Anda di halaman 1dari 12

Ada 3 tanda MAYOR / KUNCI derajat dehidrasi yaitu 1. Keadaan umum. 2 rasa haus.

3
turgor kulit..
1 Keadaan umum : pembagiannya, bila kesadaran baik berarti dehidrasi ringan atau tanpa
dehidrasi, bila rewel atau gelisah berarti dehodrasi sedang, bila apatis berarti dehidrasi
berat.
2 Rasa haus : tidak tampak haus, berarti tanpa dehidrasi atau dehidrasi ringan, bila
tampak haus berarti dehidrasi sedang, bila sudah tidak bisa minum, berari dehidrasi berat.
3 turgor kulit ( kekenyalan, elastisitas kulit) : dengan cara dicubit didaerah perut dengan
cubitan agak lebar, sekitar 3 cm, dipertahankan selama 30 detik, kemudian dilepas. Bila
kulit kembali normal dalam waktu kurang 1 detik; turgor baik, bila 2-5 detik ; turgor agak
kurang, bila 5-10 detik; turgor kurang dan bila lebih 10 detik: turgor jelek.
Tanda MINOR dari dehidrasi : Ubun ubun cekung, air mata berkurang ,mata cekung,
selaput / mukosa mulut kering, bak berkurang dll.
Bila didapatkan minimal 1 tanda MAYOR, disertai minimal 1 tanda MINOR, maka
derajat dehidrasinya digolongkan dari tanda MAYORnya. Misal tanda MAYOR
didapatkan REWEL, tanda MINOR didapatkan mata dan Ubun ubun cekung, maka
derajat dehidrasinya adalah DEHIDRASI SEDANG.
INTAKE DAN OUT PUT
1.
Intake Cairan
Selama aktivitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-kira 1500
ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga
kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama
proses metabolisme.
Tabel 2.1 kebutuhan intake cairan berdasarkan umur dan berat badan
No.
Umur
BB (kg)
Kebutuhan Cairan (ml)
1.
3 hari
3
250 300
2.
1 tahun
9,5
1150 1300
3.
2 tahun
11,8
1350 1500
4.
6 tahun
20
1800 2000
5.
10 tahun
28,7
2000 2500
6.
14 tahun
45
2200 2700
7.
18 tahun
54
2200 2700
Pengaturan utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus
dikendalikan berada di otak sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi
intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah,
perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut
biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walaupun kadang terjadi secara sendiri.
Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh
gastrointestinal.

2.
a.

b.

c.

d.

Output Cairan
Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekskresi melalui traktus urinarius
merupakan proses output cairantubuh yang utama. Dalam kondisi normal output
urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam pada orang
dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam
setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine
akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh.
IWL (Insesible Water Loss)
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit. Melalui kulit dengan mekanisme diffusi.
Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah
berkisar 300-400 ml per hari, tetapi bila proses respirasi atau suhu tubuh
meningkat maka IWL dapat meningkat.
Keringat
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini
berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui
sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.
Feses
Pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200 ml per hari, yang diatur melalui
mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).
Hal hal yang perlu di perhatikan:
Rata-rata cairan per hari
1.
Air minum : 1500-2500 ml
2.
Air dari makanan :750 ml
3.
Air dari hasil oksidasi atau metabolisme :200 ml
Rata- rata haluaran cairan per hari
1)
Urin : 1400 -1500 ml
2)
Iwl
a)
Paru : 350 -400 ml
b)
Kulit : 350 400 ml
3)
Keringat : 100 ml
4)
Feses : 100 -200 ml
IWL
1.
Dewasa : 15 cc/kg BB/hari.
2.
Anak : (30-usia{tahun}cc/kgBB/hari

Untuk mengetahui kesehatan ginjal biasanya dilakukan dengan melakukan


tes darah maupun tes urine. Biasanya hasil tes laboratorium dibaca oleh
Dokter sebagai orang yang berkompeten untuk itu, tetapi tidak ada
salahnya jika kita juga mengetahui informasi tentang hal tersebut.
Pada bagian pertama ini akan dibahas yang berhubungan dengan ginjal
terlebih dahulu.. Informasi ini diperoleh melalui situs The Indonesia
Diatram Kidney Foundation dan beberapa sumber lain:
Jika kita menguji melalui tes darah ada tes :
1. Ureum (Blood Urea Nitrogen)
Protein diserap tubuh melalui makanan seperti telur, ikan dan daging,
sisanya yang tidak terserap merupakan sampah yang disebut ureum yang
mengandung nitrogen. Apabila ginjal bekerja dengan baik, ureum tersebut
akan dibuang bersama urin, namun apabila ginjal tidak dapat berfungsi
dengan baik ureum akan tinggal di dalam darah.Untuk itu BUN tes
dilakukan untuk mengukur kadar ureum dalam darah dan mengetahui performa
ginjal dalam melaksanakan tugasnya membersihkan darah. Hasil Normal :
angka 5 s/d 25 mg/dl
2. Kreatinin
adalah sampah dari sisa sisa metabolisme yang dilakukan oleh
aktivitas otot. Sama dengan ureum, kreatinin akan menumpuk dalam darah
apabila ginjal tidak berfungsi sebagaimana mestinya untuk menyaring
serta membuangnya bersama urin. Hasil Normal: 0.5 s/d 1.5 mg/dl untuk
pria dewasa0.5 s/d 1.3 mg/dl untuk wanita dewasa
3. Glumerolus Filtration RateGFR
merupakan cara terbaik untuk mengetahui seberapa baik fungsi ginjal
dalam menjalankan tugasnya. Dari penghitungan GFR dapat diketahui pada
stadium berapa kerusakan ginjal seseorang. Informasi yang dibutuhkan
untuk menghitung GFR adalah hasil serum kreatinin, usia dan berat badan.
Rumusnya bisa dihitung dengan 2 cara yaitu:
Nilai ini dihitung dengan rumus Cockcroft-Gault atau MDRD (modification
of diet in renal disease) sebagai berikut :
(140-Umur) x
Berat Badan
Cockcroft-Gault : Klirens Kreatinin = ------------------------------x (0,85, jika wanita)
(ml/menit)
72 x Kreatinin
Serum
MDRD : Laju Filtrasi Glomerulus = 186 x (Kreatinin Serum) -1,154 x
(Umur) -0,203 x (0,742 jika wanita) x (1,210, jika kulit hitam)
(kedua rumus ini dari www.kidney.org)
Nilai GFR kurang dari 60 ml/menit/1,73m2, maka penyakit ginjal dapat
ditegakkan.
Pada 2002, National Kidney Foundation AS menerbitkan pedoman pengobatan
yang menetapkan lima stadium chronic kidney disease (CKD) berdasarkan
ukuran GFR yang menurun. Pedoman tersebut mengusulkan tindakan yang
berbeda untuk masing-masing stadium penyakit ginjal.
Risiko CKD meningkat. GFR 90 atau lebih dianggap normal. Bahkan
dengan GFR normal, kita mungkin berisiko lebih tinggi terhadap CKD

bila kita diabetes, mempunyai tekanan darah yang tinggi, atau


keluarga kita mempunyai riwayat penyakit ginjal. Semakin tua kita,
semakin tinggi risiko. Orang berusia di atas 65 tahun dua kali lipat
lebih mungkin mengembangkan CKD dibandingkan orang berusia di antara
45 dan 65 tahun. Orang Amerika keturunan Afrika lebih berisiko
mengembangkan CKD.
Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan GFR normal (90 atau lebih).
Kerusakan pada ginjal dapat dideteksi sebelum GFR mulai menurun. Pada
stadium pertama penyakit ginjal ini, tujuan pengobatan adalah untuk
memperlambat perkembangan CKD dan mengurangi risiko penyakit jantung
dan pembuluh darah.
Stadium 2: Kerusakan ginjal dengan penurunan ringan pada GFR (6089). Saat fungsi ginjal kita mulai menurun, dokter akan memperkirakan
perkembangan CKD kita dan meneruskan pengobatan untuk mengurangi
risiko masalah kesehatan lain.
Stadium 3: Penurunan lanjut pada GFR (30-59). Saat CKD sudah
berlanjut pada stadium ini, anemia dan masalah tulang menjadi semakin
umum. Kita sebaiknya bekerja dengan dokter untuk mencegah atau
mengobati masalah ini.
Stadium 4: Penurunan berat pada GFR (15-29). Teruskan pengobatan
untuk komplikasi CKD dan belajar semaksimal mungkin mengenai
pengobatan untuk kegagalan ginjal. Masing-masing pengobatan
membutuhkan persiapan. Bila kita memilih hemodialisis, kita akan
membutuhkan tindakan untuk memperbesar dan memperkuat pembuluh darah
dalam lengan agar siap menerima pemasukan jarum secara sering. Untuk
dialisis peritonea, sebuah kateter harus ditanam dalam perut kita.
Atau mungkin kita ingin minta anggota keluarga atau teman menyumbang
satu ginjal untuk dicangkok.
Stadium 5: Kegagalan ginjal (GFR di bawah 15). Saat ginjal kita
tidak bekerja cukup untuk menahan kehidupan kita, kita akan
membutuhkan dialisis atau pencangkokan ginjal..
Jika Kita menggunakan Tes Urine, maka:
1. Urine hemoglobin (Heme)
adalah tes untuk melihat adanya darah dalam urin. Dalam kondisi normal
darah tidak ditemukan dalam urin. Apabila ditemukan darah dalam urin
bisa menandakan adanya kerusakan pada ginjal atau saluran kencing.
Kadangkala aktivitas jogging, infeksi kandung kemih, perokok berat dapat
menyebabkan timbulya darah pada urin.
2. Creatine clearence
merupakan tes untuk melihat kecepatan dari ginjal untuk membuang kreatin
dalam darah. Untuk melakukan uji ini dibutuhkan urin 24 jam. Pemeriksaan
urin ini juga akan dibarengin dengan pemeriksaan darah untuk
membandingkan jumlah kreatinin yang diproduksi dan yang dibuang.
3. Albumin
adalah sejenis protein yang dapat diukur dalam urin. Test albumin adalah
tes untuk mengukur jumlah protein yang berhasil lewat dari ginjal dan
keluar bersama urin. Pada ginjal yang sehat protein tidak dapat lolos
melewati ginjal karena protein merupakan molekul yang ukurannya terlalu

besar untuk dapat melewati pembuluh pembuluh darah di ginjal. Artinya


apabila ditemukan protein dalam urin menandakan adanya kerusakan pada
ginjal.
4. Microalbuminuria
adalah tes yang dapat mendeteksi adanya kandungan protein dalam jumlah
yang sangat kecil yang tetrdapat dalam urin. Tes ini dilakukan karena
menurut studi yang dilakukan pada penderita diabetes menunjukkan bahwa
meskipun adaya kerusakan ginjal sudah mulai muncul terkadang sulit
menemukan adanya protein dalam urin dengan menggunakan alat khusus
bernama disptick. Bagi penderita diabetes pemeriksaaan microalbuminaria
seyogyanya dilakukan sekurang - kurangnya sekali setahun
Membaca hasil lab urin
Warna urin
Nilai normal: kekuningan jernih
Dalam keadaan normal, warna urin pagi (yang diambil sesaat setelah
bangun pagi) sedikit lebih gelap dibanding urin di waktu lainnya.
Perubahan warna urin dapat terjadi karena beberapa hal.
Hitam: baru mengkonsumsi tablet besi (ferri sulfat), sedang minum obat
parkinson (levodopa), methemoglobunuria.
Biru: mengkonsumsi obat antidepresi (amitriptilin), antibiotik saluran
kemih (nitrofurantoin), atau karena infeksi Pseudomonas pada saluran
kemih.
Coklat: gangguan fungsi ginjal, mengkonsumsi antibiotik (sulfonamid atau
metronidazol), dan konsumsi obat parkinson (levodopa).
Kuning gelap (seperti teh): hepatitis fase akut, ikterus obstruktif,
kelebihan vitamin B2 / riboflavin, antibiotika (nitrofurantoin dan
kuinakrin).
Oranye-merah: dehidrasi sedang, demam, konsumsi antikoagulan oral,
trauma ginjal, konsumsi deferoksamin mesilat, rifampisin, sulfasalazin,
laksatif (fenolftalein).
Hijau: infeksi bakteri, kelebihan biliverdin, konsumsi vitamin tertentu.
Bening (tidak berwarna sama sekali): terlalu banyak minum, sedang minum
obat diuretik, minum alkohol, atau diabetes insipidus.
Seperti susu (disebut juga chyluria): filariasis atau tumor jaringan
limfatik.

Berat jenis
Nilai normal: 1.003 s/d 1.030 g/mLNilai ini dipengaruhi sejumlah
variasi, antara lain umur. Berat jenis urin dewasa berkisar pada 1.0161.022, neonatus (bayi baru lahir) berkisar pada 1.012, dan bayi antara
1.002 sampai 1.006.
Urin pagi memiliki berat jenis lebih tinggi daripada urin di waktu lain,
yaitu sekitar 1.026.
Abnormalitas:
Berat jenis urin yang lebih dari normal menunjukkan gangguan fungsi
ginjal, infeksi saluran kemih, kelebihan hormon antidiuretik, demam,

diabetes melitus, diare / dehidrasi.


Berat jenis urin yang kurang dari normal menunjukkan gangguan fungsi
ginjal berat, diabetes insipidus, atau konsumsi antibiotika
(aminoglikosida).

pH
Nilai normal: 5.0-6.0 (urin pagi), 4.5-8.0 (urin sewaktu)pH lebih basa:
habis muntah-muntah, infeksi atau batu saluran kemih, dan penurunan
fungsi ginjal. Dari faktor obat-obatan: natrium bikarbonat, dan
amfoterisin B.
pH lebih asam: diet tinggi protein atau diet tanpa kalori, diabetes
melitus, asidosis tuberkulosis ginjal, dan fenilketonuria. Dari faktor
obat-obatan: diazoksid dan vitamin C.

Glukosa
Nilai normal: negatifDi Indonesia, glukosa urin biasanya diuji secara
semikuantitatif dengan uji reduktor (Benedict).
Pemeriksaan Benedict ini sebenarnya ditujukan untuk mendeteksi adanya
glukosa, asam homogentisat, dan substansi reduktor lainnya (misalnya
vitamin C) dalam urin; sesuai dengan mekanisme reaksi yaitu reduksi
tembaga sulfat. Asam homogentisat bisa ada dalam urin dalam jumlah besar
pada individu dengan gangguan metabolisme asam amino alkohol
(fenilalanin dan tirosin). Karena faktor ini pemeriksaan glukosuria di
negara maju telah diganti dengan Clinistix.
Glukosa urin positif tidak selalu berarti diabetes melitus, walaupun
memang penyakit ini yang paling sering memberi hasil positif pada uji
glukosa urin. Makna lain yang mungkin:
-Penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefritis tubular, sindroma
Fanconi).
-Penyakit hepar dan keracunan logam berat.
-Faktor farmakologis (indometasin, isoniazid, asam nikotinat, diuretik
tiazid, karbamazepin).
-Nutrisi parenteral total yang berlebihan (hiperalimentasi) dengan infus
glukosa.
Protein
Nilai normal: negatif (uji semikuantitatif), 0.03-0.15 mg/24 jam (uji
kuantitatif)
Protein dapat diuji dengan asam sulfosalisilat 20%, asam sulfat 6%, atau
dengan reagen strip. Pemeriksaan dengan reagen strip lebih banyak
digunakan saat ini. Untuk anak-anak di bawah 10 tahun nilai kuantitatif
normal protein dalam urin sedikit lebih rendah daripada dewasa, yaitu
Hasil abnormal (positif) dalam uji proteinuria dapat berarti:

Masalah nonginjal (gagal jantung kongestif, asites, infeksi bakteri,


keracunan).
Keganasan (leukemia dan keganasan tulang yang bermetastasis).
Proteinuria sementara (pada dehidrasi, diet tinggi protein, stres,
demam, post-pendarahan). Penyakit ginjal (lupus, infeksi saluran kemih,
nekrosis tubular ginjal).
Pada anak-anak sering karena sindroma nefrotik atau penyakit bawaan
(ginjal polikistik). Faktor farmakologis (amfoterisin B, semua
aminoglikosida, fenilbutazon, sulfonamid).
Keton
Nilai normal: negatif
Uji ketonuria dimaksudkan untuk mendeteksi adanya produk sampingan
penguraian karbohidrat dalam urin. Ketonuria dulu diperiksa dengan
metode Rothera, dan sekarang digunakan dipstik. Hasil positif dapat
ditemukan pada ketoasidosis diabetik, alkoholisme, diet tinggi lemak,
penyakit glikogen, dan konsumsi obat-obatan tertentu (levodopa dan obatobat anestetik).
Urobilinogen
Nilai normal: 0.1-1 Ehrlich U/dL (dipstik), atau positif s/d pengenceran
1/20 (Wallace-Diamond) Urobilinogen klasik diperiksa dengan uji
pengenceran Wallace-Diamond. Cara ini sudah banyak digantikan oleh uji
dipstik modern yang bersifat kualitatif.
Urobilinogenuria dapat disebabkan oleh
Penyakit hepar dan empedu (hepatitis akut, sirosis, kolangitis)
Infeksi tertentu (malaria, mononukleosis)
Polisitemia vera ataupun anemia
Keracunan timah hitam
Tidak ada urobilinogen sama sekali dalam urin bermakna ada obstruksi
komplit pada saluran empedu (kolelitiasis atau karsinoma pankreas). Dari
faktor farmakologis: kloramfenikol dan vitamin C menyebabkan
urobilinogen urin berkurang.
Bilirubin
Nilai normal: negatif, maksimal 0.34 mol/L. Bilirubinuria dapat
disebabkan oleh:
Penyakit hepar (sirosis, hepatitis alkoholik), termasuk efek
hepatotoksisitas.
Infeksi atau sepsis.
Keganasan (terutama hepatoma dan karsinoma saluran empedu).
Nitrit
Nilai normal: negatif (kurang dari 0.1 mg/dL, atau kurang dari 100.000
mikroorganisme/mL) Nitrit urin digunakan untuk skrining infeksi saluran
kemih.
Eritrosit
Nilai normal: 0-3 sel per lapang pandang besar Eritrosit dalam urin yang
berlebihan (mikrohematuria) dapat ditemukan pada urin wanita menstruasi
dan perlukaan pada saluran kemih; baik oleh batu, infeksi, faktor
trauma, maupun karena kebocoran glomerulus.
Leukosit

Nilai normal: 2-4 sel per lapang pandang besar Leukosit yang berlebihan
dalam urin (piuria) biasanya menandakan adanya infeksi saluran kemih
atau kondisi inflamasi lainnya, misalnya penolakan transplantasi ginjal.
Sel epitel Nilai normal: sekitar 10 sel per lapang pandang besar,
berbentuk skuamosa. Sel epitel yang lebih daripada jumlah normal
berkaitan dengan infeksi saluran kemih dan glomerulonefritis. Sedangkan
bentuk sel epitel abnormal dikaitkan dengan keganasan setempat.
Cast / inklusi
Nilai normal: ditemukan cast hialin dalam jumlah sedang, tanpa adanya
inklusi. Cast merupakan kumpulan sel-sel yang dikelilingi suatu membran.
Biasanya cast selain hialin (misalnya cast eritrosit atau cast leukosit)
menunjukkan kerusakan pada glomerulus (glomerulonefritis kronik).
Inklusi sitomegalik menunjukkan infeksi sitomegalovirus (CMV) atau
campak.
Kristal
Nilai normal: ditemukan kristal dalam jumlah kecil Kristal yang
ditemukan dalam urin tergantung pada pH urin yang diperiksa. Pada urin
asam dapat ditemukan kristal asam urat. Pada urin netral ditemukan
kristal kalsium oksalat. Pada urin basa mungkin terlihat kristal kalsium
karbonat dan kalsium fosfat. Ada juga sejumlah kristal yang dalam
keadaan normal tidak ada; antara lain kristal tirosin, sistin,
kolesterol, dan bilirubin.
Bakteri, jamur, dan parasit
Nilai normal bakteri: negatif. Kecuali untuk urin midstream:
Nilai normal jamur dan parasit: negatif Bakteri yang dapat menimbulkan
infeksi saluran kemih mungkin ditemukan dalam urinalisa, antara lain
E.coli, Proteus vulgaris, Neisseria gonorrhoea dan Pseudomonas
aeruginosa. Sedangkan parasit yang mungkin ditemukan dalam urin adalah
Schistosoma haematobium dan mikrofilaria spesies tertentu.
Referensi Chernecky CC & Berger BJ. Laboratory Tests and Diagnostic
Procedure. Philadelphia: Saunders Elsevier, 2008. Kasper DL et.al (eds).
Harrisons Principles of Internal Medicine. New York: McGraw-Hill,
2007. (hnz)
KIDNEY FUNCTION FAMILY
Klasifikasi ini untuk mengetahui tingkat kebersihan dari darah dengan
mengukur kadar produk sisa metabolisme yang disaring oleh ginjal sehat.
Ketiga tes tersebut meliputi :
1. Blood Urea Nitrogen (BUN)
Protein diserap tubuh melalui makanan seperti telur, ikan dan daging,
sisanya yang tidak terserap merupakan sampah yang disebut ureum yang
mengandung nitrogen. Apabila ginjal bekerja dengan baik, ureum tersebut
akan dibuang bersama urin, namun apabila ginjal tidak dapat berfungsi
dengan baik ureum akan tinggal di dalam darah.Untuk itu BUN tes
dilakukan untuk mengukur kadar ureum dalam darah dan mengetahui performa
ginjal dalam melaksanakan tugasnya membersihkan darah. Bagi penderita
gagal ginjal terminal yang sedang dalam treatment dialysis, BUN tes
berguna untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari treatment dialysisi
yang dilakukan. Seseorang dikatakan apabila angka BUN nya berada pada

angka 5 s/d 25 mg/dl.


2. CreatininKreatinin
adalah sampah dari sisa sisa metabolisme yang dilakukan oleh
aktivitas otot. Sama dengan ureum, kreatinin akan menumpuk dalam darah
apabila ginjal tidak berfungsi sebagaimana mestinya untuk menyaring
serta membuangnya bersama urin.Seseorang dikatakan apabila angka BUN nya
berada pada angka :
0.5 s/d 1.5 mg/dl untuk pria dewasa
0.5 s/d 1.3 mg/dl untuk wanita dewasa
Glumerolus Filtration Rate
GFR merupakan cara terbaik untuk mengetahui seberapa baik fungsi ginjal
dalam menjalankan tugasnya. Dari penghitungan GFR dapat diketahui pada
stadium berapa kerusakan ginjal seseorang. Informasi yang dibutuhkan
untuk menghitung GFR adalah hasil serum kreatinin, usia dan berat badan.
ANEMIA FAMILY
Pada klasisfikasi ini, tes yang diperlukan adalah :
HemoglobinHemoglobin adalah komponen dari sel darah merah yang membawa
oksigen dari paru paru ke seluruh bagian tubuh.
HematocritHematocrit adalah untuk mengukur persentase sel darah merah
yang diproduksi oleh tubuh.Baik Hemoglobin maupun Hematocrit sangat
vital bagi tubuh karena keduanya mengindikasikan adanya Anemia atau
kurangnya sel darah merah pembawa oksigen dalam tubuh. Sesorang yang
menderita anemia akan merasakan cepat lelah dan lemas pada tubuhnya dan
apabila tidak di tangani akan merusak hati.Seseorang dikatakan normal
apabila range Hemoglobinnya berada pada angka :
14 s/d 18 g/dl untuk pria
12 s/d 16 g/dl untuk wanita
Sedangkan angka normal untuk Hematocrit apa bila hasil lab menunjukkan :
40 % s/d 50 % untuk pria
36% s/d 44% untuk wanita
Ferritin dan Trasferrin Saturation (TSAT)
Besi (iron) eleman dasar yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk
membentuk sel darah merah. Untuk membentuk sel darah merah yang baru
tubuh kita menyerap besi dari makanan yang kita asup, namun sebagian
besar sumber besi didapat adalah dari sel sel darah merah itu sendiri
yang telah lama dan rusak.
Apabila seseorang menderita anemia berarti dia kekurangan sel darah
merah dan kekurangan elemen dasar untuk membentuk sel darah merah yang
baru.
Ferritin mengukur jumlah besi yang ada dalam tubuh, sedangkan TSAT untuk
mengukur berapa banyak dari jumlah besi yang tersimpan dapat digunakan

untuk membentuk sel darah merah baru. Apabila kadar Ferritin dan TSAT
pasien rendah, dokter akan meresepkan suplemen besi sehingga pasien
mempunyai cukup elemen dasar untuk membentuk sel darah merah.
ELECTROLYTE FAMILY
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel partikel
bermuatan listrik.4 macam tes elektrolit yang penting bagi penderita
gagal ginjal adalah :

Kalsium

Fosfor

Kalium (potassium)

Natrium (Sodium)
Kalsium adalah elektrolit yang dibutuhkan untuk bekerjanya otot dan
kesehatan tulang. Kalsium diserap dari produk susu, kalsium suplemen dan
sayur sayuran. Tulang dan gigi merupakan tempat penyimpanan hampir
seluruh kalsium yang ada dalam tubuh.
Terlalu banyak kalsium di dalam darah atau Hypercalcemia dapat
menyebabkan mual dan muntah, hilang nafsu makan, sakit perut, sulit
berpikir, lemas, pusing, bahkan dapat menyebabkan serangan jantung.
Sebaliknya kekurangan kalsium atau Hypocalcemia dapat menyebabkan
depresi, perasaan kebas, keram pada otot, atau merasa bingung. Apabila
tidak di obati, hypocalcemia dalam jangka panjang dapat menyebabkan
kerusakan tulang.
Fosfat adalah elektrolit yang sangat vital untuk energi yang digunakan
oleh tubuh. Fosfat banyak ditemukan di hampir setiap makanan yang diasup
oleh tubuh. Seperti juga kalsium, fosfat juga disimpan di tulang dan
gigi. Apabila ginjal tidak bekerja sebagaimana mestinya kadar Fosfat
akan meningkat.Terlalu banyak fosfat dalam darah atau Hyperphosphatemia
meyebabkan gatal gatal dan dapat merusak tulang. Sebaliknya
kekurangan fosfat atau Hypophophatemia dapat menyebabkan melemahnya otot
dan koma , namun hal ini sangat jarang terjadi.
Seperti magnet, kalsium dan fosfat saling tarik menarik satu sama lain
karena Kadar kalsium dalam darah juga ditentukan oleh fosfat. Apabila
Ginjal berfungsi dengan baik maka kelebihan fosfat dalam darah dapat
dibuang, namun Jika ginjal gagal berfungsi, maka kadar fosfat dalam
darah akan meningkat dan menyebabkan kadar kalsium dalam darah menurun.
Hal ini menyebabkan semakin banyak kalsium yang diambil dari tulang
untuk mengkompensasi kadar fosfat yang tinggi sehingga tulang menjadi
rapuh.
Kalium adalah elektrolit yang penting bagi bekerjanya otot dan sistem
saraf, termasuk sistem saraf otonom yang merupakan pengendali detak
jantung dan fungsi otak. Ginjal yang sehat berfungsi untuk mengontrol
level kalium dalam tubuh dengan menyesuaikan jumlah asupan kalium yang
masuk dan yang dibuang.

Terlalu banyak kalium dalam darah atau Hyperkalemie akan menyebabkan


kelemahan fungsi otot dan terkena serangan jantung. Sebaliknya terlalu
sedikit kalium dalam tubuh atau Hypokalemie dapat menyebabkan kelemahan
fungsi otot, kelelahan (fatique), ritmus jantung abnormal yang dapat
berakibat serangan jantung. Kalium banyak ditemukan pada makan maupun
buah buahan seperti jeruk, pisang, daging dan alpukat.
Natrium adalah elektrolit yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan
cairan dan air dalam tubuh. Apabila tidak seimbang akan menyebabkan otot
tidak bekerja sebagaimana mestinya. Selain itu darah akan terlalu pekat
ataupun terlalu encer karena mengandaung terlalu banyak atau kekurangan
air.
Garam adalah salah satu bentuk natrium yang sering kita dengar. Ginjal
yang sehat akan membuang kelebihan natrium ke dalam urin. Oleh sebab itu
penting sekali bagi penderita gagal ginjal untuk menjaga asupan garam ke
dalam tubuh.
Kelebihan natrium dalam darah atau Hypernatremia menyebabkan sering
merasa haus, sakit kepala dan naiknya tekanan darah serta membengkaknya
jaringan akibat terlalu banyak cairan yang disebut edema. Sebaliknya
terlalu sedikit natrium atau hyponatremia akan menyebabkan pecahnya sel
darah merah, turunnya tekanan darah, merasa lemah, keram otot, sakit
kepala, muntah muntah bahkan koma.
URINE TEST FAMILY
Seperti namanya pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan urin
sebagai sampel. Tes ini biasanya dilakukan pada penderita gagal ginjal
kronis. Sedangkan pada penderita gagal ginjal terminal tidak dilakukan
(pasien GGT biasanya tidak lagi atau hanya memproduksi urin dalam jumlah
yang sedikit). Beberapa jenis pemeriksaan pada kategori ini adalah :

Urine hemoglobin

Creatine clearence

Urine albumin

Microalbuminaria
Urine hemoglobin (Heme)
adalah tes untuk melihat adanya darah dalam urin. Dalam kondisi normal
darah tidak ditemukan dalam urin. Apabila ditemukan darah dalam urin
bisa menandakan adanya kerusakan pada ginjal atau saluran kencing.
Kadangkala aktivitas jogging, infeksi kandung kemih, perokok berat dapat
menyebabkan timbulya darah pada urin.
Creatine clearence
merupakan tes untuk melihat kecepatan dari ginjal untuk membuang kreatin
dalam darah. Untuk melakukan uji ini dibutuhkan urin 24 jam. Pemeriksaan
urin ini juga akan dibarengin dengan pemeriksaan darah untuk
membandingkan jumlah kreatinin yang diproduksi dan yang dibuang.
Albumin
adalah sejenis protein yang dapat diukur dalam urin. Test albumin adalah
tes untuk mengukur jumlah protein yang berhasil lewat dari ginjal dan

keluar bersama urin. Pada ginjal yang sehat protein tidak dapat lolos
melewati ginjal karena protein merupakan molekul yang ukurannya terlalu
besar untuk dapat melewati pembuluh pembuluh darah di ginjal. Artinya
apabila ditemukan protein dalam urin menandakan adanya kerusakan pada
ginjal.
Microalbuminuria
adalah tes yang dapat mendeteksi adanya kandungan protein dalam jumlah
yang sangat kecil yang tetrdapat dalam urin. Tes ini dilakukan karena
menurut studi yang dilakukan pada penderita diabetes menunjukkan bahwa
meskipun adaya kerusakan ginjal sudah mulai muncul terkadang sulit
menemukan adanya protein dalam urin dengan menggunakan alat khusus
bernama disptick. Bagi penderita diabetes pemeriksaaan microalbuminaria
seyogyanya dilakukan sekurang - kurangnya sekali setahun
2.4.2.

Mengukur Intake dan Output Cairan


Pengukuran intake dan output cairan merupakan suatu tindakan
yang dilakukan untuk mengukur jumlah cairan yang masuk kedalam tubuh
(intake) dan jumlah cairn yang keluar dari tubuh (output). Tujuan dari
mengukur intake dan output cairan yaitu untuk menentukan status
keseimbangan cauran tubuh klien dn juga untuk menetukan tingkat
dehidrasi klien.
Prosedur :
a.
Tentukan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh. Cairan yang
masuk ke dalam tubuh melalui air minum, air dalam makanan, air
hasil oksidasi (metabolisme) dan cairan intrvena.
b.
Tentukan jumlah cairan yang keluar dari tubuh klien, cairan yang
keluar dari tubuh terdiri atas urine, insensible water loss (IWL), feses,
dan muntah.
c.
Tentukan kseimbangan cairan tubuh klien dengan rumus intakeoutput.
Keseimbangan Intake dan Output :
a. Rata-rata intake cairan perhari :
1). Air minum : 1500-2500 ml
2). Air dari makanan : 750 ml
3). Air hasil metabolism oksidatif : 300 ml
b. Rata-rata output cairan perhari :
1). Urine : 1-2 cc/kgBB/jam
2). Insensible water loss :
- dewasa : IWL = 10-15 cc/kgBB/hari
- anak-anak : IWL = 30-umur th cc/kgBB/hari
- bila ada kenaikan suhu : IWL = 200 (suhu sekarang sampai 36,8oC)
3). Feses : 100-200 ml