Anda di halaman 1dari 21

KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


RANCANGAN PERATURAN DAERAH
NOMOR ... TAHUN 2015
TENTANG
KEUANGAN DESA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI KUTAI KARTANEGARA,
Menimbang

a. bahwa kedudukan keuangan desa semakin kuat,


maka diperlukan pengalolaan keuangan didasarkan
pada asas-asas transparan, akuntabel, partisipatif
serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
b. bahwa perencanaan keuangan desa tidak dapat
dipisahkan dari perencanaan pembangunan desa
yang tertuang dalam RPJM Desa dan RKP Desa
sebagai acuan bagi pemerintah desa dalam
menyusun rencana keuangan desa.
c. bahwa
berdaarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud huruf a dan huruf b perlu diatur melalui
Peraturan Daerah tentang Keuangan Desa.

Mengingat

1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang
Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun
1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di
Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1953 Nomor 9, Sebagai Undang Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959
Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 1820);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
1

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);


4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
6. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5495);
7. Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 110,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4578);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman
Pembinaan
dan
Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4585);
10.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007
tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
Pemerintah Daerah Kabupaten (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82);
11.
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang
Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5539);
12.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014
tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 168,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5558);
13.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 tentang Pedoman
Teknis Peraturan Di Desa;
2

14.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor 113 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Keuangan Desa;
15.
Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara
Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pokok-Pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah
Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2010 Nomor
16);
16.
Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara
Nomor 16 Tahun 2007 tentang Keuangan Desa
(Lembaran Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara
Tahun 2007 Nomor 16);
17.
Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan
Pemerintahan Kabupaten Kutai Kartamegara;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan

PERATURAN DAERAH TENTANG KEUANGAN DESA

BAB I
KETENTUAN UMUM
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah sebagai unsur penyelenggara
Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom.
2. Kepala Daerah yang selanjutnya disebut Bupati adalah Bupati Kutai
Kartanegara.
3. Kabupaten adalah Kabupaten Kutai Kartanegara.
4. Camat adalah Camat di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara;
5. Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain,
selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan atau hak tradisional yang diakui
dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
6. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
7. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dibantu Perangkat Desa sebagai
unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
8. Badan Permusyawaratan Desa adalah lembaga yang melaksanakan fungsi
pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk desa
3

berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.


9. Lembaga Kemasyarakatan desa atau disebut dengan nama lain adalah
lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan
merupakan mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat,
10. Lembaga adat Desa adalah merupakan lembaga yang menyelenggarakan
fungsi adat istiadat dan menjadi bagian dari susunan asli Desa yang
tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat Desa.
11. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan
oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan
Permusyawaratan Desa.
12. Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat
dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang
berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa.
13. Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan,
pelaksanaan,
penatausahaan,
pelaporan,
dan
pertanggungjawaban keuangan desa.
14. Aset Desa adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli
Desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Desa atau perolehan hak lainnya yang syah.
15. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, selanjutnya disingkat
RPJM Desa, adalah Rencana Kegiatan Pembangunan Desa untuk jangka
waktu 6 (enam) tahun
16. Rencana Kerja Pemerintah Desa, selanjutnya disebut RKP Desa, adalah
penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.
17. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APB Desa,
adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa.
18. Rencana Kerja dan Anggaran Desa yang selanjutnya disebut RKA Desa
adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana
pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan serta rencana
pembiayaan sebagai dasar penyusunan APB Desa
19. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Desa yang selanjutnya disingkat DPA
Desa adalah dokumen yang memuat pendapatan, belanja dan pembiayaan
yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran desa.
20. Kelompok transfer adalah dana yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi
dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten.
21. Dana Desa yang selanjutnya disebut DD adalah dana yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi
Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten
dan
digunakan
untuk
membiayai
penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan,
dan pemberdayaan masyarakat.
22. Bagi hasil pajak kabupaten yang selanjutnya disebut BPH adalah adalah
dana yang dialokasikan kepada Desa yang bersumber dari hasil penerimaan
4

pajak Daerah.
23. Bagi hasil restribusi daerah yang selanjutnya diebut BPR adalah adalah
dana yang dialokasikan kepada Desa yang bersumber dari hasil penerimaan
restribusi Daerah.
24. Alokasi Dana Desa, selanjutnya disingkat ADD, adalah dana
perimbangan yang diterima kabupaten dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah kabupaten setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.
25. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa yang selanjutnya
disebut PKPK Desa adalah Kepala Desa yang karena jabatannya mempunyai
kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan desa.
26. Rekening Kas Desa adalah rekening tempat menyimpan uang
Pemerintahan Desa yang menampung seluruh penerimaan Desa dan
digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran Desa pada Bank yang
ditetapkan.
27. Penerimaan Desa adalah Uang yang berasal dari seluruh pendapatan
desa yang masuk ke APBDesa melalui rekening kas desa.
28. Pengeluaran Desa adalah Uang yang dikeluarkan dari APBDesa melalui
rekening kas desa.
29. Surplus Anggaran Desa adalah selisih lebih antara pendapatan desa
dengan belanja desa.
30. Defisit Anggaran Desa adalah selisih kurang antara pedapatan desa
dengan belanja desa.
31. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SILPA
adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama
satu periode anggaran.
32. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan
oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan
Permusyawaratan Desa.
BAB II
AZAS
Pasal 2
(1) Pengelolaan keuangan desa berdasarkan azas :
a. transparansi;
b. akuntabel;
c. tertib dan disiplin; dan
d. partisipatif.
(2) Pengelolaan keuangan desa dilaksanakan dalam masa 1 (satu) tahun
anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.

BAB III
RUANG LINGKUP
Pasal 3
5

Ruang lingkup Peraturan Daerah tentang Keuangan Desa mengatur tentang :


a.
b.
c.
d.
e.

Perencanaan Keuangan Desa;


Keuangan Desa;
Penghasilan;
Pertanggunjawaban dan pelaporan; dan
Pembinaan dan pengawasan.

BAB IV
PERENCANAAN KEUANGAN DESA
Pasal 4
(1) Perencanaan keuangan desa merupakan proses penyusunan rencana
keuangan desa yang berpedoman pada RPJM Desa dan RKP Desa secara
integratif dalam bentuk APB Desa.
(2) Kepala Desa terpilih wajib menyusun RPJM Desa.
(3) RPJM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat :
a. visi dan misi Kepala Desa;
b. rencana penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
c. pelaksanaan pembangunan;
d. pembinaan kemasyarakatan;
e. pemberdayaan masyarakat; dan
f. arah kebijakan pembangunan Desa.
(4) RPJM Desa disusun dengan mempertimbangkan kondisi objektif desa dan
prioritas pembangunan Daerah.
(5) RPJM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan paling lambat
3 (tiga) bulan setelah Kepala Desa Terpilih dilantik.
(6) RPJM Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (4), berlaku untuk jangka
waktu 6 (enam) tahun dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.
Pasal 5
(1) RKP Desa merupakan penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1
(satu) tahun dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.
(2) RKP Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat rencana
penyelenggaraan
pemerintahan
desa,
pelaksanaan
pembangunan,
pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat desa.
(3) RKP Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling sedikit berisi uraian
:
a. evaluasi pelaksanaan RKP Desa tahun sebelumnya;
b. prioritas program, kegiatan dan anggaran desa yang dikelola oleh desa;
c. prioritas program, kegiatan dan anggaran desa yang dikelola melalui
kerja sama antar desa dan pihak ketiga;
d. rencana program, kegiatan dan anggaran desa yang dikelola oleh desa
sebagai kewenangan penugasan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi
dan Pemerintah kabupaten; dan
e. pelaksana kegiatan desa yang terdiri atas unsur Perangkat Desa
dan/atau unsur masyarakat desa.
6

(4) RKP Desa tahun anggaran berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), mulai disusun oleh Pemerintah Desa pada bulan Juli tahun berjalan
dan ditetapkan paling lambat akhir bulan September tahun berjalan.
(5) RKP Desa menjadi dasar penyusunan dan penetapan APB Desa.
Pasal 6
(1) Dalam menyusun RPJM Desa dan RKP Desa, Pemerintah Desa wajib
menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan desa secara
partisipatif.
(2) Musyawarah perencanaan pembangunan desa diikuti oleh BPD, Lembaga
Kemasyarakatan Desa dan unsur masyarakat desa.
(3) Rancangan RPJM Desa dan Rancangan RKP Desa dibahas dalam
musyawarah perencanaan pembangunan desa.
(4) Musyawarah perencanaan pembangunan desa menetapkan prioritas,
program, kegiatan, dan kebutuhan pembangunan desa yang didanai oleh
APB Desa, swadaya masyarakat desa, dan/atau APBD/APBN.
(5) Prioritas, program, kegiatan, dan kebutuhan pembangunan desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dirumuskan berdasarkan penilaian
terhadap kebutuhan masyarakat desa yang meliputi :
a. peningkatan kualitas dan akses terhadap pelayanan dasar;
b. pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dan lingkungan
berdasarkan kemampuan teknis dan sumber daya lokal yang tersedia;
c. pengembangan ekonomi pertanian berskala produktif;
d. pengembangan dan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk kemajuan
ekonomi;
e. peningkatan kualitas ketertiban dan ketenteraman masyarakat desa
berdasarkan kebutuhan masyarakat desa;
f. peningkatan kapasitas sumber daya manusia masyarakat desa; dan
g. pelestarian dan pengembangan kebudayaan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyusunan RPJM Desa dan
RKP Desa diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB V
KEUANGAN DESA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 7
(1) Penyelenggaraan kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan
kewenangan lokal berskala Desa didanai oleh APB Desa.
(2) Penyelenggaraan kewenangan lokal berskala Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) selain didanai oleh APB Desa, juga dapat didanai oleh
anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan
belanja daerah.
7

(3) Penyelenggaraan kewenangan Desa yang ditugaskan oleh Pemerintah


didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara.
(4) Penyelenggaraan kewenangan Desa yang ditugaskan oleh Kabupaten
didanai oleh APBD.
(5) Seluruh pendapatan Desa diterima dan disalurkan melalui rekening kas
Desa dan penggunaannya ditetapkan dalam APB Desa.
(6) Pencairan dana dalam rekening kas Desa ditandatangani oleh kepala Desa
dan bendahara Desa.
Pasal 8
(1) Pengelolaan keuangan Desa meliputi:
a. perencanaan;
b. pelaksanaan;
c. penatausahaan;
d. pelaporan; dan
e. pertanggungjawaban.

(2) Kepala Desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan Desa


sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Dalam melaksanakan kekuasaan pengelolaan keuangan Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), kepala Desa menguasakan sebagian kekuasaannya
kepada perangkat Desa.
(4) Pengelolaan keuangan Desa dilaksanakan dalam masa 1 (satu) tahun
anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan desa sebagaimana
dimaksud Ayat (1) diatur lebih lanjut melalui peraturan Bupati.

Bagian Kedua
APB Desa
Paragraf 1
Struktur APBDesa
Pasal 9
(1) Struktur APB Desa terdiri atas :
a. Pendapatan Desa;
b. Belanja Desa; dan
c. pembiayaan Desa.
(2) Pendapatan Desa adalah semua penerimaan uang melalui rekening desa
yang merupakan hak desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu
dibayar kembali oleh desa.
(3) Belanja Desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang
merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anngaran yang tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja Desa dipergunakan
dalam rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa.
8

(4) Pembiayaan Desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.
Paragraf 2
Pendapatan Desa
Pasal 10
(1) Sumber pendapatan desa terdiri dari :
a. Pendapatan Asli Desa
b. Pendapatan Transfer. Dan
c. Pendapatan lain-lain.
(2) Pendapatan asli desa sebagaimana dimaksud Ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a.
hasil usaha;
b.
hasil aset;
c.
swadaya, partisipasi dan gotong royong; dan
d.
lain-lain pendapatan asli desa.
(3) Dana Transfer sebagaimana dimaksud Ayat (1) huruf b terdiri dari :
a. DD;
b. BHP;
c. BHR;
d. ADD; dan
e. Bantuan keuangan dari :
1) APBD Provinsi Kalimantan Timur; dan
2) APBD Kabupaten.
(4) Pendapatan lain-lain sebagaimana dimaksud Ayat (1) huruf c terdiri dari :
a. Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan
b. Lain-lain pendapatan desa yang sah.

Pasal 11
(1) Hasil usaha desa sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 Ayat (2) huruf a
antara lain hasil Bumdes, tanah kas desa.
(2) Hasil aset sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 Ayat (2) huruf b antara
lain gedung balai pertemuan umum, tenda acara, tambatan perahu, pasar
desa, jaringan irigasi, .
(3) Swadaya, partisipasi dan gotong royong sebagaimana dimaksud pada Pasal
10 Ayat (2) huruf c adalah membangun dengan kekuatan sendiri yang
melibatkan peran serta masyarakat berupa tenaga, barang yang dinilai
dengan uang.
(4) Lain-lain pendapatan asli desa sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 Ayat
(2) huruf d antara lain bunga bank, hasil pungutan desa.
9

Pasal 12
(1) DD sebagaimana dimaksud Pasal 10 Ayat (3) huruf a, bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dialokasikan untuk desa.
(2) DD digunakan untuk mengefektifkan program yang berbasis desa secara
merata dan berkeadilan.
(3) Besaran DD setiap desa dihitung berdasarkan jumlah penduduk desa, luas
wilayah desa, angka kemiskinan desa, dan tingkat kesulitan geografis.
(4) DD setelah ditransfer di APBD selanjutnya ditransfer ke APB Desa.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikator DD dan penghitungan besaran
DD diatur dengan Peraturan Bupati dengan mempedomani pada ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 13
(1) Pendapatan yang bersumber dari BHP sebagaimana dimaksud Pasal 10
Ayat (3) huruf b, paling sedikit 10 % (sepuluh per seratus) dari realisasi
penerimaan hasil pajak.
(2) Pengalokasian BHP dilakukan berdasarkan ketentuan :
a. 60 % (enam puluh per seratus) dibagi secara merata kepada seluruh
desa; dan
b. 40 % (empat puluh per seratus) dibagi secara proporsional realisasi
penerimaan hasil pajak dari masing-masing desa.
Pasal 14
(1) Pendapatan yang bersumber dari BHR sebagaimana dimaksud Pasal 10
Ayat (3) huruf c, paling sedikit 10 % (sepuluh per seratus) dari realisasi
penerimaan hasil retribusi daerah.
(2) Pengalokasian BHR dilakukan berdasarkan ketentuan :
a. 60 % (enam puluh per seratus) dibagi secara merata kepada seluruh
Desa; dan
b. 40 % (empat puluh per seratus) dibagi secara proporsional realisasi
penerimaan hasil retribusi dari masing-masing desa.
Pasal 15
(1) Pendapatan yang bersumber dari ADD sebagaimana dimaksud Pasal 10
Ayat (3) huruf d, paling sedikit 10 % (sepuluh per seratus) dari dana
perimbangan yang diterima Daerah dalam APBD setelah dikurangi Dana
Alokasi Khusus.
(2) Pengalokasian
ADD
kepada
Desa
memperhitungkan
kebutuhan
penghasilan tetap Kepala Desa dan Perangkat Desa.
(3) ADD setelah dipergunakan untuk penghasilan tetap Kepala Desa dan
Perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dialokasikan secara
10

proporsional dengan menggunakan indikator jumlah penduduk desa, luas


wilayah desa, angka kemiskinan desa dan tingkat kesulitan geografis desa.
Pasal 16
(1) Pemerintah Daerah menetapkan alokasi sementara BHP, BHR, dan ADD
sebagaimana dimaksud Pasal 13, Pasal 14 dan Pasal 15 paling lambat 1
(satu Minggu) setelah APBD Kabupaten ditetapkan.
(2) Pemerintah Daerah menetapkan alokasi definitif BHP, BHR, dan ADD
sebagaimana dimaksud Pasal 13, Pasal 14 dan Pasal 15 paling lambat 1
(satu Minggu) setelah laporan pertanggunjawaban APBD telah disetujui
DPRD.
(3) Penyaluran BHP, BHR dan ADD dari Pemerintah Daerah ke desa dilakukan
secara bertahap.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai perhitungan, pengalokasian, dan
penyaluran BHP, BHR dan ADD diatur dengan Peraturan Bupati.

Pasal 17
(1) Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dapat memberikan
bantuan keuangan yang bersumber dari APBD kepada Desa sebagaimana
dimaksud Pasal 10 Ayat (3) huruf e.
(2) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat umum
dan khusus.
(3) Bantuan keuangan yang bersifat umum sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) peruntukan dan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada Desa
penerima bantuan dalam rangka membantu pelaksanaan tugas pemerintah
daerah di Desa;
(4) Bantuan keuangan yang bersifat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) peruntukan dan pengelolaannya ditetapkan oleh pemerintah daerah
pemberi bantuan dalam rangka percepatan pembangunan Desa dan
pemberdayaan masyarakat.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan keuangan diatur dengan
Peraturan Bupati.
Pasal 18
(1) Pendapatan hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Ayat (4) huruf a adalah pemberian
berupa uang dari pihak ke tiga.
(2) Jika hibah dan sumbangan sebagaimana dimaksud Pasal 10 Ayat (4)
huruf a dalam bentuk barang, maka dicatat dalam neraca desa.
(3) Lain-lain pendapatan desa yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 Ayat (4) huruf b, antara lain pendapatan sebagai hasil kerjasama
dengan pihak ketiga dan bantuan perusahaan yang berlokasi di desa

11

Paragraf 3
Belanja Desa
Pasal 19
(1) Belanja penyelenggaraan kewenangan desa berdasarkan hak asal usul dan
kewenangan lokal berskala desa didanai oleh APB Desa.
(2) Belanja penyelenggaraan kewenangan lokal berskala desa selain didanai
oleh APB Desa, juga dapat didanai oleh APBN dan APBD.
(3) Belanja penyelenggaraan kewenangan desa yang ditugaskan oleh
Pemerintah didanai oleh APBN.
(4) Belanja penyelenggaraan kewenangan desa yang ditugaskan oleh
Pemerintah Daerah didanai oleh APBD.
(5) Belanja Desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan
yang disepakati dalam Musyawarah Desa dan sesuai dengan prioritas
Pemerintah Daerah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah.
(6) Kebutuhan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (5 ) meliputi,
tetapi tidak terbatas pada :
a. kebutuhan Operasional Pemerintah Desa,
b. Pembangunan,
c. pembinaan masyarakat, dan
d. kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.
(7) Belanja Desa yang ditetapkan dalam APB Desa digunakan dengan
ketentuan :
a. paling sedikit 70 % (tujuh puluh per seratus) dari jumlah anggaran
belanja desa digunakan untuk mendanai :
1) penyelenggaraan pemerintahan desa;
2) pelaksanaan pembangunan desa;
3) pembinaan kemasyarakatan desa;
4) pemberdayaan masyarakat desa; dan
5) belanja tak terduga.
b. paling banyak 30 % (tiga puluh per seratus) dari jumlah anggaran
belanja desa digunakan untuk :
1) tunjangan Kepala Desa dan Perangkat Desa;
2) operasional Pemerintah Desa;
3) tunjangan dan operasional BPD; dan
4) insentif Rukun Tetangga dan Rukun Warga, yang merupakan
bantuan keuangan untuk operasional.

Paragraf 4
Pembiayaan
Pasal 20
(1)

Pembiayaan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c


12

meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau


pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.
(2)

Pembiayaan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas


kelompok:
a. Penerimaan Pembiayaan; dan
b. Pengeluaran Pembiayaan.
(3) Penerimaan Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a,
mencakup:
a. Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya;
b. Pencairan Dana Cadangan; dan
c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan.
(4) SiLPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a antara lain
pelampauan penerimaan pendapatan terhadap belanja, penghematan
belanja, dan sisa dana kegiatan lanjutan.
(5) SilPA sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan penerimaan
pembiayaan yang digunakan untuk:
a. menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil dari
pada realisasi belanja;
b. mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan; dan
c. mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran
belum diselesaikan.
(6) Pencairan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b
digunakan untuk menganggarkan pencairan dana cadangan dari rekening
dana cadangan ke rekening kas Desa dalam tahun anggaran berkenaan.
(7) Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) huruf c digunakan untuk menganggarkan hasil penjualan
kekayaan desa yang dipisahkan.

Pasal 21
(1) Pengeluaran Pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2)
huruf b, terdiri dari :
a. Pembentukan Dana Cadangan; dan
b. Penyertaan Modal Desa.
(2) Pemerintah Desa dapat membentuk dana cadangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk mendanai kegiatan yang penyediaan
dananya tidak dapat sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun
anggaran.
(3) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
ditetapkan dengan peraturan desa.
(4) Peraturan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit
memuat:
13

a.
b.
c.
d.
e.

penetapan tujuan pembentukan dana cadangan;


program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan;
besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan;
sumber dana cadangan; dan
tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan.

(5) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
bersumber dari penyisihan atas penerimaan Desa, kecuali dari penerimaan
yang penggunaannya telah ditentukan secara khusus berdasarkan
peraturan perundang-undangan.
(6) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a ditempatkan pada rekening tersendiri.
(7) Penganggaran dana cadangan tidak melebihi tahun akhir masa jabatan
Kepala Desa.

Bagian Ketiga
Penyusunan APBDesa
Pasal 22
(1) Rancangan APB Desa diajukan oleh Kepala Desa dan dimusyawarahkan
bersama BPD.
(2) Kepala Desa menetapkan APB Desa setiap tahun berdasarkan hasil
musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan Peraturan
Desa.
(3) Rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa tahun anggaran berikutnya
sebelum ditetapkan, disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui
Camat paling lambat 3 (tiga) hari sejak disepakati, untuk dievaluasi.
(4) Evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa dilakukan oleh
Camat.
(5) Hasil evaluasi rancangan Peraturan Desa tentang APB Desa sebagaimana
dimaksud dalam ayat (4) diserahkan oleh Camat Kepada Kepala Desa
dengan tembusan kepada Bupati Melalui BAPEMAS paling lama 20 (dua
puluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan Peraturan
tersebut Camat.
(6) Dalam hal Camat tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu
sebagaimana dimaksud Ayat (5), Peraturan Desa tersebut berlaku dengan
sendirinya
(7) Dalam hal Camat telah memberikan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (5), Kepala Desa wajib memperbaikinya paling lama 20 (dua
puluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
(8) Dalam hal Kepala Desa tidak meninjaklanjuti hasil evaluasi sebagaimana
dimaksud dalam Ayat (7), dan tetap menetapkan menjadi Peraturan Desa,
Camat memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk membatalkan
Peraturan Desa dengan Keputusan Bupati.
(9) Peraturan Desa tentang APB Desa tahun anggaran berikutnya ditetapkan
paling lambat tanggal 31 Desember Tahun Anggaran berjalan.
14

(10) Sekretaris Desa mengundangkan peraturan desa dalam lembaran desa.


(11) Peraturan Desa yang telah diundangkan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (10) disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat
paling lambat 7 (tujuh) Hari sejak diundangkan untuk diklarifikasi.
Bagian Keempat
Pelaksanaan APB Desa
Pasal 23
(1) Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan
kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa.
(2) Semua penerimaan dan pengeluaran desa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.
Pasal 24
(1) Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai penerimaan desa
selain yang ditetapkan dalam peraturan desa.
(2) Bendahara dapat menyimpan uang dalam Kas Desa pada jumlah tertentu
dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa.
(3) Pengaturan jumlah uang dalam kas desa sebagaimana dimaksud
ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan Bupati.

pada

Pasal 25
(1) Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat
dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan
menjadi peraturan desa.
(2) Pengeluaran desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak termasuk
untuk belanja pegawai yang bersifat mengikat dan operasional perkantoran
yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa.
(3) Penggunaan biaya tak terduga terlebih dulu harus dibuat Rincian
Anggaran Biaya yang telah disahkan oleh Kepala Desa.
(4) Akibat penggunan biaya tak terduga sebagaimana dimaksud Ayat (3)
pemerintah desa menyusun APB Desa Perubahan atau mencantumkan
dalam laporan realisasi APB Desa.
Bagian Kelima
Pengadaan Barang/Jasa
Pasal 26
(1) Pengadaan Barang/Jasa dalam APB Desa pada prinsipnya dilakukan
secara Swakelola dengan memaksimalkan penggunaan material/bahan dari
wilayah setempat, dilaksanakan secara gotong royong dengan melibatkan
15

partisipasi masyarakat setempat, untuk memperluas kesempatan kerja,


dan pemberdayaan masyarakat setempat;
(2) Swakelola adalah kegiatan Pengadaan Barang/Jasa dimana pekerjaannya
direncanakan, dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh tim pengelola
kegiatan Tim Pengelola Kegiatan adalah tim yang ditetapkan oleh Kepala
Desa dengan Surat Keputusan, terdiri dari unsur Pemerintah Desa dan
unsur lembaga kemasyarakatan desa untuk melaksanakan Pengadaan
Barang/Jasa;
(3) Pengadaan Barang/Jasa di Desa yang tidak dapat dilaksanakan secara
Swakelola, baik sebagian maupun keseluruhan, dapat dilaksanakan oleh
Penyedia Barang/Jasa yang dianggap mampu.
(4) Khusus untuk pekerjaan konstruksi tidak sederhana, yaitu pekerjaan
konstruksi yang membutuhkan tenaga ahli dan/atau peralatan berat, tidak
dapat dilaksanakan cara Swakelola.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengaadaan barang/jasa sebagaimana
dimaksut Ayat ( ) diatur lebih lanjut melalui peraturan bupati.
Bagian Keenam
Perubahan APB Desa
Pasal 27
(1) Perubahan Peraturan Desa tentang APB Desa dapat dilakukan apabila
terjadi:
a. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran antar jenis
belanja;
b. keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran (SilPA)
tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan;
c. terjadi penambahan dan/atau pengurangan dalam pendapatan desa
pada tahun berjalan; dan/atau
d. terjadi peristiwa khusus, seperti bencana alam, krisis politik, krisis
ekonomi, dan/atau kerusuhan sosial yang berkepanjangan;
e. perubahan mendasar atas kebijakan Pemerintah dan Pemerintah
Daerah.
(2) Perubahan APBDesa hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu)
tahun anggaran.
(3) Tata cara pengajuan perubahan APBDesa adalah sama dengan tata cara
penetapan APBDesa.
Pasal 28
(1) Dalam

hal

Bantuan

keuangan

dari

APBD

Provinsi

dan

APBD

Kabupaten/Kota serta hibah dan bantuan pihak ketiga yang tidak mengikat
ke desa disalurkan setelah ditetapkannya

Peraturan Desa tentang

Perubahan APB Desa, perubahan diatur dengan Peraturan Kepala Desa


tentang perubahan APBDesa.
16

(2) Perubahan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diinformasikan


kepada BPD.
(3) Realisasi bantuan keuangan sebagaimana dimaksud Ayat (1) disusun
dalam laporan pertanggunjawaban APB Desa.

BAB VI
PENGHASILAN
Pasal 29
(1) Kepala Desa dan Perangkat Desa memperoleh penghasilan tetap setiap
bulan.
(2) Penghasilan tetap Kepala Desa dan Perangkat Desa bersumber dari ADD
dan dianggarkan dalam APB Desa.
(3) Bupati menetapkan besaran penghasilan tetap :
a. Kepala Desa;
b. Sekretaris Desa paling sedikit 70 % (tujuh puluh per seratus) dari
penghasilan tetap Kepala Desa per bulan; dan
c. Perangkat Desa selain Sekretaris Desa paling sedikit 50 % (lima puluh
per seratus) dari penghasilan tetap Kepala Desa per bulan.
d. Staf Desa, paling sedikit sama dengan Upah Minimum Kabupaten.
(4) Selain menerima penghasilan tetap, Kepala Desa, Perangkat Desa dan Staf
Desa menerima tunjangan dan penerimaan lain yang sah bersumber dari
APB Desa.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai besaran penghasilan tetap dan tunjangan
serta penerimaan lainnya yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
diatur dengan Peraturan Bupati.
Pasal 30
(1) Selain penghasilan tetap, tunjangan dan penerimaan lain yang sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (4), Kepala Desa dan
Perangkat Desa memperoleh jaminan kesehatan.
(2) Jaminan kesehatan yang diberikan kepada Kepala Desa dan Perangkat
Desa diintegrasikan dengan jaminan pelayanan yang dilakukan oleh
Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 31
(1) Anggota BPD berhak mendapat tunjangan dari APB Desa.
(2) Selain tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat
Permusyawaratan Desa memperoleh biaya operasional.

(1),

Badan

17

(3) Badan Permusyawaratan Desa berhak memperoleh pengembangan


kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan, sosialisasi, pembimbingan
teknis, dan kunjungan lapangan.
(4) Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten dapat memberikan penghargaan kepada pimpinan dan anggota
Badan Permusyawaratan Desa yang berprestasi.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan BPD diatur dengan Peraturan
Bupati.

BAB VII
PERTANGGUNJAWABAN DAN PELAPORAN
Pasal 32
(1) Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APB Desa
kepada Bupati setiap semester tahun berjalan.
(2) Laporan untuk semester pertama disampaikan paling lambat pada akhir
Bulan Juli tahun berjalan.
(3) Laporan untuk semester kedua disampaikan paling lambat pada akhir
Bulan Januari tahun berikutnya.
(4) Selain penyampaian laporan realisasi pelaksanaan APB Desa, Kepala Desa
wajib menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan APB Desa kepada
Bupati setiap akhir tahun anggaran.
(5) Sebelum dilakukan pertanggungjawaban pelaksanaan APB Desa,
Inspektorat Kabupaten melakukan audit atas penggunaan APB Desa
setelah berakhirnya Tahun Anggaran.

BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 33
Pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh Bupati meliputi :
a.
b.
c.
d.

memberikan pedoman di bidang keuangan desa;


melakukan pembinaan di bidang keuangan desa;
mengawasi pengelolaan keuangan desa;
melakukan evaluasi dan pengawasan Peraturan Desa di bidang keuangan
desa;
e. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi Pemerintah Desa, BPD,
dan Lembaga Kemasyarakatan Desa; dan
f. melakukan upaya percepatan pembangunan desa melalui bantuan
keuangan, bantuan pendampingan, dan bantuan teknis.

18

Pasal 34
Pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh Camat meliputi :
a. fasilitasi penyusunan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa di bidang
keuangan desa;
b. fasilitasi administrasi di bidang keuangan desa; dan
c. fasilitasi pengelolaan keuangan desa.

BAB IX
SANGSI
Pasal 27
(1) Dalam hal terdapat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) DD secara
tidak wajar, Bupati :
a. memberikan sanksi administratif kepada desa yang bersangkutan
berupa pengurangan DD
b. sebesar SiLPA pada tahun angaran berikutnya.
(2) SiLPA DD secara tidak wajar terjadi karena :
a. penggunaan DD tidak sesuai dengan prioritas penggunaan DD,
pedoman umum, atau pedoman teknis kegiatan; atau
b. penyimpanan uang dalam bentuk deposito lebih dari 2 (dua) bulan.
(3) Dalam hal Kepala Desa tidak atau terlambat menyampaikan laporan,
Bupati dapat menunda penyaluran DD sampai dengan disampaikannya
laporan realisasi penggunaan DD.
Pasal 28
(1) Dalam hal desa tidak dapat mengajukan penyaluran BHP, BHR dan ADD,
sampai dengan akhir bulan November Tahun Anggaran berjalan, Bupati
memberikan sanksi administratif kepada desa berupa pengurangan dana
sebesar dana per tahapan yang belum disalurkan pada Tahun Anggaran
berjalan.
(2) Pengurangan dana sebagaimana dimaksud Ayat (1) tidak diperhitungkan
dalam penyaluran BHP, BHR dan ADD tahun anggaran berikutnya.

BAB IX
19

KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 30
(1) Dalam hal perhitungan alokasi definitive BHP, BHR dan ADD tahun
bersangkutan lebih besar dari pada alokasi sementara BHP, BHR dan ADD,
Pemerintah Kabupaten memperhitungkan sebagai kurang salur BHP, BHR
dan ADD dan menyalurkan pada tahun berikutnya;
(2) Dalam hal perhitungan alokasi definitive BHP, BHR dan ADD tahun
bersangkutan lebih kecil dari pada alokasi sementara, Pemerintah
Kabupaten memperhitungkan sebagai lebih salur BHP, BHR dan ADD dan
akan menjadi pengurang perhitungan alokasi sementara BHP, BHR dan
ADD tahun berikutnya.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 31
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten
Kutai Kartanegran Nomor 16 Tahun 2007 dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

Pasal 32
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Kutai
Kartanegara.

Ditetapkan di Tenggarong
Pada tanggal................. 2015
Bupati Kutai Kartanegara,

RITA WIDYASARI
Diundangkan di Tenggarong
20

pada tanggal 2015


SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN
KUTAI KARTANEGARA
tanda tangan
EDY DAMANSYAH
LEMBARAN DAERAH
KABUPATENKUTAI KARTANEGARA
TAHUN 2015 NOMOR
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BAGIAN ADMINISTRASI
HUKUM,
TTD

NAMA
NIP

21