Anda di halaman 1dari 14

TUMOR OTAK

A. Pengertian
Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak
B. Klasifikasi Tumor Otak :
1. Tumor yang berasal dari lapisam otak (meningioma dural)
2. Tumor yang berkembang didalam / pada syaraf kranial
3. Tumor yang berasal didalam jaringan otak
4. Lesi metastatik yang berasal dari bagian tubuh mana saja
C. Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejala-gejala terjadi berurutan. Hal
ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya
sebaiknya dibicarakan dalam suatu perspektif waktu.
Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh 2 faktor
gangguan fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi
apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi langsung pada parenkim otak
dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada
tumor yang tumbuh paling cepat.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya
bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan
dengan gangguan cerebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai manifestasi
perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompresi invasi dan perubahan suplai
darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim
otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis fokal.
Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor :
bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan
sirkulasi cerebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa, karena
tumor akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku. Tumor ganas
menimbulkan oedema dalam jaruingan otak. Mekanisme belum seluruhnyanya dipahami,
namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena
dan oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan
kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel
laseral ke ruang sub arakhnoid menimbulkan hidrocepalus.

Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila terjadi secara cepat
akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi
memerlukan waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oelh karena ity
tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini
antara lain bekerja menurunkan volume darah intra kranial, volume cairan serebrospinal,
kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak
diobati mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus medialis
lobus temporals bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer
otak. Herniasi menekan men ensefalon menyebabkab hilangnya kesadaran dan menenkan
saraf ketiga. Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen
magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti nafas terjadi
dengan cepat. Intrakranial yang cepat adalah bradicardi progresif, hipertensi sistemik
(pelebaran tekanan nadi dan gangguan pernafasan).

D. Tanda dan Gejala Umum :


1.

Nyeri kepala berat pada pagi hari, main bertambah bila batuk, membungkuk

2.

Kejang

3.

Tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial : Pandangan kabur, mual, muntah,


penurunan fungsi pendengaran, perubahan tanda-tanda vital, afasia.

4.

Perubahan kepribadian

5.

Gangguan memori

6.

Gangguan alam perasaa

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.Y


DENGAN DIAGNOSA TUMOR OTAK DI RUANG DANDELION

RUMAH SAKIT dr.SUCIPTO

PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan tanggal 20 Oktober 2011 pukul 09.00 WIB.
A. BIODATA
1. Identitas Pasien
a. Nama
:
b. Umur
:
c. Pangkat
:
d. Kesatuan
:
e. Jenis Kelamin :
f. Pendidikan
:
g. Agama
:
h. Alamat
:
2. No. Rekam Medis :
3. Tanggal Masuk RS :
4. Penanggung Jawab
a. Nama
:
b. Pekerjaan
:
c. Alamat
:
5. Diagnosa Medis :

Tn. Y
34 th
PNS Gol III
Dishub
Laki-laki
DIII
Islam
Cipadung Indah, Cibiru, Bandung
23.2007.1977
20 Oktober 2011
Ny. P
Wiraswasta
Cipadung Indah, Cibiru, Bandung
Tumor Otak

B. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri kepala.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang via UGD dengan diagnosa medis tumor otak dengan keluhan nyeri
kepala, muntah, papiledema, penurunan penglihatan, dan penurunan tingkat
kesadaran.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Menurut pasien dan keluarga tidak pernah menderita sakit seperti ini.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Menurut pasien dan keluarga tidak mempunyai penyakit keturunan dalam keluarga.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Kesehatan Umum
a. Keadaan umum :Lemah
b. Kesadaran
: Apatis
c. BB sebelum sakit : 68 kg
d. TB saat ini
: 167 cm
e. TB saat ini
: 64 kg
f. Status gizi
: Cukup
g. Status hidrasi
: Baik
h. Tanda-tanda vital

- Tekanan darah : 130/80 mmHg


- Nadi
: 50 x/menit
- Suhu
: 36,8 oC
- Respirasi
: 24 x/menit, teratur,tidak ada bunyi nafas tambahan
2. Kepala
a. Rambut : Rontok, warna kusam.
b. Mata
: Penurunan lapang pandang, penglihatan kabur .
c. Mulut : Bibir pecah-pecah, warna tidak sianosis, gigi bersih, lidah ada bintik,
letak simetris
d. Telinga : Penurunan pendengaran, bersih, tak ada serumen, letak simetris.
3. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada peningkatan vena jugularis, tidak ada
kaku kuduk.
4. Thoraks (Dada)
a. Inspeksi : Letak simetris, tidak ada penggunaan otot bantuan pernapasan.
b. Palpasi
: Tidak ada masa dan krepitasi, tidak ada nyeri.
c. Perkusi : Vibrasi tidak ada kelainan
d. Auskultasi : Bunyi jantung dan paru normal, tidak ada suara nafa tambahan.
5. Neurologis
GCS (Glassgow Coma Scale)
a. Eye (respon mata)
: 3 (Pasien merespon dengan rangsangan suara)
b. Verbal (respon bicara) : 4 (Bingung, berbicara mengacau, disorientasi tempat
dan waktu)
c. Motorik (respon gerakan): 6 (Respon baik dengan mengikuti perintah)
6. Tulang Belakang
Bentuk simetris, tidak ada kelainan.
7. Abdomen
a. Inspeksi : Supel, tidak ada kelainan.
b. Palpasi
: Tidak ada nyeri.
c. Perkusi : Tidak ada kelainan.
d. Auskultasi : Normal.
8. Ekstremitas
a. Ekstremitas Atas : Terpasang infus RL
b. Ekstremitas Bawah :
(-)
9. Integumen
Elastis, keadaan kulit lembab, tidak ada luka.
10. Genetalia dan Anus
Genetalia tidak ada kelainan, pada anus tidak ada kelainan.
Pemeriksaan umum :
1. Pernafasan B1 (breath)
a. Bentuk dada : normal
b. Pola napas : tidak teratur
c. Suara napas : normal
d. Sesak napas : ya

e. Batuk : tidak
f. Retraksi otot bantu napas ; ya
g. Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)
2.

Kardiovaskular B2 (blood)
a. Irama jantung : irregular
b. Nyeri dada : tidak
c. Bunyi jantung ; normal
d. Akral : hangat
e. Nadi : Bradikardi
f. Tekanan darah : Meningkat

3. Persyarafan B3 (brain)
a. Penglihatan (mata) : penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau diplopia.
b. Pendengaran (telinga) : terganggu bila mengenai lobus temporal
c. Penciuman (hidung) : mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus frontal
d. Pengecapan (lidah) : ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)
e. Afasia : kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif atau
kesulitan berkata-kata, reseotif atau berkata-kata komprehensif, maupun kombinasi
dari keduanya.
f. Ekstremitas :kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak seimbang,
berkurangnya reflex tendon.
g. GCS : Skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah
pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap
rangsangan yang diberikan.
Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1- 6
tergantung responnya yaitu :
Eye (respon membuka mata)
(4) : Spontan
(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : Tidak ada respon
Verbal (respon verbal)
(5) : Orientasi baik
(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi

tempat dan waktu.


(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak
dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)
(1) : Tidak ada respon
Motor (respon motorik)
(6) : Mengikuti perintah
(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang
nyeri)
(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat
diberi rangsang nyeri)
(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki
extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari
mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : Tidak ada respon
4. Perkemihan B4 (bladder)
a. Kebersihan : bersih
b. Bentuk alat kelamin : normal
c. Uretra : normal
d. Produksi urin: normal
5. Pencernaan B5 (bowel)
a. Nafsu makan : menurun
b. Porsi makan : setengah
c. Mulut : bersih
d. Mukosa : lembap
6. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
a. Kemampuan pergerakan sendi : bebas
b. Kondisi tubuh: kelelahan
D. PENGUMPULAN DATA
1. Data Subjektif (DS)
a. Pasien mengatakan nyeri kepala
b. Pasien mengatakan skala nyeri 6-7

c.
d.
e.
f.

Pasien mengatakan perubahan dalam pola bicara / proses pikir


Pasien mengatakan muntah dan tidak nafsu makan
Pasien mengatakan gangguan pada penglihatan
Pasien mengatakan cemas terhadap penyakit yang dideritanya

2. Data Objektif (DO)


a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran
: Apatis
c. Tanda-tanda vital
- Tekanan darah: 130/80 mmHg
- Nadi
: 50 x/menit
- Suhu
: 36,8 oC
- Respirasi
: 24 x/menit
d. Terpasang infus RL pada tangan sebelah kiri.
e. Bibir pasien tampak kering dan pecah-pecah.
f. Pasien terlihat meringis menahan nyeri.
g. Personal hygiene pasien dibantu oleh perawat dan keluarga.
E. ANALISIS DATA

N
o
1

Penyebab
DS :
Pasien mengatakan nyeri

Masalah

Etiologi

Gangguan rasa

Pertumbuhan sel-sel

nyaman

kanker pada otak

Nutrisi kurang dari

Kebutuhan

kebutuhan tubuh

metabolisme tidak

kepala.
DO :
- Pasien terlihat meringis
2

menahan nyeri.
TD : 130/80 mmHg

DS :
Pasien mengatakan muntah
dan tidak nafsu makan
DO :
- Pasien terlihat lemah
- TB : 167 cm BB : 64 kg
- Bibir pasien tampak kering

adekuat

dan pecah-pecah
3

DS :
Pasien mengatakan perubahan
dalam pola bicara / proses
pikir
DO :
- Tingkat kesadaran : Apatis

Penurunan tingkat
kesadaran

Perubahan fisiologi

(GCS = 13)
4

DS :
Pasien mengatakan cemas
terhadap penyakit yang

Kurangnya

Informasi yang

pengetahuan tentang kurang


proses penyakit

dideritanya
DO :
- Pada saat pengkajian
pasien sering menanyakan
-

tentang penyakitnya
Pasien tampak gelisah

F. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN SESUAI PRIORITAS


1. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan pertumbuhan sel-sel kanker.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan
intrakranial, edema serebri.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah
dan tidak nafsu makan.
4. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek afasia pada ekspresi atau
intepretasi.

G. RENCANA KEPERAWATAN
N

Diagnosa

o
1

Keperawatan
Gangguan

Setelah

rasa nyeri

diberikan askep

karakteristik

pengalaman

karakteristik

berhubungan

selama 1x24

nyeri, lokasi,

subjektif dan harus

nyeri, lokasi, nyeri

dengan

jam,

pertumbuhan

diharapakan

Tujuan

sel-sel kanker nyeri yang


dirasakan
pasien
berkurang

Rencana Tindakan / Interfensi


Interfensi
Rasionalisasi
1. Kaji
1. Nyeri merupakan

frekuensi
2. Kaji faktor
penyebab
timbul nyeri
(takut, marah,
cemas)
3. Ajarkan
teknik

Kriteria hasil :

relaksasi tarik

dijelaskan oleh
pasien. Identifikasi
karakteristik nyeri
dan faktor yang
berhubungan
merupakan suatu
hal yang amat
penting untuk
memilih intervensi

Implementasi
1. Mengkaji

frekuensi
2. Mengkaji
faktor
penyebab
timbul nyeri
(takut,
marah,
cemas)
3. Mengajarka

Evaluasi
Pasien
melaporkan
berkurang.
Pasien dapat
mengidentifika
si aktifitas
yang
meningkatkan
atau
mengurangi
nyeri.

Klien

napas dalam
4. Kolaborasi

melaporkan

dengan dokter

nyeri

untuk

berkurang/t

pemberian

erkontrol,

analgetik

yang cocok dan

n teknik

Pasien tampak

untuk

relaksasi

relaks.Skala

mengevaluasi

tarik napas

nyeri 0.

keefektifan dari
terapi yang
diberikan.
2. Merupakan

dalam
4. Mengkolabo
rasi dengan
dokter untuk

Wajah

indikator/derajat

pemberian

pasien tidak

nyeri yang tidak

analgetik

meringis

langsung yang
dialami.
3. Dengan
mengajarkan
latihan napas
dalam diharapkan
suplai o2 di
jaringan adekuat
dan pengeluaran
gas anastetik saat
ekspirasi
maksimal.
4. Dengan
mengkolabo rasi
dengan dokter
tentang pemberian
analgetik
diharapkan dapat
mengurangi nyeri
1. Tentukan

pada pasien
1. Untuk

Perubahan

Setelah

perfusi

diberikan askep

faktor yang

menentukan

faktor yang

jaringan

selama 2x24

berhubungan

pilihan intervensi

berhubungan tidak mengeluh

serebral

jam,diharapkan

dengan

berhubungan

gangguan

keadaan

dengan

perfusi jaringan

tertentu, yang

yang tepat
2. Mengkaji adanya
kecenderungan

1. Menentukan

Klien tidak
gelisah. Klien

dengan

nyeri kepala,

keadaan

mual-muntah,

tertentu,

dan muntah.

peningkatan

berkurang/hila

dapat

pada tingkat

yang dapat

GCS : 4,5,6,

tekanan

ng,dengan

menyebabkan

kesadaran dan

menyebabka

TTV dalam

intrakranial,

kriteria hasil:

penurunan

potensial adanya

n penurunan

batas

perfusi dan

peningkatan TIK
3. Mengukur

perfusi dan

normal.Tidak

potensial

terdapat

peningkatan

papilidema.

edema
serebri.

Pasien

potensial

dapat

peningkatan

mempertah
ankan
tingkat

neurologi

kesadaran

secara teratur,

biasa/perba

badingkan

ikan.kognis

dengan nilai

i,dan fungsi

standart
3. Kaji respon

motorik/sen
sorik

TIK
2. Catat status

Tandatanda vita
stabil

motorik
terhadap
perintah
sederhana
4. Pantau
tekanan darah
5. Evaluasi :
pupil,
keadaan
pupil, catat
ukuran pupil,
ketajaman
pnglihatan
dan
penglihatan
kabur
6. Pantau suhu
lingkungan
sesuai
indikasi
7. Pantau intake,
output, dan

kesadaran secara
keseluruhan
4. Normalnya,
autoregulasi
mempertahankan
aliran darah otak
yang konstan pada
saat fluktasi
tekanan darah
sistemik
5. Gangguan
penglihatan yang
dapat diakibatkan
oleh kerusakan
mikroskopik pada
otak ,mempunyai
konskuensi
terhadap
keamanan dan
akan
mempengaruhi
intervensi
6. Demam dapat

TIK
2. Mencatat
status
neurologi
secara
teratur,
badingkan
dengan nilai
standart
3. Mengkaji
respon
motorik
terhadap
perintah
sederhana
4. Memantau
tekanan
darah
5. Mengevalua
si : pupil,
keadaan
pupil, catat

mencerminkan

ukuran

kerusakan

pupil,

hipotalamus

ketajaman

.selanjutnya akan

pnglihatan

terjadi

dan

peningkatan
7. Bermanfaat

penglihatan
kabur

ukur berat

sebagai indicator

badan sesuai

dari total cairan

suhu

tubuh yang

lingkungan

terintegrasi

sesuai

indikasi
8. Perhatikan
adanya
gelisah
meningkat,

dengan perfusi
jaringan
8. Petunjuk

6. Memantau

indikasi
7. Memantau
intake,

tingkah laku

nonverbal ini

output, dan

yang tidak

mengindikasikan

ukur berat

adanya

badan sesuai

sesuai
9. Hindari
/batasi
penggunaan
restein
10. tinggikan
kepala pasien
15-45 derajat

peningkatan TIK
9. Restein mekanik

indikasi
8. Memperhati

dapat menanbah

kan adanya

respons melawan

gelisah

yang akan

meningkat,

meningkatkan TIK
10. Meningkatkan

tingkah laku
yang tidak

sesuai

aliran balik vena

indikasi yang

dari

dapat

kepala,sehingga

/batasi

ditoleransi

akan mengurangi

penggunaan

kongesti dan
edema atau resiko
terjadi
peningkatan TIK

sesuai
9. Menghindari

restein
10. Meninggika
n kepala
pasien 15-45
derajat
sesuai
indikasi
yang dapat

Perubahan

Setelah

nutrisi

diberikan

makanan

kurang dari

asuhan

dalam porsi

kebutuhan

keperawatan

kecil tapi

tubuh

selama .x24

1. Hidangkan

sering dan

1. Makanan yang
hangat menambah
nafsu makan.
2. Jenis makanan yang
disukai akan

ditoleransi
1. Menghidangk

Pasien

an makanan

mengerti

dalam porsi

tentang

kecil tapi

pentingnya

sering dan

nurisi bagi

berhubungan

jam

dengan mual,

,diharapkan

muntah dan
tidak nafsu
makan

Kebutuhsn
nutrisi dapat
terpenuhi
,dengan criteria
hasil:
-Nutrisi klien
terpenuhi

hangat.
2. Kaji
kebiasaan
makan klien.
3. Ajarkan
teknik
relaksasi yaitu
tarik napas
dalam.
4. Timbang berat

- Mual

badan bila

berkurang

memungkinka

sampai dengan
hilang

n.
5. Kolaborasi
dengan dokter

membantu
meningkatkan nafsu
makan klien.
3. Tarik nafas dalam
membantu untuk
merelaksasikan dan
mengurangi mual.
4. Untuk mengetahui
kehilangan berat
badan.
5. Mencegah

hangat.
2. Mengkaji
kebiasaan
makan klien.
3. Mengajarkan
teknik
relaksasi yaitu
tarik napas
dalam.
4. menimbang
bila

penurunan absorsi

memungkinka

lemak

dengan dokter

pemberian

untuk

vitamin

pemberian

berat badan
sesuai dengan
hasil pemeriksa
an
laboraturium.

vitamin
1. Memperhatika Klien dapat

Kerusakan

Tidak

komunikasi

mengalami

kesalahan

kehilangan

n kesalahan

mengakui dan

verbal b.d

kerusakan

dalam

kemampuan untuk

dalam

mendiskusikan

efek afasia

komunikasi

komunikasi

memantau ucapan

komunikasi

rasa takut.

pada ekspresi

verbal dan

dan berikan

yang keluar dan

dan berikan

Mengungkapka

atau

menunjukkan

intepretasi

kemampuan
komunikasi
verbal dengan
orang lain
dengan cara
yang dapat di
terima.
Kriteria Hasil :
a. Pasien dapat
mengidentifika

umpan balik.
2. Minta pasien
untuk menulis
nama atau
kalimat yang
pendek. Jika
tidak dapat
menulis,
mintalah
pasien untuk
membaca

1. Pasien mungkin

n kenaikan

n.
5. Kolaborasi

untuk

1. Perhatikan

Memperlihatka

berat badan

kekurangan karena
vitamin larut dalam

tubuh.

tidak menyadari
bahwa komunikasi
yang diucapkannya
tidak nyata.
2. Menilai
kemampuan
menulis dan
kekurangan dalam
membaca yang
benar yang juga
merupakan bagian

umpan balik.
2. Meminta
pasien untuk
menulis nama
atau kalimat
yang pendek.
Jika tidak
dapat menulis,
mintalah
pasien untuk
membaca

n keakuratan
pengetahuan
tentang situasi.
Tampak
rileks dan
melaporkan
ansietas
berkurang
sampai pada
tingkatdapat
diatasi.

si pemahaman
tentang
masalah
komunikasi.
b. Pasien dapat
membuat
metode
komunikasi
dimana
kebutuhan
dapat
diekspresikan
c. Pasien dapat
menggunakan
sumber-sumber
dengan tepat

kalimat yang
pendek.
3. Berikan
metode
komunikasi
alternative,
seperti
menulis di
papan tulis,
gambar.
Berikan
petunjuk
visual
(gerakan
tangan,
gambar-

dari afasia sensorik

kalimat yang

dan afasia motorik.

pendek.
3. Memberikan

3. Memberikan
komunikasi tentang
kebutuhan
berdasarkan
keadaan/ deficit
yang mendasarinya.
4. Menurunkan
kebingungan/ansieta
s selama proses
komunikasi dan
berespons pada
informasi yang
lebih banyak pada
satu waktu tertentu.

metode
komunikasi
alternative,
seperti
menulis di
papan tulis,
gambar.
Berikan
petunjuk
visual
(gerakan
tangan,
gambar-

gambar, daftar

gambar, daftar

kebutuhan,

kebutuhan,

demonstrasi).
4. Katakan

demonstrasi)
4. Mengatakan

secara

secara

langsung

langsung

dengan

dengan

pasien, bicara

pasien, bicara

perlahan, dan

perlahan, dan

dengan

dengan

tenang.

tenang.

Gunakan

Gunakan

pertanyaan

pertanyaan

terbuka

terbuka

dengan

dengan

jawaban

jawaban

ya/tidak

ya/tidak

selanjutnya

selanjutnya

kembangkan

kembangkan

pada

pada

pertanyaan

pertanyaan

yang lebih

yang lebih

komplek

komplek

sesuai dengan

sesuai dengan

respon pasien.

respon pasien.