Anda di halaman 1dari 28

WRAP UP SKENARIO 3

DIARE

Ketua

: Indah Syawal Lina

( 1102013133 )

Sekertaris

: Iga Faldini Gazali

( 1102013130 )

Anggota

Gilang Anugrah

( 1102012097 )

Arlita Mirza Dian Prastiwi

( 1102013043 )

Arrum Prabuningtias

( 1102013044 )

Ayuvy Monzalitza

( 1102013051 )

Belladina Mayyasha Marthadipura

( 1102013055 )

Dwinanto Mulya Nugraha

( 1102013089 )

Ike Kumalasari

( 1102013131 )

Indah Aprilyani

( 1102013132 )
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2013/2014
1

Skenario 3
DIARE
Seorang mahasiswa, 35 tahun dibawa ke Puskesmas karena mengalami mencret lebih dari 12 kali
dalam sehari sejak 2 hari yang lalu. Keluhan ini timbul setelah makan di warung nasi dekat
kampusnya. Pemeriksaan fisik : kesadaran komposmentis lemah, TD : 85/60 mmHg, nadi : 120x/
menit, pernapasan : 34x/menit, cepat dalam. Volum urine sedikit. Di puskesmas penderita
dipasang infuse dan diberikan pertolongan pertama lalu dirujuk ke RS terdekat. Dokter meminta
untuk di periksa Analisa Gas Darah.
Kesannya : terdapat gangguan keseimbangan asam basa berupa asidosis metabolic, dengan anion
gap yang normal.

Kata-kata sulit
1. Kesadaran komposmentis lemah adalah anak memiliki kesadaran penuh dengan member
respon terhadap stimulus.
2. Anion gap adalah selisih antra elektrolit positif, ion positif Natrium dan kalsium serta ion
negative klorida dan bikarbonat ( CO2 serum ), N = 12.
3. Analisa gas darah adalah pemeriksaan untuk mengukur keasaman jumlah O2 dan
karbondioksida dalam darah untuk menilai fungsi paru- paru. Meliputi pemeriksaan PO2,
PCO3, pH, HCO3 dan saturasi O2.
4. Asidosis metabolic adalah berbagai keadaan asidosis yang status asam basa tubuhnya
bergeser ke sisi asam, akibat kehilangan basa atau retensi asam selain asam karbonat
( asam yang tetap / tidak menguap ).
5. Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih cair
dari biasanya dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam.

Pertanyaan
3

1. Apa hubungan asidosis metabolik dengan diare ?


2. Apa hubungan asidosis metabolik dengan anion gap ?
3. Apa tujuan analisa gap darah ?
4. Apa saja gejala- gejala penderita diare ?
5. Apa penyebab asidosis metabolik ?
6. Bagaimana pelaksanaan analisa gas darah ?
7. Apa saja pertolongan pertama pada penderita diare ?
8. Bagaimana perhitungan anion gap ?
9. Apa saja penyebab diare ?
10. Bagaimana penanganan diare ?
11. Apakah diare pada skenario merupakan keracunan makanan ? jika iya apa nama
bakterinya ?
12. Bagaimana penanganan asidosis metabolik ?

Jawaban
1. Karena saat diare, HCO3 berkurang, sehingga berkurangnya penyangga [H+], yang
menyebabkan banyaknya H+ bebas di dalam cairan tubuh, sehingga pH darah menjadi
turun.

2. Anion gap merupakan salah satu pemeriksaan diagnostic asidosis metabolik dengan
mengidentifikasi penyebab asidosis metabolik.
3. Tujuan analisa gap darah yaitu salah satu cara pemeriksaan untuk mengukur keasaman
jumlah O2 dan karbondioksida dalam darah untuk menilai fungsi paru- paru. Meliputi
4.
5.
6.

pemeriksaan PO2, PCO3, pH, HCO3 dan saturasi O2.


Sakit perut, lemas, buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
- menurunnya kadar HCO3
Mineralisasi Fosfat
Hiperkalemia
Diare
Diabetes mellitus
Olah raga berat
Penurunan eksresi asam oleh ginjal
a. langkah satu : tentukan apakah pH normal. Bila pH menyimpang dari 7,40, perhatikan
seberapa besar pH menyimpang dan kemana arahnya. Sebagai contoh, pH > 7,40
menandakan alkalosis; pH < 7,40 menandakan asidosis. Apakah pH pada batas normal
7,35 sampai 7,45 atau apakah pH terdapat dalam batasan kritis >7,55 atau <7,20 ?
b. langkah dua : periksa PaCO2. Bila menyimpang dari 40 mmHg, seberapa banyak
PaCO2 menyimpang dan kemana arahnya ? apakah perubahan PaCO2 cocok dengan arah
perubahan pH ? pH missal, saat PaCO2 meningkat, pH harus menurun ( asidosis ); dan
saat PaCO2 menurun, pH harus meningkat ( alkalosis ).
c. langkah tiga : tentukan nilai HCO3- ( mungkin menunjukkan kandungan CO2 total, CO2
serum, atau HCO3- serum ). Bila HCO3- menyimpang dari 24 mEq/L, perhatikan derajat
dan arah penyimpangan. Apakah perubahan HCO3- dan pH harus bergerak pada arah yang
sama. Sebagai contoh, bila HCO3- menurun, pH harus menurun ( asidosis ), dan bila
HCO3- meningkat, pH harus meningkat ( alkalosis ).
d. langkah empat : bila baik PaCO3 dan HCO3- abnormal, tetapkan nilai mana yang
berhubungan lebih erat dengan nilai pH ? sebagai contoh, bila pH menggambarkan
asidosis, nilai mana yang juga menggambarkan asidosis ( peningkatan PaCO2 atau
penurunan HCO3- ) ? nilai yang berhubungan lebih erat dengan pH dan lebih
menyimpang dari titik normal pada gangguan primer bertanggung jawab terhadap
perubahan pH. Gangguan campuran metabolic respiratori atau elemen kompensasi
mungkin ada bila baik HCO3- dan PaCO2 abnormal.
e. langkah lima : periksa PaCO2 dan saturasi oksigen untuk menentukan apakah PaCO2
menurun, normal atau meningkat. Penurunan PaO2 dan saturasi O2 dapat menimbulkan
asidosis laktat dan dapat menandakan perlunya peningkatan konsentrasi oksigen.
5

Sebaliknya, PaO2 tinggi dapat menandakan kebutuhan untuk menurunkan konsentrasi


oksigen yang diberikan.
7. Di beri oralit, infus.
8. Na+ - ( Cl- + HCO3- ) = 12
9. Makanan tidak bersih, lingkungan kotor, makan makanan pedas.
10. Di beri oralit, infus.
11. Iya, bakteri Ecoli.
12. Dengan ditambah CO2.

Hipotesis
Keseimbangan asam-basa adalah keseimbangan ion [H+]. Suatu keadaan dimana konsentrasi ion
H yang diproduksi setara dengan kosentrasi ion Hyang di keluarkan oleh sel. Jika terjadi
ketidakseimbangan salah satunya akan terjadi asidosis metabolik yaitu berbagai keadaan asidosis
yang status asam basa tubuhnya bergeser ke sisi asam, akibat kehilangan basa atau retensi asam
selain asam karbonat ( asam yang tetap / tidak menguap ), untuk mengetahui adanya asidosis
metabolik salah satu pemeriksaannya melalui anion gap. Asidosis metabolik disebabkan oleh
diare, penyebab dari diare tersebut karena makanan yang tidak bersih, lingkungan yang kotor
serta memakan makanan yang pedas, kemudian gejala diare adalah buang air besar lebih dari 3
kali dalam 24 jam, untuk penanganan diare dengan cara member cairan oral atau dengan diberi
infus.
6

Sasaran belajar
1. Memahami dan menjelaskan asam dan basa
1.1.
Definisi asam basa
1.2.
Keseimbangan asam basa
1.3.
Ketidakseimbangan asam basa
1.3.1. Asidosis
1.3.2. Alkalosis
2. Memahami dan menjelaskan anion gap dan pemeriksaan gas darah
2.1.
Anion gap
2.2.
Pemeriksaan gas darah
3. Memahami dan menjelaskan diare
3.1.
Definisi
3.2.
Penyebab
3.3.
Gejala
3.4.
Penanganan

1. Memahami dan menjelaskan asam basa


1.1.
Definisi asam dan basa
Asam : sekelompok zat yang mengandung hidrogen yang mengalami disosiasi atau
terpisah dalam larutan untuk menghasilkan H+
Basa: Bahan yang dapat berikatan dengan H+
Teori Arhenius
Asam : Zat yang terdisosiasi dalam air yang membentuk ion hidrogen (H+)
Basa : Zat yang terdiososiasi dalam air yang membentuk ion hidroksil (OH-)
Teori Bronsted lowry
Asam : suatu zat/bahan yang cenderung memberikan sebuah proton
Basa: suatu zat/bahan yang cenderung menerima sebuah proton
Asam basa adalah proses memberi dan menerimanya proton serta pembentukan ion
hidrogen dan hidroksil
Diperkenalkan oleh Johannnes Bronsted & Thomas Lowry pada tahun 1923
Asam didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat memberikan ion hidrogen, dan
sebuah basa adalah suatu zat yang dapat menerima ion hidrogen
Dalam reaksi asam basa, ion hydrogen dipindahkan dari asam ke basa
CH3COOH(aq) + H2O(l)
Asam 1

Basa 1

H3O+(aq) + CH3COO-(aq)
Asam 2

Basa 2
8

Asam-basa terdapat sebagai pasangan konyugat. CH3COO- adalah basa konyugat


dari CH3COOH dan sebaliknya. H3O+ dan H2O juga membentuk pasangan asam
basa konyugat.
HCl (dalam NH3) + NH3(l) NH4+ (dalam NH3) + Cl- (dalam NH3)
Asam 1

Basa 1

Asam 2

Basa 2

Contoh asam basa bronsted lowry pada pelarut non-H2O


Beberapa molekul dan ion dapat berfungsi sebagai asam maupun sebagai basa
tergantung konsidi reaksi sehingga disebut amfoter. Sebagai contoh air dan ion
hydrogen karbonat
+
CH COOH(aq) + H O(l) H O (aq) + CH COO (aq)
3
2
3
3
H O(l)
2

+ NH (aq)
3

NH

+
(aq) + OH (aq)

+
2H CO (aq) + H O(l) H O (aq) + CO (aq)
2 3
2
3
2
H O(l)
2
Asam 1

+ HCO (aq) H CO (aq) + OH (aq)


3
2 3
Basa 1

Asam 2

Basa 2

TEORI ASAM BASA LEWIS


Basa Lewis merupakan jenis basa yang menyumbangkan sepasang electron bebas
(donor elektron)
Asam Lewis adalah jenis asam yang menerima sepasang electron bebas (akseptor
elektron)
Salah satu contohnya reaksi molekul yang kekurangan elektron BF3 dengan molekul
kaya elektron NH3 membentuk BF3NH3

Definisi Lewis mensistematiskan kimia berbagai macam oksida biner yang dapat
dianggap sebagaian hidrida asam atau basa
Anhidrida asam didapatkan dengan mengambil air dari suatu asam okso sampai
hanya tertinggal oksidanya, dengan demikian CO2 merupakan anhidrida asam
karbonat (H2CO3). CO2(g) + H2O(l)

H2CO3(aq)

Oksida logam Golongan I dan II adalah anhidrida basa, yang diperoleh dengan
menghilangkan air dari hidroksida yang sesuai. Contoh kalsiumoksida, CaO, adalah
anhidrida basa dari kalsium hidroksida Ca(OH)2. CaO(s) + H2O(l)
Reaksi oksida asam dan basa Lewis CaO(s) + CO2(g)
1.2.

Ca(OH)2(s)

CaCO3(s)

Keseimbangan asam basa

1. Definisi
Keseimbangan asam-basa adalah keseimbangan ion [H+]. Suatu keadaan dimana
konsentrasi ion H yang diproduksi setara dengan kosentrasi ion Hyang di keluarkan
oleh sel. Pada proses kehidupan keseimbangan asam pada tingkat molekular umumnya
berhubungan dengan asam lemah dan basa lemah, begitu pula pada tingkat kosentrasinya
ion H atau ion OH yang sangat lemah.
2. Mekanisme keseimbangan asam basa
Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengatur keseimbangan asam basa dalam
darah yaitu:
1. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk ammonia.
Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau basa yang dibuang
yang biasanya berlangsung selama beberapa hari
2. Tubuh menggunakan penyangga pH atau buffer dalam darah sebagai pelindung
terhadap perubahan yang terjadi secara tiba tiba dalam pH darah. Suatu penyangga
pH bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan.
Penyangga pH yang paling penting dalam darah menggunakan bikarbonat.
Bikarbonat adalah komponen basa yang berada dalam keseimbangan dengan
karbondioksida (suatu komponen asam).

10

Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan
lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida, jika lebih banyak basa
yang masuk ke aliran tubuh, maka akan dihasilkan lebih banyak karbondioksida dan
lebih sedikit bikarbonat
3. pembuangan karbondioksida
karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolism oksigen dan terus
menerus yang dihasilkan oleh sel.
Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru karbondioksida
dikeluarkan (dihembuskan).
Pusat pernapasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan
mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan.
Jika pernafasan meningkat, kadar karbondioksida darah menurun dan darah
menjadi lebih basa. Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah
meningkat dan darah menjadi lebih asam.
Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat pernafasan dan
paru mampu mengatur pH darah menit demi menit.
+
Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion hidrogen, Karena ion [ H ]
berpengaruh besar dalam keseimbangan asam-basa, maka faktor yang mempengaruhi
+
[ H ] juga mempengaruhi keseimbangan asam basa, yaitu:
+
a) Lebihnya kadar [ H ] yang ada dalam cairan tubuh, berasal dari

Pembentukan

H2

O3

yang sebagian berdisosiasi menjadi H+ dan HC

O3

Katabolisme zat organik


Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedik, contoh pada metabolik

lemak terbentuk asam lemak dan laktat yaitu melepaskan [H+]


b) Keseimbangan intake dan output ion [H+] tubuh
Bervariasi tergantung dari:

11

Diet ( makanan ), H+ naik, jika kebanyakan makan asam (asidosis), sedangkan


dengan mengkonsumsi sayur dan buah bersifat basa banyak menghasilkan HC

O3 .

Aktivitas yaitu lari cepat membuat tubuh kita asam karena menghasilkan

banyak CO2 sehingga pH turun


Proses anaerob yaitu lebih banyak penumpukan asam laktat seperti olahraga
berat sehingga menimbulkan reaksi asam dan membuat pH turun

Pengaturan keseimbangan asam basa diselenggarakan melalui koordinasi dari tiga


sistem,yaitu :
1. Sistem buffer
Sistem buffer kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam basa sementara. Jika
dengan buffer kimia tidak cukup memperbaiki, maka pengontrolan pH akan
dilanjutkan oleh paru paru yang merespon secara cepat terhadap perubahan ion H+
dalam darah karena rangsangan kemoreseptor dan pusat pernafasan mempertahankan
kadar [H+] sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut, ginjal mampu
meregulasi ketidakseimbangan ion H+ dengan mensekresikan ion H+ dan

menambahkan HC O 3

baru dalam darah karena memiliki dapar fosfat.

Fungsi utama sistem buffer ini adalah mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh
pengaruh asam fixed dan asam organik pada cairan ekstraseluler. Sistem ini memiliki
keterbatasan, yaitu :
Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang disebabkan

karena peningkatan CO2


Sistem ini hanya berfungsi bila sistem respirasi dan pusat pengendali sistem

pernafasan bekerja normal.


Kemampuan menyelenggarakan sistem buffer tergantung pada tersedianya ion
bikarbonat.
12

Didalam tubuh terdapat beberapa sistem buffer, yaitu :


Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat
Sistem buffer ini merupakan suatu komponen yang paling penting pada pengaturan
pH cairan ekstraseluler. sistem buffer bikarbonat ini dengan pengaturan kadar
karbondioksida di paru dan bikarbonat di ginjal. Bila terjadi peningkatan ion
hidrogen, terjadi interaksi dengan ion bikarbonat sehingga terbentuk asam karbonat.
Asam karbonat yang terbentuk akan mengalami disosiasi menjadi CO2 dan air, dan
CO2 yang dihasilkan akan dikeluarkan melalui paru.
Sistem buffer hemoglobin
Buffer hemoglobin (Hb) merupakan buffer intraseluler yang bekerja di dalam sel
darah merah. Buffer utama cairan ekstraseluler adalah sistem bikarbonat dan
hemoglobin. Hb penting untuk pengangkutan oksigen ke jaringan, pengangkut CO2
dan sebagai sistem buffer yang kuat.
Sistem buffer protein
Sistem buffer protein berfungsi mengatur pH cairan ekstraserselular dan interstitial.
Sistem buffer Fosfat
Sistem dapar ini berperan penting dalam pendaparan cairan tubulus ginjal dan cairan
intrasel. Pada cairan intra sel, kehadiran penyangga fosfat sangat penting dalam
mengatur pH darah.
(Guyton, 2008)
2.

Sistem respiratorik (sistem paru)


Sistem pernapasan berperan penting bagi keseimbangan asam-basa karena
kemampuannya mengubah ventilasi paru-paru sehingga dapat mengubah kecepatan
ekskresi C

O2

Jika konsentrasi

penghasil

+
+
H yang diatur oleh konsentrasi H arteri.

+
H meningkat, pusat pernapasan di batang otak secara refleks

terangsang untuk meningkatkan C

O2

ventilasi paru-paru yang mengakibatkan

kedalaman nafas meningkat sehingga lebih banyak yang dikeluarkan sehingga

13

jumlah
O2

H 2 CO 3

yang ditambahkan ke dalam cairan tubuh berkurang. Karena C

membentuk asam, pengeluaran C

O2

pada dasarnya adalah pengeluaran

asam dari tubuh. Jadi, pH tubuh dapat kembali ke pH normal. Jadi, peningkatan
ventilasi alveolus menurunkan konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraseluler dan
meningkatkan pH. Begitu pula sebaliknya.

3. Sistem metabolik (sistem ginjal)


Ginjal mampu memulihkan pH hampir tepat ke normal walaupun membutuhkan

waktu yang lebih lama.


Ginjal mengontrol pH cairan tubuh dengan menyesuaikan 3 faktor yaitu :
a. Ekskresi ion hidrogen
b. Ekskresi bikarbonat
c. Sekresi amonia

1.3.

Ketidakseimbangan asam basa


a. Gangguan Keseimbangan Asam-basa Respiratorik
Terjadi karena ketidakseimbangan antara pembentukan CO2 di jaringan perifer dengan
ekskresinya di paru; ditandai oleh peningkatan atau penurunan konsentrasi CO2.
Asidosis Respiratorik
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan
karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau
pernafasan yang lambat. Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah
karbondioksida dalam darah.
Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan
darah menjadi asam. Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak
yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam.
Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan
karbondioksida secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang
mempengaruhi paru-paru, seperti:
- Emfisema
- Bronkitiskronis
- Pneumonia berat
- Edema pulmoner
- Asma
14

Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot
dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan. Selain itu, seseorang
dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang
menekan pernafasan.
Kompensasi= Alkalosis Metabolik adalah peningkatan HCO3 plasma, yang
disebabkan oleh penambahan bikarbonat baru kedalam cairan ekstrasel oleh ginjal.
Peningkatan bikarbonat membantu mengimbangi peningkatan PaCO2, sehingga
mengembalikan pH plasma kembali normal.
Alkalosis Respiratorik
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena
pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam
darah menjadi rendah. Alkalosis respratorik terjadi bila ada hiperventilasi.
Hiperventilasi menyebabkan kadar CO2 tubuh turun sehingga terjadi kompensasi
tubuh untuk menurunkan pH dengan meretensi H+ oleh ginjal agar absorpsi HCO3berkurang. Ingat, bila pH tinggi berarti [H+] turun.
Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan.
Penyebab akut dapat berupa stimulasi saraf sentral pada tumor serebri, ensefalitis,
danint oksikasi. Penyebab kronis dapat berupa penyakit paru kronis.
Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah:
- rasa nyeri
- sirosis hati
- kadar oksigen darah yang rendah
- demam
- overdosis aspirin.
Kompensasi= Asidosis Metabolik. Pengurangan PCO2 primer pada alkalosis
respitorik adalah pengurangan konsentrasi HCO3 plasma, yang disebabkan oleh
peningkatan ekskresi HCO3 oleh ginjal.
b. Gangguan Keseimbangan Asam-basa metabolic

Asidosis Metabolik
Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai
dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman
melampaui system penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam.

15

Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih
cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara
menurunkan jumlah karbondioksida.
Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan
cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.Tetapi kedua mekanisme
tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam,
sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.
Penyebab asidosis metabolic dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama:
1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam
atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang
menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun. Contohnya adalah
metanol (alcohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol).Overdosis aspirin
pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.
2. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.
Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari
beberapa penyakit; salah satu di antaranya adalah diabetes mellitus tipe I.
Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan
menghasilkan asam yang disebut keton.
3. Asidosis metabolic bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang
asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normal
pun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal.
Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis (ATR)
atau rhenal tubular acidosis (RTA), yang bisa terjadi pada penderita gagal
ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal
untuk membuang asam.
Penyebab utama dari asidois metabolik:
Gagal ginjal
Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal)
Keto asidosis diabetikum
Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat)
Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat,
metanol, paraldehid, asetazolamid atau ammonium klorida
Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan
Karena diare, ileostomi atau kolostomi.
Kompensasi= Alkalosis respiratorik. Meliputi peningkatan kecepatan ventilasi,
yang mengurangi PaCO2 dan kompensasi ginjal, yang dengan menambahkan
bikarbonat baru kecairan ekstrasel membantu memperkecil penurunan awal
konsentrasi HCO3 ekstrasel.

Alkalosis Metabolik
16

Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan


basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkalosis metabolic terjadi jika tubuh
kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam
lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung
disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah
sakit, terutama setelah pembedahan perut).
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolic terjadi pada seseorang yang
mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat.
Selain itu, alkalosis metabolic dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium
dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam
mengendalikan keseimbangan asam basa darah.
Penyebab utama alkalosis metabolik:
1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)
2. Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung
3. Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat
Penggunaan kortiko steroid).
Kompensasi= Asidosis Respiratorik. Penurunan ventilasi, yang
meningkatkan PaCO2 dan peningkatan ekskresi HCO3 oleh ginjal, yang
membantu mengkompensasi peningkatan awal konsentrasi HCO3 cairan
ekstrasel.
2. Memahami dan menjelaskan anion gap dan analisa gas darah
2.1.

Anion gap
Anion gap adalah perbedaan antara jumlah ion posif Na+ dan jumlah muatan ion
negative pada Cl- dan HCO3-. Dalam keadaan normal, besar anion gap adalah 12 atau
[ Na+ - ( Cl- + HCO3- )] = 12. Peningkatan anion gap, > 17 mEq/L adalah indikasi
asidosis metabolik. Penurunan anion gap, < 10 mEq/L adalah indikasi alkalosis
metabolik. Anion gap / gap anion menunjukkan secara normal anion yang tak terukur
( mis., fosfat, sulfat, dan protein ) pada plasma. Gap anion sama dengan Na+ - (Cl- +
HCO3-). Pengukuran gap anion dapat bermanfaat pada diagnose banding pada
asidosis metabolic atau dalam mengidentifikasi asidosis metabolic tersembunyi pada
kelainan asam-basa campuran tertentu.

2.2.

Analisa gas darah


Analisa gas darah arteri memberikan determinasi objektif tentang oksigenasi darah
arteri, pertukaran gas alveoli, dan keseimbangan asam basa. Dalam pemeriksaan ini
17

diperlukan sampel darah arteri yang diambil dari arteri femoralis, radialis, atau
brakhialis dengan menggunakan spuit yang telah diberi heparin untuk mencegah
pembekuan darah.
Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH (dan juga
keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar
bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa.
Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai
pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan
menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai
tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu
diagnosa hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa
saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
dan data-data laboratorium lainnya.
a. langkah satu : tentukan apakah pH normal. Bila pH menyimpang dari 7,40,
perhatikan seberapa besar pH menyimpang dan kemana arahnya. Sebagai contoh, pH
> 7,40 menandakan alkalosis; pH < 7,40 menandakan asidosis. Apakah pH pada
batas normal 7,35 sampai 7,45 atau apakah pH terdapat dalam batasan kritis >7,55
atau <7,20 ?
b. langkah dua : periksa PaCO2. Bila menyimpang dari 40 mmHg, seberapa banyak
PaCO2 menyimpang dan kemana arahnya ? apakah perubahan PaCO2 cocok dengan
arah perubahan pH ? pH missal, saat PaCO2 meningkat, pH harus menurun
( asidosis ); dan saat PaCO2 menurun, pH harus meningkat ( alkalosis ).
c. langkah tiga : tentukan nilai HCO3- ( mungkin menunjukkan kandungan CO2 total,
CO2 serum, atau HCO3- serum ). Bila HCO3- menyimpang dari 24 mEq/L, perhatikan
derajat dan arah penyimpangan. Apakah perubahan HCO3- dan pH harus bergerak
pada arah yang sama. Sebagai contoh, bila HCO3- menurun, pH harus menurun
( asidosis ), dan bila HCO3- meningkat, pH harus meningkat ( alkalosis ).
d. langkah empat : bila baik PaCO3 dan HCO3- abnormal, tetapkan nilai mana yang
berhubungan lebih erat dengan nilai pH ? sebagai contoh, bila pH menggambarkan
asidosis, nilai mana yang juga menggambarkan asidosis ( peningkatan PaCO2 atau
penurunan HCO3- ) ? nilai yang berhubungan lebih erat dengan pH dan lebih
menyimpang dari titik normal pada gangguan primer bertanggung jawab terhadap
perubahan pH. Gangguan campuran metabolic respiratori atau elemen kompensasi
mungkin ada bila baik HCO3- dan PaCO2 abnormal.
e. langkah lima : periksa PaCO2 dan saturasi oksigen untuk menentukan apakah
PaCO2 menurun, normal atau meningkat. Penurunan PaO2 dan saturasi O2 dapat
18

menimbulkan asidosis laktat dan dapat menandakan perlunya peningkatan konsentrasi


oksigen. Sebaliknya, PaO2 tinggi dapat menandakan kebutuhan untuk menurunkan
konsentrasi oksigen yang diberikan.
Rentang nilai normal
pH

: 7, 35-7, 45

TCO2

: 23-27 mmol/L

PCO2 : 35-45 mmHg

BE

: 0 2 mEq/L

PO2

saturasi O2

: 95 % atau lebih

: 80-100 mmHg

HCO3 : 22-26 mEq/L

Tujuan

Menilai tingkat keseimbangan asam dan basa

Mengetahui kondisi fungsi pernafasan dan kardiovaskuler

Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh

3. Memahami dan menjelaskan diare


3.1.
Definisi
Diare adalah salah satu gangguan kesehatan yang lazim memengaruhi banyak orang.
Gangguan ini adalah suatu gejala dan bukan penyakit.Ada beberpa penyebab diare yang
mungkin, tetapi yang paling umum adalah infeksi.
Diare adalah penyebab utama penyebab utama penyakit dan kematian anak-anak di
Negara-negara berkembang, seperti India atau Indonesia.Diare juga merupakan penyebab
penting dari gizi buruk atau malnutrisi.Ini karena anak-anak cenderung makan lebih
sedikit dalam suatu episode diare.Juga, diare dapat memengaruhi pencernaan makanan
secara buruk.Akibatnya, tubuh mungkin tidak dapat memanfaatkan makanan dengan
efektif.
Tubuh kita membutuhkan nutrien tambahan ketika menderita infeksi apapun untuk
memerangi kuman-kuman yang menyebabkan penyakitnya. Makanan yang tidak
memadai dan pencernaan yang tidak baik secara bersama-sama berpengaruh buruk
terhadap status nutrisi seorang anak.Diare dan atau komplikasinya dapat dicegah dengan
cara-cara yang sederhana dan efektif.
Apa itu Diare?
19

Definisi Diare adalah suatu kondisi dimana terjadi perubahan dalam kepadatan dan
karakter tinja dan atau tinja cair dikeluarkan tiga kali atau lebih per hari.
www.sehat.artikel2.com/definisi-diare.htm
Diare bukanlah suatu penyakit, tetapi gejala.Anda biasanya disebut memiliki diare bila
Anda buang air besar lebih sering (lebih dari tiga kali sehari), mengeluarkan tinja yang
encer dan/atau volumenya meningkat (lebih dari 250 gram per hari pada orang dewasa).
Diare secara umum dibedakan menjadi akut dan kronis (atau persisten) berdasarkan
durasinya.Diare akut dimulai dengan cepat dan berlangsung tidak lebih dari 14
hari.Sebagian besar diare adalah jenis ini dan umumnya tidak berbahaya.Satu dari tiga
orang dewasa sehat mengalami diare setidaknya sekali dalam setahun. Diare kronis atau
persisten berlangsung lebih dari 14 hari. Diare berkepanjangan ini biasanya memiliki
penyebab dan menimbulkan masalah yang berbeda sehingga penanganannya berbeda
dengan diare akut.
3.2.

Penyebab

Penyebab diare akut yang paling sering ditemukan adalah organism menular. Diare akut
dapat pula disebabkan oleh obat-obat atau toksin yang termakan, penggunaan kemoterapi.
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi
pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi
telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
4. Pemanis buatan
3.3.

Gejala

1. Sakit perut
2. Sering kali mual dan muntah
3. Buang air besar terus menerus
4. Nafsu makan berkurang
5. Demam tinggi
20

6. Terkadang ada darah dalam tinja atau feses


7. Gejala lainnya dapat timbul seperti pegal pada punggung, dan perut berbunyi.
Gejala Penyakit DiarePada Orang Dewasa:
1.
2.
3.
4.
5.

Sering buang air besar dalam bentuk cairan berwarna terang dan kehijauan
Kram pada perut
Kelelahan karena banyak kehilangan potasium (kalium)
Kehausan karena banyak cairan yang hilang
Ada bercak darah saat buang air

Gejala Penyakit Diare dan Penanganan Penyakit Diare :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
3.4.

Frekuensi buang air bertambah


Buang air besar berbentuk cairan
Kotoran berbau atau tidak berbau.
Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah, suhu badannya meninggi
Anusnya lecet
Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang
Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).
Warna tinnja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu
Penanganan

1. Diare tanpa dehidrasi


Diagnosis :
Diare tanpa dehidrasi dibuat bila anak tidak mempunyai dua atau lebih tanda berikut
yang dicirikan sebagai dehidrasi ringan/sedang atau berat.

Gelisah/ rewel
Letargis atau tidak sadar
Tidak bisa minum atau malas minum
Haus atau minum dengan lahap
Mata cekung
Cubitan kulit perut kembalinya lambat atau sangat lambat (Turgor jelek)

Tatalaksana :

Anak dirawat jalan


Ajari ibu mengenai 4 aturan untuk perawatan di rumah:
beri cairan tambahan
beri tablet Zinc
lanjutkan pemberian makan
21

nasihati kapan harus kembali


Lihat Rencana Terapi A

Beri cairan tambahan, sebagai berikut:


Jika anak masih mendapat ASI, nasihati ibu untuk menyusui anaknya lebih sering
dan lebih lama pada setiap pemberian ASI. Jika anak mendapat ASI eksklusif, beri
larutan oralit atau air matang sebagai tambahan ASI dengan menggunakan sendok.
Setelah diare berhenti, lanjutkan kembali ASI eksklusif kepada anak, sesuai dengan umur
anak.

Pada anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri satu atau lebih cairan dibawah
ini:
larutan oralit

cairan rumah tangga (seperti sup, air tajin, dan kuah sayuran)

air matang

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, nasihati ibu untuk memberi cairan tambahan
sebanyak yang anak dapat minum:
untuk anak berumur < 2 tahun, beri + 50100 ml setiap kali anak BAB
untuk anak berumur 2 tahun atau lebih, beri + 100200 ml setiap kali anak BAB.

Ajari ibu untuk memberi minum anak sedikit demi sedikit dengan menggunakan
cangkir. Jika anak muntah, tunggu 10 menit dan berikan kembali dengan lebih
lambat. Ibu harus terus memberi cairan tambahan sampai diare anak berhenti.
Ajari ibu untuk menyiapkan larutan oralit dan beri 6 bungkus oralit (200 ml) untuk
dibawa pulang.

Beri tablet zinc.


Ajari ibu berapa banyak zinc yang harus diberikan kepada anaknya:
Di bawah umur 6 bulan : tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
Umur 6 bulan ke atas : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari
Ajari ibu cara memberi tablet zinc:
Pada bayi: larutkan tablet zinc pada sendok dengan sedikit air matang, ASI perah
atau larutan oralit.
Pada anak-anak yang lebih besar: tablet dapat dikunyah atau dilarutkan
Ingatkan ibu untuk memberi tablet zinc kepada anaknya selama 10 hari penuh.
Lanjutkan pemberian makan
Nasihati ibu kapan harus kembali untuk kunjungan ulang
Tindak lanjut
Nasihati ibu untuk membawa anaknya kembali jika anaknya bertambah parah, atau
tidak bisa minum atau menyusu, atau malas minum, atau timbul demam, atau ada
22

darah dalam tinja. Jika anak tidak menunjukkan salah satu tanda ini namun tetap
tidak menunjukkan perbaikan, nasihati ibu untuk kunjungan ulang pada hari ke-5.

Nasihati juga bahwa pengobatan yang sama harus diberikan kepada anak di waktu
yang akan datang jika anak mengalami diare lagi. Lihat Rencana Terapi A.

2. Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang


Pada umumnya, anak-anak dengan dehidrasi sedang/ringan harus diberi larutan oralit,
dalam waktu 3 jam pertama di klinik saat anak berada dalam pemantauan dan ibunya
diajari cara menyiapkan dan memberi larutan oralit.

Diagnosis
Jika anak memiliki dua atau lebih tanda berikut, anak menderita dehidrasi
ringan/sedang:

Gelisah/rewel
Haus dan minum dengan lahap
Mata cekung
Cubitan kulit perut kembalinya lambat
Perhatian: Jika anak hanya menderita salah satu dari tanda di atas dan salah satu
tanda dehidrasi berat (misalnya: gelisah/rewel dan malas minum), berarti anak
menderita dehidrasi sedang/ringan.

Tatalaksana

Pada 3 jam pertama, beri anak larutan oralit dengan perkiraan jumlah sesuai dengan
berat badan anak (atau umur anak jika berat badan anak tidak diketahui). Namun
demikian, jika anak ingin minum lebih banyak, beri minum lebih banyak.

Tunjukkan pada ibu cara memberi larutan oralit pada anak, satu sendok teh setiap 1
2 menit jika anak berumur di bawah 2 tahun; dan pada anak yang lebih besar, berikan
minuman oralit lebih sering dengan menggunakan cangkir.

Lakukan pemeriksaan rutin jika timbul masalah


Jika anak muntah, tunggu selama 10 menit; lalu beri larutan oralit lebih lambat
(misalnya 1 sendok setiap 2 3 menit)
Jika kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan beri minum air
matang atau ASI.

Nasihati ibu untuk terus menyusui anak kapan pun anaknya mau.

23

Jika ibu tidak dapat tinggal di klinik hingga 3 jam, tunjukkan pada ibu cara
menyiapkan larutan oralit dan beri beberapa bungkus oralit secukupnya kepada ibu
agar bisa menyelesaikan rehidrasi di rumah ditambah untuk rehidrasi dua hari
berikutnya.

Nilai kembali anak setelah 3 jam untuk memeriksa tanda dehidrasi yang terlihat
sebelumnya (Catatan: periksa kembali anak sebelum 3 jam bila anak tidak bisa
minum larutan oralit atau keadaannya terlihat memburuk.)
Jika tidak terjadi dehidrasi, ajari ibu mengenai empat aturan untuk perawatan di
rumah
beri cairan tambahan.
beri tablet Zinc selama 10 hari
lanjutkan pemberian minum/makan
kunjungan ulang jika terdapat tanda berikut ini:
anak tidak bisa atau malas minum atau menyusu
kondisi anak memburuk
anak demam
terdapat darah dalam tinja anak

Jika anak masih mengalami dehidrasi sedang/ringan, ulangi pengobatan untuk 3 jam
berikutnya dengan larutan oralit, seperti di atas dan mulai beri anak makanan, susu atau
jus dan berikan ASI sesering mungkin

Jika timbul tanda dehidrasi berat. Meskipun belum terjadi dehidrasi berat tetapi bila
anak sama sekali tidak bisa minum oralit misalnya karena anak muntah profus, dapat
diberikan infus dengan cara: beri cairan intravena secepatnya. Berikan 70 ml/kg BB
cairan Ringer Laktat atau Ringer asetat (atau jika tak tersedia, gunakan larutan NaCl)
yang dibagi sebagai berikut :

UMUR

Pemberian 70 ml/kg selama

Bayi (di bawah umur 12 bulan)

5 jam

Anak (12 bulan sampai 5 tahun)

2,5 jam

Periksa kembali anak setiap 1-2 jam.


Juga beri oralit (kira-kira 5 ml/kg/jam) segera setelah anak mau minum.
Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam. Klasifikasikan
Dehidrasi. Kemudian pilih rencana terapi yang sesuai (A, B, atau C) untuk
melanjutkan penanganan.
Rencana Terapi B and Rencana Terapi A memberikan penjelasan lebih rinci:

Beri tablet Zinc

Beritahu ibu berapa banyak tablet zinc yang diberikan kepada anak:
24

Di bawah umur 6 bulan: tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
6 bulan ke atas: 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari

Pemberian Makan
Melanjutkan pemberian makan yang bergizi merupakan suatu elemen yang penting dalam
tatalaksana diare.

ASI tetap diberikan


Meskipun nafsu makan anak belum membaik, pemberian makan tetap diupayakan
pada anak berumur 6 bulan atau lebih.

Jika anak biasanya tidak diberi ASI, lihat kemungkinan untuk relaktasi (yaitu memulai
lagi pemberian ASI setelah dihentikan) atau beri susu formula yang biasa diberikan. Jika
anak berumur 6 bulan atau lebih atau sudah makan makanan padat, beri makanan yang
disajikan secara segar dimasak, ditumbuk atau digiling. Berikut adalah makanan yang
direkomendasikan:

Sereal atau makanan lain yang mengandung zat tepung dicampur dengan kacangkacangan, sayuran dan daging/ikan, jika mungkin, dengan 1-2 sendok teh minyak
sayur yang ditambahkan ke dalam setiap sajian.
Makanan Pendamping ASI lokal yang direkomendasikan dalam pedoman
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di daerah tersebut.
Sari buah segar seperti apel, jeruk manis dan pisang dapat diberikan untuk
penambahan kalium.

Bujuk anak untuk makan dengan memberikan makanan setidaknya 6 kali sehari. Beri
makanan yang sama setelah diare berhenti dan beri makanan tambahan per harinya
selama 2 minggu.
3. Diare dengan dehidrasi berat
Anak yang menderita dehidrasi berat memerlukan rehidrasi intravena secara cepat dengan
pengawasan yang ketat dan dilanjutkan dengan rehidrasi oral segera setelah anak
membaik. Pada daerah yang sedang mengalami KLB kolera, berikan pengobatan
antibiotik yang efektif terhadap kolera.
Diagnosis
Jika terdapat dua atau lebih tanda berikut, berarti anak menderita dehidrasi berat:

Letargis atau tidak sadar


Mata cekung
Cubitan kulit perut kembali sangat lambat ( 2 detik)
Tidak bisa minum atau malas minum.
25

Tatalaksana
Anak dengan dehidrasi berat harus diberi rehidrasi intravena secara cepat yang diikuti
dengan terapi rehidasi oral.

Mulai berikan cairan intravena segera. Pada saat infus disiapkan, beri larutan oralit
jika anak bisa minum

Catatan: larutan intravena terbaik adalah larutan Ringer Laktat (disebut pula larutan
Hartman untuk penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer Asetat. Jika larutan Ringer
Laktat tidak tersedia, larutan garam normal (NaCl 0.9%) dapat digunakan. Larutan
glukosa 5% (dextrosa) tunggal tidak efektif dan jangan digunakan.

Beri 100 ml/kg larutan yang dipilih dan dibagi sesuai Tabel 18 berikut ini.

Tabel 18. Pemberian Cairan Intravena bagi anak dengan Dehidrasi Berat

Pertama, berikan
30 ml/kg dalam:

Selanjutnya, berikan
70 ml/kg dalam:

Umur <12 bulan

1 jam

5 jam

Umur >12 bulan

30 menit

2,5 jam

Untuk informasi lebih lanjut, lihat Rencana Terapi C. Hal ini mencakup pedoman
pemberian larutan oralit menggunakan pipa nasogastrik atau melalui mulut bila
pemasangan infus tidak dapat dilakukan.
Kolera

Curigai kolera pada anak umur di atas 2 tahun yang menderita diare cair akut dan
menunjukkan tanda dehidrasi berat, jika kolera berjangkit di daerah tempat tinggal
anak.
Nilai dan tangani dehidrasi seperti penanganan diare akut lainnya. Beri pengobatan
antibiotik oral yang sensitif untuk strain Vibrio cholerae, di daerah tersebut. Pilihan
lainnya adalah: tetrasiklin, doksisiklin, kotrimoksazol, eritromisin dan kloramfenikol.
Berikan zinc segera setelah anak tidak muntah lagi.

Pemantauan
Nilai kembali anak setiap 15 30 menit hingga denyut nadi radial anak teraba. Jika
hidrasi tidak mengalami perbaikan, beri tetesan infus lebih cepat. Selanjutnya, nilai
26

kembali anak dengan memeriksa turgor, tingkat kesadaran dan kemampuan anak untuk
minum, sedikitnya setiap jam, untuk memastikan bahwa telah terjadi perbaikan hidrasi.
Mata yang cekung akan membaik lebih lambat dibanding tanda-tanda lainnya dan tidak
begitu bermanfaat dalam pemantauan.
Jika jumlah cairan intravena seluruhnya telah diberikan, nilai kembali status hidrasi anak.

Jika tanda dehidrasi masih ada, ulangi pemberian cairan intravena seperti yang telah
diuraikan sebelumnya. Dehidrasi berat yang menetap (persisten) setelah pemberian
rehidrasi intravena jarang terjadi; hal ini biasanya terjadi hanya bila anak terus
menerus BAB cair selama dilakukan rehidrasi.
Jika kondisi anak membaik walaupun masih menunjukkan tanda dehidrasi ringan,
hentikan infus dan berikan cairan oralit selama 3-4 jam. Jika anak bisa menyusu
dengan baik, semangati ibu untuk lebih sering memberikan ASI pada anaknya.
Jika tidak terdapat tanda dehidrasi, lakukan Rencana Terapi A. Jika bisa, anjurkan
ibu untuk menyusui anaknya lebih sering. Lakukan observasi pada anak setidaknya 6
jam sebelum pulang dari rumah sakit, untuk memastikan bahwa ibu dapat
meneruskan penanganan hidrasi anak dengan memberi larutan oralit.

Semua anak harus mulai minum larutan oralit (sekitar 5ml/kgBB/jam) ketika anak bisa
minum tanpa kesulitan (biasanya dalam waktu 34 jam untuk bayi, atau 12 jam pada
anak yang lebih besar). Hal ini memberikan basa dan kalium, yang mungkin tidak cukup
disediakan melalui cairan infus. Ketika dehidrasi berat berhasil diatasi, beri tablet zinc.

27

DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, lauralee. 2001. fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta : EGC.
Horne, Mima M.200. keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Jakarta : EGC
http://www.ichrc.org/521-diare-dengan-dehidrasi-berat
http://www.ichrc.org/523-diare-tanpa-dehidrasi
http://www.ichrc.org/522-diare-dengan-dehidrasisedangringan
http://www.ichrc.org/521-diare-dengan-dehidrasi-berat
(Guyton, 2008)
www.sehat.artikel2.com/definisi-diare
dr.r. darmanto djojodibroto, Sp.P,FCCP

28