Anda di halaman 1dari 16

BAB.

2 PENDAPATAN REGIONAL
A.PENDAHULUAN
Tujuan kebijakan ekonomi adalah menciptakan kemakmuran. Salah satu
ukuran kemakmuran terpenting adalah pendapatan. Kemakmuran tercipta karena
ada kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Ada juga pendapatan dari harta,
tetapi harga adalah akumulasi dari kegiatan sebelumnya.
Pendapatan regional adalah tingkat pendapatan masyarakat pada wilayah
analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun
pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Ada beberapa parameter
yang biasa digunakan untuk mengukur adanya pembangunan wilayah. Salah satu
parameter terpenting adalah meningkatnya pendapatan masyarakat. Parameter
lain seperti peningkatan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan juga sangat
terkait dengan peningkatan pendapatan wilayah.
B. KONSEP DAN PENGERTIAN NILAI TAMBAH
Dalam membicarakan pendapatan dan pertumbuhan regional, sangat perlu
diketahui tentang konsep nilai tambah. Salah satu pengertian yang biasa terjadi
adalah apabila orang menganggap bahwa pendapatan regional adalah identik
dengan nilai produksi yang dihasilkan di wilayah tersebut. Nilai produksi tidak sama
dengan nilai tambah karena didalam nilai produksi telah terdapat biaya antara yaitu
biaya pembelian dari sektor lain yang telah dihitung sebagai produksi di sektor lain
atau berasal dari impor.
Pada umumnya yang termasuk dalam nilai tambah dalam suatu kegiatan
produksi adalah berupa upah/gaji, laba, sewa tanah, dan bunga uang yang
dibayarkan, penyusutan tak langsung.
1. Upah dan gaji adalah balas jasa yang dibayarkan kepada para pekerja sesuai
dengan prestasi, sedangkan gaji adalah balas jasa yang nilainya tetap untuk
kurun waktu tertentu.Upah/gaji adalah pendapatan bagi pekerja.
2. Laba atau keuntungan adalah total nilai penjualan dikurangi dengan biayabiaya yang dikeluarkan.Laba merupakan pendapatan bagi para pengusaha.
3. Sewa tanah
Sewa tanah diperhitungkan karena memberikan pendapatan bagi pemilik
tanah. Jika petani memiliki lahan sendiri berarti dia tidak mengeluarkan biaya
sewa tetapi labanya akan meningkat.
4. Bunga uang adalah pendapatan bagi pemilik modal karena meminjamkan
uangnya untuk ikut serta dalam proses produksi.
5. Penyusutan berarti menurunnya nilai dari alat yang dipakai dari proses
produksi, terutama alat yang dimiliki sendiri.
6. Pajak tidak langsung
Dalam harga jual terdapat unsur pajak penjualan dan bea cukai. Pajak tidak
langsung menaikan harga jual dan tidak menambah pendapatan produsen,
tetapi jatuh ke tangan pemerintah.
C. CONTOH PERHITUNGAN NILAI TAMBAH

Misalnya seorang petani mengolah sebidang tanah seluas 1 ha yang ditanami


jagung. Untuk memproduksi jagung, petani tersebut mengeluarkan biaya sebagai
berikut :
Membeli bibit 25 kg @ Rp 8.000,00
= Rp 200.000,00
Menyewa traktor untuk lahan 1 ha
= Rp 300.000,00
Tenaga kerja yang digaji 50 hk @ Rp 8.000,00 = Rp
400.000,00
Pupuk 250 kg @ Rp 2.000.00
= Rp 500.000,00
Pestisida 10 liter @ Rp 50.000,00
= Rp 500.000.00
Sewa mesin pipil
= Rp 500.000,00
Total pengeluaran
= Rp 2.400.000,00
Hasil produksi 5.000 kg @ Rp 1.000,00 = Rp 5.000.000,00
Keuntungan
= Rp 2.600.000,00

Dari contoh diatas, biaya antaranya adalah bibit, pupuk dan pestisida sebesar
Rp 1.200.000,00 sehingga nilai tambah dari kegiatan tersebut adalah Rp
5.000.000,00 Rp 1.200.000,00 = Rp 3.800.000,00. Ini adalah bagian yang bisa
dinikmati msayarakat setempat seandaianya seluruh factor-faktor produksi itu
dimiliki masyarakat setempat dengan catatan dari penghasilan tersebut masih perlu
dikurangkan biaya penyusutan dan pajak yang mungkin ditagih pemerintah.
D. BERBAGAI KONSEP DAN DEFINISI
Berbagai konsep dan definisi yang biasa dipakai dalam membicarakan
pendapatan regional akan dikemukakan berikut ini.
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Pasar
Adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor
perekonomian di wilayah itu. Yang di maksud dengan nilai tambah bruto
adalah nilai produksi dikurangi dengan biaya antara .
2. Produk Domestik Regioanal Neto (PDRN) atas Dasar Harga Pasar
Adalah produk domestic regional bruto atas dasar harga pasar
dikurangi penyusutan. Penyusutan yang dimaksud adalah nilai susut atau
pengurangan nilai barang-barang modal karena terpakai dalam proses
produksi atau karena faktor waktu.
3. Produk Domestik Regional Neto (PDRN) atas Dasar Biaya Faktor
Adalah PDRN atas dasar harga pasar dikurangi pajak tak langsung
neto. Pajak tidak langsung meliputi pajak penjualan, bea ekspor, bea cukai,
dan pajak lain-lain kecuali pajak pendapatan dan pajak perseroan.
4. Pendapatan Regional
Adalah produk domestik regional neto atas dasar biaya faktor dikurangi
aliran dana yang mengalir keluar ditambah aliran dana yang mengalir masuk
5. Pendapatan Perorangan dan Pendapatan Siap Dibelanjakan
Pendapatan perorangan merupakan pendapatan yang diterima oleh
rumah tangga. Sedangkan, apabila pendapatan perorangan dikurangi dengan
pajak yang langsung dibebankan kepada rumah tangga dan hibah yang
diberikan oleh rumah tangga, hasilnya merupakan pendapatan yang siap
dibelanjakan.
6. Pendapatan Regional atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan
Pendapatan regional yang didalamnya masih ada unsur inflasinya
dinamakan pendapatan regional atas dasar harga berlaku. Sedangkan

pendapatan regional dengan faktor inflasi yang sudah ditiadakan merupakan


pendapatan regional atas dasar harga konstan.
7. Pendapatan Per Kapita
Adalah total pendapatan suatu daerah dibagi jumlah penduduk di
daerah tersebut untuk tahun yang sama.
E. METODE PERHITUNGAN PENDAPATAN REGIONAL
Metode perhitungan pendapatan regional pada tahap pertama dapat dibagi
dalam dua metode yaitu metode langsung dan metode tak langsung. Metode
langsung adalah perhitungan dengan menggunakan data daerah atau data asli
yang menggambarkan kondisi daerah dan digali dari sumber data yang ada di
daerah itu sendiri. Sedangkan metode tidak langsung adalah perhitungan dengan
mengalokasikan pendapatan nasional menjadi pendapatan regional memakai
berbagai macam indikator.
1. Metode Langsung
a. Pendekatan Produksi
Adalah perhitungan nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi oleh
suatu kegiatan ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari total
nilai produksi bruto sektor atau subsektor tersebut.
b. Pendekatan Pendapatan
Dalam pendekatan pendapatan, nilai tamabah dari setiap kegiatan
ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima
faktor produksi yaitu, upah dan gaji dan surplus usaha, penyusutan, dan
pajak tidak langsung neto.
c. Pendekatan Pengeluaran
Adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa
yang diproduksi didalam negeri. Kalau dilihat dari segi penggunaan maka
total produksi barang dan jasa itu di gunakan untuk
Konsumsi rumah tangga
Konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung
Konsumsi pemerintah
Pembentukan modal tetap bruto (investasi)
Perubahan stok
Ekspor neto
2. Metode tidak langsung
Metode ini adalah suatu cara mengalokasikan produk domestik bruto
dari wilayah yang lebih luas ke masing-masing bagian wilayah, misalnya
mengalokasikan PDB Indonesia ke setiap provinsi dengan menggunakan
alokator tertentu yaitu :
Nilai produksi bruto atau neto setiap sektor/subsektor pada wilayah
yang dialokasikan
Jumlah produksi fisik
Tenaga kerja

Penduduk
Alokator tidak langsung lainnya

BAB 3. TEORI BASIS EKONOMI


A.PENGERTIAN DASAR
Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan
ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah
tersebut. Kegiatan ekonomi dikelompokan atas kegiatan basis dan kegiatan non
basis. Hanya kegiatan basis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.
Dalam kondisi pasar tertutup, bertambahnya produsen atau pasar yang tidak
dibarengi dengan bertambahnya permintaan lokal, dapat membuat harga jual
menjadi turun. Apabila harga jual berubah turun, nilai tambah dari kegiatan itu akan
turun karena laba investor (petani) berkurang. Namun kerugian bukan hanya
diderita oleh petani itu sendiri karean petani lain yang sebelumnya telah aktif pada
kegiatan tersebut juga menderita penurunan nilai tambah.
Dalam pengertian ekonomi regional, ekspor adalh menjual produk ke luar
wilayah baik ke wilayah lain dalam Negara itu maupun ke luar negeri. Tenaga kerja
yang berdomisili di wilayah kita, tetapi bekerja dan memperoleh uang dari wilayah
lain termasuk dalam pengertian ekspor. Pada dasarnya kegiatan ekspor adalah
semua kegiatan baik penghasil produk maupun penyedia jasa yang mendatangkan
uang dari luar wilayah disebut kegiatan basis. Atas dasar anggapan diatas, satusatunya sector yang bisa meningkatkan perekonomian wilayah melebihi
pertumbuhan alamiah adalah sector basis.
B. PENGGANDA BASIS
Analisis basis dan non basis pada umumya didasarkan atas nilai tambah
ataupun lapangan kerja. Misalmya, penggabungan lapangan kerja basis dan
lapangan kerja non basis merupakan total lapangan kerja yang tersedia untuk
wilayah tersebut. Demikian pula penjualan pendapatan sektor basis dan
pendapatan sektor non basis merupakan total pendapatan wilayah tersebut. Di
dalam suatu wilayah dapat dihitung berapa besar lapangan kerja basis dan
lapangan kerja non basis dan apabila kedua angka itu dibandingkan dapat dihitung
rasio basis dan kemudian dapat dipakai untuk menghitung nilai pengganda basis.
Rasio basis adalah perbandingan antara banyaknya lapangan kerja non basis yang
tersedia untuk setiap satu lapangan kerja basis.
Dalam menggunakan ukuran pendapatan, nilai pengganda basis adalah
besarnya kenaikan pendapatan seluruh mayarakat untuk setiap satu unit kenaikan
pendapatan di sektor basis. Dalam hal pendapatan, nilai pengganda basis yang
diperoleh dinamakan pengganda basis pendapatan. Seandainya nialai pengganda
basis sudah diketahui dari pengalaman terdahulu maka apabila pada suatu tahun
tertentu diketahui besarnya perubahan lapangan di sektor basis bisa di ramalkan
jumlah lapangan kerja yang berubah untuk keseluruhan wilayah, yaitu dengan
rumus :

Perubahan total lapangan kerja = ( nilai pengganda basis ) x


( perubahan pada lapangan kerja basis )

C. CARA MEMILAH KEGIATAN BASIS DENGAN NONBASIS


Bagian yang cukup sulit dalam menggunakan analisis basis ekonomi adalah
memilah antara kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Beberapa metode memilah
antara kegiatan basis dan nonbasis dikemukakan berikut ini.
1. Metode Langsung
Metode langsung dapat dilakukan dengan survey langsung kepada
pelaku usaha kemana mereka memasarkan barang yang diproduksi dan dari
mana mereka membeli bahan-bahan kebutuhan untuk menghasilkan
produksi tersebut. Dari jawaban yang mereka berikan, dapat ditrntukan
berapa persen produk yang dijual kel uar wilayah dan berapa persen dijual di
dalam wilayah. Hal yang sama juga dapat dilakukan pada bahan baku yang
mereka gunakan.
2. Metode Tidak Langsung
Mengingat rumitnya melakukan survey langsung ditinjau dari sudut
waktu dan biaya banyak juga dipakai metode tidak langsung dalam
mengukur kegiatan basis dan nonbasis tersebut. Salah satu metode tidak
langsung adalah dengan menggunakan asumsi atau disebut juga metode
asumsi. Ada kegiatan yang secara tradisional dikategorikan sebagai kegiatan
basis, misalnya :
Asrama
militer
karena
gaji
penghuninya
dan
biaya
operasional/perawatan lokasi berasal dari uang pemerintah pusat.
Kegiatan pertambangan karena umumnya hasilnya dibawa ke luar
wilayah.
Kegiatan pariwisata karena mendatangkan uang dari luar wilayah
3. Metode Campuran
Suatu wilayah yang sudah berkembang sudah cukup banyak usaha
yang tercampur antar kegiatan basis dan kegiatan non basis. Penggunaan
metode asumsi murni akan memberikan kesalahan besar. Akan tetapi
penggunaan metode langsung yang murni juga cukup berat, yang sering
dilakukan orang adalah gabungan dari metode asumsi dengan metode
langsung yang disebut metode campuran. Dalam metode campuran
dilakukan survey pendahuluan yitu pengumpulan data sekunder, biasanya
dari instansi pemerintah atau lembaga pengumpul data seperti BPS. Dari
data sekunder berdasarkan analisis ditentukan kegiatan mana yang dianggap
basis dan yang nonbasis.
4. Metode Location Quotient
Metode lain yang tidak langsung adalah dengan menggunakan
location quotient . Metode LQ membandingkan porsi lapangan kerja/nilai
tambah untuk sektor tertentu di wilayah kita dibandingkan dengan porsi
lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang sama secara nasional. Model
LQ banyak dikritik karena didasarkan atas asumsi bahwa produktivitas ratarata atau konsumsi rata-rata wilayah adalah sama.

D. MODEL BASIS EKONOMI MENURUT TIEBOUT


Charles M. Tiebout dalam makalahnya berjudul The Community Economic
Base Study (1962) untuk Committee for Economic Development, New York (dalam
Avrom Bendavid: Regional Economic Analysis, 1974) menggunakan perbandingan
dalam bentuk pendapatan dan membuat rincian yang lebih mendalam tentang
faktor-faktor yang terkait dalam pengganda basis. Dalam bentuk pendapatan,
hubungan antara perubahan pendapatan basis dengan perubahan total pendapatan
dapat dirumuskan sebagai berikut.
Perubahan pendapatan total = pengganda basis x perubahan
pendapatan basis

E. KOMENTAR TERHADAP METODE TIEBOUT


Di satu segi metode Tiebout sangat membantu bagi seorang regional analyst
untuk melihat faktor-faktor apa saja yang dapat mendorong pertumbuhan wilayah.
Di lain segi masih banyak analis yang beranggapan bahwa sektor-sektor tersebut
ada yang menganggap terlalu rinci, tetapi ada pula yang menganggap untuk sektor
tertentu perlu diprinci lebih lengkap.
Kelemahan terbesar dari metode Tiebout adalah metode tersebut hanya bisa
diterapkan pada wilayah kecil dengan kegiatan ekonomi yang belum terlalu
bervariasi dan agak terisolasi. Dengan demikian, dimungkinkan untuk mendata
semua kegiatan ekonomi secara cermat termasuk misalnya asal usul dari barang
yang dipakai dalam proses produksi, investasi apa saja yang telah terjadi, dari
mana asal barang yang dipakai dalam investasi tersebut.
Melihat itu, Harry W. Richardson membuat perumusan yang lebih sederhana
tentang pengganda basis tersebut yang hanya menggunakan unsur-unsur
expenditure, impor, dan ekspor. Dengan demikian, metode Richardson masih
memungkinkan untuk diterapkan di wilayah yang cukup luas dengan perekonomian
terbuka.
F. EVALUASI ATAS TINGKAT KEBASISAN SUATU PRODUK
Untuk melihat apakah pasar produk yang dihasilkan tidak cepat jenuh perlu
dilihat tingkat kebasisan suatu produk yang pada dasarnya melihat berapa luas
pasar yang dapat dijangkau oleh produk tersebut. Tingkat kebasisan suatu produk
misalnya, dapat dijenjangkan sebagai berikut
1. Jangkauan pemasarannya hanya pada beberapa desa tetangga
2. Jangkauan pemasarannya hanya pada beberapa wilayah kecamatan
3. Jangkauan pemasarannya hanya pada wilayah satu provinsi
4. Jangkauan pemasarannya mencakup beberapa wilayah provinsi
5. Jangkauan pemasarannya mancakup sebagian besar wilayah ekonomi
nasional dan ekspor
6. Jangkauan pemasarannya pada hampir seluruh wilayah ekonomi nasional dan
merupakan ekspor tradisional
Sebetulnya penjenjangan di atas tidaklah mutlak. Yang sulit adalah memberi
bobot antara pemasaran didalam negeri dengan ekspor. Ada komoditi yang wilayah

pemasarannya di dalam negeri tidak begitu luas tetapi komoditi itu sudah di
pasarkan ke luar negeri. Produk dengan tingkat kebasisan yang lebih tinggi, harus
diprioritaskan untuk di kembangkan karena pasarnya tidak mudah jenuh.
G. PERBEDAAN BASIS ANTARA DI KOTA DENGAN DI WILAYAH BELAKANGNYA
Kegiatan basis bisa berbeda antara di kota dengan di luar kota atau di
wilayah belakangnya. Basis di luar kota umumnya adalah pada sektor penghasil
barang seperti pertanian, industry dan pertambangan. Namun, karena kegiatan ini
di kota umumnya adalah terbatas seperti dilarangnya industri yang berpolusi maka
basis perekonomian kota umumnya didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa
termasuk jasa angkutan.
BAB 4 TEORI EKONOMI PERTUMBUHAN
A.PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat
secara keseluruhan yang terjadi pada wilayah tersebut yaitu kenaikan seluruh nilai
tambah yang terjadi. Perhitungan pendapatan wilayah pada awalnya dibuat dalam
harga berlaku. Namun, agar dapat melihat pertambahan dari satu kurun waktu ke
kurun waktu berikutnya, harus dinyatakan dalam nilai riel artinya dinyatakan dalam
harga konstan. Teori yang membicarakan pertumbuhan regional ini dimulai dari
teori yang dikutip dari ekonomi makro dengan mengubah batas wilayah dan
disesuaikan dengan lingkungan oprasionalnya, dilanjutkan dengan teori yang
dikembangkan asli dalam ekonomi regional.
B.TEORI EKONOMI KLASIK
Orang yang pertama membahas pertumbuhan ekonomi secara sistematis
sehingga dijuluki sebagai nabi ekonomi adalah Adam Smith (1723-1790). Inti ajaran
Adam Smith adalah agar masyarakat diberi kebebasan seluas-luasnya dalam
menentukan kegiatan ekonomi apa yang dirasanya terbaik untuk dilakukan.
Menurut Smith system ekonomi pasar bebas akan menciptakan efisiensi, membawa
ekonomi pada kondisi full employment dan menjamin pertumbuhan ekonomi
sampai tercapai posisi stasioner. Pemerintah tidak perlu terlalu dalam mencampuri
urusan perekonomian. Peranan pemerintah adalah menjamin keamanan dan
ketertiban dalam kehidupan masyarakat serta membuat aturan main yang memberi
kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku ekonomi.
Pandangan Smith kemudian dikoreksi John Maynard Keynes dengan
mengatakan bahwa untuk menjamin pertumbuhan yang stabil, pemerintah perlu
menetapkan kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan pengawasan langsung.
Terlepas dari kekurangan dalam teori Smith, pandangannya masih banyak
yang relevan untuk diterapkan dalam perencanaan pertumbuhan ekonomi wilayah.
C. TEORI HARROD-DOMAR DALAM SISTEM REGIONAL
Teori ini dikembangkan hampir pada waktu bersamaan oleh Roy F. Harrod di
Inggris dan Evsey D. Domar di Amerika Serikat. Di antara mereka menggunakan
proses perhitungan yang berbeda tetapi memberikan hasil yang sama, sehingga
keduanya di anggap mengemukakan ide yang sama dan disebut teori HarrodDomar. Teori ini melengkapi teori Keynes dimana Keynes melihatnya dalam jangka
pendek, sedangkan Harrod-Domar melihatnya dalam jangka panjang. Teori HarrodDomar di dasarkan pada asumsi
1. Perekonomian bersifat tertutup

2. Hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan


3. Proses produksi memiliki koefisien yang tetap, serta
4. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja (n) adalah konstan dan sama dengan
tingkat pertumbuhan penduduk.
Teori Harrod-Domar sangat perlu diperhatikan bagi wilayah yang masih
terbelakang atau terpencil atau hubungan keluarnya sangat sulit. Untuk wilayah
seperti ini, bagi sektor yang hasil produksinya tidak layak untuk diekspor maka
peningkatan produksi secara berlebihan mengakibatkan produk tidak terserap oleh
pasar lokal dan tingkat harga turun drastis sehingga merugikan produsen.
D. TEORI PERTUMBUHAN NEOKLASIK
Teori pertumbuhan neoklasik dikembangkan oleh Robert M. Solow dari
Amerika Serikat dan T.W. Swan dari Australia. Model ini menggunakan unsur
pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi, dan besarnya
output yang saling berinteraksi. Perbedaan utama dengan model sebelumnya
adalah dimasukannya unsur teknologi dalam modelnya.
Teori Solow-Swan melihat dalam banyak hal mekanisme pasar dapat
menciptakan keseimbangan sehingga pemerintah tidak perlu terlalu banyak
mencampuri/mempengaruhi pasar.
Terhadap teori Neoklasik perlu dibuat catatan khusus pada praktik yang
ditempuh pada negara-negara sedang berkembang. Banyak pemerintah negara
berkembang mendorong konglomerat berperan dalam perekonomian sehingga
membuat pasar menjadi tidak sempurna. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi :
1. Sejalan dengan teori ekonomi klaisik, pengusaha perlu mendapat keuntungan
yang memadai karena dengan keuntungan itulah mereka bisa melakukan
investasi baru dan menyerap tenaga kerja tambahan
2. Kondisi pasar dunia umumnya di kuasai oleh konglomerat dunia yang
bertindak seperti mafia.
E.TEORI PERTUMBUHAN JALUR CEPAT YANG DISINERGIKAN
Teori Pertumbuhan Jalur Cepat diperkenalkan oleh Samuelson (1955). Setiap
negara perlu melihat sektor apa yang memiliki potensi besar dan dapat
dikembangkan dengan cepat baik karena potensi alam maupun karena sektor itu
memiliki competitive advantage untuk dikembangkan.
Mensinergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan
saling mendukung. Misalnya, usaha perkebunan yang dibuat bersinergi dengan
usaha peternakan.
Selain itu, perlu diperhatikan pandangan beberapa ahli yang mengatakan
bahwa kemajuan ekonomi sangat ditentukan dari jiwa usaha dalam masyarakat.
Jiwa usaha berarti pemilik modal mampu melihat peluang dan berani mengambil
resiko membuka usaha baru maupun memperluas usaha yang ada.
F. TEORI BASIS EKSPOR RICHARDSON
Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya tidak terikat
pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong
tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Itulah sebabnya dikatakan basis. Sedangkan,
pekerjaan service (nonbasis) adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat didaerah itu sendiri. Richarson dan Tiebout dalam teori basis adalah
Tiebout melihatnya dari sisi produksi sedangkan Richardson melihatnya dari sisi
pengeluaran.

Model teori basis ini sangat sederhana sehingga mempunyai kelemahan yang
antara lain adalah sebagai berikut :
1. Menurut Richardson, besarnya basis ekspor adalah fungsi terbalik dari
besarnya suatu daerah. Artinya makin besar suatu daerah ekspornya
semakin kecil apabila dibandingkan dengan total pendapatan, demikian pula
impornya.
2. Ekspor jelas bukan satu-satunya faktor yang bisa meningkatkan pendapatan
daerah.
3. Dalam studi atas suatu wilayah maka multiplier basis yang diperoleh adalah
rata-ratanya dan bukan perubahannya
4. Beberapa pakar berpendapat bahwa apabila pengganda basis digunakan
sebagai alat proyeksi maka masalah masa tenggang harus diperhatikan
5. Ada studi lainnya yang menunjukan bahwa ada wilayah yang tetap
berkembang pesat walaupun ekspor wilayah relatife kecil.
G. MODEL PERTUMBUHAN INTEREGIONAL (PERLUASAN DARI TEORI BASIS)
Model ini adalah perluasan dari teori basis ekspor yaitu dengan menambah
faktor-faktor yang bersifat eksogen. Selain itu, model basis ekspor hanya
membahas daerah itu sendiri tanpa memperhatikan dampak dari daerah tetangga.
Model ini memasukan dampak dari daerah tetangga, itulah sebabnya dinamakan
model interregional. Dalam model ini diasumsikan bahwa selain ekspor pengeluaran
pemerintah dan investasi juga bersifat eksogen dan daerah itu terikat pada suatu
system yang terdiri dari beberapa daerah yang berhubungan erat.
H. KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN WILAYAH
Dari berbagai teori yang telah diuraikan terdahulu akan dicoba untuk
menyimpulkan langkah-langkah/kebijakan yang perlu ditempuh oleh seorang kepala
daerah untuk dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerahnya, yang
secara umum berarti meningkatkan perekonomian daerah tersebut, antara lain
1. Sejalan dengan teori basis ekspor, perlu didorong pertumbuhan dari sektorsektor yang hasil produksinya dapat dijual ke luar daerah terutama ke luar
negeri.
2. Sejalan dengan teori Harrod-Domar, harus diperhatikan produk-produk yang
hanya dipakai memenuhi kebutuhan lokal
3. Sejalan dengan teori ekonomi klasik atau neoklasik harus diusahakn
prasarana dan sarana perhubungan yang baik dan lancar, mempermudah
arus keluar masuk orang dan barang, serta perbaikan arus komunikasi dan
penyebarluasan informasi
4. Sejalan dengan model inteeregional perlu diusahakan masuknya investasi
dari pemerintah pusat atau luar negeri sebanyak-banyaknya kedaerah kita
5. Daerah tetangga yang berkembang tidak perlu dicemburui tetapi sebaiknya
didorong dan dimanfaatkan dengan melihat berbagai kemungkinan untuk
menambah ekspor dari daerah kita ke daerah tersebut
6. Masyarakat didorong untuk mengonsumsi produk lokal dan industry didorong
untuk lebih banyak memakai komponen lokal.
7. Dari rumus multiplayer diketahui bahwa tingkat pajak akan mempengaruhi
besarnya multiplier regional
8. Pemilihan jalur cepat dan dan mensinergikan perekonomian suatu wilayah
9. Pentingnya menarik investor untuk menambah modalnya di wilayah kita

BAB.5 ANALISIS POTENSI RELATIF PEREKONOMIAN WILAYAH


A.PENDAHULUAN
Seorang perencana wilayah harus memiliki kemampuan untuk menganalisis
potensi ekonomi di wilayahnya. Hal ini terkait dengan kewajibannya di satu sisi
dengan menentukan sektor-sektor rill yang perlu dikembangkan agar perekonomian
daerah bertumbuh cepat dan di sisi lain mampuh mengidentifikasi faktor-faktor
yang membuat potensi sektor tertentu rendah dan menentukan apakah prioritas
untuk menanggulangi kelemahan tersebut.
Ada beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi
relative perekonomian suatu wilayah. Alat analisis itu antara lain keunggulan
komparatif, lacation quotient dan analisis shift-share
B.KEUNGGULAN KOMPARATIF
Keunggulan komparatif dari suatu komoditi bagi suatu negara atau daerah
adalah bahwa suatu komoditi itu unggul secara relatife dengan komoditi lain di
daerahnya. Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk nilai tambah riel.
Apabila keunggulan itu adalah dalam bentuk nilai tambah rill maka dinamakan
keunggulan absolut.
Dalam perdagangan bebas antar daerah, mekanisme pasar mendorong
masing-masing daerah bergerak kea rah sektor yang daerahnya memiliki
keunggulan komparatif. Akan tetapi mekanisme pasar seringkali bergerak lambat
dalam mengubah struktur ekonomi suatu daerah.
Pada saat ini istilah yang sering dipakai adalah competitive advantage.
Keunggulan kompetitif menganalisis kemampuan suatu daerah untuk memasarkan
produknya di luar daerah/pasar global. Istilah keunggulan kompetitif lebih mudah
dimengerti yaitu cukup melihat apakah produk yang kita hasilkan bisa di jual
dipasar global secara menguntungkan
Jadi kita tidak lagi membandingkan potensi komoditi yang sama disuatu
negara dengan negara lain, melainkan membandingkan potensi komoditi suatu
negara terhadap komoditi semua negara pesaingnya di pasar global.
C. LOCATION QUOTIENT (KUOSIEN LOKASI)
Location quotient adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan
suatu sektor disuatu daerah terhadap besarnya peranan sektor tersebut secara
nasional. Istilah wilayah nasional dapat diartikan untuk wilayah induk/wilayah
atasan.
Analisis LQ sesuai dengan rumusnya memang sangat sederhana dan apabila
digunakan dalam bentuk one shot analysis manfaatnya juga tidak begitu besar
yaitu hanya melihat apakh LQ berada diatas 1 atau tidak. Akan tetapi, analisis LQ
bisa dibuat menarik dalam bentuk time series, artinya dianalisis untuk bebrapa
kurun waktu tertentu.
D.ANALISIS SHIFT-SHARE
Analisis shift-share juga membandingkan perbedaan laju pertumbuhan
berbagai sektor di daerah kita dengan wilayah nasional. Akan tetapi metode ini
lebih tajam dari metode LQ. Metode LQ tidak memberikan penjelasan atas faktor
penyebab perubahan sedangkan metode ini memperinci penyebab perubahan atas

beberapa variable. Analisis ini menggunakan metode pengisolasi berbagai faktor


yang menyebabkan perubahan struktur industry suatu daerah dalam
pertumbuhannya dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya.
Analisis ini dapat menggunakan variable lapangan kerja atau nilai tambah.
Akan tetapi yang terbanyak digunakan adalah variable lapangan kerja karena
datanya lebih mudah diperoleh.
E.FAKTOR-FAKTOR YANG BISA MEMBUAT SUATU WILAYAH MEMILIKI KEUNGGULAN
KOMPARATIF (COMPARATIVE ADVANTAGE)
Faktor-faktor yang dapat membuat suatu wilayah memiliki keunggulan
komparatif dapat dikelompokan sebagai berikut.
1. Pemberian alam, yaitu karena kondisi alam akhirnya wilayah itu memiliki
keunggulan untuk menghasilkan suatu produk tertentu.
2. Masyarakatnya menguasai teknologi mutakhir untuk jenis produk tertentu,
contoh : masyarakat Jepang, Amerika, dan Jerman.
3. Masyarakatnya menguasai ketrampilan khusus, misalnya ukiran jepara,
ukiran Bali, dll
4. Wilayah itu dekat dengan pasar, misalnya lokasi pabrik batu bata di sekitar
Lubuk Pakam dan Tanjung Morawa karena dekat dengan pasar yaitu Medan
5. Wilayah dengan aksebilitas yang tinggi misalnya Singapura dengan lalu lintas
yang ramai baik darat,laut, maupun udara.
6. Daerah konsentrasi dari suatu kegiatan sejenis misalnya produksi sepatu di
Cibaduyut dan sayur mayur di tanah Karo
7. Daerah agglomerasi dari berbagai kegiatan yaitu memanfaatkan keuntungan
agglomerasi yaitu efisiensi dalam wilayah produksi dan kemudahan dalam
pemasaran
8. Upah buruh yang rendah dan tersedia dalam jumlah yang cukup serta
didukung oleh ketrampilan yang memadai dan mentalitas yang mendukung.
9. Mentalitas masyarakat yang sesuai untuk pembangunan
10.Kebijakan pemerintah, antara lain dengan menciptakan keunggulan seperti
disebutkan di atas.
F.PENUTUP
Berbagai metode analisis potensi relatif yang dikemukakan diatas adalah
bersifat analisis internal, artinya hanya menggunakan data dari sektor yang
dibahas. Agar sesuatu sektor betul-betul ingin dikembangkan maka perlu dilengkapi
dengan analisis atas kondisi makro dan faktor pendukung lainnya. Namun analisis
dengan memperhatikan kondisi makro atau kesesuaian lahan menunjukan bahwa
komoditi itu makin tidak popular atau pasarnya terbatas dan makin mnyempit dan
sebagainya.
Dengan demikian hasil analisis potensi relative harus dilengkapi dengan
analisis atas faktor-faktor lainnya yang turut mempengaruhi prospek
pengembangan komoditi tersebut.

BAB. 6 ANALISIS INPUT-OUTPUT PEREKONOMIAN WILAYAH


A. ARTI DAN RUANG LINGKUP ANALISIS INPUT-OUTPUT

Analisis input-output adalah suatu analisis atas perekonomian wilayah secara


komprehensif karena melihat keterkaitan antar sektor ekonomi di wilayah tersebut
secara keseluruhan. Dengan demikian apabila terjadi perubahan tingkat produksi
antar sektor tertentu, dampaknya pada sektor lain dapat dilihat. Selain itu analisis
analisis ini juga terkait dengan tingkat kemakmuran masyarakat di wilayah tersebut
melalui input primer. Artinya akibat perubahan tingkat produksi sektor tersebut
dapat dilihat seberapa besar kemakmuran masyarakat bertambah/berkurang.
Hal ini menggambarkan bahwa sektor-sektor dalam perekonomian wilayah
saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Kaitan itu bisa bersifat langsung
maupun tidak langsung.
Karena keterkaitan yang begitu luas perubahan pada salah satu sektor
misalnya output nya meningkat atau menurun akan memberi dampak pada sektor
lainnya. Perubahan itu umumnya berasal dari berubahnya permintaan akhir dari
salah satu sektor atau beberapa sektor sekaligus.
B. ILUSTRASI SEDERHANA TENTANG TABEL INPUT-OUTPUT
Tabel input-output beserta analisisnya lebih mudah dijelaskan dengan suatu
ilustrasi sederhana seperti yang akan dikemukakan berikut ini. Misalnya
perekonomian wilayah disederhanakan hanya terdiri atas dua sektor yaitu pertanian
dan perindustrian. Perekonomian diasumsikan tertutup, jadi tidak ada ekspor dan
impor. Hasil produksi diasumsikan habis terpakai baik sebagai bahan baku atau
sebagai konsumsi akhir. Masyarakat yang menerima pendapatan karena ikut
berpartisipasi dalam produksi, membelanjakan seluruh pendapatannya untuk
membeli produk domestik. Artinya masyarakat tidak menyisihkan uangnya untuk
ditabung. Harga-harga dinyatakan dalam harga produsen misalnya, pembeli
langsung mendatangi
produsen atau sebaliknya sehingga tidak ada margin
perdagangan.
C. MANFAAT/KEGUNAAN ANALISIS INPUT-OUTPUT
1. Menggambarkan kaitan antar sektor sehingga memperluas wawasan
terhadap perekonomian wilayah
2. Dapat digunakan untuk mengetahui daya menarik dan daya mendorong dari
setiap sektor sehingga mudah menetapkan sektor mana yang dijadikan
sebagai sektor strategis dalam perencanaan pembangunan perekonomian
wilayah
3. Dapat
meramalkan
pertumbuhan
ekonomi
dan
kenaikan
tingkat
kemakmuran, seandainya permintaan akhir dari beberapa sektor diketahui
akan meningkat
4. Sebagai salah satu alat analisis yang penting dalam perencanaan
pembangunan ekonomi wilayah karena bisa melihat permasalahan secara
komprehensif
5. Dapat digunakan sebagai bahan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja
dan modal dalam perencanaan pembangunan ekonomi wilayah, seandainya
input-nya dinyatakan dalam bentuk tenaga kerja atau modal.
D.MATRIKS PENGGANDA
Matriks pengganda adalah faktor yang menentukan besarnya perubahan
pada keseluruhan sektor seandainya jumlah produksi suatu sektor ada yang
berubah. Matriks pengganda dibutuhkan dalam memproyeksikan dampak dari
perubahan salah satu sektor terhadap keseluruhan sektor. Apabila matriks

pengganda dikalikan dengan matriks permintaan akhir (yang diproyeksikan


berubah) akan menghasilkan output baru untuk keseluruhan sektor.
E. CONTOH PERHITUNGAN UNTUK 3 SEKTOR (MATRIKS 3 X 3)
Untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap, berikut ini di kemukakan
contoh perhitungan untuk 3 sektor (matriks 3x3). Misalnya, table input-output yang
disederhanakan berikut ini adalah menyangkut sebuah provinsi pada tahun 2000.
Perekonomian wilayah disederhanakan dalam bentuk tiga sektor. Sektor 1 adalah
sektor primer (pertanian termasuk peternakan, perikanan, kehutanan, dan
pertambangan serta listrik, gas dan air minum), dan sektor 3 adalah sektor tersier
(jasa,perdagangan dan transportasi.
F. PENUTUP
Metode input-output saat ini sudah sangat berkembang. Misalnya, metode ini
dapat digunakan untuk memprediksi tambahan kebutuhan tenaga kerja seandainya
permintaan akhir beberapa sektor diperkirakan akan meningkat. Perlu dihitung
koefisien tenaga kerja untuk masing-masing sektor. Kenaikan produksi masingmasing sektor diprediksi dengan matriks berganda, setelah itu dikalikan dengan
koefisien tenaga kerja. Begitu juga metode ini dapat memperkirakan kebutuhan
impor walaupun hitungannya sedikit lebih rumit karena selain digunakan sebagai
input antara, impor juga digunakan untuk memnuhi permintaan akhir.
BAB.7 BERBAGAI TEORI LOKASI
A.PENDAHULUAN
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan
ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang
langkah, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai
macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun social. Lokasi berbagai kegiatan
seperti rumah tangga, pertokoan, pabrik, pertanian, pertambangan, sekolah dan
tempat ibadah tidaklah asal saja/acak berada dilokasi tersebut melainkan
menunjukan pola dan susunan yang dapat diselidiki dan dapat dimengerti.
Walaupun teori yang menyangkut pola lokasi ini tidak banyak berkembang
tetapi telah ada sejak awal abad ke-19. Secara empiris dapat diamati bahwa pusatpusat pengadaan dan pelayanan barang dan jasa yang umumnya adalah perkotaan,
terdapat tingkat penyediaan pelayanan yang berbeda-beda. Pelayanan masingmasing kota untuk tingkat yang berbeda bersifat tumpang tindih, sedangkan untuk
yang setingkat walaupun tumpang tindih tetapi tidak begitu besar. Keadaan ini
adalah bersifat universal dan dicoba jelaskan oleh Von Thunen melihat perbedaan
penggunaan lahan dari sudut perbedaan jarak ke pasar yang tercermin dalam sewa
tanah.
B. SISTEM K = 3 DARI CHRISTALLER
Walter Christaller pada tahun 1933 menulis buku yang diterjemahkan dalam
bahasa inggris berjudul Central Places in Southern Germany. Dalam buku ini
Christaller mencoba menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah
kota, dan distribusinya didalam satu wilayah. Model Christaller ini merupakan suatu
system geometri di mana angka 3 yang ditetapkan secara arbiter memiliki peran

yang sangat berarti. Itulah sebabnya disebut system K = 3 dari Christaller. Ia juga
mengembangkan modelnya untuk suatu wilayah abstrak dengan ciri-ciri berikut
1. Wilayahnya adalah dataran tanpa roman, semua adalah datar dan sama
2. Gerakan dapat dilaksanakan ke segala arah
3. Penduduk memiliki daya beli yang sama dan tersebar secara merata pada
seluruh wilayah
4. Konsumen bertindak rasioanal sesuai dengan prinsip minimisasi jarak/biaya.

C. TERJADINYA KOSENTRASI PRODUSEN/PEDAGANG DARI BERBAGAI JENIS BARANG