Anda di halaman 1dari 23

RINGKASAN BUKU AJAR FLEBOTOMI

BAGIAN PATOLOGI KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2012

OLEH :
Dr. Elisabeth Levina Sari Setianingrum

Pembimbing :
DR. dr. Nyoman Suci, M.Kes, Sp.PK

PENGERTIAN FLEBOTOMI
Flebotomi adalah proses pengambilan darah dengan teknik yang benar sehingga komposisi
analitnya bisa dipertahankan ; melalui vena, arteri & kapiler. Asal kata dari bahasa Yunani yaitu
Phlebotomy dari phleb-pembuluh darah vena & tomia-mengiris/memotong adalah insisi vena
untuk mengambil darah, (dahulu): venasectie. Tujuan flebotomi adalah untuk menghindari
kesalahan saat pengambilan darah yang dapat mempengaruhi pemeriksaan. Flebotomis adalah
seseorang yang melakukan flebotomi.
Legal Aspek Flebotomi
Seorang flebotomis di lab atau RS (perawat/orang yang dilatih khusus) mempunyai
kemampuan & kewenangan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki yang diperoleh melalui
pelatihan, workshop, pendidikan dari institusi yang berwenang. Ini harus dilakukan karena
tuntutan masyarakat yang semakin sadar hukum sehingga dalam memberikan pelayanan harus
maksimal bebas dari kesalahan.
Sistem Hukum
Sistem Hukum Pidana (tindakan pengambilan darah tanpa persetujuan pasien) & Perdata
(tidak sengaja atau sengaja menimbulkan kerugian pada pasien). Malpraktek atau kelalaian
profesional adalah suatu pelayanan di bawah standar, tidak kompeten dan mengakibatkan
kerugian bagi pasien. 4 hal yang harus dibuktikan penggugat yaitu : tugas, kelalaian, cidera,
sebab akibat. Inform consent (persetujuan medik) adalah persetujuan pasien & keluarga secara
sadar untuk mengijinkan diperiksa, dilakukan tindakan medik, diobati oleh tenaga kesehatan
Perbedaan Darah Arteri, Vena, Kapiler
Darah arteri banyak oksigen, berwarna merah terang, bila terpotong darah menyemprot
keluar seirama denyutan jantung. Kandungan glukosa lebih tinggi, sel darah putih & merah, Hb,
Ht lebih rendah dibandingkan darah vena. Biasa dipakai untuk analisa gas darah
Darah vena warna lebih tua, agak ungu, sedikit oksigen, bila terpotong darah keluar dengan
aliran yang rata. Lokasi pengambilan darah berpengaruh pada komposisi darah vena.
Mengandung pH lebih rendah. Biasa pemeriksaan laboratorium menggunakan darah vena.
Darah kapiler terus berubah susunan & warna karena pertukaran gas, perdarahan kapiler
dikenal dari mengalirnya darah perlahan ke permukaan. Kadar glukosa lebih tinggi, kadar
potasium, kalsium, total protein lebih rendah. Leukosit dan Large Leucoyte Ratio (LLR) lebih
tinggi dari vena. Sel darah merah, trombosit, Hb, Ht sama dengan vena.

Vena Di Fosa Cubital Untuk Tempat Penusukan


Pilihan pertama : v.mediana cubital (dekat permukaan kulit, cukup besar, tidak terdapat
pasokan saraf, paling sedikit rasa nyeri & kemungkinan memarnya.Pilihan kedua : v. cephalica
( besar tapi kurang terlihat, lebih sakit ditusuk dibanding v. mediana cubital. Pilihan ketiga : v.
basilica (mudah diraba, dekat a.brachialis & saraf mediana harus hati-hati).
Jika vena di fosa antecubital sulit diambil :

Vena di pergelangan tangan (wings needle), tapi penusukan menimbulkan rasa nyeri, vena
mudah menggulung & sulit dapat darah yang banyak.

Vena di punggung tangan

Vena di ekstremitas bawah, kaki atau pergelangan kaki ( seijin dokter, dilakukan diatas 1
tahun, tidak boleh pada pasien DM)

Vena di kepala ( oleh tenaga yang terlatih)


Penggunaan tornikuet 4-5 cm diatas fossa antecubital, tidak boleh melebihi satu menit
(menimbulkan hemokonsentrasi)

Pengambilan darah arteri

Lokasi : a. radialis, a. brachialis, a. femoralis

A. radialis mudah didapat, letaknya superfisial, memiliki kolateral yang baik, dapat
dengan mudah ditekan bila terjadi hematoma setelah penusukan, syarat pungsi dilakukan
tes Allen (-)

A. brachialis dekat dengan saraf mediana yang dapat tidak sengaja tertusuk

Kelemahan a. brachialis & a.femoralis :


Lokasi lebih sulit (lokasi lebih dalam dari a.radialis)
Memiliki sirkulasi kolateral yang sedikit
Banyak dikelilingi oleh struktur yang lain yang dapat tertusuk jika terjadi
kesalahan teknik.

A.femoralis terletak di daerah inguinal dan di daerah femoral triangle yang berisi : saraf,
arteri, vena, limfatik (hati-hati)

ANTIKOAGULAN
Dibagi menjadi 3 kelompok :

Heparin

Antikoagulan oral tdd derifat 4-hidroksi sumarin, misal : dikumarol, natrium warfarin, kalium
warfarin, fenprokumon, asenokumarol, derivat indan-1.3-dion misalnya fenidion, difenadion,
anisindion.

Antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion Kalsium


JENIS ANTIKOAGULAN DAN MEKANISMENYA
1. NaEDTA atau K3EDTA
EDTA tersedia dalam bentuk garam natrium, kalium atau lithium. Mampu mencegah
darah dari pembekuan dengan memindahkan dan mengikat kalsium, serta mempresipitasi
oksalat insoluble. Garam tripotassium (K3EDTA) didispersikan dalam bentuk cairan,
rekomendasi NCLS (National Committee for Clinical Laboratory Standars)
Perbandingan darah dengan antikoagulan 1,25-1,75 mg per ml darah atau 10 cc darah
menggunakan 10 mg powder EDTA atau 0,1 cc dari 10% larutan EDTA. Ratio 1:100
(0,03 cc EDTA :3cc darah)
EDTA lebih dari 2 mg per ml darah menyebabkan degenerasi sel darah merah, penurunan
hematokrit &MCV, peningkatan MCHC, peningkatan palsu trombosit. EDTA dapat
digunakan untuk pemeriksaan darah rutin, hitung sel, hematokrit, tes fragilitas osmotic,
golongan darah,dll
2. Heparin
Mekanisme kerjanya : mencegah pembekuan darah dengan menghalangi pembentukan
thrombin, mempercepat pembentukan antitrombin III dengan menginaktifkan faktor Xa
dan mencegah pembentukan thrombin dari protrombin, menginaktifkan XIIa dengan cara
mencegah terbentuknya fibrin stabil.
Heparin dapat menyebabkan leukosit dan trombosit clumping dan warna biru pada
background blood film pada pengecatan Romanowsky.
Dapat menguap pada suhu kamar atau 37C pada incubator atau waterbath. Digunakan
pada pemeriksaan tes fragilitas osmotic, hemoglobin, hitung sel, hematokrit, gol darah.
3. Natrium Sitrat 3,2 %
Mekanismenya dengan menghilangkan dan mengikat kalsium melalui kompleks kalsium
sitrat, menghibisi aminotransferase dan alkali fosfatasse, menstimuli acid fosfatase.
Pemakaian antikoagulan Na Sitrat yang rendah akan memendekkan cloting time dan
terjadi klot, sedangkan konsentrasi tinggi menyebabkan fase prolonged coagulatin time.

Dapat digunakan utnuk pemeriksaan kadar Hb, LED, perhitungan sel darah merah,
golongan darah,dll.
4. Natrium Floride (NaF)
Untuk pengawet glukosa darah karena mencegah glikolisis. Pada penyimpanan suhu
kamar pada whole blood akan menurunkan konsentrasi glukosa pada 1 jam bervariasi
dari 5 % pasien dewasa dan 24% bayi baru lahir.
5. ACD (Acid Citrat Dextrose)
Penambahan dekstrosa sebagai bahan untuk metabolism bagi eritrosit selama
penyimpanan. Ratio ACD tiap 1 ml untuk 4 ml darah (0,75cc ACD : 3 cc darah).
Pemakaian ACD dalam transfusi darah, pemeriksaan hematologi.
6. CPD (Citrat Phospat Dextrose) & CPDA1 (Citrat Phospat Dextrose Adenin)
Berfungsi sebagai antikoagulan juga merupakan pengawet pada kantong donor darah.
Ratio CPD dan darah 1,4 :10 (0,4cc CPD:3cc darah).
Faktor praanalitik flebotomi

Meliputi : persiapan pasien sebelum pengambilan spesimen, pengambilan spesimen,


transport spesimen, penanganan & penyimpanan spesimen.

Persiapan pasien : identifikasi jelas (nama& no. rekam medis/ nama & tgl lahir), berikan
informasi tindakan yang akan dilakukan.
a. Bayi : jaga suasana nyaman & hangat, perhatikan psikologis orang tua agar
membantu tindakan
b. Anak : bersikap hangat & bersahabat agar anak tidak takut, perhatikan psikologis
orang tua
c. Dewasa : jaga suasana nyaman, beri informasi pengaruh diet, olah raga, puasa,
stres, posisi, gaya hidup (kopi, alkohol), variasi diurnal, umur, jenis kelamin, ras,
kehamilan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL LABORATORIUM


A. Diet : disarankan puasa semalam (12 jam)-komposisi darah berubah setelah makan,
mempengaruhi kolesterol dan glukosa
B. Olah raga : mempengaruhi hasil creatinin Kinase (CK), Aspartat Amino Transferase
(AST), laktat dehidrogenase (LDH), meningkat setelah aktifitas
C. Stress : meningkatkan (WBC, albumin, glukosa), penurunan SI, abnormalitas hormon
kortisol, aldosteron, renin, TSH, prolaktin. Hiperventilasi-ketidakseimbangan asam basa
dan peningkatan laktat.

D. Posisi : enzim, protein, lipid, SI, Kalsium meningkat pada perubahan posisi. Pengambilan
pada posisi yang sama.
E. Gaya hidup : merokok meningkatkan dengan cepat (asam lemak, epinefrin, aldosteron,
kortisol), peningkatan lambat (lipoprotein, aktifitas enzim, petanda tumor, hormon).
Alkohol, meningkatkan dengan cepat kadar glukosa, laktat, asam urat & perubahan
lambat peningkatan gamma glutamil transferase (GGT), AST, Alanin Amino Trasferase
(ALT), trigliserida, kortisol.
F. Variasi diurnal : merupakan fluktuasi cairan tubuh dalam sehari. Peningkatan pagi hari
ACTH, TSH,T4 dan penurunan eosinofil pagi hari.
G. Faktor intrinsik : umur, jenis kelamin, ras, kehamilan mempengaruhi rentang nilai.
Persiapan pengambilan spesimen :
A.

Alat harus bersih, kering, tidak mengandung deterjen, bahan kimia,

B.

Tabung tidak pecah, retak, mudah dibuka & dapat ditutup rapat

C.

Lokasi pengambilan disesuaikan dengan spesimen yang diperlukan. Darah vena (v.mediana
cubiti, v.cepalica, v.basilica), darah arteri ( a.brachialis/a.femoralis), darah kapiler ( ujung jari
tengah/jari manis bagian tepi atau daerah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki pada bayi.

D.

Waktu pengambilan spesimen :


Sebaiknya pagi hari dalam keadaan basal
Pemeriksaan yang memerlukan puasa, setelah 12 jam & tidak olah raga
Pemeriksaan untuk memantau pengobatan dipertimbangkan kadar puncak
setelah minum obat & fase steady state sebelum pemberian dosis
berikutnya
Pengambilan dilakukan sebelum ada pengaruh terapi
Untuk malaria diambil pada akhir periode demam
Untuk pemeriksaan mikrofilaria diambil pada tengah malam.
ANTIKOAGULAN
Tabung yang direkomendasikan WHO :

No

Tipe tabung / warna yang

Adiktif

Cara kerja

Kegunaan

2
3
4

digunakan
Botol kultur darah (warna
kuning garis hitam)
Tabung non adiktif
Tabung koagulasi (tutup biru
terang)
Klot aktifator (tutup merah)

Broth
mixture

Menjaga viabilitas
mikroorganisme

Mikrobiologi,
kultur aerob,
anaerob, jamur

Sodium
sitrat
Klot
aktifator

Mengikat kalsium

Tes koagulasi
(PT/aPTT)
Kimia, serologi,
imunologi, cross
match
Untuk kadar
lithium
menggunakan
sodium heparin,
untuk kadar
ammonium
menggunakan
sodium atau
lithium heparin
Hematologi,
bank darah (cross
match)
Tes DNA, HLA,
tes paternitas

Darah beku
disentrifuse untuk
pemeriksaan serum
Sodium
Menonaktifkan
heparin atau thrombin dan
lithium
thromboplastin
heparin

Sodium heparin (tutup hijau


tua)

EDTA (tutup ungu)

EDTA

Mengkhelasi kalsium

Tabung darah (tutup kuning


pucat)

Dextrose
asam sitrat

Inaktifasi komplemen

Pengambilan spesimen : teknik pengambilan harus dilakukan dengan benar agar terhindar
dari kesalahan :

Tekanan tornikuet terlalu lama

Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk)

Homogenisasi darah dengan antikoagulan tidak sempurna

Pengambilan darah pada jalur infus

Transport spesimen :
o Pengiriman dengan cara tepat menjamin kualitas sampel, menggunakan wadah
khusus (kotak/tas khusus dari bahan plastik/gabus yang dapat ditutup rapat &
mudah dibawa
o Penundaan dapat selama 2 jam

o Penundaan lama akan menyebabkan penurunan kadar natrium, glukosa, jumlah


leukosit, trombosit, perubahan morfologi sel darah, PT/APTT memanjang,
peningkatan Kalium, fosfat, LDH, berkembanya bakteri.
Pengelolaan spesimen :

Presentrifuse

Sentrifuse

Post sentrifuse

Penyimpanan spesimen : jika pemeriksaan direncanakan ditunda atau dirujuk ke lab


rujukan, lama penyimpanan harus memperhitungkan jenis pemeriksaan, stabilitas
spesimen, wadah spesimen.
Waktu penyimpanan sampel
Jenis pemeriksaan
Kimia klinik
Imunologi
hematologi
Koagulasi
Toksikologi
Blood grouping

waktu
Minggu I
Minggu I
Jam 24
Hari I
Minggu 6
Minggu I

tempat
Refrigerator
Refrigerator
Suhu kamar
Refrigerator
Refrigerator
Refrigerator

TEKNIK FLEBOTOMI
Flebotomi vena, langkah-langkah :
1. Identifikasi pasien dengan jelas
2. Jelaskan prosedur yang dilakukan
3. Siapkan posisi pasien, bisa duduk atau berbaring
4. Siapkan alat : jarum, holder, tabung, sarung tangan, torniquet, kapas alkohol, kapas/kasa
steril, plester, tempat pembuangan jarum
5. Lakukan hand higiene, pakai sarung tangan
6. Pasien disuruh menggenggam
7. Cari vena, pilih tempat yang tidak sering diambil
8. Gunakan tornikuet

9. Desinfeksi dengan alkohol 70%, keringkan


10. Fiksasi vena dibawah tempat tusukan dengan ibu jari, jari tengah dan jari telunjuk
11. Masukkan jarum dengan ujung jarum menghadap ke atas, ambil darah kira-kira 2x dari
yang diperlukan untuk analisis sampel
12. Lepaskan torniquet segera saat darah mulai masuk dalam spuit, jangan mencabut jarum
bila torniquet masih terpasang.
13. Setelah sampel darah yang diambil cukup, pasien diminta melepaskan kepalan tangan
pelan-pelan
14. Letakkan kapas steril, tarik jarum, tekan kapas/ kasa diatas tempat penusukan untuk
menghentikan perdarahan
15. Setelah perdarahan berhenti beri plester
16. campur/bolak-balik pelan tabung yang mengandung anti koagulan
17. Beri label pada tabung
18. Buang jarum pada tempat pembuangan jarum.

Flebotomi arteri
Tujuan : pemeriksaan gas darah (a.radialis) & pH darah untuk mengetahui status
respiratorius & keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar O2, CO2 dalam darah pada
penyakit paru, peny.metabolisme& peny.lainnya serta digunakan sebagai pegangan dalam pasien
penyakit berat yang akut & menahun. (darah ini menggambarkan metabolisme pada semua organ
shg komposisi darah sama disemua jaringan tubuh)
Indikasi :
a. Untuk menilai tekanan partial O2 & CO2 dalam darah
b. Untuk menilai pH darah
c. Pemeriksaan analisa gas darah, biasanya dilakukan pada pasien-pasien gangguan pernafasan
berat yang akut
d. Pengukuran pH darah, tekanan partial CO2&O2 memberikan informasi yang akurat tentang
status keseimbangan asam basa dan pertukaran gas dalam tubuh

e. Analisa gas darah juga dibutuhkan bila akan melakukan CO-oximetri untuk menilai
methenoglobinemia & carboxyhemoglobinemia
Kontraindikasi flebotomi arteri :
a.

Defisiensi sirkulasi kolateral ekstremitas atas bagian distal

b.

Tidak terabanya denyut arteri radialis

c.

Tes Allen positif

d.

Pungsi arteri radialis sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan infeksi kulit (selulitis)

e.

Pasien yang mendapat terapi antikoagulan (gangguan koagulasi)

f.

Bypass grafting
Tes Allen
1. Palpasi denyut arteri radialis & ulnaris pada pergelangan tangan
2. Tekan/tutup aliran darah arteri ulnaris & radialis
3. Pasien disuruh menggenggam kuat tangannya selama 30 detik untuk mengosongkan
aliran darah di tangan
4. Setelah 30 detik, pasien disuruh melepaskan genggamannya, maka telapak tangan akan
tampak pucat
5. Lepaskan tekanan pada a.ulnaris
6. Pada kondisi normal telapak tangan akan kembali memerah dalam waktu 5-10 detik
setelah tekanan dilepaskan. Hal ini menandakan fungsi arteri ulnaris paten (tes allen
negatif). Jika telapak tangan tetap pucat melebihi waktu tersebut, menandakan adanya
oklusi pada arteri ulnaris atau gangguan kolateral ulnaris
Alat dan bahan
a. Evacuated collection tube, jarum, holder
b. Syringe no 23-25
c. Tutup syringe yang berisi heparin litium kering
d. Torniquet
e. Kapas alkohol

f. Plester
g. Sarung tangan
h. Wadah pembungan jarum
i. Lidokain 1%
j. Kantung es
Teknik tusukan arteri
1. Pergelangan tangan pasien diposisikan terlentang ( diekstensikan) agar a.radialis pada
posisi lebih dangkal & dapat terlihat jelas.
2. Letakkan gulungan handuk dibawah pergelangan tangan untuk mempertahankan posisi
3. Cuci tangan sesuai prosedur
4.

Pakai sarung tangan, identifikasi semua komponen

5. Palpasi untuk mencari processus styloideus os radius


6.

Palpasi daerah flexor tendon carpi radius, sebelah median processus styloideus os radius

7. A.radialis berada diantara processus styloideus os radius dan tendon flexor carpi radialis
8. Palpasi denyut nadi & tentukan titik impuls maksimum
9. Pada kasus a.radialis yang sulit dipalpasi (mis.edema & vasospasme) digunakan USG
dopler
10. Lalukan anastesi lokal tunggu 30-60 detik
11. Arteri yang akan ditusuk disterilkan dengan alkohol 70% diikuti dengan yodium,
gunakan uk.18-20 G, tusukan jarum dengan lubang menghadap ke aliran darah,
kemiringan 30-45 (a.radialis), 90 (a.femoralis)
12. Pulsasi darah ke dalam syringe menunjukkan darah dari arteri, biarkan terisi sendiri
spontan/pasif, bila udara turut teraspirasi maka jarum harus dicabut lalu ditusuk lagi.
13. Isi spuit dengan darah 1-2cc. Jika darah tidak diperoleh jangan menarik plunger, tarik
jarum secara perlahan sampai hanya dibawah kulit & ulangi prosedur.
14. Setelah syringe terisi darah, cabut jarum, tekan dengan kasa/ kapas kering steril minimal
2 menit ( dianjurkan 5 menit) lalu ditutup
15. Buang gelembung udara pada jarum suntik

16. Campur sampel darah dengan lithium heparin untuk mencegah beku
17. Beri label (nama, no.RM/alamat)
18. Jika perlu disimpan, dimasukkan dalam kantung es.
Pungsi a.brachialis

Merupakan pilihan kedua untuk analisa gas darah

Penusukan harus hati-hati karena letak dekat saraf mediana

Teknik : lengan dalam keadaan lurus dan rotasi pada pergelangan tangan, kemudian raba
pulse arteri pada daerah fossa antecubital, penusukan dengan sudut 45

Pungsi a.femoralis

Raba a.femoralis tepat dibawah titik tengah ligamen inguinal

Masukkan jarum dengan sudut 90 ke arah pulsasi arteri untuk sekali pengambilan darah
arteri. Untuk penempatan kateter, jarum dimasukkan dengan sudut 45menghadap ke atas.

Nilai rujukan analisa gas darah :


pH normal 7,35-7,45
PaCO2 normal 25-45 mmHg
PaO2 normal 80-100 mmHg
Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l
Base ekses normal -2,4 s/d +2,3
Saturasi O2 lebih dari 90%

Komplikasi flebotomi arteri

Nyeri

Episode vasovagal

Aneurisma a.radialis

Perdarahan

Infeksi

Spasme arteri

Perlukaan pada vena/saraf

Iskemia pada tangan

Hematoma yang menyebabkan sindroma kompartemen dan metabolisme

Tekanan partial karbondioksida, konsentrasi bikarbonat & nilai pH, menunjukan ada/
tidaknya asidosis pernafasan & metabolik primer atau mixed atau alkalosis

Tekanan partial oksigen, menunjukkan kelainan pada kadar oksigen darah dan ada
tidaknya hipoksemia

Pemeriksaan BGA, dapat dipakai untuk penegakkan diagnosis gangguan asam basa dan
kegagalan hipoksemia pernafasan.

Flebotomi pada neonates

PRAANALITIK
Alat & bahan :

Alkohol 70%, sarung tangan steril, winged collection (Butterfly), lancet


new born,vacuntainer collection tube, handuk kompres penghangat,
torniquet, tempat buang jarum

Persiapan neonatus & orang tua

Bayi diletakkan dipermukaan datar, dibedong

Ciptakan suasana nyaman, hangat untuk bayi serta agar orang tua bisa
bekerjasama

Persiapan petugas

LOKASI PENGAMBILAN DARAH KAPILER


Condition
Age
Weight
Placement of lancet

Heel Prick
Birth to about 6 months
From 3-10 kg, approximately
On the medial or lateral
plantar

Recomeded finger

Not aplicable

Finger Prick
Over 6 months
Greater than 10 kg
On side of the ball of the
surface finger perpendicular to
the lines of the fingerprint
Second & third finger (i.e.
middle & sing finger), avoid
the thumb & index finger
because of calluses & avoid

the little finger because the


tissue is thin

Heel prick (adalah pengambilan darah pada sampel di tumit kaki bagian lateral atau
medial)-rekomendasi WHO, perhatikan kedalaman tusukan tidak boleh lebih dari 2,4 mm
untuk bayi prematur dan lancet 0,85 mm kedalamannya karena daerah tumit terdapat
nervus plantaris & tulang kalkaneus (-bisa menimbulkan kerusakan nervus &
osteomielitis)

ANALITIK

Tusukan daerah kulit :

Pilih lokasi yang tepat (antecubiti, dorsum pedis, vena kepala)

Lakukan desinfeksi dengan alkohol, tusuk dengan lancet hampir tegak


lurus permukaan kulit (kedalaman <2,4 mm)

Buang tetesan pertama dengan kapas steril, kumpulkan spesimen dalam


tabung steril, beri label

Pengambilan darah dari daerah tumit :

Pastikan identitas pasien

Gunakan hand scoen

Lakukan penghangatan dengan handuk atau bantalan 42C selama 3-5


menit untuk meningkatkan aliran darah

Desinfeksi lateral plantar pedis, keringkan dengan kapas

Tusuk dengan lancet new born, tidak boleh >2,4mm

Darah pertama keluar dibuang, bersihkan dengan kapas kering, ditampung


dalam tabung dalam posisi tegak lurus.

Pengambilan darah dari daerah kepala :

Biasa dilakukan pada v. temporalis superfisialis atau vena lain yang


memungkinkan diambil darahnya

Cuci tangan, gunakan hand scoen

Cukur rambut bayi dengan pisau steril

Gunakan A23-A25 (butterfly set)

Raba pulsasi vena

Tempatkan karet gelang di bagian atas kepala jika sulit meraba kepala

Pasang jarum suntik dengan lembut & aspirasi perlahan untuk mencegah
hemolisis darah atau oklusi dinding vena.

Letakkan kapas steril lalu segera lepaskan jarum.

Tekan kapas beberapa saat, lalu plester 15 menit. Jangan menarik jarum
sebelum karet gelang dilepas.

Pengambilan darah dari umbilicus :

Masih kontroversi, karena masih bercampur dengan darah ibu

Biasa digunakan untuk pemeriksaan genetik

Untuk pemeriksaan laboratorium masih diragukan keakuratan hasilnya.

PASCAANALITIK

Perhatikan keadaan pasien setelah penusukan, adanya perdarahan, hematoma

Komplikasi : osteomielitis, cellulitis, abses, kerusakan jaringan, kerusakan saraf,


parut & skar pada tumit

FLEBOTOMI PADA ANAK

PERSIAPAN ANAK & ORANG TUA


Harus ramah, bersahabat, identifikasi jelas, jelaskan teknik yang akan dilakukan
dengan kata-kata yang dimengerti, keterlibatan ortu mengurangi kecemasan anak,
ruangan yang nyaman

PERSIAPAN ALAT
Gunakan alat yang dimodifikasi sehingga tidak menakutkan buat anak (pakaian,
plester, berikan pujian)

POSISI ANAK

Butuh bantuan ortu untuk menahan posisi anak, dengan posisi vertikal (dipangku ibu) dan
horizontal (berbaring)

Pemaksaan dapat menyebabkan trauma psikis

Mengurangi nyeri
Dengan anastesi topikal, EMLA (Eutetic Mixture of Lokal Anastetics), campuran
lidokain & prokain dioleskan pada kulit intak

Mencegah penularan penyakit


Pada anak di ruang isolasi butuh alat proteksi diri untuk mencegah penularan
penyakit
Waspada pada anak dengan alergi karet, latex (spina bifida, kelainan kongenital
traktus urinarius, neurogenic blader)

Prinsip flebotomi pada anak :


Heel stick dilakukan pada umur 0 6 bulan
Finger stick & venipuncture , umur 6 buln- 2 tahun
Venipuncture, umur > 2 tahun.

Microcapillary skin puncture


Skinpuncture adalah proses pengambilan sampel darah melalui tusukan kulit untuk
mendapatkan darah kapiler.Dilakukan bila jumlah darah yang dibutuhkan sedikit, mis: periksa
kadar glukosa, Hb, Ht, analisa gas darah (capilary method).Darah yang diambil bila terlalu
banyak akan menyebabkan anemia pada bayi.
Lokasi pengambilan pada anak dan bayi :

Bayi/neonatus lebih disukai pada tumit yaitu medial/lateral plantar, dasar permukaan tumit
sebaiknya digunakan

Anak > 1 tahun, permukaan palmar ujung jari III/IV

Plantar jari kaki jarang digunakan dan hanya untuk anak > 1 tahun
Penusukan pada jari :
dilakukan pada anak > 1 tahun. Tempat terbaik di jari ketiga atau keempat
Hal yang tidak boleh dilakukan pada penusukan jari :

Penusukan pada sisi lateral/ ujung dari jari, karena lokasi ini mengandung sedikit jaringan
lunak, terdapat pembuluh darah, saraf & dekat tulang

Penusukan sejajar dengan sidik jari ( finger prints) karena dapat mengenai tulang

Dilakukan pada bayi, karena jarinya banyak mengandung saraf sehingga menimbulkan nyeri
& pada jari pertama banyak mengandung arteri.

Penusukan pada jari yang mengalami sianosis, teraba dingin, teraba dingin, jaringan parut,
kemerahan dan bengkak, perdarahan.

Venipuncture pada neonates

Penusukan vena dilakukan bila memerlukan darah yang lebih banyak untuk pemeriksaan

Penusukan pada vena di fossa antecubital, dilakukan pada anak >2tahun

Pada neonatus penusukan pada v.dorsal manus pergelangan tangan, sisi lain medial
pergelangan tangan, dorsum kaki, kulit kepala & medial pergelangan kaki

Venipuncture dipilih pada neonatus karena rasa sakit sedikit, dibandingkan tumit.

Hindari venipuncture pada anak atau bayi dengan infus atau IV line, hindari ekstremitas atau
daerah edema,hindari penusukan pada penderita hemofilia atau kelainan

FLEBOTOMI PADA DEWASA


Dinding arteri menjadi atherosklerosis, bagian dalam pemb. Darah kasar, terdapat
penumpukan kolesterol dan kalsium. Biasa digunakan vena di daerah fossa antecubital, atau
tangan/ pergelangan tangan, bisa juga di kaki (pilihan terakhir).
Lokasi yang tidak boleh dilakukan pada pungsi darah :
a. Lengan pada sisi mastektomi
b. Daerah Edema/ vena yang varises
c. Hematoma
d. Daerah bekas luka
e. Daerah dengan cannula, fistula / cangkokan vaskuler
f. Daerah yang terpasang terapi IV line
Pengambilan darah kapiler, dilakukan pada :

Pembuluh darah yang mudah rapuh

Pasien yang hanya memerlukan jumlah darah sedikit

Pasien yang memerlukan pemeriksaan berulang

Pasien dengan luka bakar/parut pada tempat pengambilan darah vena

Pasien yang sangat gemuk

Pasien yang mendapat terapi IV pada kedua tangannya

Pasien yang memiliki komplikasi serius akibat venipuncture

Tidak boleh dilakukan pada : Keadaan dehidrasi berat, sirkulasi yang buruk, gangguan
koagulasi, pemeriksaan yang memerlukan jumlah darah yang besar

Lokasi pengambilan darah kapiler :


a. pada ujung jari tangan, telinga, tumit
b. Tidak boleh pada daerah vasokonstiksi, vasodilatasi, kongesti, sianosis

FLEBOTOMI PADA GERIATRI


Metoda penusukan kulit atau kapiler, wing needle, dengan tabung vakum merupakan
alternatif pilihan tergantung kondisi fisik. Tusukan kulit atau kapiler dilakukan karena penipisan/
penurunan elastisitas kulit, pengambilan lebih sulit karena vena mobile dan mudah terjadi
hematoma, lebih sulit ditusuk karena aterosklerotik.

Permasalahan yang sering pada flebotomi geriatri :

Penglihatan menurun-diberikan panduan saat pengambilan darah

Pendengaran menurun-pengulangan instruksi, bicara dekat telinga

Penurunan indera pengecapan, penciuman, perasa-malnutrisi

Lemahnya otot-cenderung menjatuhkan sesuatu

Penurunan daya ingat-lupa kapan terakhir makan

Jaringan subkutan & epitel menjadi lebih tipis

Masa otot lebih sedikit

Cenderung hipotermia

Peningkatan sensitivitas alergi

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada perawatan rumah :

Butuh persediaan alat ekstra untuk dibawa

Posisi nyaman (bersandar/baring)

Flebotomis berada dekat kamar mandi (mudah cuci tangan atau membawa
handrub)

Spesimen yang didapat di tempatkan dalam wadah antibocor & diberi label

Waktu pengambilan dicatat dengan baik, bila penundaan

FLEBOTOMI DENGAN ANASTESI TOPIKAL

Anastesi krim : lidocain/procain krim (EMLA)


EMLA : Eutectic Mixture of Local Anastetics) : gabungan lidocain 2,5% &
procain 2,5 %
Kelebihan dan kekurangan EMLA

kelebihan

kekurangan

Aman digunakan pada anak-anak

Efek anastesi muncul setelah 1 jam


diaplikasi

Proses mudah

Menggunakan penutup

EMLA dapat menimbulkan efek anastesi


sampai 4 jam

Kurang efektif digunakan pada permukaan


kulit yang tebal
Efek samping blanching, eritema

Anastesi gel : Amethocaine gel (Ametop gel), merupakan gel yang mengandung tetracain
4 %, setelah digunakan permukaan kulit harus ditutup dengan plastik film

Kelebihan & kekurangan anastetik gel

Kelebihan
Anastesi yang efektif

Kekurangan
Harus menggunakan penutup

Waktu aplikasi lebih singkat (45menit)

Efek samping eritema, kulit memucat, gatal &


edema (jarang)

Efek anastesi lama ( 4 jam)


Merupakan anastesi yang aman

Efek sistemik tidak ada

Anastesi patch : lidocain atau tetracaine patch (SYNERA), prinsip melepaskan rasa panas
pada kulit sehingga meningkatkan penyerapan obat. Mengandung 70mg lidocain &
tetracain 70 mg

Kelebihan & kekurangan anastesi patch

kelebihan

kekurangan

Cara pemakaian mudah

Menimbulkan rasa panas seperti terbakar

Aman & efektif

Tidak dianjurkan penggunaan multiple synera


patches

Dapat digunakan pada anak-anak, orang


dewasa & lansia
Belum ada efek sistemik

Anastesi Spray : fluori-Metana Spray (Vapocoalant spray), tidak mudah terbakar,


menyebabkan pendinginan sementara permukaan kulit, dipakai dengan menggunakan
bola kapas, biarkan cairan menguap dan diusap dengan alkohol
EMLA Krim

AMETOP gel

SYNERA Patch

Waktu yang
dibutuhkan
Durasi

Menit 60

Menit 30-45

Menit 20

Vapocoalant
spray
Detik 60

Jam 4

Jam 4

Jam 2

Detik 15

Menggunakan
penutup

Efek samping

Blancing
Eritema
purpura

Eritema
Gatal
edema

Rasa panas
seperti terbakar

Rasa terbakar
pada pasien usia
< 12 tahun

PENYULIT DAN KOMPLIKASI


TEKNIK SULIT PADA FLEBOTOMI
Terjadi pada pasien luka bakar, pasien yang terpasang gips, edema, hematoma, pasien
post mastektomi, pasien dialisis, pasien yang sedang menerima transfusi & pasien yang
terpasang infus. Beberapa kondisi pasien yang mempengaruhi flebotomi adalah pasien dalam
pengobatan antikoagulan dan sedang menerima koagulan.
FAKTOR KHUSUS
1. PASIEN ANAK
Anak duduk dipangku, tempatkan lengan orang tua disekeliling anak & diatas lengan
yang tidak digunakan. Lengan yang lain membantu lengan yang akan dipungsi vena dari
belakang pada lekukan siku, jika anak berbaring maka ortu bersandar diatas anak pada sisi
sebelah tempat tidur.
2. PASIEN ORANG TUA
Perubahan pada kulit, kurangnya elastisitas kulit, penurunan kelembapan sehingga
kulit mudah luka dan rapuh dan kolaps pembuluh darah
Pendengaran & memori mulai menurun
Berkaitan dengan penyakit stroke,parkinson, arthritis, diabetes, memakai kursi roda
3. PASIEN YANG SULIT BERKOMUNIKASI
Keterbatasan bahasa
Pasien yang bisu tuli
Pasien yang koma
Pasien dengan gangguan emosional, agresif, kelainan jiwa
4. PASIEN YANG MENOLAK FLEBOTOMI
Karena takut memakai jarum kecil & analgetik topikal
Bujuk pasien jelaskan dengan baik
Jangan memaksakan tindakan pada pasien
Catat penolakan pada rekam medis

PEMILIHAN ALAT
Metode terbaik untuk mendapatkan spesimen pada pungsi vena adalah metoda tabung
vacum atau evacuate, yang terdiri dari 3 komponen yaitu tabung vakum untuk sampel, jarum
pada 2 titik (satu untuk masuk ke vena, ujung yang satu untuk ke dalam tabung vakum) dan
plastik pemegang. Wing needle dan syringe kadang digunakan untuk pasien dengan pembuluh
darah kecil dan rapuh. Tersedia ukuran21-25, ukuran 21,23 lebih baik dari 25 karena ukuran
kecil menyebabkan hemolisis ketika darah diambil.
KOMPLIKASI FLEBOTOMI
Syncope, Pengambilan darah gagal, Hematoma, Petekia, Excessive bleeding, Komplikasi
neurologic, Kerusakan pembuluh darah, Hemokonsentrasi, Hemolisis, vomitting
Hematoma pada flebotomi
Terkumpulnya darah dalam jaringan atau rongga, berasal dari pecahnya pembuluh darah,
arteri, vena atau kapiler. Terjadi karena area tusukan melebar, menyebabkan kebocoran darah ke
jaringan. Jarum masuk terlalu dalam, melewati vena atau sudut miring sehingga membuat
dinding vena terbuka.Penanganan hematoma saat mulai terbentuk, jarum & tornikuet harus cepat
dilepas, daerah hematoma ditekan selama 2 menit, jika perdarahan berlangsung terus harus
ditangani lebih lanjut. Kompres es menimbulkan vasokonstriksi sehingga mengurangi
perdarahan & pembengkakan. Elevasi & mengistirahatkan lengan dapat mengurangi bengkak
dan menghindari kerusakan lebih lanjut.
Nyeri pasca flebotomi
Merupakan jenis nyeri saraf yaitu nyeri yang terasa pada tempat penyuntikan/ iritasi &
menjalar sepanjang bagian distalnya, yang disebabkan karena adanya saraf yang tergores oleh
jarum saat penusukan vena atau karena tekanan dari hematoma yang sudah ada sebelumnya.
Nyeri yang menjalar merupakan nyeri yang akibat perangsangan terhadap saraf sensorik perifer.
Jenis nyeri adalah jenis neuritis jebakan atau entrapment neuritis, terjadi gangguan saraf perifer
dengan manifestasi berupa gangguan sensorik & motorik. Hampir semua nyeri yang menjalar
dari siku ke ujung jari tangan merupakan neuritis jebakan dari n.radialis & n. ulnaris akibat
reumatismus daerah siku
Pencegahan & cara menghindar nyeri :

Menanyakan riwayat flebotomi sebelumnya, apakah ada komplikasi yang timbul

Mengambil darah pada vena yang benar-benar diyakini bisa dilakukan penusukan dengan
meminimalisir gerakan jarum yang masuk ke vena

Gunakan jarum yang tajam sehingga tepat ke vena

Hindari pengambilan pada lokasi tepat disisi lateral dari tendo musculus biseps brachii & sisi
medial dari m.brachioradialis karena tempat itu terletak nervus cutaneus antebrachii lateralis

Direkomendasikan pengambilan pada v.mediana cubiti/ vena pada lengan bawah, karena
letaknya superfisial dan tidak berdekatan dengan saraf besar.