Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia angka kejadian pterigium masih cukup tinggi. Pterigium masih


menjadi salah satu penyebab tersering dari keluhan mata merah dan aspek kosmetik
pada pasien.
Etiologi pterigium belum diketahui secara jelas. Diduga pterigium
merupakan suatu proses peradangan dan degenerasi konjungtiva yang disebabkan
oleh iritasi kronis akibat debu, pasir, cahaya matahari, lingkungan berangin, dan
udara yang panas. Selain itu faktor genetik juga dicurigai menjadi salah satu faktor
predisposisi.
Pterigium bila tidak terlalu mengganggu dapat dibiarkan tanpa pengobatan.
Namun bila terjadi peradangan yang sering, mengganggu penglihatan, dan dari segi
kosmetik buruk dapat dilakukan pembedahan untuk menghilangkannya. Namun
setelah dilakukan pembedahan, angka kekambuhan masih cukup tinggi sehingga
sangat ditekankan pada orang dengan risiko tinggi untuk melakukan menghindari
faktor-faktor predisposisi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi
2.1.1 Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan suatu membran transparan yang menutupi sklera
dan kelopak mata bagian belakang. Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui
konjungtiva. Konjungtiva juga mengandung musin yang dihasilkan oleh sel goblet.2
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu:

Konjungtiva tarsal, menutupi tarsus dan sukar digerakkan dari tarsus

di bawahnya.
Konjungtiva bulbi, menutupi sklera dan mudah digerakkan dari

sklera di bawahnya.
Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal

dengan konjungtiva bulbi2


Konjungtiva bulbi dan konjungtiva forniks berhubungan dengan sangat
longgar terhadap jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah digerakkan tanpa
hambatan.2

Gambar 2.1 Konjungtiva


2.1.2 Anatomi Kornea
Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutup bola mata bagian depan,
bening, dan tembus cahaya.2
Kornea terdiri dari 5 lapisan, yaitu:

1. Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5-6 lapis sel epitel tidak bertanduk

saling tumpang tindih; sel basal, sel poligonal, dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat proses mitosis sehingga sel muda
ini terdorong ke depan menjadi sel gepeng. Sel basal berikatan
erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di
depannya melalui desmosom dan makula okluden. Ikatan ini
menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang

merupakan barrier.
2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan
kolagen tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian depan stroma.
3. Stroma
Terdiri atas susunan kolagen yang sejajar satu sama lain. Pada
permukaan terlihat sebagai anyaman yang teratur, sedangkan di
bagian perifer serat kolagen bercabang. Terbentuknya kembali
serat kolagen memakan waktu lama, kadang hingga 15 bulan.
Keratosit merupakan sel stroma kornea yang terletak di antara
serat kolagen stroma, berperan sebagai fibroblas. Diduga
keratosit membentuk bahan dasar serta serat kolagen pada masa
perkembangan embrio dan sesudah terjadi trauma.2
4. Membran Descement
Merupakan membran aselular dan batas belakang stroma kornea.

Dihasilkan oleh sel endotel dan merupakan membran basalnya.


Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, serta

mempunyai tebal 40m.2


5. Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, berbentuk heksagonal,
dan berukuran 20-40 m. Endotel melekat pada membran
descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden.2

Gambar 2.2 Lapisan kornea


Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, dan dari saraf kranial Nervus V cabang pertama yaitu
cabang oftalmika. Saraf siliar longus berjalan melalui suprakoroid, kemudian masuk
ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman dan melepaskan selubung
schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa
ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus.
Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam 3 bulan.2
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem
pompa endotel terganggu. Selanjutnya akan terjadi dekompensasi endotel yang dapat
mengakibatkan edema kornea. Sel endotel tidak mempunyai daya regenerasi.2
Kornea adalah bagian mata yang tembus cahaya dan menutupi bola mata
bagian depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari
50 dioptri pembiasan sinar yang masuk ke dalam mata dilakukan oleh kornea.2
2.2 Definisi Pterigium
Pterygium (baca: ter igee um) berasal dari bahasa Yunani, yaitu pteron
yang artinya wing atau sayap. Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak
pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke
daerah kornea.2

Gambar 2.3 Gambaran mata normal dan yang terdapat pterigium


2.3 Epidemologi Pterigium
Di Indonesia, hasil survei Departemen Kesehatan RI tahun 1982
menunjukkan bahwa pterigium menempati urutan ketiga insiden terbesar dari
penyakit mata dengan 8,79%. Hasil survei nasional tahun 1993-1996 tentang angka
kesakitan mata di 8 propinsi di Indonesia menempatkan pterigium pada urutan kedua
dengan 13,9%.3 Gizzard dkk dalam penelitian di Indonesia menemukan bahwa
angka prevalensi tertinggi ditemukan di propinsi Sumatra.4 Sedangkan dari survei
kesehatan indra penglihatan dan pendengaran tahun 1995 prevalensi penyakit mata di
Sulawesi Utara menempatkan pterigium pada urutan pertama dengan 17,9%.5
Mandang pada tahun 1970 menemukan 14,69% pterigium khususnya di 19 desa dan
17,50% pterigium di 3 ibukota kecamatan di Kabupaten Minahasa. Di Minahasa,
pterigium merupakan penyakit mata nomor 3 sesudah kelainan refraksi dan penyakit
infeksi luar. Mangindaan dan Bustani melaporkan 21,35% pterigium di 2 desa di
Kabupaten Minahasa Utara. Hasilnya 12,92% pada pria dan 8,43% pada wanita.
Sebanyak 9,55% berusia di atas 50 tahun, dengan pekerjaan sebagai petani sebesar
10,11%, insidens terbanyak adalah pterigium stadium 3 dengan 42,11%, dan insiden
pterigium yang tumbuh di bagian nasal sebesar 55,26 %.6,7
2.4 Etiologi Pterigium
Etiologi pterigium belum diketahui secara jelas. Diduga merupakan suatu
proses peradangan dan degenerasi yang disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu,

pasir, cahaya matahari, lingkungan berangin, dan udara yang panas. Selain itu faktor
genetik dicurigai menjadi salah satu faktor predisposisi.9,10
Faktor risiko yang mempengaruhi munculnya pterigium antara lain:
1. Radiasi ultraviolet
Faktor risiko utama yang berasal dari lingkungan sebagai
penyebab timbulnya pterigium adalah paparan sinar matahari. Sinar
ultraviolet yang diabsorbsi oleh kornea dan konjungtiva akan
mengakibatkan kerusakan dan proliferasi sel. Iklim dan waktu berada
di luar ruangan merupakan faktor penting yang mempegaruhi paparan
radiasi ultraviolet.
2. Faktor Genetik
Pada beberapa kasus dilaporkan terdapat sekelompok anggota
keluarga dengan pterigium dan berdasarkan penelitian case control
menunjukkan bahwa pterigium kemungkinan diturunkan secara
autosom dominan.
3. Faktor lain
Iritasi kronik atau inflamasi yang terjadi pada area limbus
atau perifer kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis
kronik dan terjadinya limbal sebagai teori baru patogenesis dari
pterigium. Wong juga menunjukkan adanya pterygium angiogenesis
factor dan penggunaan pharmacotherapy antiangiogenesis sebagai
terapi. Debu, kelembaban yang rendah, trauma kecil dari bahan
partikel tertentu, dry eye, dan virus papilloma juga dapat menjadi
penyebab pterigium.11
2.5 Patofisiologi Pterigium
Etiologi pterigium tidak diketahui secara jelas. Tetapi penyakit ini lebih
sering pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas. Oleh karena itu respon
terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap sinar ultraviolet,
kelembaban yang rendah, angin kencang, debu, dan iritan lainnya diduga sebagai
penyebabnya. Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan oleh
kelainan tear film sehingga menimbulkan pertumbuhan fibroplastik baru merupakan
salah satu teori. Tingginya insiden pterigium pada daerah dingin dan kering juga
mendukung teori ini.12

Sinar ultraviolet adalah mutagen untuk p53 tumor supresor gene pada
limbal basal stem cell. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta diproduksi
dalam jumlah berlebihan sehingga proses kolagenase meningkat, sel-sel bermigrasi,
dan terjadi angiogenesis. Akibatnya terjadi degenerasi kolagen dan terlihat jaringan
subepitelial fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastik,
proliferasi jaringan vaskular bawah epithelium yang kemudian menembus kornea.
Kerusakan pada kornea terjadi pada lapisan membran Bowman oleh pertumbuhan
jaringan fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi ringan. Epitel dapat
normal, tebal, atau tipis, serta kadang terjadi displasia.12,13
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan
defisiensi limbal stem cell akan terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada
permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke
kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran Bowman, dan
pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium sehingga
banyak penelitian menunjukkan bahwa pterigium merupakan manifestasi dari
defisiensi atau disfungsi limbal stem cell. Sinar ultraviolet dicurigai sebagai
penyebab terjadinya kerusakan limbal stem cell di daerah interpalpebra.4
Pemisahan fibroblas dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan
fenotipe. Pertumbuhan lebih baik pada media yang mengandung serum dengan
konsentrasi rendah dibanding dengan fibroblas konjungtiva normal. Lapisan
fibroblas pada bagian pterigium menunjukkan proliferasi sel yang berlebihan. Pada
fibroblas pterigium menunjukkan matriks metalloproteinase. Matriks ekstraseluler
tersebut berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan penyembuhan luka.
Hal ini menjelaskan kenapa pterigium cenderung terus tumbuh menginvasi stroma
kornea dan terjadi reaksi fibrovaskular serta inflamasi.4
2.6 Gejala dan Tanda Pterigium
Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering
tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami
pasien antara lain mata sering berair dan tampak merah, terasa seperti ada benda
asing, dan ketajaman penglihatan menurun.

Dari pemeriksaan didapatkan adanya penonjolan daging, berwarna kuning,


tampak jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang terbentang dari konjungtiva
interpalpebra sampai kornea, tepi jaringan berbatas tegas sebagai suatu garis yang
berwarna coklat kemerahan, dan umumya tumbuh di daerah nasal, yaitu pada 90%
kasus. Di bagian depan dari apeks pterigium terdapat infiltrat-infiltrat kecil yang
disebut islet of Fuch. Pterigium yang mengalami iritasi dapat menjadi merah dan
menebal, hal tersebut yang terkadang dikeluhkan oleh penderita.15-17
Pterigium dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
1. Pterigium simpleks; jika terjadi hanya di bagian nasal atau temporal saja.
2. Pterigium dupleks; jika terjadi di bagian nasal dan temporal.
Pterigium berdasarkan perjalanan penyakitnya dibagi 2 tipe, yaitu:
1. Pterigium progresif; tebal dan terdapat vaskularisasi dengan infiltrat di
depan kepala pterigium pada kornea, yang disebut cap dari pterigium.
2. Pterigium regresif; tipis, atrofi, dan terdapat sedikit vaskularisasi. Tipe ini
akhirnya akan membentuk membran yang tidak hilang.
Pterigium juga dapat dibagi ke dalam 4 derajat sesuai dengan perluasannya
ke kornea dan pupil, yaitu:

Derajat 1 : jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea.

Derajat 2 : jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi


tidak lebih dari 2 mm.

Derajat 3 : jika pterigium sudah melebihi derajat 2 tetapi belum


mencapai pinggiran pupil dalam keadaan cahaya normal, dimana
pupil berdiameter sekitar 34 mm.

Derajat 4: jika pterigium sudah mencapai pupil.18

Gambar 2.4 Pterigium derajat 2

Gambar 2.5 Pterigium derajat 3

Gambar 2.6 Pterigium derajat 4


2.7 Diagnosa Banding Pterigium
2.7.1 Pseudopterigium
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang
cacat. Pseudopterigium ini sering terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea
sehingga konjungtiva menutupi kornea.5,6

Gambar 2.7 Pseudopterigium


Perbedaan pseudopterigium dengan pterigium antara lain:

Pseudopterigium

didahului

dengan

adanya

riwayat

kerusakan

permukaan kornea seperti tukak kornea, sedangkan pada pterigium

tidak.
Pseudopterigium muncul pada bagian konjungtiva yang terdekat dengan
tempat proses abnormal pada kornea sebelumnya.
Pada puncak pterigium terdapat islet of Fuchs pada kornea, sedangkan
pada pseudopterigium tidak.
Jumlah pembuluh darah pada pseudopterigium sama dengan keadaan
mata normal, sedangkan pada pterigium terdapat peningkatan

vaskularisasi.
Pseudopterigium dapat diselipi sonde di bawahnya, sedang pada
terigium tidak
Pterigium bersifat progresif, sedangkan pseudopterigium tidak.

2.7.2 Pinguekula
Pinguekula merupakan penebalan pada konjungtiva bulbi berbentuk segitiga
dengan puncak di perifer dasar dari limbus kornea, berwarna kuning keabu-abuan,
dan terletak di celah kelopak mata. Timbul akibat iritasi oleh angin, debu, dan sinar
matahari yang berlebihan. Sering terdapat pada orang dewasa yang berumur kurang
lebih 20 tahun.1

10

Gambar 2.8 Pinguekula


Secara histopatologik pada pinguekula hanya terdapat dua lapis sel, epitel
tipis dan gepeng. Dapat ditemukan serat-serat kolagen stroma berdegenerasi hialin
yang amorf dan kadang juga terdapat penimbunan serat-serat yang terputus-putus.
Dapat terlihat juga penimbunan kalsium pada lapisan permukaan. Pembuluh darah
tidak masuk ke dalam pinguekula. Namun bila terjadi peradangan, di sekitar bercak
degenerasi ini akan terlihat pembuluh darah yang melebar. Tidak ada pengobatan
yang khusus, tetapi bila terdapat gangguan kosmetik dapat dilakukan pembedahan
pengangkatan pinguekula.1
2.8. Penatalaksanaan Pterigium
2.8.1 Non Farmakologi
Secara teoritis, perlu dilakukan tindakan untuk menghindari faktor-faktor
penyebab seperti paparan radiasi ultraviolet, angin, dan debu dengan tujuan
mengurangi risiko berkembangnya pterigium pada individu yang memiliki risiko
tinggi. Pasien disarankan untuk menggunakan topi yang memiliki pinggiran dan
menggunakan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan cahaya matahari,
angin, dan debu pada mata. Tindakan pencegahan ini bahkan lebih penting untuk
pasien yang tinggal di daerah subtropis atau tropis, dan pada pasien yang banyak
beraktivitas di luar ruangan.
2.8.2 Farmakologi
Pada pterigium yang ringan tidak perlu diobati. Untuk pterigium derajat 1-2
yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi

11

antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa
penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan
intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.
2.8.3 Bedah
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium. Setelah avulsi pterigium sedapat mungkin pada bagian konjungtiva bekas
pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari
konjungtiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama
pengangkatan pterigium adalah untuk memberikan hasil yang baik secara kosmetik,
mengupayakan

komplikasi

seminimal

mungkin,

dan

menurunkan

angka

kekambuhan. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus


pterigium yang rekuren mengingat efek samping yang dapat ditimbulkan dari
pemakaian MMC cukup berat.
1. Indikasi Operasi
Pterigium yang menjalar ke kornea melebihi 3 mm dari limbus.
Pterigium mencapai lebih dari separuh jarak antar limbus dan tepi

pupil.
Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair, dan

silau akibat astigmatismus.


Segi kosmetik terutama untuk penderita wanita.6
2. Teknik Pembedahan
Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah terjadinya
kekambuhan, yang dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovaskular di limbus ke
kornea. Banyak teknik bedah yang dapat digunakan dengan bervariasi tingkat
kekambuhan. Terlepas dari teknik yang digunakan, eksisi pterigium adalah langkah
awal untuk perbaikan. Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung
pterigium dari kornea yang mendasarinya. Keuntungannya termasuk epitelisasi yang
lebih cepat, jaringan parut yang minimal dan halus pada permukaan kornea.1
Berikut beberapa teknik bedah yang sering digunakan, antara lain:

Teknik Bare Sclera


Melibatkan eksisi kepala dan badan pterigium, sementara
memungkinkan sklera untuk berepitelisasi. Telah didokumentasikan

12

dalam berbagai laporan bahwa tingkat kekambuhan tinggi, antara

24% hingga 89%.1


Teknik Autograft Konjungtiva
Dilaporkan memiliki tingkat kekambuhan yang terendah
2% dan yang tertinggi 40% pada beberapa studi prospektif. Prosedur
ini melibatkan pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva
bulbar superotemporal, kemudian dijahit di atas sklera yang telah
dieksisi pterigium. Komplikasi jarang terjadi dengan menggunakan
teknik ini. Untuk hasil yang optimal ditekankan pentingnya
pembedahan secara hati-hati jaringan tenon dari graft konjungtiva
dan penerima, manipulasi minimal jaringan, serta orientasi akurat
dari

penempatan

graft

tersebut.

Direkomendasikan

untuk

menggunakan sayatan besar dalam mengeksisi pterigium karena


telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik
ini.1
a. Pterigium.
b. Batas pterigium yang
akan dieksisi.
c. Pterigium telah dieksisi.
d. Konjungtiva di daerah
yang tidak terkena sinar UV,
misalnya pada bagian bawah
palpebra superior, diambil
sebagai autograft.
e. Autograft konjungtiva
tersebut dipindahkan ke
bagian pterigium yang telah
dieksisi.
Gambar 2.9 Langkah-langkah teknik autograft konjungtiva

Cangkok Membran Amnion


Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk
mencegah kekambuhan pterigium. Meskipun keuntungkan dari
penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi, sebagian
besar peneliti telah menyatakan bahwa membran amnion berisi

13

faktor penting untuk menghambat proses peradangan, fibrosis, dan


epitelisasi. Namun tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi
yang ada, antara 2,6% hingga 10,7%. Keuntungan dari teknik ini
dibandingkan

dengan

autograft

konjungtiva

adalah

utuhnya

konjungtiva bulbar. Membran amnion biasanya ditempatkan di atas


sklera dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma
menghadap ke bawah. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan
penggunaan lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion
supaya menempel pada jaringan episkleral di bawahnya. Lem fibrin
juga telah digunakan dalam autograft konjungtiva.1
2.8.4

Terapi Tambahan
Mitomycin C (MMC) telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena

kemampuannya untuk menghambat aktivitas fibroblas. Efeknya mirip dengan


iradiasi beta, namun dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan. Dua
bentuk MMC yang saat ini digunakan adalah aplikasi intraoperatif MMC langsung
ke sklera setelah eksisi pterigium dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal
setelah operasi. Beberapa penelitian menganjurkan untuk hanya menggunakan MMC
intraoperatif dengan tujuan mengurangi toksisitas.1
Iradiasi beta juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan karena
menghambat proses mitosis meskipun tidak ada data yang jelas dari angka
kekambuhan yang tersedia. Namun efek samping yang dapat terjadi dari pemakaian
iridiasi beta antara lain terjadinya nekrosis sklera, endoftalmitis, dan pembentukan
katarak

sehingga

banyak

dokter

mata

yang

tidak

merekomendasikan

penggunaannya.1
Untuk mencegah terjadinya kekambuhan setelah operasi dapat diberikan
kombinasi obat-obatan sebagai berikut:
1. Tetes mata Mitomycin C 0,02% 2 kali sehari maing-masing 1 tetes selama 5
hari. Dibarengi pemberian salep mata Dexamethasone 0,1% 4 kali sehari
dengan tappering off sampai 6 minggu.
2. Tetes mata Mitomycin C 0,04% 4 kali sehari maing-masing 1 tetes selama 14
hari. Dibarengi pemberian salep mata Dexamethasone 0,1% 4 kali sehari
dengan tappering off sampai 6 minggu.

14

3. Tetes mata topikal Thiotepa (Triethylene thiophosphasmide) diberikan 1 tetes


tiap 3 jam selama 6 minggu. Dibarengi pemberian salep mata antibiotik
Chloramphenicol dan steroid selama 1 minggu.6
Tingkat kekambuhan yang tinggi terkait dengan operasi terus menjadi
masalah sehingga terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan
pterigium. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi menurun dengan
penambahan terapi ini, namun perlu diwaspadai adanya efek samping dari pemberian
terapi tersebut.1
2.9 Komplikasi Pterigium
Komplikasi pada mata yang dapat ditimbulkan akibat adanya pterigium
antara lain:

Gangguan penglihatan.
Mata kemerahan.
Iritasi mata.
Gangguan pergerakan bola mata.
Timbul jaringan parut kronis pada konjungtiva dan kornea.
Sindrom Dry eye.3

Komplikasi yang dapat tejadi setelah dilakukan operasi eksisi pterigium


antara lain:

Infeksi.
Ulkus kornea.
Graft konjungtiva yang terbuka.
Diplopia.
Adanya jaringan parut di kornea.3

2.10 Pencegahan
Pada orang dengan risiko tinggi seperti yang bertempat tinggal di daerah
tropis, beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang lama misalnya nelayan dan
petani, serta banyak berkontak dengan debu dan sinar matahari dianjurkan untuk
memakai topi dan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan sinar
matahari dan debu. Tindakan-tindakan pencegahan tersebut juga perlu dilakukan oleh
pasien yang telah menjalani prosedur pengangkatan pterigium dengan tujuan
mencegah kekambuhan.6

15

2.11 Prognosa Pterigium


Ketajaman penglihatan dan dari segi kosmetik pasien setelah pterigium
dieksisi menjadi baik. Rasa tidak nyaman pada hari pertama setelah operasi dapat
ditoleransi. Kebanyakan pasien setelah 48 jam pasca operasi sudah dapat beraktivitas
kembali.6
Rekurensi pterigium setelah operasi masih merupakan suatu masalah
sehingga untuk mengatasinya berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan
dengan antimetabolit, antineoplasia, dan transplantasi konjungtiva. Pasien dengan
pterigium yang berulang dapat dilakukan kembali prosedur pengangkatan dengan
cara eksisi kemudian dilakukan konjungtiva autograft atau transplantasi membran
amnion. Umumnya rekurensi pterigium terjadi pada 36 bulan pertama setelah
operasi.6
Pada orang yang berisiko tinggi timbulnya pterigium seperti memiliki
riwayat keluarga dengan pterigium, berkerja di luar ruangan dalam waktu lama, dan
tinggal di daerah yang berangin dianjurkan memakai topi dan kacamata pelindung
untuk mengurangi paparan sinar matahari pada mata.

16

BAB III
KESIMPULAN
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular pada konjungtiva yang
bersifat degeneratif dan invasif.Terlihar seperti daging berbentuk segitiga dan
umumnya muncul secara bilateral di sisi nasal. Keadaan ini diduga merupakan suatu
fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet dan debu karena sering terdapat pada orang
yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin, penuh sinar
matahari, berdebu, atau berpasir. Temuan patologik pada pterigium yang dapat dilihat
yaitu lapisan Bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin dan elastik.
Jika pterigium meluas sampai ke pupil, lesi harus diangkat secara bedah
bersama sebagian kecil kornea superfisial di luar daerah perluasannya. Kombinasi
autograft konjungtiva dan eksisi lesi terbukti mengurangi resiko kekambuhan.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Ilmu penyakitmata. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2014.
2. Garcia-Ferrer FJ, Schwab IR, Shetlar DJ. Konjungtiva: Oftalmologi umum.
Edisi ke-17. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. 2013.
3. Mangindaan IAN, Bustani NM. Insiden pterigium di Desa Bahoi dan Serei di
pesisir pantai Minahasa Utara. 2005.
4. Fisher

JP.

Pterygium.

Dikutip

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview. Diakses pada: 31


Agustus 2015.
5. Fisher JP. Pterygium. Dikutip dari: http://www.eMedicine.com. Diakses pada:
31 Agustus 2015.
6. Ilyas S. Mata merah: Penuntun ilmu penyakit mata. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI. 2013.
7. Lazuarni. Prevalensi pterigium di Kabupaten Langkat 2010. Tesis. Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Medan. 2011.
8. American Academy Of Ophthalmology. Base and clinical science course.
2006.
9. Khurana AK. Community ophthalmology in comprehensive ophthalmology.
4th ed. New Delhi: New Age International Limited Publisher. 2007.
10. Donald THT. Pterygium: Clinical ophthalmology. Singapore: Saunder
Elsevier. 2007.
11. Tjahjono DG, Gilbert SWS. Pterigium: Panduan managemen klinis Perdani.
Jakarta: CV Ondo. 2006.
12. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Pedoman Diagnosis dan Terapi. Edisi ke-3. Surabaya: Penerbit Airlangga.


2006.

18