Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum

Hari/Tanggal: Sabtu, 13 September 2014

Mikrobiologi

Waktu

: 09.00 13.00WIB.

PJP

: 1. Ivone Wulandari Ssi, Msi


2. Muhammad Arif S.Pi

Asisten

: 1. Ade Setiawan A.md


2. Embun Novita A.md

PEWARNAAN MIKROBA: PEWARNAAN GRAM DAN


PEWARNAAN SPORA
Kelompok 4
Frizka Syaidatu Dhinar

J3L213106

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Bakteri berasal dari kata Yunani bakterion, yang berarti kecil atau tongkat.
Bakteri dapat dilihat dengan mikroskop cahaya. Bakteri termasuk ke dalam divisi
Schizophyta yang terbagi ke dalam beberapa kelas, antara lain Pseudomonadales,
Chlamydobacteriales, Eubacteriales, Actinomycetales, Spirochaetales, dan
Rickettsiales (Suriawiria, 2008).
Bakteri pada umumnya mempunyai ukuran sel 0,5 1,0 m x 2,0 5,0 m,
dan terdiri dari tiga bentuk dasar yaitu: (1) bentuk bulat atau kokus, (2) bentuk
batang atau basilus, (3) bentuk spiral. Bakteri ada yang berukukran relatif besar
dengan diameter sekitar 5 m, berukuran sedang seperti bakteri penyebab tifus
dan disentri yang mempunyai ukuran 0,5 1 m x 2 3 m, dan berukuran
sangat kecil seperti mikoplasma yang mempunyai ukuran diameter 0,1 0,3 m
(Fardiaz, 1992).
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena
selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Unutk
mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri
sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu teknik
pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam
penelitian-penelitian mikrobiologi (Dwidjoseputro 1998).
Teknik pewarnaan gram pertama kali diuraikan dalam suatu publikasi pada
tahun 1884 oleh seorang ahli bakteriologi Denmark, Christian Gram. Prosedur
pewarnaan yang menampilkan perbedaan diantara sel-sel mikroba atau bagianbagian sel mikroba disebut teknik pewarnaan diferensial. Salah satu teknik
pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakter
iialah pewarnaan gram (Pelczar 1986). Metode pewarnaan spora akan
memberikan hasil sel bakteri berwarna merah sedangkan spora akan berwarna
hijau. Pemanasan preparat dilakukan dengan maksud untuk merenggangkan
dinding spora, sehingga zat warna dapat menembusnya.
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengenal dan mempelajari prosedur pewarnaan
gram serta memahami pentingnya setiap langkah dalam prosedur tersebut.
II Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan ialah satu jarum ose, gelas objek, botol semprot,
mikroskop, bunsen, pemanas listrik, bak pewarna, lup inokulasi, kaca objek, dan
tisu. Bahan-bahan yang digunakan ialah satu set pewarnaan gram, akuades,
alkohol 70%, dan malacite green.
III Prosedur Kerja
Pewarnaan gram dilakukan dengan cara meja kerja, kaca objek, dan tangan
dibersihkan dengan alkohol 70%. Kemudian preparat dioleskan dengan bakteri.
Lalu preparat tersebut dikering udarakan dan dilakukan fiksasi. Larutan Kristal
violet diteteskan pada olesan bakteri, dibiarkan selama 1 menit, dicuci dengan air
mengalir lalu dikeringkan dan difiksasi. Larutan kalium iodida diteteskan,
dibiarkan selama 1 menit, dicuci dengan air mengalir, lalu dikeringkan dan

difiksasi. Alkohol diteteskan, dibiarkan selama 30 detik, dicuci dengan air


mengalir dan dikeringkan. Larutan safranin diteteskan, dibiarkan selama 30 detik,
dicuci dengan air yang mengalir dan dikeringkan. Setelah itu bakteri diamati
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000 kali.
Pewarnaan spora dilakukan dengan cara kaca objek yang sudah disterilkan
diolesi bakteri, kemudian dikering udarakan serta difiksasi. Olesan digenangi
dengan malikit hujau pada slaid yang diletakan diatas pemanas selama 2 - 3 menit
dan pewarna dijaga agar tidak menguap atau mendidih. Slaid didinginkan, lalu
dialiri akuades. Pewarna tandingan safranin digenangi selama 30 detik. Kemudian
dibilas dengan akuades mengalir, dikeringkan dengan tisu, dan diamati dibawar
mikroskop dengan minyak imersi pada perbesaran 1000 kali.
IV Hasil Pengamatan dan Data
4.1 Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan, pewarnaan gram diperoleh data sebagai
berikut.
Tabel 1 Pewarnaan gram

Sifat Gram
Bentuk sel
Penataan sel
Spora

Sampel bakteri
Aeromonas hydrophyla
Bacillus sp
Gram negatif
Gram negatif
Basil
Basil
Monococcus
Tidak memiliki spora
Memiliki endospora

Gambar 1 Bakteri Bacillus sp pada pewarnaan gram

Gambar 2 Bakteri Aeromonas hydrophyla pada pewarnaan gram


Pewarnaan spora pada bakteri Bacillus sp didapatkan hasil seperti yang
ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 3 Bakteri Bacillus sp pada pewarnaan spora

4.2 Pembahasan
Pewarnaan gram pada bakteri Bacillus sp dan Aeromonas hydrophila
menggunakan empat pewarna, yaitu kristal violet sebagai pewarna utama, kalium
iodida sebagai pengikat warna utama, alkohol sebagai dekolorisasi, dan safranin
sebagai pewarna tandingan. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi
menjadi dua kelompok yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri
gram positif dapat mempertahankan zat pewarna ungu kristal dan tampak
berwarna ungu tua, sedangkan gram negatif kehilangan ungu kristal ketika dicuci
dengan alkohol dan jika diberi pewarna tanding dengan larutan safranin, tampak
berwarna merah. Proses pewarnaan gram dapat mewarnai bakteri menjadi ungu
atau merah karena adanya perbedaan dalam struktur kimiawi pada permukaan
bakteri (Pelczar 1986). Sel gram positif mempunyai dinding dengan lapisan
peptidoglikan yang terbal, sesangkan gram negative lebih tipis dan diliputi lapisan
membrane luar yang tersusun dari lipid (Sunatmo 2008).
Proses pewarnaan gram terlebih dahulu dilakukan sterilisasi pada tangan,
meja kerja, dan kaca preparat dengan menggunakan alkohol 70%. Hal tersebut
bertujuan membunuh mikroorganisme yang tak diinginkan. Bakteri yang telah
dioleskan dikering udarakan dan fiksasi agar bakteri melekat pada kaca preparat.
Dalam proses fiksasi, preparat yang dilewatkan diatas api tidak boleh terlalu lama
agar bakteri tidak mati pada suhu yang panas. Olesan bakteri pada kaca preparat
diteteskan kristal violet yang bertujuan mewarnai semua sel menjadi ungu.
Setelah itu dibilas dengan akuades lalu dikeringkan. Pembilasan dengan akudes
dilakukan dengan cara mengalirkannya pada bagian bakteri tidak dioleskan
dengan cara kaca preparat sedikit dimiringkan, bukan dengan cara
menyemprotkannya secara langsung pada bakteri karena dapat menyebabkan
sejumlah besar bakteri yang menempel pada kaca preparat ikut terbilas. Olesan
bakteri diteteskan kalium iodida yang dapat meningkatkan afinitas sel terhadap
zat warna dengan membentuk ikatan kompleks dengan pewarna pertama yaitu
kompleks ungu kristal iodium sehingga warna sel menjadi ungu kehitaman.
Setelah itu dibilas dengan akuades lalu dikeringkan. Dekolorisasi dilakukan
dengan alkohol yang mempunyai dua fungsi sebagai pelarut lipid dan agen
dehidrasi protein. Pada sel gram negatif, alkohol meningkatkan porositas dinding
sel dengan melarutkan lipid pada membran luar, sehingga kompleks ungu akan
segera tersingkirkan pada dinding yang tipis. Alkohol akan melepaskan kompleks
unguyang longgar dan sel menjadi tak berwarna. Pada sel gram positif dengan
lapisan peptidoglikan yang tebal akan tetap menahan kompleks ungu dan pori pun
menjadi lebih kecil karena sifat dehidrasi alkohol sehingga sel tetap berwarna
ungu. Setelah dilakukan dekolorisasi, preparat dibilas dengan akuades. Langkah
terakhir yaitu pemberian pewarna tandingan dengan larutan safranin. Safranin
akan mewarnai sel menjadi merah yang telah mengalami pemucatan dan tidak
berwarna (Sunatmo 2008).
Berdasarkan hasil pengamatan, bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus
sp adalah kelompok gram negatif. Terjadi penyimpangan pada bakteri Bacillus sp
yang diamati dengan mikroskop. Hasil percobaan menunjukkan bakteri Bacillus
sp merupakan bakteri Gram negatif. Sedangkan hasil teoritis menyatakan bahwa
Bacillus sp merupakan bakteri Gram positif yang berwarna ungu. Hal ini dapat
disebabkan oleh beberapa hal antara lain pada proses pencucian atau dekolorisasi,
apabila dilakukan berlebihan maka komples ungu akan hilang dan organisme

gram positif dapat menjadin gram negatif. Oleh karena itu proses pemucatan perlu
dilakukan dengan tepat. Kultur jaringan yang dipakai umurnya tidak lebih dari 24
jam, mengingat kultur gram positif tua akan kehilangan kemampuan untuk
menahan pewarna pertama.
Pewarnaan spora untuk bakteri Bacillus sp membutuhkan dua pereaksi
berbeda. Pewarna pertama atau malikit hijau yang diberikan pada olesan bakteri
perlu diikuti dengan pemanasan mengingat spora mempunyai dinding yang tebal
dan sulit ditembus pewarna. Uap panas membuat dinding spora mengembang dan
pewarna bisa masuk menembus dinding spora. Apabila spora telah berwarna hijau
maka pemucatan dengan air tidak membebaskan spora dari pewarna tersebut.
Penyingkiran air hanya untuk menyingkirkan kelebihan pewarna. Komponen sel
vegetatif tidak menunjukkan afinitas yang tinggi dengan pewarna sehingga
pemberian air akan menyingkurkan pewarna dari sel vegetatif. Pewarna tandingan
adalah safranin, yang memiliki warna kontras dengan pewarna pertama sehingga
sel vegetatif akan tampak berwarna merah (Sunatmo 2008). Hasil pengamatan
diperoleh bakteri Bacillus sp memiliki endospore seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.
V Simpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp merupakan bakteri Gram negatif. Akan
tetapi, berdasarkan teoritis Bacillus sp merupakan bakteri gram positif. Bacillus
sp juga memiliki endospora berdasarkan pewarnaan spora.
Daftar Pustaka
Dwidjoseputro.2005.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Gramedia.
Fardiaz, Sriakandi. 1992. Mikrobiologi Pangan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Pelczar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Sunatmo, Tedja Imas. 2009. Eksperimen Mikrobiologi dalam Laboratorium.
Jakarta: Ardy Agency.
Suriawiria, Unus. 2008. Mikrobiologi Air. Bandung: Penerbit PT Alumni.