Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS ADOPSI FAIR VALUE DALAM MENINGKATKAN

RELEVANSI NILAI INFORMASI AKUNTANSI


Martdian Ratnasari
Universitas Gadjah Mada

PENDAHULUAN
Semakin berkembangnya teknologi informasi diharapkan pula dapat
memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan, yakni dengan cara meniadakan jarak
fisik diantara berbagai stakeholder yang terlibat dalam bisnis global. Dengan
teknologi yang semakin berkembang tersebut memungkinkan informasi tersedia
pada saat yang bersamaan di berbagai tempat yang berbeda. Namun kendalanya
ada pada prinsip akuntansi yang digunakan di masing-masing negara. Misalnya
saja di Indonesia menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), sedangkan Amerika
menggunakan United Standard Generally Accepted Accounting Standard (USGAAP) yang dikeluarkan oleh Financial Accounting Standards Boards (FASB).
Untuk memenuhi kebutuhan informasi yang seragam tersebut kita memerlukan
prinsip pelaporan keuangan yang sama antar negara.
Pada tahun 1973 dibentuk International Accounting Standards Committee
(IASC) yang merupakan lembaga independen dan bertanggungjawab untuk
menyusun standar akuntansi atau biasa kita sebut dengan International
Accounting Standards (IAS). Dalam perkembangan penyusunannya, IAS
mengalami perubahan substantial dengan direstrukturisasinya IASC menjadi

IASB pada tahun 2001. IASB ini menerbitkan suatu standar yang disebut sebagai
International Financial Reporting Standards (IFRS). Tujuan utama dari IFRS
yakni memastikan bahwa suatu laporan keuangan intern perusahaan mengandung
informasi yang berkualitas tinggi, transparan bagi para pengguna dan dapat
diperbandingkan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang melakukan konvergensi
IFRS. Konvergensi IFRS ini dilakukan atas kesepakatan bersama antar anggota
forum G-20 pada pertemuan tanggal 2 April 2009 yang menekankan mengenai
pentingnya a single set of high quality international accounting standards.
IFRS dianggap dapat meningkatkan kualitas informasi akuntansi karena
penggunaan fair value lebih dapat merefleksikan kondisi ekonomik perusahaan
(Barth dkk, 2008; Daske dkk., 2008; Karampinis dan Hevas 2011; Alali dan
Foote, 2012). Sedangkan historical cost dianggap dapat mengurangi aspek
kualitas relevansi, karena dalam pencatatannya yang tercantum dalam laporan
keuangan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya.
Penelitian Van Der Meuleun (2007), Hung dan Subramayam (2007), serta
Karampinis dan Hevas (2011) membuktikan bahwa tidak ada peningkatan yang
signifikan atas kualitas informasi akuntansi setelah mengadopsi IFRS. Sedangkan
pada penelitian Bartov dkk. (2005), Liu dan Liu (2007), Barth dkk. (2008), Alali
dan Foote (2012), serta Cahyonowati dan Ratmono (2012) membuktikan bahwa
informasi akuntansi yang disusun dengan mengadopsi IFRS lebih berkualitas
dibandingkan dengan informasi akuntansi yang disusun berdasarkan standar
sebelumnya. Beberapa penelitian sebelumnya memberikan hasil yang tidak

konsisten mengenai pengadopsian IFRS yang dapat meningkatkan kualitas


informasi akuntansi.
Pada penelitian ini menganggap ketidakkonsistenan hasil penelitian
sebelumnya masih menjadi isu penting mengenai manfaat pengadopsian IFRS
pada perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Maka dari itu, penelitian ini
ingin menguji kembali apakah adopsi IFRS dapat meningkatkan kualitas
informasi akuntansi bagi perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia dengan
menganalisis

peerbedaan

kualitas

informasi

akuntansi

periode

sebelum

mengadopsi IFRS (tahun 2009 dan 2010) dengan metode historical cost dan
periode setelah mengadopsi IFRS (2011 dan 2012) dengan metode fair value.
Mengacu pada penelitian sebelumnya kualitas informasi akuntansi diproksikan
dengan relevansi nilai (value relevance). Barth dkk, (2008) menyatakan bahwa
informasi akuntansi yang berkualitas tinggi adalah informasi dengan tingkat
relevansi nilai yang tinggi. Informasi dengan tingkat relevansi nilai yang tinggi
akan membantu pemakai membuat prediksi mengenai hasil akhir dari kejadian
masa lalu, masa kini, dan masa depan (Simbolon, 2013).
Penelitian ini setidaknya dapat memberikan kontribusi bagi regulator
akuntansi

di

Indonesia

mengenai

manfaat

pengadopsian

meningkatkan kualitas informasi akuntansi.

TELAAH LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

IFRS

dalam

Historical Cost
Suwardjono (2008;475) mendefinisikan kos historis sebagai jumlah rupiah
sepakatan atau harga pertukaran yang telah tercatat dalam sistem pembukuan. Kos
historis berkaitan dengan masalah pilihan jumlah rupiah mana yang akan
dilekatkan pada elemen statemen keuangan. Prinsip historical cost menghendaki
digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, hutang, modal dan biaya.
Namun banyak permasalahan yang kemudian timbul dari penggunaan metode
historical cost tersebut yakni pencatatan akuntansi berdasarkan historical cost
dalam laporan keuangan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. Salah satu
penyebabnya adalah adanya perubahan nilai mata uang dari waktu ke waktu.
Wolk, et al (2004;448) menyatakan bahwa sistem akuntansi historical cost
membawa dua masalah dasar:
1. Nilai historis yang muncul pada pelaporan keuangan secara ekonomis
tidak relevan karena telah terjadi perubahan tingkat harga sejak terjadinya
penyusunan pelaporan keuangan. Hal ini akan mengganggu penggunaan
laporan keuangan untuk memprediksi arus kas masa depan dan menilai
kinerja manajeral, serta berkaitan dengan masalah representational
faithfulness.
2. Nilai pada laporan keuangan menunjukkan pengeluaran dalam dollar pada
titik waktu yang berbeda, sehingga melekatkan jumlah daya beli yang
berbeda, dan hal ini jelas tidak dapat dijumlahkan.
Dengan adanya 2 masalah dasar tersebut Wolk, et al (2004;449)
berpendapat bahwa beberapa aspek dari kualitas relevansi suatu laporan keuangan

berkurang dalam penggunaan historical cost. Predictive value berkurang karena


menggunakan dan menggabungkan dollar pada daya beli yang berbeda.
Menggunakan laporan kauengan untuk menetapkan akuntabilitas menjadi
kelemahan dasar dari historical cost, karena komparabilitas antar laporan
keuangan perusahaan yang berbeda-beda. Kelemahan lain dari historical cost
yakni kelemahan fundamental pada capital maintenance. Dengan historical cost
jumlah

laba

seringkali

overstated

terkait

dengan

jumlah

yang

dapat

didistribusikan kepada pemegang saham tanpa mengurangi saldo awal aktiva


bersih perusahaan. Dan pada akhirnya banyak dividen yang bersifat ,mengurangi
(liquidating) dan bukan diperoleh dari earning (karena dividen ditimbulkan dari
historical cost).
Adanya metode pengukuran fair value diharapkan dapat mengatasi
kelemahan dari historical cost, sehingga nilai yang tercatat lebih dapat
merefleksikan kondisi ekonomik perusahaan.
Fair Value
Dalam rangka menyediakan informasi keuangan yang berkualitas di pasar
modal internasional, IASB menerbitkan principles based standards yang kita
kenal dengan sebutan IFRS. Salah satu metode pengukuran dalam IFRS adalah
fair value. Suwardjono (2008;475) mendefinisikan fair value sebagai jumlah
rupiah harga pertukaran atau kesepakatan yang diperlukan sekarang oleh unit
usaha untuk memperoleh aset yang sama jenis dan kondisinya atau penggantinya
yang setara (ekuivalennya).

Sistem akuntansi di Indonesia selama ini menggunakan konsep historical


cost. Namun dengan adanya kondisi pasar yang semakin berkembang dan
dinamis, konsep historical cost tidak lagi relevan karena tidak mencerminkan nilai
pasar yang sesungguhnya dan kehadiran fair value sebagai gantinya. Suwardjono
(2008;200) menyatakan bahwa pengukuran atas dasar nilai sekarang aliran kas
masa datang akan menghasilkan informasi yang lebih berpaut daripada
pengukuran yang didasarkan atas aliran kas yang tidak didiskun. Nilai sekarang
dapat

menangkap

perbedaan

ekonomik

antar

aliran

kas

dengan

mempertimbangkan kelima unsur berikut (SFAC No.7, prg. 23):


a. Suatu estimate aliran kas masa datang atau, dalam beberapa kasus yang
kompleks, serangkaian aliran kas masa datang uang tiba pada saat berbeda
b. Harapan-harapan tentang variasi yang mungkin terjadi dalam jumlah dan
saat tibanya aliran kas tersebut
c. Nilai waktu uang yang ditunjukkan dengan oleh bunga bebas risiko
d. Harga atau nilai penanggungan risiko atau ketidakpastian yang melekat
pada asset atau kewajiban
e. Faktor-faktor lain termasuk likuiditas dan ketaksempurnaan pasar
Fair value menjadi sasaran pengukuran dengan nilai sekarang karena
pengukuran fair value menangkap secara penuh kelima unsur di atas
(Suwardjono, 2008;200). Selain itu fair value juga mencerminkan up to date
informasi sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor dan regulator dalam
membuat keputusan. Sehingga perdebatan mengenai akuntansi fair value
dibandingkan dengan historical cost berkisar pada perbedaan antara relevansi dan
keandalan.
Relevansi Nilai Informasi Akuntansi

Suatu informasi akuntansi dikatakan relevan jika informasi akuntansi


tersebut mampu membuat perbedaan dalam suatu keputusan. Informasi yang
relevan mampu membantu pemakai laporan dalam membuat prediksi mengenai
hasil akhir dari masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan memiliki nilai
prediktif. Francis dan Schipper (1999) menyatakan bahwa informasi akuntansi
yang diperoleh dari laporan keuangan telah kehilangan sebagian relevansinya bagi
investor yang berawal dari perubahan besar-besaran dalam perekonomian, yakni
dari perekonomian industri ke perekonomian berteknologi tinggi. Salah satu tanda
hilangnya sebagian relevansi informasi akuntansi adalah menurunnya value
relevance dari tahun ke tahun (Arie, 2006 dalam Simbolon, 2012).
Relevansi nilai (value relevance) informasi akuntansi memiliki arti sebagai
kemampuan informasi untuk menjelaskan nilai perusahaan (Beaver, 1968 dalam
Simbolon, 2012). Relevansi nilai informasi akuntansi berawal dari clean surplus
theory yang menyatakan bahwa nilai perusahaan tercermin pada data-data
akuntansi yang terdapat dalam laporan keuangan (Feltham dan Ohlson 1995).
Komponen terpenting dalam laporan keuangan yakni laba dan nilai buku yang
seringkali dijadikan sebagai indikator dalam menginformasikan dan menilai
kinerja perusahaan. Laba memiliki nilai relevansi jika secara statistik
berhubungan dengan harga saham, dimana penurunan dan peningkatan laba akan
berhubungan dengan penurunan dan peningkatan harga saham begitu juga dengan
nilai buku (Burgstahler dan Dichev, 1997 dalam Simbolon, 2012).
Lev (1999) dalam Simbolon (2012) menyebutkan bahwa relevansi nilai
akuntansi dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi. Barth dkk. (2008)

menyatakan perusahaan dengan kualitas informasi akuntansi yang tinggi


mempunyai relevansi nilai laba bersih dan nilai buku ekuitas yang tinggi. Ohlson
(1995) juga menekankan bahwa peran utama laporan keuangan adalah penentuan
nilai perusahaan, bukan perspektif informasi dimana laporan keuangan sebagai
salah satu sumber informasi, dan lebih ke arah perspektif pengukuran. Maka dari
itu diperlukan metode pengukuran fair value yang dapat meningkatkan earnings
quality dengan semakin relevannya informasi akuntansi. Ketika informasi
akuntansi semakin relevan, maka reaksi investor terhadap informasi tersebut juga
akan semakin besar.
Pada penelitian relevansi nilai informasi akuntansi kali ini peneliti ingin
melihat relevansi nilai informasi akuntansi yang terjadi akibat perubahan standar
akuntansi, yakni dari PSAK ke IFRS (dari historical cost ke fair value). Oleh
karena itu, penelitian ini akan menggunakan variabel harga saham, laba bersih per
lembar saham, serta nilai buku yang dianggap mampu menjelaskan relevansi nilai
informasi akuntansi.
Pengembangan Hipotesis
Barth dkk. (2008) berargumen bahwa IFRS sebagai principles based
standards lebih dapat meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi. Selain itu
fair value juga mencerminkan up to date informasi sehingga dapat meningkatkan
kepercayaan investor dan regulator dalam membuat keputusan. Ohlson (1995)
menekankan bahwa peran utama laporan keuangan adalah penentuan nilai
perusahaan, bukan perspektif informasi dimana laporan keuangan sebagai salah

satu sumber informasi, melainkan lebih ke arah perspektif pengukuran. Maka dari
itu diperlukan metode pengukuran fair value yang dapat meningkatkan earnings
quality dengan semakin relevannya informasi akuntansi. Ketika informasi
akuntansi semakin relevan, maka reaksi investor terhadap informasi tersebut juga
akan semakin besar.
Penelitian yang menyatakan bahwa IFRS tidak dapat meningkatkan
kualitas informasi akuntansi setelah mengadopsi IFRS adalah penelitian dari Van
Der Meuleun (2007), Hung dan Subramayam (2007), serta Karampinis dan Hevas
(2011). Van Der Meuleun dkk. (2007) juga menyatakan bahwa masih menjadi
suatu perdebatan apakah IFRS dapat menghasilkan informasi akuntansi yang lebih
relevan jika melihat aturan yang disusun IASB tersebut kurang detail dan bersifat
umum yang sangat berbeda dengan rule based standards yang lebih detail dalam
aturan-aturan pengungkapannya.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa masih perlunya penelitian lebih
lanjut mengenai manfaat IFRS dengan metode pengukuran fair value yang dapat
meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi setelah penerapannya. Maka
hipotesis dalam peneilitian ini adalah:
H1 :

Relevansi nilai informasi akuntansi perusahaan-perusahaan manufaktur di


Indonesia meningkat sesudah adopsi IFRS (fair value).

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2009-2012. Pemilihan
perusahaan manufaktur sebagai populasi karena perusahaan manufaktur
merupakan salah satu entitas yang diwajibkan untuk menggunakan PSAK-IFRS
dalam penyusunan laporan keuangan mulai tahun 2010. Pemilihan sampel
menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria berikut:
1. Perusahaan manufaktur tersebut mempublikasikan data laporan
keuangan secara konsisten selama tahun 2009-2012.
2. Perusahaan-perusahaan manufaktur tersebut konsisten mengadopsi
IFRS mulai tahun 2011-2012
3. Perusahaan menyediakan data harga saham dan jumlah lembar saham
yang beredar di pasar modal.
Yang akan diuji adalah kualitas informasi akuntansi sebelum dan sesudah
adopsi IFRS. Meskipun adopsi penuh IFRS di Indonesia baru dilakukan pada
tahun 2012. Oleh sebab itu, melihat pada ketersediaan data, maka periode sebelum
adopsi dipilih tahun 2009 dan tahun 2010 yang kebanyakan perusahaan masih
menggunakan historical cost. Sedangkan untuk periode setelah adopsi dipilih
tahun 2011 dan 2012, agar observasi waktu menjadi seimbang.

Variabel dan Pengujian Statistik


Pengujian Relevansi Nilai

Konsisten dengan penelitian sebelumnya pada Barth dkk., (2008),


Karampinis dan Hevas (2011), Alali dan Foote (2012), serta Cahyonowati dan
Ratmono (2012) pengujian relevansi nilai informasi akuntansi menggunakan
price model yang dikembangkan oleh Ohlson (1995), sebagai berikut:
Pit+1= 0 + 1 it + 2 BV it + e

Keterangan:
Pit+1 = Harga saham perusahaan manufaktur pada tanggal 31 Maret pada t+1

it

= Laba bersih per lembar saham

BV it

= Nilai buku ekuitas per lembar saham


Model di atas diuji dengan regresi OLS untuk data periode sebelum dan

setelah adopsi IFRS secara terpisah. Pengujian relevansi nilai informasi akuntansi
menggunakan nilai Adjusted R2 yang didapat dari hasil pengujian regresi OLS tersebut.
Jika nilai Adjusted R2 setelah adopsi IFRS lebih besar secara signifikan maka relevansi
nilai informasi akuntansi meningkat dan sebaliknya.

Metode Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang dikumpulkan dari
berbagai sumber, seperti laporan keuangan perusahaan, ICMD, dan harga saham
perusahaan dari JKSE.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sampel
Pada tabel 1 berikut akan menyajikan prosedur pemilihan sampel untuk
pengujian relevansi nilai informasi akuntansi dengan teknik purposive sampling.
Sampel yang diuji dalam penelitian ini terdiri atas 22 perusahaan manufaktur yang
konsisten mempublikasikan laporan keuangan dari tahun 2009-2012. Dengan
periode analisis selama 4 tahun maka diperoleh sampel sebanyak 88 data dari 22
perusahaan, dan untuk masing-masing periode amatan sebanyak 44 data.
Tabel 1. Pemilihan Sampel

Keterangan
Jumlah Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI
tahun 2009-2012

Jumlah
145

Perusahaan Manufaktur yang konsisten mempublikasikan


laporan keuangan tahun 2009-2012

(136)

Perusahaan Manufaktur yang belum mengadopsi IFRS


tahun 2011-2012

(114)

Jumlah Perusahaan Manufaktur sebagai sampel akhir

22

Jumlah Observasi: (22 perusahaan x 4 tahun)

88

Jumlah Observasi sampel sebelum adopsi IFRS (22 X 2)

44

Jumlah Observasi sampel setelah adopsi IFRS (22 X 2)

44

Statistik Deskriptif

Pada tabel 2 akan menyajikan statistik deskriptif dari variabel-variabel


penelitian yang digunakan dalam model. Berdasarkan price model dari Ohlson
(1995), variabel dalam menguji relevansi nilai adalah harga saham, laba bersih per
lembar saham, dan nilai buku ekuitas yang berhubungan langsung dengan metode
pengukuran yang digunakan dalam suatu perusahaan. Tabel 2 menunjukkan
peningkatan rata-rata harga saham sebelum periode adopsi IFRS sebesar 823,39
menjadi 1537,95. Rata-rata laba bersih per lembar saham mengalami peurunan
setelah adopsi IFRS, yaitu dari 1.0831 menjadi 1.0259. Demikian juga rata-rata
nilai buku ekuitas mengalami penurunan setelah adopsi IFRS dari 2.6991 menjadi
2.25. Penurunan nilai informasi pada laba bersih per lembar saham dan nilai buku
ekuitas mungkin saja terjadi akibat dari adanya krisis global di Eropa yang
berdampak pada seluruh perindustrian di dunia.
Tabel 2. Statistik Deskriptif
Periode Adopsi IFRS
Sebelum IFRS

Harga Saham
Laba bersih per lembar saham
Nilai buku ekuitas per lembar
saham

Setelah IFRS

Harga Saham
Laba bersih per lembar saham
Nilai buku ekuitas per lembar
saham

Hasil Pengujian Hipotesis

N
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

Minimum Maksimum

Rata-rata

Deviasi
Std.

54

5250

823.39

1085.325

-83.99

996.25

1.0831

191.4828

990.93

2.6991

292.6133

50

6800

1537.95

1841.066

-509.59

749.09

1.0259

211.2937

-18.78

751.38

2.25

227.2113

Hasil pengujian hipotesis relevansi nilai informasi akuntansi sebelum dan


setelah adopsi IFRS disajikan pada tabel 3. Price model yang digunakan dalam
pengujian hipotesis diestimasi dengan regresi OLS untuk setiap periode. Hasil
pengujian pada tabel 3 menunjukkan bahwa model penelitan layak digunakan dan
ditunjukkan dengan nilai F signifikan untuk masing-masing periode, yaitu sebesar
10.225 untuk periode sebelum adopsi IFRS dan 38.361 untuk periode setelah
adopsi IFRS.
Relevansi nilai informasi akuntansi ditunjukkan dengan perubahan nilai
Adjusted R2 periode setelah adopsi IFRS. Karampini dan Hevas, (2011)
menyatakan bahwa pengambilan kesimpulan dengan mendasarkan pada Adjusted
R2 merupakan efek kombinasian (combined effect) dari kedua proksi informasi
akuntansi, yaitu laba bersih dan nilai buku ekuitas. Nilai Adjusted R2 pada tabel 3
meningkat secara signifikan, yaitu 0,300 pada periode sebelum adopsi IFRS
menjadi 0,635 pada periode setelah adopsi IFRS. Dengan meningkatnya nilai
Adjusted R2 maka dapat disimpulkan bahwa informasi akuntansi meningkat
relevansi nilainya ketika adopsi IFRS. Hasil ini membuktikan bahwa adopsi IFRS
di Indonesia memiliki pengaruh pada nilai informasi yang terkandung dalam laba
bersih dan nilai buku ekuitas. Hasil ini juga mendukung hipotesis penelitian
bahwa relevansi nilai informasi akuntansi perusahaan-perusahaan manufaktur di
Indonesia meningkat sesudah (fair value) adopsi IFRS. Selain itu, penelitian ini
konsisten dengan hasil penelitan dari Bartov dkk. (2005), Liu dan Liu (2007),
Barth dkk. (2008), serta Alali dan Foote (2012) yang menyatakan bahwa
informasi akuntansi yang telah disusun berdasarkan IFRS lebih berkualitas

dibandingkan dengan informasi yang disusun berdasarkan standar pada masingmasing negara.

Tabel 3. Hasil Pengujian


Hipotesis
Sebelum Adopsi
IFRS
Variabel
Konstanta
NI
BV
Nilai F
Adjusted R2

Koefisien Nilai p
739.597 0.001
2.819 0.000
-0.812 0.095
10.225 0.000
0.300

Setelah Adopsi
IFRS
Koefisie
n
Nilai p
1047.73 0.000
6.778 0.000
-0.911 0.238
38.361 0.000
0.635

Analisis lebih lanjut dari tabel 3 adalah nilai koefisien dari laba bersih
yang meningkat dari 2.819 menjadi 6.778 setelah adopsi IFRS. Untuk koefisien
nilai buku ekuitas tidak memiliki relevansi nilai informasi yang ditunjukkan
dengan nilai sebelum adopsi -0.812 dan sebesar -0.911 setelah adopsi IFRS. Dari
hasil pengujian menunjukkan bahwa laba bersih memiliki relevansi nilai lebih
tinggi dibandingkan nilai buku ekuitas (standardized coefficient laba bersih =
0.778, sedangkan nilai buku ekuitas = -0,113), konsisten dengan penelitian Alali
dan Foote (2012) yang menyatakan bahwa laba bersih mempunyai relevansi nilai
lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku ekuitas.

Tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi keuangan yang


mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi yang mampu
membuat perbedaan dalam sebuah keputusan adalah informasi dengan relevansi
nilai yang tinggi. Maka dari itu diperlukan metode pengukuran fair value yang
dapat meningkatkan earnings quality dengan semakin relevannya informasi
akuntansi. Ketika informasi akuntansi semakin relevan, maka reaksi investor
terhadap informasi tersebut juga akan semakin besar.

KESIMPULAN DAN SARAN


Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah adopsi IFRS dapat
meningkatkan

kualitas

informasi

akuntansi

bagi

perusahaan-perusahaan

manufaktur di Indonesia dengan menganalisis peerbedaan kualitas informasi


akuntansi periode sebelum mengadopsi IFRS (tahun 2009 dan 2010) dan periode
setelah mengadopsi IFRS (fair value) (2011 dan 2012). Pengujian dilakukan
dengan melakukan perbandingan relevansi nilai informasi akuntansi sebelum dan
setelah adopsi IFRS. Dari hasil pengujian membuktikan bahwa terdapat
peningkatan relevansi nilai informasi akuntansi setelah adopsi IFRS (fair value).
Dan hasil pengujian menunjukkan bahwa relevansi nilai meningkat hanya pada
informasi laba bersih perusahaan.
Penelitian ini mendukung hipotesis penelitian bahwa relevansi nilai
informasi akuntansi perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia meningkat

sesudah (fair value) adopsi IFRS. Selain itu, penelitian ini konsisten dengan hasil
penelitan dari Bartov dkk. (2005), Liu dan Liu (2007), Barth dkk. (2008), serta
Alali dan Foote (2012) yang menyatakan bahwa informasi akuntansi yang telah
disusun berdasarkan IFRS lebih berkualitas dibandingkan dengan informasi yang
disusun berdasarkan standar pada masing-masing negara.
Dalam penelitian ini ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan
untuk penelitian selanjutnya. Pertama, pengujian relevansi nilai informasi hanya
menggunakan price model yang dikembangkan Ohlson (1995) tanpa melakukan
perbandingan jika menggunakan return model yang mempertimbangkan pengaruh
dengan dari kondisi pasar modal yang tidak efisien. Kedua, penelitian selanjutnya
diharapkan dapat mempertimbangkan variabel-variabel lain seperti tata kelola
perusahaan dan tingkat kepemilikan manajerial sebagai variabel pemoderasi
hubungan antara adopsi IFRS dan relevansi nila informasi akuntansi.
DAFTAR PUSTAKA
Alali, F.A. & Foote, P.S. (2012). The Value Relevance Of International Financial
Reporting Standards: Empirical Evidence in an Emerging Market. The
International Journal of Accounting, 47, 85-108.
Barth, M. E., Landsman, W. R. & Lang, M. (2008). International Accounting
Standards and Accounting Quality. Journal of Accounting Research, 46,
467498.
Bartov, E., Goldberg, S. & Kim, M. (2005). Comparative Value Relevance Among
German, U.S. and International Accounting Standards: A German Stock
Market Perspective. Journal of Accounting, Auditing and Finance, 20, 95
119.

Cahyonowati, N. & Ratmono, D. (2012).Adopsi IFRS dan Relevansi Nilai


Informasi Akuntansi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol.14 No.2, 105-115
Daske, H., Hail, L., Leuz, C. & Verdi, R. (2008). Mandatory IFRS Reporting
Around The World: Early Evidence on The Economic Consequences.
Journal of Accounting Research, 46, 10851142.
Francis, J. & Schipper, K. (1999). Have Financial Statements Lost Their
Relevance? Journal of Accounting Research, 37, 319352.
Hung, M. & Subramanyam, K.R. (2007). Financial Statement Effects of Adopting
International Accounting Standards, The Case of Germany. Review of
Accounting Standards, 12, 623657.
Karampinis, N. & Hevas, D. (2011). Mandating IFRS in an Unfavorable
Environment: The Greek Experience. The International Journal of
Accounting, 46, 304-332.
Liu, J., & Liu, C. (2007). Value Relevance Of Accounting Information In
Different Stock Market Segments: The Case of Chinese A-, Band H-shares.
Journal of International Accounting Research, 6, 5581.
Ohlson, J. (1995). Earnings, Book Values And Dividends in Quality Valuations.
Contemporary Accounting Research, 11, 661688.
Simbolon, (2013). Value Relevance. Business and Accounting. Wordpress.com
Suwardjono. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Yogyakarta:
BPFE, (2008).
Van der Meulen, S., Gaeremynck, A., & Willekens, M. 2007. Attribute
Differences Between US GAAP and IFRS Earnings: An exploratory study.
The International Journal of Accounting, 42(2), 123142.
Wolk, Dodd, Tearney. Accounting Theory: South-Western: Thomson, (2004
Conceptual Issues in a Political and Economic Environment.).