Anda di halaman 1dari 33

STEP 1

Instabilitas genomik ketidak stabilan


gen penurun, biasanya kekurangan atau
kelebihan
STEP2
1.
Apa hubungan intoksikasi logam
berat dg keluhan sekarang?
2.
Mengapa anak tsb g mau main dg
anak2 didaerah sekitarnya?
3.
Mengapa kemampuan bicaranya
terdapat gangguan?
4.
Definisi gangguan perkembangan
dan tahap perkembangan?
5.
Etiologi dalam gangguan
perkembangan?
6.
Apa terapi masing2 gangguan yg
tersebut di skenario?
7.
Bagaiman perkembangan anak
normal?
8.
Kriteria dx?
9.
DD?(paket lengkap)
STEP3
1.
Bagaimana perkembangan anak
normal?

Menurut Harlimsyah (2007) perkembangan anak adalah segala


perubahan yang terjadi pada diri anak dilihat dari aspek antara lain aspek
fisik (motorik), emosi, kognitif dan personal sosial (bagaimana anak berinteraksi
dengan lingkungan ). Aspek yang diketahui oleh orang tua
yaitu: perkembangan fisik, perkembangan emosi, perkembangan kognitif
dan perkembangan personal sosial.

a. Aspek Perkembangan Kognitif


Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah: (1)
Tahap sensorimotor, usia 0 2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas
pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat
saja;
(2) Tahap pra-operasional, usia 2 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima
rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya,
walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi
waktu dan tempat masih terbatas; (3) Tahap konkret operasional, 7 11 tahun.
Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan,
memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi; (4) Tahap formal
operasional, usia 11 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir
tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa anak usia dini berada dalam
tahap sensori motor dan pra-operasional. Pada tahap sensori motor ini
kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu
sekarang
dan ruang yang dekat saja. Sedangkan anak yang duduk di Taman Kanak-Kanak
berada dalam fase pra-operasional.
Suatu fase perkembangan kognitif yang ditandai dengan berfungsinya
kemampuan berpikir secara simbolis. Refleksi dari kemampuan berpikir ini
dapat dilihat dari kemampuan anak untuk membayangkan benda-benda yang

berada di sekitarnya secara mental. Kemampuan berpikir secara intuitif dan


berpusat pada cara pandang anak itu sendiri atau egosentris.
Vygotsky memandang bahwa system social sangat penting dalam
pengembangan kognitif anak, orangtua, guru, teman berinteraksi dengan anak
dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi
dalam konteks social dan muncul suatu istilah zona perkembangan
Proximal/Zona Proximal Development (ZPD). ZPD diartikan sebagai daerah
potensial seseorang anak untuk belajar atau suatu tahap dimana kemampuan
anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang lain yang lebih ahli (Papalia,
2008:56). Dalam tahap perkembangan selanjutnya, proses belajar anak usia dini
dilakukan secara bertahap (scaffolding) yang membantu anak membangun
pengetahuan sebelumnya dan menginternalisasi informasi baru baru. Dengan
demikinan anak belajar secara bertahap sesuai dengan kemampuannya.
b. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan
jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi
(Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik
kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun
lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi
perkembangan motorik halus. Menurut Papalia (2008) tulang dan otot anak
prasekolah semakin kuat, dan kapasitas paru mereka semakin besar
memungkinkan mereka untuk berlari, melompat, dan memanjat lebih cepat,
lebih jauh, dan lebih baik.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti
berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan
itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah
dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk
beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko

dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri


melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari
kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya
(Santrock,1995: 225)
Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak telah semakin
meningkat dan menjadi lebih tepat. Kadang-kadang anak-anak usia 4 tahun sulit
membangun menara tinggi dengan balok karena mereka ingin menempatkan
setiap balok secara sempurna, mereka mungkin tidak puas atas balok-balok
yang
telah disusun. Menurut Santrock (1995) pada usia 5 tahun, koordinasi motorik
halus anak-anak semakin meningkat. Tangan, lengan, dan tubuh bergerak
bersama di bawah komando yang lebih baik dari mata.
c. Aspek Perkembangan Bahasa
Menurut penelitian para ahli Carnegie Corporation (Jalongo, 2007)
menyatakan bahwa pengembangan fungsi otak lebih cepat dan luas sepanjang
tahun pertama kehidupan anak, jadi lingkungan yang tidak cocok sangat
merugikan perkembangan anak. Hayes & Ahrens (Jalongo, 2007) mengatakan
seorang anak telah menguasai beberapa ribu atau kurang lebih meliputi 90%
kata-kata dari percakapan yang didengar secara teratur.
Hart & Risley (Morrow, 1993) mengatakan umur 2 tahun, anak-anak
memproduksi rata-rata dari 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap
jam,
cakupan lebih luas adalah antara rentangan 42 sampai 672. 2 tahun lebih tua
anak-anak dapat mengunakan kira-kira 134 kata-kata pada jam yang berbeda,
dengan rentangan 18 untuk 286. Membaca dan menulis merupakan bagian dari
belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal
beberapa
kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin
banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca
buku

cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi
bahasa.
Periode 5-6 tahun menurut Seefeldt dan Barbour (1998: 40-52)
perkembangan kognitif termasuk bahasa ditandai dengan : adanya minat yang
tinggi pada huruf-huruf dan angka, senang menyenangi alam, dapat mengingat
kembali pengertian berdasarkan kata-kata, tulisan huruf tidak sama atau biasa
saja, kosa kata yang dimiliki lebih dari 2500 kata, mengalami kesulitan untuk
mengucapkan huruf r atau sh diakhir kata, sering salah pengertian dalam
penggunaan kata dan bergerak dari fantasi ke dunia nyata atau realitis.
Halliday (Jaggar dan Smith,1985:16) menyimpulkan bahwa orang
dewasa dan saudara yang lebih tua perlu menyesuaikan diri dengan anak
terutama dalam proses perolehan bahasa anak. Ia menyatakan bahwa guru
mempunyai peranan penting dalam perkembangan bahasa anak terutama ketika
anak mengalami kegagalan di sekolah, maka guru harus banyak memahami
anak
untuk menemukan cara baru dalam pembelajaran bahasa.
d. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang
terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock
(1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan
penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak
mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli
psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak: (1) Tahap 1: Basic
Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam
merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan
tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan
akan menimbulkan rasa curiga; (2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt
(mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan

meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila
sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa
otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu
banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu; (3)
Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun. Pada masa
ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat
bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang
tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa
bersalah; (4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri),
usia 6 tahun pubertas. Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas
perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki
suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan
tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai,
menimbulkan rasa rendah diri.

Dalam Pembahasan mengenai Perkembangan anak ini, disini akan dibahas beberapa
diantaranya, antara lain :
1.
a. Perkembangan Psikoseksual ( Freud)
Freud mengemukakan bahma perkembangan psikoseksual anak terdiri atas :
1.
Fase oral (0-11 bulan)
Selama masa bayi, sumber kesenangan anak berpusat pada aktifitas oral : mengisap,
mengigit, mengunyah, dan mengucap serta ketergantungan yang sangat tinggi dan
selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman.
1.
Fase anal (1-3 tahun)
Kehidupan anak berpusat pada kesenangan anak terhadap dirinya sendiri, sangat
egoistik, mulai mempelajari struktur tubuhnya. Pada fase ini tugas yang dapat
dilaksanakan anak adalah latihan kebersihan. Anak senang menahan feses, bahkan
bermain-main dengan fesesnya sesuai dengan keinginanya. Untuk itu toilet
training adalah waktu yang tepat dilakukan dalam periode ini.
1.
Fase phalik/oedipal ( 3-6 tahun )

Kehidupan anak berpusat pada genetalia dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai
suka pada lain jenis. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin.
Anak mulai memahami identitas gender ( anak sering meniru ibu atau bapak dalam
berpakaian).
1.
Fase laten (6-12 tahun)
Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak akan menggunakan energi fisik dan
psikologis untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas
fisik maupun sosialnya. Pada awal fase laten ,anak perempuan lebih menyukai teman
dengan jenis kelamin yang sama, demikian juga sebaliknya.
1.
Fase genital (12-18 tahun).
Kepuasan anak akan kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta yang
matang terhadap lawan jenis.
1.

b.

Perkembangan Psikososial ( Erik Erikson )


A.
Percaya versus tidak percaya (0-1 tahun)
Pada tahap ini bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua
maupun org yang mengasuhnya ataupun perawat yang merawatnya.
1.
Tahap otonomi versus rasa malu dan ragu (1-3 tahun)
Anak sudah mulai mencoba dan mandiri dalam tugas tukem seperti dalam motorik
kasar,halus : berjinjit , memanjat, berbicara. Sebaliknya perasaan malu dan ragu
akan timbul apabila anak merasa dirinya terlalu dilindungi atau tidak diberikan
kemamdirian atau kebebasan anak dan menuntut tinggi harapan anak.
1.
Tahap inisiatif versus rasa bersalah (3 6 tahun ).
Anak akan mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam
melakukan aktifitasnya melalui kemampuan indranya. Hasil akhir yang diperoleh
adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu sebagai prestasinya. Apabila
dalam tahap ini anak dilarang atau dicegah maka akan timbul rasa bersalah pada diri
anak.
1.
Industry versus inferiority (6-12 tahun)
Anak akan belajar untuk bekerjasama dan bersaing dalam kegiatan akademik
maupun dalam pergaulan melalui permainan yang dilakukan bersama. Anak selalu
berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan sehingga anak pada usia ini rajin
dalam melakukan sesuatu. Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan

dari lingkunganya dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul
rasa inferiorty ( rendah diri ).Reinforcement dari orang tua atau orang lain menjadi
begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan sesuatu.
1.
Tahap identitas dan kerancuan peran ( 12-18 tahun)
Pada tahap ini terjadi perubahan dalam diri anak khususnya dalam fisik dan
kematangan usia, perubahan hormonal, akan menunjukkan identitas dirinya seperti
siapa saya kemudian. Apabila kondisi tidak sesuai dengan suasana hati maka dapat
menyebabkan terjadinya kebingungan dalam peran.
1.

c.

Perkembangan Kognitif ( Piaget )


A.
Tahap sensorik motorik (0-2 tahun)
Anak mempunyai kemampuan dalam mengasimilasi dan mengakomodasi informasi
dengan cara melihat, mendengar,menyentuh dan aktifitas motorik. Semua gerakan
akan diarahkan kemulut dengan merasakan keingintahuan sesuatu dari apa yang
dilihat didengar,disentuh.

1.
Tahap praoperasional ( 2-7 tahun)
Perkembangan anak masih bersifat egosentrik. Pikiran anak bersifat transduktif :
menggangap semua sama , contohnya : seorang pria di keluarga adalah ayah, maka
semua pria itu adalah ayah). Pikiran anak bersifat animisme : selalu memperhatikan
adanya benda mati, contohnya : apabila anak terbentur benda mati maka anak akan
memukulnya kearah benda tersebut.
1.
Tahap Kongkret (7-11 tahun)
Pemikiran anak meningkat atau bertambah logis dan koheren. Kemampuan berpikir
anak sudah operasional, imajinatif dan dapat menggali objek untuk memecahkan
suatu masalah.
1.
Tahap operational ( 11 -15 tahun)
Anak dapat berpikir dengan pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan
menggambarkan kesimpulan yang logis. Anak dapat membuat dugaan dan
mengujinya dengan pemikiran yang abstrak,teoritis dan filosofis. Pola berfikir logis
membuat mereka mampu berfikir tentang apa yang orang lain juga memikirkannya
dan berfikir untuk memecahkan masalah.
Zulkifli, Psikologi Perkembangan 2009, 4.

2.

Definisi gangguan perkembangan?

Gangguan

Perkembangan

Pervasif

(Pervasive

Developmental

Disorders /PDD) terdiri dari beberapa jenis di antaranya adalah:


1) Autism
2) Aspergers
3) Retts
4) Childhood Disintegrative Disorder (CDD)
5) Gangguan pervasive opada masa kanak-kanak (Pervasive
Developmental Disorder) or Not Otherwise Specified (PDD:NOS)
DSM-IV

3.
Etiologi dalam gangguan
perkembangan?
Etiologi
Kondisi genetik ( kromosom dan bawaan )
Pemaparan pranatal dengan infeksi dan toksin rubella,
penyakit

inklusi

sitomegali,

sifilis,

toxoplasmosis,

herpes

simpleks, AIDS, sindroma alkohol janin, pemaparan zat pranatal


( opiat dan heroin )
Trauma perinatal ( seperti prematuritas ) bayi prematur dan
bayi dengan berat badan lahir rendah berada dalam risiko
tinggi

mengalami

gangguan

neurologis

dan

intelektual.

Perdarahan intrakranial atau tanda2 iskemik serebral terutama


rentan terhadap kelainan kognitif
Kondisi yang didapat infeksi, trauma kepala, masalah lain
Faktor sosiokultural
Sinopsis Psikiatri, Kaplan dan Sadock

4.
Apa hubungan pengaruh zat kimia,
infeksi, dan genetik dg gangguan
perkembangan?

Gangguan pada sistem syaraf.


Anak anak lebih peka terhadap paparan Pb, utamanya organ
otak lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan pada orang
dewasa. Paparan menahun dengan Pb dapat menyebabkan lead
encephalopathy. Gambaran klinis yang timbul adalah rasa
malas, gampang tersinggung, sakit kepala, tremor, halusinasi,
gampang lupa, sukar konsentrasi dan menurunnya kecerdasan
Anak-anak lebih rentan terhadap pengaruh yang merugikan dari timah
daripada orang dewasa. Paparan timah pada usia 28 minggu masa
kehamilan bertepatan dengan waktu perkembangan neurologik yang
kritis, secara potensial memiliki pengaruh yang tetap walaupun kadarnya
rendah sekalipun. Risiko anak terhadap keracunan timah berhubungan
dengan saat mulai belajar merangkak, berjalan dan aktivitas tangan-kemulut. Kadar timah darah mencapai puncak pada usia 18-30 bulan dan
akan menurun secara berangsur-angsur pada anak belajar berjalan
(toddler) dan usia sekolah.4
Timah adalah zat neurotoksik, sangat mempengaruhi
perkembangan sistem saraf. Anak lebih rentan terhadap paparan timah
yang akhirnya mengakibatkan anak lebih tinggi mengabsorsi timah
daripada orang dewasa. Pada hewan percobaan yang keracunan timah
paparan timah berhubungan dengan transmisi sinyal pada sinaps dan
menganggu molekul adhesi sel, menyebabkan gangguan pada migrasi sel
selama waktu yang kritis dari perkembangan sistem syaraf. Gangguan
ekspresi subunit N-methyl-D-aspartate receptor (NMDAR) dan NMDARmediated calcium signaling pada sinaps glutamatergik yang dianggap
sebagai mekanisme utama defisit yang disebabkan timah pada plastisitas
sinaptik dan pada defisit proses belajar dan memori.4
Efek neurologikal klinis yang berhubungan dengan paparan timah
sering terjadi secara kompleks. Defisit yang terjadi dilaporkan adalah
pada IQ verbal, kepandaian akademik IQ seperti membaca dan
matematika, keahlian visuo-spatial, kemampuan menyelesaikan masalah,
ketrampilan gerak dan gerakan halus, kepandaian bahasa dan memori.
Paparan timah dilaporkan oleh para peneliti sangat mempengaruhi
perkembangan kognitif pada anak sampai dengan terjadinya retardasi
mental.4
Timah memasuki seluruh jaringan tubuh, didistribusikan melalui
pembuluh darah, salah satunya menuju ke otak. Timah di susunan saraf
pusat meningkatkan permeabilitas blood brain barrier (BBB)
mengakibatkan penumpukan di otak .12 Lokasi penumpukan timah di otak
girus frontal inferior kiri, girus frontal medial kiri dan kanan, seperti
terlihat pada gambar di bawah ini (Gambar 3). Sel-sel mengabsorbsi

timah melalui jalur yang sama dengan ion kalsium dan mengatur aktivitas
jalur tersebut untuk menyerap lebih banyak timah dalam sel.13

Gambar 2. Gambaran MRI anak yang terpapar timah dengan


lokasi girus frontal inferior kiri, girus temproral medial kiri
dan kanan. (Dikutip dari Yuan W dkk.,2006)

Intoksikasi logam beratdefek SSPgangguan pada pusat sensorium


dan pusat memorysulit mengenal warna, mengerti aturan bermain,
nama benda, sulit mengingat nama binatang dan orang.
Maramis,

W.

F.

(1995).

Ilmu

Kedokteran

Jiwa.

Surabaya:

Airlangga Univesity Press.

5.
Mengapa anak tsb g mau main dg
anak2 didaerah sekitarnya?
6.
Mengapa anak tersebut sering
sakit2tan?
Keracunan logam berat juga dapat menyebabkan masalah pada
sistem organ tubuh. Misalnya, keracunan merkuri dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan sel-sel imun dalam tubuh,
mengganggu respon imun terhadap makanan

Cara kerja antioksidant dalam membersihkan radikal bebas. Courtesy :


htt[://www.matchaorganictea.com
Sumber : Terapi Makanan Anak Dengan Gangguan AutismePenulis :
Tuti Soenardi, Susirah SoetardjoPenerbit : PT. Penerbitan Sarana
Bobo

7.
Mengapa kemampuan bicaranya
terdapat gangguan?
Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat banyak dan luas,
semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus
impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Berikut ini
adalah beberapa penyebab gangguan bicara. Gangguan bicara pada
anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu
beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik
lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan penyebab gangguan
bicara
adalah
adanya
gangguan
hemisfer
dominan.
Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak
juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus
kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan.
Hal lain dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti
lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau
pemakaian 2 bahasa. Namun bila penyebabnya karena lingkungan
biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat. Adapun
beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah
sebagai berikut:

GANGGUAN PENDENGARAN.
Anak yang mengalami gangguan pendengaran kurang mendengar
pembicaraan disekitarnya. Gangguan pendengaran selalu harus
difikirkan bila ada keterlambatan bicara. Terdapat beberapa penyebab
gangguan pendengaran, bisa karena infeksi, trauma atau kelainan
bawaan. Infeksi bisa terjadi bila mengalami infeksi yang berulang pada
organ dalam sistem pendengaran. Kelainan bawaan biasanya karena
kelainan genetik, infeksi ibu saat kehamilan, obat-obatan yang
dikonsumsi ibu saat hamil, atau bila terdapat keluarga yang
mempunyai riwayat ketulian. Gangguan pendengaran bisa juga saat
bayi bila terjadi infeksi berat, infeksi otak, pemakaian obat-obatan
tertentu atau kuning yang berat (hiperbilirubin). Pengobatan dengan
pemasangan alat bantu dengar akan sangat membantu bila kelainan
ini dideteksi sejak awal. Pada anak yang mengalami gangguan
pendengaran tetapi kepandaian normal, perkembangan berbahasa
sampai 6-9 bulan tampaknya normal dan tidak ada kemunduran.
Kemudian menggumam akan hilang disusul hilangnya suara lain dan
anak tampaknya sangat pendiam. Adanya kemunduran ini juga
seringkali dicurigai sebagai kelainan saraf degeneratif.
KELAINAN ORGAN BICARA.
Kelainan ini meliputi lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan mandibula
(rahang bawah), kelainan bibir sumbing (palatoschizis/cleft palate),
deviasi septum nasi, adenoid atau kelainan laring. Pada lidah pendek
terjadi kesulitan menjulurkan lidah sehingga kesulitan mengucapkan
huruf t, n dan l. Kelainan bentuk gigi dan mandibula
mengakibatkan suara desah seperti f, v, s, z dan th.
Kelainan bibir sumbing bisa mengakibatkan penyimpangan resonansi
berupa rinolaliaaperta, yaitu terjadi suara hidung pada huruf
bertekanan tinggi seperti s, k, dan g.
KETERLAMBATAN
BICARA,
BERBAHAYA
BERBAHAYA- Dr Widodo Judarwanto SpA

ATAU

8.
Apa terapi masing2 gangguan yg
tersebut di skenario?
9.
Jelaskan tentang RM?

TIDAK

RETARDASI MENTAL
Definisi:
1. Retardasi

mental

adalah

kemampuan

mental

yang

tidak

mencukupi (WHO, MENKES 1990).


2. Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh
intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan
individu

untuk

belajar

dan

beradaptasi

terhadap

tuntutan

masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal (Carter CH,


Toback C).
Etiologi:
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari Retardasi Mental.
Faktor-faktor yang potensial sebagai penyebab Retardasi Mental:
Non organik:
Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis.
Faktor sosiokultural.
Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik.
Penelantaran anak.
Organik:
Faktor Pra-konsepsi
Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik,
kelainan neurocutaneous).
Kelainan kromosom.
Faktor Pre-natal
Gangguan pertumbuhan otak trimester I
Kelainan kromosom
Infeksi intra uterin, misal HIV
Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi)
Disfungsi plasenta
Kelainan konginetal dari otak
Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
Infeksi intra uterin, misal HIV
Zat-zat teratogen (alkohol, kokain, logam-logam berat)
Ibu DM, PKU
Toksemia gravidarum
Disfungsi plasenta
Ibu malnutrisi
Faktor Peri-natal
Sangat prematur
Asfeksia neotorum
Trauma lahir
Meningitis
Kelainan metabolik

Faktor Post Natal


Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
Neurotoksin
CVA
Anoksia, misalnya tenggelam
Metabolik, misalnya gizi buruk, kelainan hormonal
Infeksi, misalnya meningitis ensefalitis
Patofisiologi:
Retardasi Mental termasuk kelemahan atau ketidakmampuan
kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18
tahun) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ
70-75

atau

kurang)

dan

disertai

keterbatasan-keterbatasan

sedikitnya dua area fungsi adaptif yaitu berbicara dan berbahasa,


ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial,
penggunaan

sarana

prasarana

komunitas,

pengarahan

diri

kesehatan dan keamanan akademik fungsional bersantai dan


bekerja.
Pada Retardasi Mental terjadi kerusakan muskuloskeletal. Kerusakan
neurologis itu meliputi: kerusakan otak, kelainan kongenital dan
mikrosefal. Sedangkan kerusakan muskuloskeletal meliputi: anomali
ekstremitas konganital, masukan kalori/nutrisi tidak mencukupi,
distorsi

muskular.

Kerusakan

neurologis

dan

kerusakan

muskuloskeletal akan menyebabkan terjadinya kurang kesadaran


tentang bahaya dan kerusakan fungsi motorik dari otot sehingga
akan muncul berbagai masalah dalam keperawatan.
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed.
3. Jakarta: Media Aesculapius.
Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga Univesity Press.
Pdiatri. Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.

10. Bagaiman Ciri2 RM?


11. Penyakit apa saja yg sering
mengenai penderita RM?

12. Edukasi terhadap keluarga Rm


bagaimnaaaa?
13. Bagaimana dampak RM terhadap
keluarga dan lingkungannya? apakah
terdapat perbedaan antara keluarga yg
menderita RM dan yg tdk ada menderita
RM?

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/03%20-%20Penerimaan%20Keluarga
%20Terhadap%20Individu%20yang%20Mengalami%20Keterbelakangan
%20Mental.pdf

14. Apakah terdapat perbedaan terapi


antara IQ ringan, sedang, berat?

15. Faktor2 apa saja yg mempengaruhi


penangan terapi tersebut?
1. Berat ringannya derajat kelainan
Semakin ringan gangguan autis maka kesembuhan anak autis akan
berjalan lebih cepat daripada yang menderita autis berat.
2. Usia anak saat pertama kali ditangani
Terapi yang dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 tahun lebih membantu
kesembuhan anak autis karena perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Sebaliknya

penatalaksanaan terapi

setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat. Jika sudah terdeteksi
sejak dini tentunya akan semakin cepat proses penanganannya. Banyak
metode dan cara untuk mendidik anak autis.
3. Proses pendidikan dan pengajaran
Proses pendidikan dan pengajaran tersebut baik datang dari anak, orang
tua, lingkungan keluarganya juga sarana prasarana dan strategi belajar.
Lingkungan keluarga yang mendukung kesembuhan anak autis akan lebih
membantu

keberhasilan

anak

lingkungan

keluarga

yang

autis

dalam

tidak

pendidikannya

menerima

daripada

kehadirannya,

menyembunyikan dan tidak mengakui anak autis tersebut.


Penerimaan di sini bukan hanya secara moral saja, tetapi dapat diaplikasikan ke dalam bentuk perilaku yang memberikan pendidikan pada
anak autis dengan menyekolahkan pada sekolah khusus autisme atau
lembaga pusat terapi anak kebutuhan khusus. Pendidikan anak autisme
tidak hanya dari sekolah atau terapi saja tetapi juga dibutuhkan peran
orang tua dan anggota keluarga di rumah. Adapun pendidikan di rumah
adalah menyesuaikan dengan tugas perkembangan anak dan melanjutkan
materi dari sekolah khusus autisme.
Peran orang tua dalam penyembuhan anak penderita autisme sangatlah
penting. Pertama adalah pekerjaan rumah, kedua generalisasi yaitu mentranfer kegiatan yang dipelajari di sekolah ke tempat lain. Hal ini
membutuhkan peran dari orang tua. Juga mengenai sosialisasi orang tua
harus ikut berperan sebab waktu di sekolah hanya sekitar 6 jam saja, sisa

waktu lebih banyak di rumah karena itu kerja sama antara orang tua dan
guru perlu sekali. Orang tua adalah orang yang paling kenal dengan anak,
jadi guru, dokter, dan terapis harus mendengar informasi dari orang tua
anak autis. Orang tua harus mempunyai pemahaman tentang anak autis.
Selain harus melakukan pengobatan secara medis, orang tua juga dituntut
bijak dan sabar menghadapi kondisi anak.
Selain itu strategi belajar juga sangat menentukan, penggunaan sarana
prasarana serta metode yang dipakai untuk menerapi anak autis. Terapis
yang kreatif dan berpengalaman, metode terapi yang disertai media
belajar yang mendukung, akan membantu kesembuhan anak autis lebih
cepat dibandingkan dengan terapis yang ala kadarnya serta sarana dan
prasarana yang seadanya. Intensitas waktu terapi anak autis juga ikut
berpengaruh dalam cepat lambatnya kesembuhan. Apapun metode dan
terapi yang dipilih penanganan harus terstruktur, terpola, konsisten,
kontinyu dan terprogram. Penanganan harus dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan usia anak.
4. Kesehatan
Anak autis yang sakit-sakitan akan memperlambat kesembuhannya. Gizi
dan nutrisi anak autis yang tercukupi mempengaruhi perkembangan fisik
sekaligus kemampuan berpikir si anak. Anak autis biasanya memiliki
gangguan metabolisme dan problem pencernaan.
5. Kecerdasan
Semakin cerdas anak autis, maka semakin cepat daya penangkapan
materi. Dengan demikian anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata akan
lebih lambat daripada anak autis yang memiliki IQ rata-rata maupun di
atas rata-rata.
SUMBER :
Maulana Mirza. 2007. A

16.

Kriteria dx?

KRITERIA DIAGNOSTIK UNTUK RM


A. IQ kira-kira 70 atau kurang pada tes IQ (Individual).
B. Adanya defisit atau gangguan yang menyertai dalam fungsi adaptif sekarang
(yaitu: efektivitas orang tersebut untuk memenuhi standar-standar yang dituntut

menurut usianya dan kelompok kulturalnya) pada sekurangnya dua bidang


keterampilan berikut: komuikasi, merawat diri sendiri, dirumah, keterampilan
interpersonal, menggunakan sarana masyarakat, mengarahkan diri sendiri,
keteramplilan akademik fungsional, pekerjaan, kesehatan, liburan dan
keamanan.
C. Onset sebelum usia 18 tahun.
KLASIFIKASI RM
A.

RM ringan: IQ 50-55 sampai kira-kira 70.

B.

RM sedang: IQ 35-40 sampai 50-55.

C.

RM berat: IQ 20-25 sampai 35-40.

D.

RM sangat berat: IQ dibawah 20 atau 25.


Catatan: keparahan tidak ditentukan: jika terdapat kecurigaan kuat adanya RM tetapi
IQ pasien tidak dapat diuji oleh tes IQ baku.

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ORANG DENGAN RM


Derajad RM

Sangat berat

Berat

Usia Prasekolah

Usia sekolah 6-20

Dewasa (21 &

Maturasi & Perkembangan

Latihan & Pendidikan

Keadekuatan

Retardasi jelas; kapasitas

Ada beberapa

Kejuruan
Beberapa perk

berfungsi yang minimal dalam

perkembangan motorik;

motorik dan bi

bidang sensorimotorik;

dapat berespon minimal

mencapai pera

memerlukan perawatan;

atau terbatas terhadap

yang sangat te

memerlukan bantuan &

latihan menolong diri

memerlukan p

pengawasan terus menerus.

sendiri.

Perkembangan motorik yang

Dapat berbicara atau

Dapat bereper

miskin; berbicara sedikit

belajar berkomunikasi;

dalam pemelih

biasanya tidak mampu belajar

dapat dilatih dalam

sendiri dibawa

dari latihan menolong diri

kebiasaan sehat dasar;

pengawasan l

sendiri; sedikit atau tidak

memperoleh manfaat

dapat mengem

mempunyai keterampilan

dari latihan kebiasaan

keterampilan m

komunuikasi.

Sedang

Ringan

sistematik; tidak mampu

diri sendiri sam

memperoleh manfaat

minimal yang

dari latihan kejuruan.

dalam lingkun

Dapat berbicara atau belajar

Dapat memperoleh

terkendali.
Dapat bekerja

untuk berkomunikasi;

manfaat dari latihan

dalam pekerja

kesadaran sosial yang buruk;

dalam keterampilan

terlatih dan se

perkembangan motorik yang

sosial dan pekerjaan;

terlatih dibawa

cukup; mendapat manfaat dari

tidak mungkin

terawasi; mem

latihan menolong diri sendiri;

berkembang lebih dari

pengawasan d

dapat ditangani dengan

kelas dua dalam subjek

bimbingan jika

pengawasan sedang.

akademik; dapat belajar

dalam stress s

pergi sendirian ditempat

ekonomi ringa

Dapat mengembangkan

yang dikenal.
Dapat belajar

Biasanya dapa

keterampilan sosial dan

keterampilan akademik

keterampilan s

komunikasi; retardasi minimal

sampai kira-kira kelas

kejuruan yang

dan bidang sensorimotorik;

enam pada akhir usia

untuk membia

sering tidak dapat dibedakan

remaja; dapat dibimbing

sendiri minima

dari normal sampai lebih tua.

untuk menyesuaikan diri

mungkin mem

dengan sosial.

bantuan dan b

dibawah stres

ekonomi yang
Catatan: Yang membedakan anak RM dengan gejala perilaku dan Autis adalah:
1. Anak RM biasanya berhubungan dengan orang tua atau anak-anak lain dengan
cara yang sesuai dengan umur mentalnya,
2. mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain,
3. mereka memiliki gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan fungsi.

17.

DD?(paket lengkap)

A. AUTISME
a.

Etiologi :

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli


menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa
peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain
berpendapat
bahwa
autisme
disebabkan
oleh
gangguan
psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan
oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang
terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan
pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku
dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah
dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis.
Beberapa teori penyebab autis adalah : teori kelebihan Opioid, teori
Gulten-Casein (celiac), Genetik (heriditer), teori kolokistokinin, teori
oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori
Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke
Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori
Sekretin,
teori
kelainan
saluran
cerna
(Hipermeabilitas
Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan
Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein:
Orphanin.
Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap
anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala
autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah
satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian
anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan
metabolisme metalotionin. Metalotionon adalah merupakan sistem
yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air
raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki
afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas
tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuat dengan
terhadap metalotianin dibandingkan logam berat lainnya seperti
tenbaga, perak atau zinc.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli
menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh
beberapa hal di antaranya adalah : defisiensi Zinc, jumlah logam
berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element
Logam dan kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk
metalotianin.
Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada
kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak.

Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari


Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara
vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme.
Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang
lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak
menyebabkan Autis. Beberapa orang tua anak penyandang autisme
tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang
warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan
autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua
anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena
autis disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.
Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa
dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya
relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara
khusus pada penyandang autis, memang menunjukkan hubungan
tersebut meskipun bukan merupakan sebab akibat.
Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa
bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan
sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam
hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia
Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan
cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa
kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat
pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa
pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan
pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak
telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat
kelahiran bayi.
Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki
terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat
sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang
kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein
tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein
otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan
mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran
bayi.
Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh
perhatian terhadap kelainan autis pada anak. Sehingga penelitian
terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya,

kelainan autis hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang


tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi
memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab
autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei
2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan
protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi
tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin
dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.
b.

Gambaran klinik :
Gejala anak yang menderita autisme umumnya sudah tampak
sebelum usia 3 tahun :

Tidak ada kontak mata yang mantap.


Kurang responsif terhadap lingkungan di sekitarnya.
Tidak mau bicara secara verbal.
Tidak mau berkomunikasi dengan bahasa tubuh, seperti
tersenyum, merengut, dan sebagainya.
Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
Autisme masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak
yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai
umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam
bidang :

Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak


normal, seperti ditunjukkan dibawah ini :
Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak
berkembang.
Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau
mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan
bicara.
Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau
memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya
permainannya kurang variatif.

Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas


interaksi social :
Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial,
maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara
layak.

Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman


sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan
interes bersama.
Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi
orang lain.
Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk
berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat


terbatas,
diulang-ulang
dan
stereotipik seperti dibawah ini :
Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola
perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil
menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya
berjam-jam.
Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak
berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat
gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik
ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik
urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriakteriak minta diulang.
Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang,
seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerakgerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan
sesuatu.
Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang
tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda
dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya,
suara-suara tertentu.
Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar,
temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis
tanpa
sebab,
ada
juga
rasa
takut
yang
tak
wajar.
Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan
gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk menciumcium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki
daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1
http://www.autisme.or.id/GPP_PDD/autisme_masa_kanak/.

c.

Diagnosis :
Menegakkan diagnosis autism memang tidaklah mudah karena
membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu
yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan
tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Untuk
menetapkan diagnosis gangguan autism para klinisi sering
menggunakan pedoman DSM IV.Gangguan Autism didiagnosis
berdasarkan DSM-IV.
DiagnosIs yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati
perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat
perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism
yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan
klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan
kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali
ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan
memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli
neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi
bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis.
Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya
mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme
akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang
kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru
melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu
melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat
menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada
penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan
perhatian yang khusus dan rumit.
Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil
mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari
orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal
terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara
sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan
keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran
atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan
lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara
bersamaan.
Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autis
dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan

penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan


terapi yang tepat.
d.

Diagnosis banding :
Referensi baku yang dipakai untuk menjelaskan jenis autisme
adalah standar Amerika DSM revisi keempat (Diagnostic and
Statistical Manual) yang memuat kriteria yang harus dipenuhi
dalam melakukan diagnosa autisme. Diagnosa ini hanya dapat
dilakukan oleh tim dokter atau praktisi ahli bersadarkan
pengamatan seksama terhadap perilaku anak autisme dan
disertai konsultasi dengan orang tua anak.
Pada kenyataanya, sangat sulit untuk membagi kategori atau
jenis autisme mengingat tjarang ditemukan antara satu dan lain
penyandang autisme yang mempunyai gejala yang sama. Setiap
penyandang autisme mempunyai ke-'khas'-annya sendiri sendiri.
Dengan kata lain ada 1001 jenis atau mungkin satu juta satu
jenis autisme di dunia ini yang tidak dapat diperinci satu
persatu. Istilah yang lazim dipakai saat ini oleh para ahli adalah
'kelainan spektrum autisme' atau ASD (Autism Spectrum
Disorder).
Anak yang telah didiagnosa dan masuk dalam kategori PDD
mempunyai persamaan dalam hal kekurang mampuan
bersosialisasi dan berkomunikasi akan tetapi tingkat kelainannya (spektrum-nya) berbeda satu dengan lainnya.
Terdapat begitu banyaknya jenis atau ciri penyandang autisme,
sehingga lebih berupa rangkaian dari kelabu muda sekali hingga
kelabu tua sekali (sangat bervariasi). Penggunaan istilah autisme
berat/parah dan autisme ringan dapat menyesatkan karena jika
dikatakan berat atau parah orang tua dapat merasa frustasi dan
berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya lagi.
Sebaliknya jika dikatakan ringan atau tidak parah maka orang
tua merasa senang dan juga dapat berhenti berusaha karena
merasa anaknya akan sembuh sendiri. Pada kenyataannya, baik
ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu dan intensif,
penyandang autisme sulit mandiri. Meskipun sejauh ini belum
ada pembagian tegas untuk menunjukkan derajat autism,
apakah ringan, sedang atau berat.
Agar dapat membantu melihat beberapa kelompok besar
spektrum autisme yang ada, dapat dilihat dari kategori utama
dibawah ini:

Gangguan Perkembangan Pervasif (Pervasive Developmental


Disorders /PDD) terdiri dari beberapa jenis PPD di antaranya
adalah :
Autistic
Aspergers
Retts
Childhood Disintegrative Disorder (CDD)
Gangguan pervasive opada masa kanak-kanak (Pervasive
Developmental Disorderor Not Otherwise Specified /PDD:NOS)
e.

Pengobatan
Dalam pengobatan penyakit autis ada beberapa macam terapi,
diantaranya adalah:
Terapi Medikamentosa
Sistem terapi dengan pemberian obat pada penderita dengan
pantauan dokter untuk setiap efek obat yang positif maupun yang
negatif dan pemberian obat harus didasarkan:
Diagnosis yang tepat
Indikasi yang kuat
Pemakaian obat seperlunya
Pemantauan ketat gejala efek samping
Dosis obat terusmenerus disesuaikan
Pakai obat yang sudah dikenal
Terapi Wicara
Terapi wicara diberikan kepada penyandang autisme karena
mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan bicara
Terapi Perilaku
Terapi perilaku membantu para penyandang autisme untuk bisa
menyesuaikan diri dalam masyarakat dalam terapi perilaku bukan
saja gurunya yang harus melakukan terapi pada saat belajar
namun setiap anggota keluarga di rumah harus bersikap sama
dan konsisten dalam menghadapi penyandang autis
Pendidikan Khusus
Pendidikan khusus yaitu pendidikan individual yang terstruktur
bagi penyandang autis, pada pendidikan khusus ini diterapkan
sistim satu guru satu anak karena merupakan sistim yang efektif
Terapi Okupasi
Anak autis diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu
menguatkan memperbaiki koordinasi dan membuat otot halusnya
terampil, misalnya otot jari tangan sangat penting dikuatkan dan
dilatih supaya bisa menulis dan melakukan semua hal yang
membutuhkan keterampilan otot jari tangannya.2)
http://www.autisme.or.id/GPP_PDD/autisme_masa_kanak/
http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/anak/autis250407.htm

f.

Prognosis
Pada gangguan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan
mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai prognosis
yang
baik,.
Kira-kira
dua
pertiga
orang
dewasa
autisme bergantung sepenuhnya atau setengah bergantung pada
keluarga atau di rumah sakit jiwa. Hanya 1-2% dapat hidup normal
dan berstatus independent, dan 5-20% mendapat status normal
borderline (Hagberg,1981)

B. SINDROM RETTS
1. Kriteria Diagnostik Sindrom Retts
A. Semua berikut
1) Perkembangan pra natal dan perinatal yg tampaknya
normal
2) Perkembangan psikomotor yg tampaknya normal
selama lima bulan pertama setelah lahir
3) Lingkaran kepala yg normal saat lahir
B. Onset semua berikut ini setelah periode perkembangan
normal
1) Perlambatan pertumbuhan kepala antara usia 5 dan 48
bulan
2) Hilangnya
keterampilan
tangan
bertujuan
yang
sebelumnya telah dicapai anatar 5 dan 30 bulan dng
diikuti perkembangan gerakan tangan stereotipik
(misalnya memuntirkan tangan atau mencuci tangan)
3) Hilangnya keterlibatan social dalam awal perjalanan
(walaupun seringkali interaksi social tumbuh kemudian)
4) Terlihatnya gaya berjalan atau gerakan batang tubuh yg
terkoordinasi secara buruk
5) Gangguan parah pd perkembangan bahasa ekspresif
dan reseptif dng retardasi psikomotor yg parah
2. Terapi
Terapi ditujukan pd intervensi simptomatik. Fisioterapi telah
bermanfaat bagi disfungsi otot, dan terapi antikonvulsan
biasanya diperlukan untuk mengendalikan kejang. Terpi perilaku
adalah berguna untuk mengendalikan perilaku melukai diri
sendiri, spt terapi autistic, dan dpt membantu mengatur
disorganisasi pernafasan.
C. SINDROM ASPERGERS
1. Definisi
Adalah suatu kondisi dimana anak menunjukkan gangguan jelas dalam
hubungan social dan pola perilaku yang berulang dan stereotipik tanpa

keterlambatan dalam perkembangan bahasa sedangkan kemampuan


kognitif dan adaptif anak adalah normal
2. Gambaran Klinis
Gambaran awalnya adalah orang dengan inteligensia normal yang
menunjukkan gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik
dan keanehan perilaku tanpa keterlambatan dalam perkembangan
bahasa. Sejak saat itu, orang dengan retardasi mental tetapi tanpa
keterlambatan bahasa telah mendapatkan diagnosis gangguan
Asperger.

3. Diagnosis dan Gambaran Klinis


Gambaran klinis adalah sekurangnya dua indikasi gangguan sosial
kualitatif berikut ini: gaya komunikatif nonverbal yang jelas abnormal,
kegagalan mengembangkan hubungan dengan teman sebaya, tidak
adanya timbal balik sosial atau emosional, dan gangguan kemampuan
untuk mengekspresikan kesenangan atas kebahagiaan orang lain.
Minat yang terbatas dan pola perilaku selalu ditemukan. Menurut DSMIV, pasien tidak menunjukkan keterlambatan berbahasa, keterlambatan
kognitif yang bermakna secara klinis, atau gangguan adaptif

ADHD
Definisi:
ADHD merupkan kependekan dari attention deficit hyperactivity
disorder,

(Attention

perhatian,

Deficit

berkurang,

Hyperactivity = hiperaktif, dan Disorder = gangguan). Atau


dalam bahasa Indonesia, ADHD berarti gangguan pemusatan
perhatian disertai hiperaktif.
Jadi, jika didefinisikan, secara umum ADHD menjelaskan kondisi
anak-anak

yang

memperlihatkan

simtom-simtom

(ciri

atau

gejala) kurang konsentrasi, hiperaktif,dan impulsif yang dapat


menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup
mereka.
Etiologi:
Bahan kajian lebih lanjut akan dikemukakan hasil penelitian Faron
dkk, 2000, Kuntsi dkk, 2000, Barkley, 20003 (dalam MIF Baihaqi
&Sugiarmin, 2006), yang mengatakan bahwa terdapat faktor
yang berpengaruh terhadap munculnya ADHD, yaitu:
Faktor genetika
Bukti penelitian menyatakan bahwa faktor genetika merupakan
faktor penting dalam memunculkan tingkah laku ADHD. Satu
pertiga dari anggota keluarga ADHD memiliki gangguan, yaitu jik
orang tua mengalami ADHD, maka anaknya beresiko ADHD
sebesar 60 %. Pada anak kembar, jika salah satu mengalami.
ADHD, maka saudaranya 70-80 % juga beresiko mengalami
ADHD.
Pada studi gen khusus beberapa penemuan menunjukkan bahwa
molekul

genetika

gen-gen

tertentu

dapat

menyebabkan

munculnya ADHD.Dengan demikian temuan-temun dari aspek


keluarga, anak kembar, dan gen-gen tertentu menyatakan bahwa
ADHD ada kaitannya dengan keturunan.
Faktor neurobiologis
Beberapa dugaan dari penemuan tentang

neurobiologis

diantaranya bahwa terdapat persamaan antara ciri-ciri yang


muncul pada ADHD dengan yang muncul pada kerusakan fungsi

lobus prefrontl. Demikian juga penurunan kemampuan pada anak


ADHD pada tes neuropsikologis yang dihubungkan dengan fungsi
lobus prefrontal. Temuan melalui MRI (pemeriksaan otak dengan
teknologi tinggi)menunjukan ada ketidaknormalan pada bagian
otak depan. Bagian ini meliputi korteks prefrontal yang saling
berhubungan dengan bagian dalam bawah korteks serebral
secara kolektif dikenal sebagai basal ganglia.
Bagian otak ini berhubungan dengan atensi, fungsi eksekutif,
penundaan

respons,

dan

organisasi

respons.

Kerusakan-

kerusakan daerah ini memunculkan ciri-ciri yang serupa dengan


ciri-ciri pada ADHD. Informasi lain bahwa anak ADHD mempunyai
korteks prefrontal lebih kecil dibanding anak yang tidak ADHD.
Ciri-ciri ADHD:
a. Inatensi
Yang dimaksud adalah bahwa sebagai individu penyandang
gangguan ini tampak mengalami kesulitan dalam memusatkan
perhatiannya. Mereka sangat mudah teralihkan oleh rangsangan
yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh perasaan
yang timbul pada saat itu. Dengan demikian mereka hanya
mampu mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam
jangka waktu yang pendek, sehingga akan mempengaruhi proses
penerimaan informasi dari lingkungannya.
b. Impulsifitas
Yang dimaksud adalah suatu gangguan perilaku berupa tindakan
yang tidak disertai dengan pemikiran. Mereka sangat dikuasai
oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi. Mereka sulit
untuk

memberi

prioritas

kegiatan,

sulit

untuk

mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku


yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan
yang bersangkutan maupun lingkungannya.
c. Hiperaktivitas
Yang dimaksud adalah suatu gerakan yang berlebuhan melebihi
gerakan yang dilakukan secara umum anak seusianya. Biasanya
sejak bayi mereka banyak bergerak dan sulit untuk ditenangkan.
Jika dibandingkan dengan individu yang aktif tapi produktif,

perilaku hiperaktif tampak tidak bertujuan. Mereka tidak mampu


mengontrol

dan

melakukan

koordinasi

dalam

aktivitas

motoriknya, sehingga tidak dapat dibedakan gerakan yang


penting dan tidak penting. Gerakannya dilakukan terus menerus
tanpa lelah, sehingga kesulitan untuk memusatkan perhatian.
American Psychiatric Assosiations (2005). Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV). Washington,
DC. American Psychiatric Associations.
Alberto, P. A,. & Anne, C. A,. (1986). Applied Behavior Analysis
for Teachers. Ohio: Merrill Publishing Company.
Grad, L. Flick. (1998). ADD/ADHD Behavior-change Resource
Kit. New York: The Center for Applied Research in Education.