Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN TUTORIAL

BLOK REPRODUKSI SKENARIO I

KELOMPOK VIII
ALIFIS SAYANDRI MEIASYIFA

G0013019

ANISA KUSUMA ASTUTI

G0013033

CICILIA VIANY EVAJELISTA

G0013065

HEGA FITRI NURAGA

G0013109

JEVI IRGIYANI

G0013125

KHARIZ FAHRURROZI

G0013131

MUHAMMAD RIZKI KAMIL

G0013161

NIKKO RIZKY AMANDA

G0013177

RIDHANI RAHMA V

G0013201

SANTI DWI CAHYANI

G0013213

YOSA ANGGA OKTAMA

G0013239

YUSAK ADITYA SETYAWAN

G0013241

TUTOR : Dwi Rahayu, dr


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN

Skenario 1
MENGAPA WAJAHKU PUCAT?
Seorang perempuan 28 tahun datang ke puskesmas PONED dengan keluhan mual muntah
hebat terutama pagi hari sejak satu minggu yanglalu, dan mengeluarkan darah pervaginam sedikitsedikit. Pasien badannya lemah sampai tidak dapat beraktivitas. Pasien sudah memiliki satu anak
hidup berumur 12 bulan, dan tidak memberikan ASI. Paien memakai KB metode pil sejak anak
berusia 6 bulan, namun minum obat KB tidak disiplin. Sudah 3 tahun ini pasien mengonsumsi
rokok dan alcohol.
Pada tekanan fisik didapatkan TD 90/60 mmHg, denyut nadi 100x/menit, frek. Napas
24x/menit,suhu tubuh 36,50 C, conjungtiva pucat, mulut kering dan turgor kulit menurun, fundus
uteri teraba 1 cm di atas SOP. Pada pemeriksaan inspekulo tampak portio livid dan ostium uteri
eksternum tertutup serta keluar darah segar. Pada vagina toucher uterus sebesar telur angsa, tidak
nyeri tekan, sarung tangan lendir darah (+) pemeriksaan lab didapatka Hb= 6 mg/dl. Dokter
tersebut menyarankan agar penderita dirawat inap untuk memperbaiki keadaan umum dan
menjalani pemeriksaan ultrasonografi.

BAB II
DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA
A. Langkah I: Klarifikasi istilah dan konsep
Dalam skenario 1 ini kami mengklarifikasi beberapa istilah sebagai berikut:
1. Turgor kulit:
Turgor kulit menurun adalah indikasi dimana kulit pada saat ditarik untuk beberapa detik
dan tidak dapat kembali ke bentuk semula. Penurunan turgor kulit merupakan tanda
lambat dari dehidrasi (Linda, 2012)

2. Fundus uteri: Bagian atas uterius. Di situ tuba Fallopii kanan dan kiri masuk ke uterus.
(Winknjosastro H, 2011)
3. Pemeriksaan inspekulo: Pemeriksaan dengan spekulum. Biasa dilakukan setelah inspeksi
vulva dan sekitarnya. Pemeriksaan inspekulo dilakukan terutama akan dilakukan
pemeriksaan sitologi, atau pemeriksaan terhadap gonore, trikomoniasis, dan kandidiasis,
atau ada proses yang mudah berdarah.(Wiknjosastro H, 2011)
4. Puskesmas PONED : Puskesmas Pelayanan Obstetri dan Neonatus Emegency Dasar.
Puskesmas yang memiliki fasilitas dan kemampuan memberikan pelayanan untuk
menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal selama 24 jam
5. Portio livid : portio pada uterus tampak berwarna kebiruan
6. Vaginal toucher : pemeriksaan yang dilakukan dengan memasukkan jari ke dalam liang
sanggama untuk mengetahui kondisi impartu, titik awal persalinan dan ramalan perjalanan
persalinan
7. Ultrasonografi : teknik diagnostik pencitraan menggunakan suara ultra digunakan untuk
mencitrakan organ internal, otot, ukuran , struktur dan patologi
B. Langkah II: Menetapkan / mendefinisikan masalah
Permasalahan pada skenario 1 antara lain:
1. Mengapa pasien mual muntah di pagi hari?
2. Mengapa pasien mengeluarkan darah pervaginam?
3. Apa hubungan pasien memiliki anak berusia 12 bulan, tidak memberi ASI, dan pemakaian
KB yang tidak teratur?
4. Apa pengaruh konsumsi alkohol dan rokok?
5. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan vital pasien?
6. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik pasien?
7. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan inspekulo pasien?
8. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan vagina touche pasien?
9. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium pasien?
10. Bagaimana treatment yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan pasien?
11. Jelaskan anatomi dan fisiologi organ reproduksi wanita!
12. Apa diagnosis pasien? Apa saja diagnosis bandingnya?
C. Langkah III: Analisis masalah
1. Mual muntah
Merupakan keadaan fisiologis saat hamil trimester I karena peningkatan hormone
human chorionic gonadotropin yg mempengaruhi sitem GIT. Namun bila mual muntah
hebat disebut hiperemesis gravidarum dan bisa mengakibatkan kekurangan cairan karena

banyak eletrolit tubuh yang terbuang, dan berhubungan dengan menurunnya turgor kulit.
(Prawirohardjo, 2008)
Tanda kehamilan sendiri ada tanda mungkin, tanda mencurigakan, dan tanda pasti.
Mual muntah juga akibat dari meningkatnya kadar hormon krionik gonadotropin dan
estrogen. Sehingga motilitas usus halus menurun dan perlambatan pengosongan lambung.
Fatigue pada ibu hamil biasa terjadi pada trimester pertama. Kondisi ini disebabkan
menurunya Basal Metabolic Rate (BMR). Dengan meningkatnya aktivitas metabolik janin
sesuai dengan berlanjutnya usia kehamilan maka rasa lelah atau fatigue akan berangsur
menghilang.
Dapat juga di karenakan Human Chorionic Gonadotropin (HCG).
1. Level plasma hCG yang signifikan cenderung tinggi terkadang ditemukan pada wanita
hamil dengan fetus ganda/multiple maupun fetus tunggal eritroblastosis sebagai hasil dari
isoimunisasi antigen-D maternal.
2. Kadar plasma hCG pada plasma dan urin akan meningkat tajam pada wanita hamil
molar (mola hidatidosa) atau koriokarsinoma.
3. Level plasma hCG yang relatif tinggi biasa ditemukan pada saat trimester kedua dengan
janin yang mengalami Down syndrome. Masih belum ada penelitian lebih lanjut, namun
diduga plasenta pada kehamilan dengan wanita yang membawa janin Down syndrome
lebih lemah daripada wanita dengan kehamilan normal.
4. Kadar hCG yang rendah sering ditemukan pada kehamilan ektopik dan selanjutnya
dapat mengalami abortus spontanus.
Normalnya, menstruasi terjadi pada wanita yang tidak hamil dalam waktu kira-kira
14 hari setelah ovulasi, pada saat sebagian besar endometrium uterus terlepas dari dinding
uterus dan dikeluarkan. Tetapi bila terjadi pembuahan terhadap oosit sekunder yang
dikeluarkan saat ovulasi maka fungsi korpus luteum setelah 14 hari tersebut akan
digantikan oleh Human Chorionic Gonadotropin (HCG) yang disekresikan oleh jaringan
embrionik yang beru terbentuk.
Bersamaan dengan perkembangan sel-sel trofoblas, hormone HCG disekresikan ke
dalam cairan ibu.Sekresi hormone ini bisa diukur pertama kali dalam darah 8-9 hari
setelah ovulasi, segera setelah blastokista berimplantasi di endometrium.Kemudian
kecepatannya meningkat dengan cepat dan maksimum pada kira-kira 10-12 minggu

selanjutnya kembali disekresikan pada jumlah yang rendah pada minggu 16-20. Sekresi
terus berlanjut dalam kadar ini selama sisa masa kehamilan.
HCG ini memiliki fungsi yang sama dengan hormon lutein yang disekresikan oleh
kelenjar hipofisis. Fungsi terpenting dari HCG yaitu mencegah involusi korpus luteum
pada akhir siklus seksual bulanan wanita. Selain itu juga menyebabkan korpus luteum
menyekresikan hormon estrogen dan pregesteron lebih banyak lagi juga mencegah
mestruasi serta menyebabkan endometrium terus tumbuh dan menyimpan nutrisi dalam
jumlah besar.
Korpus luteum akan digantikan fungsinya

oleh plasenta untuk menghasilkan

hormon estrogen dan progesteron sehingga dapat mempertahankan kehamilan selama sisa
periode kehamilan. Korpus luteum mengalami involusi secara perlahan setelah kehamilan
berusia 13-17 minggu.
Bila kadar HCG berlebihan akan menyebabkan hiperemesis gravidarum dan
menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi akan menyebabkan turunnya kadar Na + dan Cl- yang
berpengaruh pada hemokonsentrasi, yaitu turunnya kadar O2 dalam tubuh. Hal tersebut
menjadikan tubuh lemas dan kadar K+ turun, yang selanjutnya menyebabkan mual dan
muntah.
Yang termasuk faktor predisposisi hiperemesis gravidarum adalah :
1. Primagravida / kehamilan pertama
2. Mola hidatidosa / hamil anggur
3.Faktor Psikologis
4. Alergi
5. Masuknya vili khorialis ke sirkulasi maternal

Hiperemesis Gravidarum menyebabkan dehidrasi, sehingga kadar Na dan Cl


menurun. Begitu juga dengan kadar CL urin, menurun. Menyebabkan hemokonsentrasi
yang membuat supply makanan dan oksigen ke tubuh menurun, sehingga kadar kalium
juga turun, dan meningkatlah mual muntah.

Hiperemesis gravidarum terbagi atas beberapa derajat sesuai dengan tanda dangejala yang
dialaminya, yaitu :
1.Derajat 1
Muntah terus menerus (muntah > 3-4 kali/hari, dan mencegah dari masuknya
makanan atau minuman selama 24 jam) yang menyebabkan ibu menjadi lemah,tidak ada
nafsu makan, berat badan turun (2-3 kg dalam 1-2 minggu), nyeri uluhati, nadi
meningkat sampai 100x permenit, tekanan darah sistolik menurun,tekanan kulit menurun
dan mata cekung.
2. Derajat 2
Penderita tampak lebih lemah dan tidak peduli pada sekitarnya, nadi kecil dancepat,
suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit kuning. Berat badan turun dan mata menjadi
cekung, tekanan darah turun, pengentalan darah, urin berkurang,dan konstipasi. Pada
napas dapat tercium bau aseton.
3. Derajat 3
Keadan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun sampai koma,nadi
kecil dan cepat, suhu meningkat, dan tekanan darah turun. Pada jabang bayidapat terjadi
ensefalopati Wernicke dengan gejala: nistagmus, penglihatan ganda,dan perubahan mental.
Keadaan ini akibat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks. Jika sampai
ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan hati.
2. Perdarahan pervaginam sedikit-sedikit
- Fisiologi : menstruasi.
- Pada kehamilan biasanya tak normal, tapi ada yang normal katena proses nidasi dari
janin ke rongga Rahim. (tanda Hartman) pada <40 hari kehamilan.
- Kelainan abortus imminens, mola hidatidosa, jika terjadi <10 minggu usia kehamilan.
Perdarahan fisiologis saat kehamilan
Pada keadaan tidak hamil, fungsi reproduksi wanita dikontrol oleh sistem control
umpan balik negatif yang siklis dan kompleks antara hipotalamus (GnRH), hipofisis
anterior (FSH, LH), dan ovarium (estrogen, progesterone, dan inhibin).Selama kehamilan,
hormone-hormon plasenta menjadi factor pengontrol ynag utama.
Ovarium melakukan fungsi ganda yang saling terkait, yaitu oogenesis
(pembentukan ovum) dan mnghasilkan estrogen dan progesteron. Dua unit endokrin
ovarium yang terkait secara sekuensial melakukan fungsi tersebut ialah folikel dan korpus

luteum. Oogenesis dan sekresi estrogen berlangsung di dalam folikel ovarium selama
separuh oertama siklus reproduksi. Pada kira-kira pertengahan siklus, folikel yang matang
melepaskan sebuah ovum (ovulasi). Folikel yang kosong tersebut kemudian diubah
mnejadi korpus luteum, yang menghasilkan estrogen serta progesterone selama separuh
terakhir siklus. Unit endokrin ini mempersiapkan uterus sebagai tempat yang cocok untuk
melakukan implantasi apabila ovum yang dilepaskan dibuahi. Apabila tidak terjadi
pembuahan dan implantasi, korpus luteum berdegenerasi. Akibat penarikan hormon yang
mendukung lapisan endometrium untuk menjadi sangat berkembang menyebabkan
34 baru
disintegrasi dan terlepas, menghasilkan darah haid. Secara simultan fase folikel
dimulai kembali. Haid berhenti dan lapisan dalam endometrium memeprbaiki diri di
bawah kadar estrogen yang meningkat yang berasal dari folikel yang baru matang.
Jika terjadi, fertilisasi berlangsung di oviduktus ketika telur yang dilepaskan dan
sperma yang diletakkan di vagina bertemu di tempat ini.Ovum yang telah dibuahi mulai
membelah diri secara mitosis. Dalam waktu seminggu ovum tumbuh dan berdiferensiasi
menjadi sebuah blastokista yang dapat melakukan implantasi. Sementara itu, endometrium
telah mengalami peningkatan vaskularisasi dan dipenuhi oleh simpanan glikogen di bawah
pengaruh progesterone fase luteal. Blastokista tebenam di dalam lapisan yang telah
disiapkan tersebut melalui kerja enzim-enzim yang dikeluarkan oleh lapisan luar
blastokista. Enzim ini mencernakan jaringan endometrium kaya nutrient, melaksanakan
dua fungsi, yaitu membuat lubang di endometrium untuk implantasi blastokista, sementara
pada saat yang sama membebaskan nutrient dari sel endometrium agar dapat digunakan
oleh blastokist yang sedang berkembang.
Perdarahan patologis saat kehamilan
Perdarahan yang didahului haid yang terlambat biasanya disebabkan oleh abortus,
kehamilan mola, atau kehamilan ektopik. Walaupun demikian, kemungkinan perdarahan
karena polypus servisis uteri, erosio porsionis uteri, dan karsinoma servisis uteri tidak
dapat disingkirkan begitu saja tanpa pemeriksaan yang teliti.
Penyebab perdarahan per vaginam abnormal
a. Penyebab organik (Norwitz & Schorge, 2006).
1. Penyakit saluran reproduksi
Kondisi terkait kehamilan merupakan penyebab paling umum pada wanita usia
subur, misal aborsi, aborsi inkomplet, dan aborsi yang tidak dikenali; kehamilan
ektopik; penyakit trofoblastik gestasional. Perdarahan implantasi, juga sering pada
mestruasi pertama yang tidak terjadi.

Lesi uterus umumnya menyebabkan menoragia atau metroragia dengan menambah


35
luas daerah permukaan endometrium, mengacaukan pembuluh darah endometrium,

atau membuat permukaan menjadi rapuh atau meradang.


Lesi serviks biasanya mengakibatkan metroragia (khususnya perdarahan pasca

coitus) atau erosi atau trauma rangsang.


Penyebab iatrogenic, mencakup IUD, steroid oralatausuntik, dan obat penenang
atau psikotropika lain.

2. Penyakit sistemik
Diskrasia darah seperti penyakit von Willebrand dan defisiensi protrombin serta

kelainan lain yang mengakibatkan defisiensi trombosit.


Hipotiroidisme; tidak terkait kelainan menstruasi, tetapi mungkin menyebabkan

oligomenorea atau amenorea.


Sirosis karena berkurangnya kapasitas hati untuk memetabolisme estrogen.

b. Penyebab disfungsional (endokrinologi)


Diagnosis PUD (Perdarahan Uterus Disfungsional) dapat ditegakkan setelah penyebab
organic, sistemik, dan iatrogenic untuk perdarahan per vaginam telah disingkirkan
(diagnosis per eksklusionam).
1. PUD anovulatoris
Jenis dominan pada masa pascamenarke dan pramenopause karena perubahan

fungsi neuroendokrinologis.
Ditandai oleh produksi estradiol-17 beta terus menerus tanpa pembentukan corpus

luteum dan pelepasan progesterone.


Estrogen berlebih menyebabkan proliferasi endometrium terus menerus, kemudian
menghasilkan suplai darah berlebih dan dikeluarkan dengan mengikuti pola

irregular dan tidak dapat diprediksi.


2. PUD ovulatoris
Insidensi: sampai dengan 10% dari wanita yang berovulasi.
Bercak darah pada pertengahan siklus setelah lonjakan LH biasanya bersifat fisiologis.
Polimenorea paling sering terjadi akibat pemendekan fase folikular dari menstruasi.
Sebagai alternative, fase luteal mungkin memanjang akibat korpus luteum yang menetap.
3. Hubungan pasien memiliki anak berusia 12 bulan, tidak memberi ASI, dan
pemakaian KB yang tidak teratur
Usia anak
SDKI 2002-2003 menunjukkan bahwa 22,4% ibu masih dalam keadaan "4 terlalu" yaitu
4,1% kehamilan terjadi pada ibu berumur kurang dari 18 tahun (terlalu muda), 3,8%
terjadi pada ibu berumur lebih dari 34 tahun (terlalu tua), 5,2% persalinan terjadi dalam
interval waktu kurang dari 2 tahun (terlalu sering) dan 9,3% ibu hamil mempunyai paritas
lebih dari 3 (terlalu banyak). => penyebab kematian tak langsung maternal.

Rokok alkohol : fx risiko abortus karena janin kurang vaskularisasi- iskemi- abortus
Ibu menyusui
Ibu menyusui meningkatkan kadar prolaktin. Keadaan ini menurunkan kadar gonadotropin
sehingga ovulasi terlambat, dan ibu tidak mengalami menstruasi selama masa menyusui.
Bila ibu tidak menyusui, maka kadar prolaktin akan rendah, yang menyebabkan ovulasi
terus berjalan. Sehingga, terdapat kemungkinan terjadi kehamilan.
KB yang tidak teratur
KB yang tidak teratur meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan.
4. Pengaruh konsumsi alkohol dan rokok?
Rokok merupakan bentuk penyalahgunaan yang sering ditemukan. Hampir semua
komplikasi pada plasenta dapat ditumbulkan oleh rokok meliputi abortus, solusio plasenta,
insufisiensi plasenta, berat badan lahir rendah, dan plasenta previa. Selain itu komplikasi
ketuban pecah dini dan persalinan kurang bulan juga dapat terjadi.
Bayi yang lahir dari seorang perokok juga dapat memiliki panjang tubuh, kepala dan
dada yang lebih kecil. Selain itu meningkatkan sindroma kematian bayi mendadak (SIDS),
penyakit paru kronis, asma, dan otitis media.
5. Interpretasi hasil pemeriksaan vital pasien
Hasil pemeriksaan fisik Respiratoric Rate (RR) 24 kali, termasuk di atas
normal. Hasil tersebut dapat disebabkan kebutuhan O2 yang naik. Tekanan darah
90/60mmHg, termasuk rendah, dimana normalnya adalah 120/80 mmHg. Suhu masih
dalam batas normal. Nadi 100 kali/menit termasuk batas atas. Hal-hal tersebut bisa
dikarenakan keadaan hiperemesis gravidarum.
6. Interpretasi hasil pemeriksaan fisik pasien
Mulut kering dan turgor kulit menurun dapat disebabkan oleh terjadinya dehidrasi
dikarenakan penderita tidak cukup makan dan minum seperti yang ditemukan pada
anamnesis.
Terabanya fundus uteri 1 cm di atas simfisis pubis menunjukkan adanya pembesaran
uterus. Pembesaran uterus dapat disebabkan oleh kehamilan, hamil palsu, mioma uteri,
hematometra, dan mola hidatidosa. Pemeriksaan ini sering disebut manuver palpasi
Leopold I di mana bertujuan untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam
fundus serta konsistensi uterus. Tinggi fundus uteri mulai teraba pada usia kehamilan 12

minggu. Terabanya tinggi fundus uteri 1 cm di atas simfisis pubis dapat membantu
diagnosis kehamilan yang menunjukkan usia kehamilan sekitar 12 minggu. Dibawah ini
adalah tabel mengenai hubungan tua kehamilan (dalam bulan), besar uterus dan tinggi
fundus uteri. (Raden et al, 2009).
Tabel1. Hubungan tua kehamilan (dalam bulan), besar uterus dan tinggi fundus uteri.
Akhir

Besar uterus

Tinggi fundus uteri

bulan
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Lebih besar dari biasa


Telur bebek
Telur angsa
Kepala bayi
Kepala dewasa
Kepala dewasa
Kepala dewasa
Kepala dewasa
Kepala dewasa

Belum teraba (palpasi)


Di belakang simfisis
1-2 jari di atas simfisis
Pertengahan simfisis-pusat (umbilicus)
2-3 jari di bawah pusat
Setinggi pusat
2-3 jari di atas pusat
Pertengahan pusat-proc. Xyphoideus
3 jari di bawah proc. Xyphoideus atau

10

Kepala dewasa

sampai setinggi xyphoideus


Sama denga kehamilan 8 bulan namun
melebar ke samping

Gambar Tinggi fundus uteri dan umur kehamilan


7. Interpretasi hasil pemeriksaan inspekulo pasien
Hasil pemeriksaan inspekulo tampak ostium uteri eksternum (OUE) tertutup dan keluar
darah segar. Tertutupnya OUE dapat membantu diagnosis kehamilan dimana dengan
tujuan mempertahankan janin atau hasil konsepsi tetap dalam rongga rahim.
Didapatkannya keluar darah segar pada pemeriksaan inspekulo merupakan tanda
adanya kelainan pada kehamilan pasien. Walaupun pada kehamilan, memang dapat terjadi
perdarahan secara fisiologi akibat proses nidasi/implantasi dari janin ke dinding uterus,

akan tetapi hal itu terjadi < 40 hari kehamilan. Perdarahan ini disebabkan oleh adanya luka
desidua pada saat nidasi yang sering disebut sebagai tanda Hartman. Untuk itu kita perlu

mengetahui kemungkinan kelainan apa yang terjadi pada penderita.


Portio livid : merupakan tanda chadwick (tanda mungkin hamil)
Yaitu keadaan dimana portio berwarna biru akibat hipervaskularisasi
Ostium uteri eksternum tertutup : pada orang hamil normal ostium ini masih tertutup dan

pada abortus spontan bisa terbuka atau sudah tertutup.


Keluar darah segar : tanda hortman bisa normal dan bisa tidak karena abortus spontan.
Pada abortus lain perdarahan banyak dan nggak sedikit (Mansjoer et all, 2005)

8. Interpretasi hasil pemeriksaan vagina touche pasien


Akhir

Besar uterus

bulan
1
Lebih besar dari biasa
2
Telur bebek
3
Telur angsa
4
Kepala bayi
5
Kepala dewasa
6
Kepala dewasa
7
Kepala dewasa
8
Kepala dewasa
9
Kepala dewasa
10
Kepala dewasa
9. Interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium pasien
Sarung tangan yang positif(+) berlendir darah menandakan adanya patologis atau
kelainan. Pemeriksaan pada uterus yang sebesar telur angsa menandakan adanya janin
yang berumur 12 minggu. Tidak adanya nyeri tekan menandakan tidak adanya tanda
keganasan.

10. Treatment yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan pasien


Dengan hasil pemeriksaan fisik konjugtiva pucat dan pemeriksaan lab Hb = 6 mg/dl,
dapat disimpulkan pasien mengalami anemia. Anemia yng sering diderita oleh wanita
hamil adalah anemia defisiensi zat besi. Hal ini dikarenakan jumlah Fe pada wanita lebih
sedikit daripada pria. Sedangkan pada wanita hamil, Fe digunakan untuk janin dan pada
pasien tersebut mengalami perdarahan dengan darah merah segar yang berarti juga
berkurangnya Fe dalam tubuh.
Pada keadaan anemia treatment yang dapat diberikan adalah berupa pemberian diet Fe
yang terkandung pada daging atau tumbuh-tumbuhan. Namun lebih dianjurkan daging

karena asupan besi non-heme pada tumbuhan hanya sekitar 5%.Sedangkan pada daging 34 kali lebih baik dikarenakan adanya besi heme yang disimpan dalam hemoglobin dan
myoglobin.Selain itu penatalaksanaan dengan obat dapat diberikan Ferrous sulfat 325mg
(65 mg besi elemental) secara oral tiga kali sehari.Untuk meningkatkan absorbs pasien
dianjurkan menghindari teh dan kopi serta mengonsumsi vitamin C (500 unit) bersamaan
dengan pil Fe sekali sehari.
D. Langkah IV: Menginventarisasi secara sistematis berbagai penjelasan yang didapatkan
pada langkah III
Keluhan
pasien

Pemeriksaan
vital

Pemeriksaan
fisik

Vital sign

Pemeriksaan
inspekulo

Kehamilan
normal
Fisiologi
reproduksi
wanita
Curigai hamil

Abortus
Mola hidatidosa
Ektopik
Hiperemis
gravidum

diagnosis
treatment
Diagnosa
banding

E. Langkah V: Merumuskan sasaran pembelajaran


1. Bagaimana anatomi dan fisiologi system reproduksi wanita?
2. Apakah diagnosis banding dan diagnosis dari pasien?
3. Bagaimanakah treatment untuk memperbaiki keadaan umum pasien?
4. Bagaimana gambaran USG kehamilan?
5. Apa saja maam gangguan menstruasi?
6. Apakah terapi hormonal untuk abortus iminens? Bolehkah pemberian

asam traneksamat pada abortus iminens?


7.Bagaimana penjelasan tentang alat kontrasepsi, indikasi, dan
kontraindikasinya?
F. Langkah VI: Mengumpulkan informasi tambahan di luar waktu diskusi kelompok
Masing-masing anggota kelompok kami telah mencari sumber-sumber ilmiah dari
beberapa buku referensi maupun akses internet yang sesuai dengan topik diskusi tutorial ini secara
mandiri untuk disampaikan dalam pertemuan berikutnya.
G. Langkah VII: Melakukan sintesis dan pengujian informasi-informasi yang terkumpul
1. Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Wanita
A. Anatomi Organ Reproduksi Wanita
Organa genitalia feminina (OGF) dibagi menjadi 2 berdasarkan letaknya dari Cavum
Pelvicum, yaitu OGF Interna untuk di dalam dan OGF Externa untuk di luar Cavum
Pelvicum.
1. OGF Interna
a) Ovarium
Organ berbentuk flattened oval atau ada juga sumber yang menyebutkan
seperti buah almond merupakan organ yang jumlahnya sepasang kanan dan kiri
dan terletak dekat dengan dinding lateral Cavum Pelvicum. Ovarium memiliki
2 fungsi yaitu menghasilkan ovum (Eksokrin) dan sekresi hormon estrogen dan
progesteron (Endokrin).
Pada masa embrional dan kehidupan awal fetus, ovarium terletak pada regio
lumbal dekat dengan ginjal. Mereka secara berangsur-angsur turun di
sepanjang Gubernaculum lalu berhenti pada Cavum Pelvicum. Setelah masa
menopause, ovarium menjadi kecil dan mengerut. Pada usia tua, folikel-folikel
menghilang secara keseluruhan.
Ovarium memiliki 2 Extremitas, 2 Facies, dan 2 Margo. Extremitas tubarius
menghadap ke Ostium abdominale tuba uterina yang dilekati oleh Fimbria
Ovarica dan Ligamentum Suspensorium Ovarii

dan extremitas uterina

menghadap ke uterus yang dilekati oleh Ligamentum Ovarii Propium. Facies


Lateralis Ovarii Bersinggungan dengan peritoneum parietale yang melapisi
fossa ovarica dan Facies Medialis Ovarii ditutupi Fimbriae Tubae Uterinae.
Margo Mesovaricus merupakan bagian yang terikat sedangkan margo libera
ovarii merupakan bagian yang bebas.
b) Tuba Uterina

Tuba uterina adalah saluran yang berfungsi untuk menyalurkan oosit dari
cavum peritoneum menuju cavum uteri. Organ ini juga berfungsi sebagai
tempat fertilisasi. Tuba uterina menghubungkan Cavitas peritonealis di regio
ovarium dengan Cavitas uteri. Tuba uterina dibagi menjadi 4 bagian :
- Infundibulum tubae uterinae

Terdapat Fimbriae tubae uterinae (rumbai-rumbai infundibulum yang


berbentuk seperti jari tangan) melekat pada Facies Medialis ovarii dan Fimbria
Ovarica (satu bagian besar yang melekat pada kutub superior dari ovarium /
Ekstremitas Tubarius ovarii)
- Ampulla tubae uterinae
Bagian terlebar dan terpanjang dari tuba yang berawal dari bagian tengah akhir
infundibulum. Semakin mendekati uterus, ketebalan lapisan otot polos pada
dinding ampula akan semakin meningkat. Fertilisasi oosit pada umumnya
terjadi di ampulla.
- Isthmus tubae uterinae
Merupakan segmen pendek yang berbatasan dengan dinding uterus. (ciri khas :
sempit, berdinding tebal, dan lurus)
- Pars Intramural / Pars Uterina
Segmen intramural (di dalam) dari tuba yang menembus ke dalam dinding
uterus (Myometrium) dan terbuka melalui Ostium Uterinum tubae uterinae ke
dalam Cavum Uteri.
c) Uterus
Uterus (rahim) merupakan organ dengan otot berongga, berdinding tebal, dan
berbentuk seperti buah per. Embrio dan fetus berkembang di dalam uterus.
Lapisan dinding corpus uterus dari dalam keluar yaitu endometrium,
myometriu dan perimetrium. Struktur anatomisnya:
- Fundus uteri
Terletak paling cranial di atas muara tuba uterina, berbentuk kubah
- Corpus uteri
Berbentuk buah per, menghadap ke arah abdomen, terletak di bawah muara
tuba uterina dan membentuk dua pertiga superior dari keseluruhan uterus.
Melekat pada ligamentum latum uteri. Terdiri dari dua facies / permukaan
yaitu Facies Vesicalis (Ventralis) yang ditutupi oleh peritoneum yang akan
melipat dan membentuk sebuah kantong disebut Excavatio Vesicouterina
dan Facies Intestinalis (Dorsalis) yang ditutupi oleh peritoneum yang
melanjutkan diri ke cervix dan bagian atas vagina, lalu melipat diri ke
rectum membentuk sebuah kantong disebut Excavatio Rectouterina /
-

Cavum Douglas.
Cervix uteri
Corpus uteri bagian bawah menyempit dana berlanjut sebagai cervix uteri
yang menembus dinding anterior vagina dan dibagi menjadi Portio
Supravaginalis cervicis uteri yaitu bagian dari cervix uteri yang berada
pada vagina dan Portio Vaginalis cervicis uteri yaitu bagian dari cervix uteri
yang menjorok ke dalam vagina.

Pembagian ruangan di dalam uterus terdapat Cavum uteri, isthmus uteri dan
Canalis cervicis uteri
d) Vagina

Organ ini berbentuk tabung dengan struktur muculomembranosus yang


menghubungkan vulva dengan uterus. Vagina terletak di dorsal versica urinaria
dan di ventral rectum, serta dindingnya saling bersinggungan. Vagina berfungsi
sebagai :
- Penyedia jalur untuk lewatnya cairan menstruasi
- Pembentuk bagian bawah dari jalur partus
- Penerima penis dan ejakulasi saat melakukan hubungan seksual
- Penghubung canalis cervicalis di bagian atas dan vestibulum vagina di
bagian bawah
2. OGF Externa
a) Mons Pubis
Mons pubis merupakan peninggian lemak yang membulat di depan symphisis
ossis pubis. Setelah pubertas, mons pubis akan ditumbuhi oleh Pubes. Pubes
wanita mempunyai pinggir superior horisontal, sedangkan pada pria meluas ke
atas sampai umbilicus.
b) Labium Major
Labia majora merupakan pelipatan kulit yang mencolok di mana secara tidak
langsung melindingi clitoris, OUE, dan orificium vaginae. Labia majora
membentang ke arah caudodorsal dari mons pubis dan membentuk tepi lateral
suatu fissura yang disebut Pudendal Cleft / Rima Pudendi, yang merupakan
muara dari vagina dan urethra. Labia majora homolog dengan scrotum pria. Ke
arah anterior dan posterior, labia majora dexter et sinister akan saling bertemu
membentuk Commissura Labiorum Anterior et Posterior.
c) Labium Minor
Labia minora merupakan pelipatan/plica bulat yang tidak mengandung lemar
dan kulit yang tidak berambut. Dua plica kecil yang terletak di antara kedua
labia majora, membatasi bagian lateral dari OUS dan orificium vaginae. Pada
gadis, akhiran posterior dari labia minora dextra et sinistra akan berhubungan
membentuk Frenulum labia minora atau Fouchete. Ke arah anterior setiap
labium minums terbagi menjadi :
- Bagian atas, berjalan di atas clitoris, saling bertemu membentuk tutup dari
glans clitoridis disebut Preputium clitoridis
- Bagian bawah, berjalan di bawa clitoris dan saling bertemu membentuk
Frenulum clitoridis
d) Clitoridis
Clitoris merupakan organ erektil yang homolog dengan penis pria dan terletak
di bawah commisura labiorum anterior dan anterior OUE. Ujung bebas dari

clitoris disebut Glans Clitoridis, yaitu sebuah terbuculum/penonjolan halus


kecil yang membulat. Clitoris terdiri atas :
- 2 Crura clitoridis : melekat pada rami ossis pubis dan membran perineal
- 2 Corpora cavernosa clitoridis : dibentuk oleh jaringan erektil yang tertutup
oleh lamina yang padat dari membrana fibrosa. Setiap corpus akan
dihubungkan oleh Crus clitoridis
- 1 Corpus Cavernosum glandis yang disebut Gland Clitoridis
e) Vestibulum Vaginae
Vestibulum vaginae merupakan sebuah cavitas/ruangan yang berada di antara
labia minora. Pada vestibulum vaginae terdapat Ostium / orificium urethra
externum (OUE), Orificium vaginae, dan Muara duktus Glandula Vestibularis
Major (Bartholins). Hymen adalah suatu plica tipis dari membrana mukosa
yang terletakpada orificium vaginae. Hymen mempunyai bentuk yang
bermacam macam, antara lain :
- Hymen Anularis
- Hymen Semilunaris
- Hymen Cribiformis
- Hymen Fimbriatus
- Hymen Imperforatus
Apabila hymen telah ruptur, terlihat penonjolan kecil kecil di pinggir vagina
disebut Caruncula hymenalis.
f) Bulbus Vestibuli
Bulbus vestibuli berada pada setiap sisi vestibulum vaginae. Bulbus ini
merupakan 2 perpanjangan massa dari jaringan erektil dengan panjang 3 cm,
yang mana sisi orificium vagina bersatu di depan oleh Commisura Bulborum
(Pars Intermedia) yang sempit. Bulbus ini homolog dengan bulbus penis pria.
g) Glandula Vestibularis Major (Bartholins)

Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Tersusun oleh
2 massa yang kecil membulat yang terletak di kanan-kiri dari orificium vaginae
dan bersinggungan dengan tepi posterior dari massa lateral bulbus vestibuli.
Setiap glandula mempunyai ductus yang akan bermuara tepat di sebelah lateral
pada cekungan di antara 2 labium minus.
VASKULARISASI
ARTERI : cabang - cabang A. pudenda interna :
- A. perinealis
- A. bulbovestibuli
- A. dorsalis clitoridis
- A. profunda femoris
VENA : Plexus Pudendus berlanjut sebagai :

- V. vaginalis
- V. vesicalis inferior
INNERVASI
PARASIMPATIS :
- Nn. Cavernosi clitoridis :
SBN 1 : NILCLMS II-IV
SBN 2: Ggl Pelvica
Fungsi : Ereksi SOMATOSENSORIK : - N. Pudendus
Motorik : SBN 1 : Nucleus Cornu Anterior Medula Spinalis S II-IV
Sensorik : SBN 1 : Ggl Spinale
SBN 2 : Nucleus Cornu Posterior Medula Spinalis S II-IV
B. Fisiologi Organ Reproduksi Wanita
PROSES KEHAMILAN
1. Pembuahan
Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur (ovarium)
yang ditangkap oleh fimbriae tuba uterina dan masuk ke dalam saluran telur. Waktu
koitus, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta-juta sel sperma bergerak
memasuki rongga ragim (cavum uteri) lalu masuk ke saluran telur. Pembuahan ovum
oleh sperma biasanya terjadi di bagian yang menggembung dari tuba fallopii (ampulla
tuba fallopii). Di sekitar ovum, banyak terkumpul sperma yang mengeluarkan ragi
untuk mencairkan zat-zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling
mudah dimasuki (gray crescent), masuklah sel sperma dan kemudian bersatu dengan
ovum. Peristiwa ini disebut pembuahan (konsepsi = fertilisasi).
Ovun yang telah dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak (oleh silia tuba)
menuju rongga rahim, kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya ovum
(konsepsi) dan nidasi (implantasi) hasil konsepsi bersarang di rongga rahim, peristiwa
ini disebut nidasi (implantasi). Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu kirakira 6-7 hari. Untuk mensuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin,
dipersiapkan uri (plasenta). Jadi dapat dikatakan bahwa untuk terjadi kehamilan harus
ada sperma, ovum, pembuahan ovum (konsepsi) dan nidasi (implantasi) hasil
konsepsi .
2. Sel Sperma (Spermatozoon)
Sperma bentuknya seperti kecebong, terdiri atas kepala, berbentuk lonjong agak
gepeng berisi inti (nukleus); leher bagian yang silindrik menghubungkan kepala
dengan ekor; dan ekor, yang dapat bergetar sehingga sperma dapat bergerak dengan
cepat. Panjang ekor kira-kira 10x bagian kepala.

Gambar1. Struktur Spermatozoon

Secara embrional, spermatogonium berasal dari sel-sel primitif tubulus-tubulus testis.


Setelah janin dilahirkan, jumlah spermatogonium yang ada tidak mengalami
perubahan sampai masa pubertas tiba. Pada masa pubertas, spertagonium tersebut
dalam pengaruh sel-sel interstitial Leydig mulai aktif mengadakan mitosis dan
terjadilah proses spermiogenesis yang sangat kompleks. Setiap spermatogonium
membelah dua dan menjadi dua spermatosit sekunder; kemudian spermatosit sekunder
membelah dua lagi dengan hasil dua spermatid yang masing-masing memiliki jumlah
kromosom setengah dari jumlah yang khas untuk jenis itu. Dari spermatid kemudian
tumbuh spermatozoa.
3. Sel Telur (Ovum)
Pertumbuhan embrional ooogonium yang kelak menjadi ovum terjadi di genital ridge
janin,

dan di dalam janin jumlah oogonium bertambah terus sampai pada usia

kehamilan enam bulan. Pada waktu dilahirkan, bayi mempunyai sekurang-kurangnya


750.000 oogonium. Jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikelfolikel. Pada anak berumur 6-15 tahun ditemukan 439.000 oogonium dan pada umur
16-25 tahun hanya 34.000 oogonium. Pada masa menopause semua oogonium
menghilang.
Sebelum janin dilahirkan, sebagian besar oogonium mengalami perubahan-perubahan
pada nukleusnya. Terjadi pula migrasi dari oogonium ke arah korteks ovarium
sehingga pada waktu dilahirkan korteks ovarium terisi dengan folikel ovum
primordial. Pertumbuhan selanjutnya terhenti -oleh sebab yang belum diketahuisampai folikel itu terangsang dan berkembang lagi ke arah kematangan. Sel yang
terhenti dalam profase meiosis dinamakan oosit primer. Oleh rangsangan FSH meiosis
berlangsung terus. Benda kutub (polar body) pertama disisihkan dengan hanya sedikit
sitoplasma, sedangkan oosit sekunder ini berada di dalam sitoplasma yang cukup
banyak. Proses pembelahan ini terjadi sebelum ovulasi; pematangan kedua ovum
terjadi pada waktu spermatozoa membuahi ovum (Prawirohardjo, 2008).

Gambar2. Proses Spermiogenesis dan Oogenesis


4. Pembuahan (Fertilisasi)
Pembuahan adalah peristiwa penyatuan antara sperma (spermatozoa) dengan ovum
(oosit sekunder) di ampulla tuba fallopi. Fertilisasi meliputi penetrasi spermatozoa ke
dalam ovum, fusi spermatozoa, dan ovum, diakhiri dengan fusi materi genetik. Hanya
satu spermatozoa yang telah mengalami proses kapasitasi mampu melakukan penetrasi
membran sel ovum. Untuk mencapai ovum, spermatozoa harus melewati korona
radiata (lapisan di luar ovum) dan zona pelusida (suatu bentuk glikoprotein
ekstraseluler), yaitu dua lapisan yang menutupi dan mencegah ovum mengalami
fertilisasi lebih dari satu spermatozoa. Suatu molekul komplemen khusus di
permukaan kepala spermatozoa kemudian mengikat ZP3 glikoprotein di zona pelusida.
Pengikatan ini memicu akrosom melepaskan enzim yang membantu spermatozoa
menembus zona pelusida. Setelah itu zona pelusida mengalami perubahan sehingga
tidak dapat dilalui oleh
spermatozoa lain. Proses ini diikuti oleh penyatuan kedua pronukleus yang disebut
zigot, yang terdiri atas acuan genetik dari wanita dan pria. Pembuahan mungkin akan
menghasilkan zigot-XX menurunkan bayi perempuan dan zigot-XY menurunkan bayi
laki-laki. Dalam beberapa jam setelah pembuahan, mulailah pembelahan zigot selama
3 hari sampai stadium morula. Hasil konsepsi ini tetap digerakkan ke arah rongga
rahim oleh karena arus dan getaran silia tuba serta kontraksi tuba. Hasil konsepsi tiba
dalam rongga rahim pada tingkat blastula (Mochtar, 1998; Prawirohardjo, 2008).

Gambar3. Proses Pembuahan


5. Nidasi (Implantasi)
Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium.
Blastula diselubungi oleh trofoblas, yang menghancurkan dan mencairkan jaringan.
Ketika blastula mencapai rongga rahim, jaringan endometrium berada dalam masa
sekresi. Jaringan endometrium ini banyak mengandung sel desidua, yaitu sel-sel besar
yang mengandung banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas. Blastula
dengan bagian yang berisi massa sel dalam (inner cell mass) akan mudah masuk ke
dalam desidua, menyebabkan luka kecil yang kemudian sembuh dan menutup lagi.
Itulah sebabnya, kadang-kadang pada saat nidasi terjadi sedikit perdarahan akibat luka
desidua (tanda Hartman). Umumnya nidasi terjadi pada dinding depan atau belakang
rahim (korpus) dekat fundus uteri.
Bila nidasi telah terjadi, dimulailah diferensiasi sel-sel blastula. Sel-sel lebih kecil
yang terletak dekat ruang exocoeloma membentuk entoderm dan yolk sac, sedangkan
sel-sel yang lebih besar menjadi entoderm dan membentuk ruang amnion. Maka
terbentuklah lempeng embrional (embryonal plate) di antara amnion dan yolk sac.
Sel-sel trofoblas mesodermal yang tumbuh di sekitar mudigah (embrio) akan melapisi
bagian dalam trofoblas. Maka terbentuklah sekat korionik (chorionic membrane) yang
kelak menjadi korion. Sel-sel trofoblas tumbuh menjadi dua lapisan, yaitu
sitotrofoblas (lapisan dalam) dan sinsititrofoblas (lapisan luar). Vili korialis yang
berhubungan dengan desidua basalis tumbuh bercabang-cabang dan disebut korion
frondusum. Sedangkan yang berhubungan dengan desidua kapsularis kurang

mendapat makanan sehingga akhirnya menghilang, disebut chorion leave. Dalam


peringkat nidasi trofoblas dihasilkan hormon human chorionic gonadotropin (HGC) .
6. Plasentasi
Plasentasi adalah proses pembentukan struktur dan jenis plasenta. Pada manusia
plasentasi berlangsung sampai 12-18 minggu setelah fertilisasi. Dalam 2 minggu
pertama perkembangan hasil konsepsi, trofoblas invasif telah melakukan penetrasi ke
pembuluh darah endometrium. Terbentuklah sinus intertrofoblastik yaitu ruanganruangan yang berisi darah maternal dari pembuluh-pembuluh darah yang dihancurkan.
Pertumbuhan ini berjalan terus, sehingga timbul ruangan interviler di mana vili
korialis seolah-olah terapung-apung di antara ruangan-ruangan tersebut sampai
terbentuknya plasenta.
Tiga minggu pascafertilisasi sirkulasi darah janin dini dapat diidentifikasi dan dimulai
pembentukan vili korialis. Sirkulasi darah janin ini berakhir di lengkung kapilar
(capilary loops) di dalam vili korialis yang ruang intervilinya dipenuhi dengan darah
maternal yang dipasok oleh arteri spiralis dan dikeluarkan melalui vena uterina. Vili
korialis ini akan bertumbuh menjadi suatu massa jaringan yaitu plasenta
(Prawirohardjo, 2008).
SIKLUS MENSTRUASI
Siklus menstruasi dapat ditinjau dari uterus maupun ovarium. Siklus uterus berupa
pertumbuhan dan pengelupasan bagian dalam uterus -endometrium. Pada akhir fase
menstruasi endometrium mulai tumbuh kembali dan memasuki fase proliferasi. Pasca
ovulasi, pertumbuhan endometrium berhenti sesaat dan kelenjar endometrium menjadi
lebih aktif fase sekresi.
Perubahan endometrium dikendalikan oleh siklus yang terjadi dalam ovarium. Lama
siklus haid rata-rata adalah 28 hari dan terdiri dari :
Fase folikuler
Ovulasi
Fase luteal (pasca ovulasi)
Bila siklus menjadi panjang, fase folikuler yang akan menjadi panjang dan fase
luteal akan tetap konstan berlangsung selama 14 hari.
Agar siklus haid berlangsung secara normal diperlukan :
1.

Poros hipotalamus-hipofisis-ovarium yang baik

2.

Didalam ovarium terdapat folikel yang responsif

3.

Fungsi uterus berlangsung secara normal

Pengendalian maturasi folikel dan proses ovulasi dilakukan oleh poros hipotalamushipofisis-ovarium. Hipotalamus mengendalikan siklus haid, namun organ ini sendiri

dapat pula dipengaruhi oleh pusat otak yang lebih tinggi, sehingga faktor kecemasan
ataupun gangguan kejiwaan lain dapat mengganggu pola haid yang normal.
Hipotalamus mempengaruhi hipofisis melalui pengeluaran GnRH-Gonadotropin
Releasing Hormon. GnRH melalui sistem sirkulasi portal menuju hipofisis anterior
dan menyebabkan gonadotrof hipofisis melakukan sintesa dan pelepasan FSHfoliclle stimulating hormonedan LH-Luteinizing hormone.
FSH akan menyebabkan proses maturasi folikel selama fase folikuler dan LH
berperan

dalam

proses

ovulasi

serta

produksi

progesteron

oleh

corpus

luteum. Aktivitas siklis dalam ovarium berlangsung melalui mekanisme umpan balik
diantara ovarium , hipotalamus dan hipofisis.
SIKLUS OVARIUM

Gambar 4. Siklus ovarium


1. Fase folikuler : hari ke 1 10
Pada awal siklus, kadar FSH dan LH relatif tinggi dan hormon ini akan
merangsang pertumbuhan 10 20 folikel namun hanya 1 folikel yang dominan yang
13relatif
menjadi matang dan sisanya akan mengalami atresia. Kadar FSH dan LH yang
tinggi dipicu oleh penurunan kadar estrogen dan progesteron pada akhir fase
sebelumnya. Selama dan segera setelah haid, kadar estrogen relatif rendah namun
dengan pertumbuhan folikel kadarnya akan segera meningkat.
2. Hari ke 10 14
Dengan bertambahnya ukuran folikel, terjadi akumulasi cairan diantara sel
granulosa dan menyebabkan terbentuknya anthrum, sehingga folikel primer berubah
bentuk menjadi folikel dgraaf, disini oosit menempati posisi excenteric dan dikelilingi
oleh 2 3 lapisan sel granulosa dan disebut sebagai cumulus oophorus.

Dengan semakin matangnya folikel, kadar estrogen menjadi semakin bertambah


(terutama dari jenis estradiol) dan mencapai puncaknya 18 jam sebelum ovulasi.
Dengan semakin meningkatnya kadar estrogen, produksi FSH dan LH menurun
( umpan balik negatif ) untuk mencegah hiperstimulasi ovarium dan maturasi folikel
lainnya.
3. Ovulasi : Hari ke 14
Ovulasi terjadi dengan pembesaran folikel yang cepat dan diikuti protrusi
permukaan kortek ovarium dan pecahnya folikel menyebabkan keluarnya oosit dan
cumulus oophorus yang melekat dengannya. Pada sejumlah wanita kadang-kadang
proses ovulasi ini menimbulkan rasa sakit sekitar fossa iliaka yang dikenal dengan
nama mittelschmerz .
Peningkatan kadar estradiol pada akhir mid-cycle diperkirakan akibat LH surge dan
penurunan kadar FSH akan menyebabkan

peristiwaumpan balik positif. Sesaat

sebelum ovulasi terjadi penurunan kadar estradiol secara tiba-tiba dan peningkatan
produksi progesteron.
4. Fase Luteal : Hari 15 - 28
Sisa folikel yang telah ruptur berada didalam ovarium. Sel granulosa
mengalamiluteinisasi dan membentuk corpus luteum. Corpus luteum merupakan
14
sumber utama dari hormon steroid seksual, estrogen dan progesteron yang dikeluarkan
oleh ovarium pada fase pasca ovulasi (fase luteal)
Terbentuknya corpus luteum akan menyebabkan sekresi progesteron terus
meningkat dan terjadi pula kenaikan kadar estradiol berikutnya.

Gambar 5. Hormon yang berperngaruh pada adik-adik


Selama fase luteal, kadar gonadotropin tetap rendah sampai terjadi regresi corpus
luteum pada hari ke 26 28. Bila terjadi konsepsi dan implantasi, corpus luteum tidak

akanmengalami regresi oleh karena keberadaanya dipertahankan oleh gonadotropin


yang diproduksi oleh trofoblas. Namun, bila tidak terjadi konsepsi dan implantasi,
corpus luteum akan mengalami regresi dan siklus haid akan mulai berlangsung
kembali. Akibat penurunan kadar hormon steroid, terjadi peningkatan kadar
gonadotropin dan siklus haid akan berlangsung kembali.
SIKLUS ENDOMETRIUM
Endometrium memberikan respon secara khas terhadap progestin, androgen dan
estrogen. Inilah sebabnya mengapa endometrium dapat mengalami proses haid dan
memungkinkan terjadinya proses implantasi hasil konsepsi saat terjadi proses
kehamilan. Secara fungsional, endometrium dibagi menjadi 2 zona :
Bagian luar ( stratum fungsionalis ) yang mengalami perubahan morfologik

dan fungsional secara siklis


Bagian dalam ( stratum basalis ) yang secara relatif tidak mengalami
perubahan

dan

berperan

penting

dalam

proses

penggantian

sel

endometrium yang terkelupas saat haid. Arteri basalis berada dalam stratum
basalis dan arteri spiralis khususnya terbentuk dalam stratum fungsionalis.
Perubahan siklis endometrium secara histofisiologi dibagia menjadi 3 stadium: fase
menstruasi, fase proliferasi (estrogenik) dan fase sekresi (ogestasional).
1. Fase mentruasi:
a. Berlangsung selama 1-4 hari
b. Stratum fungsional hancur dan hanya tersisa stratum basal
c. Dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron
2. Fase proliferasi
a. Berlangsung 5-14 hari
b. Stratum basal berproliferasi dan proliferasi sel-selnya terdapat pada lamina
propia
c. Dipengaruhi oleh hormon estrogen
d. Menghasilkan stratum fungsional yang utuh
3. Fase sekresi
a. Berlangsung 15-28 hari
b. Dipengaruhi oleh hormon progesteron
c. Pada fase ini dihasilkan sekret, tuba uterina menjadi berkelok-kelok, lamina
propia oedem dan endometrium menebal kembali
LENDIR SERVIK
Pada wanita terdapat hubungan langsung antara traktus genitalis bagian bawah dengan
cavum peritoneal. Hubungan langsung ini memungkinkan spermatosoa mencapai
ovum, meskipun ferttilisasi umumnya terjadi di dalam tuba falopii. Hubungan
langsung ini pula yang memudahkan wanita mengalami infeksi genitalia interna.
Namun keberadaan lendir servik dapat mencegah hal itu terjadi.

Pada fase folikuler dini, konsistensi lendir servik kental dan impermeable ( seperti
putih telur ). Pada fase folikuler lanjut, meningkatnya kadar estrogen menyebabkan
lendir yang menjadi lebih encer dan relatif semipermeabel dan relatif mudah
ditembus oleh spermatozoa. Perubahan lendiri servik yang menjadi lebih encer ini
disebut sebagai spinnbarkheit. Pasca ovulasi, progesteron yang dihasilkan corpus
luteum menetralisir efek estrogen sehingga lendir servik menjadi kental kembali dan
impermeabel.
2. Gambaran USG
Pemeriksaan USG trimester pertama ditujukan untuk menentukan lokasi kehamilan dan
tanda-tanda kehidupan janin. Selain itu dipakai puia untuk menentukan Kehamilan
Trimester.
Jadi indikasi utama pemeriksaan USG trimester pertama adalah untuk mendiagnosa letak
buah kehamilan, menilai komplikasi kehamilan dini, mendeteksi kehidupan janin, dan
menentukan lokasi IUD pada kehamilan muda.
Persiapan yang harus diperhatikan sebelum melakukan pemeriksaan USG adalah kandung
kencing cukup terisi sebagai acoustic indow agar bayangan artefak didepan rahim dapat
diminimalisir sehingga gambaran rahim akan dinilai menjadi baik. Selain itu dapat pula
mendorong usus keluar rongga pelvis minor sehingga tidak menutupi lahir dan organ
sekitar.
Pemeriksaan USG bisa dilakukan dengan 2 cara: transvaginal dan abdominal
Pada kehamilan 5-6 minggu, biasanya gambaran yang didapatkan adalah kantung
kehamilan berupa cincin di daerah fundus uteri (puncak rahim). Dengan menggunakan
probe transvaginal, gambaran cincin ini akan semakin jelas. Pada kehamilan 7-8 minggu,

ukuran kantung kehamilan berkisar 22 mm. Dengan probe abdominal, kantung kehamilan
sudah dapat diidentifikasi. Biasanya fetal pole (bakal janin) sudah dapat diidentifikasi
bersama dengan pulsasi bakal jantung. Pada kehamilan 9 minggu, janin tampak sebagai
dua kutub,dimana kepala dan ekstremitas sudah dapat diidentifikasi. Setelah 11 minggu
kehamilan, kepala janin menunjukkan gambaran gars tengah dengan gema yang kuat, yang
merupakan suatu interhemisfer (batas otak kanan dan kiri). Sampai usia kehamilan 13
minggu, usia janin dapat dinilai dengan mengukur CRL (crown rump length, panjang dari
puncak kepala sampai ulang ekor). Setelah 14 minggu atau lebih, diameter terpanjang
antara tulang-tulang tengkorak yang tegak lurus dengan garis tengah fisura interhemisfer
dipakai untuk menentukan usia kehamilan. Pemeriksaan USG pada trimester 2 dan 3 lebih
difokuskan unuk mengidentifikasi perkembangan struktur janin secara lebih jelas dan
bervariasi.
Kantong gestasi dapat dilihat setelah usia 4-5 minggu sejak menstruasi terakhir. Setelah 6
minggu, denyut jantung seharusnya sudah dapat terdeteksi. Pada 8 minggu, usia gestasi
cukup akurat. Pada 12 minggu, tiap milimeter panjang kepala-bokong merefleksi
penambahan usia gestasi 4 hari.
Memperhitungkan berat janin lewat USG. Terdapat banyak sekali metode untuk
menghitung berdasarkan 1 atau lebih ukuran dasar seperti yang digambarkan oleh tabel
berikut :

BPD (Biparietal diameter): ukuran tulang pelipis kiri dan kanan. Digunakan untuk

mengukur janin di trimester dua atau tiga.


HC (Head Circumference): lingkaran kepala. Digunakan untuk mengukur usia kehamilan di

trimester dua atau tiga.


AC (Abdominal Circumference): ukuran lingkaran perut bayi. Biasanya pengukurannya
disatukan dengan pengukuran BPD dan akan menghasilkan perkiraan berat bayi. Digunakan

untuk mengukur kehamilan di trimester dua atau tiga.


FL (Femur Length): ukuran panjang tulang paha bayi. Digunakan untuk mengukur
kehamilan di trimester dua atau tiga.
3. Differential diagnosis dan tata laksana
Missed abortion
a. Mola Hidatidosa

Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar di mana
ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa
degenerasi hidropik. Secara makroskopis, mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa
gelembung-gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran
bervariasi dari beberapa milimeter sampai 1 atau 2 cm. Gejala mola hidatidosa berupa
perdarahan per vaginam berulang-ulang dan darah cenderung berwarna coklat (gejala
utama), amenore, mual, muntah dan pusing yang lebih hebat dari kehamilan biasa.
Gejala perdarahan

biasanya terjadi antara bulan pertama sampai bulan ke tujuh

dengan rata-rata 12-14 minggu. Sering juga ditemukan anemia pada penderita akibat
perdarahan tersebut (Prawirohardjo, 2008). Tanda mola hidatidosa bisa berupa adanya
pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan, tidak terabanya bagian janin pada
palpasi dan tidak terdengarnya denyut jantung janin sekalipun uterus sudah membesar
setinggi pusar atau lebih, pre-eklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum
kehamilan 24 minggu.Adanya mola hidatidosa ahrus dicurigai bila ada perempuan
dengan amenore, perdarahan per vaginam, uterus lebih besar dari usia kehamilannya
dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti seperti ballotement dan denyut jantung
janin. Diagnosis pasti mola hodatidosa apabila ditemukan atau keluarnya gelembung
mola (Prawirohardjo, 2008).
b. Abortus
Abortus adalah penghentian kehamilan baik secara disengaja ataupun tidak disengaja
sebelum fetus berusia 20 minggu dengan berat kurang dari 500 gram. Ada beberapa
macam abortus, antara lain sebagai berikut :
1) Abortus spontanus atau yang sering disebut dengan miscarriage (keguguran)
adalah aborsi yang terjadi tanpa disengaja/tanpa tujuan tertentu. Keberhasilan
kehamilan sangat bergantung pada berbagai macam aspek seperti genetik,
hormonal, imun, dan juga sel itu sendiri. Semua aspek tersebut berperan dalam
proses fertilisasi, implantasi, dan juga perkembangan embrio. Tidak mengherankan
apabila, faktor tersering terjadinya keguguran adalah karena beberapa faktor
parental dan embrionik. Faktor embrionik yang berperan pada terjadinya abortus
spontanus seringkali disebabkan karena sel induk abnormal, abnormalitas/kelainan
kromosom, defek implantasi, defek pada perkembangan embrio atau plasenta,
trauma, oksidan

(rokok, alkohol, radiasi dan toksin), gangguan endokrin

(hipotiroidisme, diabetes mellitus).

Sekitar 60% faktor terjadinya abortus

spontanus adalah abnormalitas kromosom, yaitu aneuploid. Jacob dan Hassold


(1980) menjelaskan bahwa sekitar 95% abnormalitas kromosom terjadi oleh karena
kesalahan gamtogenesis maternal dan 5% oleh paternal.

2) Abortus terapeutik, terjadi karena adanya indikasi medis yang mengharuskan


kehamilan tersebut digagalkan misalnya pada wanita dengan penyakit jantung.
3) Abortus provokatus adalah penghilangan fetus secara disengaja bukan karena
indikasi medis. Penyebab tersering terjadinya abortus ini adalah karena kehamilan
yang tidak diinginkan.
4) Abortus imminens atau threatened miscarriage ditandai dengan terjadinya
perdarahan pervaginam yang terjadi selama trimester pertama. Sebanyak sekitar
25% wanita mengalami hal ini. Pada pemeriksaan pelvis, serviks (ositium uteri)
masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. Diagnosis
bandingnya adalah kehamilan ektopik (should always be the first differential
diagnosis), molar pregnancy, vaginal ulcerations, cervicitis dengan perdarahan,
erosi cervical, polips, dan karsinoma. Dapat diduga fetus berisiko tinggi lahir
prematur, BBLR, maupun kematian perinatal. Namun hal terpenting yang patut
digarisbawahi adalah hal ini tidak berisiko bayi lahir cacat.
Tidak ada terapi efektif untuk aborsi imminens. Istirahat yang cukup (bedrest).
Selain itu, observasi harus tetap dilanjutkan apabila masih terjadi perdarahan dan
kontraksi uterus, serviks masih tertutup, level hCG meningkat secara normal, dan
fetus/embrio masih dalam kondisi baik dibuktikan dengan sonogram. Apabila
perdarahan dan kontraksi mengalami peningkatan secara progresif, prognosis bisa
menjadi memburuk. Prognosis buruk juga dapat terjadi apabila disertai dengan
penurunan level hCG dan fetus/embrio mengalami penyusutan ukuran dilihat dari
bukti ultrasonographic, denyut jantung melemah, dan uterus tidak mengalami
penambahan ukuran pada pemeriksaan palpasi.
5) Abortus insipiens (inevitable miscarriage) adalah peristiwa terjadinya perdarahan
dari uterus yang ditandai dengan perdarahan pervaginam, dengan kontraksi uterus
makin lama makin kuat makin sering, serviks terbuka.
Penatalaksanaan
Prinsip: hasil konsepsi dikeluarkan.
Pasien: dipondokkan, uterus dikosongkan dengan infus oksitosin 5-10 unit
dalam 500 ml RD 5%.
Bila hasil pengeluaran konsepsi tidak lengkap, lakukan kuretase untuk
mengangkat sisa-sisa konsepsi.
Beri antibiotil setelah kuretase.
6) Abortus inkomplit adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih adanya sisa tertinggal dalam uterus.
Ditandai dengan perdarahan yang banyak, disertai kontraksi, serviks terbuka,
sebagian jaringan keluar.
Penatalaksanaan

Kuretase terencana, atau jika perdarahan banyak, kuret emergensi sambil


perbaiki keadaan umum.
Berikan uterotonika setelah kuretase.
Antibiotik diberikan setelah kuretase.
7) Abortus kompletus adalah terjadinya pengeluaran lengkap seluruh jaringan
konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Ditandai dengan adanya perdarahan
pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks sudah menutup, ada keluar jaringan,
tidak ada sisa dalam uterus. Diagnosis ditegakkan bila jaringan yang keluar juga
diperiksa kelengkapannya.
Penatalaksanaan
Tidak ada terapi spesifik, kontrol 1 minggu kemudian.
Jika didiagnosis sudah pasti, berikan metilergometrin per oral 3x0,2 mg selama
3 hari
8) Abortus septik adalah Sepsis akibat tindakan abortus yang terinfeksi (misalnya
dilakukan oleh dukun atau awam). Bahaya terbesar adalah kematian ibu. Infeksi
dapat berasal dari faktor endogen flora vaginal, termasuk Escherichia coli and
other aerobic, enteric, gram-negative rods, group B-hemolytic streptococci,
anaerobic streptococci, Bacteroides species, staphylococci, dan microaerophilic
backeria.
Penatalaksanaan
Terapi suportif : infus dan transfus
Antibiotik : tahap pertama (Penisilin 4x1,2 juta unit atau Ampisilin 4x1 gram
ditambah Gentamisin 2x80 mg dan Metronidazol 2x1 gram). Selanjutnya
antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur.
Kuretase dilakukan setelah suhu tubuh normal, namun jika dalam 7 hari suhu
tubuh tidak turun, kuretase tetap dilakukan untuk menghilangkan sumber
infeksi.
9) Missed abortion/missed miscarriage adalah meninggalnya fetus dalam rahim. Pada
awal kehamilan masih normal (amenorrhea, mual, muntah, perubahan payudara,
dan perkembangan uterus. Namum setelah beberapa minggu, ukuran uterus tidak
mengalami pertambahan dan makin lama mengecil. Banyak wanita yang bahkan
tidak menyadarinya. Penanganannya adalah dengan mengeluarkan hasil konsepsi.
Penatalaksanaan
Periksa kadar Hb, hematokrit, angka leukosit, Blood time, dan fibrinogen.
Jika hasil normal, bisa dilakukan dilatasi dan kuretase (dengan laminaria 12
jam jika usia kehamilan kurang dari 12 minggu, atau dengan drip oksitoksin
jika usia lebih dari 12 minggu).
Jika hasil tidak normal:
- Transfusi darah segar sampai fibrinogen > 200 mg%.
- Infus fibrinogen 4 gram iv.

- Diberikan heparin 15.000-20.000 unit.


- Dilatasi dan kuretase, setelah usaha-usaha di atas dilakukan.
c. Anemia
Penyebab tersering anemia pada kehamilan adalah defisiensi zat-zat nutrisi. Seringkali
defisiensinya bersifat multiple dengan manifestasi klinik yang disertai infeksi, gizi
buruk, dan kelainan herediter. Penyebab dasar anemia nutrisional meliputi asupan yang
tidak cukup, absorbs yang tidak adekuat, bertambahnya zat gizi yang hilang,
kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoietik. 75% anemia
dalam kehamilan disebabkan oleh anemia defisiensi besi dengan gambaran eritrosit
mikrositik hipokromik.
Penyebab tersering kedua adalah anemia megaloblastik yang dapat disebabkan oleh
defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12.
a) Anemia defisiensi besi
Ditandai dengan penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi
transferrin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang
menurun,
WHO menganjurkan untuk diberikan suplementasi besi 60mg gram selama 6
bulan untuk memenuhi kebutuha setiap hari selama 16 minggu atau lebih pada masa
kehamilan.
b) Anemia defisiensi asam folat
Gejala defisiensi asam folat sama dengan anemia lain secara umum ditambah
kulit yang kasar dan glositis. Pada pemeriksaan apusan darah tampak makrositik
normokromik.
Penatalaksanaan defisiensi asam folat adalah pemberian folat secara oral
sebanyak 1 sampai 5 mg per hari. Pada dosis 1 mg, anemia umumnya dapat
dikoreksi meskipun pasien mengalami pula malabsorbsi.
d. Kehamilan Ektopik Terganggu
e. KET adalah kehamilan yang terjadi karenan implantasi janin di luar endometrium
normal, dan sudah mengalami gangguan. Penyebabnya bisa karena gangguan pada
lumen tuba maupun diluar lumen tuba.
Dengan terjadinya kehamilan di lumen tuba, menyebabkan :
Hasil konsepsi mati dini karena tidak dapat berkembang
Abortus
Tuba fallopi pecah
KET memiliki 3 gejala khas yang sering disebut Trias Ektopik :
Amenerhoe : dapat terjadi beberapa hari beberapa bulan, mirip pada ibu
hamil muda.
Nyeri abdomen
Perdarahan
Tatalaksana KET :
Metotrexat

Obat yang biasa digunakan untuk rheumathroid arthritis ini dapat


digunakan pada kondisi Kehamilan Ektopik, karena efeknya yang

menghentikan pertumbuhan pada janin.


Operasi
Jika KET telah menyebabkan perdarahan atau kadar HcG yang tinggi,
tindakan yang harus dilakukan adalah operasi, karena pengobatan
sepertinya tidak memberikan efek, dan rupturnya hanya tinggal menunggu
waktu.

f. Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan selama masa hamil
karena intensitasnya melebihi muntah normal dan berlangsung selama kehamilan
trimester pertama.
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil
hingga mengganggu aktivitas. Batasan mual dikatakan lebih dari 10 kali muntah
dengan penurunan keadaan umum ibu.
Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah pada ibu hamil trimester
pertama yang terjadi setiap saat.
Penyebab hiperemesis gravidarum belum pasti, diduga karena faktor hormonal,
neurologis, metabolik, psikologis, keracunan, faktor endokrin, paritas, riwayat
kehamilan mola dan kembar.
Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum yaitu peningkatan kadar esterogen dapat
menyebabkan mual pada trimester pertama. Apabila mual muntah terjadi terus
menerus dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat, dan lemak habis terpakai untuk
keperluan energi. Sehingga oksidasi lemak tidak sempurna, dan terjadi ketosis dengan
tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida dan aseton darah.
Mual dapat menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Dehidrasi juga menyebabkan
hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan
jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang.
Selain terjadi dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, terjadi pula robekan
pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma molarry-weiss) yang berakibat
perdarahan gastrointestinal
Hiperemesis gravidarum terbagi menjadi tiga (3) tingkatan, yaitu
a. Hiperemesis gravidarum tingkat I

Hiperemesis gravidarum tingkat I mempunyai gejala seperti: lemah, nafsu makan


menurun; berat badan menurun; nyeri epigastrium; penurunan tekanan darah
sistolik; lidah kering; turgor kulit kurang; dan mata cekung.
b. Hiperemesis gravidarum tingkat II
Hiperemesis gravidarum tingkat II mempunyai gejala seperti: mual muntah hebat;
keadaan umum lemah; apatis; nadi cepat dan kecil; lidah kering dan kotor; suhu
badan meningkat (dehidrasi); mata cekung dan ikterik ringan; oliguria dan
konstipasi; nafas bau aseton dan aseton dalam urin.
c. Hiperemesis gravidarum tingkat III
Hiperemesis gravidarum tingkat III mempunyai gejala seperti: keadaan umum
jelek; mual muntah berhenti; kesadaran menurun (somnolen hingga koma); nadi
kecil, cepat dan halus; suhu badan meningkat; dehidrasi hebat; tekanan darah turun
sekali; ikterus dan terjadi komplikasi fatal ensefalopati Wernicke (nistagmus,
diplopia, perubahan mental).
Tatalaksana
Untuk hiperemesis berat pasien dianjurkan dirawat di rumah sakit dan membatasi

pengunjung
Stop makanan per oral 24-48 jam
Infus glukosa 5% atau 10%
Obat
Vitamin B1, B2, dan B6 masing-masing 50-100 mg/hari/infus
Vitamin B12 200 mg/hari/infus, vitamin C 200 mg/hari/infus
Fenobarbital 30 mg I.M. 2-3 kali perhari atau klorpromazin 25-50 mg/hari

I.Mm atau kalau diperlukan diazepam 5 mg 2-3 kali perhari I.M.


Antiemetik: prometazin 25 mg 2-3 kali perhari peroral atau klorperazin 3

mg 3 kali perhari atau mediamer B6 3 kali 1 peroral


Antasida: Asidrin, milanta, atau magnam dosis 3 x 1 tablet per hari
Diet sebaiknya minta rekomendasi ahli gizi
Rehidrasi dan suplemen vitamin

4. Tatalaksana terhadap KU pasien


Istirahat total (bed rest) 2-3 hari bebas perdarahan.
Spasmolitika: papaverin 3x40 mg/hari (sampai tidak mules), fungsinya untuk

meredakan kontraksi rahim.


Sedatif: Luminal 2x30 mg/hari (sampai 2-3 hari bebas perdarahan).
Terapi suportif: vitamin, koreksi anemia.
Hindari koitus selama perdarahan sampai 2 minggu setelah perdarahan berhenti
karena sperma mengandung prostaglandin yang akan membuat kontraksi rahim
sehingga mulut rahim terbuka dan akhirnya memicu abortus.

5. Macam-macam gangguan menstruasi


a. Gangguan dalam jumlah darah

Hipermenorea
Darah banyak keluar saat menstruasi
Jumlah napkin lebih dari 5 buah/hari

Hipomenorea
Jumlah darah yang keluar sedikit tidak seperti pada normalnya
Jumlah napkin kurang dari 3 buah/hari

b. Kelainan siklus haid


Polimenorae

: siklus krang dari 20 hari

Oligomenorae

: siklus di atas 35 hari

Amenorae

: terlambat menstruasi 3 bulan berturut-turut

Metroragia

: perdarahan di luar siklus menstruasi

c. Gangguan lain
Premenstrual tension :karena gangguan keseimbangan estrogen dan progesterone
Mittelschmerz

:rasa nyeri saat ovulasi

Mastalgia

:rasa berat dan bengkak pada payudara menjelang menstruasi

6. Terapi hormonal
a. Progestogen
Progestogen merupakan substansi yangmemiliki aktivitas progestasional atau
memiliki efek progesteron, diresepkan pada13-40% wanita dengan abortus
imminens.Progesteron merupakan produk utama korpusluteum dan berperan penting
pada persiapan uterus untuk implantasi, mempertahankan serta memelihara
kehamilan. Sekresi progesteron yang tidak adekuat padaawal kehamilan diduga
sebagai salah satu penyebab keguguran sehingga suplementasi progesteron sebagai
terapi abortus imminens diduga dapat mencegah keguguran, karena fungsinya yang
diharapkan dapat menyokong defisiensi korpus luteum gravidarum dan membuat
uterus relaksasi. Sebagian besar ahli tidak setuju namun mereka yang setuju
menyatakan bahwa harus ditentukan dahuluadanya kekurangan hormon progesteron.
Salah satu preparat progestogen adalahdydrogesterone, Meskipun tidak ada
bukti kuat tentangmanfaatnya namun progestogen disebutkandapat menurunkan
kontraksi uterus lebih cepat daripada tirah baring, terlepasdari kemungkinan bahwa
pemakaiannyapada abortus imminens mungkin dapatmenyebabkan missed abortion,
progestogenpada penatalaksanaan abortus imminenstidak terbukti memicu timbulnya
hipertensikehamilan atau perdarahan antepartum yangmerupakan efek berbahaya bagi
ibu. Selain itu,penggunaan progestogen juga tidak terbuktimenimbulkan kelainan

kongenital. Sebaiknya dilakukan penelitian dengan jumlah lebihbesar untuk


memperkuat kesimpulan.
b.

hCG (human chorionic gonadotropin)


hCG diproduksi plasenta dan diketahuibermanfaat dalam mempertahankan
kehamilan.Karena

itu,

hCG

digunakan

padaabortus

imminens

untuk

mempertahankankehamilan. Namun, hasil tiga penelitianyang melibatkan 312


partisipan menyatakantidak ada cukup bukti tentang efektivitaspenggunaan hCG pada
abortus imminensuntuk mempertahankan kehamilan. Meskipuntidak terdapat laporan
efek sampingpenggunaan hCG pada ibu dan bayi, diperlukanpenelitian lanjutan yang
lebih berkualitastentang pengaruh hCG pada keguguran.
c. Relaksan otot uterus
Buphenine

hydrochloride merupakanvasodilator

yang

juga

digunakan

sebagairelaksan otot uterus, pada penelitianRCT menunjukkan hasil yang lebih


baikdibandingkan penggunaan plasebo, namunmetode penelitian ini tidak jelas, dan
tidak adapenelitian lain yang mendukung pemberiantokolisis pada awal terjadinya
abortusimminens.1 Cochrane Library menyebutkan tidak ada cukup bukti yang
menunjukkanefektivitas penggunaan relaksan otot uterusdalam mencegah abortus
imminens.
d. Profi laksis Rh (rhesus)
Konsensus

menyarankan

pemberianimunoglobulin

anti-D

pada

kasus

perdarahansetelah 12 minggu kehamilan atau kasusdengan perdarahan gejala berat


mendekati 12 minggu.
7. Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah sesuatu hal yang dilakukan untuk menghindari kehamilan saat
melakukan hubungan seks.
Kontrasepsi terdiri dari 3 metode, yaitu:
A. Menghambat transport sperma ke ovum
Kontrasepsi alami/metode irama, merupakan kontrol kehamilan mengandalkan
abstinensi (tidak melakukan hubungan) saat masa subur wanita. Caranya
dengan mencatat suhu tubuh saat bangun pagi. Suhu tubuh akan meningkat
sekitar 1 hari setelah ovulasi. Pencatatan ini bermanfaat untuk menentukan

kapan waktu yang aman untuk kembali melakukan hubungan seksual.


Koitus interuptus, yaitu pengeluaran penis dari vagina sebelum ejakulasi.

Kontrasepsi kimiawi, merupakan kontrasepsi yang menggunakan bahan kimia

seperti gel, busa, krim, supositoria spermisida.


Metode sawar, yaitu mencegah sperma masuk ke tuba uterine. Pada pria
menggunakan kondon yang dipasang pada

penis. Sedangkan pada wanita

biasanya menggunakan diafragma yang dimasukkan melalui saluran vagina,


diletakkan di atas serviks untuk menghambat masuknya sperma ke kanalis
cerikalis. Biasanya diafragma juga digunakan pada spermisida. Untuk saat ini
biasa digunakan cervical cap, yaitu diafragma lebih kecil yang dikombinasikan
dengan spermisida.
Sterlisasi, dilakukan dengan vasektomi pada pria atau ligasi pada wanita.
B. Mencegah ovulasi
Kontrasepsi oral (pil KB), menekan sekresi gonadotropin. Pil KB mengandung
steroid sintetik mirip estrogen dan mirip progesteron. Kontrasepsi ini diminum
selama 3 minggu, dihentikan selama 1 minggu.
Seperti steroid alami yang diproduksi selama siklus ovarium, yaitu
menghambat GnRH dan sekresi FSH dan LH. Akibatnya pematangan folikel
dan ovulasi tidak terjadi.
Endometrium berespons terhadap pemberian steroid eksogen dengan menebal
ketika steroid dihentikan, setelah 3 minggu, lapisan dalam terlepas dan terjadi
haid. Pil KB juga meningkatkan kekentalan mukus cervics, sehingga penetrasi
sperma menjadi lebih lama.
Kontrasespsi oral juga dapat menurunkan kontraksi otot di saluran reproduksi

wanita sehingga menghambat transport sperma ke tuba uterina.


Implantasi jangka panjang subkutis, merupakan kapsul yang berisi hormone

yang bertahap mengeluarkan hormon dengan kecepatan tetap.


C. Menghambat implantasi
IUD (Intrauterine Device), merupakan kontrasepsi dalam rahim.
Morning after pill/kontrasepsi darurat, yaitu kontrasepsi yang menekan
ovulasi/menyebabkan

degenerasi

korpus

luteum,

sehingga

mencegah

implantasi ovum yang dibuahi dengan mengehentikan hormon untuk


mendukung pertumbuhan endometrium. Biasanya digunakan pada keadaan
darurat seperti kondom bocor, perkosaan.

BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil pemeriksaan fisik di skenario, dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut
sedang hamil 12 minggu. Dengan tanda-tanda seperti fundus uteri teraba 1 cm di atas simfisis,
tampak portio livid, dan uterus sebesar telur angsa. Tidak ditemukan nyeri pada pemeriksaan juga
menyingkirkan kemungkinan lain seperti keganasan dan kehamilan ektopik. Namun juga
ditemukan tanda-tanda seperti keluar darah pervagina sedikit-sedikit, lemah OUE tertutup, sarung
tangan lendir darah (+) pada VT, dimana tanda-tanda tersebut menjurus ke abortus imminens.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan kepada pasien untuk sementara ini adalah menangani
keadaan umum pasien.

BAB IV
SARAN
A. Saran untuk kelompok A8
- Diharapkan masing-masing mahasiswa dapat lebih aktif dalam diskusi, dan dapat
-

saling berbagi ilmu antara satu dengan yang lain.


Untuk kedepannya, semua anggota diharapkan dapat lebih menghargai pendapat antara
satu dengan yang lainnya agar diskusi berjalan dengan lebih kondusif dan

mendahulukan anggota yang belum memberikan pendapatnya.


Diharapkan semua anggota kelompok mampu memahami learning objectives yang
harus dicapai, sehingga tujuan pembelajaran yang terkandung pada skenario dapat

tercapai.
Durasi dalam setiap pertemuan tutorial mungkin dapat diatur agar lebih memadai
untuk setiap jumpnya.

B. Saran untuk tutor


- Tutor sudah dapat mengarahkan hal hal penting yang perlu didiskusikan oleh
mahasiswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Diharapkan tutor juga bisa
mendorong partisipasi mahasiswa agar lebih aktif dalam menyampaikan pendapatnya.
C. Saran Untuk KBK
- Sebagai pembuat skenario, KBK sudah berusaha membuat scenario semenarik
mungkin sehingga mendorong mahasiswa untuk megupas lebih dalam mengenai
permasalahan yang disajikan. Kedepannya diharapkan KBK mampu mempertahankan
dan membuat inovasi-inovasi menarik pada scenario sehingga mahasiswa terdorong
untuk mampu mencapai tujuan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Ayu, Ida. 2008. Buku Ajar Patologi Obstetri. Jakarta: EGC. Hlm 41-53.
Fadlun, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika. Hlm. 39-40.
Azhari. 2008.Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan.
Palembang: Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNSRI.
Cunningham FG et al (2005). William OBSTETRICS. The McGraw-Hill Companies.
Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guyton, Arthur C, John E Hall. 2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC
Melamed N, Yogrev Y, Meizner I, et al (2009). Sonographic fetal weight estimation: which
model should be used? J Ultrasound Med 2009;28:617629.
Nisenblat V, et al. 2004. Primary Ovarian Ectopic Pregnancy Misdiagnosed as
First-Trimester Missed Abortion.
Porter TF, Branch DW, Scott JR (2008). Early Pregnancy Loss. Dalam : Gibbs RS, Karlan BY,
Haney AF, Nygaard I (eds). Danforths Obstetrics and Gynecology Tenth Edition. Lippincot
William and Wilkins.
Price, Sylvia Anderson. 2005.Patofisiologi:Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit

Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC.


Raden, Akbar [et al]. 2009. Skills Laboratory: Pemeriksaan Obstetri, Pimpinan Persalinan
Normal. Edisi pertama. Surakarta: Bagian Skills Lab Fakultas Kedokteran UNS.
Sarwono P. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sarwono P. 2011. Ilmu Kandungan Edisi 3. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sastrawinata, Sulaiman [et al]. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Edisi 2.
Jakarta: EGC.