Anda di halaman 1dari 14

Tugas Baja I

Proses Pembuatan Baja

Fatmagussalim
D11109293

JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2013
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb


Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
kita kesehatan dan kesempatan sehingga makalah ini dapat terselesaikan, dan tak lupa kita
kirimkan salam dan shalawat atas junjungan nabi besar Muhammad SAW, karena berkat
beliaulah sehingga kita dapat terhindar dari zaman kebodohan dan menuju kezaman yang
dipenuhi dengan ilmu pengeteahuan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas dari dosen mata kuliah Struktur Baja I
sebagai syarat dalam penyelesaian studi pada Jurusan sipil Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin.
Dalam penulisan makalah ini saya banyak menemukan kesulitan, utamanya dalam
keterbatasan referensi yang saya dapatkan. Oleh karena itu, jika ada kesalahan dalam
makalah ini penulis mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya dan penulis mengharapkan
kritik dan saran kepada para pembaca demi kesempurnaan makalah selajutnya.
Akhirnya penulispun mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang
telah bersedia meluangkan waktunya demi terselesaikannya makalah ini.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Makassar, 22 Februari 2013


Penulis

FATMAGUSSALIM
D11109293

BAB I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Baja merupakan salah satu bahan bangunan yang unsur utamanya terdiri dari besi.
Baja ditemukan ketika dilakukan penempaan dan pemanasan yang menyebabkan
tercampurnya besi dengan bahan karbon pada proses pembakaran, sehingga
membentuk baja yang mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada besi.
B. Permasalahan
1. Proses Pembuatan Baja
a.
Apakah yang dimaksud dengan baja?
b.
Bagaimanakah proses pembuatan baja dengan menggunakan metode Thomas?
c.
Bagaimanakah proses pembuatan baja dengan menggunakan metode Siemens?
2. Pengaruh fy dan fu pada Baja
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
a. Sebagai tugas dari dosen dari mata kuliah Strukutur Baja I
b. Agar kiranya makalah ini dapat dijadikan referensi oleh para pembaca
c. Agar kiranya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca

Bab. II. Pembahasan


A. Pengertian Baja

Baja merupakan salah satu bahan bangunan yang unsur utamanya terdiri dari besi.
Baja ditemukan ketika dilakukan penempaan dan pemanasan yang menyebabkan
tercampurnya besi dengan bahan karbon pada proses pembakaran, sehingga
membentuk baja yang mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada besi.
Bila dibandingkan dengan bahan konstruksi lainnya, baja lebih banyak memiliki
keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat pada bahan-bahan konstruksi lain.
Disamping kekuatannya yang besar untuk menahan kekuatan tarik dan kekuatan tekan
tanpa membutuhkan banyak volume, baja juga mempunyai sifat-sifat lain yang
menguntungkan sehingga menjadikannya sebagai salah satu material yang umum
dipakai.
Sifat-sifat baja antara lain :
a. Kekuatan tinggi
Kekuatan baja bisa dinyatakan dengan kekuatan tegangan leleh fy atau
kekuatan tarik fu. Mengingat baja mempunyai kekuatan volume lebih tinggi
dibanding dengan bahan lain, hal ini memungkinkan perencanaan sebuah
konstruksi baja bisa mempunyai beban mati yang lebih kecil untuk bentang
yang lebih panjang, sehingga struktur lebih ringan dan efektif.
b. Kemudahan pemasangan
Komponen-komponen baja biasanya mempunyai bentuk standar serta
mudah diperoleh dimana saja, sehingga satu-satunya kegiatan yang dilakukan
dilapangan adalah pemasangan bagian-bagian yang telah disiapkan.
c. Keseragaman
Baja dibuat dalam kondisi yang sudah diatur (fabrikasi) sehingga
mutunya seragam.
Baja karbon adalah material logam yang terbentuk dari unsur utama Fe dan unsur
kedua yang berpengaruh pada sifatsifatnya adalah karbon, sedangkan unsur yang lain
berpengaruh menurut prosesentasenya. Baja karbon merupakan salah satu jenis logam
paduan besi karbon terpenting dengan prosentase berat karbon hingga 2,11%. Baja
karbon memiliki kadar C hingga 1.2% dengan Mn 0.30%-0.95%. Elemen-elemen
prosentase maksimum selain bajanya sebagai berikut: 0.60% Silicon, 0.60% Copper.
Fasa-fasa yang terbentuk pada baja karbon :

a. Ferit (alpha) : merupakan sel satuan (susunan atom-atom yang paling kecil dan
teratur) berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat badan), Ferit ini
mempunyai sifat : magnetis, agak ulet, agak kuat, dll.
b. Austenit : merupakan sel satuan yang berupa Face Centered Cubic (FCC =kubus
pusat muka), Austenit ini mempunyai sifat : Non magnetis, ulet, dll.
c. Sementid (besi karbida) : merupakan sel satuan yang berupa orthorombik,
Semented ini mempunyai sifat : keras dan getas.
d. Perlit : merupakan campuran fasa ferit dan sementid sehingga mempunyai sifat
Kuat.
e. Delta : merupakan sel satuan yang berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus
pusat badan).

Gambar 1. Photomicrographs of (a) ferrite and (b) austenite

Klasifikasi Baja Karbon


Baja karbon (carbon steel), dibagi menjadi tiga golongan yaitu :
1. Baja karbon rendah (low carbon steel) machine, machinery dan mild steel.
Kandungannya 0,05% 0,30% C.

2. Sifatnya mudah ditempa dan mudah di mesin. Penggunaannya:


- 0,05 % 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets,
screws, nails.
- 0,20 % 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings.
3. Baja karbon menengah (medium carbon steel)
- Kekuatan lebih tinggi daripada baja karbon rendah.
- Sifatnya sulit untuk dibengkokkan, dilas, dipotong. Penggunaan:
0,30 % 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles.
0,40 % 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits,
screwdrivers.
0,50 % 0,60 % C : hammers dan sledges.
4. Baja karbon tinggi (high carbon steel) tool steel
- Sifatnya sulit dibengkokkan, dilas dan dipotong. Kandungan 0,60%
1,50% C
B. Proses Pembuatan Baja Metode Thomas
Konvertor Thomas juga di sebut konvertor basa dan proses nya adalah proses
basa,sebab batu tahan apinya bersifat basa serta digunakan untuk mengolah besi kasar
yg bersifat basa.muatan konvertor Thomas adalah besi kasar putih yg mengandung
banyak fosfor.
Proses pembakaran sama dengan proses pada konvertor Bessemer,hanya saja
pada proses Thomas fosfor terbakar setelah zat arang nya terbakar.pengaliran udara
tidak terus menerus dilakukan karena besi nya sendiri akan terbakar.pencegahan
pembakaran dilakukan dengan menggangap selesai proses nya walaupun kandungan
fosfor nya masih tetap tinggi.
Guna mengikat fosfor yg terbentuk pada proses ini maka diberi bahan tambahan
batu kapur agar menjadi terak.terak yang bersifat basa ini dapat dimanfaatkan menjadi
pupuk buatan yang dikenal dengan nama pupuk fosfat.hasil yang keluar dari
konvertor disebut baja Thomas yang biasa digunakan sebagai bahan konstruksi dan
pelat ketel.

Proses pembuatan baja pada konvertor Thomas

Pertama kali, bahan tambahan di masukkan ke dalam konvertor, kemudian besi


kasar putih. Udara di hembuskan selama 24 menit. Hasilnya, sebagian kecil zat arang
terbakar, sedangkan fosfor tidak terbakar. Bila suhu diatas 1300oC dan waktu diatas 10
menit, zat arang akan hilang. Pada waktu inilah fosfor terbakar dan menimbulkan
panas sangat tinggi. Proses dalam dapur iniantara 12-15 menit. Kotoran
pembakarannya 3 kali lebih banyak dari pada konvertor Bessemer. Bila kotoran ini di
giling halus akan menghasilkan pupuk buatan (mengandung asam fosfat 17-20%).
Hasil akhir dari konvertor ini berupa baja yang berkadar 0,05-0,6% C, yang banyak
dipergunakan untuk baja-baja profil,plat-plat kapal,plat-plat ketel, dan lain-lain.
Konstruksi konvertor Thomas
Bentuk dan cara kerja konvertor Thomas sama dengan konvertor Bessemer,
hanya pelapisnya terbuat dari dinding batu tahan apidengan bahan dolomite, yaitu,
semacam batu yang terdiri dari campuaran kalsium karbonat(CaCO3)dan magnesium
karbonat(MgCO3). Sisa oksida basa tidak dapat lagi menghisap oksida arang dan lepas
dari udara,sisa pijarnya dicampur dan dikempakkan dalam cetakan besi tuang.batu
alas/dasarnya dibentuk dari masa yang sama dalam acuan-acuan besi.
Sebelum dapur dipakai, bagian dalamnya dipanaskan dahulu dengan api kokas
untuk membuang bagian gas tersebut. Perlu diingat bahwa dalam konvertor ini tidak
dapat dipakai besi kasar yang kaya silisium seperti pada prose Bessemer. Ini
disebabkan karena ada kemungkinan lapisan basa akan cepat rusak oleh oksida
silisium. Karena itu, dipakai besi kasar putih(0,3-0,8%Si), sehingga kalor dari silisium
tidak ada. Sebagai penggantinya diberi 1,7-2% fosfor sebagai bahan pembakar yang
dibantu oleh mangan sekitar 1-2%
Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit
[ kalsium karbonat dan magnesium (CaCO3 + MgCO3)], besi yang diolah besi kasar
putih yang mengandung P antara 1,7 2 %, Mn 1 2 % dan Si 0,6-0,8 %. Setelah
unsur Mn dan Si terbakar, P membentuk oksida phospor (P2O 5), untuk mengeluarkan
besi cair ditambahkan zat kapur (CaO),
3 CaO + P2O5 Ca3(PO4)2 (terak cair)
Keuntungan :

Besi kasar yang kurang bersih dapat dikerjakan.

Fosfor dapat dihilangkan, tapi bila ada hanya sebagian fosfor yang dalam prakteknya
tidak menimbulkan gangguan.

Menghasilkan produk tambahan berupa pupuk.

Prosesnya lebih mudah dibandingkan dengan proses Bessemer.


Kerugian :

Baja mengandung lebih banyak oksigen

Besi yang hilang lebih banyak dibandingkan proses Bessemer (11 13 %)

C. Proses Pembuatan Baja Metode Siemens Martin


Proses lain untuk membuat baja dari bahan besi kasar adalah menggunakan dapur
Siemens Martin yang sering disebut proses Martin. Dapur ini terdiri atas satu tungku
untuk bahan yang dicairkan dan biasanya menggunakan empat ruangan sebagai
pemanas gas dan udara. Pada proses ini digunakan muatan besi bekas yang dicampur
dengan besi kasar sehingga dapat menghasilkan baja dengan kualitas yang lebih baik
jika dibandingkan dengan baja Bessemer maupun Thomas.
Gas yang akan dibakar dengan udara untuk pembakaran dialirkan ke dalam
ruangan-ruangan melalui batu tahan api yang sudah dipanaskan dengan temperatur
600 sampai 9000 C. dengan demikian nyala apinya mempunyai suhu yang tinggi,
kira-kira 18000 C. gas pembakaran yang bergerak ke luar masih memberikan panas
kedalam ruang yang kedua, dengan menggunakan keran pengatur maka gas panas dan
udara pembakaran masuk ke dalam ruangan tersebut secara bergantian dipanaskan dan
didinginkan.
Bahan bakar yang digunakan adalah gas dapur tinggi, minyak yang digaskan
(stookolie) dan juga gas generator. Pada pembakaran zat arang terjadi gas CO dan
CO2 yang naik ke atas dan mengakibatkan cairannya bergolak, dengan demikian akan
terjadi hubungann yang erat antara api dengan bahan muatan yang dimasukkan ke

dapur tinggi. Bahan tambahan akan bersenyawa dengan zat asam membentuk terak
yang menutup cairan tersebut sehingga melindungi cairan itu dari oksida lebih lanjut.
Setelah proses berjalan selama 6 jam, terak dikeluarkan dengan memiringkan
dapur tersebut dan kemudian baja cair dapat dicerat. Hasil akhir dari proses Martin
disebut baja Martin. Baja ini bermutu baik karena komposisinya dapat diatur dan
ditentukan dengan teliti pada proses yang berlangsung agak lama.
Lapisan dapur pada proses Martin dapat bersifat asam atau basa tergantung dari
besi kasarnya mengandung fosfor sedikit atau banyak. Proses Martin asam teradi
apabila mengolah besi kasar yang bersifat asam atau mengandung fosfor rendah dan
sebaliknya dikatakan proses Martin basa apabila muatannya bersifat basa dan
mengandung fosfor yang tinggi.
Keuntungan dari proses Martin disbanding proses Bessemer dan Thomas adalah
sebagai berikut :
a. Proses lebih lama sehingga dapat menghasilkan susunan yang lebih baik
dengan jalan percobaan-percobaan.
b. Unsur-unsur yang tidak dikehendaki dan kotoran-kotoran dapat dihindarkan
atau dibersihkan.
c. Penambahan besi bekas dan bahan tambahan lainnya pada akhir proses
menyebabkan susunannya dapat diatur sebaik-baiknya. Selain keuntungan di
atas dan karena udara pembakaran mengalir di atas cairan maka hasil akhir
akan sedikit mengandung zat asam dan zat lemas. Proses Martin basa biasanya
masih mengandung beberapa kotoran seperti zat asam, belerang, fosfor dan
sebagainya. Sedangkan pada proses Martin asam kadar kotoran-kotoran
tersebut lebih kecil.

Gambar Dapur Siemens Martin

Bagan Proses Pembuatan Baja

Proses Peleburan Besi

Pengaruh fy dan fu pada Baja.

Kekuatan baja bisa dinyatakan dengan kekuatan tegangan leleh fy atau kekuatan tarik
fu. Mengingat baja mempunyai kekuatan volume lebih tinggi dibanding dengan bahan lain,
hal ini memungkinkan perencanaan sebuah konstruksi baja bisa mempunyai beban mati
yang lebih kecil untuk bentang yang lebih panjang, sehingga struktur lebih ringan dan
efektif.
Sifat mekanis baja struktur yang digunakan dalam perencanaan harus memenuhi
persyaratan minimum pada tabel berikut :
Tegangan putus
Jenis Baja

Minimum fu
(Mpa)

Tegangan Leleh
Minimum fy
(Mpa)

Peregangan
Minimum
(%)

BJ 34

340

210

22

BJ 37

370

240

20

BJ 41

410

250

18

BJ 50

500

290

16

BJ 55

550

410

13

Tegangan Leleh
Tegangan leleh untuk perencanaan ( fy ) tidak boleh diambil melebihi nilai yang
diberikan pada tabel sifat mekanisme baja struktural. Sehingga pemanasan pada
baja sangatlah dihindari, hal ini dikarenakan apabila baja mengalami
pemanasan (terbakar) maka kemungkinan baja tersebut akan mengalami
penurunan kekuatan struktur baja sehingga mempengaruhi fungsi struktur baja
tersebut. Meskipun Beberapa metode telah dikembangkan untuk melindungi
elemen baja dari pengaruh kebakaran, di antaranya adalah encasement method
dimana bahan yang biasa digunakan adalah gypsum board. Penelitian ini
bertujuan untuk dapat mengetahui sifat-sifat mekanikal profil baja yang dilapisi
gypsum board pasca pengujian pembakaran.
Tegangan Putus
Tegangan putus untuk perencanaan ( fu ) tidak boleh diambil melebihi nilai
yang diberikan pada tabel sifat mekanisme baja struktural. Halini dikarenakan

semakin besar mutu suatu baja, maka sifat rentan untuk putusnya juga akan
semakin besar, tidak seperti baja dengan mutu yang lebih rendah, bila diberi
beban yang besar, maka kemungkinan baja tersebut hanya akan melendut.

Bab, III. Penutup


A. Kesimpulan

Baja karbon adalah material logam yang terbentuk dari unsur utama Fe dan
unsur kedua yang berpengaruh pada sifatsifatnya adalah karbon, sedangkan
unsur yang lain berpengaruh menurut prosesentasenya. Baja karbon dapat
dibuat dengan beberapa proses yaitu proses konvertor, proses siemens martin,
proses basic oxygen furnace, proses dapur listrik, proses dapur kopel, dan
proses dapur cawan.

Secara umum, proses pembuatan baja karbon dimulai dengan proses ekstraksi
bijih besi. Proses reduksi umumnya terjadi di dalam tanur tiup (blast
furnace) di mana di dalamnya bijih besi (iron ore) dan batu gamping
(limestone) yang telah mengalami pemanggangan (sintering) diproses
bersama-sama dengan kokas (cokes) yang berasal dari batubara. Luaran utama
dari proses ini adalah lelehan besi mentah (molten pig iron) dengan
kandungan karbon yang cukup tinggi (4% C) beserta pengotor-pengotor lain
seperti silkon, mangan, sulfur, dan fosfor. Selanjutnya di dalam tungku
oksigen-basa (basic-oxygen furnace) besi mentah cair dicampur dengan 30%
besi tua (scrap) yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tanur. Selanjutnya,
oksigen murni ditiupkan dari bagian atas ke dalam leburan, bereaksi dengan Fe
membentuk oksida besi FeO. Oksida besi atau FeO selanjutnya akan bereaksi
dengan karbon di dalam besi mentah sehingga diperoleh Fe dengan kadar
karbon lebih rendah dan gas karbon monoksida. Dari proses inilah kemudian
didapatkan baja karbon yang sesuai atau baik.

Keuntungan dari proses Martin disbanding proses Bessemer


dan Thomas adalah sebagai berikut : Proses lebih lama
sehingga dapat menghasilkan susunan yang lebih baik dengan
jalan percobaanpercobaan, unsur-unsur yang tidak
dikehendaki dan kotoran-kotoran dapat dihindarkan atau
dibersihkan, penambahan besi bekas dan bahan tambahan
lainnya pada akhir proses menyebabkan susunannya dapat
diatur sebaik-baiknya.

Daftar Pustaka
http://bahanteknikmesin.blogspot.com/2012/10/pengolahan-baja-dengan-dapursiemens.html?zx=65d4ec344dafb433
http://iqbalrbc.blogspot.com/2012/06/proses-thomas.html
http://www.gudangmateri.com/2011/01/proses-pembentukan-baja.html
http://shinqueena.wordpress.com/2009/06/07/baja-dan-proses-pembuatannya/
http://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/24/proses-pembuatan-bajakarbon/