Anda di halaman 1dari 18

TOKSISITAS MIKROBIOLOGI MAKANAN

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Farmakologi
Toksikologi

Oleh:
Novy Nofyawati

31112034

Nur Fitri Budianti

31112035

Putri Pratiwi

31112038

Rizky Puspasari

31112043

Viana Rianty

31112053

PROGRAM STUDI FARMASI


STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2015
KATA PENGANTAR
1

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalamu 'alaikum wr. wb
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas segala
rahmat, hidayah dan petunjuk yang dilimpahkan-Nya. sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul Toksisitas Mikrobiologi Makanan.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu syarat diajukan untuk
memenuhi mata kuliah Farmakologi Toksikologi.

Penulis menyadari bahwa

dalam penyusunan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan baik dalam
kata-kata maupun cara penyajian uraian dan pembahasannya karena keterbatasan
kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
penulis.
Selama penulisan makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan,
petunjuk serta saran dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Nur Rahayuningsih, M.Si., Apt selaku dosen mata kuliah Farmakologi
Toksikologi yang telah membantu penulis selama menyusun makalah ini;
2. Rekan-rekan kelompok 1 yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan
penyusunan makalah ini;
3. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu per satu.
Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda.
Akhir kata penulis panjatkan doa ke hadirat Allah Swt, semoga segala
bantuan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal sholeh dan Allah
membalas kebaikan yang telah diberikan. Penulis mohon maaf apabila ada

kesalahan dalam penyusunan makalah ini semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.
Tasikmalaya,

Mei 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................
DAFTAR ISI...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN....................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah.....................................................
1.2 Rumusan Masalah..............................................................
1.3 Tujuan Makalah.................................................................
1.4 Kegunaan Makalah............................................................
BAB II

BAB III

Hal
i
iii
1
1
2
3
3

PEMBAHASAN......................................................................

2.1 Pengertian Mikroba............................................................


2.2 Pengertian Keracunan Makanan........................................
2.3 Tipe-tipe Keracunan Makanan...........................................
2.4 Bakteri Penyakit Bawaan Makanan...................................
2.5 Infeksi Bakteri Pada Produk Makanan...............................
2.6 Pencegahan Keracunan Pangan.........................................

5
6
7
11
14
15

SIMPULAN DAN SARAN.....................................................

18

3.1 Simpulan............................................................................

18

3.2 Saran...................................................................................

19

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Toksisitas adalah tingkat

merusaknya

suatu

zat

jika

dipaparkan

terhadap organisme. Toksisitas dapat mengacu pada dampak terhadap seluruh


organisme, seperti hewan, bakteri, atau tumbuhan, dan efek terhadap substruktur
organisme,

seperti

sel

(sitotoksisitas)

atau

organ

tubuh

seperti

hati

(hepatotoksisitas). Secara metafora, kata ini bisa dipakai untuk menjelaskan


dampak

beracun

pada

kelompok

yang

lebih

besar

atau

rumit,

seperti keluarga atau masyarakat.


Konsep utama toksikologi adalah bahwa dampaknya bersifat tergantung
pada dosis. Air saja bisa mengakibatkan keracunan air jika dikonsumsi terlalu
banyak, sementara zat yang sangat beracun seperti bisa ular memiliki titik rendah
tertentu yang bersifat tidak beracun. Toksisitas juga tergantung pada spesies,
sehingga analisis lintas spesies agak bermasalah jika dilakukan. Paradigma dan
standar baru sedang berusaha melompati pengujian hewan, tetapi tetap
mempertahankan konsep akhir toksisitas.
Sejarah mikrobiologi pangan sebenarnya bersamaan dengan kehadiran
manusia di muka bumi namun sangat sulit ditentukan titik mulanya secara pasti.

Sejak manusia dapat memproduksi makanan sebenarnya juga mulai dipelajari


kerusakan makanan dan timbulnya keracunan makanan. Mikrobiologi pangan
(food microbiology) adalah salah satu cabang dari mikrobiologi yang mempelajari
peranan mikrobia, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan, pada
rantai produksi makanan sejak dari pemanenan/ penangkapan/ pemotongan,
penanganan, penyimpanan, pengolahan, distribusi, pemasaran, penghidangan
sampai siap dikonsumsi.
Makanan adalah sumber energi bagi manusia karena jumlah penduduk
yang terus berkembang, maka jumlah produksi makananpun harus terus
bertambah untuk mencukupi jumlah penduduk. Kebutuhan makan yang
meningkat membuat produksi makanan dan minuman menjadi ajang
kecurangan dengan menambahkan beberapa zat kimia berbahaya dalam produk
yang dihasilkan seperti penambahan boraks dan formalin yang ramai diberitakan.
Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya zat kimia semacam boraks dan
formalin adalah zat bersifat toksik membuat pemakaian zat kimia tersebut
cenderung biasa digunakan. Kebiasaan buruk tersebut berakibat menurunnya
kualitas kesahatan akibat keracunan akut (Shibamoto dan Bjeldanes, 2009).
Kebutuhan masayarakat akan bahan pangan juga terkadang membuat
masyarakat kurang hati-hati dalam memilih bahan makanan. Ada beberapa bahan
makanan yang secara alami memiliki zat toksik seperti gadung dan ketela pohon
yang memiliki kandungan asam sianida yang tinggi serta beberapa makanan laut
seperti ikan fugu dan beberapa jenis kerang-kerangan yang memiliki kadar

neurotoxin tinggi hingga dapat menimbulkan keracunan hebat bila tidak diolah
dan dinetralisir terlebih dahulu.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan sebelumnya, maka
rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan mikroba ?
2. Apa yang dimaksud dengan keracunan makanan ?
3. Apa saja tipe keracunan makanan ?
4. Apa macam-macam bakteri penyakit bawaan makanan ?
5. Apa saja Infeksi Bakteri pada Produk Makanan ?
6. Bagaimana Pencegahan Keracunan Pangan ?
1.3 Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan
tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1. Mengetahui pengertian mikroba
2. Mengetahui pengertian keracunan makanan
3. Mengetahui tipe keracunan makanan
4. Mengetahui macam-macam bakteri penyakit bawaan makanan
5. Mengetahui Infeksi Bakteri pada Produk Makanan
6. Mengetahui Pencegahan Keracunan Pangan
1.4 Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara
teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai
pengetahuan tentang toksisitas pelarut. Secara praktis makalah ini diharapkan
bermanfaat bagi:
1. Penulis, sebagai

wahana

penambah

pengetahuan

tentang

toksisitas

mikrobiologi
2. Pembaca/ dosen, sebagai media informasi tentang toksisitas mikrobiologi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Mikroba
Mikroba adalah organisme berukuran mikroskopis yang antara lain
terdiri dari bakteri, fungi dan virus (Waluyo, 2009). Bakteri merupakan
mikroba prokariotik yang rata-rata selnya berukuran 0,5-1 x 2-5 m,
berbentuk elips, bola, batang atau spiral (Pelczar dan Chan, 2005). Menurut
Gandjar (2006), fungi adalah organisme eukariotik, bersifat heterotrof,

dinding selnya mengandung kitin, tidak berfotosintesis, mensekresikan


enzim ekstraseluler ke lingkungan dan memperoleh nutrien dengan cara
absorpsi. Berdasarkan penampakannya, fungi dikelompokkan ke dalam
kapang (mold), khamir (yeast), dan cendawan (mushroom). Cendawan
merupakan fungi yang berukuran makroskopis, sedangkan kapang dan yeast
adalah fungi yang berukuran mikroskopis. Menurut Rachmawan (2001),
rata-rata sel kapang berukuran 1-5 x 5-30 m dan yeast berukuran 1-5 x 110 m. Kapang adalah fungi multiseluler berfilamen dengan susunan hifa
yang menyerupai benang
Selain berinteraksi intraspesies, mikroba tersebut juga berinteraksi
secara interspesies dengan manusia, tumbuhan, dan hewan. Dalam
interaksinya dengan manusia, mikroba tersebut ada yang bersifat
menguntungkan dan merugikan. Contohnya bakteri patogen Escherichia
coli dan kelompok bakteri Coliform dapat menyebabkan diare, kolera, dan
penyakit saluran pencernaan lainnya. Kapang dan khamir menyebabkan
penyakit karena menghasilkan racun (mikotoksin) dan menginfeksi
permukaan tubuh seperti kulit, kuku, dan rambut (mikosis superfisial), serta
menyerang jaringan dalam tubuh melalui peredaran darah (mikosis
sistemik).

2.2

Keracunan Makanan
Keracunan makanan adalah penyakit yang berlaku akibat memakan
makanan yang tercemar. Makanan dikatakan tercemar jika ia mengandungi
sesuatu benda atau bahan yang tidak seharusnya berada di dalamnya.
Keracunan makanan merupakan sejenis gastroenteritis yang disebabkan oleh
makanan yang telah dicemari racun, biasanya bakteria. Bergantung kepada
jenis racun, kekejangan abdomen, demam, muntah dan cirit-birit akan
berlaku dalam tempoh 3 hingga 24 jam. Jika makanan telah dicemari
bakteria, bakteria akan menghasilkan racun yang dikenali sebagai toksin.

Toksin memberi kesan langsung pada lapikan usus dan menyebabkan


peradangan. Ada pelbagai jenis bakteria yang menyebabkan keracunan
makanan

tetapi

yang

biasa

didapati

ialah

salmonella,

shigella,

staphylococcus dan E.coli yang merupakan punca utama keracunan


makanan di kalangan bayi, terutamanya bayi yang menyusui botol. Bagi
keracunan makanan yang berpunca daripada bahan bukan bakteria, tanda
penyakit juga timbul jika anak termakan bahan kimia, racun serangga atau
beberapa jenis tumbuh-tumbuhan.
2.3

Tipe-tipe Keracunan Makanan


Keracunan Makanan terbagi menjadi 3 tipe:

1.

Infeksi Makanan
Biasanya disebabkan oleh bakteri atau mikrobia lain yang menginfeksi
tubuh setelah mengkonsumsi suatu jenis makanan. Contoh: Salmonelle,
Vibrio parahaemolyticus, Campylobacter jejuni, Vibrio cholera, Listeria
monocytogenes, Yersinia enterocolitica, Aermonas hydrophilla
2.

Intoksikasi Makanan
Disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh mikrobia, termasuk
bakteri yang menghasilkan exotoxin. Exotoxin adalah racun yang dihasilkan
oleh bakteri, yang tetap ada meskipun bakterinya sudah mati. Contoh:
Clostridium

botulinum,

Staphylococcus

aureus,

Bacillus

cereus,

Clostridium perfringenes
2.1.1 Bacillus cereus
Bacillus cereus merupakan bakteri yang berbentuk batang, tergolong
bakteri Gram-positif, bersifat aerobik, dan dapat membentuk endospora.
Keracunan akan timbul jika seseorang menelan bakteri atau bentuk
sporanya, kemudian bakteri bereproduksi dan menghasilkan toksin di dalam
usus, atau seseorang mengkonsumsi pangan yang telah mengandung toksin
tersebut. Ada dua tipe toksin yang dihasilkan oleh Bacillus cereus, yaitu
toksin yang menyebabkan diare dan toksin yang menyebabkan muntah
(emesis).

10

Gejala keracunan:

Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin


penyebab diare, maka gejala yang timbul berhubungan dengan saluran
pencernaan bagian bawah berupa mual, nyeri perut seperti kram, diare

berair, yang terjadi 8-16 jam setelah mengkonsumsi pangan.


Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin
penyebab muntah, gejala yang timbul akan bersifat lebih parah dan
akut serta berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas,
berupa mual dan muntah yang dimulai 1-6 jam setelah mengkonsumsi
pangan yang tercemar. Bakteri penghasil toksin penyebab muntah bisa
mencemari pangan berbahan beras, kentang tumbuk, pangan yang
mengandung pati, dan tunas sayuran. Sedangkan bakteri penghasil
toksin penyebab diare bisa mencemari sayuran dan daging.

Tindakan pengendalian khusus bagi rumah tangga atau penjual makanan


terkait bakteri ini adalah pengendalian suhu yang efektif untuk mencegah
pertunasan dan pertumbuhan spora. Bila tidak tersedia lemari pendingin,
disarankan untuk memasak pangan dalam jumlah yang sesuai untuk segera
dikonsumsi. Toksin yang berkaitan dengan sindrom muntah bersifat
resisten terhadap panas dan pemanasan berulang, proses penggorengan pangan
juga tidak akan menghancurkan toksin tersebut.

2.1.2 Clostridium botulinum


Clostridium botulinum merupakan bakteri Gram-positif yang dapat
membentuk spora tahan panas, bersifat anaerobik, dan tidak tahan asam
tinggi. Toksin yang dihasilkan dinamakan botulinum, bersifat meracuni
saraf (neurotoksik) yang dapat menyebabkan paralisis. Toksin botulinum
bersifat termolabil. Pemanasan pangan sampai suhu 800 C selama 30 menit
cukup untuk merusak toksin. Sedangkan spora bersifat resisten terhadap
suhu pemanasan normal dan dapat bertahan hidup dalam pengeringan dan
pembekuan.

11

Gejala keracunan:

Gejala botulism berupa mual, muntah, pening, sakit kepala,


pandangan berganda, tenggorokan dan hidung terasa kering, nyeri
perut, letih, lemah otot, paralisis, dan pada beberapa kasus dapat
menimbulkan kematian. Gejala dapat timbul 12-36 jam setelah toksin

tertelan. Masa sakit dapat berlangsung selama 2 jam sampai 14 hari.


Penanganan:
Tidak ada penanganan spesifik untuk keracunan ini, kecuali
mengganti cairan tubuh yang hilang.

Kebanyakan keracunan dapat terjadi akibat cara pengawetan pangan yang


keliru (khususnya di rumah atau industri rumah tangga), misalnya pengalengan,
fermentasi, pengawetan dengan garam, pengasapan, pengawetan dengan asam
atau minyak Bakteri ini dapat mencemari produk pangan dalam kaleng yang
berkadar asam rendah, ikan asap, kentang matang yang kurang baik
penyimpanannya, pie beku, telur ikan fermentasi, seafood, dan madu.
Tindakan pengendalian khusus bagi industri terkait bakteri ini adalah
penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang dipasteurisasi.
Sedangkan bagi rumah tangga atau pusat penjualan makanan antara lain dengan
memasak pangan kaleng dengan seksama (rebus dan aduk selama 15 menit),
simpan pangan dalam lemari pendingin terutama untuk pangan yang dikemas
hampa udara dan pangan segar atau yang diasap. Hindari pula mengkonsumsi
pangan kaleng yang kemasannnya telah menggembung.
2.1.3 Staphilococcus aureus
Terdapat

23

spesies

Staphilococcus, tetapi

Staphilococcus

aureus

merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan keracunan pangan.


Staphilococcus aureus merupakan bakteri berbentuk kokus/bulat, tergolong dalam
bakteri Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan tidak membentuk spora.
Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah
rusak pada suhu memasak normal. Bakteri dapat mati, tetapi toksin akan tetap
tertinggal. Toksin dapat rusak secara bertahap saat pendidihan minimal selama 30
menit.

12

Pangan yang dapat tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang kaya
protein, misalnya daging, ikan, susu, dan daging unggas; produk pangan matang
yang ditujukan dikonsumsi dalam keadaan dingin, seperti salad, puding, dan
sandwich; produk pangan yang terpapar pada suhu hangat selama beberapa jam;
pangan yang disimpan pada lemari pendingin yang terlalu
penuh atau yang suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis
dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang.
3.

Infeksi dan Intoksikasi Makanan


Sebagian besar keracunan makanan disebabkan oleh bakteri patogen,
fungi, virus, dan parasit.
Gejala keracunan makanan:
muntah, sakit perut, diare
pusing, sakit kepala, mata berkunang-kunang

2.4

Bakteri Penyakit Bawaan Makanan


Terjadi setelah menyantap makanan yang terkontaminasi oleh bakteri
hidup atau oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri tsb.

Apabila kita

mengkonsumsi makanan yang mengadung bakteri, maka bakteri tersebut


akan tumbuh dan berkembang-biak pada saluran pencernaan kita.
Bakteri penyakit bawaan Makanan disebabkan oleh:
2.4.1 Campylobacter jejuni
C. jejuni adalah penyebab diare terbanyak. C. jejuni tumbuh optimum
pada suhu 42 C. Racun C. jejuni berasal dari bakteri dan racun yang
dihasilkan oleh bakteri ini. Gejala timbul 2-5 hari setelah konsumsi
makanan, yaitu sakit perut, demam, diare
2.4.2 Salmonella sp
Penyakit ini berasal dari hewan, ditularkan kepada manusia melalui
ternak yang terkontaminasi, seperti daging, susu, telur, salad. Terdapat lebih
dari 50 spesies Salmonella yang menyebabkan foodborne diseases, seperti
Salmonella typhimurium, S. cholerasuis, dan S. sonnei.

13

Mikroorganisme ini berkembang biak di dalam usus dan menimbulkan


gejala penyakit gastroenteritis akut seperti muntah, mual, diare, sakit kepala,
nyeri perut dan demam. Lama inkubasi 12 36 jam. Tingkat kematian 1%.
Salmonella berkembang biak pada suhu 5 450C. Bakteri ini akan
mati pada saat dipanaskan sampai suhu di atas 700C. Namun bakteri ini
tidak mati pada saat bahan pangan didinginkan dalam refrigerator atau
freezer. Jika suhu bahan pangan mencapai suhu kamar, maka bakteri ini
akan berkembang-biak lagi.
Untuk penanganannya, untuk pertolongan dapat diberikan cairan
untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Lalu segera bawa korban ke
puskesmas atau rumah sakit terdekat.
2.4.3 Escherichia coli
E. coli strain O157:H7 mampu menghasilkan racun. Infeksi beberapa
strain E. coli menyebabkan diare dan bahkan kematian. E. coli O157:H7
menghasilkan racun yg berbahaya. E. coli mampu hidup pada tempat yang
miskin nutrisi. Masa inkubasi adalah 3 9 hari setelah mengkonsumsi
makanan, yaitu sakit perut, diare, muntah, demam. Bakteri ini biasanya
menginfeksi daging sapi dan daging ayam.
Untuk penanganan lebih lanjut, sebaiknya segera bawa korban ke
puskesmas atau rumah sakit terdekat. Korban keracunan yang mengalami
diare dan tidak dapat minum (misalnya karena mual dan muntah) akan
memerlukan cairan yang yang diberikan melalui intravena. Pada
penanganan keracunan pangan jarang diperlukan antibiotika. Pada beberapa
kasus, pemberian antibiotika dapat memperburuk keadaan. Jika korban
keracunan pangan adalah bayi, anak kecil, orang lanjut usia, wanita hamil,
dan orang yang mengalami gangguan sistem pertahanan tubuh (imun) maka
perlu segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk
mendapatkan pertolongan.
2.4.4

Listeria monocytogenes
L. monocytogenes adalah baktei gram positif yang hidup di tanah dan
air. Listeriosis jarang terjadi pada manusia sehat, tetapi berbahaya bagi

14

orang yang terinfeksi HIV, orang yg sedang kemoterapi, orang tua, wanita
hamil dan anak-anak. Gejala meliputi sakit perut, demam dan muntah.
Bakteri ini mengkontaminasi susu dan makanan berbasis susu.
2.4.5 Staphylococcus aureus
Disebabkan oleh enterotoksin yang dihasilkan Staphylococcus aureus.
Bakteri ini akan mati pada saat makanan dimasak, tetapi enterotoksin yang
dihasilkan oleh bakteri ini tahan pada suhu 1000C selama beberapa menit.
Bakteri ini ditemukan pada bahan pangan seperti salad, custard, susu,
dan produk berbasis susu. Masa inkubasi sekitar 1-6 jam.
2.4.6 Clostridium perfingens
Infeksi bakteri ini pada makanan terutama terjadi pada daging yang
sudah dimasak dan disimpan selama jangka waktu 24 jam, kemudian
dimasak lagi secara cepat sebelum dikonsumsi. Masa inkubasi 6-24 jam.
Bakteri ini berkembang biak pada suhu 300C dan memproduksi
berbagai jenis toksin, seperti alfa toksin dan beta toksin. Diduga alfa toksin
adalah exotoksin. Gejala klinis berupa nyeri perut, diare, dan lesu.
2.4.7 Clostridium botulisme
Disebabkan oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh C. botulinum.
Infeksi bakteri ini pada makanan terutama terdapat pada makanan kaleng.
Bakteri ini berbentuk spora pada makanan kaleng. Sebaiknya makanan
kaleng dimasak dulu pada suhu 1000C selama beberapa menit sebelum
dikonsumsi. Masa inkubasi 12 36 jam dengan gejala gastrointestinal
ringan.
2.5

Infeksi Bakteri pada Produk Makanan

1.

Dari Unggas
-

Pada saat disimpan pada suhu dingin, jumlah E. coli menurun.

Enterobacteraceae dan Psychrophiles biasanya meningkat.

Salmonellla spp sering menginfeksi daging unggas. Bakteri ini berasal


telur mentah dan daging mentah.

2.

Seafood

15

3.

Clostridium botulinum tipe E, terutama jika seafood tsb berasal dari

dasar laut atau permukaan laut. Contoh: udang, kerang, kepiting


Clostridium perfringenes. Bisa dihilangkan dengan pemanasan.
Listeria monocytogenes

Susu dan makanan berbasis susu


-

Susu segar tidak bleh langsung dikonsumsi, karena terdapat

Streptococcus sp
Listeria monocytogenes
Pada yogurt, kadang terdapat bakteri patogen Streptococcus faecalis
dan Streptococcus faecium

2.6

Pencegahan Keracunan Pangan


Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya keracunan

pangan akibat bakteri patogen adalah:


a. Mencuci tangan sebelum dan setelah menangani atau mengolah
pangan.
b. Mencuci tangan setelah menggunakan toilet.
c. Mencuci dan membersihkan peralatan masak serta perlengkapan
makan sebelum dan setelah digunakan.
d. Menjaga area dapur/tempat mengolah pangan dari serangga dan
hewan lainnya.
e. Tidak meletakan pangan matang pada wadah yang sama dengan bahan
pangan mentah untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
f. Tidak mengkonsumsi pangan yang telah kadaluarsa atau pangan
dalam kaleng yang kalengnya telah rusak atau menggembung.
g. Tidak mengkonsumsi pangan yang telah berbau dan rasanya tidak
enak.
h. Tidak memberikan madu pada anak yang berusia di bawah satu tahun
untuk mencegah terjadinya keracunan akibat toksin dari bakteri
Clostridium botulinum.
i. Mengkonsumsi air yang telah dididihkan.
j. Memasak pangan sampai matang sempurna agar sebagian besar
bakteri dapat terbunuh. Proses pemanasan harus dilakukan sampai
suhu di bagian pusat pangan mencapai suhu aman (>700C) selama
minimal 20 menit.

16

k. Menyimpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari


pendingin (sebaiknya suhu penyimpanan di bawah 500C).
l. Tidak membiarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam,
karena mikroba dapat berkembang biak dengan cepat pada suhu
ruang.
m. Mempertahankan suhu pangan matang lebih dari 600C sebelum
disajikan. Dengan menjaga suhu di bawah 50C atau di atas 600C,
pertumbuhan mikroba akan lebih lambat atau terhenti.
n. Menyimpan produk pangan yang harus disimpan dingin, seperti susu
pasteurisasi, keju, sosis, dan sari buah dalam lemari pendingin.
o. Menyimpan produk pangan olahan beku, seperti nugget, es krim,
ayam goreng tepung beku, dll dalam freezer.
p. Menyimpan pangan yang tidak habis dimakan dalam lemari
pendingin.
q. Tidak membiarkan pangan beku mencair pada suhu ruang.
r. Membersihkan dan mencuci buah-buahan serta sayuran sebelum
digunakan, terutama yang dikonsumsi mentah
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Mikroba adalah organisme berukuran mikroskopis yang antara lain terdiri
dari bakteri, fungi dan virus.
2. Keracunan makanan adalah penyakit yang berlaku akibat memakan
makanan yang tercemar. Makanan dikatakan tercemar jika ia mengandung
sesuatu benda atau bahan yang tidak seharusnya berada di dalamnya
3. Keracunan Makanan terbagi menjadi 3 tipe yaitu infeksi makanan,
intoksikasi makanan, infeksi dan intoksikasi makanan
4. Bakteri penyakit bawaan makanan disebabkan oleh Campylobacter jejuni,
Salmonella sp, Escherichia coli, Listeria monocytogenes, Staphylococcus
aureus, Clostridium perfingens, Clostridiumbotulisme
5. Infeksi Bakteri pada Produk Makanan yaitu Dari Unggas, Seafood, Susu
dan makanan berbasis susu

17

6. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya keracunan pangan


akibat bakteri patogen adalah Mencuci tangan sebelum dan setelah
menangani atau mengolah pangan.
3.2. Saran
Karena penyebab keracunan makanan adalah kurangnya kesadaran
konsumen terhadap beberapa ancaman yang dibawa beberapa bahan makanan,
maka usaha peningkatan kesadaran akan bahaya keracunan makanan akibat
beberapa bahan makanan tertentu harus ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Arisman. 2008. Keracunan Makanan: buku ajar ilmu gizi. Buku kedokteran
EGC :Jakarta
Budiyanto,Agus K.2003. Mikrobiologi Terapan. Malang: UMM Press
Pelczar, Michael J. Dan E.C.S Chan. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi 2. Jakarta:
UI Press.
Winarno F.G.1983. Pencemaran Mikroba Dalam Makanan dan Makanan
Kaleng. Bandung: Institut Teknologi Bandung

18