Anda di halaman 1dari 17

BAB I

A. LATAR BELAKANG
Alquran merupakan kitab suci dan sumber ajaran Islam
yang pertama dan utama. Apabila dilakukan telaah
seksama, maka akan ditemukan bahwa alquran
mengandung keunikan-keunikan makna yang tiada akan
pernah habis untuk dikaji dan memberi isyarat makna yang
tak terbatas. Kedudukan alquran sebagai rujukan utama
umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan mereka dan
terbukanya untuk interpretasi baru, merupakan motivasi
tersendiri terhadap lahirnya usaha-usaha untuk
menafsirkan dan menggali kandungan maknanya. Sejarah
telah membuktikan bahwa upaya-upaya untuk menafsirkan
alquran telah berlangsung sejak generasi-generasi Islam
angkatan pertama hingga hari ini.
Kitab suci alquran diturunkan dengan menggunakan
bahasa Arab, untuk memahami bahasa tersebut seseorang
dituntut untuk mendalami bahasa di mana kitab suci
diturunkan, dalam segala as-peknya, baik perkembangan
dan tata aturan permainan yang diguna-kannya. Hal
semacam ini tidak terlepas dari usaha memahami alquran
secara utuh dan menyeluruh. Untuk mencapai tujuan
tersebut perlu adanya penelusuran sejarah tentang
berbagai upaya ulama dalam mengembangkan kaidahkaidah penafsiran. Tujuannya adalah untuk mengetahui
prosedur kerja para ulama tafsir dalam menafsirkan
alquran sehingga penafsiran tersebut dapat digunakan
secara fungsional oleh masyarakat Islam dalam
menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Kaidah-kaidah
ini kemudian dapat digunakan sebagai referensi bagi
pemikir Islam kontemporer untuk mengembangkan kaidah
penafsiran yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Namun kaidah-kaidah penafsiran di sini tidak berperan
sebagai alat justifikasi benar-salah terhadap suatu
penafsiran alquran. Kaidah-kaidah ini lebih berfungsi
sebagai pengawal metodologis agar tafsir yang dihasilkan
bersifat obyektif dan ilmiah serta dapat
dipertanggungjawabkan. Sebab produk tafsir pada

dasarnya adalah produk pemikiran manusia yang dibatasi


oleh ruang dan waktu.
B. RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian Qawaid Tafsir?
Apa saja Macam-macam Qawaid Tafsir ?
3. Apa Saja Kaidah-kaidah Kebahasaan ?
1.
2.

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memahami pengertianQawaid Tafsir.
2. Untuk mengetahui Macam-macam Qawaid Tafsir.
3. Untuk mengetahui Kaidah-kaidah Kebahasan.
BAB II

A. PENGERTIAN QAWAID TAFSIR


Menurut bahasa Qawaid artinya kaidah-kaidah atau prinsipprinsip dasar tafsir.Sedang yang dimaksud Qawaid Tafsir
dalam hal ini adalah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh
para Mufassir dalam memahami ayat- ayat Al-Quran.
Kaidah-kaidah yang diperlukan para Mufassir dalam
memahami Al-Quran meliputi penghayatan uslub-uslubnya,
pemahaman asal-asalnya, penguasaan rahasia-rahasianya
dan kaidah-kaidah kebahasaan.1
B. MACAM-MACAM QAWAID TAFSIR
Orang yang hendak menafsirkan ayat-ayatsuci Al-Quran,
lebih dahulu harus memahami beberap akaidah yang erat
kaitannya dengan pemahaman makna yang hendak
ditafsirkan.
a. Mantuq dan Mafhum

1 Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,(Bandung: Pustaka


Setia,1997) hal.72

Mantuq adalah makna yang ditunjukkan oleh lafadz


dalam pembicaraan atau peratuan. Mafhum adalah
makna yang dipahami bukan dari pembicaraan.Mantuq
itu dapat dilihat umpamanya dalamayat 196 surat AlBaqarah, Allah berfirman:

: ).....












(196
Artinya:
tapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak
mampu), maka hendak lah ia berpuasa tiga hari pada (musim)
haji dan tujuhh ari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. (Q.S.
Al-Baqarah: 196)
Tidak ada maksud ayat ini selain perintah berpuasa tiga
hari pada musim haji dan tujuh hari setelah pulang ketanah air
(sebagai ganti bagi yang tidak mendapakatkan hewan ternak
untuk berkorban). Maksud ayat ini tidak mungkin mengandung
pengertian yang lain, sebab hanya itu yang bisa dipahami
daripadanya. Pengertian yang langsung diperoleh dari ayat itu
tanpa perlu dipikirkan disebu tzahir.Dalam ini tidak boleh
ditakwilkan dengan makna yang lain, sebab ia sudah memiliki
makna yang sudah nyata.
Adapun dalam mafhum, kita dapat kenyataan bahwa
pengertian yang diperoleh bukan langsung dari teks ayat,
melainkan maksud yang terkandung dalam pembicaraannya.
Mafhum ini dapat dibagi atas mafhum mukhalafah dan mafmum
muwafaqah.Contoh mafhum muwafaqah adala hayat 23 dari
surah dari surat Al-Isra, yang menyatakan falaa taqullahuma
uff yang dipahami dari ayat ini adalah larangan memperbuat
lebih darip erkataan Cis. Bila yang dipahami lebih dari itu,
maka ia disebut mafhum aulawy, seperti bila kita berdalih
dengan ayat diatas untuk haramnya memukul orang tua. Kalau
pengertian diambil sama dengan maksud ayat, disebutlah ia
mafhum musawi. Misalnya, seperti yang terdapat dalam An-Nisa
ayat 10, Allah berfirman:

















(10: )

Artinya:
sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak
yatim dengan cara aniaya (zhalim) sesungguhnya mereka
memakan api dalam perutnya dan mereka akan masuk kedalam
api yang menyala-nyala. (Q.S. An-Nisa: 10)
Andaikata harta anak yatim itu tidak dimakan melainkan
dibakar saja, namun nilai memakan dan membakar adalah
berarti bersama-sama bertujuan melenyapkan dengan cara
aniaya. Karena itu, disebutlah perbuatan itu dengan istilah
mafhum muwafaqah terhadap perbuatan memakan harta anak
yatim. Tingkatan mafhumnya adalah mafhum musawi.
Diantara mafhum muhkalafah, adalah sebagai berikut:
a) Mafhum SIfat
Contohnya, adalah ayat Al-Quran surat An-Nisa ayat 43, Allah
berfirman:
(43:)....














Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendekati sholat ketika kamu sedang mabuk sehingga
kamu ketahui apa yang kamu ucapkan.... (Q.S. An-Nisa: 43)
Maksudnya adalah bahwa salat harus didekati
(dikerjakan) dalam keadaan sehat rohani dan jasmani,
ketika seorang ingat atau mengetahui segala apa yang
diucapkannya.
b) Mafhum syarat
Contohnya adalah seperti yang terdapat dalam Al-Quran surat AtThalaq ayat 6, Allah berfirman:
....(6::)....
















Artinya:
Jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) dalam keadaan
hamil, maka hendaklah kamu memberikan belanja buat mereka
hingga mereka bersalin....(Q.S. At-Thalaq: 6)

Jadi kewajiban suami yang menceraikan istrinya hanyalah


memberikan nafkah, jika istri hamil.
c) Mafhum Hasary (Pembatasan)
Dalam Al-Quran surat Al-Fatihah ayat 5 disebutkan:


(5: )


Artinya:
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya
kepada Engkau kami meminta pertolongan. (Q.S. AlFatihah: 5)
Maksudnya, tidaklah kamu menyembah kepada seorang
pun selain Allah dan tidaklah kami meminta perolongan
kepada seorang pun selain dari Allah.2
b. Am dan Khash
Am adalah lafadz yang memberi pengertian umum
yang mencangkup segala sesuatu yang termasuk dalam
lingkungannya tanpa ada batasan dalam jumlah
maupun bilangan. Khash adalah lafadz yang menunjuk
kepada pengertian tertentu.
Ada lima perkataan, yang menunjukkan kepada
pengertian Am ini yaitu
a) Kullun, Jami, dan Kaffah yang berarti semua.
Dalam surah Ar-Rahman ayat 26, menyebutkan:

(26: )



Artinya:
Semua yang ada dibumi itu akan binasa (Q.S. ArRahman : 26)
Dalam surat Al-Baqarah ayat 29, yang menyatakan:

(29:)...








Artinya:
Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada
dibumi untuk kamu...(Q.S. Al-Baqarah: 29)
Juga yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 208, yang
menyebutkan:

(208: )





Artinya:

2 Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,(Bandung: Pustaka


Setia,1997) hal.76

Hai orang-orang yang beriman,masuklah kamu


kedalam Islam keseluruhannya....(Q.S. Al-Baqarah:208)
b) Isim Mausul (kata penghubung) dalam bentuk
tunggal, ganda, maupun jamak.
Seperti yang terdapat pada dalam surah An-Nisa ayat
15, Allah berfirman:



...














(15 :)
Artinya:
Dari terhadap perempuan-perempuan yang
mengerjakan kejahatan (zina) dari isteri-isterimu,
hendaklah kamu datangkan empat orang saksi dari kamu
(atas) perbuatan mereka itu.(Q.S. An-Nisa:15)
c) Isim Marifah
Sebagaimana yang terdapat dalam surah Al-Maidah
ayat 38, yaitu
Al Li Al-Tarif yang terdapat dalam kata :
dan


demikian juga Al yang terdapat dalam kata



pada surat Al-Muminun ayat: 1
d) Kata-kata jamak yang ditandai dengan huruf tarif
atau idafah
Contohnya seperti lafadz
yang terdapat pada
surat An-Nisa ayat 11. Juga kata

yang

terdapat pada surat At-Taubah ayat 103:
(103:)...








e) Isim-isim Syarat

Contohnya, adalah kata-kata

yang terdapat

dalam surat Al-Furqan ayat 68.
f) Isim Nakirah dengan nafi
Seperti yang terdapat dalam ayat dibawah ini:

(21: )







Artinya:
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi
kamilah khazanahnya. (Q.S. Al-Hujarat:21)
Mengenai tanda-tanda yang menunjukkan bahwa
lafadz itu menunjukkan kepada khash sangat banyak. Akan
tetapi cukuplah kita tunjukkan satu kaidah umum yang
ditetapkan ahli usul yang berbunyi: Al-Am Haq Ala

Ummihi Ghairu Qabil Li At-Takshis, yaitu bahwa Am


(umum) itu akan tetap pada status keumumannya, yaitu
yang tidak menerima tanda-tanda takhsis.3
c. Mutlaq dan Muqayyad
Nas yang mutlaq adalah nas yang menunjuk kepada
satu pengertian saja dengan tiada kaitannya pada ayat
lain. Sebaliknya, yang muqayyad adalah sesuatu yang
menunjuk kepada satu pengertian,akan tetapi
pengertian tersebut harus dikaitkan dengan adanya
pengertian yang diberikan oleh ayat nas yang lain.
Nas yang mutlaq ini hampir mirip dengan nas yang Am
(umum) sebaliknya yang muqayyad mirip pula dengan
nas yang khusus, contohnya adalah ayat Al-Quran pada
surat Al-Anam ayat1453, Allah berfirman:















(145:)...









Artinya:
Katakanlah.aku tiada mendapatkan sesuatu ketentuan
(dari wahyu) yang diwahyukan kepadaku (mengenai) yang
diharamkan atas makanan yang mereka masak, kecuali
bangkai, darah yang mengalir atau daging babi. (Q.S. AlAnam :145)
Juga ayat yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat:3 :
(3:)...









Artinya:
Di Haramkan atas kamu bangkai, darah dan daging
babi.(Q.S. Al-Maidah:3)
Ayat petam disebut muqayyad mengenai keharaman
memakan darah yang mengalir,sedangkan ayat kedua
disebut mutlaq, sebab menyebutkan yang diharamkan itu
adalah darah (tanpa merinci darah yang bagaimana).
Seorang Mufassir harus berprinsip bahwa pengertian
ayat kedua harus didahulukan dari pengertian ayat
pertama, tegasnya ayat-ayat yang muqayyad(ada
kaitannya) harus didahulukan daripada ayat-ayat mutlaq.
Dengan begitu darah yang diharamkan adalah darah yang
mengalir. Sesuai dengan kaidah : menghimpun
3 Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,(Bandung: Pustaka
Setia,1997) hal.79

(memasukkan) makna yang mutlaq kepada makna yang


muqayyad.4
d. Mujmal dan Mubayyan
Ayat-ayat yang mujmal adalah ayat yang menunjukkan
kepada sesuatu pengertian yang tidak terang dan tidak
rinci, atau dapat juga dikatakan sebagai suatu lafadz
yang memerlukan penafsiran yang lebih jelas.
Conto hayat yang mujmal adalah: ayat 110 darisurat AlBaqarah:

(110:)...



Artinya:
Dirikanlah shalat dan bayarlah zakat...(Q.S. AlBaqarah:110)
Juga ayat 187 surat Al-Baqarah

...:)...












(187
Artinya:
Sehingga jelas bagi kamu garis putih dari garis
hitam (waktu) fajar. (Q.S. Al-Baqarah:187)
Pada ayat tentang perintah mendirikan shalat dan
membayar zakat,belum dijelaskan secara terperinci
bagaimana cara melaksanakannya. Disinilah peran AsSunnah untuk menjelaskan sesuatu yang belum diatur di
dalam Al-Quran.
Pada ayat 187 ini batas kebolehan makan minum dibulan
ramadhan disebutkan sampai datang waktu fajar (Min AlFajri). Lafadz Min Al-Fajri dianggap menjelaskan batas
waktu yang disebutkan sehingga ia dipandang sebagai
ayat mubayyan.5
e. Muhkam dan Mutasyabih
Muhkam adalah nas yang tidak memberikan keraguan
lagi tentang apa yang dimaksudkannya (nas yang sudah
memberikan pengertian yang pasti). Mutasyabih adalah
sebaliknya, yakni nas yang mengandung pengertian
yang samar-samar dan mempunyai kemungkinan
4 Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,(Bandung: Pustaka
Setia,1997) hal.81
5 Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,(Bandung: Pustaka
Setia,1997) hal.83

beberapa arti. Dasar danya ayat muhkan dan


mutasyabih adalah firman Allah dalam surat Ali Imran
ayat 7 :
















(7: )

Artinya:
Dialah yang menurunkan kepada engkau kitab (Al-Quran)
diantara (isinya) ada ayat-ayat yang menjelaskan
maksudnya (muhkamat) itulah pokok pokok isi Al-Quran
dan yang lain ayat-ayat yang samar-samar (mutasyabihat).
(Q.S. Ali Imran: 7)
Mengenai hal ini para ulama berbeda pendapat,sebagian
menetapkan bahwa seluruh ayat Al-Quran adalah muhkan
berdasarkan ayat Al-Quran itu. Ada pula yang berpendapat
bahwa seluruh ayat Al-Quran itu adalah mutasyabihat,
berdasarkan bunyi ayat : kitabun mutasyabihat.
Pendapat yang terakhir mengatakan ada diantara
ayat-ayat Al-Quran yang muhkan dan ada pula yang
mutasyabihat. Dan inilah yang disepakati oleh Jumhur
Ulama. Ada beberapa pengertian lagi tentang kedua istilah
ini (muhkam dan mutasyabihat) yaitu,
Muhkam berarti ayat-ayat yang diketahui
maksudnya, baik lahiriahnya (harifah) maupun
dengan jalan takwil. Sementara mutasyabihat adalah
ayat-ayat yang hanya Allah sendiri yang mengetahui
maksudnya, seperti soal kapan datangnya hari
kiamat, kapan keluarnya dajjal, dan apa arti Al-Ahruf
Al-Muqattaah yang terdapat pada pembukaan
beberapa surat Al-Quran.
Muhkanm berarti ayat-ayat yang jelas maksudnya
dan Mutasyabih sebaliknya.
Muhkam adalah ayat-ayat yang bisa menerima satu
pengertian saja, sedangkan mutasyabih adalah ayat
yang dapat menerima beberapa pengertian.
Muhkam menyangkut soal hukum-hukum, janji dan
ancaman, sedangkan mutasyabih mengenai kisahkisah dan perumpamaan.6
6 Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,(Bandung: Pustaka
Setia,1997) hal.85

C. KAIDAH-KAIDAH KEBAHASAAN.
Kaidah-kaidah kebahasaan yang perlu dipahami oleh para
Mufassir banyak sekali. Namun dalam pembahasan kai ini
hanya akan diungkap beberapa kaidah yang dianggap
sangat penting, yaitu:
a. Dhamir
Ibnul Anbari menyusun dua buah jilid buku tentang
dhamir-dhamir yang terdapat didalam Al-Quran. Pada
dasarnya sebuah dhamir itu dibuat untuk meringkas.
Karena itu firman Allah:
(35: )







Artinya:
Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala
yang besar. (Q.S. Al-Ahzab : 35)
Ayat tersebut mewakili dua puluh lima kata yang jika
disebutkan semuanya, maka akan menjadi panjang.
Demikian juga firman Allah:

(31: )










Artinya:
katakanlah kepada para wanita-wanita mukminah
agar mereka menundukkan sebagian dari pendangan
mereka. (Q.S. An-Nur :31)
Makki berkata: Di dalam Al-Quran tidak ada kata yang
dhamirnya lebih banyak darinya. Di dalamnya ada lima
belas buah dhamir.
Karena itu dhamir munfasil itu tidak digunakan
kecuali jika tidak mungkin untuk menggunakan dhamir
muttasil, seperti jika terdapat di awal kalimat, seperti pada
ayat : atau setelah kata , seperti pada :



7

b. Isim marifah dan Nakirah
Masing-masing marifah dan nakirah mempunyai
fungsi yang berbeda.
Adapun penggunaan isim marifah mempunyai
beberapa fungsi yang berbeda sesuai macamnya.

7 Imam Jalaluddin AsSuyuthi,Al-Itqan Fi Ulumil Quran,(Surabaya: PT


Bina Ilmu, 2006) hal. 377

1. Tarif dengan isim dhamir (kata ganti) karena


keadaan yang menghendaki demikian, baik
dhamir mutakallim, mukhatab, ataupun ghaib.
2. Tarif dengan amaliyah (nama) berfungsi untuk:
a) Menghadirkan pemilik nama itu dalam hati
pendengar dengan cara menyebutkan
namanya yang khas.
b) Memuliakan, seperti pada ayat:

(29 : )


c) Menghinakan, seperti pada ayat:


(1: )



3. Tarif dengan isim isyarah (kata petunjuk)
berfungsi untuk:
a) Menjelaskan bahwa sesuatu yang ditunjuk itu
dekat, seperti:


: )






(11
b) Menjelaskan keadaannya dengan
menggunakan kata tunjuk jauh, seperti:

(5: )





c) Menghinakan dengan memakai kata tunjuk
dekat, seperti:
(64 : )



d) Memuliakan dengan kata tunjuk jauh, seperti
pada ayat

(2 : )


e) Mengingatkan (tanbih) bahwa sesuatu yang
ditunjuk (musyar ilaih) yang berisi beberapa
sifat itu sangat layak dengan sifat yang
disebutkan sesudah isim isyarah tersebut.
Misalnya:

(5-2 : )




4. Tarif dengan isim mausul (kata ganti penghubung)


berfungsi:
a) Karena tidak disukainya menyebut nama
sebenarnya untuk menutupi atau

disebabkan hal lain, seperti pada firman


Allah:

(17: )...




b) Untuk menunjukkan arti umum, seperti:
(69 :)...





c) Untuk meringkas kalimat, seperti:









(69:)...


Andaikata nama-nama orang yang mengatakan itu
disebutkan tentulah pembicaraan (kalimat) ini menjadi
panjang.
5. Tarif dengan alif lam (Al) berfungsi:
a) Untuk menunjukkan sesuatu yang sudah
diketahui karena telah disebutkan (mahud
zikri), seperti:


(35:)...











b) Untuk menunjukkan sesuatu yang sudah
diketahui bagi si pendengar seperti pada:














(18:)
c) Sesuatu yang sudah diketahui karea ia hadir
pada saat itu seperti:
...(3:)...





d) Untuk mencangkup semua satuannya
(istiqraqul-afrad), seperti:



s (2: )



Ini diketahui karena ada pengecualian sesudahnya.
e) Untuk menghabiskan segala karakteristik jenis,
seperti:

(2 : )

Maksudnya, kitab yang sempurna petunjuknya dan
mencangkup semua isi kitab yang diturunkan dengan
segala karakteristiknya.
f) Untuk menerangkan esensi, hakikat dan jenis,
seperti dalam ayat:


...(30 :)....







Penggunaan isim nakirah ini mempunyai fungsi
diantaranya:
1. Untuk menunjukkan satu, seperti pada:

(20:)...







Rajulun maksudnya adalah seorang laki-laki.

2. Untuk menunjukkan dua macam, seperti:


(96: )...







(Q.S. Al-Baqarah:96) , yakni sesuatu macam dari
kehidupan, yaitu mencari tambahan untuk masa depan,
sebab keinginan itu bukan terhadap masa lalu atau masa
sekarang.
3. Untuk menunjukkan satu dan macam sekaligus.
Misalnya pada:

(45:)...






Maksudnya, setiap macam dari macam binatang itu
berasal dari satu macam air dan setiap individe (satu)
binatang itu berasal dari satu nutfah.
4. Untuk membesarkan (memuliakan) keadaan, seperti:
....(279:)...




Maksud harbin ialah peperangan yang besar atau
dahsyat.
5. Untuk menunjukkan arti banyak, seperti pada ayat:
....(41:)...


(Q.S. Asy-Syuara: 41). Maksud ajaran ialah pahala yang
banyak.
6. Untuk membesarkan dan menunjukkan banyak
(gabungan) No. 4 dan 5 misalnya:


(4:)...






Maksudnya, rasul-rasul yang mulia dan banyak jumlahnya.
7. Untuk meremehkan, misalnya:

(18: )




Yakni, darisesuatu yang hina, rendah dan teramat remeh.
8. Untuk menyatakan sedikit, seperti dalam ayat:



















(72:)...










Maksudnya, keridhaan yang sedikit dari Allah itu lebih
besar daripada surga, karena keridhaan itu pangkal segala
kebahagiaan.8
c. Mufrad dan Jamak
Diantaranya adalah kata
dan

. dimana saja
kata
itu disebutkan, selalu dalam bentuk mufrad
di dalam Al-Quran, dan tidak pernah disebutkan dalam
bentuk jamak, berbeda dengan kata

. hal itu


karena beratnya bentuk jamaknya, yaitu

.
8 Imam Jalaluddin AsSuyuthi,Al-Itqan Fi Ulumil Quran,(Surabaya: PT
Bina Ilmu, 2006) hal. 399

karena itulah ketika hendak disebutkan bentuk


jamaknya, maka di dalam Al-Quran dikatakan (

( ) dan bumi seperti itu).



Adapun kata
, maka kadang-kadang disebutkan

dalam bentuk jamak dan kadang-kadang disebutkan
dalam bentuk mufrad, karena ada suatu rahasia yang
hendak disampaikan pada tempat itu, seperti yang
dijelaskan dalam tafsir Asraaut Tanzil. Ringkasnya
adalah ketika dimaksudkan untuk makna jumlah, maka
digunakan bentuk jamak yang menunjukkan keagungan
dan keluasannya, seperti :




( apa yang ada dilangit bertasbih



kepada Allah) , maksudnya seluruh penduduknya sangat
banyak.



( apa yang ada di langit



bertasbih kepada Allah). Maksudnya, adalah setiap
pribadi dengan perbedaan jumlah masing-masingnya.
( katakanlah:










tidak ada orang dilangit dan dibumi yang mengetahui
hal yang ghaib, kecuali Allah). Karena maksudnya
adalah menafikan pengetahuan dari masing-masing
orang tentang hal ghaib di setiap masing-masing langit.
Dan juka maksud yang dikehendaki adalah arah, maka
digunakanlah bentuk mufrad, seperti firman Allah taala:




(dan di langitlah rizki kalian).













(apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang
berada di langit bahwa akan menjungkirbalikkan bumi
bersama kamu).
Maksudnya adalah diatas kalian.
Kata yang lainnya adalah
( angin) yang disebutkan
dalam bentuk jamak dan mufrad.
Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya meriwayatkan dari
Ubay bin Kaab bahwa dia berkata:setiap kata
di
dalam Al-Quran, maka maknanya adalah angin rahmat
dan setiap kata maka maknanya adalah angin
azab. Karena itu disebutkan didalam hadist
(




( ) Ya Allah, jadikanlah angin
itu angin rahmat, dan janganlah engkau menjadikannya
angin azab).

Disebutkan hikmahnya adlah bahwa angin-angin rahmat


itu berbeda-beda sifat dan tiupannya serta manfaatnya.
Jika ada angin yang bertiup, maka angin yang
berlawanan arah dengannya yang menahan
hembusannya sehingga menimbulkan angin lembut
yang bermanfaat bagi hewan dan tumbuhan. Maka
jadilah angin itu sebagai rahmat. Adapun angin azab,
maka angin itu datang dari satu arah yang tidak ada
sesuatupun yang menahannya.
Kaidah ini dikecualikan dalam firman Allah pada surat
Yunus, yaitu pada ayat
( dan



meluncurlah bahtera itu brsama dengan orang-orang
yang didalamnya dengan tiupan angin yang baik). Hal
itu karena adanya dua sebab, yang pertama bersifat
lafdzi dan yang kedua bersifat maknawi.9
BAB III
A. KESIMPULAN
Kaidah tafsir dapat diartikan sebagai pedoman dasar
yang digunakan secara umum guna mendapatkan
pemahaman atas petunjuk-petunjuk alquran. Oleh
karena penafsiran merupakan suatu aktivitas yang
senantiasa berkembang, sesuai dengan perkembangan
sosial, ilmu pengetahuan dan bahasa, kaidah-kaidah
penafsiran akan lebih tepat jika dilihat sebagai suatu
prosedur kerja. Dengan pengertian ini, kaidah tersebut
tidak mengikat kepada mufasir lain agar menggunakan
prosedur kerja yang sama. Setiap mufasir berhak
menggunakan prosedur yang berbeda asalkan memiliki
kerangka metodologi yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dalam komponen ini
mencakup:
9 Imam Jalaluddin AsSuyuthi,Al-Itqan Fi Ulumil Quran,(Surabaya: PT
Bina Ilmu, 2006) hal. 410

a. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam


menafsirkan
alquran.
b. Sistematika yang hendaknya ditempuh dalam
menguraikan
penafsiran.
c. Patokan-patokan khusus yang membantu
pemahaman ayat-ayat
alquran, baikdari ilmu-ilmu bantu seperti bahasa dan
ushul fiqh,
maupun yang ditarik langsung dari penggunaan
alquran.
B.

SARAN
Manusiatidakselamanyatepatpertimbangannya, adilsikapnya,
kadang-kadangmanusiaberbuat yang tidakmasukakal.Olehsebabitu,
manusiaperlusekalitahumengenaidiri.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan. Masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam
penulisan makalah ini, baik yang kami sengaja maupun yang tidak
kami sengaja. Maka dari itu sangat kami harapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah
ini.Semoga dengan berbagai kekurangan yang ada ini tidak
mengurangi nilai-nilai dan manfaat dari mempelajari Qawaid Tafsir.

DAFTAR PUSKATA
-

Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Ulumul Quran II,Bandung:


Pustaka Setia,1997
Imam Jalaluddin AsSuyuthi,Al-Itqan Fi Ulumil
Quran,Surabaya: PT Bina Ilmu, 2006

Al-Quran dan Terjemahannya,mushaf quantum tauhid,


Bandung: MQS Publishing
Kamus Besar Bahasa Indonesia.