Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk
kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air
menutupi hampir 71% permukaan bumi, terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil)
tersedia di bumi.
Limnologi merupakan cabang ilmu dari ekologi yang khusus mempelajari
tentang sistem perairan yang terdapat dipermukaan bumi khususnya mempelajari
tentang sifat dan struktur dari perairan daratan yang meliputi mata air, sungai, danau,
kolam, dan rawa-rawa baik yang berupa air tawar maupun air payau (Fizar, 2010).
Sungai merupakan perairan terbuka yang mengalir (lotik) yang mendapat masukan
dari semua buangan dari berbagai kegiatan manusia di daerah pemukiman, pertanian,
dan industri di daerah sekitarnya. Masukan buangan ke dalam sungai akan
mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia dan biologi di dalam
perairan. Perubahan ini dapat menghasilkan bahan-bahan yang esensial dalam
perairan sehingga dapat mengganggu lingkungan perairan (Nontji, 1986 dalam
Handayani dkk., 2005).
Melihat perlu-nya dilakukan pengukuran kualitas air untuk mengetahui
kelayakan dari air tersebut, oleh karena itu kami melakukan pengukuran kualitas air
di Sungai Bolango, Desa Bendungan, Kecamatan Tapa dengan menggunakan analisis
sampel yang dilakukan langsung dilokasi pengamatan.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari pengukuran kualitas air di Sungai Bolango sebagai
berikut :
1. Bagaimana kualitas air di Perairan Sungai Bolango, Desa Bendungan, Kecamatan
Tapa berdasarkan pengukuran parameter fisika dan kimia air ?
2. Organisme apa saja yang terdapat di Perairan Sungai Bolango ?
3. Bagaimana tipe tekstur dasar perairan di Sungai Bolango ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari Perairan Sungai Bolango sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui kualitas air di Perairan

Sungai

Bolango,

Desa

Bendungan,

Kecamatan Tapa berdasarkan pengukuran parameter fisika dan kimia air.


2. Untuk mengetahui organisme apa saja yang terdapat di Perairan Sungai Bolango.
3. Untuk mengetahui tipe tekstur dasar perairan di Sungai Bolango.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Sungai
2

Sungai merupakan salah satu ekosistem perairan umum di darat yang berperan
bagi kehidupan biota dan juga dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia untuk
berbagai macam kegiatan seperti perikanan, pertanian, keperluan rumah tangga,
penambangan, dan transportasi (Badjeber, 2015). Sebagian besar air hujan yang turun
kepermukaan tanah, mengalir ke tempat-tempat yang lebih rendah dan setelah
mengalami bermcam-macam perlawanan akibat gaya berat, akhirnya melimpah ke
danau dan ke laut. Suatu alur yang panjang di atas permukaan bumi tempat
mengalirnya air yang berasal dari hujan disebut alur sungai, (Sosrodarsono &
Maseteru, 1994 dalam Badjeber, 2015). Sungai biasanya berasal dari area pusat air di
pegunungan. Volume dan lebar sungai bertambah apabila mengalir ke bawah,
bergabung bersama dengan sungai lain untuk membentuk induk sungai, dan
menghasilkan sebuah cekungan atau wilayah yang areanya dapat mencapai ribuan
hektar (Whitten, et al., 1988 dalam Badjeber, 2015).
Aliran air sebuah sungai pada dasarnya bergantung pada morfologi badan air.
Kondisi ini berubah sepanjang sungai sehingga secara beruntun akan dibentuk urutan
sungai. Dalam suatu daerah aliran sungai dikenal dengan ekosistem DAS biasanya
daerah alirannya dibagi menjadi beberapa daerah yang berurutan yaitu hulu, tengah
dan hilir. (Friedhelm, et al., 2012 dalam Badjeber, 2015).
Asdak (2007) dalam Badjeber (2015), menyatakan bahwa secara biogeofisik
ciri-ciri DAS hulu yaitu merupakan daerah konservasi dengan kerapatan drainase
lebih tinggi serta merupakan darah dengan kemiringan lereng besar (lebih besar dari
15%). Sementara ciri-ciri daerah hilir DAS yaitu merupakan daerah pemanfaatan,
3

kecepatan drainase lebih kecil, merupakan daerah dengan kemiringan lereng lebih
kecil (kurang dari 8%). Daerah aliran sungai bagian tengah merupakan daerah transisi
dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda tersebut diatas.
Di daerah sungai memiliki sifat fisik dan kimia yang tidak ekstrim, kumpulan
spesies tertentu dapat terbentuk menjadi ciri khas daerah tersebut. Rompas (1998)
dalam Badjeber (2015), menyatakan bahwa aliran air dari sungai menuju ke laut
membawa

sejumlah

partikel

yang

mengandung

mineral,

sehingga

terjadi

pencampuran berlimpah di laut. Bahkan kegiatan manusia atau efek dari antropogenik
menimbulkan reaksi kimia di laut makn kompleks, yang pada akhirnya menghasilkan
pencemaran lingkungan.
Menurut Novianto (2014) dalam Badjeber (2015), jenis-jenis sungai
berdasarkan debit airnya diklasifikasikan menjadi 4 macam yaitu Sungai Permanen,
Sungai Periodik, Sungai Episodik, dan Sungai Ephemeral.
1. Sungai Permanen, adalah sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap.
Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakan di
Kalimantan Sungai Musi, Batanghari dan Indragiri di Sumatera.
2. Sungai Periodik, adalah sungai yang pada wakt musim hujan airnya banyak,
sedangkan pada musim kemarau airnya kecil. Contoh sungai jenis ini banyak terdapat
di pulau Jawa misalnya sungai Bengawan Solo, dan sungai Opak di Jawa Tengah dan
sungai Code di Daerah Istimewa Yogyakarta serta sungai Brantas di Jawa Timur.
3. Sungai Episodik, adalah sungai yang pada musim kmarau airnya kering dan pada
musim hujan airnya banyak. Contoh sungai ini adalah sungai Kalad di pulau Sumba.

4. Sungai Ephermal, adalah sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. Pada
hakekatnya sungai junis ini airnya belu tentu banyak.
Menurut Ondum (1988) dalam Badjeber (2015), ada dua zona pada aliran air
sungai yaitu:
1. Zona Air deras yaitu di daerah dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi untuk
menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas, sehingga
dasarnya padat. Zona ini dihuni oleh bentos yang beradaptasi khusus atau organisme
ferifitik yang dapat melekat atau berpegang dengan kuat pada dasar yang padat, dan
oleh ikan yang kuat berenang. Zona ini umumnya terdapat pada hulu sungai di daerah
pegunungan.
2. Zona air tenang yaitu bagian sungai yang dalam dimana kecpatan arus sudah
berkurang, maka lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar, sehingga
dasarnya lunak, tidak sesuai untuk bentos permukaan tetapi cocok untuk penggali
nekton, dan plankton. Zona ini banyak dijumpai pada daerah yang landai, misalnya di
pantai timur Sumatera dan Kalimantan.

2.2 Parameter Fisika


1. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan organisme
sungai. Pengukuan suhu sangat berguna untuk melihat kecenderungan aktifitasaktifitas kimiawi dan biologis. Air sering digunakan sebagai medium pendingin
dalam berbagai proses industri. Air buangan dari industri mungkin mempunyai suhu
5

relati tinggi dari pada air asalnya. Ikan yang hidup dalam air mempunyai suhu relatif
tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Disamping itu suhu yang tinggi
juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut dalam air. Suhu air kali atau
limbah yang relatif tinggi ditandai dengan munculnya ikan-ikan dan hewan air di
prmukaan (Badjeber, 2015).
Menurut Effendi (2003) dalam Doe (2015), perubahan suhu berpengaruh
terhadap proses fisika, kimia, dan biologi badan air, selain itu peningkatan suhu dapat
menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi biota air.
Hutaggalung (1984) dalam Doe (2015), menyatakan bahwa kenaikan suhu tidak
hanya meningkatkan metabolisme biota perairan, namun juga dapat meningkatkan
toksisitas logam berat di perairan.
2. Kecerahan
Cahaya yang sampai ke permukaan badan-badan perairan mempunyai peranan
penting dalam dinamika ekosistem akuatik, dan juga mempengaruhi kelimpahan dan
distribusi hewan maupun tumbuh-tumbuhan air, merupakan sumber tenaga utama
dalam metabolisme akuatik. Tenaga matahari diperlukan oleh organism fototrof untuk
proses fotosintesa, oleh karena itu dapat dikatakan cahaya matahari merupakan
sumber bagi semua kehidupan organism di perairan (Femy, dkk., 2006).
3. Arus
Arus akan mempengaruhi kehidupan organisme yang hidup di dalamnya.
Kecepatan aliran ditentukan oleh kecuraman gradien permukaan, halus kasarnya
dasar sungai, serta kedalaman dan lebar dasar sungai. Disungai organisme-organisme
6

yang hidup di dalamnya dilengkapi dengan alat-alat istimewa untuk menyesuaikan


diri dengan aliran yang ada (Femy, dkk., 2006).
Kecepatan arus dapat berpengaruh pada beberapa hal, antara lain oksigen
terlarut (DO), pH, dan juga kadar bahan yang terlarut pada air. Kecepatan arus dapat
bervariasi sangat besar ditempat yang berbeda dari suatu aliran air yang sama
(membujur ataupun melintang dari poros arah aliran) dan dari waktu ke waktu. Dalam
aliran yang besar atau sungai, arus dapat berkurang sedemikian rupa sehingga
menyerupai kondisi air yang tergenang (Odum, 1993 dalam Kanza, 2014).
4. Lebar dan Kedalaman Sungai
Lebar dan kedalaman sungai berpengaruh terhadap karakteristik fisik, kimia
dan biologi sungai. Sungai yang lebar dan dangkal akan mendapatkan cahaya
matahari lebih banyak sehingga suhu air sungai meningkat. Kecepatan aliran sungai
juga dipengaruhi oleh lebar dan kedalamannya. Sungai yang dalam dan lebar
memiliki kecepatan aliran yang lebih besar (Subekti et al., 2009).

5. Tekstur Dasar Sungai

Tipe-tipe tekstur perairan terdiri dari 3, yakni :


1. Refels (kerikil pada perairan dan terdapat sedikit lumut)
2. Pols (dasar berpasir/lumpur pada perairan)
3. Cascash (batuan-batuan besar pada perairan)
Tipe dasar yang dapat berupa kerikil, tanah liat, batuan utama atau pecahan
batu menentukan sifat komunitas serta kerapatan populasi dari komunitas dominan&
7

dasar yang keras terutama bila terdiri dari batu, dapat menyediakan tempat yang
cocok untuk organisme (binatang atau tumbuh-tumbuhan untuk menempel atau
melekat. dasar di air tenang yang lunak dan terus menerus berubah umumnya
membatasi organisme bentik yang lebih kecil sampai bentuk penggali, tetapi bila
kedalaman lebih besar lagi, yang gerakan airnya lebih lambat,lebih sesuai untuk
nekton, neuston dan plankton& Pasir atau lumpur halus biasanyamerupakan tipe
dasar yang paling tidak sesuai dan mendukung jenis dan individu tanaman dan
binatang bentik. Dasar tanah liat umumnya lebih sesuai daripada pasir. Bidang batu
yang datar atau pecahan batu bisanya menghasilkan variasi organisme dasar yang
paling besar dan paling padat (Odum, 1993 dalam Kanza, 2014)
6. Tumbuhan/Organisme Perairan
2.3 Parameter Kimia
1. pH
pH merupakan tolak ukur mutu air yang banyak mempengaruhi nilai
pemanfaatan air. Perubahan pH dari nilai normal dapat menurunkan mutu lingkungan.
Nilai pH air yang normal sekitar netral, yaitu antara 6 sampai 8, sedangkan pH yang
tercemar misalnya air limbah (buangan) berbeda-beda tergantung pada jenis
limbahnya. Air yang masih segar dari pegunungan biasanya mempunyai pH lebih
tinggi. pH air semakin lama akan menurun menuju kondisi asam. Hal ini terjadi
dengan bertambahnya bahan-bahan organik yang membebaskan CO 2 jika mengalami
proses penguraian. Air limbah industri mengandung bahan anorganik yang pada
umumnya mengandung asam mineral dalam jumlah tinggi, penurunan pH biasanya
disebabkan oleh limbah biasanya tergantung pada jenis limbahnya. Derajat keasaman
8

diduga sangat berpengaruh terhadap daya racun bahan pencemarn dan kelarutan
beberapa gas, serta menentukan bentuk zat di dalam air (Badjeber, 2015).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum pengukuran kualitas fisika dan kimia air di Sungai Bolango
dilakukan pada hari kamis tanggal 4 juni 2015 pukul 15:00 bertempat di Sungai
Bolango, Desa Bendungan, Kecamatan Tapa.
3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengukuran kualitas fisika dan
kimia air di Sungai Bolango dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Alat dan Bahan
No.

Alat dan Bahan

pH meter

Sechi Disk

Termometer

Tali Rafia

Botol Aqua

Meter Rol 50m

Fungsi
Mengukur
derajat
keasaman perairan
Mengukur
tingkat
kecerahan perairan
Mengukur suhu air
Mengukur lebar dan
kedalaman sungai
Mengukur kecepatan
arus perairan
Mengukur panjang
tali
rafia
dari
pengukuran
lebar
sungai

3.3 Prosedur Pelaksanaan


1. Pengukuran arus dilakukan dengan cara mengukur tali raffia sepanjang 10 meter, lalu
siapkan botol aqua dan diikatkan tali sepanjang 10 meter. Ujung tali rafia diikatkan di
patok atau dipegang dan botol aqua dibiarkan hanyut hingga tali renggang, kemudian
dicatat berapa waktu yang dibutuhkan sepanjang 10 meter
2. Pengukuran kedalaman dilakukan dengan cara menyiapkan tali rafia kemudian
diberikan pemberat (dapat berupa kerikil), kedalaman diukur dengan tali rafia yang
telah disiapkan dengan cara menjatuhkan pemberat ke dasar perairan dan menandai
batas air pada tali, hasil pengukuran yang telah diukur dengan rol meter kemudian
dicatat.
3. Kecerahan diukur dengan cara menyiapkan sechi disk kemudian dibantu dengan
patok atau tali dengan pemberat, lalu turunkan sechi disk ke dalam sungai sampai

10

kelihatan sechi disk tersebut remang-remang lalu diberi tanda pada tali sechi disk,
setelah panjang tali-nya diukur dengan rol meter kemudian dicatat hasilnya.
4. pH diukur menggunakan kertas lakmus, pengukuran dilakukan dengan cara;
menyiapkan kertas lakmus dan indicator pH, kertas lakmus dicelup di dalam air
sungai, lalu kertas lakmus diangkat dan dicocokkan dengan indicator pH, dicatat
berapa nilai pH sungai tersebut.
5. Suhu diukur dengan cara menyiapkan thermometer batang, thermometer batang
dicelupkan ke dalam air kemudian hasilnya dicatat berapa suhu perairan tersebut
6. Penggunaan lahan dilakukan dengan cara mengamati penggunaan lahan disekitar
sungai dan dilakukan pengambilan gambar.
7. Lebar sungai diukur dengan cara menyiapkan tali rafia, ukur lebar sungai yang ada
dengan tali rafia, panjang tali rafia kemudian diukur dengan rol meter dan dicatat
hasil akhirnya.
8. Tumbuhan/Organisme
Dilakukan pengamatan pada organisme/ tumbuhan yang hidup disekitas area sungai,
kemudian dicatat dan dilakukan pengambilan foto untuk dokumentasi.
9. Tekstur dasar sungai
Dilakukan pengamatan tekstur sungai dengan cara mengamati tekstur dasar sungai
kemudian dicocokkan berdasarkan 3 golongan, terdiri dari tipe Raifels, Pols,
Cascade.

11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Hasil pengukuran kualitas fisika dan kimia air di Sungai Bolango dapat dilihat
pada tabel 2.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

4.2 Pembahasan

12

Tabel 2. Hasil Pengukuran


Parameter
Hasil Pengukuran
Suhu
330C
pH
8
Kecerahan
100 %
Tekstur
Batu berpasir
Kecepatan Arus
Lebar Sungai
19 m
Kedalaman
55 cm
Sebagai lahan
Penggunaan Lahan
pertanian

a. Arus
Teknik pengukuran arus pada Perairan Sungai Bolango menggunakan metode
langrangian yang dilaksanakan dengan cara mengikuti dan mengawasi pergerakan
benda apung. Arus sungai terpusat dan tidak melebar saat tinggi muka air naik. Hasil
pengukuran arus di Sungai Bolango diperoleh memiliki kecepatan, kecepatan arus
tergolong sangat lambat, hal ini dipengaruhi oleh kecepatan aliran angin atau tiupan
angin saat pengukuran dan kedalaman perairan yang cukup dalam dibandingkan
statiun-statiun yang digunakan sebagai tempat pengukuran lainnya sehingga
mengakibatkan kecepatan-nya lebih lambat dibandingkan pengukuran di statiun lain,
hal ini didukung berdasarkan pernyataan Odum (1979) dalam Nadha (2013), perairan
yang dangkal kecepatan arusnya relatif lebih besar dibaningkan daerah yang lebih
dalam. Menurut Kurniawan, (2006), arus terjadi disebabkan oleh beberapa hal
diantanya seperti tiupan angin serta perbedaan densitas .
Kecepatan arus dapat berpengaruh pada oksigen terlarut (DO), jumlah
makanan atau nutrien yang terbawa akibat pergerakan arus, pH air juga dapat berubah
karena adanya limbah yang mengalir dalam perairan seperti limbah rumah tangga
yang kaya akan bahan anorganik, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya nilai
pH, hal ini didukung oleh pernyataan Odum, (1993) dalam Kanza (2014), kecepatan
arus dapat berpengaruh pada oksigen terlarut, pH, dan juga kadar bahan yang terlarut
pada air.
b. Suhu

13

Pengukuran suhu menggunakan thermometer yang dicelupkan ke dalam


perairan, hasil pengukuran suhu di Sungai Bolango memiliki temperatur 33 0C. Nilai
suhu yang tergolong tinggi diakibatkan oleh kondisi matahari yang sangat terik saat
melakukan pengukuran, sehingga intensitas cahaya matahari mampu menembus
hingga dasar perairan, selain itu suhu panas udara di atas permukaan perairan
mengakibatkan suhu perairan naik, serta ukuran lebar sungai, sungai yang lebar dan
dangkal mendapatkan cahaya matahari yang banyak hal tersebut mengakibatkan
peningkatan suhu perairan. Menurut Femy, dkk., (2006) cahaya yang diabsorbsikan
menghasilkan panas, suhu merupakan faktor intensitas dari energi panas. Menurut
Subekti (2009) menyatakan bahan-bahan terlarut dalam air juga menyerap panas yang
mengakibatkan suhu air meningkat. Sedangkan menurut Nyoman & Lenny, 1997)
Intensitas cahaya matahari mempengaruhi naik turun-nya suhu perairan.
Peningkatan suhu merupakan salah satu penyebab menurunnya oksigen
perairan. Peningkatan suhu akan menyebabkan peningkatan laju metabolisme dan
respirasi organisme air, sehingga akan meningkatkan konsumsi oksigen terlarut.
Berdasarkan laporan Teknisi SPM (2012), peningkatan suhu akan menyebabkan
turunnya kelarutan oksigen sehingga perairan tersebut akan kekurangan oksigen dan
sering menyebabkan kematian organisma air.
c. pH
Pengukuran pH menggunakan kertas lakmus yang dicelupkan ke dalam perairan
di Sungai Bolango, dari hasil pengukuran diperoleh nilai pH 8 yang tergolong cukup
baik untuk pertumbuhan organisme perairan. Nilai pH yang tergolong stabil
14

diakibatkan arus perairan yang sangat lambat sehingga tidak membawa limbah
anorganik yang mengandung senyawa-senyawa kimia dalam jumlah banyak,
peningkatan limbah anorganik di perairan biasanya berasal dari limbah rumah tangga
atau limbah indutri dapat menyebabkan penurunan nilai pH.
pH yang sanga rendah, menyebabkan kelarutan logam-logam dalam air makin
besar, yang bersifat toksik bagi organisme air, sebaliknya pH yang tinggi dapat
meningkatkan konsentrasi amoniak dalam air yang juga bersifat toksik bagi
organisme air (Tatangindatu, et al., 2013 dalam Badjeber, 2015)

d. Kecerahan
Pengukuran kecerahan di Sungai Bolango dilakukan menggunakan alat sechi
disk, diperoleh hasil pengukuran memiliki tingkat kecerahan 100 %, tingkat
kecerahan yang tinggi diakibatkan oleh intensitas sinar matahari yang saat itu sangat
terik sehingga mampu menembus hingga ke dasar sungai, selain itu diakibatkan oleh
kedalaman sungai yang hanya memiliki ketinggian 55 cm serta kondisi air yang tidak
terlalu keruh, hal ini didukung oleh pernyataan Effendi (2003) dalam Badjeber
(2015), menyatakan nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu
pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi.
e. Kedalaman dan Lebar Sungai
Pengukuran lebar dan kedalaman sungai diukur menggunakan tali rafia yang
diberi pemberat dan rol meter. Berdasarkan hasil pengukuran, Sungai Bolango
15

memiliki lebar 19 m dan kedalaman 55 cm. Kedalaman dan lebar sungai biasanya
dipengaruhi oleh keadaan pasang surut suatu perairan, ketika kondisi pasang maka
kedalaman dan lebar sungai akan bertambah, hal ini diakibatkan volume air yang
meningkat dibandingkan ketika surut, berdasarkan pengukuran dapat dikatakan
bahwa lebar dan kedalaman sungai berpengaruh terhadap karakteristik fisika sungai.
Sungai yang lebar dan dangkal mendapatkan cahaya matahari lebih banyak sehingga
suhu air sungai meningkat. Selain itu lebar dan kedalaman sungai juga mempengaruhi
kecepatan arus sungai. Menurut Subekti (2009), sungai yang dalam dan lebar
memiliki kecepatan aliran yang lebih besar.

f. Substrat
Tipe tekstur pada perairan Sungai Bolango bertipe pols, dimana dasar perairan
sungai terdiri dari pasir dan batuan-batuan berukuran sedang, ukuran batu dapat
mempengaruhi aliran air, adanya batuan-batuan dalam perairan akan memperlambat aliran
sungai selain itu juga dapat meningkatkan kandungan oksigen di dalam air serta
mempengaruhi jenis-jenis organisme yang hidup di dalamnya yang biasanya digunakan oleh
sebagai tempat berlindung dari mangsa, dan tempat melekat organisme perairan. Menurut

Subekti, dkk. (2009), dasar sungai yang terdiri dari campuran batu-batu berukuran
besar dan kecil cenderung meningkat turbulensi aliran airnya sehingga meningkatkan
kandungan oksigen di dalam air.
g. Penggunaan Lahan & Organisme Perairan

16

Lahan di sekitar wilayah tempat dilaksanakannya pengukuran kualitas air


digunakan sebagai lahan pertanian jagung. Di sekitar sungai juga ditumbuhi beberapa
jenis tumbuhan seperti pohon jati putih, pohon sirih, rumput gajah, papaya, dan
lamtoro. Penggunaan lahan disekitar perairan dapat dimanfaatkan untuk melancarkan
siklus rantai makanan, dimana daun-daun mati dari pohon tersebut jatuh ke perairan
yang kemudian akan manjadi detritus lalu di rombak oleh bakteri untuk proses
dekomposisi, selain itu juga dapat melindungi perairan ketika matahari sangat terik,
intensitas matahari yang sangat tinggi akan mengurangi kadar oksigen dalam air.
Pada perairan juga terdapat biota-biota seperti seperti kepiting dan ikan-ikan kecil.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Perairan sungai bolango dapat dikategorikan memiliki kualitas air yang cukup
baik, hal ini didukung berdasarkan pengukuran fisika air seperti kecerahan yang
memiliki nilai 100 % dengan lebar sungai 19 m dan kedalaman 55 cm, substrat yang
terdiri dari batuan berpasir

dapat meningkatkan turbulensi aliran air sehingga

kandungan oksigen meningkat, serta suhu 330C melebihi kisaran optimal untuk
kehidupan biota, hal ini dikarenakan waktu pengukuran dilaksanakan saat matahari
sedang terik. Sedangkan pada pengukuran kimia air, pH memiliki nilai 8 yang masih
tergolong optimal untuk pertumbuhan biota air.
17

5.2 Saran
Untuk praktikum selanjutnya diharapkan agar setiap kelompok melengkapi
alat dan bahan yang akan digunakan saat praktikum, agar tidak memperlambat
pelaksaan praktikum karena menunggu pergantian penggunaan alat.

18