Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

PEWARNAAN NEGATIF DAN


PEWARNAAN KAPSUL
Kamis, 19 Maret 2015
Kelompok II
Kamis, Pukul 10.00 13.00 WIB

Nama

NPM

R.A Siti Nur Azizah

260110130013

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Nilai

TTD

( Sani ) ( Casuarina )

PEWARNAAN NEGATIF DAN PEWARNAAN KAPSUL

I.

Tujuan
1. Mengamati morfologi bakteri yang sukar diwarnai oleh pewarnapewarna sederhana, dengan menggunakan prosedur pewarnaan
negatif. Memahami setiap langkah dan reaksi-reaksi kimia yang
terjadi dalam prosedur tersebut.
2. Mengamati

kapsul

bakteri

dengan

menggunakan

prosedur

pewarnaan kapsul (pewarnaan Burri-Gins). Memahami setiap


langkah dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam prosedur
tersebut.
II.

Prinsip
1. Pewarnaan negative atau Pewarnaan tidak langsung merupakan
teknik pewarnaan yang hanya mewarnai latar belakang kaca objek,
dan tidak mewarnai sel bakteri.
2. Tolak menolak muatan
Pada keadaan pH mendekati netral, dinding bakteri cenderung
bermuatan negative, sehingga jika diberikan zat warna asam yang
sama-sama bermuatan negative, akan terjadi tolak menolak muatan
pada zat warna dan dinding sel bakteri.
3. Kapsul atau lapisan lendir merupakan Struktur tambahan penyusun
sel bakteri, yang merupakan lapisan yang berada di luar dinding sel
bakteri, yang jika lapisan ini tebal disebut kapsul, namun jika
lapisan ini tipis disebut lapisan lendir. Pada lapisan ini
mengandung polisakarida dan air.

III.

Teori Dasar
Bakteri merupakan organisme prokariot. Umumnya ukuran bakteri
sangat kecil,

bentuk tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan

menggunakan mikroskop dengan pembesaran 1.000 X atau lebih.

Sel bakteri memiliki panjang yang beragam, sel beberapa spesies


dapat berukuran 100 kali lebih panjang daripada sel spesies yang lain.
Bakteri merupakan makhluk hidup dengan ukuran antara 0,1 sampai
0,3 m. Bentuk bakteri bermacam macam yaitu elips, bulat, batang
dan spiral. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan terwarnai dengan
suatu zat pewarna kimia agar mudah diamati atau dilihat dengan jelas
dalam hal ukuran, bentuk, susunan dan keadaan struktur internal dan
butiran. Sel sel individu bakteri dapat berbentuk seperti bola/elips,
batang (silindris), atau spiral (heliks) (Kusnadi,2014).
Pewarnaan bakteri bertujuan untuk memudahkan melihat bakteri
dengan mikroskop, memperjelas ukuran dan bentuk bakteri, untuk
melihat struktur luar dan struktur dalam bakteri seperti dinding sel dan
vakuola, menghasilkan sifat-sifat fisik dan kimia yang khas daripada
bakteri dengan zat warna, serta meningkatkan kontras mikroorganisme
dengan sekitarnya (Kusnadi,2014).
Selain pewarnaan gram untuk melihat sel bakteri, terdapat pewarnaan
negative atau pewarnaan asam. Pewarnaan negatif atau pewarnaan
asam merupakan salah satu teknik pewarnaan bakteri. Akan tetapi
teknik ini bukan untuk mewarnai sel bakteri, hanya mewarnai latar
belakangnya menjadi hitam gelap. Zat warna yang digunakan tidak
akan mewarnai sel, tetapi mewarnai lingkungan sekitar sehingga sel
bakteri tampak transparan. Dalam kondisi pH mendekati netral,
dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif dan senyawa pewarna
juga bermuatan yang sama sehingga akan ditolak oleh dinding sel.
Pewarna yang biasa digunakan antara lain nigrosin, eosin, dan asam
pikrat. Tetapi kini nigrosin sudah tidak digunakan dalam pewarnaan,
dan diganti dengan tinta cina (Anna Rahmawati,2013 ).
Pewarnaan negatif tidak hanya secara khusus menvisualisasikan
protein saja, tetapi dapat digunakan untuk lipoprotein, isolasi organela,
kompleks nukleoprotein. Pada teknik ini apusan bakteri mengalami
fiksasi dengan cepat(beberapa detik sampai menit). Pewarnaan negatif

adalah cara pengamatan mikrobiologi yang biasa dilakukan untuk


membedakan specimen kecil dengan cairan optiknya. Untuk
mikroskop medan terang, pewarnaan negative biasanya menggunakan
cairan hitam, misalnya nigrosin. Spesimen seperti bakteri dalam cairan
disebar dalam preparat kaca yang dicampur dengan pewarna negatif
dan dibiarkan kering. Ketika diamati dengan mikroskop, bakteri atau
sporanya terlihat bersinar dengan latar belakang yang gelap (Lay, B.
W, 1994).
Pewarnaan negatif atau pewarna asam dapat terjadi karena senyawa
pewarna bermuatan negatif. Contoh pewarna yang biasa digunakan
yaitu tinta cina, larutan nigrosin, asam pikrat, dan eosin. Bakteri yang
dapat

digunakan

dalam

pewarnaan

ini

seperti

Pseudomon

asaeruginosa,Lineola longa, dan Klebsiella sp. (Rahayu,2014).


Pada beberapa sel bakteri Ada dinding sel, banyak bakteri terdapat zat
dengan kadar air tinggi, beberapa lapisan-lapisan dengan berbagai
ketebalan merupakan selubung lendir dan kapsul. Bagi bakteri,
selubung lendir dan kapsul ini tidak begitu penting untuk hidup, akan
tetapi dengan memiliki selubung, banyak bakteri patogen menjadi
resisten terhadap fagositosis, sehingga meningkatkan virulensinya
untuk hewan percobaan, sel dapat berfungsi sebagai cadangan
makanan, erlindungan terhadap kekeringan karena dehirasi. Kapsul
tidak memiliki afinitas yang besar terhadap bahan-bahan zat warna
yang bersifat basa. Kapsul tampaknya tidak larut dalam air.Beberapa
kapsul tidak dirusak oleh gangguan mekanik atau larut bila dicuci
dengan air. Karena kapsul dari berbagai species bebeda dalam susunan
zat-zatnya, maka tidak semua kapsul dapat diperhatikan dalam proses
pewarnaan yang sama. Komposisi kimiawi kapsul berbeda-beada
menurut organismenya, ada yang berupa polimer glukosa contohnya:
dekstran pada Leucunostoc mesentroides, polmer gula-amino misalnya
pada

Staphilococcus

sp.

Polipeptida

misalnya: Bacillus

disentri, polimer asam D-glutamat, yaitu: Bacillus anthracis (Arnia dan


Efrida Warganegara,2013).
Klebsiella sp. merupakan kuman berbentuk batang pendek, tidak
memiliki spora, dan tidak memiliki flagela. Klebsiella sp. menguraikan
laktosa dan membentuk kapsul baik invivo atau invitro dan koloninya
berlendir (Wara pertiwi, Teguh R.Sartono,dkk,2013).
Klebsiella pneumonia pertama kali diteliti dan diidentifikasi oleh
bakteriologis Jerman bernama Edwin Klebs (1834-1913). Klebsiella
pneumonia terdapat dalam feses dan saluran napas sebanyak 5% pada
orang normal. Klebsiella pneumonia merupakan salah satu bakteri
gram negative, bakteri yang non motil (tidak melakukan pergerakan
secara sel), merupakan bakteri fakultatif an aerob, bakteri ini dapat
memfermentasikan laktosa. Klebsiella pneumonia dapat menyebabkan
pneumonia (Dewi Elfidasari,Nita Noriko,dkk, 2013)
Hampir semua pneumonia disebabkan oleh bakteri ini. Klebsiella
pneumonia terdapat dalam saluran nafasdan feses sekitar 5 % orang
normal dan dapat menyebabkan pneumonia bacterial. Sampai saat ini
para ahli masih banyak melakukan penelitian mengenai obat apa yang
cocok untuk menghambat pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae
ini (Joko Susilo, dan Teguh R. Sartono, 2002).
Klebsiella pneumoniae merupakan suatu bakteri gram negative yang
tidak bergerak (non motil), tidak berselubung, melakukan fermentasi
laktosa, fakultatif anaerob, ditemukan sebagai flora normal di mulut,
kulit dan usus. Spesies Klebsiella menunjukkan pertumbuhan mukoid,
simpai polisakarida yang besar, tidak ada pergerakan dan biasanya
memberikan hasil positif untuk tes dekarboksilase lisin dan sitrat.
Morfologi khas dari Klebsiella dapat dilihat dalam pertumbuhan padat
in vitro tetapi morfologinya sangat bervariasi dalam bahan klinik.
Biasanya Klebsiella simpainya besar dan teratur. Selain itu Klebsiela
koloninya besar, sangat mukoid dan cenderung bersatu apabila
dieramkan. Anggota dari genus Klebsiella memiliki struktur antigen

yang kompleks. Lebih khususnya, amggota genus Klebsiella memiliki


2 tipe antigen pada permukaan sel. Yang pertama adalah antigen O
yang merupakan bagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel dan
terdiri atas unit polisakarida yang berulang. Beberapa polisakarida Ospesifik mengandung gula yang unik. Antigen O tahan terhadap panas
dan alcohol dan biasanya dideteksi dengan aglutinasi bakteri. Antibodi
terhadap antigen O terutama adalah IgM. Yang kedua adalah antigen
K. Antigen K ini berada di luar antigen O dan merupakan suatu
capsular polysacharida. Antigen K dapat mengganggu aglutinasi
melalui antiserum O dan berhubungan dengan virulensi. Klebsiella
mempunyai simpai besar yang terdiri atas polisakarida (antigen K)
yang menutupi antigen somatic (O atau H) dan dapat dikenali dengan
pembengkakan simpai melalui tes pembengkakan simpai dengan
antiserum khusus. Infeksi pada saluran nafas manusia disebabkan
terutama oleh jenis simpai 1 dan 2, pada saluran kemih terutama
disebabkan oleh

jenis

simpai 8,9,10,dan24(Djaenuri dan Iskanda

2006).
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bakteri yang ada di udara.
Selain itu dapat juga disebarkan melalui darah yang berasal dari tempat
lain misalnya luka, dan perpindahan langsung bakteri dari infeksi di
dekat paru-paru. Jika melalui saluran nafas, bibit penyakit yang masuk
akan dilawan oleh berbagai macam sistem pertahanan yang dimiliki
oleh tubuh kita. Yang dimaksud dengan sistem pertahanan tubuh,
misalnya struktur kulit, proses batuk, hingga sel-sel pembunuh yang
berada dalam darah maupun cairan limfe kita (sistem antibodi)
(Dewi Elfidasari,Nita Noriko,dkk,2013).
IV.

Alat dan Bahan


4.1. Bahan :
-

Air Fuksin

Alkohol 70 %

Aquadest

Tinta Cina

Minyak Emersi

Suspensi bakteri Klebsiela sp.

4.2. Alat :
No.

Nama Alat

1.

Bak pewarna

2.

Botol semprot

3.

Kaca preparat

4.

Kapas

5.

Kertas saring

Gambar Alat

V.

6.

Mikroskop

7.

Pembakar spiritus

8.

Pipet tetes

9.

Ose

10.

Rak tabung

11.

Tabung reaksi

Prosedur
1. Pewarnaan negative
Disediakan 2 kaca obyek yang bersih. Dilelakkan satu ose suspensi
bakteri dan satu tetes cina (1:1) di dekat ujung kanan kaca obyek
pertama.Dicampurkan

keduanya dengan

menggunakan kaca

(obvek kedua, sanpai homogen. Diletakkan kaca obyek kedua


pada kaca obyek pertama dengan membentuk sudut 450, Ditarik
kaca obyek kedua sepanjano kaca obyek pertama dengan
Diseretnya ke arah kiri. Dibiarkan preparat tersebut mengering
dengan sendirinya. Diteteskan sedikit minyak imersi pada preparat
lalu diperiksa di bawah mikroskop dan dimulai dengan obyektif
berkekuatan terendah 10X, lalu diganti dengan lensa obyek
kekuatan 100X. Diamati dan digambarkan-hasilnya. Sel bakteri
akan tampak sebagai bagian yang kosong dengan latar belakang
yang gelap.
2. Pewarnaan Kapsul
Disediakan 2 kaca obyek yang bersih. Diletakkan satu ose suspensi
bakteri dan stu tetes Tinta Cina (1:1) pada dekat ujung kanan kaca
obyek pertama. Dicampurkan keduanya dengan menggunakan
sudut kaca obyek kedua, sampai hornogen. Diletakkan kaca obyek
kedua pada kaca obyek pertama dcngan membentuk sudut450.
Ditarik kaca obyek kedua sepanjang kaca Obyek pertama dongan
menyeretnya ke arah kiri. Difikssi preparat tersebut dengan
melalukannya sebanyak 3 kali di atas api. Digenangi dengan
pewarna air fuksin selama 5 menit, dibuang zat warna yang
berlebih, lalu dikeringkan dengan kertas saring. Diteteskan sedikit
minyak

imersi

pada

preparat,

lalu

diperiksa

di

bawah

mikroskop.dimulai dengan obyektif berkekuatan rendah 10X, lalu


diganti dengan lensa obyektif berkekuatan. 100X. Diamati dan
digambarkan hasilnya. Sel bakteri akan berwarna merah dan kapsul
tampak sebagai bagian yang kosong di Sekitar tubuh bakteri.

VI.

Data Pengamatan

NO.
1.

Perlakuan

Hasil

Pewarnaan negative :
Diambil

satu

suspense

ose
bakteri,

kemudian

diletakan

pada

bagian

ujung

kanan

kaca

objek,

ditambah satu tetes tinta


cina,

dicampurkan

kemudian diseret kea


rah kiri sampai kaca
preparat berwarna hitam
rata,

2.

Pewarnaan Kapsul :
Ditetesi minyak emersi.
Diambil

satu

suspense

ose
bakteri,

kemudian

diletakan

pada

bagian

ujung

kanan

kaca

objek,

ditambah satu tetes tinta


cina,

dicampurkan

kemudian diseret kea


rah kiri sampai kaca
preparat berwarna hitam
rata, difiksasi sebanyak
3 kali,ditambahkan air
fuksin diamkan selama
5

menit,

keringkan

,ditetesi minyak emersi.

VII.

Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan teknis aseptis, hal ini bertujuan untuk
mencegah atau meminimaliskan adanya kontaminasi mikroorganisme
baik pada sampel atau praktikan sendiri. Teknik aseptik merupakan
metode pertama yang dipelajari oleh orang-orang yang berkecimpung
dalam bidang Mikrobiologi. Pada prinsipnya teknik aseptik adalah
usaha menghindarkan setiap kontak antara kultur murni (pure
culture), medium steril dan semua wadah steril serta permukaan meja
kerja,

dengan

mikroorganisme

kontaminan/kompetitor

(mikroorganisme yang tidak diinginkan). Teknik aseptik dibutuhkan


misalnya, pada saat melakukan kultivasi mikroorganisme dan
pemindahan (transfer) kultur murni dari satu vessel (mis. tabung
reaksi) ke tabung reaksi yang lain. Teknik aseptik harus ditegakkan

untuk

mencegah

terjadinya

kontaminasi

oleh

mikroorganisme

kompetitor pada kultur mikroba (murni) yang digunakan dalam


suatu eksperimen serta pada media dan peralatan yang sudah steril
(Elisa, 2014).
Pada praktikum ini dilakukan pewarnaan negative dan pewarnaan
kapsul yang bertujuan untuk mengamati morfologi bakteri yang sukar
untuk dilakukan dengan pewarnaan biasa, serta untuk memahami
lamhkah-lamhkah prosedur dengan reaksi yang terjadi di dalamnya.
Pada prinsipnya baik pada pewarnaan negative maupun kapsul
memiliki prinsip yang sama yakni melakukan pewarnaan bukan pada
sel bakteri namun pada latar belakang objek glass, dimana pada bakteri
yang berkapsul ini sulit diwarnai dengan pewarnaan biasa karena
Dalam kondisi pH mendekati netral, dinding sel bakteri cenderung
bermuatan negatif dan senyawa pewarna juga bermuatan yang sama
sehingga akan ditolak oleh dinding sel dan tidak dapat menghasilkan
warna pada bakteri. Pewarnaan negatif memerlukan pewarna asam
seperti eosin atau negrosin.pewarna asam memiliki muatan negatif
kromogen,tidak akan menembus atau berpenetrasi ke dalam sel karena
muatan negatif pada permukaan bakteri. oleh karena itu, sel tidak
berwarna mudah dilihat dengan latar belakang berwarna. Sedangkan
pada pewarnaan kapsul ditambahkan air fuksin sebagai zat warna
dengan bermuatan positif sehingga pada hasilnya akan membentuk
hasil mikroskopik yang spesifik dan dilakukan fiksasi. Pada pewarnaan
negative dilakukan pengolesan suspense bakteri pada ujung kanan kaca
preparat dimana teknik pengolesan sampel harus diperhatikan karena
jika Olesan terlalu tebal, maka sel-sel bakteri akan bertumpuk-tumpuk
sehingga sulit untuk menentukan bentuk sel individu dan jika Olesan
terlalu tipis dapat menylulitkan pengamatan secara mikroskopis. lalu
dioleskan tinta cina di samping olesan suspense bakteri sebagai
pewarna, kemudian dicampurkan dengan ujung objek glass yang
lain,dan seret kea rah kiri hingga kaca preparat berwarna hitam merata,

pada proses ini akan terjadi gaya tolak menolak dari dinding sel yang
bermuatan negative dengan tinta cina. Hal tersebut dapat terjadi karena
pewarna yang digunakan adalah pewarna asam dan memiliki
komponen kromoforikyang bermuatan negatif, yang juga dimiliki oleh
sitoplasma bakteri. Sehingga pewarna tidak dapat menembus atau
berpenetrasi ke dalam sel bakteri karena negatif charge pada
permukaan sel bakteri. Pada pewarnaan negatif ini, sel bakteri terlihat
transparan (tembus pandang) (Lay, B. W,1994).
Kemudian diteteskan dengan minyak emersi pada kaca preparat
Hal ini dikarenakan, cahaya yang datang dibiaskan melalui 2 medium
yang berbeda, yaitu udara dan kaca. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu
bahan yang mampu membiaskan cahaya dari medium udara dan
medium kaca dengan pembiasan yang mendekati garis normal. Bahan
yang mampu membiaskan cahaya dari medium udara dan medium
kaca dengan pembiasan yang mendekati garis normal adalah minyak
emersi. Selain itu, minyak imersi juga mempunyai indeks bias yang
mendekati atau identik dengan kaca (Kusnadi. 2014).
Setelah ditambahkan minyak emersi dilakukan pengamatan dengan
menggunakan mikroskop pada perbesaran 10 x 10 dan 10 x 100,
berdasarkan hasil praktikum kebanyakan sampel yang dapat terlihat
pada perbesaran 10 x 100, hal ini dikarenakan oleh banyak factor
seperti ketidak mampuan praktikan dalam menggunakan mikroskop,
adanya pembutan olesan sampel yang terlalu tipis sehingga bakteri
yang terkandung dalam sampel tidak dapat terlihat secara jelas dalm
perbesaran 10 x 10.
Pada hasil praktikumnya diperoleh hasil dimana sel bakteri berwarna
transparan dengan berlatar belakang warna hitam, hal ini sesuai dengan
literature.
Pada percobaan selanjutnya dilakukan pewarnaan kapsul, yang dimana
kapsul merupakan lapisan polimer yang terletak di luar dinding sel
yang berfungsi dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.

Misalnya berperan dalam mencegah terhadap kekeringan, mencegah


atau

menghambat

terjadinya

pencantelan

bakteriofag,

bersifat

antifagosit sehingga kapsul memberikan sifat virulen bagi bakteri.


Kapsula juga berfungsi untuk alat mencantelkan diri pada permukaan.
Lapisan kapsul cukup tebal sehingga sulit diwarnai, oleh karena itu
diperlukan suatu pewarnaan khusus. Salah satu cara pewarnaan
kapsula menurut Raebiger yaitu dengan menggunakan pewarna larutan
formol-gentian violet Raebiger atau kristal violet. Satu lagi cara untuk
perwarnaan kapsula bakteri adalah dengan pewarnaan negatif
(pewarnaan tidak langsung ). Pada pewarnaan negatif latarbelakangnya
diwarnai zat warna negatif sedangkan bakterinya diwarnai dengan zat
warna basa. Kapsula tidak menyerap warna sehingga terlihat lapisan
terang yang tembus dengan latar belakang yang berwarna (Djaenuri
dan Iskandar,2006).
Pada proses pewarnaan kapsul hamper sama dengan pewarnaan
negative, namun pada pewarnaan kapsul ini sebelum ditambahkan
emersi dan dilakukan pengamatan, dilakukan fiksasi terlebih dahulu,
fiksasi ini dilakukan sebelum pewarnaan yang bertujuan untuk
Merekatkan sel mikroba pada gelas objek, membunuh mikroorganisme
secara cepat dengan tidak menyebabkan perbahan-perubahan bentuk
dan strukturnya, mengubah afinitas (daya ikat) zat warna,membuat selsel mikroba lebih kuat (keras), melepaskan granuler (butiran) protein
menjadi gugu reaktif NH3+ yang akan bereaksi dengan gugus OH dari
zat warna, mencegah otolisis sel, yaitu pecahnya sel yang disebabkan
olehenzim-enzim yang dikandungnya sendiri, dan mempertinggi sifat
reaktif gugus-gugus tertentu (karboksil amino primer dan sulfhidril)
(Lay, B. W,1994).
Selanjutnya sampel yang telah difiksasi dibiarkan dingin, lalu ditetesi
zat pewarna tunggal air fuksin dan dibiarkan di atas bak pewarnaan,
dimana pada penggunaan air fuksin ini dibiarkan selama 5 menit,
Waktu yang diperlukan ini bertujuan agar zat warna pada dinding sel

bakteri dapat terwarnai dengan sempurna dan perbedaan waktu yang


diperlukan pada setiap zat pewarna berbeda dikarenakan oleh sifat
fisika,kimia serta daya afinitas zat warna tersebut untuk menempel
pada dinding sel bakteri. Setelah didiamkan sesuai waktu yang
diperlukan,selanjutnya preparat sampel dikeringkan dengan kertas
saring untuk mncegah adanya kelebihan zat warna pada sampel,
kemudian di tetesi minyak emersi, Hal ini dikarenakan, cahaya yang
datang dibiaskan melalui 2 medium yang berbeda, yaitu udara dan
kaca. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu bahan yang mampu
membiaskan cahaya dari medium udara dan medium kaca dengan
pembiasan yang mendekati garis normal. Bahan yang mampu
membiaskan cahaya dari medium udara dan medium kaca dengan
pembiasan yang mendekati garis normal adalah minyak emersi. Selain
itu, minyak imersi juga mempunyai indeks bias yang mendekati atau
identik dengan kaca (Kusnadi. 2014).
Setelah ditambahkan minyak emersi dilakukan pengamatan dengan
menggunakan mikroskop pada perbesaran 10 x 10 dan 10 x 100,
berdasarkan hasil praktikum kebanyakan sampel yang dapat terlihat
pada perbesaran 10 x 100, hal ini dikarenakan oleh banyak factor
seperti ketidak mampuan praktikan dalam menggunakan mikroskop,
adanya pembutan olesan sampel yang terlalu tipis sehingga bakteri
yang terkandung dalam sampel tidak dapat terlihat secara jelas dalm
perbesaran 10 x 10.
Pada hasilnya dalam pewarnaan kapsul menunjukan adanya bakteri
yang berwarna merah akibat air fuksin yang menunjukan adanya sel
fegetatif,ada pula yang berwarna transparan, dalam hal ini bakteri
berkapsul yang tidak terwarnai da nada juga yang memiliki bagian luar
transparan dan bagian dalam berwarna merah. Dari hasil pengamatan
ini baik dari pewarnaan negative dan pewarnaan kapsul, menunjukan
bahwa suspense bakteri mengandung bakteri Klebsiella sp yang
merupakan suatu bakteri gram negative yang tidak bergerak (non

motil), tidak berselubung, melakukan fermentasi laktosa, fakultatif


anaerob, ditemukan sebagai flora normal di mulut, kulit dan usus.
Bakteri ini berasal dari family Enterobacteriaceae. Morfologi khas dari
Klebsiella dapat dilihat dalam pertumbuhan padat in vitro tetapi
morfologinya sangat bervariasi dalam bahan klinik. Biasanya
Klebsiella simpainya besar dan teratur. Selain itu Klebsiela koloninya
besar, sangat mukoid dan cenderung bersatu apabila dieramkan.
K.pneumoniae

dapat

menyebabkan

pneumonia

bacterial.

K.pneumoniae banyak terdapat dalam saluran nafas dan feses sekitar 5


% orang normal. K.pneumoniae dapat menyebabkan konsolidasi luas
disertai nekrosis hemoragik pada paru-paru (Syahrurachman, dkk,
1994).
Klebsiella kadang-kadang menyebabkan infeksi saluran kemih dan
bakteremia dengan lesi fokal pada pasien yang lemah. Pneumonia
dapat terjadi akibat menghirup bakteri yang ada di udara. Selain itu
dapat juga disebarkan melalui darah yang berasal dari tempat lain
misalnya luka, dan perpindahan langsung bakteri dari infeksi di dekat
paru-paru. Jika melalui saluran nafas, bibit penyakit yang masuk akan
dilawan oleh berbagai macam sistem pertahanan yang dimiliki oleh
tubuh kita. Yang dimaksud dengan sistem pertahanan tubuh, misalnya
struktur kulit, proses batuk, hingga sel-sel pembunuh yang berada
dalam darah maupun cairan limfe kita (sistem antibodi) (Pearce
Evelyn. 2009).
Gejalagejala yang biasanya timbul dari penderita peneumonia antara
lain batuk berdahak dimana dahaknya seperti lendir berwarna hijau
atau seperti nanah, nyeri dada, menggigil, demam, mudah lelah, sesak
nafas, sakit kepala, nafsu makan berkurang, mual, muntah, tidak enak
badan, kekakuan sendi, kekakuan otot, kulit lembab, batuk darah, nyeri
perut, dan pernafasan yang cepat. Untuk mendiagnosa diadakan
berbagai macam pemeriksaan antara lain dengan menggunakan
stetoskop, rontgen dada, pembiakan dahak dan penghitungan gas darah

arteri.Untuk pengobatan dapat digunakan senyawa yang memiliki


cincin laktam (Syahrurachman, dkk,1994).

VIII. KESIMPULAN dan SARAN


8.1 Kesimpulan

Pewarnaan negative atau Pewarnaan tidak langsung merupakan


teknik pewarnaan yang hanya mewarnai latar belakang kaca
objek, dan tidak mewarnai sel bakteri, pada prosesnya terjadi
reaksi tolak menolak antara dinding sel bakteri dengan zat
warna). Pada hasilnya diperoleh adanya bakteri Klebsiella sp.
dengan bentuk basil transparan.

Kapsul atau lapisan lendir merupakan Struktur tambahan


penyusun sel bakteri, yang merupakan lapisan yang berada di
luar dinding sel bakteri, pada pewarnaannya menggunakan
pewarnaan burry gins, yang memiliki prinsip yang sama
dengan pewarnaan negative, namun pada pewarnaan ini
dilakukan fiksasi dan pewarna air fuksin, sehingga hasil yang
diperoleh terdapat sel baktri yang berwarna merah dengan sisi
sel yang transparan. Hal ini menunjukan bahwa bakteri
Klensiella sp, merupakan bakteri berkapsul yang bersifat
pathogen penyebab pneumonia.

8.2 Saran
Dalam proses pratikum harus ditingkatkan ketelitian dan kecermatan
praktikan agar diperoleh hasil pengamatan yang maksimal dan sesuai
dengan tujuan praktikum

DAFTAR PUSTAKA
Anna Rahmawati. 2013. Pewarnaan bakteri berkapsul. Tersedia online di :
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/anna-rakhmawati-ssimsi/ppm2013-praktik-layanan-praktikum.pdf [ Diakses pada 23-03-2015].
Arnia dan Efrida Warganegara. 2013. Identifikasi Kontaminasi Bakteri Coliform
Pada Daging Sapi Segar Yang Dijual Di Pasar Sekitar Kota Bandar
Lampung.Universitas Lampung. Vol. ISSN 2337-3776. Tersedia online di :
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/download/39/38
[ Diakses pada 23-03-2015].
Dewi Elfidasari,Nita Noriko,dkk. 2013.Deteksi Bakteri Klebsiella pneumonia
pada Beberapa jenis Rokok Konsumsi Masyarakat. Universitas Al Azhar
Indonesia . Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI,
Vol. 2, No. 1. . Tersedia online di :
http://jurnal.uai.ac.id/index.php/SST/article/download/97/pdf_12 [ Diakses pada
23-03-2015].
Djaenuri dan Iskandar. 2006. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KLEBSIELLA
PNEUMONIAE DARI KELINCI DAN MARMOT. Balai Besar Penelitian
Veteriner. Tersedia online di :
http://balitnak.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_phocadownload&v
iew=category&id=70:3&download=1245:3&start=40&Itemid=1 [ Diakses pada
23-03-2015].
Elisa. 2014 Teknis Aseptis. Tersedia online di :
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/26222/305ef68a209e3fa6c70cc447e
84ca3db

[ Diakses pada 23-03-2015].

Joko Susilo, dan Teguh R. Sartono. 2002. Deteksi Bakteri Klebsiella Pneumoniae
Pada Sputum Dengan Metode Imunositokimia Menggunakan Anti Outer
Membrane Protein Berat Molekul 40 Kda Klebsiella Pneumoniae Sebagai
Antibodi.

PPDS

Paru

FK

Unibraw.

Tersedia

online

Sumarnohttp://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/download/233/225
[ Diakses pada 23-03-2015].
Kusnadi. 2014. Identifikasi bakteri. Tersedia online di:

di

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196805091994031
KUSNADI/BUKU_COMMON_TEXT_MIKROBIOLOGI,_Kusnadi,dkk/ientifikasi
_bakteri.pdf [diakses pad 16-03-2015 ].
Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raga Grafindo
Persada.
Pearce Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Yuliani Sri,
penerjemah; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan dari: Anatomy
and Physiology for Nurses.
Rahayu. 2014. Pewarnaan negative. Tersedia online di :
http://eprints.undip.ac.id/43761/3/DEWIAYU_G2A009195_BAB2KTI.pdf
[ Diakses pada 23-03-2015].
Syahrurachman, dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi.
Jakarta: UI Press.
Wara pertiwi, Teguh R.Sartono,dkk. 2013. Sensitivitas dan Spesifisitas metode
Dot Blot menggunakan Antigen Outer Membrane Protein Klebsiella pneumoniae
yang Direspon Secretory-Immunoglobulin A Sputum Penderita Terinfeksi
Klebsiella pneumoniae . tersedia online di :
http://jurnalrespirologi.org/jurnal/Juli09/JRI%20Malang%20drWaraOK%20revisi%20lagi.pdf [ Diakses pada 23-03-2015].