Anda di halaman 1dari 15

DEMOKRASI DI JERMAN

Negara serikat (federal)


Negara serikat (federal) adalah suatu Negara yang merupakan gabungan dari
beberapa Negara, yang menjadi Negara-negara bagian dari Negara serikat itu.
Secara umum, bentuk Negara serikat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Tiap Negara bagian berstatus tidak berdaulat, namun kekuasaan asli tetap ada
pada Negara bagian.
b. Kepala Negara dipilih oleh rakyat dan bertanggung jawab kepada rakyat.
c. Pemerintah pusat memperoleh kedaulatan dari Negara-negara bagian untuk
urusan ke luar dan sebagian ke dalam.
d. Setiap Negara bagian berwenang membuat UUD sendiri selama tidak
bertentangan dengan pemerintahan pusat.
e. Kepala Negara memiliki hak veto (pembatalan keputusan) yang diajukan oleh
parlemen (senat dan kongres).
Contoh Negara yang berbentuk serikat antara lain Australia, India, Jerman, Brasil,
Malaysia, dan Swiss.
Sistem parlementer
Negara dengan sistem ini mempunyai presiden (atau gelar lainnya) sebagai
kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Kepala
negara biasanya hanya berupa simbol persatuan walau secara teori mempunyai
hak untuk mencampuri urusan pemerintahan.
Kepala pemerintahan biasanya muncul dan dipilih dari parlemen, sehingga
pemilihan umum di negara dengan sistem seperti ini biasanya hanya memilih
anggota parlemen. Partai dengan kursi terbanyak akan mencari dukungan untuk
membentuk pemerintahan dengan perdana menteri dari partai mereka. Kepala
negara tidak mencampuri urusan pembentukan pemerintahan.
Kepala negara di negara dengan sistem seperti ini dapat muncul dengan
berbagai cara seperti melalui pemilihan umum di negara republik ataupun
menjabat seumur hidup di negara monarki.
Contoh negara dengan sistem ini:
Singapura
Britania Raya
Thailand

Ciri-ciri dari sistem pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut :


1.

Badan legislatif atau parlemen adalah satu-satunya badan yang


anggotanya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Parlemen
memiliki kekuasaan besar sebagai badan perwakilan dan lembaga legislatif.

2.

Anggota parlemen terdiri atas orang-orang dari partai politik yang


memenangkan pemiihan umum. Partai politik yang menang dalam pemilihan
umum memiliki peluang besar menjadi mayoritas dan memiliki kekuasaan
besar di parlemen.

3.

Pemerintah atau kabinet terdiri dari atas para menteri dan perdana
menteri sebagai pemimpin kabinet. Perdana menteri dipilih oleh parlemen
untuk melaksakan kekuasaan eksekutif. Dalam sistem ini, kekuasaan eksekutif
berada pada perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Anggota kabinet
umumnya berasal dari parlemen.

4.

Kabinet bertanggung jawab kepada parlemen dan dapat bertahan


sepanjang mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen. Hal ini berarti
bahwa sewaktu-waktu parlemen dapat menjatuhkan kabinet jika mayoritas
anggota parlemen menyampaikan mosi tidak percaya kepada kabinet.

5.

Kepala negara tidak sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Kepala


pemerintahan adalah perdana menteri, sedangkan kepala negara adalah
presiden dalam negara republik atau raja/sultan dalam negara monarki. Kepala
negara tidak memiliki kekuasaan pemerintahan. Ia hanya berperan sebgai
symbol kedaulatan dan keutuhan negara.

6.

Sebagai imbangan parlemen dapat menjatuhkan kabinet maka presiden


atau raja atas saran dari perdana menteri dapat membubarkan parlemen.
Selanjutnya, diadakan pemilihan umum lagi untuk membentukan parlemen
baru.
Kelebihan Sistem Pemerintahan Parlementer:

Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi


penyesuaian pendapat antara eksekutif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan
eksekutif dan legislatif berada pada satu partai atau koalisi partai.

Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan


public jelas.

Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga


kabinet menjadi barhati-hati dalam menjalankan pemerintahan.
Kekurangan Sistem Pemerintahan Parlementer :

Kedudukan badan eksekutif/kabinet sangat tergantung pada mayoritas


dukungan parlemen sehingga sewaktu-waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh
parlemen.

Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau kabinet tidak bias


ditentukan berakhir sesuai dengan masa jabatannya karena sewaktu-waktu
kabinet dapat bubar.

Kabinet dapat mengendalikan parlemen. Hal itu terjadi apabila para


anggota kabinet adalah anggota parlemen dan berasal dari partai meyoritas.
Karena pengaruh mereka yang besar diparlemen dan partai, anggota kabinet
dapat mengusai parlemen.

Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif.


Pengalaman mereka menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan manjadi
bekal penting untuk menjadi menteri atau jabatan eksekutif lainnya.
Negara, Hukum, Warga dalam Demokrasi
Dalam sistem politik Republik Federal Jerman terwujud sistem demokratis
kedua dalam sejarah Jerman. Dalam pembahasan di Dewan Parlementer, para
bapak dan ibu pendiri Republik Federal menuangkan pelajaran yang mereka tarik
dari gagalnya negara demokrasi pertama, Republik Weimar, dan dari diktatur
Nazi, ke dalam rancangan konstitusi baru republik itu. Republik Federal Jerman
lahir dari peperangan. Demokrasi pada waktu itu, tahun 1949, hanya dapat
dijadikan dasar kehidupan bernegara di bagian barat dari Jerman yang terbelah
menjadi dua negara. Grundgesetz, undang-undang dasar yang mula-mula
dianggap sebagai landasan hukum yang bersifat sementara saja,
mempertahankan tujuan mencapai reunifikasi Jerman "atas dasar swakarsa
bebas".
Negara demokrasi Jerman kedua ternyata berhasil. Ada beberapa alasan
bagi sukses itu: penghargaan bagi kehidupan tanpa tekanan setelah diktatur,
dan usaha untuk diterima oleh negara-negara tetangga yang demokratis
termasuk di antaranya. Grundgesetz pun mempunyai andil dalam sukses itu.

Ketika pembelahan Jerman berakhir setelah 40 tahun lebih, Grundgesetz menjadi


konstitusi Jerman Bersatu.
Undang-Undang Dasar
Undang-Undang Dasar mengikat legislasi pada tatanan konstitusional
dan mengikat administrasi negara pada hukum dan undang-undang. Arti penting
teristimewa dimiliki oleh Pasal 1 Undang-Undang Dasar. Pasal itu menetapkan
penghormatan terhadap martabat manusia sebagai nilai utama tatanan
konstitusional. Bunyinya, "Martabat manusia tidak dapat diganggugugat. Seluruh
jajaran kuasa negara wajib menghargai dan melindunginya". Hak-hak dasar
lainnya menjamin antara lain kebebasan bertindak dalam batas undang-undang,
kesamaan setiap orang di hadapan undang-undang, kebebasan pers dan
kebebasan media lain, kebebasan berhimpun dan perlindungan lembaga
keluarga.
Jerman ditetapkan oleh undang-undang dasar sebagai negara hukum.
Semua tindakan lembaga-lembaga pemerintahan tunduk pada pengawasan oleh
kehakiman. Satu prinsip lagi yang ditetapkan oleh konstitusi ialah negara
berbentuk federasi, artinya kekuasaan dibagi antara beberapa negara bagian di
satu pihak dan negara pusat di pihak lain. Menurut definisi Undang-Undang
Dasar, Jerman merupakan negara sosial pula. Status sebagai negara sosial
menuntut dari badan legislatif dan eksekutif untuk menciptakan sarana yang
menjamin nafkah yang wajar bagi warga yang kehilangan sumber pendapatan
karena menganggur, menyandang cacat, sakit atau berusia tua. Keistimewaan
konstitusi Jerman ialah apa yang disebut "sifat abadi" prinsip-prinsip utama
tersebut di atas. Hak-hak dasar, bentuk demokratis pelaksanaan kekuasaan,
negara federal dan negara sosial tidak boleh diubah, baik melalui amendemen
pada Undang-Undang Dasar yang ada, maupun melalui pembuatan konstitusi
yang sama sekali baru.
Dengan menyatakan bahwa rakyat menjalankan kuasanya melalui organorgan khusus, Undang-Undang Dasar menetapkan tata negara berupa
demokrasi representatif. Konstitusi dari setiap negara bagian di samping itu
menggariskan alat-alat demokrasi langsung. Melalui prakarsa warga, sekelompok
yang jumlah anggotanya harus memenuhi batas minimum, menuntut dari
parlemen negara bagian agar menyusun rancangan undang-undang. Dengan

cara yang sama, referendum menuntut agar dewan perwakilan rakyat itu
mensahkan rancangan undang-undang yang telah diajukan. Apabila parlemen
tidak memenuhi tuntutan tersebut, selanjutnya dilaksanakan plebisit yang dapat
mensahkan undang-undang yang bersangkutan dengan mayoritas suara.
Partai-Partai Politik
Menurut undang-undang dasar, partai politik bertugas ikut serta dalam
pembentukan kemauan politik rakyat. Dengan demikian, penentuan calon
penyandang fungsi politik dan pelaksanaan kampanye pemilihan umum
ditingkatkan artinya menjadi tugas konstitusional. Karenanya, partai-partai
memperoleh penggantian dari negara untuk biaya kampanye pemilihan umum.
Penggantian yang baru pertama kali dilaksanakan di Jerman itu, sudah menjadi
standar di kebanyakan negara demokrasi. Menurut konstitusi, susunan organisasi
partai politik harus sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi (demokrasi melalui
anggota). Partai politik wajib bersikap loyal terhadap negara demokrasi.
Partai yang disangsikan pendirian demokratisnya dapat dilarang atas
permohonan pemerintah federal. Akan tetapi partai seperti itu tidak harus
dilarang. Kalau pemerintah menganggap partai yang bersangkutan harus
dilarang karena membahayakan sistem demokratis, pemerintah hanya dapat
mengajukan permohonan pelarangan. Putusan pelarangan itu sendiri hanya
dapat dikeluarkan oleh Mahkamah Konstitusi Federal. Dengan cara itu partaipartai yang sedang memerintah dihalangi untuk melarang partai lain yang
mungkin akan mengganggu dalam persaingan politik. Jumlah permohonan
pelarangan partai dalam sejarah Republik Federal Jerman sangat kecil; lebih kecil
lagi jumlah partai yang pernah dilarang. Undang-Undang Dasar memang
memberikan privilese kepada partai politik. Namun pada dasarnya partai tetap
merupakan sarana ekspresi masyarakat. Partai menanggung segala risiko
kegagalan dalam pemilihan umum, dalam hal kehilangan anggota, dan dalam
hal perselisihan paham berkenaan dengan kebijakan personalia atau topik lain.
Sistem kepartaian Jerman tidak terlalu rumit. Dengan tampilnya Partai
Hijau pada dasawarsa 1980-an dan partai penerus SED setelah reunifikasi,
sistem tri-partai yang telah berlangsung lama berkembang menjadi sistem
panca-partai yang kini sudah mantap. Di samping partai-partai berbasis lebar,
CDU/CSU dan SPD, partai-partai "kecil" pun mencapai persentase hasil suara

sebesar dua digit dalam pemilihan umum 2009 untuk Bundestag. Kedua partai
uni, yang tergolong kelompok partai demokrat Kristen di Eropa, tampil di seluruh
Jerman kecuali di Bavaria sebagai Uni Demokrat Kristen (CDU). Di negara
bagian Bavaria, CDU tidak tampil sendiri dan menyerahkan medannya kepada
Uni Sosial Kristen (CSU) yang berhubungan erat dengannya. Di dalam
Bundestag, kedua partai itu membentuk fraksi bersama yang bersifat permanen.
Partai Sosialis-Demokrat Jerman (SPD) merupakan kekuatan besar kedua dalam
sistem kepartaian Jerman. Di lingkungan Eropa, partai ini tergolong kelompok
partai sosialis-demokrat dan sosialis demokratis. CDU/CSU dan SPD bersikap
positif terhadap negara sosial. CDU/CSU lebih banyak menampung lapisan
pekerja mandiri, tukang dan pengusaha kecil dan menengah, sedangkan SPD
lebih dekat dengan serikat kerja.
Partai Demokrat Liberal (FDP) terhitung anggota keluarga partai-partai
liberal di Eropa. Tujuan pokok politiknya ialah pembatasan campur tangan
negara dalam pasaran sampai ukuran sekecil mungkin. Pendukung FDP terutama
datang dari lapisan masyarakat yang pendapatannya dan pendidikannya cukup
tinggi. Partai Hijau termasuk kelompok partai berhaluan "hijau" atau ekologis di
Eropa. Ciri program politiknya ialah kombinasi antara ekonomi pasaran dan
tuntutan akan perlindungan alam dan lingkungan hidup yang pemenuhannya
harus diawasi oleh negara. Partai Hijau pun lebih banyak mewakili kaum pemilih
dari lapisan berpendapatan dan berpendidikan tinggi. Partai Kiri, Die Linke,
merupakan yang termuda di antara kekuatan politik yang berarti. Kedudukannya
cukup kuat di kelima negara bagian yang bergabung dengan Republik Federal
Jerman pada saat reunifikasi. Namun sementara ini di negara bagian lain pun
kursi parlemen dipegangnya. Selaku partai yang mencari pendukung dengan
menyuarakan tema keadilan sosial, Partai Kiri terutama bersaing dengan SPD.
Sistem Pemilihan
Struktur sistem pemilihan Jerman menyulitkan pembentukan
pemerintahan oleh partai tunggal. Hal itu baru terjadi satu kali selama 56 tahun.
Biasanya terjadi persekutuan antarpartai. Agar para pemilih mengetahui siapa
mitra partai pilihan mereka kelak, umumnya masing-masing partai menetapkan
sebuah "pernyataan koalisi" sebelum memulai kampanye pemilihan. Jadi, dengan
memberikan suara kepada salah satu partai, pemilih mengungkapkan
preferensinya untuk persekutuan partai tertentu, dan juga menentukan

perbandingan kekuatan di antara para mitra dalam pemerintahan yang


diinginkannya.
Bundestag - Parlemen Federal Jerman
Bundestag adalah perwakilan rakyat Jerman yang dipilih. Secara teknis,
separuh dari ke-598 kursi di Bundestag ditentukan melalui pemilihan daftar calon
yang disusun oleh partai pada tingkat negara bagian (suara kedua), selebihnya
melalui pemilihan orang-orang yang mencalonkan diri di salah satu dari ke- 299
distrik pemilihan (suara pertama). Pembagian itu tidak mengubah peranan kunci
partai dalam sistem pemilihan. Sebab yang berpeluang terpilih hanya calon di
distrik pemilihan yang menjadi anggota partai. Proporsi keanggotaan dalam
partai dari para legislator di Bundestag mencerminkan pembagian suara para
pemilih. Agar gambaran mengenai mayoritas dan minoritas tidak menjadi terlalu
rumit karena adanya partai kecil atau sangat kecil, diberlakukan klausul
penghalang. Peraturan yang lazim disebut "rintangan lima persen" itu mencegah
peranserta mereka di Bundestag.
Bundestag adalah parlemen Jerman. Para anggotanya membentuk fraksifraksi dan memilih seorang presiden Bundestag yang berasal dari kalangan
anggota. Bundestag bertugas memilih kanselir federal, lalu bertugas menjaga
agar kanselir tetap memegang pimpinan pemerintah dengan mendukung
politiknya. Bundestag dapat menggantikan kanselir dengan jalan mencabut
kepercayaan. Dalam hal ini dewan perwakilan rakyat Jerman mirip dengan
parlemen di negara lain. Tidak banyak bedanya, kalau di Jerman kanselir dipilih,
sedangkan di Inggris atau di beberapa negara demokrasi parlementer lainnya
kepala pemerintahan diangkat oleh kepala negara. Kenyataannya, yang diangkat
di negara demokrasi parlementer lain itu selalu pemimpin partai yang didukung
oleh mayoritas dalam parlemen.
Lingkup tugas besar kedua para anggota parlemen di Bundestag ialah
pembuatan undang-undang. Sejak tahun 1949 telah diajukan 10.000 lebih
rancangan undang-undang di Bundestag, dan lebih dari 6.600 lebih undangundang disahkan, sebagian besar bersifat amendemen. Dalam hal ini pun
Bundestag mirip dengan parlemen di negara-negara demokrasi parlementer lain,
karena bagian terbesar dari undang-undang yang diputuskannya bersumber
pada pemerintah. Namun budaya kerja Bundestag, yang bersidang di Gedung

Reichstag di Berlin, tidak sesuai dengan tipe parlemen perdebatan, seperti yang
menjadi ciri parlemen Inggris. Bundestag lebih menyerupai parlemen Amerika
Serikat, tipe parlemen yang bekerja. Komisi-komisiBundestag membahas
rancangan undang-undang yang diajukan kepada parlemen secara intensif dan
kompeten.
Tugas besar ketiga Bundestag ialah pengawasan pekerjaan pemerintah.
Kontrol yang kelihatan oleh masyarakat umum dilakukan oleh pihak oposisi di
parlemen. Bagian pengendalian yang kurang menonjol, namun tak kalah efektif,
dilaksanakan oleh anggota-anggota Bundestag dari partai yang memegang
pemerintahan. Di ruang sidang komisi yang tertutup, mereka mengajukan
pertanyaan kritis kepada wakil-wakil pemerintah.
Terdapat 34 partai politik di Jerman. Saat ini 6 partai terwakili di
parlemen Jerman : Partai Sosialis-Demokrat Jerman (SPD), Uni
Demokrat Kristen (CDU), Uni Sosial Kristen (CSU), Serikat 90/Die
Grnen (Partai Hijau), Partai Demokrat Liberal (FDP), Partai Kiri (Die
Linke).
Realitanya setiap warga negara Jerman memiliki dua suara. Dengan suara
pertama, mereka memilih langsung politisi dari sebuah partai di daerah
pemilihan, yang mereka anggap sebagai perwakilan terbaik di parlemen. Jadi ini
pemilihan kandidat langsung. Dari setiap daerah pemilihan, hanya seorang calon
yang meraih suara terbanyak yang akan duduk di parlemen. Dalam hal ini
berlaku prinsip suara terbanyak.
Suara kedua sebenarnya merupakan suara terpenting. Dengan suara
kedua, pemilih memilih sebuah partai. Semakin banyak suara yang diraih oleh
suatu partai maka semakin kuat posisi partai tersebut di parlemen dan semakin
banyak anggota parlemen yang mereih kursi.
Dalam hal ini pemilih bertindak sebagai penentu komposisi partai di
parlemen. Tergantung pada jumlah perolehan suara, setiap partai bisa tetap ikut
bersaing dalam pemilu. Hanya partai yang memperoleh suara kurang dari lima
persen yang tak lagi memiliki kesempatan untuk bersaing.

Dari hasil perolehan suara pertama dan kedua, masing-masing separuh,


tercapai jumlah keseluruhan anggota parlemen yang akan duduk di parlemen
hasil pemilihan. Mereka inilah yang nantinya akan memilih kanselir Jerman.
Bundestag dipilih 4 tahun sekali.
Presiden Federal
Presiden Federal : Christian Wulff (CDU) sejak 2010
Presiden federal mewakili Republik Federal Jerman sebagai kepala negara.
Ia mewakili Jerman di dunia luar dan mengangkat anggota pemerintah, hakim
dan pejabat tinggi. Tanda tangannya membuat undang-undang mulai berlaku.
Presiden memberhentikan pemerintah dan berwenang membubarkan parlemen
sebelum habis masa legislasinya, suatu perkecualian yang sempat terjadi pada
pertengahan tahun 2005. Hak veto terhadap undang-undang yang diputuskan
badan legislatif, seperti yang dimiliki oleh presiden Amerika Serikat atau
presiden beberapa negara lain, tidak diberikan kepada presiden federal oleh
konstitusi. Presiden federal memang mengkonfirmasikan keputusan parlemen
dan usulan pemerintah di bidang personalia, namun ia hanya memeriksa apakah
proses pembuatannya sesuai atau tidak dengan peraturan undang-undang
dasar.
Masa jabatan presiden federal adalah lima tahun; ia dapat dipilih kembali
untuk satu periode lagi. Kepala negara dipilih oleh Dewan Federal. Dewan
itu terdiri dari semua anggota Bundestag, ditambah jumlah anggota
yang sama yang dipilih oleh dewan perwakilan rakyat di ke-16 negara
bagian (Bundesrat).

Kanselir Federal dan Pemerintah


Kanselir Federal : Dr. Angela Merkel (CDU) sejak 2005
Kanselir federal satu-satunya anggota Pemerintah Federal yang dipilih.
Konstitusi memberikan hak kepadanya untuk memilih sendiri para menteri
sebagai pimpinan badan-badan pelaksana politik terpenting. Kanselir
menentukan pula jumlah kementerian serta portofolio masing-masing. Di tangan

kanselir terletak kompetensi menentukan garis haluan, yaitu hak kanselir untuk
menetapkan titik berat pekerjaan pemerintah secara mengikat. Dengan adanya
kewenangan itu, kanselir federal memiliki perbendaharaan alat kepemimpinan
yang dapat dibandingkan dengan kekuasaan presiden di negara demokrasi
presidensial.
Dewan Parlementer yang memutuskan undang-undang dasar pada
tahun 1949 mengacu kepada contoh perdana menteri Inggris ketika membahas
kewenangan kanselir. Alat kekuasaan yang dimiliki perdana menteri itu persis
sama dengan milik kanselir. Namun dalam kenyataan, kuasa kanselir jauh lebih
kecil dibandingkan dengan kuasa perdana menteri Inggris. Dalam sistem
parlementer Inggris selalu ada satu partai saja yang memerintah, sebab sistem
pemilihan Inggris bersifat sistem mayoritas yang menguntungkan partai terkuat.
Di Bundestag biasanya tidak ada satu partai yang memegang mayoritas. Maka
untuk pemilihan kanselir pada umumnya harus dibentuk koalisi.
Menjelang pemilihan kanselir terjadi perundingan intensif antara partaipartai yang hendak membentuk pemerintahan bersama. Secara detail dicari
kesepakatan mengenai pembagian kementerian antara partai-partai peserta,
mengenai kementerian yang akan dipertahankan dan yang akan diciptakan.
Kepada partai yang lebih kuat dalam persekutuan itu diberi hak mengisi jabatan
kanselir federal. Selanjutnya partai peserta menyepakati rencana kerja
pemerintah untuk tahun-tahun berikutnya. Hasil perundingan koalisi itu
dituangkan dalam perjanjian koalisi. Baru setelah rampungnya tahap itu, kanselir
federal akan dipilih. Perundingan antarpartai koalisi selanjutnya mempersiapkan
dan mendampingi keputusan pemerintah. Jika sebelum dipilihnya Bundestag
yang baru sudah tak ada lagi kesamaan pandangan politik, jalan keluar yang
dapat ditempuh ialah penggantian kanselir. Untuk mengganti kanselir melalui
mosi tidak-percaya konstruktif, pada waktu yang sama harus dipilih kanselir
baru. Cara menarik kembali kepercayaan yang ofensif ini memaksa parlemen
terlebih dahulu membentuk mayoritas pemerintahan baru yang sanggup
bekerja, sebelum dapat menjatuhkan kanselir. Usaha seperti itu baru dua kali
dilakukan dan hanya satu kali, pada tahun 1982, berhasil. Kanselir Helmut
Schmidt (SPD) menerima mosi tidak percaya, dan Helmut Kohl (CDU) dipilih
sebagai penggantinya.

Di lain pihak kanselir federal dapat setiap saat mengajukan mosi


kepercayaan kepada Bundestag untuk menguji apakah ia masih didukung
sepenuhnya oleh partai-partai koalisi. Apabila kanselir kalah dalam votum
kepercayaan, artinya jika sebagian dari mayoritas pemerintahan menarik
dukungannya, Bundestag dapat dibubarkan. Keputusan mengenai pembubaran
parlemen dan dengan demikian mengenai pemilihan umum berada di tangan
presiden federal. Sebagai alternatif, kepala negara dapat meminta kepada
partai-partai yang terwakili di dalam Bundestag untuk mengusahakan
pembentukan pemerintah baru.
Kekalahan sungguh-sungguh dalam votum kepercayaan tidak pernah
terjadi dalam sejarah Republik Federal Jerman. Yang terjadi sebanyak tiga kali
ialah kekalahan yang disepakati di muka: Anggota parlemen dari partai-partai
pemerintahan atau menteri memberikan suara abstain untuk menjatuhkan
pemerintah (1972, 1982, 2005). Jalan ini ditempuh untuk memungkinkan
pemilihan Bundestag baru sebelum waktunya. Konstitusi memang tidak
membuka jalan lain untuk mencapai hal itu. Namun jalan itu hanya dapat
ditempuh atas persetujuan Presiden dan dianggap kontroversial dari segi yuridis.

Negara Federasi
Bentuk negara federasi yang ada di Jerman bersifat rumit. Negara terdiri
dari tingkat pusat berupa federasi dan 16 negara bagian. Undang-undang dasar
menetapkan hal-hal yang harus ditangani oleh federasi, dan hal lain yang diurus
oleh negara bagian. Dilihat dari aspek ini, sistem federal Jerman mirip dengan
sistem di berbagai negara federasi lain. Kehidupan bernegara di Jerman pada
dasarnya diatur oleh undang-undang federal. Sebaliknya para warga hampir
selalu berurusan dengan kantor administrasi negara bagian, atau dengan kantor
kotapraja dan komune yang bertindak atas nama negara bagian. Hal itu sesuai
dengan prinsip kesubsideran. Prinsip itu diterapkan oleh undang-undang dasar
dengan tujuan mengkombinasikan keuntungan negara kesatuan dengan
keuntungan negara federasi. Warga dari negara federasi lain sehari-hari jauh
lebih sering bertemu dengan pegawai instansi federasi.
Menurut undang-undang dasar, taraf kehidupan di seluruh Jerman harus
dapat diperbandingkan. Faktor penentu yang penting bagi taraf kehidupan itu

ialah kebijakan politik di bidang ekonomi dan sosial. Dalam tatanan keuangan
Jerman tidak diberi ruang gerak yang berarti kepada negara bagian untuk
membiayai tugas mereka. Semua jenis pajak yang pemasukannya tinggi diatur
dengan undang-undang federal. Dengan catatan bahwa undang-undang seperti
itu harus memperoleh persetujuan Majelis Federal, Bundesrat. Sebagian dari
jenis pajak tersebut seluruhnya masuk ke kas federasi atau ke kas negara
bagian, sebagian lain dibagi antara federasi dan negara bagian, di antaranya
jenis pajak yang pemasukannya sangat besar. Dalam hal ini negara federasi
Jerman mirip dengan negara kesatuan. Walau begitu, negara-negara bagian
mengendalikan sebagian besar dari kapasitas administrasi negara seluruhnya.
Jadi, unsur-unsur federalistis mendominasi administrasi negara di Jerman. Kantorkantor administrasi negara bagian melaksanakan undang-undang yang berlaku
di negara bagian yang bersangkutan. Namun di samping itu instansi negara
bagian tersebut mengeksekusi juga bagian terbesar dari undang-undang federal.
Di masa lalu, banyaknya tugas yang diserahkan kepada negara bagian
menyebabkan adanya beberapa negara bagian yang terjerumus dalam utang
besar. Maka pada tahun 2009 diputuskan perubahan konstitusi yang melarang
pengambilan kredit baru oleh negara bagian mulai 2020, dan yang membatasi
volume utang baru dari federasi mulai tahun 2016 pada maksimal 0,35 persen
dari produk domestik bruto kecuali dalam hal terjadinya krisis ekonomi (rem
utang). Ada tiga tugas negara sebagai keseluruhan yang dilaksanakan oleh
negara bagian secara mandiri: Hal-hal yang menyangkut sekolah, termasuk
perguruan tinggi, keamanan dalam negeri, termasuk kepolisian, serta
perwujudan swatantra komunal. Dalam hak ikut-menentukan cukup luas yang
dimiliki oleh Bundesrat, negara-negara bagian mendapat imbalan bagi
kedudukan lebih tinggi yang ditempati federasi di bidang pembuatan undangundang
Bundesrat - Majelis Federal
Bundesrat atau Majelis Federal adalah dewan perwakilan negara bagian,
semacam majelis kedua di samping Bundestag. Setiap rancangan undangundang federal harus dibicarakan di Bundesrat. Sebagai majelis negara bagian,
Bundesrat memegang fungsi yang sama seperti majelis kedua di negara federasi
lain, yang umumnya disebut senat. Bundesrat beranggotakan wakil-wakil
pemerintah negara bagian saja. Bobot suara masing-masing negara bagian

diatur dengan cara sangat moderat menurut jumlah penduduk: minimal tiga
suara, maksimal enam suara.
Bundesrat ikut serta dalam pembuatan undang-undang federasi. Dalam
aspek ini, Bundesrat berbeda dengan lembaga majelis kedua di negara-negara
federasi lain. Konstitusi menggariskan dua cara partisipasi. Undang-undang
federasi yang akan mengakibatkan biaya tambahan dalam administrasi negara
bagian, atau yang menggantikan undang-undang negara bagian yang ada, harus
memperoleh persetujuan Bundesrat. Artinya, undang-undang yang sudah
ditetapkan oleh Bundestag baru akan berlaku setelah disetujui oleh Bundesrat.
Dalam hal ini Bundesrat sebagai badan legislatif berstatus sederajat dengan
Bundestag. Dewasa ini hampir 50 persen rancangan undang-undang
memerlukan persetujuan tersebut. Kedaulatan administratif negara bagian
berperan dalam pembuatan undang-undang yang penting dan yang banyak
mengakibatkan biaya, karena berlakunya prinsip bahwa pelaksanaan undangundang federal ditangani oleh aparat negara bagian. Yang berbeda dari jenis
undang- undang yang memerlukan persetujuan ialah produk legislasi yang dapat
menerima votum keberatan oleh Bundesrat. Namun keberatan itu dapat ditolak
oleh Bundestag dengan mayoritas yang sama seperti yang berlaku untuk votum
di Bundesrat, yaitu atau mayoritas biasa atau mayoritas dua pertiga, dalam hal
terakhir dengan suara paling sedikit mayoritas semua anggota Bundestag
(mayoritas mutlak).
Melalui reformasi tatanan federal yang berlaku sejak September 2006,
pembagian wewenang antara federasi dan negara bagian diperbarui. Reformasi
tersebut bertujuan memperbaiki kesanggupan federasi dan negara bagian untuk
mengambil keputusan dan bertindak. Tujuan lain ialah mendefinisikan tanggung
jawab politik masing-masing pihak dengan lebih jelas
Mahkamah Konstitusi Federal
Pendirian Mahkamah Konstitusi Federal menandai semangat
demokrasi Jerman di masa pascaperang. Undang-undang dasar memberikan hak
kepada mahkamah itu untuk membatalkan undang-undang yang pembuatannya
mengikuti proses demokratis yang benar, namun menurut penemuan pengadilan
tertinggi tersebut melanggar konstitusi. Mahkamah Konstitusi hanya membuka
perkara atas pengaduan. Yang berhak mengajukan pengaduan ialah keempat

organ federasi, yaitu Presiden Federal, Bundestag, Bundesrat danPemerintah


Federal, atau bagian daripadanya anggota parlemen atau fraksi serta
pemerintah negara bagian. Dalam kasus "perselisihan mengenai penerapan
konstitusi", mahkamah tertinggi ini bertindak untuk melindungi pembagian
kekuasaan yang dijamin oleh undang-undang dasar, dan untuk melindungi
negara federasi. Agar sebuah minoritas di parlemen pun dapat mengadu ke
Mahkamah Konstitusi, ditetapkan bahwa sepertiga dari jumlah anggota parlemen
sudah mencukupi untuk mengajukan pengaduan menentang sebuah norma
hukum ("aduan pemeriksaan-norma abstrak").
Berdasarkan undang-undang dasar setiap warga berhak mengajukan
"keberatan berdasarkan konstitusi", jika ia merasa hak asasinya dilanggar oleh
tindakan instansi pemerintah. Di samping itu setiap pengadilan di Jerman wajib
mengajukan "aduan pemeriksaan-norma konkret", apabila undang-undang
tertentu dinilainya melanggar konstitusi. Mahkamah Konstitusi
Federal memegang monopoli penafsiran undang-undang dasar bagi semua
lembaga kehakiman.
Jerman dan Eropa
Negara Jerman adalah demokrasi parlementer, artinya kebijakan politik
pemerintahan ditentukan oleh kepala pemerintah dan menteri-menterinya.
Karena konstitusi Jerman menetapkan standar yang tinggi bagi kesesuaian
dengan sifat negara hukum dan demokrasi, kadang-kadang Mahkamah
Konstitusi Federal harus bertindak di arena politik Eropa. Sudah beberapa kali
dijelaskan oleh mahkamah itu bahwa tatanan hukum Eropa harus sesuai dengan
konstitusi Jerman, sebelum Jerman menyerahkan hak-hak penentuan politik
kepada UE. Dalam hal ini tampak adanya pertentangan antara apa yang disebut
"jaminan keabadian" bagi prinsip-prinsip dasar konstitusi dan penetapan undangundang dasar yang mendukung integrasi Eropa. Dalam putusan prinsip yang
dijatuhkan pada bulan Juni 2009, Mahkamah Konstitusi mengingatkan bahwa
Bundestag harus terlibat dalam pengambilan keputusan di UE secara
substansial, bahkan dalam situasi Bundestag tidak dibutuhkan selaku organ yang
meratifikasikan Perjanjian-Perjanjian Eropa.