Anda di halaman 1dari 95

Laporan Pendahuluan

PENDEKATAN DAN
METODOLOGI
3.1

PENDEKATAN
Sebagaimana

telah

diketahui

bahwa

pembangunan

suatu

bendungan

disamping mempunyai manfaat yang sangat besar bagi manusia juga menyimpan
potensi bahaya yang sangat besar, dimana bila bendungan tersebut runtuh dapat
mengakibatkan bencana yang sangat besar di daerah hilir. Hal tersebut disebabkan
oleh karena umumnya pembangunan bendungan seringkali diikuti dengan pesatnya
perkembangan masyarakat di daerah hilir yang berkembang menjadi daerah
pemukiman, pertanian, industri, perdagangan dan banyaknya fasilitas umum, hal ini
menyebabkan makin bertambahnya tingkat bahaya akibat keruntuhan bendungan.
Kegagalan atau keruntuhan bendungan dapat terjadi pada bendungan yang
sudah atau akan dibangun. Keruntuhan bendungan dapat diakibatkan oleh
overtopping

ataupun

rembesan

atau

bocoran.

Keruntuhan

bendungan

yang

diakibatkan oleh overtopping terjadi apabila air melimpah melalui puncak bendungan
yang menyebabkan erosi dan longsoran. Keruntuhan bendungan juga dapat
diakibatkan oleh rembesan atau bocoran yang membawa material bendungan yang
disebut erosi atau piping. Akibat keruntuhan tersebut di atas, air yang tertampung di
waduk akan mengalir ke lembah sungai di hilir bendungan dengan debit yang sangat
besar dan kecepatan yang sangat tinggi. Kejadian yang demikian dapat menyebabkan
terjadinya kerugian jiwa dan materi serta kehancuran infrastruktur yang ada.
Untuk mengantisipasi hal terburuk yang diakibatkan oleh kegagalan Bendungan
Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ
Patok maka Sesuai dengan PP Nomor 37 Tahun 2010, tentang Keamanan Bendungan,
dimana setiap bendungan harus dilengkapi dengan Rencana Tindak Darurat (RTD)
dalam rangka antisipasi penyelamatan jiwa dan harta benda, apabila terjadi keruntuhan
bendungan. Maka

Satker Bina OP Ditjen SDA, Kementerian Pekerjaan Umum

menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Rencana Tindak Darurat (Emergency


Action Plan) Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-1

Laporan Pendahuluan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok, Paket BOP-CS-08, yang akan digunakan
sebagai dasar dalam penyusunan dokumen rencana tindak darurat keruntuhan
Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan
Bendungan Situ Patok. Hal tersebut bukan hanya merupakan pemenuhan terhadap
Peraturan Pemerintah (PP) dan Kepmen PU, namun juga merupakan salah satu wujud
pemenuhan terhadap konsesi pembangunan yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan.

3.1.1. Pendekatan Teknis


Agar menghasilkan analisis yang akurat, khususnya dalam penetapan wilayah
genangan banjir yang diperkirakan sebagai akibat keruntuhan Bendungan Way Rarem,
Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok, maka
diperlukan upaya pendekatan secara teknis meliputi :

I. Standard dan Peraturan Teknis


Standard dan peraturan teknis yang dipergunakan tim Konsultan dalam
pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rencana Tindak Darurat (Emergency
Action

Plan)

Bendungan

Way

Rarem,

Bendungan

Way

Tengkorak,

Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok ini adalah menggunakan


Standard Nasional Indonesia yang berlaku di lingkungan Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air, seperti KP Irigasi, dan Direktorat Jenderal Cipta Karya yang
menyangkut prasarana sosial dasar dan pemukiman. Pedoman-pedoman lain dari
Kementerian Pekerjaan Umum akan diikuti dan bila memerlukan adanya
perubahan, harus didiskusikan/ dibahas bersama serta disetujui secara tertulis
oleh Pemberi Kerja/Direksi Pekerjaan.
Beberapa Peraturan Pemerintah dan Perundang-undangan yang digunakan
sebagai dasar acuan dalam pekerjaan Penyusunan Rencana Tindak Darurat
(Emergency Action Plan) Bendungan

Way Rarem, Bendungan

Way

Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok adalah sebagai


berikut :

Undang Undang Dasar 1945 pasal 33.

Undang Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

Undang Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-2

Laporan Pendahuluan

Undang Undang No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Undang Undang No.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran


Masyarakat Jasa Konstruksi.

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa


Konstruksi.

Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan


Pembinaan Jasa Konstruksi.

Peraturan Pemerintah, No. 37 Tahun 2010 tentang Konsepsi Keamanan


Bendungan.

Peraturan Perundang-undangan di bidang Lingkungan Hidup.

Peraturan Perundang-undangan antara lain P.P. 35 th 1991 tentang Sungai,


Keppres 55 th 1993 tentang Pembebasan Tanah dan Pemukiman dan lain
sebagainya.

Kepmen PU Nomor 72/PRT/1997, tentang Keamanan Bendungan.

Keputusan Ditjen SDA Nomor 257/KPTS/D/2011, tentang Pedoman Teknis


Konstruksi Bangunan Sipil, dan Klasifikasi Bahaya Bendungan.

Perda Terkait

II. Referensi

Pedoman Penyiapan Rencana Tindak Darurat, Keputusan Direktur Jenderal


Pengairan, Nomor 94/KPTS/A/1998, tanggal 30 Juli 1998, Departemen
Pekerjaan

Umum,

Direktorat

Jenderal

Pengairan,

Balai

Keamanan

Bendungan. Dimana substansi dari pedoman tersebut pada dasarnya adalah


merupakan tindak lanjut dari Permen PU Nomor 72/PRT/1997, yang bertujuan
menyediakan pedoman kepada para pemilik bendungan dalam rangka
menyiapkan panduan rencana tindak darurat untuk bendungan tertentu yang
mempunyai
didasarkan

klasifikasi
pada

bahaya
jarak

tinggi,
terhadap

yang

penentuan

bendungan

klasifikasinya
dan

tingkat

kepadatannya/densitas.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-3

Laporan Pendahuluan

Dam Safety Project, Guidelines for Downstream Hazard Clasification, Colenco


Power Consulting Ltd Association with PT. Gamma Epsilon, PT. Indah Karya,
PT. Kwarsa Hexagon, PT. Binatama Wirawredha Konsultan, June 1997.
Substansi dari panduan di atas adalah Memberikan arahan tentang tahapantahapan penysusunan Panduan RTD, metode dan software yang digunakan
dalam analisis, serta penysunan outline panduan

Pedoman Teknis Konstruksi dan Bangunan


Bendungan,

Keputusan

Direktur

Jenderal

Sipil,

Sumber

Klasifikasi
Daya

Air

Bahaya
Nomor

257/KPTS/D/2011, tanggal 30 Mei 2011. Pedoman klasifikasi terhadap bahaya


bendungan dalam lampiran keputusan ini adalah Klasifikasi dibagi menjadi 4
yaitu sangat tinggi , tinggi, sedang dan rendah.

Laporan Inspeksi Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak,


Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok, 2008.

Laporan tersebut

memuat hasil inspeksi terakhir yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai
terhadap Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok.

K. Mahmood and V. Yevjevich. 1975. Fort Collins, Colorado. USA.

Water

Resources Publications. Unsteady Flow in Open Channel. Volume I & II.


Referensi ini menyajikan teknik perhitungan dari model matematis unsteady
flow dengan menggunakan persamaan kekekalan masa dan kekekalan
momentum, dimana pemecahannya menggunakan teknik numeric Beda
Hingga/finite difference dan Matriks Jacobi.

Ven Te Chow. 1969. University of Illinois. USA. Open Channel Hydroulics.


Peggunaan referensi ini terutama ditujukan untuk mendapatkan angka
koefisien limpasan secara empiris yang akan diperbandingkan dengan record
yang ada di lapangan, serta untuk mendapatkan angka kekasaran Manning
pada main channel dan flood plain secara empiris pula.

Henderson. 1966. University of Canterbury, Christchurch, New Zealand.


Substansi

yang

dibutuhkan

dari

referensi

ini

adalah,

untuk

memperbandingkan hasil hidrograf banjir di setiap section yang telah dihitung


berdasarkan unsteady model, hasil diperbandingkan dengan persamaan St.
Venant yang disimplifikasikan, sebagai salah satu cara mengontrol hasil
perhitungan yang dilakukan dengan software ZhongXing-HY21 dan BOSS
DAMBRK.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-4

Laporan Pendahuluan

Ven Te Chow. 1981. University of Illinois. Handbook of Applied Hydrology.


Penggunaan

referensi

ini

untuk

menghitung

hujan

wilayah

yang

perhitungannya didasarkan pada hujan titik, dengan angka Faktor Reduksi


Area.

C.S. Desai. 1979. Virginia Polytechnic Institute and State University,


Blacksburg, Virginia. USA. Elementary Finite Element Method.

Dalam

Pemecahan

dengan

persamaan

Model

Matematis

Unsteady

Flow

menggunakan Metode Beda Hingga/Finite Difference, diperlukan weighting


factor secara vertical (time) dan secara horizontal (distance/jarak antar
section, dimana di dalam buku ini dilakukan dengan Teori Priezman).

Hidrologi untuk Pengairan, Ir. Suyono Sosrodarsono, Kensaku Takeda. Buku


Hidrologi Suyono digunakan sebagai referensi untuk melakukan penelusuran
banjir melalui waduk/storage routing, dalam rangka untuk mengetahui apakah
debit PMF mengalami overtopping atau tidak.

Fluid Mechanics for Civil Engineers, N. B Webber, S.I Edition. Referensi ini
digunakan untuk menguji kekentalan/viscositas air waduk, pengaruhnya
terhadap hidrograf outflow dari waduk.

SNI, SK-SNI, SKBI serta spesifikasi SII, JIS, ASTM, AASHO. Referensi yang
terkait dengan standard desain.

Design of Small Dam USBR, National Standard Flood Control DGWRD 1993.
Referensi untuk perhitungan PMF dengan menggunakan Metode Isohyet

Standard Perencanaan KP 01 sampai KP 06 Dit. Jend. Air 1986. Referensi


yang terkait dengan standard desain.

3.1.2. Sistematika Pelaksanaan Pekerjaan


Metode pelaksanaan diuraikan sebagai dasar dan tata cara pelaksanaan
pekerjaan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesalahan dan seluruh
kegiatan dapat dikoordinir dan dipantau dengan mudah. Untuk memudahkan
pembahasan metode pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rencana Tindak Darurat
(Emergency Action Plan) Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak,
Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok, maka lingkup pekerjaan
dikelompokkan menjadi 7 (tujuh) kelompok kegiatan sebagai berikut :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-5

Laporan Pendahuluan
A. Pekerjaan persiapan.
B. Tahap analisa awal.
C. Tahap pekerjaan survai rinci.
D. Tahap analisis.
E. Tahap penyusunan RTD.
F. Tahap penyusunan laporan.
G. Tahap diseminasi dan persentasi.

A.

Tahap Persiapan
Terdiri dari kegiatan :
1. Mobilisasi tenaga
Sesuai dengan kebutuhannya, pada tahap awal setelah ditandatanganinya
kontrak kerjasama antara PPK Direktorat Bina OP dengan PT. Dehas Inframedia
Karsa yang dimobilisasi pertama kali adalah Team Leader , TA. Hidrolika 1 dan
TA. Hidrologi, diikuti TA. Bendungan dan TA. Geodesi pada minggu ke-2 April.
Sedangkan tenaga ahli yang lain dimobilisasi sesuai kebutuhan, seperti di
jelaskan dalam Tabel Jadwal Penugasan Personil di Bab I.
2. Mobilisasi bahan
3. Mobilisasi alat, misalnya kendaraan, hardware, software, dll.
4. Inventarisasi kondisi sosial sosial ekonomi pada lokasi studi
5.

Peninjauan Lokasi Studi

6. Mobilisasi tenaga teknis ke lokasi studi guna persiapan pelaksanaan kegiatan


survai lapangan.

B.

Tahap Analisa Awal


1. Pengurusan ijin survai dan kelengkapan administrasi lainnya.
2. Pengumpulan data sekunder dan studi terdahulu, meliputi:
a.

Peta DEM skala 1 : 25.000

b.

Peta administrasi

c.

Peta tata guna lahan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-6

Laporan Pendahuluan
d.

Dokumen

DED

Bendungan

Way

Rarem,

Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ


Patok.
e.

Dokumen

OP

Bendungan

Way

Rarem,

Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ


Patok.
f.

Kabupaten dalam Angka

g.

Data hidrologi.

h.

Dokumen/studi terdahulu yang terkait.

3. Survai pendahuluan berupa orientasi lapangan, mulai waduk sampai dengan


wilayah hilir yang diperkirakan akan menerima dampak dari keruntuhan
Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan
Bendungan Situ Patok.
4. Kajian studi harus dilakukan secara rinci sebelum survai dilakukan agar
maksud, tujuan dan sasaran yang hendak dicapai oleh kegiatan penyusunan
RTD Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo,
dan Bendungan Situ Patok.
5. Analisa awal dan penetapan wilayah survai sesuai dengan hasil kajian
terhadap analisis awal keruntuhan bendungan. Dimana wilayah survai tersebut
dapat berkembang sesuai dengan hasil analisis keruntuhan bendungan yang
telah final (dam break analysis).

C.

Tahap Pekerjaan Survai Rinci


1. Pengukuran poligon batas genangan banjir di wilayah hilir waduk yang
diperkirakan akan terkena dampak banjir keruntuhan Bendungan Way Rarem,
Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok,
dengan dasar Peta Bakosurtanal skala 1 : 25.000.
2. Survai inventory fasilitas umum di wilayah hilir waduk yang diperkirakan
terkena resiko bencana keruntuhan bendungan, seperti misalnya jembatan,
bangunan air, fasilitas pendidikan, fasilitas umum dan lain-lain.
3. Pengukuran tachimetri waduk, untuk mengetahui hubungan antara elevasi
muka air waduk dengan luas area genangan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-7

Laporan Pendahuluan
4. Pengukuran bathimetri untuk mengetahui hubungan antara elevasi muka air
waduk dengan volume tampungan waduk terkini.
5. Survai Sosek dilakukan terhadap penduduk di wilayah Penduduk Terkena
Risiko (PenRris), misalnya jumlah jiwa/KK, usia, jenis kelamin, harta
kepemilikan dan lain-lain, dimana wilayah PenRis tersebut mengacu pada peta
genangan banjir hasil analisis keruntuhan bendungan.
6. Survey kelembagaan yang terkait dengan lembaga pengelola bendungan,
lembaga pengelola waduk (irigasi), dan lembaga penanggulangan bencana
daerah, serta survey ketersediaan alat yang terkait dengan kegiatan evakuasi
dan pengungsian.

D.

Tahap Analisis
1. Analisis hidrologi untuk menentukan besaran hujan PMP dan banjir rancangan
PMF, baik dengan kaidah Hersfield maupun Isohyet, dengan menggunakan
data dasar hujan harian maksimum tahunan yang terdapat di dalam dan di
sekitar DTA Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
2. Kajian OP Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok, bertujuan melakukan penelaahan operasi
instrumen bendungan, khususnya yang terkait dengan banjir.
3. Penyiapan input data yang terkait dengan program Dam Break, yang terdiri
dari hidrograf inflow PMF, lengkung kapasitas waduk, koordinat dan dimensi
hidrostructure di sepanjang alur sungai, kondisi batas bawah hilir waduk
(downstream boundary), koefisien kekasaran Manning, dan lain-lain.
4. Analisis DBA dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak DBA, untuk
mengetahui elevasi, kedalaman, kecepatan, waktu kedatangan banjir dan
waktu surut banjir di setiap lokasi terpilih (interset poin) di wilayah hilir waduk.
5. Peta Banjir yang dihasilkan bertujuan untuk mengetahui wilayah mana saja
yang terkena resiko banjir serta berapa kedalaman, kecepatan dan durasi
banjirnya di masing-masing wilayah.
6. Penetapan klasifikasi hazard terhadap wilayah yang masuk katagori PenRis.
7. Menghitung nilai kerugian yang ditimbulkan oleh banjir di setiap wilayah
genangan banjir.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-8

Laporan Pendahuluan
8. Menetapkan jalur evakuasi dan area pengungsian yang dipastikan aman
terhadap bencana banjir yang ditimbulkan oleh keruntuhan Bendungan Way
Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ
Patok.
9. Menghitung biaya evakuasi dan pengungsian.

E.

Tahap Penyusunan Konsep Panduan RTD


1. Mendiskripsikan

organisasi

yang

terkait

dengan

bencana

keruntuhan

bendungan, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan


Satuan Pengelola Bendungan (SPB).
2. Mendiskripsikan tugas, fungsi dan tanggung jawab masing-masing anggota
organisasi terkait dengan bahaya keruntuhan bendungan dan bencana banjir.
3. Mendiskripsikan nama, alamat dan nomor telpon dari masing-masing anggota
organisasi yang bertanggung jawab terhadap bahaya keruntuhan bendungan.
4. Mendiskripsikan tata upaya evakuasi, pengungsian, pengakhiran keadaan
darurat, deevakuasi dan rehabilitasi sesuai dengan undang-undang dan
peraturan yang berlaku.
5. Mendiskripsikan kebutuhan sarana prasarana evakuasi dan pengungsian.

F.

Tahap Penyusunan Laporan


1. Laporan RMK diserahkan 2 minggu setelah penandatanganan kontrak
kerjasama yaitu pada tanggal 4 April 2014, sebanyak 10 copy.
2. Laporan Pendahuluan diserahkan 1 bulan setelah penandatanganan kontak
kerjasama yaitu tanggal 21 April 2014, sebanyak 10 copy dan didiskusikan
dengan Pengguna Jasa.
3. Laporan Bulanan sebanyak 5 copy diserahkan setiap tanggal 21 setiap
bulannya.
4. Laporan Antara sebayak 10 copy diserahkan pada awal bulan Agustus 2014
5. Laporan Hasil Pengukuran Topografi
6. Laporan Hasil Pengukuran Bathimetri dan Tachimetri
7. Laporan Hasil Analisis DBA dan Hazard Klasifikasi.
8. Laboran Peta Banjir Ukuran A1.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-9

Laporan Pendahuluan
9. Laboran Peta Banjir Ukuran A3.
10. Buku Panduan RTD
11. Konsep Laporan Akhir sebanyak 10 copy untuk didiskusikan dengan Pengguna
Jasa 3 minggu sebelum kontrak berakhir, yaitu awal Nopember 2014.
12. Laporan Utama merupakan hasil perbaikan dari Konsep Laporan Akhir dan
diserahkan pada saat kontrak berakhir sebanyak 10 copy.
13. Laporan Ringkas
14. Soft copy dari seluruh laporan yang telah dibuat.
G.

Tahap Persentasi dan Diseminasi


1. Persentasi Laporan Pendahuluan
2. Persentasi Laporan Antara.
3. Persentasi Konsep Laporan Akhir.
4. Konsultasi dan Sosialisasi Panduan RTD

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-10

Laporan Pendahuluan
Gambar 3.1. Bagan Alir Rencana Kegiatan Paket BOP-CS-08

MULAI

(SP)LIHAT TABEL

A1(1-7)

A2

A3

A2 SP1-4

MOBILISASI
PERSONIL

A3 SP1-7

MOBILISASI
BAHAN/ATK

(SD)LIHAT TABEL

MOBILISASI
ALAT
A3 SD1-7

A2 SD1-4

TENAGA AHLI
T. SUB PROF
T. PENDUKUNG

BASE CAMP
KOMP./N.BOOK/ PRINTER/
PLOTER/KAMERA

BAHAN /
ATK
PETA DEM

MOBIL
SPD MOTOR
PERALATAN SURVAI
SOFTWARE DBA
TIDAK

TIDAK

TIDAK

D
S
A
2
YA

D
S
A
1
YA

BSP1-13
PENGUMPULAN DATA
DAN ANALISA AWAL
BSD1-3

D
DSP1-8

C1 SP1-4
PENYUSUNAN LAP.
BLN RUTIN SETIAP
C SD1-3

DRAFT LAP.
PENDAHULUA
N
TIDAK

D
S
A
3YA

D
S
B
YA

PRESENTASI LAPORAN
PENDAHULUAN

LAP.
BULANAN KE
1 - KE 7

TIDAK

DS
C
YA

D SD
LAPORAN
PENDAHULUAN

TIDAK

D
S
D
YA

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-11

Laporan Pendahuluan

I
E1 SP1-10

F SP1-3
PENGUKURAN
BATHIMETRI &
TACHIMETRI

SURVAI
INVENTORI DI
HILIR
F SD

E1 SD1-2

ANALISIS
HIDROLOGI
G SD1-3

SKEMA
PENGALIR
AN

PETA DAERAH
GENANGAN
WADUK
VOL WADUK

G SP1-6

Q1000 ,
PMF ,
KAP.
TIDAKCHANEL

TIDAK

TIDAK

D
S
F YA

D
S
E
1 YA

D
S
G
YA

H SP1-10

ANALISIS
HIDROLIKA/ DBA
H SD1-2
GAMBA
RAN
BANJIR
TIDAK

E2

YA
E2 SP1-9

D
S
H

PENGUKURAN
POLIGON BATAS
BANJIR
E2 SD1-3

I SP1-8
SURVAI SOSEK
I SD1-3
HAZARD
KLASIF.
ANALISA
SOSEK
TIDAK
ANAL. KERUGIAN

PEMASANGAN
PATOK BM
KOREKSI PETA
BANJIR
TIDAK

D
S
I

D
S
E
2

YA

II

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-12

Laporan Pendahuluan

II
K SP1-8

MENYUSUN RTD DAN


DISKUSI

PENY. LAP.
ANTARA
J SD

K SD

DRAFT RTD

LAPORAN
ANTARA
TIDAK

TIDAK

TABEL A1(17)

LL

PRESENTASI
LAP. ANTARA

KESEPAKATAN
PENGELOLA DAN
PEMDA

A1.3 SP1-10
A1.3 SD1-4

A1.5 SP1-10
A1.5 SD1-4

S
YA

A1.2 SP1-11
A1.2 SD1-5

A1.4 SP1-10
A1.4 SD1-4

L SP1-9

D
S
K

KONSULTASI RTD DI
PEMDA TERKAIT
L SD1-2

A1.1 SP1-11
A1.1 SD1-5

M SP
PENYUSUNAN DRAFT
LAPORAN AKHIR
M SD
DRAFT
LAPORAN
AKHIR

PENGESAHAN RTD
BENDUNGAN

J SP1-4

TIDAK

N SP1-10

DS
MYA

SOSIALISASI RTD

A1.6 SP1-10
A1.6 SD1-4
A1.7 SP1-10
A1.7 SD1-4

III

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-13

Laporan Pendahuluan

III
O

O SP1-8

PRESENTASI DRAFT
LAPORAN AKHIR
O SD
PERBAIKAN LAPORAN

TIDAK
DS
O

YA

P SP1-17

PENYERAH OUTPUT /
KELUARAN
P SD1-17

OUTPUT LENGKAP
SESUAI KAK
TIDAK
YA

DS
P

SELESAI

3.2

METODOLOGI

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-14

Laporan Pendahuluan
Pekerjaan persiapan merupakan langkah awal dari semua kegiatan yang
dijadwalkan. Dalam persiapan pekerjaan ini secara garis besar ada 3

kelompok

kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai penunjang kelancaraan pelaksanaan


pekerjaan pokok yaitu :
I.

Mobilisasi personil, bahan dan alat.

II. Persiapan administrasi


III. Pengumpulan data sekunder yang terkait dengan studi (data teknis Bendungan
Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ
Patok, data hasil inspeksi Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak,
Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok, dan peta topografi digital skala 1 :
25.000)
IV. Penyiapan software DBA dan penyiapan hardware pendukungnya.

3.2.1 Persiapan Administratif


Yang dimaksud kegiatan Persiapan Administratif ialah kegiatan persiapan yang
berhubungan dengan penyiapan surat surat tugas, penyiapan dan mobilisasi
personil, penyiapan dan mobilisasi peralatan serta kegiatan lainnya yang berhubungan
dengan keperluan pelaksanaan pekerjaan pokok.
1.

Pengurusan Surat Menyurat Administrasi


Setelah ditandatanganinya kontrak kerjasama, konsultan menyelesaikan
syarat-syarat administrasi antara lain :
Surat jaminan penerbitan Uang Muka dari lembaga keuangan yang diakui
pemerintah (BI).
Surat tugas personil dan peralatan

2.

Penyiapan Personil dan Peralatan


Pembuatan jadwal keterlibatan personil sesuai dengan fungsi dan tanggung
jawabnya. Dengan jumlah dan jadwal personil tersebut mampu menyelesaikan
tidap tahapan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.
Penyusunan jadwal penggunaan peralatan sesuai dengan fungsi dan
ketelitiannya. Dengan jumlah dan jadwal peralatan tersebut akan menunjang
kepada terselesaikannya pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-15

Laporan Pendahuluan
3.

Penyiapan Kantor Lapangan


Dalam penyelesaian pekerjaan ini, kegiatan lapangan memerlukan waktu
yang cukup lama, untuk itu ditempatkan kantor proyek di lapangan dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Kantor lapangan ditempatkan pada daerah yang strategis.
Jika memungkinkan letak kantor lapangan dekat dengan jalan raya yang
dilewati kendaraan umum.
Tersedianya sarana komunikasi yang baik, khususunya dari sisi kualitas
transmisi, agar baik hubungan telepon, fax maupun surat elektronik dapat
berjalan dengan lancar.
Tersedianya penerangan yang baik.
Tersedianya sarana air bersih dan MCK yang baik.
Dapat menampung seluruh personil yang ditugaskan di proyek.
Berada pada lingkungan yang aman dan nyaman.

3.2.2 Pengumpulan Data Sekunder


Untuk

kebutuhan

kegiatan

Penyusunan

Rencana

Tindak

Darurat

(Emergency Action Plan) Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak,


Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok, dibutuhkan data sekunder sebagai
penunjang. Data yang harus dikumpulkan tersebut antara lain meliputi :
Data Hidroklimatologi yang ada di wilayah sekitar DTA Bendungan Way Rarem,
Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
Data Teknis Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
Dokumen inspeksi Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak,
Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
Dokumen OP Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
Peta topografi digital Bakosurtanal skala 1 : 25.000.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-16

Laporan Pendahuluan
Laporanlaporan studi terdahulu di wilayah kajian yang berhubungan dengan
analisis yang akan dilakukan.
Penyiapan software dan hardware yang akan digunakan untuk mendukung
rencana analisa terhadap simulasi keruntuhan bendungan.
Setelah terkumpul data data tersebut dikaji dan dievaluasi serta dianalisa
sesuai dengan aturan yang berlaku.

3.2.3 Evaluasi Data Sekunder


Data sekunder yang telah diperoleh tidak semuanya akan bisa memberikan
informasi yang baik bagi kegiatan Penyusunan Rencana Tindak Darurat
(Emergency Action Plan) Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak,
Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok

ini, untuk itu perlu dievaluasi

terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan studi. Untuk mengevaluasi data
sekunder akan dilakukan dengan beberapa metode statistik yang sudah lazim dipakai
dalam kegiatan studi, maupun melakukan uji validitas berdasarkan kondisi empiris
maupun acuan dari para Pakar.

3.2.4 Analisa Data


Berdasarkan data lapangan yang telah dikumpulkan dan telah dilakukan analisa
pendahuluan, selanjutnya data tersebut dianalisa secara lebih terinci.
1. Validasi dan perbaikan peta topografi wilayah lembah di hilir bendungan,
dimaksudkan agar Peta DEM yang didapat dari Bakosurtanal telah valid dan siap
digunakan sebagai salah satu faktor input menjalankan software dambreak, yaitu
Xong Zhing HY21.
2. Analisa sosial ekonomi kependudukan di wilayah hilir bendungan dan sekitarnya.
3. Analisa hidrologi untuk menetapkan debit banjir rancangan berbagai kala ulang dan
debit banjir rancangan PMF.
4. Kaji ulang lengkung kapasitas waduk.
5. Analisa penelusuran banjir melalui waduk untuk menetapkan apakah banjir
rancangan PMF overtopping atau tidak, jika tidak maka analisa keruntuhan
bendungan akan disimulasikan diakibatkan oleh piping.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-17

Laporan Pendahuluan
6. Analisa awal keruntuhan bendungan yang hasilnya akan digunakan sebagai acuan
untuk pengukuran topografi wilayah genangan di lembah hilir bendungan.

3.2.5 Survey Lapangan (Data Primer)


1. Survey terhadap wilayah kajian
2. Survey kondisi sosial ekonomi dan sarana prasarana umum, khususnya di wilayah
hilir bendungan.
3. Survey pengukuran poligon batas genangan banjir wilayah lembah hilir bendungan
serta survey hidro inventori di sepanjang alur sungai wilayah hilir waduk.
Untuk dapat mengenal lebih jauh tentang kondisi lokasi daerah kajian, perlu
dilakukan peninjauan lapangan pendahuluan. Dalam melaksanakan peninjauan
pendahuluan ini, sekaligus dilakukan pula pemilihan dan penentuan lokasi daerah yang
akan distudi atau menindaklanjuti hasil simulasi awal keruntuhan bendungan dengan
menggunakan peta topografi dasar 1 : 25.000.
Selanjutnya dari hasil peninjauan lapangan ini dapat disusun Konsep Laporan
Pendahuluan yang berisikan uraian tentang kondisi lokasi pekerjaan, metode
pelaksanaan dan rencana kerja konsultan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai
dengan KAK. Sebelum didefinitifkan laporan pendahuluan ini terlebih dahulu
didiskusikan dengan Tim Teknis untuk mendapat koreksi dan penyempurnaan serta
persetujuan dari Tim Teknis yang ditunjuk.
a. Pengenalan lokasi studi
Orientasi dan survey lapangan pendahuluan dilakukan bersama oleh Tim Teknis
dan Tim Konsultan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk :
a) Mengidentifikasikan batas daerah survey mulai hulu sampai bagian hilir

di

sepanjang sungai di hilir waduk sampai pertemuannya dengan sungai/laut,


dengan lebar daerah terkena dampak ditentukan berdasarkan simulasi awal
keruntuhan Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Tengkorak, Bendungan
Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
b) Bersama data sekunder lainnya yang telah terkumpul, hasil orientasi dan survey
lapangan pendahuluan dianalisis dan digunakan sebagai dasar pelaksanaan
survey lanjutan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-18

Laporan Pendahuluan
b. Survey Hidro Inventori
Survey hidro inventori dimaksudkan untuk mengetahui secara detail jenis dan
dimensi hidro struktur yang ada di sepanjang sungai sungai di hilir bendungan,
dalam rangka analisis hidrolis simulasi keruntuhan bendungan di wilayah hilir.
c. Simulasi Uji Coba Software Analisis Awal Keruntuhan Bendungan
Pada tahap ini diharapkan, Konsultan dapat mempunyai gambaran sebaran dan
luas genangan yang akan ditimbulkan oleh keruntuhan Bendungan Way Rarem,
Bendungan Way Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok.
Dimana luas dan lebar genangan hasil simulasi tersebut akan digunakan sebagai
acuan untuk survey pengukuran poligon terhadap batas genangan banjir di wilayah
hilir Waduk. Pada simulasi awal tersebut, disamping memanfaatkan data teknis
bendungan, juga menggunakan peta dasar topografi DEM skala 1 : 25.000. Hasil
identifikasi awal terhadap keberadaan bangunan air ataupun bangunan prasarana di
sepanjang wilayah hilir waduk juga digunakan sebagai input pada simulasi tersebut.
Hal tersebut tentu bersifat sementara sampai dilakukan deliniasi ulang terhadap
garis kontur DEM yang benar di wilayah lembah hilir waduk.

3.2.6 Pengukuran Topografi/Poligon Batas Genangan Banjir


Pengukuran ini dimaksudkan untuk mendapatkan data garis kontur batas
genangan yang benar yang akan dijadikan dasar bagi proses deliniasi garis kontur
Peta DEM yang berasal dari Bakosurtanal. Dimana data ini selanjutnya akan dijadikan
sebagai dasar untuk mengetahui volume tampungan sungai maupun volume
tampungan lembah di hilir waduk yang sangat berpengaruh pada hydrograph banjir di
setiap lokasi terpilih (interest point) yang dianalisis.
Pengukuran posisi setiap titik terpilih dilakukan dengan bantuan alat GPS.
Konsep dasar penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi jarak, yaitu dengan
pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah
diketahui. Secara vektor, prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS diperlihatkan
pada gambar berikut di bawah ini.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-19

Laporan Pendahuluan

Gambar 3.2. Prinsip Dasar Penentuan Posisi Dengan GPS


Pada pengamatan dengan GPS, yang dapat diukur adalah jarak antara
pengamat dengan satelit (bukan vektornya), agar posisi pengamat dapat ditentukan
maka dilakukan pengamatan terhadap beberapa satelit sekaligus secara simultan.
Gambar berikut adalah ilustrasi prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS.

Gambar 3.3. Prinsip Dasar Penentuan Posisi Dengan GPS

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-20

Laporan Pendahuluan
Secara

garis

besar

metode

penentuan

posisi

dengan

GPS

dapat

dikelompokkan atas metode yaitu absolute dan defferensial. Penentuan posisi secara
absolut umumnya disebut point positioning adalah metode penentuan posisi secara
instan dengan menggunakan satu receiver dan tipe navigasi, metode ini tidak
dimaksudkan untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut ketelitian posisi yang tinggi.
Umumnya digunakan untuk pelayanan navigasi. Penentuan posisi secara defferensial,
posisi suatu titik ditentukan relatif terhadap titik lainnya yang telah diketahui
koordinatnya. Penentuan posisi secara differensial hanya dapat dilakukan minimal
menggunakan dua receiver dan tipe pemetaan ataupun tipe geodetik.
Penentuan posisi dengan menggunakan GPS memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.

Posisi yang diberikan adalah posisi 3-D, yaitu (X,Y,Z) atau (L,B,H)

b.

Tinggi yang diberikan oleh GPS adalah tinggi ellipsoid

c.

Datum dan posisi yang diperoleh adalah WGS (World Geodetic Systems) 1984
yang menggunakan ellipsoid referensi GRS 1980

d.

Ketelitian posisi yang diperoleh tergantung pada metode penentuan posisi,


geometri satelit, tingkat ketelitian data dan metode pengolahan data.

e.

Penentuan posisi dapat dilakukan dengan beberapa metode absolute positioning


dan differential positioning.

f.

Posisi titik dapat ditentukan terhadap pusat massa bumi ataupun terhadap titik
lainnya yang telah diketahui koordinatnya.

g.

Spektrum ketelitian posisi yang diberikan berkisar dan sangat teliti (orde : mm)
sampai kurang teliti (orde : puluhan meter).

Gambar 3.4. Posisi Titik P Dalam Sistem Koordinat GPS

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-21

Laporan Pendahuluan
GPS telah banyak diaplikasikan, terutama di Amerika Utara, Eropa, Australia
dan Jepang, untuk keperluan-keperluan dan proyekproyek yang memerlukan informasi
mengenai posisi. Saat mi GPS telah banyak digunakan di Asia, Afrika, termasuk juga di
Indonesia (Abidin, 1995).
Survey topografi dimaksudkan untuk mengetahui letak dari daerah studi secara
topografi (meliputi koordinat dan elevasi), hal ini bertujuan untuk mempermudah
mengidentifikasi daerah studi.
Pelaksanaan survey topografi adalah dengan memasang BM (Branch Mark),
jika dimungkinkan pemberian inisialisasi BM tersebut mengacu (diikatkan) pada
referensi yang sudah baku secara nasional yaitu TTG ( titik tetap geodesi) serta
membuat peta situasi pada daerah yang distudi.
Pada garis besarnya lingkup pekerjaan survey topografi adalah :

a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Lapangan
c. Inventarisasi atau pemasangan Benchmark (BM), Pemasangan CP dan patokpatok.

d. Pengukuran kerangka dasar horizontal, vertikal, dan situasi


e. Pekerjaan perhitungan dan penggambaran
f. Perhitungan draft di lapangan perhitungan definitif
g. Penggambaran peta situasi
h. Pekerjaan pembuatan Laporan.
Spesifikasi Teknis Pengukuran Topografi
1. Pemasangan Titik Tetap (BM), CP dan patok
Ukuran BM yang adalah 1,00 m x 0,20 m x 0,20 m, terbuat dari campuran pasir,
split dan semen PC dengan perbandingan ukuran (1 : 2 : 3). Ditengahnya dipasang
rangka besi, diatasnya dipasang baut serta diberi kode nomor, BM ditanam di
dalam tanah, muncul + 20 cm dipermukaan tanah.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-22

Laporan Pendahuluan
BM tersebut di atas akan digunakan sebagai referensi pengukuran yang dilakukan,
koordinat BM diukur dengan mengikatkan pada titik referensi yang ada atas
persetujuan direksi dengan menggunakan Geodetic GPS.
2. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam pemasangan BM adalah sebagai berikut :
a. Dipasang pada tempat yang aman dan tanahnya stabil.
b. Diusahakan 2 BM tersebut saling terlihat.
c. Mudah dicari.
d. Tidak terletak dibawah jaringan listrik tegangan tinggi, tidak tertutup pepohonan
atau rumah, agar pengamatan GPS tidak terganggu.
Pengikatan Koordinat GPS
Pengikatan koordianat GPS dilakukan untuk menyatukan sistem koordinat lokasi
yang dipetakan / diukur dengan sistem koordinat Peta Rupa Bumi (UTM)
1. Metode Pengamatan GPS
Pada dasarnya pengamatan GPS ditujukan untuk mengetahui posisi relatif dari
titik-titik tertentu dipermukaan bumi dengan cara menentukan jarak baseline
antara 2 titik yang direferensikan terhadap obyek yang sama (dalam hal ini
satelit) dan diamati pada waktu yang bersamaan.
Kegiatan pengamatan dilakukan secara bersamaan untuk beberapa titik
(seseuai dengan jumlah receiver) dan dilakukan dengan kecepatan dan epoch
yang sama.
Lama waktu pengamatan sesuai dengan peralatan yang digunakan dapat
dilihat pada Tabel III-1.
Tabel III-1. Pengamatan GPS
Panjang

Metode

Lama

Lama Pengamatan

Baseline

Pengamatan

Pengamatan (L1)

(L1/L2)

0 km 5 km

Rapid static

30 menit

15 menit

5 km 10 km

Rapid static

50 menit

25 menit

10 km 30 km

Static

90 menit

60 menit

30 km 50 km

Static

100 menit

120 menit

> 5 km

Static

180 menit

No

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-23

Laporan Pendahuluan
Adapun syarat pengamatan yang harus dipenuhi adalah :

Tersedia minimal 6 buah satelit yang diamati

GDOP < 8

Interval antar epoch 15 detik

Tidak terhalang oleh benda-benda lain (obstruction) atau benda-benda


reflector

Kondisi atmosfer dan ionosfer sedang

Menggunakan 3 atau 4 receiver GPS atau lebih secara bersamaan dalam


satu session dengan merk dan jenis receiver yang sama.

Pada pelaksanaan pengamatan, akan didapat minimal 1 common point


antara 2 session pengamatan.

Jaringan kontrol GPS diusahakan berbentuk segitiga, bila digunakan 3


buah receiver maka pada tiap session akan diperoleh 2 baseline non
trivial yang akan digunakan pada saat adjustment (peralatan)

Pada awal pengukuran, ketiga receiver diset pada 3 lokasi dimana salah
satu dari ketiga tugu tersebut merupakan titik referensi (titik referensi
jaringan Nasional) yang mempunyai orde lebih tinggi, dimana harga
koordinat titik Jaringan Nasional tersebut akan dimasukkan sebagai
koordinat awal.

2. Pengolahan Data GPS


Secara garis besar, pengolahan data GPS terdiri dari 2 bagian yaitu
pengolahan data baselaine (baseline processing) dan peralatan hasil baseline
(adjustment)

Baseline processing
Baseline

processing

dilaksanakan

untuk

setiap

baseline

(jarak)

hasil

pengamatan. Pemrosesan data dimulai dari titik awal menuju titik berikutnya
dalam 1 session sesuai dengan arah pengamatan, dengan memberikan harga
pendekatan untuk vektor baseline, kemudian dilakukan proses triplle different
phases dengan pengkoreksian cycle slip

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-24

Laporan Pendahuluan
Dengan memasukkan parameter-parameter, tersebut diatas, proses dilakukan
berulang-ulang untuk mencapai harga baseline yang resolve (yang paling baik
dan memenuhi persyaratan)
Peralatan (adjustment)
Perataan hasil GPS pada umumnya menggunakan prinsip perataan kwadrat
terkecil.
Pada proses ini, data-data baseline yang telah di resolve diolah secara simultan
oleh komputer dengan batasan-batasan tertentu sehingga dicapai hasil yang
memenuhi persyaratan ketelitian. Proses perataan jaringan akan menggunakan
perangkat pemroses data.
Hasil perataan antara lain :
Daftar koordinat hasil perataan
Daftar baseline hasil perataan
Variance ratio pada residual setelah perataan
Analisa statistik mengenai residual baseline
Matrik varian-kovarian
Ellips kesalahan posisi horizontal relatif maupun absolut

3. Transformasi Koordinat
Untuk dapat menyajikan koordinat hasil GPS/Geodetik (, , h) kedalam lembar
peta diperlukan koordiant mendatar, untuk itu akan dilakukan transformasi
koordinat dari koordinat sistem GPS ke bidang Proyeksi (bidang peta) dengan
parameter sebagai berikut :
Sistem proyeksi

: UTM

Ellipsoid

: WGS 84

Lebar zone

: 60

Skala faktor pada meridian control

: 0,9996

Bagan alir pengolahan data dapat dilihat pada Gambar 3.5, berikut ini.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-25

Laporan Pendahuluan
Data
Baseline-1

Data
Baseline-2

Penentuan Vektor
BL-1

Penentuan Vektor
BL-2

Data
Baseline-i

Penentuan Vektor
BL-i

Data
Baseline-n

Penentuan Vektor
BL-n

KONTROL KUALITAS DAN PENGECEKAN

PERATAAN JARINGAN

KOORDINAT DALAM SISTIM


WGS-84

TRANSFORMASI KOORDINAT
DAN PROYEK PETA

GEOGRAFIS

UTM

Gambar 3.5 Bagan Alir Pengolahan Data


GPS
1. Pembuatan patok-patok Poligon
Konsultan akan memasang patok-patok poligon dari kayu dolken diameter 8 cm,
panjang 60 cm untuk dipasang sesuai dengan kondisi lokasi. Patok-patok ini
dipasang pada tempat yang aman dan mudah dicari, pada ujung patok kayu
tersebut dipasang deposing pack berkepala bulat serta diberi kode/ nomor.

2. Pengukuran Kerangka Horisontal


Pengukuran Kerangka Kontrol Horisontal dilakukan dengan metode poligon
tertutup. Poligon utama harus berupa loop/kring yang mengelilingi areal survei yang
akan ditetapkan, sedang untuk poligon cabang merupakan poligon terikat
sempurna pada titik-titik poligon utama.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-26

Laporan Pendahuluan
Alat Ukur yang digunakan untuk pengukuran Poligon Utama :
Pengukuran sudut menggunakan alat ukur Theodolit

T2 atau yang sejenis

( ketelitian 1)
Pengukuran jarak menggunakan EDM (Electronic Distance Meter)
Perlengkapan penunjang lain seperti prisma/ reflektor, handy talky, dll

Pengukuran Poligon utama dilakukan dengan metode pengukuran berikut :


Sudut Horisontal Poligon diukur minimal 1 (satu) seri rangkap (4 besaran sudut
B LB LB B ), selisih sudut hasil pembacaan tidak boleh lebih dari 5 detik.
Sudut yang dipakai untuk hitungan adalah hasil rata-ratanya
Pengukuran jarak (dengan EDM) maksimum adalah 100 m, pengukuran jarak
akan dilaksanakan kemuka dan kebelakang, masing-masing akan dibaca
minimal 5 (lima) kali display.
Kesalahan penutup sudut tidak boleh lebih dari 10N, dengan N adalah jumlah
titik poligon.
Kesalahan linier jarak tidak boleh melebihi 1/10.000
Alat Ukur yang digunakan untuk pengukuran Poligon cabang :
Pengukuran sudut horisontal menggunakan Theodolit T2 atau yang sejenis
Pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan meetband dan dicek secara
optis.

Pengukuran Poligon cabang dilakukan dengan metode pengukuran

sebagai

berikut :
Sudut Horisontal Poligon diukur minimal 1 (satu) seri ( 2 besaran sudut B LB
). Sudut yang dipakai untuk hitungan adalah hasil rata-ratanya
Jarak antar titik poligon maksimum adalah 100 m, pengukuran jarak dilakukan 2
kali dan dicek secara optis.
Kesalahan linier jarak tidak boleh melebihi 1/2.500

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-27

Laporan Pendahuluan

AB

AC

A
C

Gambar 3.6 Pengukuran sudut antar dua patok

3. Pengukuran Beda Tinggi


Pengukuran Beda Tinggi (Levelling) dilakukan untuk mendapatkan tinggi BM dan
titik-titik poligon dengan mengikatkan titik referensi tinggi yang telah disepakati oleh
Pemberi Tugas. Pengukuran Beda Tinggi ( Levelling ) dilakukan sebagai berikut :
Alat yang digunakan adalah Automatic Level ( seperti Wild NAK-2, Zeiss NI 2
atau sejenisnya)
Bak Ukur dilengkapi dengan nivo bak
Pengukuran dilakukan pada jalur poligon utama dan poligon cabang, dan
merupakan kring tertutup
Sebelum pengukuran dilaksanakan, dilakukan pengecekan alat dengan
pengamatan garis bidik untuk meyakinkan garis bidik sejajar garis arah nivo
Pembacaan benang dilakukan lengkap (benang tengah, benang atas dan
benang bawah).
Pengukuran setiap slag dilakukan double stand dan setiap seksi dilakukan
pengukuran pergi-pulang.
Jarak bidik dari alat ke rambu maksimum 50 m
Posisi alat setiap slag diatur sedemikian rupa sehingga berada pada jarak yang
hampir sama antara rambu muka dan rambu belakang, hal ini untuk

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-28

Laporan Pendahuluan
menghindarkan kesalahan sistematis yang diakibatkan karena garis bidik
tidak sejajar dengan garis arah nivo.
Untuk rambu panjang 3,00 m, pembacaan benang yaitu antara 0,25 m dan 2,74
m.
Toleransi salah penutup tinggi tidak boleh lebih dari 10D mm, dengan D
adalah panjang seksi pengukuran dalam km.

Slag 2
Slag 1
b1

m2
1

b2
m1

Bidang
Referensi
d2

d1

Gambar 3.7 Pengukuran Beda


Tinggi
4. Pengukuran Azimut Matahari
Pengukuran azimuth matahari dilakukan untuk menentukan azimuth awal hitungan
poligon dan mengontrol hasil pengukuran sudut. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan alat ukur Theodolith T2 dan prisma Roellof dan menggunakan metode
tinggi matahari.
Jika pada penentuan titik kontrol (BM) di lokasi sudah menggunakan pengamatan
dengan Geodetic GPS, maka azimuth awal atau azimut antara 2 (dua) BM tersebut
sudah bisa didapatkan.
Tetapi jika azimut awal pengukuran belum didapatkan, maka bisa dilakukan
penentuan azimut dengan pengamatan matahari (metode tinggi matahari) sebagai
berikut :
Pengamatan azimut matahari dilakukan untuk mendapatkan arah utara Geografis
yang akan digunakan sebagai referensi arah pengukuran serta untuk mengecek hasil
ukuran sudut poligon. Pengamatan dilakukan sebanyak 4 (empat) seri rangkap ( 4 B

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-29

Laporan Pendahuluan
dan 4 LB ) pada waktu pagi dan sore, hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kesalahan sistematis karena kesalahan interpolasi lintang pengamatan.
Hitungan azimut matahari dilakukan dengan menggunakan metoda Tinggi
Matahari, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

AM

90-d

Gr

(80-)

M
(HM)

AM
Z

AS

90-h=z
M

S
(HS)
S

Gambar 3.8 Penentuan Sudut


Alfa
Azimut dari arah titik pengamat ke titik sasaran adalah : AS = Am +
Sudut adalah selisih bacaan lingkaran horisontal theodolit ke sasaran S, yaitu
HS dan bacaan sewaktu membidik matahari M, yaitu HM :
= HS - HM
Azimut matahari atau sudut A dari segitiga KU-M-Z dapat ditentukan bila diketahui
3 (tiga) unsur dari segitiga astronomi. 3 (tiga) unsur segitiga astronomis yang
digunakan untuk perhitungan adalah (90 - ), (90 - ) dan (90 - h). Rumus dasar yang
digunakan pada metode ini adalah sebagai berikut :
cos A =

sin sin . sinh


cos . sinh

Dimana :

Azimut Matahari

Lintang Pengamat (interpolasi peta)

Deklinasi dari tabel)

Heling (data ukuran)

Alat yang dipergunakan adalah :


Theodolite Wild T-2 (atau sejenis)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-30

Laporan Pendahuluan
Prisma Rouloff
Tabel deklinasi matahari terbaru
Jam atau stopwatch
5. Perhitungan dan Penggambaran
Perhitungan data lapangan dilakukan langsung dilapangan dengan menggunakan
Komputer. Metode perhitungan poligon dihitung dengan menggunakan Metode
Bowditch, sedangkan perhitungan beda tinggi menggunakan metode perataan
sederhana. Detail situasi akan dihitung dengan menggunakan rumus Tachymetri.
Rumus untuk perhitungan tinggi sistim Tachymetri adalah sebagai berikut :
D

100 x (BA-BB) x (sin Z)2

HB = HA + Ti + D . tan (90-Z) BT
Dimana

HA = Tinggi titik A
HB = Tinggi titik B
BA = Benang Atas
BT = Benang Tengah
BB = Benang Bawah
Z

= Bacaan sudut vertikal T-0

Semua prosesing penggambaran dilakukan dengan menggunakan program


komputer Softdesk 8/Autocad versi 14. Sistim koordinat menggunakan sesuai
dengan sistim peta yang sudah ada atau menurut petunjuk pemberi tugas.
Penggambaran dilakukan diatas kertas ukuran A1.
Seluruh hasil perhitungan sebelum digambar harus terlebih dahulu diperiksa dan
disetujui Direksi.
6. Produk yang harus diserahkan untuk kegiatan pengukuran topografi.
Pada akhir pekerjaan selesai dibuatkan laporan yang merupakan ringkasan dari
hasil seluruh pekerjaan.
Dokumentasi dimaksudkan untuk mendapatkan antara lain mengenai kondisi
medan di lokasi pekerjaan serta proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-31

Laporan Pendahuluan
Foto-foto

dokumentasi

diambil

pada

objek-objek

yang

penting

yang

diperkirakan akan banyak mendukung dalam pemikiran desain.


Pengambilan foto sedemikian rupa sehingga identitas petugas-petugas
lapangan bisa terambil gambarnya.
Ukuran foto adalah Post card dan berwarna, hasil afdruck dari foto-foto difilekan
dalam album yang cukup rapi dan baik
Secara ringkas produk pada kegiatan survey topografi meliputi :
Peta kontur batas genangan keruntuhan Bendungan
Buku Ukur
Diskripsi Bench Mark
Semua hasil pengukuran secara bertahap dilakukan perhitungan sementara di
lapangan untuk memeriksa harga toleransi yang diijinkan. Apabila hasil pengukuran
tersebut melampaui batas toleransi yang diijinkan, maka harus dilakukan pengukuran
ulang dan dilakukan penghitungan kembali untuk mendapatkan hasil yang definitif.
Setelah dilakukan perhitungan data lapangan, secara bertahap akan dilakukan
penggambaran/pemetaan. Dimana hasilnya akan dijadikan dasar bagi proses deliniasi
terhadap kontur yang terdapat di Peta DEM, sebelum dilakukan running ulang
terhadap simulasi keruntuhan bendungan.

bn
b6
EL. 7

b5

EL. 6
EL. 5

b4
b3
b2
b1

EL. 4
EL. 3
EL. 2
EL. 1

Gambar 3.9 Sketsa Bentuk Geometrik Sungai

3.2.7

Survey Bathimetri dan Tachimetri

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-32

Laporan Pendahuluan
Mengingat bahwa waduk-waduk yang di RTD telah beroperasi lebih dari 30 th,
maka diperkirakan volume tampungan waduk telah berkurang akibat terjadinya deposit
sedimen.

Apabila volume efektif waduk telah berubah, maka lengkung kapasitas

waduk seharusnya telah berubah pula. Dengan kata lain penelusuran banjir melalui
waduk dengan debit rancangan PMF yang telah diperbarui juga perlu dikaji ulang untuk
menentukan apakah dengan debit PMF akan menyebabkan overtopping atau tidak.
Untuk mengetahui deposit sedimen di waduk, maka diperlukan data hasil
echosounding terakhir sebagai acuan, sebelum Konsultan melakukan survey
bathimetri dan tachimetri setelah mendapat persetujuan dari direksi.

Puncak Tubuh Bendungan


Water Surface

Profil Deposit Sedimen

River Bed

Gambar 3.10 Sketsa Profil Deposit Sedimen


Waduk
Survey bathimetri terhadap Waduk dilakukan untuk mendapatkan gambaran
kondisi profil/penampang dasar waduk saat ini, sehingga dapat diketahui volume
tampungan dan kecenderungan terjadinya sedimentasi jika dibandingkan dengan hasil
survey bathimetri sebelumnya.

Survey pengukuran profil dasar sungai dilakukan

dengan acuan titik berupa patok-patok tetap yang ada di sekitar waduk yang telah
dijadikan acuan dalam pengukuran sebelumnya.
I. Pekerjaan Lapangan

Pemeruman mengukur kedalaman waduk.

Survey Pengukuran Tachimetri dilakukan dari tepi permukaan air sampai ke


elevasi mercu bendungan.

Analisis Data Lapangan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-33

Laporan Pendahuluan
2. Penggambaran Peta Kontur
3. Analisis Volume Waduk dan Area Genangan Waduk.

3.2.8

Analisis Hidrologi
Analisis hidrologi terhadap hujan rancangan dengan berbagai kala ulang dan

Probable Maximum Precipitation (PMP) serta banjir rancangan dan Probable Maximum
Flood (PMF) perlu dilakukan sebelum analisa terhadap keruntuhan bendungan
dilakukan. Data hidrologi yang diperlukan adalah :
1. Data yang terkait dengan DTA waduk-waduk tersebut (luas, panjang sungai,
kemiringan, tataguna lahan, dll.)
2. Data lokasi stasiun pencatat curah hujan di sekitar dan di dalam DTA (baik harian
maupun otomatis).
3. Data distribusi hujan harian atau hujan jam-jaman
4. Data aliran anak-anak sungai di sepanjang alur sungai di wilayah hilir waduk.
5. Data lengkung kapasitas waduk (Kurva H-A-V)
6. Data tataguna lahan DAS dan tataguna lahan wilayah hilir waduk.

A. Siklus hidrologi
Secara keseluruhan jumlah air di planet bumi ini relatif tetap dari masa ke masa. Air di
bumi mengalami suatu siklus melalui serangkaian peristiwa yang berlangsung terus
menerus,dimana kita tidak tahu kapan dan dari mana berawalnya dan kapan pula akan
berakhir. Serangkaian peristiwa tersebut dinamakan siklus hidrologi.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-34

Laporan Pendahuluan

Gambar 3.11 Gambaran Siklus


Hidrologi
Air menguap dari permukaan samudera akibat energi panas matahari. Laju dan
jumlah penguapan bervariasi, terbesar terjadi di dekat equator, dimana radiasi matahari
lebih kuat. Uap air adalah murni, karena pada waktu dibawa naik ke atmosfir kandungan
garam ditinggalkan. Uap air yang dihasilkan dibawa udara yang bergerak. Dalam kondisi
yang memungkinkan uap tersebut mengalami kondensasi dan membentuk butir-butir air
yang akan jatuh di samudera, darat, dan sebagian langsung menguap kembali sebelum
mencapai permukaan bumi.
Presipitasi yang jatuh di permukaan bumi menyebar ke berbagai arah dengan
beberapa cara. Sebagaian akan tertahan sementara di permukaan bumi sebagai es atau
salju, atau genangan air, yang dikenal dengan simpanan depresi. Sebagian air hujan atau
lelehan salju akan mengalir ke saluran atau sungai. Hal ini disebut aliran / limpasan
permukaan. Jika permukaan tanah porous, maka sebagian air akan meresap ke dalam
tanah melalui peristiwa yang disebut infiltrasi. Sebagian lagi akan kembali ke atmosfir
melalui penguapan dan transpirasi oleh tanaman (evapotranspirasi).
Di bawah permukaan tanah, pori-pori tanah berisi air dan udara. Daerah ini dikenal
sebagai zona kapiler (vadoze zone), atau zona aerasi. Air yang tersimpan di zona ini
disebut kelengasan tanah (soil moisture), atau air kapiler. Pada kondisi tertentu air dapat
mengalir secara lateral pada zona kapiler, proses ini disebut interflow. Uap air dalam zona
kapiler dapat juga kembali ke permukaan tanah, kemudian menguap.
Kelebihan kelengasan tanah akan ditarik masuk oleh gravitasi dan proses ini disebut
drainase gravitasi. Pada kedalaman tertentu, pori-pori tanah atau batuan akan jenuh
air.batas atas zona jenuh air disebut muka air tanah (water table). Air yang tersimpan
dalam zona jenuh air disebut air tanah. Air tanah ini bergerak sebagai aliran air tanah
melalui batuan atau lapisan tanah sampai akhirnya keluar ke permukaan sebagai sumber
air (spring) atau sebagai rembesan ke danau, waduk, sungai atau laut.
Air yang mengalir dalam saluran atau sungai dapat berasal dari aliran permukaan
atau dari air tanah yang merembes di dasar sungai. Kontribusi air tanah pada aliran
tersebut disebut aliran dasar (baseflow), sementara total aliran disebut debit (runoff). Air
yang tersimpan di waduk, danau dan sungai disebut air permukaan (surface water).

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-35

Laporan Pendahuluan
B. Presipitasi
Presipitasi adalah istilah umum untuk menyatakan uap air yang mengkondesi dan
jatuh dari atmosfir ke bumi dalam segala bentuknya dalam rangkaian siklus hidrologi. Jika
air yang jatuh berbentuk cair disebut hujan (rainfall) dan jika berupa padat disebut salju
(snow).
Analisis dan desain hidrologi tidak hanya memerlukan volume atau ketinggian hujan,
tetapi juga distribusi hujan terhadap tempat dan waktu. Distribusi hujan terhadap waktu
disebut hyterograph. Dengan kata lain hyterograph adalah grafik intensitas hujan atau
ketinggian hujan terhadap waktu.
Kejadian hujan dapat dipisahkan menjadi dua group, yaitu hujan aktual dan hujan
rencana. Kejadian hujan aktual adalah rangkaian dan pengukuran di stasiun hujan
selama periode tertentu. Hujan rencana adalah hyterograph hujan yang mempunyai
karakteristik terpilih. Hujan rencana bukan kejadian hujan yang diukur secara aktual dan
kenyataannya hujan yang identik dengan hujan rencana tidak pernah dan tidak akan
pernah terjadi. Namun demikian, kebanyakan hujan rencana mempunyai karakteristik
yang secara umum sama dengan karakteristik hujan yang terjadi pada masa lalu. Dengan
demikian menggambarkan karakteristik hujan yang diharapkan terjadi pada masa
mendatang.
Karakteristik hujan yang perlu ditinjau dalam analisis dan perencanaan hidrologi
meliputi

Intensitas (i), adalah laju hujan = tinggi air persatuan waktu, misalnya mm/menit,

mm/jam atau mm/hari.


Lama waktu / durasi (t), adalah panjang waktu di mana hujan turun, dalam menit

atau jam.
Tinggi hujan (d), adalah jumlah atau kedalaman hujan yang terjadi selama durasi

hujan dan dinyatakan dalam ketebalan air di atas permukaan datar, dalam mm.
Frekwensi adalah frekwensi kejadian dan biasanya dinyatakan dengan kala

ulang / return period (T), misalnya sekali dalam 2 tahun.


Luas (A), adalah luas geografis daerah sebaran hujan.

Hubungan antara intensitas, durasi dan tinggi hujan dinyatakan dalam persamaan
sebagai berikut :

d idt it
_

Sedangkan intensitas rata-rata ( i ) dapat diasumsikan sebagai berikut :


_

d
t

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-36

Laporan Pendahuluan
Secara kualitatif, intensitas curah hujan disebut juga derajat curah hujan sebagaimana
diperlihatkan pada tabel berikut :

Tabel III-2. Derajat curah hujan dan intensitas curah hujan


Derajat curah hujan

Intensitas curah

Kondisi

hujan (mm/jam)

Hujan sangat lemah

< 1,20

Hujan lemah

1,20 3,00

Hujan normal

3,00 18,0

Tanah agak basah atau dibasahi sedikit

Tanah menjadi basah semuanya, tetapi sulit


membuat puddel
Dapat membuat puddel dan bunyi hujan
kedengaran
Air tergenang di seluruh permukaan tanah

Hujan deras

18,0 60,0

dan bunyi keras hujan terdengan berasal


dari genangan

Hujan sangat deras

> 60,0

Hujan seperti ditumpahkan, sehingga


saluran dan drainase meluap

C. Analisis Hujan
a

Hujan Kawasan (Daerah Tangkapan Air = DTA)


Data hujan yang diperoleh dari alat penakar hujan merupakan hujan yang terjadi

hanya pada satu tempat atau titik saja (point rainfall). Mengingat hujan sangat bervariasi
terhadap tempat (space), maka untuk kawasan yang luas, satu alat penakar hujan belum
dapat menggambarkan hujan wilayah tersebut. Dalam hal ini diperlukan hujan kawasan
yang diperoleh dari harga rata-rata curah hujan beberapa stasiun penakar hujan yang
ada di dalam dan/atau di sekitar kawasan tersebut.
Ada tiga macam cara yang umum dipakai dalam menghitung hujan rata-rata
kawasan yaitu : (1) rata-rata aljabar, (2) poligon Thiessen, (3) Isohyet.
b

Rata-rata Aljabar
Merupakan metode yang paling sederhana dalam perhitungan hujan kawasan.

Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa semua penakar hujan mempunyai pengaruh

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-37

Laporan Pendahuluan
yang setara. Cara ini cocok untuk kawasan dengan topografi rata atau datar, alat penakar
tersebut merata/hampir merata, dan harga individual curah hujan tidak terlalu jauh dari
harga rata-ratanya. Hujan kawasan diperoeh dari persamaan :
n

P P2 P3 ..... Pn
P 1

P
i 1

Di mana P1, P2, ., Pn adalah curah hujan yang tercatat di pos penakar hujan 1,
2, ., n dan n adalah banyaknya pos penakar hujan.
c

Metode Poligon Thiessen


Metode ini dikenal juga sebagai metode rata-rata timbang (weighted mean). Cara

ini

memberikan

mengakomodasi

proporsi

luasan

ketidakseragaman

daerah
jarak.

pengaruh
Daerah

pos

penakar

penakar

hujan

dibentuk

untuk
dengan

menggambarkan garis-garis sumbu tegak lurus terhadap garis penghubung antara dua pos
penakar terdekat. Diasumsikan bahwa variasi hujan antara pos yang satu dengan lainnya
adalah linier dan bahwa sembarang pos dianggap dapat mewakili kawasan terdekat.
Hasil metode poligon Thiessen lebih akurat dibandingkan dengan metode rata-rata
aljabar. Cara ini cocok untuk daerah datar dengan luas 500 5.000 km 2, dan jumlah
penakar hujan terbatas dibandingkan luasnya.

Prosedur penerapan metode ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut :


Lokasi pos penakar hujan diplot pada peta DAS. Antar pos penakar dibuat garis
lurus penghubung.
Tarik garis tegak lurus ditengah-tengah tiap garis penghubung sedemikian rupa,
sehingga membentuk poligon Thiessen. Semua titik dalam satu poligon akan mempunyai
jarak terdekat dengan pos penakar yang ada di dalamnya dibandingkan dengan jarak
terhadap pos lainnya. Selanjutnya curah hujan pada pos tersebut dianggap representasi
hujan pada kawasan dalam poligon yang bersangkutan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-38

Laporan Pendahuluan

P.2

Batas DPS

P.1

A2
A4

A3

A1
P.3
P.4

Gambar 3.12 Metode Poligon Thiessen

Luas areal pada tiap-tiap poligon dapat diukur dnegan planimeter dan luas total
DAS (A) dapat diketahui dengan menjumlahkan semua luasan poligon.
Hujan rata-rata DAS dapat dihitung dengan persamaan berikut :
n

P1 A1 P2 A2 .... Pn An

A1 A2 .... A3

P A
i 0
n

A
i 0

Di mana P1, P2, ., Pn adalah curah hujan yang tercatat di pos penakar hujan 1,
2, ., n. sedangkan A1, A2, ., An adalah luas areal poligon 1, 2, ., n. serta n adalah
banyaknya pos penakar hujan.

Metode Isohyet
Metode ini merupakan metode yang paling akurat untuk menentukan hujan rata-

rata, namun diperlukan keahlian dan pengalaman. Cara ini memperhitungkan secara
aktual pengaruh tiap-tiap pos penakar hujan. Dengan kata lain asumsi metode Thiessen
yang secara membabi buta menganggap bahwa tiap-tiap pos penakar hujan mencatat
kedalaman yang sama untuk daerah sekitarnya dapat dikoreksi.
Metode ini terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :
Plot

data kedalaman air hujan untuk tiap pos penakar hujan pada peta.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-39

Laporan Pendahuluan
Gambar

kontur kedalaman air hujan dengan menghubungkan titik yang

mempunyai kedalaman air yang sama. Interval Isohyet yang umum dipakai
adalah 10 mm.
luas area antara dua garis Isohyet dengan menggunakan planimeter.

Hitung

Kalikan masing-masing luas areal dengan rata-rata hujan antara dua Isohyet
yang berdekatan.
Hitung hujan rata-rata DAS dengan persamaan berikut :

P1 P2
P P3
P P
A2 2
.... An 1 n 1 n
2
2
2

A1 A2 .... An 1

A1

Atau

P P
A 1 2
2

Metode Isohyet cocok untuk daerah berbukit dan tidak teratur dengan luas lebih
dari 5.000 km2.
P.2
90
80

P.1

A5

70

60

Batas DPS

110

100

50

A3

A4

A2

95

A1

80

P.3

P.4

Gambar 3.13. Metode Isohyet


e

Kriteria Pemilihan Metode


Lepas dari kelebihan dan kelemahan ketiga metode di atas, pemilihan metode

mana yang cocok dipakai pada suatu DAS dapat ditentukan dengan mempertimbangkan
tiga faktor berikut :
Jaring-jaring pos
Luas DTA
Topografi DTA

penakar hujan dalam DTA

1) Jaring-jaring Pos Penakar Hujan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-40

Laporan Pendahuluan
Jumlah pos penakar hujan cukup

Metode Isohyet, Thiessen atau rata-rata


Aljabar dapat dipakai

Jumlah pos penakar hujan terbatas

Metode rata-rata Aljabar atau Thiessen

Pos penakar hujan tunggal

Metode hujan titik

2) Luas DTA
DAS besar (> 5,000 km2)

Metode Isohyet

DAS sedang (500 s/d 5.000 km2)

Metode Thiessen

DAS kecil (< 500 km )

Metode rata-rata Aljabar

3) Topografi DTA
Pegunungan

Metode rata-rata Aljabar

Dataran

Metode Thiessen

Berbukit dan tidak beraturan

Metode Isohyet

D. Analisis Frekuensi dan Probabilitas


Sistem hidrologi kadang-kadang dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang luar biasa
(ekstrim), seperti hujan lebat, banjir dan kekeringan. Besaran peristiwa ekstrim
berbanding terbalik dengan frekuensi kejadiannya, peristiwa yang luar biasa ekstrim
kejadiannya sangat langka.
Tujuan analisis frekuensi data hidrologi adalah berkaitan dengan besaran peristiwaperistiwa ekstrim yang berkaitan dengan frekuensi kejadiannya melalui penerapan
distribusi kemungkinan. Data hidrologi yang dianalisis diasumsikan tidak bergantung
(independent) dan terdistribusi secara acak dan bersifat stokastik.
Frekuensi hujan adalah besarnya kemungkinan suatu besaran hujan disamai atau
dilampaui. Sebaliknya kala ulang (retrun period) adalah waktu hipotetik di mana hujan
dengan suatu besaran tertentu akan disamai atau dilampaui. Dalam hal ini tidak
terkandung pengertian bahwa kejadian tersebut akan berulang secara teratur setiap kala
ulang tersebut. Misalnya hujan dengan kala ulang 10 tahunan, tidak berarti akan terjadi
setiap 10 tahun, akan tetapi ada kemungkinan dalam jangka 1000 tahun akan terjadi 100
kali kejadian hujan 10 tahunan. Ada kemungkinan selama kurun waktu 10 tahun terjadi
hujan 10 tahunan lebih dari satu kali atau sebaliknya tidak terjadi sama sekali.
Analisis frekuensi memerlukan seri data hujan yang diperoleh dari pos penakar hujan.
Analisis ini didasarkan pada sifat statistik data kejadian yang telah lalu untuk memperoleh

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-41

Laporan Pendahuluan
probabilitas besaran hujan di masa yang akan datang. Dengan anggapan bahwa sifat
statistik kejadian hujan yang akan datang masih sama dengan sifat statistik kejadian
hujan masa lalu.
Ada dua macam seri data yang dipergunakan dalam analisis frekuensi, yaitu :
a

Data maksimum tahunan


Tiap tahun diambil hanya satu besaran maksimum yang dianggap berpengaruh

pada analisis selanjutnya. Seri data seperti ini dikenal dengan seri data maksimum
(maximum annual series). Jumlah data dalam seri akan sama dengan panjang data yang
tersedia. Dalam cara ini, besaran data maksimum kedua dalam suatu tahun yang
mungkin lebih besar dari besaran data maksimum lam tahun yang lain tidak
diperhitungkan pengaruhnya dalam analisis. Hal ini oleh beberapa pihak dianggap kurang
realistis, apalagi jika diingat bahwa perhitungan permulaan tahun hidrologi tidak selalu
seragam,ada yang berdasar musim ada pula yang mengikuti kalender masehi. Oleh
karena itu beberapa ahli menyarankan menggunakan cara seri parsial.
b

Seri parsial
Dengan menetapkan suatu besaran tertentu sebagai batas bawah, selanjutnya

semua besaran data yang lebih besar dari batas bawah tersebut diambil dan dijadikan
bagian seri data untuk kemudian dianalisis seperti biasa. Pengambilan batas bawah
dapat dilakukan dengan sistem peringkat, di mana semua besaran data yang cukup
besar diambil, kemudian diurutkan dari besar ke kecil. Data yang diambil untuk analisis
selanjutnya adalah sesuai dengan panjang data dan diambil dari besaran data yang
paling besar. Dalam hal ini dimungkinkan dalam satu tahun data yang diambil lebih dari
satu data, sementara tahun yang lain tidak ada data yang diambil.
Dalam analisis frekuensi hasil yang diperoleh tergantung pada kualitas dan
panjang data. Makin pendek data yang tersedia, makin besar penyimpangan yang terjadi.
Parameter statistik yang penting dalam analisis hidrologi adalah :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-42

Laporan Pendahuluan

Nilai rata-rata
n

i 1

Simpangan baku (deviasi standar)

X
n

i 1

n 1

Koefisien variasi
CV

s
X

Koefisien Skewness
n

n X i X

i 1

n 1 n 2 s 3

Dalam ilmu statistik dikenal beberapa macam distribusi frekuensi dan empat
macam jenis distribusi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi, yaitu :
1) Distribusi Normal
X T X KT S

KT

XT X
S

Di mana :
XT

Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang Ttahunan,

Nilai rata-rata hitung variat,

Deviasi standar nilai variat,

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-43

Laporan Pendahuluan
KT

Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode


ulang dan tipe model matematik distribusi peluang yang
digunakan untuk analisis peluang.

Nilai KT dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel 3.3. Nilai Variabel Reduksi Gauss

2) Distribusi Log Normal


YT Y K T S

KT

YT Y
S

Di mana :
YT = Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang
T-tahunan,
Y

= Nilai rata-rata hitung variat,

S = Deviasi standar nilai variat,


KT = Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode
ulang dan tipe model matematik distribusi peluang yang
digunakan untuk analisis peluang.
3) Distribusi Log-Person III
Tiga parameter penting dalam LP III yaitu :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-44

Laporan Pendahuluan
a) Harga rata-rata
Untuk memperoleh harga rata-rata dilaksanakan dengan mengubah data
terlebih dahulu ke dalam bentuk logaritmis, X=log X
n

log X

log X

i 1

b) Simpangan baku

log X
n

i 1

log X

n 1

c)Koefisien Kemencengan
n

n log X i log X
i 1

n 1 n 2 s 3

Dari nilai-nilai tersebut logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang
T dapat dihitung dengan rumus :
log X T log X K s

Di mana K adalah variabel standar (standardized variable) untuk X yang


besarnya tergantung koefisien kemencengan G, yang nilainya dapat dilihat pada
tabel berikut :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-45

Laporan Pendahuluan
Tabel III-4. Nilai K untuk distribusi Log-Person III

4) Distribusi Gumbel.
X Tr X KS K

X Tr X

YTr Yn
YS Y S
S X n Tr
Sn
Sn
Sn

X Tr b

atau

YTr Yn
Sn

Yn S
S
1
YTr a n dan b X
Sn
a
S

Di mana :
Yn = reduce mean yang tergantung jumlah sampel/data n,
Sn = reduce standard deviation yang juga tergantung pada
jumlah sampel/data n,
YTr = reduce variate yang dapat dihitung dengan rumus berikut :

T 1
YTr ln ln r

Tr

Nilai Yn dan Sn serta YTr dapat dilihat pada tabel-tabel berikut :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-46

Laporan Pendahuluan
Tabel III-5. Reduce Mean Yn

Tabel III-6. Reduce Standard Deviation Sn

Tabel III-7. Reduce Variate YTr

E. Uji Kecocokan
Untuk menguji kecocokan (the goodness of fittest test) distribusi frekuensi sampel
data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat menggambarkan atau
mewakili distribusi frekuensi diperlukan penguji parameter. Dalam hal ini pengujian
parameter yang sering dipakai adalah chi-kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov, dengan
uraian sebagai berikut :
a

Chi-kuadrat
Uji Chi-Square dimaksudkan untuk menguji simpangan secara vertical

apakah persamaan distribusi peluang yang telah dipilih dapat diterima oleh distribusi
teoritis. Pengambilan keputusan uji ini menggunakan parameter x 2 , oleh karena itu

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-47

Laporan Pendahuluan
disebut juga Uji Chi-Square. Perhitungannya dengan menggunakan persamaan
(Shahin, 1976 : 186)
K

(X 2 ) Hit
i 1

EF

(EF OF) 2
EF

n
K

Jumlah kelas distribusi dihitung dengan rumus (Harto, 181 : 80) :


K = 1 + 3,22 log n
dimana :
OF = nilai yang diamati (observed frequency)
EF

= nilai yang diharapkan (expected frequency)

= jumlah kelas distribusi

= banyaknya data

Agar distribusi frekuensi yang dipilih dapat diterima, maka harga X2 < X 2Cr.
Harga X2Cr dapat diperoleh dengan menentukan taraf signifikasi dengan derajat
kebebasannya (level of significant).
Interpretasi hasil uji adalah sebagai berikut :

Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan

dapat diterima,
Apabila peluang kurang dari 1%, maka persamaan distribusi yang digunakan

tidak dapat diterima,


Apabila peluang berada di antara 1 5%, maka tidak mungkin mengambil
keputusan, perlu data tambahan.

Prosedur uji Chi-Square :


a. Menentukan jumlah kelas dengan memasukkan nilai n (jumlah data)
dalam rumus .
b. Menghitung nilai yang diharapkan (EF: expected frequency) dari masing
masing kelas.
c. Jumlahkan data pengamatan dalam

tiap-tiap kelas sebesar OF (OF:

observed frequency).

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-48

Laporan Pendahuluan
d. Tiap-tiap kelas dihitung nilai:

( EF OF ) 2
EF

e. Jumlahkan seluruh nilai dari point (d) untuk menentukan nilai Chi-Square
hitung.
f.

Tentukan derajat kebebasan v = K m 1 (nilai m = 2, untuk distribusi


normal dan binomial, dan nilai m = 1, untuk distribusi poisson) dan nilai
untuk menentukan besarnya nilai Chi-Square kritis (X2cr)

g. Bandingkan nilai X2 hitung dengan X2 kritis, jika X2hit >X2Cr maka distribusi
frekuensi yang dipilih dapat diterima dan sebaliknya.

Tabel III-8. Nilai Kritis untuk distribusi Chi-Kuadrat (uji satu sisi)

Uji Smirnov-Kolmogorov
Uji kecocokan Smirnov Kormogorov, sering juga disebut uji kecocokan non
parametric (non prametric test), karena pengujiannya tidak menggunakan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-49

Laporan Pendahuluan
fungsi distribusi tertentu. Uji ini juga digunakan untuk menguji simpangan
maksimum secara horizontal antara distribusi teoritis dan empiris. Dalam
bentuk persamaan dapat ditulis :

maks = [ Pe Pt]
dimana :
maks

= selisih data probabilitas teoritis dan empiris

Pe

= peluang empiris

Pt

= peluang teoritis

Kemudian dibandingkan antara maks dan cr dari tabel. Apabila maks


<cr, maka pemilihan metode frekuensi tersebut dapat diterapkan untuk data
yang ada.
Langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
a.

Urutkan data pengamatan (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan


tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut :
Menghitung peluang empiris dengan rumus dari Weibull
Pe

100 * m
%
n 1

Dalam hal ini :

b.

Pe

peluang empiris (%)

nomor urut data dari seri yang telah diurutkan

banyaknya data

Tentukan nilai masing-masing peluang teoritis dengan memasukkan


persamaan disribusinya.

c.

Dari kedua nilai peluang tersebut tentukan selisih tersebarnya antara


peluang pengamatan dengan peluang teoritis.
= maksimum [ PePt ]

d.

Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-Kolmogorov Test) tentukan harga


cr, apabila lebih kecil dari harga cr maka distribusi teoritis yang
digunakan untuk menentukan persamaan distribusi dapat diterima,

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-50

Laporan Pendahuluan
apabila sebaliknya maka teoritis yang digunakan untuk menentukan
persamaan distribusi tidak dapat diterima.

Tabel III-9. Nilai Kritis untuk distribusi Smirnov Kolmogorov

F. Curah Hujan Maksimum Harian Rata-rata


Perhitungan data hujan maksimum harian rata-rata DAS harus dilakukan secara
benar untuk analisis frekuensi data hujan. Dalam praktek sering dijumpai perhitungan
yang kurang pas, yaitu dengan cara mencari hujan maksimum harian setiap pos hujan
dalam satu tahun, kemudian dirata-ratakan untuk mendapatkan hujan DAS. Cara ini tidak
logis karena rata-rata hujan dilakukan atas hujan dari masing-masing pos hujan yang
terjadi pada hari yang berlainan. Hasilnya akan jauh menyimpang dari yang seharusnya.

G. Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan pe satuan waktu. Sifat umum
hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cendering makin tinggi dan
makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya. Hubungan antara
intensitas, lama hujan dan frekuensi hujan biasnya dinyatakan dalam lengkung IntensitasDurasi-Frekuensi (IDF=Intensity-Duration-Frequency Curve). Diperlukan data hujan
jangka pendek, misalnya 5 menit, 10 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman untuk
membentuk lengkung IDF. Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari pos penakar

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-51

Laporan Pendahuluan
hujan otomatis. Selanjutnya, berdasarkan data hujan jangka pendek tersebut lengkung
IDF dapat dibuat dengan salah satu dari beberapa persamaan berikut :
Rumus Talbot :
I

1
t b

I .t I 2 I 2 .t I
a
N I 2 I I

I I .t N I 2 .t
b
N I 2 I I

Rumus Sherman

a
tn

log a

log I log t 2 log t. log I log t


2
N log t log t log t

log I log t N log t. log I


2
N log t log t log t

Rumus Ishiguro
I

a
t b

I t I I t I
2

N I I I
2

I I

t N I2 t
N I 2 I I

Apabila data hujan jangka pendek tidak tersedia, yang ada hanya data hujan harian,
maka intensitas hujan dapat dihitung dengan :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-52

Laporan Pendahuluan
Rumus Mononobe
R 24
I 24

24 t

2
3

Di mana
I

Intensitas hujan (mm/jam)

lama hujan (jam)

R24

curah hujan maksimum harian (selama 24 jam) (mm)

H. Limpasan (runoff)
Sebagaimana telah diuraikan da1am siklus hidrologi, bahwa air hujan yang turun dari
atmosfir jika tidak ditangkap oleb vegetasi atau oleh permukaan-permukaan buatan
seperti atap bangunan atau lapisan kedap air lainnya, maka akan jatuh ke perrnukaan
bumi dan sebagian akan rnenguap, berinfiltrasi, atau tersimpan dalam cekungancekungan. Bila kehilangan seperti cara-cara tersebut telah terpenuhi, maka sisa air hujan
akan mengalir langsung di atas permukaan tanah menuju alur aliran terdekat. Dalam
perencanaan drainase, bagian air hujan yang menjadi perhatian adalah aliran permukaan
(surface runoff), sedangkan untuk pengendalian banjir tidak hanya aliran permukaan,
tetapi limpasan (runoff). Limpasan merupakan gabungan antara aliran perrnukaan, aliranaliran yang tertunda pada cekungan-cekungan, dan aliran bawah permukaan (subsurface
flow).
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Limpasan
Aliran pada saluran atau sungai tergantung dan berbagai faktor secara bersamaan.
Dalam kaitannya dengan limpasan, faktor yang berpengaruh secara umurn dapat
dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu faktor meteorologi dan karakteristik daerah
tangkapan saluran atau daerah tangkapan air (DTA).

1.

Faktor Meteorologi
Faktor-faktor meteorologi yang berpengaruh pada limpasan terutama adalah

karakteristik hujan, yang meliputi :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-53

Laporan Pendahuluan
a) Intensitas hujan
Pengaruh intensitas hujan terhadap limpasan permukaan sangat tergantung pada
laju infiltrasi. Jika intensitas hujan melebihi laju infiltrasi, maka akan terjadi limpasan
permukaan sejalan dengan peningkatan intensitas curah hujan. Namun demikian,
peningkatan limpasan permukaan tidak selalu sebanding dengan peningkatan intensitas
hujan karena adanya penggenangan di perrnukaan tanah. Intensitas hujan berpengaruh
pada debit maupun volume limpasan.
b) Durasi hujan
Total limpasan dari suatu hujan berkaitan langsung dengan durasi hujan dengan
intensitas tertentu. Setiap DAS mempunyai satuan durasi hujan atau lama hujan kritis.
Jika hujan yang terjadi lamanya kurang dari lama hujan kritis, maka lamanya limpasan
akan sama dan tidak tergantung pada intensitas hujan.
c) Distribusi curah hujan
Laju dan volume limpasan dipengaruhi oleh distribusi dan intensitas hujan di
seluruh DAS. Secara umum, laju dan volume limpasan maksimum terjadi jika seluruh
DAS telah memberi konstribusi aliran. Namun demikian, hujan dengan intensitas tinggi
pada sebagian DAS dapat menghasilkan limpasan yang lebih besar dibandingkan
dengan hujan biasa yang meliputi seluruh DAS.
Jika kondisi topografi, tanah, dan lain-lain di seluruh DAS seragam, untuk jumlah
hujan yang sama, maka curah hujan yang distribusinya merata menghasilkan debit
puncak yang paling minimum. Karakteristik distribusi hujan dinyatakan dalam koefisien
distribusi, yaitu nisbah antara hujan tertinggi di suatu titik dengan hujan rata-rata DAS.
2. Karakteristik DAS
Karakteristik DAS yang berpengaruh besar pada aliran permukaan meliputi (1) luas
dan bentuk DAS, (2) topografi, dan (3) tata guna lahan.
a. Luas dan bentuk DAS
Laju dan volume aliran permukaan makin bentambah besar dengan bertambahnya
luas DAS. Tetapi, apabila aliran permukaan tidak dinyatakan sebagai jumlah total dari
DAS, rnelainkan sebagai laju dan volume per satuan luas, besarnya akan berkurang
dengan bertambah luasnya DAS. Ini berkaitan dengan waktu yang diperlukan air untuk
mengalir dari titik terjauh sampai ke titik kontrol (waktu konsentrasi) dan juga penyebaran
atau intensitas hujan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-54

Laporan Pendahuluan
Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran dalam sungai. Pengaruh
bentuk DAS terhadap aliran permukaan dapat ditunjukkan dengan memperhatikan
hidrograf-hidrograf yang tenjadi pada dua buah DAS yang bentuknya berbeda namun
mempunyai luas yang sama dan menerima hujan dengati intensitas yang sama,
sebagaimana terlihat pada gambar berikut :

Gambar 3.14. Pengaruh bentuk DAS pada aliran permukaan


Bentuk DAS memanjang dan sempit cenderung menghasilkan laju aliran
permukaan yang lehih kecil dibandingkan dengan DAS yang berbentuk melebar atau
melingkar. Hal ini terjadi karena waktu konsentrasi DAS yang memanjang lebih lama
dibandingkan dengan DAS melebar, sehingga terjadinya konsentrasi air di titik kontrol
lebih lambat yang berpengaruh pada laju dan volume aliran permukaan. Faktor bentuk
juga dapat berpengaruh pada aliran permukaan apabila hujan yang terjadi tidak serentak
di seluruh DAS, tetapi bergerak dari ujung yang satu ke ujung lainnya. misalnya dari hilir
ke hulu DAS. Pada DAS memanjang laju aliran akan lebih kecil karena aliran permukaan
akibat hujan di hulu belum memberikan konstribusi pada titik kontrol ketika aliran
permukaan dan hujan di hilir telah habis, atau mengecil. Sebaliknya pada DAS melebar,
datangnya aliran permukaan dari semua titik di DAS tidak terpaut banyak, artinya air dari
hulu sudah tiba sebelum aliran dari hilir mengecil/habis.
b. Topografi
Tampakan rupa muka bumi atau topografi seperti kemiringan lahan, keadaan dan
kerapatan parit dan/atau saluran, dan bentuk-bentuk cekungan lainnya mempunyai
pengaruh pada laju dan volume aliran permukaan. DAS dengan kemiringan curam
disertai parit/saluran yang rapat akan menghasilkan laju dan volume aliran permukaan
yang lebih tinggi dibandingkan dengan DAS yang landai dengan parit yang jarang dan
adanya cekungan-cekungan. Pengaruh kerapatan parit, yaitu panjang parit per satuan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-55

Laporan Pendahuluan
luas DAS, pada aliran permukaan adalah memperpendek waktu konsentrasi, sehingga
memperbesar laju aliran permukaan.
c. Tata guna lahan
Pengaruh tata guna lahan pada aliran permukaan dinyatakan dalam koefisien aliran
permukaan (C), yaitu bilangan yang menunjukkan perbandingan antara besarnya aliran
permukaan dan besarnya curah hujan. Angka koefisien aliran permukaan ini merupakan
salah satu indikator untuk menentukan kondisi fisik suatu DAS. Nilai C berkisar antara 0
sampai 1. Nilai C = 0 menunjukkan bahwa semua air hujan terintersepsi dan terinfiltrasi
ke dalam tanah, sebaliknya untuk nilai C = 1 menunjukkan bahwa semua air hujan
mengalir sebagai aliran permukaan. Pada DAS yang masih baik, harga C mendekati nol
dan semakin rusak suatu DAS, maka harga C makin mendekati satu.
Memperkirakan Laju Aliran Puncak
Ada beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir). Metode
yang dipakai pada suatu lokasi lebih bvnyak ditentukan oleh ketersediaan data. Dalam
praktek, perkiraan debit banjir dilakukan dengan beberapa metoda dan debit banjir
rencana ditentukan berdasarkan pertimbangan teknis (engineering judgement). Secara
umum, metode yang umum dipakai adalah (1) metode rasional dan (2) metode hidrograf
banjir.
1)

Metode Rasional
Metode untuk memperkirakan laju aliran permukaan puncak yang umum dipakai

adalah metode Rasional USSCS (1973). Metode ini sangat simpel dan mudah
penggunaannya, namun penggunaannya terbatas untuk DAS-DAS dengan ukuran kecil,
yaitu kurang dan 300 ha (Goldman et.al., 1986). Karena model ini merupakan model
kotak hitam, maka tidak dapat menerangkan hubungan curah hujan dan aliran
permukaan dalam bentuk hidrograf. Persamaan matematik metode Rasional dinyatakan
dalam bentuk :

QP 0,002778CIA
di mana Qp adalah laju aliran permukaan (debit) puncak dalam m 3/detik. C adalah
koefisien aliran permukaan (0 < C < 1), I adalah intensitas hujan dalam mm/jam, dan A
adalah luas DAS dalam hektar.
Metode rasional dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa hujan yang terjadi
mempunyai intensitas seragam dan merata di selunuh DTA selama paling sedikit sama
dengan waktu konsentrasi (tc) DTA. Jika hujan yang terjadi lamanya kurang dan tc. maka

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-56

Laporan Pendahuluan
debit puncak yang terjadi lebih kecil dan Q q karena seluruh DTA tidak dapat memberikan
konstribusi aliran secara bersama pada titik kontrol (outlet). Sebaliknya, jika hujan yang
terjadi lebih lama dan tc, maka debit puncak aliran permukaan akan tetap sama dengan
Qp.
Koefisien aliran permukaan (C).
Koefisien C didefinisikan sebagai nisbah antara puncak aliran permukaan terhadap
intensitas hujan. Fakton ini merupakan variabel yang paling menentukan hasil
perhitungan debit banjir. Pemilihan harga C yang tepat memerlukan pengalaman hidrologi
yang luas. Faktor utama yang mempengaruhi C adalah laju infiltrasi tanah atau
prosentase lahan kedap air, kemiringan lahan, tanaman penutup tanah, dan intensitas
hujan. Permukaan kedap air, seperti perkerasan aspal dan atap bangunan, akan
menghasilkan aliran hampir 100% setelah permukaan menjadi basah, seberapa pun
kemiringannya.
Koefisien limpasan juga tergantung pada sifat dan kondisi tanah. Laju infiltrasi
menurun pada hujan yang terus menerus dan juga dipengaruhi oleh kondisi kejenuhan air
sebelumnya. Faktor lain yang mempengaruhi nilai C adalah air tanah, derajad kepadatan
tanah, porositas tanah, dan simpanan depresi. Harga C untuk berbagai tipe tanah dan
penggunaan lahan di sajikan dalam Tabel berikut :
Tabel III-10. Koefisien limpasan untuk metode Rasional (McGuen, 1989)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-57

Laporan Pendahuluan
Harga C yang ditampilkan pada tabel tersebut belum memberikan rincian masingmasing faktor yang berpengaruh terhadap besarnya nilai C. Oleh karena itu, Hassing
(1995) menyajikan cara penentuan faktor C yang mengintegrasikan nilai yang
merepresentasikan beberapa faktor yang mempengaruhi hubungan antara hujan dan
aliran, yaitu topografi, permeabilitas tanah, penutup lahan, dan tata guna tanah. Nilai
koefisien C merupakan kombinasi dan beberapa faktor yang dapat dihitung berdasarkan
tabel berikut.
Tabel III-11. Koefisien aliran untuk metode Rasional (Hassing, 1995)

Table-tabel tersebut menggambarkan nilai C untuk penggunaan lahan yang


seragam, di mana kondisi ini sangat jarang dijumpai untuk lahan yang relatif luas. Jika
DAS tendiri dari berbagai macam penggunaan lahan dengan koefisien aliran permukaan
yang berbeda, maka C yang dipakai adalah koefisien DTA yang dapat dihitung dengan
persamaan berikut :

C DAS

C A
i 1
n

A
i 1

Di mana
Ai

= luas lahan dengan jenis penutup tanah i,

Ci

= koefisien aliran permukaan jenis penutup i,

= jumlah jenis penutup lahan.

Cara lain penggunaan rumus Rasional untuk DAS dengan tata guna lahan tidak
homogen adalah dengan substitusi persamaan-persamaan tersebut yang hasilnya
sebagai berikut :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-58

Laporan Pendahuluan
n

QP 0,002778 I Ci Ai
i 1

Waktu konsentrasi (tv). Waktu konsentrasi suatu DAS adalah waktu yang
diperlukan oleh air hujan yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke tempat
keluaran DTA (titik kontrol) setelah tanah menjadi jenuh dan depresi-depresi kecil
terpenuhi. Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan waktu
konsentrasi, maka setiap bagian DTA secara serentak telah menyumbangkan aliran
terhadap titik kontrol. Salah satu metode untuk memperkirakan waktu konsentrasi adalah
dengan menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Kirpich (1940), yang dapat ditulis
sebagai berikut :
0,87 xL2
t c
1000 xS

0 , 385

di mana tc adalah waktu konsentrasi dalam jam, L panjang saluran utama dari hulu
sampai penguras dalam km, dan S kemiringan rata-rata saluran utama dalam m/m.
Waktu konsentrasi dapat juga dihitung dengan membedakannya menjadi dua
komponen, yaitu (1) waktu yang diperlukan air untuk mengalir di permukaan lahan
sampai saluran terdekat t0 dan (2) waktu perjalanan dan pertama masuk saluran sampai
titik keluaran td, sehingga :
tc t0 t d

2
n
t 0 3,28 L
menit
S
3

td

LS
menit
60V

Di mana
n

angka kekasaran Manning,

kemiringan lahan,

panjang lintasan aliran di atas permukaan lahan (m),

LS

panjang lintasan aliran di dalam saluran/sungai (m),

kecepatan aliran di dalam saluran (m/detik).

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-59

Laporan Pendahuluan
Intensitas hujan (I). Intensitas hujan untuk tc tertentu dapat dihitung dengan rumus
Mononobe atau lengkung Intensitas-Durasi-Frekuensi Hujan.
Gambar 3.15. Langkah-langkah pemakaian rumus rasional

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-60

Laporan Pendahuluan
Gambar 3.16

Metode yang digunakan dalam memperkirakan debit banjir berdasarkan


ketersediaan data

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-61

Laporan Pendahuluan
2)

Metode Hidrograf
Hidrograf dapat didefinisikan sebagai hubungan antara salah satu unsur aliran

terhadap waktu. Berdasarkan definisi tersebut dikenal ada dua macam hidrograf, yaitu
hidrograf muka air dan hidrograf debit.
Hidrograf muka air tidak lain adalah data atau grafik hasil rekaman AWLR
(Automatic Water Level Recorder), sedangkan hidrograf debit yang dalam pengertian
sehari-hari disebut hidrograf diperoleh dari hidrograf muka air dan lengkung debit.
Hidrograf tersusun dari dua komponen yaitu aliran permukaan, yang berasal dari
aluran langsung air hujan dan aliran dasar (base flow). Aliran dasar berasal dari air tanah
yang pada umumnya tidak memberikan respon yang cepat terhadap hujan. Hujan juga
dapat dianggap terbagi dalam dua komponen, yaitu hujan efektif dan kehilangan (losses).
Hujan efektif adalah bagian hujan yang menyebabkan terjadinya aliran permukaan.
Kehilangan hujan merupakan bagian hujan yang menguap, masuk ke dalam tanah,
kelembaban tanah dan simpanan air tanah.
Hidrograf aliran langsung dapat diperoleh dengan memisahkan hidrograf dari aliran
dasarnya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan diantaranya adalah metode garis
lurus (straight line method), metode panjang dasar tetap (fixed base method) dan ketode
kemiringan berbeda (variable slope method).
Metode garis lurus merupakan metode yang paling sederhana. Garis lurus ditarik
dari titik terendah sisi resesi hidrograf sebelumnya (A), sampai titik di sisi resesi hidrograf
yang ditinjau (B). Titik B didapat dari penggambaran sisi resesi tersebut dalam kertas
berskala semi logaritmis. Titik B merupakan titik penyimpangan terendah garis tersebut
terhadap garis lurus yang dianggap mewakili saat terjadinya aliran dasar.
Metode panjang dasar tetap hampir sama dengan metode sebelumnya. Dalam
metode ini diperhatikan adanya perbedaan kecepatan respon antara air permukaan dan
air bawah permukaan. Oleh sebab itu pada saat air permukaan naik, aliran dasar turun
terus sampai dianggap mencapai titik terendah di bawah titik puncak aliran permukaan,
selanjutnya titik diperoleh dari persamaan (Linsley, 1988) :

T A0.2
Di mana
T

waktu dalam hari,

luas DAS dalam mil persegi.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-62

Laporan Pendahuluan

Gambar 3.17. Berbagai metode pemisahan aliran langsung


Metode kemiringan berbeda dianggap sebagai metode yang paling teliti di antara
ketiga metode. Metode ini merupakan penggabungan dari kedua metode terdahulu.

3)

Hidrograf Satuan
Hidrograf satuan adalah hidrograf limpasan langsung yang dihasilkan oleh hujan

efektif yang terjadi merata di seluruh DAS dan dengan intensitas tetap selama satu
satuan waktu yang ditetapkannya, yang disebut hujan satuan. Hujan satuan adalah curah
hujan yang lamanya sedemikian rupa sehingga lamanya limpasan permukaan tidak
menjadi pendek, meskipun curah hujan itu menjadi pendek. Jadi hujan satuan yang dipilih
adalah yang lamanya sama atau lebih pendek dari periode naik hidrograf (waktu dari titik
permulaan aliran permukaan sampai puncak). Periode limpasan dari hujan satuan
semuanya adalah kira-kira sama dan tidak ada sangkut pautnya dengan intensitas hujan.
Hidrograf satuan merupakan model sederhana yang menyatakan respon DAS
terhadap hujan. Tujuan dari hirograf satuan adalah untuk memperkirakan hubungan
antara hujan efektif dan aliran permukaan. Konsep hidrograf satuan pertama kali
dikemukakan oleh Sherman pada tahun 1932, yang menyatakan bahwa suatu sistem

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-63

Laporan Pendahuluan
DAS mempunyai sifat khas yang menytakan respon DAS terhadap suatu masukan
tertentu.
4)

Hidrograf Satuan Sintetis


Untuk menurunkan hidrograf satuan diperlukan rekaman data limpasan dan data

hujan, padahal sering kita jumpai ada beberapa DAS tidak memiliki catatan limpasan.
Dalam kasus ini hidrograf satuan diturunkan berdasarkan data-data dari sungai pada
DAS yang sama atau DAS terdekat yang mempunyai karakteristik sama. Hasil dari
penurunan hidrograf satuan ini dinamakan hidrograf satan sintetis, yang mencakup tiga
jenis, yaitu :

HSS yang mengkaitkan karakteristik hidrograf(debit puncak, waktu dasar,


dsb) dengan karakteristik DAS (Snyder, 1938; Gray, 1961)
HSS berdasarkan hidrograf satuan tak berdimensi (SCS, 1972)
HSS berdasarkan model simpanan DAS (Clark, 1943).

HSS Snyder
Ada tiga parameter hidrograf yaitu : lebar dasar hidrograf, debit puncak dan
kelambatan DAS (basin lag).
Snyder beranggapan bahwa karakteristik DAS yang mempunyai pengaruh kuat
terhadap hidrograf satuan sintetik adalah luas DAS, bentuk DAS, topografi, kemiringan
saluran, kerapatan sungai dan daya tampung saluran. Rumus-rumus yang dipakai adalah
a)

Keterlambatan DAS (basin lag)


t p 5,5t r

t p C1Ct LLc

0,3

Di mana :
tp

= keterlambatan DAS (jam),

= panjang sungai utama dari outlet ke batas hulu (km),

Lc = jarak antara outlet ke titik pada sungai yang terdekat dengan titik
pusat (centriod) DAS,
C1 = 0,75 (C1 = untuk sistem Inggris)
Ct = koefisien yang diturunkan dari DAS yang memiliki data pada daerah
yang sama,

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-64

Laporan Pendahuluan
tr
b)

= durasi hujan.

Debit puncak per satuan luas dari hidrograf satuan standar

qp

C 2C p
tp

Di mana
C2 = 2,75 (640 untuk sistem Inggris)
Cp = koefisien yang diturunkan dari DAS yang memiliki data pada
daerah yang sama.

HSS Gama 1
Metode ini dikembangkan oleh DR. Ir. Sri Harto, berdasarkan penelitian 30 DPS
di pulau Jawa. Satuan hidrograf sintetik Gama I dibentuk oleh tiga komponen dasar
yaitu waktu naik (TR), debit puncak (Qp), waktu dasar (TB), dengan uraian sebagai
berikut :
1.

Waktu naik (TR) dinyatakan dengan rumus :


L

TR 0,43

100 SF

1,0665 SIM 1,2775

Di mana :
TR

= Waktu naik (jam)

= Panjang sungai (km)

SF

= Faktor sumber yaitu perbandingan antara jumlah


panjang sungai tingkat I dengan jumlah panjang sungai
semua tingkat.

SIM = Faktor simetri ditetapkan sebagai hasil kali antara


factor lebar (WF) dengan luas relatif DAS sebelah hulu
( RUA )
WF = Faktor lebar adalah perbandingan antara lebar DPS
yang diukur dari titik di sungai yang berjarak 3/4 L dan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-65

Laporan Pendahuluan
lebar DPS yang diukur dari titik yang berjarak 1/4 L dari
tempat pengukuran (lihat gambar).

2.

Debit puncak (Qp) dinyatakan dengan rumus :


Qp 0,1836. A 0 ,5886 .JN 0, 2381 .TR 0 , 4008

di mana :

3.

Qp

= Debit puncak (m3/dt)

JN

= Jumlah pertemuan sungai

TR

= Waktu naik

Waktu dasar (TB) dinyatakan dengan rumus :


TB 27,4132.TR 0 ,1457 .S 0 , 0986 .SN 0 , 7344 .RUA 0 , 2574

di mana :
TB

= Waktu dasar (jam)

TR

= Waktu naik (jam)

= Kelandaian sungai rata-rata

SN

= Frekuensi sumber yaitu perbandingan antara jumlah


segmen sungai-sungai tingkat I dengan jumlah sungai
semua tingkat.

RUA = Luas DPS sebelah hulu (km) (lihat gambar).


Beberapa parameter penting dalam perhitungan HSS Gama 1 adalah sebagai
berikut ini :
1. Faktor-sumber, (SF) yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungaisungai tingkat satu dengan jumlah panjang sungai-sungai semua
tingkat.
2. Frekuensi-sumber, (SN) yaitu perbandingan antara jumlah pangsa
sungai-sungai tingkat satu dengan jumlah pangsa sungai-sungai semua
tingkat.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-66

Laporan Pendahuluan
3. Faktor-lebar, (WF) yaitu perbandingan antara lebar DAS yang diukur
dititik di sungai yang berjarak 0,75 L dengan lebar DAS yang diukur
dititik di sungai yang berjarak 0,25 L dari stasiun hidrometri.
4. Luas DAS sebelah hulu , (RUA) yaitu perbandingan luas DAS yang
diukur di hulu garis yang ditarik tegak lurus garis hubung antara stasiun
hidrometri dengan titik yang paling dekat dengan titik berat DAS,
melewati titik tersebut.
5. Faktor simetri, (SIM) yaitu hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan
luas DAS sebelah hulu (RUA) .
6. Jumlah pertemuan sungai, (JM) adalah jumlah semua pertemuan sungai
didalam DAS tersebut. Jumlah ini tidak lain adalah jumlah pangsa
sungai tingkat satu dikurangi satu.
7. Kerapatan-jaringan-kuras, (D) yaitu jumlah panjang sungai semua
tingkat tiap satuan luas DAS.
Penetapan tingkat-tingkat sungai dilakukan dengan cara Strahler (1964) yang
pada dasarnya sebagai berikut :
1. Sungai-sungai paling ujung adalah sungai-sungai tingkat satu.
2. Apabila dua buah sungai dengan tingkat yang sama bertemu akan
terbentuk sungai satu tingkat lebih tinggi.
3. Apabila sebuah sungai dengan suatu tingkat bertemu dengan sungai
lain dengan tingkat yang lebih rendah maka tingkat sungai yang
pertama tidak berubah.
Penetapan parameter-parameter yang disebutkan diatas dapat dilakukan dengan
mudah, namun memerlukan kesabaran dan peta yang digunakan dengan skala 1:
50.000. Untuk itu pengukuran dianjurkan paling tidak dilakukan pengulangan sebanyak
tiga kali, untuk memperoleh pengukuran yang lebih baik.

Qt=Qp*e^(-t/K)

Qp
t
TR
RTD Bend. Way Rarem, TB
Way
- 1Tengkorak, Sermo dan Situ Patok
TB
Gambar 3.18. Sketsa HSS Gama 1

III-67

Laporan Pendahuluan

Dalam pemakaian cara ini masih ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan,
diantaranya sebagai berikut :
Koefisien tampungan dipergunakan untuk menetapkan liku-resesi hidrograf-

satuan

yang

pada

dasarnya

dapat

didekati

dengan

persamaan

eksponensial (Van Dam, 1979). Koefisien Tampung, K dirumuskan sebagai


berikut :
K = 0,5617 x A0,1798 x D0,0452 / S0,1446 / SF1,0897
dengan :
SF = faktor sumber
A

= luas DAS (km2)

= landai sungai rerata

= koefisien tampung (jam)

= kerapatan jaringan kuras

Sisi naik hidrograf satuan mengikuti persamaan garis lurus, sedangkan sisi

resesi merupakan eksponensial dengan persamaan sebagai berikut :


Qt = Qp .

1
)
K

Dalam menetapkan hujan rata-rata DAS, masih perlu mengikuti cara-cara

yang ada. Akan tetapi, apabila dalam praktek analisis tersebut sulit, maka
dapat disarankan untuk menggunakan cara yang disebutkan berikut ini,
dengan mengalikan hujan titik dengan faktor reduksi hujan, sebesar :

= 1,5518 A0,1491 N0,2725 SIM0,0259 S0,0733

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-68

Laporan Pendahuluan

Penetapan Hujan efektif untuk memperoleh hidrograf dilakukan dengan


menggunakan indeks-infiltrasi atau metode indeks. Untuk memperoleh
indeks ini agak sulit. Untuk ini, dipergunakan pendekatan dengan mengikuti
petunjuk Barnes (1959). Perkiraan dilakukan dengan mempertimbangkan
pengaruh parameter DAS yang secara hidrolik dapat diketahui pengaruhnya
terhadap indeks infiltrasi. Persamaan pendekatannya dipengaruhi fungsi
luas DPS dan frekuensi sumber SN., dirumuskan sebagai berikut :

= 10,4903 3,859 . 10-6 . A2 = 1,6985 . 10-13 . (A/SN)4

dimana :

indeks infiltrasi, dalam mm/jam

luas DPS dalam km2

SN

frekuensi sumber, tidak berdimensi

Untuk memperkirakan aliran-dasar dipergunakan persamaan pendekatan


berikut ini. Persamaan ini merupakan pendekatan untuk aliran dasar yang
tetap, dengan memperhatikan pendekatan Kraijenhoff van der Leur (1967)
tentang hidrograf air laut.
Aliran Dasar dapat didekati sebagai fungsi luas DPS dan kerapatan jaringan
sungai yang dirumuskan sebagai berikut :
0,4751 . A0,6444A D0,9430

QB

QB

aliran dasar (m3/dt)

luas DPS (km2)

kerapatan jaringan sungai (km/km2)

Dimana :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-69

Laporan Pendahuluan

Gambar 3.19. Sketsa Penetapan WF dan


RUA
Metode Nakayasu
Hidrograf satuan sintetik metode DR. Nakayasu telah berulang kali diterapkan di
Jawa Timur terutama pada DTA kali Brantas. Hingga saat ini hasilnya cukup
memuaskan. Penggunaan metode ini memerlukan beberapa karakteristik
parameter daerah alirannya sebagai berikut:
1. Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak hidrograf (time of peak)
2. Tenggang waktu dari titik berat hujan sampai titik berat hidrograf (time lag)
3. Tenggang waktu hidrograf (time base of hydrograph)
4. Luas daerah tangkapan air
5. Panjang alur sungai utama terpanjang (length of the longest channel)
6. Koefisien pengaliran.

Rumus dari hidrograf satuan Nakayasu adalah :

Qp

A.R0
3,6.(0,3.Tp T0,3 )

dengan :
Qp

= Debit puncak banjir (m3/det)

Ro

= Hujan satuan (mm)

Tp

= Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir


(jam)

T0,3

= Waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari puncak


sampai 30% dari debit puncak

= Luas daerah tangkapan sampai outlet

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-70

Laporan Pendahuluan
Untuk menentukan Tp dan T0,3 digunakan pendekatan rumus sebagai berikut
:
T p t g 0,8t r
T0 ,3 .t g

tr = 0,5 tg sampai tg
tg adalah time lag yaitu waktu antara hujan sampai debit puncak banjir
(jam). tg dihitung dengan ketentuan sebagai berikut :
Sungai dengan panjang alur L 15 km :
tg = 0,4 + 0,058 L
Sungai dengan panjang alur L 15 km :
tg =0,21 L0,7
dimana :
tr

= Satuan Waktu hujan (jam)

= Parameter hidrograf, untuk


=2

=> Pada daerah pengaliran biasa

=1,5

=> Pada bagian naik hydrograf lambat, dan


turun cepat

=3

=> Pada bagian naik hydrograf cepat, turun


lambat

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-71

Laporan Pendahuluan
i

tr
t

0.8 tr

tg

lengkung naik

lengkung turun

Qp
2

0.3 Qp
0.3 Q
Tp

To.3

1.5 To.3

Gambar 3.20. Sketsa HSS Nakayasu

1. Pada waktu naik :


t
T
p

2, 4

Qp

0 < t < Tp

dimana,
Q(t)

= Limpasan sebelum mencari debit puncak (m3)

= Waktu (jam)

2. Pada kurva turun (decreasing limb)


a. Selang nilai : 0 t (Tp+T0,3)

t Tp

Q t Q p .0,3 T 0,3

b. Selang nilai: (Tp+T0,3) t (Tp + T0,3 + 1,5 T0,3)

t Tp 0,5T0 , 3

Q t Q p .0,3

1, 5.T 0 , 3

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-72

Laporan Pendahuluan
c. Selang nilai : t >

(Tp + T0,3 + 1,5 T0,3)

t Tp 0 ,5T0 , 3

Q t Q p .0,3

2 , 0.T 0 , 3

Rumus tersebut diatas merupakan rumus empiris, maka penerapannya terhadap


suatu daerah aliran harus didahului dengan suatu pemilihan parameter-parameter
yang sesuai yaitu Tp dan , dan pola distribusi hujan agar didapatkan suatu pola
hidrograf yang sesuai dengan hidrograf banjir yang diamati.
Hidrograf banjir dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
n

Qk U i .Pn ( i 1)
i 1

dimana :
Qk = Debit Banjir pada jam ke - k
Ui

= Ordinat hidrograf satuan (I = 1, 2, 3 .. .n)

Pn

= Hujan netto dalam waktu yang berurutan (n = 1,2,..n)

HSS tak berdimensi SCS


Hidrograf tak berdimensi SCS (Soil Conservation Services) adalah hidrograf satuan
sintetis, di mana debit dinyatakan sebagai nisbah debit (q) terhadap debit puncak (qp) dan
waktu dalam nisbah waktu (t) terhadap waktu naik dari hidrograf satuan (Tp). jika debit
puncak dan waktu kelambatan dari suatu durasi hujan efektif diketahui, maka hidrograf
satuan dapat diestimasi dari hidrograf sintetis tak berdimensi untuk suatu DAS.

I.

Probable Maximum Flood (PMF)


Debit banjir yang digunakan untuk perhitungan Analisis Keruntuhan Bendungan

(Dam Break Analysis) adalah debit banjir PMF (Probable Maximum Flood) dengan
hujan maximum PMP (Probable Maximum Precipatation) dihitung dengan metode
Hersfield, dimana merupakan debit rancangan terbesar yang diperkirakan berpeluang
sekali terjadi sepanjang eksistensi umur waduk. Sebagai pembanding Konsultan tetap

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-73

Laporan Pendahuluan
akan menghitung debit banjir PMF metode Isohyet dan memperbandingkannya dengan
debit rancangan kala ulang 10.000 tahunan.
Untuk perhitungan banjir tersebut diambil asumsi-asumsi sebagai berikut :
1. Hujan efektif diperhitungkan terhadap beberapa faktor yaitu faktor reduksi area,
faktor reduksi hujan dan besarnya faktor kehilangan.
2. Debit banjir dihitung dengan menggunakan data hujan (stasiun penakar hujan di
dalam dan di sekitar DAS Waduk Gondang), serta data pengamatan debit (di
sekitar damsite).
3. Dari hasil perhitungan dari metode tersebut yang akan dipakai sebagai dasar
perhitungan Analisis Keruntuhan Bendungan.
Curah Hujan Rancangan
Curah hujan rancangan yang akan digunakan ditentukan berdasarkan hujan
maksimum boleh jadi yang memperhitungkan Faktor Keamanan. Analisis hujan
maximum boleh jadi (PMP) dihitung dengan menggunakan metode Hersfield (Guide
Line for Design Floods, Bina Program Guide Line No : 5) sebagai berikut :
X

PMP

X K. S

dimana :
XPMP

hujan banjir maximum boleh jadi

nilai rata-rata hujan / banjir

faktor koefisien Hersfield

standard deviasi

Distribusi Hujan
Untuk mentransformasi curah hujan rancangan menjadi debit banjir rancangan
diperlukan besaran distribusi hujan setiap jamnya. Distribusi hujan yang digunakan
berdasarkan data hujan jam-jaman yang tersedia pada lokasi DTA. Sedangkan untuk
lokasi yang tidak mempunyai data hujan jam-jaman, digunakan distribusi hujan yang
dianjurkan seperti pada PSA-007 dengan estimasi durasi hujan 6 jam, 12 jam, dan 16
jam.

Hidrograf Satuan Sintetik Gama - I


Hidrograf satuan sintetik ini dikembangkan oleh Sri Harto yang diturunkan
berdasarkan teori hidrograf satuan sintetik yang dikemukakan oleh Sherman. Hidrograf

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-74

Laporan Pendahuluan
Satuan Sintetik Gama-I merupakan persamaan empirik yang diturunkan dengan
mendasarkan pada parameter-parameter. DPS (Daerah Pengaliran Sungai) terhadap
bentuk dan besaran hidrograf satuan parameter-parameter DPS tersebut yaitu faktor
sumber (SF), frekuensi sumber (SN), faktor lebar (WF), luas relatif (RUA), faktor
simetris (SIM) dan jumlah pertemuan sungai.
Karakteristik hidrograf satuan sintetik Gama-I dapat dillihat pada gambar berikut
di bawah ini :
SKETSA PENETAPAN WF

SKETSA PENETAPAN RUA

WU
U = 0,75 L
WL
V = 0,25 L

WF=WU/WL

Gambar 3.21. Sketsa Bentuk DTA

Satuan hidrograf sintetik Gama-I dibentuk oleh tiga komponen dasar yaitu
waktu naik (TR), debit puncak (QP), waktu dasar (TB) dengan uraian sebagai berikut :
* Waktu naik TR dinyatakan dalam persamaan :
TR = 0,43 (L/100 SF)3 + 1,0665 SIM + 1,2775
dimana :
TR

waktu naik (jam)

panjang sungai (km)

SF

faktor sumber yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai


tingkat I dengan panjang sungai semua tingkat.

SIM

faktor simetri ditetapkan sebagai hasil kali

antara faktor lebar

(WF) dengan luas relatif DAS sebelah hulu (RUA).

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-75

Laporan Pendahuluan
WF

faktor lebar yaitu perbandingan antara lebar DPS yang diukur dari
titik di sungai yang berjarak 3/4 L dan lebar DPS yang diukur dari
titik yang berjarak 1/4 L dari tempat pengukuran.

Debit Puncak (QP) dinyatakan dengan rumus :


QP = 0,1836 . A 0,5886 . TR -0,4008 . JN 0,2381
dimana :
QP =

Debit Puncak (m3/det)

Jumlah Pertemuan Sungai

TR =

Waktu naik

* Waktu dasar (TB) dinyatakan dengan rumus :


27,4132 . TR 0,1457 . S -0,0956 . SN 0,7344 . RUA 0,2574

TB =
dimana :
TB

Waktu Dasar

TR

Waktu Naik

Landai Sungai Rata-rata

SN

Frekuensi sumber yaitu perbandingan antara jumlah segmen


sungai-sungai tingkat I dengan jumlah sungai semua tingkat.

RUA =

Luas relatif DAS hulu.

* Koefisien Penampungan (K) dinyatakan dengan rumus :


K = 0,5617 . A 0,1798 . S -0,1446 . SF -1,0697 . D 0,0452
dimana :
K

Koefisien penampungan

Luas DAS (km2)

Landai sungai rata-rata

SF

Faktor Sumber

Kerapatan drainase

* Recession Curve
Qt = Qp . e -(L/K)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-76

Laporan Pendahuluan
dimana :
Qt

Debit pada waktu t (m3/det)

Qp

Debit puncak (m3/det)

Waktu dari saat terjadinya debit puncak (jam)

Koefisien tampungan.

Hidrograf Banjir Rancangan PMF


Hidrograf banjir PMF dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Qk

i 1

. Pn (i 1)

dimana :
Qk

= Debit Banjir pada jam ke - k

Ui

= Ordinat hidrograf satuan (I = 1, 2, 3 ...... .n)

Pn

= Hujan netto dalam waktu yang berurutan (n = 1, 2, 3 ......... n)

Bf

= Aliran dasar (base flow)

Untuk perhitungan dengan Metode Gamma I, parameter yang dibutuhkan adalah


luas daerah pengaliran sungai DAS.
J.

Analisa Lengkung Kapasitas Waduk


Analisa lengkung kapasitas waduk ditujukan untuk keperluan penelusuran banjir

(hydrograph PMF atau debit dengan kala ulang tertentu) melalui waduk dan spillway
(reservoir flood routing).
Berdasarkan pada data teknis Bendungan Way Rarem, Bendungan Way
Tengkorak, Bendungan Sermo, dan Bendungan Situ Patok, lengkung kapasitas waduk
dapat dilihat pada gambar berikut di bawah ini.
Routing Waduk digunakan untuk mengetahui apakah dengan debit rancangan
PMF, waduk akan mengalami overtopping atau tidak.

Jika tidak, maka analisis

terhadap keruntuhan bendungan akan disimulasikan hanya disebabkan oleh piping.

Metode perhitungan routing yang digunakan adalah berdasarkan persamaan:


Sj+1 Sj = ((Ij + Ij+1) t ((Qj + Qj+1)/2)t

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-77

Laporan Pendahuluan
Dimana :
S = fungsi tampungan
Q = hidrograf outflow
I

= hidrograf inflow

t = interval durasi

Q = C L H 3/2
Dimana:
Q = debit desain (m3/dt)
C = koefisien debit antara 1,8 2.7
L = panjang mercu spillway : 50 m
H = kedalaman muka air (m)

Gambar 3.22 (1/4)


LENGKUNG KAPASITAS WADUK WAY RAREM (ANALISIS AWAL)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-78

Laporan Pendahuluan
Gambar 3.22 (2/4)
LENGKUNG KAPASITAS WADUK WAY TENGKORAK (ANALISIS AWAL)

Gambar 3.22 (3/4)


LENGKUNG KAPASITAS WADUK SERMO (ANALISIS AWAL)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-79

Gambar 3.22 (4/4)


LENGKUNG KAPASITAS WADUK SITU PATOK (ANALISIS AWAL)

Laporan Pendahuluan

Gambar 3.22 (4/4)


LENGKUNG KAPASITAS WADUK SITU PATOK (ANALISIS AWAL)

Dimana setiap 5 tahun sekali setelah beroperasi, lengkung kapasitas Waduk tersebut
di atas seharusnya dikaji ulang. Hal tersebut disebabkan oleh terjadinya sedimentasi
di dalam waduk yang berakibat berkurangnya volume efektif waduk.

3.2.9 Simulasi Keruntuhan Bendungan


Setelah dilakukan analisis inflow hidrograf ke waduk berdasarkan hujan PMP
sehingga menghasilkan hidrograf PMF, maka dapat dievaluasi apakah banjir tesebut
mengakibatkan overtopping pada puncak bendungan atau tidak. Apabila tidak terjadi
Overtopping, maka analisis terhadap keruntuhan bendungan dilakukan terhadap
Piping, atau simulasi keruntuhan akibat overtopping tetap dapat dilakukan atas asumsi
terjadinya landslide di sekitar waduk atau oleh akibat lainnya seperti adanya sabotase
dan lain-lain.
Selain itu deliniasi terhadap Peta DEM, khususnya di wilayah lembah di hilir
bendungan termasuk dimensi bangunan-bangunan air yang berada di sungai yang
perlu diperhitungkan juga harus dipersiapkan terlebih dahulu. Setelah data-data
tersebut di atas disiapkan, maka pekerjaan analisis untuk keruntuhan bendungan
dapat mulai dilaksanakan.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-80

Laporan Pendahuluan
Software DBA digunakan untuk membuat hidrograf aliran keluar dari
bendungan dan merouting banjir yang terjadi secara hidrolis di sepanjang lembah hilir
serta menggambarkan peta genangan banjir yang terjadi secara otomatis.
Persamaan dasar yang digunakan dalam model simulasi adalah persamaan
St. Venant yang lengkap untuk aliran unsteady yang dikaitkan dengan persamaan
batas internal (internal boundary equations) sebagai aliran berubah cepat (rapidly
varied flow) lewat bangunan seperti bendung dan jembatan / timbunan yang dapat
berkembang menjadi rekahan yang tergantung pada waktu (time dependent). Juga
digunakan persamaan batas external (external boundary equations) di ujung hulu dan
hilir dari routing reach. Sistem persamaannya diselesaikan dengan metode finitedifference implisit 4 titik timbang non-linier, disamping itu untuk software DBA
(ZhongXing-HY21) digunakan penyelesaian cara finite element.

Alirannya dapat

berupa aliran subkritis maupun superkritis atau berupa kombinasi dari keduanya. Sifat
zat cair dari aliran dapat mengikuti prinsip-prinsip aliran Newton atau bukan
(Newtonian or non Newtonian flow).
Hidrograf ditentukan sebagai masukan berupa deret kala (time series).
Kemungkinan keberadaan bendungan di hilir yang dapat direkahkan oleh banjir,
penyempitan aliran karena adanya jembatan/timbunan, aliran masuk dari anak sungai,
adanya belokan-belokan sungai, tanggul yang terletak di sepanjang sungai hilir, dan
pengaruh pasang-surut muara ditinjau secara baik selama merambatnya gelombang
banjir ke hilir.

A.

Rekahan
Sebelum bendungan mengalami keruntuhan total, didahului oleh terjadinya

rekahan (breaching). Rekahan adalah lubang yang terbentuk dalam tubuh bendungan
pada saat runtuh. Sebenarnya mekanisme keruntuhannya tidak begitu dipahami, baik
untuk bendungan urugan tanah maupun bendungan beton. Untuk meramal banjir di
daerah hilir akibat keruntuhan bendungan, biasanya dianggap bahwa bendungan
runtuh secara total dan secara mendadak.
Para peneliti dari gelombang banjir akibat keruntuhan bendungan seperti Ritter
(1892), Schoklitich (1917), Dressler (1954), Stoker (1957) dan Barnes (1969)
menganggap bahwa rekahan tersebut meruntuhkan seluruh tubuh bendungan dan
terjadi secara mendadak. Sedangkan peneliti lain seperti Schoklitsch (1917) dan US
Army Corps of Engineers (1960) mengakui perlunya anggapan rekahan sebagian,

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-81

Laporan Pendahuluan
dibandingkan rekahan total, tetapi mereka masih menganggap bahwa rekahan terjadi
secara mendadak. Asumsi rekahan total dan kejut ini digunakan dengan alasan untuk
memudahkan bila diterapkan teknik matematika untuk menganalisis gelombang banjir
dari keruntuhan bendungan. Asumsi asumsi ini agak cocok bila dipakai untuk
bendungan beton pelengkung (concrete arch dam). Sedangkan untuk bendungan
urugan maupun concrete gravity dam kurang cocok.
Rekahan tersebut ada dua jenis, yaitu:
- Rekahan karena overtopping
- Rekahan karena piping

a.

Rekahan Karena Overtopping


Rekahan karena overtopping disimulasikan berupa rekahan yang berbentuk segi

empat, segitiga atau trapesium. Rekahan tersebut makin lama makin membesar
dengan waktu secara progresip dari puncak bendungan ke bawah sampai mencapai
pondasi. Aliran yang melewati rekahan diperhitungkan sebagai aliran melewati
ambang lebar (broad crested Bendung).
Bentuk

dari

terminal

breach

ditentukan

oleh

parameter

(Z)

yang

mengidentifikasikan lereng samping dari rekahan, yaitu lereng vertikal : Z horisontal,


dan parameter (b) yang disebut lebar terminal dari dasar rekahan.
Rentangan (range) dari nilai parameter lereng samping Z adalah : 0<Z<2. Nilai
ini tergantung dari lereng alam dari material yang dipadatkan dan dibasahi. Bentukbentuk segipanjang, segitiga atau trapesium ditentukan dengan menggunakan
kombinasi nilai-nilai Z dan b.
Lebar terminal b dihubungkan dengan lebar rata-rata dari rekahan b, kedalaman
rekahan h dan lereng rekahan (Z), sedemikian rupa sehingga :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-82

Laporan Pendahuluan

b = bbar - 0,5 Zhd ..........................(1)

Dam

ho

Breach

hb

hbm
b

Gambar 3.23. Tampak depan dari formasi perubahan ukuran rekahan yang
terjadi pada tubuh dam akibat overtopping
Seperti terlihat pada gambar di atas, rekahan tersebut dimulai pada satu titik
kemudian membesar dengan kecepatan linier atau nonlinier dalam selang waktu
keruntuhan hingga tercapai lebar terminal b dan dasar rekahan tererosi hingga
elevasi h bm yang biasanya merupakan elevasi dasar waduk atau outlet channel.
Jika < 1 menit, lebar rekahan dimulai dengan nilai b bukan dari nol. Ini lebih
menunjukkan peristiwa kehancuran karena ambruk (collapse failure) dari pada
kehancuran karena erosi.
Elevasi dasar rekahan di simulasikan sebagai fungsi dari waktu () menurut
hubungan berikut ini :
hb = hd - (hd - hbm) (tb / ) untuk 0 < tb < ................(2)
dimana :

hbm =

elevasi final dari dasar rekahan

tb

waktu sejak mulai terjadi rekahan

pangkat yang menunjukkan non linieritas yang

besarnya antara

1 sampai 4
kalau = 1 adalah kecepatan rekahan linier
kalau = 2 adalah kecepatan rekahan nonlinier kuadratik.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-83

Laporan Pendahuluan
biasanya digunakan = 1
Lebar dasar kejut (b) dari rekahan di berikan sebagai hubungan sebagai berikut :
bi

= b (tb / ) untuk 0 < tb < .....................................(3)

bi= lebar kejut rekahan


Selama simulasi dari keruntuhan bendungan, formasi rekahan yang
sesungguhnya dimulai bila elevasi muka air (h) melebihi suatu nilai hf. Gambaran ini
memungkinkan adanya simulasi suatu pelimpahan (overtopping) dari suatu
bendungan dimana rekahannya tidak akan terbentuk sampai aliran airnya cukup besar
melewati mercu bendungan.
b.

Rekahan Karena Piping


Keruntuhan bendungan akibat piping dapat disimulasikan dengan menentukan

elevasi sumbu dari pipingnya. Ini disimulasikan sebagai rekahan lubang (orifice)
berbentuk segipanjang.

hd

hf
hbm
b

Gambar 3.24. Tampak depan dari formasi berubahan ukuran rekahan yang
terjadi pada tubuh dam akibat piping
Rekahan karena piping disimulasikan sebagai lubang (orifice), rekahan
berbentuk segiempat yang tumbuh dengan waktu keatas dan kebawah dalam tubuh
bendungan. Aliran kejut (instanteneous flow) lewat rekahan tersebut dihitung dengan
rumus orifice atau sebagai ambang lebar, tergantung pada posisi muka air di waduk
dan puncak dari orifice.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-84

Laporan Pendahuluan
Debit yang keluar dari kedua macam rekahan tersebut merupakan hidrograf
banjir yang terjadi pada penampang melintang 0 (permulaan), yang harus ditelusur ke
hilir di sepanjang lembah sungai dengan metode Unsteady flow.

c.

Pemeriksaan Parameter Rekahan


Cara lain untuk memeriksa kebenaran parameter rekahan (b bar dan ) adalah

dengan menggunakan persamaan berikut ini :


Qp*

370 ( Vr hd )0,5 ............................................. (4)

Qp

3,1 bbar [C / +C/(hd)0,5]3 ........................... (5)

23,4 As / bbar .............................................. (6)

Qp*

debit puncak yang diharapkan lewat rekahan.

Qp

debit puncak yang diharapkan lewat rekahan.

Vr

volume waduk.

As

luas permukaan waduk pada puncak bendungan.

dimana :

Persamaan (4) dikembangkan oleh Hagen (1962) untuk data historik bagi 14
keruntuhan bendungan dan menghasilkan lingkungan maksimum dari seluruh 14 buah
debit yang diamati.
Rumus (5) dan (6) dibuat Fread (1981) dan digunakan oleh National Weather
Service dalam Simplified Dam Break Model, SMP DBK (Wetmore dan Fread, 1984).
Setelah dipilih bbar dan , persamaan (5) dapat dipakai untuk menghitung Qp yang
kemudian dapat dibandingkan dengan Qp*, maka bbar kecil dan/atau terlalu besar.
Fread menemukan bahwa Persamaan (6) merupakan over estimasi debit
puncak untuk tiap kegagalan dari 21 bendungan, (termasuk 14 kegagalan yang
disebutkan sebelumnya, rata-rata 130%.

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-85

Laporan Pendahuluan
d.

Algoritma Komputasi Hidrolik


Untuk penelusuran gelombang banjir akibat keruntuhan bendungan digunakan

metode yang dikenal sebagai metode gelombang dinamik. Metode ini didasarkan atas
aliran tidak permanen yang digunakan untuk menelusur hidrograf banjir akibat
keruntuhan bendungan. Metode ini didasarkan atas versi yang diperluas dari
persamaan-persamaan aslinya yang dibuat oleh Barre de Saint-Venant (1871).
Koefisien satu-satunya yang harus diekstrapolasikan adalah koefisien tahanan aliran.
Koefisien tersebut bukanlah parameter sensitif dalam mempengaruhi perubahan
dari gelombang banjir akibat perambatannya melewati lembah di hilir bendungan.
Persamaan

Saint

de

Venant

setelah

ditambah

dengan

efek

pelebaran/penyempitan, channel sinuosity (perbandingan panjang palung terhadap


panjang flood plain) dan kekekalan massa menjadi sebagai berikut :
Q
s

( A A0 ) q 0
x
t

dan kekekalan momentum sebagai berikut :


h

( sQ)
( Q 2 ) g A
S f Se Si L' 0
t
x
x

Dimana :
h

= elevasi muka air

= penampang melintang aktif dari aliran

Ao = penampang aliran tidak aktif dari aliran (off cannal)


s

= faktor sinuosity yang beragam dengan h

= jarak memanjang menurut lembah

= waktu

= aliran masuk atau aliran keluar samping per jarak panjang menurut
sepanjang lembah (aliran masuk positif dan aliran keluar negatif)

= koefisien momentum untuk distribusi kecepatan

= percepatan gravitasi

Sf

= lereng gesekan batas

Se = lereng pelebaran-penyempitan

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-86

Laporan Pendahuluan
Dalam persamaan momentum effect dari aliran samping yang masuk atau keluar
secara tegak lurus terhadap arah aliran pokok:
1. Aliran masuk samping :
L =

2. Aliran keluar rembesan samping :


L =

0,5qQ/A

3. Bulk lateral outflow


L =

qQ/A

Lereng gesekan batas (Sf) dalam persamaan (8) dihitung dari persamaan
Manning untuk aliran uniform dan persamaan :
Sf = (n2 Q Q) / (2.21A2R4/3) = Q Q/K2
dimana :
n

= koefisien manning untuk tahanan gesekan

= radius hidrolika

= faktor conveyance (angkut)

Faktor conveyance K dihitung sebagai berikut :


Kl =

(1.49 / nl)Al Rl^(2/3)

Kc =

(1,49 Ac Rc 2/3) (nc(2/3)

Kr =

(1,49 / nr) Ar Rr 2/3

K =

Kl + Kc + Kr

dalam mana indeks l dan r menunjukkan flood plain kiri channel dan flood plain
kanan. Faktor sinuositys merupakan perbandingan bobot (weighted ratio) dari jarak
sepanjang flood plain. Ini beragam dengan kedalaman aliran menurut hubungan
berikut ini :
2
1.06 (K l2 / A l K 2
c / A c K r / Ar )
(K l K c K r )2 / (A l A c A r )

= 1.06 bila karakteristik flood plain tidak ditentukan dan penampang


totalnya diperlakukan sebagai penampang komposit.

Suku Se ditentukan sebagai berikut :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-87

Laporan Pendahuluan
Se

(kce (Q/A)2 / 2g x)

kce

koefisien pengembangan penyusutan yang bergerak dari


0 1 (+ jika penyusutan dan - kalau pengembangan)

(Q/A)2 =

perbedaan dalam suku (Q/A)2 pada dua buah penampang yang


berdekatan berjarak x.

Diberlakuan ketentuan dalam DAMBRK untuk mengubah (secara otomatis)


kontraksi terhadap koefisien perluasan dan sebaliknya, jika perubahan arah aliran
dari hilir ke hulu di kasus mana nilai yang dihitung, negatif. Koefisien
perluasan/kontraksi (Kce) sementara diubah ke kn untuk aliran kebalikannya
dengan menggunakan hubungan sebagai berikut:
Kn = - Kce
Dimana :
=3
=
e.

jika Kce > 0

1
3

jika Kce > 0

Teknik Pemecahan Persamaan St. Venant


1.

MODEL MATEMATIS
Model mathematis persamaan Saint de Venant untuk aliran unsteady flow

pada saluran terbuka adalah sebagai berikut :


Persamaan kekekalan massa

Q
x

A
0
t

...................................(1)

Persamaan kekekalan momentum

Q
t
....

Q 2
A

) g A

y
x

gA

Q2
0
K 2

....................................(2)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-88

Laporan Pendahuluan
dimana :

elevasi muka air

A =

penampang melintang aktif dari aliran

Q =

debit aliran

jarak memanjang menurut lembah

waktu

koefisien momentum untuk distribusi kecepatan

percepatan gravitasi

K =

Conveyance (daya angkut sungai/saluran)


2

K =
n

R =

A 3
R
n

............................................

.....(3)

koefisien kekasaran Manning


jari-jari hidrolis

Persamaan (1) dapat dirubah menjadi :


Jika

A
A y
y

.
W
t
y t
t

....................................................(4)

Maka persamaan kekekalan massa menjadi :

Q
x

y
0
t

..................................................................

.(5)

dimana :

W = lebar sungai/saluran bagian atas

Persamaan (2) dapat dirubah menjadi :

Jika

Q 2
(
)
x
A

2 QA

Q
A
Q 2
2
x
x 2 Q Q Q A ..
A x
A2
A 2 x

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

....(6)

III-89

Laporan Pendahuluan
Maka persamaan kekekalan momentum menjadi :

Q
2 Q Q
Q 2 A

g A
2
t
A
x
x
A

gA

..................(7)

2.

METODE BEDA HINGGA (FINITE FIFFERENCE)


Known Q, y
t = waktu

1/2

1/2

Unknown Q, y

N+1

Faktor pembobot

0 1

J+1

(X = Jarak)

Gambar 3.25. Skema Preismann

Persamaan (5) dapat dirubah menjadi : F(I)=E1+E2=0


E1

Q
1
(1 )(QJN1 QJN ) (QJN11 QJN 1 )

x
x

E2 W

......(8)

y
1
( y JN 1 y Nj ) ( y JN11 y JN1 )
W
t
2t

..........(9)

Jika F(I) = 0 adalah persamaan kekelan massa, maka :


F(I)=

1
(1 )(QJN1 QJN ) (QJN11 QJN 1 ) +
x
W

1
( y JN 1 y Nj ) ( y JN11 y JN1 ) ...................(10)
2t

Persamaan (7) dapat dirubah menjadi : F(I+1)=G1+G2+G3+G4+G5=0, dimana :


G1

Q
1
(Q JN11 Q JN1 ) (Q JN 1 Q JN

t
2 t

....................(11)

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-90

Q2
0
K 2

Laporan Pendahuluan

G2

2 Q Q 2 Q

(Q JN11 Q JN 1 ) (1 )(Q JN1 Q JN )


A x
Ax

......(12)

Q 2 A
Q 2
G3 2
2 ( AJN11 AJN 1 ) (1 )( AJN1 AJN )
A x
A

y
x

G 4 g A

gA
(1 )( y JN1 y JN ) ( y JN11 y JN 1 )
x

..(13)

...(14)

Q2
G 5 gA
K2

............................................................

...........(15)

Maka :
F(I)

F(I+1) =

E1+E2=0

.........................................................

..............(16)

G1+G2+G3+G4+G5=0

.....................................................(17)
Persamaan F(I) dan F(I+1) merupakan persamaan non-linier dengan 4 bilangan yang
tidak diketahui, yaitu :

QJN 1 ; Q JN11 ; y JN 1 ; y JN11


Dimana

3.

N 1
: QJ

= Debit pada section ke-J pada waktu ke- N+1

QJN11

= Debit pada section ke-J+1, pada waktu ke N+1

y JN 1

= Elevasi muka air pada section ke-J, pada waktu ke N+1

y JN11

= Elevasi muka air pada section ke-J+1, pada waktu ke N+1

KONDISI BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH


Sehubungan hanya terdapat 2 persamaan dengan 4 bilangan tidak diketahui

(anu), maka untuk memecahkan persoalan tersebut diperlukan 2 persamaan


tambahan, yaitu :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-91

Laporan Pendahuluan
a. Kondisi batas atas (upper boundary condition), yang merupakan hydrograph inflow
PMF atau Q=f(t), yang menyebabkan keruntuhan bendungan (sejak terjadi
rekahan sampai kehancuran total).
b. Kondisi batas bawah (lower boundary condition), merupakan channel control
control atau rating curve H=f(Q), tinggi gelombang pasang di muara sungai,
bangunan struktur lanilla, misalnya tanggul, jalan kereta api, bukit, dan lain-lain
tergantung sampai batas mana banjir yang ditimbulkan oleh keruntuhan
bendungan terjadi.
Dengan tambahan dua persamaan di atas, maka persoalan tersebut dapat
diselesaikan secara numerik. Dengan kata lain jika terdapat sebanyak M buah cross
section maka akan terdapat (2M-2) persamaan dengan 2M bilangan tidak diketahui,
dimana untuk memecahkan persoalan tersebut diperlukan 2 persamaan tambahan
yang berupa hydrograph PMF Q=f(t) di bagian hulu (section ke-0) dan tinggi
gelombang pasang yM=C, control channel, dan lain-lain di bagian hilir (section ke-M),
dimana batas banjir diperkirakan terjadi.

4.

ANALISIS NUMERIK (METODE NEWTON-RAPHSON)


Setelah didapat sebanyak 2M bilangan tidak diketahui berupa debit aliran (Q)

dan elevasi muka air (y) dalam 2M persamaan, maka selanjutnya untuk mendapatkan
jawabannya digunakan metode Newton-Raphson yang diilustrasikan sebagai berikut
di bawah ini :
f 1 ( x1 , x 2 ,..., x n ) 0
f 2 ( x1 , x 2 ,..., x n ) 0

f n ( x1 , x 2 ,..., x n ) 0

Jika diberikan vektor nilai awal : x0 ( x10 , x2 0 ,..., xn 0 ) ,


maka akan terdapat vektor galat : ( 1 , 2 ,..., n )
Sehingga persamaan di atas dapat dirubah menjadi :

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-92

Laporan Pendahuluan
F1 f 1( x10 1 , x 20 2 ,.........., x n0 n ) 0
F2 f 2( x10 1 , x 20 2 ,.........., x n0 n ) 0

Fn f n ( x10 1 , x20 2 ,........., x n0 n ) 0

Dengan menggunakan Teori Ekspansi Deret Taylor, dimana :


f (m + h) = f(m) + h.f(m) , yang mana
f(m) = turunan pertama dari fungsi f(m)
maka persamaan di atas dapat dirubah menjadi berikut di bawah ini :

F1 f 1( x10 , x20 , , xn0 ) ( 1 f1'x1 2 f1'x n f1'x1 ) 0


0

F2 f 2( x10 , x20 , , xn0 ) ( f

20

2 f

'
1 2 x1

'
2 x2

n f

'
2 xn

)0

Fn f n ( x10 , x20 , , xn0 ) (1 f n'x1 2 f n'x2 n f n'xn ) 0


0

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-93

Laporan Pendahuluan
Atau dapat disusun menjadi :

(1 f1'x1 2 f1'x n f1'x1 ) f 1( x10 , x20 , , xn0 )


0

( f

'
1 2 x1

20

'
2 2 x2

'
n 2 xn

) f 2( x10 , x20 , , xn0 )

(1 f n'x1 2 f n'x2 n f n'xn ) f n ( x10 , x20 , , xn0 )


0

Persamaan di atas selanjutnya dapat dirubah menjadi bentuk Matriks Jacobi yang
bersifat banded sebagai berikut :

f1'x1

f1'x

f 2'x

f 2'x

f n'x1

f n'x2

10

20

20

f1'x1

f 2'x

n0

1
2

f 1( x10 , x20 , , xn0 )


f 2( x10 , x20 , , xn0 )

f n'xn

f n ( x10 , x20 , , xn0 )

Matriks Jacobi (A)

Vektor Galat (b)

Vektor c

Selanjutnya dilakukan iterasi sampai didapat nilai ABS() yang cukup kecil (memenuhi
syarat konvergensi).

f ( xi )
xi 1 xi i i
f ' ( xi )

Jika ABS() telah memenuhi syarat (0,01< <0,1), maka :

x1 ( x11 , x21 ,..., xn1 )

dst

3.2.10 Pemetaan Genangan Banjir


Setelah

dilakukan

penelusuran

banjir

terhadap

hydrograph

outflow

keruntuhan bendungan ke arah hilir waduk dengan menggunakan software


ZhongXing-Hy21 yang secara numerik telah dijelaskan sebelumnya, maka output yang
didapat adalah hydrograph banjir di setiap lokasi terpilih di wilayah lembah hilir waduk
yang terdiri dari informasi-informasi sebagai berikut :

Hydrograph banjir di lokasi terpilih Q = f(t) m3/dt

Elevasi banjir di lokasi terpilih H = f(t) m

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-94

Laporan Pendahuluan

Waktu perambatan banjir di lokasi terpilih (t)

Waktu surutnya banjir di setiap lokasi terpilih (t)

Kecepatan banjir di setiap lokasi terpilih (v)

Peta genangan banjir di seluruh wilayah yang terdampak.


Dimana output peta genangan tersebut di atas jika dioverlaykan dengan peta

wilayah administrasi yang mengcover wilayah pemukiman dan juga mengcover peta
infrastruktur dan fasilitas umum, maka akan didapatkan klasifikasi bahaya banjir
keruntuhan bendungan.

3.2.11 Penentuan Klasifikasi Tingkat Bahaya


Setelah

penggambaran

peta banjir

yang

dioverlaykan

dengan

peta

permukiman dan peta prasarana umum, selanjutnya dilakukan pengklasifikasian


terhadap tingkat bahaya banjir yang terjadi dengan menggunakan acuan Surat
Keputusan Dirjen SDA Nomor 257/KPTS/D/2011, tentang Pedoman Klasifikasi Bahaya
Bendungan yang dideskripsikan sebagai berikut di bawah ini.
Tabel III-12. Klasifikasi Bahaya.Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen SDA PU, tahun
2011.
Jarak Bagian Hilir dari Bendungan (km)

Jumlah Keluarga
Kumulatif

05

0 10

0 20

0 30

0 - >30

1 20

21 200

>200

Keterangan

Klasifikasi Bahaya

=1 :

bahaya rendah

Klasifikasi Bahaya

=2 :

bahaya sedang

Klasifikasi Bahaya

=3 :

bahaya tinggi

Klasifikasi Bahaya

=4 :

bahaya sangat tinggi

RTD Bend. Way Rarem, Way Tengkorak, Sermo dan Situ Patok

III-95