tidak

Ya
Mematikan Mesin

Melepaskan dan membersihkan benda kerja

Mengembalikan
peralatan ketempat
semula

Roda gigi
Selesai
Gambar 2.34 Flowchart langkah kerja pembuatan roda gigi 2 pada mesin milling
Sumber: Dokumen pribadi
2.2.6 Data Hasil Praktikum
Putaran yang digunakan (n)

= 680 rpm

Feed Motion (s)

= 0,214 mm/rev

Diameter cutter (D)

= 62 mm

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

35
Depth of Cut (t)

= 1,7 mm

Modul (M)

= 2,25 mm

Dimensi roda gigi yang dibuat :


Teoritis
1.
2.
3.
4.
5.

Diameter kepala (Dk)


Diameter pitch (Dp)
Jumlah gigi (Z)
Tinggi gigi (H)
Tebal gigi (t)

= 54 mm
= 49,5 mm
= 22
= 5,06 mm
= 3,53 mm

Aktual
1. Diameter kepala (Dk)
2. Diameter pitch (Dp)
3. Jumlah gigi (Z)
4. Tinggi gigi (H)
5. Tebal gigi (t)
Bahan benda kerja
Konstanta bahan
Konstanta eksponen
Lebar benda kerja
Jumlah gigi worm wheel (K)

= 54,3 mm
= 48,4 mm
= 22
= 5 mm
= 2,3 mm
= Aluminium
= 32 kg/mm
= 0,5
=21,5 mm
= 60
16
2
Jumlah putaran untuk index plate (x) =
22

Waktu tiap kali pemakanan :


Tabel 2.10 Data Waktu Pemakanan Proses Milling
Pemakana
n ke1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

t= 3 (mm)
t ( detik )

t = 2,0625 (mm)
t ( detik )

10,5
17
16,8
16
18
17,1
19

11
8
8
9
9
7
5,5

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

36
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
Rata- rata

2.2.7

19,5
16
14
15,2
19
17,5
20
16
16,5
17
16
16
17,8
18
17,5
15,95(detik)

8
8
6,3
5,4
6,8
6,5
5,3
7,2
7,5
6
9,5
9,5
5,3
8
9,2
7,22 (detik)

Pengolahan Data
1. Feed motion(s)
s

L t' (D t' ) 6
Tm.n

(menit )

(2 - 15)

dimana :
L

= panjang pemotongan (mm)

= kedalaman pemotongan (mm)

= diameter milling cutter (mm)

= feed motion (mm/rev)

= putaran spindle (rpm)

Tm = Machining time(mnt)
2. Gaya pemotongan (Pz)
Pz K.t '.s m

(kg)
(2 - 3)

dimana:
K

= Koefisien bahan (Kg/mm2)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

37
t

= Depth of cut (mm)

= konstanta eksponen

3. Momen torsi (Mt)


Mt

Pz.D
2

( Kg.mm )

(2 - 6)

dimana:
D

= diameter milling cutter (mm)

4. Daya pemotongan (Nc)


Nc

Mt. n
974000

( Kw)

(2 - 4)

5. Kecepatan pemotongan ( Tm )
v

.D.n
1000

(2 - 5)

dimana :
n = putaran spindle (rpm)
A. Perhitungan Aktual
1. Feed motion(s)
L t'(D t') 6
s
Tm.n
s

19,2 2(6 2) 6
0,23.680

s = 0,57 mm/rev
2. Gaya pemotongan (Pz)
Pz = K . t . sm
Pz = 32 . 2 . 0,570,5= 48,3 kg
Pz = 48,3 kg
3. Momen torsi (Mt)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

38

Mt =

Pz . D
2

Mt =

48,3 .60
2

Mt = 1449,99kg.mm
4. Daya pemotongan (Nc)
Mt . n
97400

Nc =

1449,99 . 680
974000

Nc=

Nc = 1,01 Kw
5. Kecepatan pemotongan ( v )
v=

. D .n
1000

v=

3,14 .6,25 .720


1000

3,14.60 .680
1000

v = 128,177 m/menit

2.2.8 Studi Kasus


1. Diameter kepala dan pitch berbeda

(A)
(B)
Gambar 2.35 Ukuran diameter kepala (A) dan diameter pitch (B) yang berbeda
Sumber: Dokumentasi pribadi
a. Analisa
PRAKTIKUM

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

39
Ukuran diameter kepala dan pitch gigi berbeda dari perencanaan dengan
perhitungan. Pada aktual lebih besar daripada perencanaan.
b. Penyebab
Kesalahan memasukkan nilai modul pada perhitungan. Perhitungan
perencanaan diatas menjadi lebih besar, modul yang harusnya 2,25 menjadi
2,5. Sehingga diameter kepala dan pitch gigi menjadi tidak sesuai.
c. Solusi
Untuk menyamakan ketebalan gigi dapat dilakukan praktikum kembali

dengan perhitungan yang lebih akurat.


Perlu dikoreksi ulang sebelum pelaksanaan praktikum.

2. Tebal gigi berbeda

Gambar 2.36 Tebal gigi benda kerja berbeda


Sumber: Dokumentasi Pribadi
a. Analisa
Ukuran tebal tiap gigi berbeda-beda.Beberapa gigi ketebalannya besar,
ada beberapa gigi yang ketebalannya kecil.
b. Penyebab
Kesalahan memasukkan nilai modul pada perhitungan. Perhitungan
perencanaan diatas menjadi lebih besar, modul yang harusnya 2,25 menjadi
2,5. Sehingga tebal gigi menjadi tidak sesuai.
c. Solusi
Untuk menyamakan ketebalan gigi dapat dilakukan praktikum kembali
dengan perhitungan yang lebih akurat.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

40

Perlu dikoreksi ulang sebelum pelaksanaan praktikum.

3. Terdapat gigi yang ukurannya kecil

Gambar 2.37 Ukuran gigi benda kerja berbeda


Sumber: Dokumentasi Pribadi
a. Analisa
Ukuran salah satu gigi paling kecil.Gigi tersebut terpotong pisau frais
terlalu banyak.
b. Penyebab
Kesalahan memasukkan nilai modul pada perhitungan. Perhitungan
perencanaan diatas menjadi lebih besar, modul yang harusnya 2,25 menjadi
2,5. Sehingga salah satu gigi terpotong pisau frais terlalu banyak, karena
diameter benda kerja yang tidak sesuai.
c. Solusi
Perlu dikoreksi ulang metode perhitungan perencanaan sebelum
pelaksanaan praktikum.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

41

2.3 Mesin Bor


Mesin bor adalah mesin yang digunakan untuk membuat lubang (drilling),
menambah diameter dalam (reaming), dan counterboring pada benda-benda ferrous
maupun nonferrous. Benda kerja yang diletakkan pada table dan jika diperlukan dapat
dijepit pada ragum (vise) yang biasanya ada sebagai perlengkapan tambahan pada mesin
bor. Selanjutnya, mata bor yang mendapat daya dan putaran dari motor listrik
ditekankan pada benda kerja.
2.3.1 Tujuan
Tujuan umum:
a. Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta cara pengoperasiannya.
b. Peningkatan pengetahuan serta ketrampilan tentang mesin-mesin perkakas.
Tujuan khusus:
a. Dapat mengetahui, menguasai dan menjalankan mesin bor.
b. Mengetahui proses dan cara pengeboran benda kerja dengan menggunakan mesin
bor.

2.3.2 Alat dan Bahan


a. Alat
1. Mesin bor
Untuk membuat drilling, reaming, dan counterboring pada benda kerja.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

42

Gambar 2.38 Mesin bor


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
Spesifikasi Mesin Bor
Tipe
: SB M3
Produksi
: Flott GmbH-German
Spindle stroke
: 125 mm
Drilling capacity in steel
: 25 mm
Drilling capacity in cast iron
: 30 mm
Motor
: 2 speed 0,75/1,1 kW
2. Mata bor
Digunakan sebagai alat untuk melubangi benda kerja.

Gambar 2.39 Mata bor


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
3. Kunci drill chuck
Digunakan untuk mengencangkan drill chuck.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

43
Gambar 2.40 Kunci drill chuck
Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)

4. Stopwatch
Digunakan untuk mengetahui waktu dalam proses pengeboran.

Gambar 2.41 Stopwatch


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
5. Waterpass
Digunakan untuk mendapatkan permukaan yang rata dan tegak lurus
dengan mata bor.

Gambar 2.42 Waterpass


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
6. Penitik
Digunakan untuk menandai benda kerja yang akan dibor.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

44

Gambar 2.43 Penitik


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
7. Palu
Digunakan untuk memberikan gaya pada penitik.

Gambar 2.44 Palu


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
8. JIG
Digunakan sebagai pemandu untuk mengarahkan bagi mata pahat dalam
proses pemotongan..

Gambar 2.45 Jig


Sumber : Lab
oratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

45
b. Bahan
1. Aluminium

Gambar 2.46 Aluminium


Sumber: Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2014)
2.2.3

Desain Benda Kerja


(Terlampir)

2.2.5

Penentuan Parameter Permesinan

2.2.6

Type
Produksi
Spindle stroke
Drilling capacity in steel
Drilling capacity in cast iron
Motor

= SB M3
= Flott GmbH -German
= 125 mm
= 25 mm
= 30 mm
= 2 speed 0,75/1,1 kW

Flowchart

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

46

Mulai
Benda kerja

Menyiapkan mesin, alat-alat dan desain bendakerjadengan 5 lubangdan diame

Pasang mata bor ukuran 6 mm

Hidupkan mesin bor


Tempelkan benda dengan JIG pada ragum

Lubangi salah satu sisi benda kerja


yang terletak tepat pada salah satu
lubang JIG
Pasangkan baut pada salah satu lubang JIG dan
bagian benda kerja yang telah dilubangi tersebut
Hidupkan mesin bor
Tentukan letak awal
titik pengeboran
Proses Pengeboran

A
Apakah jumlahlubangdandiameter sesuai?
Tidak

Ya
Matikan mesin
Selesai
LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

47

Gambar 2.47 Flowchart pembuatan lubang pada roda gigi menggunakan mesin bor
Sumber: Dokumen pribadi

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

48
2.3.6 Data Hasil Praktikum
Tabel 2.11 Data Waktu Proses Pengeboran
Pengeboran ke1
2
3
4
5

Waktu Pengeboran (menit)


53
44,2
32
28
17"

2.3.7 Pengolahan data


1.

Kecepatan pengeboran

.D.n
1000

(2 - 1)

3.14.6.680
1000

v = 12,81 m/menit
2.

Feed Motion ( s )

L .i
Tm . n
(2 - 5)

19,2.1
0,873.680

s = 0,0323 mm/rev
3.

Momen torsi (Mt)


Mt C . D 1,9 . s 0,8
(2

Mt 32.61,9. 0,0323 0,8


Mt = 61.8 kg.mm
dimana :
C = Konstanta bahan Alumunium
D = diameter mata bor (mm)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

17)

49

4.

Daya pengeboran (Nc)


Nc

Nc

Mt. n
974000

(2 - 18)

61,8. 680
974000

Nc = 0,043 kW
2.3.8 Studi Kasus
1. Lubang tidak tepat sesuai desain

Gambar 2.48 Lubang tidak sesuai desain


Sumber: Dokumentasi Pribadi
a. Analisa
Lubang hasil pemboran tidak sesuai desain.Lubang yang dihasilkan
bergeser dari desain.
b. Penyebab
Bekas tanda penitik tidak tepat dengan desain.Penandaan lubang pada
roda gigi tidak tepat disebabkan oleh metode pemukulan penitik yang salah,
seharusnya tegak lurus dengan roda gigi, tetapi metode yang digunakan adalah
pemukulan dengan membentuk sudut.Sehingga tanda yang dihasilkan tidak
tepat atau bergeser dari perencanaan.Oleh karena itu mata bor yang digunakan
berada pada titik yang salah, sehingga lubang yang dihasilkan bergeser.
c. Solusi

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

50
Menggunakan metode pemukulan yang benar, yaitu penitik dan palu
tegak lurus dengan roda gigi.Dan perlu dilakukan pengecekan ulang sebelum
pengeboran
2.4

Kerja Bangku

2.4.1 Tujuan
Tujuan umum
a. Pengenalan secara langsung terhadap mesin las serta cara pengoperasiannya.
b. Peningkatan pengetahuan serta ketrampilan tentang proses pengelasan.
Tujuan khusus
a. Dapat mengetahui, memahami dan melakukan proses pengelasan.
b. Melatih ketrampilan dalam mengoperasikan mesin las.
2.4.2 Alat dan Bahan
A. Alat
1. Mesin Las SMAW
Digunakan untuk pembuatan benda kerja.

Gambar 2.49 Mesin Las SMAW


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
2. Tang
Digunakan untuk menjepit benda kerja pada saat pengelasan apabila
diperlukan.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

51
Gambar 2.50 Tang
Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
3.

Kacamata las / Topeng Las


Digunakan untuk melindungi mata pada saat proses pengelasan
berjalan.

Gambar 2.51 Kacamata las / Topeng Las


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
4. Stop watch
Digunakan untuk mengetahui waktu dalam proses pengelasan.

Gambar 2.52 Stopwatch


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
5. Penggaris Siku
Digunakan untuk menentukan kedudukan benda kerja sebelum dilas.

Gambar 2.53 Penggaris Siku


LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

52
Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

6. Kikir
Digunakan untuk menghaluskan permukaan setelah proses pemotongan.

Gambar 2.54 Kikir


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
7. Roll Meter
Digunakan untuk mengukur benda kerja sebelum dan setelah dipotong.

Gambar 2.55 Roll Meter


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
8. Gergaji besi
Digunakan untuk memotong material.

Gambar 2.56 Gergaji besi


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

53

9. Sikat Kawat
Digunakan untuk membersihkan terak pada benda kerja.

Gambar 2.57 Sikat Kawat


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
10. Pemukul Terak
Digunakan untuk menghilangkan terak yang menempel pada hasil
lasan.

Gambar 2.58 Pemukul Terak


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
11. Cat Besi
Digunakan untuk memberikan warna dan mencegah korosi benda kerja.

Gambar 2.59 Cat Besi


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

54

12. Kuas
Digunakan untuk meratakan cat di permukaan benda kerja.

Gambar 2.60 Kuas


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
13. Gunting Plat
Digunakan untuk memotong plat.

Gambar 2.61 Gunting Plat


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
B. Bahan
1. Besi esser

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

55

Gambar 2.62 Besi esser


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
2. Besi siku 3x3

Gambar 2.63 Besi siku 3x3


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
3. Besi hollow 4x4

Gambar 2.64 Besi hollow 4x4


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
4. Plat

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

56

Gambar 2.65 plat


Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)
2.2.2

Desain Benda Kerja


(Terlampir)

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

57
2.4.4 Flowchart
2.4.4.1 Pengukuran dan pemotongan

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

58

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

59

Gambar 2.66 Flowchart Pengukuran dan Pemotongan


Sumber : Dokumen Pribadi

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

60
3.4.4.2 Assembly

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

61

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

62

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

63

Gambar 2.67 Flowchart Assembly


Sumber : Dokumen Pribadi

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

64
2.4.5

Data Hasil Praktikum


Jenis bahan
=
Tegangan
=
Arus
=
Tebal Las
=
Panjang Pengelasan =
Tahanan
=
Waktu pengelasan
=
Faktor daya
=
Tegangan geser
=

Baja Esser
25
Volt
64,4 Ampere
6,3
mm
50
mm
0.38 Ohm
17
Detik
0,8
37,5 kg / mm2

2.4.6 Pengolahan Data


1. Heat Input ( P)
P V .I . cos

(W )

(2 - 19)
Dimana :
V

= tegangan (Volt)

= besar arus ( Ampere)

Cos = faktor daya


2. Kekuatan las ( Po )
Po 2.h.L.

(Kg)

(2 - 20)
Dimana :
h

= tebal las (mm)

= panjang pengelasan (mm)

= tegangan geser ijin (Kg/mm2)

3. Panas yang timbul ( Q )


Q 0,24.I 2 RT

(Kalori )
(2 - 21)

dimana :
R

= tahanan (Ohm)

= waktu pengelasan (detik)

B. Perhitungan Pengelasan Material Baja Esser


LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

65
1. Heat Input ( P)
P=V . I cos
P=25 . 0,64 cos 0,8

P = 1288 W
2. Kekuatan las ( Po )
Po=2 . h . L .
Po=2 . 6,3.50 .37,5

Po = 23625 kg
3. Panas yang timbul ( Q )
Q=0,24 . I 2 . R .T
Q=0,24 .(64,4)2 .0,38 .17
Q = 6430,06 Kalori
2.4.7

Studi kasus

1. Sisa terak pada hasil las

Analisa
Hasil pengelasan memiliki alur yang kasar dan terdapat percikan-percikan
las.

Gambar 2.68 Kecacatan pada las


LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

66
Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

Penyebab
Dapat disebabkan karena arus yang terlalu besar, salah jenis arus atau salah
polaritas.
.

Solusi
Mengecilkan arus dari mesin las dan melakukan pengecekan jenis arus dan
jenis polaritas apakah sudah sesuai dengan kebutuhan pengelasan.

2. Proses pengelasan yang belum selesai

Analisa
Terdapat rongga pada daerah pengelasan yang nemimbulkan lobang dan
pengelasan tidak sempurna.

.
Gambar 2.69 Kecacatan pada las
Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

Penyebab
Terjadi karena saat proses penambalan tidak selesai dan terdapat flux
dibawah permukaan las lapis kedua

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

67

Solusi
Selalu pastikan tambalan/lasan selesai dengan cara membiarkan daerah
lasan dingin terlebih dahulu hingga tidak tertutup warna merah saat benda kerja
masih panas, sehingga bisa lebih teliti dalam mengecek daerah hasil lasan. Dan
selalu pastikan menghilangkan bekas flux sebelum melakukan pengelasan lagi.

3. Hasil pengelasan yang tidak rata

Analisa

.
Gambar 2.70 Kecacatan pada las
Sumber : Laboratorium Proses Produksi I Teknik Mesin FT-UB (2015)

Penyebab
Saat proses pengelasan tang elektroda terlalu fokus pada satu titik dengan
waktu pengelasan yang cepat tetapi berulang sehingga besi pengisi dan fluks
menumpuk pada benda kerja

Solusi
Saat melakukan pengelasan seharusnya dilakukan secara merata agar
tidak terjadinya kecacatan seperti diatas. Sebaiknya saat pengelasan juga
diperhatikan lebih teliti pada bagian yang ingin disambung agar tidak terjadi
penumpukan besi pengisi.

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

PRAKTIKUM

68

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Pada praktikum proses pembubutan dihasilkan sebuah poros berulir yang dikerjakan
dengan menggunakan mesin bubut. Mesin yang digunakan disesuaikan dengan
dimensi benda kerja sehingga perhitungan actual dan teoritis tidak jauh berbeda
2. Pada praktikum proses pembuatan roda gigi dikerjakan dengan mesin milling.
Kedudukan benda kerja mempengaruhi hasil akhir pengerjaan seperti ketebalan gigi
yang satu dengan yang lainnya
3. Pada proses pengeboran roda gigi yang dikerjakan dengan mesin bor. Posisi benda
kerja sangat mempengaruhi hasil akhir pengerjaan yaitu berupa lubang yang
harusnya sesuai dengan desain benda kerja oleh karena itu harus dilakukan
pengukuran yang presisi agar lubang pada roda gigi sesai dengan benda kerja
4. Pada praktikum proses pengelasan dihasilkan sebuah grill yang dikerjakan dengan
menggunakan mesin las. Untuk menghindari hasil pengelasan yang berlubang maka
dibutuhkan ketepatan waktu dalam melumerkan logam sehingga logam tidak akan
berlubang. Selain itu diperlukan penyesuain terhadap arus karena apabila arus yang
digunakan terlalu besar maka benda akan berlubang
3.2 Saran
1. Untuk Laboratorium Proses Produksi agar ditambahkan generator pembangkit Listrik
agar jika mati listrik kegiatan praktikum Tetap dapat berjalan
2. Untuk kegiatan praktikum proses produksi agar timeline waktu praktikum tidak
bersinggungan dengan waktu kuliah
3. Untuk laporan praktikum agar softcopy saja bisa dijadikan bahan untuk acc untuk
penghematan kertas dan agar mengurangi sampah kertas
4. Untuk asisten Laboratorium Proses Produksi agar lebih menjelaskan ke praktikan
agar praktikan lebih mengerti saat menggunakan alat
5. Untuk waktu asistensi agar tidak terlalu malam dan tidak bersinggungan dengan
waktu kuliah dan lebih fleksibel dalam waktu

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

KESIMPULAN DAN
SARAN

69

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI 1

KESIMPULAN DAN
SARAN