Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, presentasenya dapat


berubah tergantung pada umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas seseorang.
Kandungan air pada saat bayi baru lahir sekitar 75% berat badan, dan usia 1 bulan
65%. Seiring pertumbuhan, persentase jumlah cairan terhadap berat badan berangsurangsur turun, yaitu pada laki-laki dewasa 60% berat badan, dan pada wanita dewasa
50% berat badan. Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen
intraseluler dan kompartemen ekstraseluler. Kompartemen ekstraseluler dapat dibagi
kembali menjadi air yang mengisi ruang interstitiel serta plasma.1,2
Dengan makan dan minum tubuh kita mendapatkan air, elektrolit, karbohidrat,
protein, lemak, vitamin serta nutrisi lainnya. Terapi cairan dibutuhkan pada keadaan
tertentu, saat kebutuhan akan air serta nutrisi-nutrisi tersebut tidak dapat terpenuhi
secara per oral. Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh yang dapat terjadi pada
perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif maupun
perioperatif dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan
tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah, maka
risiko penderita menjadi lebih besar.3
Pada saat melakukan terapi cairan, perlu diperhatikan pula jenis cairan yang
digunakan untuk penggantinya. Cairan tersebut dapat berupa kristaloid atau koloid
yang masing-masing mempunyai keuntungan tersendiri yang diberikan sesuai dengan
kondisi pasien. Dalam keadaan tertentu adanya terapi cairan dapat pula digunakan
sebagai tambahan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau dapat
juga untuk menjaga keseimbangan asam basa.1,3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara ataupun mengganti cairan
tubuh dengan pemberian cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma
ekspander) secara intravena untuk mengatasi berbagai masalah gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit, meliputi menggantikan volume cairan yang
hilang akibat perdarahan, dehidrasi atau syok.4
Terapi cairan dan elektrolit adalah salah satu terapi yang sangat menentukan
keberhasilan penanganan pasien kritis. Dalam langkah-langkah resusitasi, langkah D
(Drug and fluid treatment) dalam bantuan hidup lanjut, merupakan langkah penting
yang dilakukan secara simultan dengan langkah-langkah yang lainnya. 5
B. Komposisi Cairan Tubuh
Seluruh cairan tubuh didistribusikan kedalam kompartemen intraseluler dan
kompartemen ekstraseluler. Lebih jauh kompartemen ekstraseluler dibagi menjadi
cairan intravaskuler, interstisiel, dan cairan transeluler.1,2,3,4
1. Cairan intraseluler
Cairan intreseluler adalah cairan yang terkandung di antara sel. Pada orang
dewasa, sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di dalam
intraseluler, sedangkan pada bayi hanya setengah dari berat badannya
merupakan cairan intraseluler. Sekitar 28 dari 42 liter cairan tubuh ada di
dalam 75 triliun sel. Jadi, cairan intrasel merupakan 40% dari berat badan
total pada orang "rata-rata".2,3
2. Cairan ekstraseluler
Cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel. Jumlah relatif
cairan ekstraseluler berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Pada bayi
baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuhnya terdapat di ekstraseluler.
Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraseluler menurun sampai sekitar

sepertiga dari volume total. Cairan ini merupakan 20% dari berat badan, atau
sekitar 14 liter pada orang dewasa normal dengan berat badan 70 kilogram.
Cairan ekstrasel dibagi dalam dua subkompartemen yaitu cairan interstisium
dan cairan intravaskuler (plasma).2,4,5 Ada juga subkompartemen cairan
lainnya yang kecil yang disebut cairan transelular. Cairan transelular
merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti
serebrospinal, perikordial, pleura, sendi sinovial, intraokuler, dan sekresi
saluran pencernaan. Cairan-cairan tersebut biasanya dianggap sebagai jenis
cairan ekstrasel khusus, walaupun pada beberapa kasus, komposisinya dapat
sangat berbeda dengan komposisi plasma atau cairan interstisial. Cairan

transelular seluruhnya berjumlah sekitar 1 sampai 2 liter.2,5


Cairan interstisium
Cairan interstisium merupakan cairan yang mengelilingi sel, yang berjumlah
lebih dari tiga perempat bagian cairan ekstrasel. Sekitar 11-12 liter pada orang
dewasa, dan sekitar dua kali lipat pada bayi baru lahir. Cairan limfe termasuk
dalam volume interstisial. Cairan interstisium menempati 15% dalam

tubuh.2,3,5
Cairan intravaskuler
Cairan intravaskuler merupakan cairan yang terkandung di dalam pembuluh
darah, yang berjumlah hampir seperempat cairan ekstrasel, atau sekitar 3 liter.
Cairan intravaskuler menempati 5% dalam tubuh. Plasma adalah bagian darah
yang tak mengandung sel; plasma terus menerus menukar zat dengan cairan
interstisial melallui pori-pori membran kapiler. Pori-pori ini bersifat sangat
permeabel untuk hampir semua zat terlarut dalam cairan ekstrasel, kecuali
protein. Olehh karena itu, cairan ekstrasel secara konstan terus tercampur,
sehingga plasma dan cairan interstisial mempunyai komposisi yang hampir
sama kecuali untuk protein, yang konsentrasinya lebih tinggi di dalam

plasma.3,5
Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit.
1. Elektrolit

Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik.
Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion).
Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam

miliekuivalen).6
Kation
Kation utama dalam cairan ekstraseluler adalah sodium (NA+), sedangkan
kation utama dalam cairan intraseluler adalah potasium (K+). Suatu sistem
pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan

potassium ini.6
Anion
Anion utama dalam cairan ekstraseluler adalah kloride (Cl-) dan bikarbonat
(HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraseluler adalah ion fosfat
(PO43-). Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstisial
pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi

cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.6


a. Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling
berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma:
135-145mEq/liter.3 Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa
mekanisme:
Left atrial stretch reseptor
Central baroreseptor
Renal afferent baroreseptor
Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)
Atrial natriuretic factor
Sistem renin angiotensin
Sekresi ADH
Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)
Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau
40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter,
faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15
gram NaCl).Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial
maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium

(muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi


disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti
dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus
berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak
dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.3
b. Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler
berperanpenting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.
Jumlah kalium dalamtubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubahubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat
dengan protein didalam sel.3
Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3
mEq/kgBB.Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi
H+ ekstraseluler. Ekskresikalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72
mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter.3
c. Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90%
dikeluarkanlewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini
tergantung pada intake,besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme
kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis,
ovarium, dan hipofisis. Sebagian besar (99%)ditemukan didalam gigi dan +
1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.3
d. Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan untuk
pertumbuhan +10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.3
e. Karbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu
hasilakhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal.
Sedikit sekalibikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat
dikontrol oleh paru-paru dansangat penting peranannya dalam keseimbangan
asam basa.3
2. Non-Elektrolit

Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan.
Zatlainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin.2,6
C. Proses Pergerakan Cairan Tubuh
Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan
mekanisme transpor pasif dan aktif. Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan
energi sedangkan mekanisme transpor aktif membutuhkan energi. Difusi dan osmosis
adalah mekanisme transpor pasif. Sedangkan mekanisme transpor aktif berhubungan
dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP. 3,6,7
Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:
1. Osmosis
Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran
semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju
larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh membran sel dan
kapiler permeabel terhadap air, sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh
kompartemen sama. Membran semipermeabel ialah membran yang dapat
dilalui air (pelarut), namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.3,6,7
Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan
tekanan osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%,
Ringer laktat). Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut
hipotonik (akuades), sedangkan lebih tinggi disebut hipertonik. 6,7
2. Difusi
Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan
bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah.
Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi
melewati pori-pori tersebut. Jadi difusi tergantung kepada perbedaan
konsentrasi dan tekanan hidrostatik.3,6,7
3. Pompa natrium kalium
Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang memompa ion
natrium keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion
kalium dari luar ke dalam. Tujuan dari pompa natrium kalium adalah untuk
mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel. 3,6,7
6

D. Asupan dan Kehilangan Cairan pada Keadaan Normal


Dalam keadaan normal masukan cairan dipenuhi melalui minum atau
makanan yang masuk ke dalam tubuh secara per oral. Selanjutnya proses
metabolisme di dalam tubuh juga akan memberikan kontribusi terhadap air tubuh
total.

Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah

oleh stres akibat operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh adanya cedera
pada paru-paru, kulit atau traktus gastrointestinal.8 Pada keadaan normal, seseorang
mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per hari, dalam bentuk cairan
maupun makanan padat dengan kehilangan cairan rata-rata 250 ml dari feses, 8001500 ml dari urin, dan hampir 600 ml kehilangan cairan yang tidak disadari
(insensible water loss) dari kulit dan paru-paru.8
Kepustakaan lain menyebutkan asupan cairan didapat dari metabolisme
oksidatif dari karbohidrat, protein dan lemak yaitu sekitar 250-300 ml per hari, cairan
yang diminum setiap hari sekitar 1100-1400 ml tiap hari, cairan dari makanan padat
sekitar 800-100 ml tiap hari, sedangkan kehilangan cairan terjadi dari ekskresi urin
(rata-rata 1500 ml tiap hari, 40-80 ml per jam untuk orang dewasa dan 0,5 ml/kg
untuk pediatrik), kulit (insensible loss sebanyak rata-rata 6 ml/kg/24 jam pada ratarata orang dewasa yang mana volume kehilangan bertambah pada keadaan demam
yaitu 100-150 ml tiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celcius pada suhu tubuh di atas
37 derajat celcius dan sensible loss yang banyaknya tergantung dari tingkatan dan
jenis aktivitas yang dilakukan), paru-paru (sekitar 400 ml tiap hari dari insensible
loss), traktus gastointestinal (100-200 ml tiap hari yang dapat meningkat sampai 3-6
L tiap hari jika terdapat penyakit di traktus gastrointestinal), third-space loses.6
Kebutuhan air setiap hari dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain:
1. Berdasarkan umur5
0-1 th memerlukan air sekitar 120 ml/kgBB
1-3 th memerlukan air sekitar 100 ml/kgBB
3-6 th memerlukan air sekitar 90 ml/kgBB
7 th memerlukan air sekitar 70 ml/kgBB
Dewasa, memerlukan sekitar 40-50 ml/kgBB
2. Berdasarkan berat badan5
0-10 kg
= 100 ml/kgBB
10-20 kg
= 1000 ml + 50 ml/kgBB (di atas 10 kg)
7

Di atas 20 kg = 1500 ml + 20 ml/kgBB (di atas 20 kg)


Dewasa
= 40-50 ml/kgBB
3. Mengukur perbedaan masukan dan keluaran5
Ukur perbedaan tersebut (termasuk urin, muntah, drainase, insensible water
loss, dll) serta kebutuhan minimum per hari. Perbedaan ini sebaiknya tidak
lebih besar 200-400 ml hari. "Insensible water loss" kira-kira, 15 ml/kgBB/
hari. Kehilangan akibat peningkatan suhu/derajat celcius per hari kurang lebih
10% dari kebutuhan per hari.
4. Hitung perbedaan berat badan sebelum dan sesudah sakit5
Selisih berat badan sebelumnya dan sekarang, kemudian kurangi dengan hasil
katabolisme normal selama puasa (0,5 kg/hari), dimana 1 kg sebanding
dengan 1 liter.
5. Menghitung kelebihan dan kekurangan elektrolit5
Yang sering digunakan untuk menghitung kelebihan atau kekurangan cairan
adalah natrium.
Tabel 1. Rumatan cairan per jam ( aturan 4/2/1) dan harian pada anak (kg). 9

E.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tujuan Terapi Cairan5


Mengganti cairan yang hilang
Mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung
Mencukupi kebutuhan per hari
Mengatasi syok
Mengoreksi dehidrasi
Mengatasi kelainan akibat terapi lain.

F. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit5


1. Gangguan keseimbangan cairan tubuh5
Bentuk gangguan keseimbangan cairan yang umum terjadi di klinik adalah
kelebihan atau kekurangan cairan (air). Kelebihan cairan disebut dengan
istilah

"overhidrasi",

sebaliknya

kekurangan

cairan

disebut

dengan

"dehidrasi".

Overhidrasi
Istilah "overhidrasi" atau intoksikasi air atau kelebihan air dalam tubuh
kerapkali disebut-sebut oleh para klinisi, terutama berkaitan dengan tindakan
terapi cairan yang keliru. Oleh karena, kejadian ini semestinya tidak perlu
sampai terjadi.
Etiologi overhidrasi.
a) Gangguan ekskresi air lewat ginjal, misalnya pada gagal ginjal akut
intrinsik atau obstruktif
b) Masuknya air yang berlebihan pada terapi cairan
c) Korban tenggelam di air tawar.
Gejala dan tanda.
Gejala-gejalanya antara lain: sesak nafas, edema, peningkatan tekanan vena
jugularis atau vena sentral, edema paru akut dan payah jantung. Diagnostik
penunjang: dijumpai hiponatremia dalam plasma.
Terapi
Selama fungsi ginjal masih normal, pemberian diuretik masih bermanfaat.
Sedangkan bila fungsi ginjal jelek, harus dilakukan ultrafiltrasi atau dialisis.
Pada keadaan mendesak bisa dilakukan flebotomi, yaitu mengeluarkan

volume darah melalui kanulasi vena perifer atau sentral.


Dehidrasi
Dehidrasi adalah defisit air dalam tubuh, yang disebabkan oleh masukan yang
kurang atau ekskresi yang berlebihan.
Keadaan dehidrasi ada beberapa bentuk yaitu:
a) Isotonik: bila yang hilang air bersama-sama dengan garam, misalnya pada
gastroenteritis akut, overdosis diuretik.
b) Hipotonik: bila yang hilang hanya garam saja, misalnya pemberian air saja
pada pasien dehidrasi isotonik.
c) Hipertonik: bila yang hilang hanya air saja, misalnya kehilangan air lewat
keringat.
Gejala dan tanda
Gejala-gejala dehidrasi tergantung pada berat ringannya dehidrasi.

Tabel 2. Derajat dehidrasi, % kehilangan air dan gejala.5


Derajat
Ringan
Sedang

% Kehilangan air
2-4% dari BB
4-8% dari BB

Gejala
Rasa haus, mukosa dan kulit kering, mata cekung.
Sama dengan diatas, disertai delirium, oligouri, suhu

Berat

8-14% dari BB

tubuh meningkat.
Sama dengan diatas, disertai koma, hipernatremia,
viskositas plasma meningkat.

Tabel 3. Gejala klinis derajat dehidrasi pada anak.9

Data laboratorium menunjukkan: hipernatremia dan peningkatan hematokrit.


Terapi.
Prinsip terapi dehidrasi adalah mengembalikan air dan garam yang hilang.
Jumlah dan jenis cairan yang harus diberikan, tergantung pada derajat dan
jenis dehidrasinya, dengan memperhatikan pula jenis elektrolit yang hilang.
Pilihan cairan untuk koreksi dehidrasi adalah cairan pengganti jenis kristaloid,
misalnya RL atau NaCl.

2. Gangguan keseimbangan elektrolit5


Gangguan keseimbangan elektrolit yang akan dibicarakan hanyalah beberapa saja:
2.1 Hiponatremia dan hipernatremia
2.2 Hipokalsemi dan hiperkalemi
2.3 Hipokalsemia
2.1 Hiponatremia dan Hipernatremia
Natrium adalah ion yang dominan berada di petak cairan ekstrasel, dengan kadar
normal dalam plasma berkisar antara 135-145 mEq/L.
Hiponatremia.
Keadaan hiponatremia, apabila kadar natrium dalam plasma di bawah 130 mEq/L dan
baru memberikan gejala apabila kadar natrium plasma kurang dari 118 mEq/L.
Keadaan hiponatremia berat yang disertai gejala-gejala, merupakan keadaan gawat
darurat yang harus segera dikoreksi. Apabila dibiarkan, tidak dikoreksi secara cepat
dan tepat dapat mengakibatkan edema otak, selanjutnya akan menimbulkan
kerusakan otak yang bersifat ireversibel.
10

Etiologi
Hiponatremia dapat berdasarkan faktor renal maupun faktor ekstra renal.
Gejala dan tanda.
Tabel 4. Derajat Hiponatremia, Gejala, dan Tanda
Gradasi
Ringan
(Na: 105-108)
Sedang
(Na: 90-104)
Berat
(Na <90)

Haus

Gejala

Tanda
Mukosa kering

Sakit kepala, mual, vertigo

Takikardi, hipotensi

Apatis, koma

Hipotermi

Terapi.
Pada hiponatremia ringan, cukup dengan memberikan garam atau cairan NaCl
fisiologis. Sedangkan pada hiponatremia sedang sampai berat, perlu diberikan NaCl
hipertonik. Apabila disertai keadaan hipervolemik, perlu diberikan diuretik,
pembatasan pemberian air dan garam, serta terapi terhadap penyakit dasarnya.
Dosis NaCl yang harus diberikan, dapat dihitung dari rumus berikut:
NaCl = 0,6 (N-n) x BB
N
= Kadar Na yang diinginkan
n
= Kadar Na sekarang
BB
= Berat badan dalam kg .
Dipasaran tersedia beberapa bentuk sediaan NaCl yaitu:
NaCl 0,45% dengan kandungan Na = 77meq/l t
NaCl 0,90% dengan kandungan Na = 154 meq/l t
NaCl 3,00 dengan kandungan Na = 513 meq/l t
Hipernatremia
Hipernatremia adalah suatu keadaan yang jarang jarang terjadi, mungkin karena
ginjal sangat efisien dalam mengeksresikan Na. Disebut hipernatremia bila kadar
natrium plasma lebih dari 150 meq/lt. Banyak kelainan yang bisa mengakibatkan
hipernatremia antara lain:
Diabetes insipidus
Pemberian nutrisi parenteral atau obat-obatan yang tinggi natrium

pada pasien dengan fungsi ginjal yang jelek


Penyakit aldosteronisme primer
Dan lain lain.

2.2 Hipokalemia dan Hiperkalemia


Kalium adalah ion yang dominan berada di dalam sel, nilai normal di dalam plasma
berkisar antara 3,5-4,5 mEq/l
11

Hipokalemia
Disebut hipokalemia bila kadar kalium dalam plasma kurang dari 3,5 mEq/l.
Hipokalemia merupakan salah satu gangguan keseimbangan elektrolit yang harus
segera mendapat perhatian serius, karena keadaan ini bisa mengakibatkan aritmia
jantung yang gawat.
Penyebab hipokalemia antara lain:
a) Masukan K yang kurang dari makanan
b) Masuknya K dari plasma ke dalam sel.
c) Kehilangan K lewat urine.
d) Kehilangan K lewat saluran cerna.
e) Hiperaldosteronisme primer.
Gejala-gejala hipokalemia:
a) Perasaan lemah
b) Otot-otot lemas
c) Gangguan irama jantung
d) Bila berat dan lama, dapat mengakibatkan henti jantung.
Terapi.
a) Dalam keadaan gawat darurat.
Dilakukan koreksi secara parenteral tetes kontinyu, tidak boleh memberikan
preparat K lanngsung intravenous karena bisa mengakibatkan henti jantung.
Preparat yang diberikan bisa dalam bentuk K-Bikarbonat atau Kcl. Selama
pemberian kadar K plasma harus dipantau setiap jam. Formula yang
digunakan dalam koreksi:
Defisit K= K (normal) - K (hasil pemeriksaan) x 0,4 x BB
b) Koreksi bertahap.
Koreksi secara oral dengan memberikan masukan makanan yang kaya
dengan kalium, seperti misalnya buah-buahan, ikan, sayur-sayuran, kaldu.
Hiperkalemia
Disebut hiperkalemia bila kadar K dalam plasma lebih dari 5 meq/l. Keadaan ini
merupakan keadaan gawat darurat.
Etiologi hiperkalemia:
a) Masukan K yang berlebihan
b) Hemolisis intravaskular
c) Distribusi K yang abnormal
d) Gangguan ekskresi misalnya pada gagal ginjal
e) Gangguan sekresi tubulus akibat pemakaian obat-obatan.
Gejala klinis.

12

Gejala yang paling menonjol akibat hiperkalemia adalah gangguan irama jantung.
Peningkatan kadar kalium dalam plasma, akan memperlihatkan gambaran EKG yang
spesifik sesuai dengan derajat peningkatannya.
Terapi.
Konsep dasar dalam koreksi ini adalah memasukkan kalium ke dalam sel atau
mengeluarkannya dari dalam tubuh melalui organ ekskresi atau dialisis. Terapi
hiperkalemia tergantung pada kadarnya dalam darah dan kemampuan ekskresi ginjal.
Bila kadar K plasma kurang dari 6,5 meq/l diberikan:
a) Diuretik, untuk mengekskresikan K lewat ginjal
b) Natrium bikarbonat, untuk memasukkan K ke dalam sel
c) Calsium Glukonas, meningkatkan ambang potensial miokard
d) Glukonas-insulin, memasukkan K ke dalam sel
e) Kayekselate (K exchange), menarik K ke saluran cerna.
Semua tindakan tersebut di atas dapat dilaksanakan secara bersamaan. Apabila dalam
6 jam belum tampak perbaikan, dilakukan hemodialisis. Sementara menunggu
persiapan, terapi farmakologis di atas dapat dilaksanakan. Bila fungsi ginjal jelek,
tindakan hemodialisis perlu dipertimbangkan lebih dini. Apabila kalium dia tas 6,5
meq/l, segera lakukan dialisis.
2.3 Hipokalsemia
Kalsium serum total terikat dalam protein plasma dan 90% diantaranya terikat dalam
albumin, sehingga dapat dimengerti bahwa keadaan hipokalsemia juga terjadi pada
pasien yang menderita hipoalbuminemia.
Etiologi.
a) Hipoparatiroidism, kongenital, idiopatik atau surgikal
b) Defisiensi vitamin D
c) Defisiensi 125 (OH) 2.D3, pada gagal ginjal kronik
d) Hiperfosfatemia
Gambaran klinis.
Gambaran klinis hipokalsemia terjadi akibat meningkatnya iritabilitas neuromuskuler.
Gejalanya antara lain, tetani dengan spasme karpopedal, adanya tanda Chovsteks,
kulit kering, gelisah, gangguan irama jantung. Pada EKG tampak perpanjangan
interval Q-T.
Terapi.

13

Hipokalsemia adalah suatu keadaan gawat darurat, karena dapat mengakibatkan


kejang umum dan henti jantung. Dalam keadaan tersebut dapat diberikan 20-30 ml
preparat kalsium glukonas 10% atau CaCl 10%. Terapi ini dapat diulang 30 sampai
60 menit kemudian, sampai kadarnya dalam plasma optimal.
G. Dasar-Dasar Terapi Cairan Perioperatif
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan menjadi pegangan pemberian
cairan perioperatif, yaitu :
1. Kebutuhan Normal Cairan Dan Elektrolit Harian10,11
Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan
elektrolit utama Na+= 1-2 mmol/kgBB/hari dan K+= 1mmol/kgBB/hari.
Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang akibat
pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat (lewat kulit) dan
pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water losses. Cairan
yang hilang ini pada umumnya bersifat hipotonus (air lebih banyak
dibandingkan elektrolit).
2. Defisit cairan dan elektrolit pra bedah10,11
Hal ini dapat timbul akibat dipuasakannya penderita terutama pada penderita
bedah elektif (sektar 6-12 jam), kehilangan cairan abnormal yang seringkali
menyertai penyakit bedahnya (perdarahan, muntah, diare, diuresis berlebihan,
translokasi

cairan

pada

penderita

dengan

trauma),

kemungkinan

meningkatnya insensible water loss akibat hiperventilasi, demam dan


berkeringat banyak. Sebaiknya kehilangan cairan pra bedah ini harus segera
diganti sebelum dilakukan pembedahan.
3. Kehilangan cairan saat pembedahan10,11
a. Perdarahan
Secara teoritis perdarahan dapat diukur dengan:
Botol penampung darah yang disambung dengan pipa penghisap darah

(suction pump).
Dengan cara menimbang kasa yang digunakan sebelum dan setelah
pembedahan. Kasa yang penuh darah (ukuran 4x4 cm) mengandung

14

10 ml darah, sedangkan tampon besar (laparatomy pads) dapat


menyerap darah100-10 ml.
Dalam praktek jumlah perdarahan selama pembedahan hanya bisa ditentukan
berdasarkan kepada taksiran (perlu pengalaman banyak) dan keadaan klinis
penderita yang kadang-kadang dibantu dengan pemeriksaan kadar hemoglobin
dan hematokrit berulang- ulang (serial). Pemeriksaan kadar hemoglobin dan
hematokrit lebih menunjukkan rasio plasma terhadap eritrosit daripada jumlah
perdarahan. Kesulitan penaksiran akan bertambah bila pada luka operasi
digunakan cairan pembilas (irigasi) dan banyaknya darah yang mengenai kain
penutup, meja operasi dan lantai kamar bedah.
b. Kehilangan cairan lainnya10,11
Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih menonjol
dibandingkan perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi dan translokasi
cairan internal. Kehilangan cairan akibat penguapan (evaporasi) akan lebih
banyak pada pembedahan dengan luka pembedahan yang luas dan lama.
Sedangkan perpindahan cairan atau lebih dikenal istilah perpindahan ke ruang
ketiga atau sequestrasi secara masif dapat berakibat terjadi defisit cairan
intravaskuler. Jaringan yang mengalami trauma, inflamasi atau infeksi dapat
mengakibatkan sequestrasi sejumlah cairan interstitial dan perpindahan cairan
ke ruangan serosa (ascites) atau ke lumen usus. Akibatnya jumlah cairan ion
fungsional dalam ruang ekstraseluler meningkat. Pergeseran cairan yang
terjadi tidak dapat dicegah dengan cara membatasi cairan dan dapat
merugikan secara fungsional cairan dalam kompartemen ekstraseluler dan
juga dapat merugikan fungsional cairan dalam ruang ekstraseluler.
4. Gangguan fungsi ginjal10,11
Trauma, pembedahan dan anestesia dapat mengakibatkan:

Laju Filtrasi Glomerular (GFR = Glomerular Filtration Rate) menurun.


Reabsorbsi Na+ di tubulus meningkat yang sebagian disebabkan oleh
meningkatnya kadar aldosteron.

15

Meningkatnya kadar hormon anti diuretik (ADH) menyebabkan terjadinya


retensi air dan reabsorpsi Na+ di duktus koligentes (collecting tubules)

meningkat.
Ginjal tidak mampu mengekskresikan "free water" atau untuk menghasilkan
urin Hipotonis.

H. Penatalaksanaan Terapi Cairan Perioperatif10,11


Terdapat tiga periode yang dialami oleh pasien apabila menjalani tindakan
pembedahan, yaitu: pra bedah, selama pembedahan dan pasca bedah. Ketiga periode
tersebut mempunyai permasalahan yang berbeda yang satu sama lain tidak bisa
dipisahkan. Salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian adalah terapi
cairan.5
1. Cairan pra bedah
Status cairan harus dinilai dan dikoreksi sebelum dilakukannya induksi anestesi
untuk mengurangi perubahan kardiovaskuler dekompensasi akut. Selain itu terapi
cairan prabedah bertujuan untuk mengganti cairan dan kalori yang dialami
pasien prabedah akibat puasa, fasilitas vena terbuka bahkan untuk koreksi defisit
akibat hipovolemik atau dehidrasi.5 Penilaian status cairan ini didapat dari :10,11
Anamnesa : Apakah ada perdarahan, muntah, diare, rasa haus. Kencing
terakhir, jumlah dan warnya.
Pemeriksaan fisik. Dari pemeriksaan fisik ini didapat tanda-tanda obyektif
dari status cairan, seperti tekanan darah, nadi, berat badan, kulit, abdomen,
mata dan mukosa.
Laboratorium meliputi pemeriksaan elektrolit, BUN, hematokrit, hemoglobin
dan protein.
Defisit cairan dapat diperkirakan dari berat-ringannya dehidrasi yang terjadi.10,11
Pada fase awal pasien yang sadar akan mengeluh haus, nadi biasanya
meningkat sedikit, belum ada gangguan cairan dan komposisinya secara
serius. Dehidrasi pada fase ini terjadi jika kehilangan kira-kira 2% BB (1500
ml air).
Fase moderat, ditandai rasa haus. Mukosa kering otot lemah, nadi cepat dan
lemah. Terjadi pada kehilangan cairan 6% BB.
16

Fase lanjut/dehidrasi berat, ditandai adanya tanda shock cardiosirkulasi,


terjadi pada kehilangan cairan 7-15 % BB. Kegagalan penggantian cairan
dan elektrolit biasanya menyebabkan kematian jika kehilangan cairan 15 %
BB atau lebih.
Cairan preoperatif diberikan dalam bentuk cairan pemeliharaan, pada dewasa 2
ml/kgBB/jam. Atau 60 ml ditambah 1 ml/kgBB untuk berat badan lebih dari 20
kg. Pada anak-anak 4 ml/kg pada 10 kg BB I, ditambah 2 ml/kg untuk 10 kgBB
II, dan ditambah 1 ml/kg untuk berat badan sisanya. Kecuali penilaian terhadap
keadaan umum dan kardiovaskuler, tanda rehidrasi tercapai ialah dengan adanya
produksi urine 0,5-1 ml/kgBB.10,11
Pedoman koreksinya adalah:
Hitung kebutuhan cairan perhari (perjam)
Hitung defisit puasa (lama puasa) atau dehidrasi (derajat dehidrasi)
Pada jam pertama setelah infus terpasang berikan 50% defisit + cairan

pemeliharaan/jam
Pada jam ke dua; berikan 25% defisit + cairan pemeliharaan perjam
Pada jam ke tiga; berikan 25% defisit + cairan pemeliharaan perjam.

2. Cairan selama pembedahan


Terapi cairan selama operasi meliputi kebutuhan dasar cairan dan penggantian
sisa defisit pra operasi ditambah cairan yang hilang selama operasi. Selain itu
cairan selama pembedahan bertujuan untuk fasilitas vena terbuka, koreksi
kehilangan cairan melalui luka operasi, mengganti perdarahan yang terjadi dan
mengganti cairan yang hilang melalui organ ekskresi. Cairan yang digunakan
adalah cairan pengganti, bisa kristaloid dan koloid atau transfusi darah.5
Berdasarkan beratnya trauma pembedahan dikenal pemberian cairan pada
trauma ringan, sedang dan berat. Pada pembedahan dengan trauma ringan
diberikan cairan 2 ml/kg BB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kg
BB/jam sebagai pengganti akibat trauma pembedahan. Cairan pengganti akibat
trauma pembedahan sedang 6 ml/kg BB/jam dan pada trauma pembedahan berat 8
ml/kg BB/jam.5,10,11
17

Cairan pengganti akibat trauma pembedahan pada anak, untuk trauma


pembedahan ringan 2 ml/kg BB/jam, sedang 4 ml/kgBB/jam dan berat 6
ml/kgBB/jam.5,10,11
Pemilihan jenis cairan intravena tergantung pada prosedur pembedahan dan
perkiraan jumlah perdarahan. Perkiraan jumlah perdarahan yang terjadi selama
pembedahan sering mengalami kesulitan, dikarenakan adanya perdarahan yang
sulit diukur/tersembunyi yang terdapat di dalam luka operasi, kain kasa, kain
operasi dan lain-lain. Dalam hal ini cara yang biasa digunakan untuk
memperkirakan jumlah perdarahan dengan mengukur jumlah darah di dalam botol
suction ditambah perkiraan jumlah darah di kain kasa dan kain operasi. Satu
lembar duk dapat menampung 100 150 ml darah, sedangkan untuk kain kasa
sebaiknya ditimbang sebelum dan setelah dipakai, dimana selisih 1 gram
dianggap sama dengan 1 ml darah. Perkiraan jumlah perdarahan dapat juga diukur
dengan pemeriksaan hematokrit dan hemoglobin secara serial.5,10
Pada perdarahan untuk mempertahankan volume intravena dapat diberikan
kristaloid atau koloid sampai tahap timbulnya bahaya karena anemia. Pada
keadaan ini perdarahan selanjutnya diganti dengan transfusi sel darah merah
untuk mempertahankan konsentrasi hemoglobin ataupun hematokrit pada level
aman, yaitu Hb 7 10 g/dl atau Hct 21 30%. 20 25% pada individu sehat atau
anemia kronis.
Kebutuhan transfusi dapat ditetapkan pada saat prabedah berdasarkan nilai
hematokrit dan EBV. EBV pada neonatus prematur 95 ml/kgBB, fullterm 85
ml/kgBB, bayi 80 ml/kgBB dan pada dewasa laki-laki 75 ml/kgBB, perempuan
85 ml/kgBB.
Untuk menentukan jumlah perdarahan yang diperlukan agar Hct menjadi 30%
dapat dihitung sebagai berikut :

EBV
Estimasi volume sel darah merah pada Hct prabedah (RBCV preop)
Estimasi volume sel darah merah pada Hct 30% prabedah (RBCV%)

18

Volume sel darah merah yang hilang, RBCV lost = RBCV preop RBVC

30%)
Jumlah darah yang boleh hilang = RBCV lost x 3
Transfusi dilakukan jika perdarahan melebihi nilai RBCV lost x 3.
Selain cara tersebut di atas, beberapa pendapat mengenai penggantian cairan

akibat perdarahan adalah sebagai berikut :


Berdasarkan berat-ringannya perdarahan :

Perdarahan ringan, perdarahan sampai 10% EBV, 10 15%, cukup diganti

dengan cairan elektrolit.


Perdarahan sedang, perdarahan 10 20% EBV, 15 30%, dapat diganti

dengan cairan kristaloid dan koloid.


Perdarahan berat, perdarahan 20 50% EBV, > 30%, harus diganti dengan
transfusi darah.
Pada dewasa, perdarahan <20% dari perkiraan volume darah dapat diberikan
kristaloid sebanyak 2-3x jumlah perdarahan atau koloid yang jumlahnya sama

dengan perkiraan jumlah perdarahan atau campuran kristaloid + koloid.5


Koreksi perdarahan selama operasi pada bayi dan anak, adalah sebagai berikut:5
Perdarahan >10% dari perkiraan volume darah dilakukan transfusi
Perdarahan <10% dari perkiraan volume darah diberikan kristaloid sebanyak
2-3x jumlah perdarahan atau koloid yang jumlahnya sama dengan perkiraan
jumlah perdarahan atau campuran kristaloid + koloid.
3. Cairan paska bedah
Terapi cairan paska bedah ditujukan untuk :

Memenuhi kebutuhan air, elektrolit dan nutrisi.


Mengganti kehilangan cairan pada masa paska bedah (cairan lambung, febris).
Melanjutkan penggantian defisit prabedah dan selama pembedahan.
Koreksi gangguan keseimbangan karena terapi cairan.
Nutrisi parenteral bertujuan menyediakan nutrisi lengkap, yaitu kalori, protein

dan lemak termasuk unsur penunjang nutrisi elektrolit, vitamin dan trace
element. Pemberian kalori sampai 40 50 Kcal/kg dengan protein 0,2 0,24
N/kg. Nutrisi parenteral ini penting, karena pada penderita paska bedah yang

19

tidak mendapat nutrisi sama sekali akan kehilangan protein 75 125 gr/hari.
Hipoalbuminemia menyebabkan edema jaringan, infeksi dan dehisensi luka
operasi, terjadi penurunan enzym pencernaan yang menyulitkan proses
realimentasi.10,11
Prinsip terapi cairan pasca bedah adalah:
Pasien dewasa:
o Pasien yang diperbolehkan makan/minum pasca bedah, berikan cairan
pemeliharaan sebagai jalur vena terbuka
o Pada pasienpuasa pasca bedah:
Diperkirakan puasa <3 hari: berikan cairan nutrisi dasar yang
mengandung air + elektrolit + karbohidrat + asam amino
esensial.
Diperkirakan puasa >3 hari: berikan cairan nutrisi yang
mengandung air + elektrolit + karbohidrat dosis dinaikkan +
asam amino dan pada hari kelima ditambahkan dengan emulsi
lemak.
Pada keadaan tertentu, misalnya pada status nutris pra bedah

yang buruk segera diberikan nutrisi parenteral total.


Pada bayi dan anak, prinsipnya sama, hanya komposisinya sedikit berbeda,

misalnya: kandungan elektrolitnya, jumlah karbohidratnya, dll.


Pada keadaan tertentu, misalnya pada penderita syok atau anemia,
penatalaksanaannya disesuaikan dengan etiologinya.

I. Jenis Cairan yang Digunakan dalam Terapi Cairan


1. Cairan kristaloid12,13,14,15,16,17,18
Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF).
Keuntungan dari cairan ini antara lain harga murah, tersedia dengan mudah di setiap
pusat kesehatan, tidak perlu dilakukan cross match, tidak menimbulkan alergi atau
syok anafilaktik, penyimpanan sederhana dan dapat disimpan lama.
Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid)
ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit
volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 2030 menit. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit
20

larutan kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan
paru serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka,
apabila seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0,9%. Penelitian lain menunjukkan
pemberian sejumlah cairan kristaloid dapat mengakibatkan timbulnya edema paru
berat. Selain itu, pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan
edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial.
Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid akan
lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan koloid maka
kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel. Larutan
Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk
resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai
cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami
metabolisme di hati menjadi bikarbonat. Cairan kristaloid lainnya yang sering
digunakan adalah NaCl 0,9%, tetapi bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan
asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar
bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida.
2. Cairan koloid12,13,14,15,16,17,18
Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut plasma
substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang
mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan
ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler.
Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat terutama
pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia
berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar). Kerugian dari plasma
expander yaitu mahal dan dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (walau jarang) dan
dapat menyebabkan gangguan pada cross match.
Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid:
1. Koloid Alami yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan
2,5%). Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60C selama 10
jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi protein plasma
21

selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa globulin dan beta
globulin.Prekallikrein activators (Hagemans factor fragments) seringkali
terdapat dalam fraksi protein plasma dibandingkan dalam albumin. Oleh sebab
itu pemberian infuse dengan fraksi protein plasma seringkali menimbulkan
hipotensi dan kolaps kardiovaskuler.
2. Koloid Sintesis yaitu:
Dextran
Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan Dextran
70(Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri
Leuconostocmesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Walaupun
Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan
Dextran 40, tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi
mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah. Selain itu Dextran
mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet adhesiveness,
menekan aktivitas faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran
darah. Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggucro
match, waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal. Dextran
dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan

memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.


Hydroxylethyl Starch (Heta starch)
Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 1.000.000, ratarata 71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30 mmHg.
Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46% lewat
urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari. Larutan koloid ini
juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat meningkatkan kadar serum
amilase (walau jarang). Low molecullar weight Hydroxylethyl starch (PentaStarch) mirip Heta starch, mampu mengembangkan volumeplasma hingga 1,5
kali volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya
sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah dan

22

tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch dipilih sebagai koloid untuk
resusitasi cairan pada penderita gawat.

Gelatin
Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul rata-rata
35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang. Ada 3 macam gelatin, yaitu:
-

Modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell)


Urea linked gelatin
Oxypoly gelatin ,merupakan plasma expanders dan banyak digunakan pada
penderita gawat. Walaupun dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (jarang)
terutama dari golongan urea linked gelatin.

J. Teknik Pemberian
Untuk pemberian terapi cairan dalam waktu yang singkat dapat digunakan
vena-vena di punggung tangan, sekitar pergelangan tangan, lengan bawah atau daerah
kubiti. Pada pasien anak dan bayi sering digunakan daerah punggung kaki, depan
mata kaki dalam, atau pada daerah kepala. Pada pasien neonatus, dapat juga
digunakan akses vena umbilikalis. Penggunaan jarum anti karat atau kateter vena
berbahan plastic anti trombogenik pada vena perifer biasanya perlu diganti setiap 1
sampai 3 hari untuk menghindari infeksi dan macetnya tetesan. Pemberian cairan
infus lebih lama dari 3 hari, sebaiknya menggunakan kateter berukuran besar dan
panjang yang ditusukan pada vena femoralis, vena kubiti, vena subklavia, vena
jugularis eksterna atau interna yang ujungnya sedekat mungkin dengan atrium kanan
atau di vena cava inferior atau superior.3
K. Komplikasi Terapi Cairan5
Komplikasi yang terjadi sangat berkaitan dengan kanulasi vena yang dilakukan,
pilihan cairan, kelalaian dalam pemantauan dan kemungkinan risiko infeksi.
Komplikasi yang bisa timbul adalah:
1. Gangguan keseimbangan cairan.
Pada umumnya akan terjadi kelebihan cairan dengan segala akibatnya, seperti
misalnya payah jantung dan edema baik di otak, paru, dan jaringan lainnya.
Hal ini terjadi karena pemantauannya tidak adekuat.
2. Gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa.
23

Hal ini terjadi apabila pilihan cairan tidak tepat.


3. Komplikasi akibat kanulasi.
Terutama pada kanulasi vena sentral, bisa terjadi hematom, emboli udara,
pneumo-hidro-hematotoraks dan refleks vagal.
4. Infeksi.
Infeksi lokal pada jalur vena yang dilalui, menimbulkan rasa nyeri yang hebat,
keadaan ini bisa berlangsung lama. kemungkinan terjadinya risiko sepsis,
tidak bisa dihindari apabila keadaan asepsis kurang diperhatikan, terutama
pada kanulasi vena sentral yang digunakan untuk memasukkan obat suntik
berulang.
L. Tekanan Vena Sentral (Central Venous Pressure)
Central Venous Pressure yang juga dikenal dengan singkatan CVP atau kita
sebut sebagai Tekanan Vena Sentral, pada beberapa penanganan kasus sangat
diperlukan untuk mendukung diagnosa, mengetahui kondisi pasien, serta monitoring
resusitasi. CVP adalah suatu hasil dari pengukuran tekanan vena sentral dengan jalan
memasang suatu alat Central Venous Catheter atau yang dikenal dengan singkatan
CVC. CVC tersebut dapat di pasang pada beberapa lokasi seperti pada vena jugularis
interna, vena subklavia, vena basilika, vena femoralis. Dimana masingmasing lokasi
tersebut memiliki keuntungan dan kerugian dalam hal tingkat kesulitan pemasangan,
resiko pemasangan, kenyamanan pasien, perawatan CVC, juga ketersediaan jenis
CVC yang sesuai dengan lokasi pemasangan CVC tersebut.5,19
Central Venous Catheter ini merupakan salah satu teknik yang bersifat
invasif. Sehingga resikoresiko tindakan invasif secara umum, juga menjadi
pertimbangan kita dalam melakukan pemasangan ataupun insersi CVC ini. Seperti
pada kasus luka bakar, dimana area insersi terkena oleh luka bakar. Dimana insersi
yang kita lakukan dapat menambah resiko terjadinya bakterimia. Sehingga kita harus
lebih cermat dalam pemilihan lokasi insersi. Atau juga pada kasus dimana pasien
sudah mengalami suatu gangguan koagulasi. Tindakan insersi CVC ini dapat
mencetuskan suatu edema dilokasi insersi, serta perdarahan yang sulit diatasi. 5,19

24

Walaupun pada CVP yang kita nilai adalah suatu tekanan, dimana tekanan ini masih
banyak faktorfaktor lain yang menentukan selain volume, namun Central venous
pressure ini masih digunakan dalam hal mengestimasi kecukupan volume
intravaskular. Meskipun saat ini sudah ada beberapa metode lain yang lebih tepat
dalam hal pengukuran volume intravaskular seperti Stroke Volume Variation atau
SVV, dengan menggunakan suatu alat khusus, tetap saja hal tersebut bersifat invasive
dan biaya yang cukup besar. Apalagi bila kita melakukannya secara serial. Sehingga
CVP masih diandalkan untuk mengestimasi kecukupan volume di intravascular. 5,19
1. Definisi
Tekanan vena sentral (Central venous pressure, CVP) adalah tekanan
intravaskular didalam vena cava torakal. Tekanan vena sentral menggambarkan
banyaknya darah yang kembali ke dalam jantung dan kemampuan jantung untuk
memompa darah kedalam sistem arterial. Perkiraan yang baik dari tekanan atrium
kanan, yang mana merupakan faktor yang menentukan dari volume akhir diastolik
ventrikel kanan. Tekanan vena sentral menggambarkan keseimbangan antara volume
intravaskular, venous

capacitance,

dan

fungsi

ventrikel

kanan.1

Prosedur

memasukkan kateter intravena yang fleksibel ke dalam vena sentral dalam rangka
memberikan terapi melalui vena sentral. Ujung dari kateter berada pada superior vena
cava. Menurut Gardner dan Woods nilai normal tekanan vena sentral adalah 3-8
cmH2O. Sementara menurut Sutanto nilai normal CVP adalah 4 10 mmHg.5,19
2. Penempatan Vena Sentral
Penempatan kateter vena sentral melalui vena jugularis interna, vena subklavia, vena
jugularis eksternal, dan vena femoralis. Pada umumnya pemantauan dilakukan
melalui vena subklavia.5
3. Indikasi Pemantauan Vena Sentral
a. Pemantauan Tekanan Vena Sentral pada pasien akut.
Hal ini memungkinkan pemberi perawatan untuk memiliki wawasan status
keseimbangan cairan pasien.CVP tinggi akan menunjukkan overload cairan
atau gagal jantung. CVP rendah akan menunjukkan tingkat dehidrasi atau

25

kehilangan darah. Status cairan yang tepat hanya dapat dievaluasi dengan
menghubungkan Hb, Jantung Berfungsi dan semua hasil lab lain dan sejarah
klinis pasien.
b. Jumlah total parenteral Gizi.
Ketika pasien akut yang saluran pencernaan tidak mampu menyerap nutrisi
maka tim pengobatan dapat memutuskan untuk memberikan nutrisi pasien.
Hal ini disebut TPN dan TPN dapat diberikan secara aman hanya melalui jalur
CVP atau garis sentral perifer dimasukkan (PICC). Umumnya TPN diberikan
melalui kateter intravena pusat yang dimasukkan dalam vena subklavia atau
jugularis. Pada bayi vena umbilical digunakan paling sering. Dasar pemikiran
untuk menggunakan vena dalam yang besar adalah kenyataan bahwa TPN
menyebabkan flebitis pada vena perifer karena mengandung komponen
kaustik banyak. Contohnya termasuk Klorida Kalsium dan Potassium Klorida
c. Obat
Obat-obat tertentu dapat diberikan secara aman hanya melalui saluran pusat.
Oleh karena itu CVP mungkin dimasukkan untuk tujuan ini. Obat yang
kemungkinan akan menyebabkan flebitis mencakup Agen kemoterapi
digunakan dalam pengobatan dan pengelolaan kondisi ganas.
d. Kurangnya akses perifer.
Pada beberapa pasien akut, ketika tidak ada akses vena perifer, kemudian
garis CVP dapat dimasukkan. Hal ini biasanya dilakukan untuk tujuan rehidrasi, administrasi administrasi pengobatan, produk darah dan darah.
4. Persiapan Pemasangan
a. Persiapan pasien
Memberikan penjelasan kepada pasien tentang:
Tujuan pemasangan
Daerah pemasangan dan prosedur yang akan dikerjakan.
b. Persiapan alat
Kateter CVP
Set CVP

26

Spuit
Antiseptik
Obat anaestesi lokal
Sarung tangan steril
Bengkok
Cairan NaCl 0,9% (25 ml)
c. Persiapan alat ukur
Skala pengukur
Selang penghubung (manometer line)
Standar infus
Three way stopcock
Pipa U
Set infuse
d. Cara merangkai
Menghubungkan set infus dg cairan NaCl 0,9%
Mengeluarkan udara dari selang infus
Menghubungkan skala pengukuran dengan threeway stopcock
Menghubungkan three way stopcock dengan selang infuse
Menghubungkan manometer line dengan three way stopcock
Mengeluarkan udara dari manometer line
Mengisi cairan ke skala pengukur sampai 25 cmH2O
Menghubungkan manometer line dengan kateter yang sudah terpasang.
e. Langkah pemasangan
Siapkan alat
Lakukan cuci tangan steril
Gunakan sarung tangan steril
Tentukan daerah yang akan dipasang ; vena yang biasa digunakan sebagai

tempat pemasangan adalah vena subklavia atau internal jugular.


Posisikan pasien trendelenberg, atur posisi kepala agar vena jugularis
interna maupun vena subklavia lebih terlihat jelas, untuk mempermudah

pemasangan.
Lakukan desinfeksi pada daerah penusukan dengan cairan antiseptic
Pasang duk lobang yang steril pada daerah pemasangan.
Sebelum penusukan jarum / keteter, untuk mencegah terjadinya emboli
udara, anjurkan pasien untuk bernafas dalam dan menahan nafas.

27

Masukkan jarum / kateter secara gentle, ujung dari kateter harus tetap
berada pada vena cava, jangan sampai masuk ke dalam jantung. Teknik
pemasangan yang sering digunakan adalah teknik Seldinger, caranya adalah
dengan menggunakan mandarin yang dimasukkan melalui jarum, jarum
kemudian dilepaskan, dan kateter CVP dimasukkan melalui mandarin
tersebut. Jika kateter sudah mencapai atrium kanan, mandarin ditarik, dan
terakhir kateter disambungkan pada IV set yang telah disiapkan dan

lakukan penjahitan daerah insersi


Setelah selesai pemasangan sambungkan

menghubungkan dengan IV set dan selang untuk mengukur CVP.


Lakukan fiksasi / dressing pada daerah pemasangan , agar posisi kateter

terjaga dengan baik.


Rapikan peralatan dan cuci tangan kembali
Catat laporan pemasangan, termasuk respon klien ( tanda-tanda vital,

dengan

selang

yang

kesadaran, dll ), lokasi pemasangan, petugas yang memasang, dan hasil

pengukuran CVP serta cairan yang digunakan.


Setelah dipasang sebaiknya dilakukan foto rontgen dada untuk memastikan
posisi ujung kateter yang dimasukkan, serta memastikan tidak adanya

hemothorax atau pneumothorax sebagai akibat dari pemasangan.


Tempat lain yang bisa digunakan sebagai tempat pemasangan CVP adalah

vena femoralis dan vena fossa antecubiti.


f. Cara pengukuran
Mensejajarkan letak jantung (atrium kanan) dengan skala pengukur
Letak jantung dapat ditentukan dengan cara membuat garis pertemuan

antara sela iga ke empat (ICS IV) dengan garis pertengahan axilla
Menentukan nilai CVP, dengan memperhatikan undulasi pada manometer
dan nilai dibaca pada akhir ekspirasi.

28

g. Kontraindikasi pemasangan CVP


Nyeri dan inflamasi pada daerah tusukan
Bekuan darah karena tertekuknya kateter
Perdarahan: ekimosis
Tromboplebitis
Mikrosyok
Disritmia jantung
Pembedahan leher
Insersi kawat pacemaker
h. Komplikasi CVP
Pemasangan CVP dapat mengakibatkan beberapa hal antara lain:
Perdarahan
Erosi (pengikisan) vaskuler. Cirinya terjadi 1 sampai 7 hari setelah insersi
kateter. Cairan iv atau darah terakumulasi di mediastinum atau rongga

pleura
Aritmia ventrikel atau supraventrikel
Infeksi local atau sistemik. Biasanya

kebanyakan

kontaminasi

mkrooorganisme seperti s. epidermidis, gram negative positif basil, dan

intrococcus
Overload cairan
Pneumothoraks.

BAB III
KESIMPULAN
1. Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti milieu interiur
dalam batas-batas fisiologis.
2. Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang
umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor
preoperatif, perioperatif dan postoperatif.

29

3. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan


elektrolit utama Na+=1-2 mmol/kgBB/haridan K+= 1mmol/kgBB/hari.
4. Selama pembedahan dapat terjadi kehilangan cairan melalui perdarahan dan
kehilangan cairan lainnya, seperti translokasi internal dan evaporasi.
5. Terapi cairan perioperatif meliputi pemberian cairan prabedah, selama bedah
dan pasca bedah.
6. Cairan yang dapat digunakan yaitu kristaloid (tanpa tekanan onkotik), koloid
(memiliki tekanan onkotik) dan darah.

DAFTAR PUSTAKA
1. Tutuko, Bambang, dkk. Panduan Tatalaksana Terapi Cairan Perioperatif.
Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi Indonesia. 2009.
2. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC; Jakarta
2008: Hal. 308.
3. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi 2.
EGC; Jakarta 2010: Hal. 133.
4. Kaswiyan U. Terapi Cairan Perioperatif. Bagian Anestesiologi dan Reanimasi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 2010.
5. Mangku G, Senapathi TGA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi.
Indeks; Jakarta 2010: Hal 292.
6. Heitz U, Horne MM. Fluid, Electrolyte and Acid Base Balance. 5th ed.
Missouri: Elsevier-Mosby; 2005. p 3-227.
7. Mayer H, Follin SA. Fluid and electrolyte made incredibly easy. 2nd ed.
Pennsylvania:Springhouse; 2002:3-189.

30

8. Schwartz SI, ed. Principles of surgery companion handbook. 7th ed. New
york:McGraw-Hill; 1999:53-70.
9. Arya VK. Basics of fluid and blood transfusion therapy in paediatric surgical
patients. Indian Journal of Anaesthesia 2012; 56 (5): 454-60.
10. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Handbook of clinical anesthesia. 5th
ed.Philadelphia: Lippincot williams and wilkins; 2006: 74-97.
11. Sunatrio S. Resusitasi cairan. Jakarta: Media aesculapius; 2000: hal.1-58.
12. Murat I, Dubois MC. Review article perioperative fluid therapy in pediatrics.
Blackwell Publishing Pediatric Anesthesia 2008; 18: 363-70.
13. Bailey AG, McNaull PP, Jooste E, Tuchman JB. Review article perioperative
crystalloid and colloid fluid management in children: where are we and how
did we get there? International Anesthesia Research Society 2010; 110 (2). p.
375-86.
14. Doherty M, Buggy DJ. Intraoperative fluids: how much is too much: British
Journal of Anaesthesia 2012;171: p. 1-11.
15. Bartels K, Thiele RH, Gan TJ. Review rational fluid management in today's
ICU practice. Bio Med Central 2013; 17 (1) 56: p. 1-6.
16. Smorenberg A, Ince C, Groeneveld AJ. Review dose and type of crystalloid
fluid therapy in adult hospitalized patients. Bio Med Central 2013; 2(17): p. 110.
17. Strunden MS, Heckel K, Goetz AE, Reuter DA. Review perioperative fluids
and volume management: physiological basis, tools and strategies. Annals of
Intensive Care a Springer Open Journal 2011; 1 (2): p.1-8.
18. Gwinnutt CL. Catatan kuliah anestesi klinis. Edisi 3. Jakarta: EGC: 2011.

31