Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN INDIVIDU TUTORIAL

SKENARIO A BLOK 10
oleh Evlin Kohar / 04011181419064 / Kelas Beta, Kelompok 1
Learning Issue
Escherichia coli
Klarifikasi Escherichia coli
Menurut Songer dan Post (2005),
Kingdom : Bacteria
Filum

: Proteobacteria

Kelas

: Gamma Proteobacteria

Ordo

: Enterobacteriales

Famili

: Enterobacteriaceae

Genus

: Escherichia

Spesies

: Escherichia coli

Morfologi Escherichia coli


Bakteri E. coli merupakan spesies dengan habitat alami dalam saluran pencernaan
manusia maupun hewan. E. Coli merupakan famili Enterobacteriaceae yang termasuk bakteri
enterik. Bakteri enterik ialah bakteri yang bisa bertahan di dalam saluran pencernaan
termasuk struktur saluran pencernaan rongga mulut, esofagus, lambung, usus, rektum, dan
anus. E. coli bisa hidup sebagai bakteri aerob maupun bakteri anaerob. Oleh karena itu, E.
coli dikategorikan sebagai anaerob fakultatif.
Bakteri ini berbentuk batang, berukuran 0,4-0,7 x 1,0-3,0 m, termasuk gram
negatif, dapat hidup soliter maupun berkelompok, umumnya motil, tidak membentuk spora,
serta fakultatif anaerob.

Gambar 1. Bakteri E. coli

Gambar 2. Struktur E. coli

Gambar 3. E. coli dengan pili dan flagella


Struktur sel E. coli dikelilingi oleh membran sel, terdiri dari sitoplasma yang
mengandung nukleoprotein. Membran sel E. coli ditutupi oleh dinding sel berlapiskapsul.
Flagela dan pili E. coli menjulur dari permukaan sel. Tiga struktur antigen utama permukaan
yang digunakan untuk membedakan serotipe golongan E. coli adalah dinding sel, kapsul dan
flagela.
E. coli merupakan bakteri jenis gram negatif. E. coli bersifatkatalase positif, oksidasi
negatif, dan fermentatif. E. coli termasuk bakteri mesofilik dengan suhu pertumbuhannya dari
7 C sampai 50 C dan suhu optimum sekitar 37 C. E. coli dapat bertahan hingga suhu 60 C
selama 15 menit atau pada 55 C selama 60 menit. Laju pertumbuhan E. coli yaitu 25
jam/generasi pada suhu 8 C .
E. coli dapat tumbuh pada pH 4-9 dengan aktivitas air 0.935. pH optimum untuk
pertumbuhan Escherichia coli adalah 7,0 7,5.
Karakteristik Pertumbuhan Escherichia coli
E. coli secara khas memberikan hasil positif pada uji indol, lisin, dekarboksilase,
fermentasi manitol, serta menghasilkan gas dari glukosa. Suatu isolat dari urin dapat
diidentifikasi dengan cepat sebagai E. coli melalui gambaran hemolisis pada agar darah,
morfologi koloni yang khas dengan aneka-warna berkilau pada medium diferensial, seperti
pada agar EMB, dan uji bercak indol yang positif. Lebih dari 90% isolat E. coli memberikan
hasil positif untuk glukuronidase- dengan menggunakan substrat 4-methylumbelliferryl-glucuronide (MUG). Isolat dari lokasi anatomisnya selain urin, dengan sifat yang khas,
ditambah hasil pemeriksaan oksidase yang negatif, sering kali dapat dipastikan sebagai E.
coli dengan hasil pemeriksaan yang positif.
EMB Agar adalah media yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
bakteri coliform di dalam suatu sample. Media Eosin Methylene Blue Agar ini mempunyai

keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk membedakan mikroba yang


memfermentasikan laktosa.

Gambar 4. E. coli pada media EMB Agar


Pada EMB agar, laktosa merupakan karbohidrat, Dipotassium Phosphate merupakan
buffernya, sedangkan Eosin Y dan Methylene Blue merupakan indikatornya, dan berfungsi
untuk membantu mempertajam perbedaan warna. Metilen blue merupakan agen yang selektif.
Pada kondisi asam kuat, hasil pewarnaan pada beberapa bakteri fermentasi laktosa khusus,
seperti E. coli memberikan hasil berwarna hijau metalik atau kilat logam. Media ini sangat
baik untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli.
Kontaminasi Escherichia coli
Kontaminasi makanan:
1. Daging yang kurang matang
Saat ternak disembelih dan diproses, E. coli yang terdapat dalam usus masuk ke dalam
daging. Apabila daging tidak dimasak hingga 71C, bakteri dapat bertahan dan
menginfeksi seseorang saat makan daging tersebut. Beberapa makanan yang telah
mengalami kontak dengan daging ini juga dapat terinfeksi.
2. Susu Segar
E. coli dapat tumbuh pada susu yang mentah atau belum dipasteurisasi. Bakteri dalam
usus ternak dapat menyebar ke dalam susunya.
3. Buah dan Sayuran Mentah
Buah dan sayuran mentah, seperti selada, minuman sari buah yang tidak dipasteurisasi,
dapat mengalami kontak dengan feses binatang yang terinfeksi.
Air yang terkontaminasi:
Feses manusia dan hewan dapat mengotori tanah dan permukaan air, termasuk
sungai, danau, dan air yang digunakan untuk irigasi. Meskipun sistem air publik
menggunakan klorin, sinar ultraviolet atau ozone untuk membunuh E. coli. pada
beberapa kondisi, infeksi masih mungkin terjadi. Pada air sumur juga memiliki

kemungkinan terjangkit yang lebih besar karena tidak memiliki sistem desinfektan.
Perdesaan juga lebih banyak terkontaminasi. Infeksi akibat kolam berenang ataupun
danau juga dikontaminasi oleh feses.
Kontak Personal:
E. coli dapat secara mudah berpindah dari orang ke orang, terutama orang dengan
sanitasi rendah.
Patogenesis dan Gejala Klinis Escherichia coli
1. Infeksi saluran kemih
E. coli merupakan bakteri yang paling umum menyebabkan infeksi saluran kemih
dan menjadi penyebab sekitar 90% infeksi pertama saluran kemih pada perempuan muda.
Gejala dan tanda meliputi sering berkemih, disuria, hematuria, dan piuria. Nyeri pinggang
berkaitan dengan infeksi saluran kemih atas. Tidak ada gejala atau tanda tersebut yang
spesifik untuk infeksi E. coli. Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan bakteremia
dengan tanda klinis sepsis.
Sebagian besar infeksi saluran kemih yang mengenai kandung kemih atau ginjal
pada pejamu yang sebelumnya sehat disebabkan oleh sejumlah kecil tipe antigen O yang
telah merangkai dan memproduksi secara spesifik faktor virulensi yang memfasilitasi
kolonisasi dan selanjutnya menyebabkan infeksi klinis. Organisme tersebut dinamakan E.
coli uropatogenik.
2. Penyakit diare terkait E. coli
E. coli yang menyebabkan diare sangat umum ditemukan di seluruh dunia. E. coli
tersebut diklarifikasikan berdasarkan sifat virulensinya, dan tiap group menyebabkan
penyakit dengan mekanisme yang berbeda. Sifat perlekatan pada sel epitel usus besar atau
usus halus disandi oleh gen pada plasmid. Serupa hal tersebut, toxin seringkali
diperantarai oleh plasmid- atau fag-.
a. E. coli enteropatogenik (Enteropathogenic E. coliEPEC)
Merupakan penyebab diare yang penting bagi bayi, khususnya di negara
berkembang. EPEC melekat pada sel mukosa usus halus. Faktor yang disandi
kromosom memacu perlekatan yang erat. EPEC menyebabkan pendataran mikrovili,
pembentukan struktur mirip mangkok atau alas aktin filamentosa, dan terkadang
EPEC masuk ke dalam sel mukosa. Lesi yang khas dapat dilihat dengan mikrograf
elektron pada hasil biopsi lesi usus halus.
Akibat infeksi EPEC, terjadi diare cair dan biasanya sembuh spontan (Selflimited), tetapi dapat pula menjadi kronis. Diare EPEC telah dikaitkan dengan
berbagai serotipe spesifik E.coli. Galur diidentifikasi dengan menentukan tipe antigen
O dan sesekali antigen H.

Model infeksi

dua tahap menggunakan sel Hep-2 juga dapat dilakukan.

Pemeriksaan identifikasi EPEC dilakukan di laboratorium rujukan. Durasi diare EPEC


dapat dipersingkat dan diare kronis dapat disembuhkan dengan antibiotik.
b. E. coli enterotoksigenik (Enterotoxigenic E. coliETEC)
Merupakan penyebab Tourism Diarrhoea yang lazim dan penyebab diare
pada bayi di negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik bagi manusia
meningkatkan kelekatan ETEC ke epitel sel usus halus. Beberapa galur ETEC
menghasilkan eksotoksin labil-panas (heat-labile exotoxinLT) (BM 80.000) yang
secara genetik dikendalikan oleh plasmid. Subunit B melekat pada gangliosida GM 1 di
brush border sel epitel usus halus dan mempermudah masuknya subunit A (BM
26.000) ke dalam sel, yang kemudian mengaktifkan adenilat siklase.
Aktifnya Adenilat siklase meningkatkan konsentrasi siklik adenosin
monofosfat (cAMP) secara bermakna di tempat tersebut sehingga terjadi hipersekresi
air dan klorida yang sangat banyak dan terus menerus serta menghambat reabsorpsi
natrium. Lumen usus teregang oleh air kemudian terjadi hipermotilitas serta diare
yang berlangsung selama beberapa hari.
LT bersifat antigenik dan bereaksi silang dengan enterotoksin Vibrio cholerae.
LT merangsang pembentukan antibodi penetralisir dalam serum (dan mungkin pada
lumen usus) pada orang yang pernah terinfeksi ETEC. Orang yang tinggal di daerah
dengan prevalensi ETEC tinggi kemungkinan besar memiliki antibodi dan tidak
mudah mengalami diare jika terpajan ulang E. coli penghasil LT. Pemeriksaan LT
meliputi:
a. Akumulasi cairan dalam lumen usus hewan percobaan
b. Perubahan sitologi yang khas pada biakan sel ovarium hamster Cina atau
sel lainnya
c. Stimulasi produksi steroid dalam biakan sel tumor adrenal
d. Pemeriksaan ikatan dan imunologi dengan antiserum standar untuk LT.
Beberapa galur ETEC menghasilkan enterotoksin stabil-panas (heat-stable
enterotoxinSTa) (BM 15004000), yang dikendalikan secara genetik oleh
sekelompok plasmid yang heterogen. STa mengaktifkan guanilat siklase dalam sel
epitel usus dan merangsang sekresi cairan. Banyak galur STa positif juga
menghasilkan LT. Galur yang mempunyai dua macam toksin tersebut menyebabkan
diare yang lebih berat.
Plasmid yang membawa gen enterotoksin (LT, ST) juga mungkin membawa
gen faktor kolonisasi yang memfasilitasi perlekatan galur E.coli ke sel epitel usus.
Faktor kolonisasi yang telah dikenal terdapat dalam jumlah tertentu pada beberapa
serotipe. Sebagian serotipe ETEC ditemukan di seluruh dunia; serotipe lainnya

memiliki jumlah terbatas. Mungkin saja hampir seluruh E. coli memperoleh plasmid
penyandi enterotoksin. Tidak terdapat hubungan yang pasti antara ETEC dan galur
EPEC penyebab diare pada anak. Demikian pula tidak ada kaitan antara galur
enterotoksigenik dan galur yang mampu menginvasi sel epitel usus.
Perhatian dalam memilih dan mengonsumsi makanan yang berpotensi
terkontaminasi ETEC sangat dianjurkan untuk membantu mencegah diare pada turis.
Profilaksis antimikroba mungkin efektif, tapi dapat meningkatkan resistensi bakteri
terhadap antibiotik dan sebaiknya tidak dianjurkan secara umum. Jika telah terjadi
diare, terapi antibiotik efektif mempersingkat durasi penyakit.
c. E. coli penghasil toksin shiga (Shiga toxin producing E. coli STEC)
STEC atau Verocytoxin-producing Escherichia coli (VTEC) dinamakan untuk
toksin sitotoksik yang dihasilkan oleh E. coli tersebut. Sedikitnya terdapat dua bentuk
toksin antigenik, yang disebut sebagai toksin mirip-Shiga 1 dan toksin mirip-Shiga 2.
STEC telah dikaitkan dengan kolitis hemoragik, suatu bentuk diare yang berat, dan
dengan sindrom uremik hemolitik, suatu penyakit yang menyebabkan gagal ginjal
akut, anemia hemolitik mikroangiopati, dan trombositopenia. Toksin mirip-Shiga
memiliki banyak kemiripan sifat dengan toksin Shiga yang dihasilkan oleh beberapa
galur Shigella dysenteriae tipe 1, tetapi kedua toksin tersebut berbeda secara antigenik
dan genetik. Diantara serotipe E. coli penghasil toksin Shiga, O157:H7 merupakan
serotipe yang paling umum ditemukan dan satu-satunya yang dapat diidentifikasi
dalam spesimen klinis. STEC O157:H7 tidak menggunakan sorbitol, berbeda dari
kebanyakan E. coli lainnya dan tidak tumbuh pada agar sorbitol MacConkey
(menggunakan sorbitol sebagai pengganti laktosa); galur 0157:H7 juga memberikan
hasil negatif pada uji MUG. Banyak serotipe non-O157 bersifat sorbitol-positif jika
dibiakkan. Antiserum spesifik digunakan untuk mengidentifikasi galur O157:H7.
Pemeriksaan toksin Shiga yang menggunakan enzyme imunoassay yang tersedia
secara komersial telah dilakukan di banyak laboratorium. Metode pemeriksaan lain
yang sensitif meliputi pemeriksaan sitotoksin pada biakan sel menggunakan sel Vero
dan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi langsung gen toksin dari
sampel feses. Banyak kasus kolitis hemoragik dan komplikasinya dapat dicegah
dengan memasak daging hingga matang.
d. E. coli enteroinvasif (enteroinvasive E. coli EIEC)
E. coli enteroinvasif menyebabkan penyakit yang sangat mirip dengan
shigelosis. Penyakit tersebut paling umum terjadi pada anak-anak di negara

berkembang dan pada turis yang berpergian ke daerah tersebut. EIEC menyebabkan
penyakit dengan cara menginvasi epitel mukosa usus.
e. E. coli enteroagregatif (enteroaggregative E. coli EAEC)
E. coli enteroagregatif menyebabkan diare akut dan kronik (durasi >14 hari)
pada masyarakat di negara berkembang. Organisme ini juga merupakan penyebab
penyakit yang ditularkan melalui makanan di negara maju. Galur E. coli ini ditandai
oleh pola perlekatannya yang khas pada sel manusia. EAEC menghasilkan toksin
mirip-ST dan hemolisin.
Tabel 1. Mekanisme Patogenesis dan Tipikal Sindrom Klinis dari E. coli
Pathotyp
e
ETEC
EAEC

EPEC

EIEC
STEC

DAEC

Mekanisme Patogenesis

Tipikal Sindrom Klinis

Produksi enterotoksin labil panas dan


enterotoksin stabil panas
Menempel pada usus halus dan
kolon, memproduksi enterotoksin
dan sitotoksin
Menempel pada usus halus dan sel
epitel dengan media intimin

Diare air akut, afebril, kadangkadang berat


Diare air dan berdarah, persisten,
biasanya terjadi pada anak-anak
yang mengalami diare persisten
Diare air dan berdarah yang akut
dan parah, dapat persisten, biasanya
pada balita di negara berkembang
Menempel, menginvasi mukosa dan Diare air, seperti disentri, demam
menyebabkan inflamasi kolon
Menempel pada kolon (sering Diare air yang sering berlanjut ke
dimediasi
oleh
intimin), diare berdarah dalam 1- hari, sakit
memproduksi Shiga toxin 1, Shiga ketika
defekasi,
kelunakan
toxin 2
abdominal, BAB lebih dari 5 kali
dalam 24 jam
Penyebaran penempelan ke sel epitel Diare air, namun secara patogenitas
belum ditemukan lebih lanjut.

3. Sepsis
Jika pertahanan normal pada penjamu tidak adekuat, E. coli dapat masuk ke aliran
darah dan menyebabkan sepsis. Neonatus sangat rentan karena tidak punya IgM. Sepsis
juga bisa terjadi akibat infeksi saluran kemih.
4. Meningitis
E. coli bisa menyebabkan meningitis pada janin. Sekitar 75% E. coli penyebab
meningitis memiliki antigen K1.

Masa inkubasi bakteri E. coli sekitar 1-10 hari, sedangkan durasi infeksi sekitar 5-10
hari, kebanyakan akan pulih dalam 6-8 hari. Dalam HUS, biasanya setelah sekitar 1 minggu.
Gejala Klinis Infeksi E. coli, antara lain,
1. Nausea
2. Keram abdomen parah, terjadi secara tiba-tiba
3. Diare, terjadi beberapa saat setelah keram abdomen, biasanya diare berbentuk cair. Pada
beberapa kasus dapat terjadi BAB darah yang disebabkan oleh luka pada usus.
4. Fatigue, diare menyebabkan dehidrasi sehingga pasien merasa sakit dan lelah.
5. Demam, namun tidak semua penderita mengalami demam
Struktur Antigen Escherichia coli
Tigastruktur antigen utama permukaan yang digunakan untuk membedakan serotipe
golongan E. coli adalah dinding sel, kapsul dan flagela. Dinding sel

E. coli

berupa

lipopolisakarida yang bersifat pirogen dan menghasilkan endotoksin serta diklasifikasikan


sebagai antigen O. Antigen O tersusun atas lipopolisakarida dinding sel dan tersusun atas unit
berulang polisakarida. Antigen O bersifat resisten terhadap panas dan alkohol dan biasanya
terdeteksi melalui aglutinasi bakteri. Antibodi terhadap antigen O yang paling utama adalah
IgM. Grup O spesifik E. coli ditemukan pada diare dan infeksi saluran kemih.
Kapsul E. coli

berupa polisakarida yang dapat melindungi membran luar dari

fagositik dan sistem komplemen, diklasifikasikan sebagai antigen K. Umumnya antigen K


terletak diluar antigen O, namun tidak pada semua Enterobacteriaceae. Pada E. coli, antigen
K merupakan polisakarida, sedangkan pada yang lainnya merupakan protein. Antigen K
dapat mengganggu aglutinasi oleh antiserum O, dan antigen ini mungkin berkaitan dengan
virulensi, misalnya pada galur E. coli penghasil antigen K1 banyak ditemukan pada
meningitis neonatorum, dan antigen K E. coli menyebabkan perlekatan bakteri ke sel epitel
sebelum menginvasi saluran cerna atau saluran kemih.
Flagela E. coli terdiri dari protein yang bersifat antigenik dandikenal sebagai antigen
H. Antigen H dapat terdenaturasi oleh panas dan alkohol. Antigen H beraglutinasi dengan
antibodi anti-H, terutama IgG. Penentu pada antigen H adalah fungsi susunan asam amino
pada protein flagella (flagellin). Faktor virulensi E. coli juga disebabkan oleh enterotoksin,
hemolisinkolisin, siderophor, dan molekul pengikat besi (aerobaktin dan entrobaktin).
Faktor Resiko Escherichia coli
1. Usia. Anak kecil dan manula lebih beresiko mengalami infeksi E. coli dan dapat
mengalami komplikasi yang lebih serius dari infeksi.

2. Sistem imun yang melemah. Seseorang dengan penurunan sistem imun, seperti AIDS,
pemakai obat-obatan untuk kanker, obat untuk transplantasi organ, lebih mudah
terinfeksi E. coli.
3. Makan makanan yang belum matang
4. Penurunan pH asam lambung. Asam lambung membantu proteksi tubuh terhadap E. coli.
Penggunaan obat seperti esomeprazole, pantoprazole, lansoprazole, dan omeprazole
dapat meningkatkan resiko terinfeksi E. coli akibat penurunan asam lambung. Dapat pula
akibat operasi pada lambung yang menyebabkan penurunan pH asam lambung.
Diagnosis Escherichia coli
Diagnosis dapat dilakukan dengan mengidentifikasi tanda, gejala, serta melakukan tes
laboratorium melalui sampel feses. Pemeriksaan laboratorium dapat melalui media EMB
agar.
Epidemiologi Escherichia coli

Gambar 5. Penyebaran Infeksi Escherichia coli atau Travelers Disease


Penanganan Escherichia coli
Untuk infeksi E. coli, biasanya penanganannya dilakukan dengan istirahat dan cairan
untuk menghindari dehidrasi dan fatigue. Menghindari penggunaan obat anti-diarrheal karena
dapat menyebabkan perlambatan sistem digestivus, sehingga pembuangan toksin menjadi
lebih lambat. Antibiotik tidak diberikan karena dapat meningkatkan resiko komplikasi yang
serius.
Pencegahan Escherichia coli

1. Menghindari makanan yang tidak matang, susu yang tidak dipasterisasi, buah dan sayur
yang tidak steril
2. Memasak daging hingga mencapai suhu 160F
3. Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, kontak dengan hewan, makanan hewan,
atau lingkungan hidup hewan, serta setelah mengganti popok bayi.
Travelers Diarrhea
TD sering terjadi pada turis. Biasanya terjadi pada turis yang datang ke negara
berkembang, seperti Amerika Latin, Afrika, Asia, dan Eropa Tengah. Secara umum terjadi
akibat makanan dan air yang terkontaminasi feses. Penyebab utama TD adalah ETEC (bakteri
enterotoxigenic).

Gambar 6. Patogenesis Travelers Diarrhea


Penanganan biasanya dengan minum yang banyak dan istirahat, tidak ada
penanganan melalui pengobatan secara khusus. Penanganan lain dapat dilakukan dengan
Pepto-Bismol (2 tablet, 4 kali sehari), tergolong efektif, mengurangi diare dan durasi
penyakit, namun tidak boleh dikonsumsi lebih dari tiga minggu dalam sekali waktu. PeptoBismol memiliki efek samping seperti menghitamnya lidah dan feses, nausea, konstipasi, dan
jarang terjadi dengungan pada telinga. Obat ini tidak boleh dikonsumsi untuk orang yang
alergi aspirin, renal insufficiency, gout, atau mengonsumsi anticoagulan, probenecid,
methotrexate.

Interpretasi Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksaan Laboratorium secara mikroskopis terlihat amoeba negatif, yang berarti
tidak ada bentuk amoeboid dalam pemeriksaan secara mikroskopis. Darah samar digunakan
untuk memeriksa apakah ada darah pada feses pasien, darah samar negatif berarti dalam feses
pasien tidak terdapat darah.
Pada kultur feses, dilakukan pemeriksaan dengan media endo dan media TCBS.
EMB Agar atau endo agar adalah media yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
bakteri coliform di dalam suatu sample. Media Eosin Methylene Blue Agar ini mempunyai
keistimewaan mengandung laktosa dan berfungsi untuk membedakan mikroba yang
memfermentasikan laktosa. EMB agar atau media endo biasanya digunakan untuk
mendeteksi E. coli. Apabila kultur positif E. coli maka akan menghasilkan bentuk warna hijau
kilat logam.
Thiosulphate Citrate Bile Salts Sucrose Agar ( TCBS Agar ) adalah media
mikrobiologi yang digunakan untuk isolasi secara selektif serta proses kultivasi dari Vibrio
Cholera dan Vibrio enteropathogenik lainnya yang menyebabkan keracunan pada makanan.
Hasil menunjukkan kolera negatif berarti dalam feses tidak mengandung bakteri kolera.

Gambar 7. Kolera positif dalam TCBS

Gambar 8. E. Coli positif dalam EMB

Analisis Masalah
a. Bagaimana pathogenesis diare olehE.coli?
Tambahan: Patogenitas
Bakteri ini merupakan sebagian besar flora normal dalam usus yang bersifat
aerob, umumnya tidak menyebabkan penyakit melainkan dapat membantu fungsi
humoral dan nutrisi. organisme ini dapat menjadi patogen apabila mencapai jaringan
diluar saluran pencernaan khususnya saluran air kemih, saluran empedu, paru, dan
pada selaput otak yang menyebabkan peradangan. Hal ini dapat terjadi bila daya tahan

tubuh lemah, daya tahan tubuh tidak cukup, khususnya pada bayi yang baru lahir, usia
tua, pada stadium penyakit lain, setelah menjadi patogen pada usus, dapat
menyebabkan diare.
b. Apa saja jenis-jenis infeksi dari E.coli? (Epec,etecdll)
1. E. coli enteropatogenik (Enteropathogenic E. coliEPEC)
2. E. coli enterotoksigenik (Enterotoxigenic E. coliETEC)
3. E. coli penghasil toksin shiga (Shiga toxin producing E. coli STEC)
4. E. coli enteroinvasif (enteroinvasive E. coli EIEC)
5. E. coli enteroagregatif (enteroaggregative E. coli EAEC)
Namun, yang cenderung terjadi pada turis adalah jenis ETEC.
c. Apakah bentuk pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui jenis infeksi dari E.coli?
Pemeriksaan laboratorium melalui EMB agar atau endo agar dari sampel
feses untuk menentukan jenis bakteri yang menginfeksi. Secara khusus, bakteri E.
coli akan menghasilkan warna hijau metalik atau kilat logam pada media tersebut
sebagai hasil fermentasi laktosanya.

Daftar Pustaka
R., Ahmad Marzuki.2013. "Studi Karakterisasi Bakteri Eschericia coli di Laboratorium Kesehatan,
Lumajang". https://www.academia.edu/4139114/e.coli, diunduh pada 8 September 2015, pukul
17.27 WIB
tt. "BAB II TINJAUAN PUSTAKA". http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/23/jtptunimus-gdl-s12008-worosusant-1124-3-bab2.pdf, diunduh pada 8 September 2015, pukul 17.29 WIB
Yusuf, A.. 2012. "Tingkat Kontaminasi Escherichia Coli pada Susu Segar di Kawasan Gunung Perak,
Kabupaten Sinjai". http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/ 123456789/1712/TINGKAT
%20KONTAMINASI%20Escherichia%20coli%20PADA%20SUSU%20SEGAR%20DI
%20KAWASAN%20GUNUNG%20PERAK,%20KABUPATEN%20SINJAI%20(2).docx?
sequence=2, diunduh pada 8 September 2015, pukul 17.40 WIB
Popo, James. tt. "EMB Agar". https://www.academia.edu/8877799/EMB_Agar, diunduh pada 8
September 2015, pukul 18.28 WIB
ASM Microbe Library. 2007. "Eosin-MEthylene Blue". http://www.microbelibrary.org/
component/resource/laboratory-test/2871-eosin-methylene-blue, diunduh pada 8 September
2015, pukul 18.25 WIB
Neogen Corporation. 2011. "Eosin Methylene Blue Agar, Levine (7103). http://www.neogen.
com/Acumedia/pdf/ProdInfo/7103_PI.pdf, diunduh pada 8 September 2015, pukul 18.26 WIB
Nguyen, Y. dan Vanessa Sperandio. 2012. "Enterohemorrhagic E. coli (EHEC) pathogenesis".
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3417627/, diunduh pada 8 September 2015,
pukul 20.28 WIB
Mody, Rajal dan Ciara E. O'Reilly. 2015. "Escherichia coli". http://wwwnc.cdc.gov/travel/
yellowbook/2016/infectious-diseases-related-to-travel/escherichia-coli, diunduh pada 8
September 2015, pukul 20.25 WIB
Centers for Disease Control and Prevention. "General Information". http://www.cdc.gov/ ecoli
/general/index.html, diunduh pada 8 September 2015, pukul 21.07 WIB
Baratawidjaja, Karnen Garna dan Iris Rengganis. 2014. IMUNOLOGI DASAR EDISI KE-11
(CETAKAN KE-2). Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
WebMD. 2014. "E. coli Infection From Food or Water". http://www.webmd.com/a-to-z-guides/e-coliinfection-topic-overview, diunduh pada 8 September 2015, pukul 21.14 WIB
MNT. 2015. "E. Coli Infections: Causes, Symptoms and Treatments". http://www.medical
newstoday.com/articles/68511.php, diunduh pada 8 September 2015, pukul 21.25 WIB
MedlinePlus. tt. "E. Coli Infections". https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ecoliinfections. html,
diunduh pada 8 September 2015, pukul 21.29 WIB
Mayo Clinic Staff. 2014. "E. coli; Treatment and drugs". http://www.mayoclinic.org/diseases
-conditions/e-coli/basics/treatment/con-20032105, diunduh pada 8 September 2015, pukul
21.40 WIB
Foodsafety.gov. tt. "E. coli". http://www.foodsafety.gov/poisoning/causes/bacteriaviruses/
ecoli/,diunduh pada 8 September 2015, pukul 21.47 WIB
WebMD. tt. "Traveler's Diarrhea". http://www.webmd.com/digestive-disorders/travelers-diarrhea,
diunduh pada 8 September 2015, pukul 22.17 WIB
2006. "Travelers' Diarrhea". http://www.cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/travelersdiarrhea_ g.htm,
diunduh pada 8 September 2015, pukul 22.06 WIB
Copernicus. 2014. "INFORMASI LENGKAP DAN DETAIL TENTANG THIOSULPHATE
CITRATE BILE SALTS SUCROSE AGAR (TCBS AGAR)". http://alatalat
laboratorium.com/LaboratoriumMikrobiologi/thiosulphate-citrate-bile-salts-sucrose-agar-tcbsagar, diunduh pada 8 September 2015, pukul 22.04 WIB
tt. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/6/jtptunimus-gdl-s1-2008khoirulyus-256-2-bba2.pdf, diunduh pada 8 September 2015, pukul 22.00 WIB