Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan non
imunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen
ataupun endogen. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan (kimiawi, fisik,
maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan penting pada penyakit
ini.3
Secara garis besar, dermatitis kontak ini diklasifikasikan menjadi dua bagian
besar, yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi, keduanya dapat
bersifat akut dan kronis. Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi perandangan
non-imunologik, jadi kerusakan kulit langsung tanpa didahului proses sensitasi.
Sebaliknya, dermatitis kontak alergik terjadi seseorang yang telah mengalami
sensitif terhadap suatu allergen.7
Dari data yang didapatkan dari U.S. Bureau of Labour Statistic
menunjukkan bahwa 249.000 kasus penyakit okupasional nonfatal pada tahun
2004 untuk kedua jenis kelamin, 15,6% (38.900 kasus) adalah penyakit kulit yang
merupakan penyebab kedua terbesar untuk semua penyakit okupational. 3
Di Jerman, angka insiden DKI adalah 4,5 setiap 10.000 pekerja, dimana insiden
tertinggi ditemukan pada penata rambut (46,9 kasus per 10.000 pekerja setiap
tahunnya), tukang roti dan tukang masak.8. Di RSUP H. Adam Malik Medan,
selama tahun 2000 terdapat 731 pasien baru di poliklinik dimana 201 pasien
(27,50%) menderita dermatitis kontak. Dari bulan Januari hingga Juni 2001
terdapat 270 pasien dengan 64 pasien (23,70%) menderita dermatitis kontak.

Menurut Kurniati SC di RSUD Tangerang ( dari Oktober 1996 sampai


Oktober 1997 ), ditemukan 51 kasus penderita , 41,17% DKI dan 5,88% berupa
dermatitis akibat kerja. Kasus-kasus tersebut disebabkan pekerjaan mencuci,
yakni kontak langsung dengan sabun dan deterjen. Sedangkan dari tahun 1999
2001 di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo kasus DKI akibat deterjen pertahun
berkisar 9.09% hingga 20.95% dari seluruh dermatitis kontak.1
Zat yang menyebabkan DKI akut adalah zat yang cukup iritan untuk
menyebabkan kerusakan kulit bahkan dalam sekali pajanan. Zat-zat yang dapat
menyebabkan adalah asam pekat, basa pekat, cairan pelarut kuat, zat oksidator
dan reduktor kuat. Sedangkan pada DKI kronis kerusakan terjadi setelah beberapa
kali pajanan pada lokasi kulit yang sama, yaitu terhadap zat-zat iritan lemah
seperti: air, deterjen, zat pelarut lemah, minyak dan pelumas. Zat-zat ini tidak
cukup toksik untuk menimbulkan kerusakan kulit pada satu kali pajanan,
melainkan secara perlahan-lahan hingga pada sutau saat kerusakannya, mampu
menimbulkan inflamsi. Penyebab DKI kumulatif biasanya bersifat multifaktorial.1
Di Indonesia, tidak sulit mencari tempat-tempat pekerjaan yang memiliki
kontak dengan zat-zat yang menyebabkan DKI. Pengetahuan pekerja tentang
dermatitis kontak iritan dapat mempengaruhi sikap dan tindakan mereka terhadap
masalah kulit yang sering terjadi di antara pekerja.

BAB 2
LAPORAN KASUS
2.1

Identitas Pasien
Nama

: Tn. J

Usia

: 70 tahun

Pekerjaan

: Petani

Agama

: Islam

Suku

: Aceh

Alamat

: kec.tanah jambo aye, panton labu

Tanggal Pemeriksaan

: 31 juli 2015

2.2

Anamnesis

2.2.1

Keluhan Utama
Pasien datang ke puskesmas tanah jambo aye dengan keluhan kulit gatal

dan kemerahan di kedua tangan


2.2.2

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan di ke 2 tangan terasa panas dan gatal sejak 1

hari yang lalu akibat terkena tumpahan oli rem motor dirumahnya, awalnya jari
tangan hanya terasa gatal, kemudian lama lama menjadi panas, berwarna
kemerahan, kemudian kulit jari dan tangannya mulai mengelupas menjadi kasar,
dan bersisik. Jari terasa perih jika terkena air. Os menyangkal memiliki riwayat
alergi sebelumnya. Os juga mengaku tidak mengkonsumsi obat apapun
sebelumnya.

2.2.6

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien diketahui ada riwayat tuberkulosis paru dan sudah


dinyatakan sembuh oleh dokter

2.2.7

Riwayat Keluarga

2.2.8

Os mengaku tidak ada keluarga yang mengalami hal yang sama.

Riwayat Penggunaan Obat

Os mengaku hanya pernah minum obat OAT dan sudah berhenti 1


tahun yang lalu. sebelum keluhan terjadi os mengaku tidak
meminum obat

2.3

riwayat penggunaan obat lain disangkal

Pemeriksaan Fisik

A. Status Present
1) Keadaan umum

: sedang

2) Kesadaran

: compos mentis

3) Tekanan darah

: 120/80 mmHg

4) Frekuensi Nadi

: 88x/menit

5) Frekuensi Nafas

: 22x/menit

6) Temperatur

: 37,8 oC

B. Status General
1) Kulit
Status Dermatologis : Terdapat plak eritem, bentuk dan ukuran bervariasi,
bentuk tidak teratur, berbatas tidak tegas, tepi ireguler, distribusi terlokalisir
pada ke dua tangan ditutupi skuama kasar berwarna putih disertai beberapa
daerah terdapat fisura berwarna kemerahan.

2) Kepala
Bentuk

: kesan normocephali

Wajah

: simetris, deformitas (-)

Mata

: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),


pupil isokor (+/+), refleks cahaya (+/+)

Hidung

: Hiperemis (-/-), sekret (-/-), deviasi septum (-), nafas cuping


hidung (-)

Telinga

: bentuk aurikula normal, kedua membran timpani utuh, hiperemis


(-/-), sekret (-/-)

Mulut
- bibir : sianosis (-), sariawan (-)
- lidah : beslag (-)
- gigi : struktur gigi atas dan bawah normal, karies (-)
- tonsil : dalam batas normal
- faring: dalam batas normal
3) Leher
Inspeksi

: simetris, peningkatan tekanan vena jugularis (-)

Palpasi

: pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), massa (-)

4) Thoraks
Inspeksi

: pergerakan dinding dada simetris, retraksi intercosta (-)

Palpasi

: massa (-), fremitus vokal kanan dan kiri simetris serta tidak
meningkat

Perkusi

: sonor (+/+)

Auskultasi : vesikular (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)


5) Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS V, 1 cm medial lineal midclavicula


sinistra

Perkusi

batas kanan

= ICS IV, linea parasternal dextra

batas kiri

= ICS V, 1 cm medial lineal midclavicula sinistra

batas atas

= ICS III, linea parasternal sinistra

Auskultasi : regular, bising (-)


6) Abdomen
Inspeksi

: bentuk simetris, tampak sedikit kembung, luka parut (-)

Palpasi

: soepel, hepatogemali (-), splenomegali (-), massa lain (-)

Perkusi

: timpani, asites (-)

Auskultasi : peristaltik usus (+) nornal


7) Genitalia
Tidak diperiksa
8) Anus
Tidak diperiksa
9) Ekstremitas
Edema (-/-), sianosis (-/-), petekie (-/-)
2.4

Diagnosa Banding
1. Dermatitis kontak iritan
2. Dermatitis kontak alergi
3. Dermatitis atopic

2.5

Diagnosa Kerja
Dermatitis kontak iritan e.c pelumas mesin

2.6

Penatalaksanaan
=> Non medikamentosa
Menghindari iritan, dalam hal ini pelumas mesin/oli. Dan lebih waspada
terhadap paparan zat iritan lainnya.
=> Medikamentosa

Sistemik
Methylprednisolon tab 8mg 1x/hari

cetirizin tab 2x/Hari

Salep
hydrokortison 2,5%,, vaselin album 40 gram malam hari

2.7

Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin.

2.8

Prognosis

Quo Ad Vitam

: Dubia ad bonam

Quo Ad Fungsionum

: Dubia ad bonam

Quo Ad Sanationum

: Dubia ad bonam

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1

Definisi

3.1.1.Definisi Dermatitis Kontak


Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau
substansi yang menempel pada kulit.Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak
yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik; keduanya dapat
bersifat akut maupun kronis.7
3.1.2 Definisi Dermatitis Kontak Iritan
Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan non
imunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen yang
dipengaruhi faktor endogen. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan (kimiawi,
fisik, maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan penting pada
penyakit ini .3
3.2. Epidemiologi
Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai
golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Data epidemiologi penderita dermatitis

10

kontak iritan sulit didapat. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan
cukup banyak, namun sulit untuk diketahui jumlahnya. Hal ini disebabkan antara
lain oleh banyak penderita yang tidak datang berobat dengan kelainan ringan.7
Dari data yang didapatkan dari U.S. Bureau of Labour Statistic
menunjukkan bahwa 249.000 kasus penyakit okupasional nonfatal pada tahun
2004 untuk kedua jenis kelamin, 15,6% (38.900 kasus) adalah penyakit kulit yang
merupakan penyebab kedua terbesar untuk semua penyakit okupational.
Berdasarkan penelitian tahunan dari institusi yang sama, bahwa angka kejadian
untuk penyakit okupasional pada populasi pekerja di Amerika, menunjukkan 9095% dari penyakit okupasional adalah dermatitis kontak, dan 80% dari penyakit
didalamnya adalah dermatitis kontak iritan.3
3.3. Etiologi
1. Faktor Eksogen
Selain dengan asam dan basa kuat, tidak mungkin untuk memprediksi
potensi iritan suatu bahan kimia berdasarkan struktur molekulnya. Potensial iritan
bentuk senyawa mungkin lebih sulit untuk diprediksi. Faktor-faktor yang
dimaksudkan termasuk sifat kimia bahan iritan, yaitu pH, kondisi fisik,
konsentrasi, ukuran molekul, jumlah, polarisasi, ionisasi, bahan dasar, kelarutan.
Selain itu, sifat dari pajanan sepertu jumlah, konsentrasi, lamanya pajanan dan
jenis kontak, pajanan serentak dengan bahan iritan lain dan jaraknya setelah
pajanan sebelumnya juga turut menyebabkan DKI. Faktor lingkungan seperti
lokalisasi tubuh yang terpajang dan suhu, dan faktor mekanik seperti tekanan,
gesekan atau goresan, kelembapan lingkunan yang rendah dan suhu dingin

11

menurunkan kadar air pada stratum korneum yang menyebabkan kulit lebih rentan
pada bahan iritan.
2. Faktor Endogen
2.1. Faktor genetik
Ada hipotesa yang mengungkapkan bahwa kemampuan individu untuk
mengeluarkan radikal bebas, dan mengubah derajat enzym antioksidan,dan
kemampuan untuk membentuk perlindungan heat shock protein semuanya
dibawah kontrol genetik. Faktor tersebut juga menentukan keberagaman respon
tubuh terhadap bahan-bahan ititan.Selain itu, predisposisi genetik terhadap
kerentanan bahan iritan berbeda untuk setiap bahan iritan. Pada
penelitian, diduga bahwa faktor genetik mungkin mempengaruhi kerentanan
terhadap bahan iritan.3
2.2. Jenis Kelamin
Gambaran klinik dermatitis kontak iritan paling banyak pada tangan, dan
wanita dilaporkan paling banyak dari semua pasien. Hubungan antara jenis
kelamin dengan kerentanan kulit adalah karena wanita lebih banyak terpajan oleh
bahan iritan, kerja basah dan lebih suka perawatan daripada laki-laki. Tidak ada
pembedaan jenis kelamin untuk dermatitis kontak iritan yang ditetapkan
berdasarkan penelitian (Wolff, 2008).
2.3. Umur
Anak-anak dibawah 8 tahun lebih mudah menyerap reaksi-reaksi bahanbahan
kimia dan bahan iritan lewat kulit.Banyak studi yang menunjukkan bahwa
tidak ada kecurigaan pada peningkatan pertahanan kulit dengan meningkatnya

12

umur. Data pengaruh umur pada percobaan iritasi kulit sangat berlawanan. Iritasi
kulit yang kelihatan (eritema) menurun pada orang tua sementara iritasi kulit yang
tidak kelihatan (kerusakan pertahanan) meningkat pada orang muda (Wolff,
2008).

2.4. Suku
Tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa jenis kulit mempengaruhi
berkembangnya dermatitis kontak iritan secara signifikan.Karena eritema sulit
diamati pada kulit gelap, penelitian terbaru menggunakan eritema sebagai
satusatunya parameter untuk mengukur iritasi yang mungkin sudah sampai pada
kesalahan interpretasi bahwa kulit hitam lebih resisten terhadap bahan iritan
daripada kulit putih (Wolff, 2008).
2.5. Lokasi Kulit
Ada perbedaan lokasi kulit yang signifikan dalam hal fungsi pertahanan, sehingga
kulit wajah, leher, skrotum, dan bagian dorsal tangan lebih rentan terhadap
dermatitis kontak iritan, di mana telapak tangan dan kaki lebih resisten (Tony,
2010).
3.4. Manifestasi Klinis
Berdasarkan gejala klinis dermatitis kontak iritan ada dua yaitu dermatitis
kontak iritan akut dan dermatitis iritan kronik.2
1. Dermatitis kontak iritan akut

13

Pada dermatitis kontak iritan akut, reaksi sering disebabkan oleh paparan tunggal
iritan dan manifestasi kulit biasanya menghilang dalam beberapa hari sampai
minggu.Sumber iritan yang paling sering adalah kimia atau abrasi pada kulit.Salah
satu peristiwa awal utama sebelum kerusakan kulit yang diamati adalah pelepasan
sitokin proinflamasi. Hal ini pada gilirannya memperkuat reaksi inflamasi dengan
melepaskan kemokin, sehingga vasodilatasi dan infiltrasi sel (misalnya, limfosit,
eosinofil, makrofag, neutrofil, sel T) ke dalam epidermis dan dermis. Tanda
histopatologis dari iritasi adalah kerusakan epidermis yaitu spongiosis dan
pembentukan microvesikel, eritema, indurasi, dan edema yang mengarah ke
daerah yang menyakitkan lokal dari kulit.
2. Dermatitis kontak iritan kronis
Distribusi penyakit ini biasanya pada tangan. Pada dermatitis kontak iritan
kumulatif, biasanya dimulai dari sela jari tangan dan kemudian menyebar ke
bagian dorsal dan telapak tangan.Pada ibu rumah tangga, biasanya dimulai dari
ujung jari (pulpitis).1
DKI kronis disebabkan oleh kontak dengan iritan lemah yang berulangulang, dan
mungkin bisa terjadi oleh karena kerjasama berbagai macam faktor. Bisa jadi
suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi
bila bergabung dengan faktor lain baru mampu memberi kelainan. Kelainan baru
nyata setelah berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan, bahkan bisa
bertahun-tahun kemudian.Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor
paling penting.7
Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal

14

dan terjadi likenifikasi, batas kelainan tidak tegas.Bila kontak terus berlangsung
maka dapat menimbulkan retak kulit yang disebut fisura. Adakalanya kelainan
hanya berupa kulit kering dan skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh
penderita. Setelah kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian.1

3.5 DIAGNOSIS

Diagnosis dermatitis kontak iritan didasarkan atas anamnesis yang cermat


dan pengamatan gambaran klinis yang akurat. DKI akut lebih mudah diketahui
karena munculnya lebih cepat sehingga penderita lebih mudah mengingat
penyebab terjadinya. DKI kronis timbul lambat serta mempunyai gambaran klinis
yang luas, sehingga kadang sulit dibedakan dengan DKA. Selain anamnesis, juga
perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk lebih memastikan diagnosis DKI.
A. Pemeriksaan Fisis

15

Menurut Rietschel dan Flowler, kriteria dignosis primer untuk DKI sebagai
berikut: 1
- Makula eritema, hiperkeratosis, atau fisura predominan setelah terbentuk
-

vesikel
Tampakan kulit berlapis, kering, atau melepuh
Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit
Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

B. Pemeriksaan Penunjang.
Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mediagnosis dermatitis kontak
iritan. Ruam kulit biasanya sembuh setelah bahan iritan dihilangkan. Terdapat
beberapa tes yang dapat memberikan indikasi dari substansi yang berpotensi
menyebabkan DKI. Tidak ada spesifik tes yang dapat memperlihatkan efek
yang didapatkan dari setiap pasien jika terkena dengan bahan iritan. Dermatitis
kontak iritan dalam beberapa kasus, biasanya merupakan hasil dari efek
berbagai iritans.4
1. Patch Test
Patch test digunakan untuk menentukan substansi yang menyebabkan
kontak dermatitis dan digunakan untuk mendiagnosis DKA. Konsentrasi
yang digunakan harus tepat. Jika terlalu sedikit, dapat memberikan hasil
negatif palsu oleh karena tidak adanya reaksi. Dan jika terlalu tinggi dapat
terinterpretasi sebagai alergi (positif palsu). Patch tes dilepas setelah 48
jam, hasilnya dilihat dan reaksi positif dicatat. Untuk pemeriksaan lebih
lanjut, dan kemabali dilakukan pemeriksaan pada 48 jam berikutnya. Jika
hasilnya didapatkan ruam kulit yang membaik, maka dapat didiagnosis
sebagai DKI,1,7 Pemeriksaan patch tes digunakan untuk pasien kronis,
dengan dermatitis kontak yang rekuren.
2. Kultur Bakteri

16

Kultur bakteri dapat dilakukan pada kasus-kasus komplikasi infeksi


sekunder bakteri.
3. Pemeriksaan KOH
Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikology pada
infeksi jamur superficial infeksi candida, pemeriksaan ini tergantung
tempat dan morfologi dari lesi.
4. Pemeriksaan IgE
Peningkatan imunoglobulin E dapat menyokong adanya diathetis atopic
atau riwayat atopi.
3.6 DIAGNOSA BANDING
1. Dermatitis Kontak Alergi
Berbeda dengan DKI, pada DKA, terdapat sensitasi dari pajanan/iritan.
Gambaran lesi secara klinis muncul pada pajanan selanjutnya setelah
interpretasi ulang dari antigen oleh sel T (memori), dan keluhan utama
pada penderita DKA adalah gatal pada daerah yang terkena pajanan. Pada
patch tes, didapatkan hasil positif untuk alergen yang telah diujikan, dan
sensitifitasnya berkisar antara 70 80%.
2. Dermatitis Atopi
Merupakan keadaan radang kulit kronis dan residif, disertai dengan gatal
yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering
berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat
atopi pada keluarga penderita. Oleh karena itu, pemeriksaan IgE pada
penderita dengan suspek DKI dapat dilakukan untuk mengurangi
kemungkinan diagnosis dermatitis atopi.
3. Tinea Pedis
Merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya
stratum korneun pada epidermis, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh
jamur dermatofitosis. Penderita bisa merasa gatal dan kelainan berbatas

17

tegas, terdiri atas macam-macam effloresensi kulit. Bagian tepi lesi lebih
aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah. Pada
tinea pedis, khususnya bentuk mocassin foot, pada seluruh kaki terlihat
kulit menebal, dan bersisik serta eritema yang ringan terutama di tempat
yang terdapat lesi.4
3.7 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dari dermatitis kontak iritan dapat dilakukan dengan
melakukan dengan memproteksi atau menghindakan kulit dari bahan iritan. Selain
itu, prinsip pengobatan penyakit ini adalah dengan menghindari bahan iritan,
melakukan proteksi (seperti penggunaan sarung tangan), dan melakukan substitusi
dalam hal ini, mengganti bahan-bahan iritan dengan bahan lain.6
Selain itu, beberapa strategi pengobatan yang dapat dilakukan pada
penderita dermatitis kontak iritan adalah sebagai berikut:

1. Kompres dingin dengan Burrows solution


Kompres dingin dilakukan untuk mengurangi pembentukan vesikel dan
membantu mengurangi pertumbuhan bakteri. Kompres ini diganti setiap 2-3
jam.
2. Glukokortikoid topikal
Efek topical dari glukokortikoid pada penderita DKI akut masih
kontrofersional karena efek yang ditimbulkan, namun pada penggunaan yang
lama dari corticosteroid dapat menimbulkan kerusakan kulit pada stratum
korneum. Pada pengobatan untuk DKI akut yang berat, mungkin dianjurkan

18

pemberian prednison pada 2 minggu pertama, 60 mg dosis inisial, dan di


tappering 10mg.
3. Antibiotik dan antihistamin
Ketika pertahanan kulit rusak, hal tersebut berpotensial untuk terjadinya
infeksi sekunder oleh bakteri. Perubahan pH kulit dan mekanisme
antimikroba yang telah dimiliki kulit, mungkin memiliki peranan yang
penting dalam evolusi, persisten, dan resolusi dari dermatitis akibat iritan, tapi
hal ini masih dipelajari. Secara klinis, infeksi diobati dengan menggunakan
antibiotik oral untuk mencegah perkembangan selulit dan untuk mempercepat
penyembuhan. Secara bersamaan, glukokortikoid topikal, emolien, dan
antiseptik

juga

digunakan.

Sedangkan

antihistamin

mungkin

dapat

mengurangi pruritus yang disebabkan oleh dermatitis akibat iritan. Terdapat


percobaan klinis secara acak mengenai efisiensi antihistamin untuk dermatitis
kontak iritan, dan secara klinis antihistamin biasanya diresepkan untuk
mengobati beberapa gejala simptomatis.
4. Anastesi dan Garam Srontium (Iritasi sensoris)
Lidokain, prokain, dan beberapa anastesi lokal yang lain berguna untuk
menurunkan sensasi terbakar dan rasa gatal pada kulit yang dihubungkan
dengan dermatitis iritan oleh karena penekanan nosiseptor, dan mungkin
dapat menjadi pengobatan yang potensial untuk dermatitis kontak iritan.5
Garam strontium juga dilaporkan dapat menekan depolarisasi neural pada
hewan, dan setelah dilakuan studi, garam ini berpotensi dalam mengurangi
sensasi iritasi yang dihubungkan dengan DKI.
5. Kationik Surfaktan
Surfaktan kationik benzalklonium klorida yang iritatif dapat meringankan
gejala dalam penatalaksanaan iritasi akibat anion kimia.
6. Emolien

19

Pelembab yang digunakan 3-4 kali sehari adalah tatalaksana yang sangat
berguna.

Menggunakan

emolien

ketika

kulit

masih

lembab

dapat

meningkatkan efek emolien. Emolien dengan perbandingan lipofilik :


hidrofilik yang tinggi diduga paling efektif karena dapat menghidrasi kulit
lebih baik.
7. Imunosupresi Oral
Pada penatalaksanaan iritasi akut yang berat, glukokortikoid kerja singkat
seperti prednisolon, dapat membantu mengurangi respon inflamasi jika
dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal dan emolien. Tetapi, tidak
boleh digunakan untuk waktu yang lama karena efek sampingnya. Oleh
karena itu, pada penyakit kronik, imunosupresan yang lain mungkin lebih
berguna. Obat yang sering digunakan adalah siklosporin oral dan
azadtrioprim.
8. Fototerapi dan Radioterapi Superfisial
Fototerapi telah berhasil digunakan untuk tatalaksana dermatitis kontak iritan,
khususnya pada tangan. Modalitas yang tersedia adalah fototerapi
photochemotherapy ultraviolet A (PUVA) dan ultraviolet B, dimana
penyinaran dilakukan bersamaan dengan penggunaan fotosensitizer (soralen
oral atau topical). Sedangkan radioterapi superfisial dengan sinar Grentz juga
dapat digunakan untuk menangani dermatitis pada tangan yang kronis.
Penalataksanaan ini jarang digunakan pada praktek terbaru, hal ini mungkin
disebabkan oleh ketakutan terhadap kanker karena radioterapi.
3.8 PROGNOSIS
Prognosis baik pada individu non atopi dimana DKI didiagnosis dan diobati
dengan baik. Individu dengan dermatitis atopi rentan terhadap DKI. Bila bahan

20

iritan tidak dapat disingkirkan sempurna, prognosisnya kurang baik, dimana


kondisi ini sering terjadi pada DKI kronis yang penyebabnya multifactor.

LAMPIRAN

21