Anda di halaman 1dari 8

1.

Tanaman Temu Ireng


2. Simplisia
Bahan-bahan ramuan obat tradisional seperti bahan tumbuhtumbuhan bahan hewan, sediaan sarian atau galenik yang memiliki
fungsi, pengaruh serta khasiat sebagai obat, dalam pengertian umum
kefarmasian bahan yang digunakan sebagai simplisia. Simplisia adalah
bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain
berupa bahan yang dikeringkan (Dirjen POM, 1999).
Menurut Material Medika (MMI, 1995), simplisia dapat
digolongkan dalam tiga kategori, yaitu:
1. Simplisia nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh,
bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat adalah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia.
2. Simplisia hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan atau bagian
hewan zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum
berupa zat kimia murni.
3. Simplisia pelikan (mineral)
Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa bahan-bahan
pelican (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara
sederhana dan belum berupa zat kimia. Zat kimia berkhasiat (obat)
tidak diperbolehkan digunakan dalam campuran obat tradisional
karena obat tradisional diperjual belikan secara bebas. Dengan
sendirinya apabila zat berkhasiat (obat) ini dicampurkan dengan
ramuan obat tradisional dapat berakibat buruk bagi kesehatan
(Dirjen POM, 1986)
Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan
tumbuhan liar (wild crop) tentu saja kandungan kimianya tidak
dijamin selalu konstan karena disadari adanya variabel bibit,
tempat tumbuh, iklim, kondisi (umur dan cara) panen, serta proses

pasca panen dan preparat akhir. Usaha untuk mengajegkan


variabel tersebut dapat dianggap sebagai usaha untuk menjaga
keajegan mutu simplisia (Depkes, 2000)
2.1. Tahapan Pembuatan Simplisia
Pada umumnya pembuatan simplisia melalui tahapan seperti
berikut (Hargono, Djoko, dkk, 1985) :
a. Pengumpulan bahan baku
Pengumpulan bahan baku atau waktu pemanenan yang tepat
adalah pada saat bagian tanaman tersebut mengandung
senyawa aktif dalam jumlah terbesar.
b. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk menghilangkan tanah dan
pengotor lainnya yang melekat pada bahan simplisia.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor
lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian
dilakukan dengan air bersih.
d. Perajangan
Perajangan simlpisia dilakukan untuk mempermudah proses
pengeringan, pengepakan, dan penggilingan.
e. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang
tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang
lebih lama.
f. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan
simplisia. Tujuannya adalah untuk memisahkan benda-benda
asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan.
3. Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang
dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan
pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia
dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alkaloid,
flavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang

dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara


ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).
Kandungan kimia dari suatu tanaman atau simplisia nabati yang
berkasiat obat umumnya mempunyai sifat kepolaran yang berbedabeda, sehingga perlu dipisahkan secara selektif menjadi kelompokkelompok tertentu. Prinsip dasar ekstraksi adalah melarutkan senyawa
polar dalam pelarut polar dan senyawa non-polar dalam pelarut nonpolar. Serbuk simplisia diekstraksi berturut-turut dengan pelarut yang
berbeda polaritasnya (Harbone, 1996). Proses ekstraksi merupakan
penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan
menggunakan pelarut yang dipilih dengan zat yang diinginkan larut
(Voight, 1994). Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani
menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir
semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan. (Depkes RI, 1995).
3.1. Metode Ekstraksi
Pembagian metode ekstraksi menurut DitJen POM (2000) yaitu :
A. Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperature ruangan (kamar). Cairan
penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut,
karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif
di dalam sel dan di luar sel maka larutan terpekat didesak
keluar.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu
baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada
temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan

pengembangan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi


sebenarnya terus menerus sampai diperoleh ekstrak
(perkolat). Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan
cara maserasi karena :
- Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian
larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya
lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan
-

konsentrasi.
Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk
saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya
saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup
untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat

meningkatkan perbedaan konsentrasi.


B. Cara Panas
1. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik
didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas
yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
2. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang
selalu baru dan yang umumnya dilakukan dengan alat khusus
sehingga terjadi ekstrak kontinu dengan jumlah pelarut relatif
konstan dengan adanya pendingin balik.
3. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu)
pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan,
yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50C
4. Infundasi
Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya dilakukan
untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari
bahan-bahan nabati. Proses ini dilakukan pada suhu 90C
selama 15 menit.
5. Dekok

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan


temperatur sampai titik didih air, yakni 30 menit pada suhu
90-100C
Selain itu, menurut Darwis (2000), ada beberapa metode lain
dalam ekstraksi senyawa yang umum digunakan, diantaranya
adalah:
1. Destilasi uap
Destilasi uap merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap
(volatilitas) bahan. Proses destilasi uap lebih banyak digunakan
untuk senyawa organic yang tahan terhadap suhu tinggi, yang
lebih tinggi dari titik didih pelarut yang digunakan. Pada
umumnya lebih banyak digunakan untuk minyak atsiri.
Keuntungan dari metode ini antara lain adalah kualitas ekstrak
yang dihasilkan cukup baik, suhu dan tekanan selama proses
ekstraksi dapat diatur serta waktu yang diperlukan singkat.
2. Pengempasan
Pengempasan merupakan metode pemisahan dengan
menggunakan tekanan untuk mendesak suatu bahan yang akan
diekstrak dengan alat pengepres. Metode ini lebih banyak
digunakan dalam proses industri seperti pada isolasi senyawa
dari buah kelapa sawit dan isolasi katekin dari daun gambir. Pada
proses ini tidak menggunakan pelarut.
4. T
5. Isolasi
5.1. Metode Isolasi
Secara umum metode kromatografi menggunakan dua fasa,
yaitu fasa tetap dan fasa bergerak (mobile). Kromatografi dibedakan
berdasarkan sifat fasa tetap baik berupa zat padat atau zat cair. Empat
macam metode kromatografi tersebut adalah :

1. Fasa bergerak zat cair, fasa tetap padat atau kromatografi serapan.
Yang termasuk metode ini adalah kromatografi lapis tipis dan
kromatografi penukar ion.
2. Fasa bergerak gas, fasa tetap padat. Yang termasuk metode ini
adalah kromatografi gas padat.
3. Fasa bergerak zat cair, fasa tetap zat cair atau kromatografi partisi.
Yang termasuk metode ini adalah kromatografi kertas.
4. Fasa bergerak gas, fasa tetap zat cair. Yang termasuk metode ini
adalah kromatografi kolom kapiler.
Pemisahan terjadi karena komponen cuplikan bergerak dengan
jarak yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kecepatan rambatan
dari komponen yang dipisahkan. Kemudian terjadi pemisahan
komponen disebabkan karena adanya distribusi antara dua fasa yaitu
fasa gerak dan fasa tetap. Pemisahan kandungan tumbuhan dapat
dilakukan dengan menggunakan salah satu atau gabungan empat
metode kromatografi, yaitu kromatografi kertas, kromatografi lapis
tipis, kromatografi kolom, dan kromatografi zat cair.
1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi yang
banyak digunakan untuk memisahkan komponen secara tepat.
Kromatografi ini menggunakan lempeng kaca sebagai fasa diam
yang dilapisi adsorben berupa serbuk halus dengan ketebalan 0,1
1,25 mm.
Yang perlu diperhatikan dalam memilih adsorben adalah
besar partikel dan homogenitasnya. Besar partikel yang digunakan
adalah 1 25 mikron. Partikel dengan butiran sangat kasar tidak
dapat memisahkan komponen dengan baik. Adsorben yang dapat
digunakan adalah Silika gel, Alumina atau Selulosa. Pembuatan
lapisan tipis dilakukan dengan jalan membentangkan adsorben
yang dipilih di atas lempeng kaca kemudian dikeringkan selama
beberapa menit selanjutnya diaktifkan dengan pemanasan pada
suhu 100oC akan tetapi sekarang lempeng kaca yang telah siap

pakai banyak digunakan dengan ketebalan dan jenis adsorben yang


berbeda-beda.
Campuran yang akan dipisahkan berupa larutan kemudian
ditotolkan pada lempeng kaca (pelat). Pelat atau lempeng kaca
dimasukkan dalam bejana rapat yang berisi larutan pengembang
yang cocok (fasa gerak). Pemisahan akan terjadi selama
perambatan yang dipengaruhi gaya kapiler.
Fasa gerak adalah medium angkut yang terdiri dari satu atau
beberapa pelarut. Pemilihan fasa gerak (pelarut pengembang),
tergantung pada sifat kelarutan dan kemampuan elusi pelarut
tersebut. Pelarut pengembang akan bergerak dalam fasa diam
yaitu suatu lapisan bepori karena dipengaruhi gaya kapiler. Pelarut
pengembang yang digunakan merupakan campuran organik.
Campuran pelarut tersebut dapat berupa sistem pelarut multi
komponen yaitu campuran sesederhana mungkin dan maksimum
terdiri atas tiga komponen. Angka banding campuran dinyatakan
dalam bagian volume sehingga volume total 100.
Komponen yang larut dalam pelarut akan terbawa oleh fasa
gerak melewati adsorben dengan kecepatan berbeda-beda untuk
tiap komponen perbandingan kecepatan bergerak pada permukaan
adsorben dari komponen yang terbawa oleh pelarut, merupakan
dasar untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang akan
dipisahkan. Perbandingan kecepatan ini disingkat Rf (Retardation
factor) yaitu jarak yang ditempuh oleh komponen senyawa terlarut
(terelusi) dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut (pengelusi).
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf yaitu :
a.

Ukuran partikel

b.

Derajat keaktifan lapisan adsorben

c.

Kemurnian dan komposisi pelarut

d.

Kejenuhan ruang elusi

e.

Cara penotolan

f.

Ketebalan adsorben

g.

Temperatur
(Egon stahl, 1985).

2. Kromatografi Kolom
Kolom kromatografi dapat berupa pipa gelas yang dilengkapi
dengan kran dan gela penyaring di dalamnya. Ukuran kolom
tergantung pada banyaknya zat yang akan dipisahkan. Untuk menahan
penyerap yang diletakkan di dalam kolom dapat digunakan gelas wool
atau kapas.
Penyerap yang sering digunakan adalah silica gel dan alumina.
Untuk memperoleh daya pisah yang baik dipakai petunjuk sebagai
berikut :
Berat fase diam untuk silica gel adalah 40 kali berat contoh
sedangkan untuk alumina 70 kali berat contoh. Penyerap yang dibuat
bubur dengan suatu pelarut kemudian dituangkan secara perlahanlahan ke dalam kolom yang perlu dijaga agar selama pengisian pada
tabung tidak ada bagian yang kering. Untuk mendapatkan permukaan
yang rata maka permukaan penyerap dalam kolom dapat diberi kertas
saring.
Larutan cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan
menggunakan pipet kecil yang ujungnya ditempelkan pada dinding
kolom dan terletak sedikit di atas dari permukaan penyerap, selama
zat cair lepas dari pipet, ujung pipet digerakkan berkeliling dalam
kolom dan jangan sampai ujungnya menyentuh penyerap. Bila semua
cuplikan telah diserap dalam kolom, maka bagian atasnya dapat diisi
dengan pelarut dan permukaan pelarut dapat menggunakan corong
pisah. Elusi dengan larutan pengembang sehingga komponenkomponen yang dipisahkan mengalir turun dari kolom dengan
kecepatan yang berbeda- beda dan keluar bersama- sama dengan
eluen yang ditampung dalam wadah (Sastrohamidjojo, 1985).