Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar
salep yang cocok. Salep mata berbeda dengan salep dermatologi, salep mata harus steril.
Apakah dibuat dari bahan-bahan yang sudah steril dalam keadaan bebas hama
sepenuhnya atau disterilkan sesudah pembuatan. Salep mata harus memenuhi uji sterilitas
sebagaimana tertera pada kompedia resmi. Sterilitas merupakan syarat yang paling
penting. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme, yang paling
berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat
menyebabkan kebutaan, ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk
nonsteril pada mata saat kornea terkena. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata
menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien. Salep mata memberikan arti lain dimana
obat dapat mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan di sekelilingnya tanpa
tercuci oleh cairan air mata. Salep mata memberikan keuntungan dimana waktu
kontaknya lebih lama dan bioavaibilitasnya dan letal obat lebih besar meski dengan onset
yang lebih lambat dan waktu untuk mencapai absorbsi lebih lama. Ssatu kekurangan dari
penggunaan salep mata adalah salep akan mengganggu pandangan kecuali digunakan
selama waktu tidur.
B. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah formulasi ini adalah untuk memperoleh sediaan salep
mata yang memiliki formulasi terbaik dibandingkan dengan formula lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Salep Mata
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai
obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang
cocok (Anief, 2000).
Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata
harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan
dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas (Anonim, 1995).
Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi salap mata tidak dapat disterilkan
dengan cara biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat uji sterilitas
dengan pembuatan secara aseptik. Salap mata mengandung bahan atau campuran bahan
yang sesuai untuk mecegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin
masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu aplikasi penggunaan, kecuali
dinyatakan lain dalam monografi, atau formulanya sendiri sudah bersifat bakteriostatik
(Goeswin, ).
Obat biasanya dipakai untuk mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan
bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Yang paling sering digunakan adalah
larutan dalam air, tapi bisa juga dalam bentuk suspensi, cairan bukan air dan salep mata.
Berbeda dengan salep dermatologi, syarat salep mata yang baik yaitu :

Steril
Bebas hama/bakteri
Tidak mengiritasi mata
Difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata.
Dasar salep harus mempunyai titik lebur/titik leleh mendekati suhu tubuh
(Ansel,1989).

B. Karakteristik Sediaan Salep Mata


1. Kejernihan
Larutan mata adalah larutan bebas dari partikel asing dan jernih secara normal
diperoleh dengan filtrasi. Tentunya, pentingnya peralatan filtrasi agar jernih dan tercuci
baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain
2

peralatan untuk menghilangkannya. Pengerjaan penampilan untuk larutan dalam


lingkungan yang bersih, penggunaan LAF dan harus tidak tertumpah memberikan
kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel asing. Dalam beberapa
permasalahan, kejernihan dan sterilisasi dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini
penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah
dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tak tertumpahkan. Wadah
atau tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama dalam
penyimpanan. Normalnya dilakukan tes sterilisasi
2. Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung sifat kimia bahan
obat, pH produk, metode penyiapan (khususnya penggunaan suhu), zat tambahan larutan
dan tipe pengemasan. Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata
pada pH 6,8. Namun demikian pH stabilitas kimia (atau ketidakstabilan) dapat diukur
dalam beberapa hari atau bulan. Dengan obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia
kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pada pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun.
3. Buffer dan pH
Idealnya, sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang ekuivalen dengan
cairan air mata yaitu 7,4. dan prkteknya jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam
optalmology adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Ini umumnya
dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak larut. Suspensi biasanya paling stabil
pada pH asam pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH
diseleksi jadi optimum untuk stabil. Sistem dapar diseleksi agar mempunyai kapasitas
adekuat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk.
Kapasitas buffer adalah kunci utama situasi ini
4. Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan
berair. Larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketikamagnitude sifat koligatif
larutan adfalah sama. Larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama
dengan 0,9 % larutan NaCl Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari
suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range

0,5 % 1,8 % NaCl intraokuler. Namun demikian ini tidak dibutuhkan ketika stabilitas
produk dipertimbangkan
5. Viskositas
USP mengizinkan penggunaan peningkat viskositas untuk memperpanjang waktu
kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metil
selulose, polivinil alkohol dan hidroksil metil selulose ditambahkan secara berkala untuk
meningkatkan viskositas. Investigator telah mempelajari efek peningkatan viskositas
pada waktu kontak dalam mata. Umumnya viskositas meningkat dari 25 50 cps range
signifikan meningkatkan lama kontak dalam mata.
6. Bahan Tambahan
Penggunaan

bahan

tambahan

dalam

larutan

mata

dibolehkan,

namun

pemilihannya dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya natrium bisulfit atau


metasulfit, digunakan dalam konsentrasi sampai 0,3 %, khususnya dalam larutan yang
mengandung garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askobat atau asetilsistein
dapat digunakan. Antioksidan ini berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi
epinefrin. Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. Surfaktan
nonionik, keluar toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi
rendahkhususnya suspensi steroid dan berhubungan dengan kejernihan larutan. Surfaktan
jarang digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan kelarutan. Penggunaan
surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan, sebaiknya dengan karakteristik
bahan-bahan. Surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan
komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet. Benzalkonium klorida
dalam range 0,01 0,02 % dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi, sebagai
pengawet digunakan dalam jumlah besar larutan dengan suspensi sediaan mata.
C. Syarat Syarat Salep Mata
Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang benar-benar
aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi. Sterilisasi terminal dari salep
akhir dalam tube disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi
gamma.

Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk
mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah
terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol,
paraben atau merkuri organik.
Salep akhir harus bebas dari partikel besar. Basis yang digunakan tidak mengiritasi
mata, membiarkan difusi obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas
obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai. Vaselin merupakan
dasar salep mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap,
bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar larut dalam air dapat digunakan
untuk obat yang larut dalam air. Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat
larut air yang lebih baik tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada mata.
Sterilitas merupakan syarat yang paling penting, tidak layak membuat sediaan larutan
mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas
aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang
paling utama adalah memasukkan produk nonsteril ke mata saat kornea digosok.
Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada
pasien. Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan
sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung
antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan
melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim
yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa
selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu dari mikroorganisme yang tidak
dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu
Pseudomonas

aeruginosa

(Bacilllus

pyocyamis).

Infeksi

serius

yang

disebabkan

mikroorganisme ini ditunjukka dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan
istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini
bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga ditemukan disaluran intestinal, dikulit
normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara.

D. Bahan Pembuatan Salep Mata


Bahan tambahan yang ditambahkan ke dalam dasar salap mata berbentuk
larutan atau serbuk halus. Salep mata harus bebas dari partikel kasar dan harus
memenuhi syarat kebocoran dan partikel logam pada uji salep mata.
Wadah untuk salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan
penutupan serta harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada
penggunaan pertama obat. Dasar salap mata yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata,
memungkinkan difusi obat dalam caitan mata, dan tetap dapat memperthankan aktivitas
obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang tepat (usia) guna.
Vaselin merupakan dasar salap mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan
dasar salap dapat menyerap air, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air, dan bahan
seperti ini memungkinkan dispersi obat larut secara lebih baik, tetapi tidak boleh
menyebabkan iritasi pada mata. Zat obat yang ditambahkan ke dalam dasar salep, apakah
dalam bentuk larutan atau dalam bentuk serbuk yang dibuat halus sekali sampai ukuran
mikron. Lalu obat dicampur sampai sempurna dengan dasar salap biasanya memakai
penggiling. Setelah pembuatan saeap mata ini diisikan ke dalam tube yang terbuat dari
plastik atau timah dimana sebelumnya telah dibuat steril.
Tube yang isinya kurang lebih 3,5 gram salap dan dikocokkan dengan ujungnya
berliku sempit yang memungkinkan lompatan segumpal kecil salep. Hal ini sesuai
untuk menempatkan salap pada garis tepi kelopak mata. Suatu tempat yang biasa
dalam pemakaian obat. Hal ini harus dikerjakan tanpa menyentuh mata (Ansel, ).
E. Kualitas Basis Salep
1. Stabil, selama masih dipakai dalam masa pengobatan. Maka salep harus bebas dari
inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar.
2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan
homogen, sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi, inflamasi dan ekskoriasi.
3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang palintg mudah dipakai dan
dihilangkan dari kulit.

4. Dasar salep yang cocok adalah dasar salep yang kompatibel secara fisika dan kimia
dengan obat yang dikandungnya.
5. Terdistribusi secara merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat
atau cair pada pengobatan.
F. Penggolongan Basis Salep
1. Dasar salep berminyak. Contohnya : Vaselin, parafin, minyak tumbuh-tumbuhan dan
silikon.
2. Dasar salep absorpsi
Golongan dasar salep absorpsi meliputi minyak hidrofil yaitu adeps lanae,
Hydrophylic petrolatum dan dasar salep yang baru seperti polysorb. Dasar salep
absorpsi ada dua tipe :
Dasar salep anhidrous yang mampu menyerap air dan membentuk tipe emulsi

A/M seperti adeps lanae dan Hydrophilic petrolatum.


Dasar salep hidrus dan merupakan tipe emulsi A/M tetapi masih mampu menyerap
air yang ditambahkan seperti cold cream dan lanolin.Sifat lain dasar salep

absorpsi adalah tidak mudah dicuci, karena fase kontinyu adalah minyak.
3. Dasar salep tercuci
Dasar salep tercuci adalah anhidrous, larut dalam air dan mudah dicuci dengan air.
Hanya bagian kecil dari cairan dapat didukung oleh dasar salep tanpa perubahan
viskositas. Contohnya : Polietilenglikol.
4. Dasar salep emulsi
Ada dua macam yaitu :

Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream.
Dasar salep emulsi tipe M/A seperti hydrophilic oinment dan Vanishing cream

Pemilihan dasar salep disesuaikan dengan kebutuhan atau sifat salep yang diinginkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah:

Laju penglepasan bahan obat dari basis salep;


Peningkatan absorpsi perkutan oleh basis salep dari bahan obat;
Kelayakan melindungi kelembaban kulit oleh basis salep;
Jangka waktu obat stabil dalam basis salep; dan
Pengaruh obat terhadap kekentalan atau hal lainnya dari basis salep.

G. Cara - Cara Sterilisasi Menurut Farmakope Indonesia edisi IV


1. Sterilisasi Uap
7

Adalah proses sterilisasi thermal yang menggunakan uap jenuh dibawah tekanan
selama 15 menit pada suhu 121o. Kecuali dinyatakan lain, berlangsung di suatu bejana
yang disebut otoklaf, dan mungkin merupakan proses sterilisasi paling banyak dilakukan.

Alat:
Disebut otoklaf, yaitu suatu panci logam yang kuat

dengan tutup yang berat,

mempunyai lubang tempat mengeluarkan uap air beserta krannya, termometer,

pengatur tekanan udara, klep pengaman.


Cara bekerja :
Otoklaf dipanaskan, ventilasi dibuka untuk membiarkan udara keluar. Pengusiran
udara pada otoklaf berdinding dua, uap air masuk dari bagian atas dan udara keluar
dari bagian bawah yang dapat ditunjukkan pada gelembung yang keluar dari ujung
pipa karet dalam air.
Setelah udara bersih, bahan yang akan disterilkan dimasukkan sebelum air
mendidih, tutup otoklaf dan dikunci, ventilasi ditutup dan suhu serta tekanan akan naik
sesuai dengan yang dikehendaki. Atur klep pengaman supaya tekanan stabil.
Setelah sterilisasi selesai, otoklaf dibiarkan dingin hingga tekanannya sama
dengan tekanan atmosfir. Cara sterilisasi ini lebih efektif dibanding dengan pemanasan
basah yang lain, karena suhunya lebih tinggi.

Bahan / alat yang dapat disterilkan :


Alat pembalut, kertas saring, alat gelas ( buret, labu ukur ) dan banyak obat-obat
tertentu.

2. Sterilisasi Panas Kering


Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus Oven modern yang dilengkapi udara
yang dipanaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang dapat diterima di dalam bejana
sterilisasi kosong adalah lebih kurang 15o, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak
kurang dari 250C.

Alat :

Oven yaitu lemari pengering dengan dinding ganda, dilengkapi dengan termometer
dan lubang tempat keluar masuknya udara, dipanaskan dari bawah dengan gas atau
listrik.

Bahan / alat yang dapat disterilkan dengan cara kering


Alat-alat dari gelas (gelas kimia, gelas ukur, pipet ukur, erlemeyer, botol-botol,
corong), bahan obat yang tahan pemanasan tinggi (minyak lemak, vaselin).

Ciri-ciri pemanasan kering :


- Yang dipanaskan adalah udara kering.
- Proses pembunuhan mikroba berdasarkan oksidasi O2 udara.
- Suhu yang digunakan lebih tinggi, kira-kira 150. Satu gram udara pada suhu 100,

jika didinginkan menjadi 99 hanya membebaskan 0,237 kalori.


- Waktu yang diperlukan lebih lama, antara 1 jam sampai 2 jam, kecuali pemijaran.
- Digunakan untuk sterilisasi bahan obat / alat yang tahan pemanasan tinggi.
3. Sterilisasi gas
Bahan aktif yang digunakan adalah gas etilen oksida yang dinetralkan dengan gas
inert, tetapi keburukan gas etilen oksida ini adalah sangat mudah terbakar, bersifat
mutagenik, kemungkinan meninggalkan residu toksik di dalam bahan yang disterilkan,
terutama yang mengandung ion klorida. Pemilihan untuk menggunakan sterilisasi gas ini
sebagai alternatif dari sterilisasi termal, jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan
terhadap suhu tinggi pada sterilisasi uap atau panas kering. Proses sterilisasinya
berlangsung di dalam bejana bertekanan yang didesain seperti pada otoklaf dengan
modifikasi tertentu. Salah satu keterbatasan utama dari proses sterilisasi dengan gas etilen
oksida adalah terbatasnya kemampuan gas tersebut untuk berdifusi sampai ke daerah
yang paling dalam dari produk yang disterilkan.
4. Sterilisasi dengan radiasi ion
Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif dari
radioisotop (radiasi gamma) dan radiasi berkas elektron. Digunakan isotop radio aktif,
misalnya Cobalt 60. Pada kedua jenis ini, dosis yang menghasilkan derajat jaminan
sterilitas yang diperlukan harus ditetapkan sedemikian rupa hingga dalam rentang satuan
dosis minimum dan maksimum, sifat bahan yang disterilkan dapat diterima. Walaupun
berdasarkan pengalaman dipilih dosis 2,5 megarad (Mrad) radiasi yang diserap, tetapi
dalam beberapa hal, diinginkan dan dapat diterima penggunaan dosis yang lebih rendah
untuk peralatan, bahan obat dan bentuk sediaan akhir. Cara ini dilakukan jika bahan yang
9

disterilkan tidak tahan terhadap sterilisasi panas dan khawatir tentang keamanan etilen
oksida. Keunggulan sterilisasi ini adalah reaktivitas kimia rendah, residu rendah yang
dapat diukur serta variabel yang dikendalikan lebih sedikit.
5. Sterilisasi dengan penyaringan
Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan
menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang dikandungnya
dapat dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks
berpori bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable. Efektivitas
penyaring media atau penyaring subtrat tergantung pada ukuran pori matriks, daya
adsorpsi bakteri dari matriks dan mekanisme pengayakan. Penyaring yang melepas serat,
terutama yang mengandung asbes harus dihindari penggunaannya kecuali tidak ada
penyaringan alternatif lain yang mungkin bisa digunakan. Ukuran porositas minimal
membran matriks tersebut berkisar 0,2 mm 0,45 mm tergantung pada bakteri apa yang
hendak disaring. Penyaring yang tersedia saat ini adalah selulosa asetat, selulosa nitrat,
flourokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil nilon,
potef dan juga membran logam. Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril,
diisikan ke dalam wadah steril, kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptik .
Keuntungan cara ini :
-

Digunakan untuk bahan obat yang tidak tahan pemanasan tetapi larut dalam air.
Dapat dilakukan dengan cepat, terutama untuk pembuatan kecil-kecilan.
Semua mikroba hidup atau mati dapat disaring dari larutan, virus jumlahnya

dikurangi.
Penyaring dapat bersifat adsorpsi, sebagian besar virus dapat diadsorpsi

Kerugian cara ini :


-

Masih diperlukan zat bakterisida.


Hanya dapat digunakan untuk pembawa berair, tidak dapat digunakan untuk

pembawa minyak.
Beberapa jenis penyaring dapat mengadsorpsi bahan obat, terutama kalau kadarnya

kecil.
Beberapa penyaring sukar dicuci : porselin, Keiselguhr.
Beberapa penyaring bersifat alkalis (Seitz filter) dan penyaring dari asbes

melepaskan asbes ke dalam larutan.


Filtrat yang diperoleh belum bebas dari virus.

Cara-cara menyaring. Ada 2 cara untuk menyaring , yaitu :


10

Dengan tekanan positip : larutan dalam penyaring ditekan dengan tekanan yang lebih

besar dari udara luar.


Dengan tekanan negatip : larutan dalam penyaring diisap (penampung di vakumkan).
Udara yang dipakai untuk itu harus udara bersih, biasanya digunakan gas nitrogen
(N2) yang dialirkan melalui kapas berlemak dalam tabung gelas atau platina yang
dipanaskan.

Pembersihan penyaring bakteri :


-

Dengan menyedot air bersih berlawanan dengan cara penyaringan atau larutan HCl

panas lalu dibilas.


Memasak dalam larutan Na-karbonat 2 % lalu dibilas (protein akan hancur , karena

pH 8,5).
Penyaring bakteri disterilkan dengan cara pemanasan kering, pemijaran, otoklaf atau

secara kimiawi..
6. Sterilisasi dengan cara aseptic
Proses ini untuk mencegah masuknya mikroba hidup ke dalam komponen steril
atau komponen yang melewati proses antara yang mengakibatkan produk setengah jadi
atau produk ruahan atau komponennya bebas dari mikroba hidup.
Cara

sterilisasi dengan menggunakan

teknik yang

dapat

memperkecil

kemungkinan terjadi cemaran/ kontaminasi dengan mikroba hingga seminimal mungkin.


Digunakan untuk bahan obat yang tidak dapat disterilkan dengan cara pemanasan atau
dengan cara penyaringan.
Caranya :
-

Bahan obat: memenuhi syarat p.i , tidak disterilkan.


Zat pembawa: disterilkan tersendiri dahulu.
Zat pembantu: disterilkan tersendiri.
Alat-alat: disterilkan dengan cara yang cocok.
Ruang kerja: bersih, bebas debu, dan angin, disterilkan dengan sinar u.v atau cara
lain yang sesuai.
Kemudian bahan obat, zat pembawa, zat pembantu disimpan secara aseptic dalam

ruang aseptic hingga terbentuk obat / larutan injeksi dan dimasukkan ke dalam wadah
secara aseptic.
Pemilihan cara sterilisasi harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut:

Stabilitas : sifat kimia, sifat fisika, khasiat, serat, struktur bahan obat tidak boleh
mengalami perubahan setelah proses sterilisasi.
11

Efektivitas : cara sterilisasi yang dipilih akan memberikan hasil maksimal dengan proses

yang sederhana, cepat dan biaya murah.


Waktu : lamanya penyeterilan ditentukan oleh bentuk zat, jenis zat, sifat zat dan kecepatan
tercapainya suhu penyeterilan yang merata.
H. Pengujian Salep Mata
1. Uji Kebocoran Salep Mata
Pilih 10 tube salep mata, dengan segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan
keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. Letakkan tube pada
posisi horizontal di atas lembaran kertas penyerap, dalam oven dengan suhu yang diatur
pada 60 + 3 0C selama 8 jam. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau
setelah pengujian selesai (abaikan bekas salep yang diperkirakan berasal dari bagian luar
dimana terdapat lipatan dari tube atau bagian luar dari ulir tutup tube). Jika terdapat
kebocoran pada satu tube tapi tidak lebih dari satu; ulangi pekerjaan dengan tambahan 20
tube salep. Persyaratan ini memenuhi jika tidak ada satupun dari 10 tube uji pertama dan
kebocoran yang diamati tidak lebih dari satu dari 30 tube yang diuji.
2. Uji Partikulat
Keluarkan isi dari 10 tube salep. Pertama-tama lebur dalam cawan Petri datar dan
kemudian biarkan memadat lalu diamati di bawah mikroskop tenaga rendah yang
dilengkapi dengan micrometer lensa mata untuk partikel yang berukuran 50 m atau lebih
besar dalam beberapa dimensi. Syarat-syaratnya diterima jika jumlah total dari partikel
logam dalam seluruh 10 tube tidak lebih dari 50 dan jika tidka lebih dari satu tube
ditemukan mengandung delapan partikel yang sama.
3. Uji Sterilisasi
Uji untuk sterilisasi produk seperti salep mata telah dipermudah dengan
penggunaan steril membran bacteria-retaining (yang mempunyai porositas 0,45 atau 0,22
m yang umumnya digunakan). Untuk salep yang larut dalam isopropyl miristat (pelarut
yang digunakan tes official untuk sterilisasi), sampel dilarutkan dalam pelarut tes steril.
Untuk salep yang tidak larut dalam isopropyl miristat disuspensikan dalam pembawa
cairan yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dan uji dengan Prosedur Umum
Konvensional.
4. Konsistensi , dengan penetrometer
12

Mudah tidak nya sediaan dikeluarkan dari tube dan mudah dioleskan.Konsistensi/
rheology itu harus dilakukan pada keadaan identic.
5. PH
Menguji PH sediaan agar mendekati PH kulit yaitu 6-7 , menggunakan kertas indicator PH
, dengan melihat warna pada kertas indicator.
I. Keuntungan dan Kelemahan Sediaan Salep Mata
Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata adalah
penambah waktu hubungan anatara obat dengan obat dengan mata, dua sampai empat kali
lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam. Satu
kekurangan bagi pengggunaan salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi
begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa kontak (Ansel, ).
Sediaan mata umumnya dapat memberikan bioavailabilitas lebih besar daripada
sediaan larutan dalam air yang ekuivalen. Hal ini disebabkan karena waktu kontak yang
lebih lama sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih tinggi. Salep mata dapat mengganggu
penglihatan,

kecuali

jika

digunakan

saat

akan

tidur

(Remington Pharmaceutical

Science, ).

13

BAB III
PEMBAHASAN
A. PERUMUSAN KARAKTER SEDIAAN
A. NAMA PRODUK
B. JENIS SEDIAAN

: CHLORAMPFINEX
: Salep mata Chloramphenicol

Syarat Sediaan Jadi


NO.

PARAMETER

Kadar Bahan Aktif

Berat/ volume per unit

Pemerian
Warna

Bau

Rasa

SATUAN
Memenuhi
syarat sesuai
dengan FI

SPESIFIKASI SEDIAAN YANG


AKAN DIBUAT

SYARAT FARMAKOPE

1% Chloramphenicol dalam 5 gram


basis

Salep mata Chloramphenicol


mengandung chloramphenicol
C12H12C12N2O5, tidak kurang
dari 90,0% dan tidak lebih dari
130,0 % dari jumlah yang
tertera pada etiket.
Putih hingga putih kelabu / putih
kekuning- kuningan
Tidak berbau

5 gram

Pahit

Gram

SYARAT LAIN

Putih hingga putih kelabu/ putih


kekuningan
Tidak berbau

14

Karakteristik lain
Kelarutan
- pH
- Viskositas
- Kemampua
n Pengawet
- Homogenit
as
- Sterilitas
Pembuatan
- Wadah
- Kemasan

Larut/terdispersi dalam
basis
5,5
Efektif

Efekti
Homogen
Steril
Tube
Indikasi, Kontraindikasi ,
aturan pakai , interaksi obat,
efek samping

Sukar larut dalam air, mudah


larut dalam etanol, dalam
propilenglikol dalam aseton
dan dalam etil asetat
Antara 4,5 dan 7,5
Uji efektifitas
Homogen
Uji sterilitas
Tube
Indikasi, kontraindikasi,aturan
pakai, interaksi obat , efek
samping No. reg , No. Batch ,
Exp.

DATA PRAFORMULASI BAHAN AKTIF


Nama Bahan Aktif : Kloramfenikol
N
O
1

PARAMETER
Pemerian

DATA
Hablur halus berbentuk jarum lempeng memanjang, putih hingga putih kelabu atau kekuningan , tidak berbau , rasa
sangat pahit. Larutan praktis netral terhadap lakmus, stabil dalam larutan netral atau larutan agak asam.

15

Kelarutan

Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam propilen glikol, dalam aseton dan dalam etil asetat.

pH

4,5 7,5

OTT

Cara Sterilisasi

Indikasi

Tifus, Paratifus, Injeksi berat disebabkan salmonella sp,H.Influenza, Rickttsia

Dosis Lazim

Sekali (1xp) = sehari (1xhp) = 25 50 mg/kg BB

Cara Pemakaian

Sediaan Lazim dan


Kadar
Wadah dan
Penyimpanan

10

Dalam wadah tertutup baik

DATA PRAFORMULASI BAHAN TAMBAHAN


Nama Bahan Tambahan : Setil Alkohol (C16H34O)
NO
.
1

PARAMETER
Pemerian

DATA
Seperti lilin, serpihan putih, sedikit bau khas, rasa sedikit lunak.

16

Kelarutan

pH

OTT

Cara Sterilisasi

Indikasi

Coating agent, emulsifying agent , stiffening agent.

Dosis Lazim

Emollient 2-5 %, emulsifying agent 2-5 % , stiffening agent 2-10 % dan water absorption 5 %

Cara Pemakaian

Sediaan Lazim dan


Kadar
Wadah dan
Penyimpanan

10

Mudah larut dalam ethanol 95 % dan eter, kelarutan meningkat dengankenaikan suhu; praktis tidak larut dalam air.
Bercampur ketika dilebur dengan lemak , paraffin padat dan liquid dan isopropyl miristat.

Dengan zat pengoksida kuat

Dalam wadah tertutup baik

DATA PRAFORMULASI BAHAN TAMBAHAN


Nama Bahan Tambahan : Lemaak bulu domba
NO
.
1

PARAMETER
Pemerian

DATA
Zat serupa lemak, liat lekal, kuning muda, atau kuning pucat, agak tembus cahaya, bau khas lemah dan has

17

Kelarutan

pH

OTT

Cara Sterilisasi

Indikasi

Dosis Lazim

Cara Pemakaian

Sediaan Lazim dan


Kadar

10

Wadah dan
Penyimpanan

Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol 95 % p, mudah larut dalam kloroform p dan eter p

Sebagai basis salep

Dalam wadah tertutup baik dan sebaiknya pada suhu kamar terkendali.

DATA PRAFORMULASI BAHAN TAMBAHAN


Nama Bahan Tambahan : Paraffin cair
NO
.
1

Pemerian

Cairan kental , transparan , tidak berfluoresensi ; tidak berwarna ; hamper tidak berbau ; hamper tidak mempunyai
rasa.

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air dan etanol ( 95 %)p, larut dalam kloroform p dan dalam eter p.

PARAMETER

DATA

18

pH

OTT

Cara Sterilisasi

Indikasi

Dosis Lazim

Cara Pemakaian

Sediaan Lazim dan


Kadar

10

Wadah dan
Penyimpanan

Dengan kelompok oksidan kuat.

Basis salep hidrofilik

Dalam wadah tertutup baik.

DATA PRAFORMULASI BAHAN TAMBAHAN


Nama Bahan Tambahan : Vaselin kuning
NO
.
1

Pemerian

Masa lemak , lengket, bening, kuning muda sampai kuning ; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan
hingga dingin tanda diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan tidak berbau hamper tidak berasa.

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air dan ethanol (95 %)p; larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak

PARAMETER

DATA

19

tanah P.
3

pH

OTT

Cara Sterilisasi

Indikasi

Dosis Lazim

Cara Pemakaian

Sediaan Lazim dan


Kadar
Wadah dan Penyimpanan

10

Sebagai basis hidrokarbon

Dalam wadah tertutup rapat.

FORMULIR PEMECAHAN MASALAH


ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
N
O

RUMUSAN MASALAH
KOMPONEN

PROSES

PENGAWASAN
MUTU

KEPUTUSAN

20

1.

Bahan Aktif : Terdapat dua


macam bahan aktif

1. Kloramfenikol base
2. Kloramfenikol
palmitat

2.

Basis salep (Vaselin)

1. Vaselin putih
2. Vaselin Kuning

Uji Organoleptis

Digunakan
kloramfenikol base
Alasan : Karena
cocok
untuk
pemakaian topical,
kalau palmitat untuk
pemakaian oral.
Vaselin Kuning
Alasan : Vaselin putih
dalam pemucatannya
menggunakan asam
sulfat. Vaselin putih
dapat menyebabkan
iritasi mata.

KOMPONEN UMUM SEDIAAN


NAMA BAHAN
NO

1.

Chloramphenicol

FUNGSI
(Untuk farmakologis/farmasetik)

Zat Aktif

PEMAKIAN
LAZIM (%)

1%

PENIMBANGAN BAHAN
UNIT
(10 gram)

BATCH
(30 gram)

1g

3g

21

2.

Adeps Lanae

3.

Paraffin Cair

4.

Setil Alkohol

Vaselin Kuning

Basis Salep (Oculentum simplex)

6%

0,891 g

2,673 g

Basis salep ( Oculentum simplex)

40 %

5,94 g

17,82 g

Stispending agent

2,5 %

0,371 g

1,113 g

Add 10 gram

Add 30 g

Basis salep hidrokarbon

Add 10 gram

Penimbangan Bahan :
Kloramfenikol = 1 % x 10 gram = 1 gram
Basis = 100 % - % zat aktif
100 % - 1 %
= 99% x 10 gram = 9,9 gram , untuk 30 gram : x 3 = 29,7 gram
= 9,9 gram x 50 % = 4,95 gram
= 9,9 gram + 4,95 gram = 14,85 gram , untuk 30 gram : x3 = 44,55 gram
Setil Alkohol = 2,5 % x 14,85 gram = 0,371 gram, untuk 30 gram : x 3 = 1,113 gram
Adeps lanae = 6% x 14,85 gram = 0,891 gram , untuk 30 gram : x 3= 2,673 gram
Paraffin cair = 40 % x 14,85 gram = 5,94 gram , untuk 30 gram : x 3 = 17,82 gram
Vaselin album = 9,9 (0,371 + 0,891 +5,94 ) gram
= 10 gram 7,202
= 2,8 gram , untuk 30 gram : x 3 = 8,4 gram

22

PENGAWASAN MUTU SEDIAAN


A. In Prosess Control
N
O

PARAMETER YANG DI UJI

1.

Uji ukuran partikel

SATUAN

CARA PEMERIKSAAN
Meloloskan partikel pada mesh 100

2.

B. End Process Control


N
O

PARAMETER YANG DI UJI

SATUAN

CARA PEMERIKSAAN

1.

Homogenitas

Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan


transparan lain yang cocok harus menunjukkan
susunan yang homogen

2.

Konsistensi ( dengan penetrometer)

Menggunakan penetrometer , bertujuan mudah


dikeluarkan dari tube dan udah dioleskan

Dengan melihat Warna dan bau dari sediaan yg


telah dibuat , untuk melihat terjadinya perubahan
fasa.

3.

Baud an warna

23

PROSEDUR TETAP PEMBUATAN SEDIAAN


Salep mata Kloramfenikol
Disusun Oleh :
1. I Gusti A.K.W.
2. Suradal Akuf
3. David Putrasila S.
4. Jemmi Supriyanto
Tanggal

Hal. Dari. Hal


12330
098
12330
035
12330
105
10330
065

Diperiksa Oleh :

Disetujui Oleh :

No :
Tanggal

Tanggal

:
Penanggung Jawab

PROSDUR TETAP
I.

PERSIAPAN
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Ruangan, peralatan dan wadah dibersihkan
3. Semua alat disterilisasi dahulu sebelum digunakan
4. Lakukan sterilisasi sesuai cara sterilisasi masing masing alat dan bahan.

24

II.

KEGIATAN PRODUKSI
Penimbangan Bahan
Bahan
Kloramfenikol
Setil Alkohol
Adeps lanae
Paraffin cair
Vaselin album

Ditimbang

Realita

INTRUKSI KERJA
Disusun Oleh :

Diperiksa Oleh :

1. I Gusti
A.K.W.

1233009
8

2. Suradal
Akuf

1233003
5

Disetujui Oleh :

Hal. Dari. Hal


No :

Tanggal

Tanggal

:
25

3. David
Putrasila S.

1233010
5

4. Jemmi

1033006

INSTRUKSI KERJA

OPERATOR

SPV

TUJUAN :
Memastikan bahwa sediaan Salep mata Kloramfenikol yang telah dihasilkan memenuhi
kriteria dan syarat.
BAHAN :
- Zat Aktif : - Kloramfenikol
- Zat Tambahan :
Oculentu simplex terdiri dari : - Setil alcohol, Lemak bulu domba, Paraffin
cair, Vaselin kuning.
Alat :
-

Mortar
Cawan penguap
Kaca arloji
Oven
Pinset
Timbangan
Kain kasa
Kertas perkamen

26

PROSEDUR:
1. Menyiapkan alat dan bahan pada pembuatan salep mata kloramfenikol
2. Menimbang zat aktif ( Kloramfenikol),
3. Melapisi atas cawan penguap dengan 2 lembar kain kasa untuk menimbang
basis salep ( vaselin kuning , paraffin cair dan adeps lanae), di timbangan
analitycal balance.Setisp mengganti menimbang harus menara dahulu
timbangan analitycal balance.
4. Mensterilkan alat alat praktikum kea lam oven dengan suhu oC selama 30
menit.
5. Mensterilkan basis dengan memasukkan basis kedalam oven selama suhu
oC selama 30 menit.
6. Mensterilkan Kloramfenikol (dispenasi dianggap steril).
7. Memasukkan alat alat praktikum , zat aktif dan basis kedalam ruangan
white area
8. Memeras basis yang telah melebur yang telah dilapisi kain kasa.
9. Menimbang kembali basis.
10. Memasukkan basis kedalam lumping kemudian mengeras basis
11. Masukkan zat aktif gerus sampai homogeny
12. Masukkan sediaan salep pada tube
13. Memberi etiket.
27

EVALUASI SEDIAAN SALEP MATA KLORAMFENIKOL


Disusun Oleh :

Hal. Dari. Hal

A. I Gusti
A.K.W.

1233009
8

B. Suradal
Akuf

1233003
5

C. David
Putrasila S.

1233010
5

D. Jemmi
Supriyanto

1033006
5

Tanggal

Diperiksa Oleh :

Disetujui Oleh :

No :
Tanggal

Tanggal

:
INSTRUKSI KERJA

OPERATOR

SPV
28

TUJUAN :
Memastikan bahwa sediaan Salep mata Kloramfenikol yang telah dihasilkan memenuhi
kriteria dan syarat.
I.
Uji Organoleptis
Alat : Panca indera
Cara: ambil sampel secukupnya lakukan pengamatan
Parameter

Syarat

Hasil

Bau
Warna

II.

Homogenitas ( FI III, Hal 33)


Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok
harus menunjukkan susunan yang homogeny.

III.

Konsistensi , dengan penetrometer


Mudah

tidak

nya

sediaan

dikeluarkan

dari

tube

dan

mudah

dioleskan.Konsistensi/ rheology dipengaruhi suhu. Sediaan non Newtonian


dipengaruhi oleh waktu istirahat, oleh karena itu harus dilakukan pada
keadaan identic.
IV.

PH
Menguji PH sediaan agar mendekati PH kulit yaitu 6-7 , menggunakan
kertas indicator PH , dengan melihat warna pada kertas indicator.
29

30

C. Rancangan Formula Salep mata Kloramfnikol


Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata adalah
penambah waktu hubungan antara obat dan mata. Pengkajian telah dilakukan
bahwa waktu kontak antara obat dan mata, dua sampai empat kali lebih besar
apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam. Satu kekurangan
bagi pengguna salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi begitu
dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa mata. 1
Dasar

salep

pilihan

untuk

mata

harus

tidak

mengiritasi

mata

dan

memungkinkan difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi
cairan mata.1
Pada salep mata kloramfenikol ini digunakan basis salep hidrokarbon Dimana
karakteristik dari basis salep ini adalah : Mempunyai batas mengalir sampai 10
-50 N. M

-2

( 100 sampai 500 din.cm

dari kornea

) dan daerah meleburnya 32-33 C ( suhu

-2

atau konjungtiva). Basis salep hidrokarbon tersebut terdiri dari

Vaselin flavum dan parafin cair. Diasarankan untuk menggunakan vaselin yang
mengandung kolesterol, yang dapat disterilkan dengan menggunakan udara
panas tanpa mengurangi kualitasnya.2
Digunakan basis salep hidrokarbon karena basis dapat bertahan lama pada
mata, tidak tercuci dengan air mata. Selain itu basis salep mata yang cocok
untuk sediaan mata adalah hidrokarbon. Digunakan setil alkohol sebagai
suspending agent, karena setil alkohol ini tidak OTT dengan bahan aktif, dan
basis salep yang digunakan untuk membuat sediaan ini.
D. Proses Pembuatan salep mata Kloramfenikol
Metode pembuatan juga merupakan faktor utama yang harus diperhatikan
untuk mendapatkan sediaan salep yang baik. Metode yang paling baik dimana
fase air, fase minyak, serta mortir dan stemper yang berada pada kondisi suhu
yang sama panas.
1
2
31

Pembuatan salep mata harus berlangsung pada kondisi aseptik untuk


menjamin kemurniaan mkrobiologis yang disyaratkan. Hal itu mensyaratkan
bahwa basis salep yang digunakan pun sedapat mungkin dapat disterilkan.
Dipilih metode pembuatan dengan Tehnik aseptik, dipilih metode tersebut
karena bahan aktif tidak tahan terhadap pemaasan. Dan bentuk sediaan steril
yang dibuat adalah salep. Dimana salep disterilisasi dengan tehnik aseptik.
Dalam pembuatan salep mata kloramfenikol alat-alat yang digunakan dalam
proses pembuatan harus disterilisasi terlebih dahulu di autoklaf atau didalam
oven
E. . Sediaan Salep mata kloramfenikol yang telah dihasilkan
Salep mata kloramfenikol yang dihasilkan bagus, tidak ada partikel padat
yang tidak terdispersi didalam basis cream.
F. Evaluasi sediaan emulsi
Uji Organoleptik

Yang

diinginkan

dalam

sediaan

Salep

mata

kloramfenikol

yaitu

mempunyai warna putih kekuningan, tidak berbau dan tidak berasa.


Sedangkan yang dihasilkan juga seperti yang diinginkan sehingga dapat
dikatakan bahwa rancangan formulasi sesuai dengan yang diharapkan.
pH
pH sediaan Salep mata kloramfenikol yang didapat pada percobaan yaitu
mempunyai pH 5, hal ini berarti bahwa bahan tambahan yang digunakan
seperti (pengawet) akan bekerja optimal pada sediaan salep yang dibuat.

32

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan pada percobaan pembuatan Salep mata kloramfenikol yang
telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Salep mata kloramfenikol yang dibuat
adalah bagus, dan telah Memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope
Indonesia edisi IV yaitu Memenuhi syarat (MS) untuk, Uji pH, Uji Sifat emulsi.
Didalam pengujian untuk Salep mata kloramfenikol ini tidak dilakukan
pengujian Homogenitas,

Kandungan air,

Termoresistensi, Konsistensi, Uji

efektivitas pengawet, dan tipe emulsi. Hal ini dikarenakan keterbatasan alat dan
waktu yang ditentukan .

33

DAFTAR PUSTAKA
1.

Anief, Prof.Drs. Moh.Apt. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM press.

2.

Ansel, C Howard. 1989.Pengantar bentuk sediaan farmasi. Jakarta : UI-press.

3.

Formularium Nasional

34

LAMPIRAN

Kemasan

KLORAMFINEX

KLORAMFINEX Salep
Kloramfenikol Base

K Laboratories
Simpan pada suhu 15 c 25 c
Hanya untuk pemakaian pada mata
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
No. Res. DKI0812634598B1

Diproduksi Oleh :

KARYA FARMA

KLORAMFINEX Salep
Kloramfenikol Base

K
KLORAMFINEX

K Laboratories
Komposisi : Setiap gram salep mengandung 10 mg kloramfenikol base
INDIKASI, DOSIS DAN ATURAN PAKAI, PERINGATAN DAN
PERHATIAN, KONTRAINDIKASI, EFEK SAMPING : Lihat leaflet
ED : 10 JUN 2016

35

Brosur dan Etiket

KLORAMFINEX Salep
Indikasi:
j Blepharitis, catarrhae, conjunctivitis bernanah,
traumatic keratitis, trachoma, ulcerative keratitis dan
K
sebagainya.
Kontra Indikasi:
Penderita yang lewat peka terhadap
Chloramphenicol.

KLORAMFINEX Salep
Kloramfenikol Base

K Laboratories
Simpan pada suhu 15 c 25 c
DiproduksiOleh

Komposisi:
Tiap gram salep mata KLORAMFINEX
mengandung:
10 mg Chloramphenicol base dalam basis salep
mata yang sesuai.

Hanya untuk pemakaian pada mata


HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Aksi dan Pemakaian:


Chloramphenicol adalah antibiotika spektrum luas,
bersefat bakteriostatika terhadap beberapa spesies
dan pada keadaan tertentu bekerja sebagai
bakterisida, dan oleh karena itu salep mata
ERLAMYCETIN sangat ideal bagi pengobatan
infeksi mata.
Chloramphenicol base menghambat sintesa protein
dengan cara mengganggu transfer asam amino
yang yang diaktifkan yang terbukti pada bakteria.
Aturan Pakai:
Oleskan pada mata yang sakit 3 4 kali sehari
selama 10 sampai 15 hari. Atau menurut petunjuk
dokter.
Cara Penyimpanan:
Disimpan di tempat yang sejuk dan kering.
Kemasan:
Dalam tube berisi 10 gram salep mata

36