Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG
Hipertensi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah.
Yang dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang
penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh
penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, gangguan anak ginjal, dll.
Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terusmenerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh
karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah
secara berkala.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan
anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada
dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi
pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah
dalam satu hari juga berbeda paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah
pada saat tidur malam hari
Faktor pemicu hipertensi dapat dibedakan atas yang tidak dapat terkontrol (seperti
keturunan, jenis kelamin, dan umur) dan yang dapat dikontrol (seperti kegemukan,
kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam). Penderita hipertensi
yang sangat heterogen membuktikan bahwa penyakit ini bagaikan mosaik, diderita
oleh orang banyak yang datang dari berbagai subkelompok

berisiko di dalam

masyarakat. Hal tersebut juga berarti bahwa hipertensi dipengaruhi oleh faktor resiko
ganda, baik yang bersifat endogen seperti neurotransmitter, hormon dan genetik,
maupun yang bersifat eksogen seperti rokok, nutrisi dan stressor
Bagi para penderita tekanan darah tinggi, penting mengenal hipertensi dengan
membuat perubahan gaya hidup positif. Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan
pola makan yang baik dan aktivita fisik yang cukup

II.

Perumusan Masalah
1

Hipertensi seperti yang telah kita ketahui dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Selain karena keturunan, umur dan jenis kelamin, faktor lingkungan seperti stress
psikososial, obesitas, kurang olahraga dan konsumsi alkohol dan garam juga
berhubungan terhadap timbulnya hipertensi esensial. Oleh karenanya melalui penelitian
ini, diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkisar:
1. Bagaimana karakteristik masyarakat di Kampung Sawah berhubungan
terhadap hipertensi?
2. Apakah faktor heriditer berpengaruh terhadap hipertensi pada masyarakat
Kampung Sawah?
3. Apakah faktor makanan berhubungan terhadap hipertensi pada masyarakat
Kampung Sawah?
4. Apakah faktor stress berpengaruh terhadap hipertensi pada masyarakat
Kampung Sawah?

III. TujuanPenelitian
III.1 Tujuan Umum
Menggambarkan karakteristik dan faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada
masyarakat penderita hipertensi di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat,
Kota Tangerang Selatan.

III.2 Tujuan Khusus


1. Menggambarkan hubungan distribusi umur, jenis kelamin, pendidikan, dan
pekerjaan terhadap hipertensi pada masyarakat di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
2. Menggambarkan hubungan faktor herediter terhadap hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
3. Menggambarkan hubungan faktor makanan terhadap hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
4. Menggambarkan hubungan faktor stres terhadap hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

IV. Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Mengetahui hubungan karakteristik dan faktor yang berhubungan dengan
hipertensi pada masyarakat penderita hipertensi di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
2. Hasil penelitian ini bertujuan untuk menerapakan strategi praktis dalam
menurunkan angka morbiditas hipertensi di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
3. Menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai dokter internship dalam
melakukan metodologi penelitian

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
HIPERTENSI
I.

DEFINISI
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama) di dalam
arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang
abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke,
aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Penderita yang mempunyai
sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat
diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.1
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada
saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis
miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan
puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140
mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada
tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Pada hipertensi
sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik
kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal.1,2
II. KLASIFIKASI
The Seventh Report of the Joint National Committee on the Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Pressure (JNC7) mengklasifikasikan tekanan darah pada orang
dewasa (usia > 18 th) didasarkan pada rata-rata 2 atau lebih tekanan darah yang diukur secara
tepat dari 2 kali atau lebih pengukuran di klinik. Prehipertensi tidak dianggap sebagai
kategori penyakit tetapi mengidentifikasi pasien-pasien yang tekanan darahnya cendrung
meningkat ke klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang. Ada dua tingkat (stage)
hipertensi dan semua pasien pada kategori ini harus diberi terapi obat. JNC7
mengklasifikasikan tekanan darah dalam 4 kategori yaitu tekanan darah normal, pre
4

hipertensi, hipertensi grade 1, dan hipertensi grade 2.3


Tabel I. Klasifikasi Hipertensi menurut WHO
Kategori

Sistol (mmHg)

Diastol (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Tingkat 1 (hipertensi ringan)

140-159

90-99

Sub grup : perbatasan

140-149

90-94

Tingkat 2 (hipertensi sedang)

160-179

100-109

Tingkat 3 (hipertensi berat)

180

110

Hipertensi sistol terisolasi

140

< 90

140-149

< 90

Sub grup : perbatasan

Tabel II. Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7


Kategori

Sistol (mmHg)

Dan/atau

Diastole (mmHg)

<120

Dan

<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi grade 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi grade 2

160

Atau

100

Normal

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah
yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan
organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg; dikategotikan sebagai
hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi. Pada hipertensi emergensi tekanan darah
meningkat ekstrim disertai dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif,
sehingga tekanan darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit jam) untuk
mencegah kerusakan organ target lebih lanjut. Contoh gangguan organ target akut:
encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel kiri akut disertai edema paru,
5

dissecting aortic aneurysm, angina pectoris tidak stabil, dan eklampsia atau hipertensi berat
selama kehamilan.2,4
Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan organ target
yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi oral ke nilai tekanan
darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari.2,4
III. ETIOLOGI
Penyebab hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :1-4,7
1. Hipertensi esensial atau primer
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi
primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas (keturunan). Kurang
lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi primer sedangkan 10% tergolong
hipertensi sekunder.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui. Pada
sekitar 5 - 10 % penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar
1 - 2 %, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya
penyakit kelenjar adrenal / hiperaldosteronisme, penggunaan pil KB).
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder :
Penyebab
Penyakit Ginjal

Kelainan Hormonal
Obat-obatan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1.
2.
3.
1.
2.
3.

Contoh
Stenosis arterirenalis
Pielonefritis
Glomerulonefritis
Tumor-tumor ginjal
Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
Trauma ginjal (luka yang mengenai ginjal)
Terapipenyinaran yang mengenaiginjal
Hiperaldosteronisme
Sindroma Cushing
Feokromositoma
Pil KB
Kortikosteroid
Siklosporin
6

Penyebab lainnya

4.
5.
6.
7.
1.
2.
3.
4.

Eritropoietin
Kokain
Penyalahgunaan alkohol
Kayumanis (dalam jumlah sangat besar)
Koartasio aorta
Preeklamsia
Porfiriaintermiten akut
Keracunan timbal akut

.
IV. MEKANISME TERJADINYA HIPERTENSI
1. Mekanisme Humoral
Mekanisme humoral meliputi abnormalitas Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron
(SRAA), hormone natriuretik, dan hiperinsulinemia.1,2
Abnormalitas SRAA
SRAA adalah sistem endogen kompleks yang telibat pada hampir sebagian besar
komponen tekanan darah arterial. Aktivasi dan regulasi SRAA diperintah oleh ginjal. SRAA
mengatur natrium, kalium, dan keseimbangan cairan. Untuk itu sistem ini secara signifikan
mempengaruhi tonus vaskuler dan aktivitas sistem saraf simpatik serta paling berpengaruh
terhadap pengaturan homeostatis tekanan darah. Secara ringkas mekanisme hipertensi karena
gangguan SRAA dapat dilihat di gambar.2,5
Renin adalah enzim yang disimpan di dalam sel juxtaglomerular yang berada di
arteriol aferen ginjal. Pelepasan renin dimodulasi oleh faktor intrarenal (seperti angiotensin
II, katekolamin, dan tekanan perfusi ginjal), dan juga faktor ekstrarenal (seperti natrium,
klorida, dan kalium).2,4
Sel juxtaglomerular berfungsi sebagai alat sensor, dimana pada penurunan tekanan ateri
ginjal dan aliran darah ginjal dapat dikenali oleh sel ini, dan kemudian menstimulasi
pelepasan renin. Begitu juga dengan peristiwa menurunnya kadar natrium dan klorida yang
ditranspor ke tubulus distal, peningkatan katekolamin, serta penurunan kalium dan/atau
kalsium intrasel dapat memicu sel juxtaglomerular untuk melepaskan renin. Renin
mengkatalisis perubahan angiotensinogen menjadi angiotensin I di dalam darah. Angiotensin
I akan diubah menjadi angiotensin oleh angiotensin converting enzyme (ACE). Setelah
berikatan dengan reseptor spesifik (yang diklasifikasikan sebagai subtipe AT1 dan AT2),
angiotensin II menyebabkan respon biologis pada beberapa jaringan. Reseptor AT1 terletak di
ginjal, otak, miokardium, pembuluh darah perifer, dan kelenjar adrenal. Reseptor ini
7

memediasi sebagian besar respon penting bagi fungsi ginjal maupun kardiovaskuler,
sementara reseptor AT2 tidak mempengaruhi pengaturan tekanan darah. 2,4

Diagram : Pengaruh SRAA terhadap pengaturan tekanan darah


Sirkulasi Angiotensin II dapat meningkatkan tekanan darah melalui efek pressor dan
volume. Efek pressor termasuk diantaranya adalah vasokonstriksi langsung, stimulasi
pelepasan katekolamin dari medulla adrenal, dan peningkatan aktivitas saraf simpatik yang
diperantarai oleh saraf pusat. Angiotensin II juga menstimulasi sintesis aldosteron dari
korteks adrenal yang menyebabkan reabsorpsi air dan natrium yang mengakibatkan
peningkatan volume plasma, tahanan perifer total, dan tentu saja tekanan darah. 2,4,6
Hormon Natriuretik
Hormon

natriuretik

menghambat

ATPase

sodium

dan

potassium,

sehingga

mempengaruhi transpor sodium melewati membrane sel. Secara teoritis peningkatan


konsentrasi hormon natriuretik dalam sirkulasi darah akan meningkatkan sekresi sodium dan
potassium melalui

urin. Defek pada kemampuan ginjal mengeliminasi sodium dapat

menyebabkan peningkatan volume darah. 2,4,6


8

Resistensi insulin dan Hiperinsulinemia


Resistensi insulin dan hiperinsulinemia dihubungkan dengan perkembangan hipertensi
karena kejadian tersebut berkaitan dengan sindrom metabolik. Secara hipotesis, peningkatan
knsentrasi hormon insulin dapat menyebabkan hipertensi akibat retensi sodium dan
meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik, lebih jauh lagi insulin memiliki aksi mirip
growth hormon yang dapat menginduksi hipertrofi sel-sel otot polos vaskuler. Insulin dapat
meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan kalsium intraseluler, yang menyebabkan
peningkatan tahanan vaskuler. Mekanisme pasti dari hipertensi akibat resistensi insulin dan
hiperinsulinemia belum diketahui. 2,4,6
2. Pengaturan Neuronal
Sisem saraf pusat dan otonom terlibat banyak dalam pengaturan tekanan darah arteri.
Sejumlah reseptor baik yang meningkatkan atau menghambat pelepasan norepinefrin berada
di permukaan presinaps ujung syaraf simpatis. Reseptor presinaps dan berperan dalam
umpan balik negatif dan positif pada vesikel yang mengandung norepinefrin yang berada di
dekat ujung neuronal. Stimulasi reseptor (2) presinaps menyebabkan penghambatan
negatif pada pelepasan norepinefrin. Stimulasi reseptor presinaps menstimulasi pelepasan
norepinefrin.
Serat saraf simpatis berada pada permukaan sel efektor yang menginervasi reseptor
dan , stimulasi reseptor (1) postsinaptik pada arteriol dan venule menyebabkan
vasokontriksi. Terdapat dua postsinaptik reseptor , yaitu 1 dan 2, keduanya berada di
semua jaringan yang di inervasi oleh sistem saraf simpatis. Stimulasi reseptor 1 pada jantung
menyebabkan peningkatan cardiac output dan kontraktilitas. Sementara itu, stimulasi reseptor
2 pada arteriol dan venula menyebabkan vasodilatsi.
Sistem refleks baroreseptor adalah mekanisme umpan balik negatif yang mengontrol
aktivitas simpatis. Baroreseptor adalah ujung saraf yang berada di dinding arteri besar,
khususnya arteri karotid dan arkus aortik. Perubahan tekanan arteri dengan cepat
mengaktivasi baroreseptor, yang mentransmisikan impuls ke batang otak melalui saraf kranial
pertama dan nervus vagus. Pada sistem refleks, penurunan tekanan darah arteri menstimulasi
baroreseptor, menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan cardiac output dan memacu
kontraksi jantung.

Mekanisme reflek baroreseptor ini bisa mengalami kemunduran pada lansia dan pada
penderita diabetes. Tujuan mekanisme neuronal ini adalah untuk mengatur tekanan darah dan
menjaga homeostasis. Gangguan patologis pada salah satu dari empat komponen utama (serat
saraf otonom, reseptor adrenergik, baroreseptor, atau sistem saraf pusat) dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah secara kronis. Defek pada salah satu komponen juga akan
mengubah fungsi normal yang lainnya dan sekumpulan abnormalitas tersebut bisa
menjelaskan perkembangan hipertensi primer. 2,4,6
3. Elektrolit Dan Zat Kimia Lain
Konsumsi makanan tinggi natrium berpeluang besar untuk menyebabkan hipertensi.
Mekanisme pastinya belum diketahui, akan tetapi diduga berkaitan dengan sirkulasi hormon
natriuretik yang menghambat transport Na intraseluler, menyebabkan peningkatan reaktivitas
vaskuler dan peningkatan tekanan darah.
Perubahan homeostasis Ca juga berperan penting pada pathogenesis hipertensi.
Rendahnya konsumsi Ca secara hipotesis dapat mengganggu keseimbangan konsentrasi Ca
intraseluler dan ekstraseluler, menyebabkan perubahan fungsi otot polos vaskuler dengan
meningkatnya tahanan vaskuler perifer. Percobaan menunjukan konsumsi suplemen Ca
menyebabkan penurunan hipertensi pada pasien.
Hiperurikemia telah diasosiasikan dengan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskuler
pada penderita hipertensi namun hal ini masih menjadi kontroversi karena terbatasnya data.
2,4,6

4. Mekanisme Endotelial Vaskuler


Endotelium vaskuler dan otot polos memegang paranan penting dalam mengatur tonus
pembuluh darah dan tekanan darah. Fungsi regulasi ini diperantarai oleh substansi nasoaktif
yang disintesis oleh sel-sel endotelial. Hal ini telah dipostulatkan yaitu defisiensi sintesis
lokal dari susbtansi vasodilatasi (contoh : Prostacyclin, dan bradikinin) atau kelebihan
substansi vasokontriksi (contoh : angiotensin II dan endothelin I) berkontribusi terhadap
terjadinya hipertensi primer, arterosklerosis, dan sebagainya.
Nitric oxide diproduksi di endotelium, merelaksasi epitel vaskuler dan merupakan
vasodilator poten. Sistem nitric oxide penting sebagai pengatur tekanan darah arteri.
Penderita hipertensi dapat mengalami defisiensi intrinsic pada pelepasan nitric oxide
sehingga menyebabkan vasodilatasi yang inadekuat. 2,4,6

10

V. PENGOBATAN
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu pengobatan non
farmakologik dan pengobatan farmakologik.8,10
I. Pengobatan Non Farmakologik
Meskipun faktor keturunan memegang peranan penting, namun cara dan pola hidup
sangat esensial dalam menjauhi hipertensi. Misalnya makan berlebihan dengan terlalu
banyak lemak dan garam (serta gula), terlampau sedikit gerak badan, dan merokok, dapat
mendorong terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologis harus dilaksanakan oleh semua
pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktorfaktor resiko serta penyakit penyerta lainnya. Pengobatan non farmakologis terdiri dari :
8,10

1.

Menurunkan berat badan berlebih

2.

Mengurangi konsumsi alkohol berlebih

3.

Mengurangi asupan garam

4.

Membatasi minum kopi

5.

Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak

6.

Menghentikan merokok

7.

Cukup istirahat dan tidur

8.

Latihan fisik

II. Pengobatan Farmakologik


Pemilihan terapi obat awal tergantung pada tingkat kenaikan tekanan darah dan ada
atau tidaknya compelling indication. Umumnya pasien hipertensi tahap 1 diberikan terapi
awal dengan thiazide. Penggunaan thiazid sebagai lini pertama adalah pada kondisi tanpa
compelling indication dan didasarkan pada angka keberhasilan terapi yang menunjukkan
penurunan mortalitas dan morbiditas. Pada pasien dengan kenaikan tekanan darah yang lebih
berat (HTN tahap 2) diberikan terapi obat kombinasi.
Pengobatan dengan antihipertensi harus selalu dimulai dengan dosis rendah agar
tekanan darah tidak menurun terlalu drastis secara mendadak. Kemudian setiap 1-2 minggu
dosis berangsur angsur dinaikkan sampai tercapai efek yang diinginkan. Begitu pula
penghentian terapi harus secara berangsur pula. Antihipertensi hanya menghilangkan gejala
TD tinggi dan tidak penyebabnya. Maka obat pada hakikatnya harus diminum seumur hidup,
tetapi setelah beberapa waktu dosis pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan (Tjay dan
11

Kirana, 2007). Terdapat 9 kelas obat antihipertensi, dan 5 kelas berikut paling umum
digunakan (antihipertensif primer) yaitu: diuretika, -blocker (BB), ACE-inhibitor (ACEI),
Angiotensin II reseptor blocker (ARB), dan Calcium Channel Blocker (CCB).3,8,10
Tatalaksana Hipertensi Menurut JNC 7
Klasifikasi

TDS

TDD

Perbaikan

Terapi Obat

Terapi Obat

Tekanan

(mmHg)

(mmHg)

Pola Hidup

Awal tanpa

awal dengan

Indikasi

Indikasi

Memaksa

Memaksa

atau 80 Ya

Tidak indikasi

Obat-obatan

89

obat

untuk indikasi

darah

Normal

< 120

Prehipertensi 120 139

dan < 80

Dianjurkan

yang
memaksa
Hipertensi

140 159

derajat 1

atau 90 Ya

Diuretika jenis

Obat-obatan

99

Thiazide untuk

untuk indikasi

sebagian besar

yang

kasus, dapat

memaksa

dipertimbangkan obat
ACEI, ARB,

antihipertensi

BB, CCB, atau

lain

kombinasi

(diuretika,
ACEI, ARB,
BB, CCB)
sesuai
kebutuhan

Hipertensi

160

atau 100

Ya

derajat 2

Kombinasi 2
obat untuk
sebagian besar
kasus umumnya
diuretika jenis
Thiazide dan

12

ACEI atau ARB


atau BB atau
CCB
Algoritma penanganan hipertensi bila tekanan darah belum mencapai target yang
diinginkan (diadaptasi dari JNC7).
ALGORITMA PENANGANAN HIPERTENSI
Pemilihan terapi
obat awal

Tanpa compelling
indication

Compelling indication

HTN tahap 1

HTN tahap 2

TD 140-159/90-99
mmHg

TD > 160/100 mmHg

Diuretika
golongan
thiazide,
dapat
dipertimbangkan
penggunaan ACEI, ARB,
BB, CCB, atau kombinasi

Obat khusus untuk compelling


indication. Antihipertensi lain
(diuretika, ACEI, ARB, BB,
CCB) digunakan bila diperlukan

Lebih sering kombinasi 2


obat, biasanya thiazide, dg.
ACEI, atau ARB, atau BB,
atau CCB

BAB III
KERANGKA PENELITIAN
III.1 Kerangka Teoritis
Variabel Independen
1. Karakteristik
- Umur
- Jenis Kelamin
- Tingkat Pendidikan
- Pekerjaan
2. Faktor Herediter
3. Faktor Makanan

Variabel Dependen
Hipertensi (JNC VII)
-

Pre Hipertensi (120-139/80-90

mmHg)
Hipertensi grade I (140-159/90-99
mmHg)

13

4.
5.
6.
7.
8.
9.

Faktor Stress
Obesitas
Konsumsi garam
Kegiatan fisik
Konsumsi rokok
Konsumsi alkohol

Hipertensi grade II (160/100


mmHg)

III.2 Kerangka Konsep


Variabel Indenden
1. Karakteristik
- Umur
- Jenis kelamin
- Tingkat pendidikan
- Pekerjaan
2. Faktor Herediter
3. Faktor Makanan
4. Faktor stress

Variabel Dependen
Hipertensi (JNC VII)
-

Pre Hipertensi (120-139/80-90

mmHg)
Hipertensi grade I (140-159/90-99

mmHg)
Hipertensi grade II (160/100
mmHg)

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

IV.1 Jenis Penelitian


Pada penelitian ini, kami menggunakan cross sectional dimana variabel independen
dan dependen dikumpulkan dan dianalisa secara bersamaan.

IV.2 Populasi dan Sampel


Populasi : Populasi yang menjadi sasaran pada penelitian ini adalah masyarakat yang
datang ke Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan.

14

Sampel

: Pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple random sampling)


yaitu pengambilan sampel dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap unit
memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel penelitian.

IV.3 Cara Pengumpulan Data


Pada penelitian ini, kami mengumpulkan data dengan cara :
1. Primer

: Peneliti mendapatkan data secara langsung dari sumbernya

(responden) dengan wawancara.


2. Sekunder : Peneliti mendapatkan data dari sumber yang sudah tersedia (data dari
Puskesmas)

IV.4 Instrumen Penelitian


Pada penelitian ini, kami mengumpulkan data instrumen berupa kuesioner (daftar
pertanyaan)

IV.5 Rencana Pengolahan dan Analisis Data


1. Kami menganalisa data yang akan kami gunakan dalam penelitian ini dalam bentuk
analisis univariat dan bivariat.
2. Pengolahan data kami lakukan dengan cara :
a. Editing
b. Coding
c. Tabulating

15

BAB V
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan data yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara dengan jumlah
responden sebanyak 146 orang, maka data yang kami peroleh adalah sebagai:

V.1 TABEL UNIVARIAT


Tabel V.1.1 Distribusi Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, dan Pekerjaan
Terhadap Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan.

Umur

Karakteristik
20 - 40 tahun
41 55 tahun
56 77 tahun

N
4
61
53
16

%
2,74%
41,78%
36,30%

Jenis Kelamin
Tingkat Pendidikan

>77 tahun
TOTAL
Laki-laki
Perempuan
TOTAL
TidakSekolah
SD/Sederajat
SMP/ Sederajat
SMA/ Sederajat
Akademi/Universita

28
146
63
83
146
37
68
19
12
10

19,17%
100
43,15%
56,84%
100
25,34%
46,57%
13,01%
8,22%
6,85%

146
12
56
32
13
21
12
146

100
8,22%
38,35%
21,91%
8,90%
14,38%
8,22%
100

s
Pekerjaan

TOTAL
Tidakbekerja
Petani
Pedagang
Buruh
Wiraswasta
Lain-lain
TOTAL

Dari Tabel V.1.1 Distribusi Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, dan Pekerjaan
Terhadap Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan. di atas didapatkan bahwa karakteristik responden yang berumur 20-40 tahun
sebanyak 2,74%, yang berumur 41-55 tahun sebanyak 41,78%, yang berumur 56-77 tahun
36,30%, dan yang berumur lebih dari 77 tahun 19,17%. Dapat dilihat bahwa diantara kategori
kelompok umur 41-55 tahun memiliki distribusi terbanyak.
Dari hasil pengolahan distribusi berdasarkan jenis kelamin, didapatkan sebagian besar
responden adalah perempuan (56,84%).
Dari hasil pengolahan distribusi berdasarkan tingkat pendidikan, didapatkan bahwa sebagian
besar respondenmemiliki tingkat pendidikan SD/sederajat (46,57%).
Dari hasil pengolahan distribusi berdasarkan pekerjaan, didapatkan bahwa sebagian besar
pekerjaan responden sebanyak 38,35 % adalah petani.

17

Tabel V.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Hipertensi Di Puskesmas


Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
Jenis Hipertensi
Prehipertensi
Hipertensi grade I
Hipertensi grade II
TOTAL

N
26
79
41
146

%
17,80%
54,11%
28,08%
100

Dari Tabel V.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapatkan bahwa sebagian besar
responden menderita hipertensi grade I (54,11%).

Tabel V.1.3 Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Hipertensi Di Puskesmas


Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
Riwayat Hipertensi dalam Keluarga
Tidak Ada
Ada
TOTAL

N
51
95
146

%
34,93%
65,06%
100

Dari Tabel V.1.3 Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat bahwa sebagian
besar responden memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga (65,06%).

18

Tabel V.1.4 Distribusi Riwayat Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Di


Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
PembawaHipertensiPadaKeluarga
Ayah
Ibu
Ayah dan Ibu
Saudara Kandung
Lain-lain
TOTAL

N
19
67
35
8
17
146

%
13,01%
45,89%
23,97%
5,48%
11,64%
100

Dari Tabel V.1.4 Distribusi Riwayat Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar responden mengaku bahwa pembawa hipertensi

berasal dari ibu

responden (45,89%).

Tabel V.1.5 Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Hipertensi Di


Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
MakananYangDisukai
Manis
Asin
Tawar
Lain-lain
TOTAL

N
31
94
5
16
146

%
21,23%
64,38%
3,42%
10,96%
100

Dari Tabel V.1.5 Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar makanan yang disukai responden adalah makanan asin (64,38%).

19

Tabel V.1.6 Distribusi Responden Yang Mengalami Stres Terhadap Hipertensi Di


Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
Responden Yang Mengalami Stres
Ya
Tidak
TOTAL

N
41
105
146

%
28,08%
71,91%
100

Dari Tabel V.1.6 Distribusi Responden Yang Mengalami Stres Terhadap Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar responden tidak mengalami stress (71,91%).

Tabel V.1.7 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Stres Terhadap Hipertensi Di


Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
Lama Stress yang Dialami Responden
< 1 minggu
>1 minggu 2 minggu
>2 minggu 4 minggu
>4 minggu
TOTAL

N
22
11
5
3
41

%
53,66%
26,83%
12,19%
7,31%
100

Dari Tabel V.1.7 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Stres Terhadap Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa responden yang mengalami stress kurang dari 1 minggu sebanyak (53,66%)

20

Tabel V.1.8 Distribusi Responden Berdasarkan Penyebab Stres Terhadap Hipertensi Di


Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Penyebab Stress yang Dialami
Ekonomi
Pekerjaan
Keluarga
Lain-lain
TOTAL

N
21
6
9
5
41

%
51,22%
14,63%
21,95%
12,19%
100

Dari Tabel V.1.8 Distribusi Responden Berdasarkan Penyebab Stres Terhadap Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar responden mengaku penyebab stress terbanyak yang dialami adalah
karena masalah ekonomi (51,22%).

21

V.2 TABEL BIVARIAT


Tabel V.2.1 Distribusi Umur Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Umur
20-40

Pre-hipertensi
N
%
4
2,74

Jenis hipertensi
Hipertensi grade 1
N
%
0
0

Total
Hipertensi grade 2
N
%
0
0

%
2,74

tahun
41-55

6,16

46

31,50

4,11

61

41,78

tahun
56-77

6,16

16

10,96

28

19,17

53

36,30

tahun
>77 tahun
TOTAL

4
26

2,74
17,80

17
79

11,64
54,11

7
41

4,79
28,08

28
146

19,17
100

Dari tabel V.2.1 Distribusi Umur Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa responden yang menderita
prehipertensi berusia 41-55 tahun sebanyak 6,16 % , hipertensi grade 1 sebanyak 31,50% dan
hipertensi grade 2 sebanyak 4,11% .
Tabel

V.2.2 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas

Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan


Jenis
Pre-hipertensi
Kelamin
N
%
Laki-laki
9
6,16
Perempuan 17
11,64
TOTAL
26
17,80

Jenis hipertensi
Hipertensi grade 1
N
%
31
21,23
48
32,87
79
54,11

Total
Hipertensi grade 2
N
%
23
15,75
18
12,32
41
28,08

N
63
83
146

%
43,15
56,85
100

Dari tabel V.2.2 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa responden perempuan
yang menderita prehipertensi sebanyak 11,64 % , hipertensi grade 1 sebanyak 32,87% dan
hipertensi grade 2 sebanyak 12,32% .
Tabel V.2.3 Distribusi Pendidikan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Tingkat
Pre-hipertensi

Jenis hipertensi
Hipertensi grade 1
22

Total
Hipertensi grade 2

pendidikan
Tidak

N
11

%
7,53

sekolah
SD/sederajat 5
SMP
/ 5
sederajat
SMA
sederajat
Akademi

16

%
10,96

3,42
3,42

48
7

/ 2

1,36

/ 3

Universitas
TOTAL

26

N
10

%
6,86

N
37

%
25,34

32,88
4,79

15
7

10,27
4,79

68
19

46,57
13,01

3,42

3,42

12

8,22

2,05

2,05

2,74

18

12,32

17,80

79

54,11

41

28,08

146

100

Dari tabel V.2.3 Distribusi Pendidikan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa responden dengan
tingkat pendidikan SD/sederajat yang menderita prehipertensi sebanyak 3,42 % , hipertensi
grade 1 sebanyak 32,88% dan hipertensi grade 2 sebanyak 10,27% .

Tabel V.2.4 Distribusi Pekerjaan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung


Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Tingkat
Tidak

Pre-hipertensi
N
%
1
0,68

Jenis hipertensi
Hipertensi grade 1
N
%
7
4,79

Hipertensi grade 2
N
%
4
2,74

12

%
8,22

bekerja
Petani
Pedagang
Buruh
wiraswasta

7
4
7
5

37
14
6
8

12
14
0
7

56
32
13
21

38,35
21,92
8,90
14,38

pendidikan

4,79
2,74
4,79
3,42

25,34
9,59
4,11
5,48
23

Total

8,22
9,59
0
4,79

Lain - lain
TOTAL

1
26

0,68
17,80

7
79

4,79
54,11

4
41

2,74
28,08

12
146

8,22
100

Dari tabel V.2.4 Distribusi Pekerjaan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa responden dengan
jenis petani yang menderita prehipertensi sebanyak 4,79 % , hipertensi grade 1 sebanyak
25,34% dan hipertensi grade 2 sebanyak 8,22% .
Tabel

V.2.5 Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Jenis Hipertensi Di

Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan


Riwayat
hipertensi
dalam

Pre-hipertensi
N
%

Jenis hipertensi
Hipertensi grade 1
N
%

Total
Hipertensi grade 2
N
%

20
59
79

17
24
41

keluarga
Tidak ada
Ada
TOTAL

14
12
26

Dari tabel

V.2.5 Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Jenis Hipertensi Di

9,59
8,22
17,80

13,69
40,41
54,11

11,64
16,43
28,08

51
95
146

34,93
65,07
100

Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa
responden yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga menderita prehipertensi
sebanyak 8,22 % , hipertensi grade 1 sebanyak 40,41% dan hipertensi grade 2 sebanyak
16,43% .
Tabel V.2.6 Distribusi Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Terhadap Jenis
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan
Pembawa

Jenis hipertensi
Pre-hipertensi
hipertensi
N
%
Ayah
5
3,42
Ibu
9
6,16
Ayah dan 3
2,05

Hipertensi grade 1
N
%
6
4,11
45
30,82
15
10,27

Hipertensi grade 2
N
%
8
5,48
13
8,90
17
11,64

Total
N
19
67
35

%
13,01
45,89
23,97

ibu
Saudara

2,05

2,05

1,37

5,45

kandung
Lain - lain
TOTAL

6
26

4,11
17,80

10
79

6,84
54,11

1
41

0,68
28,08

17
146

11,64
100

24

Dari tabel V.2.6 Distribusi Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Terhadap Jenis
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
didapatkan bahwa ibu sebagai pembawa hipertensi dalam keluarga responden menderita
prehipertensi sebanyak 6,16 % , hipertensi grade 1 sebanyak 30,82% dan hipertensi grade 2
sebanyak 8,90% .

Tabel V.2.7 Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Makanan
yang
sukai
Manis
Asin
Tawar
Lain lain
TOTAL

Jenis hipertensi
Pre-hipertensi
di
N
%
6
10
3
7
26

4,11
6,85
2,05
4,79
17,80

Total
Hipertensi grade 1
N
%

Hipertensi grade 2
N
%

13
52
2
2
79

12
22
0
7
41

31
94
5
16
146

21,23
64,38
3,42
10,95
100

8,90
35,61
1,37
1,37
54,11

8,21
15,06
0
4,79
28,08

Dari tabel V.2.7 Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa
responden yang menderita prehipertensi sebanyak 6,85 % , hipertensi grade 1 sebanyak
35,61% dan hipertensi grade 2 sebanyak 15,06% mengaku senang mengonsumsi makanan
asin .
Tabel V.2.8 Distribusi Responden Yang Mengalami Stress Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
25

Responden
yang
mengalami
stress
Ya
Tidak
TOTAL

Jenis hipertensi
Pre-hipertensi
N
%

Hipertensi grade 1
N
%

Hipertensi grade 2
N
%

11
15
26

13
66
79

17
24
41

41
105
146

28,08
71,92
100

7,53
10,27
17,80

Total

8,90
45,21
54,11

11,64
16,43
28,08

Dari tabel V.2.8 Distribusi Responden Yang Mengalami Stress Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan bahwa
responden yang menderita prehipertensi sebanyak 10,27 % , hipertensi grade 1 sebanyak
45,21% dan hipertensi grade 2 sebanyak 16,43% mengaku tidak mengalami stress .
Tabel V.2.9 Distribusi Lama Stress Yang Dialami Responden Terhadap Jenis Hipertensi
Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Lama

Jenis hipertensi
Pre-hipertensi
stress yang
N
%
dialami

Total
Hipertensi grade 1
N
%

Hipertensi grade 2
N
%

responden
<
1 4

9,75

10

24,39

19,51

22

53,65

minggu
1

2 2

4,87

7,31

14,63

11

26,83

minggu
2

4 3

7,31

2,43

2,43

12,19

2,43
24,39

1
15

2,43
36,58

1
16

2,43
39,02

3
41

7,31
100

minggu
>4 minggu
TOTAL

1
10

Dari tabel V.2.9 Distribusi Lama Stress Yang Dialami Responden Terhadap Jenis Hipertensi
Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan didapatkan
bahwa responden yang menderita prehipertensi sebanyak 9,75 % , hipertensi grade 1
sebanyak 24,39% dan hipertensi grade 2 sebanyak 19,51% mengaku mengalami stress selama
< 1 minggu .
Tabel

V.2.10 Distribusi Penyebab Stress Yang Dialami Responden Terhadap Jenis

Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang


Selatan
26

Penyebab
stress
Ekonomi
Pekerjaan
Keluarga
Lain-lain
TOTAL
Dari tabel

Jenis hipertensi
Pre-hipertensi
N
%
2
4,87
4
9,75
1
2,43
3
7,31
10
24,39

Total
Hipertensi grade 1
N
%
9
21,95
1
2,43
4
9,75
1
2,43
15
36,58

Hipertensi grade 2
N
%
10
24,39
1
2,43
4
9,75
1
2,43
16
39,02

N
21
6
9
5
41

%
51,22
14,63
21,95
12,19
100

V.2.10 Distribusi Penyebab Stress Yang Dialami Responden Terhadap Jenis

Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan


didapatkan bahwa responden yang mengalami stress akibat masalah ekonomi menderita
prehipertensi sebanyak 4,87 % , hipertensi grade 1 sebanyak 21,95% dan hipertensi grade 2
sebanyak 24,39% .

27

BAB VI
PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Tabel Univariat

Tabel V.1.1
Distribusi Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan,dan Pekerjaan Terhadap
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan
Dari Tabel V.1.1 Distribusi Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan,dan
Pekerjaan Terhadap Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan di atas didapatkan bahwa karakteristik responden yang berumur 20-40
tahun sebanyak 2,74%, yang berumur 41-55 tahun sebanyak 41,78%, yang berumur 56-77
tahun 36,30%, dan yang berumur lebih dari 77 tahun 19,17%. Dapat dilihat bahwa di antara
kategori kelompok umur 41-55 tahun memiliki distribusi terbanyak. Hal ini terjadi karena
pada usia tersebut arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku karena itu darah
pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya
dan menyebabkan naiknya tekanan di dalam pembuluh darah.
Dari hasil pengolahan distribusi berdasarkan jenis kelamin, didapatkan sebagian besar
responden adalah perempuan (56,84%). Hal ini disebabkan jadwal pengumpulan data hanya
berlangsung dari pagi hari hingga siang hari, dimana para laki-laki kebanyakan sedang berada
di tempat kerja. Sehingga responden yang lebih banyak hadir adalah perempuan.
Dari hasil pengolahan distribusi berdasarkan tingkat pendidikan, didapatkan bahwa
sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SD/sederajat (38,35%). Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat di Kampung Sawah Kecamatan Ciputat,
Kota Tangerang Selatan pada sebagian besar penduduk adalah tingkat pendidikan
28

SD/sederajat.
Dari hasil pengolahan distribusi berdasarkan pekerjaan, didapatkan bahwa sebagian
besar pekerjaan responden sebanyak 38,35 % adalah petani. Hal ini disebabkan karena
sebagian besar mata pencaharian di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan adalah bertani.

Tabel V.1.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapatkan bahwa
sebagian besar responden menderita hipertensi grade I (54,11%). Hal ini disebabkan karena
kurangnya pengetahuan mengenai hipertensi sehingga responden jarang memeriksakan
tekanan darahnya sehingga mereka tidak mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi.

Tabel V.1.3
Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.1.3 Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar responden memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga (65,06%). Hal
ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai hipertensi serta gejala-gejalanya
sehingga responden maupun keluarganya tidak mengetahui bahwa dirinya dan keluarganya
mengalami hipertensi.

Tabel V.1.4
Distribusi Riwayat Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
29

Dari Tabel V.1.4 Distribusi Riwayat Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden
Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar responden mengaku bahwa pembawa hipertensi

berasal dari ibu

responden (45,89%). Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai hipertensi
dan penyebab-penyebabnya sehingga responden maupun keluarganya tidak mengetahui
bahwa dikeluarganya memiliki riwayat pembawa hipertensi, sehingga tidak menghindari
faktor resiko.
Tabel V.1.5
Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.1.5 Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Hipertensi
Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar makanan yang disukai responden adalah makanan asin (64,38%). Hal
ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai batas maksimal konsumsi garam
(natrium) per hari.

Tabel V.1.6
Distribusi Responden Yang Mengalami Stres Terhadap Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.1.6 Distribusi Responden Yang Mengalami Stres Terhadap Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa sebagian besar responden tidak mengalami stress (71,91%). Menurut tinjauan pustaka,
stress merupakan salah satu faktor resiko dari hipertensi. Pada keadaan stress didapatkan
peningkatan aktivasi saraf simpatis yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah
secara intermitten. Akan tetapi, pada masyarakat Distribusi Responden Yang Mengalami
Stres Terhadap Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan stress bukan merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi.

30

Tabel V.1.7
Distribusi Responden Berdasarkan Lama Stres Terhadap Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.1.7 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Stres Terhadap Hipertensi
Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa responden yang mengalami stress kurang dari 1 minggu sebanyak 53,66%. Hal ini
disebabkan karena pada keadaan stress akut (< 1 minggu) didapatkan peningkatan kadar
katekolamine, kortisol, vasopressin, dan aldosteron yang yang dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah.

Tabel V.1.8
Distribusi Responden Berdasarkan Penyebab Stres Terhadap Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.1.8 Distribusi Responden Berdasarkan Penyebab Stres Terhadap
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di
atas didapat bahwa sebagian besar responden mengaku penyebab stress terbanyak yang
dialami adalah karena masalah ekonomi (51,22%). Hal ini disebabkan karena penghasilan
mereka yang rendah sehingga dapat menyebabkan stress. Berdasarkan tabel V.1.1, sebagian
besar pekerjaan dari masyarakat Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan adalah petani, dimana mereka tidak selalu mendapat penghasilan setiap bulannya,
karena bergantung pada hasil panen.

31

V.2 TABEL BIVARIAT

Tabel V.2.1
Distribusi Umur Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan
Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.1 Distribusi Umur Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapatkan bahwa responden yang
menderita pre-hipertensi berusia 41-55 tahun sebanyak 6,16%, sementara yang menderita
hipertensi grade I sebanyak 31,50%, dan yang menderita hipertensi grade II sebanyak 4,11%.
Hal ini disebabkan karena pada usia tersebut arteri besar kehilangan kelenturannya dan
menjadi kaku karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh
yang lebih sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan pada pembuluh
darah. Akan tetapi, proses ini masih dalam tahapan yang dapat dikompensasi oleh pembuluh
darah, sehingga kenaikan tekanan darah tidak terlalu tinggi.

Tabel V.2.2
Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.2 Distribusi Jenis Kelamin Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapatkan bahwa
responden perempuan yang menderita pre-hipertensi sebanyak 11,65%, hipertensi grade I
sebanyak 32,87%, dan hipertensi grade II sebanyak 12,32%. Hal ini disebabkan karena kadar
estrogen wanita pada masa pre-menopause mulai mengalami penurunan hingga mencapai
32

kadar terendah pada masa menopause. Penurunan estrogen dapat menyebabkan disfungsi
endothelial pembuluh darah yang menyebabkan aktivasi saraf simpatetik. Aktivasi ini pada
akhirnya akan menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Tabel V.2.3
Distribusi Pendidikan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.3 Distribusi Pendidikan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat bahwa
responden dengan tingkat pendidikan SD/sederajat yang menderita pre-hipertensi sebanyak
3,42%, hipertensi grade I sebanyak 32,88%, dan hipertensi grade II sebanyak 10,27%. Hal ini
disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahuan
responden akan penyebab, gejala, serta pencegahan penyakit hipertensi, terutama gejala
hipertensi grade I. Akan tetapi, responden yang menderita hipertensi grade I umumnya telah
memiliki pengetahuan mengenai hipertensi, sehingga responden segera mencari pengobatan.
Oleh karena itu, penyakit hipertensi grade I sebagian besar sudah diobati dan tidak berlanjut
menjadi hipertensi grade II.
Tabel V.2.4
Distribusi Pekerjaan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.4 Distribusi Pekerjaan Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat bahwa
responden dengan jenis pekerjaan petani yang menderita pre-hipertensi sebanyak 4,79%,
hipertensi grade I sebanyak 25,34%, dan hipertensi grade II sebanyak 8,22%. Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang bekerja sebagai petani menderita
hipertensi grade I.
33

Tabel V.2.5
Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.5 Distribusi Riwayat Dalam Keluarga Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di atas didapat
bahwa responden yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga dan menderita prehipertensi sebanyak 8,22%, hipertensi grade I sebanyak 40,41%, dan hipertensi grade II
sebanyak 16,43%. Hal ini disebabkan karena orang-orang dengan sejarah keluarga yang
mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga dekat yang
menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama
pada hipertensi primer.Keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung
meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat. Dari data statistik terbukti bahwa seseorang
akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya
menderita hipertensi.

Tabel V.2.6
Distribusi Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Terhadap Jenis Hipertensi
Di Kampung Sawah Puskesmas Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.6 Distribusi Pembawa Hipertensi Pada Keluarga Responden Terhadap
Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
di atas di dapat bahwa responden yang menderita pre-hipertensi (6,16%), hipertensi grade I
(30,82%), dan hipertensi grade II (8,90%) mengaku bahwa pembawa hipertensi dari ibunya.
34

Hal ini disebabkan karena hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika seorang
dari orang tua kita mempunyai hipertensi maka sepanjang hidup kita mempunyai 25%
kemungkinan mendapatkannya pula. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi,
kemungkunan kita mendapatkan penyakit tersebut 60%.

Tabel V.2.7
Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.7 Distribusi Makanan Yang Disukai Responden Terhadap Jenis
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di
atas didapat bahwa responden yang menderita pre-hipertensi (6,85%), hipertensi grade I
(35,61%), dan hipertensi grade II (15,06%) mengaku senang mengonsumsi makanan asin.
Hal ini disebabkan karena pengaruh asupan garam terhadap hipertensi melalui peningkatan
volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Reaksi orang terhadap natrium berbedabeda. Pada beberapa orang, baik yang sehat maupun yang mempunyai hipertensi, walaupun
mereka mengkonsumsi natrium tanpa batas, pengaruhnya terhadap tekanan darah sedikit
sekali atau bahkan tidak ada. Pada kelompok lain, terlalu banyak natrium menyebabkan
kenaikan darah yang juga memicu terjadinya hipertensi. Asupan garam kurang dari 3 gram
tiap hari menyebabkan prevalensi hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam
antara 5-15 gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %. Pengaruh asupan
terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan
tekanan darah.

Tabel V.2.8
Distribusi Responden yang Mengalami Stress Terhadap Jenis Hipertensi Di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
35

Dari Tabel V.2.8 Distribusi Responden yang Mengalami Stress Terhadap Jenis
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di
atas didapat bahwa responden yang menderita pre-hipertensi (10,27%), hipertensi grade I
(45,21%), dan hipertensi grade II (16,43%) mengaku tidak mengalami stress. Hal ini
disebabkan karena Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila
stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Peristiwa mendadak menyebabkan
stres dapat meningkatkan tekanan darah, namun mekanisme stress berkelanjutan yang dapat
menimbulkan hipertensi belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

Tabel V.2.9
Distribusi Lama Stress yang Dialami Responden Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.9 Distribusi Lama Stress yang Dialami Responden Terhadap Jenis
Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan di
atas didapat bahwa responden yang menderita pre-hipertensi (9,75%), hipertensi grade I
(24,39%), dan hipertensi grade II (19,51%) mengaku mengalami stress selama < 1 minggu.
Hal ini disebabkan karena stres diduga melalui saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan
darah secara intermiten. Apabila stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian
tekanan darah yang menetap.

Tabel V.2.10
Distribusi Penyebab Stress yang Dialami Responden Terhadap Jenis Hipertensi Di
Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
Dari Tabel V.2.10 Distribusi Penyebab Stress yang Dialami Responden Terhadap
Jenis Hipertensi Di Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
di atas didapat bahwa responden yang mengalami stress akibat masalah ekonomi menderita
pre-hipertensi (4,87%), hipertensi grade I (21,95%), dan hipertensi grade II (24,39%). Hal ini
disebabkan karena stres adalah suatu kondisi disebabkan oleh hubungan antara individu
dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal
dari situasi dengan sumber daya sistem biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi
36

dari

seseorang. Stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, bingung, cemas, berdebardebar, rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal
melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat,
sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha
mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis.

BAB VII
PENUTUP
VII.1 Kesimpulan
1. Adanya hubungan antara umur terhadap hipertensi di Puskesmas Kampung Sawah
Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
2. Adanya hubungan antara jenis kelamin terhadap jenis hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
3. Adanya hubung antara tingkat pendidikan terhadap jenis hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
4. Adanya hubungan antara pekerjaan terhadap jenis hipertensi di Puskesmas Kampung
Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
5. Adanya hubungan antara tingkat penghasilan terhadap jenis hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
6. Adanya hubungan antara jumlah anak terhadap jenis hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
7. Adanya hubungan antara faktor makanan terhadap jenis hipertensi di Puskesmas
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
8. Adanya hubungan antara faktor stres terhadap jenis hipertensi
Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

VII.2 Saran

37

di

Puskesmas

1. Saran yang diberikan kepada masyarakat Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan:
a. Bagi seluruh keluarga, diharapkan dapat lebih memperhatikan mengenai
pentingnya pendidikan, karena dengan pendidikan akan membuat seseorang
mempunyai kesempatan yang lebih baik dalam mendapatkan pekerjaan sehingga
perekonomian keluarga lebih terjamin.
b. Bagi seluruh keluarga, diharapkan dapat mengurangi asupan garam dalam satu
hari sehingga resiko hipertensi dapat dicegah.
2. Saran yang diberikan kepada Puskesmas Kampung Sawah Kecamatan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan:
a. Agar dapat meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat melalui penyuluhan
agar pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi semakin bertambah.
b. Meningkatkan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya
memeriksakan tekanan darah secara berkala.
c. Memberikan pengobatan gratis pada masyarakat yang menderita hipertensi yang
tidak mampu.
3. Saran yang diberikan kepada Pemerintah Daerah Kampung Sawah Kecamatan
Ciputat, Kota Tangerang Selatan:
a. Agar dapat menyediakan lapangan kerja baru bagi masyarakat agar kualitas
hidup masyarakat dapat meningkat.
b. Agar lebih memperhatikan kesehatan masyarakat yang tidak mampu.

38

Daftar Pustaka
1. Sidabutar,R.P.,Wiguno P. Hipertensi Essensial. In: Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.
Soeparman, Sarwono Waspadji. Balai Penerbit FK-UI,1999. p:205-222.
2. Susalit E. Hipertensi Primer dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi
Ketiga. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta. 2001:453-72.
3. National Institutes of Health: The Seventh Report of The Joint National Committeeon
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. NIH
Publication, November. 2003.
4. Tierney LM, McPhee SJ, Papadakis MA. Systemic Hypertension. In: Current Medical
Diagnosis & Treatment. 41st Edition. McGraw-Hill Companies.2002. p:459-469.
5. Sigarlaki, H. J. O. 1995. Faktor-faktor resiko penderita hipertensi di RSU FK-UKI.
Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta.1995:5253.
6. Sugiharto, Aris. 2007. Tesis Faktor-Faktor Resiko Hipertensi Grade II pada Masyarakat.
Universitas Diponegoro : Semarang.
7. Chobanian AV, Bakris GL, Black H Retal. (2003). The Seventh Report of

the Joint

National Committeeon Prevention, Detection, Evaluation: an Treatment of High Blood


Pressure. The JNC 7 Report JAMA 2892560-2572.
8. Mansjoer A, Suprohalita, Wardhani WL, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran.
Jakarta, Media Aesculapius FKUI, 2001.
9. Sigarlaki, H. J. O. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. CV.
Infomedika : Jakarta.
10. Guidelines Committee (2003) European Society of Hypertension. European Society of
Cardiology Guidelines for the Management of Arterial Hypertension. J. Hypertension
21:1001-1053.

39