Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu dasar yang sangat diperlukan untuk landasan bagi teknologi
dan pengetahuan modern. Matematika berkenaan dengan ide (gagasan-gagasan), aturan-aturan,
hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan konsepkonsep abstrak, (Hudoyo, 1990:3). Matematika itu sendiri sebenarnya lebih menekankan
kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil
observasi matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan idea,
proses, dan penalaran (Russeffendi ET, 1980 :148). Disamping itu, Matematika memberikan
keterampilan yang tinggi pada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai perguruan
tinggi sebagai bekal peserta didik dalam kemampuan membantu dalam hal daya abstaksi,
analisis permasalahan, penalaran logika, serta kemampuan bekerjasama.
Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris.
Kemudian pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran
di dalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika supaya konsepkonsep matematika yang terbentuk itu mudah dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi
secara tepat, maka digunakan bahasa matematika atua notasi matematika yang bernilai global
(universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar
terbentuknya matematika.
Selain penguasaan materi, dalam pembelajaran matematika kepada anak didiknya nanti,
seorang guru dituntut agar memahami tentang hakekat anak didik dan teori pembelajaran.
Pemahaman terhadap kedua aspek tersebut diperlukan agar guru mampu mengajarkan
matematika dengan baik melalui metode atau strategi yang tepat dalam pembelajaran
matematika.
Guru perlu mengetahui berbagai teori belajar matematika. Unsur pokok dalam
pembelajaran matematika adalah guru sebagai salah satu perancang proses. Proses yang sengaja
dirancang selanjutnya disebut proses pembelajaran, siswa sebagai pelaksanaan kegiatan belajar,
dan matematika sekolah sebagai objek yang dipelajari dalam hal ini sebagai salah satu bidang
studi dalam pelajaran.
1

Dalam makalah ini penulis menjelaskan teori belajar dari para ahli yakni teori belajar
Bruner kemudian bagaimana penerapannya dalam pembelajaran matematika, sehingga asumsi
dari siswa bahwa mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling sulit sedikit demi
sedikit akan terkikis dengan digunakannya teori teori belajar yang tepat.

BAB II
ISI
2.1. Biografi J. Bruner
Jerome Seymour Bruner dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1915 di New York
City. Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi kognitif (1915) yang memberi
dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir.
Bruner tidak mengembangakan teori belajar yang sistematis. Dasar pemikiran
teorinya memandang bahwa manusia adalah sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta
informasi. Oleh karenanya yang terpenting dalam belajar adalah cara-cara bagaimana
seseorang memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi yang
diterimanya secara aktif. Sehubungan dengan itu Bruner sangat memberi perhatian pada
masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterima itu untuk
mencapai pemahaman dan membentuk kemampuan berpikir pada siswa (Panen, 2004:
3.11-3.12).
2.2. Proses Belajar Mengajar
Bruner mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang
mengatur pesan atau informasi dan bukan ditentukan oleh umur. Asumsi teori ini adalah
bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata
dalam bentuk struktur kognitif yang telah dimilikinya. Proses belajar akan berjalan
dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur
kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran
atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki dan telah
terbentuk didalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalamanpengalaman sebelumnya (Budiningsih, 2005: 51).
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil
belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar
melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Namun lebih dari itu, belajar
melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks (Hamzah, 2006: 10).
2.2.1. Perkembangan Intelektual Anak
Pendirian yang terkenal yang dikemukakan oleh J. Bruner ialah, bahwa setiap
mata pelajaran dapat diajarkan dengan efektif dalam bentuk yang jujur secara intelektual
3

kepada setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. Pendiriannya ini didasarkan
sebagian besar atas penelitian Jean Piaget tentang perkembangan intelektual anak.
Menurut penelitian J. Piaget, perkembangan intelektual anak dapat dibagi menjadi tiga
taraf.
1. Fase pra-operasional, sampai usia 5-6 tahun, masa pra sekolah, jadi tidak berkenaan
dengan anak sekolah. Pada taraf ini ia belum dapat mengadakan perbedaan yang tegas
antara perasaan dan motif pribadinya dengan realitas dunia luar. Karena itu ia belum
dapat memahami dasar matematikan dan fisika yang fundamental, bahwa suatu
jumlah tidak berubah bila bentuknya berubah. Pada taraf ini kemungkinan untuk
menyampaikan konsep-konsep tertentu kepada anak sangat terbatas.
2. Fase operasi kongkrit, pada taraf ke-2 ini operasi itu internalized, artinya dalam
menghadapi suatu masalah ia tidak perlu memecahkannya dengan percobaan dan
perbuatan yang nyata; ia telah dapat melakukannya dalam pikirannya. Namun pada
taraf operasi kongkrit ini ia hanya dapat memecahkan masalah yang langsung
dihadapinya secara nyata. Ia belum mampu memecahkan masalah yang tidak
dihadapinya secara nyata atau kongkrit atau yang belum pernah dialami sebelumnya.
3. Fase operasi formal, pada taraf ini anak itu telah sanggup beroperasi berdasarkan
kemungkinan hipotesis dan tidak lagi dibatasi oleh apa yang berlangsung dihadapinya
sebelumnya (Nasution, 2000: 7-8).
2.2.2. Teori Belajar
Bruner mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning.
Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika dosen
memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menemukan suatu aturan (termasu
konsep,

teori,

definisi,

dan

sebagainya)

melalui

contoh-contoh

yang

menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya (Suciati, 2001: 14).


Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model
pembelajaran belajar kognitif yang dikembangkan oleh Bruner (1966). Belajar
bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan (Panen, 2004: 3.14).
Belajar bermakna adalah belajar yang disertai pengertian. Belajar bermakna ini
akan terjadi apabila informasi baru yang diterimanya mempunyai hubungan
4

dengan konsep yang sudah ada dan diterima oleh siswa dalam struktur kognitifnya
(Panen, 2004: 3.23). Agar belajar bermakna siswa memiliki struktur informasi
yang kuat, si belajar harus aktif dimana dia harus mengidentifikasi prinsip-prinsip
kunci yang ditemukannya sendiri pada penjelasan dai guru-guru (Panen, 2004:
3.14).
Saat ini model belajar penemuan menduduki peringkat tertinggi dalam
dunia pendidikan modern. Salah satu yang banyak diterapkan dalam pembelajaran
di Indonesia adalah konsep belajar siswa aktif atau Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA). Dalam menerapkan model Belajar penemuan ini, seorang guru
dianjurkan untuk tidak memberikan materi pelajaran secara utuh. Siswa cukup
diberikan konsep utama atau khusus, untuk selanjutnya dibimbing agar dapat
menemukan sendiri sampai akhirnya dapat mengorganisasikan konsep tersebut
secara utuh. Untuk itu guru perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya pada
siswa untuk mendapatkan konsep-konsep yang belum disampaikan oleh guru
dengan pendekatan belajar problem solving (Panen, 2004: 3.15).
Menurut Bruner (dalam Ruseffendi, 1988), terdapat empat dalil yang
berkaitan dengan pembelajaran matematika. Keempat dalil tersebut adalah (1) dalil
penyusunan, (2) dalil notasi, (3) dalil pengkontrasan dan keanekaragaman dan (4)
dalil pengaitan.
1.

Dalil Penyusunan (Construction Theorem)


Dalil penyusunan menyatakan bahwa cara terbaik bagi siswa untuk
memulai belajar konsep dan prinsip dalam matematika adalah dengan
mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Ketika siswa
mengalami kesulitan mendefinisikan suatu konsep, seyogyanya guru memberikan
bantuan secara tidak final sehingga bentuk akhir dari konsep ditemukan oleh siswa
sendiri. Misalkan seorang guru akan menyampaikan konsep daerah hasil fungsi
kuadrat. Jika guru tersebut berpedoman pada dalill penyusunan dari Bruner, maka
guru tersebut akan memberikan masalah-masalah khusus yang berkaitan dengan
daerah hasil fungsi kuadrat. Masalah-masalah khusus tersebut kemudian
5

diselesaikan oleh anak dengan bantuan secara tidak langsung dan tidak final.
Selanjutnya dengan menggunakan cara-cara yang sama, anak dimotivasi untuk
menemukan daerah hasil fungsi kuadrat dalam bentuk umum.
2.

Dalil Notasi (Notation Theorem)


Dalil notasi menyatakan bahwa notasi matematika yang digunakan harus
disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak (enaktif, ikonik, dan
simbolik). Kita dapat memilih notasi y = 2x + 3 untuk anak SMP dari pada notasi
f(x) = 2x + 3 dan notasi = 2 + 3.

3.

Dalil Pengkontrasan dan Keaneragaman (Contrast and Variation Theorem)


Dalil pengkontrasan dan keaneragaman menyatakan bahwa suatu konsep
harus dikontraskan dengan konsep lain dan harus disajikan dengan contoh-contoh
yang bervariasi. Misalnya, konsep bilangan ganjil dikontraskan dengan bilangan
genap, penyajian lingkaran senggunakan roda sepeda, permukaan piring dan
sebagainya.

4.

Dalil Pengaitan (Conectivity Theorem)


Dalil pengaitan menyatakan bahwa agar anak berhasil dalam belajar
matematika, anak tersebut harus diberikan kesempatan untuk mengaitkan antara
suatu konsep dengan konsep lain, antara suatu topik dengan topik lain, antara suatu
cabang matematika dengan cabangan cabang matematika lain. Misalnya, terdapat
kaitan antara konsep fungsi kuadrat dengan konsep jarak dari sebuah titik ke
sebuah garis. Jarak dari sebuah titik ke sebuah garis secara analitik dapat dicari
dengan menggunakan konsep fungsi kuadrat.

2.2.3. Tahapan dalam Proses Belajar Mengajar


Dalam teori belajar, Jerome S. Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan
berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau
kesimpulan tertentu (Tadjab, 1994: 78). Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan
6

tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh
informasi baru, (2) transformasi informasi dan (3) mengevaluasi atau menguji relevansi
dan ketepatan pengetahuan:
1. Tahap Informasi (Tahap Penerimaan Materi)
Bahwa dalam tiap pelajaran kita memperoleh sejumlah informasi, ada yang
menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan
memperdalamnya, adapula informasi itu yang bertentangan dengan apa yang telah
kita ketahui sebelumnyas.
2. Tahap Transformasi (Tahap Pengubahan Materi)
Kita menganalisa berbagai informasi yang kita pelajari itu dan mengubah atau
mentransformasikannya kedalam bentuk-bentuk informasi yang lebih abstrak atau
konseptual, agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas.
3. Tahap Evaluasi
Kita menilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasikan itu
dapat digunakan untuk memahami gejala-gejala lain atau memecahkan permasalahan
yang kita hadapi (Tadjab, 1994: 78).
Di dalam belajar, Bruner hampir selalu memulai dengan memusatkan manipulasi
material. Peserta didik harus menemukan keteraturan dengan cara pertama-tama
memanipulasi mateial yang berhubungan dengan keteraturan intuisi yang sudah dimiliki
peserta didik itu. Ini berarti peserta didik dalam belajar haruslah terlihat aktif mentalnya
dan dapat diperlihatkan keaktifan fisiknya (Sunardi, 2012: 32).
Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tiga sistem keterampilan untuk
menyatakan kemampuannya secara sempurna. Seperti halnya dengan Piaget, bruner
melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental. Ketiga
sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation)
oleh Bruner (1966). Ketiga cara itu ialah: cara enaktif, cara ikonik dan cara simbolik.
a. Enaktif
Dalam tahap ini, anak-anak di dalam belajarnya menggunakan manipulasi
obyek-obyek secara langsung.
b. Ikonik

Tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental


yang merupakan gambaran dari obyek-obyek. Dalam tahap ini, anak tidak
memanipulasi langsung obyek-obyek seperti dalam tahap enaktif, melainkan sudah
dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dar obyek.
c. Simbolik
Tahap terakhir ini, menurut Bruner merupakan tahap memanipulasi simbolsimbol secara langsung dan tidak lagi ada kaitannya dengan obyek-obyek
(Sunardi, 2012: 32).
2.2.4. Kurikulum Spiral
Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah
kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari
Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan
kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan
memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat
dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning).
J. S. Bruner dalam belajar matematika menekankan pendekatan dengan
bentuk spiral. Pendekatan spiral dalam belajar mengajar matematika adalah
menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkrit secara intuitif, kemudian
pada tahap-tahap yang lebih tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa) konsep ini
diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih
umum dipakai dalam matematika. Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara
intuitif

ke analisis dari eksplorasi kepenguasaan. Misalnya, jika ingin

menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga


anggotanya. Contoh himpunan tiga buah mangga. Untuk menanamkan pengertian
3 diberikan 3 contoh himpunan mangga. Tiga mangga sama dengan 3 mangga
(Simanjutak, 1993: 70-71).
Selanjutnya agar proses belajar berjalan lancar menurut Bruner di dalam
bukunya Process of Education. Ada tiga faktor-faktor yang sangat ditekankan
dan harus menjadi perhatian para guru di dalam menyelenggarakan pembelajaran
yaitu (a) pentingnya memahami struktur mata pelajaran, (b) pentingnya belajar
aktif supaya seorang dapat menemukan sendiri konsep-kosep sebagai dasar untuk
8

memahami dengan benar dan, (c) pentingnya nilai dari berpikir induktif.
Berdasarkan pandangan bruner ini maka ada empat aspek utama yang harus
menjadi perhatian dalam pembelajaran yaitu pentignya struktur mata pelajaran,
kesiapan, intuisi, dan motivasi (Panen, 2004: 3.11-3.12).
2.3. Alat Mengajar
Jerome S. Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya
(Lisnawaty, 1993: 70-71).
2.3.1. Alat untuk menyampaikan pengalaman vicarious
Alat ini menyajikan bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak
dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini
dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dll.
2.3.2. Alat model
Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau
prinsip suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga
eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-langkah
untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.
2.3.3. Alat dramatisasi
Alat ini dapat mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film
tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi
pengertian tentang suatu ide atau gejala.
2.3.4. Alat automatisasi
Alat automatisasi seperti teaching machine atau pelajaran berprogram,
yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi balikan
atau feedback tentang respon murid.
2.4. Aplikasi Teori Bruner dalam Pembelajaran Matematika
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1. Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan. Misal :
untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar segiempat, sedangkan bukan
contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segi lima atau lingkaran.
2. Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep. Misalnya
berikan pertanyaan kepada si belajar seperti berikut ini Apakah nama bentuk ubin

yang sering digunakan untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin
yang dapat digunakan? .
3. Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya
sendiri. Misalnya, Jelaskan ciri-ciri atau sifat-sifat dari bangun Ubin tersebut! .
4. Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan
intuisinya. Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan
pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang
sebenarnya (Anita,1995 dalam Paulina, 2003: 3.16).
Berikut ini disajikan contoh penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran
matematika di sekolah dasar :
I.

Menemukan jaring-jaring kubus


1. Pada awal pembelajaran guru dapat meminta siswa untuk membuat kubus dengan
ukuran yang berbeda-beda. Untuk membuat kubus, guru dapat meminta siswa
untuk mengerjakan di rumah. Jika di kelas terdapat alat peraga yang dapat
digunakan sebagai media menentuka jaring-jaring kubus, maka alat peraga itu
dapat digunakan.

10

2. Tahap enaktif, siswa diminta untuk memoton 4 buah rusuk tegak pada kubus dan 3
buah rusuk atas dara kubus sehingga diperoleh rebahan dari kubus.

Melalui cara ini, siswa langsung memperoleh dan memperhatikan jarring-jaring


kubus yang telah dipotong berdasarkan rusuk tegak dan rusuk atas. Setelah
diberikan satu contoh siswa diminta untuk menemukan cara memotong rusuk
sehingga jika rebahannya dilipat akan kembali membentuk bangun ruang kubus.
Melalui cara ini tidak menutup kemungkinan ada siswa yang salah memotong
rusuk sehingga jika dilipat kembali tidak membentuk bangun ruang kubus.
3. Guru dapat melakukan pembimbingan kepada siswa untuk mengidentifikasi dari
rebahan kubus sehingga hasil potongan pada rusuk jika dilipat kembali dapat
terbentuk bangun ruang kubus. Setelah itu, guru dapat menginformasikan kepada
siswa bahwa rebahan kubus disebut sebagai jaring-jaring kubus. Jaring-jaring
kubus adalah rangkaian bangun yang diperoleh dari rangkaian enam buah persegi
yang sebagun dalam susunan tertentu.
4. Tahap ikonik, berdasakan hasil kerja siswa memotong rusuk-rusuk tertentu pada
kubus kemudian siswa diminta untuk menggambar hasil rebahan kubus pada
kertas berpetak. Pada tahap ini dapat juga dilakukan dengan meminta siswa untuk
menggambarkan jaring-jaring kubus lain yang dapat ditemukan. Jaring-jaring
kubus ada 8 yang dapat digambarkan pada kertas berpetak sebagai berikut :

11

5. Tahap simbolis, pada tahap ini guru dapat meminta siswa untuk membuat jaringjaring kubus dengan ukuran yang berbeda-beda sehingga siswa dapat menyimpan
dalam memori jangka panjangnya.
II.

Menemukan rumus luas daerah persegi panjang.


1. Untuk tahap contoh berikan bangun persegi dengan berbagai ukuran, sedangkan
bukan contohnya berikan bentuk-bentuk bangun datar lainnya seperti, persegi
panjang, jajar genjang, trapesium, segitiga, segi lima, segi enam, lingkaran.
a) Tahap Enaktif.
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara
langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik) objek.

12

(a)

Untuk gambar :
(a) Ukurannya : Panjang = 20 satuan , Lebar = 1 satuan
(b) Ukurannya : Panjang = 10 satuan , Lebar = 2 satuan
(c) Ukurannya : Panjang = 5 satuan , Lebar = 4 satuan
b) Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran
internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar
atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan
gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.

13

Penyajian pada tahap ini apat diberikan gambar-gambar dan Anda dapat
berikan sebagai berikut :

c) Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi
simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu.
Siswa diminta untuk mengeneralisasikan untuk menenukan rumus luas
daerah persegi panjang. Jika simbolis ukuran panjang p, ukuran lebarnya l ,
dan luas daerah persegi panjang L,

maka jawaban yang diharapkan L = p x l satuan luas.


Jadi luas persegi panjang adalah ukuran panjang dikali dengan ukuran lebar.

14

BAB III
KESIMPULAN
Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang
discovery yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Disamping itu, karena teori
Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan, maka desain yang berulang-ulang itu
disebut kurikulum spiral kurikulum. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk
memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana
materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam
suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari
suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur
konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda
berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada
merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang
lama melalui pembelajaran penemuan.

15