Anda di halaman 1dari 43

Bab 7.

Bahaya Geologi
Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

BAHAYA GEOLOGI
7.1

Pendahuluan

Proses-proses geologi baik yang bersifat endogenik maupun eksogenik dapat


menimbulkan bahaya bahkan bencana bagi kehidupan manusia. Bencana yang
disebabkan oleh proses-proses geologi disebut dengan bencana geologi. Longsoran
Tanah, Erupsi Gunungapi, dan Gempabumi adalah contoh-contoh dari bahaya
geologi yang dapat berdampak pada aktivitas manusia di berbagai wilayah di muka
bumi.
Berdasarkan catatan, bencana yang diakibatkan oleh bahaya geologi yang terjadi di
berbagai belahan dunia meningkat secara tajam, baik dalam tingkat dan frekuensi
kejadiannya dan secara statistik jumlah korban jiwa dan harta benda juga
meningkat. Berdasarkan catatan BAKORNAS, bencana yang melanda Indonesia dari
tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Selama periode
2003 2005 telah terjadi 1.429 bencana, baik yang disebabkan oleh bencana
geologi maupun bencana hidro-meteorologi.
Dalam bab ini akan dibahas mengenai bahaya yang disebabkan oleh proses-proses
geologi, seperti longsoran tanah, erupsi gunungapi, gempabumi, dan bencana yang
disebabkan oleh ulah manusia. Dalam bab ini dibahas juga bencana alam yang
sering melanda wilayah Indonesia dan pembahasan mengenai pengelolaan resiko
bencana (disaster risk management).

7.2

Bahaya Longsoran Tanah

Longsoran Tanah atau gerakan tanah adalah proses perpindahan masa batuan /
tanah akibat gaya berat (gravitasi). Longsoran tanah telah lama menjadi perhatian
ahli geologi karena dampaknya banyak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
harta benda. Tidak jarang pemukiman yang dibangun di sekitar perbukitan kurang
memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan, dan proses proses
geologi yang terjadi di kawasan tersebut sehingga secara tidak sadar potensi
bahaya longsoran tanah setiap saat mengancam jiwanya.
Faktor internal yang menjadi penyebab terjadinya longsoran tanah adalah daya ikat
(kohesi) tanah/batuan yang lemah sehingga butiran-butiran tanah/batuan dapat
terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan menyeret butiran lainnya
yang ada disekitarnya membentuk massa yang lebih besar. Lemahnya daya ikat
tanah/batuan dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas) dan kelolosan air
(permeabilitas) tanah/batuan maupun rekahan yang intensif dari masa tanah/batuan
tersebut. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu
Copyright@2007 by Djauhari Noor

191

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

longsoran tanah dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan
lereng, perubahan kelembaban tanah/batuan karena masuknya air hujan, tutupan
lahan serta pola pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air
permukaan), ulah manusia seperti penggalian dan lain sebagainya.

7.2.1

Tipe-tipe longsoran tanah

Berdasarkan tipenya, longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:


(1). Gerakan tanah tipe aliran lambat (slow flowage ) terdiri dari:
a. Rayapan (Creep): perpindahan material batuan dan tanah ke arah kaki
lereng dengan pergerakan yang sangat lambat.
b. Rayapan tanah (Soil creep): perpindahan material tanah ke arah kaki
lereng
c. Rayapan talus (Talus creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari material
talus/scree.
d. Rayapan batuan (Rock creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari blokblok batuan.
e. Rayapan batuan glacier (Rock-glacier creep): perpindahan ke arah kaki
lereng dari limbah batuan.
f. Solifluction/Liquefaction: aliran yang sangat berlahan ke arah kaki lereng
dari material debris batuan yang jenuh air.
(2). Gerakan tanah tipe aliran cepat (rapid flowage) terdiri dari :
a. Aliran lumpur (Mudflow) : perpindahan dari material lempung dan lanau
yang jenuh air pada teras yang berlereng landai.
b. Aliran masa tanah dan batuan (Earthflow): perpindahan secara cepat dari
material debris batuan yang jenuh air.
c. Aliran campuran masa tanah dan batuan (Debris avalanche): suatu aliran
yang meluncur dari debris batuan pada celah yang sempit dan berlereng
terjal.
(3) Gerakan tanah tipe luncuran (landslides) terdiridari :
a. Nendatan (Slump): luncuran kebawah dari satu atau beberapa bagian
debris batuan, umumnya membentuk gerakan rotasional.
b. Luncuran dari campuran masa tanah dan batuan (Debris slide): luncuran
yang sangat cepat ke arah kaki lereng dari material tanah yang tidak
terkonsolidasi (debris) dan hasil luncuran ini ditandai oleh suatu bidang
rotasi pada bagian belakang bidang luncurnya.
c. Gerakan jatuh bebas dari campuran masa tanah dan batuan (Debris fall):
adalah luncuran material debris tanah secara vertikal akibat gravitasi.
d. Luncuran masa batuan (Rock slide): luncuran dari masa batuan melalui
bidang perlapisan, joint (kekar), atau permukaan patahan/sesar.
e. Gerakan jatuh bebas masa batuan (Rock fall): adalah luncuran jatuh bebas
dari blok batuan pada lereng-lereng yang sangat terjal.
f. Amblesan (Subsidence): penurunan permukaan tanah yang disebabkan
oleh pemadatan dan isostasi/gravitasi.

7.2.2. Faktor penyebab longsoran tanah


Faktor-faktor yang mempengaruhi longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 2,
yaitu faktor yang bersifat pasif dan faktor yang bersifat aktif.
(1) Faktor yang bersifat pasif pada longsoran tanah adalah:
a. Litologi: material yang tidak terkonsolidasi atau rentan dan mudah
meluncur karena basah akibat masuknya air ke dalam tanah.
Copyright@2007 by Djauhari Noor

192

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

b. Susunan Batuan (stratigrafi): perlapisan batuan dan perselingan batuan


antara batuan lunak dan batuan keras atau perselingan antara batuan
yang permeable dan batuan impermeabel.
c. Struktur geologi: jarak antara rekahan/joint pada batuan, patahan, zona
hancuran, bidang foliasi, dan kemiringan lapisan batuan yang besar.
d. Topografi: lereng yang terjal atau vertikal.
e. Iklim: perubahan temperatur tahunan yang ekstrim dengan frekuensi
hujan yang intensif.
f. Material organik: lebat atau jarangnya vegetasi.
(2) Faktor yang bersifat aktif pada longsoran tanah adalah:
a. Gangguan yang terjadi secara alamiah ataupun buatan.
b. Kemiringan lereng yang menjadi terjal karena aliran air.
c. Pengisian air ke dalam tanah yang melebihi kapasitasnya, sehingga tanah
menjadi jenuh air.
d. Getaran-getaran tanah yang diakibatkan oleh seismisitas atau kendaran
berat.
Pada gambar 7.1 diperlihatkan 5 tipe longsoran tanah yang didasarkan atas cara
dan mekanisme longsorannya, yaitu tipe runtuhan, tipe aliran, tipe luncuran, tipe
nendatan, dan tipe rayapan.
7.2.3. Metoda penanggulangan dan pencegahan bahaya longsoran tanah
Penanggulangan dan pencegahan bahaya longsoran tanah dapat dilakukan dengan
berbagai cara dan metoda, baik yang berkaitan dengan tipe longsoran dan faktor
penyebabnya. Terdapat beberapa tipe longsoran tanah yang dapat ditanggulangi
melalui rekayasa keteknikan, seperti membuat terasering di kawasan perbukitan
yang berlereng terjal agar lereng menjadi stabil, atau struktur pondasi bangunannya
menggunakan tiang pancang hingga mencapai kedalaman tertentu sehingga dapat
menahan bangunan jika terjadi longsoran tanah. Untuk dapat mengetahui secara
detil tentang tipe dan faktor penyebab longsoran tanah di suatu wilayah, maka
diperlukan penyelidikan geologi secara detail dan komprehensif sehinga dapat
diketahui secara pasti sebaran, lokasi, jenis gerakan tanahnya serta kestabilan
wilayah di daerah tersebut. Peta kestabilan wilayah dan lokasi gerakan tanah
merupakan out-put dari penyelidikan geologi yang berguna untuk perencanaan
tataguna lahan.
Pada gambar 7.2 diperlihatkan beberapa lokasi pemukiman yang terlanjur ada di
kawasan rawan bencana geologi, terutama bahaya tanah longsor. Dalam gambar
tampak lokasi pemukiman yang berada di sekitar suatu jalur patahan (kiri) dan
kawasan pemukiman yang berada di kaki perbukitan yang rentan terhadap
longsoran tanah (kanan). Pada gambar tampak pemukiman yang tersebar hingga
mencapai
kawasan
yang
berada
di
lereng-lereng
berbukitan
tanpa
memperhitungkan faktor kestabilan lerengnya yang berpotensi longsor. Penelitian
geologi untuk kerentanan longsoran tanah umumnya melibatkan pemetaan dan
kajian terhadap karakteristik tanah dan batuan. Sifat tanah/struktur tanah yang
harus diteliti adalah: kekerasan, klastisitas, permeabilitas, plastisitas, dan komposisi
mineralnya, terutama untuk tanah yang tersusun dari mineral lempung (mineral
montmorilonite) yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah, sedangkan untuk
batuan yang dikaji adalah jenis dan struktur batuannya, terutama untuk lapisan
batuan yang lemah dan banyak rekahannya (kekarnya).
Faktor hidrologi juga harus menjadi perhatian dalam penyelidikan, terutama
mengenai penyebaran pola pengaliran, sebaran mata air dan mata air panas, serta

Copyright@2007 by Djauhari Noor

193

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

lapisan-lapisan batuan permeable yang berhubungan dengan air tanah. Keterlibatan


faktor pemicu gerakan tanah harus dikaji dan di evaluasi, seperti:
a) cuaca dan iklim guna mengetahui hubungan antara periode curah hujan
dengan longsoran.
b) data air bawah tanah sebelum dan sesudah terjadi longsoran.
c) catatan kegempaan untuk menentukan hubungan antara longsoran dengan
gempabumi.
d) catatan mengenai pembukaan dan penggalian lahan dan aktivitas di atas
lahan yang kemungkinan melebihi beban atau penambangan tanah pada
lereng-lereng bukit.

Talus

Longsoran tipe runtuhan (falls)

Longsoran tipe aliran (flows)

Longsoran tipe luncuran (slides)

Longsoran tipe nendatan (slumps)

Copyright@2007 by Djauhari Noor

194

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Longsoran tipe rayapan (creeps)

Gambar 7.1. Tipe-tipe longsoran tanah

Gambar 7.2 Pemukiman yang berada di kawasan rawan bencana


longsoran tanah (gambar kiri) dan pemukiman di daerah
rawan amblesan (gambar kanan).

Penelitian bawah permukaan diperlukan guna mengetahui hubungan 3 (tiga)


dimensinya serta mendapatkan contoh batuan yang diperlukan untuk diuji di
laboratorium, seperti pengujian kuat tekan (shear-strength), sensitivitas batuan,
serta sifat-sifat keteknikan lainnya. Begitu juga dengan sifat dan struktur tanah perlu
dilakukan pengujian baik di laboratorium maupun pengujian lapangan dengan cara
pembuatan sumuran uji (testpit), pembuatan paritan uji (trenches) dan pemboran.
Observasi air tanah perlu dilakukan untuk mendapatkan data-data tinggi muka air,
tekanan air, dan arah aliran. Penyelidikan geofisika dapat juga dilakukan untuk
mendapatkan data data tentang ketebalan lapisan tanah dan kedalaman batuan
dasar.
Pada tabel 7.1. diperlihatkan beberapa metoda penanggulangan dan pencegahan
serta perbaikan terhadap gejala gerakan tanah yang ditujukan terutama untuk
mengurangi gaya geser (shear-stress), peningkatan resistensi geser (shear-strength)
atau kedua-duanya. Untuk mengurangi gaya geser dapat dilakukan dengan cara
penggalian material penyebab longsor, atau dengan cara mengurangi keterjalan
lereng serta memindahkan permukaan tanah yang tidak stabil. Pengurangan derajat
kelerengan akan berdampak pada berkurangnya beban masa batuan/ tanah yang
dapat meluncur atau longsor. Pemindahan masa batuan/tanah yang ada di bagian
muka luncuran sekaligus akan mengurangi beban dan gaya geser.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

195

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Pada tipe gerakan tanah jenis luncuran rotasional (slumping), resistensi geser
batuan akan semakin meningkat jika masa batuan/tanah dipindahkan ke arah
bagian belakang luncuran. Menstabilkan suatu longsoran yang komplek seringkali
melibatkan pengendalian eksternal dan internal dari pengaliran air. Air yang jatuh
dan mengalir di permukaan lahan yang berlereng harus di alirkan dan diusahakan
jangan sampai diam ditempat. Pada beberapa lereng perlu dibuat agar supaya aliran
air lancar serta dihindarkan jangan sampai air terjebak pada bagian undak lereng.
Untuk mencegah aliran air yang masuk ke dalam rekahan (kekar) batuan, maka
batuan harus ditutup dengan lempung, aspal atau dengan material yang
impermeable.
Aliran air bawah tanah harus dikurangi guna menghindari meningkatnya resistensi
geser batuan. Untuk mengurangi aliran air bawah tanah dilakukan dengan cara
memindahkannya melalui terowongan air yang dibuat secara horizontal atau
dengan bantuan pipa perforasi, sumur vertikal atau dibuat paritan (trench) yang diisi
kembali dengan material yang kasar dan permeable.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

196

Bab 7. Bahaya Geologi

Geologi Untuk Perencanaan

________________________________________________________________________________

Tabel 7.1 Metoda Pencegahan dan Perbaikan Gerakan Tanah / Longsoran (Root, A.W., Prevention of Landslides, 1958)
Pemakaian Umum
Dampak terhadap
stabilitas

Metoda Pencegahan

Frekuensi keberhasilan
pada longsoran jenis
Runtu
Luncur Aliran
han
an

Perbaik
an

I. Metoda Menghindar :
A. Relokasi

B. Bridging

II. Metoda Penggalian:


A. Pemindahan

X
X

X
X

1
1

1
1

1
1

Keseluruhan dari masa yang meluncur


(sliding)

X
X
X
X

X
X
X
X

1
3
1
2

1
3
1
2

1
3
1
2

Bagian atas
Dipermukaan masa yg bergerak
Dipermukaan masa yg bergerak
Keseluruhan dari masa yang bergerak
Keseluruhan dari masa yang bergerak
Di antara bagian air bawah permukaan yang bergerak

X
X

X
X

N
N

1
3

2
N

Tidak Efektif

Mengurangi
Gaya Geser /
Shear Stress

Lokasi dan Posisi Pencegahan


Longsor

Pencegah
an

B. Melandaikan lereng
C. Memberonjong lereng
D. Memindahkan material tidak stabil

Di bagian sisi luar dari bidang


luncuran (slide plain)
Di bagian sisi luar dari bidang
luncuran (slide plain)
Bagian depan dari masa
bergerak
Di atas jalan atau struktur
Di atas jalan atau struktur

yang

Penerapan terbaik dan keterbatasan

Metoda yang baik jika lokasi pengganti lebih ekonomis


Terutama untuk aplikasi jalan raya di lokasi berlereng
terjal dan berbukit-bukit
Masa bagian bawah yang bersifat kohesif
Lapisan batuan; masa tanah/batuan yg kohesif dimana
sebagian berpindah ke lokasi yang bergerak.
Perpindahan masa tanah/batuan yang relatif dangkal dan
kecil.

III. Pengaliran air:

Mengurangi Gaya
Geser dan mening
katkan Resistensi
Geser

A. Air Permukaan:
1. Membuat saluran air
2. Pengendalian lereng
3. Memundurkan lereng
4. Menutup Rekahan
5. Menutup bidang kekar
dan jalur retakan
B. Air Bawah Permukaan
1. Pengaliran horizontal
2. Pengaliran lewat pa
ritan
3.Terowongan
4. Pengaliran dengan
sumur vertikal
5. Mengalirkan melalui
pipa

Copyright@2007 by Djauhari Noor

Terutama untuk setiap jenis gerakan tanah


Permukaan batuan yang mengontrol rembesan
Untuk semua jenis/tipe gerakan tanah
Untuk semua jenis/tipe gerakan tanah
Dapat diterapkan pada formasi batuan
Masa tanah yang tebal terhadap air bawah tanah
Masa tanah relatif dangkal terhadap air bawah tanah
Masa tanah yang sangat tebal dan bersifat lolos air
(permeable).
Masa longsoran yang dalam, air bawah tanah berada
pada berbagai jenis lapisan batuan
Dipakai sebagai jalan keluar air pada paritan atau sumur

196

Bab 7. Bahaya Geologi

Geologi Untuk Perencanaan

________________________________________________________________________________

IV. Menstabilkan struktur


gesekan:
A . Memperkuat bagian
kaki lereng dengan:
1. Pengisian dg batu
2. Pengisian dg tanah

Meningkatkan
Resistensi Geser

B. Membangun tembok/
dinding penahan
C. Tiang Pancang:
1. Tetap pada permukaan
bidang luncur.
2. Tidak tetap pada permukaan bidang luncur
D. Menanam tiang pan
cang pada batuan

X
X

X
X

N
N

1
1

1
1

Masa yg bergerak&kaki lereng


Masa yg bergerak&kaki lereng

Batuan/tanah padat pada kedalaman tertentu .


Mengurangi beban pada bagian yang bergerak untuk menambah resistensi batuan/tanah

kaki lereng

Memindahkan masa tanah yang relatif kecil

kaki lereng

Resistensi geser pada bidang luncur mening- kat akibat


pemancangan tiang pancang.

kaki lereng

Diatas jalan atau struktur

Diatas jalan atau struktur

X
X

3
N
N
N

3
3
3
3

3
N
3
3

Masa yg bergerak&kaki lereng


Seluruh bag dari masa batuan
Keseluruhan
Keseluruhan

Tanah yang bersifat tidak kohesif


Tanah bersifat tidak kohesif
Untuk pencegahan sementara
Tanah menjadi keras akibat kandungan air berkurang

Separuh dari bagian masa yang


bergerak

Masa kohesif tanah yang dangkal diatas lapisan batuan

Bagian kaki lereng dan bagi -an


yang bergerak

Permukan bidang luncur terganggu, Ledakan dapat


mengakibatkan mengalirnya air ke masa longsor
Stabilitas longsor menjadi berkurang

Lapisan batuan tetap bersamaan dengan tiang yang


ditanam
Lereng yang lemah diberi penyangga atau tiang pancang
hingga ke dasar lapisan yang keras

E.
E. Pengendalian lereng

Terutama untuk
meningkatkan
Resistensi Geser

V. Metoda lainnya:
A. Pemadatan material
longsoran
1. Penyemenan dgn bebeton / bahan kimia
a. Kaki lereng
b. Bagian yg bergerak
2. Freezing
3. Electroosmosis
B. Peledakan

C. Memindahkan sebagian masa luncuran


ke tempat yang berge
rak
Catatan : 1 = Sering 2 = Kadang-kadang 3 = Jarang

X
X

N = Tidak disarankan untuk diterapkan

Copyright@2007 by Djauhari Noor

( Root, A.W., Prevention of Landslides, 1958 )

197

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Menstabilkan struktur untuk meningkatkan resistensi geser merupakan cara yang


paling efektif sebelum longsoran terjadi dibandingkan apabila longsoran sudah
terjadi. Jenis yang sangat umum dari masa batuan/tanah diletakkan sebagai beban
dan ditempatkan pada bagian luar dari masa longsoran untuk menahan reaksi
gerakan ke atas, sedangkan bagian dasar berfungsi sebagai penopang kearah lateral
untuk bagian tepi dari masa longsoran, bagian pinggir atau lereng yang sudah
dikupas diisi untuk mencegah gerakan ke arah kaki lereng. Dinding yang dibuat dari
semen atau beton akan berguna untuk menahan laju masa batuan/tanah yang tidak
stabil.

Gambar 7.3 Pemukiman yang berada di kawasan rawan longsoran tanah (kiriatas) dan areal pemukiman di La Conchita, California, USA. yang
terlanda longsoran tanah pada tahun 1995 (kanan atas). Gambar kiri
bawah adalah perubahan penggunaan lahan di tempat berlereng untuk
perumahan dan dampak longsoran yang terjadi di kawasan perumahan
(kanan bawah).

Untuk gerakan tanah yang berada di lereng bukit, pencegahan dapat dilakukan
dengan cara memasang tiang pancang, namun demikian untuk menahan luncuran
masa batuan/tanah yang aktif pemasangan tiang pancang tidak akan mampu
menahan gerakan masa batuan/tanah tersebut dan hal ini disebabkan karena
perpindahan debris tanah yang mampu melewati tiang pancang, atau membuat
tiang pancang menjadi miring dan bahkan mematahkannya. Hal yang lebih ekstrim
adalah tiang pancang meluncur bersamaan dengan luncuran tanah. Resistensi geser
Copyright@2007 by Djauhari Noor

198

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

pada masa batuan atau tanah yang tidak stabil dapat meningkat karena pemadatan
dan pengerasan internal melalui injeksi semen, aspal atau bahan kimia tertentu.
Masalah longsoran yang terjadi di reservoir bendungan adalah masalah yang
berkaitan dengan luncuran masa batuan/tanah yang bersifat lepas dan erosi yang
cepat. Luncuran masa batuan/tanah dan erosi di dalam reservoir bendungan dapat
mengakibatkan banjir yang cukup besar dan bahkan bendungan dapat mengalami
retak atau hancur. Kecepatan rembasan yang terjadi melalui luncuran debris dapat
memperbesar rembasan, yaitu melalui pelarutan atau perpindahan sedimen yang
berukuran halus dan dapat meningkatkan kemungkinan
terjadinya breakout
dibawah poros bendungan. Pengendalian rembasan yang melewati badan
bendungan dari jenis luncuran debris dapat di lakukan dengan cara menyuntik
material/bahan penstabil atau dengan cara bagian belakang bendungan ditutupi
dengan material lempung, disiram semen, atau dilapisi oleh bahan yang bersifat
tidak lolos air. Apabila cara-cara tersebut diatas tidak bisa dilakukan maka
disarankan untuk dilakukan pendangkalan bagian dasar reservoir agar supaya
keamanan menjadi meningkat atau dengan cara menguras atau mengalirkan air
yang terdapat dalam reservoir melalui saluran pembuangan atau dengan cara
memotong saluran.

7.3.

Bahaya Erupsi Gunungapi

Bahaya Gunungapi adalah bahaya yang ditimbulkan oleh letusan/kegiatan


gunungapi, berupa benda padat, cair dan gas serta campuran diantaranya yang
mengancam atau cenderung merusak dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian
harta benda dalam tatanan (lingkungan) kehidupan manusia.
7.3.1. Dampak letusan gunungapi terhadap lingkungan:
Dampak letusan gunungapi terhadap lingkungan dapat berupa dampak yang bersifat
negatif dan positif. Dampak negatif dari letusan suatu gunungapi dapat berupa
bahaya yang langsung dapat dirasakan oleh manusia seperti awan panas, jatuhan
piroklastik, gas beracun yang keluar dari gunungapi dan lain sebagainya, sedangkan
bahaya tidak langsung setelah erupsi berakhir, seperti lahar hujan, kerusakan lahan
pertanian, dan berbagai macam penyakit akibat pencemaran. Adapun dampak
positif dari aktivitas suatu gunungapi terhadap lingkungan adalah bahan galian
mineral industri, energi panasbumi, sumberdaya lahan yang subur, areal wisata
alam, dan sebagai sumberdaya air.
1. Dampak Negatif:
a. Bahaya langsung, terjadi pada saat letusan (lava, awan panas, jatuhan
piroklastik/bom, lahar letusan dan gas beracun).
b. Bahaya tidak langsung, terjadi setelah letusan (lahar hujan, kelaparan akibat
rusaknya lahan pertanian/perkebunan/ perikanan), kepanikan, pencemaran
udara/air oleh gas racun: gigi kuning/ keropos, endemi gondok, kecebolan
dsb.
2. Dampak Positif :
a. Bahan galian: seperti batu dan pasir bahan bangunan, peralatan rumah
tangga,patung, dan lain lain.
b. Mineral : belerang, gipsum,zeolit dan juga mas (epitermal gold).
c. Energi panas bumi: listrik, pemanas ruangan, agribisnis
d. Mataair panas : pengobatan/terapi kesehatan.
Copyright@2007 by Djauhari Noor

199

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

e. Daerah wisata: keindahan alam


f. Lahan yang subur: pertanian dan perkebunan
g. Sumberdaya air: air minum, pertanian/peternakan, dll.

7.3.2. Bahaya gunungapi


1. Awan panas
a. Awan Panas : Kecepatan sekitar 60 145 km/jam, suhu tinggi sekitar 200 0
800oC, jarak dapat mencapai 10 km atau lebih dari pusat erupsi, sehingga
dapat menghancurkan
bangunan, menumbangkan pohon-pohon besar
(pohon-pohon dapat tercabut dengan akarnya atau dapat terpotong
pangkalnya).
b. Awan panas Block and Ash Flow arahnya mengikuti lembah; sedangkan
awan panas Surge pelamparannya lebih luas dapat menutupi morfologi
yang ada di lereng gunungapi sehingga daerah yang rusak/hancur lebih luas
(gambar 7.4).
2. Guguran Longsoran Lava
Guguran atau longsoran lava pijar pada erupsi efusif, sumbernya berasal dari kubah
lava atau aliran lava. Longsoran kubah lava dapat mencapai jutaan meter kubik
sehingga dapat menimbulkan bahaya. Guguran kubah lava dapat membentuk awan
panas. Contoh : G. Merapi Jawa Tengah, G. Semeru Jawa Timur. Jatuhan
Piroklastik; Lemparan Bom yang di sebabkan oleh erupsi eksplosif dapat
merusak/menghancurkan, menimbulkan korban manusia, menimbulkan kebakaran
(hutan atau bangunan).
Jarak lemparan batu tergantung dari tenaga dan sifat erupsinya, G. Agung (1963)
mencapai 7 km (kebakaran rumah), G. Semeru (19621963) mencapai 4 km
(kebakaran hutan), G. Krakatau 1883 mencapai
10 km. Hujan abu dapat
menyebabkan runtuhnya bangunan, udara gelap, jalan licin, mengganggu
penerbangan, rusaknya tanaman, mengganggu kesehatan (mata, pernapasan).
3. Lontaran Batuan Pijar
Pecahan batuan gunungapi, berupa bom atau bongkah batu gunungapi yang
dilontarkan saat gunungapi meletus. Dapat menyebar kesegala arah. Dapat
menyebabkan kebakaran hutan, bangunan dan kematian manusia, termasuk hewan.
Cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari bahaya ini adalah menjauhi daerah yang
akan terlanda lontaran batu (pijar).

Copyright@2007 by Djauhari Noor

200

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Gambar

7.4

Awan panas yang terjadi di gunung Pinatubo tahun 1984


(kiri) dan guguran lava yang memicu aliran awan panas
(kanan)

4. Hujan Abu
Hujan material jatuhan yang terdiri dari material lepas berukuran butir lempung
sampai pasir. Dapat menyebabkan kerusakan hutan dan lahan pertanian. Dapat
meninggikan keasaman air. Dapat menyebabkan sakit mata dan saluran pernapasan.
Pada saat hujan abu sebaiknya orang berlindung dibawah bangunan yang kuat serta
memakai kacamata dan masker. Atap bangunan yang tertutup endapan abu harus
segera dibersihkan (gambar 6.5).

5. Aliran Lava
Karena suhunya yang tinggi (700 0C 1200oC), volume lava yang besar, berat,
sehingga aliran lava mempunyai daya perusak yang besar, dapat menghancurkan
dan membakar apa yang dilandanya (gambar 7.5).

Gambar 7.5: Bangunan yang tertutup oleh debu gunungapi (kiri) dan aliran lava pijar (kanan)

6. Lahar:
Kecepatan aliran lava sangat lamban antara 5300 meter/hari, Kecepatannya
tergantung dari viskositas dan kemiringan lereng. Manusia dapat menghindar untuk
Copyright@2007 by Djauhari Noor

201

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

menyelamatkan diri. Lahar dapat dibedakan menjadi 2 jenis, lahar letusan dan lahar
hujan (Gambar 6.8). Lahar letusan disebut juga lahar primer, sedangkan lahar hujan
disebut juga lahar sekunder. Aliran lahar mempunyai berat jenis yang besar (22,5),
dapat mengangkut berbagai macam ukuran, sehingga laliran lahar ini mempunyai
daya perusak yang sangat besar dan sangat berbahaya terutama pada daerah aliran
yang cukup miring atau landai. Bangunan beton seperti jembatan dapat dihancurkan
dalam sekejap mata.
a) Lahar letusan : Lahar ini terjadi akibat letusan eksplosif pada gunungapi yang
mempunyai danau kawah.Luas daerah yang dilanda oleh lahar letusan
tergantung kepada volum air didalam kawah dan kondisi morfolog di sekitar
kawah.Makin besar volum air di dalam kawah dan makin luas dataran daerah
sekitarnya, maka makin jauh dan makin luas pula penyebaran laharnya.
b) Lahar hujan : Lahar hujan : lahar yang terbentuk akibat hujan. Bisa terjadi
segera setelah gunungapi meletus atau setelah lama meletus. Faktor yang
menentukan besar kecilnya lahar hujan adalah volume air hujan (curah
hujan) yang turun diatas daerah endapan abu gunungapi dan volume
endapan gunungapi yang mengandung abu sebagai sumber material
pembentuk lahar. Di G. Merapi, curah hujan 70 mm/jam selama 3 jam
mengakibatkan terjadinya lahar. Contoh lahar hujan yang terkenal adalah: G.
Semeru, G. Merapi, G. Agung, juga G. Galunggung (gambar 7.6).

Gambar 7.6 :

Aliran lahar gunungapi yang melanda wilayah pemukiman

7.3.3. Penanggulangan bahaya erupsi gunungapi


Erupsi gunungapi merupakan proses alam dan sampai saat ini belum dapat dicegah,
sehingga untuk menekan terjadinya korban dan kerugian harta benda perlu diadakan
upaya penanggulangan bencana. Berikut ini adalah beberapa upaya yang dilakukan
dalam rangka penanggulangan bencana geologi yang disebabkan oleh erupsi
gunungapi, yaitu :
a. Melakukan pengamatan dan pemantauan terhadap gunungapi aktif
b. Dengan melakukan pengamatan dan pemantauan yang terus menerus, maka
diharapkan dapat dipelajari tingkah laku dan aktifitas semua gunungapi aktif
yang ada sehingga usaha perkiraan erupsi dan bahaya gunungapi akan tepat
dan cepat. Penyampaian informasi dalam rangka pengamanan penduduk dari
Copyright@2007 by Djauhari Noor

202

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

kawasan rawan bencana dapat dilaksanakan tepat waktu sehingga korban


bisa dihindarkan.
c. Melakukan pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi:
d. Untuk mengetahui dan menentukan kawasan rawan bencana gunungapi (I,
II,III, lihat gambar 7.7), tempat-tempat yang aman jika terjadi letusan, tempat
pengungsian, alur pengungsian, puskesmas. Sehingga pada saat terjadi
peningkatan aktifitas /letusan, kita sudah siap dengan peta operasional
lapangan.
e. Mengosongkan kawasan rawan bencana III
f.

Daerah atau kawasan yang termasuk kedalam kawasan rawan bencana III
harus dikosongkan dan dilarang untuk hunian tetap, karena daerah ini sering
terlanda oleh produk letusan gunungapi (lava, awan panas, jatuhan
piroklastika)

g. Melakukan usaha preventif


h. Upaya untuk mengurangi bahaya akibat aliran lahar, yaitu dengan cara
membuat tanggul penangkis, tanggultanggul untuk mengurangi kecepatan
lahar, serta mengurangi volume air di kawah (Kelud, Galunggung).

Gambar 7.7 : Contoh Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi hasil penafsiran citra satelit

7.4

Bahaya Gempabumi

7.4.1. Pendahuluan
Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya
energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi.
Gempabumi dapat didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa batuan /

Copyright@2007 by Djauhari Noor

203

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

tanah yang berasal dari hasil pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam bumi.
Sumber energi yang dilepaskan dapat berasal dari hasil tumbukan lempeng, letusan
gunungapi, atau longsoran masa batuan / tanah. Hampir seluruh kejadian gempa
berkaitan dengan suatu patahan, yaitu satu tahapan deformasi batuan atau aktivitas
tektonik dan dikenal sebagai gempa tektonik.
Sebaran pusat-pusat gempa (epicenter) di dunia tersebar di sepanjang batas-batas
lempeng (divergent, convergent, maupun transform), oleh karena itu terjadinya
gempabumi sangat berkaitan dengan teori Tektonik Lempeng. Sebagaimana
diuraikan diatas bahwa penyebaran pusat-pusat gempabumi sangat erat kaitannya
dengan batas-batas lempeng. Pola penyebaran pusat gempa di dunia yang berimpit
dengan batas-batas lempeng. Disamping gempa tektonik, kita mengenal juga gempa
minor yang disebabkan oleh longsoran tanah, letusan gunungapi, dan aktivitas
manusia. Gempa minor umumnya hanya dirasakan secara lokal dan getarannya
sendiri tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan atau kerugian harta benda
maupun jiwa manusia. Adapun mekanisme terjadinya gempabumi dapat dijelaskan
seperti yang diilustrasikan pada gambar 6.8.
Dalam gambar bagian atas
mengilustrasikan gambar permukaan bumi yang berada pada suatu jalur patahan
aktif dengan beberapa bangunan rumah sebelum terjadi gempa. Pada kondisi ini
batuan berada dalam keadaan tegang (strained). Gambar bagian tengah
menjelaskan saat terjadi pergeseran disepanjang jalur patahan yang diakibatkan
oleh gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan dan energi yang terhimpun di
dalam masa batuan akan dilepas dan merambat kesegala arah sebagai gelombang
longitudinal (gelombang P) dan gelombang transversal (gelombang S). Rambatan
gelombang yang menjalar didalam batuan inilah yang menghancurkan bangunan
bangunan yang ada disekitarnya. Gambar bagian bawah mengilustrasikan kondisi
setelah terjadi gempa dimana batuan kembali berada pada keadaan seperti semula.
7.4.2. Intensitas dan magnitude gempabumi
Intensitas dan magnitude gempa yang terjadi di permukaan bumi dapat diketahui
melalui alat seismograf, yaitu suatu alat pencatat getaran seismik yang sangat peka
yang ditempatkan diberbagai lokasi di bumi. Alat seismograf akan mencatat setiap
getaran seismik yang sampai ke alat tersebut. Pada gambar 7.10 diperlihatkan
bagaimana alat seismograf mencatat gelombang seismik melaui suatu bandul yang
digantung pada pegas dan dilengkapi dengan jarum pena sebagai alat pencatat
getaran seismik diatas kertas yang ada pada tabung silinder yang berputar.
Pusat gempa dapat diketahui dengan cara menghitung selisih waktu tiba dari
gelombang P dan gelombang S, sedangkan untuk mengetahui lokasi dari epicenter
gempa melalui perpotongan 3 lokasi alat seismograf yang mencatat getaran seismik
tersebut (gambar 7.11). Untuk menetukan magnitute gempa didasarkan atas
besarnya amplitudo gelombang seismik yang tercatat pada alat seismograf. Skala
Richter adalah satuan yang dipakai untuk mengukur besarnya magnitute gempa.
Satuan besaran gempa berdasarkan satuan skala Richter adalah 1 hingga 10. Satuan
intensitas dan magnitute gempabumi dapat juga diukur berdasarkan dampak
kerusakan yang ditimbulkan oleh getaran gelombang seismik dan satuan ini dikenal
dengan satuan Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI), nilai satuan ini berkisar dari 1 s/d
12 (lihat Tabel 7.1).

Copyright@2007 by Djauhari Noor

204

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Gambar 7.8

Urut-urutan proses terjadinya gempabumi

Tabel 7 -1 Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI)

Skala MMI
I
II
III
IV
V

VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII

DAMPAK KERUSAKAN
Tidak dirasakan oleh kebanyakan orang, hanya beberapa orang
dapat merasakan dalam situasi tertentu.
Dapat dirasakan oleh beberapa orang yang sedang diam/istirahat.
Dapat memindahkan dan menjatuhkan benda-benda.
Dirasakan oleh sedikit orang, terutama yang berada di dalam
rumah, seperti getaran yang berasal dari kendaraan berat yang
melintas di dekat rumah.
Dirasakan oleh banyak orang, beberapa orang terbangun disaat
tidur, Piring dan jendela bergetar. Dapat mendengar suara-suara
yang berasal dari pecahan barang pecah belah..
Dirasakan oleh setiap orang yang saling berdekatan. Banyak
orang terbangun disaat tidur. Terjadi retakan
pada dinding
tembok. Barang-barang terbalik dan pohon-pohon megalami
kerusakan.
Dirasakan oleh satiap orang, terjadi runtuhan tembok dan terjadi
kerusakan pada menara / tugu.
Setiap orang berlarian keluar rumah, Bangunan berstruktur buruk
mengalami kerusakan. Dapat dirasakan oleh orang-orang yang
berada di dalam kendaraan.
Runtuhnya bangunan yang berstruktur buruk, Tiang dan menara,
dinding runtuh . Tersemburnya pasir dan Lumpur dari dalam
tanah.
Kerusakan pada bangunan berstruktur tertentu, sebagian runtuh
Gedung-gedung
tergeser dari fondasinya,. Tanah mengalami
retakan dan pipa pipa mengalami pecah.
Hampir semua bangunan berstruktur beton dan kayu rusak.
Tanah retak retak, jalan kereta api bengkok, pipa-pipa pecah.
Beberapa struktur bangunan beton tersisa. Terjadi retakan yang
panjang di permukaan tanah. Pipa terpotong dan terjadi longsoran
tanah dan rel kereta api terputus.
Kerusakan total. Gelombang permukaan tanah dapat teramati dan
benda-benda terlempar ke uadara.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

205

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

7.4.3

Dampak bencana gempabumi

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa rambatan gelombang seismik yang


berasal
dari energi yang dilepaskan dari hasil pergerakan lempeng dapat
menimbulkan bencana. Bencana yang disebabkan oleh gempabumi dapat berupa
rekahan tanah (ground rupture), getaran tanah (ground shaking), gerakan tanah
(mass-movement), kebakaran (fire), perubahan aliran air (drainage changes),
gelombang pasang/tsunami, dsb.nya. Gelombang gempa yang merambat pada
masa batuan, tanah, ataupun air dapat menyebabkan bangunan gedung dan
jaringan jalan, air minum, telepon, listrik, dan gas menjadi rusak. Tingkat kerusakan
sangat ditentukan oleh besarnya magnitute dan intensitas serta waktu dan lokasi
epicenter gempa.

Gambar 7.9

Gelombang P (Primer) sebagai gelombang kompresi


yang mampu merubah volume batuan dan gelombang S
(Sekunder) sebagai gelombang Shear yang mampu
merubah bentuk.

TABUNG
PENCATAT
YANG
BERPUTAR
BANDUL

TANAH
BERGERAK
KEBAWAH

Gambar 7.10

TANAH
BERGERAK
KEATAS

Alat seismograf
yang mencatat arah gerakan
gempabumi oleh jarum seismograf pada kertas yang
berada dipermukaan silinder

Gambar 7.12 memperlihatkan satu contoh gempabumi yang disebabkan oleh


pergeseran lempeng bumi yang terjadi di wilayah barat pantai Amerika, yaitu
wilayah yang dilalui oleh patahan yang sangat panjang yang dikenal dengan sesar
Copyright@2007 by Djauhari Noor

206

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

San Andreas. Patahan ini memajang dari tenggara ke arah baratlaut melalui kota
San Fransisco. Sesar San Andreas dikenal sebagai sesar yang sangat aktif yang
merupakan batas lempeng jenis transform/strike slip fault antara lempeng
benua Amerika Utara dengan lempeng Samudra Atlantik (gambar 7.12). Pergeseran
antara kedua kedua lempeng ini dikenal sebagai pusat-pusat epicenter gempa.
Gambar 7.12a memperlihatkan bagian dari patahan yang bergeser akibat dari
pergerakan lempeng ditunjukkan oleh pergeseran dari arah aliran sungai. Gambar
7.12b memperlihatkan salah satu dampak dari gempa, yaitu konstruksi jalan layang
(highway) yang mengalami kerusakan yang terjadi di wilayah San Fransisco, USA.
dengan epicenter gempa berada di jalur patahan San Andreas.

TABUNG
PENCATAT YANG
BERPUTAR

Gambar 7.11

Penentuan lokasi epicenter gempa didasarkan


atas selisih waktu tiba dari gelombang P dan
gelombang S yang tercatat pada alat seismograf
(gambar kiri)
dan epicenter gempa yang
ditentukan berdasarkan perpotongan dari 3 lokasi
alat
seismograf
yang
mencatat
kejadian
gempabumi (gambar kanan).

Copyright@2007 by Djauhari Noor

207

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________
Gambar 7.12

Gambar atas memperlihatkan patahan San


Andreas dengan arah pergerakan relatif (tanda
panah), Gambar bawah adalah jalan highway
yang rusak oleh gempa San Fransisco akibat dari
pergerakan kulit bumi
yaitu patahan San
Andreas.

1. Rekahan / patahan di permukaan bumi (Ground rupture)


Gambar 7.13
Gempa Alaska tahun 1964 yang
menyebabkan wilayah seluas 260.000 km 2 mengalami
ground rupture setinggi 2 16 meter

Pada
umumnya
gempabumi
seringkali
berdampak
pada
rekah
dan
patahnya
permukaan bumi yang secara regional dikenal
sebagai deformasi
kerakbumi.
Deformasi
kerakbumi dapat mengakibatkan permukaan
daratan rekah dan terpatahkan hingga
mencapai areal yang sangat luas. Salah satu
bukti nyata terjadinya ground rupture adalah
gempa yang terjadi pada Februari, 1976
dimana areal seluas 12.000 km2 yang terletak
di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah
utara
kota
Los
Angeles
mengalami
pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar
San Andreas. Contoh lain dari deformasi kerakbumi adalah gempabumi yang terjadi
pada tahun 1964 di Alaska yang menghasilkan suatu rekahan dan patahan serta
deformasi batuan dimana daerah seluas 260.000 km 2 terdiri dari dataran pantai dan
dasar laut secara lokal terangkat setinggi 2 meter dan secara regional mencapai 16
meter (gambar 6.13). Rekahan dan patahan yang terjadi di permukaan bumi dapat
berdampak pada bangunan-bangunan, jalan dan jembatan, pipa air minum, pipa
listrik, saluran telepon, serta prasarana lainnya yang ada di daerah tersebut.
2.

Getaran / guncangan permukaan tanah (Ground shaking)

Bencana gempa yang secara langsung terasa dan berdampak sangat serius adalah
runtuhnya bangunan-bangunan yang disebabkan oleh getaran/guncangan gempa
yang merambat pada media batuan/tanah. Pada umumnya bangunan-bangunan
yang berada diatas lapisan batuan yang padat (firm) dampaknya tidak terlalu parah
bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang berada diatas batuan sedimen
jenuh. Gambar 7.14 menunjukkan bangunan yang roboh akibat goncangan gempa di
Kobe, Jepang tahun 1995 (gambar kiri) dan di Mexico city tahun 1985 (gambar
kanan). Contoh kasus dari getaran gempa yang merusak kota San Francisco pada
tahun 1906 adalah gempa yang epicenter-nya berada di sepanjang jalur patahan
(sesar) San Andreas dan bagian dari segmen lepas pantai yang terletak disisi luar
Golden Gate merupakan segmen yang bertanggung jawab terhadap kerusakan kota
San Francisco.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

208

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Gambar 7.14

Dampak dari getaran gempa (ground shaking) yang


mengakibatkan runtuhnya bangunan. Tampak dalam gambar
bangunan di Mexico city yang diakibatkan oleh gempabumi
tahun 1985.

3. Longsoran Tanah (Mass Movement)


Gambar

7.15

Gempa California tahun 1995 yang


menyebabkan longsoran tanah / massmovement.

Berbagai jenis luncuran dan longsoran tanah


umumnya dapat terjadi bersamaan dengan
terjadinya gempa. Hampir semua longsoran tanah
dapat terjadi pada radius 40 km dari pusat gempa
(epicenter) dan untuk gempa yang sangat besar
dapat mencapai radius 160 km dan salah satu
contoh adalah gempabumi Alaska tahun 1964
yang memicu terjadinya longsoran-longsoran
tanah yang terletak jauh dari epicenter gempa.
Pada dasarnya getaran gempa lebih bersifat
sebagai pemicu terjadinya longsoran atau gerakan
tanah. Dalam hal ini gempa bersifat meng-induksi
terjadinya gerakan tanah, sedangkan longsoran
dan gerakan tanah baru akan terjadi apabila daya
ikat
antar
butiran
lemah,
kejenuhan
batuan/sedimen, porositas dan permiabilitas
batuan/tanah tinggi.
4. Kebakaran
Kerusakan yang utama dan sering terjadi pada saat terjadinya gempabumi adalah
bahaya kebakaran. Hampir sembilan puluh persen kerusakan yang terjadi di kota
San Francisco pada tahun 1906 adalah disebabkan oleh kebakaran yang berasal dari
material bahan bangunan yang mudah terbakar, kerusakan peralatan yang berkaitan
dengan listrik serta pecah dan patahnya saluran pipa gas, listrik, dan air. Pada
umumnya gempa meng-induksi api yang berasal dari putusnya saluran listrik, gas,
dan pembangkit listrik yang sedang beroperasi yang pada akhirnya menyebabkan
kebakaran.
5. Perubahan Pengaliran (Drainage Modifications)
Terbentuknya danau yang cukup luas akibat amblesnya (subsidence) permukaan
daratan seperti dataran banjir (floodplain), delta, rawa, yang diakibatkan oleh
gempabumi merupakan suatu permasalahan yang cukup serius. Perubahan
pengaliran akibat penurunan permukaan daratan yang disebabkan oleh gempa
memungkinkan terbentuknya danaudanau buatan dan reservoir baru serta
rusaknya bendungan. Contoh kasus terjadinya perubahan pengaliran (drainage)
adalah gempa yang terjadi pada tahun 1971 di San Fernando, California telah
menyebabkan hancurnya bendungan Van Norman Dam, sedangkan gempa Alaska
yang terjadi pada tahun 1864 meruntuhkan 2 Bendungan tipe earth-fill yang berada
di selatan kota Anchorage. Kedua bendungan tersebut dilalui oleh suatu rekahan dan
Copyright@2007 by Djauhari Noor

209

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

patahan yang memotong badan bendungan dan telah merubah pengaliran


(drainase) yang ada di wilayah tersebut.
6. Perubahan Air Bawah Tanah (Ground Water Modifications)
Regim air bawah tanah dapat mengalami perubahan oleh perpindahan yang
disebabkan oleh sesar atau oleh goncangan. Contoh kasus dari perubahan air bawah
tanah adalah gempa yang terjadi disepanjang suatu patahan yang mengakibatkan
terjadinya offset batuan di kedua sisi permukaan tanah dan aliran air bawah tanah
di wilayah Santa Clara County, California, yaitu suatu wilayah yang terletak di bagian
selatan teluk San Francisco. Dalam kasus ini kipas aluvial yang sangat luas yang
terletak di Alameda Creek mengalami offset/perpindahan sejauh 2 km ke arah barat
perbukitan. Gawir yang terbentuk oleh sesar setinggi 8 meter menutup saluransaluran sungai yang menuju ke teluk San Francisco sehingga membentuk kolamkolam yang sangat luas. Patahan ini juga berimbas pada air yang berada dibawah
tanah, offset yang terjadi pada batuan yang berada di bawah tanah telah
menyebabkan lapisan batuan yang permeabel tertutup oleh lapisan batuan
impermeabel sehingga mengakibatkan daerah yang berada diantara gawir dan
perbukitan mendapat air bawah tanah yang melimpah sebaliknya daerah yang lain
sedikit menerima air bawah tanah.
7.

Tsunami

Tsunami adalah suatu pergeseran naik atau turun yang terjadi secara tiba-tiba pada
dasar samudra pada saat terjadi gempabumi bawah laut, kondisi ini akan
menimbulkan gelombang laut pasang yang sangat besar yang lazim disebut tidal
waves. Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang yang telah digunakan secara
luas, baik untuk gelombang pasang (tidal waves) maupun gelombang yang
disebabkan oleh gempabumi atau yang lebih dikenal dengan istilah seismic sea
waves.
Mekanisme terjadinya tsunami (gambar 7. 16):
1) Diawali dengan terjadinya gempa yang disertai oleh pengangkatan
sebagai akibat kompresi.
2) Gelombang bergerak keluar ke segala arah dari daerah yang terangkat
3) Panjang gelombang berkurang tetapi tingginya meningkat saat mencapai
bagian yang dangkal, kemudian melaju ke arah darat dengan kecepatan
+/-100 km/jam setelah sebelumnya surut dulu untuk beberapa saat
(gambar 7.17).

Copyright@2007 by Djauhari Noor

210

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Gambar 7.16

Mekanisme terjadinya tsunami

Gambar 7.17 Pergerakan kecepatan gelombang tsunami ke arah pantai / daratan

Copyright@2007 by Djauhari Noor

211

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________
Gambar

7.18
Kecepatan dan waktu tempuh gelombang tsunami yang
terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan
pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra

Gambar 7.19

Menunjukan tinggi gelombang tsunami yang terjadi oleh


gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa
di utara pantai pulau Sumatra.

Gambar 7.20. Dampak bencana tsunami tanggal 26 Desember


2004 yang melanda Nangroe Aceh Darusalam (kiri)
dan India (kanan).

7.4.4. Penanggulangan bencana gempabumi.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

212

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Bencana gempabumi merupakan bahaya geologi yang sampai saat ini belum dapat
diprediksi, para ahli gempa (seismologist) telah mencoba beberapa metoda untuk
memprediksi gempabumi, yaitu antara lain dengan cara:
a. Mengukur
b.
c.
d.
e.
f.

getaran-getaran mikro melalui alat seismograf dan dapat


mengetahui gelombang awal (frontschock) dari suatu gempa.
Megukur kedalaman air dan perubahan kedalam muka air tanah pada pada
sumur-sumur bor
Mengukur miringnya permukaan tanah.
Melakukan pengukuran kemagnetan (magnetisme) bumi
Pengukuran unsur-unsur radon di dalam sumur bor
Mengukur sifat-sifat konduktivitas listrik

Dari ke-enam cara yang telah dilakukan oleh para ahli seismologist ternyata tingkat
keberhasilannya sangat rendah. Usaha pencegahan terhadap bencana gempabumi
sangat sulit dan bahkan lebih sulit jika dibandingkan dengan memprediksi
gempabumi. Pencegahan terhadap gempabumi tidak mungkin dilakukan dan
mungkin tidak bisa.
Mitigasi bencana geologi pada hakekatnya adalah mengurangi resiko bencana
geologi terhadap harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi merupakan suatu
upaya kerjasama antara ahli-ahli teknik dan para pembuat kebijakan dan
menghasilkan peraturan peraturan pembangunan untuk suatu wilayah yang rentan
bahaya geologi. Usaha-usaha dalam penanggulangan bencana untuk meminimalkan
kerugian, baik kerugian harta benda ataupun jiwa manusia yang disebabkan oleh
gempabumi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain adalah:
1. Melakukan pemetaan penyebaran lokasi-lokasi gempa yang disajikan dalam

bentuk Peta Rawan Bencana Gempabumi / Seismik.


peraturan yang berkaitan dengan desain struktur
bangunan tahan gempa guna mencegah runtuhnya bangunan ketika terjadi
gempa.
Tidak membangun bangunan di wilayah-wilayah yang rawan bencana gempa.
Menghindari lahan-lahan yang rawan gempa untuk areal pemukiman, dan
aktivitas manusia.
Melakukan penataan ruang baik yang berada di sekitar pantai ataupun di
daratan guna mencegah dan menghindari terjadinya korban jiwa dan harta
serta dampak yang mungkin timbul ketika bencana itu terjadi.
Memasang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System).

2. Membuat peraturan

3.
4.
5.

6.

7.5.

Bencana Buatan

Bencana buatan adalah bencana yang ditimbulkan oleh perbuatan dan aktivitas
manusia itu sendiri. Kegiatan pembangunan yang dilakukan manusia selain dapat
menimbulkan dampak positif, dapat pula menimbulkan dampak negatif dan
membahayakan kehidupan manusia. Keadaan yang membahayakan ini disebut
sebagai bahaya buatan (man made hazards). Bencana buatan antara lain terwujud
dan terpicu atau meningkatkan bahaya geologi serta kerusakan lingkungan termasuk
pencemaran (gambar 7.21).
Beberapa contoh bencana geologi buatan yang kemungkinan dapat ditimbulkan oleh
kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan:
a. Tekanan yang besar terhadap sumberdaya air, terutama air tanah
Copyright@2007 by Djauhari Noor

213

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

b. Pencemaran air permukaan dan air tanah dari tempat pembuangan sampah,
limbah rumah tangga, limbah industri, dan limbah fasilitas perkotaan lainnya..
c. Perubahan bentangalam
d. Perubahan neraca air
e. Tekanan yang besar terhadap sumberdaya bahan bangunan
f. Amblesan dan perusakan air
g. Penyusupan (intrusi) air laut untuk daerah pantai
h. Longsoran dan erosi tanah di daerah perbukitan dan longsoran karena kurang
tepatnya pembangunan.

Erosi muka lereng

Erosi air

Pencemaran
tanah dari
septik tank

Gambar 7.21

Bencana buatan yang disebabkan perubahan bentang


alam oleh aktivitas manusia dalam pemanfaatan lahan
pada tanah berlereng yang berakibat pada ketidak
stabilan lereng dan pencemaran air tanah karena
pembutan septik tank yang tidak memenuhi standar.

7.6 Kapan Suatu Bahaya Geologi Akan Berubah Menjadi


Bencana Geologi
Untuk membangun sistem mitigasi bencana alam (geologi), pertama tama yang
harus dilakukan adalah mengkaji dan menganalisa bagaimana suatu bahaya geologi
dapat berubah menjadi bencana dan seberapa besar tingkat probabilitas daerah
yang rentan bahaya geologi terkena bencana geologi serta resiko apa saja yang
mungkin terjadi apabila bencana geologi menimpa daerah tersebut. Bahaya geologi
akan berubah menjadi bencana geologi hanya jika bahaya tersebut mengakibatkan
korban jiwa atau kerugian harta benda.
Sebagai contoh jika suatu gempa yang sangat kuat terjadi di daerah yang tidak
berpenghuni, maka gempa tersebut boleh jadi hanya akan menjadi catatan statistik
saja bagi para seismolog, akan tetapi sebaliknya apabila gempa tersebut terjadi di
kawasan yang penghuninya sangat padat, seperti gempa yang terjadi di Bantul,
Yogyakarta pada tahun 2006, walaupun kekuatan gempanya tidak begitu besar
namun menyebabkan kerusakan yang sangat luas serta menelan korban jiwa yang
tidak sedikit. Pertanyaannya selanjutnya adalah mengapa hal ini dapat terjadi ?
Jawabannya adalah karena hampir semua bangunan yang ada di wilayah tersebut
Copyright@2007 by Djauhari Noor

214

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

tidak dirancang sebagai bangunan tahan gempa, sehingga ketika terjadi gempa,
bangunan-bangunan tersebut runtuh yang mengakibatkan banyak penghuninya
menemui ajalnya terkena oleh reruntuhan rumahnya. Oleh karena itu diperlukan
suatu standarisasi bangunan tahan gempa, terutama untuk bangunan-bangunan
yang berada di wilayah wilayah yang rentan terkena bahaya gempabumi, sehingga
dapat menyelamatkan penghuninya ketika terjadi gempabumi. Penerapan strategi
pengelolaan resiko bencana berbasis masyarakat saat ini sudah mulai diterapkan
dan program ini didukung oleh pemerintah, baik dukungan yang berupa bantuan
keuangan dan pembangunan kembali rumah rumah yang rusak melalui standarisasi
bangunan tahan gempa.
Bahaya geologi yang berada di muka bumi pada hakekatnya merupakan hasil dari
proses-proses geologi, baik yang bersifat endogenik maupun eksogenik dimana
proses proses tersebut tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Dalam beberapa kasus,
tingkat kerusakan relatif terhadap jumlah korban dan kerugian harta benda dapat
dipakai sebagai pembanding antara skala bencana dan resiko bencana yang terjadi
di suatu wilayah. Manusia dapat juga menjadi faktor penyebab yang merubah
bahaya geologi menjadi bencana geologi serta menjadi faktor penentu dari tingkat
kerusakan suatu bencana, seperti misalnya pertumbuhan penduduk yang tinggi,
kemiskinan, degradasi lingkungan, dan kurangnya informasi. Meskipun ke-empat
faktor tersebut dianggap sebagai faktor yang saling berpengaruh satu dan lainnya
serta ke-empat faktor tersebut sulit dipisahkan mana yang paling dominan
berpengaruh terhadap tingkat kerusakan suatu bencana.
Kerentanan terhadap bencana geologi di suatu wilayah akan semakin besar seiring
dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan menjadi salah satu faktor utama
dari penyebab bencana geologi. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi secara
langsung akan berdampak pada tingginya tingkat pembangunan infrastruktur.
Apabila tidak ada upaya upaya untuk mencegah bahaya geologi yang mungkin
terjadi, maka apabila bencana geologi benar-benar terjadi di kawasan tersebut maka
sudah barang tentu akan memakan korban serta kerugian harta benda yang tinggi
pula. Dibeberapa kawasan yang konsentrasi penduduknya tinggi, meskipun sudah
menpunyai sistem peringatan dini untuk suatu bahaya geologi tertentu, namun
untuk menyebarkan informasi dan peringatan ke setiap orang di seluruh kawasan
tersebut tidak dimungkinkan, sehingga sangat memungkinkan setiap orang
bertindak dan merespon suatu peringatan bahaya sesuai dengan persepsinya
masing-masing. Dan hal ini akan menimbulkan kepanikan dan kekacauan di
masyarakat yang pada akhirnya dapat menimbulkan korban jiwa yang lebih besar.

7.7 Pengelolaan
Resiko
Management)

Bencana

(Disaster

Risk

Pengelolaan resiko bencana pada dasarnya adalah suatu upaya yang ditujukan untuk
meminimalkan resiko yang mungkin terjadi serta melakukan upaya-upaya
pencegahan (mitigasi) di wilayah yang rentan terkena bencana. Pengelolaan resiko
bencana merupakan istilah yang umum dipakai dalam penilaian resiko, pencegahan
bencana, mitigasi bencana, dan persiapan menghadapi bencana.
Beberapa istilah yang sering dipakai dalam pembahasan pengelolaan resiko bencana
antara lain adalah Bahaya (Hazard), Bencana (Disaster), Kerentanan (Vulnerability),
Resiko Bencana (Disaster Risk), Penilaian Resiko / Analisa Resiko (Risk
Assessment/Risk Analysis), Pencegahan Bencana dan Mitigasi (Disaster Prevention
and Mitigation), Kewaspadaan Terhadap Bencana (Disaster Preparedness). Adapun
pengertian dari istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut :
Copyright@2007 by Djauhari Noor

215

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Bahaya (Hazard) adalah suatu ancaman yang berasal dari peristiwa alam yang
bersifat ekstrim yang dapat berakibat buruk atau keadaan yang tidak
menyenangkan. Tingkat ancaman ditentukan oleh probabilitas dari lamanya
waktu kejadian (periode waktu), tempat (lokasi), dan sifatnya saat peristiwa itu
terjadi. Bahaya alam (Natural hazard) adalah probabilitas potensi kerusakan yang
mungkin terjadi dari fenomena alam di suatu area / wilayah.
Bencana (Disaster) merupakan fungsi dari kondisi yang tidak normal yang terjadi
pada masyarakat dan mempunyai kecenderungan kehilangan kehidupannya,
harta benda dan lingkungan sumberdayanya, serta kondisi dimana masyarakat
tidak mempunyai kemampuan untuk keluar dari dampak / akibat yang
ditimbulkannya.
Kerentanan/kerawanan (Vulnerability) dapat diartikan sebagai ketidakmampuan
menangkal /menahan dampak dari kejadian/peristiwa alam yang berasal dari luar
atau kecenderungan dari sekumpulan masyarakat terkena atau mengalami
kerusakan, masalah dan sebab akibat sebagai hasil dari suatu bahaya.
Resiko Bencana (Disaster Risk) adalah tingkat kerusakan dan kerugian yang
sudah diperhitungkan dari suatu kejadian atau peristiwa alam. Resiko Bencana
ditentukan atas dasar perkalian antara faktor bahaya dan faktor kerentanannya.
Yang termasuk bahaya disini adalah probabilitas dan besaran yang dapat
diantisipasi pada peristiwa alam; sedangkan kerentanan/kerawanan dipengaruhi
oleh faktor politik, ekonomi, sosial budaya dan geografis. Berikut ini adalah
rumusan yang dipakai secara luas untuk menghitung resiko bencana yang
merupakan perkalian 2 faktor, yaitu :
Resiko (Risk) = Bahaya (Hazard)

x Kerentanan (Vulnerability)

Pengelolaan resiko bencana (Disaster risk management) secara teknis terdiri dari
tindakan (program, proyek dan atau prosedur) serta pengadaan peralatan yang
dipersiapkan untuk menghadapi dampak atau akibat dari suatu bencana sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu untuk mengurangi resiko bencana
yang ditimbulkannya. Secara operasional, pengelolaan resiko bencana adalah
kegiatan yang terdiri dari penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi dan
waspada bencana.
Penilaian Resiko atau Analisa Resiko adalah survei yang dilakukan terhadap
bahaya yang baru terjadi yang disebabkan oleh suatu peristiwa alam yang
ekstrim seperti yang terjadi juga pada kerentanan lokal dari populasi yang
didasari atas kehidupan untuk memastikan resiko tertentu di wilayah.
Berdasarkan informasi ini resiko bencana dapat dikurangi.

Kapasitas adalah kebijakan dan sistem kelembagaan yang dimiliki oleh


pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya mengurangi potensi
kerusakan akibat bencana serta mengurangi kerentanan terhadap bencana.
Bencana alam yang disebabkan oleh gempabumi, angin topan, banjir, tanah
longsor dan kekeringan seringkali mengingatkan pada kita tentang bencana
akan benar-benar terjadi. Resiko bencana sebagai hasil dari frekuensi dan
kondisi yang rentan dapat berubah menjadi suatu bencana. Resiko bencana
adalah hasil dari tingkat kejadian, intensitas bahaya dan sistem kehidupan
yang sangat rentan. Peran dari sistem sosial dalam arti kepedulian
masyarakat dan sistem pengelolaan memungkinkan merubah sifat
Copyright@2007 by Djauhari Noor

216

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

kerentanan terhadap bahaya dan mengurangi tingkat kerawanan melalui


intervensi yang sistematik.
Pencegahan Bencana dan Mitigasi
Adalah aktivitas / kegiatan dalam rangka mencegah dan memitigasi dampak
yang sangat buruk dari peristiwa alam yang sangat ekstrim yang dilakukan
untuk periode jangka menengah dan jangka panjang. Dari sudut pandang
politik, hukum, administrasi, dan infrastruktur, pencegahan bencana
merupakan salah satu ukuran untuk menyatakan kondisi /situasi bahaya dan
disisi lain melibatkan gaya hidup dan karakter dari penduduk/masyarakat
yang tinggal di daerah yang rentan untuk dapat mengurangi resiko bencana
yang mungkin dapat menimpanya.
Kewaspadaan Terhadap Bencana
Kewaspadaan terhadap bencana adalah suatu ukuran yang mencakup
kegiatan evakuasi yang dapat dilakukan secara cepat dan efektif dalam
usaha penyelamatan nyawa manusia, mitigasi terhadap hilang dan rusaknya
harta benda serta penyediaan bantuan darurat. Kewaspadaan terhadap
bencana dalam arti yang lebih luas adalah suatu usaha dalam menyediakan
sistem peringatan dini, kemampuan dalam meng-koordinasi dan mengoperasikan, perencanaan kondisi darurat, menyalurkan bantuan dalam
keadaan darurat dan pelatihan.
7.7.1 Kegiatan Pengelolaan Resiko Bencana
1. Penilaian Resiko
a. Melakukan pendataan bencana yang pernah terjadi dimasa lalu termasuk
pendataan terhadap kejadian/peristiwa bencana yang besar yang pernah
terjadi
b. Mengkaji secara terukur bencana yang disebabkan oleh hidro-meteorologi dan
geologi, termasuk penyebab bencana
c. Mendata jumlah penduduk (populasi penduduk) yang berada di areal yang
beresiko tinggi terkena bencana atau areal yang paling bahaya.
d. Melakukan persiapan dan memperbaharui (updating) peta-peta bencana dan
area yang sangat berbahaya.
2. Pencegahan dan Mitigasi Bencana
a. Menetapkan dan memperkuat pembangunan regional dan perencanaan
tataguna lahan, perencanaan pengawasan bangunan yang sesuai dengan
zonasi bahaya dan peraturan bangunan.
b. Melaksanakan pelatihan bagi masyarakat dan perwaklian kelembagaan
c. Membangun dan meningkatkan kemampuan pengelolaan resiko bencana di
tingkat lokal dan nasional
d. Pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan (seperti misalnya pengelolaan
Daerah Aliran Sungai), meningkatkan infrastruktur (bendungan, saluran air,
bangunan yang mampu menahan suatu bencana).
3. Kesiapan Menghadapi Bencana
a. Partisipasi dan kesadaran terhadap pentingnya rencana tanggap darurat
b. Mempersiapkan infrastruktur (akomodasi saat kondisi darurat,
Copyright@2007 by Djauhari Noor

217

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

c. Melakukan latihan secara teratur dalam menghadapi situasi darurat


d. Membangun dan atau meningkatkan kemampuan dalam kesiapan
menghadapi bencana, baik di tingkat lokal maupun nasional dan pelayanan
penyelamatan
e. Koordinasi dan perencanaan operasional
f. Sistem Peringatan Dini :
1) Menyiapkan dan meng-operasikan sistem komunikasi
2) Menempatkan peralatan teknis di tempat yang aman
3) Melakukan pelatihan tenaga penyelamat
4.
Pengelolaan resiko bencana sebagai bagian dari rehabilitasi dan
rekontruksi
a. Melakukan penilaian resiko bencana
b. Melakukan penilaian infrastruktur, seperti kontruksi banguan tahan gempa,
kontruksi bangunan tahan banjir, skema pembangunan, selter tempat
pengungsian, dsb
c. Membentuk kelembagaan, seperti peran serta masyarakat dan meningkatkan
kerjasama diantara individu-individu
d. Membentuk organisasi, untuk memperkuat kapabilitas lokal
e. Mengembangkan dan memperkenalkan ukuran-ukuran pencegahan dimasa
mendatang (seperti pengelolaan DAS, konservasi sumberdaya alam, skema
pencegahan banjir)
5.
Peran pengelolaan
pembangunan

resiko

bencana

dalam

sektor

kerjasama

Kebutuhan pencegahan harus di-integrasikan kedalam sektor pembangunan,


hal ini akan membantu pada peningkatan pengelolaan resiko bencana,
terutama pada sektor-sektor yang terkait, termasuk desentralisasi dan atau
pembangunan masyarakat, pembangunan desa, pencegahan lingkungan dan
konservasi sumberdaya alam, perumahan, kesehatan dan pendidikan.

7.7.2 Pendekatan Multi Sektoral


1. Meningkatkan kewaspadaaan
a. Dukungan keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan, dinilai berdasarkan
hubungan antara biaya yang diinvestasikan dengan keuntungan yang akan
diperoleh dalam pengeloalaan resiko bencana.
b. Meningkatkan kewaspadaan diantara penduduk/masyarakat yang bermukim
di areal yang beresiko tinggi terkena bencana dan dikawasan yang rentan
serta mendapat prioritas utama dalam memperoleh pelatihan untuk
mengelola resiko bencana.
c. Meng-implementasikan sistem peringatan dini
d. Partisipasi antara masyarakat, pemerintah kota dan lembaga-lembaga lainnya
dalam pengelolaan resiko bencana.
2. Penguatan kemampuan pengelolaan resiko bencana di tingkat daerah
(lokal)
Efektifitas pengelolaan resiko bencana adalah memantapkan dan atau penguatan
sistem di tingkat daerah/lokal yang berupa kegiatan seperti yang ada dalam
daftar diatas dari keseluruhan sistem nasional, memobilisasi semua yang
Copyright@2007 by Djauhari Noor

218

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

mungkin dilakukan oleh para relavan dibidang sosial dan politik, baik ditingkat
lokal dan perkotaan serta bertanggungjawab atas apa yang dilakukan.

7.8 Pengurangan Resiko Bencana (Disaster Risk


Reduction)
Indonesia merupakan salah satu negara yang sering dilanda bencana. Lebih dari 4
tahun terakhir Indonesia mengalami serangkaian bencana alam yang menewaskan
manusia dan mempengaruhi
perekonomian negeri ini. Bencana ini termasuk tsunami Aceh pada Desember 2004,
Gempa Nias di Maret 2005, Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah di Mei 2005 dan
gempa serta tsunami di Jawa Barat pada bulan Juli 2006. Indonesia juga berpotensi
tinggi terhadap gunung meletus dengan 128 gunung api aktif (31 di antaranya
dalam pemantauan) dari 600 gunung berapi di seluruh khatulistiwa. Bencanabencana ini memberikan dampak besar terhadap perekonomian negara, kerusakan
yang ditimbulkan oleh tsunami diperkirakan sebesar 4 juta Dolar AS dan gempa
Yogyakarta dan Jawa Tengah sebesar 3 juta Dolar AS. Bencana alam mengancam
pembangunan manusia di Indonesia dan mengakibatkan rusaknya pencapaian
kesejahteraan nasional.
Upaya untuk melindungi dan mempersiapkan masyarakat yang tinggal di daerahdaerah yang sering dilanda bencana, serta upaya untuk meningkatkan kapasitas
Pemerintah dalam menaggapi keadaan darurat, dapat membantu mengurangi resiko
secara signifikan bila terjadi bencana serta mendorong masyarakat untuk
menerapkan budaya aman. Untuk meningkatkan ketahanan nasional dan daerah
dalam mengurangi resiko bencana dan membantu peralihan dari budaya tanggap
dan meminta bantuan menjadi budaya mengurangi resiko bencana yang
komprehensif dan terintegrasi dalam fungsi utama pemerintah di seluruh tingkat
serta di sektor swasta dan Organisasi-organisasi Masyarakat Madani:
a) menyediakan saran kebijakan dan peningkatan kapasitas untuk mengurangi
dan mengelola resiko bencana ke dalam kerangka kebijakan, hukum, regulasi
dan perencanaan;
b) meningkatkan kapasitas dalam mempersiapkan diri menghadapi situasi
darurat dan sistem tanggap di tingkat nasional, provinsi dan daerah; dan
c) membantu penanganan resiko bencana berdasarkan kemasyarakatan.
Untuk membantu meningkatkan peraturan yang terkait dengan upaya untuk
mengurangi resiko bencana di Indonesia, perlu penyediaan petunjuk strategis dan
saran kebijakan untuk perumusan RUU dan regulasi penanggulangan bencana. RUU
ini telah disahkan pada tahun 2007. Meningkatkan kapasitas pemerintah pusat
maupun daerah untuk menyiapkan dan mengelola bencana dan pemulihan
selanjutnya adalah penting pada negara yang mudah terkena bencana dan
pemerintahan terpusat seperti Indonesia. Kapasitas pengurangan resiko bencana
dan penanganan memerlukan pengetahuan, sistem, informasi, perangkat dan
sumberdaya yang diperlukan dalam merespon bencana.
Kapasitas yang efektif dalam menurunkan resiko bencana memerlukan pengurangan
resiko bencana yang terintegrasi ke dalam perencnaan dan anggaran nasional di
tingkat nasional, propinsi dan kabupaten. Perumusan dan penyebaran Rencana Aksi
Nasional untuk Pengurangan Resiko Bencana (DRR) dan rencana aksi DRR di tingkat
regional. Perencanaan menjadi penting untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah
dalam mengurangi dampak bencana, mengelola bahaya bencana dan menurunkan
resiko bencana ke dalam pengembangan perencanaan dan anggaran. Untuk
meningkatkan kapasitas Pemerintah perlu adanya perencanaan Sistem Informasi
Copyright@2007 by Djauhari Noor

219

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Resiko Bencana yang membantu mengadakan informasi yang relevan sehubungan


dengan pengurangan, pencegahan, dan penanggulangan bencana.

7.9 Rencana Tindak Mengurangi


Resiko
(Action Plan For Disaster Risk Reduction)

Bencana

Usaha usaha untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia telah diatur dan disusun
dalam suatu kerangka kerja yang implementasinya menfokuskan pada beberapa
kegiatan yang menjadi kunci dalam menanggulangi resiko bencana. Beberapa
prioritas
diantaranya
harus diimplementasikan dalam
rencana
kegiatan
operasionalnya.
7.9.1. Prioritas
Inisiatif untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia terutama diprioritaskan pada
keberlanjutan dan partisipasi seluruh stakeholder. Perlu adanya komitmen yang kuat
dalam memilih prioritas serta tindakan tindakan yang akan diambil menjadi ciri
dalam usaha ini. Prioritas prioritas tersebut diperlukan sebagai dasar yang
terintegrasi dalam implementasi program pengurangan resiko bencana yang
berkelanjutan yang sejalan dengan usaha usaha yang sudah dilaksanakan pada
tingkat internasional.
Ada 5 prioritas kunci yang yang harus diperhatikan dalam mengurangi resiko
bencana, yaitu :
1) Memastikan bahwa pengurangan resiko bencana merupakan prioritas
nasional dan daerah, oleh karenanya diperlukan suatu kelembagaan yang
kuat yang menjadi dasar dalam implementasinya.
2) Melakukan kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi, penilaian dan
pengawasan resiko bencana dan peningkatan terhadap peringatan dini.
3) Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun
suatu budaya yang aman dan fleksibel untuk semua tingkatan.
4) Mengurangi faktor faktor penyebab resiko bencana.
5) Meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana disetiap tingkat dan mampu
bertindak secara efektif.
7.9.2 Rencana Tindak (Action Plan)
Cermin dari perubahan paradigma pencegahan dimasa depan adalah sebagai bagian
dalam
memenuhi persyaratan dasar hak asasi manusia, pengurangan resiko
bencana diperlukan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Mengakui bahwa hak azasi merupakan suatu kehormatan hidup dan
kehidupan setiap manusia, oleh karenanya pemerintah bertanggungjawab
dalam memberi perlindungan terhadap bencana, terutama menghindari
dengan tanpa membuat resiko pada proses perbaikan.
b) Mengurangi faktor-faktor resiko bencana dari praktek pembangunan yang
tidak berkelanjutan adalah suatu hal yang lebih buruk dari dampak perubahan
iklim.
c) Agar supaya kepercayaan dapat diraih, maka resiko dan atau bencana yang
berdampak pada masyarakat serta kepekaan pada gender, partisipasi,
kesetaraan dan perspektif hukum harus ditingkatkan.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

220

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Berikut adalah aktivitas / kegiatan yang menjadi kunci dan harus ditingkatkan
sebagai bagian dari implementasi Rencana Tindak Nasional dalam mengurangi resiko
bencana:
1. Memastikan bahwa pengurangan resiko bencana harus menjadi
prioritas utama bagi pemerintah pusat maupun daerah yang
diimplementasikan dalam suatu kelembagaan yang kuat untuk
melakukan kegiatan sebagai berikut:
1) Kelembagaan Nasional dan Kerangka Hukum
a) Mendukung pembentukan dan penguatan mekanisme pengurangan
resiko bencana tingkat nasional secara terpadu.
b) Mengurangi resiko secara terpadu melalui kebijakan pembangunan dan
perencanaan, termasuk strategi mengurangi kemiskinan.
c) Bila perlu mengadopsi atau memodifikasi undang-undang guna
mendukung pengurangan resiko bencana, termasuk didalamnya
mekanisme serta peraturan peraturan yang memperkuat dan memberi
insentif kepada pihak pihak yang mensosialisasikan kegiatan mitigasi
dan pengurangan resiko.
d) Menyadarkan betapa pentingnya penanganan resiko bencana serta
tanggungjawab masyarakat yang terdesentralisasi untuk mengurangi
resiko bencana, terutama dalam hal kewenangan daerah atau propinsi.
2). Sumberdaya
a) Akses kepada sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam
mengurangi resiko bencana dan kemampuan dalam pengembangan
dan perencanaan serta membuat
program program dalam
menyatukan kondisi saat ini dan kebutuhan dimasa yang akan datang.
b) Mempersiapkan dan menyediakan sumberdaya untuk pengembangan
dan implementasi dari kebijakan pengelolaan resiko bencana, programprogram, hukum dan peraturan yang berhubungan dengan
pengurangan resiko bencana.
c) Pemerintah berkewajiban memperlihatkan kemauan politik yang kuat
yang
dibutuhkan
untuk
mensosialisasikan
dan
memadukan
pengurangan
resiko
bencana
kedalam
program
program
pembangunan.
3). Partisipasi Masyarakat
Secara sistimatik melibatkan peran masyarakat dalam pengurangan resiko
bencana, termasuk dalam proses pengambilan keputusan untuk hal hal
yang berkaitan dengan pemetaan, perencanaan, implementasi,
pengawasan, dan evaluasi melalui pembuatan jejaring, termasuk jejaring
tenaga sukarela, manajemen sumberdaya strategis, dan dengan membuat
aturan-aturan
hukum
serta
menetapkan
tanggungjawab
dan
otoritas/kewenangan perwakilan.
2.

Mengidentifikasi, akses, dan pengawasan resiko bencana dan


meningkatkan peringatan dini, melalui kegiatan-kegiatan :
1). Penilaian Resiko pada skala Nasional dan Daerah
a) Membangun, memperbaharui, dan menyebarkan peta peta resiko
bencana serta informasi informasi yang berhubungan dengan bencana
kepada para pengambil keputusan dan masyarakat umum.
b) Membangun sistem penciri/penunjuk resiko bencana dan kerentanan
pada tingkat nasional dan propinsi yang memungkinkan pembuat
keputusan dapat meng-akses dampak dari bencana.
Copyright@2007 by Djauhari Noor

221

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

c) Mencatat, meng-analisa, menyimpulkan, dan menyebarkan informasi


secara statistik terhadap kejadian kejadian bencana, dampaknya dan
kerugiannya.
2). Peringatan Dini
a) Membangun sistem peringatan dini di tengah tengah masyarakat,
terutama sistem yang dapat memberi peringatan tepat waktu dan
dapat dimengerti makna masalah resikonya.
b) Secara periodik mengulang kembali dan merawat sistem informasi
sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
c) Memantapkan kapasitas kelembagaan untuk memastikan bahwa
sistem peringatan dini benar-benar terintegrasi dalam kebijakan
pemerintah dan proses pengambilan keputusan.
d) Memperkuat koordinasi dan kerjasama diantara semua sektor yang
terkait dan aktor dalam rantai peringatan dini dalam rangka
memperoleh efektifitas penuh dari sistem peringatan dini.
e) Membangun dan memperkuat efektiifitas sistem peringatan dini di
pulau pulau yang lebih kecil.
3). Kapasitas
a) Mendukung pengembangan dan keberlanjutan infrastruktur, ilmu
pengetahuan dan teknologi, kapasitas kelembagaan serta teknis
lainnya yang diperlukan untuk penelitian, pengamatan, analisa,
pemetaan, prediksi alam dan bahaya yang terkait, kerentanan serta
dampak bencana.
b) Mendukung dalam pengembangan dan peningkatan basisdata yang
relevan dan memperkenalkan pertukaran data secara terbuka dan
penyebaran data untuk keperluan penilaian, pengawasan dan
keperluan peringatan dini.
c) Mendukung dalam peningkatan metoda metoda melalui ilmu
pengetahuan dan teknologi serta kemampuan dalam penilaian resiko,
pengawasan, dan peringatan dini melalui penelitian, kerjasama,
pelatihan dan membangun kemampuan teknis.
d) Memantapkan dan memperkuat kemampuan dalam menrekam,
menganalisa, meringkas, menyebarkan, serta pertukaran data dan
informasi.
4). Resiko Darurat Regional
a) Mengkompilasi dan membuat standarisasi data dan informasi pada
resiko bencan regional, dampak dan kerugiannya.
b) Kerjasama secara regional dan internasional untuk penilaian dan
pengawasan regional dan bahaya lintas batas.
c) Penelitian, analisa, dan pelaporan perubahan jangka panjang dan isu
isu bersama yang mungkin meningkat kerentanannya dan resiko atau
kapasitas otoritas dan masyarakat dalam menghadapi bencana.
3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan sebagai sarana
untuk membangun suatu budaya aman dan nyaman pada setiap
tingkatan, melalui kegiatan sebagai berikut:
1) Menyediakan informasi yang mudah dimengerti mengenai resiko bencana
dan pilihan pencegahan, khususnya kepada penduduk perkotaan yang
berada di wilayah yang beresiko tinggi.
2) Peningkatan jejaring diantara sesama akhi kebencanaan, para manajer,
dan perencana lintas sektoral dan antar wilayah, dan membangun atau
Copyright@2007 by Djauhari Noor

222

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

3)
4)
5)
6)

7)

meningkatkan prosedur pemanfatan tenaga akhli yang tersedia pada


pembangunan perencanaan pengurangan resiko di daerah.
Mempromosikan dan meningkatkan dialog dan
kerjasama diantara
masyarakat ilmiah dan praktisi yang bekerja dibidang pengurangan resiko
bencana.
Memperkuat dan mengimplementasikan penggunaan informasi terbaru,
serta informasi dan teknologi untuk penanganan pengurangan resiko
bencana.
Dalam jangka menengah, mengembangkan direktori, inventarisasi, dan
sistem pertukaran informasi pada tingkat daerah, propinsi, nasional dan
tingkat internasional.
Kelembagaan yang berorientasi kepada pembangunan perkotaan harus
menyediakan informasi pada masyarakat mengenai pilihan pengurangan
bencana terutama kepada para kontraktor bangunan, pembeli lahan atau
penjual tanah.
Memperbaharui dan menyebarkan secara luas dengan menggunakan
standar internasional yang berkaitan dengan pengurangan resiko bencana.

4. Pendidikan dan pelatihan


1) Memperkenalkan pengetahuan tentang pengurangan resiko bencana
dalam kurikulum sekolah
2) Memperkenalkan implementasi dari penilaian resiko di tingkat daerah dan
program kewaspadaan terhadap bencana di sekolah sekolah dan lembaga
pendidikan tinggi.
3) Memperkenalkan implementasi program dan kegiatan di sekolah untuk
pembelajaran bagaimana meminimalkan suatu dampak bencana.
4) Mengembangkan pelatihan dan program pembelajaran dengan sasaran
untuk mengurangi resiko bencana pada sektor tertentu (Perencana
Pembangunan, Pegawai/staff Pemerintah Daerah, Manajer Pabrik, dsb)
5) Memperkenalkan
inisiatif
pelatihan
berbasis
masyarakat
guna
meningkatkan kapasitas daerah dalam mitigasi dan keluar dari bencana.
6) Memastikan kesetaraan akses untuk mendapat kesempatan mengikuti
pelatihan dan pendidikan, baik untuk perempuan maupun dari kalangan
yang rentan.
5.

Penelitian
1) Pengembangan metoda metoda untuk memprediksi penilaian multi resiko
dan analisa untung rugi berdasarkan sosial-ekonomi dari tindakan dalam
pengurangan resiko.
2) Meningkatkan kemampuan, secara ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk
mengembangakan dan menerapkan metodologi dan model untuk menilai
kerentanan terhadap dan dampak geologi, cuaca, air, dan iklim yang
berhubungan dengan bahaya.

6.

Kepedulian masyarakat
Memperkenalkan melalui media guna membangun budaya peduli terhadap
bencana dan mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat langsung dalam
pencegahan terhadap bencana.

7. Mengurangi faktor faktor penyebab resiko, melalui kegiatan :


1). Pengelolaan Sumberdaya alam dan Lingkungan, meliputi:
Copyright@2007 by Djauhari Noor

223

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

a) Pengelolaan ekosistem dan pemanfaatan yang berkelanjutan, termasuk


melalui perencanaan tata guna lahan yang lebih baik dan aktivitas
kegiatan untuk mengurangi resiko dan kerentanan.
b) Mengimplementasikan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan terpadu yang selaras dengan pengurangan resiko bencana
c) Memperkenalkan pengurangan resiko secara terpadu yang berkaitan
dengan variabilitas iklim yang ada dan perubahan iklim dimasa
mendatang.
2). Pembangunan Ekonomi dan Sosial
a) Memperkenalkan pentingnya keamanan pangan
b) Memadukan perencanaan pengurangan resiko bencana kedalam
bidang kesehatan sebagai
panduan keamanan rumah sakit dari
dampak bencana.
c) Pencegahan dan peningkatan fasilitas darurat milik masyarakat / publik
(sekolahan, rumahsakit, pembangkit listrik, dll) sehingga aman
terhadap dampak bencana.
d) Meningkatkan implementasi mekanisme keselamatan masyarakat
e) Mengintegrasikan pengurangan resiko bencana kedalam perbaikan
pasca bencana dan proses rehabilitasi.
f) Meminimilisasi resiko bencana dan kerentanan yang disebabkan oleh
gerakan masa.
g) Mempromosikan diserfikasi pilihan pendapatan untuk penduduk yang
berada di areal yang beresiko tinggi guna mengurangi kerentanan
terhadap bahaya.
h) Mempromosikan pengembangan resiko keuangan dengan cara
mengasuransikan melalui asuransi bencana.
i) Mempromosikan pembentukan kerjasama swasta dan masyarakat
untuk mendorong sektor swasta peduli terhadap kegiatan pengurangan
resiko bencana.
j) Mengembangkan dan mempromosikan alternatif dan inovasi intrumen
keuangan dalam mendorong pengurangan resiko bencana.
3). Perencanaan tata guna lahan dan peraturan teknis lainnya.
a) Mengintegrasikan penilaian resiko bencana kedalam perencanaan kota
dan pengelolaan pemukiman manusia yang rentan bencana.
b) Menjadikan resiko bencana kedalam prosedur perencanaan untuk
proyek proyek kunci infrastruktur, termasuk pada kriteria desain,
persetujuan dan implementasi dari proyek.
c) Mengembangkan panduan dan alat pengawasan untuk mengurangi
resiko bencana dalam kontek kebijakan tataguna lahan dan
perencanaan.
d) Mengintegrasikan penilaian resiko bencana kedalam perencanaan
pembangunan kota.
e) Menyarankan perlu adanya revisi kode bangunan baru atau yang ada,
perlu adanya standarisasi, rehabilitasi, dan rekontruksi.
4).

Meningkatkan kesiapan/kewaspadaan terhadap bencana disemua


tingkatan, melalui kegiatan:
a) Penguatan kebijakan, kapasitas dan kelembagaan dan teknis dalam
pengelolaan bencana, baik
secara lokal, regional, dan nasional,
termasuk didalamnya yang berkaitan dengan teknologi, pelatihan, dan
sumberdaya manusia dan sumberdaya material.
b) Memberi dukungan diadakannya dialog, pertukaran informasi dan
melakukan koordinasi diantara lembaga-lembaga yang berhubungan
Copyright@2007 by Djauhari Noor

224

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

c)

d)
e)
f)

7.10

dengan peringatan dini, pengurangan resiko bencana, tanggap darurat,


pembangunan dan hal-hal lainnya yang relevan.
Memperkuat dan apbila diperlukan membangun koordinasi dengan
penndekatan regional dan membuat atau meningkatkan kebijakan
regional, mekanisme operasional, perencanaan dan sistem komunikasi
pada kejadian bencana yang melewati batas wilayah/propinsi.
Mempersiapkan atau menilai ulang secara periodik tentang persiapan
menghadapi bencana dan rencana darurat dan kebijakan pada semua
tingkat.
Mempromosikan pembangunan dana darurat untuk mendukung
kesiapan, perbaikan dan reaksi terhadap bencana.
Mengembangkan mekanisme khusus untuk menggugah partisipasi
aktif dan pemilik/stakeholder.

Bencana Alam Di Indonesia

Indonesia adalah negara yang rentan terhadap bencana alam, apakah itu bencana
yang berasal dari peristiwa alamiah maupun bencana yang disebabkan oleh ulah
manusia. Beberapa penyebab bencana erat kaitannya dengan kondisi geografi,
geologi, iklim atau faktor-faktor lainnya.

7.10.1 Faktor Faktor Penyebab Bencana Alam.


Bencana alam dapat disebabkan oleh peristiwa alamiah ataupun akibat dari aktifitas
manusia. Berikut ini adalah interaksi antara faktor-faktor yang berperan pada
terjadinya bencana:
a) Faktor alamiah, meliputi kondisi geografi, geologi, hidro-meteorologi, biologi,
dan degradasi lingkungan.
b) Komunitas yang padat, infrastruktur dan elemen-elemen dalam wilayah / kota
yang berada di kawasan yang rawan bencana.
c) Rendahnya kapasitas dari elemen-elemen masyarakat
Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada pada
pertemuan 4 lempeng tektonik, yaitu lempeng Asia, lempeng Australia, lempeng
Samudra India, dan lempeng Samudra Pasifik. Di Indonesia bagian selatan dan timur
terbentang rangkaian busur gunungapi, yang tersebar mulai dari Sumatra-JawaNusaTenggara-Sulawesi. Sebagian besar kepulauan Indonesia ditempati oleh jalur
gunungapi dan dataran rendah sedangkan sisanya ditempati oleh daratan rawa.
Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang rawan dan berpotensi
terkena bencana, seperti rawan terkena letusan gunungapi, gempa bumi, tsunami,
banjir dan longsor. Berdasarkan data bahwa Indonesia memiliki tingkat seismisitas
yang sangat tinggi diantara negara-negara di dunia, dengan frekuensi rata-rata lebih
dari 10 kali lipat dibandingkan dengan Amerika Serikat (Arnold, 1986).
Pergerakan lempeng bumi memicu terjadinya gempabumi yang apabila terjadi
dibawah laut seringkali menghasilkan gelombang pasang. Kecenderungan yang
tinggi terhadap pergerakan lempeng tektonik, Indonesia sudah sering terkena
bencana tsunami. Hampir semua tsunami di Indonesia disebabkan oleh gempabumi
tektonik yang terjadi disepanjang zona tumbukan (subduksi) dan di daerah daerah
Copyright@2007 by Djauhari Noor

225

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

yang seismisitasnya aktif. Sejak tahun 1600 hingga tahun 2000 telah terjadi 105 kali
tsunami di Indonesia, 90% tsunami tersebut disebabkan oleh gempabumi tektonik, 9
% disebabkan oleh letusan gunungapi, dan 1 % oleh longsoran. Kawasan pantai
/pesisir di Indonesia umumnya rawan terhadap tsunami. Daerah daerah seperti
pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, pantai utara dan selatan Nusa Tenggara,
kepulauan Maluku, pantai utara Papua dan sebagian besar pesisir Sulawesi, serta
laut Maluku merupakan daerah yang sangat rawan terkena tsunami. Antara tahun
1600 hingga tahun 2000, sudah terjadi 32 kali tsunami, dimana 28 kali disebabkan
oleh gempabumi dan 4 kali disebabkan oleh letusan gunungapi bawah laut.
Keberadaan Indonesia yang terletak di daerah yang beriklim tropis dan hanya
mengenal 2 musim, yaitu musim kemarau dan penghujan serta perubahan cuaca,
temperatur, arah angin yang cukup ekstrim menyebabkan Indonesia sangat rentan
terkena bencana geologi.
Perpaduan antara keadaan bentangalam dan jenis
bebatuan yang ada dimana secara fisik dan kimiawi berbeda menjadikan kondisi
tanah di Indonesia cukup subur disamping berpotensi dan rawan terkena bencana
hidro-meteorologi, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring
dengan meningkatnya aktifitas manusia, kerusakan lingkungan juga semakin
bertambah luas dan pada akhirnya dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi dengan frekuensi dan intensitas yang semakin tinggi di beberapa
wilayah di Indonesia. Sebagai contoh bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi
di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa tempat lainnya pada
tahun 2006.
Meskipun ada usaha usaha dalam meminimalkan terjadinya degradasi lingkungan,
proses pembangunan di indonesia juga telah mengakibatkan rusaknya ekologi dan
lingkungan hidup. Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia sejauh ini hanya
terfokus pada eksploitasi sumberdaya alam (terutama dalam skala besar) untuk
kelangsungan hidup manusia Indonesia. Sumberdaya hutan Indonesia menurun dari
tahun ke tahun, sedangkan penambangan sumberdaya mineral telah menyebabkan
rusaknya ekosistem dan struktur tanah serta meningkatkan resiko terkena bencana.

7.10.2 Jenis Bencana Alam Yang Sering Terjadi Di Indonesia


Berdasarkan catatan BAKORNAS, bencana yang melanda Indonesia dari tahun ke
tahun menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Selama periode 2003 2005
telah terjadi 1.429 bencana, baik yang disebabkan oleh bencana geologi maupun
bencana yang berasal dari bencana hidro-meteorologi.
Berdasarkan jenis bencananya, bencana banjir menempati urutan pertama, yaitu
sebesar 34,1 % diikuti oleh bencana tanah longsor sebesar 16 %, sedangkan
bencana geologi (gempabumi, tsunami dan letusan gunungapi) menempati 6,4 %.
Meskipun bencana geologi hanya menempati urutan ketiga dari seluruh bencana
yang terjadi pada periode tersebut, namun tingkat kerusakan dan besarnya kerugian
yang disebabkan oleh bencana geologi tersebut sangat tinggi. Berdasarkan catatan,
tingkat kerusakan dan kerugian yang terjadi oleh kombinasi antara bencana
gempabumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara pada 26
Desember 2004 serta gempabumi di Nias, Sumatra Utara pada tanggal 28 Maret
2005 merupakan bencana yang paling dahsyat sepanjang sejarah Indonesia.

1. Gempabumi dan Tsunami


Gempabumi relatif sering terjadi di Indonesia dan umumnya disebabkan oleh
pergerakan lempeng lempeng tektonik dan letusan gunungapi. Pergerakan lempeng
tektonik yang terjadi disepanjang pantai barat pulau Sumatra merupakan tempat
Copyright@2007 by Djauhari Noor

226

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

pertemuan lempeng Asia dan lempeng Samudra India sedangkan di pantai selatan
pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara merupakan tempat pertemuan lempeng
Australia dan lempeng Asia. Sulawesi dan Maluku sebagai tempat pertemuan
lempeng Asia dan lempeng Samudra Pasifik. Pusat pertemuan antar lempeng
tersebut menjadikan Indonesia sebagai daerah yang sering dilanda gempabumi
dengan ribuan episenter yang tersebar disepanjang pertemuan lempeng.
Gempabumi bawah laut merupakan pemicu terjadinya tsunami, terutama
gempabumi yang terjadi di bawah laut yang diikuti oleh deformasi lantai samudra,
seperti yang terjadi di pantai barat Sumatra dan pantai utara Papua. Letusan
Gunungapi juga dapat menimbulkan tsunami seperti yang terjadi pada Gunung
Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883.
Bencana gempabumi dan tsunami umumnya berdampak pada hilanganya harta
benda dan korban jiwa dan untuk merehabilitasi dan rekontruksinya dibutuhkan
waktu yang cukup lama. Waktu yang diperlukan untuk membangun kembali
infrastruktur dan bangunan yang rusak akibat bencana tidak dapat secara langsung
dilakukan namun memerlukan waktu hingga bertahun tahun. Dalam sejarah modern
kehidupan manusia, bencana tsunami sangat merusak dan berdampak sangat luas
serta memakan korban jiwa dan harta benda adalah tsunami yang terjadi pada
tanggal 26 desember 2004 di samudra India sebagai akibat dari gempabumi
berskala 8.9 Richter yang berpusat di dekat pulau Simeulue, provinsi Nangroe Aceh
Darussalam. Tsunami ini telah merusak kota Banda Aceh, Pantai Barat Aceh dan
Nias. Bencana juga menghantam negara-negara disepanjang Samudra India
termasuk Thailand, Malaysia, Andaman dan Nicobar, Sri Langka hingga ke pantai
timur Afrika. Berdasarkan catatan lebih dari 165.862 jiwa manusia menjadi korban
dalam peristiwa ini dan 37.066 orang dinyatakan hilang. Total kerugian ekonomi
diperkirakan mencapai 41 triliun rupiah diluar dari kerugian yang diakibatkan oleh
terganggunya kegiatan ekonomi dan produksi.
Hanya 3 bulan setelah gempabumi Aceh terjadi lagi gempabumi yang sangat kuat
yang menghantam pulau Nias pada tanggal 28 Maret 2005. Pusat gempabumi ini
berada didasar laut disekitar kepulauan Nias dengan magnitud 8,2 skala Richter.
Meskipun tidak memicu terjadinya tsunami, gempa Nias menyebabkan kerusakan
yang cukup luas, terutama di kepulauan Nias dan Nias Selatan yang berada di
propinsi Sumatra Utara serta wilayah Simeulue di Aceh. Jumlah korban jiwa yang
tercatat sebanyak 915 jiwa dengan tingkat kerusakan yang cukup berat di seluruh
kepulauan Nias. Pada tanggal 27 Mei 2006 terjadi lagi gempabumi dengan
magnitude 5,9 skala Richter yang berpusat di selatan Yogyakarta, tepatnya
kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gempabumi ini telah menelan
korban sebanyak 5.749 jiwa, 38.568 luka-luka dan ratusan ribu orang kehilangan
tempat tinggalnya. Total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 29,2 triliun rupiah.

2. Letusan Gunungapi
Di Indonesia terdapat 129 gunungapi aktif dan 500 gunungapi tidak aktif. Dari 129
gunungapi aktif atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif di dunia ada di Indonesia
dan 70 persen eruptif dan 15 dalam kondisi kritis. Persebaran gunungapi di
Indonesia membentuk satu jalur yang berupa garis mulai dari Sumatra, Jawa, Bali,
dan Nusa Tenggara sebelum membelok ke arah utara, kearah laut Banda dan
Sulawesi bagian utara. Panjang jalur gunungapi kurang lebih 7000 kilometer yang
terdiri dari gunungapi dengan karakteristik campuran. Saat ini lebih dari 10 persen
penduduk Indonesia mendiami wilayah wilayah yang rentan terhadap letusan
gunungapi. Selama lebih dari 100 tahun, sudah 175.000 jiwa telah menjadi korban
dari letusan gunungapi.
Copyright@2007 by Djauhari Noor

227

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Indonesia yang berada pada zona beriklim tropis dengan musim kemarau dan
penghujan telah berpengalaman menghadapi ancaman bencana longsoran dari
material piroklastik yang berasal dari hasil erupsi gunungapi, seperti aliran lahar
atau perpindahan material gunungapi (piroklastik) yang berbahaya. Gunung Merapi
adalah salah satu gunungapi sangat aktif di dunia. Gunungapi ini menunjukkan
erupsi menghasilkan awan panas piroklastik dan longsoran kubah lava. Luncuran
kubah lava yang terjadi secara berulang-ulang sepanjang periode erupsi dan dapat
memakan waktu hingga berbulan bulan. Sebagai gambaran, dari 13 Mei hingga 21
Juni 2006, gunung Merapi ditetapkan dalam kondisi Siaga namun demikian tidak
menunjukkan tanda tanda penurunan aktivitasnya. Semburan material piroklastik
mencapai ratusan kali dengan radius hingga mencapai 6 kilometer yang
membahayakan pemukiman penduduk, terutama di wilayah kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta, Klaten, dan Magelang di wilayah Jawa Tengah. Lebih
dari 17.212 jiwa telah diungsikan sementara dan 2 orang meninggal dikarenakan
terperangkap di lubang perlindungan yang berada di Kaliadem, Cangkringan,
Sleman. (Data Bakornas pada 15 Juni 2006).

3. Banjir
Banjir merupakan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya di Indonesia,
tercatat bahwa kebanyakan terjadi pada musim penghujan. Berdasarkan sudut
pandang morfologi, banjir terjadi di negara negara yang mempunyai bentuk
bentangalam yang sangat bervariasi dengan sungai nya yang banyak. Banjir di
Indonesia umumnya terjadi di Indonesia bagian barat, karena tingkat curah hujan
yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur.
Pertumbuhan penduduk di Indonesia dan kebutuhan ruang sebagai tempat untuk
mengakomodasi kehidupan manusia dan mendukung aktivitasnya secara tidak
langsung telah berperan terjadinya banjir. Penebangan hutan yang dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan ruang telah meningkatkan sedimentasi di sungai-sungai, tidak
terkendalinya air permukaan dan tanah menjadi jenuh air. Hal ini yang
memungkinkan air permukaan menjangkau kawasan yang lebih luas yang pada
akhirnya menjadi penyebab banjir bandang seperti yang terjadi pada tahun 2003 di
wilayah Bahorok dan Langkat, Sumatra Utara dan di wilayah Ayah, Jawa Tengah.
Dalam tahun 2006 bencana banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk
bencana banjir bandang dan tanah longsor. Di Jember, Jawa Timur akibat banjir
bandang dan tanah longsor telah menelan korban sebanyak 92 orang meninggal dan
8.861 hanyut, sedangkan di Trenggalek 18 orang meninggal. Banjir bandang yang
disertai dengan tanah longsor terjadi juga di Manado, Sulawesi Utara yang memakan
korban sebanyak 27 jiwa dan 30.000 hanyut. Bencana yang sama terjadi juga di
Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dan
puluhan lainnya hilang (Data Provinsi dari BAKORNAS, 23 Juni 2006).

4. Tanah Longsor
Di Indonesia peristiwa tanah longsor sering kali terjadi, terutama di tempat tempat
yang berlereng terjal. Peristiwa tanah longsor umumnya dipicu oleh curah hujan
yang sangat tinggi. Berdasarkan data, daerah daerah yang diduga rentan terhadap
tanah longsor adalah kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatra, kawasan
pegunungan di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Tanah longsor yang yang sangat
fatal juga terjadi di lokasi pemboran dan penggalian yang terjadi di daerah
pertambangan. Tanah longsor juga terjadi setiap tahun, terutama di tempat tempat
yang lahannya tidak stabil seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Copyright@2007 by Djauhari Noor

228

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Hampir semua lahan di daerah tropis merupakan daerah yang rentan terhadap tanah
longsor karena tingkat pelapukan yang tinggi yang menyebabkan komposisi tanah
didominasi oleh lapisan material lepas. Di Indonesia, kestabilan lahan sangat besar
peranannya sebagai zonasi penyangga kerusakan. Penebangan hutan yang sangat
ektensif di zona penyangga telah meningkatkan potensi terjadinya tanah longsor.
Sebagai contoh di Jawa Barat tercatat pada tahun 1990, sebanyak 791.519 Ha areal
hutan telah mengalami penurunan menjadi 323.802 Ha pada tahun 2002. Hal ini
memungkinkan bahwa potensi tanah longsor diperkirakan terjadi di daerah ini. Tanah
longsor yang terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah pada awal 2006 telah merenggut
76 jiwa, dan 44 jiwa dilaporkan hilang karena tertimbun longsoran tanah. Kerugian
lainnya termasuk kerusakan yang cukup parah pada 104 rumah penduduk dan
rusaknya tanaman padi.

5. Kekeringan
Apabila peristiwa banjir dan tanah longsor terjadi pada musim penghujan, maka
kekeringan pada umumnya terjadi dimusim kemarau. Bencana kekeringan sudah
menjadi permasalahan yang serius ketika berdampak pada produksi tanaman
pangan di suatu daerah, seperti yang terjadi di Bojonegoro dengan 1000 ha sawah
mengalami gagal panen ketika sistem irigasi tidak berfungsi karena musim kemarau.
Kasus yang sama juga terjadi di pantai Jawa bagian Utara, ketika kekeringan
melanda 12.985 ha. penghasil tanaman pangan di wilayah tersebut.
Saat ini bencana kekeringan juga berdampak pada pasokan energi listrik, hal ini
disebabkan oleh
turunnya produksi listrik yang berasal dari PLTA. Perununan
pasokan energi listrik yang berasal dari PLTA akan mengganggu sistem jaringan
interkoneksi kelistrikan di wilayah Jawa dan Bali. Kekeringan yang melanda
Indonesia, terutama terjadi pada musim kemarau yang berkepanjangan, khususnya
di Indonesia bagian timur seperti NTB, NTT dan beberapa daerah di Sulawesi,
Kalimantan dan Papua. Kekeringan juga dapat memicu penyebaran penyakit
penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah.

RINGKASAN
Longsoran Tanah atau gerakan tanah adalah proses perpindahan masa batuan / tanah akibat
gaya berat (gravitasi).
Faktor yang bersifat pasif pada longsoran tanah adalah:
a) Litologi: material yang tidak terkonsolidasi atau rentan dan mudah meluncur karena basah
akibat masuknya air ke dalam tanah.
b) Susunan Batuan (stratigrafi): perlapisan batuan dan perselingan batuan antara batuan lunak
dan batuan keras atau perselingan antara batuan yang permeable dan batuan impermeabel.
c) Struktur geologi: jarak antara rekahan/joint pada batuan, patahan, zona hancuran, bidang
foliasi, dan kemiringan lapisan batuan yang besar.
d) Topografi: lereng yang terjal atau vertikal.
e) Iklim: perubahan temperatur tahunan yang ekstrim dengan frekuensi hujan yang intensif.
f)
Material organik: lebat atau jarangnya vegetasi.
Faktor yang bersifat aktif pada longsoran tanah adalah:
a) Gangguan yang terjadi secara alamiah ataupun buatan.
b) Kemiringan lereng yang menjadi terjal karena aliran air.
c) Pengisian air ke dalam tanah yang melebihi kapasitasnya, sehingga tanah menjadi jenuh air.
d) Getaran-getaran tanah yang diakibatkan oleh seismisitas atau kendaran berat.
Berdasarkan tipenya, longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:
Copyright@2007 by Djauhari Noor

229

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

a)

Longsoran tanah tipe aliran lambat (slow flowage ) terdiri dari: Rayapan (Creep); Rayapan
tanah (Soil creep); Rayapan talus (Talus creep) ; Rayapan batuan (Rock creep); Rayapan
batuan glacier (Rock-glacier creep); Solifluction/Liquefaction.

b)

Longsoran tanah tipe aliran cepat (rapid flowage) terdiri dari : Aliran lumpur (Mudflow) : Aliran
masa tanah dan batuan (Earthflow); Aliran campuran masa tanah dan batuan (Debris
avalanche).

c)

Longsoran tanah tipe luncuran (landslides) terdiridari : Nendatan (Slump); Luncuran dari
campuran masa tanah dan batuan (Debris slide) ; Gerakan jatuh bebas dari campuran masa
tanah dan batuan (Debris fall) ; Luncuran masa batuan (Rock slide); Gerakan jatuh bebas masa
batuan (Rock fall) ; Amblesan (Subsidence).

Bahaya Gunungapi adalah bahaya yang ditimbulkan oleh letusan/kegiatan gunungapi, berupa
benda padat, cair dan gas serta campuran diantaranya yang mengancam atau cenderung merusak
dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda dalam tatanan (lingkungan) kehidupan
manusia.
Dampak Negatif Letusan Gunungapi :
a) Bahaya langsung, terjadi pada saat letusan (lava, awan panas, jatuhan piroklastik/bom, lahar
letusan dan gas beracun).
b) Bahaya tidak langsung, terjadi setelah letusan (lahar hujan, kelaparan akibat rusaknya lahan
pertanian/perkebunan/ perikanan), kepanikan, pencemaran udara/air oleh gas racun: gigi
kuning/ keropos, endemi gondok, kecebolan dsb.
Dampak Positif Letusan Gunungapi :
a) Bahan galian: seperti batu dan pasir bahan bangunan, peralatan rumah tangga,patung, dan
lain lain.
b) Mineral : belerang, gipsum,zeolit dan juga mas (epitermal gold).
c) Energi panas bumi: listrik, pemanas ruangan, agribisnis
d) Mataair panas : pengobatan/terapi kesehatan.
e) Daerah wisata: keindahan alam
f)
Lahan yang subur: pertanian dan perkebunan
g) Sumberdaya air: air minum, pertanian/peternakan, dll.
Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya energi yang
terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi. Gempabumi dapat
didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa batuan / tanah yang berasal dari hasil
pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam bumi.
Dampak Gempabumi : Rekahan tanah (ground rupture), getaran tanah (ground shaking),
gerakan tanah (mass-movement), kebakaran (fire), perubahan aliran air (drainage changes),
gelombang pasang/tsunami. Gelombang gempa yang merambat pada masa batuan, tanah,
ataupun air dapat menyebabkan bangunan gedung dan jaringan jalan, air minum, telepon, listrik,
dan gas menjadi rusak. Tingkat kerusakan sangat ditentukan oleh besarnya magnitute dan
intensitas serta waktu dan lokasi epicenter gempa.
Bencana buatan adalah bencana yang ditimbulkan oleh perbuatan dan aktivitas manusia itu
sendiri.

Pengelolaan resiko bencana adalah suatu upaya yang ditujukan untuk meminimalkan resiko
yang mungkin terjadi serta melakukan upaya-upaya pencegahan (mitigasi) di wilayah yang rentan
terkena bencana. Pengelolaan resiko bencana merupakan istilah yang umum dipakai dalam
penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi bencana, dan persiapan menghadapi bencana.
Bahaya (Hazard) adalah suatu ancaman yang berasal dari peristiwa alam yang bersifat ekstrim
yang dapat berakibat buruk atau keadaan yang tidak menyenangkan. Tingkat ancaman ditentukan
oleh probabilitas dari lamanya waktu kejadian (periode waktu), tempat (lokasi), dan sifatnya saat
peristiwa itu terjadi. Bahaya alam (Natural hazard) adalah probabilitas potensi kerusakan yang
mungkin terjadi dari fenomena alam di suatu area / wilayah.
Bencana (Disaster) merupakan fungsi dari kondisi yang tidak normal yang terjadi pada
masyarakat dan mempunyai kecenderungan kehilangan kehidupannya, harta benda dan lingkungan
sumberdayanya, serta kondisi dimana masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk keluar dari
dampak / akibat yang ditimbulkannya.
Kerentanan/kerawanan (Vulnerability) dapat diartikan sebagai ketidakmampuan menangkal
/menahan dampak dari kejadian/peristiwa alam yang berasal dari luar atau kecenderungan dari
sekumpulan masyarakat terkena atau mengalami kerusakan, masalah dan sebab akibat sebagai
hasil dari suatu bahaya.
Copyright@2007 by Djauhari Noor

230

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________
Resiko Bencana (Disaster Risk) adalah tingkat kerusakan dan kerugian yang sudah
diperhitungkan dari suatu kejadian atau peristiwa alam. Resiko Bencana ditentukan atas dasar
perkalian antara faktor bahaya dan faktor kerentanannya. Yang termasuk bahaya disini adalah
probabilitas dan besaran yang dapat diantisipasi pada peristiwa alam; sedangkan
kerentanan/kerawanan dipengaruhi oleh faktor politik, ekonomi, sosial budaya dan geografis.
Berikut ini adalah rumusan yang dipakai secara luas untuk menghitung resiko bencana yang
merupakan perkalian 2 faktor, yaitu :
Resiko (Risk) = Bahaya (Hazard)

x Kerentanan (Vulnerability)

Pengelolaan resiko bencana (Disaster risk management) secara teknis terdiri dari tindakan
(program, proyek dan atau prosedur) serta pengadaan peralatan yang dipersiapkan untuk
menghadapi dampak atau akibat dari suatu bencana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan,
yaitu untuk mengurangi resiko bencana yang ditimbulkannya. Secara operasional, pengelolaan
resiko bencana adalah kegiatan yang terdiri dari penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi
dan waspada bencana.
Penilaian Resiko atau Analisa Resiko adalah survei yang dilakukan terhadap bahaya yang baru
terjadi yang disebabkan oleh suatu peristiwa alam yang ekstrim seperti yang terjadi juga pada
kerentanan lokal dari populasi yang didasari atas kehidupan untuk memastikan resiko tertentu di
wilayah. Berdasarkan informasi ini resiko bencana dapat dikurangi.
Kapasitas adalah kebijakan dan sistem kelembagaan yang dimiliki oleh pemerintah pusat maupun
daerah dalam upaya mengurangi potensi kerusakan akibat bencana serta mengurangi kerentanan
terhadap bencana.
Faktor Faktor Penyebab Bencana Alam : Berikut ini adalah interaksi antara faktor-faktor yang
berperan pada terjadinya bencana:
a) Faktor alamiah, meliputi kondisi geografi, geologi, hidro-meteorologi, biologi, dan degradasi
lingkungan.
b) Komunitas yang padat, infrastruktur dan elemen-elemen dalam wilayah / kota yang berada di
kawasan yang rawan bencana.
c) Rendahnya kapasitas dari elemen-elemen masyarakat
Bencana alam yang sering melanda Indonesia :
a) Gempabumi dan tsunami
b) Letusan gunungapi
c) Banjir
d) Tanah longsor
e) Kekeringan

PERTANYAAN ULANGAN
1.

Sebutkan berbagai tipe/jenis dari longsoran tanah ?

2.

Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi longsoran tanah ?

3.

Sebutkan jenis-jenis bahaya letusan gunungapi ?

4.

Apa manfaat dari keberadaan gunungapi ?

5.

Sebutkan dampak dari bahaya gempabumi ?

6.

Jelaskan mengapa aktivitas manusia juga dapat berdampak pada bahaya ?

7.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Resiko Bencana ?

8.

Jelaskan apa bedanya hazard dengan disaster ?

9.

Apa yang dimasud dengan Resiko Bencana ?

10. Jelaskan mengapa di Indonesia sering dilanda bencana Gempabumi, Banjir, Letusan
Gunungapi, Longsoran Tanah, dan Kekeringan ?

Copyright@2007 by Djauhari Noor

231

Bab 7. Bahaya Geologi


Perencanaan

Geologi Untuk

________________________________________________________________________________

Copyright@2007 by Djauhari Noor

232