Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkatNyalah penulis dapat menyelesaikan short paper yang berjudul UUPA sebagai
dasar pembentukan hukum agrarian nasional
Dalam short makalah ini penulis mencoba untuk memaparkan mengenai
UUPA sebagai dasar pembentukan hukum agrarian nasional, bagaimana dan rincian
kenapa UUPA sebagai dasar dari hukum agrarian nasional, dan landasan apa yang
dipakai untuk membentuk UUPA.
Penulis sudah mencoba untuk menulis makalah ini dengan mengerjakan dan
menampilkan yang terbaik yang bias penulis lakukan. Seperti kata pepatah tak ada
gading yang tak retak maka demikian juga dengan short paper ini yang tak luput dari
kesalah maupun kekurangan. Oleh karena itu penulis terlebih dahulu meminta maaf
terhadap segala kekurangan dan kesilapan baik dalam penulisan maupun penggunaan
kata-kata dalam short paper ini.
Terimakasih

Penulis
Dija Hedistira

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ( RI ) dinyatakan pada tanggal 17
Agustus 1945 oleh soekarno dan Mohamad Hatta atas nama bangsa indonesia sebagai
tanda terbentuknya negara kesatuan RI sebagai suatu bangsa yang merdek. Dari segi
yuridis, proklamasi kemerdekaan merupakan saat tidak berlakunya hukum kolonial
dan saat mulai berlakunya hukum nasional, sedangkan dari segi politis, peroklamasi
kemerdekaan mengandung arti bahwa bangsa indonesia terbatas dari penjajahan
bangsa asing dan memiliki kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Proklamasi kemerdekaan RI mempunyai 2 arti penting bagi penyusunan hukum
agraria nasional, yaitu pertama, bagsa indonesia memutuskan hubungannya dengan
hukum agraria kolonial, dan kedua, bangsa indonesia sekaligus menyusun hukum
agraria nasional.
Pada tanggal 18 Agustus 1945 panitia persiapan kemerdekaan indonesia (PPKI) yang
dipimpin oleh soekarno mengadakan sidang, menghasilkan keputusan antara lain
ditetapkannya Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sebagai hukum dasar ( konstitisi )
negara RI.
UUD 1945 meletakkan dasar politik agraria nasional yang dimuat dalam pasal 33 ayat
3, yaitubumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung untuk sebesarnya
kemakmuran rakyat.ketentuan ini bersifat imperatif, yaitu mengandung
pemerintakepada negara agar bumi,air,dan kekayaan alam alam yang terkandung
didalamnya, yang diletakkan dalam penguasaan negara itu dipergunakan untuk
mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat indonesia. Dengan demikian, tujuan
dari penguasaan oleh negara atas bumi,air, dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya adalah untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
indonesia.

BAB II
ISI
A. Sejarah Penyusunan Undang-undang Pokok Agraria.
Upaya pemerintah indonesia untuk membentukhukum agraria nasional yang akan
mengantikan hukum agraria kolonial , yang sesuai dengan pancasila dan UUD1945
sudah dimulai pada tahun 1948 dengan membentuk kepentingan yang diberi ugas
menyusun undang-undang agraria. Setelah mengalami beberapa pengantian
kepanitiaan yang berlangsung selama 12 tahun sebagai suatu rangkayan peroses yang
cukup panjang, maka baru pada tanggal 24 september 1960 pemerintah berhasil
membentuk hukum agraria nasional, yang dituangkan dalam undang-undang no.5
tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria, yang lebih dikenal dengan
sebutan undang-undang pokok agraria (UUPA).
Tahap-tahap dalam penyusunan undang-undang pokok agraria (UUPA)
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.

Panitia agraria yogya

Panitia ini di bentuk dengan penetapan presiden No.16 tahun 1948 tanggal 21 mei
1948 berkedudukan di yogyakarta diketahui oleh sarimin reksodihardjo, kepala bagian
agraria kementrian dalam negeri.
2.

Panitia agraria jakarta

Panitia agraria yogya dibubarkan dengan keputusan presiden no.36 tahun 1951
tanggal 19 maret 1951, sekaligus dibentuk panitia agraria jarkarta yang bekedudukan
dijarkarta diketahui oleh singgih praptodihardjo, wakil kepala bagian agraria
kementerian dalam negeri.
3.

Panitia soewahjo

Berdasarkan keputusan presiden No. 1 tahun 1956 tanggal 14 januari 1956 dibentukan
panitia negara urusan agraria berkedudukan dijakarta yang diketahui soewahji
soemodilogo, seketaris jendral kementrian agraria.
4.

Rancangan soenarjo

Setelah dilakukan beberapa perubahan megenai sistematika dab perumusan beberapa


pasalnya, maka rancangan panitia soewahjo oleh menteri agraria soenarjo diajukan
kepada dewan menteri pada tanggal 14 maret 1958.dewan menteri dalam sidangnya
tanggal 1 Aperil 1958 dapat menyetujui rancangan soenarjo dan diajukan kepada

dewan perwakilan rakyat (DPR) melalui amanat presiden sokarno tanggal 24 april
1958.
5.

Rancangan sadjarwo

Berdasarkan dekrik presiden tanggal 5 juli 1959 kita kembali kepada UUD 1945.
Berhubungan rancangan soenarjo yang telah diajukan kepada DPR beberapa waktu
yang lalu disusun berdasarkan UUDS 1950, maka dengan surat presiden tanggal 23
maret 1960 rancangan tersebut ditarik kembali dan disesuaikan dengan UUD 1945.

B. Undang-undang Pokok Agraria dan Hukum Agraria Nasional


UUPA merupakan pelaksanaan pasal 33 ayat (3) UU 1945 sebagaimana yang
dinyatakan dalam pasal 2 ayat (1) UUPA, yaitu ats dasar ketentuan dalam pasal 33
pasal ayat (3) undang-undang dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1,
bumi, air, dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
itu pada tingkat tertinggi dikuasai oleh negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh
rakyat.
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 merupakan landsan konstitusional bagi
pembentukan politik dan hukum agraria nasional, yang berisi perintah kepada negara
agar bumi, air, dan kekayaan alamyang terkandung didalamnya yang diletakan dalam
penguasaan negara itu digunakan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran
seluruh rakyat indonesia.
UUPA mempunyai dua subtansi dari segi berlakunya, yaitu
pertama,tidak memberlakukan lagi atau mencabut hukum agraria kolonoial, dan
kedua membangun hukum agraria nasional. Menurut boedi harsono, dengan
berlakunya UUPA, maka terjadilah perubahan yang fundamental pada hukum agraria
diindonesia, terutama hukum dibidang pertanahan. Perubahan yang fundamental ini
mengenai struktur perangkat hukum, konsepsi yang mendasari maupun isinya.
UUPA merupakan undang-undang yang melakukan pembaruan agraria
karena didalamnya memuat program yang dikenal dengan panca program agraria
reform indonesia, yang meliputi :
1.

Pembaruan hukum agraria melalui unifikasi hukum yang berkonsepsi nasional

dan pemberian jaminan kepastian hukum.


2.

Penghapusan hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial ats tanah.

3.

Mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur.

4.

Perombakan pemilikkan dan penguasaan ats tanah serta hubungan-hubungan

hukum yang berhubungan dengan pengusahaan tanah mewujudkan pemerataan


kemakmuran dan keadilan, yang kemudian dikenal sebagai program landreform.
5.

Perencanaan persediaan dan peruntukan bumi,air, dan kekayaan alam yang

terkandung didalamnya serta penggunaanya secara terncana, sesuai dengan daya


dukung dan kemampuannya.
C. Peraturan dan Keputusan yang Dicabut oleh Undang-undang Pokok Agraria.
Dalam pembentukan UUPA disertai dengan pencabutan terhadap peraturan dan
keputusan yang dibuat pada masa pemerintahan hindia belanda sebagaimana yang
tersebut dalam dictum memutuskan UUPA dibawah perkataan dengan mencabut
adapun peraturan yang dicabut oleh UUPA yaitu :
1)

Agrarishe wet stb. 1870 no.55 sebagai yang termuat dalam pasal 51 IS stb. 1925

no.447.
2)

Peraturan-peraturan tentang domein verklaring baik yang bersifat umum

maupun khusus, yaitu:


a)

Domein verklaring tersebut dalam pasal 1 Agrarische besluit stb.1870 No.118.

b)

Algemene domein verklaring tersebut dalam stb.1875 No. 119a.

c)

Domein verklaring untuk sumatera tersebut dalam pasal 1 dari stb.1874 No 94f.

d)

Domein verklaring untuk karesidenan manado tersebut dalam pasal 1 dari

stb.1877 No 55.
e)

Domein verklaring untuk residentie zuder en Osterafdeling van borneo tersebut

dalam pasal 1 dari stb.1888. No.58.


3)

Koninklijk besluit (keputusan raja) tanggal 16 april 1872 No 29 (stb 1872 No.

29 ( stb.1872 No,117) dan peraturan pelaksanaannya.


4)

Buku II KUHperdata indonesia sepanjan yang mengenai bumi, air srta kekayaan

alam yang terkandung didalam nya,kecuali ketentuan-ketentuan tentang Hypotheek


yang masih berlaku pada mulai berlakunya UUPA.

D. Tujuan Undang-undang Pokok Agraria.


Tujuan diundangkan UUPA sebagai tujuan hukum agraria nasional dimuat dalam
penjelasan umum UUPA ,yaitu :
a.

Meletak kan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional,yang akan

merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagian, dan keadialn bagi


negara dan rakyat, terytama rakyat tani dalam rangka masyarakat yang adil dan
makmur.
Dasar kenasionalan hukum agraria yang telah dirumuskan dalam UUPA,adalah:
1.

Wilayah indonesia yang terdiri dari bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam

yang terkandung didalamnya merupakan satu kesatuan tanah air dari rakyat indonesia
yang bersatu sebagai bangsa indonesia (pasal 1 UUPA).
2.

Bumi air ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya

merupakan karunia tuhan yang maha esa kepada bangsa indonesia dan merupakan
kekayaan nasional. Untuk itu kekayaan tersebut harus dipelihara dan digunakan
untuksebesar-besarnya kemakmuran rakyat (pasal1,2,14, dan 15 UUPA).
3.

Hubungan antara bangsa indonesia dengan bumi, air, ruang angkasa, dan

kekayaan alam yang terkandung didalamnyabersifat abadi, sehingga tidak dapat


diputuskan oleh siapa pun (pasal 1 UUPA).
4.

Negara sebagai organisasi kekuasaan dari bangsa dan rakyat indonesia diberi

wewenang untuk menguasai bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang
terkandung didalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran, rakyat (pasal 2 UUPA).
5.

Hak ulayat sebagi hak masyarakat huykum adat diakui keberadaanya.

Pengakutan tersebut disertai syarat bahwa hak ulayat tersebut masih ada, tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan perundang-uandangan yang
lebih tinggi (pasal 3 UUPA).
6.

Subjek hak yang mempunyai hubungan sepenuhnya dengan bumi, air, ruang

angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah warga negara
indonesia tanpa dibedakan asli dan tidak asli. Badan hukum pada perinsipnya tidak
mempunyai hubungan sepenuhnya alam yang terkandung didalamnya (pasal 9, 21,dan
49 UUPA)
b.

Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam

hukum pertanahan.

Dalam rangka mengadakan kesatuan hukum tersebut sudah semestinya sistem hukum
yang akan diberikan harus sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat.
c.

Meletakkan dasar-dasar untuk memeberi kepastian hukum mengenai hak-hak

atas tanah bagi rakyat seluruhnya.


Upaya untuk mewujudkan tujuan ini adalah dengan membuat peraturan perundangundang yang diperintahkan oleh UUPA yang sesuai dengan asas dan jiwa UUPA.
Selain itu demngan melakukan pendaftaran tanah atas bidang-bidang tanah yang ada
diwilayah indonesia yang bersifat tanah yang bertujuan memberiakn jaminan
kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah.
E. Asas-asas dalam Undang-undang Pokok Agraria.
Dalam UUPA dimuat 8 asas dari hukum agraria nasional. Asas asas ini kerena
sebagai dasar dengan sendirinya harus menjiwai pelaksanaan dari UUPA dan segenap
peraturan pelaksanaannya. Delapan asas tersebut, adalah sebagai berikut
1.

Asas kenasionalan

2.

Asas pada tingkat tertinggi,bumi,air, dan kekayaan alam tyang terkandung

didalamnya dikuasai oleh negara


3.

Asas mengutamakan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan atas

persatuan bangsa dari pada kepentingan perseorangan atau golongan.


4.

Asas semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.

5.

Asas hanya negara indonesia yang mempunyai hak milik atas tanah.

6.

Asas persamaan bagi setiap warga negara indonesia.

7.

Asas tanah pertanian harus dikerjakan atau diusahakan secara aktif oleh

pemiliknya sendiri dan mencegah cara-cara yang bersifat pemerasan.


8.

Asas tata guna tanah/pengunaan tanah secara berencana.

F. Asas-asas Hukum Agraria dalam UUPA(hubungan hukum agrarian dan


UUPA)
a. Asas Kebangsaan (pasal 1 UUPA)Pasal 1(1) Seluruh wilayah Indonesia adalah
kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa
Indonesia.(2) Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang
terkandung didalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai karunia Tuhan
Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan
kekayaan nasional(3) Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang
angkasa termaksud dalam ayat (2) pasal ini adalah hubungan yang bersifat abadi.(4)
Dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula tubuh bumi
dibawahnya serta yang berada dibawah air. Dalam pengertian air termasuk baik
perairan pedalaman maupun laut wilayah Indonesia.(5) Yang dimaksud dengan ruang
angkasa ialah ruang diatas bumi dan air tersebut pada ayat (4) dan (5) pasal ini.
b. Asas Hak Menguasai Negara (pasal 2 UUPA)Pasal 2.(1) Atas dasar ketentuan
dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud
dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang
terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai
organisasi kekuasaan seluruh rakyat.(2) Hak menguasai dari Negara termaksud dalam
ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk :a. mengatur dan menyelenggarakan
peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa
tersebut;b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
dengan bumi, air dan ruang angkasa,c. menentukan dan mengatur hubunganhubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai
bumi, air dan ruang angkasa.(3) Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari
Negara tersebut pada ayat (2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besar
kemakmuran rakyat, dalam arti kebahagiaan, kesejahteraan dan kemerdekaan dalam
masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka berdaulat, adil dan makmur.
(4) Hak menguasai dari Negara tersebut diatas pelaksanaannya dapat dikuasakan
kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar
diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuanketentuan Peraturan Pemerintah.

c. Asas pengakuan Hak Ulayat (pasal 3 UUPA)Pasal 3.Dengan mengingat


ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang
serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya.
masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan
Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan
dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.
d. Asas Hukum Agraria Nasional berdasar hukum adat (pasal 5 UUPA)Pasal 5.
Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat,
sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang
berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan
peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan
perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang
bersandar pada hukum agama.
e. Asas Fungsi Sosial (pasal 6 UUPA)Pasal 6.Semua hak atas tanah mempunyai
fungsi sosial.
f. Asas Landreform (pasal 7, 10 dan 17 UUPA)Pasal 7.Untuk tidak merugikan
kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas
tidak diperkenankan.Pasal 10.(1) Setiap orang dan badan hukum yang mempunyai
sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya diwajibkan mengerjakan atau
mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan.(2)
Pelaksanaan dari pada ketentuan dalam ayat (1) pasal ini akan diatur lebih lanjut
dengan peraturan perundangan.(3) Pengecualian terhadap azas tersebut pada ayat ( 1 )
pasal ini diatur dalam peraturan perundangan.Pasal 17.(1) Dengan mengingat
ketentuan dalam pasal 7 maka untuk mencapai tujuan yang dimaksud dalam pasal 2
ayat (3) diatur luas maksimum dan/atau minimum tanah yang boleh dipunyai dengan
sesuatu hak tersebut dalam pasal 16 oleh satu keluarga atau badan hukum.(2)
Penetapan batas maksimum termaksud dalam ayat (1) pasal ini dilakukan dengan
peraturan perundangan didalam waktu yang singkat.(3) Tanah-tanah yang merupakan
kelebihan dari batas maksimum termaksud dalam ayat (2) pasal ini diambil oleh
Pemerintah dengan ganti kerugian, untuk selanjutnya dibagikan kepada rakyat yang
membutuhkan

menurut

ketentuan-ketentuan

dalam

Peraturan

Pemerintah.(4)

Tercapainya batas minimum termaksud dalam ayat (1)pasal ini, yang akan ditetapkan
dengan peraturan perundangan, dilaksanakan secara berangsur-angsur.
g. Asas Tata Guna Tanah (pasal 13, 14 dan 15 UUPA)Pasal 13.(1) Pemerintah
berusaha agar supaya usaha-usaha dalam lapangan agraria diatur sedemikian rupa,
sehingga meninggikan produksi dan kemakmuran rakyat sebagai yang dimaksud
dalam pasal 2 ayat (3) serta menjamin bagi setiap warga-negara Indonesia derajat
hidup yang sesuai dengan martabat manusia, baik bagi diri sendiri maupun
keluarganya.(2) Pemerintah mencegah adanya usaha-usaha dalam lapangan agraria
dari organisasi-organisasi dan perseorangan yang bersifat monopoli swasta.(3) Usahausaha Pemerintah dalam lapangan agraria yang bersifat monopoli hanya dapat
diselenggarakan dengan Undang-undang.(4) Pemerintah berusaha untuk memajukan
kepastian dan jaminan sosial, termasuk bidang perburuhan, dalam usaha-usaha
dilapangan agraria.Pasal 14.(1) Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2
ayat (2) dan (3) , pasal 9 ayat (2) serta pasal 10 ayat (1) dan (2) Pemerintah dalam
rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan,
peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang
terkandung didalamnya:a. untuk keperluan Negara,b. untuk keperluan peribadatan dan
keperluan suci lainnya, sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa;c. untuk
keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan lain-lain
kesejahteraan;d. untuk keperluan memperkembangkan produksi pertanian, peternakan
dan perikanan serta sejalan dengan itu;e. untuk keperluan memperkembangkan
industri, transmigrasi dan pertambangan.(2) Berdasarkan rencana umum tersebut pada
ayat (1) pasal ini dan mengingat peraturan-peraturan yang bersangkutan, Pemerintah
Daerah mengatur persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air serta ruang
angkasa untuk daerahnya, sesuai dengan keadaan daerah masing-masing.(3) Peraturan
Pemerintah Daerah yang dimaksud dalam ayat (2) pasal ini berlaku setelah mendapat
pengesahan, mengenai Daerah Tingkat I dari Presiden, Daerah Tingkat II dari,
Gubernur/Kepala Daerah yang bersangkutan dan Daerah Tingkat III dari
Bupati/Walikota/Kepala Daerah yang bersangkutan.Pasal 15.Memelihara tanah,
termasuk menambah kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban
tiap-tiap orang, badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan
tanah itu, dengan memperhatikan pihak yang ekonomis lemah.

h. Asas Kepentingan Umum (pasal 18 UUPA)Pasal 18.Untuk kepentingan umum,


termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hakhak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut
cara yang diatur dengan Undang-undang.
i. Asas Pendaftaran Tanah (pasal 19 UUPA)Pasal 19.(1) Untuk menjamin kepastian
hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik
Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.(2)
Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi:a. pengukuran perpetaan dan
pembukuan tanah;b. pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;c.
pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang
kuat.(3) Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan Negara dan
masyarakat,

keperluan

lalu-lintas

sosial

ekonomi

serta

kemungkinan

penyelenggaraannya, menurut pertimbangan Menteri Agraria.(4) Dalam Peraturan


Pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan pendaftaran termaksud
dalam ayat (1) diatas, dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan
dari pembayaran biaya-biaya tersebut

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan Proklamasi kemerdekaan Republik


Indonesia ( RI ) dinyatakan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh soekarno dan
Mohamad Hatta atas nama bangsa indonesia sebagai tanda terbentuknya negara
kesatuan RI sebagai suatu bangsa yang merdeka. Dari segi yuridis, proklamasi
kemerdekaan merupakan saat tidak berlakunya hukum kolonial dan saat mulai
berlakunya hukum nasional, sedangkan dari segi politis, peroklamasi kemerdekaan
mengandung arti bahwa bangsa indonesia terbatas dari penjajahan bangsa asing dan
memiliki kedaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Faktor-fakror yang harus diperhatikan dalam pembangunan hukum agraria
nasional, adalah faktor formal, faktor materil,faktor ideal, faktor agraria modern, dan
faktor ideologi politik. Upaya pemerintah indonesia untuk membentukhukum agraria
nasional yang akan mengantikan hukum agraria kolonial , yang sesuai dengan
pancasila dan UUD1945 sudah dimulai pada tahun 1948 dengan membentuk
kepentingan yang diberi tugas menyusun undang-undang agraria.
Dan tujuan UUPA Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria
nasional,yang akan merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagian,
dan keadialn bagi negara dan rakyat, terytama rakyat tani dalam rangka masyarakat
yang adil dan makmur.
2.

Saran
Dalam penulisan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan yang

tidak saya ketahui jadi saya saran kan kepada sipembaca untuk mengkeritik dan
menyarankan tentang makalah saya ini.