Anda di halaman 1dari 6

Prosedur Keterampilan : Imunisasi Ibu Hamil TT (Tetanus Toksoid)

Disusun oleh : Hasri Rina walastri, 106218562

1. Deskripsi/definisi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit
tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Peraturan Menteri Kesehatan
No.42 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, 2013). Imunisasi TT (Tetanus Toksoid) adalah
preparat toksin tetanus yang diinaktifkan dengan formaldehid dan diabsorpsi pada garam
alumunium untuk meningkatkan antigenerasinya (Wahab, 2002)
2. Tujuan/Kegunaan

Melindungi bayi terhadap penyakit tetanus neonatrum


Memberi kekebalan terhadap penyakit tetanus terhadap ibu dan janin yang
dikandungnya, sehingga pada saat melahirkan ibu dan bayi terhindar dari penyakit
tetanus. Hal ini berkaitan dengan penggunaan alat-alat persalinan yang tidak steril,
dimana terdapat luka baik pada rahim maupun pada tali pusat bayi.

3. Kompetensi yang diperlakukan

Pemberian medikasi melalui injeksi intramuskular

4. Indikasi

Wanita Usia Subur (WUS)


Ibu hamil

5. Kontraindikasi

Ibu hamil atau WUS (wanita usia subur) yang mempunyai gejala-gejala berat
(pingsan) karena dosis pertama TT (Depkes RI,2005)

6. Komplikasi
7. Alat-alat yang diperlukan

Spuit
Jarum
Swab alkohol
Sarung tangan bersih
Bengkok

8. Pengetahuan terkait yang diperlukan (anatomi, fisiologi, dll)


Tetanus adalah penyakit akut, paralisis yang spastik yang disebabkan neurotoksin
yang diproduksi oleh Clostridium tetani, termasuk kuman anaerob gram negatif (Tanjung &
Alifah, 2012). Perawatan pasca persalinan yang kurang bersih, perawatan umbilikus yang
kurang steril, Pertolongan persalinan yang tidak steril masih merupakan faktor risiko utama
tetanus neonatorum. Beberapa hasil penelitian menunjukkan pemberian imunisasi tetanus
toksoid 2 kali selama hamil menurunkan kejadian tetanus neonatorum. Antibodi akan
terbentuk dalam tubuh, setelah vaksinasi atau imunisasi TT diberikan, antibodi ini akan
diteruskan kepada bayi dan melindunginya selama beberapa bulan setelah lahir.
Masa inkubasi berkisar antara 3-14 hari, tapi bisa lebih pendek atau lebih panjang.
Prognosis dipengaruhi oleh masa inkubasi, semakin pendek masa inkubasi biasanya semakin
jelek prognosisnya. Diagnosis tetanus neonatorum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan klinis. Manifestasi klinis meliputi gejala progresif adanya kesulitan minum
(menghisap dan menelan), peka rangsang dan bayi menangis terus menerus. Gejala khas yang
lain adalah adanya kekakuan dan spasme otot. Kekakuan otot melibatkan otot masseter, otototot perut dan tulang belakang. Spasme otot bersifat intermiten dengan interval waktu yang
berbeda-beda tergantung dari tingkat keparahan penyakit.
Bayi menjadi rewel, gelisah dan sulit minum. Spasme pada otot fasial menyebabkan
risus sardonicus. Kontraksi tonik otot abdomen dan lumbal menghasilkan gejala opisthotonus
dan diikuti dengan fleksi dan adduksi tangan serta kepalan tangan seperti petinju. Spasme
pada awalnya terjadi beberapa detik dan memanjang seiring dengan semakin memberatnya
penyakit. Pasien sadar dan menangis karena nyeri akibat spasme otot. Spasme otot sangat
mudah dicetuskan oleh rangsangan taktil, visual maupun auditorial. Adanya demam
kemungkinan akibat aktivitas otot yang berlebihan. Spasme otot laringeus dan respiratorius
menyebabkan obstruksi, asfiksia dan sianosis.
9. Hal khusus (termasuk prinsip-prinsip) yang harus diperhatikan

Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi T (screening) terlebih


dahulu, terutama pada saat pelayanan antenatal (Peraturan Menteri Kesehatan No.42

tentang Penyelenggaraan Imunisasi, 2013).


Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan, apabila pemberian imunisasi TT sudah
lengkap (status T5) yang harus dibuktikan dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak,
rekam medis, dan/atau kohort (Peraturan Menteri Kesehatan No.42 tentang

Penyelenggaraan Imunisasi, 2013).


Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan

imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005)


TT1 dapat diberikan sejak diketahui positif hamil dimana biasanya diberikan pada
kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes, 2000)

10. Protokol prosedur

Menjelaskan prosedur kepada pasien, tujuan, lokasi penyuntikan dan apa yang harus
dilakukan oleh pasien

Mencuci tangan

Menyiapkan obat dari vial atau ampul

Mencuci tangan dan memakai sarung tangan

Memposisikan pasien sesuai dengan lokasi injeksi


Lokasi Injeksi Intramuskuler
a. Vastus lateralis: bantu pasien ke pasien berbaring telentang, dengan lutut agak
fleksi
b. Ventrogluteal: bantu pasien berbaring miring, atau telentang dengan lutut dan
panggung miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi
c. Deltoid: bantu pasien duduk atau berbaring datar, dengan lengan bawah fleksi
tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan.

Memilih lokasi yang tepat untuk penyuntikan dengan menggunakan garis anatomik.
Lokasi penyuntikan bebas dari lesi, nyeri tekan, pembengkakan dan inflamasi lokal

Membersihkan lokasi tersebut dengan swab alkohol dengan gerakan sirkuler mulai
dari bagian tengah ke luar sampai 5 cm

Membuka penutup jarum dari spuit dengan menarik penutup tegak lurus

Menyuntikkan obat :
Injeksi Intramuskuler

a. Menggenggam dan mecubit area yang mengelilingi lokasi penyuntikan atau


meregangkan kulit pada lokasi tersebut sesuai kebutuhan
b. Memegang spuit diantara ibu jari dan jari telunjuk seperti memegang vena dan
tusukkan jarum pada kulit dengan sudut 90 derajat
c. Mengaspirasi dengan menahan spuit dengan tangan yang tidak dominan dan
menarik plunger (pendorong) spuit dengan tangan dominan. Menarik jarum
jika muncul darah dalam spuit, buang dan siapkan injeksi yang baru. Jika tidak
tampak darah saat aspirasi, obat disuntikkan secara perlahan dan stabil dengan
kecepatan 10 detik/ml
d. Melakukan teknik jalur Z (Z-track):
- Menarik kulit ke satu sisi, ke arah bawah atau lateral sekitar 2,5 cm dengan
menggunakan tangan yang tidak dominan
- Menahan jarum pada tempatnya selama 10 detik
e. Menarik jarum secara halus dan mantap sambil menempatkan swab alkohol
tepat pada tempat injeksi
f. Memberikan tekanan perlahan. Jangan melakukan masase kulit

Membantu pasien mengambil posisi nyaman

Membuang jarum tanpa tutup dan spuitnya ke dalam wadah yang seharusnya
(disediakan)

Melepaskan sarung tangan dan mencuci tangan

Melakukan dokumentasi dengan mencatat nama obat, dosis, lokasi dan respons pasien

Mengevaluasi efektivitas obat dengan mengobservasi respons pasien terhadap obat


dalam 15 sampai 30 menit

Tabel1. Peraturan Menteri Kesehatan No.42 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, 2013

11. Keamanan (untuk pasien dan perawat)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.42 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, 2013 :

Dosis, cara pemberian dan tempat pemberian imunisasi


Interval pemberian
Jarak minimal antar dua pemberian imunisasi yang sama adalah 4 (empat) minggu.
Tidak ada batas maksimal antar dua pemberian imunisasi.

Tindakan

antiseptik
Setiap
petugas
yang
akan melakukan pemberian imunisasi harus mencuci tangan dengan sabun terlebih
dahulu. Untuk membersihkan tempat suntikan digunakan kapas kering dengan
melakukan sekali usapan pada tempat yang akan disuntik. Tidak dibenarkan
menggunakan alkohol untuk tindakan antiseptik.
12. Hal yang harus dilaporkan dan didokumentasikan

nama obat
dosis
lokasi
respons pasien

Referensi
Depkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.42 tentang
Penyelenggaraan Imunisasi. Diakses melalui www. pppl.depkes.go.id pada 9 September
2015, pukul 23.43
Depkes RI. 2005. Rencana Strategi Departemen Kesehatan. Diakses melalui http://
www. Depkes RI. go.id/ pada 9 September 2015, pukul 23.43

Depkes RI. 2000. Imunisasi TT. Diakses melalui http:// www. Depkes RI. go.id/ pada
9 September 2015, pukul 23.43
Tunjung, W., Alifah A. (2012). Eliminasi Tetanus Maternal & Neonatal: Tetanus
Neonatrum. Kemenkes RI. Diakses melalui depkes.go.id pada 9 September 2015, pukul
23.43
Wahab, A. Samik. 2002. Sistem Imun, Imunisasi & Penyakit Imun. Jakarta: Widya
Medika